Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin/XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang mengenang(Flashback) kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia.

.

.

"Kau pikir mengembalikan ingatan yang hilang semacam mencoba mengeluarkan ilmu telekinesis?"

Luhan membuka matanya saat mendengar suara ayahnya. Rupanya lelaki itu baru selesai mandi dan sedang menggosok gigi. Berdiri disamping Luhan dengan handuk melingkar di pinggangnya, sama persis seperti dirinya.

"Maksud baba?" lelaki itu menyampingkan diri, menghadap sang ayah sambil melipat tangan di dada, jika sedang di rumah ayahnya, rutinitasnya memang begini, sejak kecil Luhan memang suka berbagi kamar mandi dengan ayahnya, menggosok gigi, lalu bercakap seraya mengagumi bagaimana bisa mereka begitu tampan, konyol. Tapi itu sungguhan.

Hangeng menarik sikat giginya setelah itu ikut berbalik kesamping menatap anak tunggalnya. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pasti baru saja mendapat potongan ingatan kecil lalu kau memaksanya. Kan?"

Hangeng memang tahu segalanya mengenai Luhan. "Karena dengan begitu aku menjadi mengenali Minseok" kata Luhan membuat Hanggeng berdecak yang otomatis busa dimulutnya memuncrat. "Jangan bodoh Luhan, itu bisa saja berbahaya, bukankah dr. Lau mengatakan kalau kau tidak boleh memaksa"

"Aku tidak memaksa-

"Tapi dengan kau tidak meminum obatmu itu sama saja memaksa, bodoh"

"Yaiss, berhenti bicara, menjijikan. Setidaknya buang dulu busanya"

Luhan bersiap pergi tapi segera oleh Hangeng ditarik pergelangan tangan itu.

"Apa kau menyukai Minseok?"

Hening. Mereka bertatapan, tatapan Hangeng sangat tajam menembus mata Luhan, lelaki yang berstatus sebagai anak itu hanya mengerjapkan matanya, mendadak kehilangan kemampuan bicara. Suka? Dalam artian apa yang di maksud ayahnya?

-o0o-

"Sehun"

Dua orang pria tampan menoleh pada sumber suara, terlebih Sehun, dia langsung menyipitkan matanya untuk memastikan siapa yang memanggilnya. Luna Park? "Nuna?"

"Oh kau, senang bertemu denganmu kau baru sampai?"

"Aku mau pulang."

"Oh jinja"

"Hmm, temanku akan bertunangan jadi aku harus pulang untuk datang."

Luna dan Sehun memang berbicara, mengobrol banyak tapi sesekali mata Luna menatap pada sosok lain yang sibuk dengan ponselnya. "Ah kenalkan, dia hyungku. Hyung kenalkan dia ini Luna seniorku"

"Ah, Luhan"

"Luna"

Luhan? Namanya terdengar keren, seperti orangnya. "Apa aku akan menganggu kalian, tapi pesawat Sehun akan segera berangkat. Luhan menyela pembicaraan dua manusia beda jenis kelamin itu.

"Ah tidak, pergilah. Kurasa kakakku sedang menunggu di luar."

Setelah melambaikan tangan tanda perpisahan Luna berlalu meninggalkan dua pria tampan itu, benar disana kakaknya sudah menunggu.

"Oppa"

.

.

a Fanfiction

by

Moonbabee

.

.

"Minseok-ah"

Yang di panggil menoleh, mencari pada sumber suara yang tadi menyebutkan namanya, Luhan. Lelaki yang sedang tersenyum satu juta wat sambil berlari ke arahnya. Mengenakan kaos olagraga, Luhan terlihat berkeringat.

"Kau sedang apa?" tanya Minseok begitu Luhan sampai, menunduk dalam dengan nafas terengah. "Belanja, ya olahragalah apa lagi"

"Aku tahu, maksdku kenapa kau olahraga sampai sejauh ini? Dari sini sampai rumahmu itu jauh Luhan"

"Aku inikan laki-laki, jadi apa salahnya lari jauh"

Minseok mencibir, bibirnya terlihat berkomat-kamit. "Bilangnya begitu tapi kau terlihat akan pingsan, wajahmu memerah kau tahu"

"Aku kan lelah, namanya juga manusia kau pikir aku vampire yang tidak bisa lelah?"

Minseok mencibir lagi dengan bibirnya lalu mendecih, tapi tidak mengatakan apapun, memilih kembali melanjutkan olahraga paginya, meninggalkan Luhan yang masih terengah tapi kemudian terdengar protesan karena di tinggalkan.

Ada yang aneh, entah kenapa tapi Minseok sangat yakin. Tidak tahu kapan, tapi sepertinya Luhan tidak memperhatikan jarak, maksudnya semakin hari dia mengambil satu langkah demi satu langkah untuk semakin dekat dengannya. Haruskah dia senang? Atau tidak suka?

Sejujurnya dia belum pernah memiliki teman yang sejenis ini, bahkan dengan Jongdae yang sudah ia anggap seperti adik sendiri mereka tetap memiliki jarak, tidak seperti ini, tidak seperti Luhan lebih tepatnya.

Satu langkah lebih dekat, Cho Kyuhyun dan aku menjadi lebih dekat. Sejak Han Kyung mengenalkan kami, sejak saat itu Kyuhyun seperti mendekatiku perlahan-lahan. Haruskah aku merasa senang? Atau tidak suka? Pasalnya Kyuhyun sangat suka melakukan skinship dan aku juga suka merasa kesal kalau dia terus memujiku cantik.

Luhan segera merangkul Minseok begitu dia sampai di samping si mungil, namun secara langsung Minseok mengenyahkan tangan Luhan. Mendadak dia merasa gelisah, "Kau membuatku gerah, jangan merangkul" katanya.

Tidak, ia dan Luhan tidak akan terlibat dalam hubungan seperti itu. Dan juga, Minseok telah berjanji bahwa dia akan mencintai siapa saja orang yang dipilihkan kakeknya untuknya dan sudah pasti orang itu bukan laki-laki.

Bahkan ayah – ibunya yang merupakan anak kesayangan saja bisa menjadi yang paling di benci, apalagi jika Minseok. Jika dia terlibat dalam hubungan seperti itu bukankah namanya akan benar-benar di coret dalam silsilah keluarga Lee.

Minseok menggeleng kecil ketika dia menemukan beberapa kesamaan antara kisah ayah – ibunya dengan dirinya. Dimana Lee Sungmin diperkenalkan kepada Kyuhyun oleh Hankyung yang disini, ia diperkenalkan kepada Luhan oleh Sehun.

Tidak, itu hanya kebetulan.

"Minseok, kau tidak apa?"

Lagi, untuk kedua kalinya Minseok menolak Luhan, dengan segera saat tangannya hendak terulur menyentuh pipi berisi itu. Ada apa?

"Aku tidak apa, tapi jangan menyentuhku, aku sedang bereringat"

"Kau sensitive terhadap sentuhan ya?"

Minseok memilih tidak menjawab, ia berlari kecil meninggalkan Luhan yang kembali memprotes dan mengikuti langkahnya dibelakang, sampai Minseok merasa nafasnya akan habis, ia menjatuhkan dirinya di kursi panjang di pinggir jalan, yang tentu saja diikuti Luhan.

"Minseok-ah" lama terdiam, Luhan akhirnya buka suara, mengulurkan sebotol air mineral kepadanya. Karena kebetulan ia sedang haus, oleh Minseok diterima begitu saja, meneguknya sampai habis, selain menghilangkan dahaga, juga membantunya menelankan sesuatu yang sulit untuk ditelan tidak tahu alasannya.

"Xiexie"

"Kau bisa gunakan bahasa Korea saja Min"

"Kau bisa gunakan bahasa Korea saja Min"

Dengan gerakan pelan, Minseok menoleh kepada Luhan, menatap lelaki yang duduk disampingnya.

"Ini kan di China masa aku bicara bahasa Korea"

"Kau kan orang China, apa tidak kesulitan untukmu?"

"Aku tidak kesulitan bahasamu, kau tenang saja, anggap saja aku ini teman dekatmu"

"Aku lancar bahasa Korea, jangan khawatir kawan"

Minseok langsung berdiri. Segera menghindari kontak mata dengan Luhan yang tiba-tibamembuat pikirannya kacau balau. Apa itu yang tadi? Kenapa ia merasa ini pernah terjadi. Déjà vu "Waeyo?" Luhan bangkit mengikuti, memandang heran kepada Minseok yang wajahnya langsung memucat. "Kau…

"Aku tidak apa, jangan menyentuh wajahku Lu…Han. Aku pulang dulu, adikku sedang berkunjung"

Dan setelahnya, Minseok berbalik, berjalan cepat mirip berlari, meninggalkan Luhan dengan tangannya masih menggantung di udara, membiarkan lelaki itu mengerutkan keningnya, bingung.

-o0o-

Minseok sangat yakin, yakin bahwa dia tidak mengenal Luhan sebelumnya. Empat tahun lalu ketika dia pindah ke Beijing, ia hanya selalu bersama Jongdae dan hanya segelintir teman yang ia miliki setelah pindah dan menetap di negeri tirai ank a ini. Tapi mengapa setiap kali melakukan percakapan dengan Luhan, ia seperti melihat kepada masalalu dan sebuah ingatan kecil terngiang dalam kenangannya.

Siapa sebenarnya Luhan?

Apa dia adalah salah satu teman kecilnya? Tapi sejak kecil Minseok tumbuh sendirian, dia hampir menjauhi semua teman-temannya, entah itu disekolah, dirumah atau dimana saja. Karena sejeak kecil ia memfokuskan dirinya untuk belajar, menggapai peringkat tertinggi, menjadi bintang kelas dan menjadi anak kesayangan para guru, terlebih untuk dilihat oleh kakeknya. Sehingga tidak ada waktu untuk dirinya bermain atau mencari teman, jadi opsi mengenai ia adalah teman Luhan itu sudah pasti tidak mungkin.

Tapi tentu ada sebabnya mengapa ia mendadak seperti orang yang diberi kilas balik masalalu, apa mungkin dia amnesia?

"Mungkin saja"

Dokter Lau menjelaskan. Luhan datang hari ini menemui dokternya untuk bertanya. Ada yang baru terpikirkan olehnya. Luhan dan Minseok berteman ketika masih kecil, namun pria itu sama sekali tidak mengenalinya, jadi apa ketika kecelakaan itu terjadi keduanya mengalami hal yang sama, sama-sama lupa ingatan.

"Kalian sama-sama terjatuh, jadi ada kemungkinan kalian berdua sama-sama mengalami amnesia"

-o0o-

Minseok berbaring agak lama di ruang kesehatan kantor hari itu saat jam istirahat berlangsung. Minseok ingat ketika dia pernah sakit parah dan harus dirawat dirumah sakit, rasanya sakit itu adalah terakhir yang ia tahu, sejak saat itu hingga sekarang, ia tidakpernah lagi sakit. Tapi belakngan,ia merasa kepalanya sering dilanda rasa pening yang mengharuskan ia meminum obat penahan rasa sakit.

Awalnya ia berfikir kalau sakitnya tidak mungkin berkaitan dengan sakit ketika ia masih kecil karena hal itu terjadi sudah sangat lama, ia berfikir kalau belakangan ia sering memforsir diri untuk menyelesaikan banyak pekerjaan, tapi perkataan dokter itu mendadak mengiangi otaknya.

Minseok datang ke rumah sakit pagi ini sebelum ke kantor, dia berniat melakukan konsultasi mengenai sakit kepala yang mendera belakangan.

Dokter Henry Lau adalah rekomendasi saat Minseok bertanya kepada resepsionis mengenai dokter yang biasa menerima konsultasi. Dengan ramah ia mengetuk pintu ruangan dokter yang tampak masih muda itu.

"Selamat pagi. Dokter saya adalah Xiumin" katanya sembari duduk. Dokter Lau menyambutnya dengan ramah dan senyumannya yang begitu lebar. "Selamat pagi, silahkan duduk Xiumin-ssi"

Meskipun terlihat masih muda, namun sertifikat dan piagam atas dedikasinya terhadap dunia kesehatan cukup untuk membuatnya menjadi dokter handal, dan dia pantas dengan gelarnya sekarang. "Aku mendapat rujukan konsultasi dan pembelian obat penahan rasa sakit. Apa kau mengalami masalah?"

Lalu Minseok menceritakan mengenai masalah dan keluhannya, saat Henry mendengarnya bercerita, sesekali lelaki itu mengerutkan keningnya dan menyipitkan matanya, itu terjadi sepanjang ia bercerita hingga selesai, apa masalahnya seberat itu? Atau dia terdeteksi penyakit parah?

"Apa kau pernah mengalami kecelakaan? Semacam kepalamu terbentur sesuatu yang keras?"

Tidak, Minseok tidak ingat bahwa ia pernah mengalami kecelakaan. Maka ia menggeleng yakin.

"Tapi aku pernah sakit parah hingga mengharuskan aku dirawat dirumah sakit, itu mungkin ketika aku masih sekolah dasar"

"Keluhanmu mengenai sakit kepala yang tiba-tiba, kau tidak pernah mengalami kecelakaan atau benturan, apa kau merasakan sakit ketika mengingat sesuatu?"

"Hmm, belakangan aku merasakannya"

"Sepertinya kau mengalami amnesia"

Amnesia? Bagaimana mungkin dia mengalami hal itu? bahkan ketika dia tidak mengalami sesuatu yang janggal, kecuali sakit, sakit bukankah sesuatu yang wajar, terlebih Minseok kecil gemar sekali bermain diluar, sampai rasanya ingin seseorang menarik dan memarahinya, tapi bahkan ketika ia pulang dalam keadaan kotor, bibi pelayan rumah hanya mengatakan. Tuan kecil segeralah mandi, tuan besar tidak suka kotor.

Bahkan ketika tuan besar itu datang dan melihatnya masih belum mandi, ia hanya meliriknya sekilas lalu menuju kamarnya, Minseok kecil sering merasa kedinginan hanya untuk melihat reaksi kakeknya yang peduli kalau dia belum mandi dan bisa sakit kalau mandi terlalu larut, tapi semua sia-sia. Kakeknya tidak peduli. Itu meskipun sampai buku jarinya memutih, dia hanya akan dilewati begitu saja.

Kalaupun ia mengalami kecelakaan, bukankah kecil kemungkinannya ia masih bernafas saat ini?

"Aku hanya perlu tidur sebentar, dokter juga manusia" Minseok mengusap wajahnya yang basah, mengingat ketika ia kecil memang selalu dapat membuat hatinya jungkir balik, tidak mungkin ia mengalami amnesia, mungkin dia hanya kelelahan, dokter juga bisa salah.

Sayup-sayup Minseok merasakan seseorang mengusapi belahan pipinya yang disangga bantal lantaran kepalanya terlalu berat untuk di topang dirinya sendiri, hari menjelang malam, lampu-lampu di luar mulai dinyalakan satu-satu. Mata kecilnya yang masih mengantuk itu perlahan dibuka untuk melihat siapa yang datang dan mengusapinya begitu lembut.

Siapa tahu kakeknya, mungkin lelaki itu menyempatkan waktunya untuk menengok sang cucu yang tengah terbaring di rumah sakit. Tapi ternyata bukan, dia adalah lelaki asing. Lelaki yang terlihat masih muda dan memiliki pipi lumayan gembul mirip dengan miliknya.

"Nuguseyo?" ia bertanya lirih, namun kepalanya bergerak mendekat, menyamankan kepalanya pada sanggahan si lelaki asing. "Minseokkie abeoji"

Minseok kecil tersenyum kecil. "Harabeoji aniya? Harabeoji eodiseo?" tanyanya. "Jaega bogoshipo. Ingin di gendong harabeoji seperti Taemin jika sedang sakit"

"Harabeoji sedang sibuk. Mau tidak di gendong abeoji?"

Minseok kecil hanya mengangguk, membiarkan dua telapak tangan besar itu mengangkat tubuhnya lalu menimang ala koala. "Harabeoji selalu sibuk, tapi kalau Taemin yang sakit dia tidak pernah sibuk. Kenapa harabeoji tidak begitu padaku ya?" anak itu menyamankan kepalanya kedalam ceruk leher yang lebih tua.

"Apa karena Taemin punya abeoji dan eommani? Apa benar kau abeojiku?"

"Eoh, aku adalah ayahmu?"

"Kalau begitu, bisa tidak kau tinggal dengan kami, supaya aku juga punya ayah dan ibu, lalu harabeoji menyayangiku karena aku punya kalian"

-o0o-

Cho Youngho atau Johnny mengerutkan keningnya ketika melihat Cho Kyuhyun keluar dari ruang kesehatan dengan mata berair dan wajah memerah. Kenapa? Kenapa ayahnya menangis? Dia yakin sekali kalau lelaki itu habis menangis, itu terlihat jelas.

Karena ia tahu pasti bagaimana Kyuhyun. Lelaki itu sangat mudah terlihat ekspresinya, bagaimana dia terlihat senang, sedih, gusar, gundah atau apapun suasana hatinya.

Itu terlihat jelas, bahkan saat pertama kali lelaki itu bertemu dengan Minseok, Johnny sangat tahu kalau Kyuhyun begitu bahagia meski dia bersikap biasa dan terkesan acuh kepada lelaki itu.

Dan melihat perubahan ayahnya yang mendadak tentu saja mengundang rasa penasaran bagi satu-satunya penerus keluarga Cho tersebut. Dengan langkah pelan, ia mendekati ruang kesehatan untuk melihat siapa yang baru saja di temui ayahnya disana.

Kim Minseok? Jadi lelaki itu lagi.

Cho Youngho.

Apa yang dilakukan lelaki itu? Memukul dingding dengan berapi? Dia tampak begitu emosi.

Luhan melihat dengan jelas, bahwa Youngho sangat beremosi. Dan mengapa ia melakukan itu ditempat dimana Minseok sedang berada disana.

Yeah. Luhan melihat Minseok agak pucat hari ini, dia memasuki ruang kesehatan dan Luhan berniat melihat keadaannya, tapi pemandangan yang baru saja ia lihat membuatnya bingung. Bukan pertama kalinya ia mendapati pemuda keturunan Cho itu tampak tidak menyukai Minseok, Luhan tidak tahu pasti tapi dia sangat yakin tentang hal tersebut.

"Johnny-ssi"

Panggilnya yang langsung menghentikan langkah si pemuda yang tingginya hampir sama dengan Sehun, ah tinggi badan memang agak menyebalkan. Apalagi kalau mereka lebih muda darinya, contohnya Kris, Sehun dan sekarang Youngho. Mereka lebih muda darinya, tapi lebih tinggi darinya. Okay, ini out of topic. Abaikan.

"Kau seperti sedang dalam suasana hati yang buruk" Luhan mengulurkan minuman kaleng yang ia bawa untuk pemuda tersebut, dan diterima dengan malas olehnya. "Seperti yang kau lihat" mungkin Youngho selama ini tidak tinggal di Korea, dari namanya sudah kentara kalau dia tumbuh di negeri barat, dan mendengar bagaimana dia berbicara kentara sekali kalau bahasa Koreanya belum terlalu bagus.

Tapi dari semua itu, sikapnya yang terkesan egois dan angkuh adalah hal yang jelas terlihat. Perpaduan Amerika-Korea yang sangat sempurna.

"Apa tentang pekerjaan, kau adalah good speaker"

Terlihat jelas sekali kalau lelaki itu enggan berbicara dengannya, tapi Luhan masa bodoh. "Tentu saja"

Sepertinya Luhan merubah presepsi. Tentang kalau Youngho lebih baik ketimbang Sehun. Tidak, setidaknya Sehun hanya buruk dalam mengendalikan sifat manja dan menyebalkan, kalau Youngho tentang keangkuhan dan tidak bisa menghormati seseorang.

"Sepertinya kau sedang dalam suasana hati yang sangat buruk, tapi tolong jangan membuat seseorang terganggu karena ulahmu. Aku tidak mengerti apa yang membuatmu sangat kesal, tapi jaga sikapmu di tempat yang bukan areamu"

Youngho mengerutkan keningnya, merasa tidakmengerti dengan arah pembicaraan Luhan, tapi begitu melihat kemana arah lelaki itu berjalan, dia menjadi paham. Jadi maksudnya dia harus jaga sikap karena dapat mengganggu Minseok? Jadi lagi-lagi karena lelaki itu.

Kim Minseok. Johnny semakin membencinya.

"Bitch"

-o0o-

"Luhan"

Oh, Minseok terbangun saat ia melepas kain basah bekas kompresan. Hari sudah malam, dan Minseok baru sadar kalau ia tidak berada di tempat dimana terakhir kali ia ingat – ruang kesehatan di kantor.

"Ini di apartemenku. Kau demam ank arena tidak tahu rumahmu aku membawamu kesini" katanya seraya membantu Minseok duduk, kemudian mengulurkan segelas air kepada Minseok yang tampak kehausan.

"Kenapa kau tidak membawaku ke rumah sakit?" tanyanya dengan suara serak, tangan kecil berjari gendut itu lalu meraba keningnya, sisa-sisa suhu tingginya belum menghilang, apa sakitnya semakin parah? Dia sudah meminum obat penghilang rasa sakit padahal, apa itu tidak mempan?

"Kau mengigau untuk tidak dibawa kesana…" Luhan diam sejenak lalu melanjutkan. "Jadi aku membawamu kemari"

Mengigau? Ah dia bermimpi tadi. Ia bermimpi ditimang dengan lembut oleh seseorang yang mengaku ayahnya, siapa dia? Siapa lelaki itu? Apa Lee Sungmin atau Cho Kyuhyun?

Samar-samar ia melihat lelaki itu berpipi sama sepertinya – gemuk. Tapi Sungmin dan Kyuhyun kan sama, memiliki pipi gemuk sisa lemak bayi yang tidak mau menghilang. Jika itu Lee Sungmin, sepertinya tidak mungkin karena dia telah pergi ketempat yang jauh, sangat jauh malahan.

Tapi mustahil juga jika itu adalah Kyuhyun, meski dapat melihat secara nyata, semua hampir tidak mungkin. Cho Kyuhyun tidak mungkin mendatanginya, apalagi menimangnya bak koala, seperti ayah yang begitu mencintai anaknya yang sedang sakit, yang bahkan lelaki itu hanya diam saja ketika ia dimaki oleh ayahnya. Tidak mungkin.

Jadi siapa? Apa dialam bawah sadar, di dunia yang diam-diam ia inginkan, ia menciptakan sosok lembut yang ia sebut sebagai ayah untuk ia temui di dunia mimpi, fantasi anak yang kekurangan kasih sayang misalnya.

"Minseok-ah"

Sebuah tangan terulur begitu saja menghapus air yang entah sejak kapan sudah menjejak disana, menciptakan anak sungai yang cukup untuk membasahi seluruh wajah. "Wae geurae?"

"Bogosipho"

Siapa? Siapa yang dirindukan Minseok? Siapa yang ingin dilihatnya sampai ia menangis dan menyebabkannya demam.

"Nuguseumnika?"

-o0o-

"Sungmin telah pergi?" Hangeng mengusap kepalanya dengan kasar, jadi itulah mengapa ia tidak bisa menemukan pemuda itu dimanapun meski dia memutari Korea? Hangeng beberapa kali datang ke Korea untuk sebuah pekerjaan, sejak hari dimana Luhan mengalami kecelakaan dan seperti memeiliki trauma, ia seberusaha mungkin untuk tidak datang kesana kecuali jika memang diharuskan.

Dan ketika dia datang, ia mencoba mencari Sungmin, menemuinya untuk sekedar temu kangen, namun usahanya selalu gagal, ia tidak pernah bertemu, ia memang sempat berfikir kalau mungkin Sungmin sudah tinggal di Chicago karena dari yang ia dengar, Kyuhyun menetap disana.

Tapi ternyata, bukan itu alasannya. Alasannya adalah, karena Sungmin telah pergi, meninggalkan dunia ini tepat setelah ia melahirkan anaknya dengan Kyuhyun. Lalu fakta lain yang ia dapat juga tidak kalah mengejutkan, bahwa sesungguhnya Kyuhyun dan Sungmin tidak menikah, Kyuhyun menikah dengan wanita pilihan orangtuanya sementara Sungmin memilih sendiri sampai ia melahirkan anak mereka.

"Jadi apa anak itu adalah anak kalian?"

Kyuhyun menggeleng, maksud Hangeng pasti Johnny karena mereka sedang makan malam dan tidak sengaja bertemu dengan Hangeng – orang yang memperkenalkan dirinya dengan Sungmin.

"Anak kami bersama orangtua Sungmin hyung. Sungmin hyung pergi tepat setelah melahirkan anak kami. Pada bulan Maret 28 tahun yang lalu"

"Itu berarti sebulan sebelum Heechul. Anakku lahir pada bulan April 28 tahun yang lalu. Dia juga pergi sesaat setelah melahirkan anak kami"

Kalau mengingat bagaimana orang yang dicintai pergi, sesak di dada menyeruak, terlebih mereka pergi sebelum mereka melihat bagaimana indahnya anak yang telah dikandung dan dilahirkan, tumbuh menjadi pemuda mengagumkan dan sehat hingga saat ini.

Wajah keduanya memanas, Hangeng tidak bisa terlalu lama disini atau dia akan kelepasan, entahlah dia sedang merasakan amarah dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Fakta bahwa Sungmin telah pergi, tidak hidup bahagia dengan Kyuhyun membuatnya marah. Dia harus pergi atau dia akan menghajar Kyuhyun sampai habis.

"Hyung" panggilan itu diabaikan. Hangeng terus melangkah agak gontai bersama perasaannya yang campur aduk.

-o0o-

Luhan memandang wajah Minseok yang kembali tidur setelah menangis, siapa? Siapa yang begitu dirindukannya sampai seperti ini? Apa kekasihnya? Apa Minseok sudah punya kekasih sehingga Minseok tidak sadar bahwa dia adalah teman kecilnya yang pernah terjatuh bersama. Dan sebab itu Luhan kehilangan ingatannya.

"Siapapun itu Minseok-ah, bisakah kau melupakannya sejenak? Lihat aku yang sedang mencoba mengingat kembali dirimu, untuk aku memastikan, apakah kau bagian penting dalam hidupku atau malah sebaliknya. Tolong, aku ingin semua menjadi jelas dan setelah itu aku bisa tahu, jenis perasaan apa yang aku miliki terhadap dirimu"

.

.

Untuk semua readersnim aku yang aku cintai. Aku sangat senang dengan kalian yang mau menunggu dan membaca ff ini. Dan untuk yang mau meninggalkan jejak di kotak review nggak ketinggalan aku ucapin terimakasih. Tapi maaf untuk tidak bisa membalas dan mulai jarang banget up. Aku pikir setelah lulus sekolah dan tidak melanjutkan kuliah, aku bakal banyak waktu luang untuk menulis ff, tapi ternyata aku salah. TT, aku malah semakin sibuk dan jarang banget ketemu laptop. Tapi tenang aja, aku akan tetap melanjutkan semua ff meski kerjaanku segudang(lebay banget aku. haha.) tapi mohon dimengerti jika lamakarena aku udah nggak mikirin ff aja, dan juga aku ada niat untuk melanjutkan kuliah tahun ini. Jadi, mohon mengerti dan maaf karena tidak membalas review. Sekian, salam cinta.

.

.

Untuk yang bilang tentang – kenapa Sungmin di nistakan disini padahal di dunia nyata dia udah bahagia dan menikah –punya isteri. Tolong pahamilah, ini adalah FF (Fan Fiction) yang mana mengandalkan imajinasi menggunakan idola sebagai tokohnya. Aku tidak bermaksud untuk menjelekan atau menistakan dia, hanya saja dia cocok untuk karakter ini. Pemilihan tokoh juga nggak sekedar karena mereka couple, tapi karena memang mereka cocok, jadi istilahnya kayak ada castingnya gitu. Jadi mohon di mengerti. Anggap aja begini, di FFn mereka nista, tapi di dunia nyata mereka bahagia. okay. Sayang kalian semua. Terimakasih udah mau ninggalin jejak. Kisskiss

.

.

Moonbabee