Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature
Note: Saya saranin kalian baca fic saya yang berjudul He Can't Tame Me dulu karena ini omake dari fic tersebut
Mungkin kalian bakalan sebel karena di sini banyak flashback hubungan Shi dan Sakura... Jadi saya ingetin di sini kalian bisa skip chapter ini...
Yang di bold itu mimpi ya...
.#.
Sakura mengembuskan napas berat.
'Satu pertemuan, dan dia berhasil membuat pikiranku berubah seratus persen,' keluh Sakura dalam hati.
Sakura melirikan mata hijaunya ke arah Naruto yang masih tertidur pulas, menatap lekat-lekat pria yang dicintainya itu, lalu tersenyum pahit sambil kembali memandang keluar jendela.
.#.
Flashback ON
.#.
Sakura masih terdiam memandang kosong lautan dihadapannya.
Ia akhirnya mengatakannya...
Mengatakan jika ia jatuh cinta pada Naruto...
Dan itu seakan seperti mimpi ketika Naruto menyetujui segala kekurangannya.
Memang siapa yang mau hanya menjadi kekasih? Tidak lebih?
Sakura awalnya hanya menginginkan melepas perasaan yang selalu ditahannya selama ini, ia hanya ingin Naruto mengetahuinya karena selama ini pria itu selalu berada di sisinya, ia merasa Naruto berhak tahu, ia sama sekali tidak meminta lebih.
Sakura selalu merasa dirinya tidak pantas dengan siapa pun, dengan segala masalahnya yang selama ini disimpannya rapat-rapat, dan ia juga selalu menilai takkan pernah bisa membahagiakan seseorang dengan penyakit yang dideritanya. Ia merasa dirinya tidak sempurna akan hal itu hingga selama tujuh tahun ini ia menutup rapat-rapat hatinya.
Salahkah dirinya? Hidupnya berantakan, termasuk mentalnya...
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Naruto pelan.
Sakura tersadar dari lamunannya, menolehkan kepalanya ke sampingnya dimana Naruto berada—memandangnya dengan ekspresi penasaran.
Mana mungkin Sakura mengatakan ia memikirkan Naruto, itu akan membuatnya malu dan juga pasti Naruto akan narsis lagi.
Ia pun mencari alasan lain.
Sambil berpikir, Sakura memberanikan diri menatap Naruto setelah sebelumnya menolak karena malu akan pengakuan cintanya tadi; kedua mata biru yang indah dihadapannya memandangnya penuh kepolosan, sejak pertama kali ia selalu mengagumi mata Naruto namun entah kenapa kali ini mata biru pria itu jauh lebih indah dari sebelumnya—mungkin karena itu efek dari matahari senja atau karena ini untuk pertama kalinya ia menatap Naruto begitu lama... ? Ia tidak tahu, yang pasti degub jantungnya berdegub lebih kencang, yang membuatnya mengalihkan mata hijaunya ke sisinya.
Sakura masih belum terbiasa dengan perasaannya pada Naruto, sudah tujuh tahun ia tidak merasakan jatuh cinta hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Kau tahu Naruto..." Sakura membuka suaranya pelan. "Aku selalu bertanya-tanya kenapa kau tidak pernah menyerah soalku," katanya. "Saat kau marah dan tidak pulang ke apartemen, aku berpikir 'ini sudah selesai', tapi ternyata tidak,"
"Itu... sulit juga..." Naruto mengakui. "Sesungguhnya aku menyerah tapi ibuku memintaku untuk tidak menyerah soalmu..." ia berhenti untuk memutar bola matanya. "Ibuku memberikan pilihan yang membuatku tidak bisa menolaknya jadi aku menghabiskan waktu bersamamu satu hari lagi, dan kau tahu sisanya..."
"Oh..." Sakura tidak terlalu puas dengan jawaban Naruto, bagaimana tidak? Alasan Naruto tetap mempertahankan hubungan mereka karena Kushina bukan dari diri Naruto sendiri. Ia mengembuskan napasnya; kenapa juga harus kecewa? Seharusnya ia merasa beruntung, hidupnya itu kacau sekali.
Naruto memejamkan mata birunya, berpikir jauh sesaat. "Tapi jika kau bertanya sebelum itu, ketika pertama kali kita bertemu, aku merasa kau butuh bantuanku."
"Huh?" Sakura tidak mengerti sama sekali.
"Matamu Sakura," kata Naruto memandang Sakura serius. "Saat aku melihat matamu itu indah tetapi juga memancarkan kesedihan dan misterius di saat yang bersamaan, meskipun kau berperilaku senang dan ikut tertawa bersama teman-teman kita juga tetapi matamu berkata lain." jelasnya.
Sakura menggaruk lengannya; ia tidak menyangka Naruto akan mengetahui perasaannya hanya dengan melihat matanya. Memang kencan buta itu bukanlah keinginannya karena ia dijebak oleh Ino, jadi selama acara berlangsung, dalam hati kecilnya, ia ingin cepat-cepat pergi dari situ.
Meskipun Sakura tidak memungkiri ia juga menyimpan sedikit rasa suka pada Naruto karena pria itu memang tipenya, bahkan sesekali mengecek Naruto diam-diam dan berpura-pura menyelipkan helaian rambut pink-nya ke belakang telinganya ketika Naruto mengetahuinya.
"Dan sekarang matamu jauh lebih cantik..." kata Naruto serius.
Sakura seketika terpana setelah mendengarnya, ia dapat merasakan kedua pipinya memanas.
Katakan sesuatu!
"B-berapa banyak wanita yang kau puji seperti itu... hm?" Sakura berusaha mencairkan suasana yang panas serta degub jantungnya ini dengan mencoba membuat Naruto kesal.
Naruto kebingungan sesaat; bagaimana bisa Sakura di situasi serius seperti ini ingin membuat dirinya... kesal? Seperti ingin menghindar, bisa dilihat dari rona merah di pipi wanita muda—"Heh," ia terkekeh setelah mengerti maksud tersembunyi Sakura, bahkan bibirnya berusaha menahan tawa. "Kau bersikap keras kepala tapi kau ini sesungguhnya bahagia." pancingnya.
Satu kedutan muncul di dahi Sakura; ia tidak menyangka malah kata-kata—ejekan yang justru keluar. Ia membuka mulutnya bersiap membalas namun terhenti saat Naruto menarik tangannya yang membuat tubuhnya 'menabrak' dada pria itu, "H-hey..." protesnya, hendak melangkahkan kakinya mundur namun kembali terhenti lagi karena kali ini Naruto melingkarkan tangannya keseliling tubuhnya, memeluknya, yang membuat degub jantungnya kembali berdegub cepat hingga ia dapat mendengarnya—? "Hm." mana mungkin, kan? Mungkin degub jantung Naruto—? Ia berada dipelukan pria itu ditambah telinganya juga menempel di dada pria jadi tentu saja negatif bukanlah miliknya yang ia dengar sekarang ini.
Degub yang berdetak cepat ini milik Naruto—dan entah kenapa membuat tubuhnya rileks perlahan.
Sakura sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi lemah saat dipeluk oleh Naruto, ia tidak seperti ini sebelumnya bahkan pada Ino juga tidak bahkan cenderung menolak, tapi kenapa ketika Naruto yang melakukannya, tubuhnya bereaksi berbeda—?
Merasakan Sakura mulai tenang, Naruto berkata pelan serta hati-hati. "Jangan menolak aku lagi, ya?"
Mata hijau Sakura melebar, kebingungan dengan maksud dibalik kata-kata tersebut.
"Atau perasaanmu terhadapku," Naruto menambahkan.
"Naru..." sepertinya Naruto menyadari bahwa dirinya tadi berusaha menyingkirkan perasaannya.
Bagaimana bisa ia mengatakannya? Ini pertama kalinya setelah tujuh tahun ia jatuh cinta kembali dan ia merasa asing dengan perasaan tersebut sebab selama ia selalu sendirian, ia selalu merasa tak membutuhkan perasaan tersebut.
Ia selama ini baik-baik saja sendiri...
Meskipun memang terkadang terbisik untuk memiliki kekasih jika melihat hubungan asmara teman-temannya. Namun ia membuang jauh-jauh pemikirannya karena ia cemas percintaannya berakhir gagal seperti sebelumnya dengan Shi, dan lagi ia selalu menilai dirinya sendiri tak sempurna untuk orang lain.
Ia selalu membenci dirinya sendiri... ia selalu merasa tidak pantas dengan siapapun karena semua masalah pribadinya.
Tapi sekarang sudah tidak ada lagi halangan seperti itu, ia mampu membuang sedikit beban di pundaknya setelah sekian lama ia pikul sendirian, dan ia mampu melakukannya karena bersama Naruto.
Itu terdengar aneh, ia tidak habis pikir bahwa bantuan yang dibutuhkannya adalah seorang lelaki—yang selama ini ia dorong jauh-jauh dari kehidupannya.
Bukan.
Ini bukanlah masalah gender, mungkin yang dibutuhkannya hanyalah seseorang yang terus bersamanya tanpa ada kata menyerah.
Terakhir kali ia bersandar pada seorang lelaki, ia mengecewakan lelaki tersebut, dan lelaki itu tidak memperjuangkan cinta mereka berdua.
Kini ia menemukannya dalam diri Naruto, dan karena itu pula ia perlahan jatuh hati.
Masalahnya sekarang apakah ia pantas untuk Naruto...?
Naruto selalu berkata jujur pada orang yang berkomunikasi dengannya, berbeda dengan dirinya yang memasang topeng bahagia agar terhindar dari masalah.
Apakah ia pantas dicintai oleh Naruto...?
Apakah ia pantas...?
Ia merasa putus asa.
Sakura melepaskan pelukan mereka, menatap lekat-lekat mata biru di seberangnya. "Aku serius padamu, Naruto. Apa yang membuatmu suka padaku, hm...?" tanyanya.
Naruto tidak menjawab.
Sakura dapat melihat ekspresi Naruto berubah sedikit jengkel—? Sebelum sedetik kemudian berubah datar—yang sulit ditebak olehnya; mata hijaunya turun kecewa tidak kunjung mendapat jawaban.
Tentu saja Naruto akan kesulitan kan? Pria itu sudah melihat banyak keburukannya.
"Dengar, Naru—"
"Aku sendiri tidak tahu," Naruto menyela.
"Huh?" Sakura kebingungan.
Naruto mengangkat bahunya dengan polos. "Memang aku awalnya tertarik dengan sisi misteriusmu tapi kurasa tidak cukup."
"Kau tidak?" Sakura sedikit kecewa.
"Apakah itu penting?" Naruto bertanya datar; ia berpikir lagi. "Mungkin karena... kau wanita paling tidak penurut yang pernah kutemui...?"
Sekarang Sakura marah. "Maksudmu?" tanyanya ketus.
"Itu bukanlah sesuatu yang buruk," kata Naruto. "Kebanyakan wanita yang aku kencani tipe seperti itu karena aku tidak senang wanita pemberontak,"
"Kau menilaiku wanita liar!?" seru Sakura naik pitam; ia berharap jawaban yang manis—bukan menyakitkan hati begini.
"Whoaa," Naruto panik sesaat, menahan tangan Sakura yang sepertinya bersiap untuk memukul dirinya. "Seperti yang aku bilang, aku tidak tahu," katanya. "Bagiku bukan hal yang penting,"
"Yah, yah," sahut Sakura acuh tak acuh.
"Bagiku yang terpenting, aku menyadari perasaanku dan memperjuangkannya tanpa lelah."
Kata-kata tadi sukses membuat kekesalan Sakura berubah tertarik. "Memperjuangkan?" tanyanya ragu-ragu.
Naruto mengangguk kecil. "Kau juga, kan?" tanyanya balik, serius.
"Aku..." tidak... ia tidak berpikir untuk memperjuangkan cintanya pada Naruto sejak menyadari perasaannya, ia justru semakin ingin menjauh dari pria itu karena takut gagal lagi seperti dulu...
"Kau berpikir kau ini tidak pantas untuk aku, ya?" Naruto menebak setelah dengan intens mengamati gerak-gerik Sakura.
Sakura jelas terkejut bukan main. "Bagaimana kau—!?"
"Sakura, Sakura," Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Tidak ada satu orang pun yang tidak pantas untuk siapa pun,"
"Kau tidak mengerti!" seru Sakura marah. "Aku punya banyak masalah! Dari keluargaku, pekerjaanku bahkan diriku sendiri!" lanjutnya berapi-api, satu detik kemudian wajahnya berubah sedih. "Bagaimana bisa aku pantas sementara aku sendiri 'hancur'?" tanyanya. "Aku selalu membuat sesuatu yang sempurna menjadi hancur jadi bukankah akan lebih baik tidak memperjuangkannya?" lanjutnya pelan nyaris berbisik.
Naruto mengembuskan napasnya. "Berhenti membenci dirimu sendiri, dattebayo!"
"Hah...?" Sakura kebingungan; bagaimana bisa Naruto berpikir seperti itu? Tidakkah pria itu tahu rutinitas yang dijalaninya sehat? Memang ia suka minum pil vitamin namun selain kebiasaan buruk itu, ia suka berjalan kaki dan hampir jarang meminum alkohol.
"Itu bukan soal kebiasaanmu," kata Naruto, ia melipat tangan di depan dadanya. "Tapi soal caramu menyikapi masa lalumu, Sakura." jelasnya. "Kau menyalahkan diri sendiri atas kejadian yang menimpamu, aku mengerti jika itu sulit, tetapi apakah kau tidak merasa terlalu keras pada dirimu sendiri?"
Sakur tidak menjawab.
Terlalu keras pada diri sendiri...?
Benarkah ia seperti itu...?
Maksudnya ia hanya menutup hatinya sejenak agar tidak menyusahkan orang lain... apa bisa disebut keras...?
Ia selalu berpikir itulah jalan yang terbaik sebab selama beberapa tahun ini ia baik-baik saja tanpa lelaki spesial di hatinya.
Naruto pasti salah menilai dirinya...
Sakura tersadar dari lamunannya setelah mendapat cubitan pelan di pipinya, mata hijaunya yang tadi kosong kembali fokus menatap mata biru Naruto. "Hm?"
"Aku memang tidak tahu situasimu seperti apa dulu, aku hanya bisa menilai dari sedikit ceritamu padaku," kata Naruto. "Tapi aku jujur padamu, situasimu hampir sama sepertiku," ia berhenti untuk mengambil napas dalam, "Aku juga kehilangan Sara, kami memang sudah putus tetapi perasaanku masih kuat dengannya, mungkin juga sepertimu dengan lelaki bernama Shi itu,"
"Oh..." jika dipikir-pikir ada benarnya juga, kan? Naruto hanya sedikit cerita soal Sara jadi ia belum bisa menilai sepenuhnya.
"Cara menyikapinya juga sama sepertimu," kata Naruto datar, lalu wajahnya berubah sedih. "Aku menyalahkan diriku sendiri atas kepergiannya, aku terus berkata pada diriku sendiri 'seharusnya aku lebih bisa berpikir dengan otakku' atau 'aku satu-satunya harapan tapi aku...' atau yang lain."
"Uh..." itu mulai terdengar seperti dirinya sendiri; ia tidak tahu harus berkata apa.
"Aku selalu menyesalinya, aku juga belum lama kehilangan adikku karena kecerobohanku, lalu aku harus menghadapi soal kepergian Sara. 'Kenapa hidup begitu menentangku bahagia?', 'kenapa harus aku?' hanya itu yang ada di kepalaku," lanjutnya, ia mengambil napas dalam, dan menatap dalam Sakura. "Aku menyalahkan diriku sendiri, iya, tapi aku tidak larut berlama-lama, aku move on tetapi tidak melupakannya, maksudku, semua itu masa lalu, menyalahkan diri sendiri, berpikir 'jika saja aku...' takkan merubahnya, jadi aku menjadikan masalah itu sebagai pelajaran agar tidak terjadi pada orang-orang yang berharga bagiku nanti."
"Naruto..." Sakura benar-benar tidak tahu harus berkata apa; apa yang Naruto katakan persis seperti apa yang dilakukannya, menyalahkan diri sendiri, depersi tetapi ia melupakan satu hal yang Naruto lakukan yaitu ia lupa melihat selalu ada titik terang di kegelapan; ia memang melihatnya namun ia menolak untuk meraihnya sebab ia merasa tidak pantas, ia merasa dirinya ini lebih pantas di kegelapan akan masa lalu yang dihancurkan olehnya.
"Sekarang..." Naruto membuka suara lagi, "Aku tidak mau itu terjadi lagi, aku akan mempertahankannya," lanjutnya, ia mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar. "Jadi kau mau, kan?"
Sakura hanya memandang tangan besar yang terulur dihadapannya.
Haruskah... ia?
Bolehkah... ia?
Sakura menggigit bibir bawahnya, ragu akan keputusan yang harus diambilnya.
Ia memang menyatakan cinta pada Naruto, namun ia tidak berharap dibalas, ia hanya mau menyatakan saja...
"Sakura," panggil Naruto pelan. "Jangan berpikir yang tidak-tidak, ok? Sekarang, hanya pikirkan dirimu saja."
—memikirkan dirinya sendiri—?
Bolehkah... ia?
Sakura menatap Naruto, mencari jawaban.
Di wajah Naruto tidak ada keraguan sedikit pun, hanya sebuah senyum kecil di bibirnya.
Sedikit aneh kah ia jika berpikir senyuman Naruto saat ini terlihat manis sekali—? Mungkin karena itulah ia tak bisa tidak membalas dengan tersenyum kecil juga.
Sakura memejamkan matanya seraya mengambil napas dalam.
Jika ia berpikir hanya tentang keinginannya, jawabannya tentu saja ia ingin menyambut uluran tangan Naruto dan mulai melangkah bersama ke depan.
Mulai merasakan lagi mencintai dan dicintai seseorang...
Dicintai oleh Naruto... dan Naruto bukanlah seseorang yang asing baginya, Naruto sudah bersamanya di saat waktu tersulitnya, dan tidak ada satu keluhan keluar di bibir pria itu sampai detik ini.
Sakura yakin jika bersama Naruto, ia akan baik-baik saja.
Apa yang ada dipikirannya saat ini hanyalah masa depan yang cerah bersama Naruto.
Sakura membuka matanya setelah kebimbangannya terpecahkan; pikiran dengan hatinya sudah menyatu sekarang; ia tak mau lagi melepas kesempatan untuk yang kedua kalinya. Perlahan ia mengulurkan tangan kanannya, dan meletakannya di atas tangan Naruto.
Senyum kecil Naruto pun berubah lebar, yang lagi membuat Sakura ikut tersenyum.
Ya...
Ia dan Naruto akan baik-baik saja...
.#.
Flashback OFF
.#.
Sakura mengembuskan napasnya dalam.
'Satu kali bertemu takkan mungkin membuat perasaanku goyah,' kata Sakura dalam hati
Setelah menyemangati dirinya sendiri, Sakura menutup tirai jendela rapat-rapat lalu mengambil kursi dari kamar mandi dan meletakannya tepat di samping Naruto, dan duduk.
'Polosnya,'
Sakura menyingkap lembut helaian rambut pirang yang menutupi pipi Naruto; memerhatikan lebih dekat secara diam-diam begini bukanlah hobinya, ia selalu merasa hal itu sesuatu yang aneh, memerhatikan orang lain tidur, ia selalu tidak mengerti apa kepuasan dari itu. Sekarang ia mengerti, atau mungkin ia hanya senang melihat wajah Naruto dari dekat tanpa harus digoda oleh pria tersebut.
Terakhir kali Naruto memergoki dirinya memperhatikan, kekasihnya itu lantas memberikannya ciuman singkat di bibirnya dan menggodanya kalau dirinya memperhatikan hanya memberikan sinyal minta dicium.
Sakura kali ini meletakan telapak tangannya di atas tangan Naruto, mengaitkan jari-jari mereka lembut—meyakinkan bahwa ini bukanlah mimpi.
Terkadang Sakura merasa ini seperti mimpi, bertemu lelaki seperti Naruto—yang mengerti dirinya luar atau dalam, ia selalu bersyukur akan hal tersebut.
Ia hampir tidak percaya akan ada lelaki yang mampu bertahan dengannya dalam waktu yang lama.
Dan hampir tidak percaya tiga bulan yang lalu penilaiannya berubah hanya karena Naruto.
Sakura masih ingat betul ditipu oleh Ino untuk kencan buta...
.x.
Flashback ON
.x.
Brak!
Sakura terkesikap mendengar suara benturan keras, ia berhenti membereskan buku-buku untuk sejenak melihat dari mana asal suara kasar tersebut—dan melanjutkan lagi setelah mengetahui itu hanyalah Ino yang membuka pintu.
"Kenapa kemari?" tanya Sakura malas.
"Wow," Ino tertawa mengejek. "Selamat malam juga, Sakura," sindirnya.
Sakura memutar bola matanya. "Ada masalah lagi?"
"Ada masalah?" Ino mengulangi dengan nada mengejek. "Hahaha! Tentu saja ada masalah," sindirnya halus. "Kau itu masalahnya!" serunya emosi.
'Mulai lagi,'
Sakura tahu Ino akan memprotesnya namun ia tak menyangka akan secepat ini, ia menebak mungkin Gaara memberitahu Ino atau ada seseorang yang mendengar percakapannya dengan pria tersebut.
Sakura meletakan buku-buku ke dalam rak, lalu bersandar santai ke meja kerjanya sambil melipat tangannya. "Aku... ?" tanyanya sepolos mungkin.
"Ya kau, Haruno Sakura." kata Ino. "Aku tidak percaya kau menolak Gaara! Sabaku Gaara!" serunya berapi-api, tidak percaya sama sekali. "Kau kehilangan akal sehatmu ya?" tanyanya terheran-heran.
Sakura mengerutkan alisnya, tersinggung akan pertanyaan Ino, namun ia teringat persahabatan mereka jadi ia tetap bersikap sekalem mungkin; ia tahu Ino hanya cemas terhadapnya. "Haruskah aku mengingatkan jika Gaara memiliki tunangan?"
"Duh," Ino memutar bola matanya. "Semua orang tahu itu hanya paksaan," sahutnya santai. "Dan semua orang juga tahu Gaara jatuh cinta padamu,"
Sakura tidak menjawab.
Mengingat soal pertunangan Gaara membuat Sakura teringat Matsuri—yang terang-terangan mengaku pada dirinya jika wanita muda itu mencintai Gaara di pesta ulang tahunnya; ia tidaklah bodoh, ia tahu maksud dari Matsuri mengatakan hal itu padanya untuk meminta dukungan darinya sebab mungkin Matsuri mengetahui perasaan Gaara padanya lebih dari sekedar sahabat.
Setidaknya itulah pikiran positifnya, jika negatif, Matsuri mendeklarasikan jika Gaara milik wanita muda berambut cokelat itu.
"Aku tidak berkencan dengan sahabatku sendiri," kata Sakura dingin. "Takkan pernah terjadi karena aku tidak percaya sahabat bisa menjadi cinta," jelasnya tegas, ia lantas menguap kecil agar Ino percaya ini bukanlah hal yang penting untuk dibicarakan. "Jelas? Kau ingat, kan kata-kataku itu?"
Ino memutar bola matanya; mana peduli ia akan hal tersebut. "Maaf, aku tidak tahu soalnya kata-katamu, banyak bohongnya sih,"
Kali ini Sakura yang memutar bola matanya; tidak mau berdebat lagi dengan Ino, ia mengambil jaketnya yang berada di meja, memakainya lalu ia keluar dari ruangan kerjanya.
Ino menggembungkan pipinya, ikut keluar dan mengejar Sakura hingga sampai di depan sahabatnya itu.
Sakura menepuk keningnya, lelah dengan sikap sahabatnya. "Kau mau apa lagi?" tanyanya dingin.
"Kau lupa ya sekarang hari apa?" tanya Ino.
Pertanyaan macam apa itu? "Kenapa memangnya?"
"Kau lupa setiap akhir pekan kita menghabiskan waktu bersama?" tanya Ino.
Sekarang Sakura ingat, memang mereka selalu menghabiskan waktu bersama, terkadang Matsuri ikut namun jarang sebab pekerjaan sebagai model gravure dan tunangan Gaara menyita banyak waktu. "Malam ini giliranmu memilih tempat nongkrong kita, kan?"
Bibir Ino mengukir seringai kecil; sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. "Ya!" sahutnya semangat. "Dan aku tahu tempat bermanja ria buat kita."
Sakura merasakan ada sesuatu yang tidak beres, apalagi dengan seringai jahat Ino tadi; haruskah ia kabur saja... ?
Namun sebelum Sakura sempat mengeluarkan kata-kata, ia sudah ditarik keluar dengan erat oleh Ino.
"H-hey, hey, Ino..." Sakura berusaha memprotes.
"Tenang saja, kau akan menyukainya Sakura,"
Justru malah membuatnya semakin curiga!
.x.
Sakura yang sejak di rumah sakit merasa cemas akan apa yang direncanakan Ino, kini ia tidak henti-hentinya menggerutu ketika memasuki bar tempat Ino bekerja.
"Serius..." Sakura membuka pembicaraan, memandang sekelilingnya. "Bermabuk-mabukan yang kau maksud bermanja ria?" keluhnya kecewa. "Sisi kreatifmu hilang setelah bekerja jadi bartender?"
"Ugh! Kau selalu mengeluh!" seru Ino tidak terima. "Sudah duduk dan nikmati saja,"
"Yes ma'am," sahut Sakura acuh tak acuh, menurut, ia duduk di kursi dekat bartender; hari ini ia tak berselera minum alkohol, ia melirikan matanya ke Ino menunggu sahabatnya itu duduk di sampingnya namun bukannya duduk melainkan Ino masuk ke dalam untuk mengganti bajunya dengan seragam kerja dan masuk ke bagian bar. "Ino, aku tidak mau mengganggu jadi kita batalkan saja ini."
"Tidak!" Ino dengan tegas menolak, sadar nadanya kelewatan, ia tertawa gugup. "Ini sudah tradisi kita,"
Sakura tidak menjawab; penolakan ini kian membuat kecurigaannya meningkat, ia yakin Ino merencanakan sesuatu, tapi... apa? Mungkin ia perlu memprovokasi sedikit. "Aku ingin air putih saja, hari ini berat sekali," katanya.
"Ayolah Sakura..." Ino memutar bola matanya malas. "Bersemangatlah sedikit, malam ini kau dilayani oleh bartender terbaik, minumlah sedikit." rayunya. "Ini pun sebagai perayaan kau sukses memimpin operasi,"
Sakura menimbang-nimbang; memang benar operasi pertamanya sukses namun merayakan dengan minum-minum baginya bukanlah ide yang bagus meski besok memang libur namun ia tak bisa tenang sebab mungkin ada keadaan darurat yang membuatnya harus bekerja.
"Ayolah, tidak usah berpikir keras Sakura," kata Ino berusaha merayu lagi. "Minuman pertama aku yang traktir! Sakura bersenang-senanglah sedikit, kau itu membutuhkannya."
"Well," Sakura tidak bisa membalasnya sebab memang benar perkataan Ino apalagi kalimat yang terakhir, akhir-akhir ini ia sama sekali tidak bisa bersantai-santai selain karena pekerjaannya, PTSD yang dideritanya juga sering kambuh, efek Ino membuat peraturan buatnya hanya di perbolehkan bekerja selama seminggu dua kali.
Ia memang butuh kesenangan sedikit...
Namun di sisi lain, Sakura juga ragu karena Ino begitu keras kepala menginginkannya minum-minum; ia akui dirinya bukanlah 'peminum berat' tapi ia juga bukanlah wanita yang mudah mabuk juga.
"Ini," kata-kata Ino membangunkan Sakura dari lamunan panjangnya.
Sakura melihat gelas berbentuk segitiga dengan sisi panjang ke bawah disodorkan didepannya, isisnya berisikan cairan berwarna kuning kecokelatan dihiasi oleh satu buah zaitun di bibir gelas. "Apa ini?"
Ino tidak menjawab, berpikir sesaat. "Sampanye," sahutnya.
Sakura melirikan mata hijaunya lagi ke gelasnya lalu memandang Ino. "Tidak terlihat seperti sampanye," ia bukanlah ahli soal jenis minuman alkohol tapi ia tahu betul soal warna sampanye karena dulu ayahnya sering kali mengajaknya ke pesta rekan bisnisnya, warna di dalam gelas ini terlalu gelap untuk sampanye, apakah Ino memakai menu baru...?
Ino tidak menjawab lebih memilih memasang wajah kesal dengan kedua tangan dilipat di depan dadanya.
Sakura mengerti sinyal itu dan memutar bola matanya. "Kau tidak perlu marah begitu, aku kan hanya bertanya," keluhnya, ia akhirnya mengangkat gelas tersebut, tidak bisa menahan dirinya, ia memperhatikan gelas bening tersebut, menggoyangkannya beberapa kali, barulah ia meminum isinya dalam satu kali tegukan, kemudian ia mengernyit. "Rasanya... unik...?"—rasanya pun berbeda dari yang pernah dirasakannya dulu—lagi, ia tidak tahu ada berapa macam sampanye, mungkin ini jenis yang belum pernah dicobanya...?
Ino tersenyum puas. "Ini minuman kebanggaanku," katanya percaya diri.
"Hm..." meskipun rasanya terasa asing baginya, Sakura tidak memungkiri tubuhnya perlahan rileks, kepalanya yang tadi terasa berat sedikit membaik; sahabatnya itu memang hebat membuat minuman.
"Lagi?" tanya Ino.
Sakura berpikir sesaat; ia bukanlah wanita yang mudah mabuk jadi mungkin minum satu lagi tidaklah buruk? "Please," pintanya, menggeserkan gelasnya ke depan, memberi sinyal untuk diisi lagi.
Ino tertawa kecil, dan mulai membuat pesanan sahabatnya. "Kau tahu Sakura," ia membuka percakapan disela-sela kegiatannya. "Besok teman-teman Shikamaru dan aku akan makan malam bersama buat menyambut teman Shika dari kampung halamannya."
"Hm," Sakura menggumam tak tertarik sama sekali, ia tersenyum melebar mendapati pesanannya berada di depan matanya, tanpa berpikir panjang lagi ia segera meminumnya.
Ino tertawa geli melihat pipi Sakura mulai merona merah; sedikit lagi. "Teman Shikamaru yang mau kemari itu tipemu banget loh Sakura," katanya.
"Ini lagi," Sakura memutar bola matanya; seharusnya ia sudah tahu rencana Ino tidaklah jauh dari lelaki. "Aku ini baik-baik saja sendirian," katanya, lalu minum lagi. "Lagi pula seleraku itu kan sewaktu sekolah, sekarang aku ini wanita dewasa, seleraku sudah berubah."—minuman ini sungguh candu, pening kepalanya sudah hilang!
'Ino memang bartender terbaik!'
Ino meletakan satu lagi gelas sampanye untuk Sakura meskipun sahabatnya itu tidak memesan. "Ayolah, dia hot sekali loh, coba saja dahulu."
Brak!
Sakura memukul meja bar dengan kasar. "Aku sudah bilang aku tidak mau! Berapa kali harus bilang padamu, woman!" serunya galak, lalu meminum gelas yang tadi diberi oleh Ino penuh emosi. "Shit..." umpatnya; kenapa kepalanya berputar-putar seperti ini?
Kenapa?
Kenap—
Seketika itu juga pandangan matanya berubah gelap.
"SAKURA!"
.x.
Sakura merasakan ada sesuatu yang menyentuh hidungnya, memberi ketukan-ketukan pelan di sana—yang sukses membuat kelopak matanya yang berat terbuka perlahan.
"Hm...?" erangnya sambil mengerjap-ngerjap untuk memfokuskan objek dihadapannya yang berbayang-bayang; ia melihat warna pirang pucat—? "Ino...?"
Ino tersenyum manis. "Selamat pagi, beautiful."
"Huh...?" Sakura terheran-heran dengan sapaan Ino tadi, tidak biasanya sahabatnya itu memakai kata 'pujian' se-pagi ini jika tidak ada maksud tersembunyi; lantas ia pun bangkit duduk, waspada. "Apalagi sekarang?" tanyanya sambil memijat pelipisnya.
"Apa?" Ino bertanya balik polos.
Oh, Ino bermain polos-polosan padanya, eh?
"Sudahlah, apa rencanamu," kata Sakura.
Ino melempar pandangan ke arah lain. "Aku tidak melakukan apa-apa,"
Sakura tidak percaya. "Sungguh?"
Ino mengangguk.
Sakura mengembuskan napasnya lega.
"Jadi ayo bangun dari ranjang kesayanganmu," kata Ino menepuk punggung Sakura. "Dan bersiap untuk bekerja."
Mendengar kata 'kerja' membuat kepalanya berputar; seharusnya ia tidak minum semalam; salahnya juga mau jadi ia harus menanggung akibatnya.
Sakura bangun dari ranjang, merenggangkan otot-ototnya dan berjalan menuju tirai jendela, ragu-ragu untuk menyingkapnya.
'Haruskah aku?' tanyanya pada diri sendiri.
Sakura menggelengkan kepalanya; ia belum bisa mengatasi ketakutannya jadi ia menurunkan lagi tangannya dari tirai pink miliknya.
'Aku wanita yang lemah,' katanya dalam hati.
"Tugasku selesai," kata Ino tersenyum lebar lalu berbaik berjalan menuju pintu—membukanya namun berhenti di sana. "Oh, aku lupa bilang kau ada kencan malam ini,"
"Hm..." Sakura menjawab sekenanya, masih mengumpulkan kesadarannya sehabis tidur.
Kencan di malam ini, eh? Kencan dengan siapa? Kencan dimana? Tidak terlalu buruk—!
"Apa maksudmu dengan KENCAN!?" seru Sakura panik setelah sukses memproses kata-kata Ino di otaknya.
Sahabatnya ini sudah kehilangan pikirannya apa!?
Ia baru menolak Gaara kemarin dan ia mendapat kencan malam ini? Wanita macam apa dirinya? Reaksi Gaara juga akan seperti apa?
'Well, aku tidak terlalu peduli karena aku bilang punya kekasih,' gumam Sakura dalam hati.
Tapi kencan? Kencan... Kencan!
Ino hanya melambaikan tangan acuh tak acuh. "Baca kertas di mejamu sayang, kau akan mengerti," setelah mengatakan itu ia pergi keluar.
Apa lagi kali ini?
Sakura menghentak-hentakan kakinya penuh amarah menuju meja kerjanya, di sana ada satu lembar kertas seperti apa yang dikatakan sahabat 'tersayangnya', ia pun mengambilnya dengan kasar dan membacanya. "Persetujuan kencan buta—INO!"
.#.
Flashback OFF
.#.
Sakura tersenyum kecil.
Siapa sangka kekesalan dan kebenciannya akan kencan buta yang Ino rencanakan tersebut berakhir manis.
Jauh lebih manis, sesuatu yang ditunggu-tunggunya selama ini.
Sakura kembali membelai lembut pipi kekasihnya.
Iya, sesuatu yang jauh lebih manis.
Ia dan Naruto sudah melewati banyak rintangan meskipun hanya tiga bulan, ia merasa lebih kuat, merasa lebih baik bersama Naruto...
Ini akan baik-baik saja...
'Kita berdua akan baik-baik saja,'
Setelah menyemangati dirinya sendiri dalam hati, Sakura perlahan menutup mata hijaunya.
.x.
Sakura mengembuskan napasnya dalam-dalam, menenangkan degub jantungnya yang berdebar kencang.
'Lari dari kelas ke ruang kesehatan? Luar biasa.'
Ia menengadahkan kepalanya memastikan ruangan yang berada di depannya itu benar ruang kesehatan, barulah mengetuk pintu setelah memang benar ruang kesehatan.
Tok tok tok.
"Permisi," kata Sakura sopan.
Cklek.
Seorang wanita berambut hitam membuka pintunya dari dalam, mata merahnya melebar sesaat melihat Sakura berpenampilan kurang rapih seperti habis berlari, ia pun tersenyum ramah. "Sakura...? Ada perlu apa kau kemari? Apakah kau sakit?" tanyanya.
Sakura tidak menjawab; pikirannya berkecamuk apakah ia harus menjawab jujur ataukah berbohong? Berbohong juga harus karena apa? Namun jika jujur pasti ia takkan diijinkan masuk ke dalam.
"Aku..." Sakura ragu; otaknya bekerja mencari alasan yang tepat atau tepatnya mencari kebohongan. "Itu, perutku sakit, dokter Kurenai, bisakah aku istirahat sebentar di sini?"
"Hm...?" Kurenai mengamati tubuh Sakura sesaat. "Perutmu sakit tapi kau bisa berlari ke sini? Luar biasa..."
Sakura terkesikap pelan; busted. "A-aku tidak lari, dokter! Sungguh! Aku berkeringat karena menahan rasa sakit di perutku," katanya panik.
Kurenai kembali berpikir, mempertimbangkan.
Sakura merasakan jika kata-katanya tadi tidak cukup meyakinkan jadi ia memutuskan untuk memakai cara terampuhnya. "Aku mohon, dokter, hanya lima belas menit ijinkan aku istirahat ya? Ini kan juga masih jam istirahat. Perutku sakit sekali." pintanya memelas.
Kurenai mengembuskan napasnya. "Baiklah, kau boleh istirahat, tapi jangan berisik sebab Shi sedang istirahat."
Jantung Sakura seakan terhenti sesaat mendengar 'Shi', ia mengembuskan napas kecil.
Ternyata rumornya memang benar padahal ia berharap jika itu salah.
'Kenapa dia melakukannya?' tanyanya dalam hati, kecewa.
Kurenai yang melihat wajah Sakura yang berubah drastis langsung mengerti ke arah mana tujuan gadis muda itu sesungguhnya. "Masuklah," katanya.
Sakura menurut, mata hijaunya menyapu ke seluruh ruangan; ini pertama kalinya ia ke ruang kesehatan sekolah, tidak terlalu buruk bahkan terbilang bersih sekali; sekolah sebelumnya kalah dibanding ini, ia memang tidak salah masuk ke sini.
Sakura duduk di ranjang panjang, ia melirik melalui celah bahunya saat Kurenai mengambilkan obat untuknya di lemari; ada tirai seputih susu yang menutupi sesuatu di belakangnya, tebakannya mungkin ada ranjang yang lain sebab sejauh ini ia tidak melihat Shi.
Sakura merasa sedikit kecewa.
Ia yakin Shi menyadari keberadaannya, ataukah memang pemuda itu tertidur seperti yang dikatakan Kurenai—?
"Ini Sakura,"
Sakura tersadar dan mengambil obat beserta gelas yang berada di tangan Kurenai. "Arigatou," katanya.
"Kau sudah makan, kan?" tanya Kurenai.
Sakura mengangguk pelan.
"Good," kata Kurenai. "Istirahatlah, aku mau keluar sebentar,"
"Ha'i," sahut Sakura sekenanya.
"Kau harus kembali ke kelasmu atau kau akan aku usir karena mengganggu Shi," kata Kurenai.
"Ba—"—apa?
Blam.
Tadi Kurenai bilang akan mengusirnya jika mengganggu Shi?
Sakura tertunduk lesu; ia memang tidak pintar berakting.
"Sakit perut? Kau serius?"
Sakura menegakan tubuhnya lagi mendengar suara yang amat dikenalnya itu, dengan semangat ia menoleh ke belakang—tirai putih yang tadinya tertutup kini menjadi terbuka, memperlihatkan pemuda berambut pirang tengah duduk di ranjang dengan senyum mengejek di bibirnya.
"Kau memang tidak pintar berbohong," kata Shi lagi, mengejek.
Sakura tidak tertarik akan ejekan Shi, mata hijaunya fokus menatap lekat-lekat pada hidung pemuda itu, sebelum kemudian tertunduk sambil mencengkeram obat yang berada di tangannya. "Jadi memang benar senpai berkelahi?"
Senyuman Shi seketika berubah. "Shion... yang memberitahumu?" tanyanya serius.
Sakura tersenyum pahit. "Shion orang terakhir yang aku butuhkan," katanya.
"Hah..." Shi mengembuskan napasnya, lalu turun dari ranjang tempatnya tadi tidur dan pindah ke ranjang yang diduduki Sakura. "Kurasa situasi kalian berdua belum berubah?"
Sakura menggelengkan kepalanya kecil. "Apakah itu penting...?" tanyanya balik; berusaha mengakhiri soal sahabatnya. Detik kemudian ia membalikan tubuhnya dan memukulkan tangan ke ranjang. "Sekarang ini itu soal senpai! Katakan padaku kau ini tidak bertengkar dengan Chojuro-senpai."
Sama sekali tidak merubah ekpresinya, Shi menjawab datar. "Aku memang,"
Sakura menggigit bibirnya menahan kekecewaannya. "Kenapa melakukan ini? Senpai marah karena kemarin aku bilang Shion lebih memilih Chojuro-senpai daripada aku...?" tanyanya sedih.
"Itu bukan karenamu juga," kata Shi tidak setuju. "Aku hanya memberi nasihat sebagai sahabatnya, menilaimu sebagai gadis nakal karena kau tidak pernah masuk di hari sabtu bukan hal yang tepat," jelasnya.
"Chojuro-senpai memang benar kok," Sakura membenarkan, mengakui. "Aku ini bukanlah gadis baik-baik, aku tidak pernah ikut kegiatan klub di hari sabtu, saat berdebat dengan Shion soal itu pun aku tidak bisa membela sebab memang apa yang dikatakannya benar,"
Ia gadis yang nakal—bahkan ayahnya pun muak akan kelakuannya... jadi mungkin hal yang wajar Shion lebih memilih Chojuro yang lebih positif ketimbang dirinya.
"Kau punya alasan absen di hari sabtu," kata Shi tidak terima akan pendapat Sakura. "Ayahmu, ingat?"
"Memang tapi itu hanya senpai yang tahu, jadi kurasa tidak masuk hitungan," kata Sakura.
"Dan seperti yang aku bilang, sebagai sahabat baiknya, aku menegurnya," kata Shi. "Dia bisa menilaimu sesuka hatinya tapi menyuruh Shion untuk menjauhimu karena penilaian bodohnya itu levelnya sudah lain." jelasnya. "Aku bertindak senetral mungkin sebagai sahabat juga kekasihmu,"
Sakura merasa hatinya menghangat mendengar kata 'kekasih' keluar dari bibir Shi; sampai sekarang ia masih tidak percaya menjadi berkencan dengan pemuda yang disukainya sejak kelas satu. "Tapi perlukah kalian baku hantam karena aku?" tanyanya dengan nada sejengkel mungkin, menetralkan degub jantungnya yang berdebar kencang.
"Itu..." Shi berpikir sejenak. "Kami... um, terbawa suasana... sedikit...?" jawabnya canggung.
"Aku tidak suka," kata Sakura ketus.
"Apa?"—membela Sakura sampai hidungnya hampir patah bukanlah hal yang bagus? Ia mengerti gadis itu marah tetapi ia butuh juga pujian sebab yang dilakukan olehnya tidaklah sepenuhnya salah.
"Aku akan membenci diriku jika persahabatan senpai bernasib sama sepertiku," kata Sakura sedih.
"Oh," Shi mengerti maksud Sakura, dan ini membuatnya senang sebab itu menunjukan kepedulian gadis itu pada dirinya; ia ingin mengetes sedikit lagi. "Eh, tidak apa toh Chojuro tidak 'cool' diajak nongkrongnya," katanya seraya berbaring santai di ranjang. "Kehilangan satu sahabat itu bukan kiamat," pancingnya lagi.
Begitukah? Kehilangan sahabat bukanlah sesuatu yang penting? Tapi kenapa ia merasakan sakit di hatinya saat berpapasan dengan Shion dan mencoba menyapa tetapi dicuekin?
"Sungguh?"
"Hm?" Shi bergumam santai, menyilangkan tangannya di belakang kepalanya.
"Kenapa senpai tidak melaporkan kejadian pemukulan ini?" tanya Sakura, memancing balik.
"Huh?" Shi sedikit terkejut akan pertanyaan Sakura; ia tidak berpikir hingga ke sana. "Hm..."—shit.
Sakura yang melihat Shi tidak berkutik akan pertanyaannya semakin percaya diri. "Aku dengar loh, Chojuro-senpai yang pertama memukul, kalau senpai memang tidak peduli kenapa tidak melapor sensei?"
Shi tidak menjawab, memilih menatap kosong langit-langit.
Sakura menandakan sikap bungkam Shi sebagai jawaban, dan ia memutar bola matanya. "Well?"
Shi mengukir senyum. "Kau benar, akan tetapi aku tidak menyesal dengan apa yang aku lakukan." katanya sambil bangun dan duduk menyilang, ia menatap intens Sakura. "Hey," panggilnya.
"Hm?" Sakura bergumam, menolehkan sedikit kepalanya dan seketika pipinya mulai memanas mengetahui wajah Shi begitu dekat dengan wajahnya dan lagi tatapan mata hitam yang intens membuat otaknya kembali mengingat 'first kiss' mereka—Shi menatapnya seperti sekarang ini, jadi mana mungkin kan pemuda itu—mau menciumnya?
Tanpa menghentikan pandangan intens mata hitamnya ke mata hijau Sakura, Shi berujar pelan. "Kenapa sih kau masih memanggilku 'senpai'?" tanyanya penasaran.
"Eh...?" Sakura menyahut sekenanya, pikirannya masih mengkhayal ke hal yang lain. "Maksud senpai?"
"Tuh kan kau memanggilku 'senpai' lagi," kata Shi mengingatkan kalem. "Aku mengerti kau adik kelasku tapi kan sekarang kita berkencan, aku merasa aneh dipanggil 'senpai'." ungkapnya.
"Um..." memang benar terdengar aneh, namun bibirnya sudah terbiasa jadi tanpa disadari keluar sendiri.
"Kau bisa memanggil nama kecilku kalau mau," kata Shi.
Memanggil dengan nama kecil? Sakura belum pernah melakukannya bahkan saat mengobrol bersama teman-temannya, ia tetap memakai embel 'senpai', temannya juga tidak ada yang protes selama ini jadi ia pikir masih normal namun jika yang memprotes Shi sendiri, ia jelas harus mengubah kebiasaannya.
"Um..." Sakura membuka bibirnya.
"Tidak sulit Sakura," kata Shi menyemangati. "Kau bisa melakukannya," lanjutnya tersenyum lembut.
Sakura menggigit bibirnya; bagaimana bisa ia melakukannya di saat Shi menunjukan senyum favoritnya? "S-senpai..."—dan akhirnya ia gagal.
Shi pun menghela napaa kecewa. "Kau sungguh pemalu ya..."
"Well," jika ia bilang Shi adalah pacar pertama yang disukainya, dan ia baru mengalami yang dinamakan mabuk asmara, mungkin?
Shi bukan kekasih pertamanya, tetapi hubungan pertama yang dijalani atas dasar saling suka.
Sakura dulu pernah berpacaran selama dua kali namun ia sama sekali tidak memiliki perasaan, semuanya atas dasar paksaan dari teman-temannya.
Jadi apa yang dirasakannya pada Shi benar-benar baru, bahkan ketika mereka ciuman untuk pertama kalinya, itu adalah ciuman pertamanya dengan seorang lelaki.
"Kita bisa mencobanya lain kali," kata Shi, lalu ia merogoh sesuatu di kantung celananya, meletakan benda tersebut di telapak tangan Sakura.
Sakura melirik benda apa yang berada di tangannya—ternyata sebuah tiket nonton; Shi mengajak kencan? Degub jantungnya berdetak cepat lagi, namun belum sempat ia merespon, tubuhnya ditarik mendekati Shi, cukup dekat hingga bisa membuat pemuda itu berbisik di telinganya.
"Aku tunggu minggu ini," bisik Shi.
Sakura merona, tidak tahan akan jarak mereka berdua, ia pun berdiri dari duduknya sambil memeluk erat tiket di dadanya. "Um," bibirnya masih tak menurut dikarenakan 'aksi' mendadak Shi; mata hijaunya tanpa sadar beradu dengan mata hitam Shi, dan kembali malu, ia buru-buru menutup matanya. "A-aku akan datang," katanya.
Kenapa ia jadi terbata-bata begini? Seperti bukan dirinya!
Sakura mendengar tawa kecil yang membuatnya membuka matanya dan menatap heran Shi.
"Kau tidak usah," kata Shi. "Aku akan ke rumahmu,"
"Eh...?" Shi akan ke rumahnya...? Rumahnya?
"Aku... boleh kan?" tanya Shi pelan.
Rumah... eh? Ia mau... tapi ayahnya...
Sakura mengalihkan mata hijaunya ke sisinya lesu; meskipun hatinya ingin berkata iya akan tetapi otaknya berpikir lain; mana mungkin ia membiarkan Shi bertemu ayahnya; ia tidak ingin kelemahannya diketahui orang-orang apalagi Shi.
Sakura tidak mau sebab ia pasti akan kehilangan Shi.
"Gomen," sesal Sakura dengan wajah tertunduk dalam. "Aku rasa itu terlalu cepat,"
"Oh,"
Sakura bisa merasa nada kekecewaan dari suara Shi jadi ia buru-buru menambahkan. "T-tapi, lain kali senpai bisa kok,"
Shi menatap Sakura sejenak sebelum kemudian mengulas senyum kecil. "Baiklah,"
Sakura balik bersenyum juga, senang Shi mau mengerti keadaannya saat ini.
.x.
Sakura seketika bangun dari tidurnya, napasnya tersengal-sengal.
Mimpinya tadi itu...
Otaknya memutar kembali ingatan akan mimpinya barusan, lalu Sakura mencengkeram helaian rambut pink-nya.
Kenapa...?
Kenapa ia harus...?
Apa yang membuatnya bermimpi akan masa lalunya...?
Apakah itu sesuatu pertanda...?
Pertanda akan perasaannya...?
Sakura mengembuskan napasnya.
'Tenanglah,' katanya dalam hati.
Sakura melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Mimpi tadi terjadi hanya karena ia terus memikirkannya seharian dan akhirnya otaknya mengulangi masalah itu melalui mimpinya, itulah logisnya, tidak ada arti penting dari itu.
Benar?
Ia dokter... mimpi buruk seperti ini ada hal yang menjelaskannya.
Sakura termenung.
Mimpi buruk... eh?
Benarkah...?
Yang diimpikannya itu kejadian yang pernah dialami olehnya dengan Shi.
Jika diingat itu merupakan kenangan manis sebab Shi membelanya diam-diam...
Sakura menepuk keningnya.
'Berhenti memikirkan dia,' keluhnya dalam hati.
Itu sudah menjadi masa lalu, seindah atau manis apa pun itu hanyalah kenangan, tidak berarti apa-apa.
Sakura mengembuskan napasnya, dan menatap ke sampingnya ingin melihat wajah polos Naruto lagi, namun ia tidak menemukan kekasinya, dan ia pun menyadari tubuhnya tidak lagi berada di kursi tetapi berada di ranjang.
"Hm..." Naruto pasti memindahkannya ketika ia masih tidur.
Manis sekali.
Perasaan bersalah kembali singgah di hatinya; ia yakin Naruto pasti tidur di sampingnya, betapa tidak adilnya itu, kekasihnya sudah melakukan sesuatu yang manis akan tetapi ia malah memimpikan lelaki lain.
Sakura bangun dari ranjang sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Ini bukan salahnya!
Ia tidak bisa mengontrol mimpinya, jadi ini bukan salahnya, memangnya apa untungnya bermimpi Shi?
Sakura berjalan menuju kamar mandi, menyalakan keran westafel, dan mencuci wajahnya, baru setelahnya mata hijaunya memandang pantulan dirinya sendiri di cermin.
"Tenanglah... semua hanya masa lalu," gumamnya mencoba berpikir positif. "Ini bukanlah hal penting, tetaplah berjalan maju Sakura..."
Hening...
"Sungguh?"
"Huh?" Sakura menengadahkan kepalanya, untuk melihat suara siapa itu dan mendapati pantulan dirinya di cermin tengah menatapnya sinis dengan tangan terlipat di dada.
"Sungguh?" Inner Sakura bertanya lagi. "Shi bukanlah hal yang penting bagimu?"
Sakura menggeleng kuat. "D-dia bukan!"
"Tuh! Kau terbata! Kau bohong!" seru inner Sakura mengejek. "Kau bermimpi dia karena kau merindukan Shi-senpai kan?"
"Aku tidak!"
"Heh, kau menganggap Shi-senpai tidak berarti padahal dialah segalanya bagimu!" kata inner Sakura memanas-manasi. "Kau bahkan selama tujuh tahun masih bermain sebagai kekasih dia untuk menolak lelaki lain,"
"Aku..." Sakura tidak bisa membalas akan hal tersebut karena memang benar adanya.
"Betapa egois dan kekanak-kanakannya dirimu Sakura Haruno," ejek inner Sakura. "Dan jika dia tidak penting, kau tidak perlu memberi pengakuan ke Shi sewaktu di bioskop kan?"
Sakura terkesikap.
Pengakuan sewaktu di bioskop...
.x.
Flashback ON
.x.
"Ini,"
Shi menatap kosong gelas plastik yang disodorkan dihadapannya sesaat sebelum kemudian menatap pemilik tangan tersebut datar. "Tidak usah,"
"Eh?" Sakura terkejut bukan main. "Kenapa? Memang senpai tidak haus? Filmnya kan diputar dua jam lebih loh! Dua jam!"
Shi tetap tidak mau menerimanya, ia justru memalingkan wajahnya.
Hati Sakura sedikit terluka dengan penolakan Shi padanya; karena ia tahu sifat keras kepala Shi jadi minuman tersebut ia letakan di samping pemuda berambut pirang itu.
Shi mengembuskan napas. "Sakura, aku sungguh tidak ingin,"
Sakura memasang wajah tidak berdosa. "Sudah terlanjur dibeli jadi harus diterima,"
Shi naik pitam, tanpa pikir panjang ia mencengkeram tangan Sakura erat. "For fuc—" mata hitamnya menatap lekat-lekat mata hijau dihadapannya yang memancarkan kesakitan; ia kembali membuang napas lalu melepaskan tangan Sakura. "Maaf," sesalnya.
Sakura mengelus pergelangan tangannya yang tadi dicengkeram oleh Shi; ini pertama kalinya ia melihat pemuda itu marah, padahal ia berniat bercanda untuk mengembalikan mood Shi, sama sekali tak terlintas di kepalanya Shi akan berbuat kasar padanya.
Membuat Sakura sedikit takut karena mengingatkan dirinya akan ayahnya.
Sakura kembali terkejut akan sentuhan Shi di pergelangan tangannya, ia pun hendak mengibaskan tangan pemuda itu akan tetapi Shi justru menambahkan tangannya yang lain untuk menghentikan penolakannya, ia pun memberanikan diri menatap mata hitam pemuda itu; ekspresi wajah Shi kali ini serius sekali membuatnya sedikit gugup. "Apa?"
"Apakah sakit?" tanya Shi pelan.
Sakura merasa lega mengetahui Shi kembali seperti sedia kala. "Hm..." pergelangan tangannya eh? "Sudah tidak kok,"—ia mengakui memang Shi mencengkeram erat namun karena hanya sesaat jadi tidak parah.
Shi tidak melepaskan tangannya, ia justru memberikan belaian lembut. "Ini salahku, maaf." sesalnya lagi. "Ada masalah yang rumit,"
Sakura tertarik akan masalah rumit tersebut, yang membuat Shi berubah agak kasar; ia ingin tahu masalah itu namun ia tahu pemuda itu tipe yang tak suka berbagi atau curhat ditambah ia juga tidak mau memancing lagi amarah Shi.
Ia harus memilih kata-kata yang tidak menyinggung peraasan Shi.
Shi yang sejak tadi memerhatikan Sakura yang melamun seperti bergulat dengan pikiran, mengembuskan napas. "Kau tidak usah takut, masalah ini tentangmu juga,"
"Eh?" Sakura terkejut bukan main.
Shi menatap kosong ke depan. "Ini soal hubungan kita, sejujurnya."
Degub jantung Sakura seakan terhenti sesaat; soal hubungan mereka? Apa maksudnya?
Sakura tidak bisa menilai selain Shi bosan dengannya atau ingin putus dengannya.
Jelas sudah, Shi ingin mengakhiri hubungan mereka, bahkan pemuda itu bersikap kasar padannya menunjukan perasaan Shi yang sudah hilang padanya.
Shi terdiam sejenak, berperang apakah harus dikatakan atau tidak; masalah ini bisa dibilang konyol sekali, dan mungkin Sakura akan menertawakan dirinya yang terlalu berpikir berlebihan. Namun ia membutuhkan Sakura, ia butuh sebab pendapat gadis muda itulah yang penting baginya sekarang ini. "Teman sekelasku mulai berpikir jika aku hanya berkencan denganmu karena uangmu..."
"Apa...?" Sakura tidak percaya apa yang baru saja didengarnya; Shi berkencan hanya demi uang...?
"Kau tahu kan, terkadang seseorang terlalu tertarik akan kehidupan orang lain," kata Shi, "Jadilah teori ini beredar, aku hanya memanfaatkanmu," lanjutnya disertai helaan napas kecil. "Aku bukanlah dari kalangan atas sepertimu Sakura jadi wajar—"
"Jangan konyol!" potong Sakura sedikit emosi, tidak tahan akan ucapan negatif Shi. "Kita bersama karena kita kan memiliki perasaan satu sama lain," terangnya. "Sejak awal aku sama sekali tidak berpikir ke sana, aku percaya perasaan senpai padaku," lanjutnya.
Shi berusaha melawan. "Terkadang sebagian orang—"
"Siapa yang peduli dengan sebagian orang itu!" Sakura memotong lagi penuh emosi—yang membuat mata Shi melebar syok—mungkin karena baru pertama melihat ia naik pitam. Ia tertunduk. "Senpai pernah bilang padaku kalau tidak usah memperdulikan opini orang lain, jangan mau hidup untuk menyenangkan orang lain," katanya.
"Well," memang benar ia pernah mengatakan itu namun ketika mengalaminya langsung, sedikit sulit dilakukan.
"Kenapa harus peduli?" tanya Sakura serius. "Senpai tidak perlu merasa jengkel jika itu tidak benar, kan?"
Shi terhenyak akan pertanyaan Sakura, ia tertunduk dalam memikirkan setiap kata-kata tersebut. "Aku..."
'Kenapa ragu-ragu begitu?'
Melihat Shi seperti kehilangan kata-kata membuat pikiran Sakura berkeliaran kemana-mana.
Mungkin rumor tersebut benar adanya sebab Shi sama sekali tidak menanggapi pertanyaannya.
Berarti Shi tidak mencintainya melainkan uangnya—?
Sakura tertunduk dalam.
"... Memang benar aku seharusnya tidak mendengarkan kata-kata mereka," Shi akhirnya bersuara setelah sekian lama berkecamuk dalam dirinya sendiri.
"Eh?" ia benar—? Jadi Shi memang mencintainya?
"Orang-orang menilai karena mereka lebih sering melihat kita pulang bersama naik bus," kata Shi. "Mereka tidak melihat 'kebersamaan' kita, perasaan kita satu sama lain, Sakura."
"Well," mereka kan hampir tidak pernah bersama di lingkungan sekolah, ini idenya sendiri sebab ia tak ingin ayahnya mendengar bahwa ia mulai tertarik pada lelaki, sebab ia tahu ayahnya pasti akan ikut campur, atau lebih parahnya berusaha memisahkan mereka.
"Aku mengerti," kata Shi semangat. "Mulai sekarang, kita hang out bareng di sekolah, mungkin dengan melakunan itu pikiran mereka berubah."
"Ah..." ini yang ditakutkan Sakura. "Um... kurasa tidak akan ada pengaruhnya dengan rumor itu,"—ia mencoba memberi alasan masuk akal.
Wajah Shi berubah sedih. "Kau malu bersamaku...?"
"Tidak!" sahut Sakura cepat, lalu menggeleng. "Bukan itu hanya saja aku belum pernah memamerkan perasaanku, dan lagi itu—" ia tidak menyelesaikan kata-katanya, lebih memilih menatap sendu Shi.
"Ayahmu?" Shi menebak.
"Ha'i," Sakura menjawab lesu.
"Standar yang tinggi, eh?" gumam Shi. "Apa boleh buat," katanya mengalah.
Sakura tersenyum pahit; benar, apa boleh buat, hanya jawaban itu jika berurusan dengan ayahnya; ia dan Shi tidak memiliki kekuatan yang besar untuk melawan.
Ia yakin jika ia memperkenalkan Shi sebagai kekasihnya, ayahnya akan menanyakan banyak hal, dan jika tidak ada yang masuk list 'kekasih Haruno', maka ia yakin ayahnya berusaha untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.
Sakura mengembuskan napasnya; tidak seharusnya ia memikirkan hal berat seperti itu, ia sedang berkencan, yang berarti mengisi kenangan indah bersama yang diisi canda dan tawa, bukanlah keheningan suram begini.
"Um..." Sakura membuka suara; menimbang-nimbang, percakapan apa yang harus mereka bahas agar suasana kembali mencair. "Senpai sudah berbaikan?"
Shi terkejut. "Pada siapa?"
"Tentu saja Chojuro-senpai," sahut Sakura. "Sudahkan?" tanyanya penuh harap.
Mengingat sahabatnya membuat Shi tertawa kecil. "Kami memang bertengkar hebat, tapi persahabatan kami jauh lebih kuat," katanya. "Ya, aku dan Cho sudah baikan,"
Sakura ikut tersenyum kecil; ia senang sekali bisa mengembalikan tawa serta senyum di bibir pemuda yang dicintainya. "Aku senang mendengarnya,"
Senyum di bibir Shi seketika hilang bergantiraut wajah serius. "Bagaimana denganmu?"
"Aku—?" Sakura tahu ke arah mana pembicaraan ini namun ia lebih memilih menjawab polos.
"Shion,"
Sakura tertunduk sedih; ia berharap ikatan Shion dengannya sama seperti Shi dengan Chojuro; hatinya sedikit terselip rasa cemburu. "Tidak ada perubahan," sahutnya datar. "Tapi, aku yakin Shion akan kembali," lanjutnya dengan senyum kecil di bibirnya. "Sekarang, aku hanya bisa memandang dia dari jauh..."
"Kau tidak marah dengan itu...?" tanya Shi heran; selama ini ia cemas dengan Sakura namun ia tidak menyangka gadis itu menanggapi masalah lebih mudah—? Ataukah ia yang berlebihan—?
Sakura menggeleng, jujur; tentu tidak, siapa yang puas kehilangan sahabat baiknya? "Aku takkan marah, meski jujur memang ada sedikit," katanya, "Tetapi aku kembali teringat hal baik Shion padaku, dan aku memaafkannya lagi."
"Seperti apa?" tanya Shi. "Suka mentraktirmu makan?" candanya disertai tawa kecil.
Sakura menggelengkan kepalanya pelan, dan perlahan malu-malu ia meletakan tangannya di atas tangan Shi.
"Karena membuat kita bisa bersama..."
—membuatnya bisa mengerti bagaimana rasanya dicintai seseorang...
.#.
Flashback OFF
.#.
"Hentikan!" seru Sakura.
Ia tidak mau lagi ingat ini semua!
"Jangan bodoh, kau dulu bilang Shi itu narkoba bagimu,"
Sakura menutup telinganya seraya menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha untuk tidak mengingat kenangan lain tentang Shi.
'Ini hanya ilusi! Omong kosong!'
"Ayolah ingat ketika kau menyusul ke kyoto—"
'Cukup!'
Dengan segenap kekuatan yang ada, Sakura memukul cermin dihadapannya.
Prang!
Sakura menghela napas dalam.
Sudah selesai...
Tidak ada lagi dirinya 'satunya' lagi...
Merasa lega, tanpa disadari air mata Sakura perlahan keluar, dan jatuh membasahi pipinya...
"What the f—? Suara apa itu?"
Sakura terhenyak mendengar suara Naruto di kejauhan, dan akhirnya ia sadar jika ia sedang berlibur bersama di paris bukanlah di kamar apartemennya.
"Sakura... ?"
Merasa dirinya dipanggil, ia pun membalikan tubuhnya perlahan dan mendapati Naruto berdiri di ambang pintu dengan raut wajah bingung serta penasaran; buru-buru ia menyembunyikan 'bukti' di belakang tubuhnya.
Naruto memandang wajah Sakura, lalu tanpa sengaja melihat cermin kamar mandi yang retak di belakang tubuh Sakura, dan terbelalak. "Huh!?" serunya. "What!? Kenapa bisa hancur begini, dattebayo!?"
Sakura tidak menjawab, berdiri gugup sambil semakin menyembunyikan tangannya yang terluka di belakang tubuhnya.
Naruto menganalisa cerminnya yang retak kemudian memandang keseluruh area westafel dan mendapati ada subjek yang menarik yaitu tetesan darah di lantai; ia pun berbalik, berhadapan dengan Sakura, menatap lekat-lekat mata hijau kekasihnya.
Sakura yang merasa ditatap jadi semakin gugup. "A-apa—!" belum selesai ia berkata, Naruto dengan cepat menarik tangannya yang sejak tadi disembunyikannya, ia pun tanpa perlawanan merintih kesakitan. "Ow!"
"Ini harus segera dibersihkan," kata Naruto serius. "Kau melukai dirimu sendiri?" lanjutnya syok tidak percaya.
Sakura hanya bisa mengangguk.
Naruto menghela napas kecewa akan respon terbatas kekasihnya; lagi, ia merasa ditutup oleh Sakura soal masalah lagi, dan itu membuatnya sedikit kesal. "Kau harus cerita kenapa bisa begini ya, chérie?" tanyanya selembut mungkin.
Masalah...
Apa itu teringat Shi bisa disebut masalah?
Sakura menutup mata hijaunya rapat-rapat; kepalanya sakit sekali.
'Kau tidak bisa menghindar, Sakura...'
'Hentikan!'
"Hm... ?" Naruto merasa ada yang aneh, "Kau, baik-baik saja... ?" tanyanya cemas sambil memberikan tepukan pelan di bahu Sakura.
"Huh?" Sakura merespon sekenanya, dan perlahan membuka mata hijaunya lagi. "Naruto—?"
"Ya?" Naruto merespon.
Entah kenapa hati Sakura yang sejak tadi berkecamuk merasa lega melihat kekasihnya. "Naruto—" gumamnya.
Naruto menaikan alisnya bingung, lagi ia merespon singkat. "Ya?"
Sakura mengerjapkan matanya agar penglihatannya fokus, dan ia tersadar sesuatu, jika Shi seperti narkoba baginya... maka Naruto seperti obat baginya—dan ia merasa sedikit lebih baik—?
'Obat? Jangan konyol!'
Sakura menggeleng; kenapa suara aneh ini terus terngiang di kepalanya? Berhenti mengganggunya!
Sakura ingin melenyapkan suara tersebut, lalu memandang Naruto lagi.
Obat...
Tentu saja...
Sakura tanpa pikir panjang langsung berhambur ke dada bidang Naruto, memeluk kekasihnya dengan erat.
Naruto yang dipeluk tiba-tiba jelas terkejut, "Eh?" apa yang terjadi? Ia tadi melihat Sakura seperti kesakitan dan tiba-tiba saja melakukan hal seperti ini—? Ia agak senang namun tetap merasa aneh; ia menarik Sakura dari pelukannya agar bisa menatap wajah wanita muda itu. "Ada apa?" tanyanya cemas.
Sakura menatap lekat-lekat Naruto. "Naruto..." apa yang harus dikatakannya? Apa harus ia bilang jika ia sekarang ini sedang berdebat dengan sisi 'inner evil' dirinya sendiri—?
'Menyedihkan.'
Mendengar suara negatif di kepalanya lagi, Sakura pun memeluk Naruto lagi, lebih erat lagi. "Naruto... sentuh aku." pintanya.
"A-apa—?" pernyataan tersebut sontak membuat pipi Naruto merona; menyentuh? Apa maksudnya?
Sakura sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa menengadahkan kepalanya menatap mata biru Naruto, dan entah kenapa hanya melihat iris biru kekasihnya yang begitu indah membuatnya semakin 'haus' akan kekasihnya. "Tunjukan padaku perasaanmu... cintamu..."
"A-apa?" lagi, Naruto kembali kaget; untuk pertama kalinya Sakura meminta hal seperti itu secara vulgar, bukannya ia tidak suka sih hanya saja waktunya tidak tepat.
Wajah Sakura berubah sedih. "Kau tidak mau—?" tanyanya lemah.
"Bukan itu, dattebayo,"—ditatap seperti itu membuat pertahanan Naruto sedikit goyah. "Kita harus membersihkan lukamu terlebih dahulu, ya? Chérie?"
"Naruto..." kenapa kekasihnya tidak mau mengerti jika saat ini ia benar-benar membutuhkan bantuan—? Jika Naruto tidak mau maka ia yang akan melakukannya...
"Dengar Sakura tentu aku senang tapi sekarang ini tidak tepat untuk melakukan hal itu ya—!" Naruto berusaha merayu namun tidak dapat menyelesaikannya karena Sakura melingkarkan sebelah tangannya yang tidak terluka ke lehernya, lalu menariknya agar bibir mereka bisa bertemu; mata birunya melebar syok.
Ketika bisa merasakan bibir Naruto, Sakura merasakan tubuhnya mulai rileks,
Naruto akhirnya terbangun dari keterkagetannya ketika merasakan lidah Sakura memasuki mulutnya; ini bukanlah saatnya melakukan hal seperti ini! Ia pun mulai sedikit melawan dengan meletakan tangannya di pipi Sakura, lalu dengan lembut menjauhkan wajah wanita muda itu serta dirinya, mengakhiri ciuman yang mulai membuat tubuhnya memanas. "Chérie, cukup, obatin dulu lukamu, ya?"
'Lihat? Naruto bahkan tidak menikmati sentuhanmu! Hahaha...'
'Tidak,' gumam Sakura dalam hati.
Sakura belum cukup, ia masih mau menyentuh Naruto, suara di kepalanya belum hilang, ia hanya butuh sedikit lagi sentuhan.
Sedikit.
Sakura menggelengkan kepalanya memberi tanda tidak setuju tangannya diobati; mata hijaunya beralih ke leher Naruto yang begitu menggoda di matanya; memberikan ciuman-ciuman serta gigitan ringan di sana.
"Aah—!" Naruto tidak bisa menghentikan desahannya, tiba-tiba disentuh seperti ini—apalagi Sakura yang tidak pernah mau mencoba menyentuhnya—membuat pikiran logisnya perlahan memudar. Tidak. Ia tidak boleh kalah, meskipun ia tidak memungkiri ia menikmati ini, Sakura saat ini bukanlah kekasihnya yang dikenalnya. Dan ia pun mengambil perlawanan dengan mendorong lembut bahu kekasihnya agar menyudahi ini semua. "Sakura—mm—luka—ah!" protesannya terputus saat merasakan tangan Sakura menyentuh dadanya dengan begitu sensual dan perlahan turun ke otot perutnya.
What the f—?
Sejak kapan kancing kemejanya terbuka!?
Dan lagi kenapa juga ia tidak bisa menghentikan sentuhan Sakura? Ia tidak memiliki tenaga, seakan perlahan menghilang setiap kali ciuman serta jari kekasihnya menyentuhnya.
Naruto tidak ingat kapan terakhir kali ia membiarkan wanita mengambil alih, ia selalu senang memegang kendali jika pun ada itu hanya ketika wanita hendak melakukan oral padanya.
Menjadi seseorang yang menerima 'kesenangan' bukan hal yang buruk, mungkin karena yang menyentuhnya itu Sakura—wanita yang dicintainya.
"Uhn—?" Naruto merasakan bibir Sakura yang sejak tadi berada di lehernya merangkak naik ke dagunya—hingga akhirnya berhenti ketika wajah mereka sejajar, mata biru miliknya beradu pandang dengan mata hijau kekasihnya sesaat sebelum turun ke bibirnya, dan entah kebetulan ataukah Sakura mengetesnya, wanita muda itu menjilat bibirnya sendiri—yang entah kenapa terlihat begitu seksi di mata birunya; ia memandang Sakura lagi dan sebelum bisa berkata, bibir mereka bersatu kembali.
Kali ini Naruto tidak menghentikan, ia justru membalas dengan penuh gairah, meluapkan perasaannya setelah tidak bertemu selama tiga bulan.
Mungkin telat sedikit tidak apa-apa—lagi pula rapat begitu membosankan—ia pun masih 'rindu' dengan Sakura, semalam belum cukup sebab mereka lelah sehabis semalaman di pesawat.
Namun sekarang—mungkin Sakura mau melakukan 'sesuatu' yang lebih...
Naruto memgakhiri ciuman panas mereka, memberi satu kali kecupan singkat sebelum menurunkan bibirnya ke bawah—dan berhenti leher wanita muda itu, memberi tanda 'love bite' di sana.
"Aah..." —itu yang ingin Naruto dengar, yang membuatnya semakin semangat memberikan lagi 'cintanya'.
"Koi, aku ingin kau menyentuhku lebih..."—pintanya sambil menempelkan erat tubuhnya pada Naruto; ia hanya ingin melupakan segalanya, dan hanya ingin pikirannya diisi oleh Naruto, Naruto dan Naruto.
Naruto dengan senang hati menurut, tangannya yang tadi berada di pinggul Sakura bergerak menyelinap di balik kaus oranye yang dikenakan wanita muda itu; god betapa sukanya ia melihat Sakura mengenakan pakaian miliknya, terlihat seksi plus wanita muda itu pasti takkan mengenakan apa-apa di balik bajunya; dan benar saja ia ketika sampai di dada Sakura, tidak ada penghalang apa pun di sana, membuatnya mudah; ia pun mulai memberi remasan lembut di dada kekasihnya.
"Aahhh—" Sakura tanpa sadar mendesah cukup keras yang membuatnya sedikit malu, ia pun membenamkan wajahnya di lekukan bahu Naruto untuk meredam suaranya. "Uhm—!" remasan lain dirasakan olehnya, lebih keras yang membuatnya tanpa sadar menggigit bahu kekasihnya.
Naruto meringis pelan bahunya tiba-tiba digigit, tidak ingin terulang, ia memberi inisiatif dengan menyatukan bibir mereka lagi, membiarkan Sakura mendesah di mulutnya, barulah melanjutkan aktifitasnya, kali ini ia mengangkat satu kaki wanita muda itu, dan membelai lembut paha Sakura barulah perlahan ke atas.
"Uhm—!" Naruto baru saja menyentuhnya di 'sana' yang membuat tubuh Sakura memanas, menginginkan lebih lagi, mengikuti instingnya ia menurunkan tangannya ke pinggul kekasihnya kemudian membuka ikat pinggang yang melingkar di sana.
Sentuhan Sakura di pinggulnya membangunkan pikiran Naruto sepenuhnya; jika celananya terlepas maka ia tak bisa berhenti—dan akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan 'sexy time' mereka.
Luka Sakura—
Rapatnya pagi ini—
'Apa yang sudah kulakuan? Membiarkan nafsuku menguasaiku?' tanya Naruto dalam hati.
Dengan sisa kesadaran yang masih ada, Naruto dengan cepat menangkap tangan Sakura yang hendak melepaskan ikat pinggangnya dan mengakhiri ciuman mereka, menghentikan segala kontak fisiknya. "Cukup." katanya dengan napas memburu.
Sakura menengadahkan kepalanya; ia masih ingin lebih. "Koi..." gumamnya memelas.
Naruto tidak bergeming, tetap menahan tangan Sakura yang berusaha melepaskan.
Tidak.
'Jangan memandangku dengan ekspresi seperti itu, dattebayo!' seru Naruto frustasi.
Naruto mengembuskan napasnya lelah. "Dengar, aku menikmati ini dan ingin lebih, sungguh, tapi masih ada hal yang penting, dan itu mengobati tanganmu dan juga aku ada rapat hari ini," jelasnya.
"Oh!" dan akhirnya Sakura tersadar jika Naruto berpakaian rapi hingga mengenakan jas hitam.
Sekarang ia merasa malu luar biasa.
"Maaf," sesal Sakura tertinduk malu.
Naruto menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa," jawabnya acuh tak acuh, toh itu bukanlah sesuatu yang buruk justru menyenangkan apalagi Sakura sangat bernafsu padanya yang sangat jarang ditunjukan, ia juga yakin lehernya ada tanda merah dari wanita muda itu. Ia terbatuk, menyingkirkan pikiran mesumnya. "Aku pikir aku punya kotak p3k di lantai bawah."
Sakura mengangguk pelan, lalu Naruto pergi, ia pun menghela napas dalam dan duduk di ujung ranjang.
'Aku tidak percaya aku...'
Otaknya otomatis mengulang kejadian barusan terjadi, dan pipinya merona merah. Ia tidak percaya ia meminta Naruto untuk menyentuhnya, dan ia menyentuh Naruto seperti wanita 'liar' ketika kekasihnya menolaknya.
Awalnya ia hanya berniat melenyapkan pikiran negatif yang membebaninya, dan ketika berciuman memberi efek di tubuhnya membuatnya ingin lebih, membuatnya tidak bisa berhenti bahkan ia masih mencoba melawan saat Naruto menghentikan tangannya.
Tangannya...
Sebelum Naruto menghentikannya, terbesit pikiran untuk melepaskan ikat pinggang pria itu, syukurlah Naruto sudah menghentikannya, jika sampai ke sana, ia yakin ia takkan sanggup menatap kekasihnya itu karena malu.
Sakura bertanya-tanya apakah Naruto tidak menyukai sentuhannya—? Ia amatir soal ini masalahnya; Naruto bilang menikmatinya sih tetapi seperti terdengar tidak suka—?
Naruto memang mendesah tetapi tetap menginginkan berhenti.
Sakura menepuk keningnya; tentu saja ingin berhenti sebab luka ditangannya jauh lebih penting, jika ia tak terluka pastilah Naruto akan membiarkan dirinya.
Blush.
Sakura menutup wajahnya dengan tangannya.
Kenapa jadi mesum seperti ini?
Mungkin, karena ia berani? Tidak. Karena ia menyukai setiap kali menyentuh tubuh Naruto? Ia selalu diam-diam mengagumi tubuh terutama dada kekasihnya jadi ketika menyentuhnya—
"Ugh!" Sakura meringkuk di ranjang, malu; ia senang semua penderitaannya selesai namun ia juga tidak mengharapkan Naruto menilainya wanita 'liar', terakhir kali ia seperti ini ketika di apartemen kyoto Shi—
Sakura memeluk erat tubuhnya.
Shi...
Perasaan bersalah ini kembali lagi...
"Ternyata memang ada, dattebayo!"
Sakura menengadahkan kepala mendengar suara Naruto—yang tanpa disadarinya kini berada dihadapannya.
Naruto meletakan kotak p3k di ranjang. "Ada masalah?" tanyanya cemas melihat mata hijau Sakura yang sendu.
"Naruto..."—ini mungkin berlebihan tetapi ia sungguh-sungguh membutuhkan kekasihnya. "Bisa kau peluk aku?" pintanya pelan. "Please?"
Naruto tanpa menjawab, langsung menurut; mana mungkin ia menolak jika cara bicara Sakura seperti orang yang putus asa—?
"Arigatou,"
Hening...
Hanya itu? Tidak tahukah jika ia sangat cemas? Serta sedikit kesal Sakura tidak terbuka padanya? Namun meski begitu ia tidak bisa memaksa, tidak benar, jadi Naruto memberitahukan lagi. "Sakura, jangan pernah merasa sendiri, ya?" katanya pelan, ia bahkan membelai perlahan rambut pink kekasihnya, memberikan kesan nyaman agar bisa membuka sedikit hati Sakura. "Aku di sini..."
"Naruto..." tentu saja ia tahu, ia tahu Naruto selalu berada di sampingnya, menyemangatinya; sentuhan pria itu menggambarkan perasaan yang mendalam untuknya.
Sakura bisa merasakannya...
Sakura hanya takut respon apa yang akan Naruto berikan ketika ia bercerita jika ia memikirkan lelaki lain? Apalagi ini Shi.
Sakura takut Naruto akan meninggalkannya, jadi ia berusaha memecahkan masalahnya sendirian.
Namun sekarang, dengan sentuhan serta kepedulian Naruto yang dalam padanya saat ini membuatnya menjadi tidak berdaya.
Sakura perlahan melepas pelukan Naruto di tubuhnya, kemudian kembali meringkuk memeluk lututnya lagi. "Bisa kau tinggalkan aku sendiri?" pintanya.
"Apa?" Naruto tidak percaya apa yang baru saja didengarnya; ia sudah berusaha sebaik mungkin namun tetap tidak bisa merubah pendirian Sakura? Ia mencari akal agar bisa tetap bersama. "Terus lukamu?" tanyanya seraya hendak menyentuh tangan Sakura namun wanita muda itu mengelak, menggeser tubuhnya menjauhkan diri.
Sakura merespon lemah. "Aku bisa sendiri," katanya. "Please?" pintanya lagi, memelas.
Naruto mencengkeram rambut pirangnya, frustasi akan sikap 'hot and cold' kekasihnya; bagaimana bisa Sakura mempermainkan perasaannya seperti ini?
Sakura sungguh ingin mengganggu konsentrasinya bekerja dengan tidak berkata apa-apa soal masalah yang ada dibenak wanita berambut pink tersebut?
Seakan mengerti apa yang dipikirkan Naruto, Sakura berkata. "Aku akan cerita sehabis kau selesai bekerja."
Selesai bekerja? Alasan yang bagus.
"Baiklah," Naruto mengalah akhirnya, ia berbalik berjalan memuju pintu. "Aku akan minta Konan untuk membantu membersihkan lukamu." katanya. "Itu perintah," lanjutnya sebelum Sakura sempat memprotes.
Blam.
Sakura mencengkeram erat tangannya.
Meskipun Sakura bersikap dingin tetapi Naruto tetap menunjukan kepedulian pada dirinya—yang membuat hatinya semakin sakit dan merasa semakin bersalah.
Sakura merasa tidak pantas mendapatkan perhatian tersebut.
Perhatian Naruto.
"Perasaan ini," gumam Sakura.
Mungkin memang ada hanya satu cara, yaitu dengan berkata jujur pada Naruto, ia tidak tahu kekasihnya itu akan seperti apa, namun ia sudah tidak kuat menahan perasaan ini, ia sudah lelah melarikan diri.
Namun pertama-tama...
Sakura mengambil ponselnya.
"Ayah, aku butuh bantuan..."
.x.
"Naruto, kau mau minum? Sudah lama, kan?"
Naruto berhenti melangkah, mendengar kata minum sontak membuat tenggorokannya yang kering kembali terasa; minum terdengar menyenangkan apalagi sudah lama juga ia tidak bersama Sasuke karena sahabatnya itu memutuskan tinggal di paris.
Namun seketika wajah Sakura terlintas di pikirannya; seharian ini ia belum sempat mengecek keadaan kekasihnya, dan anehnya Sakura tidak mengirim email atau apa pun untuk sekedar menyapanya.
Naruto tahu Sakura mendukung penuh pekerjaannya namun setidaknya wanita muda itu akan mengirim email penyemangat singkat untuknya.
Mungkin kondisi Sakura masih belum stabil?
Naruto tadi meminta Konan untuk mengecek namun wanita muda itu bilang Sakura tidak berselera jalan-jalan atau sekedar keluar dari kamarnya yang membuatnya cemas jika terjadi sesuatu.
"Lain kali ya, aku ada urusan penting Sasuke," kata Naruto.
Sasuke mengerutkan dahinya. "Kau hanya beberapa bulan kemari, minum denganku sampai tidak mau? Apakah Sakura sehebat itu?" sindirnya
Sontak pipi Naruto merona merah. "Bukan itu, teme!" serunya malu kembali teringat kejadian tadi pagi.
"Sungguh?" tanya Sasuke curiga akan tingkah aneh sahabatnya. Apalagi sebelum rapat, penampilan Naruto terkesan sedikit berantakan seperti buru-buru, ditambah ada ruam merah di leher sahabatnya.
"Teme!"
Drrrt! Drrt! Drrt!
"Oh!" Naruto merasakan ponselnya bergetar, lantas mengambilnya dan mengeceknya, bibirnya mengulas senyum kecil ketika mengetahui email itu berasal dari kekasihnya.
From : Sakura
Ada yang ingin aku bicarakan padamu.
Kau sudah selesai bekerja?
Naruto mengecek lagi tombol ke bawah akan tetapi tidak ada apa-apa, hanya itu? Tidak menanyakan soal keadaan atau pekerjaan seperti biasa? Sesuatu yang tidak beres memang terjadi pada diri Sakura.
Dengan perasaan kecewa, ia menjawab.
To : Sakura
Aku sudah selesai.
Kau ingin bertemu, chérie?
Mau aku bawakan makan?
Oh, bagaimana dengan tanganmu?
Setelah selesai, Naruto mengirim email-nya.
"Sekarang aku mengerti orang yang jatuh cinta seperti apa," Sasuke membuka suaranya yang sejak tadi diam memerhatikan. "Menjijikan."
"Apa maksudmu!?" seru Naruto tidak terima. "Kau hanya cemburu Sakura memilihku, teme!"
Sasuke memutar bola matanya lalu melangkah menuju lift.
"Tunggu, teme!"
.#.
Cklek.
"Tadaima," kata Naruto lantang, berharap Sakura mendengarnya; ia melonggarkan dasi di lehernya.
Tidak ada jawaban.
Tidak biasanya, Naruto pun masuk ke dalam sambil tangannya melepaa jas yang dikenakannya. "Sakura?" panggilnya. "Hm?" mata birunya tanpa sengaja melihat koper besar berada di atas ranjang—koper milik wanita muda itu, namun dimana pemiliknya?
Cklek.
"Oh!"
Naruto menoleh, dan mendapati Sakura berdiri di depan pintu kamar mandi—jelas sudah kenapa kekasihnya itu tidak menjawab sebab berada di kamar mandi. "Hey," ia melangkah maju, hendak memberikan kecupan singkat namun Sakura menahannya dengan tangannya. "A-apa?" tanyanya canggung; ini pertama kalinya kekasihnya itu menolak untuk dicium.
Sspertinya situasi lebih parah dari yang ia pikirkan.
Sakura menatap lekat-lekat mata biru Naruto sebelum membuang muka ke arah lain. "Bisa kita duduk dulu?"
Naruto tidak menjawab, hanya mengikuti kembali ke kamar tidur, ia mengambil kursi dan meletakannya di depan Sakura yang lebih memilih duduk di ranjang, ia meraih kedua tangan wanita muda itu, menatap intens mata hijau dihadapannya "Ada apa chérie? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanyanya selembut mungkin.
Sakura menarik tangannya lalu meletakannya di atas pahanya.
Hening...
Tidak ada satu pun yamg berbicara.
Sakura menolak menatap balik Naruto, terus menunduk bersembunyi di balik helaian rambut merah mudanya.
Di sisi lain, Naruto berusaha mencari petunjuk dari gerak-gerik sunyi kekasihnya namun nihil, ia tidak bisa menebaknya.
Tidak tahan akan keheningan ini, Naruto membuka suara. "Sakura, apa yang ingin kau bicarakan?"
Pertanyaan tadi sukses membuat Sakura akhirnya memandang mata biru Naruto, dan ia dapat melihat rasa takut, ragu, bersalah di mata hijau wanita muda itu.
Sakura menggigit bibirnya canggung; apa yang harus dikatakannya? Harus mulai dari mana? Haruskah ia langsung berkata intinya atau kah basa-basi terlebih dahulu?
Rasanya Sakura ingin kabur dari sini, namun ia tidak bisa melakukannya, ia sudah bertekad akan jujur pada Naruto dan akan menerima segala jawaban dari kekasihnya.
"AkubertemuShidikafe,"
"Maaf... apa?" Naruto tidak bisa menangkap apa yang dikatakan Sakura karena terlalu cepat, ia menangkap kata 'kafe' saja. "Bisa diulangi?"
Sakura mengambil napas dalam dan mengeluarkannya, entah kenapa teras berat hanya bernapas.
Ini sekarang atau tidak selamanya...
"Aku bertemu Shi-senpai di kafe tempat kita berkencan kemarin," kata Sakura datar.
Hening...
Naruto membatu, memproses apa yang dikatakan oleh kekasihnya.
Sakura—
—bertemu Shi—
—di kafe tempat mereka berkencan—?
Pfffttt...
"Lalu apa?" respon Naruto acuh tak acuh; bertemu mantan bukanlah sesuatu yang besar, apalagi Sakura kan mencintainya, jadi mana mungkin itu menjadi masalah—kan—?
Sakura membuang mukanya; Naruto masih berpikir positif, eh? Tentu saja sebab Naruto sama sekali tak tahu hubungannya dengan Shi. Hati-hati, ia memilih setiap kata-katanya. "Aku juga berpikir begitu namun ketika kau menyentuhku, aku teringat dia, dan reaksi dariku itu mendorong wajahmu... uh..."
"Tunggu!" Naruto menyela. "Maksudmu, kau berimajinasi yang menyentuhmu lelaki itu padahal sesungguhnya itu aku?" ini tidak masuk akal.
"Well," Sakura bingung mau mengatakannya. "Ini bukan imajinasi, hanya saja entah kenapa tiba-tiba kau berubah jadi dia, aku langsung bereaksi keras seperti itu."
Naruto mengerjap, syok.
Hening...
Sakura takut-takut melirik Naruto di balik bulu matanya; ia dapat melihat berbagai ekspresi di wajah pria muda itu, bingung, murung, terluka, dan yang terakhir kesal.
'Ini salahku! Aku memang lemah!' seru Sakura dalam hati.
"Hahaha..."
Sakura terhenyak mendengar tawa Naruto, meski begitu ia tidak mendapati bahwa tawa tersebut lucu. "Kau... marah?"
Naruto menggelengkan kepala, masih tertawa. "Hahaha... tentu saja tidak,"
Begitukah? Ia tampaknya terlalu berpikir jau—
"Tentu saja aku marah, dattebayo!" seru Naruto emosi.
Sakura terhenyak, kemudian menggigit bibirnya putus asa; tentu saja, bodoh sekali dirinya bahwa Naruto akan mengerti, seperti yang sudah-sudah.
Naruto yang melihat Sakura ketakutan seperti itu merasa bersalah sudah membentaknya namun siapa peduli? Ia yang paling sakit hatinya sekarang ini. "Aku sampai tidak tahu harus bereaksi apa," katanya.
Mendengar pengakuan bahwa ketika ia menyentuh Sakura justru kekasihnya membayangkan pria lain apalagi Shi di antara semua lelaki membuat hatinya sakit sekali.
Tunggu!
Tidak mungkin kan?
"Apakah mood-mu yang turun juga karena dia—?" tanya Naruto datar.
Sungguh untuk pertama kalinya Naruto memohon dalam hati jika kecurigaannya hanyalah omong kosong namun ketika mata birunya melihat Sakura mengangguk kecil, ia akhirnya kehilangan kesabarannya, lalu bangkit dari duduknya.
Sakura ikut berdiri, "Naruto..."
Mendengar Sakura memanggil namanya, membuatnya entah kenapa merasa dirinya menyedihkan. "Aku butuh waktu,"
"Tetapi..." Sakura berusaha menahan.
Naruto berbalik, "Aku butuh waktu Sakura!" bentaknya. "Aku bingung, ok!? Selama ini, apa yang kita lakukan, apakah kau melihatku ataukah lelaki itu—? Apa cinta yang kau tunjukan itu untuk aku—?"
"Kau tahu itu kau!" Sakura berusaha membela.
Naruto tertawa datar, menertawakan betapa menyedihkannya Sakura saat ini, dirinya—"Sungguh?" tanyanya dingin. "Aku tidak bisa melihatnya,"
Tidak...
Tidak ada gunanya, Naruto tidak mau mendengarkannya...
Ini semua sia-sia...
Sakura kembali terduduk lemas.
Naruto mengambil napas dalam, menenangkan dirinya; meskipun hatinya terluka tetapi tetap berteriak meminta untuk menenangkan Sakura, di sisi lain pikiran logisnya berteriak menghentikan segala tingkah bodohnya, dan kali ini ia memilih pikiran logisnya. "Aku senang kau bisa menunjukan perasaanmu tapi kurasa karena lelaki itu," ia tidak sudi menyebut nama Shi; memikirkan ini membuat ia merasa jijik pada dirinya sendiri.
Apakah sentuhannya sama seperti Shi sehingga Sakura bisa berimajinasi tentang lelaki itu?
Bagaimana bisa?
Beraninya Sakura 'selingkuh' darinya setelah apa yang mereka lalui bersama—?
Selingkuh—?
Untuk kedua kalinya ia merasakannya lagi namun kali ini lebih buruk, parah.
Haruskah ia mengurung Sakura agar wanita muda itu tidak melihat pria lain selain dirinya—?
Memberikan 'cintanya' hingga Sakura hanya melihatnya—?
Naruto meletakan tangan di pelipisnya, kepalanya mulai pusing.
Ia harus pergi sebelum ia melakukan hal yang tidak-tidak pada Sakura.
"Aku pergi," kata Naruto datar, lalu berbalik.
"Tunggu!"
Naruto berhenti tanpa menoleh.
Hening...
Sakura ragu untuk mengatakan ini, ia tahu hubungannya sedang di ujung tanduk, tidak seharusnya ia melakukan ini akan tetapi di situasi seperti ini percuma bersama, ia juga sudah lelah berbohong atau bersembunyi.
"Aku kembali ke jepang," kata Sakura pelan.
Melarikan diri, eh? Pemikiran yang bagus.
Larilah seperti yang dilakukan Sara padanya...
Naruto membuka pintu. "Aku tidak peduli." katanya dingin. "Kuharap kau menemukan dirimu lagi,"
Blam.
.x.
Naruto menjentikan jarinya. "Isi lagi," pintanya, mendorong gelas kosong ke depan bartender.
"Oui,"
Sasuke yang memerhatikan sejak tadi tingkah Naruto, menghela napas kecil. "Apa lagi sekarang?" tanyanya lalu meneguk minumannya. "Aku setuju minum bukan untuk melihatmu mabuk."
Naruto tidak menjawab, memilih meneguk minumannya.
Sasuke mengambil gelas Naruto. "Sudah cukup, aku tidak mau menyeretmu ke hotel."
"Hey!" seru Naruto tidak terima; kenapa semua orang meremehkannya!? "Aku tidak sepayah itu, teme!" ii mencoba merebut gelasnya namun gagal.
Sasuke tidak bergeming, "Bicara atau aku pergi." katanya serius.
Naruto melipat tangannya di depan dada. "Pergilah, aku akan minum sendiri," katanya acuh tak acuh.
Sasuke menyeringai kecil. "Sungguh, hm?" tanyanya, ia mengeluarkan dompet hitam dengan corak garis berwarna oranye di dalam celananya, menggoyang-goyangkan dompet tersebut di depan wajah Naruto. "Karena aku akan membawa asetmu juga, dobe."
"Aaah!" dompetnya! Sejak kapan berpindah ke tangan Sasuke!? Naruto mencoba meraihnya namun gerakan Sasuke lebih cepat darinya. "Kau!"
Sasuke bertopang dagu santai. "Bicara." perintahnya.
"Fuck you,"
Sasuke tersenyum kecil; mencoba mengetesnya eh? "Aku berpikir: apakah dompet ini bisa menghangatkan ruanganku?"
Apa! Dompetnya mau dibakar!?
"Teme! Jangan coba-coba denganku, dattebayo!"
Sasuke tidak takut sedikit pun. "Cerita. Mudah kok,"
Naruto menggerutu tidak jelas; ia hanya butuh teman minum bukan teman curhat, ia ini lelaki, ia punya harga diri, meskipun sudah hancur oleh Sakura.
Mengingat wanita berambut pink itu membuatnya naik pitam lagi.
"Beraninya dia berpaling dariku," bisiknya emosi.
Rupanya umpatan tersebut didengar oleh Sasuke.
Siapa yang sanggup membuat Sakura berpaling dari Naruto—?
Sasuke mengembuskan napas kecil.
Hanya ada satu lelaki.
Sasuke menyerahkan gelas yang tadi direbutnya pada Naruto. "Dia memang brengsek," katanya.
Naruto menerimanya dengan senang hati, "Maksudmu?" tanyanya tidak mengerti arah topik pembicaraan Sasuke.
Sasuke melirik Naruto sebentar sebelum menjawab. "Shi,"
Brruuusshhh!
Naruto menyemburkan minuman yang hendak di tenggaknya ketika mendengar nama 'Shi', ia terbatuk-batuk. "Tunggu! Kau ukh... kenal dia, Sasuke?"
"Sedikit," jawab Sasuke memainkan gelasnya. "Kau harus tahu siapa musuhmu, benar?"
Mendengar itu membuat Naruto kembali teringat kalau Sasuke pernah jatuh hati pada Sakura, tak heran jika sahabatnya itu mencari tahu soal Sakura.
"Aku hanya tahu dia dari keluarga biasa, dan kurasa mereka ditentang oleh paman Kizashi karena setelah lulus lelaki itu pindah ke kyoto," jelas Sasuke. "Dan kau tahu Sakura mengejarnya dan blah blah blah."
Naruto sedikit tertarik. "Lalu apa lagi?" tanyanya.
"Hm..." Sasuke mencoba mengingat. "Hubungan mereka tak berjalan mulus, entah kenapa Sakura tetap menetap di tokyo," jelasnya. "Aku tidak tahu," lanjutnya. "Aku tidak percaya kalah dengan lelaki yang standarnya berada di bawahku."
Mata biru Naruto menyipit tidak suka; sudah lama tidak mendengar Sasuke merendahkan orang lain, dan ia berpikir apakah sewaktu merebut Sara darinya, apakah sahabatnya membanggakan diri? Ia memutar bola matanya.
Kenapa juga harus peduli? Kejadian Sara sudah lama berlalu.
Lelaki bernama Shi itu—Naruto bertanya-tanya seperti apakah dia?
Jika ia bisa disebut seseorang yang berada di samping Sakura ketika mengelesaikan masalahnya, maka Shi itu seseorang yang berada di samping Sakura ketika awal mulai masalah tersebut.
Satu tahun bersama melawan tiga bulan bersama.
Namun Sakura sepertinya menjalani hubungan yang rumit dengan Shi sehingga membuat wanita muda itu tidak bisa 'move on'.
Naruto mencengkeram erat gelasnya.
Namun tetap itu bukanlah alasan untuk berimajinasi dengan pria lain.
Ini terdengar aneh, bercerita masalah cintanya pada Sasuke yang notabenenya tidak pernah tertarik masuk kehubungan teman-temannya tetapi ia butuh pendapat.
"Yang aku tidak mengerti, Sakura hanya bertemu dengan lelaki itu dan dia seperti wanita yang kehilangan kendali." keluh Naruto. "Aku dulu bertemu Sara tidak seperti dia,"
"Oh?" Sasuke merespon singkat, berpikir lagi. "Mungkin karena dia kekasih pertama Sakura," katanya. "Sejauh yang aku cari, dia hanya memiliki tiga kekasih termasuk kau."
Tiga eh? Sedikit sekali, Sakura bukan tipe yang main-main sewaktu di sekolah rupanya.
"Siapa satu lagi?"
"Hyuuga Neji,"
"Oh... ?" keluarga Hyuuga—? Ia pernah mendengar jika keluarga tersebut menjalankan bisnis properti namun ia tidak pernah bekerja sama; Sakura punya selera baik.
"Ino-lah yang mengenalkan Neji ke Sakura," kata Sasuke. "Kurasa hanya bertepuk sebelah tangan sebab hubungan mereka tidak panjang."
"Haha..." kenapa ia tidak terkejut? Mungkin karena Ino juga yang memperkenalkan Sakura padanya.
Hening...
Sasuke memandang kosong wine berwarna merah pekat tersebut. "Aku rasa Sakura hanya kebingungan," katanya tanpa mengalihkan pandangannya.
"Maksudmu?" tanya Naruto tertarik.
"Bertemu lelaki yang pernah dicintainya jelas membawa kembali perasaan yang dulu dilupakannya," kata Sasuke. "Sakura tipe wanita yang serius, dia tak seperti kita yang mudah melupakan seseorang." jelasnya.
Naruto terdiam; perkataan Sasuke tidak sepenuhnya salah, sewaktu bertemu Sara juga meskipun ia berkata sudah merelakan namun hatinya serta pikirannya tidak bisa berhenti untuk mengingat kebersamaan mereka.
Sasuke bangkit dari duduknya, mengambil dompetnya dan meletakan lembaran uang di meja, barulah menatap Naruto. "Ini terserah padamu sekarang," katanya sambil memberikan tepukan pelan di bahu sahabatnya sebelum pergi.
Naruto terdiam memandang kosong gelasnya.
Apa yang harus dilakukannya—?
Bibirnya mengembuskan napas.
Sepertinya tidak ada pilihan lain selain mencari tahu awal dari masalah ini.
Naruto mengambil ponsel miliknya di sakunya, menekan tombol memanggil.
"Halo?"
Naruto tersenyum kecil. "Maaf menelepon malam begini, Konan."
"Tidak apa-apa, aku sedang minum bersama temanku,"
"Oh!" Naruto teringat, Sasuke menggelar pesta kecil-kecilan untuk merayakan keberhasilan hotel serta juga kembalinya ia ke paris; ia jadi tidak enak karena tidak dapat hadir serta menyeret Sasuke minum bersama.
"Apa Tuan Naruto ingin sesuatu?" tanya Konan.
"Ah," Naruto ingat lagi tujuan utamanya. "Aku ingin kau memesan tiket pesawat untukku besok."
"Baiklah," sahut Konan. "Tujuannya jika boleh kutahu?"
Naruto mengambil napas dalam; ia tidak percaya akan melakukan ini; ia baru kembali ke paris, ia ingin main-main di sini! Namun ia tidak punya pilihan.
"Tokyo, tentu saja,"
...
Bersambung...
...
Note :
Hay...
Pas adegan Sakura bertengkar sama sosok dirinya sendiri di kaca kamar mandi, saya namain 'inner Sakura' karna kan bingung ya klo scene kayak begitu di fic gimana, beda klo komik ada gambarnya
Hubungan NaruSaku mulai ga sehat, eh?
Big Thanks To :
: ok bakalan tetep di rate M :) makasih review-nya :)
Paijo Payah : awas ya klo ga nunggu :P makasih review-nya :)
tieichataeyeon : ini pelampiasan saya(?) karna di HCTM ga ada romance-nya :v Saku tetep keingetan Shi meski cinta Naru karna masalah mereka itu sebetulnya belom selesai 7 tahun yang lalu :/ sifat Saku di sini sifat dia yang sebenernya. Naru cowo idaman? :D apakah selera kita sama? Naru di sini saya buat bener-bener lelaki normal, suka cewe bertubuh propsional, seneng minum, nge-game, suka super car dan dia juga penggambaran cowo idaman*suami*uhuk* saya makanya saya suka banget pas ngetik scene Naru, makasih review-nya :)
MANASYE : Ga bakalan ada lemon, saya trauma buatnya :) makasih review-nya :)
RyuuKusanagi : saya seneng feel-nya kena karna sulit buat bikin itu karna saya lagi ga jatuh cinta :) makasih review-nya :)
Guest : saya ga mau ngambil terlalu lama timeline-nya dari fic HCTM, makasih review-nya :)
CrysteleXia : itu panjang banget, mecahin rekor -_-" makasih review-nya :)
Guest : ini udah lanjut :) makasih review-nya :)
GoldLuck : saya klo ngetik ga pernah kerasa tau-taunya udah 10k+ karna saya orangnya perfeksionis klo pengen chap ini bersambungnya harus di sini, ya harus, haha. Makasih review-nya :)
Guest : ya mungkin ga terlalu menegangkan ya? Tapi kan ada penjelasan konflik SasuNaru, SakuKiza, dan Hanare yang belom dijelasin di fic ini jadi ga terlalu spoiler sih... Makasih review-nya :)
Guest : ya bakal dilanjutin :) makasih review-nya :)
Fama : up fic Mysterious Girl? Silakan baca note chapter 1 He Can't Tame Me ya :) makasih review-nya :)
Xxx : ini udah lanjut :) makasih review-nya :)
Guest : udah lanjut, makasih review-nya :)
1234ruru : maaf menunggu lama, makasih review-nya :)
Awy77 Andrian : makasih, ini udah up, makasih review-nya :)
Raynoval : maaf ya menunggu lama :( makasih review-nya :)
Saya rasa ga adil fiksi ini harus hiatus sebab ini dan he can't tame me sejauh ini fic favorit saya
Saya up 1x seminggu tapi ya mungkin bisa dapet ketikan dikit atau panjang, yang penting up
Thanks for reading...
