Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature

.x.

Naruto melirik jam di pergelangan tangannya kemudian mengembuskan napas bosan.

Seperti biasa Ino selalu terlambat jika berjanjian dengannya, mungkin seharusnya ia ke bar bukan meminta bertemu di restoran seperti ini.

Dan lagi...

Naruto tidak yakin kenapa harus melakukan hal bodoh seperti ini, namun apa boleh buat ia harus memahami hati Sakura lebih jauh lagi.

Lagipula ia merasa ia juga memiliki masalah tentang dirinya sendiri yang harus diselesaikan.

Pertengkaran kali ini tidaklah terlalu buruk, setidaknya sampai saat ini, ia menyadari bila ia mulai kehilangan kendali terhadap pikirannya membiarkan kecemburuan di hatinya mengambil alih.

'Aku bahkan sempat berpikir untuk mengurung Sakura,'

Yang dimana itu bila diingat kembali begitu menjijikan.

Ia takkan melakukan hal tersebut.

Takkan pernah.

Naruto tersadar, ia dan Sakura tidaklah 'sempurna', jauh malah. Ia selalu berpikir jika ia sudah melewati tahap ia bisa menerima 'orang lain' di sisi wanita yang dicintainya namun setelah mendengar pengakuan Sakura ternyata ia masih belum.

Dan ia menyadari bahwa selama ini ia selalu membujuk Sakura untuk berada di sampingnya setiap saat; menjadi seorang yang posesif tanpa peduli perasaan kekasihnya sama sekali padanya.

Naruto bertopang dagu.

Sejak kapan ia berpikir seperti ini—?

Sebelumnya ia berpikir jika memiliki kekasih atau istri, ia membutuhkan 'me time' bahkan berpikir untuk membuat ruangan khusus sendiri untuknya.

Dan sekarang—? Ia bahkan naik pitam hanya mendengar teman Sakura menyatakan cinta pada wanita muda itu.

Dan jangan ingatkannya soal ide mengerikan yang melintas di kepalanya ketika tahu Sakura memiliki masalah 'ingatan' dengan Shi.

'Aku terlalu paranoid,'

Naruto menyadari satu hal jika ia masih bertumpu pada masa lalu juga, semenjak dikhianati Sara, kepercayaan ia berkurang dengan wanita yang dikencaninya selama ini termasuk Sakura. Ia tidak bisa percaya sepenuhnya.

'Mungkin sumber masalah bukan hanya pada diri Sakura,'

Tidak mau ambil pusing, Naruto pun meminum jus jeruk pesanannya seraya menatap ke jalan raya, di saat itulah mata birunya tanpa sengaja melihat Ino berjalan menuju restoran tempatnya berada.

'Akhirnya,'

Sambil menunggu Ino naik ke lantai atas tempatnya berada, Naruto menghabiskan minumannya kemudian memesan lagi; ia tidak bernafsu untuk makan kali ini.

"Naruto~"

Naruto yang merasa namanya dipanggil, menoleh, tidak jauh darinya, Ino melambaikan tangan padanya; ia tidak merespon, hanya memutar bola matanya.

"Sorry," kata Ino sebelum duduk di kursi seberang Naruto. "Aku ada rapat dadakan sih,"

Terdengar bukanlah omong kosong, jadi Naruto tidak mempermasalahkan lagi. "Kau lapar? Mau pesan apa? Aku yang membayar, dattebayo."

Mata biru Ino berbinar-binar; makanan gratis! Di restoran ternama pula! Ia pikir Naruto takkan mentraktirnya jadi ia menyiapkan uang lebih. "Menu favorit di sini?" tanyanya semangat.

"Kau mau daging wagyu?"

"Aku mau!" seru Ino semangat; ia membiarkan Naruto memesan menu untuknya, setelah pelayan pergi, ia bertanya. "Kenapa mengajak ke sini?" tanyanya, mata birunya menyapu keseluruh ruangan. "Bahkan sampai memesan ruangan privasi segala."

"Well..." Naruto tidak tahu harus berkata seperti apa; ia merasa ini akan menjatuhkan harga dirinya; ia memutar bola matanya akan pemikiran konyolnya. "Aku pikir kau uhh—"—shit.

"Aku kenapa?" tanya Ino tidak sabar.

Naruto terbatuk gugup; habis sudah harga dirinya. "Kau dan Sakura satu sekolah bersama kan?"

Ino mengangguk polos. "Lantas?"

"Jadi aku berpikir—"—kenapa begitu sulit berkata soal lelaki sialan itu? Oh, shit. "Kau pasti tahu soal hubungan cinta Sakura, kan?"

Pertanyaan macam apa itu? Ino mengangguk. "Tentu saja aku tahu Sakura pernah menyukai siap—oh!" dan seketika itu juga ia mengerti apa yang ditanyakan oleh Naruto. "Maksudmu 'dia'?" tanyanya berhati-hati tidak melukai perasaan pria muda tersebut.

Kenapa kata-kata Ino membuat hatinya panas? Oh, itu bukan Ino namun yang dimaksud wanita muda itu yang membuat hatinya panas: Shi. "Yeah," jawabnya acuh tak acuh, seketika itu juga ia mendengar tawa geli dari Ino yang membuatnya menaikan sebelah alisnya terheran-heran. "Apanya yang lucu?"

"Tidak... haha... aku..." sahut Ino disela-sela tawanya; ia berdehem untuk berhenti. "Sakura... dia sepertinya bisa membaca pikiranmu, dia menebak kau akan menemuiku setelah balik dari Paris,"

Naruto mengerjapkan mata.

Sakura menebaknya akan menemui Ino? Itu berarti kekasihnya menemui Ino juga.

Sepertinya menyembunyikan pertengkaran mereka dari Ino hal yang mustahil; ia ingin bertanya langsung pada Sakura namun ia mengurungkan niatnya karena mungkin ia akan kehilangan kendali pikirannya lagi jika melihat wajah Sakura yang merona merah atau bahagia ketika menceritakan Shi, jadilah memilih jalur alternatif yaitu meminta Ino melakukannya.

"Sesungguhnya, aku tidak begitu tahu tentang hubungan mereka," kata Ino.

Hening...

"Apa!?" seru Naruto panik; jika Ino tidak tahu lantas ia harus bertanya pada siapa lagi? Sakura? Mana sudi ia mendengarnya langsung dari kekasihnya, ditambah ia sudah mengeluarkan banyak uang!

"Aku bukanlah sahabat dekat Sakura saat itu terjadi, aku hanya teman bermain karena kami satu geng," kata Ino. "Tapi ketika Sakura terpuruk, aku-lah yang menemaninya selama ini, dan dia bercerita sedikit tentang lelaki itu,"

Naruto bertopang dagu, berpikir; menemani Sakura ketika terpuruk? Bukanlah hal yang buruk juga, ia yakin Ino mengerti penderitaan Sakura ketika putus dengan Shi. "Bisa kau bercerita?"

"Aku tidak tahu apakah ini akan membantu atau memperburuk hubungan kalian," kata Ino.

"Siapa yang peduli?"—hubungan mereka berdua memang sudah buruk; Naruto ingin tahu semuanya, ia lelah Sakura terus menyimpan rahasia darinya.

Ino mengambil napas; jika Naruto sudah mengatakan seperti, ia bisa apa? Sakura sendiri sudah memberi ijin jika Naruto menanyakannya dan ia tidak mengerti jalan pikiran kedua temannya itu. "Seperti yang kau ketahui, Sakura dan Shi menjalin cinta selama setahun, padahal mereka saling kenal setahun yang lalu, dari sisi Sakura sih,"

"Maksudmu?"

"Itu hanya pertama kali mereka berdua untuk pertama kalinya bertemu," kata Ino. "Sakura awalnya hanya ingin mencoba naik bus sekolah karena bosan selalu diantar pakai mobil pribadi, tetapi siapa sangka bakal ketemu Shi di sana."

Naruto memutar bola matanya; klasik sekali, jatuh cinta pada pandangan pertama? Drama yang konyol. "Lalu?"

"Kau tahu Sakura sedikit pemalu?" tanya Ino; Naruto mengangguk. "Well, dia hanya mencari tahu nama Shi saja! Bisakah kau percaya?" tanyanya tidak percaya. "Padahal temanku ada yang mau menjadi cupid loh,"

Naruto tidak percaya juga; kenapa juga Sakura menolak? Ah, mana peduli soal itu! "Ino, aku rasa kau salah paham, aku hanya ingin bicara inti dari ini semua,"

"Maksudmu?"

Narutp menghembuskan napas; tentu saja Ino tidak mengerti maksud darinya. "Kenapa Sakura—"—ugh, memikirkannya saja kesal. "Begitu suka dia,"—fyuh, hanya itu yang bisa dikatakannya.

"Ah..." Ino mengerti, dan ia mulai merasa simpati pada Naruto karena harus mendengar ini, sebab ialah yang memperkenalkan mereke berdua jadi ia merasa salah juga; ia akan memberi Sakura ceramah lagi. "Bukankah sudah jelas? Shi sepertimu, dia selalu ada di saat titik terendah Sakura bahkan saat Shion mengkhianati dia yang membuat kelompok kami terpecah-pecah, Shi-lah yang menemani Sakura."

Naruto merengut kesal; ia sudah mendengar soal Shion namun ia baru mendengar soal kelompok Sakura yang terpecah; jika saja—jika saja dulu menerima tawaran Ino lebih cepat, mungkin ini takkan terjadi; tidak, ini sudah terjadi, ia tidak bisa terus menyesal.

"Shi bahkan menentang ayah Sakura karena perlakuan buruknya," kata Ino. "Sakura begitu suka menggambar manga, tapi paman Kizashi tidak setuju, jadi Shi yang mendukung Sakura sampai-sampai membelikan alat-alat khusus menggambar, kau tahulah Naruto, tipikal pacar idaman itu gimana."

Lelaki bernama Shi itu tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan benar, eh?

Naruto perlahan-lahan mulai mengerti hubungan Sakura dengan Shi, apalagi jika menyangkut Kizashi yang dulu begitu ketat pada wanita muda itu. "Apa ada yang lain?" tanyanya; berharap dalam hati kecilnya hanya itu.

"Aku rasa Sakura kesulitan karena dia terlalu bergantung pada Shi jadi ketika Shi kuliah di kyoto tanpa ijin Sakura, dia langsung mengejar ke kyoto," kata Ino. "Sakura juga bilang padaku, mereka mau kabur bersama,"

Mata biru Naruto melebar tidak percaya; melarikan diri? Bersama? Begitu sulitnya hubungan mereka kah? "Dia setuju?"

Ino memutar bola matanya. "Tentu... seperti orang yang dibutakan cinta," jawabnya. "Aku tak tahu kenapa mereka putus tapi Sakura sungguh menanganinya begitu buruk, dia bahkan bilang ingin kembali ke kyoto membujuk Shi lagi," terangnya. "Jelas aku menahannya karena Shi tidak pantas mendapatkan Sakura,"

Naruto mengembuskan napasnya; semakin ke sini seperti terdengar drama murahan, mungkin karena ia mendengar dari Ino yang bercerita tanpa emosi sama sekali jadi ia hanya menangkap sedikit simpati untuk kekasihnya. "Kau membenci lelaki itu?"—tetap belum bisa menyebut nama sialan itu.

"Tentu saja!" seru Ino berapi-api. "Sejak awal aku curiga Shi cuma memanfaatkan kekayaan Sakura, dan lagi dia sama sekali tidak menghubungi Sakura sama sekali saat Sakura tidak bisa menepati janji,"

"Maksudmu?"

Ino terdia sebentar; sepertinya ia sudah kelewatan, tidak seharusnya ia bercerita sampai sini; namun ia tahu Sakura takkan marah kan? Sahabatnya itu yang memberi ijin. Jadi takkan marah kan? "Um... sejujurnya Sakura dan Shi membuat janji, saat itu juga bibi Mebuki dilarikan ke rumah sakit, Sakura tak bisa menepati janji mereka yang menandakan hubungan mereka berakhir."

Naruto speechless.

What the actual f—?

Janji?

Tidak bisa ditepati langsung putus? Dari itu semua tidak ada yang masuk akal! Tidak ada!

"Selesai," kata Ino, lalu menenggak minuman yang dipesannya tadi; bercerita panjang begitu membuat kerongkongannya kering.

"Tidak ada?" Naruto memastikan.

"Kau mau mendengar keluhan Sakura padaku selama lima tahun berusaha melupakan Shi?" tanya Ino sambil menaikan sebelah alisnya; jika iya maka ia akan minta makanan lebih sebab akan panjang cerita tersebut.

Mana mau Naruto mendengarkan hal 'bullshit' macam itu jadi ia menggeleng pelan.

Sekarang Naruto bisa menyimpulkan, Sakura jatuh cinta pada Shi terlalu dalam di situasi yang sama sepertinya dan Sakura.

Ia tidak bisa menahan perasaan kecewanya.

Apakah Sakura jatuh cinta padanya karena situasi ia dan Shi sama? Sama-sama berada di samping titik terpuruk wanita itu?

Naruto sempat berpikir mungkin Sakura hanya suka karena Shi termasuk tipe wanita muda itu, ternyata lebih dari itu.

Apakah Sakura ketika bertemu pertama kalinya dengannya, wanita muda itu melihat Shi di dalam dirinya?

"Naruto, jangan terlalu dipikirkan, oke?" tanya Ino pelan. "Masa lalu hanya masa lalu, Sakura mencintaimu, saat ini dia hanya bingung, bukan berpaling darimu—"

Naruto tertawa datar. "Lucu, kau mengatakan hal yang sama dengan Sasuke."

Ino mengembuskan napasnya; ia ingin berkata lebih, ingin mengatakan situasi Sakura saat ini namun diurungkannya. "Ingat kata-kataku, oke?"

Naruto bangkit dari kursinya, "Hn," sahutnya singkat lalu keluar ruangan.

Blam.

.x.

Setelah keluar dari restoran, Naruto memilih untuk berjalan menuju apartemen miliknya, biasanya ia memilih ke tempat Sakura namun situasi sekarang belum memungkinkan untuknya.

Kepalanya sedikit pening karena 'ceramah' Ino tadi.

Menyedihkannya, ia belum menemukan jalan keluar dari masalah mereka.

Naruto menghela napas.

Apa yang salah pada dirinya memang? Hingga Sakura berpaling darinya.

Apakah ia terlalu lembut? Apakah perhatian ia kurang? Memang ia pergi selama dua bulan; mungkin memang hal tersebut?

Naruto tidak percaya ia bisa kecolongan hanya dikarenakan pertemuan satu kali tanpa sengaja Shi.

Fuck.

Naruto berhenti melangkah, dan merogoh saku jaket hitamnya, mengambil kotak kecil berwarna merah lalu membukanya, menatap intens cincin putih berhiaskan berlian.

Apa yang harus dilakukannya terhadap cincin ini? Rencananya ia ingin memberikannya pada Sakura.

Naruto tahu Sakura berkata padanya bahwa wanita muda itu tidak bisa 'berjanji' apa-apa padanya namun ia tidak dapat menghentikan diri untuk tidak membelinya.

Ini bukanlah cincin untuk melamar, hanya cincin 'pinky promise' sebagai hadiah untuknya karena Sakura berhasil melalui masalah tersulitnya dengan ayahnya.

"Oh!" sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya; tentu saja, ia bisa memakai ide 'itu' untuk menyelesaikan ini semua! Kemudian ia menatap penuh suka cita cincin di telapak tangannya.

Normalnya ia tidak percaya akan hal-hal ajaib, namun kali ini bolehkah ia menyebut cincin ini memberinya hal yang baik?

"Cincin yang cantik,"

Naruto otomatis menutup kotak merah di tangannya, menoleh di sampingnya—ada dua lelaki muda berdiri di dekatnya, yang satu berambut pirang, sementara yang lain berambut biru muda; anehnya ia merasa tidak asing dengan lelaki berambut pirang seperti dirinya itu.

Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya?

"Maaf mengganggu waktu anda tuan," kata pria berambut biru muda sambil membungkukan tubuhnya, diikuti pria berambut pirang di sampingnya.

"Ah!?" Naruto menjadi salah tingkah dipanggil 'tuan'; apakah ia berpenampilan seperti orang berada? Atau mungkin mereka mengenalinya dari majalah jadinya sampai memanggilnya tuan? Ia menggaruk belakang lehernya malu. "Kurasa tak usah memanggil tuan. Aku Naruto."

Untuk sesaat kedua pria tersebut diam.

Naruto merasa ada yang aneh, namun ia memutuskan untuk tidak membuka percakapan; lagipula yang memulai percakapan kan mereka berdua bukanlah ia.

Satu deheman kecil dari pria berambut pirang mengakhiri keheningan mereka. "Maaf, terdengar mengganggu, tapi... tapi apakah cincin itu untuk seseorang yang spesial untukmu?"

Seseorang yang spesial? Sakura? Tentu saja namun...

"Ya." sahutnya singkat.

Entah kenapa hatinya merasa tidak enak, ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini; apa yang terjadi padanya? Ia tahu kedua pria ini asing dan ia sering mengobrol dengan orang-orang yang belum dikenalnya tapi belum pernah ia merasakan seperti ini.

Naruto bahkan tidak mau membagi sedikit ceritanya.

"Begitu..." kata pria berambut pirang tersebut pelan. "Aku juga ingin tapi aku belum bertemu dengan wanita-ku lagi sih..."

"Begitu?"—kenapa ia mengulangi ucapan pria itu? Apakah karena mereka sama-sama pirang? Eww!

Pria berambut pirang itu tersenyum kecil. "Aku berharap kau sukses, Naruto," katanya seraya mengulurkan tangan ke Naruto. "Namaku Chojuro, ngomong-ngomong."

Naruto sedikit ragu awalnya namun disambut juga uluran tangan tersebut. "Thanks," katanya. "Kau juga, Chojuro."

Hening...

Untuk beberapa saat mereka tetap seperti itu, saling memandang satu sama lain dengan intens.

Naruto yang sejak awal merasa tidak nyaman, mengakhiri jabat tangan mereka dan berbalik. "Well, bye," katanya sambil melambaikan tangannya.

"Yeah," kata Chojuro datar.

Setelah mendengar respon dari Chojuro, Naruto pun mulai berjalan, dan ia berani bersumpah ia mendengar Chojuro bergumam: sampai bertemu lagi.

.x.

"'Namaku Chojuro'? Yang benar saja!"

"Maaf aku harus memakai namamu, Cho,"

Chojuro menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah, sih, yang tidak aku mengerti kenapa memakai namaku, Shi?"

Shi menimang-nimang. "Aku hanya berpikir mungkin Sakura akan bercerita soalku pada dia jadi aku memakai namamu,"

"Benar juga sih," Chojuro menyetujui pendapat sahabatnya. "Sepertinya Naruto tidak mengingatmu ya?"

"Dia takkan," kata Shi datar. "Aku kan hanya magang di perusahaan dia sebentar, kami juga hanya berpapasan beberapa kali,"—dulu ia juga sempat menaruh kagum pada Naruto karena di usia yang sama sepertinya sudah sukses; tidak dipercaya sekarang orang yang dikagumi olehnya dulu menjadi rivalnya.

Chojuro menepuk pelan pundak Shi. "Bagaimana perasaanmu?"

Shi menatap Chojuro sesaat, lalu melanjutkan langkahnya lagi. "Tidak ada," sahutnya. "Sakura sepertinya memilih lelaki yang baik..."

Selama bekerja di perusahaan Naruto, ia memang mendengar gosip jika pria muda itu suka bergonta-ganti pasangan, mengencani model-model namun tidak pernah satu kali pun ia mendengar Naruto menyakiti wanita tersebut, selalu wanita yang dikencani oleh Naruto yang minta putus, setidaknya itulah gosip yang beredar di perusahaan, mungkin karena itulah Naruto menjadi idaman para karyawan perempuan apalagi perlakuan pria muda itu pada ibunya, Kushina.

Naruto memang ada celah negatif namun memang lelaki 'gentleman'.

Chojuro tersenyum kecil. "Termasuk kau, eh?"

Shi berhenti melangkah. "Tidak," sahutnya. "Kalau iya, kami pasti masih bersama..."

Chojuro terdiam; ia tidak bisa membalas kata-kata itu. "Lalu apa yang akan kau lakukan?"

'Aku lakukan—?'

Shi tidak menjawab, lebih memilih menatap langit sore.

.x.

Sakura memutar tubuhnya ke sana ke mari di atas ranjang, lalu menghela napas berat, barulah duduk menatap layar ponselnya putus asa.

Tidak ada.

Tidak ada email atau pun telepon dari Naruto.

Lagi. Sakura menghela napas berat.

Tentu saja, apa yang diharapkannya sih?

Naruto jelas marah besar dan tidak mau menghubunginya.

Ia juga akan melakukannya jika berada di posisi Naruto.

Sakura menghela napas yang entah sudah ke berapa kalinya.

Ia mendengar kabar bahwa Naruto menghubungi Ino, dan yang seperti diduganya, kekasihnya itu menanyakan hubungannya dengan Shi, namun hanya itu. Hanya itu, Naruto kembali menghilang lagi hingga sampai ini ia tak tahu keberadaan kekasihnya.

Sakura tidak bisa menanyakan kabar dari teman-teman Naruto karena mereka semua menolak memberitahu untuk menghargai perasaan kekasihnya bahkan ia dapat sindiran keras dari Kiba karena masalah ini.

"Naruto sudah melakukan yang terbaiknya untukmu, dan kau—?"

Sakura memeluk lututnya mengingat perkataan atau sindiran Kiba.

Tentu saja ia tahu dan menyadari perlakuan Naruto untuknya, ia tahu.

Bahkan ia masih ingat perlakukan Naruto untuknya ketika hubungan mereka ke tahap lebih lanjut.

.#.

Flashback ON

.#.

Sakura merasakan punggungnya menyentuh ranjang diikuti oleh Naruto yang memposisikan tubuhnya di atasnya tanpa mengakhiri ciuman panas mereka.

Sakura mengakhiri ciuman mereka, ingin berbicara dan juga butuh oksigen, namun Naruto tidak membiarkannya berlama-lama, dan kembali menyatukan bibir mereka. "Mmm—" ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak mendesah.

Ini hanya ciuman, mereka sering melakukannya namun entah kenapa kali ini membuat seluruh tubuhnya perlahan memanas—membuatnya ingin disentuh lebih dalam lagi—

'Tidak...'

Ia tidak boleh kalah.

Sebelum ia kehilangan semua akalnya, Sakura menggerakan tangannya ke dada Naruto bermaksud untuk mendorong menjauh darinya namun kekasihnya menangkap tangannya, meletakannya di atas kepalanya bahkan menggenggamnya, mengaitkan jari-jari mereka agar tidak memberontak.

'Aku tidak pernah menang melawannya kalau masalah ini,'

Sakura mengambil oksigen sebanyak mungkin ketika Naruto mengakhiri ciuman mereka, ia menggigit jarinya menahan desahannya begitu merasakan kekasihnya mencium bahunya setelah menurunkan tali branya.

"Naruto—ah—tunggu—" Sakura berusaha berkata disela-sela desahannya.

Naruto tidak berespon membiarkan sentuhannya yang berbicara, mencoba membuka kaitan bra Sakura.

"Koi... please?" pinta Sakura memelas, menahan lagi dada Naruto memakai tangannya yang bebas; ia bahkan menambahkan 'pet name' agar Naruto mendengarnya.

Dan usahanya berhasil, Naruto menghentikan aktifitasnya, menatap Sakura lembut. "Ya, chérie?"

Sakura mengatur napasnya, mata hijaunya menatap Naruto hanya sebentar sebelum kemudian ditutup oleh tangannya, malu; kekasihnya terlihat seksi sekarang, ia tidak pernah memperhatikan Naruto sehabis mandi sebelumnya.

'Aku punya fetish? Aneh sekali.'

Melihat bulir-bulir air berjalan di lekukan tubuh terutama dada dan rambut pirang Naruto membangkitkan gairah 'aneh' dalam diri Sakura ditambah lagi tubuh kekasihnya hanya berbalut handuk pendek menutupi pinggul hingga paha—karena Naruto berada di atasnya—celah lipatan handuk tersebut terbuka menampilkan—ia meneguk air liurnya tanpa sadar.

'Mesum,'

"Kenapa?" tanya Naruto lembut.

Sakura ingat arah pembicaraan mereka lagi; pipinya semakin merona merah. "Aku... tidak berpengalaman," katanya pelan; ingin rasanya ia lenyap dari sini.

"Maksudmu?" tanya Naruto tidak mengerti.

Kenapa Naruto harus memiliki loading yang lambat? Ini menghancurkan harga dirinya!

Sakura mengalihkan pandangan ke lain arah. "Aku hanya melakukan 'itu' satu kali," katanya, merona hebat. "Aku ini amatiran, Naruto."

Hening...

"Pfftt,"

Sakura terkejut memdengar suara tawa tertahan dari bibir Naruto. "Apanya yang lucu?"—ia mengungkapkan rasa ketidak percayaan dirinya tetapi kekasihnya justru tertawa?

Apakah sebegitu menyedihkannya dirinya?

"Serius Sakura," kata Naruto disela tawanya. "Kau mempermasalahkan ini?" tanyanya terheran-heran.

"Ummm..." tentu saja, ia takut Naruto akan kecewa berat mengetahui ia tidaklah hebat seperti wanita-wanita yang pernah dikencani oleh kekasihnya.

"Aku tidak peduli, ok?" kata Naruto seruis.

Virgin atau tidak, amatiran atau ahli, ia tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut. Ia memang suka bergurau jika Sakura itu virgin tapi ia tidak sungguh-sungguh akan perkataannya.

Mungkin Sakura cemas karena wanita muda itu 'perfect woman'—?

Itu tidak seperti ia akan berkata pada semua orang sudah melakukan 'itu' dengan Haruno Sakura.

Naruto lebih senang menjaga privasinya, lagi pula jika ia bercerita mengenai itu otomatis teman-temannya akan berkhayal tentang kekasihnya.

"Um," Sakura masih ragu.

Naruto mendesah; Sakura tidak pernah berhenti merasa tidak nyaman padanya, eh? Padahal mereka sudah satu bulan menjalin cinta.

Naruto memegang pipi kekasihnya, menatap lekat-lekat mata hijau yang disukainya. "Aku mencintaimu," katanya serius. "Bagiku itu tidak penting. Ok?"

Sakura terhenyuh sesaat; meskipun sudah satu bulan menjalin cinta, ia masih belum terbiasa dengan sifat blak-blakan Naruto; itu bukan sesuatu yang jelek namun ia merasa begitu pasif jika dibandingkan kekasihnya dalam mengungkapkan perasaan.

"Lakukan dengan lembut, ya?" pinta Sakura menatap Naruto malu-malu.

Naruto pun ikut merona; bagaimana bisa ia menolak jika Sakura mengatakannya dengan ekspresi menggoda dan imut seperti itu? Ia mengangkat tubuh Sakura, menaruh di pangkuannya. "Tentu saja," katanya, ia mendekatkan bibirnya di telinga wanita muda itu berbisik pelan. "Apa aku pernah bersikap kasar padamu, chérie?" tanyanya, ia bahkan menambahkan sentuhan sensual menggoda di punggung wanita muda itu yang direspon desahan kecil, yang membuat ia menggigit bibirnya karena gairahnya untuk menyentuh kekasihnya naik lagi.

Tentu saja belum pernah, Naruto selalu menunjukan sisi 'gentleman', memang pernah pria muda itu marah tetapi tidak pernah satu kali pun bermain tangan.

Konflik di hatinya selesai, Sakura memberanikan diri memberikan kecupan singkat di bibir Naruto sebagai jawaban darinya.

Naruto mengerti sinyal yang diberikan Sakura, ia membalas mencium juga namun lebih dalam, dan tidak lupa perlahan ia melanjutkan lagi aktifitasnya yang tadi sempat berhenti—melepas kait bra kekasihnya lembut...

.x.

Flashback OFF

.x.

Sakura mendesah frustasi.

Bila tidak mana mungkin ia merasakan perasaan hampa dan kosong ini, kan? Mana mungkin ia menangis dalam diam menyesali ini, kan?

Dan yang terpenting, ia begitu rindu dan hancur tidak bisa merasakan perasaan, sentuhan, serta perhatian Naruto untuknya.

Sakura mengeratkan pelukannya.

Jadi seperti ini?

Pada akhirnya ia kembali merasakan perasaan kosong ini lagi?

Naruto sudah hampir seminggu kembali, namun tidak ada tanda-tanda pria muda itu akan kembali padanya.

Padahal ia sedikit bahagia mengetahui Naruto kembali setelah ia juga kembali ke Tokyo akan tetapi harapannya pupus setelah mengetahui kekasihnya itu lebih memilih menyewa apartemen bahkan cukup jauh dari tempatnya tinggal.

Mungkin hanya sampai sini hubungan mereka.

Kenapa juga ia harus teringat Shi di saat begini?

Apa yang otaknya ingin sampaikan padanya?

Mengakui jika ia masih menyimpan cinta pada Shi?

Ugh.

Sakura tidak mau lagi ingat tentang Shi, ia hanya ingin Naruto, hanya Naruto...

.x.

"Sakura, jangan terlalu murung, kau terlihat jelek,"

Sakura menghela napas lalu memutar bola matanya. "Aku tidak peduli."

Kenapa juga ia harus bersemangat? Ia yakin 99 persen Naruto takkan datang di acara lelang malam ini, jadi ia tidak perlu berdandan ataupun semangat.

Kenapa datang jika itu hanya membuat Naruto semakin naik pitam menyaksikan ia ditawar oleh lelaki lain?

Naruto mungkin bilang tidak sudi ia berkencan dengan pria lain, dan itu sebelum insiden di Paris.

Dan tidak ada gunanya bergantung pada sisa satu persen tersebut.

Sakura memang tetap menyiapkan kursi untuk Naruto namun hingga acaranya sudah mau berakhir tetap tak ada tanda-tanda kekasihnya datang.

"Ino," panggil Sakura pelan.

"Hm?"

"Bisa kau memberiku semangat?" pinta Sakura kecil; ia biasanya meminta Naruto tapi kan kekasihnya tidak ada, jadi ia mengambil alternatif.

Ia sungguh membutuhkan dukungan; hatinya mungkin sedang hancur namun setidaknya ia bisa mengulas kecil senyum palsu ketika di panggung.

Naruto tidak datang, jadi ia sudah bisa memastikan yang akan menang akan tawaran kencannya itu mungkin Ibiki atau harapan kecilnya ya teman-teman Naruto.

Ino yang sejak tadi dingin pada Sakura akhirnya luluh juga, ia rasa sudah cukup menghukum Sakura setelah sejak dimulainya acara lelang melihat sahabatnya bolak-balik mengintip dibalik tirai memastikan dan berharap-harap Naruto akan datang; ia pun menepuk pelan bahu Sakura, "Kau bisa melewati ini," katanya disertai senyum lebar.

"Ino..." Sakura tersentuh seketika, api semangatnya yang hilang, sedikit menyala; ia sempat berpikir Ino takkan mau mengatakannya sebab semenjak ia curhat masalah Naruto, sahabatnya itu sedikit dingin padanya, mungkin karena Ino lebih mengambil titik tengah di antara ia dan Naruto.

Ino juga mendengar dari sisi Naruto, jadi ia mengerti itu.

"Thanks," kata Sakura ikut tersenyum.

Ino mengangguk, "Oh!" lalu ia teringat sesuatu, dan mengambil bedak serta lipstik di tas kecilnya. "Kau mungkin tidak semangat tapi harus cantik! Ingatkan tujuanmu partisipasi lelang ini!? Hah!?"

"Ha'i," Sakura menurut begitu saja, membiarkan sahabatnya membuat 'magic' pada wajahnya.

Mendengar Ino memarahinya membuat hati Sakura sedikit senang; ia bukan masochist hanya rindu akan omelan Ino setelah beberapa hari diacuhkan.

"Selesai," kata Ino tersenyum puas; ia tadinya berniat hanya menggunakan bedak dan lipstik namun karena Sakura menurut saja jadi ia menambahkan yang lain.

"Sakura-neechan! Sakura-neechan!"

"Huh?" kata Ino dan Sakura bersama-sama.

Tidak jauh, Sasame tengah berlari menuju Sakura berada.

"Ada apa?" tanya Sakura terheran-heran.

Sasame tidak menjawab, sibuk mengambil napas karena berlari dari luar gedung menuju belakang panggung. "A-aku—"

"Tarik napas terlebih dahu—"

"Naruto-niisan datang!" potong Sasame semangat.

Sakura serta Ino membatu di tempatnua berdiri.

Naruto—datang—?

Datang—?

"Sasame tidak percaya awalnya tapi pas Naruto-niisan menyapa baru bercaya," kata Sasame menggaruk malu pipinya yang merona mengingat Naruto sampai harus berteriak saking syoknya melihat kekasih kakaknya. "Neechan—?" panggilnya memiringkan kepalanya kikuk, Sakura tidak kunjung mereapon.

Datang—!

Sakura berusaha menyembunyikan semangatnya yang mulai naik tidak terbendung; ia tahu mereka masih belum berbaikan namun hanya mendengar nama Naruto membuat hatinya berdebar. "S-sungguh?" tanyanya memastikan.

"Kau tidak berkhayal, kan Sasame?" tanya Ino menaikan alisnya heran; Naruto bilang padanya takkan datang kok; kecuali pria berambut pirang itu berbohong atau berubah pikiran.

Naruto beralasan sudah cukup 'bullshit' dari Sakura.

Apa yang membuat Naruto berubah atau berbohong padanya?

Apa Naruto memiliki rencana selama ini yang tidak diketahuinya?

Sepertinya malam ini Ino akan menginterogasi Shikamaru.

Sasame mengangguk penuh percaya diri. "Kalau tidak percaya lihat saja sendiri, neechan." katanya. "Naruto-niisan cool seperti biasa," lanjutnya terkagum-kagum.

Sakura mengangguk pelan, ia mengepalkan tangan di dadanya yang sejak tadi berdebar tidak karuan.

Tenang.

Ia hanya bertemu biasa bukan akan melakukan sesuatu spesial.

Sakura mengembuskan napas kecil.

Tentu saja sulit.

Selama beberapa hari ini, hanya Naruto yang berada dipikirannya, keinginan untuk bertemu dan menyelesaikan masalah mereka berdua begitu kuat bahkan sampai diimpikannya.

"Oh, ya, dia datang," kata Ino yang sudah mengintip duluan dibalik tirai; lelah menunggu Sakura; mata birunya menyapu seluruh ruangan, dan di saat itu juga tanpa sadar ia menangkap objek yang menarik. "Aku bermimpi—? Apa masih mabuk?" tanyanya pada diri sendiri, ia menampar pipinya untuk memastikan. "Ow!" itu sakit! Berarti ia tidak sedang bermimpi atau mabuk; ia mengerjap namun objek tersebut tetap ada. "Gawat,"

"Apa maksudmu gawat?" tanya Sakura heran.

Ino menatap mata hijau Sakura intens; haruskah ia mengatakannya? Ini tidak adil!

"Ino," kata Sakura tidak sabar.

Memang harus dikatakan, lagipula Sakura akan melihatnya sendiri jika ia menolak menjawab, daripada seperti itu lebih baik ia berbicara. "Aku rasa, aku melihat Shi..."

.x.

'Aku tidak percaya akan melakukan ini lagi,'

Meskipun Naruto mengakui masih sakit hati namun membiarkan Sakura berkencan dengan pria lain tetap berhasil membuatnya cemburu.

'Aku harus mulai mengatasi sifat bodoh ini,'

Terlalu posesif berefek begitu banyak baginya, yang paling berpengaruh adalah pekerjaannya, ia bahkan membatalkan 'meeting' dengan klien demi Sakura.

Namun hanya satu kali ini, Naruto mentoleransi dirinya bersikap nakal, maksudnya, hubungan mereka diambang putus jadi ia tidak mau menambah pria lain.

"Aku pikir kau takkan datang, Naruto." kata Kiba sambil merangkul erat sahabatnya.

"Huh, yeah," sahut Naruto sekenanya. "Aku sendiri juga tidak percaya akan datang,"—menyedihkan sekali.

"Kau hampir terlambat, untungnya giliran Sakura belum," kata Shikamaru.

"Oh?"

Sakura belum eh? Tentu saja yang terbaik dipersiapkan di bagian akhir.

Sakura kan Queen.

'My queen,'

Shit.

Degub jantungnya mulai berdebar-debar.

What the f—?

Setelah semua masalah ini, hatinya masih menginginkan wanita muda berambut pink tersebut—? Ssdalam apa perasaannya ini? Melebihi harga dirinya?

"Kupikir title-nya bakal pindah," kata Kiba.

"Kenapa?" tanya Naruto heran.

"Kenapa kau bilang?" Kiba mengulangi dengan nada mengejek. "Tentu saja karena kali ini tidak ada Gaara, Sasuke atau pun Ibiki, 'perang' ini tidak seru,"

Naruto mengerjapkan mata.

Gaara—Sasuke—

Naruto baru menyadari mereka tidak ada, ia mengerti situasi Sasuke karena sahabatnya pindah ke Paris akan tetapi Gaara? Kemana sahabat Sakura itu?

Ini kesempatan bagus untuknya jadi ia tidak terlalu mengeluarkan uang yang banyak, bukannya ia tidak mau menyumbang, ia kan sedang membangun perusahaan baru, ia sedang menekan pengeluaran yang bukan 'prioritas' sebisa mungkin.

"Kupikir—oh—!?" Kiba hendak menggoda Naruto namun mata cokelatnya tanpa sadar beradu pandang dengan pemilik mata hitam yang duduk di depannya. "Oh? Eh?" matanya tidak salah lihat kan? Pria berambut pirang tadi terlihat tidak asing baginya. "Shika, kau kenal lelaki itu?" tanyanya sambil menunjuk ke bagian pria itu berada.

Shikamaru mengikuti arahan jempol Kiba. "Hm?" terlihat tidak asing baginya juga, matanya menyipit memastikan lebih tajam lagi, dan barulah ingat ketika pria berambut pirang itu menoleh untuk mengobrol dengan pria muda di sampingnya. "Itu rival Sasuke, kan?"

"Hah—?" rival Sasuke? Jika berbicara rival jelas itu dirinya bukan yang lain; penasaran, Naruto pun ikut melihat; model rambutnya terlihat tidak asing di matanya; ia mengingat-ingat dimana pernah bertemu.

"Kupikir aku ingat namanya," kata Kiba. "Um... Itu..."

Naruto ingat! Ia ingat pernah bertemu!

"Itu Shi/Chojuro!" seru Naruto dan Kiba bersamaan; mereka saling beradu pandang kebingungan.

"Shi dari mana? Itu Chojuro, Kiba," kata Naruto tidak mau kalah. "Aku belum lama ini bertemu dengan dia,"

Kiba tidak mau kalah. "Dia itu Shi, baka! Sasuke memperlihatkan foto dia pada kami tahun lalu!"

"Huh?" mana mungkin! "Tapi dia mengaku bernama Chojuro, dattebayo!"

"Iya!" seru Kiba tetap tidak mau kalah.

"Bukan!"

"Iya!"

"Bukan!"

"Bisa kalian diam? Merepotkan." Shikamaru memotong perdebatan kedia temannya, lelah melihat mereka tidak ada yang mau mengaku salah. "Kurasa lelaki itu sengaja membuatmu keliru Naruto,"

"Huh?" Naruto tidak mengerti. "Untuk apa?"

Shikamaru menutup matanya, berpikir. "Aku tidak tahu, tapi kurasa dia sengaja memalsukan namanya, kau bilang pernah bertemu kan? Mungkin jika dia mengaku, kau akan marah."

"Kenapa juga aku harus marah?" tanya Naruto terheran-heran.

"Aku tidak tahu," sahut Shikamaru. "Mungkin dia berpikir Sakura bercerita tentang dia padamu? Merepotkan."

"Benar juga," sahut Kiba menyetujui. "Kau kan kekasih Sakura."

"Tapi kurasa takkan mungkin dia tahu?" tanya Naruto.

Kiba memutar bola matanya. "Kau ingat skandal besar kalian? Dan jangan lupakan kau berkencan dengan putri Haruno Kizashi. Haruno!"

Naruto mengakui kesalahannya; sekarang ia kembali terbakar amarah; apa yang Shi rencanakan? Tindakan yang berani mengajak ngobrolnya. Mata birunya balik lagi menatap Shi.

Mencoba bermain api, eh? Bersiaplah untuk terbakar kalau begitu.

Naruto akan tunjukan betapa ia dan Shi tingkatnya sangat jauh. Sangatlah jauh sehingga Shi tidak berpikir lagi untuk mengganggunya dan Sakura.

Mungkin setelah menang menawar, ia harus mencium Sakura di atas panggung? Menunjukan semua orang termasuk Shi jika Sakura miliknya? Takkan ia lepas?

Tidak.

Naruto akhirnya tersadar lagi, ia kelewatan, melakukan itu tetaplah percuma, ia mungkin bisa menyingkirkan Shi namun tidak dengan pikiran Sakura terhadap mantannya tersebut.

Ia harus menyingkirkan keduanya... tapi dengan cara apa?

Naruto mencengkeram helaian pirangnya frustasi.

Apa yang harus dilakukannya—?

Apa—?

Satu ide akhirnya muncul di kepalanya setelah sekian lama berdebat pada dirinya sendiri; Naruto tidak yakin akan ide ini, namun ia tidak memiliki pilihan, ditambah lagi Sakura sudah naik ke atas panggung.

Naruto mengambil napas dalam.

'Pertaruhan terakhir.'

Win or lose...

Dan Naruto yakin ia akan menggenggam kemenangan, hanya sedikit bersabar.

Sedikit.

.#.

Sakura melangkahkan kakinya gugup, mata hijaunya terus memerhatikan kakinya agar tidak tersandung.

Ia senang akhirnya bisa melihat Naruto lagi namun ia tidak mengira akan bertemu dengan Shi juga.

"Kami persiapkan yang terbaik di akhir, kalian pasti tahu siapa yang berdiri di sini kali ini," kata Tsunade. "Kalau belum, aku perkenalkan Haruno Sakura, dia berprofesi sebagai dokter, dia wanita multi talenta."

"Bukankah puteri Haruno berkencan dengan putera Namikaze!?" teriak salah seorang peserta.

Sakura menggigit bibirnya, sampai saat ini, ia masih belum bisa mengangkat wajahnya, namun pertanyaan tadi membuatnya ingin sekali mengangkat wajahnya, ingin melihat reaksi Naruto akan seperti apa, apakah senang atau kesal.

'Kau kuat Haruno!' seru Sakura dalam hati.

Dengan segenap keberanian yang ada; tanpa peduli akibatnya; Sakura menaikan kepalanya, tanpa perlu mencari, mata hijaunya terpaku pada pria berambut pirang yang kebetulan atau memang menatapnya juga.

'Naruto...'

Sakura tidak bisa menebak mood Naruto seperti apa karena kekasihnya itu memasang wajah datar tanpa ekspresi, ia sedikit kecewa namun sedikit senang juga bisa bertemu lagi.

Sekarang, Sakura pun berani melihat pria yang menghantui mimpinya, mata hijaunya mencari—tanpa butuh waktu yang lama, ia melihatnya, tidak berubah sama sekali, masih sama seperti terakhir kali mereka berpisah tujuh tahun yang lalu.

'Shi...'

Tiba-tiba kenangan akan masa lalu mereka bersama-sama kembali melintas di kepalanya, dengan cepat ia menggeleng pelan, kembali memfokuskan mata hijau miliknya pada mata biru kekasihnya.

Apakah ia bermimpi melihat sudut Naruto tertarik ke atas?

'Jangan kalah!'

"Mungkin iya mungkin juga tidak, mereka tidak pernah mengkonfirmasikan. Mari kita lanjutkan!" seru Tsunade.

Sakura mengambil napas dan mengembuskannya perlahan.

"Haruno Sakura adalah peserta favorit selama dua tahun ini, dan belum lama ini dia mengumpulkan donasi terbesar, jadi malam ini, aku akan membuka penawaran sepuluh ribu yen," kata Tsunade.

"Lima puluh ribu yen!"

"Ya lima puluh ribu yen dari peserta nomor 6!" kata Tsunade. "Ada yang berani menawar lebih?"

"Seratus ribu yen!"

"Baiklah seratus ribu yen dari nomor empat!"

"Seratus lima puluh ribu yen!"

"Ya, seratus lima puluh ribu yen!" seru Tsunade. "Adakah yang menawar lebih? Jika tidak akan kuhitung sampai—"

"Lima ratus ribu yen."

Sakura menutup mata hijaunya; suara itu, suara yang sangat dikenalnya; yang sangat dirindukannya selama tujuh tahun.

Tentu saja, Shi akan berusaha 'membelinya' namun kenapa?

Sakura yakin Shi mengetahui skandalnya bersama Naruto.

Apakah karena skandal tersebut Shi kembali?

Sakura tidak tahu, yang terpenting baginya Naruto, sejak tadi kekasihnya sama sekali tidak membuat penawaran, membuatnya kebingungan.

Apakah Naruto hanya ingin kemari?

Apakah Naruto mengenal Shi?

Mungkin tidak makanya kekasihnya tidak menawar—?

Sakura melirik lagi Naruto, kali ini kekasihnya tengah mengobrol atau berdebat dengan teman-temannya—?

Mata mereka kembali bertemu, kali ini Naruto tidak membalas melainkan membuang muka seakan-akan ia seperti sesuatu yang menjijikan untuk dilihat—?

Sakura menunduk sembari menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan bulir-bulir air matanya.

'Sakit sekali,'

"Baiklah, sepertinya tidak ada," kata Tsunade; penawaran Sakura turun drastis, tampaknya karena skandal dengan Naruto begitu berpengaruh; mau bagaimana lagi mereka mencintai satu sama lain. "Aku akan mulai menghitung! Tiga, dua, sat—"

"Lima ratus lima ribu yen!"

Oh? Masih ada yang mau meski naiknya tidak terlalu besar.

"Lima ratus lima ribu yen dari nomor sembilan belas!"

Sakura menggigit bibirnya; ia kenal suara itu, bukan dari Naruto melainkan Kiba. Dari semua orang, mungkin Kiba melihat betapa menyedihkannya dirinya sehingga berani bertaruh—?

"Enam ratus ribu yen!"

Shi menawar lagi.

Penawaran tersebut sudah cukup baginya jika memang benar adanya Shi datang untuknya.

Sakura tidak tahu harus bereaksi seperti apa; otaknya blank.

"Baiklah sepertinya tidak ada lagi, aku akan menghitung mundur lagi," kata Tsunade.

Seperti hanya sampai sini...

"Tiga..."

Memang...

"Dua..."

Tidak!

"Satu..."

Sakura takkan membiarkannya, ia mengangkat lagi kepalanya, menatap Naruto lagi penuh harap. "Naru..."

"Nol... Ya penawaran ditutup dengan enam ratus ribu yen dari nomor sepuluh!" seru Tsunade kemudian membungkuk hormat. "Terima kasih atas partisipasinya! Selamat malam!"

Sakura masih membatu.

Pada akhirnya Naruto sama sekali tidak menawar—tidak mempertahankannya—?

Dan lebih yang membuatnya hancur, Naruto memandangnya masih tanpa ekspresi, datar.

Merasa cukup dikecewakan, Sakura mengakhiri tatapan mereka dan membungkuk barulah keluar dari panggung setelah mengucapkan terima kasih.

Sakura berlari sambil sesekali menyeka air matanya.

'Aku takkan membiarkan ini!'

.#.

Naruto membuka pintu mobilnya, dan mendesah lega.

Tadi itu waktu-waktu tersulitnya.

Ia harus menyakiti orang-orang di sekitarnya termasuk Sakura...

Kami-sama... begitu sulit menatap Sakura tanpa menunjukan perasaannya.

Naruto hampir berkali-kali gagal akan 'puppy eyes no jutsu' Sakura untunglah karena sering bermain dengan Sasuke membantunya sedikit.

'Hanya sedikit lagi...'

Naruto menyeringai kecil.

Bruk!

"Huh?" Naruto merasakan ada seseorang memeluknya dari belakang; ia mengenali wangi parfum tersebut; ia melirik lewat bahunya was-was dan benar dugaannya bila itu kekasihnya, Sakura.

Naruto tidak ingin menyakiti Sakura lebih dalam lagi, ia merasa tadi sudah cukup namun wanita muda itu tidak memberinya pilihan lain.

Berakting lagi.

Naruto mengembuskan napas gusar. "Apa yang kau inginkan sekarang?" tanyanya dingin sementara degub jantungnya berdebar-debar keras. Shit.

Hening sesaat...

Sakura melepas pelukannya. "Bisa kau berbalik dan tatap aku?"

Damn it.

Naruto menurut, setelah berbalik, ia memasang ekspresi tidak tertarik lagi. "Ya?"

"Kenapa datang kemari kalau tidak menawar?" tanya Sakura.

"Temanku di sini," kata Naruto; betapa konyolnya alasan itu, ia yakin Sakura takkan percaya.

"Kalau begitu kenapa pulangnya kalian berpisah?" tanya Sakura tidak sabar.

Tentu saja kekasihnya tahu ia berbohong.

Kenapa juga ia berkencan dengan dokter?

"Aku pikir kau akan partisipasi," kata Sakura sedih, lalu memukul-mukul dada Naruto frustasi. "Aku kecewa padamu! Kecewa! Kecewa!"

"Sakura..." Naruto menyadari jika sekarang ini ia sudah kelewatan; Sakura mengakui jika memikirkan pria lain namun wanita muda itu kan tidak benar-benar selingkuh, ia dapat melihat tadi Sakura hanya berfokus padanya.

'Fuck it,'

Naruto menghentikan tangan Sakura yang memukul-mukul dadanya yang membuat mata hijau wanita muda itu memandangnya. "Aku melakukan ini semua demi kita juga," katanya, "Aku senang kau langsung menemuiku," ia mengakui dengan sedikit rona merah di pipinya. "Yang berarti aku masih penting bagimu."

"Apa maksudmu?" tanya Sakura. "Kau tentu masih," lanjutnya tak kalah merona. "Kau selalu,"

Naruto tersentuh seketika, namun semau apa pun ia ingin memeluk Sakura erat-erat, membisikan tentang perasaannya, ia tak bisa, ini tempat umum. "Sungguh?"

Sakura mengangguk.

"Lalu berkencanlah," kata Naruto. "Buktikan padaku,"

"Maksudmu?"

Naruto menggaruk belakang lehernya; ia akan menyesali ini; mata birunya menatap serius. "Sakura... aku ingin kau berkencan dengan Shi,"

—akhirnya ia bisa mengatakan nama lelaki itu; mungkin ia mulai 'tumbuh'? Sekarang ia tidak merasa kesal saat terpikirkan mantan kekasih Sakura itu.

Hening...

"A-apa?" Sakura syok berat. "K-kenapa?"—ia tidak bisa mengatakan hal yang lain bahkan ia sampai terbata-bata; terlalu syok; tak mengerti jalan pikiran kekasihnya.

Naruto sudah mengira Sakura akan menanggapinya dengan negatif.

Ini demi mereka berdua.

"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."

...

Bersambung...

...

Note:

Saya cuma mampu ngetik segini, harap kalian mengerti ya... saya cuma manusia biasa...

1-2 chapter lagi...

Big Thanks to :

moonlighttxx : makasih semangatnya ya sangat membantu :D makasih review-nya :)

Paijo Payah : makasih cuy, hahaha... Makasih udah review :)

Awy77 Andrian : belom selesai sih haha... Saya juga suka scene NaruSasu :D makasih review-nya :)

tieichataeyeon : mereka sama-sama ga sehat, Naru sejak awal di fic HCTM ga bisa ngontrol cemburunya, makanya di sini saya buat mereka 'tumbuh' bersama, makasih review-nya :)

fffc34hf668ggbb : um... no, saya ga mau terlalu berat karena ini cuma omake/sequel plus Sakura ga bener-bener selingkuh, kan? Makasih review-nya :)

MANASAYE : ini udah lanjut, makasih review-nya :)

Thanks for reading...