Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature
Note: saya memiliki beberapa masalah, jadi maaf sedikit terlambat dan word-nya ga panjang
.#.
"APA!?"
Naruto menutup telinganya; ia tahu akan mendapat reaksi ini.
Sakura sendiri syok; ia tahu bahwa selama ini ide Naruto terkadang nakal dan sedikit 'gila' namun kali ini levelnya sungguh di luar pikirannya.
Berkencan dengan Shi—? Memilih di antara Shi dan Naruto—?
Apakah Naruto sudah kehilangan akal sehatnya?
Di antara semua kebingungan, yang membuatnya penasaran yaitu memintanya memilih lagi; tidakkah Naruto mempercayai hatinya? "Kenapa?" tanyanya.
Naruto menghela napas. "Untuk kita," ia menggeleng. "Terlebih lagi untukmu, dattebayo."
Mata hijau Sakura menyipit, tidak suka.
Untuk kita?
Sejak kapan meminta kekasihnya untuk berkencan dengan mantannya adalah ide yang bagus untuk memperbaiki hubungan mereka—? Terutama mantan tersebut yang membuat mereka di situasi seperti ini.
"Aku tidak mau memilih!" seru Sakura marah. "Apalagi berkencan dengan dia!"—sudah cukup Shi mengganggu mimpi-mimpinya serta pikirannya. "Naruto, aku hanya mencintaimu," kali ini kata-katanya lemah dan putus asa, ia memeluk Naruto untuk meyakinkan kekasihnya. "Aku hanya menginginkanmu..."
Naruto tak bergeming; normalnya, ia akan membalas atau sekedar bergurau akan ungkapan cinta Sakura yang jarang didengarnya, kini ia tidak merasakan apa pun, ia justru perlahan melepaskan pelukan tersebut darinya. "Sungguh? Kalau begitu buktikan padaku, kenalkan aku pada Shi—?"
Sakura terkejut mendengarnya; memperkenalkan Naruto pada Shi? Mana mungkin ia mau melakukannya! Itu kan tindakan yang bodoh! Bodoh!
Naruto yang tidak kunjung mendapat jawaban dari kekasihnya, memutar bola matanya malas; ia agaknya harus menekan sedikit atau menyadarkan kekasihnya sedikit. "Ini yang harus kau selesaikan, Sakura," katanya. "Kau berpura-pura semuanya oke padahal sesungguhnya tidak,"
"Apa? Aku tidak berpura-pura!" bantah Sakura keras; untuk alasan apa juga ia berpura-pura? Naruto aneh!
"Lalu apa masalahnya?" Naruto sambil mengangkat bahunya enteng. "Kau bilang kau 'baik-baik' saja," ia menantang, memicingkan mata birunya mengejek.
"Aku..." Sakura kehilangan kata-katanya.
Benar.
Apa masalahnya? Hanya memperkenalkan kekasih pada mantan kekasih, tidak lebih, kenapa harus emosi dengan hal tersebut? Ini bukan terlihat ia masih memiliki sedikit cinta pada Shi—
Sakura terhenyak akan pikirannya lalu menunduk sedih.
Apakah ia... memang masih cinta?
"Sakura, pilihan terbaik saat ini ya berkencan dengan Shi," kata Naruto serius. "Aku takkan lagi menghalangi atau pun bersikap layaknya anak kecil," lanjutnya kalem. "Kupikir kau harus juga kan? Jika kau melewatkan hal ini, hubungan kita akan tetap seperti ini, itu pikiranku,"
Sakura tidak menjawab.
Haruskah ia? Melakukannya?
Sakura masih terkejut Naruto mengusulkan hal tersebut mengingat betapa cemburuan kekasihnya itu, berpisah selama hampir seminggu membuat Naruto dewasa, ia harusnya bahagia kan? Tidak lagi ada desakan-desakan untuk tinggal bersama, kecemburuan akan rekan kerja yang menaruh hati padanya.
Sakura mengepalkan tangan di dadanya. "Bisa aku bertanya?"
Naruto mengangguk kecil.
"Apa yang membuatmu berpikir ide ini akan berhasil?" tanya Sakura penasaran.
Naruto memiringkan sedikit kepalanya, berpikir. "Setelah Shi menipuku hingga tadi dia begitu memperjuangkanmu, aku melihat sisi lain yang aku lupa tengok, perasaan dia dan perasaanmu."
Perasaannya dan Shi—?
"Aku memang masih belum mengerti masa lalu kalian," kata Naruto sambil memutar bola matanya malas. "Tapi perasaan kalian sepertinya begitu kuat di luar dugaanku, kau bahkan butuh waktu bertahun-tahun," jelasnya. "Aku berani bertaruh dengan semua uangku, dia pun kesulitan sepertimu,"
Mata hijau Sakura melebar; Shi kesulitan melupakannya? Mana mungkin! Ia sendiri yang melihat Shi mem-posting foto berdua dengan wanita lain di akun media sosialnya, kecuali Shi melakukannya dengan terpaksa, sepertinya.
Seakan tahu apa yang dipikirkan kekasihnya, Naruto berkata, "Kau penasaran? Berkencanlah kalau begitu,"
Sakura mendengarnya merasakan hatinya seperti tertusuk, "Kenapa kau begitu menekanku berkencan dengannya?" tanyanya sedih. "Kau tidak menyukaiku lagi?"
"Tentu saja tidak, dattebayo!" sahut Naruto cepat, ia melipat tangannya, marah. "Jangan pernah berpikir seperti itu, mengerti?"
Sakura tersentak; sudah lama sekali ia tidak melihat Naruto semarah itu, "Maaf," sesalnya; ia hanya frustasi akan sikap Naruto yang seolah-olah tidak lagi peduli padanya.
Sekarang Naruto yang merasa bersalah. "Maaf, chérie." katanya lembut. "Aku sedikit kelewatan,"
Untuk pertama kalinya Naruto memanggilnya 'sayang', Sakura sedikit senang mendengarnya.
Naruto mengembuskan napas dalam. "Kita memang bertengkar tapi sejujurnya perasaanku belum berubah," ia mengakui. "Aku merencanakan semua ini supaya kau sungguh-sungguh sudah 'move on'. katanya serius. "Aku ingin ketika kita kembali bersama, tidak ada penyesalan ataupun sesuatu yang mengganjal di hatimu,"
"Maksudmu—?"
Naruto mengangguk. "Selesaikan masalah apa pun itu dengan dia, yang selama ini kau sembunyikan rapat-rapat, kemudian putuskan kembali perasaanmu," katanya.
Sakura mulai mengerti maksud dari Naruto.
Ia tidak bisa lagi seperti ini, jika ia menolak, Naruto berpikir hubungan mereka akan tetap tidak sehat, dan Shi kebetulan ada di sini.
Sakura mengambil napas dalam-dalam.
Sudah saatnya melangkah maju.
Menyelesaikan masalahnya dengan Shi.
Melangkah bersama Naruto atau Shi.
Jika Naruto tidak keberatan dengan hal tersebut, ia tidak memiliki alasan menolak.
Sakura akhirnya menyetujui. "Baiklah,"
Naruto tersenyum kecil. "Aku senang mendengarnya," katanya.
Sakura balas tersenyum; haruskah ia berkata 'senang' juga? Apakah Naruto akan marah padanya mengatakan itu?
Naruto menepuk tangannya, teringat sesuatu. "Tapi ada syaratnya,"
Mata hijau Sakura melebar. "A-ada?" katanya gugup; berharap bukan lagi hal-hal yang aneh.
Naruto mengangguk. "Ayo kita berkencan, dattebayo!"
Eh?
.#.
Sakura merapikan jaket yang entah sudah ke berapa kalinya pagi hari ini, menatap cermin sambil memutar tubuhnya—memastikan pakaian yang dikenakannya telah sempurna.
Kencan.
Naruto, lagi, mengejutkannya.
Sakura mengembuskan napasnya; ia tidak tahu apa yang sedang direncanakan kekasihnya, tetapi salahkah bila ia sedikit senang—?
Naruto. Namikaze Naruto yang punya harga diri tinggi, yang terkadang membuatnya memutar bola matanya akan kesombongan kekasihnya, mengajaknya kencan setelah hampir seminggu mereka bertengkar.
Apakah Naruto terbentur kepalanya sebelum acara lelang?
Apa pun itu, Sakura bersyukur, dan mungkin dengan kencan ini, ia bisa mengerti jalan pikiran kekasihnya.
Sakura mengecek kembali pakaiannya, setelah selesai ia mengambil tas selempangnya di atas meja dan keluar dari apartemen, ia melirikan mata hijaunya ke samping, memastikan Ino tidak ada; ia sengaja tak memberitahu Ino agar tidak mendapat ceramah panjang; setelah yakin sepi, ia langsung mengunci pintu dan sedikit berlari ke pintu lift, menekan tombol tutup pintu buru-buru.
'Aku seperti pencuri,' keluh Sakura dalam hati.
Sakura menenangkan dirinya sambil menunggu lift turun ke lantai bawah.
Kenapa juga Naruto tidak mau ke apartemennya? Malah lebih memilih menunggu di bawah, jika ketahuan Ino, ia pasti akan diinterogasi atau lebih parah dituduh hendak berkencan diam-diam dengan Shi.
Ting!
Sakura keluar dari lift, dan berjalan pelan keluar gedung, tangannya berpegangan erat pada tali tas pink-nya. Setiap langkah ke depan, degub jantungnya tak berhenti berdebar cepat.
Mungkin memang seperti ini ketika sepasang kekasih bertengkar lalu harmonis lagi? Seperti mereka kembali merasakan kencan untuk pertama kalinya?
Udara dingin menyentuh kulit Sakura seketika ia berada di luar; udaranya memang dingin namun untunglah tidak turun salju.
Sakura menggosok-gosokan tangannya yang diselimuti sarung, barulah melangkah lagi, di saat itulah mata hijau miliknya melihat Naruto berada, kekasihnya itu sedang bersandar di pinggir mobil sambil memainkan ponsel; ia menelan ludahnya tanpa sadar; ia tahu Naruto itu 'cool' namun sekarang di matanya lebih dari itu, atau mungkin karena efek 'bertengkar' mereka?
Naruto berhenti memainkan ponselnya ketika melihat sepasang kaki berhenti tepat di depannya, ia menaikan kepalanya, dan mengukir senyum kecil. "Hey,"
"Hey,"—kenapa harus gugup? Ini cuma Naruto! Atau—pria keren di matanya? Ini bukanlah pertama kalinya ia lihat Naruto mengenakan streetwear! Dan lagi turtleneck yang ketat begitu, mau pamer? Lalu kenapa ada Yamato ada di sini? Apa mereka mau 'threesome'?
'Apa aku berpikir threesome? Dengan paman Yamato? Eww!'
Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menyingkirkan pikiran kotornya.
"Kau takkan menciumku tanpa sepengetahuanku lagi kan, chérie?" tanya Naruto menggoda.
"Eh... ?" Sakura tidak paham apa maksudnya; mana mungkin ia mencium Naruto apalagi di keramaian, memangnya ia mau mencari skandal baru—"Oh!" ia menyadarinya, pipinya merona merah.
Sakura memang pernah mencium Naruto ketika pria muda itu hendak berangkat ke Paris, saat itu ia hanya ingin tidak dilupakan oleh Naruto makanya ia memberi ciuman singkat, dan siapa sangka ada yang memotret kejadian tersebut hingga menimbulkan skandal besar.
Naruto menyeringai lebar. "Aku berharap kau tidak melakukannya lagi, chérie," keluhnya, namun mata birunya memancarkan kejahilan. "Setidaknya tanpa persetujuanku, bukankan membosankan kecupan singkat saja?"
"Y-ya," sahut Sakura masih merona, satu detik kemudian sadar apa yang dikatakan Naruto, pipinya pun semakin merah; kekasihnya memberi ide untuk ciuman panas di tempat umum!? Dan ia setuju—? "Tidak!" serunya emosi.
Sudah cukup sekali skandal mereka dulu hingga membuatnya kesulitan keluar apartemen akibat wartawan mengikutinya, ingin mencari tahu hubungannya dengan Naruto; ia bahkan sampai menginap di rumah Tenten agar mereka berhenti mengikutinya.
Itu skandal terburuknya, mungkin karena ada bukti kuat jadi wartawan tidak setengah-setengah mencari tahu, berbeda ketika ia memiliki skandal dengan Sasuke.
Naruto mengangkat bahunya tanpa dosa. "Sebagai lelaki tidak salahnya berusaha, eh?"
Sakura menggembungkan pipinya; Naruto kembali seperti Naruto yang dikenalnya, suka menggodanya. "Apakah kau mau terus begini? Atau pergi ke tempat kencan kita?" tanyanya jengkel.
Naruto tertawa kecil. "Tentu saja," katanya, kemudian mengulurkan tangannya.
Sakura menatap bingung uluran tangan kekasihnya; bukankah mereka akan naik mobil? Jadi untuk apa berpegangan tangan segala? "Kita naik mobil kan?'
Naruto menggelengkan kepalanya, "Kita naik bus, atau kalau kau mau, kita jalan,"
"Eh?" tidak biasanya Naruto mengajaknya naik kendaraan umum, "Bagaimana jika kita berjalan saja?" ide naik kendaraan umum membuat kepalanya sedikit pening; ia tidak mau berdesak-desakan atau parahnya tubuhnya dipegang oleh tangan-tangan orang nakal, ia yakin seratus persen Naruto akan melindunginya tetapi tidak ada salahnya mencegah kan?
Naruto menangguk.
.#.
Selama perjalanan, tidak ada satu pun dari mereka ingin membuka percakapan.
Sakura hanya mengikuti langkah kaki Naruto, ia ingin mengobrol namun tidak tahu harus membicarakan apa; ia rasa harapan untuk tidak gugup setelah pertengkaran mereka sudah redup.
Apakah Naruto tidak memperdulikannya?
Sakura menggelengkan kepalanya.
Berhenti berpikir negatif.
Apa untungnya juga berpikir hal yang jelek-jelek? Dari pada menerka-nerka yang tidak pasti, ia akan berinisiatif jika Naruto enggan melakukannya.
Sakura pun menempelkan tubuhnya sambil menyandarkan kepalanya di bahu Naruto.
Naruto menyadari, dan menolehkan kepalanya sedikit. "Ada sesuatu?" tanyanya kalem.
Sakura agak syok mendengarnya; apakah sentuhannya terpancar sebagai sesuatu yang aneh? Ia memang bukanlah tipe wanita yang agresif; bukankah hal normal wanita bersandar ke bahu kekasih yang dicintainya?
Ia tidak boleh menyerah.
Sakura sedikit mengeratkan genggamannya, "Aku hanya ingin bersandar padamu, apakah itu salah?"
"Oh!" suara Naruto terdengar seperti terkejut di telinga Sakura. "Kupikir kita harus 'permisi' sebelum disentuh seperti dulu,"
"Permisi!?" seru Sakura syok; sejak kapan ada peraturan konyol—oh! Ia ingat, ia ingat pernah mengatakan itu saat mereka baru satu hari hubungan mereka resmi...
.#.
Flashback ON
.#.
"Sandwich atau natto?" Sakura menimang-nimang roti di tangannya; biasanya ia sarapan dengan sandwich atau malah minum suplemen, tetapi Naruto sudah permanen tinggal di apartemennya, ia menyiapkan menu sarapan lain; ia berpikir-pikir apakah kekasih 'barunya' menyukai natto? Ia memutar bola matanya malas; selama tinggal bersama, ia tak pernah sekali pun melihat Naruto makan yang sehat, bahkan baginya pria muda itu cenderung memilih-milih makanan; lebih baik ia kembali ke 'basic' saja.
Sakura memasukan sepasang roti ke pemanggang, dan mulai memotong daging ham serta sayur-sayuran.
Aneh.
Selama ini ia terbiasa sendiri, mendapati Naruto tinggal bersamanya membuay hatinya sedikit tergelitik; padahal dulu ia pesimis akan Naruto bisa membuatnya 'terbuka', lihat ia sekarang? Membuatkan menu sarapan untuk pria muda itu, tidak seperti sebelumnya yang palsu, kali ini ia membuatnya dengan degub jantung berdebar-debar; ia berandai-andai apakah Naruto akan menyukai sarapan yang dibuatnya, ia mengakui tak cukup mahir di bidang masak-memasak karena PTSD yang dideritanya selama ini, tapi bukan berarti juga ia payah, dulu ia pernah ikut kursus memasak oleh ayahnya.
Setelah semuanya persiapan selesai, Sakura mengambil penggorengan, meletakan di atas kompor listrik, barulah menaruh minyak sedikit dan menyalakannya, menunggu panas, ia membuka lemari untuk mengambil spatula—di saat itulah, seseorang memeluknya dari belakang begitu erat hingga ia tidak bisa bergerak.
"Selamat pagi, beautiful,"
Sakura yang panik, tanpa pikir panjang langsung menarik tangan yang melingkar di perutnya, dan membanting 'pelaku' tersebut ke depannya hingga menimbulkan benturan keras di lantai.
"Ittai!"
Sakura terkesikap pelan, menyadari siapa 'pelaku' yang berani-beraninya memeluknya ternyata kekasihnya yaitu Naruto, dengan segera ia menghampiri, membantu pria muda itu duduk di kursi. "Maaf, aku kira ada yang masuk ke sini!"—jika tahu itu Naruto, mana mungkin melakukan gerakan karatenya.
Kenapa juga ia tidak bertanya dulu, huh?
Naruto masih mengelus pinggangnya, menggerutu. "Ingatkan aku kenapa aku mencintaimu," keluhnya.
"Ummm—?" pertanyaan macam apa itu? Meski begitu ia menjawab. "Karena aku—cantik—?" Sakura tidak ingin terdengar narsis, Naruto sendiri yang tadi berkata begitu padanya.
Mata biru Naruto tertuju pada mata hijau Sakura sekarang. "Memang," katanya serius.
Sakura membuang mukanya, ia dapat merasakan pipinya memanas; pujian ini, ia masih belum terbiasa. "Lain kali, kau harus ijin terlebih dahulu melakukan itu, ya?"
"Haaah?" Naruto tidak percaya akan 'pengakuan Sakura barusan; memang mereka ini apa? Anak yang baru puber main ijin-ijin segala bila disentuh?
Sakura bertolak pinggang. "Aku bisa membantingmu lagi, kau tahu?" katanya tak mau mengalah.
Naruto memutar bola matanya; bagaimana bisa ia lupa jika Sakura bisa karate? Sekarang, kekasihnya bertingkah seperti virgin; ia yakin Sakura memiliki pengalaman soal ini mengingat kekasihnya memiliki mantan kekasih, yah walaupun cuma satu—sepengetahuannya. Ia pun bangkit berdiri, "Baiklah," sahutnya mengalah; untuk sekarang ia akan mengikuti kemauan aneh-aneh Sakura yang sedikit 'pemalu'. "Sekarang, sampai dimana kita?" pancingnya.
Sakura terkesikap, "Maksudmu?" tanyanya ragu-ragu; ia mengerti maksud dari Naruto hanya ingin memastikan jika ia benar; dalam hati kecilnya berharap salah. "Ah~" ia mendesah pelan saat Naruto kembali memeluknya, kali ini tidak memberikan ruang untuk memberontak.
Naruto menyeringai kecil. "Kupikir, kita saling mengerti di sini," katanya. "Atau aku harus yang melakukannya? Aku lebih berpengalaman, kan?"
Seketika Sakura menjawab. "Tidak," jika Naruto yang melakukannya, ia yakin akan lebih dari kesepakatan mereka; ia belum siap berhubungan sedalam itu; jadi Sakura menutup mata hijaunya, dan menghapus jarak wajah mereka, memberikan kecupan singkat di bibir kekasihnya, "Selamat pagi,"
"Hm," entah kenapa gumam Naruto terdengar seperti godaan di telinga Sakura seakan meminta lebih atau pikirannya yang mesum.
Sakura ingin sekali melepaskan pelukan mereka, selain ia mulai mencium aroma-aroma gosong, ia juga ingin menenangkan degub jantungnya yang berdebar-debar tidak karuan namun ia tidak bisa, tangannya terkurung, jadi ia hanya bisa mencengkeram dada kekasihnya.
Naruto sepertinya mencium aroma terbakar juga, dengan sebelah tangan yang bebas, ia mematikan kompor listrik di belakangnya, dan fokus pada mata hijau Sakura lagi. "Aku masih tidak percaya,"
"Soal apa?"
"Kita berkencan," Naruto menyudahi dengan senyum lebar.
Sakura juga berpikiran sama; ia tidak percaya akan memiliki seseorang yang spesial lagi; ia hampir tak peduli soal percintaan setelah Neji; berbicara kencan membuatnya ingat sesuatu. "Bisa kita merahasiakan hubungan kita?" tanyanya ragu-ragu.
Hening...
"Apa!?" seru Naruto akhirnya mengerti maksudnya; merahasiakan hubungan mereka dari orang-orang? Kepala Sakura terbentur atau apa? "Kau kehilangan akalmu, ya?" tanyanya dingin.
"Bukan!" Sakura tahu Naruto pasti marah. "Aku masih ikut lelang kencan it—"
"Aku tidak mengijinkannya," potong Naruto murka. "Kau pikir aku ini apa, Sakura?"—membiarkan orang lain menyentuh kekasihnya, memikirkan hal-hal mesum di otak mereka, mana mungkin ia membiarkan itu.
"Kan hanya satu tahun sekali, Naruto!" Sakura tidak mau mengalah; ia tidak bisa mundur; ia penyumbang terbesar selama ini, jika ia berhenti, pasti dana yang diterima tak banyak; Ino bisa menggantikannya tetapi sahabatnya itu sudah mendeklarasikan kencan dengan Shikamaru. "Aku akan tetap melakukannya meskipun tanpa ijin darimu!" bentaknya sambil mendorong keras dada Naruto hingga membuat pria muda itu mundur beberapa langkah, dan hampir terjatuh lagi; ia tidak peduli melihatnya.
Naruto menggertakan giginya; kenapa juga ia harus jatuh cinta pada wanita keras kepala seperti Sakura? Terkadang ia muak selalu menuruti kemauan wanita muda itu; ia punya batas juga, dan Sakura mengetes batas kesabarannya lagi? "Apa... kau pernah berpikir tentangku? Perasaanku?"
Sakura terkesikap; ia tidak menyangka akan ditanyakan mengenai hal tersebut; sejauh ini ia belum memikirkan perasaan Naruto sama sekali, ia hanya berpikir jika pria muda itu tidak pantas untuknya, ia berpikir juga Naruto lebih pantas mencari wanita lain; ia tertunduk; jawaban jelas tidak, ia selalu melihat dari matanya, tidak pernah bertanya bagaimana perasaan Naruto.
Bahkan mereka berdebat ketika di pantai.
Naruto memutar bola matanya; melihat Sakura yang murung membuatnya merasa bersalah; mungkin ia terlalu keras? Sakura baru melewati masa tersulitnya, wajar mungkin wanita muda itu belum memikirkan perasaannya. "Baiklah," katanya pasrah.
"Huh?"
"Aku mengijinkanmu melakukannya," kata Naruto; ia berharap ia tidak menyesali ini; Sakura cantik, dan ia tahu cara berpikir pria akan seperti apa pada wanita cantik, dan jangan lupakan tubuh kekasihnya juga; ia bahkan belum merasakannya namun melihat Sakura tidur mengenakan celana pendek, memamerkan paha putih indahnya membuat tubuhnya panas; ia terbatuk.
Sakura tersenyum lebar; padahal ia sempat berpikir akan berhenti mengikuti acara melihat Naruto tak menunjukan tanda-tanda menyerah padanya.
Naruto membalas tersenyum kecil; iya, Sakura memang lebih manis jika tersenyum.
"Arigato," kata Sakura; ia begitu senang Naruto mau mengerti; menjalani hubungan ini tidak terlalu buruk juga. "Aku lupa harus memasak sarapan kita.
Naruto melirik penggorengan yang berisi minyak; memang salahnya telah mengganggu Sakura, ia masih tidak percaya wanita muda itu menjadi kekasihnya jadi ia memeluk untuk meyakinkan lagi jika itu bukan mimpi semata. "Mau aku bantu?"
"Kau mau?" Sakura bertanya balik; jujur ia sudah sangat lapar, sedikit bantuan mungkin baik, memang ia belum pernah melihat Naruto memasak, ia bisa meminta pria muda itu memotong buah atau hal ringan lainnya.
Naruto mengangguk.
"Baiklah, kau bisa menyiapkan piring dan roti,"
.#.
Flashback OFF
.#.
Sakura jadi teringat betapa Naruto sabar menghadapinya.
Naruto memang protes satu kali atau dua kali namun ketika ia sudah murung bahkan ingin menangis, pria muda itu langsung mengalah atau pun meminta maaf.
Sakura lupa betapa manisnya Naruto dulu, bahkan mungkin sekarang, yang harus memintanya berkencan dengan mantan kekasihnya, ia tak bisa membayangkan betapa sulitnya di posisi Naruto saat mengatakannya.
Sakura mengeratkan pegangan tangan mereka. "Masalah itu sudah lewat, kan?" tanyanya.
"Hm," Naruto menjawab sekenanya.
Sakura mengecek sekelilingnya; ia tahu jalan ini. "Kita mau kemana memang?"
Naruto memamerkan senyum misterius, "Kau nanti tahu,"
"Well," jelas Sakura tahu, ia kan lahir di shibuya, jalan yang mereka tapaki saat ini menuju ke taman bermain, masa Naruto mengajak ke sana? Atau mungkin Naruto ingin mencoba toko ramen baru? Namun ketika langkah kekasihnya berhenti di gerbang masuk taman bermain, ia tahu tujuan kencan mereka.
"Ingat terakhir kali kita kemari?" tanya Naruto.
"Uh?" terakhir kali mereka kemari? Ketika kencan ganda dengan Ino, benar? "Ada apa memangnya?"
"Aku janji padamu, lain kali kita akan menaiki permainan yang belum kita coba kan?"
Sakura mengangguk polos; tentu saja ia ingat, ia bahkan kesal karena belum sempat mencoba semuanya karena Naruto terus mengeluh.
Naruto menarik tangan Sakura. "Kalau begitu ayo kita coba, dattebayo!" serunya semangat, menuntun Sakura menuju loket tiket.
"Eh?" Sakura hanya menurut; ia senang Naruto menepati janji, lagi pula seingatnya permainan yang belum mereka coba yaitu roller coaster—tunggu! Roller coaster!? "Fu—k Naruto tunggu!"
"Kau lambat! Nanti kita tidak sempat mencobanya, dattebayo!"
Itulah masalahnya!
'Whatever!'
Naruto sendiri yang merasakannya bukanlah dirinya.
.#.
"Hooeekkk..."
Sakura yang berada di samping Naruto hanya menggelengkan kepalanya.
Sudah diperingatkan, Naruto tetap bandel, seperti inilah hasilnya, semenjak turun dari roller coaster, Naruto tidak berhenti merasa mual, mereka bahkan mencari tempat yang aman untuk memuntahkan isi perut pria muda itu.
Setelah mengusap bibirnya, Naruto bersandar di kursi, mata birunya menerawang kosong. "Kenapa ada banyak Pink-chan berputar di atas kepalaku, dattebayo... ?"
Sakura menghela napas kecil, mendekatkan kursinya, dan mulai membersihkan keringat yang berada di wajah Naruto menggunakan tisu. "Serius," gumamnya. "Kenapa kau mau melakukan ini jika kau mabukan?" tanyanya; ia masih tak percaya alasan Naruto menghindar berkencan di taman bermain karena tidak tahan naik roller coaster; selama ini ia berpikir Naruto takut ketinggian...?
Kenapa Naruto baik-baik saja naik kendaraan pribadi?
What the—?
"Aku berjanji padamu, kan?" tanya Naruto balik. "Dan sekarang saatnya,"
Sakura menyodorkan air mineral pada kekasihnya; ia sejujurnya tidak begitu antusias dengan janji yang satu ini, terdengar aneh jika seorang sepertinya berkencan di taman bermain, mereka kan bukan anak sekolahan; tapi mengetahui sifat Naruto, ia dapat memakluminya.
"Kau senang?"
"Aku?" Sakura menunjuk dirinya sendiri polos; Naruto mengangguk kecil. "Well..."—tentu ia senang, selama naik, ia bisa melampiaskan emosinya dengan berteriak sekeras mungkin tanpa perlu orang-orang menilainya 'gila'; iya ia senang, jadi ia pun mengangguk.
Naruto bangkit berdiri. "Ada yang mau kau coba?"
Sakura menimang-nimang; memang ada namun melihat Naruto yang berdiri pun belum benar, ia menggeleng.
"Kau yakin?" Naruto menyakinkan sekali lagi.
Sakura mengangguk lagi; kenapa Naruto bisa membaca pikirannya sih?
"Kalau memang itu maumu," sahut Naruto. "Selanjutnya kita ke rumah Kiba,"
Sakura menaikan alisnya. "Kiba?"
.#.
"Waaahhh... imutnya~"
Naruto memutar bola matanya bosan; apanya sih yang imut? Hanya kucing biasa, senyuman Sakura saat ini jauh lebih imut dan juga manis, kalau saja wanita muda itu dapat melihat apa yang dilihatnya.
"Kau mau mengadopsinya, Sakura?" tanya Kiba. "Aku mengambilnya di depan supermarket, dia tidak memiliki kalung jadi kubawa ke rumah dari pada kedinginan di luar,"
Tentu saja Sakura ingin mengadopsi kucing putih bercorak oranye di pelukannya ini, tetapi ia tidak tahu dengan Shizune apakah akan mengijinkannya, ia bisa memakai alasan sebagai pengobatannya sih; matanya kembali tertuju pada kucing mungil di pelukannya, dan terhenyuk akan keimutan binatang tersebut.
Sakura sesungguhnya tidak terlalu pilih-pilih mengenai ini, ia terima-terima saja mendapat kucing dari ras biasa bahkan cenderung tidak mendukung ras campuran atau mahal, ia merasa simpati kucing-kucing dijadikan bahan percobaan.
Pink-chan bahkan pemberian bukan ia yang membelinya.
Sakura mengembalikan kucing tadi ke Kiba dengan berat hati; seingin-inginnya ia mengadopsi, ia harus meminta ijin Shizune. "Ada beberapa yang harus aku pertimbangkan,"
"Aww," gumam Kiba kecewa. "Kabari aku oke? Tapi jangan terlalu lama,"
Sakura mengangguk.
"Silahkan tehnya,"
"Oh," Sakura menoleh, seketika senyum di bibirnya hilang mendapati wanita berambut cokelat—Tamaki membawa nampan berisi dua cangkir teh, meletakannya di meja; ia tidak suka Tamaki, sebab mata cokelat wanita muda itu sesekali melirik-lirik Naruto—sangat jelas jika Tamaki itu jatuh hati pada kekasihnya.
Reaksi Naruto yang sesekali menguap bosan juga tidak menolongnya, entah kekasihnya itu sengaja memasang tampang 'cuek' atau tumpulnya tingkat dewa hingga tak menyadari sejak tadi Tamaki mengirim sinyal cinta.
Kenapa juga Tamaki ada di rumah Kiba coba? Saat ia menanyakan jika mereka berkencan, Tamaki dengan cepat membantahnya, diikuti raut kecewa dari Kiba.
Merasa di perhatikan, Tamaki melirik ke Sakura yang dengan segera membuang muka—tak peduli tertangkap basah memperhatikan setiap gerak-geriknya. "Hm? Apa kau Haruno Sakura?" tanyanya.
Sakura mengangguk.
Mata cokelat Tamaki memicing tidak suka sesaat sebelum memasang senyum manis ke arah Naruto. "Aku lihat loh majalah itu, soal skandalmu Naruto-kun~" katanya manja. "Apa benar kau berkencan dengannya?"
Sakura mengepalkan tangannya, murka akan nada mengejek di suara 'manja' Tamaki; beraninya meremehkannya hingga tidak sudi menyebut namanya. Ia melipat tangan di dadanya, menatap tajam kekasihnya.
Kita lihat pembelaan Naruto terhadap wanita sombong ini.
Naruto sendiri hanya melihat singkat dapat mengerti amarah Sakura, jujur bahkan sampai bergidik, seakan membangkitkan singa yang tertidur. Namun semau ia ingin berkata jujur, ia tidak bisa melakukannya. "Hanya rumor murahan. Aku dan Sakura berteman baik,"
Sakura membatu, syok.
Ia menunggu kata-kata pembelaan yang manis dari bibir Naruto bukan tajam seperti silet.
Beraninya...
Beraninya Naruto mengatakan itu...
Sakura bangkit berdiri, "Aku pikir, sudah cukup kunjungan ini, Kiba," katanya, ia memutar bola matanya mengingat harus berpamitan pada Tamaki. "Kau juga ya," lanjutnya tanpa menutupi sedikit pun kekesalan di nada suaranya.
Naruto hendak memprotes tetapi Sakura sudah menarik tangannya keluar rumah Kiba.
.#.
Naruto sejak tadi bertanya-tanya, sejak keluar dari rumah Kiba, ia menunggu penjelasan Sakura kenapa tadi tidak ramah kepada temannya padahal ditawarin mengadopsi kucing; Sakura bahkan berjalan di depannya, selalu saja menyingkirkan tangannya yang hendak memegang atau merangkul bahunya. "Kenapa kau begitu marah?"
Sakura memutar bola matanya; kenapa katanya? Konyol sekali.
Naruto menghela napas; siapa yang bertindak seperti anak kecil sekarang? "Kau marah padaku?"
Sakura masih tidak mau menjawab.
Kenapa Sakura harus membuat ini sulit? Bukankah wanita muda itu bilang: tidak ada kebohongan?
Naruto menarik tangan Sakura membuat wanita muda itu terpaksa berhenti melangkah. "Kau ini kenapa sih?"
Serius? Naruto masih belum memahami masalahnya sendiri?
Baiklah, ia akan mengatakannya!
"Sikapmu membuatku jengkel!" seru Sakura emosi.
"Aku?" apanya yang menjengkelkan? Ia bersikap biasa saja tadi bahkan cenderung diam saja tadi karena tak tertarik dengan obrolan mereka; apakah menguap itu menjengkelkan?
Naruto memang tumpul tingkat dewa.
"Wanita Tamaki itu," Sakura berusaha mengendalikan kecemburuannya namun nada suaranya tidak dapat terbendung lagi bahwa sekarang ia berteriak di jalan, yang untungnya lumayan sepi. "Dia menggodamu dari tadi,"
Mata biru Naruto terbelalak. "Tamaki... ?"
"Ya," Sakura memutar bola matanya. "Kau jelas-jelas memberikan jawaban yang membuka peluang untuk menjadi 'kekasihmu'."
Hening...
"Pfffttt! Hahaha..."
Sakura terkesikap mendengar tawa geli Naruto, ia menaikan alisnya heran. "Apanya yang lucu,"
Naruto menggeleng. "Tidak hahaha..." ia mencoba berbicara disela-sela tawanya. "Kau lucu hahaha..." sekarang ia mengerti dengan mood Sakura, "Kau cemburu, chérie?"
Kenapa pertanyaan Naruto terdengar ejekan di telinganya?
"Aku tidak!"
"Ya, kau memang,"
"Tidak!"
"Iya," Naruto bahkan mengedipkan matanya meyakinkan jika cemburunya Sakura bukanlah sesuatu yang salah, ia bahkan menyukainya.
"Tidak," Sakura justru jijik melihatnya.
Naruto memutar bola matanya; debat ini takkan ada artinya, meski menyenangkan juga mengetahui Sakura bisa cemburu juga; ia pernah mencoba mengetes tapi belum berhasil entah karena akting wanita bayarannya buruk atau Sakura terlalu percaya padanya. "Chérie, aku tidak melihat ada masalah dari ini,"
"Kau bercanda, ya?"
"Aku tidak salah kan?" Naruto bertanya balik, santai; sebuah ide muncul di kepalanya, ide yang brilian, ia memutuskan untuk mencobanya, "Kau sendiri yang menginginkan hubungan kita rahasia..." pancingnya menyeringai kecil. "Kita bahkan berpakaian tertutup supaya tidak ada yang tahu kencan kita kan, chérie?"
Sakura terkejut bukan main; balasan tadi yang sukses membuatnya bungkam; memang benar ialah meminta merahasiakan hubungan mereka, selama ini ia biasa saja mungkin karena setelah kesepakatan tersebut keesokan harinya Naruto mulai menjalani bisnis yang membuat mereka jarang berkencan kalaupun memang, mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama di apartemennya.
Sekarang, melihat wanita lain secara terang-terangan menggoda kekasihnya membuatnya hampir kehilangan pikirannya, ia dibutakan perasaan cemburu.
Cemburu? Ia?
Mungkin.
Tidak.
Akhirnya Sakura mengakui jika ia cemburu; rasanya aneh merasakan perasaan tersebut ia jadi berpikir egois untuk mengusir semua wanita yang ada di sekitar Naruto, ingin kekasihnya itu hanya melihatnya saja; aneh.
Sekarang, Sakura mengerti perasaan Naruto setiap kali mengetahui ada lelaki lain mencintainya ataupun dekat dengannya, perasaan ini sungguh menyakitkan, hatinya tidak bisa berhenti cemas sebelum bisa menyingkirkan wanita yang menggoda kekasihnya.
"Baiklah," Sakura menepuk keningnya, "Aku cemburu," mengakui jika dirinya salah begitu memalukan, ingin sekali lenyap dari sini setelah mengatakannya.
"Jangan terlalu putus asa," kata Naruto. "Aku menikmatinya kok,"
"Sungguh?" namun kenapa perasaannya tidak enak?
Naruto mengangguk. "Melihat kejadian langka Haruno Sakura dibutakan cemburu tentu saja menyenangkan," godanya.
Sakura merona merah. "Hentikan, Naruto!" seharusnya ia tidak mengakuinya, mengetahui Naruto begitu menyukai menggodanya.
Bodohnya ia...
Naruto tertawa sebentar; sepertinya sudah cukup menggodanya. "Karena kau mempertimbangkan, belum mengadopsi, jadi aku mencari tempat kencan kita yang lain,"
"Lagi!?" ia kira kencan mereka telah usai mengingat hari sudah malam; Sakura juga masih belum ingin berpisah dengan Naruto.
"Aku punya tempat yang cocok untuk kita,"
.#.
Sakura menatap papan bertuliskan 'Icha-Icha Bar' dengan pandangan kosong.
Dari sekian banyak tempat kencan yang romantis, Naruto memilih ini? Ini?
"Kenapa kita ke bar tempat Ino bekerja?" seru Sakura emosi.
Tidak tahukah jika sepagian ini ia menghindari Ino supaya tidam mendapatkan omelan?
Mereka masih di depan, belum masuk ke dalam jadi belum terlambat untuk mengganti tempat kencan, ia tahu tempat minum yang enak kalau memang Naruto kemari hanya ingin minum bersamanya.
"Kita sudah lama tidak kemari kan?" tanya Naruto polos. "Kau ingat terakhir kali kita ke sini?"
'Terakhir kali ke sini...?'
Terakhir kali Sakura ke sini sendirian, sehari setelah Naruto pergi selama tiga bulan untuk membangun perusahaan baru, saat itu ia begitu kesepian jadi ia memutuskan untuk minum sekaligus bertemu Ino.
Jika yang dimaksud bersama Naruto ke sini, sudah jelas ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya...
.#.
Flashback ON
.#.
Sakura mutar bola matanya.
Mau sampai kapan ia harus menunggu?
Pria bernama Naruto yang diceritakan Ino sudah telat selama satu jam, satu jam!
Bisakah kalian bayangkan betapa membosankan dan tak nyamannya dirinya, memang ada Ino juga beberapa teman-teman pria lain untuk mengusir kebosanannya, tapi ia tidak begitu mengenal mereka semua kecuali Sasuke, lagi pula pria berambut hitam itu sejak tadi memasang 'jangan ganggu aku' di ekpresi wajahnya.
Ino juga sibuk bermesraan dengan Shikamaru.
Sakura mengecek jam di ponselnya.
'Jika lima belas menit lagi lelaki bernama Naruto itu tidak datang, aku akan pulang!'
Persetan dengan janjinya dengan Ino, ia lelah menunggu.
Sakura tidak bisa membayangkan jika harus berkencan dengan pria bernama Naruto; pertemuan pertama saja pria muda itu sudah terlambat, bagaimana jika kencan?
Sakura menghela napas, melirik bosan keluar jendela; untunglah pemandangan di sini bagus, jika tidak, sudah pasti ia kabur duluan; ia terlalu lelah berakting 'wanita sempurna' ke teman-teman Naruto jadi ia lebih memilih diam.
'Aku pasti sudah main dengan Pink-ch—'
"Maaf, aku terlambat, dattebayo,"
Sakura menoleh malas dan mata hijaunya yang sejak tadi bosan, kini tertarik dengan pria berambut pirang yang berdiri sambil menggaruk belakang leher gugup.
'Jadi ini Naruto... ?'
"Kau lama sekali, Naruto!" keluh Kiba.
"Ya," Shikamaru menyetujui. "Kau dari mana sih?"
Pipi Naruto merona. "Aku kan baru pindah kemari jadi harus beres-beres ke apartemen baruku, dattebayo,"
"Kau jatuh miskin?" sindir Sasuke dingin. "Itu bukan apartemen, lebih terlihat asrama murahan,"—apartemen yang diisi Naruto sungguh buruk, kamarnya terbagi tiga sementara hanya ada satu kamar mandi.
Sakura menebak-nebak bahwa Naruto bukanlah dari kalangan atas—mengingatkannya kembali pada Shi.
Shi...
Sakura berpikir bagaimana kabar kekasihnya itu—ralat, mantannya.
Sakura memutar bola matanya.
Ino sungguh-sungguh tahu bagaimana caranya memilih lelaki, eh?
"Uhh... Nona? Bisa kau mendengarku?"
Sakura terkesikap, amarahnya kembali memuncak saat tahu yang mengajaknya berbicara adalah Naruto, ia pun menghela napas, dan mulai memasang wajah palsunya. "Ya?"
"Bisa aku duduk di sini?" tanya Naruto sopan.
"Kau bisa duduk di sampingku, Naruto," Sasuke memberi saran, bahkan menggeser posisi duduknya; melihat Naruto berusaha menarik perhatian Sakura membuatnya jengkel.
"Begitu?" Naruto menjawab sekenanya, namun tidak bergeming, menunggu jawaban dari wanita muda berambut pink yang berhasil menarik perhatiannya.
Sasuke yang melihatnya, mendecih kesal, dan kembali minum.
Naruto tahu sopan santun pada wanita, eh? Sayangnya tidak dengan ketepatan waktu.
"Tentu," Sakura merespon sekenanya.
"Thanks," gumam Naruto sambil duduk di samping Sakura. "Um, bisa aku tahu namamu?"
Sakura mengembuskan napasnya; kenapa sih pria bernama Naruto ini tidak mau membiarkannya sendiri? "Aku Haruno Sakura," katanya sambil mengulurkan tangannya. "Dan kau... ?"
Naruto menyambutnya, "Namikaze Naruto, senang bertemu denganmu, Sakura." katanya dengan senyum.
Sakura mengangguk kecil; rasanya nama 'Namikaze' terdengar tidak asing di telinganya namun ia tidak dapat mengingatnya dimana pernah mendengar atau melihat nama tersebut.
"Aku sudah memesan minuman favoritmu, Naruto." kata Shikamaru.
Mata biru Naruto bersinar semangat. "Sungguh? Kau memang sahabat terbaik, dattebayo!"
Sakura tertawa kecil melihat reaksi Naruto yang seperti anak kecil.
"Ya, Shikamaru yang bayar tentunya," sela Kiba merangkul manja sahabat 'nanasnya'.
"Hah?" Shikamaru menyingkirkan tangan Kiba dari bahunya. "Aku tidak pernah mengatakannya!"
"Kau bilang kok,"
"Sama siapa?" tanya Shikamaru.
"Naruto..." sahut Kiba enteng. "Ya kan, Naruto?"
"Err..." haruskah ia jujur atau berbohong mengikuti gurauan Kiba? Dua-duanya mengerikan; kenapa juga ia kemari? Ah, karena jebakan Ino; ia baru sampai di tokyo dan Ino sudah menjebaknya soal kencan buta, bukannya mengeluh, Sakura memang manis, cantik malah, hanya waktu kencan bertepatan dengan jadwal beres-beres, ia bahkan telat satu jam—ia tidak yakin Sakura masih mau dengannya, mengingat wanita paling benci menunggu, keajaiban jika wanita muda mau dengannya.
Naruto tidak terlalu peduli, kencan buta ini ia anggap hanya kesenangan semata, beruntung jika Sakura mau.
Sakura menepuk keningnya; bisakah Shikamaru dan Kiba berhenti berdebat? Ia tahu Kiba suka mengerjai teman-temannya namun berdebat? "Aku yang bayar."
Semuanya terkejut mendengarnya.
"Kau yakin?" tanya Naruto. "Aku bisa membayarnya, dattebayo!"
Eh? Bukankah Naruto kurang mampu? Ia bukan bermaksud merendahkan, tetapi dari pada mentraktir teman-temannya bukankah lebih baik untuk keperluan makanam sehari-hari apalagi baru pindah kemari, dan menu di sini cukup mahal.
"Tidak apa-apa," kata Sakura dengan senyum. "Anggap saja sebagai awal pertemanan kita,"
Naruto tertawa; tentu saja pertemanan, teman; kenapa kata-kata Sakura membuat hatinya sedikit terluka? Tak mungkin ia menaruh suka? Ia akui mata hijau itu indah dan entah kenapa sedikit misterius yang membuatnya ingin mengobrol lebih; ia menepuk keningnya, mungkin perasaannya karena jet lag? Ia kan naik kereta, frustasi, ia meminum minuman yang dipesankan Shikamaru dan tersenyum lebar mengetahui sahabatnya ingat minuman favoritnya.
Keadaan kembali normal.
Sakura tadi sempat berpikir Naruto akan menanyakan bermacam-macam padanya namun tidak, lebih memilih mengobrol dengan teman-temannya; ia memanfaatkan peluang ini dengan diam-diam memperhatikan secara seksama Naruto; ia tidak bisa berkata selain pria muda itu tampan, Ino tidak berbohong ketika berkata Naruto termasuk tipenya, meskipun ia sudah bilang berkali-kali tipe lelaki berambut pirang sudah 'kadaluarsa'.
Tubuh Naruto bagus juga, ia bisa melihat lekukan otot dibalik kemejanya, jangan lupakan lengan kemejanya sengaja dilipat—membenarkan opininya.
Sakura mengukir senyum manis saat dirinya kepergok menatap diam-diam oleh Naruto.
"Ada sesuatu di wajahku?"
Hah?
"Kau melihatku begitu intens," Naruto tidak ingin terdengar aneh ketika menjelaskan, ia berhati-hati tetapi malah terdengar jika Sakura berpikir 'mesum'.
Sakura merona merah; apakah terlihat seperti itu? Ia merasa wajahnya datar-datar saja ataukah Naruto itu termasuk orang-orang yang bisa membaca ekspresi seseorang? Baiknya hati-hati; sudah terlanjur terlihat seperti itu, terpaksa ia mengeluarkan senjata terakhir miliknya. "Aku ingin mengobrol denganmu," katanya.
Naruto menaikan alisnya, bingung. "O... ke?"
Kenapa ekspresi Naruto membuat ucapannya terdengar bodoh? Apakah ia salah?
"Ingat kan 'soal' Ino," Sakura memberi petunjuk.
"Oh, benar," Naruto berdehem; harapannya sempat pupus tadi, karena diungkit oleh Sakura, ia berharap lagi; agak aneh memang, kencan buta ini tak boleh diketahui oleh teman-temannya,
Sakura bangkit berdiri. "Kita lanjut di konter bar saja,"
Semua teman-temannya berhenti minum, terkejut akan kata-kata Sakura, termasuk Naruto sendiri.
Bukankah ini rahasia?
"Wah~ada apa dengan kalian berdua?" goda Kiba.
"Iya~kenapa dengan kalian~" Ino ikut-ikutan, menyeringai lebar.
Sakura menepuk keningnya; ia tahu akan seperti ini jadinya, padahal kemarin ia bilang butuh seseorang agar kencannya tidak canggung, siapa sangka Ino malah membawa teman-temannya; membuat kencan rahasia itu hanya omong kosong.
Naruto tidak memperdulikan godaan Kiba, memilih berdiri, mengikuti kemauan Sakura.
.#.
Flashback OFF
.#.
Sakura memutar bola matanya. "Kau masih memelihara sifat terlambatmu ya," sindirnya.
"Aku tidak, dattebayo!" seru Naruto tidak terima; hari ini ia datang tepat waktu bahkan kencan-kencan mereka sebelumnya, jika yang dimaksud Sakura adalah acara lelang, ia memang tidak niat hadir awalnya. "Dari pada itu, ayo kita minum,"
"Uh," ya minum. "Ino kerja tidak?"
"Tidak kok," sahut Naruto percaya diri. "Kita bisa minum sepuasnya tanpa perlu cemas, dattebayo."
Sakura justru sedikit terkejut; bagaimana Naruto bisa tahu? Ia kira Naruto memilih tempat ini karena dadakan? Seharian kekasihnya itu juga tidak bermain ponsel; apa mungkin Naruto menghubungi Ino sebelum berangkat ke titik temu kencan mereka?
Sakura sedikit ragu jika ini hanya sebuah kebetulan belaka.
Apa Naruto merencanakan sesuatu?
Sakura tersadar dari lamunanya ketika merasakan Naruto melingkarkan tangan di pinggangnya, ia menengadah yang disambut senyum manis di bibir kekasihnya.
"Ayo," kata Naruto lembut.
Mungkin ia terlalu berpikir jauh?
Tanpa bersuara, Sakura membiarkan Naruto membawanya ke dalam bar.
Apapun itu Sakura berharap bukanlah hal yang buruk.
.#.
Sakura mengamati setiap gerak-gerik Naruto, namun sejauh ini tidak ada yang aneh atau 'petunjuk' tentang 'rencana' kekasihnya.
Mungkin ia memang terlalu berpikir jauh.
Naruto bersikap biasa selama minum di bar, tentu kekasihnya terkadang merangkul atau melingkarkan tangan di pinggulnya setiap ada pria yang berusaha melirik dengan pandangan tertarik padanya, dan itu sesuatu yang biasa.
Naruto memang cemburuan meski kali ini tindakan kekasihnya jauh lebih normal, terakhir kali mereka berkencan, Naruto sempat mengajak berkelahi karena seorang pria menatapnya terlalu lama.
Sakura sedikit terkejut dengan perubahan Naruto sendiri, dan senang juga melihat perubahan kekasihnya.
Sakura selalu merasa jika Naruto tidak mempercayai perasaannya bila berdekatan dengan pria lain, itu membuatnya sedikit sedih, meski ia tahu kekasihnya bertindak seperti itu karena rasa cinta kepadanya.
Sakura terlalu berlarut-larut memikirkan sesuatu yang tidak pasti hingga Naruto berkali-kali memanggilnya.
Naruto meletakan minumannya. "Kau tahu cherié," ia membuka percakapan. "Kalau kau tidak nyaman, kita bisa pindah ke tempat lain,"
"Tidak!" seru Sakura cepat hingga membuat Naruto sedikit terkejut; ia terdengar begitu panik, "Aku suka kok,"
"Sungguh?" sahut Naruto acuh tak acuh. "Kau terlihat tidak nyaman, kau bahkan sama sekali tak menyentuh minumanmu,"—dan jangan lupakan mata hijau Sakura yang terus-terusan memerhatikannya—yang membuat hatinya berdegub cepat—ia memang pernah sesekali memergoki kekasihnya memerhatikannya namun tak seperti sekarang ini, terlalu intens—hingga pikirannya berpikir tidak-tidak.
Sakura mengambil minuman miliknya lalu menghabiskannya dalam satu tegukan. "Lihat?" ia memamerkan gelasnya yang kosong.
Naruto tertawa kecil; usaha yang bagus. "Sakura, aku serius kalau kau tidak nyaman, kita bisa pergi, banyak tempat lain, kau tahu."
Naruto tidak menyerah meyakinkannya, mungkin sedikit jujur lebih baik?
"Aku bukan tidak nyaman karena tempat ini," kata Sakura.
Naruto bertopang dagu, tertarik. "Hm?"
"Aku hanya mengira-ngira," Sakura tidak tahu harus mengatakan apa. "Naruto apa kau sedang berusaha membuatku merasa... bersalah... ?"
Mata biru Naruto melebar seketika. "Apa maksudmu?"—dari mana kesimpulan itu?
"Maksudku, kau mengajakku ke tempat kencan kita dulu, membuat aku mengingat kenangan itu, jadi aku berpikir kau sedang mencoba membuatku bersalah dan me—"
"Tidak!" potong Naruto, sekarang ia merasa bersalah, ia tidak menyangka Sakura akan jauh berpikir itu, ia rasa ini karena efek PTSD yang belum hilang sepenuhnya, yang seherusnya ia tahu. "Maaf, Sakura. Maksudku bukanlah begitu."
"Bukan... ?" jadi Naruto memang berencanakan sesuatu, memang separuh benar dugaannya.
"Tidak," Naruto mengulangi, mata birunya meredup. "Aku hanya ingin mengingatkanmu sedikit,"
Lagi. Sakura tidak mengerti. "Um...?"
"Aku berpikir mungkin kau terlalu bersalah terhadapku," kata Naruto serius. "Jadi aku mengingatkanmu tentang semua yang kita lalui bersama, bagaimana kita berdua bisa saling jatuh cinta,"
"Oh," Sakura merasa bersalah sekarang; ia terlalu diliputi perasaan cemas hingga lupa jika kepribadian Naruto itu berbanding terbalik dengannya, begitu positif dan cerah.
"Dan juga memenuhi janjiku padamu, karena aku kan tidak tahu nanti kau akan memilih siapa," kata Naruto; jika Sakura memilih Shi, ia harap tidak; ia akan kesulitan memenuhi janjinya sebab ia yakin butuh waktu yang lama untuk melupakan Sakura ditambah ia juga yakin Shi takkan membiarkannya bertemu dengan wanita muda itu.
Sakura tertunduk.
"Aku hanya melakukan sebisaku..." kata Naruto serius. "Aku tidak mau kau memilihku karena kau teringat kesalahanmu padaku, aku ingin kau memilihku karena kau memang mencintaiku,"
Sakura tidak berpikir ke situ; memang benar selama ini ia hanya diliputi perasaan bersalah; tempat yang mereka kunjungi membuatnya sedikit lebih baik.
"Aku memang tidak tahu soal kalian, tapi kurasa kau teringat dengan Shi karena kenangan indah kalian, jadi aku pun melakukan hal yang sama," kata Naruto. "Yah, meski kurasa kenangan buruk juga,"
Sakura speechless.
Kenapa Naruto tahu?
Mungkin karena merasakan hal yang sama dulu?
"Oh," Naruto teringat sesuatu, lalu ia mengeluarkan sesuatu di saku jaketnya yaitu kotak berwarna merah, mendorongnya ke depan Sakura. "Untukmu,"
Sakura terkejut bukan main; mana mungkin kan Naruto akan melamarnya? Mana mungkin. "Um,"
Naruto tertawa, "Tenang saja, bukan seperti yang kau pikirkan," katanya sedikit menggoda. "Awalnya bukan untuk hari ini tapi saat kita bertemu lagi, tetapi karena pertengkaran kita jadi aku lupa dengan ini."
Sakura mengambilnya dan membukanya; sebuah cincin sesuai dugaannya, memang benar bukan cincin untuk melamar sebab ukurannya bukan untuk jari manisnya, ia mengambilnya hendak mengamati tetapi Naruto dengan cepat mengambilnya dari tangannya.
"Ini 'pinky ring'," kata Naruto. "Aku memberikan ini untuk hadiah kau berhasil melawan semua masalahmu, belum seratus persen memang tetapi kau begitu bersusah payah melawannya, kau pantas mendapatkan hadiah,"
"Oh," Sakura terlalu tersentuh hingga hanya itu yang dapat keluar dari bibirnya.
Naruto menarik tangan Sakura, memakaikan cincin perak tersebut di jari kelingking kanannya.
Sakura memerhatikan cincin yang terpasang di jarinya terkagum-kagum. "Arigato," cincinnya begitu cantik dan sempurna di jarinya.
"Hadiah kencan hari ini," kata Naruto.
Hadiah? Sakura sama sekali tidak memikirkannya, ia terlalu senang bisa berkencan dengan Naruto lagi.
Sakura merasa tidak enak, jadi kali ini ia ingin membuat kencan mereka lebih baik lagi.
"Bisa kita pesan minum lagi?" tanya Sakura. "Dan cemilan?"
Naruto mengangguk; senang Sakura kembali seperti semula; ia menjentikan jarinya memanggil bartender.
.#.
"Hari ini menyenangkan," kata Sakura.
Naruto mengangguk, ia melirikan mata birunya ke gedung apartemen tempat Sakura tinggal; rasanya aneh tidak lagi tinggal di sana. "Kuras—"
"Tidak!"
Naruto menatap Sakura sekarang. "Hm?"
"Aku..." Sakura tidak mau ini berakhir, mereka akhirnya bisa berinteraksi seperti biasa lagi tanpa beban, melihat Naruto berniat pergi membuatnya tidak nyaman. "Bisa kau menemani ke dalam juga?"
Naruto tidak menjawab, masih memandang Sakura yang cemas dalam diam, "Kau membuat ini sulit, kau tahu?"
Benarkah?
Sakura hanya ingin lebih lama bersama Naruto, apakah salah?
"Tentu," kata Naruto singkat lalu berjalan ke dalam dan memasuki lift, diikuti Sakura.
Sakura memberanikan diri lagi menyandarkan kepalanya di bahu Naruto—sedikit menegang saat tangan kekasihnya perlahan membelai lembut rambut pink-nya, hanya sesaat sebelum ia kembali rileks. "Naruto,"
"Hm?"
"Bagaimana jika kita tidak..." Sakura menghentikan kata-katanya, tak sanggup melanjutkan; sesungguhnya ia tidak ingin menjadi lebih sulit, ia penasaran apa yang akan dilakukan Naruto jika mereka tidak bersama.
Naruto seakan mengerti, menjawab pelan. "Simple. Move on."
Sakura sedikit kecewa. "Kau tidak mau berjuang?"
"Kenapa juga harus?" Naruto balik bertanya. "Itu kan keputusanmu, Sakura. Aku harus menghormatinya." lanjutnya. "Meski sakitnya seperti dicabik-cabik," ia menambahkan tawa yang datar, berniat bergurau.
Ting!
Naruto keluar terlebih dahulu, "Kalau kita memang... tidak bersama, aku rasa itu jadi pembelajaran lagi bagiku," katanya pelan.
"Aku juga,"
"Kau?" tanya Naruto heran.
"Maksudku, aku ingin lebih baik lagi," kata Sakura. "Aku menyakitimu begitu dalam, kan? Aku masih perlu belajar,"—ia masih begitu baru dipercintaan; ia berpikir jika ia dewasa namun setelah ini ia merasa masih jauh dari kata 'dewasa'.
Naruto tidak menjawab, yang membuat Sakura menilai jika perkataannya benar.
Mereka melanjutkan langkahnya lagi, berjalan dalam keheningan, baik Sakura maupun Naruto sama sekali tidak membuka percakapan; Sakura merasa ia sudah cukup mengerti arti 'terluka' yang dibuatnya jadi ia tak mau menabur garam di atas luka.
Sakura berhenti melangkah setelah sampai di depan pintu kamar apartemennya, ia mengambil kunci di tas dan memasukan ke dalam lubang pintu, memutarnya barulah membuka pintunya.
"Soal yang tadi kau katakan," Naruto membuka suaranya setelah sekian lama diam, berdebat dalam pikirannya.
Sakura berbalik.
"Kau benar soal 'nyakiti'," kata Naruto sedih. "Tetapi bukan berarti perasaanku padamu berubah,"—ia bisa mendengar kata 'bodoh' jika teman-temannya tahu.
Sakura tidak menjawab; ia bingung harus bersikap bahagia atau sebaliknya; tentu ia senang Naruto mengungkapkan perasaan lagi padanya di sisi lain ia semakin merasa bersalah telah menggantungkan perasaan tulus pria muda itu.
"Naruto, aku bahagia selama bersamamu, oke?" kata Sakura, ia bahkan menekankan kata 'bahagia'. "Aku ini bingung sekarang," ia mengakui; meski hatinya berteriak Naruto tetapi pikirannya berteriak Shi; ia begitu senang kekasihnya mau memberinya pilihan meski ia tahu betul menyakitkan.
Sakura ingin melangkah ke depan, entah itu bersama Naruto atau Shi, yang pasti ketika ia melakukannya tidak ada lagi waktu menoleh ke belakang dan menyesali.
Meskipun ia mengingatnya, ia akan tertawa lepas karena masa sulit tersebut telah lewat.
"Sepertinya sudah 'clear' sekarang, ya." Naruto sedikit senang Sakura bisa kembali berpikir rasional. Aku akan menunggu, di tempat kita pertama memulai semuanya," katanya serius.
Sakura dibuat bingung oleh pengakuan Naruto.
Tempat mereka memulai ini semua? Apa ada? Bukankah mereka tadi sudah mengunjunginya?
Naruto tampaknya sungguh senang membuatnya kebingungan.
"Baiklah," kata Sakura; ia bisa memikirkannya nanti jika ia memilih Naruto, sekarang ini ia butuh istirahat—dan lagi keinginan untuk memonopoli kekasihnya muncul. "Kau... bisa tidur di sini kalau mau?"—ia mencoba peruntungan.
Naruto tanpa pikir panjang menggeleng pelan.
Sakura mendesah kecewa, namun tidak lama ketika ia merasakan tangan Naruto berada di pipinya, lalu turun ke dagunya, menaikan wajahnya.
"Ini bukan terakhir kalinya, ya?" kata Naruto lembut. "Kita bisa bertemu lagi,"
Mereka memang bisa bertemu lagi, tetapi ketika saat itu tiba apakah ia akan berpegangan tangan dengan Naruto atau Shi itulah permasalahannya.
Memikirkannya membuatnya ingin menangis.
Sakura mengangguk.
Naruto menurunkan kembali tangannya, kemudian melangkah mendekat. "Boleh aku... menciummu?"
Sakura terkejut; ia tak menyangka Naruto akan meminta itu, apalagi sampai meminta ijin segala, ia agak kecewa sebab ia merasa seperti bukan seorang kekasih. "Ha'i," ia perlahan menutup matanya.
Naruto tidak bergerak, memerhatikan wajah Sakura intens; begitu sulit baginya menerima kenyataan jika wanita muda di depannya ini keesokan harinya bisa menjadi mantan kekasihnya; ia baik-baik saja seharian ini, namun perasaan perih yang dirasakannya jauh lebih memukulnya sekarang, membuat dadanya sesak, ia ingin menghentikan Sakura untuk bertemu Shi berulang kali agar wanita muda itu tetap menjadi miliknya.
Naruto berpikir lagi, menghentikan egonya, untuk entah keberapa kalinya ia berhasil hingga kencan mereka hari ini berakhir.
Sakura takkan mengerti, meski ia mencoba bersikap selembut dan tengan mungkin, perasaannya hancur di dalam; berpikir yang terburuk jika mereka benar-benar berpisah; berpikir beberapa hari ke depan, mata hijau yang disukainya tidak lagi menatap penuh cinta pada dirinya.
Naruto mengembuskan napas—menahan cairan bening yang berusaha keluar dari matanya, ia menempelkan mereka. "Aku juga senang," gumamnya; untuk kencan kali ini dan mungkin terakhir kalinya menjadi kekasih Sakura.
Sakura membuka mata hijaunya. "Kena—" ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena Naruto mengecup bibirnya, hanya sebentar—tiga detik—tetapi kecupan itu memiliki banyak arti baginya.
Sakura dapat merasakan bibir Naruto bergetar saat bersentuhan dengannya, seakan menahan diri untuk tidak menangis—?
Naruto memberikan pelukan singkat, yang membuat tubuh Sakura membeku; sebelum ia mundur kemudian berbalik melangkah menuju lift. "Bye,"
Sakura tidak menjawab, menatap punggung Naruto dalam diam, hingga benar-benar menghilang dari mata hijaunya barulah berbalik, melangkah ke dalam dengan perasaan yang berat.
Blam.
Sakura menyandarkan tubuhnya di pintu, dan menghela napas berat, mata hijaunya berkaca-kaca.
Tenang.
Jangan bersedih.
Ini bukan akhir segalanya.
Mereka masih bisa bertemu
Sakura merosot ke bawah, meringkuk.
Omong kosong.
Jika benar kenapa hatinya begitu sesak?
Kenapa air matanya membasahi pipinya?
Menyerah.
Sakura terisak di tengah heningnya malam.
.x.
Sakura mengembuskan napasnya berat.
Sakura tidak bisa tidur semalaman, pikirannya penuh dengan Naruto, hubungan mereka, ciuman singkat 'perpisahan' mereka, ia mencoba untuk tidur tetapi semakin ia mencoba semakin sulit hingga berkali-kali mencoba untuk menghubungi Naruto.
Malam yang begitu sulit baginya tadi.
Tadi pagi Sakura bahkan kesulitan menutupi mata sembabnya dengan make up; ia ingin tampil fresh agar orang-orang tidak mengetahui ia sehabis menangis habis-habisan semalam, namun niatnya gagal jadi ia memutuskan memakai masker untuk menutupinya wajahnya.
Sakura berharap Shi tidak menyadarinya—tetapi ia tahu tanpa perlu diperhatikan dari dekat, ia yakin pria muda itu akan menyadarinya.
Sakura mendesah.
Kenapa ia tidak terlalu peduli akan penilaian penampilannya di mata Shi?
Dimana sosok dirinya yang begitu terobsesi akan pria muda itu?
"Hei,"
Sakura menengadahkan kepalanya, di depannya ada pria berambut pirang tengah berdiri, sempat melihat jika itu Naruto, namun ketika mata hijaunya mengerjap, sosok 'mantan kekasihnya' lenyap bergantikan mantannya yang lain—Shi.
Sakura bangkit berdiri.
Sudah waktunya memilih...
Bersambung...
Note:
Saya baru tau Tamaki yang demen Sasuke itu nikah sama Kiba lol saya ga bisa berhenti 'terkesima'
Update ini buat ngerayain trailer baru KH 3 :) saya senang karna ada Yozora di situ meski cuma sebentar lol jadi mood ini naik buat ngetik :)
Big Thanks To :
Raynoval : udah lanjut ya, makasih review-nya :)
CrysteleXia : ya saya juga mikir klo di posisi Naru bakal begitu :v makasih review-nya :)
tieichataeyeon : tentu bagus dong :p makasih review-nya :)
Hikari Chiyo : jelas dong nomor 1 ;) jadi ikut sedih klo inget 'canon' :v makasih review-nya :)
Paijo Payah : kan situasinya yang bikin Naruto harus buat keputusan itu, dia kan ga mau tetep lanjut tapi Sakura masih inget Shi :v toh Naru ngelakuin ini juga buat 'belajar' Sakura itu bisa 'dibagi' bukan cuma milik dia :v makasih review-nya :)
putraarthur56 : saya harap ini ga lama ya? Haha... makasih review-nya :)
moonlighttxx : saya cuma ambil flashback mereka sedikit, intinya posisi Shi itu tergantikan Naruto dan cara nyikapin mereka beda soal masalah Sakura, makasih review-nya :)
Kocheng Oyen : ini udah lanjut ;) makasih review-nya :)
Rindou .N Alice : sejauh ini saya belum nulis sad ending sih lol makasih review-nya :)
Guest : Naru juga ga seneng kok tapi mau gimana lagi dong :( makasih review-nya :)
Update 7-10 hari setelah up chap ini :)
Sebenernya saya bikin angst di akhir chap ini tapi jadi sedih biasa, susah banget genre itu -_-
Permisi, ya saya mau peluk bae baru saya si Yozora ;)
Thanks for reading...
