Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature

Note: full SakuShi sedikit NaruSaku, saya peringatkan di sini, kalian bakal tahu semua masa lalu mereka, kalian bisa skip chap ini kalau mau...

.x.

Hening...

Tidak ada di antara mereka mulai membuka percakapan.

Sakura pun memilih tidak membalas sapaan Shi; kurang sopan? Ia tidak peduli, meski ialah yang mengajak pria itu bertemu di luar kencan 'resmi' mereka, tetapi Shi-lah yang memulai konflik tersebut.

Sakura bukan wanita bodoh, ia mengerti betul sifat Shi, ia mengenal selama dua tahun lagi pula; Shi takkan mau menghabiskan uang sebanyak itu tanpa alasan dan lagi untuk dirinya yang mantan kekasih pria muda tersebut.

"Kau terlihat sehat," Shi membuka percakapan.

Lagi.

Sakura memilih diam; pertanyaan macam apa tadi? Itu membuat darahnya sedikit mendidih, mengingat Shi dulu meninggalkannya di saat keterpurukannya tanpa peduli penjelasan darinya soal janji mereka, pria muda itu pun tidak memperjuangkan hubungan mereka.

Tiba-tiba, Sakura teringat bagaimana mereka masih bersama, bagaimana mereka menghadapi masalah bersama, janji mereka, membuatnya sedih.

Bagaimana bisa Shi melakukan hal seperti itu padanya? Meskipun ia mengakui ia juga salah.

Sakura mengembuskan napasnya, menenangkan diri.

Penyesalan kembali menghampirinya, ia harus kuat, ia sudah melewati ini selama tujuh tahun, ia tidak mau perjuangannya selama ini sia-sia; perasaan lemah ini.

Sakura memasang kembali wajah datarnya.

Shi di lain sisi menghela napas; Sakura tidak berubah sama sekali sepertinya. "Dengar, kita bisa berbicara di acara kencan soal ini, tapi kau sendiri yang memintaku kemari kan? Untuk apa? Aku menunggu,"

Jangan lupakan, jangan pernah lupakan juga bila Shi memiliki kemampuan untuk memutar balikan keadaan, melimpahkan kesalahan orang lain.

Sakura melipat tangan di dadanya, sedikit jengkel.

Bagaimana bisa lupa juga ya?

.x.

Ting! Tong!

Cklek.

"Sakura!?"

Sakura menggaruk lengannya gugup, ia mengira yang akan membukakan pintu adalah Shi bukan Chojuro, apakah ia diberi kamar yang salah? Ia sudah bertanya sebaik serta sopan mungkin pada mahasiswa Kyoto di sini.

Apa ia dibohongi?

Sakura memutar bola matanya.

Ia tidak peduli.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chojuro gugup.

Lagi. Sakura memutar bola matanya; pertanyaan yang bodoh, ia tahu Chojuro tahu kenapa ia di sini, kenapa harus berbasa-basi?

Kecuali Shi memang menghindarinya—? Emosinya kembali memuncak. "Jangan bermain-main, senpai," katanya sinis, lalu mengembuskan napas, "Aku tahu dia di sini, bisakah aku bertemu dengan dia?" pintanya memelas.

Chojuro ingin mengatakan sesuatu namun wajah Sakura yang seperti 'puppy eyes' membuatnya menyerah; ia tak suka memasuki hubungan sahabatnya lagian "Baiklah," lalu masuk ke dalam untuk memanggil Shi.

Sakura menunggu dengan pikiran yang berkecamuk; marah, kecewa, hancur, dan bingung; maksudnya apa salahnya hingga membuat Shi pergi darinya?

"Kenapa kau ke sini?"

Sakura mengangkat wajahnya, ia berharap disambut kehangatan atau penyesalan, nyatanya malah dingin seperti ini membuat ia menjadi orang yang bersalah. "Kau bercanda ya?" tanyanya tak kalah dingin—meski tidak dapat bertahan lama sebab dadanya mulai sesak. "Kau pergi tanpa memberitahuku?" tanyanya sedih.

"Kita bisa bicarakan di dalam—"

"Hentikan!" Sakura berseru keras. "Aku mau jawabannya sekarang! Siapa peduli dengan orang lain!?" bukankah Shi harus lebih peduli akan hubungan mereka terutama perasaannya?

Shi menghembuskan napasnya; ia tahu Sakura akan murka, tetapi ini sudah keputusan yang dibuatnya, lebih tepatnya ia tidak memiliki pilihan lain selain ini. "Kau bersikap seperti anak kecil lagi, membuatku muak..." katanya dingin.

Sakura syok mendengarnya; dari semua orang yang berkata negatif padanya tidak pernah terbayang Shi termasuk di pikirannya, sekarang hatinya benar-benar sakit, "Maaf," sesalnya; tidak seharusnya ia meminta maaf di sini, tetapi jika itu bisa membuat Shi kembali padanya, ia tidak apa, ia akan lakukan apa pun walau menyakitkan hatinya. "Aku hanya tidak mengerti, kau berjanji akan pindah ke Kyoto bersamaku... sekarang? Kau justru pindah sebelum aku lulus sekolah,"—tanpa memberitahunya juga.

Sakura merasa dikhianati, ketika ia mendengarnya kabar tersebut dari Ino, ia tak bisa berkata apa-apa, membatu seperti orang bodoh, ia bahkan tidak membela saat Ino mulai berkata buruk setelahnya mengenai Shi, ia terlalu syok mendengarnya, dan hatinya semakin hancur ketika ia mencoba menghubungi Shi tetapi ponselnya mati.

Sakura melakukan hal nekat, ia bolos dari sekolah saat itu juga, mengancam petugas sekolah untuk membuka gerbang sekolah supaya bisa keluar, kemudian menuju stasiun kereta menuju Kyoto.

Shi terdiam sesaat, melihat Sakura yang begitu terluka membuat hatinya terluka juga, padahal ia tidak bilang pada siapa pun jadi bagaimana bisa informasi tentang kepindahannya bisa bocor? Tangannya mengepal, ada pengecualian dari pria 'itu'—yang berarti perjanjian yang mereka buat batal, namun ia tidak tahu dari mana harus memulai ini.

Shi bisa mendapat hati Sakura sekarang juga tapi ia tidak bisa mengambil keputusan itu sebab ia yakin pria 'itu' akan mengambil sesuatu yang berharga baginya; sudah cukup sebelumnya ia ditolak semua rumah sakit di Tokyo; ia tidak bisa kembali, setidaknya sebelum ia sukses. "Aku lelah, Sakura." katanya. "Aku berpikir logis kali ini, kita tidak bisa bersama,"

"Apa maksudmu?" tanya Sakura.

"Aku naif dulu, aku berjanji sesuatu yang mustahil, aku tidak bisa membawamu kemari bersamaku," kata Shi, "Dan sikapmu akhir-akhir ini menjengkelkan, contohnya sekarang ini," lanjutnya. "Dan itu membuat perasaanku padamu memudar,"

Sakura speechless.

Shi muak dengannya?

Perasaan kepadanya sudah hilang?

Padahal baru minggu kemarin mereka kencan?

Tidak mungkin.

Ya tidak mungkin!

Sakura menolak menerima ini. "Kau bohong! Aku tahu kau tidak seperti ini!"—merendahkannya. "Apa ayahku yang membuatmu seperti ini?" tanyanya pelan; ia sudah bilang pada Kizashi untuk tidak ikut campur setelah tahu hubungan cintanya, terlebih Shi termasuk keluarga biasa saja, ia tahu betapa tinggi selera ayahnya, maka wajar jika ayahnya meminta Shi untuk mengakhiri hubungan mereka atau bahkan perlu menggunakan uang.

Reputasi Haruno akan jatuh jika ia berkencan dengan lelaki biasa, meski ia merasa itu tidak ada hubungan dengan bisnis.

Ayahnya tidak suka mengambil kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat bisnisnya turun.

"Tidak..." suara Shi terdengar ragu yang membuat senyum kecil terukir di bibir mungil Sakura, hatinya kembali lemah, begitu suka ia dengan senyum tersebut, senyum yang selalu ingin dilindunginya; tangannya terkepal, fokus Shi! "Tidak. Ini Keputusanku sendiri," katanya dingin.

Sakura terkesikap, lalu tertunduk sedih; padahal ia yakin Shi dipengaruhi oleh ayahnya, mungkin ia akan berbicara 'manis' pada ayahnya.

Shi pandai berbohong lagi pula.

Shi mengembuskan napasnya pelan; hatinya sakit sekali, tetapi ini sudah keputusan yang dipilihnya, ia harus mengambil segala resiko tersebut, ibunya atau Sakura, dan ia memutuskan untuk melupakan kekasihnya walau hatinya seperti dicabik-cabik sekarang ini, dan ekspresi gadis yang dicintainya tidak menolongnya, inilah kenapa ia memutuskan kontak dengan Sakura, ia tidak sanggup melihat Sakura Haruno hancur di depan matanya dengan kata-katanya. "Aku tidak mau lagi melihatmu," ia berbalik menolak melihat respon gadis muda itu, "Carilah lelaki lain untuk bersandar,"

Blam.

Sakura terdiam.

Tubuhnya berteriak ingin menghancurkan pintu di depannya agar Shi keluar, menyelesaikan masalah ini, namun pikirannya berkata lain bahwa ini akan sia-sia, jadi sambil menelan pil pahit, ia berbalik dan berjalan keluar apartemen.

Sakura mungkin mengalah sekarang tapi satu hal yang pasti, ucapan Shi yang terkesan terburu-buru tadi memberi sinyal positif padanya untuk menemui Kizashi.

.x.

Flashback OFF

.x.

Sakura mengambil napas dalam; kenangan itu begitu menyedihkan, dan berpikir bahwa pertemuan mereka saat ini adalah salahnya.

Mengejutkan sedikit bagi dirinya, tubuhnya tidak memberikan efek penolakan saat mengingat kenangan tersebut, pengobatannya berhasil? Padahal tadi pagi ia lupa meminum obat.

Masalahnya terlalu banyak hingga tubuhnya lelah merespon?

"Kenapa kau bertaruh untuk aku kemarin?" Sakura memutuskan untuk tidak basa-basi.

Shi berpikir sejenak. "Aku ingin berbicara padamu."

"Kau tahu kan ada alat bernama 'ponsel'?" kata Sakura dingin, hatinya sungguh-sungguh mendidih sekarang! Mungkin karena semakin lama ia menatap Shi semakin kenangan tentang mereka berdua muncul di kepalanya.

Dan mungkin juga perasaan sakit yang terpendam di lubuk hatinya perlahan keluar.

"Ponselmu tidak aktif," kata Shi tanpa terpancing sedikit pun. "Shion tidak berteman lagi denganmu jadi aku tidak memiliki pilihan lain,"

Sakura tidak membalas; penjelasan yang masuk akal. "Lalu apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanyanya lemah. "Setelah selama ini..."—tidak ada kontak sama sekali, tak ada; begitu susah payah ia melupakan Shi, kemudian pria muda itu muncul di saat ia sudah kuat dan memiliki Naruto di sampingnya?

Seperti takdir tengah mempermainkannya saat ini.

Shi mengembuskan napasnya. "Aku marah,"

Sakura diam.

"Aku pikir aku sudah melupakanmu," kata Shi lemah. "Tetapi setelah melihat skandalmu, itu membuatku marah dan aku menyadari aku—"

"Menyadari!?" seru Sakura naik pitam. "Itu berarti kau masih berasumsi! Bukan sesuatu yang nyata!"

"Kupikir juga—"

"Bukan kupikir! Kau harus berpikir matang-matang!" Sakura tidak mau mendengar omong kosong, mata hijaunya berubah sendu. "Karena kau kembali, aku sampai bertengkar dengan Naruto..." gumamnya.

"Jadi skandal tentang kalian benar," kata Shi pelan.

Sakura tak percaya apa yang baru saja didengarnya, ia mengatakan hal yang jujur namun dibalas seperti itu? "Kau kembali padaku di waktu yang salah! Kau sendiri yang memutuskan kontak kita—"

"Aku tidak memutuskan kontak kita," potong Shi.

"Kau memang!" Sakura tidak percaya.

Shi menepuk keningnya frustasi. "Aku tidak Sakura,"

"Kau masih berbohong di situasi seperti ini?"

Shi mulai kehabisan kesabarannya. "Ingatkan padaku satu kali saja, kapan aku pernah berkata putus padamu?"

"Itu..." Sakura mencoba mengingat, memang ada satu kali tetapi itu sebelum janji mereka, setelah janji mereka tidak ditepati, ia cenderung memilih menunggu sebab ia berharap Shi-lah yang menghubunginya terlebih dulu dan juga ia sibuk mengurus ibunya yang sakit, namun sudah dua minggu berlalu tidak ada kabar sama sekali; otaknya teringat sesuatu. "Memang tidak, tetapi bukankah kau memiliki kekasih baru?" tanyanya dingin.

Shi syok tak percaya. "Aku tidak punya kekasih baru..."

"Jangan berbohong! Ino sendiri yang mengirim fotomu berdua dengan wanita lain!" seru Sakura penuh amarah, mata hijaunya meredup, "Dan aku menyadari bahwa aku begitu bodoh menunggumu, memastikan kau pasti akan kembali, bodohnya aku..."

Shi menepuk keningnya, sekarang ia mengerti, "Kurasa ini semua karena kesalah pahaman," katanya. "Aku tak tahu apa yang Ino potret, tapi aku meyakinkan padamu bahwa aku tidak memiliki kekasih setelah kita berpisah," ia mungkin tampan namun ia masih terlalu terluka untuk membuka hati pada wanita lain. "Aku mau menghubungi tapi kau sudah memiliki skandal baru dengan Hyuuga,"

"Hyuuga?" Sakura menaikan alisnya, "Oh," ia mengerti, yang dimaksud adalah Neji, ia tidak protes, memang benar ia berkencan dengan Neji namun murni karena sahabatnya memaksanya seperti biasa. "Ide Ino, dia pikir ide yang bagus untuk melupakanmu,"

Shi mengembuskan napasnya. "Sudah jelas sekarang, ini murni kesalah pahaman,"

Sakura terdiam.

Kesalah pahaman—lagi?

Jika dipikir-pikir selama ini mereka dulu bertengkar untuk hal kecil-kecil dan akhirnya inti masalah mereka awalnya adalah selalu salah paham, sebab ia dan Shi memiliki sifat keras kepala yang sama, hanya ia lebih lemah.

Sakura ingat sekarang, ia dan Shi memiliki begitu banyak kesamaan, makanya kencan pertama mereka habiskan untuk mengobrol hal-hal yang mereka sukai bersama, ia awalnya senang, namun jika mereka bertengkar takkan ada yang mengalah, kebanyakan dirinya yang mengalah hingga terkadang berpikir apakah ada dirinya di hati Shi?

Sakura membuang jauh-jauh pikiran tersebut, ia mau menatap masa depan bersama, Shi juga lah yang mendukungnya serta melawan ayahnya meskipun pada akhirnya Shi mengajaknya untuk kabur bersama dari pada tetap tinggal dengan ayahnya.

Begitu salah ide Shi dipikiran Sakura sekarang, ia terlalu dibutakan cinta hingga hanya menurut pada pria muda itu dulu.

"Shi," Sakura menghela napas; begitu sulit mengatakan nama tersebut di depan orangnya langsung. "Apakah kau tidak lupa satu hal? Meskipun kita salah paham, kau bisa memperbaikinya seperti masalah kita sebelumnya,"

"Aku..." Sakura tidak salah, ialah yang salah di sini, ia terlalu pesimis dengan hubungan mereka apalagi saat itu saingannya seorang dari kalangan orang kaya—ia teringat sesuatu yang membuatnya jengkel. "Aku tidak bisa melakukannya," katanya. "Sakura... kurasa sudah saatnya aku jujur, begitu banyak yang tidak kau ketahui tentangku,"

Sakura terkesikap; jujur? Jadi memang dugaannya benar ada yang tidak beres; kenapa ia merasa gugup? Apakah karena ia akan mengetahui sisi gelap Shi? Shi bukanlah pria yang seperti yang dikiranya?

Sakura menepuk keningnya.

Whatever.

Sakura ke sini untuk memperjelas hubungan mereka dan kemungkinan untuk kembali pada Shi jadi bukan sesuatu yang dipermasalahkan.

Sebagai pasangan, mereka harus menerima baik serta buruk pasangan masing-masing.

"Aku mendengarkan," kata Sakura tanpa semangat sama sekali.

Shi mengambil napas; Sakura akan membenci ini. "Rumor soal aku memanfaatkanmu itu benar,"

Hening...

Mata hijau Sakura terbelalak syok; apakah telinganya tidak salah dengar? Shi—memanfaatkan dirinya—? Menfaatkan—?

Plak.

Sakura memandang telapak tangannya; ia baru saja menampar Shi—? Ia tidak bisa menahan segala emosi yang meletup-letup di tubuhnya dan pengakuan Shi membuatnya memuncak hingga tanpa pikir panjang ia menampar pipi pria muda tersebut.

Shi menyentuh pipinya yang memerah akibat tamparan Sakura; ia tak memprotes atau membalas sebab merasa pantas mendapatkannya, "Aku hanya lelaki biasa, disukai oleh orang kaya sepertimu menjadi kesempatan bagiku,"

Sakura mengepalkan tangannya erat, menahan tangannya untuk tidak menampar untuk kedua kalinya; setelah selama ini Shi baru mengatakannya?

Seperti mengerti perdebatan di kepala Sakura, Shi berkata, "Itu awalnya, setelah kita menghabiskan waktu bersama, perlahan tujuanku berubah, aku yang awalnya hanya menginginkan uangmu untuk ibuku menjadi ingin melindungimu juga,"

Sakura tertunduk.

Jadi seperti itu—Shi memanfatkannya demi ibunya, ia pernah mengunjungi ibu pria muda itu dan kondisinya memang cukup parah, karena ia masih muda, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memberi dukungan, memang ia memberi sedikit uang tetapi uang yang diberikannya belumlah cukup.

Apakah Shi sengaja memperkenalkan ia pada ibunya agar lebih mudah mendapatkan uang darinya?

Sakura tidak bisa berpikir lagi; semua kenangan indah mereka perlahan berubah pahit, bodohnya ia tidak menyadarinya—dibutakan cinta atau Shi begitu pandai berakting.

Terima kasih pada Shi juga pandangannya tentang lelaki yang terbaik dilihat dari cara memperlakukan ibunya jadi berubah.

"Perasaanku padamu berubah," kata Shi. "Apa yang aku lakukan padamu nyata bukanlah paksaan,"

Sakura tak menjawab; ia seharusnya senang mendengar itu walau Shi memulai hubungan mereka tanpa perasaan pada akhirnya pria muda itu jatuh cinta padanya tetapi ia tak merasakan apa-apa, hatinya kosong.

Sakura menjadi bertanya-bertanya ada apa dengan perasaannya, ia begitu tersiksa semenjak melihat Shi di kafe namun perasaan tersebut hilang—?

"Bisa berbicara langsung ke intinya?" Sakura merasa hanya percuma jadi ia menyarankan.

Shi terdiam sesaat, ia sedikit kecewa tentu namun itu adalah pilihan Sakura, ia tidak bisa memaksanya. "Kau tahu aku ke Kyoto sendiri kan?"

Sakura mengangguk.

"Sejujurnya aku dan ayahmu membuat kesepakatan," kata Shi sedikit gugup. "Kau mungkin tidak tahu, ayahmu menyuruh rumah sakit untuk menolak ibuku berobat,"

Sakura syok, membatu; ia tahu ayahnya orangnya keras namun ia tidak menyangka hingga melakukan sesuatu yang jahat seperti itu, ia bertanya-tanya apakah deminya ataukah menjaga reputasi agar tetap baik; mengetahui ayahnya dulu, mungkin yang kedua, mungkin. Namun ia tak bisa berasumsi seperti itu, mungkin setelah Kizashi mengetahui ia berkencan, ayahnya mencari tahu siapa Shi—dan menyadari sesuatu yang tidak disadari olehnya yaitu tidak ada cinta Shi untuknya.

Mungkin.

"Aku tidak berkutik," kata Shi, raut wajahnya jengkel mengingatnya. "Jadi ayahmu menawarkan sejumlah uang dengan ganti aku harus berhenti menemuimu,"

Kenapa Sakura tidak terkejut? Ia tahu ayahnya seorang yang pintar mencari celah, dengan lihai menghancurkan hidup seseorang, dan Kizashi akan datang di detik-detik kehancuran bak pahlawan.

"Aku dengan berat hati menerimanya," kata Shi.

"Kau harusnya memberitahuku!" seru Sakura emosi; jika Shi lebih terbuka padanya, tidak memikul beban sendiri, mungkin hubungan mereka takkan seperti ini, mungkin hidupnya lebih baik lagi—

Sakura merasa ragu.

Benarkah?

Hidupnya akan lebih baik jika ia tetap bersama Shi? Kabur ke Kyoto, memutus hubungan dari keluarga serta sahabatnya?

"Aku mau," Shi menyetujui, wajahnya berubah sedih kemudian. "Tetapi aku berpikir lagi, semua tetap akan percuma, tujuan ayahmu jelas, dia tidak menginginkan aku,"

"Oh," Sakura bergumam kecewa; bagaimana tidak? Shi terlalu pesimis mengenai hubungan mereka, begitu Shi sama sepertinya.

"Aku berubah pikiran lagi," kata Shi, lalu berdehem. "Setelah kau mengunjungiku kedua kalinya di Kyoto,"

Sakura menggaruk lengannya gugup; kunjungan kedua? Masih teringat jelas di kepalanya mengenai kunjungan keduanya, dimana setelah ia berhasil membuat Kizashi berkata jujur bahwa efek Shi pergi memang karenanya, ia langsung pergi ke Kyoto dan meminta penjelasan pada Shi, mereka berdebat lagi, panas, hingga ia tidak tahan dan menyerahkan 'dirinya' pria muda tersebut.

Sakura awalnya tidak berniat menyerahkan keperawannya—bertindak sejauh itu namun ia dan Shi terbawa suasana panas mereka.

Sakura berusaha sebisa mungkin memasang wajah datarnya namun ia dapat merasakan pipinya memanas, ia yakin pipinya merona merah sekarang; itu pengalaman pertamanya, normal kan ia merasa malu mengingatnya?

Naruto memang lebih hebat masalah 'sexy time', ia mengakuinya namun bersama Shi lebih membekas di hatinya karena pertama. Tidak lebih. Tidak lebih, kan—?

Sakura tidak yakin.

Shi tersenyum kecil mengingatnya. "Aku berpikir lagi, dan aku memutuskan untuk memperjuangkan lagi, aku tidak peduli soal ayahmu, saat itu yang ada di pikiranku, aku hanya ingin bersamamu—melindungimu," katanya lembut. "Karena itu aku membuat janji itu,"

"Oh," Sakura hanya dapat merespon kecil; apa yang harus dikatakannya juga? Setelah janji mereka, ialah yang mengingkarinya. "Aku tidak bisa datang karena keadaan ibuku memburuk,"

"Oh," Shi teringat sesuatu. "Aku turut bersimpati," ia melihat berita mengenai Mebuki namun ia tidak bisa mengirim bela sungkawa sebab nomor Sakura sudah diganti ditambah ia tengah sibuk-sibuknya kuliah.

Sakura menggeleng. "Setelah ibuku membaik, aku ingin menghubungimu tetapi Ino mengirim fotomu bersama wanita lain jadi aku pikir mungkin hubungan kita sudah selesai," katanya sedih. "Kau juga tidak menghubungiku jadi semakin jelas."

Ino juga yang sejak awal memang tidak menyukai Shi terus-terusan memprovokasinya—ah memberi nasihat untuk segera melupakan Shi jadi karena lelah ia setuju kencan buta dengan Neji—yang menimbulkan skandal cukup besar.

Shi mengembuskan napasnya. "Kenapa kau dan aku memiliki banyak kesamaan—?" keluhnya menepuk pelan keningnya; ia juga membutuhkan waktu sendiri sebelum memutuskan, terlalu lama sehingga skandal Sakura dan Neji muncul; saat itu ia yang masih terluka, tidak mampu berpikir positif, ia menyerah sebab yang dihadapinya kali ini anak kaya raya; ia hanya berharap Sakura bahagia.

Sakura sendiri tidak tahu.

Mungkin kesamaan itulah yang membuat mereka langsung saling nyaman—? Tetapi karena kesamaan mereka itu jugalah yang membuat hubungan mereka berakhir.

Sakura menutup mata hijaunya, menikmati hembusan udara dingin menerpa kulitnya.

Pembicaraan mereka membuat hatinya sedikit membaik, tidak ada lagi yang dipertanyakan.

Meski menghancurkan pandangannya pada Shi jika pria muda itu seorang yang sempurna.

Sakura membuka mata hijaunya perlahan; Shi berdiri di sampingnya memandang kosong matahari terbit; sekarang ia bisa memperhatikan dengan seksama Shi setelah sejak tadi berdebat panas, pria muda itu sama sekali tidak berubah hanya tubuhnya bertambah tinggi terakhir kali mereka bertemu.

Sakura menatap ke langit setelah kepergok memerhatikan Shi diam-diam, berpikir.

Semuanya sudah jelas, sekarang apa—?

Meskipun awalnya Sakura merasa sakit menemui Shi, dalam hati kecilnya, ia senang bisa bertemu lagi dan terlebih lagi meluruskan kesalahpahaman hubungan mereka.

Jika Shi datang lebih cepat, sebelum Naruto mungkin situasi takkan serumit ini.

Sakura memainkan cincin yang melingkar di kelingkingnya.

Tiba-tiba Sakura merasa rindu dengan kekasihnya, jika Naruto di sini, ia yakin kekasihnya akan memecah keheningan mereka dengan candaan atau godaan.

Sakura melirik Shi lagi melalui celah bulu matanya.

Dulu Sakura begitu mengagumi sisi tenang Shi karena ia juga tipe yang tak terlalu suka keributan, bertemu Naruto membuat pandangannya berbeda.

Sakura mengepalkan tangan di dadanya.

"Bagaimana kalau kita sarapan bersama?"

"Huh?" Sakura tersadar.

Shi tersenyum kecil. "Aku yakin kau lapar,"

"Uhh..." berbicara sarapan, perutnya jadi keroncongan; ia memang belum sarapan. "Baiklah,"

.x.

Sakura terkagum-kagum memandang sekeliling kafe, banyak benda-benda imut di berbentuk kucing di sini; ia tidak menyangka ada kafe yang buka sepagi ini; baginya jam sembilan itu pagi.

Sakura bertopang dagu, melihat Shi yang tengah sibuk memainkan tablet bertuliskan menu di meja, bahkan pelayanannya modern sekali; kenapa juga ia tak pernah mendengar kafe ini? "Aku mau pesanan yang populer saja," katanya, ia tidak mau ambil resiko kan ini pertama kalinya kemari.

Shi melirik sebentar, sebelum kembali fokus ke tabletnya. "Kau tidak berubah ya,"

Sakura agak terkejut. "Aku masih diriku," katanya kikuk; setelah perbincangan mereka tadi, hatinya cukup padam meski belum sepenuhnya, ia mulai merasa nyaman. "Kau juga, senpai."

Shi tertawa kecil. "Ya, kau tidak berubah," gumamnya.

Sakura mengepalkan tangannya erat; apakah yang dilakukannya sudah benar? Ia menghabiskan waktu dengan pria yang mau menghancurkan hubungannya dengan Naruto?

Naruto memang bilang ini demi kebaikan mereka tetapi bagaimana jika ia menemukan kenyamanan lagi di sisi Shi selama kencan ini?

'Simple. Move on.'

Naruto mengatakannya seperti itu hal yang paling mudah sedunia namun ia tahu itu begitu sulit, ia merasakannya ketika melupakan Shi.

Jika ia memilih Shi berarti kencan mereka semalam menjadi kencan terakhirnya bersama Naruto, ia yakin pria muda itu takkan mau menemuinya.

Perpisahan?

Sakura tidak bisa membayangkan perpisahan dengan Naruto, tidak dengan apa yang mereka lalui bersama, bahkan dulu ia begitu putus asa saat berpisah selama tiga bulan.

.#.

Flashback ON

.#.

"Apakah kau sungguh-sungguh mau pergi selama itu?" Sakura menarik Naruto kembali ke dalam apartemennya; berusaha agar bisa mengubah keputusan kekasihnya.

"Aku tidak punya pilihan," kata Naruto terdengar pasrah. "Aku sudah banyak menghabiskan waktu, jadi aku rasa sudah cukup main-mainnya," jelasnya serius.

Kembali ke dunia bisnis tidak semudah itu, apalagi ia sudah mengecewakan rekan bisnisnya dulu dengan pengunduran dirinya untuk berfokus kuliah.

"Hm," Sakura mengerti namun tiga bulan tidak bertemu jelas membuatnya sedih dan kesepian, mereka juga kan baru menjadi sepasang kekasih jadi wajar ia ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama bukan menjalin hubungan jarak jauh begini. "Itai—" ia merasakan pipinya di cubit, "Lepfaskann—!"

"Heh," Naruto menyeringai kecil, bukan melepas justru menarik ke atas dan ke bawah barulah dilepas. "Jangan terlalu sedih, kita bisa berkomunikasi setiap hari,"

Sakura tetapi tidak bergeming.

"Sakura," panggil Naruto lembut. "Aku melakukan ini karena idemu kan? Dan juga aku butuh fondasi kuat untuk hubungan kita ke depannya,"

Sakura terkejut; fondasi hubungan mereka ke depannya—? Terdengar serius sekali, membuatnya gugup.

"Aku tahu yang dipikirkanmu," Naruto buru-buru menyela sebelum Sakura berucap. "Yang kumaksud itu apa yang kau minta aku selalu bisa menurutinya, dattebayo."

Sakura merasa itu bukanlah alasan yang tepat, apalagi suara Naruto tidak terlalu percaya diri, mungkin Naruto memang memikirkan yang jauh tentang mereka, jadi ia memutuskan mengubah topik pembicaraan sebab itu membuatnya tidak nyaman. "Kalau begitu kau bisa kan sesekali kembali ke sini?" tanyanya penuh harap.

Naruto berpikir sesaat. "Membuat perusahaan baru butuh sepenuhnya perhatianku," gumamnya pelan. "Tetapi aku akan mencoba mencari waktu kembali supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama,"

Sakura tersenyum lebar; berita bagus dengan begitu ia bisa meyakinkan Naruto lagi; ia terbatuk; kenapa ia jadi posesif begini? Ia seakan tak mau membagi pria muda itu; ini pasti efek 'pacar baru'. "Baiklah,"

Naruto tersenyum, senang akhirnya mereka mencapai kesepakatan, meski ia sedikit menikmati protes Sakura yang secara terang-terangan menunjukan perasaannya padanya. "Sebentar lagi musim dingin, jangan sampai lupa memakai jaket lebih tebal, oh, jangan lupa makan," ia begitu jengkel saat memergoki kekasihnya itu masih memakan pil dengan alasan kesiangan. "Dan terpenting jangan mengenakan sepatu hak terlalu tinggi, jalan akan licin karena salju, dattebayo."

Sakura memutar bola matanya; Naruto mulai terdengar seperti ibunya, ia tahu itu bentuk kepedulian hanya saja ia tetap merasa jengkel seakan diperlakukan layaknya anak kecil. "Aku mengerti,"

Naruto melangkah maju, "Jadi mana?"

"Um?"

"Chu~?" Naruto menunjuk bibirnya. "Good morning kiss~?"

"Huh!?" tetapi mereka sudah melakukannya tadi bahkan hingga berendam bersama, pipinya memanas mengingatnya. "Sudah kan? Kau belum puas?"

"Heh," Naruto menarik sudut bibirnya. "Mana mungkin aku bisa puas jika itu berhubungan denganmu, chérie."

Pipi Sakura merona seketika; Naruto begitu mengerti soal perasaan wanita bukan sepertinya yang masih belum nyaman menyampaikan hatinya. "Chérie?"

Naruto mengangguk. "Aku akan memanggilmu chérie, boleh, kan?" tanyanya.

Sakura tidak masalah selama itu panggilan yang bukan aneh-aneh, hanya saja belum terbiasa, ia mengangguk.

"Sekarang," Naruto menaikan dagu Sakura, membuat mata indah hijau tersebut mau memandangnya. "Bisa aku mendapatkannya, chérie?"

Degub jantung Sakura berdebar kencan; ia juga belum terbiasa dengan jarak mereka yang dekat jadi refleks ia menutup mata hijaunya.

Naruto ingin tertawa melihat Sakura yang canggung, salahkah ia? Wanita muda itu bersikap seakan baru pertama memiliki kekasih, keinginan menggoda lagi muncul namun ditahannya sebab jadwal keretanya sudah sebentar lagi, akhirnya ia memberikan ciuman singkat di bibir Sakura. "Jauh lebih baik,"

"Um," Sakura merespon sekenanya, berpikir ciuman mereka lebih dari sekedar sentuhan, nyatanya tidak, ia sedikit kecewa. "Semoga kau sampai dengan aman," katanya. "Jangan lupa hubungi aku setelah sampai ya?"

Naruto mengangguk.

Sakura melambaikan tangan dengan perasaan kosong.

Dengan berat hati, Naruto pun membalas melambaikan tangan barulah berbalik dan mulai berjalan menuju lift, namun langkahnya terhenti ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang. "Saku—"

"Biarkan aku,"

"Huh?"

"Biarkan aku sebentar seperti ini," pinta Sakura pelan seraya mengeratkan pelukannya.

Naruto tidak menjawab lebih memilih meletakan tangannya di tangan Sakura yang berada di perutnya; terlambat sendiri mungkin tak apa.

Sakura sendiri tahu permintaannya egois namun ini untuk pertama kalinya mereka berpisah setelah sekian lama; mereka sudah terbiasa bersama, ia merasa tidak ada yang perlu dikuatirkan jika ada Naruto, bahkan saat situasi PTSD-nya kambuh.

Tiba-tiba ditinggal Naruto tentu membuat perasaan cemasnya muncul.

Naruto melepas pelukan mereka, dan berbalik, "Sakura, semuanya akan baik-baik saja, kau kuat oke?"

"Aku tahu tapi..." Sakura tetap cemas jika ia kembali kalah dari PTSD-nya; memang ada Ino tetapi kan sahabatnya itu tidak sepenuhnya bersamanya; lagi, pikirannya egois begini. "Janji ya kita berkomunikasi terus?" pintanya dengan puppy eyes andalannya.

"Aku janji, dattebayo." jawab Naruto cepat.

Sakura mengulas senyum lebarnya, ia sedikit lega sebab ia tahu Naruto bukan pria yang suka mengobral janji-janji tanpa ditepati.

.x.

Flashback OFF

.x.

Sakura mengembuskan napasnya gusar.

Ia harus berhenti mengkhayal tentang Naruto ketika berkencan dengan Shi.

Sakura terkesikap.

Kencan—? Ia barusan menganggap ini kencan? Hanya obrolan singkat, hatinya sudah mencair?

Sakura pasti sudah gila, ingat betapa menderitanya ia berusaha melupakan Shi, menghadapi ayahnya sendiri tanpa pria muda itu. Ingat itu!

Tetapi itu sudah masa lalu, bukankah lebih baik menatap masa depan?

Memaafkan juga bisa disebut sebagai bentuk kedewasaan kan?

Sakura memang merasa lega akan penjelasan Shi namun memaafkan? Ia masih belum bisa, ia masih bertindak sebagai anak kecil.

"Aku tidak menyangka kau menjadi dokter," Shi membuka percakapan. "Kupikir kau akan menjadi mangaka mengingat kau begitu semangat dulu,"

"Sudah banyak yang terjadi selama tujuh tahun ini, aku punya tujuan utama lain dari sekedar mengkhayal yang tidak pasti kan?" sindir Sakura halus. "Aku tak bisa terus berharap perlindungan yang tak pasti kapan datangnya kan?" lanjutnya sedih.

Shi terdiam.

Sakura menepuk keningnya, "Tidak, aku, aku tidak bisa," katanya, lalu bangkit berdiri. "Maaf tapi aku tidak bisa..."

Shi ikut bangkit berdiri. "Tidak apa-apa," katanya.

Sakura berjalan keluar kafe, berhenti di luar pintu lalu berbalik menatap mata hitam yang dulu disukainya. "Aku butuh waktu," katanya; ia pikir ia sudah kuat, kuat lagi menjalani kencan ini namun mengingat kenangannya dengan Naruto membuat tubuhnya menolak kehadiran Shi; ia sendiri tidak mengerti, sebentar ia merasa yakin nyaman, sedetik kemudian perasaannya berubah.

Mungkin memang benar nasihat Ino bahwa ia butuh pukulan di kepala untuk menyadari kebingungannya.

Sakura sungguh-sungguh bingung; apakah ia memiliki dua perasaan?

Kepalanya serasa ingin meledak; kenapa kembali di saat yang salah? Kembali? Ia teringat sesuatu. "Aku ingin bertanya padamu dan aku ingin kejujuranmu Shi," Sakura memijit pelipisnya yang mulai terasa pening. "Apakah... kau melakukannya demi kembali bersamaku?" tanyanya.

Hening...

Sakura menunggu dengan degub jantung tak beraturan, was-was; ia tidak bodoh, ia tahu jawaban dari pertanyaannya sendiri, ia hanya ingin memastikan dari mulut Shi sendiri, dan mungkin, mungkin saja pemikirannya salah, bahwa Shi hanya mau bertemu saja.

Shi menatap lurus mata hijau Sakura, dengan lantang ia menjawab. "Ya,"

Sakura mengembuskan serta mengeluarkan napasnya.

Tenang.

Jangan panik.

Satu.

Dua.

Tiga.

Fuck it!

"Kau gila ya!?" seru Sakura penuh emosi, "Kau pikir setelah apa yang kita lalui bersama, apa yang kau lakukan sekarang ini akan berubah!?"

"Aku..." Shi berpikir sejenak. "Niatku tidak seperti itu awalnya," ia mencoba menjelaskan dengan tenang, "Tetapi setelah bertemu denganmu di acara lelang, perasaanku ternyata masih kuat terhadapmu,"

Sakura syok, menggigit bibir bawahnya; ia seharusnya marah, benci, dan jijik namun, kenapa, kenapa ketika Shi mengungkapkan perasaan padanya membuat hatinya menghangat?

Ada apa dengan hatinya? Seketika ia dingin seperti es di musim dingin sedetik kemudian hangat seperti matahari musim semi?

Setelah tujuh tahun, penderitaan, kesedihan serta keputus asaan yang dialaminya, hatinya masih mau menerima lagi Shi?

Ia bodoh atau terlalu lembut pada Shi?

"Alasan aku tidak bisa menghubungimu juga karena ayahmu,"

Ayahnya—!?

"Setelah kesepakatan, ayahmu bilang dia akan setuju setelah aku cukup 'matang', dia bilang, apa yang aku miliki takkan bisa membuatmu bahagia," kata Shi. "Mungkin karena aku terus melawan... ayahmu luluh, mencoba menerimaku,"

Sakura tidak tahu harus bahagia atau kecewa; bahagia mengetahui ayahnya dulu memerhatikannya meskipun dengan cara ekstrim, ataukah kecewa karena Shi mau menuruti kemauan ayahnya.

Shi mengembuskan napasnya. "Sakura..." panggilnya pelan. "Aku tidak memaksamu untuk bersamaku, tapi jika memang perasaanmu berubah, aku akan senang," lanjutnya lembut. "Kita dulu hampir menikah lagi pula."

Menikah?

Sakura tersadar, ia begitu antusias bisa tinggal bersama Shi di luar kota, memang hati kecilnya dulu sekilas berpikir mereka mungkin akan menikah, tak menyangka menjadi benar khayalan naifnya.

Dan yang paling terpenting, pada akhirnya semua pilihan kembali lagi padanya.

"Aku butuh waktu," Sakura membuka suara akhirnya, "Jika tidak ada yang mau kau bicarakan lagi, aku pergi,"

Shi menggeleng; ia merasa cukup puas. "Istirahatlah," katanya, dengan berani mengusap lembut kepala Sakura, ia menarik kembali tangannya ketika melihat tubuh wanita muda itu menegang; sentuhannya tidak lagi menenangkan. "Aku tunggu di kencan resmi kita,"

Sakura mengangguk kaku kemudian berjalan pulang.

.x.

Sakura menghempaskan tubuhnya di ranjang, untuk pertama kalinya ranjangnya terasa sangat nyaman sekarang, memberikan kehangatan yang dibutuhkan olehnya saat ini.

Kata-kata Shi melintas lagi diingatannya.

Sakura meringkuk lemah.

Apa yang harus dilakukannya?

Kenapa semua meminta jawaban darinya?

Sakura memang dulu selalu berharap Shi kembali.

Namun Sakura tidak berharap kembalinya akan di situasi seperti ini.

Kesalahan apa yang dilakukannya hingga takdir mempermainkan dirinya seperti ini—?

Mata hijaunya melirik bagian kosong di sampingnya, bagian yang selalu ditempati oleh Naruto.

Jika saja Naruto ada di sini, ia akan minta pendapat pada kekasihnya, meski pria muda itu tidak selalu memberi solusi terbaik, memiliki teman mengobrol cukup membuat hatinya yang bergejolak tak karuan sedikit padam.

Sakura tidak yakin Naruto akan mau mendengarnya sebab masalahnya kan masih berhubungan dengan kekasihnya.

Naruto atau Shi.

Siapa yang akan dipilih olehnya untuk melangkah bersama ke depan—?

Sakura tahu betapa Naruto mencintainya.

Pagi ini juga Sakura mengetahui perasaan Shi padanya masih kuat; pria muda itu memberanikan diri menjadi pihak ketiga di antara ia dan Naruto, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh Shi yang dulu.

Sakura memeluk lututnya frustasi.

Apa yang harus dilakukannya?

Sakura merindukan Naruto.

Ia ingin bertemu namun merasa belum pantas karena menyadari hatinya masih membuka peluang pada Shi.

Apa yang akan dilakukan Naruto jika berada di situasinya?

.#.

Flashback ON

.#.

"Kenapa kau tidak tidur?"

"Hm," Naruto bergumam, "Setelah kau,"

"Tidak," Sakura menolak; sudah cukup untuknya setiap kali bangun selalu memergoki Naruto memperhatikan tidurnya; imut dan menakutkan baginya. "Kau dulu, ya?"

"Kenapa harus aku—?" tanya Naruto tertarik. "Aku takkan menyerangmu kok," lanjutnya. "Kecuali kau memintanya, dattebayo." ia mengakhiri dengan kedipan mata jahil.

"Naruto!" seru Sakura malu; mana mungkin ia meminta hal memalukan—pipinya semakin merona; faktanya ia memang pernah, sekali, ketika berendam bersama, itu pun karena Naruto memainkan dadanya tanpa mau lagi bergerak lebih jauh, menginginkannya berkata 'meminta' dari bibirnya.

Sakura tentu menolak keras, dan melepaskan sentuhan Naruto di dadanya namun tubuhnya justru ditarik hingga menempel dengan dada bidang kekasihnya, bahkan satu tangan kekasihnya yang bermain di dadanya mulai turun ke bawah perutnya, ke bawah lagi—meruntuhkan dinding pertahanan yang tersisa.

Sakura menyerah detik itu juga, menurut, dan Naruto pun memberikan yang terbaik untuknya, sebagai hadiah akan kejujurannya.

Sakura bahkan menilai hadiah itu 'sexy time' terbaik mereka sejauh ini.

Mungkin terbaik karena ia tidak dapat melihat wajah Naruto yang berada di belakangnya, mungkin karena pikirannya yang tertutup nafsu berusaha menahan agar wajah serta dadanya tidak menabrak di dinding kamar mandi karena gerakan cepat pinggul kekasihnya...

Naruto begitu baik—tahu apa yang dilakukanya dalam hal menyenangkan wanita.

Ketika ia meminta untuk lebih lembut, Naruto akan memberikan banyak ciuman serta belaian di tubuhnya, dan ketika ia meminta lebih, Naruto akan mengeluarkan seluruh perasaannya—keliaran yang belum terpikirkan olehnya yang membuatnya terlalu menikmatinya meski baru pertama kalinya disentuh sepanas itu.

Sakura menggelengkan kepalanya kuat-kuat; kenapa ia malah mengingat itu? Berpikir ia selalu mengeluh Naruto mesum, ia tidaklah jauh berbeda.

Ugh.

Mungkin ia ketularan mesum dari Naruto?

Naruto tertawa kecil; menyenangkan sekali menggoda kekasihnya. "Sakura, jangan pernah malu apalagi takut mengeluarkan pendapat atau hatimu padaku, ya?"

"Well..." mudah mengatakannya.

"Meskipun sesuatu yang begitu susah atau kau berpikir akan menyakitiku," kata Naruto serius. "Lepaskan saja, ya?"

"Um... ?" menyakiti terdengar er... ekstrim? Ia tidak mau menyakiti Naruto karena kemauannya; dan berpikir Naruto terus membangkang bukan seorang masochist membuatnya bertanya-tanya juga.

"Aku lebih suka kau terang-terangan padaku, chérie," kata Naruto. "Dengan begitu aku tahu apakah kau menyukai caraku memperlakukanmu hm... yang bisa membuatmu nyaman, dattebayo."

"Baiklah," Sakura akan mencobanya.

.x.

Flashback OFF

.x.

Sakura menggigit bibir bawahnya.

Pikirannya yang sejak tadi dikelilingi oleh kabut perlahan hilang.

Naruto bilang tidak apa-apa, meski menyakiti hati pria muda itu.

Naruto tidak mau menjalin hubungan lagi hanya karena kasihan.

Jadi tentu saja Naruto akan baik-baik saja jika ia memilih Shi, kan?

Shi juga bilang tidak memaksanya untuk kembali.

Jadi tentu saja Shi akan baik-baik saja jika ia juga tetap memilih Naruto, kan?

Mau pilihan apa pun, satu hal yang pasti akan ada yang tersakiti, ia tidak bisa menghindarinya, mana mungkin juga ia memilih keduanya untuk menghindari rasa sakit di antara mereka.

Naruto dan Shi berharga baginya, namun sudah saatnya berpikir untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan perasaan mereka berdua.

Sakura mengembuskan napas yang panjang.

Sepertinya ia sudah tahu siapa pilihannya.

Bersambung...

Note :

Chapter depan, Last Chapter fic ini

Big Thanks To :

tieichataeyeon : well, sejauh ini saya belom pernah nulis sad ending sih, makasih review-nya :)

Paijo Payah : buat sad ending apa bakalan terbaik ya? Haha... makasih review-nya :)

CrysteleXia : iya, kencan terakhir klo Saku milih Shi, bukan kok, Saku belom milih kan cuma kencan buat ngilangin kabut tebel di hati(?) Saku, makasih review-nya :)

Raynoval : satu chapter lagi yo jadi ga penasaran lagi... ;) makasih review-nya :)

moonlighttxx : masa sih? Jadi terharu deh haha... makasih review-nya :)

Zian : ya kan klo Naru ga sedih aneh gitu ya, ini udah up jadi sendalnya tak balikin lagi ;) makasih review-nya :)

Guest : ya soalnya emang udah niat bersambungnya di situ sih, jadi setiap kencan mereka beda chap, makasih review-nya :)

Mr. Koben's : mananya alur yang mulai ga jelas? Itu kan klimaks konflik, tolong diperjelas keluhan kamu ya, klo yang kamu maksud 'booting' itu 'boring' silakan kamu ga usah baca ya, saya ga maksa kamu baca fic saya kok, makasih review-nya :)

Thanks for reading...