Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature
Big Thanks To:
tieichataeyeon : well, Saku kan masih cinta jadi jelas dia masih mikirin Naru, oh, makasih dukungannya ya, dan makasih review-nya :)
fffc34hf668ggbb : ide kamu bagus loh, banyak plot twist yang emang saya suka, cuma saya udah mutusin hanya sampe sini masalahnya :o buat masalah sampe punya bayi, ya, hm~ saya pikir dulu ya, makasih review-nya :)
CrysteleXia : soal Naru kasian, itu udah resiko dari keputusan dia, Saku emang plin-plan di sini, Shi meski udah nyakitin ya tetep berharga mungkin karena inget masa lalu, Shi kan yang nemenin Saku di masa labilnya sih haha... Mungkin kamu bener Naru bakal ke Paris klo Saku milih Shi haha... makasih review-nya :)
Shiromaki Uzuto : makasih ya pujiannya, saya senang kamu bisa bayangin cinta mereka ToT saya bahkan iri setiap ngetik scene romance mereka loh, percaya ga? Percaya dong#plak makasih review-nya :)
RayNoval : Naru sama yang lain? Baca aja ya, Saku juga ga punya pilihan karna disuruh Naru juga, makasih review-nya :)
giantsmoker : ini udah sebisa mungkin di up, makasih ya review-nya :)
MANASYE : saya udah melakukan sebisanya, dan untuk Saku berakhir sama siapa silakan tunggu ya ;) makasih review-nya :)
putraarthur56 : ya ini udah up, makasih review-nya :)
Hikari Chiyo : well, kamu bisa tau nanti(?) atau di chap ini siapa yang dipilih Saku, makasih review-nya :)
Guest : gak masalah, saya mengerti, dan makasih review-nya :)
: ini udah up, duh banyak ya review kamu sampe 6x :) makasih review-nya :)
OXed13ND : kenapa kamu menginginkan ending itu? Silakan komentar yang logis ya :) makasih review-nya :)
Happy reading... :D
.x.
Sakura menyentuh dadanya yang sejak tadi berdegub kencang.
Ia siap.
Tidak ada lagi yang dipikirkannya.
Ini yang terbaik untuknya.
"Sakura-neechan!" panggil Sasame riang. "Aku pikir kau takkan datang,"
"Kenapa berpikir seperti itu?" tanya Sakura.
"Um..." Sasame sedikit ragu. "Maaf! Aku mendengar pertengkaran Sakura-neechan dengan Naruto-niisan," sesalnya, ia bermaksud pergi awalnya namun karena pertengkaran yang cukup intens membuatnya tertarik.
Sakura menepuk keningnya; sekarang ia merasa malu, pertengkaran mereka sehebat itukah? Ia berpikir apakah akan ada skandal lagi, acara lelangnya kan baru tiga hari berlalu. "Apakah kau melihat... pasangan kencanku...?" ia bertanya gugup.
"Oh!" Sasame teringat. "Tentu saja, Shi-niisan sudah ada di dalam,"
Sakura agak berharap Shi belum datang agar ia bisa menenangkan hatinya di taman belakang atau minum alkohol sedikit. "Aku ke dalam dulu kalau begitu."
Sasame mengangguk, "Sakura-neechan tidak usah gugup, kau cantik sekali malam ini kok," pujinya. "Aku suka sekali tato di belakang punggung neechan juga!"
Berdandan selama dua jam memanglah tidak sia-sia, ia bahkan memesan gaun dari desainer terkenal malam ini dengan bagian belakang yang terbuka—memamerkan punggung indahnya yang memiliki tato besar bermotif bunga sakura seperti namanya.
Tato tersebut bagian dari keputusannya juga, ia sudah lama memilikinya setelah Naruto pergi selama tiga bulan.
Naruto bahkan terkejut ketika melihatnya...
.#.
Flashback ON
.#.
Sakura merasakan jari Naruto bergerak menelusuri lekuk tulang punggungnya secara perlahan. "Naruto, aku lelah," keluhnya sebelum kekasihnya melakukan hal yang lebih.
"Aku baru sadar kau mentato punggungmu," kata Naruto, ia terlalu menikmati 'sexy time' pertama mereka setelah tiga bulan berpisah, atau tato itu tertutup helaian rambut pink kekasihnya saat ia membalikan tubuh Sakura sebab setelahnya ia memberikan bahu serta leher kecupan jadi mata birunya tidak melihat ke yang lain. "Apakah aman?" tanyanya cemas; Sakura kan punya bekas jahitan cukup panjang.
"Aku sudah konsultasi dan tidak apa-apa," sahut Sakura. "Aku selalu menutupinya karena takut tapi kan aku sudah membaik setelah ke psikiater jadi aku putuskan untuk mentatonya, aku bisa percaya diri tanpa perlu orang lain berkomentar tentang lukaku, mereka akan lebih fokus ke tatonya."
Naruto ber-'oh' ria, ia senang Sakura memiliki kemajuan berpikir positif. "Aku mau mentato juga deh."
"Eh... ?" Sakura terkejut. "Kenapa?" tanyanya heran; ia menyukai tubuh Naruto apa adanya, tubuh pria muda itu sudah seksi di matanya jadi kenapa juga harus ditato?
"Terlihat bagus sih," sahut Naruto polos. "Dan itu sedikit membuatku bergairah lagi." tambahnya pelan, memberi belaian lembut di punggung kekasihnya.
"Naruto!" seru Sakura merona malu.
Naruto tertawa. "Aku tidak terlalu tertarik," katanya. "Kalaupun mau kupikir memakai anting lebih baik,"
Giliran Sakura yang tertawa. "Kau bakal dijuluki 'flower boy' bukan 'bad boy' lagi,"
Naruto mengerutkan dahinya jengkel. "Memakai anting bukan berarti aku 'flower boy', dari mana juga referensi itu?" tanyanya terheran-heran; tidakah Sakura tahu style punk-rock?
"Drama," sahut Sakura polos.
Naruto memutar bola matanya. "Ingatkan aku untuk membuang kaset drama yang kau tonton itu setelah kembali ke Jepang,"
"Hm... ?" Sakura membalikan tubuhnya; mana mungkin ia akan membiarkan Naruto membuang kaset berharga miliknya. "Hm~"
"Kau mencoba menggodaku?" tanya Naruto. "Tidak akan berefek, dattebayo." lanjutnya tidak tertarik, meski begitu ia menolak untuk memandang mata hijau Sakura.
Sakura menggembungkan pipinya; mendengar Naruto berkata seperti itu membuatnya agak kecewa sebab ia merasa tidak menarik atau payah menggoda lelaki; iya memang ia hanya mendesah namun tetap saja mungkin desahannya tadi berbeda dengan desahan yang keluar karena Naruto.
Naruto selalu memintanya untuk lebih keras memanggil nama pria muda tersebut; berkata itu menjadi kepuasan tersendiri bagi Naruto.
Sakura terbatuk gugup, memiringkan tubuhnya, menyembunyikan rona merahnya dari kekasihnya.
"Hm~?" Naruto yang sejak tadi memerhatikan tentu saja menangkap rona merah yang tiba-tiba muncul di pipi kekasihnya, membuat bibirnya tanpa sadar menyeringai kecil, ada bahan untuk menggoda lagi; ia ikut berbaring, "Chérie, aku hanya bergurau jangan marah."
Sakura hanya memutar bola matanya, ia terkesikap pelan ketika Naruto menarik lembut tubuhnya hingga kulit mereka bersentuhan. Hanya dengan sentuhan sekecil itu kembali membuat irama degub jantungnya bergerak cepat.
"Kau tahu aku takkan melakukan apa yang kau benci." kata Naruto.
"Hm..." Sakura tentu tidak bisa beradu argumen tentang itu sebab Naruto benar, setelah mereka resmi menjadi sepasang kekasih, Naruto sebisa mungkin mencari cara untuk bisa menghabiskan waktu bersama, mengikutinya seperti 'lost puppy', jarang melawan bila yang mereka perdebatkan masalah kecil. Lantas ia pun membalikan tubuhnya, saling berhadapan sekarang, dan meletakan tangannya di pipi Naruto. "Tentu... kau kan masochist," ejeknya bahkan menarik keras pipi kekasihnya.
"Itai..." Naruto memegangi pipinya yang kini memerah; ia tidak percaya apa yang baru saja terjadi. "Kau,"
"Hm~" Sakura bergumam mengejek, memprovokasi.
"Kau yang meminta ini, woman."
Sakura tanpa perlu penjelasan apa-apa, mengerti maksud dari peringatan Naruto, dengan segera bangun dari ranjang dan menghindari dengan berlari ke lantai bawah. "Kau takkan bisa melakukannya~"
"Tunggu, dattebayo!"
Sakura tidak memedulikan teriakan kekasihnya, terus berlari menuruni tangga, beberapa kali ia harus mengeratkan selimut agar tidak terlepas dari tubuhnya hingga ketika ia hendak memutari jacuzzi, Naruto menangkap tangannya, dan dengan gerakan cepat ia sudah berada di kurungan kedua lengan kekasihnya dengan punggungnya menempel di dinding.
"Siapa yang tertawa sekarang?" tanya Naruto penuh percaya diri.
Sakura hanya memutar bola matanya.
"Apa yang harus aku lakukan padamu, hm?" Naruto bertanya-tanya dengan nada intusias, memerhatikan tubuh Sakura dari bawah ke atas secara intens.
Sakura merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut, apalagi dengan tatapan mata Naruto yang terkesan lapar. Namun ia mencoba menenangkan dirinya, memasang wajah tidak tertarik. "Kau mulai bertindak kekanakan."
"Oh?" Naruto tertarik. "Jadi kau ingin aku bertindak dewasa?" pancingnya. "Bukankah kau sendiri yang memulai permainan kekanakan ini?"
Sekarang Sakura yang kehilangan kata-katanya, merasa kalah, ia pun membalas tajam. "Lalu kenapa? Aku yakin kau menikmatinya, kan?"
Naruto memerhatikan Sakura sesaat, terutama pada bagian paha putih kekasihnya yang tak tertutup selimut. "Tentu saja," ia menyetujui. "Bukankah aku selalu bilang bahwa kau memiliki kaki yang seksi?" godanya disertai tawa kecil.
Sakura syok, lalu mendorong Naruto penuh emosi. "Kau mesum."
"Maaf, aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri," sesal Naruto namun tetap tertawa.
Sakura sudah tidak mood, memilih kembali ke ruang tidur; Naruto benar-benar menguras tenaganya, ia tahu mereka tidak bertemu selama tiga bulan, namun ia tak menyangka kekasihnya begitu rindu padanya sampai tidak mau berhenti sebelum ia memprotes keras.
Terkadang Sakura berpikir apakah ia berkencan dengan manusia atau bukan, selain stamina yang membuatnya heran, cara Naruto menyentuhnya juga begitu—
Sakura memutar bola matanya; belum satu menit ia mengeluh soal kemesuman Naruto, ia sudah berpikir yang tidak-tidak.
'Aku butuh minum.'
.x.
Flashback OFF
.x.
Sakura melanjutkan masuk ke dalam, namun sebelum ia mencari Shi, ia berkunjung menuju ruang panitia terlebih dahulu.
Cklek.
Sakura langsung saja masuk ke dalam, di sana banyak teman-temannya, namun bukan itu tujuannya, ia berjalan melewati mereka dengan sesekali membalas sapaan dari mereka, hingga akhirnya ia menangkap seseorang yang dicarinya, yaitu wanita paruh baya berambut pirang.
"Ah, Sakura, kau sudah datang." kata Tsunade ramah.
Sakura mengangguk pelan. "Bisa aku berbicara sebentar?"
"Tentu saja, Sakura," kata Tsunade bersandar santai di meja. "Kau tidak perlu sungkan,"
Sakura sedikit ragu awalnya, "Aku memutuskan untuk tidak ikut lagi setelah acara ini selesai," katanya serius.
Mata Tsunade melebar awalnya sebelum kembali normal. "Aku mengerti."—ia menepuk bahu Sakura. "Kau sudah berbuat banyak selama tiga tahun," katanya bangga. "Kau bisa kembali jika mau."
Sakura tersenyum kecil; senang Tsunade mau mengerti, ia sendiri masih berdebat selama diperjalanan kemari; apakah ini keputusan yang baik untuknya sebab ia sudah menjalaninya selama tiga tahun, ia sudah menganggap orang-orang di sini sebagai keluarga; mereka ada di saat titik terendahnya, melupakan pikiran negatif untuk bunuh diri selama ini. "Terima kasih, selama ini kau menjagaku, membuatku berpikir positif, menjadi sosok ibu untukku, aku tidak bisa berkata apa-apa selain, terima kasih."
Berpikir ke belakang, Tsunade-lah yang sungguh-sungguh menganggap serius masalah kesehatannya, menghadiahkan kucingnya agar ia tidak berpikir negatif di kala sendiri, bernegosiasi dengan Shizune akan hal itu juga, bahkan meminta Ino agar tinggal di sampingnya.
Bagi Sakura, Tsunade adalah ibunya keduanya, ia terlalu berpikir negatif sehingga tidak pernah menyadari bahwa ada orang yang benar-benar mencintainya.
Keputusan untuk mundur juga masih dipikirkan olehnya hingga detik ini, sebab ia tahu, jika memutuskan untuk mundur, ia takkan bisa sering bertemu Tsunade.
Sakura masih bisa bertemu di rumah sakit untuk bekerja sama mencari obat untuk kanker namun tetap ia merasa sedih.
Tsunade meletakan tangannya di bahu Sakura lembut. "Aku mengerti Sakura, dan aku senang kau sudah kuat sekarang."
Sakura terharu mendengarnya. "Aku?"
Tsunade mengangguk. "Matamu sudah tidak lagi memancarkan kesedihan, mereka bersinar sekarang."
"Aku masih berusaha," Sakura sedikit senang mendengarnya, pengobatannya sedikit membuahkan hasil, dan ia merasakannya juga sebab kini PTSD-nya tidak kambuh sesering dulu. "Aku tidak bisa tanpamu dan yang lain."
"Hm," Tsunade bergumam. "Aku bertanya-tanya siapa yang lainnya,"
Sakura membuang mukanya, malu; mulai lagi godaan Tsunade. "Baiklah, aku pergi keluar dulu." katanya mengalihkan membicaraan. "Aku tidak ingin teman kencanku menunggu lebih lama lagi."
"Hm, good luck."
Blam.
.x.
Sakura mengembuskan napasnya.
Satu keputusan sudah terselesaikan.
Sakura mulai mencari keberadaan Shi lagi, yang tadi didengarnya dari Sasame, ia tidak tahu sudah berapa lama mengobrol dengan Tsunade. Ia keluar gedung, mencari ke taman belakang. Mata hijaunya sempat terpaku pada bulan bulat yang menerangi malam ini, begitu indah menyinari sebagian taman yang tidak terkena lampu-lampu kecil di rumput hias.
Keberuntungan Sakura cukup buruk, ia tidak dapat menemukan Shi, jadi ia melangkah lebih dalam ke taman ke tempat yang dikenalnya, kemudian mata hijaunya akhirnya menangkap seluet pria berambut pirang sedang berdiri dengan kedua tangannya di masukan di saku celana hitamnya.
Sakura terpana memandangnya.
Berapa tahun ia menantikan ini?
Menantikan Shi menunggunya seperti sekarang ini?
Sekarang, pikirannya jernih, ia dapat memerhatikan Shi dengan seksama, pria muda itu berubah cukup drastis, terutama dari tingginya, namun mata hitamnya ketika beradu pandang dengannya tidaklah berubah tetap ada kelembutan di sana—memberitahukan perasaan Shi dari tatapan mata tersebut.
"Kau datang." kata Shi dengan senyum kecil.
Sakura membalas tersenyum balik. "Tentu saja,"
Shi terdiam sesaat, "Kau berbeda."
"Aku?" Sakura kebingungan; kenapa semua orang-orang berkata seperti itu padanya?
Shi mengangguk. "Kau begitu mudah ditebak Sakura. Matamu berkata segalanya." jelasnya. "Kau sekarang lebih tenang."
Tenang?
Sakura tidak mengira Shi akan menilainya seperti itu, mungkin karena ia sudah memiliki keputusan terakhir akan perasaannya jadi tak ada lagi yang membuatnya gundah.
Walaupun keputusan yang dibuatnya tetap menyakiti salah satu di antara mereka, tetap, Sakura bersyukur Naruto serta Shi mencintainya dengan segenap hati.
Naruto dan Shi juga merubahnya menjadi diri yang lebih baik.
Sakura kembali sedikit sedih harus menyakiti mereka.
"Aku ingin mengatakan padamu juga," kata Shi. "Setelah ini, aku akan kembali ke Kyoto."
"Huh?" Sakura syok. "Kenapa?"
"Sejujurnya aku hanya mengambil cuti untuk kemari," kata Shi. "Dan juga untuk memenuhi janjiku." lanjutnya, mata hitamnya menatap lurus mata hijau Sakura. "Aku ingin kau ikut bersamaku kali ini."
Sakura tidak bisa berkata apa-apa; Shi mengambil cuti untuknya? Itu manis sekali. Bohong jika ia tidak senang, ia senang Shi mau memperjuangkannya. Meski begitu ada yang masih mengganjal di hatinya. "Sungguh? Kau ingin aku? Kau kembali karena skandalku bukan karena aku sendiri," katanya. "Apa kau selama ini sendiri? Apa perasaanmu tidak berubah setelah bertahun-tahun?"
"Aku tidak, perasaanku sama—"
"Biar kuperjelas..." Sakura memotong, mata hijaunya menatap lurus mata hitam Shi. "Apakah kau menjalin cinta dengan wanita lain setelah aku?"
"Aku..." Shi kehilangan kata-katanya, untuk sesaat ia diam, menimbang-nimbang harus berbohong atau tidak. "Aku... memang pernah beberapa kali berkencan," ia mengakui. "Tetapi mereka tidak sepertimu, Sakura. Jadi aku berhenti berkencan dan fokus dengan impianku hingga sekarang ini."
Sakura mengembuskan napasnya.
Shi ternyata berkencan dengan beberapa wanita setelah mereka putus, sementara ia terpuruk sendirian, berharap Shi akan kembali padanya.
Sakura tidak bisa menyalahkan, langkah yang dilakukan Shi bagus, mencari pengganti tentu menjadi pilihan yang utama, hanya ia sedikit dilema mengetahui pria muda itu berhenti berkencan karena terus teringat padanya.
Mata hijaunya kembali tertuju lagi pada pria muda di depannya, lalu mengambil napas panjang, dan berkata selembut mungkin. "Perasaanku padamu juga tidak berubah, Shi..."
Bersambung...
Entah satu atau dua chapter lagi mengingat saya cuma membatasi 1-2 ribu word
Haruskah saya membuat dua ending? Lol.
Siapa yang semangat sama lanjutan Mysterious Girl? Karena fic itu update selanjutnya~ saya juga sedikit bosen nulis romance
Thanks for reading...
