Summary: Setelah kedua orang tua mereka sembuh, Naruto mengajak Sakura ke perancis, namun ada hadiah kecil menanti di tokyo/"Aku ingin kau berkencan dengan dia, lalu putuskan perasaanmu sekali lagi."/

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING: Mainstream, Typo, OOC, Mature

"Sungguh?" tanya Shi tidak percaya.

Sakura tersenyum malu-malu. "Sungguh..." kemudian wajahnya berubah dingin. "Itulah yang aku katakan jika kau kembali lima tahun yang lalu."

Shi langsung tertunduk.

"Aku menunggumu selama itu," kata Sakura. "Tapi kau tahu? Fuck it! Aku akan melupakanmu, aku akui sulit, kau yang pernah menemaniku di masa tersulitku, tetapi buat apa aku terus berharap yang tidak pasti?"

"Aku rasa, aku terlambat..." kata Shi.

Sakura menatap Shi tidak percaya. "Tentu saja, kau pikir kau siapa? Aku bukan Putri Tidur yang menunggu seorang Pangeran untuk membangunkanku, aku wanita normal," sindirnya. "Aku berhasil melupakanmu dan kupikir untuk tak memiliki kekasih lagi atau pendamping hidup, tetapi Ino menghancurkan rencanaku."

"Naruto?" Shi menebak.

Sakura mengangguk, "Aku juga sepertimu, aku hanya memanfaatkan Naruto sementara, tetapi aku sesungguhnya hanyalah wanita biasa, yang kuat dari ucapan tapi sejujurnya butuh sandaran. Naruto ada di sampingku saat itu, dia membuatku menjadi wanita spesial lagi, bagaimana rasanya dicintai lagi..."

Shi diam beberapa saat sebelum berkata, "Lalu kenapa kau kemari?" tanyanya. "Kau membuat harapan palsu? Mempermainkan aku?"

"Aku hanya menjalankan tugasku," sahut Sakura polos. "Kau yang memenangkan lelang kencanku lagipula." jelasnya. "Aku bukan wanita yang di level serendah itu sampai membuat harapan palsu," lanjutnya jijik.

"Kau tidak seharusnya melakukannya." kata Shi. "Cukup tidak datang itu sudah cukup jelas."

"Aku hanya ingin mengakhiri semua ini." kata Sakura. "Dan beruntungnya aku mendengar kejujuranmu soal hubungan kita dulu," lanjutnya, wajahnya berubah sedih. "Aku merasa seperti perempuan bodoh, aku terlalu buta untuk melihat realita bahwa kau tidak mencintaiku..."

"Itu tidak benar, hanya awalnya saja," kata Shi.

"Sama saja." kata Sakura dingin; ia tak percaya sudah menghabiskan uang demi Shi yang tidak mencintainya dulu, biarlah, semua sudah berlalu, ia menganggap uang itu juga sebagai donasi untuk Ibu Shi. "Aku sudah punya hubungan sempurna dan kau datang menghancurkan itu semua..."

"Kau bertengkar dengan Naruto?" tanya Shi panik.

Mata hijau Sakura menyipit. "Tentu saja! Kalau kami tidak mana mungkin aku di sini." katanya ketus kemudian wajahnya berubah sedih. "Memang saat Kakak balik, kenangan tentang kita kembali ke pikiranku bahkan itu yang membuat kami bertengkar,"

"Kenangan indah kita?" Shi bertanya dengan polosnya.

Sakura mengangguk. "Tapi ya itu, kenangan hanya akan menjadi kenangan, tidak lebih." katanya. "Aku akan tetap berjalan ke depan, bersama atau tidak bersama Naruto..." yang ia tahu Naruto sedang frustasi padanya.

Hening...

Shi mengulurkan tangan kirinya. "Aku rasa inilah perpisahan kita." katanya.

Sakura terkejut, ia memandang uluran tangan itu sedih; bagaimana pun juga Shi adalah cinta pertamanya, dulu mereka belum sempat putus, sekarang mereka bertemu lagi, dan saatnya juga melepas Shi bersama kenangan mereka berdua. Ia menyambutnya akhirnya. "Aku..." ia berhenti berkata memandang Shi tapi sebentar tidak tahan melihat ekspresi sedih pria muda itu. "Aku, terima kasih sudah menemani dan menjagaku saat sekolah dulu."

Shi mengambil napas dalam. "Aku juga," katanya sedih, ia melepaskan tangan mereka. "Pulanglah, aku tak apa, selesaikan masalah kalian."

Sakura terkejut, "Kakak yakin?" tanyanya memastikan; ia tidak ingin uang donasi itu sia-sia.

Shi mengembuskan napasnya gusar. "Sakura, melihatmu adalah hal yang terakhir kali aku mau."

"Oh," tentu saja, pada akhirnya meskipun mereka berpisah baik-baik, Shi akan berubah membencinya, ia merasa terluka, tetapi tidak ada pilihan yang baik jika masalah lelaki. Ia membungkuk hormat sebelum akhirnya pergi memasuki gedung untuk keluar.

.#.#.#.#.#.#.#.

Sakura langsung ke rumahnya, membuka seluruh pakaian yang dikenakannya, membersihkan make-up di wajahnya dan berbaring di ranjangnya.

Sepi...

Sakura tidak pernah merasa kesepian seperti ini.

Naruto...

Apa yang harus dilakukannya pada Naruto kali ini?

Sebelum mereka berpisah, Naruto menitipkan pesan yang ambigu kepadanya.

"Aku akan menunggumu di tempat di mana kita memulainya."

Sakura tidak bisa memecahkan tempat mana yang Naruto maksud, ada banyak tempat yang mereka singgahi bersama.

"Bagaimana bisa dia memberiku petunjuk serumit itu?" ia mengeluh pelan.

Sakura berpikir lagi.

Mungkin di bar? Mereka pertama bertemu di sana, memulai semua ini.

Ataukah pantai? Di sana pertama kali mereka menjadi sepasang kekasih.

Atau malah Perancis? Di mana pertengkaran mereka di mulai?

Sakura mengembuskan napasnya frustasi.

Jika memang benar salah satu dari itu tempat yang dimaksud Naruto, ia butuh banyak uang dan tak mungkin ia sekarang mencarinya.

"Hm..."

Sakura berpikir lagi.

Mungkin...

Mungkin...

Mungkin tempat yang dimaksud Naruto tidaklah serumit yang ia kira.

Ada satu tempat dipikirannya, tempat di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama selain di apartemen yaitu atap apartemen.

Namun Sakura tidak begitu yakin, kunci apartemen ia yang memegang sementara kunci cadangannya masih ada pada Ino. Ia tidak memberikannya pada Naruto sebab ialah yang selalu di atap duluan menunggu Naruto sekaligus menatap bintang-bintang.

"Kecuali..."

Ino memberikan kunci pada Naruto.

Sakura tadi tidak melihat Ino di gedung, ia langsung pergi mencari Shi waktu pulang pun, matanya terus tertuju ke depan sama sekali tidak menoleh ke sekitarnya.

Sakura bangkit dari tidurnya, ia hanya memakai tank top dan celana levis pendek, karena hari sudah malam, ia menambahkan jaket, sedikit menyisir rambutnya agar sedikit rapih, barulah keluar apartemen dengan membawa kunci beserta harapan di tangannya.

Sakura melangkah perlahan dengan jantung yang mulai bergerak naik seiring dekatnya atap apartemen.

Sakura sempat berhenti untuk mengetuk pintu apartemen Ino meminta untuk ditemani tetapi tidak ada jawaban sama sekali, yang menandakan Ino pergi.

Sakura pun melanjutkan lagi langkahnya, hingga sampai di depan pintu atap. Ia ragu sekarang.

Apa yang harus ia katakan pada Naruto jika memang benar ada di sana? Apa yang akan Naruto ucapkan saat melihatnya lagi setelah sekian lama? Umpatan? Kebencian?

Dan yang paling terpenting, bagaimana jika Naruto ternyata tidak ada?

Sakura rasa lebih mudah jika Naruto tidak ada sebab ia sama sekali belum menyiapkan kata apa yang harus diucapkannya pada pria muda itu.

Sakura memasukan kunci ke dalam lubang, harapannya hilang seketika mengetahui itu bisa masuk, ia memutarnya hingga terdengar bunyi klik, barulah membukanya perlahan, udara malam menyambutnya, menyentuh setiap inci kulitnya yang terbuka membuat ia merapatkan jaketnya.

Sakura berjalan keluar.

Suasana benar-benar sepi, tidak ada siapa-siapa, sepertinya memang bukan ini tempat yang Naruto maksud.

Sakura sedikit kecewa, ia harusnya kembali ke apartemennya, tetapi langit malam hari ini begitu indah, banyak bintang-bintang, jadi ia memandang sebentar dengan bertopang dagu di pagar besi pembatas.

Sakura melirik ke bawah, begitu banyak kendaraan lalu-lalang hanya terlihat cahaya lampunya saja yang berwarna emas.

Sakura mengembuskan napas. Ia harus memulai dari mana dulu besok? Ke pantai? Atau naik pesawat?

"Hm?" tiba-tiba Sakura dipeluk oleh seseorang secara tiba-tiba, ia tidak dapat mengenali parfum beraroma lemon itu. "Lepaskan!"

Namun bukannya dilepas justru semakin erat pelukannya. "Biarkan aku seperti ini satu menit saja..." pintanya sambil menyandarkan dagu di bahu Sakura.

Sakura sendiri membeku di tempatnya berdiri, tidak percaya ia akan mendengar suara pria yang dicintainya lagi, sedekat ini juga. Dari pada menjawab, ia lebih memilih memegang tangan yang memeluknya lembut.

Detik demi detik berlalu, mereka tetap diam, hanya menikmati kerinduan yang telah lama meluap di hati mereka.

Hingga tepat satu menit, Naruto berkata. "Kau tahu tempat ini?"

Sakura membuka matanya. "Aku tahu tetapi tidak mengerti maksud dari katamu sebelum kita..." ia tidak menyelesaikan kata-katanya, tidak ingin mengingat perpisahan mereka.

"Karena di sini tempat kita sering menghabiskan waktu bersama, tempat ini jugalah pertama kalinya kau mulai terbuka padaku..." kata Naruto pelan.

Sakura mencoba mengingat maksud dari kalimat terakhir yang Naruto ucapkan, dan ia teringat sewaktu ia frustasi menyendiri di sini, saat itu Naruto datang, ia yang putus asa takut menghadapi masalah ayahnya akhirnya bercerita masa lalunya pada Naruto, mungkin itu yang dimaksud 'memulai semuanya', ia memang mulai terbuka ke Naruto mengenai masa lalunya.

Sakura melepaskan pelukan mereka, dan berbalik, untuk sementara ia tidak langsung melihat wajah Naruto, tertuju pada dada bidang pria muda itu, di rasa terlalu lama, Naruto berdeham pelan, barulah ia berani memandang mata biru yang dirindukannya.

"Kau di sini sudah berapa lama?" tanya Sakura pelan.

"Semenjak malam kita berpisah," Naruto menjawab santai.

Sakura terkejut, "Jadi kau tidak pulang?" pantas saja ia tidak mengenali parfum Naruto kali ini, dan sekarang ia menyadari bahwa rambut pirang pria muda itu sedikit basah seperti sehabis mandi? Tetapi di mana? Ino?

Naruto menggelengkan kepalanya. "Aku takut malam itu kau bisa menebaknya makanya aku tidak pulang langsung ke sini, dattebayo,"

Sakura menggigit bibir bawahnya.

Jadi selama ini Naruto di sini? Menunggunya?

Sakura langsung menghambur ke pelukan Naruto, memukul pelan dada pria muda itu. "Baka! Kau bisa sakit tahu! Kau harusnya pulang, bukan menunggu di sini! Mana bisa aku memecahkan ucapanmu secepat itu!?"

Naruto menangkap tangan Sakura, meletakannya di dada kirinya. "Kalau di setiap detik ada kesempatan untukku bisa bersamamu, tidak apa, aku rela melakukannya, dattebayo."

Hati Sakura meluap mendengarnya, air mata yang ditahannya akhirnya tumpah membasahi pipinya; ia tidak percaya Naruto masih mau menunggunya setelah apa yang ia lakukan. Berpikir, ia akan kehilangan Naruto seperti di sebuah manga terkenal.

Naruto menghapus air mata di pipi Sakura. "Apa kau tahu betapa aku membenci melihat kau menangis?" tanyanya.

Sakura yang masih terisak berkata pelan, "Aku bukan menangis sedih, tapi bahagia, Naruto..."

"Sepertinya kau sudah memutuskan ya?" tanya Naruto sedikit gugup, tentu Sakura datang ke tempatnya tetapi bukan berarti wanita muda itu akan memilihnya, bisa saja untuk mengatakan selamat tinggal kemudian lari ke pelukan Shi seperti mimpi buruknya akhir-akhir ini.

"Memutuskan apanya, Naruto?" Sakura bertanya balik polos. "Karena sejak awal memang kau lelaki yang aku cintai..." ia mengungkapkan dengan rona di pipinya.

Hening sesaat...

Sakura jadi gugup, berpikir apakah ucapannya tadi tidak terdengar, ia hendak berkata lagi namun, terpotong dengan Naruto memeluknya kemudian memutarnya dengan cengiran khasnya di bibirnya.

Naruto melepas pelukannya. "Kau membuatku bahagia, Sakura."

Sakura menggelengkan kepalanya. "Kau yang membuatku bahagia, Naruto."

Naruto tersenyum malu-malu sebelum kemudian serius lagi. "Dia tidak menyentuhmu kan?" tanyanya sambil mengecek leher Sakura dengan seksama. Bersih. Seketika ada keinginan untuk memberikan gigitan di leher Sakura, memberikan tanda bahwa wanita muda itu ada yang memiliki dan juga sebagai balasan telah berpaling padanya selama dua hari.

Naruto ingin Sakura merasakan betapa tersiksanya dirinya menunggu selama tiga malam dua hari di sini, berharap cemas apakah Sakura tidak mengerti pesannya, tidak memilihnya...

"Hah?"

"Kau tahu siapa," kata Naruto enggan menyebut nama Shi, tidak ingin kebahagiaan mereka ternoda dengan nama terkutuk itu. "Dia tidak menyentuhmu kan?" tanyanya sekali lagi.

"Tidak, untuk apa? Aku menyukaimu bukan dia," sahut Sakura.

Mendengar sekali lagi Sakura mengutarakan perasaannya membuat Naruto yakin bahwa ini bukanlah mimpi. "Bagus, karena aku akan menghapus semua jejaknya di tubuhmu jika benar."

"Menghapus jejak!?" Sakura merona mendengarnya, ia tidak bermaksud yang tidak-tidak tetapi ucapan Naruto kembali memancingnya berpikir ke sana.

Naruto mengangguk, "Karena kau tampaknya jujur kali ini, aku percaya." katanya. "Sudah lama kita tidak memandang bintang bersama, kau mau?"

Sakura mengangguk tanpa berpikir lagi.

Memandang bintang setelah mereka kembali lagi menjadi kekasih tidaklah buruk...

Tamat...

Note :

Happy ending... ?

Ya, happy ending... ?

Ga ada adegan cakar? Tendang? Tampar? Bacokan(?)

Ciuman? Adegan ranjang?

Ga, emang gitu...

Utang lunas... Huwaaa... #terharu

Di bagian akhir saya jadi nulis karakter NaruSaku di manga, haduh maklum NS garis keras :')

Sejak awal saya buat ini, memang Shi ga bakal berperan besar, dia cuma jadi pengingat Sakura buat melangkah ke depan, Shi yang buat Sakura takut buat melangkah serius sama Naruto, ya kalian tahulah mereka itu dulu mau kawin lari loh :D

Perpisahan dan pertengkaran, saya buat mereka berkembang kalau masih ada masalah yang belum selesai

Naruto ga cemburuan, Sakura bisa berpikir ke depan klo hubungan serius itu ga se-mengerikan yang dia kira.

Buat yang pengen mereka pisah, ya mungkin kalian kecewa? Ya mau bagaimana jg Sakura emang dasarnya masih tetep cinta :/ dia kan cewe kuno wkwkwk...

Terima kasih sudah membaca fiksi ini hingga akhir...

Saya rasa mungkin Tie bakalan marah karena saya ngasih spoiler bad ending ke dia yang padahal isinya itu ngawur semua wkwkwk... Ya kali saya buat Naru nge-gay sama Sasu di ending? Adek saya satu ini polosnya ya... :p

Oh, ya jika kalian maen di MangaToon, kalian bisa cek novel saya :D nama pena saya di sana nona_g atau kalian bisa cari novel saya berjudul Sweet Revenge, nanti juga muncul kok :)

Ada bonus 1 chapter lagi... Fluff kok... ;) Atau ecchi? Wkwkwk...

Review ya...