Chapter 2 : Welcome to Glade
Keesokan harinya Jeff datang lagi untuk mengganti perban gadis itu. Beruntung gadis itu tidak mengalami patah tulang meski banyak darah yang keluar dari siku lengan kirinya.
"Sudah lebih baik?" tanya Jeff setelah selesai memasang perban.
Gadis itu mengangguk.
"Baguslah kalau begitu. Mungkin akan memakan waktu seminggu agar bisa benar-benar sembuh" Jeff meletakkan obat kembali ditempat seharusnya sebelum beralih pada gadis itu lagi. "Ikutlah denganku, kau sudah terlambat makan siang. Kau tidak ingin perutmu sakit lagi bukan?"
'mengapa mereka memperlakukanku dengan sangat baik? Apa untungnya bagi mereka?'
Tanpa mendapat jawaban si gadis raven hanya mengikuti Jeff menuju tempat biasanya mereka makan. Ada beberapa bangku panjang berjejer dibawah pepohonan rindang. Disana sepi karena sekarang memang bukanlah jam makan siang, para Glader yang lain sudah kembali berkutat dengan pekerjaan masing-masing. Beberapa sedang beristirahat.
Alby tengah bercengkerama dengan seseorang berbadan gemuk dengan kulit hitam legam yang wajahnya terlihat lebih muda dari si ketua Glade itu, ketika Jeff membawa gadis itu mendekati keduanya.
Jeff kemudian meminta gadis raven duduk ditempat yang sudah tersedia makanan diatas meja panjang, tepat dimana Alby dan laki-laki gemuk itu berada.
Alby berterimakasih pada Jeff sebelum pemuda itu pergi, lalu menatap gadis raven yang sudah mendudukkan diri di depan makanan itu.
"Merasa lebih baik?" tanya Alby.
Dia mengangguk.
"Good. Makanlah, Frypan memasaknya untuk menyambut kedatanganmu" kepala Alby berkedik pada laki-laki disampingnya, yang dipanggil dengan nama Frypan. Dia memakai celemek, sesuai dengan pekerjaanya sebagai Keeper Kitchen.
Sup itu terlihat masih mengepul. Gadis itu pun mulai memakannya sementara Alby dan Frypan kembali mengobrol. Sesungguhnya rasa sup itu agak aneh dan membuat wajah gadis itu berkerut. Wajar saja, mungkin karena laki-laki yang memasaknya.
"Albyyy!" seseorang berlari mendekat tergopoh-gopoh. "Ada masalah!"
"What is it, Dmitri?" tanya Alby.
Laki-laki itu berhenti sambil mengatur nafasnya. "Builders berniat menebang salah satu pohon di hutan untuk dijadikan dinding toilet dan salah satu pohonnya ambruk mengenai Rob. Kakinya terluka"
"Dimana mereka?" Alby berdiri. "Fry, panggil Med-Jacks"
Frypan mengangguk dan berjalan kearah Medic Room.
"Follow me" ucap pemuda itu meminta Alby mengikutinya menuju hutan.
Alby menoleh gadis baru itu, "Greenie, jika kau sudah selesai carilah pemuda bernama Newt, rambut blonde dan jalannya pincang, katakan Alby yang mengirimmu padanya. Dia akan menjadi guide-mu menggantikanku hari ini"
Gadis itu hanya mengangguk cepat-cepat karena takut melihat Alby dalam mode serius. Beberapa saat selanjutnya hening, karena Alby dan Frypan menghilang.
"Hey, Greenie" sebuah suara menyapa dari arah belakang yang membuat gadis raven menoleh. Seorang pemuda—tentu saja—tinggi dengan rambut dirty-blonde sedang berjalan pincang kearahnya. Senyum tiga jari tak lepas dari wajah tampannya. Dia, pemuda bersurai dirty-blonde itu, adalah wajah pertama yang gadis itu lihat. Newt.
Entah mengapa rasa senang melihat wajahnya marasuki gadis itu. Mungkin karena sejauh ini dia wajah paling tampan yang ia lihat. Atau mungkin karena sikap lembutnya? Tunggu dulu, jangan menilai orang lain jika belum benar-benar mengenalnya.
"Aku dengar kau terjatuh dari Tower kemarin. Kau baik-baik saja?" tanya Newt.
Cepat sekali beritanya beredar.
Gadis itu mengangguk, tak bisa berhenti menatap wajahnya.
"Aku tahu seperti apa rasanya jatuh dari ketinggian" dia tersenyum kalem. "Name's Newt, by the way. Second-in-command. Kita belum sempat kenalan waktu itu. Aku menggantikan Alby melanjutkan tour-mu di Glade karena dia harus menyelesaikan suatu hal" dia menjulurkan tangan kanannya seperti saat itu.
Rupanya Alby sudah bertemu dengannya lebih dulu, sebelum gadis itu sempat mencarinya.
Gadis raven menerima jabatan tangan itu tanpa menjawab.
"Seperti yang mereka bilang, kau tidak banyak bicara, ya?" Newt terkekeh pelan. "Jangan khawatir, kau akan mengingat namamu dalam beberapa hari"
Itu yang selalu mereka katakan.
"Kau masih makan? Habiskan dulu, sebelum aku mengajakmu berkeliling"
.
.
"Greenie, dia Winston—Keeper of Slicers" Newt mengenalkan gadis itu pada laki-laki berambut gelap yang lebih pendek dari si rambut pirang ketika kami berada di tempat yang mereka sebut Bloodhouse.
Dari sana Winston mulai menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Slicers, mulai dari mengurusi hewan ternak yang dikirim bersamaan dengan anak baru lewat box, sampai cara menyembelih jika hewan-hewan itu sudah cukup dewasa untuk bisa dikonsumsi.
"Kau tidak akan menyukai tempat ini, Greenie. Selain karena kau seorang perempuan, tempat ini juga bau dan terlalu banyak darah. Tapi aku akan tetap menerimamu jika kau ingin bekerja disini" ucap Winston setelah selesai menjelaskan.
Terik matahari mulai melembut pertanda sore telah menjelang ketika Newt membawanya ke ladang—tempat dimana Track-Hoes bekerja. Newt kemudian menyebutkan bahwa dirinya juga banyak menghabiskan waktunya di tempat itu sebagai Track-hoes. Ia mengenalkan Zart—Keeper Track-Hoes. Pemuda itu memiliki rambut light-blonde. Zart, pemuda yang memberikan biliknya untuk ditinggali si Greenie sementara sampai biliknya sudah dibangun.
Di banding dengan tempat-tempat sebelumnya yang sudah Newt tunjukan, gadis itu terlihat lebih tertarik berada di ladang bergulat dengan sayuran hijau, buah matang dimana-mana, dan juga bunga.
'Bunga' ia terkejut mengapa ia suka bunga. Heh, ia bahkan lupa apa saja yang pernah ia suka. Oh, ia bahkan lupa siapa dirinya sendiri.
.
.
"Bagaimana sejauh ini, Greenie?" tanya Newt saat mereka berdua kembali ke tempat Frypan. Ia sudah membawa gadis itu ke semua tempat di Glade termasuk mengenalkannya pada Gally—Keeper of Builders, dan Jim—Keeper of Slopper, dan masih banyak lainnya yang tidak ia ingat.
Glader yang lain tengah makan malam di meja panjang yang lainnya—karena Newt tak membolehkan mereka duduk di meja si gadis raven berada. Newt menyadari gerak-gerik gadis itu yang merasa tak nyaman saat para Glader itu menatapnya. Newt pemuda yang cukup peka, dan dia peduli dengan orang lain lebih dari ia peduli pada dirinya sendiri.
'Aku tak tahu. Aku merasa tak akan banyak membantu dimanapun aku berada. Aku terlalu takut tak akan sesuai dengan salah satu dari mereka. Tapi... kurasa Track-Hoes tidak buruk...' Gadis itu berkutat dengan pikirannya sendiri.
'Dia masih belum mau bicara' pikir Newt.
"Kau bisa mengatakan padaku mana yang paling membuatmu nyaman. Track-hoes? Cooks?—" Sepertinya Newt memberinya keringanan berhubung dia seorang perempuan.
"—Track-hoes" sela gadis itu. yang kini wajahnya sama terkejutnya dengan Newt karena baru pertama kali mendengar suaranya. "—I think"
Newt berhenti mengunyah, mungkin karena senang mendengarnya mau berbicara, atau senang karena gadis itu akan bekerja bersamanya di ladang, atau terkejut mendengar suara halus itu.
'That's a pretty voice' pikir Newt ada dirinya sendiri.
Tersenyum, Newt mengangguk. "Alright"
Mata gadis itu lalu menatap kebelakang Newt, kearah beberapa Glader yang menatap kearah mereka berdua, mungkin tengah membicarakannya. Gadis itu menunduk tidak suka.
Newt yang melihat tingkah gadis itu pun ikut menoleh kebelakangnya dan membuat para Gladers itu berhenti menatap. Lalu ia kembali mentatap gadis itu yang memainkan 'makan malam Glader' pertamanya itu tak berselera. Heran, mengapa yang lainnya memakannya dengan lahap. Mungkin itu faktor lelah setelah seharian bekerja. Bagaimanapun cara memakannya, makanan itu tetap saja terasa tidak sesuai di lidah.
"Kau akan mulai bekerja jika lenganmu sudah bisa digerakkan"
Gadis itu menatap Newt yang sibuk menghabiskan makan malamnya. Ia berpikir apakah Newt sengaja memberinya keringanan, karena menurut penjelasan yang pernah Alby katakan padanya semua anak baru akan ditempatkan di pekerjaan yang sesuai dngan keahliannya. Lalu kenapa Newt memberinya pilihan?
Dari arah tempat Frypan memasak, seorang pemuda berambut pure-blonde lurus berjalan membawa nampan penuh makanan mencari tempat duduk yang masih kosong. Sayangnya cuma tempat duduk Newt dan Greenie Girl yang terlihat masih sangat longgar. Pemuda itu terlihat agak ragu, dari raut wajahnya ia tahu alasan Newt yang sengaja membiarkan bangku disana hanya di duduki dua orang saja. Mereka berdua terlihat sudah menyelesaikan makan malam mereka, oleh karenanya pemuda itu memutuskan untuk berjalan mendekat.
"...Mind if i join?" tanya pemuda yang tingginya masih dibawah Newt itu sopan. Gadis itu melirikkan obsidiannya pada Newt dan tak bisa membaca pikiran pemuda pirang itu, ia balik menatap gadis itu sebentar lalu beralih pada pemuda yang baru datang tadi. Newt menggumam 'tentu' lalu merapikan piring miliknya dan milik gadis raven yang sudah kosong.
Pemuda pirang itu duduk disebelah si Greenie dan tersenyum antara menyapa dan juga canggung. Gadis itu menatapnya kikuk sebelum ucapan Newt mengalihkan perhatiannya.
"Aku segera kembali" Newt berdiri, membawa piring kotor kedapur.
"Hei," sapa pemuda itu.
Gadis itu mengangkat sudut bibirnya membalas sapaannya.
"I'm Mihai" tambahnya.
Gadis raven mengangguk sembari mengingat nama pemuda itu. Pemuda berambut light-blonde lurus itu lalu mengerutkan alisnya bingung.
"You haven't remember your name yet?" tebaknya. Gadis itu hanya menggeleng pelan.
"Ah..." Mihai mengangguk mengerti.
Kemudian diam. Mihai mulai sibuk dengan makan malamnya dan gadis itu hanya memainkan permukaan meja dengan telunjuk jari menunggui Newt yang janji akan kembali.
"I see you met Mihai already, Greenie" Alby datang dan langsung mendudukkan diri di depan gadis raven dan juga Mihai. "He's one of the Slopper. Don't worry, he's a good guy" Alby tertawa sambil menepuk pundak Mihai.
Setelah bercakap sebentar Alby lalu mulai berbicara tentang banyak hal dengan pemuda pirang disampingku, membuat gadis itu kembali merasa canggung. Melihat Alby, sepertinya ia adalah orang yang selalu seperti ini, disenangi banyak Glader. Mihai bahkan terlihat begitu terbuka dengan si pemimpin Glade yang satu ini. Semua Gladers terlihat begitu terbuka dengannya seakan ia adalah sosok kakak laki-laki bagi mereka.
Gadis itu beralih kearah lain sambil menggigit bibir bawahnya bosan merasa tak ada yang harus dilakukan. Matanya menatap kearah Hammock, tempat dimana beberapa Gladers beristirahat.
'Apakah aku juga akan tidur disana malam ini?'
"Kau akan tidur di Homestead. Tak akan ada yang berani macam-macam denganmu" seakan membaca pikiran gadis itu, Newt tiba-tiba muncul disebelah Alby.
"Come on, sepertinya Jim sudah selesai merapikan Homestead untukmu" Newt mengajak gadis itu menuju Homestead.
Alby tersenyum, menatapnya bangga. "That's my boy" candanya sambil mengacak rambut Newt main-main. Newt menyeringai lebih pada dirinya sendiri. Bahkan Newt sudah menganggap Alby seperti kakaknya sendiri melihat betapa akrabnya mereka.
Gadis itu berdiri, lalu berjalan disamping Newt menuju Homestead. Berbeda dengan Hammock yang terbuka, Homestead dibangun hampir sama dengan bangunan Med-Jacks yang tertutup rapat.
Sampai di pintu utama Homestead, mereka berdua sudah di sapa oleh Jim—Keeper of Slopper yang sedari tadi duduk di bangku depan Homestead bersama dua orang temannya.
"Hey, Newt" sapanya berdiri dari tempat duduk.
"Hey" sapa Newt balik sambil tersenyum.
"Sudah kurapikan khusus untuk Greenie baru kita sesuai permintaan Alby" jelasnya menunjuk kedalam Homestead dengan ibu jari. Jim menatap gadis itu sebentar.
"Yea, thanks for that" kata Newt, membuat gadis itu mendongak menatapnya. Ia berpikir sebegitu mudahnya para Gladers mengucapkan kata terimakasih. Itu memunculkan rasa salut dengan mereka.
"Katakan padaku jika kau perlu sesuatu untuk bilikmu" kata Jim pada gadis itu.
Setelahnya Newt pun meminta gadis itu mengikutinya. Mereka berjalan dikoridor dengan kanan kiri berjejer pintu bilik. Mereka berhenti di tengah koridor.
"Ini ruanganmu. Semua box berisi pakaianmu sudah di dalam. Ruanganku tepat berada di depanmu, ketuk saja kapanpun jika butuh sesuatu" jelas Newt sambil membuka pintu bilik gadis itu.
Di dalamnya cukup rapi; ada tempat tidur, meja kecil dengan dua box diatasnya beserta sebuah selimut.
"I'll let you rest, then" Newt menggaruk pipinya yang tidak gatal lalu berbalik hendak menutup pintu.
"Thanks—" gadis itu berdiri di tengah ruangan menatap Newt. Terkejut kembali mendengar suara itu, Newt menoleh. "—Newt." tambah gadis itu.
'Dia memanggil namaku' bibir Newt tertarik keatas membentuk senyum manis. Ia mengangguk kalem.
"Jangan lupa kunci pintunya dari dalam" peringatnya. "Good night"
Grep. Newt pun menutup pintu itu. Ia berdiri di depan bilik gadis raven dengan senyum lebar diwajahnya. Sepertinya malam ini ia tidak akan bisa tidur nyaman.
'Good night, Newt'
. . . . .
. . . .
. . .
. .
.
Pull me up, pull me in, safe and sound
Over fields of all the lands that we had laid.
Pushing like air through all the cracks
Of every stone and every wall
That ever dared to block our way
(Shelby Merry – When The Darkness Comes Part II)
