KAI

Aku enggan mengakui, tapi ketika pagi tiba, perasaanku sudah jauh lebih baik. Oke, aku mungkin masih merasa sedikit kosong di dalam hatiku, tapi pikiranku tak lagi berkabut. Aneh juga, memikirkan bahwa aku sudah mencintai Park Chanyeol selama empat tahun dan aku menyayangi Do Kyungsoo seumur hidupku, harusnya pengkhianatan mereka akan mengaburkan otakku lebih lama dari ini, mungkin satu tahun atau satu bulan. Tapi ini belum lagi satu minggu dan aku sudah merasa diriku baik-baik saja. Sebaik yang bisa seseorang lakukan setelah dikhianati oleh dua orang yang paling dekat dengannya.

Aku merenggangkan badanku sambil menguap lebar-lebar, tidurku tadi malam juga bukan main lelapnya. Begitu lelap sampai aku sama sekali tidak terjaga hingga pagi tiba. Ketika ku palingkan wajahku ke samping, mataku menangkap setelan jas yang ku pinjam dari Sehun dua hari yang lalu. Setelan itu sudah tercuci dan tersetrika rapi, siap untuk di kembalikan kepada pemiliknya. Senyumku terkembang ketika memikirkan bahwa nanti aku akan pergi ke apartemen Sehun untuk mengembalikan jas ini.

Harus ku akui, aku begitu menimati waktu yang ku lewatkan bersama laki-laki pucat itu, meskipun pada waktu itu keadaannya kurang mendukung.

Dengan semangat yang meletup-letup, aku bangkit dari tempat tidurku dan memasuki kamar mandi dengan senandung ringan keluar dari bibirku. Ah, aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Sehun!!

***

Ketika aku memasuki ruang makan dan mendapati semua keluargaku sudah disana dengan lengkap, aku tersenyum lebar. Dan mereka tampak terkejut mengetahui bahwa aku bisa tersenyum selebar itu. Tidak setelah beberapa hari yang lalu aku menimbulkan keributan di rumah ini dengan menghilang seharian penuh tanpa kabar.

Tanpa menghiraukan tatapan keheranan mereka, aku duduk dan mulai mamakan roti sandwich yang di buatkan ibuku.

"Mau kemana?" ayahku tiba-tiba bertanya. Mungkin saja heran, melihat anaknya yang sudah berpakaian rapi padahal ini hari Sabtu dan masih pagi pula. Pertanyaan ayahku seakan bergema di mata Ibu dan kakak perempuanku, yang juga menatapku seakan menuntut jawaban.

"Pergi ke rumah temanku. Aku harus mengembalikan setelan jas yang ku pinjam darinya waktu aku menghadiri pernikahan Kyungsoo." Mata Ibuku makin melebar dengan heran ketika aku menjawab pertanyaan itu dengan tawa lebar hingga gigi-gigiku terlihat.

Oke. Mungkin aku tidak seharusnya berprilaku seceria ini. tapi, aku enggan bersedih-sedih setelah 3 hari ku lewati dengan perasaan kacau balau. Dan sepertinya mereka sedikit banyak mengerti, karena begitu aku menyelesaikan sarapanku dan bangkit dari kursi meja makan tersebut, mereka kembali menatapku seperti biasanya. Seakan tak terjadi apa-apa. Dan aku sangat bersyukur karenanya.

"Aku pergi dulu, ya…" ku peluk mereka satu-satu sebelum aku keluar dari rumah itu dengan sedikit berlari.

***

SEHUN

Sudah dua hari berlalu sejak aku mengantar Kai hingga ke rumahnya. Sudah dua hari pula wajah Kai tidak meninggalkan pikiranku. Aku membayangkan bagaimana wajah Kai yang mengkerut dengan kesedihan, bagaimana dia tertawa ketika dia mengatakan kerja tim kami sangat memuaskan, dan emosi kasih sayang Kai yang masih bisa ku rasakan sampai sekarang. Emosi yang membuat aku kini terbaring dengan lemas di sofa apartemenku dengan perasaan lapar yang tak ada hubungannya dengan perut kosong.

Aku menelan ludah lagi dengan kasar. Dan, sialnya, sudah dua hari pula aku berprilaku seperti orang dehidrasi. Seolah aku berada di gurun pasir yang amat sangat luas tanpa satu pun oase yang terlihat.

Barangkali sebaiknya aku menemui dokter, tapi aku sangsi dokter akan mampu mengidentifikasi kenapa ada orang yang hampir mati kelaparan dan kehausan akan emosi kasih sayang. Mungkin saja aku memang kekurangan kasih sayang.

Aku menghembuskan nafas pelan dengan lelah ketika pikiran absurd itu menghinggapi otakku. Ku rasa aku akan segera gila apabila aku tidak segera merasakan emosi itu lagi. Seandainya saja aku bisa merasakan emosiku sendiri lewat sentuhan. Tapi, aku juga sangsi aku memiliki emosi kasih sayang seperti Kai itu.

Dengan frustasi, aku bangkit dari sofa itu dan mulai berjalan mondar mandir di ruang tamu yang tak terlalu besar itu. Aku sudah memutuskan akan pergi keluar saja, ketika pintu bel apartemenku berbunyi. Memutuskan bahwa itu mungkin adalah pendiktraksi yang ku perlukan, aku buru-buru berjalan ke pintu dan membuka pintu tersebut.

Dan, yang berada di balik pintu itu bukan cuma sekedar pendiktraksi, tapi penawarku. Kai berdiri disana dengan senyum ragu-ragu namun juga begitu bersinar. Dia mengenakan sweater berwarna peach dan jins boyfriend. Sepatu ketsnya yang berwarna putih itu membuat keseluruhan penampilan dan kehadirannya begitu tak tertahankan. Aku harus menahan seluruh tubuh dan hasratku agar tidak langsung menarik Kai ke dalam pelukanku.

"Hai, Sehun," sapanya dengan senyum yang memperlihatkan gigi-giginya yang tersusun dengan demikian manis. Fuck, aku sudah tidak tertolong. Bahkan giginya pun terlihat begitu imut.

"Hai," sapaku balik. "Ayo, masuk."

Dan dengan gerakan kasual, aku menarik jari-jari tangannya untuk membawanya ke dalam apartemenku. Alasan untuk sekedar menyentuh kulitnya. Dan ketika ku rasakan emosi itu kembali memenuhiku lewat koneksi jariku dengan jari-jarinya, seluruh sistem tubuhku mengerang dengan kenikmatan tiada tara. Aku harus mengatupkan bibirku dengan demikian kuat agar aku tidak mengeluarkan suara-suara tidak senonoh yang mungkin akan diartikan lain oleh Kai.

Kai mengikutiku dengan patuh. Dan aku masih belum melepaskan tangannya, tidak sampai aku puas meneguk emosi yang sudah membuatku kelaparan selama dua hari ini. Tapi, ketika akhirnya kami duduk di sofa, aku tidak memiliki alasan lain lagi untuk menggenggam tangan Kai. Aku melepaskannya dengan terpaksa, dan aku melihat rasa ingin tahu yang melintasi mata Kai. Aku mengutuk diriku dalam hati.

Sekarang aku terlihat seperti orang yang haus sentuhan.

"Apa kau selalu menyuruh orang lain langsung masuk ke rumahmu, seperti tadi? Tanpa menanyakan maksud kedatangan mereka?" suara Kai sarat rasa ingin tahu.

Oh, oh, sayang. Tidak. Hanya saja, kau itu kasus khusus.

"Tentu saja, tidak," sahutku segera sebelum Kai curiga lagi. "Tapi, kenapa kau kesini?"

Kemudian, Kai tertawa, barangkali menertawakan pertanyaan yang terlambat ku tanyakan. Dia mengangkat tas karton yang sedari tadi dia jinjing. "Setelan jasmu,"

Dia kemudian menyerahkan tas itu ke pangkuanku. Dia tampak puas sekali ketika aku diam saja menerima kertas katon itu. Ku tatap wajahnya dengan seksama, memperhatikan bagaimana mungkin ada orang yang tega menyakiti makhluk secantik dan sebaik ini, semanis ini? Sehun yakin Park Chanyeol akan menyesal cepat atau lambat. Tapi, Sehun akan pastikan bahwa Kai akan selalu berada di luar jangkauannya.

Aku tidak menyadari bahwa kini Kai sudah memerah karena jengah ku tatapi selama itu. Dengan warna merah muda itu menghiasi pipinya, dia jadi semakin indah. Fuck! I need to feel him.

Dengan segera tanganku terangkat untuk menyentuh pipinya. Dan percikan emosi itu masih begitu memukau. Begitu menggiurkan. Ku lihat Kai membelalak karena kaget, tapi dia masih belum menyingkirkan tanganku. Aku mencari, mencari sedalam yang aku bisa, sejauh yang aku mampu, batas dari emosinya itu. Tapi, aku tak menemukannya.

Kai terlonjak sedikit ketika aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Tidak cukup dekat, cukup untuk melihat bahwa Kai begitu kebingungan dengan situasi ini. Aku tidak membiarkannya berpikir terlalu lama, karena sedetik kemudian aku mengecup keningnya dengan takzim. Seakan aku sedang mencium kening seseorang yang begitu suci, begitu mulai. Tapi, Kai memang seperti itu.

"Kau… kau hadiah untuk dunia ini, Kai. Untuk duniaku,"bisikku. Dan ku rasakan tangan Kai menggenggam jemariku yang masih berada di pipinya, menepuknya dengan pelan. Aku, kini, memiliki akses yang tak terbatas untuk mereguk kasih sayang Kai.

Dan ketika aku menjauhkan wajahku dari wajahnya, ku lihat matanya sudah berkaca-kaca. Dengan panik, aku berusaha menenangkannya dengan membelai rambut belakangnya dengan pelan. Aliran emosi yang aku tidak bisa indentifikasi namanya, menyeruak ke dalam pembuluh nadiku, seperti virus yang tersebar dengan cepat. Aku makin panik, aku benci ketika aku tidak bisa mengidentifiksikan sebuah emosi. "Kenapa kau menangis?"

"Aku tidak menangis," sahutnya. Benar juga, dia hanya berkaca-kaca.

"Tapi, kau berkaca-kaca."

"Aku tahu! Kau…kau membuatku merasa seakan aku begitu berharga. Dan itu…itu…aku tidak biasa diperlakukan dengan begini baik."

Oh…oh…mungkin saja yang tadi itu emosi dihargai? Adakah emosi seperti itu? Emosi apa???

"Tidak juga Park Chanyeol?" Tanyaku, berusaha untuk mencari tahu apa yang berada dalam pikiran laki-laki di hadapanku ini.

Kau memandangku dengan takjub, "Kau mengingat namanya?"

Kini emosi tak di kenal tadi tergantikan oleh perasan sayang, kasih sayang yang sudah termanipulasi dengan kesubjektifan. Kai menyayanginya.

Aku meringis, enggan mengakui bahwa aku begitu marah dengan laki-laki yang mencampakan Kai itu, "Yeah."

Kai tersenyum, kemudian memindahkan tanganku dari pipinya, tapi aku menolak. Merasakan keenggananku untuk memindahkan tanganku, dia akhirnya menyerah dan membiarkanku menggenggam tangannya, "Park Chanyeol itu orang baik, Sehun."

"Bah! Dia itu lebih brengsek dari semua lelaki brengsek yang ku kenal!" sahutku, emosi.

Kai tertawa melihat reaksiku yang berlebihan, "Dia itu, dulunya, orang baik. Sebelum dia jatuh cinta dengan Kyungsoo."

"Kai, Kai," Panggilku, yang membuat dia menatapku dengan penasaran dan aku tersenyum kembali. Dari emosinya, Kai tampaknya sedang senang. Dan aku senang dia merasa seperti itu. "Kau berhak untuk marah, kau tahu?"

Ketika emosi Kai mengatakan bahwa dia senang bahwa Sehun mengerti, emosi kasih sayangnya menyaring itu. Melembutkannya. Dan akhirnya keluar dengan kata yang dia rasa pantas. "Dia, dia memang pengkhianat."

Dan aku tertawa mendengar itu. Cukup puas.

*** TBC ***



NOTE:

I AM SORRY!!!!!!!!

Aku mengabaikan ceritanya ini selama bertahun-tahun (menangis sedih). Kemarin aku sibuk banget sama perkuliahanku, skripsian dan segala seminar dan sidangnya. Syukur, sekarang sudah sarjana. HAHAHAHAHAHA

Oke, cukup.

Aku baru punya waktu buat update sekarang. Maaf banget buat kalian yang udah ngikutin cerita ini, tapi jadi lama nunggu kelanjutannya. Sekarang, aku lumayan punya waktu untuk ngelanjutin cerita ini, siapa tau ada yang nunggu. Hehehe.

Anyway, thanks banget buat yang sudah follow, like dan juga komen di cerita ini. aku begitu menghargai kalian!! Aku cinta kalian!!

Semoga masih ada yang nunggu cerita ini yaa….

Salam dariku, Kai dan Sehun. Kata mereka, jangan berhenti untuk shipperin mereka wkwkwkk

See you next chapter!!!! 3