Chapter 2

Household

.

ChanBaek

.

Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.

.

Rating : T

.

Happy Reading

.

.

Chanyeol menatap Baekhyun tanpa kedip, sementara Baekhyun hanya sesekali mencuri pandang pada lelaki tinggi itu setelah keduanya saling berjabat tangan. Tampan sih, tinggi juga tapi maaf-maaf saja Baekhyun tidak tertarik. Dia sukanya dengan Kai, laki-laki manis jago dance dan calon dokter muda itu. Gara-gara ibunya bilang Chanyeol akan segera tiba ke Korea Baekhyun harus memutuskan hubungannya dengan Kai, ngakunya.. padahal mereka sedang backstreet.

"Ehem.." dehem Sooyoung—ibu kandung Chanyeol terdengar. Chanyeol mendengus, sedikit tidak rela mengalihkan pandangannya dari sosok cantik Baekhyun, dia sangat tergila-gila pada Baekhyun, dua pasang suami istri disana tahu persis akan hal itu tapi Sooyoung memintanya untuk tetap jaga image dan stay cool agar Baekhyun tidak ilfeel melihatnya.

"Haneul bilang kau sangat menyukai cookies coklat, ya? Ini.." Sooyoung mengeluarkan beberapa keping cookies coklat ukuran sedang yang dikemas dengan plastik cantik dari dalam tasnya. "Aku belajar membuatnya sendiri khusus untukmu."

Baekhyun menerimanya dengan mata berbinar-binar yang ketara jelas, kue favoritnya.. "Terima kasih, bibi." ucapnya sepenuh hati.

Sooyoung tertawa mendengar panggilan Baekhyun untuknya. "Mama Park saja bagaimana?"

"Neh?—oh, tentu saja, mama Park."

"Manisnya calon menantuku." goda Sooyoung menoel dagu anak itu yang membuatnya agak terkejut, jadi teringat dengan noona-noona berpakaian minim di bar yang hobi menoel-noel dagunya. "Aku akan pergi ke dapur untuk membantu Haneul menyiapkan makan malam. Kalian mengobrol saja.."

Chanyeol celingak celinguk, setelah memastikan Sooyoung sudah menjauh senyum lebarnya segera mengembang. "Emm, Baekhyun—"

"Aku akan pergi minum kopi bersama para ayah." belum sempat Chanyeol bicara Baekhyun dengan seenak jidat menyela, tidak tahu saja jika Chanyeol sudah bersabar menunggu kesempatan sampai mereka berduaan, niatnya ingin memodusi bocah itu.

"Kau tidak bisa minum kopi, Baekhyun." ucapan Chanyeol membuat langkah Baekhyun berhenti dan berbalik, tahu persis Baekhyun kurang cocok dengan minuman berkafein itu.

"Darimana kau tahu?"

"Aku tahu segalanya tentangmu, ya meskipun kita belum pernah bertemu sebelumnya." nah, sekarang Baekhyun jadi penasaran.. anak itu kembali duduk manis di sofa ruang tengah mansion Byun.

"Ibu memang tidak adil. Dia selalu mengupdate apapun tentangku padamu tapi tidak pernah sekalipun memberitahuku tentang sosokmu. Kupikir kau anak perempuan."

Astaga, dia curhat..

"Apa yang membuatmu penasaran kau bisa langsung menanyakannya padaku sekarang." ucap Chanyeol.

Baekhyun sekali lagi menilik penampilan Chanyeol dari atas hingga bawah. Tinggi badan Chanyeol membuat Baekhyun iri, rambut hitam yang dinaikkan hingga memperlihatkan jidat seksinya, mata bulat yang jernih dan berseri-seri, hidung mancung, bibir tebal berisi, kulit putih terawat, secara keseluruhan mewah dan berkelas.

Chanyeol bisa saja mendapat pujian itu dari Baekhyun tapi sayangnya si mungil justru menunjukkan pandangan tidak minat. Apa-apaan itu? batin Chanyeol.

"Kau ini tidak ada spesial-spesialnya tahu. Apa kau memiliki kelainan ditelingamu? Itu tampak tidak normal, Chanyeol."

Perempatan siku-siku muncul di sisi dahi Chanyeol andai ia berada didalam anime. Merasa terhina secara telak. Telinganya memang lebar dari kebanyakan orang pada umumnya dan Chanyeol kecil berpikir itu memalukan namun seiring berjalannya waktu, semakin dewasa Chanyeol merasa telinga perinya mempunyai daya tarik tersendiri, seperti salah satu aset yang menambah kadar ketampanannya.

"Lalu kau sendiri bagaimana?" Chanyeol melipat tangannya di depan dada, bersendakap dengan gaya angkuh. "Apa kau sebegitu penasarannya dengan sosokku hingga membuatmu merasa stres dan itu berujung pada tinggi badanmu yang tidak bisa bertambah lagi."

Apa hubungannya coba?

"A-apa?!" Baekhyun menatapnya tidak percaya. "Katakan kau baru saja mengataiku."

"Ya, aku melakukannya." balas Chanyeol kelewat santai. "...tapi kau mulai lebih dulu, ingat?"

"Aku masih delapan belas tahun dan dokter gizi kenalan ibuku berkata jika aku masih bisa tumbuh beberapa centi lagi." ucapnya kesal dan kenapa Chanyeol malah gemas melihat bibir tipis itu membuka dan tertutup melihat sang empunya berbicara. Jadi pingin cium 'kan..

"Minggir!"

Baekhyun harus pergi menjauh secepatnya karena merasa keselamatannya tengah terancam sekarang, dia sedang marah dan Chanyeol malah memberi respon terpaku sambil senyum-senyum sendiri. Apa dia sudah gila? Seseorang tolong lakukan tes kadar kewarasan pada laki-laki ini.

Jduk!

"Kyaaa~"

Keputusan Chanyeol yang sengaja menjulurkan kaki panjangnya ketika Baekhyun lewat tidak akan ia sesali seumur hidup, pemuda mungil itu jatuh menimpah tubuhnya, wajah mereka sangat dekat hingga ujung hidung masing-masing saling bersentuhan, mata kecil Baekhyun melebar menyadari posisi mereka saat ini, meski untuk beberapa detik ia sempat juga terdiam takjub akan wajah rupawan Chanyeol.

Baekhyun yang salah tingkah buru-buru bangkit, gerakan mendadak itu membuatnya terpeleset kembali jatuh menimpah Chanyeol untuk kedua kalinya dengan dengkul menubruk 'aset berharga' Chanyeol cukup keras.

"Oughh.."

Baekhyun tersentak melihat tubuh Chanyeol tiba-tiba menggelung tampak seperti orang kesakitan, bibirnya meringis, kedua tangannya menyentuh daerah selakangannya. "K-kau kenapa?" tanya Baekhyun panik. "Mana? Mana yang sakit? Ini? Disini?" aduh, cerewetnya.. Cium juga nih!

Baekhyun segera menyingkirkan tangan Chanyeol, mengganti dengan miliknya, mengosok-gosok bagian itu tanpa sadar. Chanyeol mendesis, menggigit bibirnya kuat-kuat menahan desahan, menikmati jari-jari lentik itu mengusap 'milik'nya yang masih terbungkus celana. Baekhyun terbelalak ketika yang ia sentuh tampak memiliki nyawa, semakin lama semakin membesar, membengkak. Sialan. Kenapa dia bisa sebodoh ini?

"Oh, Tuhan.." seruan Sooyoung membuat keduanya menoleh, untung saja wanita itu tidak menjatuhkan piring berisi daging bulgogi yang tengah ia bawa.

Baekhyun buru-buru berdiri, merapikan penampilannya secepat kilat.

"Ini tidak seperti yang mama Park pikirkan." Baekhyun mendelik horor melihat seringai dibibir Sooyoung. "YA! Cepat bangun dari posisimu bodoh! Jangan membuat yang lain salah paham." hardiknya melihat posisi Chanyeol yang setengah terlentang diatas sofa. Baekhyun menarik kasar kerah jas yang laki-laki itu kenakan, memaksanya berdiri.

"Ada apa?" tanya Haneul yang baru datang menghampiri.

Sooyoung tertawa geli. "Sepertinya kita akan segera mendapatkan cucu setelah mereka menikah."

"Benarkah?" Haneul tampak berbinar-binar.

Baekhyun mendengus, tidak paham dengan pemikiran aneh dua wanita paruh baya disana. Cucu darimana? Mereka sama-sama pria 'kan?

~oOo~

Acara makan malam berlangsung khitmad, Sooyoung tidak bisa berhenti memuji kelezatan masakan Haneul, itu tidak berlebihan karena Baekhyun yang pilih-pilih makanan saja akan diam dan makan dengan lahap jika sudah dihadapkan dengan masakan ibunya.

Tuan Byun—Heechul dan tuan Park—Siwon, yang sedari tadi tampak hanyut dalam dunia laki-laki dewasa mulai bicara tentang inti dari kunjungan keluarga Park dan acara makan malam ini.

"Bukankah kita harus tau siapa yang menempati posisi suami dan istri? Karena mereka sama-sama pria."

Heechul tersenyum mendengar pertanyaan Siwon yang pastinya sudah bisa ditebak jawabannya. Sudah jelas terlihat dari postur tubuhnya 'kan?

"Aku diposisi suami." singkat, sukses membuat Chanyeol tersedak puding yang dilahapnya.

"Sayang.."

"Ibu, begini-begini aku juga manly." sela Baekhyun. "Sudah berapa banyak wanita yang menjadi pacarku. Mengaku hamil anakku." Baekhyun berharap pengakuannya ini bisa membuka mata keluarga Park jika Baekhyun tidak sepolos kelihatannya, mereka akan ilfeel dan membatalkan rencana untuk meminang Baekhyun. Cemerlang sekali, Byun!

"Apa itu benar?!" Sooyoung tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya melihat Baekhyun yang mengangguk mantap. "Wow, kau benar-benar luar biasa, nak!" serunya takjub.

Baekhyun jawdrop mendapati dua jempol untuknya dari tangan Sooyoung. "Mungkin kau bisa mengajari Chanyeol beberapa trik diranjang." Sooyoung mendekat, berbisik pada Baekhyun. "...dia itu agak pemalu."

Keluarga apa ini?

"Kenapa bukan Baekhyun saja yang diposisi istri?"

"Tidak, papa Park." anak itu dengan tegas menolak saran Siwon.

Haneul berdehem, memegang kedua pundak Baekhyun yang duduk tidak jauh darinya. "Begini, sayang.. Kau itu mungil dan setiap orang yang mengenalmu pasti ingin melindungimu, termasuk Chanyeol."

"Aku bisa melindungi diriku sendiri, bu. Aku ini jago hapkido." sombongnya.

"Semacam seni bela diri?" tanya Sooyoung, gagal fokus.

"Neh."

"Ah, Chanyeol juga sempat ikut latihan taekwondo saat SMA. Tidak akan ada orang jahat yang berani mengganggu kalian kalau begitu, karena kalian sama-sama hebat." cerita Sooyoung.

"Benarkah? Wah, pantas saja Chanyeol terlihat sangat gagah." puji Haneul, ikutan gagal fokus.

Baekhyun rasa-rasanya ingin muntah melihat binar kagum dimata ibunya tapi menu makan malam tadi adalah steak, banyak sekali menu berbahan dasar daging yang enak-enak, sayang juga kalau dimuntahkan Baekhyun pikir.

"Kau pasti sangat berbakat, Chanyeol-ah. Aku menjadi salah satu follower di instagrammu. Kau benar-benar populer." astaga, ibuu.. Baekhyun baru tahu ibunya seorang maniak lelaki muda.

"Sebenarnya aku sangat menyukai musik tapi akhir-akhir ini aku tertarik pada olahraga basket dan snowboard."

"Keren!" ibunya lagi..

"Saat di Sydney tiga kali dalam seminggu aku biasanya pergi ke cafe untuk menyanyikan lagu yang kuciptakan sendiri. Gitar, piano, dan drum, aku menyukai semuanya."

"Kau sangat berbakat, coba saja kau pulang lebih awal ke Korea, tidak menutup kemungkinan sebuah agensi akan merekrutmu menjadi seorang idol. Peluangmu sangat besar." canda Heechul.

"Aku tidak tertarik menjadi seorang publik figur, appa Byun." cih, sombong, bilang saja tidak mampu..

"Baekhyun juga pernah mencoba ikut audisi 'kan?" Heechul mengingat-ingat.

"Benar." jawab Haneul. "Hampir dua puluh kali dan tidak ada agensi yang menerimanya kkkk~"

"Agensi bodoh! Mereka semua buta tidak bisa melihat bakatku yang luar biasa ini." nah, sekarang siapa yang sombong?

Baekhyun ini agak sensitif jika sudah menyangkut audisi, trainee, idol, dan sejenisnya karena itu cita-cita terpendamnya. Dia tidak menyukai Suho—lebih tepatnya iri, sepupunya yang menjadi trainee di salah satu agensi ternama, SM Entertainment. Mendo'akan agar Suho yang sudah hampir tujuh tahun menjadi trainee tidak akan pernah didebutkan tapi Baekhyun segera bungkam setelah satu tahun yang lalu Suho pada akhirnya debut sebagai member grup EXO dan sialnya mereka benar-benar populer.

"Mau berkolaborasi denganku lain waktu?" Chanyeol modus.

"Tidak minat." jawab yang mungil ketus.

"Bicara soal olahraga Baekhyun tampaknya tidak memiliki bakat." Heechul bertawa ringan yang segera dihadiahi delikan tak terima oleh anaknya. "Baekhyun itu tidak tahan udara panas dan udara yang terlalu dingin, bisa-bisa pingsan."

Chanyeol menahan tawanya yang hampir meledak, tidak ingin membangunkan kemarahan puppy galak dan cerewet disampingnya.

"Aku tidak selemah itu!" Baekhyun mencak-mencak lantaran kesal.

"Chullie, jangan begitu. Uri Baekhyunnie tidak seburuk itu kok." Baekhyun terharu, akhirnya Haneul membelanya, ia tahu saat-saat seperti ini pasti akan tiba. "Dia juga jago olahraga." oh, malaikatku..

Pasti ibunya akan mengatakan Baekhyun jago berenang, ya meskipun kebanyakan tenggelam kedasar kolam sih.. Setidaknya ia memprakteknya dengan baik bagaimana renang gaya batu yang benar. Hah!

"—olahraga jari." tawa Haneul pertama kali pecah disusul yang lain setelahnya, terdengar menggema diruang makan mansion Byun. Tolong beritahu Baekhyun bagian mana yang lucu hingga semuanya tertawa layaknya idiot..

"Dia akan berkonsentrasi penuh saat memainkan ponselnya. Membalas komentar para penggemarnya di instagram. Mungil begini penggemarnya banyak, bahkan memiliki fansclub segala." info Haneul.

"Nama akun instagramnya apa, eomma Byun?" sahut Chanyeol yang segera direspon Haneul. Baekhyun buru-buru memprivat akunnya tapi tentu saja Chanyeol lebih cepat. Si tinggi idiot itu sudah menjadi salah satu followernya sekarang, memberi like disetiap postingan instagram Baekhyun, tak jarang ikut berkomentar.

"Setidaknya fans-mu bertambah satu 'kan?" komentar Haneul berbisik. Cih!

"Jadi Baekhyun ingin diposisi suami?" Siwon mengembalikan mereka ke inti pembicaraan, menjadi satu-satunya pihak yang waras diantara semuanya.

"Ya." anak itu mengangguk mantap.

"Itu berarti Chanyeol yang harus menjalani transplantasi rahim." lanjutnya.

"A-apa?!" Baekhyun terkejut, Chanyeol santai-santai saja, sepertinya Baekhyun menjadi satu-satunya pihak yang tidak mengerti apa-apa disini. "Untuk apa ada transplantasi rahim segala?" tanyanya ingin sekali tahu.

"Tentu saja keturunan Park dan Byun." Haneul menjawab santai. "Aku terserah saja, mau Chanyeol ataupun Baekhyun yang pada akhirnya akan mengandung, yang terpenting kita akan segera menimang seorang cucu." Haneul menerawang, aneh juga jika Chanyeol yang hamil, ia membayangkan dan berakhir dengan terkikik sendiri.

"Bagaimana, ya?" Chanyeol menggaruk dahinya, tampak berpikir. "Operasi pasti membutuhkan waktu untuk pemulihan, waktuku tidak seluang itu." Heechul dan Siwon mangut-mangut membenarkan. Chanyeol sudah dua puluh dua tahun sekarang, masih fokus pada pendidikan yang ia tempuh agar nantinya semakin siap menempati jabatan penting diperusahaan menggantikan sang ayah, sementara Baekhyun?—semua mata menatap padanya, Baekhyun merasa terintimidasi.

"Apa? APA?!" sungutnya marah.

"Tidak ada pilihan selain Baekhyun." yang lainnya beralih menatap Haneul yang baru saja berbicara, semuanya mengangguk setuju. Dasar bedebah!

"Aku mau kuliah. Aku sedang senang-senangnya belajar jadi jangan ganggu aku." si Byun muda meradang, berusaha membela diri.

"Kan bisa dilanjut kapanpun kau mau." balas Heechul.

"Tidak! Aku maunya segera lulus dan menjadi seorang dokter spesialis ahli bedah jantung." diterima kuliah saja belum sudah ingin lulus..

"Cita-cita yang sangat mulia, nak." tanggap Haneul, tau sampai kapanpun anaknya itu tidak akan jadi seorang dokter spesialis ahli bedah jantung. Mimpinya ketinggian, belajarnya jarang, hobinya pacaran, lagipula Baekhyun itu ceroboh bisa-bisa pasien dibawah perawatannya akan berakhir dengan tinggal nama semua. "Tapi bukankah lebih mulia lagi jika kau membahagiakan kedua orang tuamu terlebih dahulu?"

Tuh, kan?

"Seorang cucu. Ayah dan ibu ingin menimangnya."

"Pungut dari panti asuhan saja sana!" Baekhyun bersungut-sungut.

Memang susah bicara dengan si cerewet Byun ini, Haneul angkat tangan, Heechul mengibarkan bendera putih yang nyatanya hanya selembar tisu makan, Siwon tetap kalem sementara Sooyoung berusaha membujuk meski pada akhirnya menyerah juga.

"Begini saja.." suara berat Chanyeol menjadi titik pusat perhatian para orang tua disana tak terkecuali Baekhyun. "Yang menempati posisi suami adalah dia yang bisa mengagahi salah satu dari kita terlebih dahulu. Baekhyun kau mengerti maksudku 'kan?"

"Kau pikir aku bodoh!" jawab Baekhyun sengit. "Jangan pernah meremehkanku karena tubuhku sedikit lebih kecil darimu. Aku bisa saja mengagahimu dengan sangat mudah." sombongnya.

Chanyeol mengangkat bahu acuh. "Kita buktikan saja." lelaki itu menyodorkan jari kelingkingnya tepat didepan wajah Baekhyun. "Kau akan bersikap sportif jika kalah 'kan? Janji?"

"Kenapa tidak?" Baekhyun mempautkan jari kelingkingnya yang lebih mungil dengan milik Chanyeol. "Janji."

Seringai samar tampak dibibir tebal Chanyeol, malangnya Byun muda itu tidak menyadari bahaya yang tengah mengintainya.

~oOo~

Pagi cerah Baekhyun mendadak jadi suram setelah menemukan Chanyeol dengan senyum idiotnya sudah bertamu pagi-pagi. Kenapa sih ibunya mau membukakan pintu untuk Chanyeol?

"Apa yang membawamu kemari pagi-pagi begini?" semprot Baekhyun yang sudah rapi, siap berangkat keperpustakaan umum rekomendasi Kai, pacarnya itu ada kelas hari ini jadi daripada waktunya terbuang sia-sia dirumah atau sekedar main Baekhyun memilih untuk belajar saja.

"Aku kangen."

"Cih! Pulang sana!" usirnya.

"Kau mau kemana? Biar ku antar, ya?" tawar Chanyeol tidak putus asa.

"Bukan urusanmu, lagipula aku sudah ada yang jemput."

"Oh, tidak masalah, tinggal batalkan saja jemputanmu." enak saja si kepala batu ini..

"Dia pacarku." Baekhyun berbisik lirih takut Haneul dengar.

"OH, KAU PUNYA PACA—" yang lebih mungil buru-buru membekap mulut Chanyeol dengan panik tapi secepat kilat Chanyeol melepasnya, membawa jari-jari lentik itu untuk dikecupi satu-satu.

Baekhyun segera menarik tangannya begitu menyadarinya, mendaratkan pukulan tepat dikepala Chanyeol lantaran kesal melihat pandainya Chanyeol mencari kesempatan dalam kesempitan.

"Sakit, Baek!" ringis Chanyeol mengusap-usap kepalanya.

"Rasakan!"

"Kalian berdua ayo sarapan dulu." ajak Haneul yang baru muncul, otomatis langsung melerai keduanya.

"Aku langsung berangkat saja ya, bu. Sarapan di jalan saja." pamit Baekhyun.

"Mana boleh begitu. Makan diluar tidak bisa dijamin kehigenisannya. Nanti kau sakit perut, sayang." peringat Haneul. "Ayo, sempatkan sarapan sebentar."

Baekhyun berjalan pasrah menuju meja makan, Chanyeol mengekor dibelakang. Lima belas menit berlalu ketika mereka selesai, Chanyeol jadi mengantar Baekhyun berkat bujukan Haneul, ditengah perjalanan Baekhyun meminta Chanyeol menepikan mobilnya, anak itu langsung turun setelah mengancam Chanyeol untuk tidak mengadu pada ibunya.

Chanyeol buru-buru turun setelah melihat Baekhyun tengah memanjat(?) sebuah motor sport warna merah yang tampak sudah menunggunya, itu dikendarai oleh seorang pria berkulit tan, Chanyeol tau itu pasti Kai.

"Baekhyun, turun!" pinta Chanyeol setengah memaksa setelah Baekhyun duduk manis diboncengan.

"Dia siapa, sayang?" tanya Kai.

"Bukan siapa-si—"

"Aku tunangannya."

"Bukan." sangkal Baekhyun cepat-cepat. "Kapan kita bertunangan? Jangan mengada-ada!"

"Jadi mana yang benar?" Kai jadi bingung sendiri.

"Kau bahkan tidak pakai helm. Ini bahaya, Baekhyun!" Chanyeol tidak peduli ocehan si hitam Kai. Tidak hitam, Yeol, tapi berkulit tan. Dan Chanyeol tidak mau ambil pusing, suka-suka dia mau panggil apa intinya Chanyeol tidak suka Kai. "Ayo, turun!" Chanyeol menarik-narik tangan anak itu.

"Tidak mau. Aku maunya dengan Kai."

Panas! Ada yang merasa terbakar api cemburu setelah melihat tangan Baekhyun melingkar erat diperut Kai. "Pergi, sana!"

"Dengarkan aku!" suara Kai menghentikan adegan tarik menarik dibelakang. "Dia Baekhyun, kau yang mengaku sebagai tunangannya, dan aku pacarnya. Dia jelas-jelas memilihku, bung! Bersikaplah layaknya seorang jantan."

Chanyeol mundur beberapa langkah, sadar Baekhyun tidak bisa dipaksa lagi, membiarkan Kai membawa Baekhyun pergi. Setelahnya ia terbatuk-batuk dengan dramatis, seharusnya Chanyeol berdiri lebih mundur lagi tadi agar tidak perlu menghirup pekatnya asap knalpot motor Kai. Ck, polusi..

Bukan Chanyeol namanya jika gampang putus asa, setelah Baekhyun pergi lelaki itu mengikutinya hingga diperpustakaan umum. Kai masih berada didekat gerbang tapi Baekhyun sudah tidak terlihat, kemungkinan besar sudah masuk kedalam.

Seorang pemuda lain datang menghampiri Kai, postur tubuhnya sedikit lebih pendek dari Baekhyun, matanya bulat lebar dengan bibir tebal membentuk hati jika tengah tersenyum. Kai balas tersenyum, mencubit gemas hidung anak itu yang tampak merengek tidak suka kemudian Kai memberikan sebuah kecupan singkat dibibir, benar hanya kecupan tapi pastinya memiliki arti jika mereka lebih dari sekedar teman. Si hitam itu menyelingkuhi Baekhyun rupanya, sudah hitam tamak pula!

Chanyeol mengambil ponselnya hendak merekam adegan mesra itu tapi itu tidak terlalu mesra juga sih untuk dijadikan bukti, nanti kalau dia mengirim rekamannya ke Baekhyun, si mungil itu pasti menganggapnya hanya mengada-ada. Seperti kata Sooyoung, ia harus tetap menjaga image di depan Baekhyun, jadilah Chanyeol menghubungi Haneul untuk meminta nomor ponsel Baekhyun yang baru ia sadari tidak dimilikinya.

Pacarmu selingkuh didepan gerbang perpustakaan..

Sebenarnya Chanyeol tidak berharap terlalu banyak Baekhyun akan percaya pada pesan sok misterius tanpa namanya itu, terlebih setelah Kai dan pemuda mungil itu memutuskan untuk pergi dengan berboncengan. Sekitar sepuluh menit berlalu ketika Chanyeol hendak pulang ia melihat sosok familiar tengah celingak celinguk didekat gerbang, Chanyeol buru-buru turun menghampiri.

"Kau?! Kenapa ada disini?" Baekhyun menatapnya heran. "Ah, jangan-jangan kau yang mengirim pesan bualan itu ya?" tuduhnya tepat sasaran.

"Ck, aku tidak membual, mereka sudah pergi." jelas Chanyeol.

"Aku tidak percaya padamu, Chanyeol." Baekhyun melotot padanya. "Kau membuang-buang waktuku yang berharga." dia pikir tidak lelah apa jalan dari dalam perpustakaan sebesar itu kearah gerbang, 'kan lumayan jauh..

"Karena sudah sampai sini bagaimana kalau pulang saja sekalian." Chanyeol mengompori.

"Jangan jadi setan! Aku masih harus pergi keperpustakaan untuk membaca banyak buku." si Byun tiba-tiba sok alim. "Aku tidak mau pergi nonton denganmu kecuali kau memaksa."

Chanyeol cengo, siapa juga yang mau ngajak nonton? tapi karena tidak ingin membuat sang pujaan hati malu, ia memilih untuk mengalah saja. "Ayo nonton denganku." ajaknya dengan senyum menawan.

"Tidak mau." si mungil berusaha jual mahal, padahal tadi dia yang ingin.

"Aku memaksamu ikut."

"Dasar pemaksa! Ayo, cepat berangkat sebelum aku berubah pikiran." ajaib sekali si Byun ini..

Tatapan Baekhyun pada Chanyeol tampak tidak bersahabat, tidak menuruti wejangan Haneul untuk bersikap baik pada anak dari sahabat karibnya itu, lebih memilih jual mahal untuk tau seberapa besar Chanyeol menyukainya. Penasaran setiap kali Haneul bilang jika Chanyeol sangat, sangat, sangat menyukai Baekhyun melebihi apapun. Ya, Baekhyun hanya ingin lihat sampai dimana batasnya.

"Dimana mobilmu?"

Chanyeol menunjuk seberang jalan dengan dagunya. "Disana."

~oOo~

"Kata mama Park kau sama sekali belum pernah berpacaran ya?" Baekhyun berjalan santai disamping Chanyeol sambil menjilati es cream rasa stroberinya, dan si tinggi tengah menikmati es cream rasa pisangnya, baru kelar nonton film.

"Percaya?"

"Tidak. Wajah mesum begitu apanya yang polos?" ledek Baekhyun.

"Tentu saja aku punya pacar. Sampai sekarang juga masih."

"Kalian belum putus?" Baekhyun agak terkejut.

"Kenapa? Cemburu?" goda yang lebih tinggi dengan senyum main-main.

"Cih, memangnya kau siapa?" guman Baekhyun, dianya jadi malas kalau Chanyeol sudah kepedean seperti ini. "Kenapa tidak mengenalkan pacar kita masing-masing pada orang tua saja?" Baekhyun tiba-tiba punya ide.

"Tidak mau."

"Kenapa?"

Chanyeol tersenyum geli melihat Baekhyun yang menahan kesal. "Tidak mau saja." jawabannya tidak memuaskan sama sekali.

"Aku maunya dengan Kai!"

"Orang tua kita maunya kau denganku." Chanyeol juga sih..

Itu dia masalahnya.. "Apa kau tidak benar-benar mencintai pacarmu?"

"Jangan bodoh." Chanyeol membuang cup es creamnya yang telah kosong di tong sampah terdekat. "...dua orang yang tengah menjalin hubungan sudah pasti mereka saling mencintai. Kecuali yang bodoh, akan terus mempertahankan hubungan itu meski sudah tidak cinta."

"Intinya kau masih mencintai pacarmu?"

"Kami sudah bersama hampir lima tahun."

Hebat! Chanyeol tipe orang yang setia rupanya. Berbeda dengan seseorang yang memandang kehebatan seorang pria dengan kuantitas mantan yang dimiliki, semakin banyak semakin hebat. Chanyeol ini lebih memilih kualitas.

"Lagi pula Kris sangat menghargaiku."

"Kris? Laki-laki?!"

~oOo~

.

to be continue..

.

~oOo~

Kris belum tentu laki-laki kayak yang dipikirin Baekhyun ya.. Bisa jadi itu Kris-dayanti(?) atau Kris-tina(?), tidak ada yang tau.. XD

Buat CussonsBaekby aku gk punya Line, sori.. :)

Big Thank's to:

.

Leoybaek, ssuhoshnet, BubbleXia, Call Me Zaa, inchan88, Byunsilb, CussonsBaekby, Park RinHyun-Uchiha, cici fu, BaekkiPark, OhSehun's Mom, Yana Sehun94, Alivia625, ennoo96, byunniebee.

.

Thank's buat yang udah follow, fav, dan review. Sampai jumpa di chapter selanjutnya..

.

.