Chapter 3
Household
.
ChanBaek
.
Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.
.
Rating : T
.
Happy Reading
.
.
Mari kita membahas hubungan antara Chanyeol dan Kris yang Baekhyun rasa ini sedikit terasa janggal, tidak sedikit lagi tapi banyak..
Pertama kita definisikan sosok Chanyeol. Tinggi 185 cm, ketampanan yang tidak diragukan lagi, Baekhyun tidak mau mengakui yang satu ini.. ukuran sepatu 43 yang mana tampak seperti sebuah mobil menurut Baekhyun. Ya, Chanyeol baik.. baik dalam berpura-pura terlihat polos didepan para orang tua padahal aslinya dia itu sudah sering sekali dimasuki oleh Kris hingga lubangnya melar(?), tidak, jangan percaya! Baekhyun tidak tahu apa-apa tentang hubungan lima tahun mereka serta apa saja yang sudah mereka lakukan hingga seperti tidak ada bosan-bosannya menjalin hubungan selama itu, tapi dari yang Chanyeol ceritakan laki-laki bernama Kris itu sudah berumur dua puluh sembilan tahun, tujuh tahun lebih tua dari Chanyeol, Kris juga lebih tinggi hampir 190 cm, Kris lebih gagah, lebih berani, lebih manly, dan lebih lebih lebih lainnya.. Kris juga berpikir wajah Chanyeol memiliki sisi feminim, terbukti dari dia yang terlihat sangat cantik hampir menyerupai Sooyoung jika mengenakan wig panjang berwarna blonde membuat Baekhyun berpikir Kris ini tipe seme sejati.
Dia melindungi Chanyeol, mencintainya sepenuh hati, menyayanginya, memanjakannya, selalu mengalah, memastikan Chanyeol tetap bahagia bersamanya dan akan menghukum dirinya sendiri jika sudah membuat Chanyeol sedih ataupun menangis.
Sekedar info, saat berpacaran Chanyeol hanya sekali menangis didepan Kris, mereka sedikit bertengkar saat itu, Kris memasuki mobil tanpa tahu Chanyeol menyusulnya dibelakang, ketika hendak menutup pintunya Chanyeol buru-buru mencegah jadilah jari-jarinya terjepit dan menimbulkan sakit luar biasa. Intinya Chanyeol menangis bukan karena masalah hati layaknya gadis-gadis yang merasa perasaannya dilukai oleh kekasihnya tapi murni karena fisik yang tersakiti. Kris bersikeras ia tidak sengaja, tolong jangan salahkan dia..
Tipe pacar idaman, bukan? Jadi kenapa Chanyeol tidak memilih Kris saja? Simpel, karena Chanyeol sudah lebih dulu terpikat oleh sosok Baekhyun, bahkan sejak ia berusia delapan tahun dan terpendam hampir empat belas tahun lamanya. Baekhyun jadi melambung tinggi mendengarnya, anak itu paling tidak bisa dipuji-puji, mudah sekali jadi salah tingkah.
"Kau dan Kris pernah melakukan seks?" tanya Baekhyun tidak tahu malu.
"Apa perlu ku jawab?" Chanyeol balik tanya dengan wajah datar.
"Sudah jawab saja!" Baekhyun tampak penasaran, setengah memaksa.
"Menurutmu apa enaknya pacaran tanpa melakukan seks?" ini pertanyaan bukan pernyataan tersirat.
Sudah jelas! Dasar binal.. Katakan itu pada dirimu sendiri, Byun.. "Kau pihak yang dimasuki?" dia sudah gila menanyakannya.
Chanyeol mendekat wajahnya pada Baekhyun yang duduk diseberang meja menunggu makanan yang mereka pesan datang, mereka mampir di restoran sushi yang masih berada dikawasan pusat perbelanjaan untuk makan siang. "Apa ini? Sebuah introgasi?" sindir yang lebih tinggi.
"Aku hanya penasaran." Baekhyun beralasan.
"Tidak akan kuceritakan. Nanti kau cemburu."
"Tidak akan!"
Chanyeol menatap Baekhyun lama, tampak menerawang. "Oke.." gumannya beberapa saat kemudian.
"Badanku besar tapi Kris lebih besar lagi. Menurutmu bagaimana?" Baekhyun tiba-tiba merinding mendengar pengakuan tersirat Chanyeol.
Selama ini Baekhyun memang berpacaran dengan wanita maupun pria, katakan Baekhyun seorang biseksual dan Chanyeol murni gay. Mungil begitu Baekhyun selalu menjadi pihak yang memasuki, melakukan seks dengan seorang pria memang memiliki sensasi tersendiri, biasanya Baekhyun akan berkencan dengan adik kelasnya atau suniornya yang memiliki tubuh lebih kecil darinya agar bisa menjadi pihak yang menggagahi.
Pernah terlintas dipikirannya untuk mencoba menjadi pihak bottom, ia berkencan dengan kakak kelasnya bernama Jung Daehyun saat memasuki sekolah menengah atas tingkat dua sedangkan Daehyun berada ditingkat akhir. Sebelum rencana liciknya terlaksana, Haneul lebih dulu memergoki mereka dalam keadaan nista—telanjang bulat diatas ranjang, saat itu milik Daehyun sudah sangat tegang, siap memasukinya, nyaris saja, tinggal sedikit lagi, hampir..
Haneul murka semurka-murkanya, berteriak dan mengumpat dengan lengkingan yang memekak telinga, Baekhyun menutup kedua telinganya demi keselamatan masa depannya, tidak keren dong ganteng-ganteng tapi tuli.. Daehyun lari telanjang terbirit-birit keluar dari kamar Baekhyun sambil menjinjing pakaiannya.
Setelah kejadian itu Haneul ngambek parah, tidak mau berbicara ataupun menyapa Baekhyun dalam waktu setengah hari tapi segera memberi maaf setelah Baekhyun berjanji akan mengenalkan pacarnya lebih dulu, Haneul bilang yang wanita tidak perlu dikenalkan juga tidak apa-apa, yang terpenting adalah pacar pria, apalagi yang berwajah mesum wajib untuk dilaporkan terlebih dahulu.
"Sudah jelas aku yang lebih pantas menjadi pihak suami jika kita menikah." Baekhyun mengambil kesimpulan dari riwayat pengalaman asmara mereka, dan respon Chanyeol hanya mengerutkan dahinya heran. "Segera lakukan transplantasi rahim itu. Kita akan segera menikah, memiliki empat anak laki-laki dan satu perempuan seperti keinginan ayah dan ibu, setelah itu aku bisa melanjutkan pendidikan dan hubunganku bersama Kai dengan tenang." ngomongnya gampang..
Chanyeol tertawa ringan. "Kenapa harus melakukan itu jika Tuhan saja sudah memberikannya secara cuma-cuma."
"Apa maksudnya?" tanya Baekhyun tidak paham.
"Tidak." jawab Chanyeol singkat, sedikit memperbaiki posisi duduknya, ia berdehem pelan. "Begini.. kita sudah setuju dengan perjanjian semalam jadi aku tidak akan membahasnya lagi."
Baekhyun berdecak pelan. Kenapa dia jadi agak pesimis begini? Sadar Byun Baekhyun, kau tidak boleh menyerah sebelum berperang. Meskipun postur tubuh Chanyeol lebih besar dan memiliki tenaga yang pastinya lebih kuat pasti ada cara untuk menaklukan si caplang ini. Pasti..
Makanan datang dan Baekhyun dengan cepat melupakan obrolan mereka barusan, kedua mata kecilnya berbinar-binar melihat potongan daging mentah yang nampak segar itu, begitu menggugah selera.
Baekhyun menggerakkan sumpit ditangannya, mengambil sushi dengan potongan salmon, memasukkannya kedalam mulut dalam sekali lahap.
"Hmm.." si mungil menggumam sambil mengunyah dengan mulut penuh mengabaikan Chanyeol yang menatapnya, sesekali terkikik geli melihat cara makan anak itu.
Ketika hendak mengambil sushi kedua tanpa sengaja pandangannya teralih pada sosok yang membuatnya kaget setengah tidak percaya. Sumpit ditangan Baekhyun terjatuh menimpa piring kecil berisi wasabi yang kemudian terbalik mengotori meja. Chanyeol yang heran dengan Baekhyun yang tiba-tiba jadi diam ikut mengalihkan perhatiannya pada apa yang Baekhyun lihat.
Oh, dewi fortuna tengah berpihak pada Chanyeol rupanya..
Kai dan selingkuhannya baru saja memasuki restoran, si mungil bergelayut mesra dilengan si hitam Kai, pelayan wanita terlihat menghampiri meja mereka yang tampak memilih-milih menu, Kai memberitahukan pesanannya sebelum pelayan wanita itu pergi.
Baekhyun menatap keduanya nyalang, terbakar api cemburu. Kasper teman dance Kai sudah berulang kali mengingatkan jika Kai dan Kyungsoo—sahabat sekaligus teman sekelas Baekyun dulu—ada 'sesuatu', ia sering memergoki keduanya bermesraan tapi memang dasarnya Baekhyun itu keras kepala malah menuduh Kasper hanya membual, sekarang Baekhyun membuktikannya sendiri dan ia tidak bisa menahan emosinya lagi ketika kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu saling melempar senyum manis layaknya remaja yang baru mengenal rasa manis cinta pertama. Wajah keduanya saling mendekat, bertambah dekat, semakin mendekat dan.. "Apa-apaan itu?!"
Baekhyun berdiri dari tempatnya secepat kilat menghampiri meja KaiSoo, Chanyeol menyusulnya di belakang dengan langkah santai. It's showtime..
"B-ba-baek.. Hyun.." Kai terbata-bata, bisa-bisanya ia kepergok disini.
Dimana hilangnya rupa cantik menawan Baekhyun selama ini? Wajah itu memerah marah, tarikan nafasnya dalam dan berat menahan emosi, jika sampai meledak bisa dijamin itu pasti tidak akan terkendali. Gawat!
Jika Kai mati hari ini, tolong sampaikan pada ayah dan ibunya jika Kai sangat menyayangi mereka sepenuh hati dan makamkan dia didekat pusara kakek tercinta.
"Gyaaaa~" jeritan Kyungsoo menggema beradu dengan pekikan terkejut Kai ketika Baekhyun berhasil menggeser sedikit meja restoran itu, niatnya mau membalikkan meja itu agar terkesan keren dan sang tersangka semakin menciut ketakutan, tapi jujur.. mejanya terlalu berat.. Kecap asin, bubuk cabe kering dan kumpulan sumpit berhamburan diatas meja, sebagian tumpah.
"Bisa kalian jelaskan apa ini?!" tuntut Baekhyun menakutkan, siap menelan keduanya bulat-bulat.
Enam bulan belakangan ini Baekhyun sudah susah payah menyembunyikan hubungan mereka dari Haneul sampai akhirnya Kai datang ke mansion Byun, semuanya terbongkar, dia berpacaran dengan banyak wanita hanya untuk memanipulasi keadaan.
Dulu mereka—Baekhyun dan Kyungsoo—sahabat dekat juga teman sekelas tapi itu berubah setelah suatu hari Kai datang mengantar Baekhyun ke sekolah, Kyungsoo melihatnya dan sejak saat itu Baekhyun merasa Kyungsoo mulai bersikap menyebalkan, selalu mencari-cari kesalahan Baekhyun, seperti sengaja membuat hubungan pertemanan mereka merenggang.
"Aku pacar Kai sekarang. Memangnya kenapa? Mau apa?" tantang Kyungsoo. Hohoo.. dia sudah salah memilih lawan. Baekhyun sekarang tau alasan Kyungsoo yang tiba-tiba membencinya.
Brakk!
"Kemari kau! Ucapkan itu didepanku dan aku akan menusuk mata bulatmu satu-satu!"
"Dia gila!" jerit Kyungsoo melihat Baekhyun yang membawa sebuah sumpit, maju untuk menyerangnya. Apa mata indah Kyungsoo benar-benar akan ditusuk? "Dia memang gila kyaaaa~ Kai tolong aku.."
Keduanya mojok disudut meja tanpa bisa membela diri, sadar jika posisi mereka memang salah, hanya menggantungkan keselamatan pada Chanyeol yang menahan Baekhyun dibelakang sambil berbisik—"Benar, anak itu yang kulihat berciuman dengan pacarmu digerbang tadi." si tiang mengompori.
Seringai Chanyeol segera terbentuk melihat Baekhyun yang semakin beringas. Kapan lagi bisa peluk-peluk Baekhyun? Semakin berontak, semakin erat pula pelukannya. Modus..
"Selamatkan kami. Tolong biarkan kami hidup.." ratap Kai menyedihkan.
Chanyeol ingin sekali merekam wajah menggelikan itu dan membagikannya ke media sosial demi membuat si hitam malu tapi jika Baekhyun dilepaskan itu tidak akan lucu lagi, mungkin akan berubah menjadi sebuah kasus kriminal dengan judul artikel 'pembunuhan pasangan gelap oleh kekasih sang pria'.
"Lepas! Biar kuhabisi mereka!" Baekhyun yang tetap beringas dan Chanyeol yang memeluknya semakin erat. "Sini kau! Dasar pinguin gurun jelek!"
"Tidak! Jangan Kyungie-ku!"
"A-apa?! Kyungie-ku?!" tanya Baekhyun setengah tidak percaya, aura gelap penuh kemurkaan tampak menyelubungi tubuh si mungil, semakin gelap semakin pekat.
"Aku menyukainya lebih dulu. Hari dimana pertama kali kita bertemu adalah saat dimana Kyungsoo menolak perasaanku." jelas Kai. "Aku berpikir bisa meminta bantuanmu untuk mendekati Kyungsoo setelah tau kalian satu sekolah tapi kau terlalu percaya diri menganggap aku menyukaimu. Aku tidak bisa menolak karena kulihat-lihat kau manis juga.." Kai segera mendapat toyoran keras dibelakang kepalanya dari Kyungsoo. "Sakit, honey.."
Baekhyun dan Chanyeol ingin muntah berjama'ah melihat aegyo gagal Kai saat memelas pada Kyungsoo.
"Kau menyukai Baekhyun?!" tanya Kyungsoo marah.
"Tidak, honey."
"Kau bilang dia manis."
"Memang kenyataannya.."
"Apa?!"
"Tidak." Kai buru-buru menjawab sebelum mendapat toyoran 'kasih sayang' kedua. "Kau seribu kali jauh lebih manis."
"Bohong."
Kai menggeleng cepat. "Aku mengantar Baekhyun ke sekolah karena ingin membuatmu cemburu dan ternyata kau benar-benar cemburu. Aku tidak percaya saat kau datang menyatakan perasaanmu dan memintaku untuk memutuskan Baekhyun." jelasnya. "I love you.."
Kyungsoo entah sejak kapan marahnya hilang dan jadi senyum-senyum malu. "Love you, too.."
"Kalian sudah selesai?" suaranya datar dan rendah tapi sukses membuat bulu kuduk KaiSoo couple berdiri. "Aku terkesan.. Benar-benar sangat terkesan." Baekhyun tersenyum bak malaikat—maut. "Kai, kita putus.."
"Dengan senang hati." balas Kai menyebalkan.
"Kuharap hidup kalian akan bahagia.." Baekhyun menyeringai menyeramkan. "Di akhirat sana."
Jeritan Kyungsoo kembali beradu dengan pekikan Kai ketika Baekhyun hampir menyerang kembali tapi Chanyeol lebih dulu menariknya mundur, melingkari perut anak itu dari belakang yang sepenuhnya melayang karena tubuhnya yang kecil. "Jangan mencegahku!" Baekhyun marah tapi juga memohon.
Haneul selalu berpesan padanya untuk melakukan segala sesuatu secara tuntas, marahnya belum tuntas dan Baekhyun harus menuntaskannya sekarang juga atau itu akan menjadi dendam dikemudian hari, tapi Chanyeol tentu saja tidak tahu hal-hal apa yang kerap Haneul pesankan pada anak semata wayangnya itu—tetap menarik Baekhyun untuk keluar dari restoran.
Dari jarak dua meter Kai sudah bisa bernafas dengan tenang bahkan menanyakan apa Kyungsoo baik-baik saja yang dijawaban anggukan oleh pemuda bermata bulat itu.
Kai menatap Baekhyun menyebalkan, mengejek si mungil dengan sedikit juluran lidah dan kecupan singkat dipipi Kyungsoo. Terlalu awal untuk merayakan kemenangan, Kim..
Bruk!
Sebuah sepatu berwarna putih mendarat tepat diwajah Kai, mengenai hidung minimnya telak. Seseorang berteriak seperti, 'Yuhuu.. Rasakan!' dan tawa besar Chanyeol menggema.
Kai menggeleng-gelengkan kepalanya merasakan matanya berkunang-kunang. Cairan pekat berwana merah mengalir keluar dari hidung Kai sebelum semuanya berubah gelap.
"Kau hebat!"
"Aku jago dalam melempar." keduanya bertos ria sebelum keluar dari restoran, mengabaikan Kyungsoo yang panik memanggil-manggil nama sang pacar.
"Permisi.." seruan seorang lelaki berjas rapi membuat Chanyeol dan Baekhyun berhenti dan berbalik. "Tentunya harus ada yang bertanggung jawab atas insiden ini 'kan?"
~oOo~
Chanyeol merana. Kenapa untuk mendapatkan hati Baekhyun saja cobaannya banyak sekali? Uang tabungannya terpotong lumayan banyak setelah ganti rugi kekacauan di restoran, belum lagi Kyungsoo menuntut tanggung jawab karena hidung minim Kai patah—Chanyeol tidak tahu ini sungguhan atau hanya mengada-ada. Kyungsoo bilang untuk memberi ganti ruginya sedikit lebih banyak, biar bisa operasi plastik sekalian.
"Coba rasakan dulu." Chanyeol menekan-nekan ujung sepatu yang Baekhyun kenakan, sudah persis seperti seorang pesuruh yang menemani anak majikannya belanja. "Sudah pas 'kan?" tanyanya mendongak dari bawah sana.
Setelah membayar ganti rugi Baekhyun terus saja merengek minta dibelikan sepatu baru, alasannya karena sebelah sepatu yang dilempar tadi hilang dan Chanyeol benar-benar tidak bisa menemukan itu dimanapun yang nyatanya sengaja dibuang Baekhyun kedalam tempat sampah toilet saat Chanyeol sibuk membayar ganti rugi, selain karena sedikit ternoda oleh kecap asin ia juga malas menggunakan sepatu lamanya lagi lantaran akan terus teringat dengan kejadian hari ini.
"Berikan aku satu nomor diatas ini." pinta Baekhyun pada salah satu pegawai perempuan yang segera dituruti.
"Itu akan kebesaran." Chanyeol memprotes, lelah harus jongkok terus sementara Baekhyun enak-enakan duduk layaknya anak raja di negara ini.
"Aku 'kan masih tumbuh, Yeol." balas Baekhyun. "Bagaimana kalau nanti kekecilan sampai dirumah?" memangnya kakinya bisa tumbuh secepat itu?
"Ini, tuan. Silahkan.." pegawai perempuan itu memberikan apa yang Baekhyun minta, Chanyeol menerima dengan enggan, mengangkat sedikit kaki Baekhyun dan memasangkannya. Itu langsung masuk begitu saja dan menyisahkan banyak ruang.
"Tuh, kan.."
"Ah, iya. Kebesaran. Aku jadi ambil yang tadi saja." sabar Yeol, sabar..
Sepatu warna putih yang sebelumnya dicoba sudah akan dibawa ke meja kasir sebelum Baekhyun kembali berulah. "Tunggu, sebentar.. Aku masih bingung menentukan warnanya. Menurutmu bagus yang putih atau biru, Yeol?"
"Putih." jawab Chanyeol singkat. Dianya ngambek..
"Aku sudah punya banyak sepatu warna putih dirumah."
"Ya sudah, ambil saja yang biru."
"Maunya.." si mungil mengigit bibir bawahnya, tampak berpikir. "Tapi 'kan sepatu yang hilang hadiah dari ibu warnanya putih."
Chanyeol mengacak rambutnya frustasi. "Tolong bawa dua-duanya ke kasir." pinta Chanyeol pada pegawai perempuan itu sementara Baekhyun dibelakang tersenyum menang. Memangnya cuma Chanyeol yang bisa modus?
Uang yang dipakai hari ini adalah tabungan untuk jatah pernikahan mereka kelak, Chanyeol mengumpulkannya sejak dua tahun terakhir, dia 'kan inginnya menyelenggarakan pesta pernikahan diatas kapal pesiar dengan pemandangan laut biru yang terkesan romantis, tapi demi yang tercinta apa sih yang tidak diberikan?
~oOo~
"Huhuhu~ ibu~ HUWAAA.."
Seharusnya Chanyeol merasa hatinya sakit berdenyut-denyut melihat sang pujaan hati menangis tersedu-sedu, beranjak untuk menghiburnya, menanyakan apa yang terjadi dengan suara lembut dan berakhir dengan memberikan sebuah pelukan hangat menenangkan, yeah, seharusnya.. Tapi yang terlihat justru kernyitan dalam didahi lelaki itu, Chanyeol heran, sumpah!
"Kau menangisi si hitam itu?" tanya Chanyeol setengah tidak percaya. Rugi sekali, batinnya berteriak keras.
Baekhyun mengusap matanya yang memerah, menyusut air matanya, tangannya disodorkan didepan Chanyeol yang tidak perlu berpikir dua kali untuk tahu apa yang Baekhyun mau. "Ini." ia memberi beberapa lembar tisu ditangan Baekhyun yang segera berfungsi dengan baik menampung lendir encer dibalik hidung kecil pemuda mungil itu.
"Kau pikir aku gila menangisi si hitam itu?" tanya Baekhyun dengan suara serak tanpa sadar ikut mengatai Kai 'hitam'.
"Terus?"
"Hanya prihatin saja dengan nasibku yang selalu diselingkuhi." memang benar, tapi Baekhyun juga tidak jarang punya pacar lebih dari satu, ya anggap saja itu karma. "Apa nanti kau juga akan melakukan itu padaku, Chanyeol?" ia menatap Chanyeol penuh harap. Chanyeol jadi salah tingkah, Baekhyun belum-belum sudah memikirkan nasib pernikahan mereka kelak.
"Bisa jadi.." Baekhyun menatapnya terkejut, ia kemudian mendengus pelan, sudah pasti ia hanya dikibuli ibunya saat berkata Chanyeol cinta mati padanya. Mungkin memang sudah nasibnya tidak akan pernah merasakan apa itu cinta sejati. "—aku sudah gila jika melakukan itu."
Sial! Wajah Baekhyun merah padam, melayang-layang mendengar gombalan Chanyeol, menunduk dalam berusaha menahan senyum lebarnya agar tidak jadi bahan ejekan lelaki itu.
"Ehem.." Baekhyun menetralkan rautnya kembali datar setelah beberapa saat. "Jika menikah denganku, aku mau kau menandatangani perjanjian hitam diatas putih."
Lampu hijau untuk Chanyeol.
"Apapun.." balasnya dengan senyum lebar yang kelewatan.
"Akan ada hukuman jika kau berani menyelingkuhiku."
"Aku bersedia, sayangku.."
Baekhyun bergidik melihat Chanyeol yang duduk semakin mendekat dan berakhir dengan merangkul pundak anak itu. "Jauh-jauh sana! Dan jangan panggil sayang, geli tahu!" ngakunya geli padahal grogi..
"Iya, iya, maaf." Chanyeol menjauh, cuma sedikit, karena dia tidak bisa jauh-jauh dari Baekhyun, nanti tidak bisa curi-curi lihat wajah manis calon suaminya itu.
"Jadi kapan?" Chanyeol buka suara setelah hening beberapa saat.
"Apanya?" tanya Baekhyun lurus menatap kedepan dimana keindahan suasana sungai han di malam hari terpampang jelas.
"Nikahnya."
"Nanti.."
"Nantinya kapan?"
"Setelah pengumuman suneung." itu sekitar seminggu lagi, bisa jadi minggu depannya lagi mereka akan menikah sungguhan, Chanyeol senyum-senyum sendiri membayangkan itu. "Kalau aku berhasil masuk universitas ya nikahnya setelah aku jadi dokter." oh, tidak.. itu lama, sangat sangat lama, bisa-bisa Chanyeol jadi bujang lapuk. Syarat yang begini mau tak mau membuat Chanyeol berubah menjadi orang jahat karena diam-diam dalam hati ia berdo'a semoga Baekhyun gagal.
Semoga Tuhan mengabulkannya..
"Kau mencintaiku, Chanyeol?"
Chanyeol tau Baekhyun sedang bertanya serius. "Apa kau percaya jika aku mengatakan 'sangat'?"
Baekhyun menghela nafas. "Mungkin aku akan percaya jika kau bisa membuktikannya."
"Dengan apa?"
"Putus dengan Kris."
Baekhyun menengokkan kepalanya kesamping ketika Chanyeol tidak menjawab, melihat lelaki itu tengah serius menatap layar ponselnya.
"Yeol?" suara pria asing terdengar dari ponsel Chanyeol.
"Kris, kita putus.."
Kedua mata kecil Baekhyun membulat sempurna. "Hm?"
"..."
Kris disana terdengar menghela nafas. "..oke."—dan sambungan berakhir begitu saja.
~oOo~
.
to be continue..
.
~oOo~
Big Thank's to:
inchan88, Baeka, shinshiren, BubbleXia, CussonsBaekby, BaekkiPark, scorcap65, Alivia625, byunniebee, Beefvcker, Byunsilb, Park RinHyun-Uchiha, Call Me Zaa, ssuhoshnet, OhSehun's Mom, Yoon745, Yana Sehun94, Aerellia, myzmsandraa99, kyukyu, yuanitadian, Riskaa, KertasBee, wandapcy614, yousee.
.
.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya..
