Chapter 7
Household
.
ChanBaek
.
Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.
.
Rating: T
.
Happy Reading
.
.
"Oh, masih berani pulang?" sindir Baekhyun saat Chanyeol baru masuk kedalam kamar saat hari sudah menjelang malam.
"Baekhyun, aku capek. Marahnya besok saja ya.." jawab Chanyeol seenak jidat.
"Pergi kekamar lain sana! Aku mana sudi tidur dengan tukang tikung."
Chanyeol menghela nafas. "Aku tidak pernah selingkuh, Baekhyun!"
"Lalu yang tadi apa? Kau lebih memilih paman itu daripada aku suamimu sendiri."
"Aku hanya menolong Kris, dia baru saja dirampok saat turun dari mobil, karena dekat sini aku memintanya mampir saja karena aku tidak mau bohong padamu untuk keluar menemuinya." Chanyeol menjelaskan.
"Paman itu jelas bukan orang bodoh, Chanyeol. Dia bisa mengatasi masalahnya sendirian tanpamu."
"Ya, itu menurutmu.. Kris memang tampak tegas dan kuat di luar tapi sebenarnya dia tipe orang yang mudah panik. Dia hanya ingin minta tolong, Baekhyun."
"Pasti dia punya maksud tersembunyi." tuduh Baekhyun.
"Tidak mungkin." sangkal Chanyeol.
"Mungkin saja.. Kenapa kau jadi repot-repot membelanya?" sungut si mungil.
"Karena aku tau persis bagaimana Kris."
Baekhyun meradang. "Kenapa kau tidak menikah saja dengannya kalau begitu?!"
"Apa yang kau bicarakan?!" Chanyeol mulai ikut kesal.
"Ceraikan saja aku dan pergilah untuk menikahinya agar kau puas!" bentak Baekhyun.
"Jangan membuat kesabaranku habis, Baekhyun!" Chanyeol balas membentak membuat nyali Baekhyun seketika menciut, suaminya itu tidak pernah semarah ini sebelumnya, bahkan Haneul saja tidak pernah membentaknya, Baekhyun jadi ingin menangis.. "Tidurlah.. aku anggap kita tidak pernah membicarakan ini." ucap Chanyeol sebelum keluar dari kamar, menuruti Baekhyun agar mereka tidak tidur bersama.
Sejak malam dimana mereka bertengkar sejak saat itu pula Baekhyun tidak mau berbicara dengan Chanyeol, ini sudah berlangsung hampir satu minggu, Baekhyun hanya menjawab seperlunya jika Chanyeol bertanya dan akan segera tutup telinga ketika suaminya itu meminta maaf. Chanyeol tidak menyangka Baekhyun bisa marah selama ini, biasanya itu hanya berlangsung dalam waktu tiga hari sebelum mereka akan kembali baikan secara otomatis.
Anak itu tidak lagi menjalani dietnya karena Baekhyun berpikir sudah tidak memiliki harapan lagi untuk mempertahankan hubungan mereka. Chanyeol sendiri akhir-akhir ini lebih sering berada diluar untuk mengurus surat-surat kepindahan sebelum masa cuti kuliahnya berakhir, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan disini saja karena sekarang sudah memiliki Baekhyun.
Saat Chanyeol pulang terlalu larut biasanya Baekhyun belum tidur, anak itu menonton banyak film sambil ngemil snack dan coklat atau makan ramyum di meja dapur, pola makannya tidak sehat dan Chanyeol rasa Baekhyun kembali gendutan. Ada untungnya juga Baekhyun tidak mau bicara dengannya kalau tidak Chanyeol pasti sudah mati kutu terjebak oleh pertanyaan 'apa aku gendut?' yang bisa membuat migrain-nya mendadak kambuh.
"Eomma titip kue tiramisu ini untukmu." Chanyeol meletakkan kantung plastik berisi kue diatas meja dekat Baekhyun yang tengah makan beberapa potong ayam goreng cepat saji.
Baekhyun mendongak sebentar sebelum kembali melanjutkan makannya. "Terima kasih.." jawabnya singkat.
"Baekhyun, aku..." anak itu pergi sebelum Chanyeol menyelesaikan ucapannya. Selalu seperti itu..
Chanyeol masuk kedalam kamar untuk mandi dan beristirahat karena besok pagi ia harus terbang ke Sydney mengurusi kepindahannya, ia belum memberitahu Baekhyun tentang kepergiannya karena anak itu selalu menghindarinya, Chanyeol sebenarnya tidak terlalu frustasi menanggapi hubungan mereka yang seperti ini karena sibuk berkegiatan di luar hingga tidak ada waktu untuk memikirkannya, beda cerita kalau Chanyeol hanya diam di apartemen yang memungkinkan mereka akan beradu mulut setiap waktu, meski yang bermulut besar tetap saja Baekhyun..
Kedua mata Chanyeol masih sangat berat dan lengket ketika mendengar suara Baekhyun yang muntah-muntah, seperti alarm pagi yang memaksanya untuk segera bangun. Chanyeol menunggu didepan pintu kamar mandi dengan sabar sampai Baekhyun selesai dengan urusannya, dia tidak akan memberi pertolongan apapun pada suami mungilnya karena Chanyeol pernah melakukannya satu kali dan itu berakhir dengan dampratan yang membuatnya sakit hati.
Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan langkah terhuyung dan wajah tampak tersiksa, sudah biasa seperti ini, Chanyeol pikir iritasi lambungnya belum sepenuhnya sembuh karena ia malas minum obat dan mengatur pola makannya.
Dua puluh menit kemudian Chanyeol yang sudah rapi menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya sendiri karena Baekhyun tidak mau repot-repot melakukan itu, mau Chanyeol sudah makan atau belum itu bukan lagi menjadi urusannya. Bel pintu depan berbunyi, Chanyeol berjalan kesana untuk membukanya namun ternyata Baekhyun sampai lebih dulu, ketika pintu terbuka sosok tinggi Kris dengan senyum menawan berdiri disana. Raut Baekhyun berubah kesal seketika, ia menatap Chanyeol dibelakang dan suaminya itu menggeleng pelan pertanda ia tidak tau apa-apa perihal kedatangan Kris.
"Hai, Baekhyun.." sapa Kris sok akrab.
Baekhyun buang muka. "Aku baru akan mengatakan jika dia tidak ada dirumah tapi kau sudah lebih dulu melihatnya."
Chanyeol berjalan mendekat. "Aku tidak tau Kris akan datang. Aku berani bersumpah, Baekhyun. " ia mencoba membela diri.
"Aku tidak peduli. Lagipula sebentar lagi kita akan bercerai."
"Berkhayal saja sesukamu. Sampai kapapun aku tidak akan menceraikanmu. Kau dengar itu, Byun Baekhyun!"
"Hei, hei.. kenapa jadi ribut-ribut begini? Apa kedatanganku ini mengganggu kalian?" sudah sangat jelas.. Kris masuk tanpa dipersilahkan, langsung duduk di salah satu sofa ruang tamu apartemen mereka. "Chanyeol memang tidak mengundangku kok, aku datang sendiri untuk mengucapkan terima kasih karena Chanyeol sudah bersedia menolongku tempo hari sekalian ingin berkenalan dengan kalian sebagai tetangga baru. Kebetulan sekali bukan?"
"Kau memang sengaja!"
Kris tersenyum malu. "Tolong jangan buka rahasia, Baekhyun." ucapnya kelewat santai. "Aku dan Jessica memang sedang mencari hunian baru di Korea dan ternyata apartemen disini ada yang masih kosong, ya.. itu resmi jadi milik kami sekarang, tepat di samping kalian."
"Kenapa kau suka sekali menjadi perusak rumah tangga orang sih?!"
Dahi Kris berkerut, tampak tidak suka dengan tuduhan yang Baekhyun layangkan. "Perusak rumah tangga orang kau bilang! Tidak tau ya jika kami memiliki hubungan lebih dulu? Aku mengenal Chanyeol sebagai orang yang jujur, dia pasti bercerita padamu tentang aku 'kan? Kenapa kau begitu murahan memintanya untuk memutuskanku? Lalu yang seperti kau ini pantasnya disebut apa? Perusak hubungan orang?"
"Kris, itu keterlaluan." peringat Chanyeol. "Kami berdua menikah karena saling mencintai."
"Kau memang tidak sabaran, Chanyeol." Kris berdecak. "Sudah kukatakan untuk menunggu dua tahun lagi sampai perusahaan itu jatuh ditanganku seutuhnya."
"Itu hanya masa lalu. Aku sudah punya Baekhyun sekarang. Tolong jangan ganggu kami.." Baekhyun sedikit banyak merasa menang mendengar ucapan Chanyeol.
Kris berdiri dari sofa, menepuk celana mahal yang ia kenakan seolah mengusir debu yang menempel disana. "Ya terserah saja." ucapnya, dia tampak tidak tersinggung sama sekali. "Lagipula kau sudah sering seperti ini 'kan? Aku tidak kaget, Chanyeol. Cepat atau lambat kau pasti akan kembali padaku lagi."
Chanyeol mengernyit dalam. "Tidak."
Tawa Kris menggema. "Itu terdengar ragu." ejeknya. "Aku menawarkan kenyamanan, ketenangan, dan kebahagian untukmu. Apa kau mendapatkan itu saat bersama Baekhyun? Tidak 'kan? Dia masih sangat muda, masih suka mengeluh bahkan merengek, dia tidak—"
"Sudah cukup! Keluar dari sini!" sela Baekhyun, nafas anak itu memburu dan wajahnya memerah menahan marah. Kenapa bicara dengan paman ini begitu menguras tenaga?
"Baik. Aku akan keluar. Ayo, Yeol, kita berangkat bersama."
Tanda tanya besar segera muncul di kepala Baekhyun, belum sepenuhnya mengerti maksud dari ajakan Kris. Baekhyun menatap penuh curiga setelah menyadari penampilan Chanyeol yang sudah rapi. "Kau mau kemana?"
"Sydney.." Kris yang menjawab. "Kau belum tau ya suamimu akan pergi ke Sydney denganku? Apa dia belum bilang padamu?" tanyanya dengan raut tidak percaya.
"Apa itu benar, Chanyeol?"
"Dengarkan aku dulu, Baekhyun. Aku hanya—"
"Apa itu benar?!" sela Baekhyun tidak ingin basa basi lagi.
Chanyeol mengerang frustasi. Mengapa Baekhyun susah sekali di ajak bicara? "Iya, tapi—"
"Bersama Kris?"
"Tidak!" sangkal Chanyeol cepat-cepat. "Aku baru tau Kris juga akan pergi kesana. Aku hanya perlu untuk mengurus surat kepindahan dan segera pulang setelahnya." dan selamanya Byun Baekhyun akan menjadi si keras kepala yang tidak mau mendengarkan penjelasan suaminya.
"Pergi sana!" usirnya. "Pergi dari sini kalian berdua!"
"Baekhyun, dengar..."
"Pergi!"
"Baek—"
Plak!
Baekhyun meringis pelan, segera mengeluh dalam hati lantaran tangannya yang terasa kebas setelah menampar pipi Chanyeol. Kenapa wajah suaminya seperti batu? Keras sekali.. Baekhyun ingin mengibaskannya agar perihnya hilang tapi dia gengsi, dia yang menampar dia juga yang kesakitan..
Bagi Chanyeol tamparan Baekhyun sudah lebih dari cukup untuk membuat emosinya naik ke level maksimal, dia marah namun juga khawatir Kris akan memanfaatkan keadaan mereka yang kurang baik karena lelaki itu sangat pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Kau puas?!" geram Chanyeol marah.
Baekhyun balas menatapnya tajam tanpa ada rasa penyesalan, tidak sesuai ekspektasi Chanyeol yang mengira anak itu akan segera meminta maaf padanya. "Sangat." dagunya terangkat tinggi dan itu terlihat sangat menyebalkan di mata Chanyeol. "Aku tetap akan menunggu surat cerai darimu, Chanyeol!" tantangnya.
Mendengar itu emosi Chanyeol meledak, akal sehatnya tidak bisa lagi ia gunakan, hanya ada bisikan setan yang mendesaknya agar tidak lagi mengalah. "Akan segera kau terima." balas Chanyeol angkuh yang membuat Baekhyun terkejut setengah mati. Dia hanya berniat mengertak sebenarnya, kenapa malah jadi begini?
"Ayo, Kris, kita berangkat." Chanyeol berbalik dan Baekhyun bersumpah ia melihat Kris menertawainya yang hampir menangis karena terlalu panik.
"Ch-chanyeol!" panggil Baekhyun lirih dengan bibir bergetar, masih belum sepenuhnya percaya jika Chanyeol benar-benar akan melakukan ini padanya. "Cepat kembali! KU BILANG KEMBALI, PARK CHANYEOL!"
Chanyeol tidak peduli..
Baekhyun hampir mengejarnya sebelum merasakan dadanya tiba-tiba sesak, ingin menangis tapi tidak ada air mata yang keluar, perutnya mendadak mual dan kepalanya terasa berputar-putar, punggung Chanyeol dan Kris yang berjalan menjauh menjadi hal terakhir yang ia lihat sebelum semuanya berubah gelap. Bunyi 'bruk' yang lumayan keras itu membuat Chanyeol dan Kris reflek menoleh.
"Chanyeol, suamimu pingsan!"
~oOo~
"Dimana Baekhyun?!" serbu Sooyoung begitu melihat Chanyeol yang duduk lesu didepan ruang UGD, wanita itu baru datang sepuluh menit setelah Chanyeol menghubunginya.
Chanyeol mengangkat kepalanya sebelum menunduk lagi. "Masih di dalam.." jawabnya lirih.
"Apa yang sudah terjadi? Kenapa Baekhyun bisa pingsan? Kau tau, Haneul panik setengah mati mendengar kabar ini."
"Aku juga tidak tau, eomma."
Sooyoung inginnya marah tapi melihat wajah khawatir Chanyeol membuat niatnya urung.
Chanyeol masih ingat bagaimana paniknya mereka saat dalam perjalanan menuju rumah sakit. Chanyeol terus saja mendesak Kris untuk semakin mempercepat laju mobilnya setelah merasakan tubuh Baekhyun dipelukkannya berangsur mendingin seperti es, apapun yang Chanyeol lakukan tetap saja tidak berhasil membuat Baekhyun kembali terbangun, Chanyeol terus meminta maaf layaknya orang gila tapi tentunya Baekhyun tidak dapat mendengar itu semua.
Ketika Heechul dan Haneul datang pintu UGD terbuka, dua orang perawat keluar sembari mendorong bed stretcher berisi tubuh Baekhyun, Haneul dan Sooyoung langsung mengikuti mereka menuju kamar rawat, Heechul mengurus administrasi sementara Chanyeol pergi keruangan dokter setelah sang dokter mempersilahkan untuk mengikutinya.
"Dokter bilang apa?" Sooyoung menyambut Chanyeol yang baru masuk keruang rawat VVIP lantai 5 nomor 614.
Haneul juga ada disana, duduk tenang disamping ranjang dengan terus menggenggam tangan anak semata wayangnya yang terbebas dari jarum infus, sementara Heechul langsung kembali kekantor setelah menengok sebentar dan selesai dengan urusan administrasi.
"Banyak.." jawab Chanyeol. Raut wajahnya campur aduk antara khawatir, lega, dan juga bangga(?). "Pokoknya mulai sekarang eomma tidak boleh lagi melakukan tindakan kekerasan padaku."
Sooyoung mendelik sebal. Bagaimana tidak sebal kalau melihat Chanyeol mengatakan kalimat itu dengan wajah tengilnya? Sooyoung hampir-hampir berteriak jika tidak ingat mereka masih berada di rumah sakit sekarang. "Apa maksudmu? Jangan jadi anak durhaka, Chanyeol!" kalimat andalanya.. durhaka!
"Menjewer telinga dan segala bentuk ancaman dilarang keras mulai detik ini." Sooyoung gagal paham mendengar Chanyeol berkata-kata. "Nanti kalau aku mati bayi kami tidak akan punya ayah. Memangnya eomma mau tanggung jawab?" senyum jahil Chanyeol segera terbentuk melihat wajah Sooyoung dan Haneul yang semakin kebingungan.
"B-bayi?" gagap Haneul setelah beberapa saat, baru berhasil mencerna kalimat Chanyeol ternyata..
"Neh, mama Byun." Chanyeol tersenyum tampan. "Dokter bilang Baekhyun positif hamil dua minggu."
"Hamil?!" pekik para ibu hampir bersamaan. "Ya Tuhan, aku tidak percaya ini.." guman Sooyoung heboh sendiri. "Selamat, nak. Akhirnya kau akan menjadi seorang ayah." wanita itu memeluk Chanyeol tanpa bisa menahan tangis harunya.
Haneul memberi kecupan lembut di kening Baekhyun yang masih terlelap. "Terima kasih, sayang. Ibu bangga sekali padamu."
Para ibu sibuk memberitahu suami masing-masing perihal berita bahagia ini, Siwon yang saat ini berada di Jepang untuk urusan bisnis berkata akan segera pulang malam ini juga untuk menyambut kehadiran cucu pertama mereka, padahal lahir saja belum.. Heechul segera kembali ke rumah sakit begitu tau, ayah kandung Byun Baekhyun itu menangis terharu dipelukan istrinya, tidak percaya sebentar lagi ia akan menjadi seorang kakek.
Baekhyun tertidur hampir seharian dan dokter mengatakan itu hal wajar karena pasien memang membutuhkan waktu istirahat cukup banyak agar segera pulih setelah mengalami anemia dan dehidrasi. Ketika para orang tua duduk berkumpul sambil berbicara khayalan apa saja yang bisa mereka lakukan kelak saat cucu pertama mereka lahir, Chanyeol duduk merenung disamping ranjang rawat Baekhyun, menyatukan tangan keduanya dengan cincin pernikahan yang melingkar di jari manis masing-masing. Chanyeol sangat menyesal..
Baekhyun benar, Chanyeol memang suami yang buruk. Mual yang Baekhyun alami setiap pagi bukan lagi gejala iritasi lambung melainkan morning sickness, itu yang dokter katakan. Di saat seperti itu seharusnya Baekhyun mendapat perhatian lebih dari sang suami tapi Chanyeol malah mengabaikannya. Dokter juga bilang jika Baekhyun terus-terusan merasa stres itu akan berakibat fatal pada kandungannya, karena alasan itu dokter menyarankan agar Baekhyun bedrest untuk sementara waktu.
Tangan Baekhyun digenggaman Chanyeol mulai bergerak, disusul dengan kedua matanya yang perlahan terbuka. "Sayang, kau mendengarku?" Chanyeol mencoba mengalihkan perhatian Baekhyun karena tatapan anak itu tampak tidak terlalu fokus.
Baekhyun segera menyadari ada Chanyeol disana, tatapan Baekhyun lemah namun penuh kebencian. "Pergi." gumannya lirih, teringat Chanyeol yang mengabaikannya saat ia meminta suaminya itu untuk kembali.
Para orang tua yang mendengar suara Chanyeol mencoba mendekat, mereka tau Baekhyun sudah sadar tapi gumanan Baekhyun menjadi sinyal jelas bagi mereka jika Chanyeol dan Baekhyun memiliki sesuatu yang harus diselesaikan berdua hingga para orang tua memutuskan untuk keluar dari kamar rawat, memberikan kebebasan bagi keduanya untuk berbicara.
"Maaf, Baekhyun.."
"Kenapa kau masih ada di sini? Bukannya seharusnya kau sudah pergi dengan paman itu?" sindir Baekhyun. "Aku tidak mau melihatmu lagi, Chanyeol!"
"Tolong jangan buat dirimu stres." pinta Chanyeol lembut.
"Apa pedulimu?! Sekarang kita bukan pasangan lagi. Kita akan segera bercerai."
"Siapa bilang?" tanya Chanyeol dengan tatapan jahil dan Baekhyun tidak menyukai itu, di mata Baekhyun Chanyeol tampak seperti sedang mengejeknya. "Buktinya kita masih memakai cincin pernikahan yang sama."
Baekhyun segera melepas cincin di jari manisnya namun agak kesusahan karena seiring berat badan Baekhyun yang bertambah akhir-akhir ini hal itu juga berujung pada jari manisnya yang ikut menggemuk. "Hei, hei.. apa yang kau lakukan? Jangan dilepas." protes Chanyeol. "Memangnya kau serius mau bercerai denganku?"
"Iya." tegas Baekhyun. "Kenapa? Kau pikir aku takut menjadi janda di usia muda?" tantangnya yang mana itu malah membuat tawa Chanyeol meledak. Janda katanya.. "Asal kau tau saja, di luar sana masih banyak pria tampan ataupun gadis cantik yang mau menjadi pasanganku setelah bercerai darimu." sombongnya.
Chanyeol mengangguk-angguk. "Aku percaya kok."
Baekhyun pasang wajah galak karena Chanyeol tampak sekali meremehkannya. "Pergi jauh sana! Jangan kembali tanpa membawa surat cerai."
"Siapa bilang aku mau menceraikanmu?" Chanyeol bertanya kelewat santai.
"Kau sendiri yang bilang akan menceraikanku! Jadi manusia jangan plin plan!" dan Baekhyun menjawab dengan urat leher yang keluar kemana-mana hingga Chanyeol harus lebih sering mengingatkan anak itu untuk tidak stres.
"Aku hanya sedang emosi saat itu. Lihat ini.." Chanyeol menepuk pipi kanannya sendiri dengan jari telunjuk, itu agak memar. "Karena perbuatanmu." Baekhyun ingat itu karena tamparannya.
"Apa maksudmu memperlihatkan itu padaku? Ingin balas dendam? Lakukan saja, Chanyeol!."
"Tidak kok." balas Chanyeol. "Ayo baikan saja.."
"Tidak mau."
"Terus maunya apa?"
"Kau pergi."
"Yakin?"
"Seratus persen."
"Nanti kalau aku pergi bayi kita tidak punya ayah loh.."
Baekhyun dengan cepat menatap suaminya. "Bayi? Bayi apa?!"
"Dokter bilang kau hamil, Baekhyun." jelas Chanyeol kalem.
"HAMIL?!" pekik Baekhyun tidak santai. "Apa yang sudah kalian semua lakukan pada tubuhku? Berapa lama aku pingsan di rumah sakit? Seminggu? Sebulan? Atau mungkin setahun?" tebaknya ingin sekali tau.
"Apa yang kau katakan? Kau baru masuk rumah sakit tadi pagi." raut Chanyeol terlihat bingung.
"Tidak mungkin!" Baekhyun bersikeras tidak percaya. "Kalian pasti diam-diam sudah melakukan transplantasi rahim itu padaku, kalau tidak bagaimana mungkin aku bisa hamil?!"
Oh..
"Itu tidak benar, Baekhyun. Tidak ada transplantasi rahim dan kau memang benar-benar hamil."
Baekhyun menatap Chanyeol seperti tidak yakin, agak lama sebelum tatapannya berubah kosong, ia kemudian tertawa keras layaknya seorang idiot, mengabaikan raut khawatir Chanyeol yang melihat wajah Baekhyun semakin lama semakin memucat. "Tolong jangan bercanda. Kau membuat kepalaku sakit, Chanyeol.." keluhnya lirih, setelah mengucapkan itu kepala Baekhyun jatuh kesamping dengan mata terpejam erat. Dia pingsan lagi..
"DOKTER! SUSTER!"
~oOo~
"Akhirnya aku bisa melihatmu seperti gadis tomboi yang sedang hamil."
Baekhyun menatap Jongdae galak. "Mau ku pukul ya?" ancamnya.
"Sayang, jangan terlalu membenci Jongdae, oke? Aku tidak mau anak kita nanti wajahnya kotak seperti dia." sahut Chanyeol yang mendapat delikan tajam dari Jongdae.
"Kau masih berani bicara denganku? Keluar sana!" usir Baekhyun dan Chanyeol segera mendapat tawa ejekan dari Jongdae dan Kasper.
"Ingat! Jangan buat dirimu stres."
Baekhyun memutar bola matanya malas karena Chanyeol terus mengingatkan dirinya untuk tidak stres, dia bisa melakukan itu seratus kali dalam sehari. "Melihat mukamu saja sudah membuatku stres, Chanyeol!"
Chanyeol tidak kaget, dia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Baekhyun, bahkan sebelum ada Baekhyun Sooyoung sudah lebih dulu melakukan itu padanya.
"Iya. Aku akan keluar. Kau mau titip sesuatu tidak?" tawar Chanyeol.
"Bubble tea rasa coklat, Yeol!"
"Aku yang taro saja."
"Hei, Kim Jongdae, Kasper hyung, aku tidak sedang menawari kalian kok." sewot Chanyeol.
"Oh, aku kira.." raut Jongdae jadi kecewa.
"Belikan aku mangga muda dan Aku mau ibuku yang mengupasnya nanti. Ingat, Chanyeol, harus ibuku." perintah Baekhyun telak.
"Sayang, jarak rumah sakit ke mansion Byun 'kan lumayan jauh. Lagipula sepertinya agak susah cari mangga karena belum musimnya."
"Ya itu bukan urusanku."
Wajah merana Chanyeol lagi-lagi jadi bahan ejekan Jongdae dan Kasper. "Sudah mulai ngidam ya?" tanya Jongdae.
Baekhyun mengangguk cepat. "Sepertinya.."
"Sudah, Yeol, turuti saja. Nanti anakmu ileran loh kalau tidak kesampaian." peringat Kasper.
Chanyeol mengernyit jijik membayangkan iler dimana-mana. "Baik, aku akan berusaha."
"Fighting!" Jongdae menyemangati.
"Fighting!" balas Chanyeol tak kalah semangat, berjalan menuju pintu layaknya seorang prajurit perang yang siap mati.
"Ah, tunggu.." cegah Baekhyun sebelum Chanyeol sampai di ambang pintu.
"Ya, sayang?"
"Bawakan pesanan Jongdae dan Kasper hyung sekalian." mendengar itu Jongdae dan Kasper bertos ria.
"Hei, kalian berdua! Apa kalian pikir aku ini pesuruhmu?" tanya Chanyeol kesal.
"Sepertinya Chanyeol tidak ikhlas, ya?" Jongdae bertanya dengan raut yang lagi-lagi terlihat kecewa, percaya saja dia hanya pura-pura.
"Tidak usah saja, Baek. Aku jadi tidak enak sendiri." tambah Kasper.
"Kalian berdua memang bermuka dua!" hardik Chanyeol.
"Kau mau bawakan bubble tea-nya atau tidak?" nada bertanya Baekhyun terdengar lembut tapi jelas penuh ancaman. "Kalau tidak mau ya sudah tidak usah berkunjung ke rumah sakit lagi untuk menemaniku dan baby."
"Iya, iya, nanti ku bawakan." Chanyeol akhirnya mengalah.
"Ikhlas?"
"Ikhlas.."
"Ya, sudah, berangkat sana!" Chanyeol benar-benar keluar setelahnya.
"Selamat, Baekhyun-ah.. Akhirnya aku akan jadi seorang paman." ucap Kasper.
"Terima kasih, hyung."
"Jongdae-ya, jangan lupa untuk bayar kekalahanmu." wajah Jongdae jadi lesu seketika mendengar ucapan Kasper.
"Kekalahan apa?" tanya Baekhyun penasaran, dua sahabatnya ini tampak memulai sesuatu yang menyenangkan tanpa dirinya.
"Taruhan." jawab Kasper. "Aku memilih kau berada diposisi istri sementara Jongdae yakin kau akan menang diposisi suami."
Baekhyun meradang mendengar itu. "Kalian menjadikanku bahan taruhan?!" suaranya menggema satu ruangan.
"Hei, jangan stres." peringat Kasper.
"Jangan ikut-ikutan Chanyeol!" balas Baekhyun.
"Hubunganmu dengan Chanyeol sangat unik, sayang sekali untuk dilewatkan, jadi kami buat taruhan saja." jelas Jongdae.
Baik, mereka berdua bukan sahabatnya lagi..
"Eh, ngomong-ngomong aku penasaran kapan kau melakukan transplantasi rahimnya? Tau-tau sudah hamil saja." tanya Kasper.
"Aku memang tidak melakukannya, hyung. Ini aneh, tapi ibu sudah menjelaskan semuanya kenapa aku bisa langsung hamil setelah Chanyeol memperkosaku saat kita honeymoon."
"Kau diperkosa?!" pekik Kasper, tatapannya agak kurang yakin dengan pengakuan Baekhyun.
"Pasti kau yang menggodanya lebih dulu, Byun." tebak Jongdae.
"Tidak, Kim." sangkal Baekhyun. "Aku mabuk dan dia terus berkata hal-hal yang membuatku terpojok. Aku tidak punya pilihan selain menyerahkan keperjakaanku."
"Lalu bagian mana yang kau sebut 'memperkosaku'? Jelas-jelas kau yang menyerahkannya sendiri." Kasper jadi emosi, dia ini diam-diam menjadi pendukung Chanyeol nomor satu.
"Terserah aku mau menyebutnya seperti apa!"
"Hei, ingat! Jangan stres." kali ini Jongdae yang melakukannya. Baekhyun sudah kenyang mendengar kata 'Jangan stres' dan dia mulai bosan.
Haneul tipe orang tua yang membebaskan anaknya bergaul dengan siapa saja, ia menganggap cara seperti itu dapat membuat Baekhyun lebih terbuka padanya termasuk urusan asmara. Gaya pacaran Baekhyun masih tergolong wajar dan Haneul tidak mempermasalahkan apapun, dia ini percaya sekali pada anaknya, namun itu berubah setelah seorang gadis datang dan mengaku hamil. Haneul menyadari satu hal, Baekhyun tidak sepolos kelihatannya, anaknya itu sudah mengerti tentang seks.
Haneul memiliki cara tersendiri untuk mengatasi hal itu, dia tidak menggunakan bodyguard yang akan menjaga Baekhyun selama dua puluh empat jam penuh meski tidak diragukan keluarga mereka mampu untuk menyewa beberapa orang berbadan besar itu tapi ini jelas-jelas bukan kehidupan di dalam drama yang sering Haneul tonton. Haneul hanya memberikan perhatian lebih, mengajak Baekhyun berbicara santai dengan menikmati kue buatannya sendiri dan minum teh, juga tidak segan-segan memberi banyak pujian pada anak itu. Dengan begitu Baekhyun tidak akan tega membohongi ibunya yang super baik ini.
Alasan kenapa Haneul tampak santai-santai saja ketika ada ada gadis yang mengaku hamil bayi anaknya, itu karena Haneul mengerti dengan benar bagaimana kondisi tubuh Baekhyun, Haneul baru mengetahuinya ketika Baekhyun menginjak usia empat tahun, saat dokter keluarga mereka melakukan tes kesehatan secara keseluruhan dan mereka menemukan hal mengejutkan. Baekhyun memiliki rahim. Dalam keadaan sehat dan dapat dibuahi untuk beberapa waktu kedepan, sebaliknya sperma anak itu mati. Sebanyak apapun Baekhyun berhubungan dengan perempuan, perempuan itu tidak akan bisa hamil bayinya. Itu sebabnya Haneul tidak kaget ketika ada pacar anaknya yang mengaku hamil, sebagian memang benar-benar hamil dengan pacarnya yang lain sementara lainnya hanya mengada-ada demi mendapatkan uang.
Perihal perjodohan itu sudah direncanakan sejak Haneul dan Sooyoung masih duduk di bangku SMP, mereka berjanji akan menjodohkan anak mereka kelak. Keduanya langsung menikah setelah lulus SMA, tiga bulan setelah pernikahan Sooyoung hamil dan Chanyeol lahir namun Haneul baru positif hamil tiga tahun kemudian. Ketika Baekhyun lahir Haneul agak terkejut mengetahui jenis kelamin bayinya laki-laki, saat melakukan pemeriksaan USG mereka memang sengaja tidak menanyakan jenis kelamin calon bayinya tapi sangat yakin jika bayi itu berjenis kelamin perempuan setelah Heechul bermimpi melihat seekor babi putih kecil dan Haneul mimpi tentang ular piton, yang mana babi putih dan ular piton menggambarkan seorang wanita. Haneul bercanda dengan mengatakan mungkin anak kedua mereka nanti berjenis kelamin perempuan dan bisa dijodohkan dengan Chanyeol, Sooyoung menanggapinya dengan lebih gila lagi, 'Apa yang salah dengan Baekhyun? Dia bayi yang cantik, kalau Chanyeol mau aku tidak masalah berbesan denganmu kelak. Iya 'kan sayang?' dan Chanyeol kecil yang belum mengerti apa-apa menjawab dengan anggukan penuh antusias sebelum menciumi pipi gembil Baekhyun.
Setahun setelah kelahiran Baekhyun keluarga Park pindah ke Jepang dan baru kembali ke Korea tiga tahun setelahnya tanpa Chanyeol, anak itu menetap di Jepang bersama kakek neneknya. Haneul dan Sooyoung bertemu sekedar melepas kangen, dari sana Sooyoung mengetahui keistimewaan Baekhyun dan semakin memantapkan hati untuk menjadikan Baekhyun menantunya kelak, ia mulai meracuni Chanyeol yang saat itu masih berusia delapan tahun dengan segala hal berbau Baekhyun dan beruntungnya anak itu tidak menolak. Saat berusia sembilan belas tahun, Chanyeol pindah ke Sydney untuk melanjutkan pendidikannya. Tiga tahun kemudian Chanyeol baru kembali ke Korea untuk menemui Baekhyun yang sudah beranjak dewasa.
"Lama sekali, Yeol?!"
Chanyeol hanya mengelus dada sabar, baru datang tapi sudah dapat tatapan garang suaminya. "Cari mangganya 'kan susah, sayang. Belum lagi mampir ke mansion Byun, jauh."
"Kau mengeluh?"
"Apapun untukmu, sayangku." Chanyeol mengakhirinya dengan menaruh beberapa kotak makanan berisi mangga dipangkuan Baekhyun. "Nah, silakan dimakan.." ia membukanya satu-satu, ada sekitar empat kotak berisi potongan-potongan kecil buah mangga dengan tingkat kematangan berbeda-beda.
"Kau menyuruh ibu mengupas ini semua?" tanya Baekhyun.
"Iya, sesuai permintaanmu."
"Ini terlalu banyak, kasihan ibuku." Chanyeol disalahkan lagi.. "Lain kali bawakan satu yang seperti ini saja." Baekhyun mengangkat garpu yang menusuk potongan mangga yang belum terlalu matang, Chanyeol yakin rasanya pasti asam sekali.
"Neh." jawab Chanyeol, setelahnya ia celingak celinguk seperti mencari sesuatu. "Jongdae dan Kasper hyung mana?" tanyanya.
"Pulang."
"Buru-buru sekali. Padahal aku sudah bawakan bubble tea-nya."
"Kau saja yang minum supaya tidak mubazir."
"Tidak mau."
"Minum, Yeol!" sifat maksanya muncul lagi..
"Iya, iya!" Chanyeol menggerutu dalam hati, awas saja nanti kalau dia bertemu Kasper dan Jongdae, dua orang itu akan habis ditangannya.
Selagi Baekhyun memakan mangganya penuh nikmat, Chanyeol menghabiskan dua gelas minuman tanpa tersisa yang membuat perutnya terasa kembung sekarang. "Yeol, lalu ini siapa yang makan?" Baekhyun menunjuk satu persatu tiga kotak yang tersisa.
"Taruh di kulkas saja, besok kau makan lagi."
"Tidak mau."
"Ya sudah dibuang saja."
"Kau ini tidak bisa menghargai makanan sama sekali ya?" gerutu Baekhyun, sedikit melempar salah satu kotak kearah suaminya. "Makan itu."
"Aku tidak mau, Baekhyun."
"Baby yang minta." ucapnya sambil mengelus-elus perut ratanya.
Chanyeol menatapnya tak percaya. "Jangan alasan.."
"Serius, Chanyeol. Kalau kau tidak mau ya sudah. Kau memang bukan calon ayah yang baik, baby minta begitu saja tidak dituruti." gerutu Baekhyun.
Bukan tanpa alasan Chanyeol menolak, dia mau saja jika itu mangga matang yang manis tapi masalahnya yang Baekhyun sodorkan adalah potongan mangga yang masih mentah, warnanya masih putih dan keras, Chanyeol tidak bisa membayangkan rasa asamnya seperti apa. "Ini dibuang saja ya karena tidak layak dimakan."
"Ibu 'kan sudah mengupasnya susah-susah kenapa harus dibuang?"
"Ini masih mentah."
"Kau 'kan yang beli. Jadi kau yang makan."
"Kau yang minta. Kenapa jadi aku yang makan?"
"Aku bilangnya mangga muda bukan mangga mentah. Kau ini bodoh ya?"
"Tapi, Baek—"
"Makan! Atau ku adukan pada mama Park jika kau dan Kris yang sudah membuatku pingsan sampai harus masuk rumah sakit."
Kalah telak..
Chanyeol meraih garpu kecil dan mulai memakan potongan mangga mentah itu satu-satu. Wajahnya mengernyit dan sesekali mengerang keras tampak sangat tersiksa dengan rasa asam yang menjalari lidahnya tapi bagi Baekhyun itu seperti hiburan tersendiri. Setelah satu kotak dihabiskan dengan penuh perjuangan, Baekhyun menyodorkan dua kotak tersisa, meminta Chanyeol menghabiskannya sekalian.
Esok harinya Chanyeol mengalami diare parah, ia tidak bisa menjemput Baekhyun pulang dari rumah sakit karena tubuhnya lemas dan Ryeowook terpaksa memberinya cairan infus.
Gara-gara mangga..
~oOo~
to be continue..
~oOo~
Big Thank's to:
inchan88, yuanitadian, shinshiren, MadeDyahD, BubbleXia, Izahina98, kim jin 9047, Call Me Zaa, Adndpwh, OhSehun's Mom, byunniebee, BaekHill, luvyrhea, Sitachaan, PRISNA CHO, Basfxck, Park RinHyun-Uchiha, Yana Sehun94, ssuhoshnet, Aerellia, Aisyah6104.
~oOo~
