Chapter 8

Household

.

ChanBaek

.

Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.

.

Rating : T

.

Happy Reading

.

.

Flashback..

Rainy Day Cafe menjadi tempat favorit Chanyeol selama berada di Jepang, hari itu hujan turun lumayan deras sehingga banyak para pelanggan yang mampir sekedar menikmati segelas minuman hangat sembari berkumpul dan mengobrol dengan sahabat masing-masing. Chanyeol dan Leo datang untuk belajar sembari menikmati suasana baru, keduanya tengah mempersiapkan diri baik-baik untuk bisa masuk ke universitas yang di inginkan, Leo berniat melanjutkan pendidikan di salah satu universitas Korea, tanah kelahirannya, sementara Chanyeol ingin sekali kuliah di luar negeri tapi ia belum menetapkan negara mana yang akan ia pilih, lagipula masih ada cukup waktu untuk memikirkannya nanti.

"Lelaki itu—dia selalu melihatmu lekat-lekat, kau kenal dia, Yeol?" tanya Leo. "Yach, jangan menoleh, bodoh!" pemuda itu menggeplak belakang kepala Chanyeol yang hampir menoleh, membuatnya meringis sakit. "Dia sedang memperhatikanmu sekarang."

"Yang tinggi itu?" Chanyeol menebak.

"Iya, yang agak bule." jawab Leo dan Chanyeol segera tau orang yang sahabatnya itu maksud.

"Aku tidak kenal tapi kupikir dia orang yang aneh." Leo mengangguk setuju.

Chanyeol sadar ia selalu di amati hampir seminggu ini, dia risih jujur saja, ingin menghampiri dan menanyai si bule tapi nanti di kiranya kepedean, bisa saja itu hanya kebetulan mereka berada ditempat yang sama dan waktu yang sama 'kan? ya, bisa saja seperti itu..

"Ssstt.. Dia datang!" bisik Leo.

Chanyeol yang baru tersadar dari lamunannya tidak sempat mendengar apa yang sahabatnya itu katakan. "Kau bicara apa barusan?"

Chanyeol segera terbelalak mengetahui seseorang tiba-tiba melingkari pundaknya dari belakang. "Yoora-ya.." suara berat itu membuat Chanyeol merinding, duduk membatu ditempat.

"M-maaf? Kau—"

"Yoora.." lelaki itu menggumamkan nama yang sama secara terus menerus, dia bahkan tidak segera pindah dari posisinya, mengabaikan tatapan aneh dari pelanggan lain.

"Kurasa dia kurang waras." Leo menilai. "Ayo, cabut saja!" ajaknya meraih tas punggungnya di atas meja, Chanyeol mendelik sebal, setidaknya bantu lepaskan dulu orang dibelakang sana, sialan..

"Jangan pergi lagi, please.." pinta lelaki itu.

"Tentu—tapi sebelumnya bisa kau jelaskan apa maksudnya ini?" tanya Chanyeol. "Dan tolong lepaskan pelukanmu, kita jadi tontonan orang-orang." pelukan itu dilepas beberapa detik kemudian membuat Chanyeol bisa kembali bernafas lega. "Aku tau kau selalu mengikutiku akhir-akhir ini dan—"

"Benar-benar mirip.." guman lelaki itu menyela setelah menatap wajah Chanyeol lebih dekat dan detail. "Park Yoora, kau kembali?" bola matanya bergetar dengan air mata yang sudah menggenang, Chanyeol yakin itu akan segera tumpah dalam berapa detik lagi.

"Psstt, Yeol! Ayo, pergi. Cepat!" ajak Leo, mulai curiga jika lelaki tinggi itu benar-benar gila tapi Chanyeol meminta sahabatnya itu untuk kembali duduk tenang, nalurinya berkata jika lelaki itu tidak memiliki niat jahat padanya, setidaknya jika itu terjadi ia akan segera mendapat bantuan karena mereka berada di tempat umum sekarang.

"Aku Park Chanyeol, lalu kau?"

"Kris. Kris Wu.." jawabnya dengan pandangan kosong. "Ke-kenapa kalian sangat mirip?"

"Maaf?"

"Yoora, kekasihku.." gumam Kris tidak jelas. "Katakan padaku jika kau reinkarnasi Park Yoora? Iya 'kan?"

"Kau membuat lelucon, bung! Itu semua tidak mungkin." sahut Leo tidak tahan sahabatnya diperlakukan tidak jelas oleh seorang lelaki asing.

"Park Chanyeol—Park Yoora.. kalau begitu kalian pasti bersaudara. Apa Yoora saudara perempuanmu?" Kris tidak mempedulikan ocehan Leo, masih tetap ngotot, itu karena ia tidak begitu tau perihal keluarga kekasihnya sebelum ini, Yoora memiliki kepribadian yang agak tertutup, ia pernah mengaku jika dia seorang yatim piatu tapi bisa saja itu hanya sebuah alasan karena mungkin ia tengah berselisih dengan keluarganya. Semua itu bisa saja terjadi 'kan?

"Sayangnya aku anak tunggal." jawab Chanyeol jujur.

"Kau yakin?" Kris berusaha mencari kebohongan di mata pemuda itu.

"Iya. Dan bagaimana bisa kau menyamakanku dengan seorang perempuan? Aku ini laki-laki."

Kris segera mengeluarkan ponselnya, menyodorkan pada Chanyeol beberapa saat kemudian. Di layar terlihat foto perempuan bermata bulat dengan rambut lurus pendek sebahu tengah tersenyum manis—Chanyeol seperti menemukan dirinya di dalam sana.

"Aku tidak percaya ini.." gumam Leo setelah memperhatikan foto Yoora di sana. "Kenapa kalian mirip sekali? Dia seperti kau yang memakai wig sebahu, Yeol." komentarnya.

"Dia orang Korea?" tanya Chanyeol dan Kris menjawab dengan anggukan pelan.

"Kami sudah enam tahun tinggal bersama. Aku berniat menikahinya tahun ini meski keluargaku menentangnya habis-habisan karena status sosial kami jauh berbeda, aku pikir dia sudah di ancam setelah menolak lamaranku. Aku tidak pernah tau dia mengidap penyakit kanker hati selama ini, aku menemukannya pingsan di dapur sore itu, Yoora sempat dirawat di rumah sakit selama satu bulan sebelum Tuhan membawanya pergi."

Chanyeol dan Leo tidak bisa berkomentar apa-apa mendengar kisah hidup Kris yang menyedihkan.

"Aku tau ini tidak masuk akal tapi Park Chanyeol—maukah kau menjadi kekasihku?

.

.

~oOo~

.

.

"Aku baru keluar dari rumah sakit tapi sudah dimarah-marahi." gerutu Baekhyun sebal.

"Ibu tidak marah, sayang.. Ibu hanya mengingatkanmu untuk tidak bersikap keterlaluan pada suamimu." balas Haneul. Ibu hanya tidak tau jika Chanyeol lebih keterlaluan.. batin Baekhyun.

"Ini bukan salah Baekhyun. Dia 'kan sudah bilang mengidam melihat Chanyeol makan mangga, Neul-ah." bela Sooyoung dan Baekhyun mengangguk penuh semangat membenarkan itu.

"Alasan.."

"Ibu kenapa jadi membela Chanyeol? Dia keterlaluan, bu. Selingk—" Baekhyun buru-buru menutup mulutnya, hampir keceplosan..

"Seling?" Sooyoung mengulang penuh tanya.

"Kau mengatakan apa, sayang?" tanya Haneul penasaran. "Seling? Seling apa?"

Sooyoung membulatkan kedua matanya. "Seling—kuh?" ejanya tidak yakin.

"Selingkuh?!" pekik Haneul. "Apa benar Chanyeol selingkuh, Baekhyunnie?"

"Dia benar-benar selingkuh?!" raut Sooyoung tampak terkejut dan berangsur menjadi raut siap memukul seseorang, Chanyeol tentu saja..

"Tidak, tidak, tidak!" sangkal Baekhyun cepat-cepat. "Apa yang ibu dan mama Park katakan?! Chanyeol selingkuh? Lelucon macam apa itu, astaga.." Baekhyun tertawa paksa, ketara sekali anak itu sedang gugup. "Aku tadi mengatakan 'sering' kok. Iya 'sering'.."

"Itu terdengar 'seling', sayang.." Haneul membenarkan yang di angguki oleh Sooyoung.

"Benarkah?" lagi-lagi si mungil tertawa paksa. "Lidahku tadi kepeleset, ya seperti itu.. maksudku Chanyeol 'sering' sekali membuatku kesal, begitu.."

"Ah, begitu rupanya." Sooyoung tampak lega. "Aku hampir saja berniat membuatnya masuk rumah sakit sekalian jika anak nakal itu benar-benar selingkuh." ibu yang sadis..

"Apa yang kau katakan, Sooyoungie? Kalian berdua memang sama saja, gemar sekali menyiksa menantu kesayanganku." Haneul mengerutu tidak terima.

"Habisnya dia diam saja diperlakukan seperti itu. 'Kan jadi seru.." balas Sooyoung, contoh mutlak dari seorang ibu durhaka..

Haneul geleng-geleng kepala, tidak mengerti dengan jalan pikiran Sooyoung, punya anak setampan itu bukannya disayang-sayang malah disia-siakan. "Sayang, kau bisa istirahat di kamar lain, biarkan Chanyeol tidur di kamar kalian."

"Aku ingin melihatnya sebentar, bu." pinta Baekhyun.

"Ya sudah tapi jangan menganggunya. Kami akan pergi ke dapur untuk menyiapkan makan siang, kalau kau menginginkan sesuatu minta pada ibu atau mertuamu saja, jangan minta aneh-aneh pada Chanyeol karena Ryeowook bilang dia belum terlalu baik. Kau mengerti, Baekhyunnie?"

"Iya, bu.."

Ketika Baekhyun masuk kedalam kamarnya ia menemukan Chanyeol tengah tertidur, tidak terlalu pulas karena lelaki itu banyak berkeringat dan sesekali meringis sakit. Haneul tidak bohong mengatakan Chanyeol sampai harus mendapatkan cairan infus, itu ada dipunggung tangan kirinya dan terhubung dengan kantong cairan yang isinya tinggal setengah, menggantung di sisi kepala ranjang.

Baekhyun tiba-tiba ingin menangis meraung-raung melihat kondisi suaminya, mungkin benar ini bawaan kehamilan yang membuatnya terlihat berlebihan ketika melakukan segala hal, terkadang ia merasa gembira segembira-gembiranya tanpa alasan yang jelas, atau jadi sedih berlebihan hanya karena melihat serial kartun dimana ada adegan si kotak kuning dan sahabatnya—si bintang laut berwana pink itu diusir paksa dari rumah tetangganya, si gurita. Dia bahkan meminta dokter Oh untuk menjelaskan mengapa si gurita begitu sombong? Tidak bisakah dia membuka sedikit hatinya untuk si kotak kuning dan si bintang laut pink? Konyol.. dokter Oh tentu saja bingung harus menjawab apa dan itu akan berakhir setelah sang dokter muda menyeret perawat Xi untuk menjelaskan pada Baekhyun. Anehnya Baekhyun sangat puas mendengar penjelasan perawat dari Cina itu.. ya, mungkin karena keduanya sama-sama konyol.

"Yeol, jangan mati!"

Chanyeol yang saat itu masih berada di alam mimpi merasa terusik karena badannya digoncang-goncang tanpa perasaan terpaksa terbangun, ia menemukan suami mungilnya tengah duduk dipinggir ranjang dengan wajah sedih.

"Hei, selamat datang kembali di rumah, Baekhyunnie.." sambutya dengan suara agak serak dan senyum manis yang tidak luput ia suguhkan.

"Maaf.." cicit Baekhyun. "Kau sakit pasti gara-gara aku 'kan?" jawabannya sudah jelas tapi dia masih bertanya..

"Tidak apa-apa, 'kan baby yang ingin." balas Chanyeol, tidak benar.. sebenarnya itu murni keinginan Baekhyun, dia masih kesal kemarin dan mencoba melampiaskannya dengan itu. "Bagaimana keadaamu?" Chanyeol beralih kepertanyaan lain setelah melihat Baekhyun yang hampir menangis, jika sampai ada air mata yang tumpah Chanyeol pasti akan habis ditangan Sooyoung, ibunya itu tampak memiliki dendam pribadi padanya. Mungkin di kehidupan yang lalu mereka musuh bebuyutan dan menjadi pasangan ibu dan anak di kehidupan selanjutnya, itu sebabnya Sooyoung tampak tidak segan-segan mem-bullynya..

"Aku sudah merasa jauh lebih enakan setelah keluar dari rumah sakit." jawab Baekhyun.

"Syukurlah.. Lalu baby, bagaimana kabarnya?"

"Dokter Oh bilang dia masih sangat kecil sekali, Chanyeol. Jadi kita harus sangat berhati-hati menjaganya, dokter Oh juga mengatakan aku tidak boleh stres karena baby akan merasakan dampaknya juga."

"Dia akan tumbuh besar dan sehat beberapa bulan ke depan." Chanyeol sedikit menggeser posisinya. "Kemarilah, kita tidur bersama.." yang dipanggil segera menurut, rebahan disamping sang suami. "Kau ingin anak kita nanti laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki." jawab Baekhyun tanpa ragu. "Yang manis.."

"Sepertimu?" kekeh Chanyeol.

"Aku manly, Yeol!"

"Ingin sekali di akui, ya?"

"Sekali saja, please.. Katakan jika aku manly."

"Boleh, tapi peluk dulu." Baekhyun menyanggupinya namun dua detik kemudian anak itu cepat-cepat mendorong tubuh Chanyeol menjauh. "Yeol, kau bau.." mimik wajahnya mengernyit jijik. "Kau tidak mandi berapa hari sih? Jorok sekali!"

"Baru tadi pagi." jawab Chanyeol jujur.

"Astaga, aku tidak tahan!" jerit Baekhyun, mengibas-ibaskan tangannya didepan hidung. Anak itu hampir bangkit berdiri sebelum Chanyeol menarik tangan Baekhyun, menahan tubuh mungil yang kembali jatuh di atas empuknya ranjang untuk dipeluk erat-erat.

"Aku tidak sebau itu, Baekhyun!" Chanyeol pura-pura tidak terima.

"Aku tidak becanda, Chanyeol! Kau bau sekali, aku mual.."

"Mual? Bagaimana dengan ketiak, huh? Ingin mencoba?"

"Serius, kau—hoek!" Chanyeol melepaskannya, membiarkan Baekhyun berlari kekamar mandi, ia bisa mendengar suara suaminya muntah-muntah disana.

"Sayang, kau baik-baik saja? Sebentar, aku akan menyusulmu.." teriak Chanyeol setelah terdengar suara air mengalir dari keran wastafel.

"Jangan!" Baekhyun balas berteriak setelah mualnya agak mereda. "Aku baik-baik saja, aku akan keluar sebentar lagi, jangan khawatir.."

Lima menit kemudian Baekhyun benar-benar keluar dari sana, anak itu menjapit hidungnya erat-erat dengan jari-jari lentiknya. "Aku baru sadar kamar ini memiliki aromamu, ini buruk sekali!" omelnya sambil berjalan meninggalkan kamar, mengabaikan Chanyeol yang sibuk mengedus-edus tubuhnya.

Chanyeol berani bersumpah dia tidak sebau yang Baekhyun katakan, bahkan wangi parfumnya kemarin malam masih tercium, meski hanya samar-samar.. Haneul dan Sooyoung lagi-lagi meminta Chanyeol untuk bersabar menghadapi sikap aneh Baekhyun, pengaruh kehamilan katanya..

~oOo~

Flashback...

"Kau benar-benar jadian dengannya?" tanya Leo ketika menemukan Kris didepan gerbang sekolah mereka.

"Tidak." jawab Chanyeol singkat, tampak tidak suka.

"Apa sebaiknya kita lewat pagar belakang?" tawar Leo.

"Tidak perlu." Chanyeol menghela nafas, Leo tau anak itu mulai kesal dengan tingkah Kris yang terkesan terus mengekorinya. Kris mengungkapkan perasaannya hampir sepuluh kali dalam sebulan ini dan Chanyeol menolak dengan nominal angka yang sama.

"Kita sudah menggunakan segala cara untuk menolaknya tapi tidak pernah berhasil. Kupikir dia benar-benar tulus padamu. Sudah, terima saja."

"Kau sudah gila, ya?!" Chanyeol tidak percaya yang berdiri didekatnya saat ini benar-benar sahabatnya. "Kris bukan seorang gay."

"Siapa bilang?" balas Leo bertanya. "Awalnya Kris pikir dia seorang gay tapi kedatangan Yoora membuatnya ragu dengan orientasi seksualnya karena ia pikir mereka akan berjodoh. Kematian Yoora membuatnya kembali yakin jika dia memang murni seorang gay, apalagi setelah dia melihatmu."

"Sudah bicaranya?" tanya Chanyeol sebal.

Leo tampak acuh. "Dia curhat padaku kemarin malam dan memintaku untuk menyampaikannya padamu. Aku akan menagih imbalanku sekarang."

"YA! Jangan kesana!—aish!" gerutu Chanyeol melihat Leo yang menghampiri Kris di sana, mau tak mau Chanyeol mengikutinya. Leo penghianat..

"Hai, Yeol.." sapa Kris dengan senyum tampan tapi Chanyeol mengabaikannya.

"Aku sudah menyampaikannya, jangan lupa imbalan yang kau janjikan." Leo mengingatkan.

"Oh, ya? Terima kasih.."

Leo tersenyum lebar. "Kau bisa mengandalkanku. Nah, sekarang pergilah berkencan kalian berdua."

Chanyeol menatap Leo seolah akan memukul pemuda itu, sahabatnya itu jelas tau jika Chanyeol sudah punya Baekhyun, Kris juga tau setelah Chanyeol memberitahunya tempo hari, tapi kenapa keduanya ngotot sekali sih? "Nikmati waktu bersama kalian.." Leo tertawa keras, berjalan meninggalkan keduanya.

"Hey!—"

"Yeol." Kris menarik pergelangan tangan Chanyeol yang hampir menyusul Leo.

"Lepaskan! Aku risih." tegur Chanyeol.

"Oh—maaf." gumam Kris jadi tidak enak sendiri melihat reaksi tak bersahabat dari Chanyeol. "Kau pasti bosan melihatku terus, ya?" sudah tau pakai tanya segala.. "Aku akan kembali ke Sydney minggu depan."

Chanyeol tersentak, diam-diam bersorak dalam hati. Tahan-tahan saja sampai minggu depan, setelah itu dia akan bebas—selamanya, ya selama-lamanya..

"Senang sekali, ya?" tanya Kris dengan senyum miris.

"Apa maksudmu?" Chanyeol balas bertanya.

"Kau sampai senyum-senyum sendiri setelah mendengar aku akan kembali ke Sydney."

Oh, tentu saja..

"Apa tidak ada salam perpisahan?" dia mulai banyak maunya rupanya.. Chanyeol tampak acuh, tidak ingin menanggapi pertanyaan Kris, nanti kalau dia menjawab bisa-bisa Kris menganggap Chanyeol sedang memberinya kesempatan. "Bagaimana kalau besok pergi ke festival musim panas denganku?" ajaknya.

"Aku mungkin akan pergi dengan Leo."

"Bukankah dia dengan kekasihnya?" ah, Keyko.. Leo bahkan tidak bercerita pada Chanyeol akan pergi dengan kekasih Jepangnya itu. "Setidaknya pergilah denganku untuk terakhir kali, Yeol.."

"Maaf, aku tidak bisa."

Sebanyak apapun Chanyeol menolak sebanyak itu pula Kris membujuk dan Leo memaksanya pergi ke festival musim panas bersama, sahabatnya itu bahkan mengancam akan membakar gitar kesayangan Chanyeol yang ia pinjam tiga hari yang lalu, membuat Chanyeol terpaksa ikut.

Festival berlangsung, masyarakat sekitar mengarak perlengkapan festival berkeliling kota sambil memanggul mikoshi, tandu yang dihias dengan megah seperti sebuah yagura dan dipercaya dinaiki oleh objek pemujaan atau roh. Mereka akan berteriak-teriak dengan semangat, sedangkan untuk dashi, kendaraan yang dihias dan mengangkut drum besar, selagi diarak, di atasnya terdapat terdapat sajian musik yang dapat dinikmati oleh para penonton, bahkan para wisatawan juga dapat ikut berpartisipasi untuk mengarak mikoshi.

Chanyeol menikmati takoyakinya dalam diam sementara Kris tampak menyukai sajian dessert dingin kakigori, es serut Jepang. "Itu kelihatannya enak. Cicip satu boleh?"

"Tidak." balas Chanyeol singkat sambil tetap mengunyah makanan berbentuk bola-bola kecil yang terbuat dari adonan tepung dan di isi potongan gurita di dalamnya.

"Apa kau merasa terganggu karena aku tiba-tiba muncul dikehidupanmu?"

"Biasa saja."

"Sikapmu itu dingin sekali padaku." Kris berusaha jujur, Chanyeol jelas bukan orang dengan sifat seperti itu hanya saja ia merasa tidak nyaman, lagi pula Kris ini tidak jelas sama sekali orangnya, tiba-tiba datang dan menyukainya. "Aku tidak tau, Chanyeol. Aku ingin menjauh tapi aku tidak bisa melakukannya."

"Kau akan mulai terbiasa dalam satu minggu kedepan. Percayalah padaku.." Chanyeol berbicara sok meyakinkan.

Kris lagi-lagi tersenyum miris mendengar balasan Chanyeol. "Ya, kau benar."

Keduanya saling diam untuk beberapa saat sebelum suara Leo memanggil-manggil nama Chanyeol dari kejauhan terdengar, pemuda itu datang mendekat bersama pacarnya. "Aura mendadak jadi suram saat kalian hanya berdua, ya?—ayolah, Yeol! Buka sedikit hatimu untuk Kris."

Chanyeol mendelik sebal pada Leo tanpa Kris ketahui. "Lagipula Baekhyun belum tentu setia padamu 'kan?"

"Kenapa kau jadi sok tau begini?!" hardik Chanyeol.

"Jangan bodoh!" balas Leo. "Calon pendamping hidupmu itu hanya polos di luar, aku rasa Baekhyun memiliki sikap nakal dan liar yang tidak terduga."

"Kau ini dukun atau apa?" ejek Chanyeol.

"Begini, Chanyeol—" Leo berdehem pelan, merangkul pundak pemuda itu. "Baekhyun masih tiga belas tahun sekarang, dia masih butuh setidaknya tujuh tahun untuk menjadi dewasa di mata negara, bukankah itu cukup lama? Sembari menunggu tidak ada salahnya 'kan kau mencari pengalaman daripada menjomblo selama itu, membosankan sekali."

"Aku tidak akan bosan menunggu Baekhyun dewasa." jawab Chanyeol, Leo hampir putus asa bicara dengan sahabatnya itu.

"Memangnya tipemu itu seperti apa? Yang imut-imut seperti Baekhyun, kalau begitu kau pasti tipe yang selalu ingin melindungi pacarmu, ya?—cukup tau." tatapan sinis Leo layangkan, Chanyeol tau anak itu tengah mengejeknya sekarang. "Lihat dirimu! Kau bahkan belum becus mengurus diri sendiri, begitu saja sudah ingin melindungi anak orang lain."

Chanyeol memang agak ceroboh orangnya tapi percayalah dia sudah banyak belajar untuk mengurangi itu agar bisa jadi orang yang dapat Baekhyun andalkan kelak. "Kau ini bicara apa?" tanya Chanyeol datar, ogah terpengaruh.

"Tidak ada salahnya 'kan kau menerima Kris?" tentu saja salah, kalau tidak suka kenapa harus dipaksakan?

Chanyeol tidak peduli, mencoba menghindari ocehan Leo dengan kembali fokus menikmati takoyakinya yang tersisa sekitar enam biji, dia memasukkannya dalam mulut tiga tusuk sekaligus. "Hei, kalau ada orang bicara itu dengarkan. Dasar tidak sopan!"

"Sudahlah, Leo-ssi.. kita tidak bisa memaksa keputusan yang sudah Chanyeol buat." ucap Kris putus asa, Chanyeol mengangguk dan memberi jempol pada lelaki tinggi itu, tidak lupa tersenyum di sela mulutnya yang penuh dengan makanan. "Lagipula aku akan kembali ke—"

"Uhuk!"

Semuanya beralih menatap Chanyeol yang baru saja tersedak takoyakinya, tangan panjangnya meraih-raih minuman Leo tapi itu hanya menyisakan balok es batu didalamnya, sahabatnya itu seperti tidak ada niat untuk membantu sama sekali meski wajah Chanyeol sudah memerah sempurna, nyaris membiru.. Kris menepuk-nepuk punggung Chanyeol dengan khawatir, lelaki itu ingin membagi minumannya tapi yang ia punya hanya sejenis es serut yang belum sepenuhnya meleleh, Kris tidak bisa pergi membeli minuman lain, kemungkinan itu akan lama karena kios-kios tampak penuh sekali dengan pengunjung.

Chanyeol butuh air..

Apa mereka semua ingin melihatnya mati tersedak tanpa memberikan pertolongan? Leo bahkan sudah menertawakannya sekarang. Tidak keren sekali mati dengan cara seperti ini..

"Aku akan memberikan minuman Keyko untukmu asal kau mau menerima Kris." Leo mencoba bernegosiasi di saat genting seperti ini.

"Sudah berikan saja!" Kris sedikit membentak Leo karena panik.

"Cepat jawab!" paksa Leo dan Chanyeol terpaksa mengangguk, dia tidak mau mati sebelum ketemu Baekhyun ngomong-ngomong..

Leo tersenyum menang, menyodorkan minuman sejenis jus milik kekasihnya itu pada Chanyeol sementara pemuda itu buru-buru menerimanya, menyedot isinya dengan brutal sampai tenggorokannya yang tersumbat menjadi kembali lega.

"Yeol, kau baik-baik saja?" tanya Kris, Chanyeol mengangguk pelan sambil menyodorkan minuman itu kembali, Leo menerimanya dengan senyum cerah, usahanya untuk menjodohkan Kris dan Chanyeol akhirnya berhasil juga.

"Kau sudah janji akan—"

"Aku mau pulang." pamit Chanyeol, menyela Leo yang sedang berbicara setelah merasa ada yang aneh dengan tubuhnya, tenggorokannya terasa seperti terbakar dan dadanya sedikit sesak.

"Ayo, ku antar."

"Tidak usah. Aku bisa pulang—argh!"

"Yeol!"

Anak itu tiba-tiba terjatuh di atas tanah sembari memegangi lehernya yang terasa tercekik, Leo tertawa kecil, menganggap Chanyeol hanya membalas mengerjai mereka tapi melihat wajah anak itu yang tampak benar-benar kesakitan membuatnya tersadar jika sesuatu yang salah tengah terjadi pada sahabatnya. "Yeol? Chanyeol?!—Kris!"

Chanyeol pikir ajalnya sudah dekat setelah merasakan tenggorokannya yang semakin terasa terbakar, daerah sekitar mulutnya mati rasa dan dia kesulitan bernafas.

"Minggir!" samar-samar Chanyeol bisa melihat Kris berjongkok didekatnya, lelaki itu berteriak meminta Leo atau orang di sekitar yang mulai mengerumuni mereka untuk menelfon ambulance, raut Kris panik luar biasa. Lelaki itu memanggil-manggil nama Chanyeol berulang kali tapi anak itu tidak merespon baik, malah sekarang ia tidak bernafas, sama sekali..

"Maaf.." suara Kris terdengar teredam, seiring wajah Kris yang semakin mendekat kesadaran Chanyeol perlahan menghilang.

.

.

~oOo~

.

.

Jangan stres.. Jangan stres.. Jangan—"Aku tidak tau kau menyukai bunga atau tidak, ini untukmu, Baekhyun." Kris menyerahkan rangkaian bunga aster berwarna putih yang tampak begitu cantik sementara Baekhyun ragu-ragu untuk menerimanya.

Sedikit banyak Baekhyun merasa was-was karena dia dalam keadaan sendirian di apartemen, Chanyeol sudah berangkat ke Sydney tadi pagi setelah kondisi tubuhnya membaik, lagipula keadaan sedang tidak menguntungkan baginya, Baekhyun tidak mau berdekatan dengan suaminya itu dalam jarak tiga meter atau itu akan berakhir dengan Baekhyun yang mual dan muntah. Chanyeol bersikeras dia sudah mandi dengan bersih dan wangi tapi Baekhyun tetap saja tidak mau dekat-dekat, pada akhirnya Chanyeol menggunakan kesempatan ini dengan baik untuk mengurus kepindahannya. Sooyoung sedang pulang ke rumah, sementara Haneul pergi belanja meski berjanji tidak akan lama tapi tetap saja wanita itu belum juga kembali sampai saat ini. Ibu cepat pulang.. batin Baekhyun.

"Ini kue untukmu.. Jessica yang buat. Jangan khawatir soal rasanya karena dia sudah sangat ahli. Mohon untuk diterima, Baekhyun-ah." sekali lagi Baekhyun menatapnya penuh curiga dan Kris hanya tersenyum maklum melihat raut anak itu. "Jangan melihatku seperti itu. Aku datang dengan maksud baik kok. Aku sangat menyesal karena sudah membuatmu masuk rumah sakit kemarin." ucapnya.

"Aku tidak bisa menerima semua ini jadi kau bawa kembali pulang saja." Baekhyun menaruh rangkaian bunga dan kuenya diatas meja, sedikit mendorongnya pelan ke arah Kris.

"Ah, itu membuatku sedih. Kau takut aku menaruh racun di kuenya? Bagaimana kalau kita buktikan saja?"

Kris mencomot satu potongan kue yang kemudian memasukkannya ke dalam mulut, ia mengunyahnya sebentar sebelum ditelan. Baekhyun diam-diam menjilati bibirnya sendiri, keliatannya enak sekali.. "Astaga, ini kue terenak yang pernah ku makan. Kalau tidak ingat Jessica membuatnya khusus untukmu pasti sudah ku habiskan semuanya." enak saja, Baekhyun juga mau.. "Jika aku benar-benar membenci seseorang dan berniat meracuninya, aku pasti sudah menabur racun yang bisa mematikan korban dalam waktu kurang dari satu menit, tapi aku tidak akan pernah melakukan itu padamu karena aku tidak benar-benar membencimu." jelas Kris dengan senyum sejuta pesona.

"Jika sudah tidak ada yang perlu lagi dibicarakan sebaiknya kau cepat pergi dari sini." usir Baekhyun. Dia merasa tidak nyaman..

"Sebelum permintaan maafku diterima aku tidak akan pergi. Sikapku sudah sangat keterlaluan pada kalian, seharusnya aku mengingat janjiku pada Chanyeol untuk selalu menghargai segala keputusan yang ia buat."

Dahi Baekhyun mengernyit dalam. Kenapa tiba-tiba? Dia habis terbentur sesuatu atau apa? "Aku berniat menjengukmu di rumah sakit sore itu tapi Chanyeol mencegahku untuk menjaga kondisimu dan bayi kalian tetap baik-baik saja."

Baekhyun reflek melindungi perutnya yang masih rata dengan kedua tangan. Kenapa Chanyeol cerita tentang bayi mereka pada Kris? Bukankah itu tindakan gegabah? "Anak itu pasti bahagia sekali karena akan menjadi seorang ayah sebentar lagi. Selamat atas kehamilanmu, Baekhyun-ah."

"Ya, terima kasih." balas Baekhyun singkat.

"Aku akan berusaha untuk melupakan Chanyeol tapi tampaknya akan sulit sekali, ya?" Baekhyun menatap Kris terkejut, tidak begitu percaya dengan ucapan lelaki itu, bisa saja itu hanya akal-akalan Kris untuk merebut kembali suaminya. Dasar paman bermuka dua! "—karena sekarang kita tetangga, tidak mungkin kita pura-pura tidak saling kenal 'kan? Aku hanya berharap kau mau memaafkanku.."

"Tidak. Aku rasa hubungan kita tidak bisa membaik secepat ini." tolak Baekhyun. Dia masih sangat kesal..

"Bahkan setelah aku berjanji tidak akan mengusik hubungan kalian lagi?" jaminan yang sangat menggiurkan.. "Mulai sekarang aku akan berusaha menganggap Chanyeol seperti seorang sahabat. Bagaimana?"

Baekhyun banyak berpikir sebelum akhirnya mengangguk samar, meski dia orang yang mudah marah tapi dia bukan orang pendendam, kesal iya dendam jangan.. karena Haneul bilang itu salah satu perbuatan tercela yang bisa membuatnya masuk neraka kelak, lagipula dokter Oh sudah mewanti-wanti Baekhyun agar tidak stres yang mana itu bisa membuatnya masuk rumah sakit lagi, ini demi kebaikan bayinya, Baekhyun tidak boleh egois. "Baik—kita baikan, tapi aku belum sepenuhnya percaya padamu."

Senyum Kris segera mengembang. "Aku bisa mengerti itu. Aku jadi lega sekali mendengarnya. Lain waktu mampirlah juga ke apartemenku. Aku jago membuat pasta yang enak, akan ku buatkan khusus untuk kalian berdua."

"Ya, paman Kris. Nanti akan ku bicarakan dengan Chanyeol." sikap santai Baekhyun perlahan keluar.

Kris mengorek telinganya. "Tunggu.. Kau memanggilku apa barusan?"

"Paman Kris." jawab Baekhyun tanpa dosa.

"Hei, kau pikir kau ini keponakanku apa?!"

~oOo~

Satu minggu ini begitu penuh dengan rengekan dan curhatan Baekhyun tentang kapan sang suami pulang dari Sydney, Haneul dan Sooyoung pada akhirnya bisa bernafas dengan tenang setelah mendapat pesan jika Chanyeol akan pulang hari ini. Lelaki itu tidak bisa berhenti bersyukur mendengar cerita Baekhyun yang memutuskan untuk berbaikan dengan Kris meski belum sepenuhnya percaya pada lelaki itu, tidak masalah.. Chanyeol berharap itu akan semakin membaik seiring dengan berjalannya waktu. Perdamaian itu memang indah.. Bagaimanapun juga Kris itu bukan hanya sekedar pengganggu menyebalkan, Chanyeol pernah berhutang nyawa satu kali padanya, itu memang tidak bisa ditebus dengan apapun dan Chanyeol bukan tipe orang yang tidak tau diri dengan melupakan hal tersebut begitu saja, ia akan membantu jika Kris mengalami kesulitan dan berusaha tetap menjaga hubungan baik dengan mantan pacarnya itu, tapi kebanyakan hal itu membuat Baekhyun jadi salah paham, Chanyeol jadi bingung sendiri memikirkannya.

"Yeah, daddy pulang.." teriak Baekhyun berlari ke arah pintu, Chanyeol merasa dadanya berdesir menyenangkan mendengar panggilan baru untuknya, Baekhyun memulainya saat di telfon, Chanyeol sampai harus memastikan telinganya tidak salah dengar ketika Baekhyun memanggilnya 'Daddy', anak itu berkata ia harus terbiasa mulai sekarang demi anak mereka kelak.

Haneul balas berteriak 'Baekhyun, jangan lari-lari. Ingat, kau sedang hamil, sayang..' dari arah dapur tapi sudah bisa dipastikan anak itu tidak mengindahkan ucapan ibunya. Baekhyun tersenyum lebar menemukan Chanyeol yang sudah berdiri di ambang pintu. "Merindukanku, sayangku?"

"Sangat.." anak itu sedikit melompat digendongan suaminya hingga menyerupai bayi koala, tidak peduli dibelakang sana ada Siwon dan Heechul—para ayah yang bertugas menjemput Chanyeol di bandara. "Daddy, wangi sekali.." puji Baekhyun mengendus-endus perpotongan leher Chanyeol saat suaminya itu berjalan masuk kedalam. Maklum, urat malu keduanya sudah sama-sama putus..

"Wangi seperti dokter Oh? Apa baby menyukainya?" tanya Chanyeol.

Baekhyun sempat menelfon kemarin berkata jika dia sangat menyukai aroma parfum seperti yang dikenakan dokter kandungannya dari brand Abercrombie & Fitch Fierce yang memiliki aroma kayu, jeruk dan vanili. Haneul dan Sooyoung berulang kali harus menasehati anak itu saat mengantarnya kontrol di rumah sakit, Baekhyun tanpa malu-malu terus saja menempel pada dokter Oh didepan tunangan sang dokter muda yang menjadi asistennya, perawat Xi. Dua sejoli itu hanya tertawa dan berkata bisa memaklumi kelakuan unik Baekhyun, lagi-lagi bawaan kehamilan jadi alasan, aslinya Baekhyun saja yang binal..

"Wanginya lebih enak kalau daddy yang memakainya." jawab Baekhyun malu-malu. "Aku kangen sekali.. mana cium untukku?" dan mereka berciuman dengan posisi tetap seperti itu, mengabaikan Siwon dan Heechul yang berjalan melewati keduanya.

"Masuk kekamar sana." saran Heechul setelah ciuman panas itu berakhir.

Baekhyun mengernyitkan dahinya, tampak memikirkan sesuatu. "Aku tiba-tiba kepikiran untuk melakukan 'itu' di sofa ruang tamu. Ayo, kita coba.." ucapanya yang seketika mendapat delikan dari para ayah. Siwon memberi kode pada sang anak untuk segera membawa Baekhyun kedalam kamar.

"Kita lakukan di sofa kamar saja, ya? 'Kan sama-sama sofa."

"Tapi, Yeol—aku maunya di sofa ruang tamu.." anak itu mulai merengek ketika Chanyeol membawanya masuk kedalam kamar.

Saat hari hampir menjelang malam Chanyeol dan Baekhyun baru keluar dari kamar mereka setelah Haneul meminta keduanya keluar untuk makan malam bersama. Chanyeol sudah mandi dan wangi, wajib seperti itu.. kalau tidak suaminya tidak mau didekati, tampilan Baekhyun tetap sama seperti tadi siang, masih mengenakan kaos putih dan celana hitam pendek, rambutnya agak berantakan sementara mukanya belum dicuci, Haneul curiga anak itu juga tidak gosok gigi. "Kalian benar-benar melakukan 'itu', ya?" tanya Sooyoung curiga, khawatir juga..

"Tidak sampai 'masuk' kok, eomma. Baekhyun sudah cerita kalau dokter Oh melarang kita untuk melakukan 'itu' sementara waktu karena usia kandungannya masih muda dan rawan keguguran." jawab Chanyeol, mendengar itu para orang tua menghela nafas lega bersama-sama.

"Aku lapar, bu.." keluh Baekhyun.

"Ambil makananmu, sayang." Haneul menaruh sedikit nasi dipiring Baekhyun. "Pilih saja semua yang kau inginkan. Ibu dan mertuamu sengaja masak banyak untuk menyambut Chanyeol pulang."

"Terima kasih, eomma Byun. Semuanya kelihatan enak-enak." ucap Chanyeol.

"Tentu saja, makanlah yang banyak kalian berdua.." titah Haneul.

Ditengah acara makan Baekhyun terus saja bercerita tentang dokter kandungannya yang sangat tampan, dengar-dengar dokter Oh itu lulusan terbaik di universitasnya dulu, sudah tampan, tinggi, muda, pintar pula, Baekhyun menyebutnya paket komplit. Anak itu berharap kelak bayinya mirip dengan dokter Oh, Chanyeol segera protes, seharusnya bayi mereka mirip dengan dia, kenapa jadi dokter Oh? Lelaki tinggi juga menuduh Baekhyun terobsesi memiliki suami seorang dokter, buktinya dia dulu pacaran dengan Kai, si hitam buluk itu!

Sooyoung mendelik tajam, meminta Chanyeol untuk menjaga ucapanya mulai sekarang, dia tidak mau cucu mereka kelak lahirnya hitam bulukan, amit-amit..

"Aku ingin pergi ke taman hiburan akhir pekan ini." Baekhyun menyuarakan keinginannya ditengah kegiatan makan malam yang segera mendapatkan perhatian penuh dari para orang tua.

"Ah, itu tempat yang menyenangkan." tanggap Heechul.

"Kita triple date, ya? Ya, bu, ayah? Papa dan mama Park? Mau 'kan?"

"Sayang—"

"Pokoknya aku maunya pergi berenam." pinta Baekhyun agak ngotot. Chanyeol diam saja, sesekali ingin melihat bagaimana para orang tua mengendalikan permintaan suami mungilnya yang agak keras kepala itu.

"Para ayah 'kan harus bekerja, nak." jelas Sooyoung.

"Libur sehari memangnya tidak bisa? Ini keinginan cucu kalian.." mampus, jika sudah mengidam itu tidak akan bisa ditolak dengan cara apapun.

"Nanti aku akan menyesuaikan ulang jadwal di kantor." Siwon menuruti, Baekhyun berbinar-binar menatap ayah mertuanya, sudah tidak banyak omong, baik, pengertian pula..

"Papa Park memang yang terbaik." puji Baekhyun. "Lalu ayah bagaimana? Ikut juga 'kan?"

"Iya." putus Heechul final.

"Ah, pasti seru sekali! Pokoknya kita harus mencoba naik roller coaster bersama-sama, oke?"

Chanyeol hampir tersedak mendengarnya. Ingat, dia agak ngeri dengan ketinggian. Para orang tua meneguk ludahnya kasar, Heechul sudah pasti akan kencing dicelana jika harus dipaksa naik sementara Siwon juga memiliki phobia dengan ketinggian, lagi pula usia mereka sudah tidak muda lagi, bisa-bisa kena serangan jantung mendadak.

"Tidak ada acara naik roller coaster!" ucap Haneul tegas.

"Ibu—"

"Kau lupa jika sedang hamil ya, nak?" tanya Sooyoung mencari alasan agar mereka tidak perlu menaiki wahana menyeramkan itu.

"Ya sudah, kalau begitu aku yang melihat dari bawah, kalian yang naik." wajah panik para orang tua membuat Chanyeol tertawa dalam hati.

Dan sudah bisa dipastikan acara pergi ke taman hiburan di akhir pekan yang dijanjikan itu gagal total karena anak itu mengalami morning sickness yang membuat tubuhnya lemas hingga berbaring di atas ranjang dengan ditemani Chanyeol menjadi satu-satunya hal terbaik yang bisa Baekhyun lakukan.

~oOo~

to be continue..

~oOo~

writer's block, sorry.. T_T

~oOo~

.

.

.

Big Thank's to:

Bbasjtr, Yoon745, yousee, Izahina98, Kim yeoja248, KertasBee, evsoel17, BaekHill, Guest(1), PRISNA CHO, yuanitadian, luvyrhea, ByunB04, shinshiren, inchan88, pupibekyuni61, MadeDyahD, LyWoo, Park RinHyun-Uchiha, byunlovely, pongpongi, BubbleXia, ssuhoshnet, 270492, coraline92, noviavirda27, VampireDPS, Riskaa, Adndpwh, Yana Sehun, OhSehun's Mom, byunniebee, Aisyah6104, Guest(2), monscbhs, Aerellia, baby baek, alvina ayu28, Oohsaa, meliarisky7.

~oOo~