Chapter 9
Household
.
ChanBaek
.
Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.
.
Rating : T
.
Happy Reading
.
.
Baekhyun tampak gelisah, ingin menangis tapi itu hanya akan membuang-buang tenaga dengan percuma, tidur miring ke kiri tidak enak, ke kanan juga tidak enak, telentang apalagi, sangat tidak nyaman sementara tengkurap jelas bukan pilihan yang baik.
Keringat dingin keluar hampir disekujur pori-pori tubuhnya, wajahnya tampak pucat dan ia merengek sesekali. Baekhyun ingin sekali memukul Kim Jongdae yang pernah mengatakan hamil itu menyenangkan. Ini yang dia sebut menyenangkan? Si mulut besar itu..
"Rasanya seperti sekarat."
"Jangan bicara begitu. Kau membuatku takut, sayang." ucap Chanyeol semakin mempererat pelukan mereka setelah Baekhyun meminta untuk dikeloni. "Dokter Oh bilang itu wajar, meski mual kau harus tetap mengisi perutmu dengan makanan karena baby sangat membutuhkannya."
"Ini akan baikan setelah hari berganti siang, aku biasanya makan banyak sekali saat malam tiba." cerita Baekhyun.
"Kau yang terbaik. Baby pasti bangga memiliki mommy sepertimu." puji Chanyeol. "Apa ini membuatmu sangat menderita? Bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti ketika kau mengalami flu berat saat musim dingin." jawab Baekhyun, anak itu kemudian terkekeh pelan mendengar ucapannya sendiri.
"Menyiksa sekali.."
"Jika demi baby apapun itu akan aku tanggung semuanya agar dia tetap sehat dan tumbuh dengan baik didalam sana."
Chanyeol merasa terharu mendengar ucapan dewasa Baekhyun. Bagaimana bisa ia tidak jatuh cinta lagi dan lagi pada sosok mungil suaminya itu?
Ngidam Baekhyun memang paling menyusahkan, bukan hanya bagi Chanyeol tapi juga orang-orang disekitar mereka. Tidak dipungkiri terkadang Chanyeol merasa lelah dan kesal menghadapinya tapi melihat keadaan Baekhyun yang tampak pucat sepanjang waktu, wajah tersiksanya saat mual dan muntah, juga usaha Baekhyun demi menjaga bayi mereka membuat Chanyeol merasa perjuangannya untuk memenuhi keinginan suaminya itu tidak ada apa-apanya.
Baekhyun sering kali mengeluh ngantuk dan kelelahan bahkan ketika dia tidak melakukan kegiatan apapun, Sooyoung dan Haneul bilang itu wajar terjadi di kehamilan trimester pertama.
Ketika pagi hari tiba itu menjadi hal buruk bagi Baekhyun, perutnya terasa seperti diaduk-aduk, kepalanya pusing, dan tubuhnya lemas, dia tidak bisa berdiri lebih dari sepuluh menit tanpa pingsan.
Biasanya Baekhyun akan menghabiskan paginya hanya dengan berbaring di atas ranjang, menjelang siang kue kiriman Haneul dan segelas susu hamil rasa coklat menjadi sesuatu yang bisa masuk kedalam perutnya tanpa dimuntahkan lagi—dia tidak tau kenapa susu strawberry terlihat menjijikkan sekarang, itu kiriman dari Haneul tapi Baekhyun tidak mau menyentuhnya dan berakhir dengan Chanyeol yang meminumnya rutin setiap hari, suaminya itu berkata jika rasanya lumayan enak juga, sebaliknya susu hamil rasa coklat kiriman Sooyoung terasa sangat enak di lidahnya padahal sebelum hamil Baekhyun tidak begitu tertarik dengan susu rasa coklat.
Ketika hari berganti malam nafsu makan Baekhyun yang luar biasa akan kembali seperti semula, beruntung anak itu tidak pernah mengidam makanan yang aneh-aneh, kalau pun mengidam makanan tertentu Chanyeol bisa dengan mudah mendapatkannya karena masih dalam katagori wajar seperti tteokbokki, odeng, atau dumpling, kebanyakan memang jajanan pinggir jalan, juga es cream yang bisa Chanyeol beli di minimarket terdekat.
Karena ini pengalaman perdana mereka menjadi calon orang tua, Chanyeol sering kali merasa khawatir, lelaki itu tidak jarang melakukan konsultasi via handphone dengan dokter Oh karena Baekhyun susah sekali di ajak pergi ke rumah sakit, dokter muda itu memang sangat ramah dan tidak jarang memberi tips-tips bermanfaat. Dokter Oh juga berkata jika morning sickness yang Baekhyun alami masih dalam katagori wajar, dia bahkan punya pasien lain yang mual dan muntah hampir sepanjang hari, all day sickness sebutannya..
Dokter Oh bilang selagi Baekhyun masih memiliki nafsu makan itu tidak akan jadi masalah serius. Mereka bisa melakukan pemeriksaan USG nanti setelah kandungan Baekhyun sudah agak besar, kira-kira di usia empat bulan, sekalian mengetahui jenis kelamin bayinya. Ah, Chanyeol sudah tidak sabar..
"Mau makan apa hari ini? Nasi, bubur, atau apa? Katakan saja padaku, nanti aku belikan.." tawar Chanyeol ketika mereka duduk berhadapan di kursi meja makan, hari sudah menjelang sore, pukul empat kurang sepuluh menit.
"Tidak.." jawab Baekhyun lesu, mengadah menatap suaminya, anak itu jadi berantakan akhir-akhir ini, sangat bertolak belakang dengan penampilannya sebelum hamil dulu, matanya sayu dan wajahnya kerap kali pucat seperti tidak ada darah yang mengalir disana terutama bagian bibir yang dulunya merah merekah sekarang jadi memutih dan sedikit kering, meski begitu Chanyeol tetap sayang dan semakin cinta, baginya tetap Baekhyun yang paling sempurna..
"Tidak?—ah, kue dari mama Byun kemarin sudah habis, ya? Mau kubelikan kue yang baru? Kau maunya dari toko kue yang mana?" Chanyeol menawarinya lagi, ia ingat ini masih sore dan belum waktunya Baekhyun makan makanan berat.
"Aku mau pasta.." lirih Baekhyun.
"Mau pasta dari restoran mana? Apa kita perlu melakukan reservasi?"
"Aku mau pasta buatan paman Kris."
Chanyeol agak terkejut. "Kris?!—sayang, kau yakin?"
Baekhyun menjawab dengan anggukan pelan. "Aku hanya ingin itu. Lapar sekali.."
"I-iya, tapi 'kan kau dan Kris—meskipun sudah baikan tapi kalian..." Chanyeol tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ya, ini tidak wajar saja.. apa mungkin Baekhyun sedang ngidam?
"Kenapa?" tanya Baekhyun heran.
"Nanti aku mampir ke mansion Byun saja, ya? Pasta buatan mama Byun 'kan enak."
"Aku ingin memenuhi undangan paman Kris sekalian. Aku lupa menceritakannya padamu kemarin." Baekhyun mengatakan alasannya. "Ayo, berangkat!"
"Tidak mandi dulu?" tanya Chanyeol, dia hanya berusaha mengulur-ulur waktu.
"Kau 'kan sudah."
"Memang sudah. Kau belum.."
"Aku mual bau air." alasan macam apa itu? "Ayo, berangkat sekarang saja."
~oOo~
"Selamat datang.." sambut Jessica dengan senyum manis. "Kalian ada janji dengan Kris, ya?" tanyanya.
"Tidak. Memangnya paman Kris tidak ada di rumah, ya?" Baekhyun balas bertanya setelah Jessica mempersilahkan mereka masuk.
"Dia sedang pergi belanja ke supermarket." balas Jessica. "Mungkin sebentar lagi pulang."
"Jess.."
"Ya, tampan?" Baekhyun memutar bola matanya malas mendengar panggilan Jessica untuk suaminya. Genit sekali sih..
"Kau baru tiba kemari?" tanya Chanyeol basa basi.
Jessica mengangguk cepat. "Karena kami sudah memutuskan untuk tinggal bersama, aku memilih resign dari pekerjaanku di California tapi aku sudah mendapat pekerjaan baru sebagai desainer di sini." jawabnya. "Dan Baekhyun—bukankah terakhir kali kau memiliki masalah dengan Kris, ya? Apa kalian sudah berbaikan sampai-sampai kau bersedia datang kemari? Astaga, aku ketinggalan banyak gosip."
"Dasar wanita!" gerutu Baekhyun sebal, gosip sana gosip sini..
"Lalu kau ini apa?—anak laki-laki berwajah perempuan?"
"YA! Jangan mentang-mentang kau lebih tua dariku dengan seenaknya kau berani menghinaku!" tantang Baekhyun.
"Sayang, ingat kata dokter Oh. Kau tidak mau baby kenapa-napa 'kan?"
Baekhyun menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan, berusaha kembali tenang, Jessica ini benar-benar.. sementara raut Jessica tampak terkejut, baru menyadari sesuatu. "He's pregnant?!" pekiknya.
"Yes, one month.." jawab Chanyeol.
"Oh, God!"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal melihat ekspresi Jessica yang seperti percaya tidak percaya. "I'm sorry, Baekhyunnie.." ucapnya tidak enak karena sudah membuat anak itu marah-marah. "Sebagai permintaan maaf aku akan membuat minuman untuk kalian. Kalian mau minum apa?" tawarnya.
Baekhyun menatap wanita itu aneh. "Itu 'kan memang kewajibanmu sebagai tuan rumah."
"Hey, aku seorang tuan rumah bukan asisten rumah tangga." elak Jessica.
"Ya, ya, ya, terserah saja. Aku mau coklat panas yang manis. Ingat! Harus yang manis!" Baekhyun menyuarakan permintaannya.
"Aku air putih saja." pinta Chanyeol.
"Baiklah, tunggu sebentar, ya.." Jessica berdiri dari tempat duduknya menuju dapur.
"Apa baby sudah lapar?" tanya Chanyeol mengelus perut rata suaminya setelah Jessica tidak lagi tampak.
"Iya, daddy, lapar sekali.." jawab Baekhyun menirukan suara anak kecil dan Chanyeol yang gemas akan berakhir dengan menciumi perut Baekhyun dan mengusakkan kepalanya disana hingga anak itu tertawa geli, jika Chanyeol tidak segera menghentikannya Baekhyun tidak akan segan-segan menjambak rambut suaminya itu kuat-kuat, sampai rontok semua sekalian..
"Ehem!"
Keduanya menoleh dengan tangan Baekhyun yang masih berada dikepala Chanyeol, mereka keasikan bercanda sampai tidak menyadari sang tuan rumah sudah datang, tengah berdiri di ambang pintu, bahkan mereka tidak mendengar suara pintu yang dibuka. "Oh, hai, paman Kris. Kami datang untuk memenuhi undanganmu." sapa Baekhyun setelah melepaskan tangannya, sementara Chanyeol tampak sibuk merapikan rambutnya yang berantakan akibat perbuatan suaminya itu.
"Ah, tentu.. Aku senang sekali mendengarnya, kebetulan aku belanja banyak tadi." Kris mengangkat dua kantong plastik berisi bahan makanan di masing-masing tangannya. "Kau mau makan apa, Baekhyun? Apa kau sedang mengidam sesuatu? Aku bisa buatkan sesuatu yang enak untukmu."
"Aku ingin mencicipi pasta buatanmu."
"Sepertinya kau sedang beruntung karena aku dan Jessica berencana membuat itu tadi. Ayo, pergi ke ruang makan." ajak Kris, Chanyeol dan Baekhyun segera mengekori sang tuan rumah.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Baekhyun setelah mereka duduk di kursi meja makan sementara Kris sudah berada di counter dapur mengeluarkan satu persatu isi belanjaannya.
"Memangnya aku harus bicara apa?" tanya Chanyeol balik, wajahnya tampak keheranan.
"Kau tidak menyapa paman Kris tadi?"
"M-memangnya harus?" sebenarnya Chanyeol dan Kris sedikit berselisih saat Baekhyun pingsan kemarin, Kris sempat menuduh anak itu hanya berpura-pura untuk menahan Chanyeol pergi, juga Chanyeol sudah berani mengusir Kris saat hendak menjenguk Baekhyun sore itu, hal itu yang membuat hubungan mereka jadi agak canggung sekarang. "Aku dan Kris sudah lama saling kenal jadi yang seperti itu ku pikir tidak terlalu penting." Baekhyun mencibir pelan, tidak usah di ingatkan lagi juga Baekhyun sudah tau mereka pernah menjalin hubungan selama lima tahun..
Keduanya langsung diam ketika Jessica datang dan menaruh piring berisi kue bulat pipih dengan warna warni yang cantik, juga secangkir coklat panas pesanan anak itu dan segelas air putih milik Chanyeol. "Woah.. macaron!" pekik Baekhyun girang.
"Silahkan dinikmati.." mood Baekhyun dengan cepat membaik setelah memakan kue-kue itu dan menyesap coklat panasnya, mereka menikmatinya selagi Kris menyiapkan makanan.
"Jess, kau bisa membantuku mencuci kerangnya?" pinta Kris dari arah counter dapur.
"Tentu, aku—ah, sebentar.." ponsel Jessica mendadak berbunyi nyaring, seseorang tengah menghubunginya. "Ini dari tempat kerjaku yang baru." infonya. "Chanyeol, kau bisa menggantikanku membantu Kris?" Chanyeol tidak langsung menjawab, mencoba memberi kode pada Jessica yang segera menyadari ada Baekhyun di sana, si anak cemburuan itu.. tapi anak itu tidak memberikan reaksi berarti, tetap anteng menikmati kuenya.
"Pergilah." reaksi diluar dugaan.. "Bantu paman Kris memasak, aku sudah lapar sekali."
"Aku kesana, ya?" Chanyeol mencoba meyakinkan Baekhyun sekali lagi.
"Iya, masak yang cepat, ya, daddy."
Kris agak terkejut ketika Chanyeol tau-tau sudah berdiri di sebelahnya. "Aku hanya harus mencucinya sampai bersih 'kan?" tanya Chanyeol, menekuk lengan kemejanya ke atas agar tidak terciprat air.
"Iya." jawab Kris singkat. "Seperti dulu ketika kau membantuku memasak."
Chanyeol tersenyum tipis tanpa menatap sang lawan bicara. "Kebanyakan aku hanya mengacaukan masakanmu." ia mulai membasahi kerangnya dengan air mengalir.
Kris ikut tersenyum. "Baekhyun tidak memiliki alergi seafood 'kan?"
"Kurasa tidak."
"Baguslah.." Kris merasa tidak nyaman dengan situasi kaku seperti ini. "Soal kemarin, aku benar-benar minta maaf, Yeol."
"Lupakan saja.." Chanyeol menangkat kerang dalam wadah yang ia rasa sudah bersih. "Ini langsung dimasukkan atau bagaimana?" lelaki itu jelas berusaha menghindari topik pembicaraan yang Kris angkat.
"Iya, langsung saja." Kris sedikit menyingkir ketika Chanyeol menuang kerang di atas teflon yang sudah panas. "Kau boleh kembali, terima kasih sudah membantuku."
Chanyeol mengangguk pelan, hendak kembali ke meja makan ketika tiba-tiba Kris meraih pergelangan tangannya, menahannya untuk pergi. Chanyeol terpaksa berbalik, rautnya tampak tidak nyaman sama sekali. "Yang seperti ini bisa membuat Baekhyun salah paham, Kris."
"Aku tau, Yeol." wajah Kris tampak frustasi, ia melepaskan tangan mantan pacarnya itu. "Kenapa kau terus diam dan mengacuhkanku."
"Kau bisa memikirkan apa kesalahanmu."
"Aku sudah." jawab Kris. "Aku berusaha menebusnya sekarang."
"Kuharap kau melakukannya dengan sungguh-sungguh."
"Kau bisa mempercayaiku—untuk sekarang ini pikirkan baik-baik apa yang menjadi tujuanmu. Aku tidak akan memaksa..."
"Sepertinya aku harus memperjelasnya lagi ya karena tampaknya kau belum juga mengerti." sela Chanyeol sementara Kris menatapnya penuh tanya. "Kita sudah tidak memiliki hubungan lagi, Kris. Kita tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi." tegasnya.
"Aku tau kau tidak sedang berkata serius, Yeol." Kris masih berusaha mempertahankan senyumnya.
Hampir selama satu bulan Kris tidak menemui Chanyeol setelah mengetahui rencana pertunangannya dengan Jessica, dia jelas menolak awalnya tapi ancaman akan dicoret dari daftar warisan keluarga Wu membuatnya tidak memiliki pilihan lain, mau tidak mau ia harus datang ke tempat pertemuan yang sudah dijanjikan. Sikap Kris sangat dingin ketika pertama kali bertemu Jessica, gadis itu tidak tersinggung dan malah menertawakannya, pada akhirnya Jessica mengakui jika dia seorang lesbi yang membuat Kris terkejut setengah mati, pertemuan mereka berakhir dengan indah, bahkan keduanya sepakat untuk menikah secepatnya, tentu saja itu hanya status dan demi harta warisan yang telah dijanjikan.
"Aku serius."
Kris kelihatan shock. "K-kenapa?"
"Kau masih tanya kenapa?—tentu saja karena aku sudah punya Baekhyun."
Lelaki tiga puluh tahun itu menggeleng tidak percaya. "Kau berubah terlalu banyak, Chanyeol."
"Tidak. Aku hanya sedang berusaha melakukan sesuatu yang memang sudah seharusnya kulakukan." jelas Chanyeol. "Kami sudah berumah tangga, dan sebagai seorang suami aku wajib memastikan rumah tangga kami tetap utuh dan bahagia."
"Tidak mungkin." desis Kris lirih. "Kau hanya sedang kebingung—"
"Aku sama sekali tidak kebingungan!" Chanyeol menyela agak kesal, bicara dengan Kris ternyata lumayan susah juga, pantas saja Baekhyun jadi emosi terus-terusan.. "Aku sudah mencintai Baekhyun bahkan jauh sebelum kita bertemu, kau seharusnya mengingat itu."
"Terserah kau, Chanyeol. Satu hal yang harus kau tau—aku tidak akan pernah menyerah."
Sabar, Yeol, sabar.. batin Chanyeol frustasi. "Kau mungkin bisa mengelabuhi Baekhyun tapi tidak denganku. Jangan pernah berusaha menemuiku lagi setelah hari ini berakhir."
.
.
~oOo~
.
.
Flashback..
Chanyeol ingat, hari itu dia terbangun di rumah sakit ketika hari sudah hampir malam. Wajah panik Kris yang pertama kali menyambutnya disusul dengan Leo dan Keyko yang menatapnya khawatir, sepasang kekasih itu langsung menyerbunya, meminta maaf. Kris terus menjaganya sampai Chanyeol diperbolehkan pulang keesokan hari.
Satu minggu terlewati dan Chanyeol sudah memikirkan semuanya, bagaimana hubungannya dengan Kris selanjutnya, dia tidak mungkin bersikap acuh pada seseorang yang sudah menyelamatkan nyawanya, itu tidak tau diri namanya..
Kris ini perhatian sekali, tidak hanya menanyakan keadaan Chanyeol tapi lelaki itu juga menemuinya hampir setiap hari, menawarkan Chanyeol ingin makan apa dan dimana, sampai titik dimana Chanyeol merasa Kris sebenarnya tidak terlalu menyebalkan juga, malah dia ini baik sekali. Kris bahkan tidak peduli ancaman ayahnya yang memintanya untuk segera kembali ke Sydney, yang penting Chanyeol sehat dulu baru dia bisa pulang dengan tenang.
"Aku akan pulang ke Sydney besok." Chanyeol terkejut tentu saja, kenapa mereka harus berpisah di saat dia sudah mulai merasa nyaman. "Ini sudah telat dua minggu dari jadwal kepulanganku yang seharusnya." meski dia berkata seperti itu tapi Chanyeol tau sebenarnya Kris tidak rela.
"Ya sudah, pulang sana!" tanggap Chanyeol datar membuat Kris tersenyum kecut, sampai kapanpun dia memang tidak akan pernah dianggap.. "Jangan lupa jenguk pacarmu disini tiap bulan."
Kris segera mengangkat kepalanya, raut terkejutnya begitu ketara. "Y-yeol—"
"Aku hanya memberi jawaban atas pertanyaanmu kemarin." sela Chanyeol acuh. "Apa kau keberatan menjengukku ke Jepang tiap bulan? Ck, kau ini pacar macam apa?!"
Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan wajah bodoh. "Aku akan menjengukmu dua minggu sekali jika perlu."
"Jangan! Nanti aku bisa suka sungguhan padamu. Aku 'kan hanya berniat membantumu meredakan rasa sakit karena kehilangan Yoora, begitu saja tidak lebih.. Dan kau harus ingat aku sudah punya Baekhyun, hubungan ini tidak akan berlanjut jika aku sudah menemui Baekhyun. Kau tidak boleh menuntut apapun." iya, Chanyeol tau ini sangat tidak adil untuk Kris, tapi hanya ini yang bisa ia berikan, hitung-hitung sebagai balas budi..
"Tidak masalah." di luar dugaan.. "Aku bisa menemuimu lagi saja sudah lebih dari cukup untukku." ya ampun, kenapa nasib lelaki tampan ini malang sekali?
"Perlu untuk kau ketahui jika ini hanya status. Kau tau aku seorang seme sejati, aku tidak mau image-ku rusak di mata Baekhyun gara-gara keputusanku ini."
Tanpa Chanyeol ketahui, Kris sebenarnya sangat tidak suka nama 'Baekhyun' Chanyeol sebut terus-terus, si anak SMP ingusan itu.. Memangnya apa menariknya dia? Di pandang dari sudut manapun Kris jauh lebih unggul dan matang sementara Baekhyun selayaknya bibit yang baru saja menjadi tunas, tidak matang sama sekali.. Kris bahkan sempat mengira jika Baekhyun itu anak perempuan, wajahnya itu feminim sekali yang mana hal tersebut tidak akan jauh dengan sifatnya yang manja dan merepotkan, sudah bisa ditebak..
"Pacar rasa sahabat?" tanya Kris, lebih menyederhanakan maksud dari ucapan Chanyeol.
"Iya, tepatnya seperti itu." oh, tidak masalah.. Kris yakin cepat atau lambat Chanyeol pasti tergila-gila padanya yang memiliki sejuta pesona ini. Lihat saja nanti..
Chanyeol mengambil keputusan ini setelah mempertimbangkan semuanya, dia memang mencintai Baekhyun tapi anak itu belum resmi jadi miliknya, meski Haneul kerap mengatakan jika Baekhyun itu anak yang polos—dia saat itu masih duduk di kelas satu SMP akhir, hampir naik ke kelas dua, tidak menutup kemungkinan Baekhyun pernah berpacaran tanpa sepengetahuan ibunya, tidak masalah.. Chanyeol hanya menganggap itu sekedar cinta monyet, lagipula baik Sooyoung ataupun Haneul tidak pernah melarang Chanyeol dan Baekhyun berpacaran. Boleh-boleh saja, asal tau sampai dimana batasnya..
Chanyeol tidak masalah jika first kiss Baekhyun bukan dirinya, kenapa ia harus mengharap lebih kalau dia saja belum becus menjaga apa yang akan jadi hak Baekhyun kelak, first kiss Chanyeol menjadi milik Kris—itu saat kejadian festival musim panas dan tentu saja terjadi karena keadaan yang sangat mendesak, jika Kris tidak memberinya CPR mungkin Chanyeol tidak akan pernah bertemu Baekhyun selamanya.
.
.
~oOo~
.
.
"Aku maunya makan sepiring berdua, Yeol." pinta Baekhyun menyodorkan piring pasta kearah suaminya.
"Nanti kau tidak kenyang, sayang."
"Ya pokoknya aku maunya makan berdua. Habiskan yang ini dulu baru nanti yang satunya."
Chanyeol jadi tidak enak sendiri, itu jadi terkesan agak tidak sopan sebenarnya. "Sudah, turuti saja." saran Jessica melihat Chanyeol yang tampak ragu-ragu. "Yang seperti itu sudah wajar terjadi pada orang hamil, Baekhyun juga pasti bingung kalau ditanya alasannya." anak itu mengangguk membenarkan.
"Seperti kau tau rasanya saja." Kris sedikit mengejeknya, hanya sekedar bercanda..
"Aku memang pernah." balas Jessica singkat, sukses membuat tiga orang lainnya terkejut. "Hanya selama empat bulan, aku bahkan belum sempat melihatnya lahir ke dunia, itu sebabnya aku tidak bisa percaya lagi pada laki-laki."
"Termasuk kami?" tanya Baekhyun penasaran.
Jessica tertawa mendengar itu. "Tidak. Kau ini manis seperti seorang adik kecil, sementara Chanyeol sosok lelaki yang enak dipandang dan Kris rekan bisnis yang menyenangkan. Kalian bertiga ini pengecualian." jelas Jessica.
"Aku tidak pernah tau—maaf." ucap Kris jadi tidak enak sendiri.
"Hey, hal seperti itu tidak lagi bisa melukai perasaanku, jadi santai saja."
Mendengar cerita Jessica membuat Baekhyun ikut sedih, dia tidak bisa membayangkan akan kehilangan bayinya, mungkin selamanya Baekhyun tidak akan bisa move on, terbukti Jessica ini wanita yang sangat hebat. "Ayo, makan.. aku bercerita bukan untuk membuat kalian larut dalam kesedihan tapi untuk membuktikan aku juga bisa diandalkan dalam urusan kehamilan."
"Aku tidak mau kehilangan bayiku." guman Baekhyun.
"Kau tidak akan." Jessica meyakinkan. "Bayimu akan baik-baik saja."
Chanyeol mengusap-usap punggung anak itu yang hampir menangis. "Kita akan menjaganya dengan baik, jadi jangan khawatir. Sekarang waktunya makan, baby pasti sudah lapar sekali." Chanyeol menyodorkan garpu penuh pasta kedepan mulut Baekhyun, anak itu segera menerima suapannya.
"Enak sekali.." puji Baekhyun setelah menelan makanannya, seketika lupa dengan sedihnya.. "Ini benar-benar enak paman Kris."
Kris segera tersenyum mendengar pujian Baekhyun, melihat kemesraan Chanyeol dan Baekhyun jelas membuat Kris cemburu dan iri tapi wajah polos Baekhyun membuat Kris tidak bisa membenci anak itu, kesal terkadang, benci tidak.. "Mau tambah lagi? Aku bisa membuatnya untukmu." tawar Kris.
"Ini sudah cukup banyak, nanti aku tidak bisa makan choco lava cake-ku kalau terlalu kenyang." tolak Baekhyun. "Nanti belikan choco lava cake ya, daddy." pintanya.
"Iya." Chanyeol menuruti tanpa banyak alasan, kembali menyuapi anak itu hingga satu piring habis sendiri olehnya, dan di piring kedua Chanyeol hanya kebagian makan seperempat bagian, tidak apa-apa dia ikhlas berbagi makanan dengan suami dan bayinya, yang penting keduanya selalu sehat.
~oOo~
Chanyeol dan Baekhyun terkadang meributkan hal yang sebenarnya tidak penting untuk diributkan seperti contohnya nama anak mereka yang masih berusia enam minggu didalam kandungan, dari yang Chanyeol baca itu baru sebesar biji padi kecil dan belum terbentuk sempurna.
"Jesper Park terdengar sangat keren." ucap Baekhyun yang tengah membolak-balikkan buku kumpulan nama-nama bayi, semakin malam sifat asli anak itu semakin muncul, ya cerewetnya, ya rakusnya, ya menyebalkannya dan masih banyak ya ya ya lainnya..
"Itu terdengar seperti pelesetan nama Kasper hyung. Jesper-Kasper.. jangan-jangan kau ini diam-diam naksir Kasper hyung, ya?" tuduh Chanyeol tanpa alasan yang membuat Baekhyun memutar bola matanya malas. "Bagaimana dengan Jackson Park? Lebih keren 'kan?"
"Kau fans berat Michael Jackson?"
Chanyeol mengangguk penuh semangat kemudian berdiri menirukan gerakan moonwalk khas penyanyi dengan gelar King of Pop itu yang membuat Baekhyun terpingkal-pingkal, itu terlihat kaku dan konyol..
"Ya tidak masalah kalau namanya Jackson, tapi nanti kalau baby lahirnya mirip Kai bagaimana?" tanya Baekhyun.
"Kenapa jadi Kai?"
"Kau 'kan masih sering mengejekku dengan membawa-bawa nama Kai jika sedang kesal. Tidak sadar, ya?"
Chanyeol bergidik ngeri membayangkan ketika nanti anaknya lahir dan mirip Kai. Hidung minim, kulit putih tua dan kelakuan mesum saat dewasa nanti. Tidak, itu buruk! Mulai sekarang menyebut nama Kai menjadi haram hukumnya bagi Chanyeol.
"Pokoknya kalau laki-laki namanya Jackson ya, sayang?" rayu Chanyeol tidak putus asa.
"Tidak mau. Aku maunya Jesper. Kalau perempuan namanya Jennie." Baekhyun senyum-senyum sendiri membayangkannya.
"Kita tinggal di Korea, Baekhyun. Jennie seperti nama orang barat. Jisoo saja bagaimana?"
"Kenapa tidak Rose sekalian?" tanya Baekhyun sebal.
"Aku pikir Lisa lebih oke." dan kenapa semua nama member blackpink jadi dibawa-bawa?
Baekhyun menatap Chanyeol sengit. "Jesper, Jesper, Jesper, pokoknya Jesper!"
"Jackson, Jackson, Jackson, hidup Jackson!" mereka berargumen layaknya suporter pemain bola.
"Berisik!" Baekhyun berteriak nyaring yang mana hal itu sukses membuat Chanyeol bungkam seketika dengan menutupi kedua kuping lebarnya. "Ayo, cepat siap-siap."
"Kemana?"
"Mansion Byun. Aku rindu ibuku."
Selama perjalanan menuju mansion Byun, Chanyeol dan Baekhyun tetap berselisih tentang Jesper-Jackson dan Jennie-Jisoo. Sesampainya disana kebetulan Siwon dan Sooyoung juga sedang datang berkunjung. "Bagaimana dengan Baekho? Dulu kami hampir menamaimu itu." para orang tua jadi ikut-ikutan menyumbang ide.
"Tidak mau. Ibu buat lagi saja sana!" sewot Baekhyun.
Haneul terbahak. "Ibu sudah terlalu tua untuk hamil lagi, sayang."
"Kalau Taehyung? Park Taehyung?" saran Sooyoung.
"Itu seperti nama adik kelasku yang kelakuannya tidak jelas saat SMA." Baekhyun bergidik ngeri membayang jika anaknya nanti benar-benar dinamai Taehyung dan sifatnya mirip dengan 'Taehyung-Taehyung' yang itu, dia memang tampan tapi super pecicilan, sifatnya tidak seperti manusia normal pada umumnya dan Baekhyun menyesal sempat naksir anak itu dulu.
"Ayah pikir nama Tom lumayan juga." celetuk Heechul yang mana lelaki paruh baya itu segera menjadi pusat perhatian.
"Park Tom begitu?" tanya Haneul setelah hening beberapa saat.
"Iya. Keren seperti nama orang barat 'kan?" Heechul masih tetap antusias.
"Itu lebih seperti nama kucing, ayah!" rengek Baekhyun.
"Saat di Sydney, itu nama anjing tetanggaku." tambah Chanyeol.
"Nama Tom terdengar konyol, Chullie!" protes Sooyoung.
"Apapun namanya kelak yang terpenting adalah cucu kita lahir dengan sehat dan Baekhyun selamat." Siwon sekalinya bicara sangat berbobot, yeah.. Siwon 'kan satu-satunya pihak yang paling waras diantara mereka semua.
"Akhir-akhir ini perutku sering sekali kram, apa itu wajar?" tanya Baekhyun pada para orang tua.
"Kau tidak pernah mengatakan itu padaku?" tanya Chanyeol agak terkejut, khawatir juga tentu saja, dia tidak ingin Baekhyun dan bayi mereka kenapa-napa, kalau ada yang harus sakit Chanyeol rela jika dia orangnya.
Haneul menatap anaknya khawatir. "Cobalah pergi kerumah sakit, sayang." sarannya.
"Tidak mau."
"Kenapa tidak? Dokter kandunganmu 'kan sangat tampan, tidak ingin ketemu lagi? Sekalian cuci mata.." Chanyeol mendelik sebal kearah Sooyoung, apa-apaan maksudnya itu? Iya sih maksudnya baik untuk membujuk Baekhyun tapi 'kan tidak begitu juga caranya, seharusnya sebagai seorang ibu yang baik Sooyoung bisa menghargai perasaan Chanyeol.
"Aku kangen sekali sebenarnya.." apa-apaan coba? "—tapi aku tidak ingin pergi kerumah sakit, bisa tidak dokter Oh saja yang datang menemuiku? Sekalian aku ngidam ingin merasakan kencan dengan dokter muda." tanya Baekhyun ngawur. Ya, ya terserah saja.. Chanyeol sudah kebal, untung sayang, untung cinta..
"Mana bisa begitu, nak?—memangnya kalian tidak ingin menengok anak kalian? Lakukan pemeriksaan USG dan kalian bisa melihat rupa bayi kalian didalam sana."
"Benarkah?" tanya Baekhyun mulai tertarik.
"Iya, bahkan nanti bisa tau jenis kelaminnya juga kalau perutmu sudah agak besar." Haneul menambahi.
"Ya sudah, ayo, berangkat kerumah sakit sekarang. Cepat, Yeol!"
~oOo~
Chanyeol terkadang merasa dongkol ketika Baekhyun terlihat bersemangat sekali saat dokter Oh mengajaknya bicara, namun dia akan menjawab sekenanya ketika perawat Xi yang bertanya, ketara sekali Baekhyun tidak begitu menyukai perawat asisten itu, ya mungkin karena hubungannya dengan sang dokter tampan yang membuat Baekhyun cemburu, mereka benar-benar pasangan serasi dan Baekhyun dengan kurang ajarnya gemar sekali menggoda dokter Oh Sehun sementara perawat Xi Luhan menanggapinya dengan kalem-kalem saja, tidak tampak kesal sama sekali, seharusnya 'kan dia kesal karena ada 'bocah binal' yang berusaha merusak hubungan mereka. Tolong jangan adukan Chanyeol tentang sebutan barunya untuk Baekhyun atau dia akan mati malam ini juga..
"Aku mau tau jenis kelamin bayinya, dok." pinta Baekhyun setelah Sehun memeriksanya, hasilnya cukup baik meski tekanan darah anak itu sedikit rendah.
"Jenis kelamin?"
"Neh, dokter." jawab Baekhyun dengan senyum manis.
"Itu bisa dilakukan dengan pemeriksaan USG tapi nanti sekitar usia kehamilan empat bulan." jelas Sehun ramah, wajahnya saja yang tampak dingin tapi aslinya dia ini baik dan pengertian sekali orangnya.
"Baekhyun mengeluh perutnya sering merasa kram. Apa itu tidak apa-apa?" tanya Chanyeol langsung ke titik permasalahan, kalau Baekhyun yang tanya itu jelas hanya modus agar bisa ngobrol dengan Sehun lama-lama, dia bisa saja gagal fokus terus-terusan, padahal tadi di mobil Chanyeol sudah menjelaskan jika jenis kelamin bayinya belum bisa di lihat sekarang. Dasar tukang modus!
"Apa itu cukup mengganggu?" tanya Sehun langsung dari sang sumber.
"Tidak juga, aku hanya merasa tidak nyaman saja." jawab Baekhyun.
"Ah, itu wajar terjadi ketika otot-otot ligamen yang menopang rahim mengalami peregangan seiring dengan membesarnya rahim, itu memang sangat terasa pada saat trimester pertama." Chanyeol menghela nafas lega mendengar penjelasan Sehun. "Jika anda merasakannya lebih baik tidak melakukan aktifitas lebih dulu, Baekhyun-ssi. Anda bisa duduk atau tiduran sampai nyerinya reda." Baekhyun mengangguk-angguk paham.
"Silahkan disebelah sini." ajak Luhan meminta Baekhyun berbaring diranjang untuk pemeriksaan USG, mereka ingin mengetahui perkembangan bayinya.
Baekhyun menuruti dan Luhan dengan sigap membantu mengangkat bajunya sebatas dada, mengoleskan semacam gel diatas permukaan perut anak itu yang tampak masih rata.
"Ah, ini..." Sehun tampak terkejut beberapa saat setelah menggerak-gerakan alat USG diatas perut Baekhyun, raut dokter muda itu seperti tidak yakin, dan ia melakukannya sekali lagi.
"Ada apa, dok?" tanya Chanyeol mendadak was-was.
"Ini dua kantung." gumam Sehun. Baekhyun menatap Chanyeol seolah bertanya 'apa maksudnya itu?', suaminya hanya menggeleng tidak tau. "—kembar?"
"Sepertinya iya, dok." sahut Luhan dengan senyum manis.
"Kembar?" tanya Baekhyun tidak yakin. "Bayi kami kembar, begitu?" Chanyeol lebih seperti orang linglung melihat dokter Oh tersenyum, dia sampai tidak bisa menjawab pertanyaan Baekhyun.
"Neh, selamat.. Bayi kalian kembar." ucapnya turut berbahagia setelah memastikan itu memang benar. "Anda bisa lihat disini ada dua kantung, tuan Park?" Chanyeol mengangguk-angguk terlalu cepat layaknya orang idiot, Baekhyun menepuk keningnya, malu sendiri ketika Luhan menertawai kelakuan suaminya yang masih dalam mode speechless, itu terlihat sangat konyol.. "Titik hitam didalam kantung adalah embrio dan ini kembar non identik, masing- masing mempunyai kantung ketuban dan plasenta sendiri." jelas dokter Oh mengatakan ini cukup baik karena kembar non identik resikonya tidak lebih banyak daripada kembar identik, Chanyeol merasa sangat bersyukur mengetahui hal itu, satu bayi saja sudah bisa membuatnya senang setengah mati apalagi dua, harus dengan cara apalagi Chanyeol mengungkapkan rasa syukurnya.. semua ini tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, lelaki itu mengecup kening suami mungilnya yang menangis terharu.
Setidaknya bagi Baekhyun dia tidak perlu melahirkan sampai lima kali, sekali hamil langsung dapat dua, hutangnya pada para orang tua tinggal tiga cucu lagi, berharap di kehamilan kedua nanti Baekhyun akan dapat kembar lagi, kalau perlu tripel sekalian agar dapat segera memenuhi janjinya pada para orang tua yang sangat mereka cintai. Ibu, ayah, mama, dan papa Park pasti bahagia mendengar kabar ini, Baekhyun jadi tidak sabar..
"Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua.."
~oOo~
to be continue..
~oOo~
Big Thank's to:
Yana Sehunn, Yoon745, shinshiren, PRISNA CHO, 270492, ByunB04, pongpongi, ByunMafia, inchan88, meliarisky7, Rinhyun Uchiha II, Izahina98, KertasBee, Bbasjtr, LyWoo, MeAsCBHS, parkbaexh614, luvyrhea, byunlovely, ctbisreal, ssuhoshnet, 90Rahmayani, Adndpwh, nocbnolife, Oark Chanbee, Guest, VampirDPS, Riskaa, yousee, Aisyah6104, alvina ayu28, derpwhiteboy, bbysmurf, baekfingers, sehunluhan0905.
~oOo~
