Chapter 10

Household

.

ChanBaek

.

Boy Love, Drama, Marriage Life, Little bit of Amateur Comedy, mpreg.

.

Rating: T

.

Happy Reading

.

.

.

Jika ada yang bertanya Baekhyun sebenarnya sayang Chanyeol tidak? Cinta tidak?—tanpa ragu-ragu lagi Baekhyun akan menjawab sayang dan cinta seratus persen pada laki-laki tinggi yang telah resmi menyadang status sebagai suaminya itu.

Dan mengapa mereka gemar sekali bertengkar? ini sebenarnya hanya Baekhyun yang menjadi pemicunya.. Chanyeol ini tipe suami yang super sabar, perhatian, dan pemberi kenyamanan, pokoknya semua yang Chanyeol berikan selalu yang terbaik, baginya semua urusan yang menyangkut Baekhyun harus diutamakan, ia bahkan menempatkan dirinya sendiri diurutan kesekian, yang terpenting suaminya itu terpenuhi terlebih dahulu.

Baekhyun tidak pernah merasa gugup kepada pasangannya sebelum ini—sebelum Chanyeol datang dan merusak image playboy-nya dalam sekejap, dia gugup luar biasa saat pertama kali mereka bertemu, hanya saja Baekhyun pandai menutupi hingga tak ada hal memalukan yang terjadi seperti contohnya berkeringat dingin atau berbicara gagap.

Juga para mantannya terdahulu tidak ada yang berani mengucapkan kalimat romantis yang begitu ingin Baekhyun dengar layaknya yang Chanyeol lakukan secara jantan, yaitu ajakan menikah. Yang di sungai Han kemarin hanya simbol semata karena besok paginya Chanyeol langsung datang ke mansion Byun dengan rapi, wangi dan super tampan bersama papa dan mama Park, mengungkapkan keinginannya untuk meminang Baekhyun secara langsung, secepatnya. Baekhyun yang dari awal sudah kepincut tentu saja langsung menerimanya meski dia sempat berbelit-belit membahas tentang kuliah kedokteran yang sebenarnya sudah tidak lagi menarik perhatiannya, Baekhyun hanya mengulur-ulur waktu untuk menjawab 'ya, aku bersedia menerima lamaranmu', jual mahal memang sudah menjadi kebiasaan Byun Baekhyun sejak dulu jadi Chanyeol tidak heran lagi, dia maklum..

"Yeol, aku berangkat.."

Kepala basah Chanyeol menyembul dari balik pintu kamar mandi, didalam sana tubuhnya yang telanjang masih dipenuhi busa sabun. "Mau kemana?" tanyanya heran, Baekhyun tidak terlihat akan pergi kemana-mana sejak tadi, kenapa jadi tiba-tiba?

"Cafe.. Aku sudah janjian dengan Jongdae dan Kasper hyung." jawab Baekhyun mengeluarkan jaket milik Chanyeol untuk dipakai.

Bulan april hampir berlalu yang berarti usia kandungan Baekhyun sudah mencapai empat bulan, perkiraan melahirkan diawal atau pertengahan bulan september. Karena kembar perut Baekhyun sudah terlihat cukup besar dan membuatnya enggan mengenakan pakaian miliknya sendiri, lebih memilih memakai baju Chanyeol yang membuatnya nyaman karena ukurannya yang lebih besar.

"Tunggu sebentar, nanti aku antar." pinta Chanyeol, menutup kembali pintu kamar mandi, buru-buru membilas tubuhnya.

"Tidak perlu, aku bisa jalan kaki karena lumayan dekat." tolak anak itu.

"Nanti kau pingsan dijalan, sayang." sahut Chanyeol dari dalam.

Baekhyun manyun, berlebihan sekali suaminya itu.. Dia yakin tidak akan pingsan dijalan seperti yang Chanyeol khawatirkan, tubuhnya sudah lebih kuat daripada awal-awal kehamilan dulu, morning sickness-nya sudah jauh berkurang selama seminggu terakhir, Baekhyun sudah bisa menikmati makanannya dipagi hari dan kalaupun muntah itu tidak akan membuat tubuhnya menjadi lemah seperti bulan-bulan kemarin, itu hanya terasa sesaat dan tenaganya akan segera kembali pulih setelah meminum sesuatu yang hangat.

"Aku tidak akan lama." Chanyeol setengah berteriak setelah tidak mendapat jawaban dari Baekhyun, takutnya anak itu berangkat sendiri diam-diam.

"Ya sudah.." balasnya yang terdengar samar-samar ditelinga Chanyeol. "Aku tunggu diruang tengah."

"Neh."

Ketika Chanyeol selesai dia menemukan Baekhyun tengah duduk manis disofa sembari menikmati sebatang coklat yang sudah habis setengahnya, Chanyeol mendekatinya, segera meraup coklat yang hendak masuk kemulut suami mungilnya itu.

"Yeol!" protes yang lebih mungil dengan bibir merengut sebal. Chanyeol terkekeh pelan, menghapus sudut bibir Baekhyun dari sisa noda coklat. "Ini coklat terakhir yang aku punya." adu Baekhyun tentang stok cemilannya yang mulai menipis.

"Nanti aku belikan lagi yang banyak setelah pulang kerja."

Oh, apa ada sesuatu yang terlewatkan?—ya benar, Chanyeol memutuskan untuk bekerja diperusahaan milik ayahnya mulai hari ini, Siwon langsung menyetujui karena menurutnya praktik langsung dilapangan jauh lebih baik daripada hanya belajar teori dibangku kuliah, dengan syarat ia hanya diperbolehkan bekerja setengah hari, sisa harinya untuk menemani Baekhyun, dan deal..

Semua itu berawal dari Baekhyun yang menemukan sebuah artikel tentang manfaat berenang bagi ibu hamil, anak itu ngotot ingin pergi berenang padahal dia ini tidak bisa berenang sama sekali, yang ada nanti malah tenggelam, bukannya manfaat yang didapatkan tapi malah membahayakan, jadilah Chanyeol harus bersedia berubah menjadi pelampung hidup dadakan.

Karena Baekhyun tidak ingin pergi kekolam renang umum yang ada dikawasan apartemen, seminggu ini Chanyeol harus rela bolak balik memboyong suaminya itu kekolam renang yang ada di mansion Byun ataupun kediaman keluarga Park. Baekhyun ini tipe orang yang akan melakukan hal yang dia sukai secara terus menerus sampai merasa bosan.

Anak itu mengatakan dia ingin punya rumah yang ada kolam renangnya biar enak tidak mondar mandir terus-terusan, Baekhyun juga ingin kelak rumah masa depan mereka memiliki pemandangan gunung yang sejuk dan asri juga berdekatan dengan luasnya pantai biru dengan suara deburan ombak, mendengar itu Chanyeol hanya bisa menghela nafas pasrah.

Hidup mereka saat ini masih sepenuhnya tergantung pada uang bulanan yang kerap orang tua mereka kirimkan direkening masing-masing, memang semenjak ketahuan mengandung anak kembar uang bulanan yang Baekhyun terima bertambah menjadi dua kali lipat tapi tetap saja Chanyeol ingin dia menjadi satu-satunya orang yang akan mengisi rekening Baekhyun suatu hari nanti. Chanyeol ini tipe orang yang mandiri, ingat.. saat di Sydney dulu dia bekerja sambil kuliah. Dia tidak akan terus-terusan mengandalkan orang tuanya jika memang sudah mampu.

Nanti siang Baekhyun memiliki jadwal pemeriksaan kandungan yang memang rutin ia lakukan setiap bulannya, namun kali ini lebih spesial karena mereka akan segera mengetahui jenis kelamin bayi-bayinya, Baekhyun tidak sabar menantinya hingga merasa jarum jam bergerak sangat lambat hari ini.

"Kau tebak mereka laki-laki atau perempuan, Yeol?"

Chanyeol tampak berpikir sejenak. "Eum—perempuan."

"Kenapa?"

"Karena akhir-akhir ini kau terlihat semakin cantik." jawab Chanyeol jujur. "Kau juga jadi suka memasak, mencoba banyak resep-resep baru, jadi kupikir kemungkinan mereka bayi-bayi perempuan." ya, memasak menjadi hobi baru Baekhyun, rasa masakannya hancur parah dan Chanyeol satu-satunya korban yang harus mencicipi itu semua.

Chanyeol bukan sosok yang pandai berpura-pura, saat bibirnya berkata itu lumayan enak tapi ekspresi wajahnya menunjukkan hal sebaliknya, tapi anehnya Baekhyun percaya-percaya saja dan meminta Chanyeol menghabiskan semuanya, saat Baekhyun tidak melihat diam-diam Chanyeol akan membuang makanannya kedalam kotak sampah dan selesai.. Baekhyun senang dan Chanyeol tidak jadi keracunan, berakhir indah bukan?

"Tapi aku pikir mereka bayi laki-laki." Baekhyun menyangkal tidak setuju yang membuat Chanyeol mengerutkan dahinya penasaran. "Aku sering sekali terbangun tengah malam karena mereka bergerak terlalu banyak, kupikir mereka sedang bertengkar didalam sana."

"Memangnya bayi perempuan tidak banyak bergerak, ya?" tanya Chanyeol heran.

"Jongdae dan Kasper hyung bilang tidak terlalu banyak. Mereka lebih suka bergosip dengan tenang." astaga, kenapa sih mereka mengajarkan hal sesat ini pada suami mungilnya?

"Itu tidak bisa menjadi patokan, sayangku. Kita akan segera mengetahuinya nanti siang. Aku tidak masalah jika mereka laki-laki, perempuan, atau sepasang laki-laki dan perempuan, yang terpenting adalah kalian selalu sehat."

"Iya, aku sudah tidak sabar, Yeol." Baekhyun tersenyum lebar.

"Aku juga." balas Chanyeol tersenyum tak kalah lebar.

Perjalanan menuju cafe yang Baekhyun maksud membutuhkan waktu hampir sepuluh menit menaiki mobil, bukan ide yang buruk membiarkan Baekhyun keluar rumah sekedar menikmati pemandangan musim semi di Korea yang sungguh menakjubkan, dimana berbagai jenis bunga mulai bermekaran dengan indahnya.

"Nanti kalau sudah mau pulang hubungi aku. Aku akan menjemputmu sekalian kita makan siang bersama sebelum pergi kerumah sakit." pesan Chanyeol, Baekhyun mengangguk paham. Chanyeol langsung pergi setelah memastikan Baekhyun aman bersama Kasper dan Jongdae, dia sudah terlambat pergi kerja ngomong-ngomong.. Ini adalah hari pertamanya dan dia tidak ingin terkena semburan Siwon yang terkenal profesional itu, tidak peduli jika mereka masih memiliki hubungan darah, yang salah dan melanggar harus tetap mendapat sanksi ataupun hukuman.

Sebenarnya Baekhyun tidak ingin Chanyeol pergi kerja karena dia tidak suka ditinggal-tinggal apalagi awal kehamilan menjadi sesuatu yang berat untuk bisa ia lalui sendirian, selama hamil sampai waktunya melahirkan nanti Baekhyun ingin Chanyeol selalu ada didekatnya dan terjangkau oleh pandangan matanya. Hormon kehamilan membuat Baekhyun menjadi sosok yang berlebihan manjanya, namun berkat pengertian dan bujukan yang kerap Chanyeol layangkan dengan iming-iming akan memenuhi impian Baekhyun tentang rumah masa depan mereka yang dekat dengan gunung dan laut pada akhirnya Baekhyun setuju melepaskan suaminya itu untuk pergi mencari nafkah bagi kelangsungan hidup keluarga kecil mereka.

"Hyung, kau kenal Jimin 'kan?" Jongdae mulai bergosip, Baekhyun yang sedang enak-enaknya menikmati kentang gorengnya jadi ikut terpancing.

"Jimin yang mana?" Kasper balik bertanya.

"Yang perempuan itu, yang dulu pernah ikut kelas dance ditempatmu!" jawab Jongdae agak heboh, karena yakin seyakin yakinnya Kasper pasti tau kali ini.

"Oh yang itu? Tunggu—kau kenal dia juga?"

"Dia temanku saat SMP. Baekhyun juga sudah pasti tau karena kelas mereka pernah sebelahan, iya 'kan, Baek?"

Anak itu mengangguk cepat. "Dia pernah tiga kali menyatakan cintanya padaku dulu." Baekhyun keceplosan..

"Yang benar?!" tanya Jongdae tidak percaya. "Kau pasti bercanda!"

"Kau terima tidak?" Kasper ikut-ikutan heboh.

"Yang pertama, tidak. Yang kedua, juga tidak. Dan yang terakhir, tidak juga." jawab Baekhyun kalem.

"Ah, sayang sekali.." desah Kasper.

"Keputusanmu sangat tepat, Byun." Jongdae mengangguk setuju, raut wajahnya terlihat puas sekali.

"Apa maksudmu? Dia sangat cantik seperti seorang dewi." Kasper membela, merasa tidak terima karena menganggap Baekhyun tega sekali membuat seorang wanita cantik patah hati.

"Iya sekarang.." jawab Jongdae agak menyindir. "Coba kau mengenalnya lebih awal, hyung."

Baekhyun mengangguk penuh semangat menyetujui ucapan Jongdae. "Dulu dia gemuk sekali dan jerawatan!" hebohnya.

"Kau sedang hamil, astaga!" Kasper mendelik tidak percaya, Baekhyun yang baru sadar buru-buru mengelus perut buncitnya sambil mengumamkan mantra 'amit-amit jabang bayi'.

"Maksudku bukan gemuk dan jerawatan yang menjadi alasan aku menolaknya, tapi karena memang dia mempunyai sifat yang kurang baik." anak itu mengklarifikasi. "Si cantik Jiyeon yang aku taksir sejak lama sampai harus rela pindah sekolah keluar negeri karena tidak tahan terus-terusan mendapat teror dan tekanan darinya. Dulu dia itu sudah persis seperti psikopat kecil." jelas Baekhyun.

"Oh, Jiyeon?—kudengar dia sudah kembali ke Korea." tanggap Jongdae, sudah persis seperti akun gosip yang mengetahui semua berita terbaru.

"Benarkah?" tanya Baekhyun tampak setengah tidak percaya. "Dia tetap tinggal di rumahnya yang dulu 'kan?"

"Kenapa? Ingin ketemu?"

Baekhyun mengangguk cepat, dia ingin melepas kangen dengan salah satu mantan taksirannya dulu. Penasaran ingin bertanya apa Jiyeon juga masih memiliki perasaan yang sama dengannya, Baekhyun tau ini terdengar gila tapi tetap saja dia ingin melakukannya. Ya, anggap saja ini salah satu bentuk dari sekian banyak ngidam anehnya.

"Jiyeon-nya buat aku saja ya, Baek?" pinta Kasper.

"Enak saja! Dia pasti masih menyukaiku." tolak Baekhyun mentah-mentah.

"Tapi kau 'kan sudah menikah, bahkan hamil." Kasper masih keras kepala.

"Memangnya kenapa kalau aku sudah menikah dan hamil? Aku bisa membujuk Chanyeol dengan mudah kok." balasnya ngawur.

"Kau mau punya suami dan istri sekaligus, begitu? Serakah sekali!" tanya Kasper setengah tidak percaya.

"Lalu masalahnya ada dimana?!" Baekhyun tetap ngotot.

"Eits, tunggu dulu kalian berdua!" Jongdae geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua sahabatnya itu. Kenapa mesti repot-repot bertengkar konyol coba? "Dengar-dengar dia sudah menikah dengan seorang bule loh.."

Senyum Baekhyun dan Kasper luntur seketika mendengar fakta itu. Oke, lagipula Chanyeol jauh lebih menarik dari Jiyeon kok.. Baekhyun akan segera melupakan gadis itu dari sekarang.

Tiga jam berlalu tanpa terasa ketika ketiganya membicarakan banyak hal sampai pada akhirnya Kasper pamit undur diri karena kelas dance-nya akan segera dimulai, Jongdae menyusul tak lama kemudian setelah mendapat panggilan dari Minseok untuk datang menemuinya karena rumahnya sedang sepi, kedua orang tuanya sedang pergi ke desa untuk menjenguk sang nenek yang tengah sakit, Jongdae tentu saja girang bukan main, dia bisa berlama-lama bermesraan dengan sang pujaan hati tanpa adanya gangguan. Sekedar informasi, ayah Minseok terkenal galak dan Jongdae takut setengah mati padanya, itu sebabnya dia tidak segera melamar Minseok, takut ditolak mentah-mentah katanya..

Chanyeol masih lama menjemput jadi Jongdae menawari Baekhyun untuk ikut kerumah Minseok sekalian tapi anak itu menolak, dia tidak mau jadi obat nyamuk, pengganggu keduanya yang tengah berpacaran. Baekhyun memutuskan untuk tinggal di cafe lebih lama saja, dia bebas menghabisan banyak es cream tanpa Chanyeol tau, juga Kasper dan Jongdae yang sudah pergi tidak akan bisa mengadu pada suaminya itu.

"Oh, kebetulan sekali.." sebuah suara menginterupsi, membuat Baekhyun mengalihkan pandangan dari cup es cream rasa coklatnya, anak itu memutar bola matanya malas setelah mengetahui siapa tamu tak diundang yang datang menghampirinya.

"Astaga, mimpi buruk apa aku semalam." gumam Baekhyun sebal. Bagaimana ceritanya dia bisa bertemu Kyungsoo disini? Apa ini hari sialnya?

"Kau masih dendam padaku karena masalah kemarin?" tanya Kyungsoo sok polos, ikut bergabung dimeja yang sama.

"Aku belum mengijinkanmu bergabung denganku ngomong-ngomong." sindirnya.

"Kau ini pelit sekali." balas Kyungsoo. "Aku hanya numpang sebentar kok sampai Kai datang."

Ah, Tuhan.. si buluk itu juga akan ada disini? Ini buruk! Benar-benar sangat buruk! Mereka berdua merupakan perpaduan yang pas untuk menghancurkan mood baik dan penghasil stres terbesar Baekhyun.

"Kau masih saja belum bisa menerima kenyataan ya?" tanya Kyungsoo. "Ingat! Kai sudah memilihku, Byun Baekhyun."

"Aku tidak peduli, Do Kyungsoo!"

Baekhyun yang tidak tahan berhadapan langsung dengan wajah menyebalkan itu memilih untuk segera bangkit dari duduknya hingga mata bulat Kyungsoo tanpa sengaja menangkap perutnya yang tampak membuncit. "Kau?—Baekhyun, tunggu!" ia menarik tangan mantan sahabatnya itu. "Ah, jadi ini maksud dari postingan instagram-mu bulan lalu?"

Menanggapi itu Baekhyun hanya meniup poni rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan gaya yang sengaja ia buat-buat, senyum remeh ia layangkan pada Kyungsoo. "Wah, ada seorang stalker yang baru mengaku rupanya."

Itu foto USG bayi kembarnya saat berusia tiga bulan, Baekhyun mempostingnya karena tidak bisa membendung perasaan bahagianya saat itu, dia ingin seluruh dunia tau bahwa bayi kembarnya tumbuh dengan sangat baik didalam tubuhnya. Banyak penggemar dan teman-temannya yang menanyakan tentang maksud dari foto itu, kebanyakan dari mereka menebak jika itu calon adik baru Baekhyun dan lainnya memberikan selamat tanpa penasaran, sedikit temannya yang tau jika Baekhyun telah menikah dan mengatakan jika itu bayi kembar milik Baekhyun sendiri tapi banyak juga yang tidak percaya dan berakhir dengan mereka yang berdebat disana, Baekhyun sendiri lebih memilih diam dan tidak memberi balasan komentar apapun.

"Kau hamil diluar nikah?!" Baekhyun hampir terjungkal kebelakang mendengar tuduhan ngawur Kyungsoo.

"Kau pikir aku orang yang seperti itu?!" balas Baekhyun tidak terima.

Kyungsoo mengangguk cepat. "Kau 'kan binal."

Meskipun itu kenyataan tapi tetap saja Baekhyun tidak terima dikatai seperti itu, dia memang binal, lalu urusannya dengan Kyungsoo apa?! Kenapa dia jadi repot-repot memikirkan hidup Baekhyun? "Aku jadi prihatin. Apa orang itu mau bertanggung jawab atas bayimu?" tanyanya sinis. "Ah, aku baru ingat jika keluargamu sangat kaya, kau bisa saja dengan mudah membeli hidup seseorang untuk menjadi suamimu demi menutupi aib ini 'kan?"

Baekhyun mengernyit tidak suka mendengarnya. Apa selama ini Kyungsoo selalu berpikir Baekhyun serendah itu?

"Aku bisa saja menuntutmu dengan tuduhan pencemaran nama baik!" ancam Baekhyun yang sudah tidak tahan.

Kyungsoo tertawa remeh. "Kenapa harus membuang uang dengan percuma kalau memang itu kenyataannya. Dasar orang kaya!"

"Aku memberimu waktu untuk meminta maaf sebelum kau menyesal, Do Kyungsoo!"

"Kau mengancamku?"

"Kenapa? Mulai takut?—maka minta maaflah secara tulus!" ucap Baekhyun bersendakap dengan angkuh.

"Kau mulai gila rupanya." suara Kyungsoo teredam lirih. "Lihat tubuhmu yang seperti badut pesta ulang tahun itu! Minta maaf kepadamu?—ck, jangan becanda!"

Baekhyun mendelik tidak percaya. Sumpah! Dia sakit hati, Kyungsoo sudah membawa-bawa fisik segala, Baekhyun tidak bisa terima itu. Chanyeol bilang Baekhyun yang sekarang terlihat semakin seksi dengan perut buncitnya, tapi Kyungsoo—Badut pesta ulang tahun katanya?!

"Kau menatapku seolah siap menendangku dengan jurus hapkido andalanmu seperti saat kita masih duduk dibangku sekolah dulu tapi tampaknya itu akan menjadi sulit untuk kau lakukan sekarang. Konyol sekali.." Kyungsoo semakin gencar menyindir.

"Wah, mulutmu itu benar-benar pandai membuatku kesal, ya?"

Kyungsoo tersenyum menang sementara Baekhyun berusaha mati-matian meredam emosinya. Haneul bilang selama masa kehamilan Baekhyun dilarang membenci dan menghina orang secara berlebihan atau nanti itu akan berakibat pada bayi-bayinya yang akan memiliki kemiripan dengan objek yang tidak ia sukai tersebut. Kyungsoo jelas tidak jelek, dia imut malahan, tapi maaf-maaf saja, Baekhyun tetap tidak ingin anak-anaknya kelak memiliki kemiripan dengan pinguin gurun itu. Amit-amit..

"Ah, itu Kai sudah datang." gumam Kyungsoo, reflek Baekhyun ikut menoleh kearah pintu masuk. "Kai, sebelah sini! Lihat aku bertemu dengan siapa?" anak itu menunjuk Baekhyun yang memasang wajah tidak minat.

"Oh, hai Baekhyun!" sapa Kai sok ramah setelah berjalan mendekat. Apa dia sudah lupa dengan kejadian beberapa bulan yang lalu? Apa Baekhyun perlu mengingatkannya dengan lemparan sepatu kedua? "Lama tidak bertemu, ya? Bagaimana kabarmu?—Ya! apa yang terjadi dengan perutmu? Mengapa bisa sebesar itu? Apa itu semacam kanker ganas? Kemarilah, biarkan aku menyentuhnya, aku bisa merekomendasikan rumah sakit terbaik untukmu."

Baekhyun mendadak sakit kepala mendengar ocehan si buluk Kai. "Jangan sok akrab denganku!" sentaknya kesal.

"Ya ampun, galaknya tetap sama saja seperti dulu." Kai tersenyum kecut.

"Semenjak hubungan kalian berakhir tampaknya dia mengalami depresi berat." ucap Kyungsoo. "Aku tidak terkejut lagi bagaimana cara Baekhyun untuk melampiaskan semua itu. Dia pasti sudah tidur dengan banyak pria hingga hamil diluar pernikahan tanpa tau siapa ayah bayinya."

"H-hamil?—dia hamil?!" Kai tampak tidak percaya. "Kyung-ie, kau tidak seperti Baekhyun yang bisa hamil 'kan? Maksudku.. aku akan sangat senang sekali memiliki anak darimu tapi tidak untuk sekarang karena aku belum mapan. Tunggu sebentar lagi sampai aku berhasil menjadi dokter yang sukses ya?" Kai salah fokus.

"Bodoh! Kalau aku bisa hamil pasti aku sudah mengandung bayimu saat ini. Kau 'kan mesum!" sindir Kyungsoo.

Demi berjaga-jaga Kai berjanji akan memakai alat pengaman mulai hari ini, dia tidak mau kecolongan, ayah dan ibunya bisa jantungan mendadak jika tiba-tiba Kyungsoo datang kerumah untuk meminta pertanggung jawaban. "Lagipula aku bukan orang aneh seperti Baekhyun. Mana ada laki-laki yang bisa hamil? Jangan-jangan dia ini manusia jadi-jadian. Dan dia juga mengandung anak diluar pernikahan."

Baekhyun mengelus-elus perutnya ketika merasakan bayi-bayinya bergerak terlalu banyak, mereka tampak tidak suka mommy-nya dikatai seperti ini. "Ya! Do Kyungsoo! Kau boleh menghinaku dengan kata-kata menyakitkan sekalipun tapi tidak dengan bayi-bayiku! Mereka memiliki ayah asal kau tau!"

"Oh, ya? Kau pasti sudah menuduh seorang lelaki yang—"

"Akh!"

Baekhyun jatuh terduduk sembari menopang perutnya membuat mata bulat Kyungsoo melebar sempurna lantaran terkejut, pemuda itu tampak mendesis kesakitan.

"B-baekhyun!" Kai buru-buru mendekati, itu semacam reflek dari dirinya yang seorang calon dokter, dia terlatih untuk cepat tanggap dalam keadaan darurat. "Mana yang sakit? Biarkan aku memeriksanya! Kau ingat, aku calon dok—"

"PERGI!" teriak Baekhyun murka yang sukses membuat seorang pelayan datang menghampiri mereka, memastikan apa yang tengah terjadi karena ketiganya tampak sedang bersitegang.

"Nona? Apa yang terjadi? Anda baik-baik saja?" tanya sang pelayan.

"Aku laki-laki, sialan!" desis Baekhyun diantara rasa nyeri yang semakin menjadi-jadi.

"M-maaf.."

"A-aku butuh r-rumah sakit." pinta Baekhyun.

Pelayan itu segera menatap Kai dan Kyungsoo. "Kalian berdua harus membawanya kerumah sakit!"

"Kami tidak ada sangkut pautnya dengan dia!" ucap Kyungsoo tidak terima.

"Aku jelas melihat kalian terlibat pertengkaran sebelum kejadian ini terjadi!" tuduh sang pelayan tepat sasaran. "Pihak cafe bisa saja menyertakan rekaman cctv sebagai bukti jika kalian masih terus menyangkal."

"Ya! Jalang murahan!" Baekhyun mendongak dengan wajah pucat. "Kau memang pandai berpura-pura untuk melihatku merasa bersalah 'kan? Itu yang kau mau agar semua orang menyalahkanku?"

"Kau satu-satunya orang harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang buruk pada bayi-bayiku! Aku tidak akan memaafkanmu, Do Kyungsoo!" balas Baekhyun marah, ia tidak bisa membayangkan nasib buruk yang akan menimpa bayi-bayinya jika mereka tidak segera pergi kerumah sakit. Usia kandungannya masih empat bulan dan ia mengalami kontraksi, itu jelas bukan sesuatu yang baik.

"Kau tidak perlu khawatir, kami akan bertanggung jawab padanya." ucap Kai, Kyungsoo menatapnya tidak percaya. "Kau masih bisa berdiri 'kan? Ayo, biar kubantu." ajaknya meraih tangan Baekhyun.

"Kau ini apa-apaan?!" sentak Kyungsoo kesal. "Aku yakin dia hanya berpura-pura!"

"Berpura-pura atau tidak kita akan segera mengetahuinya dirumah sakit." balas Kai yang membuat Kyungsoo semakin kesal, tampaknya kekasihnya itu lebih memihak pada Baekhyun. "Aku seorang calon dokter, membantu orang lain yang membutuhkan adalah kewajibanku, sekalipun aku tidak menyukainya aku tetap harus bersikap profesional." jelas Kai agar Kyungsoo tidak salah paham dan berakhir dengan Kai yang tidak akan dapat 'jatah' selama satu minggu penuh. Bisa-bisa 'adik kecilnya' nanti jadi karatan..

Kai menuntun Baekhyun memasuki mobilnya, Kyungsoo menyusul tak lama kemudian, meski enggan pada akhirnya ia tetap menuruti Kai yang memintanya duduk dikursi belakang untuk menjaga Baekhyun.

"Fokus menyetir saja, bodoh! Aku bersumpah akan membunuhmu jika mobil ini sampai lecet! INI MASIH KREDIT DAN BELUM LUNAS!" ancam Kyungsoo setelah Kai menoleh kebelakang lantaran terkejut oleh pekikan Kyungsoo yang lengannya baru saja menjadi sasaran gigitan Baekhyun.

Didalam mobil yang melaju cukup kencang, Baekhyun terus berteriak kesakitan dan itu jelas sangat mengganggu pendengaran Kai dan Kyungsoo, anak itu tidak akan segan-segan menjambak rambut dan mengigit tangan Kyungsoo untuk melampiaskan rasa sakitnya hingga teriakan keduanya terus beradu nyaring selama perjalanan. Kai jadi panik sendiri, di satu sisi dia harus bisa membawa Baekhyun sampai kerumah sakit tepat waktu tapi teriakan dibelakang sana membuat konsentrasinya buyar.

"ARGH—SAKIT SEKALI! RASANYA AKU MAU MATI!"

"GYAAA! JANGAN GIGIT TANGANKU! JAUH-JAUH SANA!"

.

.

~oOo~

.

.

"Hal—"

"CHANYEOOLL!"

Chanyeol segera menjauhkan ponselnya setelah lengkingan Baekhyun terdengar yang seketika menyakiti telinga lebarnya. "Sayang? Ada apa?" tanyanya heran.

"JANGAN BICARA APAPUN, CHANYEOL! CUKUP DENGARKAN AKU!"

"Baekhyun, kau—"

"AKU TIDAK BAIK-BAIK SAJA SEKARANG! AKU SEKARAT! AKU HAMPIR MATI!" dan tangis anak itu terdengar menyusul kemudian.

Chanyeol jelas terkejut setengah mati, dia bahkan sudah berdiri dari tempat duduknya tanpa sadar, rautnya tampak shock.

Tadi pagi Chanyeol yang mengantar Baekhyun pergi dalam keadaan sehat-sehat saja dan sekarang suami mungilnya itu berkata jika dia sekarat dan hampir mati. Apa yang terjadi sebenarnya? Chanyeol mendadak lemas dan hampir kehilangan kesadaran mendengar itu.

"B-baek—"

"J-JIKA AKU MATI HARI INI, KAU TIDAK BOLEH MENIKAH LAGI, CHANYEOL! A-AKU TIDAK RELA! AKU—YA!"

"Halo?" dan suara lain terdengar, sepertinya ponsel Baekhyun telah direbut secara paksa disana. "Kau suami Byun Baekhyun?"

"Neh." jawab Chanyeol cepat.

"KEMBALIKAN PONSELKU, PINGUN GURUN JELEK!"

"ARGH—JANGAN JAMBAK RAMBUTKU, DASAR BINAL ANEH!" balasnya tak kalah nyaring.

Chanyeol jadi bingung sendiri dengan situasi yang tengah terjadi saat ini. Dan Baekhyun bilang ia sekarat? Mana ada orang sekarat yang masih bisa teriak-teriak bahkan sempat mengumpati orang segala?

"Hei, kau masih disana?—pergilah ke Seoul International Hospital karena kami akan membawa Baekhyun kesana."

Tanpa pikir panjang Chanyeol segera berlari keluar dari ruangan kerjanya, ia sempat menabrak beberapa pegawai dan mendapat banyak protes juga sumpah serapah, tapi Chanyeol tidak peduli, ia menaiki sebuah taksi yang segera tancap gas setelah Chanyeol mengatakan tempat tujuannya.

"CHANYEOOLL!" tampaknya ponsel itu sudah kembali ketangan pemiliknya. "AKU BENAR-BENAR MERASA AKAN MATI HARI INI. Aku tidak akan bisa bertahan lebih dari sepuluh menit lagi, hiks.."

"Aku sedang menuju kesana, Baekhyun. Bertahanlah.." pinta sang suami sepenuh hati.

"TIDAK!" tangis Baekhyun semakin menjadi-jadi. "Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, Chanyeol. Jangan memaksaku. Tolong, ikhlaskan saja aku.." dan suaranya mulai terdengar melemah. "M-maaf karena aku tidak b-bisa menjaga bayi-bayi kita dengan baik. Aku memang bukan mommy yang baik."

"Jangan bicara seperti itu, sayang. Ingatlah, dalam lima bulan kedepan kita bisa memeluk mereka secara nyata jadi kau harus bertahan.." Chanyeol tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi. Jika Baekhyun dan bayi-bayi mereka benar-benar mati hari ini, Chanyeol berjanji akan segera menyusul mereka, loncat dari gedung teratas rumah sakit, dia tidak bisa membayangkan akan seperti apa rasanya menduda seumur hidup.

"Aku mencintaimu, Chan—" sambungan terputus begitu saja.

"Baekhyun! Halo?!"

Chanyeol terdiam beberapa saat, menatap layar ponselnya yang menghitam—baterainya habis. Sialan!

"Tolong lebih cepat lagi!" pinta Chanyeol pada sang supir taksi dengan tidak sabar, tapi nyatanya jalanan tengah macet parah karena aksi demo yang dilakukan oleh para buruh disebuah perusahaan, meski para aparat kepolisian sudah diterjunkan dilokasi kejadian tetap saja arus lalu lintas masih terganggu.

Beberapa kali Chanyeol berpikir untuk berlari saja agar bisa sampai kerumah sakit yang letak bangunannya masih lumayan jauh, dia tidak peduli jika nanti akan pingsan ditengah jalan, yang terpenting dia bisa melihat Baekhyun dengan segera. Sang supir taksi paruh baya itu mencegahnya dengan mengatakan jalanan sudah kelihatan lancar didepan sana, nyatanya Chanyeol sudah menunggu hampir lima belas menit lamanya tanpa sebuah kepastian, taksi itu tetap berjalan merambat layaknya siput.

.

.

~oOo~

.

.

Chanyeol sampai kerumah sakit setengah jam kemudian, ia bisa menemukan Kai dan Kyungsoo yang tengah menunggu didepan ruangan UGD.

"Kalian?!" pekik Chanyeol setengah tidak percaya. "Apa yang terjadi pada suamiku? Kau pasti yang sudah membuatnya celaka 'kan?" Chanyeol menarik kerah baju yang Kai kenakan, siap menghantam wajah pemuda berkulit tan itu tepat dibagian hidung.

"Jangan hidungku lagi, kumohon.." pinta Kai ngeri. Kenapa hidungnya selalu jadi sasaran amukan?

"Kalau hidungnya patah lagi, aku akan meminta ganti rugi dua kali lipat! Aku serius!" Kyungsoo menambahi sembari menahan tangan Chanyeol. Demi Tuhan, pacarnya itu baru operasi plastik hidung beberapa bulan yang lalu dan sekarang Chanyeol mau menghancurkannya lagi?

Chanyeol tidak peduli, dia sudah akan bersiap melayangkan tinjunya sebelum pintu ruangan UGD terbuka dari dalam, Luhan tampak keluar dari sana. "Tuan Park?" tanyanya memastikan karena yang Luhan tau Chanyeol itu kalem tidak seperti preman yang hobi adu jotos tanpa tau situasi dan kondisi.

"Perawat Xi?!" ia melepaskan tangannya dari kerah baju Kai. "Dimana Baekhyun? Bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja 'kan? Lalu bayi-bayi kami juga 'kan? Baekhyun mengatakan dia hampir ma—"

"Tenang, tuan Park." sela Luhan yang melihat Chanyeol tampak panik luar biasa. "Tarik nafas anda dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan.. jika anda sudah merasa cukup tenang saya akan membawa anda masuk kedalam untuk menemui tuan Byun."

Chanyeol mengangguk yakin setelah merasa dirinya tidak sepanik tadi, dia berusaha menyiapkan diri untuk mendengarkan penjelasan dokter didalam sana, juga menguatkan hatinya yang mungkin akan menemukan suami mungilnya dalam keadaan tidak berdaya. Tidak sadarkan diri diatas dinginnya ranjang rumah sakit dengan jarum infus, selang oksigen juga peralatan medis disekujur tubuhnya. Chanyeol merasa sangat bersalah.. Kaki-kakinya yang panjang terasa sangat berat untuk melangkah memasuki ruang UGD. Pandangan matanya kosong, dia seperti sebuah raga tanpa nyawa, pikirannya menerawang jauh.. seharusnya tadi Chanyeol tidak membiarkan Baekhyun pergi sendirian, seharusnya dia tidak terlalu memaksakan Baekhyun yang enggan untuk ditinggal pergi bekerja, Chanyeol baru menyadarinya, kemungkinan itu adalah firasat terakhir dari suami mungilnya—yang kini tengah duduk berbincang diatas ranjang rumah sakit bersama dokter Oh, Baekhyun tampak tertawa geli atas candaan yang dokter muda itu layangkan membuat dahi Chanyeol mengeryit dalam sedalam-dalamnya lantaran heran juga kebingungan.

Dia tidak menemukan sosok Baekhyun dalam keadaan tidak sadarkan diri, dengan infus, selang oksigen dan peralatan medis lainnya. Itu semua tidak ada! Yang ada hanya anak itu segera menyadari keberadaan Chanyeol disana dan senyum teramat lebarnya segera mengembang.

"Yeol!" Baekhyun setengah berlari demi bisa memeluk tubuh tegang suaminya. "Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu sejak tadi."

"B-baek—hyun?"

"Neh?—hei, kenapa wajahmu pucat begitu? Dokter, sepertinya suamiku sedang kurang sehat. Bisakah anda—hmmpttt.."

Sehun dan Luhan segera mengalihkan pandangan masing-masing ketika melihat adegan live ciuman panas tersebut. Beruntung hari ini ruangan UGD tengah sepi kalau tidak pasti sudah terdengar pekikan dimana-mana.

"Kau membuatku khawatir, sayang.." ucap Chanyeol setelah ciuman mereka usai, wajah linglung pemuda itu belum memudar sepenuhnya.

"Maaf." gumam Baekhyun menyesal. "Aku benar-benar merasa akan mati tadi. Aku tidak bohong, Yeol.. Perutku sakit sekali dan aku mulai kesulitan bernafas, itu semakin bertambah parah ketika aku memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada bayi-bayi kita. Aku takut sekali.."

"Apa sekarang masih sakit?" tanyanya dengan raut khawatir yang ketara jelas.

"Sudah tidak lagi. Dokter Oh menuntunku untuk bernafas dengan baik dan tadaaa.. secara ajaib rasa sakitnya menghilang begitu saja."

"Syukurlah.." Chanyeol memberikan sebuah pelukan hangat untuk suami mungilnya.

"Kami benar-benar minta maaf karena sudah melakukannya tanpa menunggu kedatangan anda terlebih dahulu, tuan Park." interupsi Sehun yang membuat Chanyeol setengah tidak rela terpaksa melepaskan pelukan mereka untuk menanggapi ucapan dokter muda itu. "Tuan Byun terus menangis dan mengatakan dia tidak bisa merasakan keberadaan bayi-bayinya. Untuk menghiburnya kami melakukan pemeriksaan USG 4D. Hasilnya cukup baik, bayi-bayi anda dalam keadaan sehat dan kami sudah mengetahui jenis kelaminnya."

Baekhyun menatap Chanyeol tidak enak hati, seharusnya 'kan mereka melihat itu bersama-sama tapi Baekhyun malah mendahului. "Maaf ya, Yeol?" pintanya tulus.

"Itu bukan masalah besar, sayang.." hibur Chanyeol tidak ingin merusak kebahagiaan suami mungilnya. Dia sudah sangat bersyukur mengetahui Baekhyun dan bayi-bayi mereka dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, dan apa tadi dokter Oh mengatakan mereka sudah mengetahui jenis kelamin bayi-bayinya? Chanyeol sudah sangat tidak sabar untuk segera mengetahuinya juga. "Jadi mereka adalah..."

Baekhyun tersenyum manis, sedikit mengulur waktu dengan sengaja agar suaminya itu semakin penasaran. "Dua jagoan.." jawabnya setengah berbisik.

"Laki-laki?!" pekik Chanyeol tidak percaya jika dia akan menjadi seorang ayah dari dua jagoan.

"Neh. Jasper dan Jackson."

"Nama yang keren, tuan Byun." puji Luhan.

"Terima kasih, perawat Xi." balasnya.

"Oh Tuhan, aku tidak percaya ini.." Chanyeol memeluk Baekhyun lebih erat, anak itu tau jika suaminya tengah menangis penuh haru.

"Dasar giant bodoh! Kenapa kau cengeng sekali sih? Apa setiap pemeriksaan kandungan kau akan terus menangis seperti anak TK? Dewasalah sedikit, kau akan menjadi seorang ayah sebentar lagi!" ejek Baekhyun yang berbanding terbalik dengan kedua mata kecilnya yang tampak berkaca-kaca.

"Lihat siapa yang berbicara itu?" balas Chanyeol. "Kau juga menangis, air matamu menetes keluar." ucapnya dengan tangan terulur menghapus air mata Baekhyun, anak itu juga melakukan hal yang sama pada suaminya, mengabaikan Sehun dan Luhan yang tampaknya sudah kebal melihat kemesraan pasangan muda tersebut.

"Kau tau? Salah satu diantara mereka ada yang mirip sekali denganmu." cerita Baekhyun setelah adegan tangis haru biru itu usai.

"Benarkah?"

Baekhyun mengangguk penuh semangat. "Hidungnya tinggi sepertimu."

"Kalau begitu dia pasti Jackson!" balas Chanyeol tak kalah semangat.

"Neh."

"Lalu baby Jes? Apa dia terlihat menggemaskan seperti mommy-nya?"

"Dia bayi yang pemalu. Dia tidak mau memperlihatkan wajahnya tapi perawat Xi berkata kemungkinan dia memiliki mata dan hidung yang kecil sepertiku."

"Kenapa sifatnya beda sekali dengan mommy-nya yang cerewet?" tanya Chanyeol sengaja mengejek anak itu.

"Aku 'kan aslinya juga pemalu, Yeol." pemalu darimana? binal begitu.. yang ada Baekhyun ini sikapnya kadang-kadang memalukan.

"Iya, iya, kau pemalu." Chanyeol memilih menuruti dan mengalah saja daripada nanti Baekhyun ngambek. "Ah, dokter Oh, mengenai kejadian tadi apa semuanya baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan?"

Dokter muda itu mengangguk yakin. "Itu hanya kontraksi palsu, tuan Park. Ada banyak hal yang menjadi pemicu, salah satunya adalah stres."

"Kyungsoo mengatai aku hamil duluan, Yeol!" curhat Baekhyun yang merasa kesal mengingat kejadian di cafe tadi.

Chanyeol menatapnya heran. "Lah, memang benar 'kan?"

Dahi Baekhyun mengernyit dalam. "Benar apanya?!" sentaknya tidak terima.

"Mana ada orang yang melahirkan dulu baru hamil, sayang? Yang ada hamil duluan baru melahirkan." goda Chanyeol dengan tawa jahil.

Bibir Baekhyun mengerucut sebal. "Kau sama saja menyebalkannya seperti mereka!"

"Maaf, sayangku.. aku hanya bercanda. Jangan stres lagi, ya?"

"Bagaimana aku tidak stres kalau Kyungsoo terus mengatakan jika Jesper dan Jackson adalah anak haram yang tidak jelas siapa ayahnya, dia juga mengatakan aku gendut seperti badut pesta ulang tahun!"

Luhan tersenyum geli mendengar curhatan Baekhyun yang mengebu-gebu sementara Sehun meminta Baekhyun untuk terus mengeluarkan semua unek-uneknya agar anak itu bisa merasa lega dan tidak lagi tertekan.

"Ya sudah, ayo temui mereka! Akan kubuat hidung si buluk itu patah untuk kedua kalinya!" Baekhyun menatap kagum suaminya yang sudah tampak seperti sosok pahlawan kesiangan yang siap membelanya kapapun dan dimanapun. Tapi mereka salah menuduh pelaku, padahal dari tadi Kai diam saja, dia bahkan jadi orang pertama yang menolong Baekhyun. Chanyeol tidak peduli, dia suka kok mem-bully mantan kekasih Baekhyun yang satu itu..

Ketika Chanyeol dan Baekhyun keluar dari ruangan UGD mereka menemukan Kai dan Kyungsoo masih ada disana, wajah tegang mereka membuat Chanyeol ingin tertawa terbahak-bahak.

"K-kau—" Kyungsoo yang sadar jika Baekhyun sudah dalam keadaan baik-baik saja segera merubah raut wajahnya kembali dingin. "Kupikir kau sudah mati didalam sana!"

"Tuh 'kan, Yeol! Dia itu menyebalkan sekali." Baekhyun mendelik sebal tapi tentu saja delikan Kyungsoo yang mempunyai mata besar itu terkesan jauh lebih menyeramkan.

"Sabar, sayang.." bujuk Chanyeol yang kemudian mengalihkan pandangannya pada Kai dan Kyungsoo, rautnya tampak menantang siap berperang pada pasangan kekasih itu. "Jadi siapa diantara kalian berdua yang sudah berani menyebar fitnah jika Baekhyun hamil diluar nikah dan mengandung bayi yang tidak jelas ayahnya?"

Secara kompak Kai dan Baekhyun menunjuk Kyungsoo disana. Kyungsoo hampir ingin membantai Kai ditempat, bukannya membela malah menjerumuskan!

"Jadi kau?" tanya Chanyeol.

Kyungsoo mengangkat kepalanya tinggi-tinggi untuk menatap Chanyeol yang menjulang layaknya sebuah tiang. "Kenapa? Kau tidak lihat ini, ini, dan juga ini?!" ia menunjukkan kedua lengannya dengan bekas gigitan yang sudah memerah, Chanyeol yakin itu akan menjadi memar keesokan harinya, juga rambutnya yang tampak berantakan seperti orang baru bangun tidur. "Ini semua perbuatan Baekhyun!—masih baik aku mau mengantarnya kerumah sakit! Kau tau, ada kemungkinan mobil baru Kai yang belum lunas cicilannya akan tergores mengingat usaha kami untuk membawa Baekhyun sampai rumah sakit tepat waktu, Kai bahkan sempat menerobos lampu merah, juga bahan bakar yang pastinya akan banyak berkurang selama perjalanan menuju kemari!"

Chanyeol menganga tidak mengerti dengan apa yang Kyungsoo bicarakan. "Aku bisa saja meminta ganti rugi tapi aku tidak akan melakukannya kali ini! Anggap saja kita impas! Ayo, Kai, kita pergi sekarang!" Kyungsoo segera berlalu dengan langkah besar-besar.

"Kami pergi duluan. Selamat tinggal.." ucap Kai sebelum menyusul sang pacar.

"Aku benar-benar tidak mengerti." Chanyeol menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Aku hanya akan mengenalkan diriku sebagai suamimu agar tidak terjadi fitnah lagi dan berniat mengucapkan terima kasih karena mereka sudah bersedia membawamu kerumah sakit, tapi Kyungsoo malah pergi begitu saja sebelum aku melakukannya, dan dia juga terus mengatakan hal-hal yang tidak jelas."

Baekhyun mengangguk setuju.

"Baru kali ini Kyungsoo merasa dirugikan tapi tidak minta ganti rugi. Wah, ini aneh sekali.." ucap Baekhyun yang mengerti betul akan sifat mantan sahabatnya itu.

Yang tidak Chanyeol dan Baekhyun ketahui adalah sebenarnya Kyungsoo merasa ketakutan berhadapan langsung dengan Chanyeol, itu sebabnya ia menyerang Chanyeol duluan dengan mengatakan hal yang tidak jelas dan kemudian pergi kabur begitu saja, dia takut Chanyeol menghajarnya ditempat karena ia sudah menuduh Baekhyun yang tidak-tidak, lagipula Kai disana juga tidak dapat banyak membantu. Kyungsoo menyerah..

"Ayo pergi belanja untuk bayi-bayi kita!" ajak Baekhyun bersemangat, sudah melupakan kejadian barusan.

"Ide yang bagus." balas Chanyeol. Karena sudah tau jenis kelamin bayi-bayinya tidak ada salahnya 'kan mereka mulai menabung kebutuhan bayi-bayinya mulai sekarang? "Aku akan memilih banyak warna biru untuk baby Jack. Lalu baby Jes?"

"Warna pink saja, dia 'kan agak pemalu."

Chanyeol terkekeh pelan. "Itu 'kan warna untuk bayi perempuan, sayang."

"Terus mnurutmu warna yang cocok untuk baby Jes apa, Yeol?"

"Kau bisa memilih antara kuning atau hijau."

"Emm—kupikir warna kuning yang lembut lebih cocok untuknya."

"Baiklah.. biru untuk baby Jack dan kuning untuk baby Jes. Ayo, berangkat!"

Selama menemani Baekhyun berbelanja Chanyeol merasa perasaannya tidak enak, dia bahkan bersin berkali-kali meski yakin ia sedang tidak terserang flu saat ini, tampaknya ia sudah melupakan suatu hal yang benar-benar fatal, sementara di sisi lain Siwon kebingungan mencari dimana keberadaan anak itu, meski ia anak kandung dari pemilik perusahaan tapi tidak banyak pegawai yang tau sosoknya, seorang satpam mengatakan ia sempat melihat Chanyeol keluar dengan buru-buru. Apapun itu alasannya, meninggalkan perusahaan tanpa izin tetap akan diberikan hukuman tanpa kecuali.

.

.

~oOo~

to be continue..

~oOo~

.

.

Thank's to:

derpwhiteboy, Baekbyyours614, baekchann18, chanyeoloves, ByunB04, spring921127, shinshiren, Park RinHyun-Uchiha, luvyrhea,

EvieBeeL, MeAsCBHS, BaekHill, Parkbaexh614, pupibekyuni61, Izahina98, Aisyah1, Byunsex, adorahttr, Yoon745, ssuhoshnet, 90Rahmayani, inchan88, ctbisreal, LyWoo, Yana Sehunn, byunlovely, sehonney, Guest, yousee, pla, barampuu, Riskaa, Kim Yeoja248, nocbnolife, luckymiaw12, aeriaa, cripsde, nzwarxx, ParkBaek267, hunhanshin

.

.

.