Tatapan penuh kebencian di layangkan Dasom ketika suara tapak kaki mengalun memenuhi pendengarannya. Dia tetap tidak suka dan tidak pernah setuju akan wanita muda pemilik heels hitam yang berdiri congak memasuki ruangan apartement Dasom tanpa permisi. Meletakkan lembaran lembaran kertas berisi riwayat pasien pasiennya dari rumah sakit tempat nya bekerja dalam hempasan kasar disusul kacamata bulatnya yang di biarkan teronggok di atas meja kerja, sementara tubuhnya di bawa berdiri lalu bersandar di ujung meja dengan melipat kedua tangan di depan tubuhnya.

Tatapan yang masih menusuk kepada wanita muda di depannya, "Aku tidak ingat pernah memintamu untuk berkunjung."

Tanpa di duga alunan tawa keluar dari bibir berpoles warna merah menawan sang wanita, "Kau masih sama, masih belum terbiasa denganku."

Berdecih pelan Dasom membawa tubuhnya menuju lemari es untuk mengambil segelas air yang dapat mendinginkan kepalanya.

"Kita memang tidak pernah bisa cocok untuk satu sama lain."

Seulas senyum menawan mengembang pada sang wanita yang membawa langkahnya untuk mendekat lebih jauh memasuki apartemen sang dokter muda. "Aku tau jika wilayah juga spesifikasi kita berbeda." Sebuah usapan lembut di bawa pada selembar foto pemuda berlesung pipi dengan wajah manis.

Dasom tau dan menatap tajam pada tindakan kurang ajar tamu wanitanya.

"Menyingkir!" Desisnya pelan penuh ancaman.

"Seperti apa yang kau katakan bahwa wilayah dan spesifikasi kita berbeda, jadi menyingkir." Tambahnya mutlak tanpa bantahan, dengan meletakkan segelas air minum yang tinggal separoh Dasom membawa langkahnya mendekat empat langkah di depan tamunya.

Menjaga sopan santun sebagai seorang tamu sang wanita menjauhkan jari lentiknya dari foto polaroid di atas meja kerja lalu menatap dokter muda dengan senyuman.

Senyuman yang mampu menyembunyikan rahasia tersendiri dan mampu membuat kerutan di dahi Dasom, perasaan tidak nyaman yang menguar bebas merasuk dalam setiap tarikan nafas keduanya.

"Kau tau jika kita berasal dari tempat yang sama bukan? Jadi jangan coba untuk menghapus fakta itu." Si wanita semakin mengembangkan seringai melihat tatapan tidak nyaman pemilik apartement di depannya.

Tidak berkutik akan perkataan lawan bicara memudahkan si wanita menyimpulkan bahwa Dasom sudah memberinya izin akan kedatangannya kemari. Jemarinya kembali merambat menarik sebuah foto polaroid dari balik buku buku yang terbuka dengan deretan keterangan di sampingnya. "Ternyata tidak salah aku kemari," Dasom kembali membawa pandangannya dengan raut tidak suka juga tidak nyaman.

"Apa maksudmu?"

"Target kita adalah orang yang sama."

Hell!

"Jadi bisakah kita saling bekerja sama?"

Dasom melebarkan bola matanya tidak percaya, bagaimana bisa salah satu dari pasien miliknya ada dalam pengintaian wanita di depannya. "Tidak mungkin."

Kekehan pelan sarat akan makna gembira mengalun memenuhi tiap nafas memburu Dasom, terlalu rindu untuk melihat ekspresi ketakutan wajah sang dokter muda.

"Apa kau fikir penawaran menjadi psikiater untuk keluarga sipil ternama di changsa cuma kebetulan?"

"Kau pasti sudah tau siapa dan kejadian apa dibalik semua ketakutan yang dirasakan setiap pasienmu dokter?"

Mengigil akan semua perkiraan yang merangsek masuk dalam fikirannya Dasom meraih ujung meja untuk dijadikan penopang tubuhnya. Wanita di sampingnya ini hanya akan mengambil tugas untuk sebuah penghancuran apapun hal yang menjadi targetnya akan rusak secara mental maupun tubuhnya. Bukan jaminan baik untuk ada di sampingnya atau mengenal targetnya.

"Bi-bisakah. . .bisakah aku menyelesaikan tugasku dahulu? Untuk penyembuhannya?" Ucapnya terbata akan semua pemikiran masa depan sang pasien.

Dasom tau semua akan percuma menghalangi pekerjaan dari wanita ini namun bisakan dia menyelesaikan tugasnya sebagai seorang dokter dengan pasiennya.

"Justru untuk hal itu kau ada dasom ya."

"Untuk menyembuhkannya sementara aku menyelesaikan tugasku juga. . ."

"Kau pasti tau apa yang menjadi ciri khas tuan dalam menangani seriap target buruannya."

Ya, ciri khas dari pekerjaan yang selalu dilakukan Tuannya. Sebuah fakta yang tentu tidak bisa Dasom bantah keluar dari bilik bilik memori dalam otak kecilnya. Membuat tubuhnya ambruk terduduk di kursi kecil. Menatap penuh sarat permohonan. Jiwanya bukan hanya jiwa seorang wanita yang mudah luluh akan perasaan tetapi juga jiwa seorang dokter kepada pasiennya. Lebih dari itu dia tau jiwa target yang di maksudkannya tidak akan sanggup dengan penghancuran atau permainan ini.

"Tetaplah menjadi dokter yang menyembuhkan pasiennya dan biarkan aku merusak apa yang dia punya."

"Dia tidak akan sanggup. . ."

Kumohon

Suara bergetar sarat akan ketakutan namun tidak untuk sang lawan bicara.

Hanya sebuah gumanan kecil yang bahkan tidak mampu menghentikan setiap ketukan langkah sang wanita untuk mengambil alih permainan keduanya.

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 2 : This is Black And White

Temukan tim mu dan lihat sasaranmu,

cari orang yang pantas untuk melakukan pekerjaannya

dan siapkan lintasan permainanmu,

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : T-M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

Sebuah fakta dalam pertemuan antar mafia pada sebuah meja perjudian bukanlah sebuah permainan belaka, namun juga menguji setiap kekuatan yang di miliki tiap kelompok. Sebuah kunjungan rutin untuk mempererat hubungan kerjasama yang sebenarnya bukan karena hal itu namun untuk menyadarkan kembali pada kelompok kecil akan keberadaan mereka di bawah pimpinan King. Seorang pemimpin di atas pemimpin mafia, penguasa terkuat pada satu daerah luas yang tidak terbantahkan dari segi kemampuan menghancurkan atau mengatur segala macam strategi juga pertahanan mereka. Mampu membuat tunduk dua golongan mafia dalam sekali pergerakan. Yang akan membuat orang untuk berfikir ulang ketika menginjakkan kaki di atas tanah kekuasaannya.

Dalam sebuah pertemuan rutin untuk berhadapan dengan King dan juga untuk kembali menegaskan bahwa dari seluruh orang yang mendudukkan diri ataupun mengirimkan pionnya pada meja judi tau dan mengakui bahwa hanya King yang berada di tingkatan paling tinggi.

Terlalu naif untuk sebuah alasan ketidak hadiran atau alasan hanya sebuah pertemuan biasa. Dan Kim ada dalam situasi yang sulit.

Bukan hanya fakta akan lemahnya pertahanan mereka namun juga lemah akan ujung tombak yang dulu selalu di takuti banyak orang.

Hilangnya Kim Jongin

Kim yang menjadi alasan pertama akan kemampuannya menembak jitu tapi juga pemikiran dan tingkah gilanya juga ambisi ketika berhadapan dengan musuh.

Sebuah tombak bagi Kim yang selalu di banggakan tidak berada di singgasana nya untuk memperkuat hyung kedua. Sedang Junmyeon bukan ada dalam keadaan terbaik. Tidak terbaca pergerakannya dan tidak bisa di ajak bekerja sama.

Kim Jongdae memijat pelipisnya akan hal itu, serentetan fakta di depannya. Persembunyian sialan, mengutuk pada Jongin dan segala sifat pengecutnya. Walaupun dalam lubuk hatinya paling dalam terselip sebuah ketakutan lain dari semua kekacauan yang menimpa Kim saat ini.

Terlebih Appanya -Tuan Kim- tidak melakukan pergerakan apapun dalam masalah kali ini. Seolah Jongdae sendiri tengah di uji juga ditantang untuk penyelesaian masalah yang mereka perbuat.

Suasana kasino semakin menghangat ketika malam menjemput, langkah kakinya dia bawa semakin kedalam dengan Johnny disampingnya menemani dalam diam dan siaga akan pergerakan mendadak yang kemungkinan akan terjadi. Jongdae tersenyum sekilas lalu mendudukkan diri pada kursi yang sudah di siapkan dengan Johnny berdiri di belakangnya.

"Apa yang membuat hyung tersenyum?" Terlalu gatal untuk tidak menyuarakan pertanyaannya Johnny menatap Jongdae.

"Kau rileks lah sedikit Johnny-ya."

Lalu Jongdae mulai mengaktifkan penyadap suara yang ada di balik jas hitam miliknya.

"Kita lihat siapa yang akan datang berkunjung malam ini."

Kata kata yang keluar dari mulut Jongdae bukan hanya menyadarkan Johnny untuk fokus pada ruangan mewah bergaya klasik yang tengah dia pijak saat ini jamun juga mengingat kembali apa yang menjadi tujuan mereka datang berkunjung kemari.

Tuan Jung tersenyum lembut melihat salah satu Kim ada di tempat duduknya saat ini. Menyapa dengan bungkukan singkat yang di tanggapi senyum sepersekian detik dari Jongdae. "Saya fikir tuan tidak tertarik untuk kembali berkunjung di lain tanggal pertemuan rutin kita."

Hal itu merupakan kebenaran, Kim bukan orang yang cukup memiliki banyak waktu untuk sekedar datang dan memainkan pundi pundi kekayaan mereka dengan para pemain di meja perjudian ini. Walaupun fakta akan waktu yang di habiskan Kim di mansion hanya untuk urusan sepele.

Kembali pada perkataan Tuan Jung mengarahkan fikiran Johnny pada pesan yang sempat dia dengar dari pembicaraan singkatnya dengan hyung nya di tengah perjalanan mereka. Sekitar dua hari yang lalu kasino kedapatan pengunjung baru yang cukup asing bagi mereka para penghuni meja perjudian dan Kim Jongdae juga ada di sana melihatnya. Baginya kala hari itu dia hanya butuh untuk melihat keadaan dari kasino semenjak beredarnya kabar melemahnya Kim yang menyebar tanpa tau sopan santun. Sedikit menunjukkan taringnya lalu meninggalkan tempat pada menit kesebelas setelah kedatangannya.

Penghuni baru meja perjudian yang cukup menarik perhatian banyak orang, Taemin bermain dengan sangat baik dan tanpa cela seolah ini adalah permainan yang selalu dia mainkan hingga kemenangannya selama 3 hari berturut turut adalah fakta lain yang membawa Tuan Jung untuk menghembuskan kabar pada Kim Jongdae selaku perwakilan dari King.

Disini Jongdae ingin melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Menjemputnya kalau perlu dengan semua ciri dan cara permainan yang dia curigai. Yang mana bahkan beberapa orang sempat mengira jika wajah mereka sama dan mirip dengan adik pengecutnya.

Kim Jongin

.

.

.

.

.

.

Retaknya Kim karena hilangnya Kim Jongin pada penyelamatan Kyungsoo menjadikan banyak pihak luar menganggap Kim nomer tiga itu sudah mati di telan bumi.

Lalu Junmyeon yang bahkan sama sekali tidak mau tau akan segala macam transaksi atau pergerakan perdagangan gelap mereka dan hanya akan peduli untuk penyusupan terbesarnya pada tanah tirai bambu.

Jongdae hampir hampir membenturkan kepalanya karena semua orang tidak dapat bekerja sama. Hingga tanpa dia sadari mobilnya ia bawa pada halaman luas mansion bergaya eropa.

Mendengus kasar, dia butuh seseorang untuk membuat benturan besar yang akan bertemu dengan benturan hebat di depannya yang sudah dapat di rasakan pergerakannya.

Sebuah kehancuran Kim,

.

.

.

.

Deru nafas memburu, leher juga dada bagai tercekik oleh sesuatu yang kasat mata hingga keringat bercucuran. Mimpi buruk itu datang kembali, cairan merah pekat yang memenuhi seluruh rerumputan tempatnya berpijak, tidak ada nampak warnah hijauan rumput yang tertata rapi atau marmer putih gading dengan sapuan bersih. Hanya ada genangan darah memenuhi kaki telanjangnya dingin, lembab juga gelap hingga seruan tembakan hingga cincin yang tergeletak di genangan darah.

Mimpi buruknya datang kembali.

Ya, dan Yixing tidak mampu untuk meredam getaran tangannya sendiri kala bola matanya sudah membawanya pada kesadaran yang sesungguhnya, dengan atap apartemen warna putih miliknya dan sinar hangat matahari mejalari tubuh juga sebagian ruangannya. Ingatan yang sudah lama dia pendam sekuat tenaga kembali keluar tanpa mampu di cegah. Menguar kepermukaan genangan air tenang dalam selimut ribuan kata penenang juga terapi yang di laluinya.

Air muka Yixing dalam kepanikan penuh rasa resah, ketakutan juga kecewa mendalam kembali di dapati Dasom kala memasuki ruang kamar apartemen Yixing. Menatapnya dalam tatapan berbungkus sendu dan sarat akan rasa sedih dan simpati.

"Hei, sudah bangun?" Tersenyum lembut mencoba memberi pengaruh angin tenang pada diri Yixing yang tersenggal dalam setiap tarikan nafasnya.

Mendudukkan tubuh di sisi pinggir ranjang sang pemuda lalu membawa segelas air mineral untuknya, setelah satu menit berlalu nafas si kecil Zhang kembali pada ritme teratur. "Jie. . .disini?" Suara Yixing lebih lirih dari sekedar gumanan tapi Dasom memahaminya dan mengangguk memberikan jawaban.

"Mereka tentu juga ada disini bukan?" Tebakan kecil yang memunculkan senyuman maklum dari Dasom. 'Mereka' sebuah sebutan yang terlampau Dasom mengerti setelah bersama Yixing lebih dari 13 bulan, dimana sebutan itu ditujukan pada kedua saudara tuanya yang selalu sampai di apartemen miliknya dengan gurat raut wajah penuh khawatir. Yixing membenci akan tatapan itu, tatapan penuh rasa simpati, ingin di tolong, sedih juga seulas kecewa yang berbalut penjelasan mendalam. Yixing tidak membutuhkan semua tatapan itu. Sebuah tatapan yang diam diam mencekik rongga dadanya hingga dia merasa sesak tanpa sadar.

Dasom kembali menatap Yixing yang membawa gulir mata meredup dengan kilatan miris. Terlalu miris akan apa yang terjadi padanya. Dia kehilangan begitu banyak dirinya sendiri.

Melihat tatapan Yixing yang menunduk Dasom kembali berucap ringan, "Hei, jika kau menginginkan mereka untuk-"

"Tolong-"

"Apa?"

"Tolong. . . . sampaikan permintaan maafku dan. . . .untuk pergi dari sini setelahnya." Suara ranjang berderit oleh pergerakan Yixing, membawa tubuhnya yang masih bergetar turun menapak pada lantai marmer dingin dan menghilang di balik pintu kamar mandi disusul gemericik air.

Tanpa Yixing tau sang dokter muda menyunggingkan senyum.

.

.

.

.

Victoria berkali kali melirik pintu putih di sisi kirinya tanpa kenal lelah, seolah dia dan Showluo baru saja duduk di sofa hitam itu satu menit yang lalu. Yang mana sebenarnya kedua berkutat pada tiap detik jam akan kesehatan adik mungilnya.

Hingga pintu terbuka menampakkan Dasom dan semua raut permintaan maafnya, bukan hal yang biasa. Tapi cukup perkataan Dasom akan keadaan Yixing sudah mampu membuatnya tersenyum kecil meski rasa kecewa akan di tolak keberadaan mereka juga menggerogoti tiap sendi sendi tubuhnya.

Terlalu hafal akan kebiasaan Yixing.

.

.

.

.

.

Cha Hakyeon membawa alunan langkahnya masuk ke dalam ruangan Tuan Kim dengan lembar laporan pergerakan penjualan senjata dan obat obatan ilegal sebulan terakhir ini. Hingga sampai di tangan Tuan Kim, Hakyeon membawa jemarinya menuangkan seduhan teh herbal pada cangkir keramik di sisinya.

"Perubahannya cukup drastis juga, hakyeon?" Penyataan Tuan Kim pada menit serelah menyentuh lembaran dari sang dokter kepercayaan tau tau membuat jemari Hakyeon bergetar saat itu juga hingga menimbulkan dentingan kasar kala menurunkan teko di tempat sebelumnya.

"Tu-tuan. . .itu karena. ." Tanpa tau kata kata Hakyeon tersangkut dalam rongga mulutnya tanpa ada suara yang lolos, di hadapannya Tuan Besar Kim justru nampak terkekeh lepas hingga tinggal segaris mata tipis membentuk di wajahnya. Tanpa beban, tanpa peduli akan kegugupan sang anak buah.

"Ada apa denganmu?"

Hakyeon menundukkan kepala lebih dalam lalu mengucap penuh penyesalan pada setiap kata yang keluar, "Aku cukup menyesal karena tidak bisa berbuat banyak tuan. Begitu pula tuan muda jongdae yang saat ini tengah mencoba menyelesaikan masalah penyelundupan senjata dari kelompok lain di daerah kita dekat busan."

"Ini cukup sulit dengan kabar angin yang beredar." Tambahnya lagi.

Tuan Kim hanya menurunkan kacamatanya hingga membawa punggung lelahnya bersandar lebih nyaman di kursi kerja, "Itu hanya kabar angin hakyeon, seharusnya kau jauh lebih tenang menanggapinya."

"Tuan."

Menghela nafas besar, Hakyeon membali membawa suaranya menyadarkan sang Tuan Besar.

"Ini lebih rumit. Dengan ketiadaan tuan muda jongin dan sifat acuh tak acuh dari tuan muda junmyeon juga semua sifat buruknya yang tidak bisa di cegah maupun di atur membuat semua orang di mansion kesulitan." Tau tau Hakyeon justru menampakkan raut lelah dengan nada rengekan kepada ayahnya alih alih pada Tuannya.

"Hakyeon."

"Eh?"

"Kau baru saja menyebut anakku dan semua sifat buruknya jika aku tidak salah dengar?"

Ups!

Hakyeon meringis menyadarinya kesalahan mulutnya sendiri. Bagaimana dia lupa jika di depannya ini ayah dari orang yang baru saja dia bicarakan. Dengan raut wajah bersalah dan bibir yang digigit Hakyeon menunduk penuh permintaan maaf. "Maaf tuan. . ."

Tuan Kim hanya kembali di buat terkekeh daripada melanjutkan kemarahannya. "Kau harus mengambil istirahat hakyeon."

"Kenapa-"

Tertahan oleh suara Hakyeon membawa Tuan Kim untuk memusatkan atensi penuh pada sang pemuda yang selalu ada di sampingnya. Mendengarkan selayaknya seorang ayah akan keluh kesah juga ucapan anaknya. Kufikir bukanlah berlebihan melihat Tuan Kim memang mengetahui perkembangan Hakyeon mulai dari usia belia jika kalian mau tau. Lebih daripada hafal akan tabiat tabiat sang dokter kepercayaannya satu ini.

"Kenapa dengan tuan saat ini? Kenapa. . .tidak membantu tuan muda junmyeon atau menegurnya bahkan mengarahkannya?" Mulai Hakyeon dengan raut wajah yang lebih tenang.

"Kita punya semuanya tuan, apapun itu bahkan sejak awal kita dapat menyelesaikan masalah dengan wu ataupun melindungi kekasih dari tuan muda juga semua hal yang menimpa semua keluarga kim."

Tuan Kim hanya tersenyum samar lalu kembali menyesap teh kesukaannya dalam diam, dia tau bahwa curhatan tanpa tau waktu Hakyeon tidak berhenti se singkat ini, "Lagipula tuan juga meminta bora noona untuk berada di changsa, kenapa-kenapa tidak mengatakan hal itu langsung pada tuan muda. Bukankah tujuan tuan sama saja." Tambahnya dengan bibir di cebikkan tanpa sadar.

"Kenapa aku harus repot repot melakukannya hakyeon?" tanya Tuan Kim melihat kepolosan anak buahnya.

"Te-tentu saja untuk membuat suasana rumah jauh lebih baik tuan, ayolah! Bahkan aku takut untuk sekedar melihat Tuan muda junmyeon dari jarak delapan langkah. Tuan muda benar benar menatap orang lain dengan tatapan seolah kami salah memasuki wilayah kekuasaannya lebih mirip seekor serigala buas-"

"Ekhm!"

"Eh! Ma-maaf. . ."

"Bora kesana untuk membantu tugas dari dokter kim, hakyeon. Bukan untuk membantu junmyeon."

"Tapi tuan, lihatlah sekarang kabar angin itu berhembus dengan kuat. Akan kim yang melemah saat ini sehingga menimbulkan percobaan pemberontakan seperti pelanggaran wilayah perdagangan saat ini juga menurunnya kemampuan transaksi obat obatan di busan. Dan masih banya lagi. Semua pihak melihat kim tanpa tuan jongin akan membuat lemah apalagi tuan junmyeon tidak pernah memikirkannya lagi."

"Kalau begitu biarkan saja."

Shit!

Hakyeon berhenti mengerutu dan menatap Tuan Besarnya tanpa berkedip lalu mulai mencerna kembali perkataan hingga kedip kedipan matanya menimbulkan kekehan kembali dari yang lebih tua. "Biarkan semuanya hakyeon ah."

"Apa tuan sudah mulai melepas semua hal ini? Melepas untuk menuju kehancuran kim?"

Mendengus dengan menutup bola mata sepersekian detik, Tuan Kim kembali menatap Hakyeon dan segala keberanian dalam aliran ucapannya. "Aku tidak ragu kau bisa mengatakannya hakyeon. Karena sekarang keberadaan mereka di changsa belum menunjukkan hasilnya."

Mereka?

Ya, kalian tidak salah melihat bagaimana ucapan Tuan Kim dengan keseriusan akan keberadaan satu dari anak buah terbaik miliknya di Changsa, China. Hakyeon pun tak lebih faham dengan pemikiran Tuannya hingga berucap kembali, "Aku tidak mengerti dengan keberadaan dokter kim atau bora noona juga kabar angin yang seharusnya di anggap mudah."

"Kau akan mengerti, karena ini adalah tradisi hakyeon kau tentu faham hal itu."

Dan ucapan Tuan Kim menyadarkan Hakyeon bahwa Tuannya sedang memulai satu langkah lebih dekat dengan targetnya yang mencoba kabur.

Biarkan kehancuran ini datang tanpa sebuah pencegahan.

.

.

.

.

.

.

Kim bukanlah sebuah keluarga mafia yang cukup waras untuk sebuah ikatan darah juga semua ikatan kerja di dalamnya.

Banyak hal yang justru terkesan sulit bagi setiap anggota baru yang bergabung, mengingat semua informasi dan rahasia di dalamnya bukan hal yang main main.

Sebuah individu baru bergabung hanya akan memiliki dua pilihan dalam setiap tugasnya akan semua informasi dalam keluarga Kim. 'Pilihanmu hanya dua, ikut bergabung dengan kim dan semua informasi rahasia di dalamnya atau hancur tak bersisa sebagai balasan kau mengetahui informasi semua anggota keluarga inti'

Dan banyak dari para individu muda yang baru bergabung harus rela menjadi target bagi pembunuh terdaftar Kim karena kabur dari tugas dan melepaskan diri dari organisasi mafia satu ini. Efek akhirnya tentu kematian yang menghampiri. Bukan hal baru tapi itu merupakan konsekuensi karena telah di cap sebagai bagian dari keluarga Kim.

Tidakkah hal ini juga berlaku bagi Zhang Yixing?

.

.

.

.

.

Mereka memiliki semuanya, bahkan untuk dua sisi mata koin.

Sebuah keyakinan akan Kim dalam sebuah permainan yang dibuat oleh keluarga Zhang.

Untuk menghancurkan juga untuk membawanya keluar dari kesengsaraan yang menghimpit.

Kalian mungkin belum faham. Tapi lihatlah bagaimana keluarga Zhang memulai semuanya.

Kim Jongdae menyesap winenya perlahan menatap Minseok yang duduk di depannya, meminta penjelasan akan semua rencana Appanya juga Jongdae.

"Berhenti menatapku seperti kau akan mengulitiku hyung."

"Aku baru akan melakukannya jika kau tidak membuka mulutmu untuk bicara."

"Jika untuk sebuah ciuman panas aku yakin aku akan rela hyung."

"Bedebah kau jongdae!"

Menghela nafas, Jongdae menatap Minseok intens untuk menarik semua perhatian di dalamnya dengan sebuah senyuman dia memulai,

"Kita berada dalam jalur masing masing, melangkah dalam satu ikatan benang merah yang sama. Untuk saling mengikat dan saling berkaitan. Dengan appa yang menjadi puncak tertinggi dalam semua strategi ini."

Seketika Minseok terdiam dan menatap setiap rangkaian kata Jongdae yang kembali menyesap wine dalam sekali teguk.

Melangkah bersama dalam tiap jalur namun dengan ikatan benang merah yang sama.

"Appa yang mengatakannya?"

Kembali bertanya untuk mencari sebuah keyakinan di balik semua fakta mengejutkan ini, walau sebenarnya Minseok dapat menduga semua pemikiran sang Ayah.

"Hmm."

"Ini ultimatum jongdae, bukan sebuah misi kembali."

"Ya, dan begitu kita menyelesaikan masalah di sini maka keluarga zhang yang selanjutnya menjadi target."

Untuk sesaat Minseok merasa bahwa ruangan mereka saat ini terlalu sempit untuk bernafas. Terasa mencekik dengan semua tekanan yang datang dari Tuan Kim sendiri. Kala semua hal yang menjadi konsekuensi dari pilihan mereka di masa lalu harus di pertanggungjawabkan dan Tuan Kim berada dalam posisi leader saat ini.

Mereka harus berbenah, namun ada satu hal ketakutan terbesar dari Minseok kala ultimatum dari appa nya sendiri tidak berujung dengan apa yang mereka harapkan.

Jika Junmyeon masih tetap sama dengan sikap bedebahnya tanpa mau di atur dan hanya merusak transaksi mereka dan Jongdae belum dapat menemukan Jongin maka dapat Minseok pastikan semua harapan mereka hancur. Bukan sebuah kesatuan dari keempat Kim namun sudah pasti Tuan Kim yang akan menyetir kemudi kehidupan mereka selayaknya pion tanpa nama dan tanpa nyawa.

.

.

.

.

Klik

'Hyung gedung sebelah selatan gangnam rusak terbakar api, junmyeon hyung baru saja dari sini dan menghajar kami karena melarangnya melihat proyek di busan, dia dalam perjalanan ke busan hyung!'

"Bedebah kau junmyeon!"

.

.

.

.

Brum . . Bruummm

Jongdae tidak bisa untuk tidak mengalami komplikasi kala kontak mobilnya tiba tiba di ambil kilat dan menit berikutnya suara dari mobil menyahut, "Oh tidak habislah aku!"

Dengan cepat Jongdae menyeret siapapun yang ada di sana untuk mengantarkannya mengikuti mobil Minseok yang melaju di atas rata rata. Kekasihnya sedang dalam mode mengamuk dan itu bukan kabar yang baik, semua akan remuk di tangannya dan kabar buruknya adalah mobilnya saat ini tengah di kendarai Minseok. Tidak menjamin akan pulang dalam bentuk seperti semula.

"Junmyeon sialan! Brengsek! Bedebah!"

Sementara dalam mobilnya Minseok mengumpat dan tidak berhenti memaki Junmyeon dengan semua sumpah serapahnya. Dengan mengambil ponselnya untuk mulai mendial nomer Junmyeon untuk kesekian kalinya.

Klik

"Brengsek dimana kau sekarang!"

Minseok tidak tau jika di seberang line sana Junmyeon tau tau terkejut dengan nada bicara kakak tertuanya, sangat jarang Minseok melayangkan nada kasar yang jauh dari sikap sopan santunnya.

'Apa urusanmu hyung'

Terdengar sekali tidak ada nada gentar dalam setiap kalimatnya dan justru semakin membakar ubun ubun Minseok untuk mengulitinya. Sudah terlampau lama Minseok mendiamkan sifat Junmyeon dan segala onarnya. Namun entah mengapa ini sudah cukup.

"Diam disana dan biar aku mengulitimu sialan! Kau fikir hanya kau yang dapat berbuat seenaknya."

'Aku tidak menerima telepon hanya untuk mendengar perintahmu hyung.'

Nada dingin itu lagi, "Ya dan tunggu bagaimana aku dapat menemukanmu bedebah!"

Klik

Jangan lupakan Minseok dan semua kepandaian Kim yang dia miliki jika hanya untuk menemukan keberadaan Junmyeon saja dia tidak mampu, dia terlatih dengan Zhang Showluo bukan itungan hari. Dalam sekejap penyadapnya mamph menemukan keberadaan gps mobil juga ponsel Junmyeon dan tanpa menunggu lama kecepatan mobil bertambah seiring keinginannya untuk membantai adik pertamanya hidup hidup.

Jongdae hanya mengeluarkan semua doa doa terbaiknya kala dia dapat melihat mobil Minseok sudah berhenti untuk menunggu kemunculan mobil Junmyeon dari arah berlawanan, keduanya sepakat bertemu karena kemurahan hati Junmyeon yang entah darimana datangnya mau untuk bertemu dengan hyung pertamanya yang bahkan hampir setiap hari dia mencoba untuk menghindari. Dan tanpa peringatan atau jeda detik Minseok sudah menekan gas mobil tanpa menguranginya, berniat menabrak mobil Junmyeon.

Jongdae hanya berharap masi ada sisa sisa mobilnya yang dapat dia kenang karena ulah dua hyung kesayangannya.

.

.

.

"Idiot apa kau tau kau tidak lebih dari anak kecil saat ini!"

Bruk

"Akhh!"

Gudang daerah selatan Busan di pilih Minseok untuk dapat menghajar adik pertamanya, Junmyeon terlempar begitu pintu gudang terbuka, Minseok sedang dalam mode terburuknya saat ini hingga Jongdae juga harus ikut terseret dan hanya diam melihatnya mengamuk.

Keadaan Junmyeon tak jauh beda, setelah di tarik paksa dari mobilnya Minseok menyeret hingga menendang tanpa belas kasihan, membuat lemas walau bagaimana pun jangan lupakan fakta bahwa Minseok masihlah seorang laki laki sehat untuk menyadarkan adik adik idiotnya.

"Kau tau jika kau masih bertingkah semaumu appa hanya akan semakin menghancurkan zhang dengan dan tanpa kau ketahui. Menjadikanmu boneka untuk sebuah kekuasaan apa kau sama sekali tidak memahaminya kim junmyeon!" Hampir hampir Minseok berteriak untuk bisa membuatnya faham akan situasi.

"Aku masi tidak menyangka kau adik yang selalu ku banggakan hanya mampu bertarung untuk memuaskan emosimu dan berkeliaran layaknya sampah."

Dan tanpa mereka ketahui Junmyeon hanya mampu tersenyum miris, dia terlihat sangat buruk sekarang.

.

.

.

"Katakan padaku apa mau kalian disini," Minseok menatap datar dan tajam pada dua adiknya yg duduk di hadapannya.

"Kim Jongdae, aku tau appa pasti mengatakan sesuatu padamu selama ini hingga cukup bagus untuk kau simpan sendiri. Dan kau junmyeon katakan apa maumu untuk semua kerusakan yg kau perbuat, aku masih mampu untuk melenyapkanmu jika kau ingin tau."

Minseok terlampau marah, semenjak kesembuhannya semakin menbaik tidak ada orang di mansion yang mau untuk sekedar mengatakan apa yg sedang terjadi, Jongdae hanya akan menemaninya kala dia sedang libur dan tidak akan bercerita apapun selain menanyakan kesehatanya. Junmyeon seperti yg banyak di keluhkan semua orang dia hanya ada untuk membunuh dan menghajar anak buahnya kala dia menginginkan atau merusak berbagai transaksi yang berimbas semakin jatuhnya Kim di mata banyak orang.

Hal lain yang membuatnya semakin muak adalah keberadaan Jongin dan Kyungsoo yang belum diketahui atau Jongdae masih belum mau mengatakan kejujurannya. Dia merasa seperti seseorang yg tidak berarti di sini. Hell, adiknya harus di beri pelajaran.

"Kehancuran kim." Jawaban singkat Junmyeon mampu membuat Jongdae melotot dan tangan terkepal erat. Sialan apa mau dari Junmyeon sebenarnya.

"Aku menginginkannya hyung, keh sangat bahkan lebih dari apapun aku ingin kim hancur! Kau puas sekarang? Kau mau membantuku setelah semua ini kau tau!" Meracau, Junmyeon menatap dengan seringai pada Minseok tanpa peduli tatapan marah Jongdae di sisi kanannya.

Minseok tidak terkejut, hanya menatap tanpa berkedip sesaat setelah Junmyeon dengan lugas mengungkapkan keinginannya. Lalu menatap Jongdae yang sudah menahan emosi sampai ke ubun ubun.

"Kau sudah cukup mampu sendiri sampai kau ingin menghancurkan keluarga yang membesarkanmu hah?" Tanya Minseok tanpa mengalihkan tatapannya pada Junmyeon.

Tersenyum remeh, Junmyeon terkekeh sesaat, "Keluarga? Keluarga yang bahkan tidak pernah utuh sejak aku lahir? Aku masih mengingat semuanya bahkan untuk hal kecil sekalipun."

"Jaga bicaramu."

"Aku ingin menghancurkan semuanya, hingga mungkin untuk kembali berdiri pun tak mampu, aku ingin meremukkan semua di depanku hingga tidak tersisa lagi halangan bagiku."

"APA KAU SADAR DENGAN APA YANG KAU KATAKAN HAH!"

Bug!

Jongdae tidak mampu menahan diri lebih dari ini hingga bogem mentah dia layangkan untuk Junmyeon hingga tersungkur di lantai. Minseok menatap tanpa ekspresi, lalu bola matanya melebar secepat fakta yang dia dapat.

Adiknya memang brengsek untuk tidak mau bicara banyak dan menyimpan semua sendiri seolah dia mampu melakukannya.

"Sebenarnya kau sadar?" Pertanyaan Minseok tidak mampu untuk dia tahan terlalu lama berdiam di mulut yang menyadarkan Jongdae hingga menatap Minseok cepat.

"Kau tau dimana rencana appa akan hal ini? Oh fuck! Kim Junmyeon aku akan membunuhmu!"

Minseok mengumpat kala bukan jawaban yang dia dapat dari Junmyeon melainkan seringai sesaat. Dan pernyataan Junmyeon muncul setelahnya mengagetkan Jongdae, "Aku tau dan berusaha memasuki changsa namun mencapai china adalah hal terbaikku saat ini hingga aku sadar appa sudah mengetahuinya lebih cepat. Aku kalah cepat hyung, jika kau akan membunuhku maka mungkin ini kesempatanmu sebelum kau menyesal sebelum aku merusak semua hal yang ada di sini."

Sesuai dengan perkiraannya, semua pion sudah bersiap di posisinya masing masing. "Kau ingin memecahbelah pemikiran appa dengan ulahmu untuk melengahkannya di sisi lain?"

Keterdiaman sesaat Junmyeon menjadi jawaban, cukup untuk Minseok dan Jongdae ketahui, "Lebih dari itu, aku ingin menghancurkannya dan menciptakan bendera baru. Dia tidak bisa mengaturku hyung. Tidak dengan semua hal harus berada dalam wewenangnya."

Minseok faham saat ini dan dimana dia harus berdiri untuk berpihak dari salah satu kepemimpinan yang ada. "Kalau begitu hancurkan. Lalu datang padaku ketika kau siap."

Setelahnya dia menyeret Jongdae meninggalkan Junmyeon dengan luka yang menghiasi wajah tampannya.

"Jongdae antarkan aku untuk menyadarkan idiot yang satu lagi."

.

.

.

.

Tuan Kim menatap Hakyeon yang masi berdiri menunduk, menghela nafas panjang lalu mengalihkan perhatian pada jendela yang menampakkan rimbunnya pohon dalam area luar mansion dan matahari mengintip cantik di balik awan putih. Di balik keterdiamannya Hakyeon tau jika Tuannya tengah menahan emosi dan mulai kembali menyusun rencana. Satu hal telah terbongkar dari sebuah misi yang mereka lakukan meskipun belum keseluruhan namun hal kecil seperti ini tentu berpengaruh untuk keberhasilan dalam sebuah misi.

"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa minseok sudah mengetahui rencanaku."

"Maafkan saya tuan."

Ucapan penuh nada sesal dari Hakyeon tidak menghentikan apapun, sebuah rasa khawatir sekilas bermain dalam pikiran Tuan Kim. Anak pertamanya jauh lebih terencana bila di banding dengan yang lain. Dan ini buruk karena bahkan Tuan Kim belum sedikitpun menyentuh Zhang lebih dalam.

"Sambungkan dengan bora saat ini juga."

"Baik"

"Dan mulai hancurkan. . ."

.

.

.

"Dia. . ."

Buat dia menggigil ketakutan, sebagai mana ketakutan mimpi buruknya yang pernah dia rasakan itu datang.

.

.

.

.

.

"Jongdae, kau pernah bilang jika hilangnya jongin juga kyungsoo dan yang lain dalam ledakan itu karena di sengaja?" Tanya Minseok sepanjang perjalannya kembali dari Busan. Ngomong ngomong soal mobil yang saat ini dia bawa adalah masih mobil Jongdae meski ada lecet parah di beberapa sisi. Jongdae sempat terdiam meratapinya sebelum menaiki mobil mengikuti hyungnya pulang.

"Ya."

"Karena itu kau membiarkan fakta mereka lenyap tanpa ada rencana apapun?" Minseok kembali memastikan.

"Apa hyung memikirkan seperti apa yang aku fikirkan?" Tebak Jongdae menatap Minseok di sampingnya.

"Apa ini bagian dari semua perkataan appa padamu?" Masih belum puas Minseok kembali melontarkan pertanyaan.

"Ya." Singkat Jongdae.

"Appa sudah mengetahuinya bahkan sebelum kita bertemu dengan yifan di hari itu. Dan bisa membaca bagaimana pergerakan jongin dan pola fikirnya." Minseok menghela napas di buatnya.

"Kufikir karena itu juga appa membiarkan junmyeon bertingkah semaunya dan menekanmu untuk mau menyelesaikan apa yang telah kita mulai selama ini." Lanjutnya.

"Appa mengetahuinya?" Jongdae hampir hampir tidak percaya.

"Tentu dan appa hanya akan menunggu hasil akhir dari pergerakan kita semua sampai pada titik mana kita mampu menyelesaikannya dan jika tidak maka. . ." Jelas Minseok.

"Maka?"

"Lebih buruk dari apa yang kita bayangkan jongdae, aku mengenal appa jauh lebih terencana dalam semua hal yang berkaitan dengan keluarga kim."

"Jika junmyeon tidak mampu mengalihkan perhatian maka kemungkinan untuk pergi dari korea tentu sulit."

.

.

.

Jongin menatap Taemin sebelum menurunkan cangkir kopinya, "Apa mereka mencurigaimu?"

"Tidak, kim jongdae juga hadir di sana saat itu. Dia memainkan permainan kartunya seperti yang selama kau ceritakan sama persis dua hari yang lalu."

"Tidak ada perubahan?"

"Sama sekali tidak bahkan dia mengalami kekalahan yang cukup besar di banding pertemuan sebelumnya."

Jongin terdiam untuk sebuah rasa sesak di dadanya tanpa ada perencanaan yang dia ketahui apa artinya. Mendengarkan saja dapat Jongin rasakan bagaimana raut wajah hyungnya. Jangan lupakan bagaimana dia mengalami masa pubertas bersama mereka semua, terlalu hafal untuk emosi terpendam dari seluruh anggota Kim.

"Apa kemampuan berfikirnya sudah mulai menurun."

"Siapa yang kau katakan menurun kim jongin?"

"Pagi kyung!"

"Err. .hai baby soo."

"Dia masih hyungku jika kau mau tau, kamjong!"

Setelahnya Kyungsoo kembali melenggang pergi menuju ruang makan tanpa memperhatikan dua lelaki yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda, satu dengan tatapan tidak mengerti satu lagi dengan tatapan was was.

.

.

.

.

.

"Ada kiriman paket untuk tuan muda"

Yixing menatap sekilas pada bawahannya, masi terdiam bersandar pintu apartemennya. Hingga tangan seputih salju terulur menerima sebuah paket balok berukuran sedang dan mulai membawanya masuk.

Namun tertahan.

"Aku ikut!" Nada tidak terbantahkan mendera gendang telinga si bungsu Zhang.

Hanya menatap tanpa sorot mata terbaca Yixing menghiraukan langkah tegap pemuda di belakangnya yang mengekor menjelajah apartemen mewahnya. Hanya terdiam tanpa suara kala meletakkan pake di depan meja makan. Sementara Jackson -pemuda yang memaksa masuk- terduduk di meja kursi ruang tamu dengan sorot masih mengamati sang Tuan Muda hingga jemarinya meraih iphone miliknya untuk mengisi waktu.

Bukan kali ini saja, Yixing terlampau hafal. Kala semua rekasi tubuhnya dan kesehatannya dalam pengawasan ketat akan mimpi mimpi buruk berdatangan lagi hari hari ini maka salah satu keluarganya akan datang untuk menjaganya atau bila tidak sudah lasti Jackson ya g akan berada di sampingnya. Pawakannya yang tegas namun sopan selalu menjadi kebanggaan kakaknya Showlou dan Babanya. Jackson hanya akan diam di sampingnya namun menaruh banyak perhatian penuh dan tidak terbantahkan dalam berbicara.

Yixing menenggak segelas air dingin untuk menjernihkan pikiran, seharusnya dia tidak memikirkan hal ini, ini merupakan kebiasaan rutin keluarganya.

Berguman kecil, "Hanya anak kecil dengan sedikit kepercayaan yang mendapat perlindungan ini."

Srek

Bergeser menggerakkan paket ke dalam dekapannya menatap alamat yang bahkan tidak tercantum di dalamnya. Tanpa menaruh curiga di sobeknya sampul coklat.

Krek

Dan Yixing merasakan nafasnya berhenti saat itu juga, keringat bercucuran dengan wajah pucat. Warna semerah darah dengan lingkaran perak cantik di dalam sana terlihat dengan jelas bahkan terlampau jelas. Ini bukan ilusi atau delusi ini juga bukan sebuah mimpi tapi kenyataan yang ada di depannya.

Prang!

Gege!"

Hampir hampir Jackson membunuh dirinya sendiri kaa melihat tubuh Yixing lemas terduduk di lantai dengan kekacauan mengelilinginya. Sebuah keindahan di tengah kehancuran terpancar jelas di depannya.

"Da. . .darah. .di sana jackson. . .cincinnya."

Seperti kehilangan jiwa Yixing terbata dengan tubuh kaku terduduk, wajah shock. Direngkuhnya tubuh ringkih itu sambil mengeluarkan sumpah serapah, Jackson membawa Yixing dalam gendongan di bawa menjauh dari meja makan sambil melirik sekilas box dengan balutan darah dengan daging pucat lengkap dengan cincin di dalamnya.

"Brengsek!"

.

.

.

Malam kelam dan semua mimpi buruknya telah di mulai. Ketakutan yang dulu dia pendam telah datang kembali.

Sebuah cincin pernikahan dengan darah yang menjadi selimut perjalanannya.

Hal yang sama yang perna dia alami,

Junmyeon. . .

.

.

.

.

Tbc

.

.

A/n: saya terlalu malu untuk menyapa kalian dengan mood yang masih saya tata dengan baik. Maaf sungguh maaf yg sebesar besarnya karena terlalu lama hibernasi. Big thanks D'xp.

Dan ini belum seluruhnya saya perjelas, masih terlampau malu untuk ada di depan kalian.

Luce,

17 Februari 2018.