Kyungsoo menghirup lebih dalam udara dingin dari balkon kediaman Taemin, mengingat kembali sekilas balik perjalanan mereka hingga berada di sini, terlebih kala pandangannya dia bawa menunduk menemukan sepasang tangan melingkar di tubuhnya dengan kilau perak putih terselip di salah satu jemari kekarnya sama persis dengan yang dia miliki di jari tangannya. Membiarkan dalam keterdiaman dan mengangkat tangannya untuk dia tatap penuh perhatian.

Melongokkan kepala Jongin bertanya, "Ada apa? Apa tangganmu sakit?"

Tersenyum tipis Kyungsoo segera menurunkan tangannya, "Tidak ada apa apa kamjong."

Mengendikkan bahunya Jongin justru tanpa tau kembali tersenyum dan kembali menikmati keterdiamannya bersama, sampai usapan halus Kyungsoo berikan di punggung tangannya. Meminta perhatian.

"Aku sangat bersyukur kau ada di sini bersamaku,"

"Aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu, untuk tetap bersama dan tidak meninggalkanmu baby soo."

Tubuh yang lebih kecil berbalik menghadap sang dominan, dengan bola mata bulat Kyungsoo bawa melihat kesungguhan dalam pancaran lembut mata Jongin. Tapi, Jongin tau ada kesedihan di tatapan mata Kyungsoo.

"Ada apa?"

"Aku tidak punya tempat untuk berbicara disini,"

"Aku tidak mengerti."

"Bisakah kau mendengarkan ku jongin?"

"Kau bisa bicara padaku kenapa kau simpan sendiri."

"Aku takut kau akan marah kembali."

Seketika Jongin tau kemana arah pembicaraan Kyungsoo. Raut wajahnya menegang dengan aura dingin yang mulai keluar merambat menyentuh permukaan kulit Kyungsoo tanpa tau permisi membuatnya ketakutan dengan mata bergetar. Takut akan reaksi di depannya.

"Cukup kyungsoo."

"Aku merindukannya. . . ."

"Apa kau tau kenapa aku memutuskan untuk menjauh dan tidak kembali bersama mereka?"

"Jongin."

"Ini semua untuk kebaikanmu."

Bagi Jongin sosok di depannya ini adalah alasan utama dia ada di sini, menjaga juga melindunginya. Menjauhkan sebisa mungkin hal hal yang dapat melukainya. Dan baginya keberadaan Kyungsoo bersama dengan Kim adalah satu dari hal yang akan mengancamnya. Dan sejauh ini hal inilah yang dapat dia lakukan untuk menjauhkan Kyungsoo dan memulai melangkah sendiri.

Tapi bisakah kalian menebak bagaimana Kyungsoo merasakan keberadaannya sekarang?

Menjauh dari keluarga yang selalu ada di tiap harimu dari kecil, yang menyelamatkanmu dari keluarga yang pernah membuangmu. Semua ingatannya akan Keluarga Kim tiba tiba merangsek masuk kedalam memorinya, akan bagaimana Junmyeon mengeluhkan pusing kepala hanya karena melihat tingkah Jongdae dan Jongin atau bagaimana Jongdae terdiam dalam waktu yang lama dan tiba tiba menendang Jongin tanpa alasan. Atau bagaimana mereka merayakan malam natal dan pergantian tahun di ruang tengah. Menuruti semua keinginan Kyungsoo baik saat dia baik baik saja atau dalam mode marah besarnya. Semuanya.

Semua tentang Kim dan hari hari yang tidak sebentar mereka lalui tapi bertahun tahun.

Rainha code

Chapter 3: First: the planning, find your tim work

Untuk sebuah tim aku mengakui kemampuanmu

Tapi untuk menjadi sebuah pilihan

Aku tidak membutuhkanmu

Masih mampu untuk berjalan sendiri sekalipun itu sulit.

Lebih baik melihatmu untuk tetap menjadi pengecut dan kau tetap aman.

Itu cukup.

.

.

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : T-M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

.

Setelah dering telepon berakhir dan percakapan antara Tuan dan anak buahnya selesai, Tuan Kim mulai memperlihatkan perbedaannya. Lebih menyamankan duduknya dan memulai menikmati seduhan tea yang telah di siapkan Hakyeon. Dia masih berada di sana untuk memastikan keadaan Tuannya setelah kecerobohan yang dia lakukan ngomong ngomong.

"Tuan,"

Sebuah panggilan pelan, menarik atensi yang lebih tua pada tatapan mata Hakyeon, "Hm, katakan."

"Setelah ini apa yang akan tuan lakukan?"

"Tidak ada, hanya fokus pada laporan bora dan juga dasom."

"Bagaimana jika. . ."

Sebuah ketakutan lain menyergap Hakyeon yang mana Tuan Kim berhenti menatap cangkir tea miliknya dan fokus pada sang dokter kepercayaan, "Jika tuan muda junmyeon mengetahuinya dan marah kepada tuan?"

Terlampau hafal dengan karakteristik keluarga Kim.

Tuan Kim hanya tersenyum mahfum, "Aku tidak peduli sekalipun anak itu mengetahuinya."

Hakyeon tanpa ditanya merasakan sakit pada hatinya, "Tuan tidak mau memberikan satu kesempatan bagi tuan muda junmyeon?"

"Aku selalu memberikannya kesempatan hakyeon."

"Selalu, tinggal bagaimana dia memanfaatkan kesempatannya. Dan junmyeon harus bisa bertanggungjawab terhadap perbuatannya."

"Kenapa kau tiba tiba berfikir was was? Kau tentu tau bagaimana kim menghadapi orang asing yang mengetahui semua bentuk dan kehidupan keluarga ini tanpa ada ikatan jelas, hakyeon."

Menghentikan kegiatannya Tuan Kim menjelaskan, "Bagi kim orang luar tetaplah orang luar, tanpa sebuah ikatan yang jelas maka kepercayaan dan rahasia keluarga di dalamnya bukan jaminan. Jika dia menetap maka kehidupannya akan terjamin, namun jika dia melarikan diri maka dia harus menerima konsekuensi dari apa yang sudah selama ini dia ketahui dari kim. Kematian atau menyerah dan tunduk."

Dan Zhang telah memilih jawabannya. Sebuah pilihan untuk lebih menyembunyikan harta berharga mereka dari dunia.

Menutup semua hal yang berhubungan dengan dunia luar dan Zhang Yixing. Sebisa mungkin.

Ya. Sebisa mungkin. . .

.

.

.

.

.

Dasom hampir hampir meloncat dari ranjangnya saat dering ponsel mengusik hari sorenya setelah dia menyelesaikan beberapa laporan rumah sakit untuk di sodorkannya esok hari.

Bagai di sambar petir di siang bolong, suara Jackson di seberang sana membuatnya meraih jaket juga kontak mobil tanpa peduli penampilannya saat ini. Keadaan Yixing jauh lebih penting. Dan dalam perjalanannya dia menerka nerka bagaimana bisa semua ini terjadi. Jika memang benar ini adalah satu dari hal lain yang patnernya lakukan maka dia akan memakinya tanpa ampun malam ini.

Oh shit!

Patner dia bilang? Lidahnya terlalu kelu untuk menyebutnya patner, bagaimana bisa dia satu bagian dengan Bora. Menyebutnya saja enggan. Namun sebuah kemungkinan lain masih bisa terjadi. Keberadaan Zhang saat ini sangatlah rentan dan tentu dapat di jadikan target pemberontakan.

Dan si bungsu tentu menjadi umpan yang mudah dalam hal ini. Harta berharga yang rapuh. Keindahan nyata milik Zhang.

Cklek

"Jie, tolong!"

Dasom mengangguk, begitu langkah kakinya menyentuh apartemen mewah Yixing dan suara Jackson menjadi yang pertama dia dengar. Langkah memburunya dia bawa pada kamar yang di dominasi warna putih dan mulai mengobrak abrik isi tasnya untuk memulai menenangkan Yixing dengan penanganan pertama.

Detik berganti menit.

Menit berganti jam.

Jackson diliputi rasa kawatir teramat sangat, dia belum mampu menelpon ataupun memberi kabar kepada Honglei ataupun Showluo lebih lebih Victoria, dia yakin jika sebuah kata saja yang keluar dari mulutnya akan membuat dia remuk dalam sekejab mata.

Cklek

"Jie?"

"Dia sudah lebih tenang jackson, sekarang giliran kau yang harus tenang." Dasom menata baik baik beberapa peralatan medisnya ke dalam tas lagi dan menatap sebentar pemuda jakung di depannya.

Jackson hanya terdiam menatap tidak mengerti dengan tatapan Dasom masih menampakkan raut bingung yang kentara.

Tau tau Dasom tersenyum dan menarik pergelangan tangannya dan mulai menundukkan mereka berdua di kursi meja makan.

"Kau takut?"

"Ya, jie. Bagaimana aku tidak ketakutan baru beberapa detik jie sungguh aku hanya duduk di sana dan menatap ponselku baru aku membaca beberapa chat dan gege sudah terduduk sini."

Jackson bercerita setengah frustasi dan Dasom menghela nafas perlahan menyajikan minuman dingin yang langsung tandas di tangan Jackson. Kelihatannya Dasom memiliki pasien satu lagi setelah ini.

.

.

.

.

.

Ruangan bergaya klasik Eropa terlihat jelas dengan beberapa rak berbagai jenis wine dan vodka berbagai tahun pembuatan berderet rapi. Dengan warna hitam yang mendominasi ruangan. Sehun menatap sekilas pada arah pintu ruangannya yang terbuka dia sadar jika baru beberapa detik yang lalu kekasih rusanya mengatakan untuk memulai latihan menembak, terlalu cepat untuk kembali.

"Aku menganggu?"

Menghela nafas dan mulai menutup laporan yang dia hadap saat ini. "Ada apa hyung?"

"Mau minum kopi di luar mungkin?" Dan Sehun menatap jengah.

"Ini mansionku ngomong ngomong."

Dan Jongdae tertawa begitu mendengar nada malas Sehun.

"Aku butuh bantuanmu tuan muda oh."

"Berhenti menjadi penjilat hyung kau bukan tipeku."

"Sialan kau!"

Dan giliran Sehun yang terkekeh setelahnya.

"Tapi hyung perlu kau tau," Meyisihkan laporan yang dia baca tadi lalu mulai menolang dagu dengan kedua tangan. Menatap Jongdae penuh minat dengan senyum tersembunyi.

"Jika aku tidak secerdik chanyeol hyung."

Jongdae menyerngit menatapnya.

"Aku juga tidak memiliki kekuasaan tinggi seperti chanyeol hyung."

Jongdae masih diam.

"Aku juga tidak sepintar chanyeol hyung."

Tetap sama

"Aku seseorang dengan sifat kalem dan lemah lembut dalam bertindak."

O-oh?

"Aku tidak sepicik chanyeol hyung dalam bertindak."

Jongdae mulai tidak yakin.

"Juga kau tau tidak se bar bar sikap chanyeol hyung-."

Ini tidak bisa di biarkan.

"Tapi kau sama liciknya dengan hyungmu sehun, demi apapun berhenti berbelit belit."

Jika tidak lupa bagaimana ini mansion milik Sehun pasti Jongdae sudah melemparkan gelas kaca yang ada di sisinya. Dan jika Chanyeol ada di sini sudah pasti ruangan ini lebih tidak berbentuk lagi.

Sayangnya dia sedang bertamu saat ini.

"Bantu aku menemukan idiot jongin."

"Aku sudah tau kau akan mengatakannya."

"Oh sialan kau albino."

"Bukannya aku benar, kenapa? Kau pasti sudah kehabisan harga diri karena kim sebentar lagi akan hancur dengan ketiadaan si hitam untuk membuat diam para penyusup"

"Dimana kekuatanmu hyung? Apa kau sudah melelangnya bersamaan dengan mobil butut mu"

Terpujilah segala kalimat yang keluar dari mulut Sehun. Belum selesai.

"Ah ya ya aku tau, kau juga tidak bisa melakukan apapun bukan saat ini karena bahkan junmyeon hyung tidak ada di posisinya."

"Aku lebih ingin merobek mulutmu saat ini sehun, sungguh."

"Ayolah hyung, kau hanya perlu mengiyakan semua fakta yang baru saja aku ucapkan."

"Oh sialan sehun cukup kau jawab permintaanku daripada kau mengoceh mirip burung beo saat ini."

Sehun menatap senang.

"Apa imbalan untukku?" Seringai itu berada di sana, di wajah pucat yang sayangnya harus di akui ketampanannya.

"Kau bisa menghajarnya sampai puas saat dia sudah kembali nanti." Jongdae terlalu lelah menggapi anak satu ini.

"Masih kurang." Dia lebih tidak peduli sebenarnya dengan jawaban Sehun kali ini.

Jongdae bangkit menepuk kain fabrik yang melekat di tubuhnya dan berlalu sambil mengatakan, "Apa kau tidak sadar diri."

"Kekayaan sudah tidak kau butuhkan apalagi wanita kau juga sudah tidak membutuhkannya sekedar untuk mengagahi mengukur seberapa kuatnya dirimu."

"Sudah ya aku pamit, aku tunggu kabar darimu sehun."

Cklek

"Sialan mulutnya benar benar." Sehun menggerutu.

"Jadi kau mau menyewa wanita lagi oh sehun?"

"Ha?"

Sehun membeo, berjingkat dari kursi kerja manatap pintu di depannya dengan Luhan yang sudah bersandar di ambang pintu tangan terlipat di depan dada dan tatapan tajam siap menguliti, sedang di baliknya Jongdae tersenyum manis sambil melambaikan tangan.

"Oh fuck!"

Satu sama, oh sehun.

.

.

.

.

.

Tapi lihat bagaimana aku membalasnya Kim.

Sehun tau tau memalingkan wajahnya malas, "Kau tau aku tak akan melakukannya sayang."

"Ya, dan jikapun kau berani maka mungkin kau akan jadi mayat keesokan harinya tuan oh." Luhan melangkah anggun menutup pintu setelah mengucapkan selamat tinggal pada Jongdae lengkap dengan senyum manisnya.

Sialan.

Sehun tidak lagi menjawab, bukan hal menguntungkan untuknya jadi lebih memilih bagaimana jemari pucatnya menekan beberapa nomer dalam ponselnya dan menunggu nada tunggu untuk tersambung. Luhan hanya terduduk di sofa hitam lurus dengan meja Sehun.

Klik

Mari membalas dendam yang masi berkobar hangat pada ingatan Tuan Oh.

"Kau pernah berbicara bagaimana cara menghancurkan kim, bukan?"

Lihat dan perhatikan bagaimana kemampuan Sehun dalam melakukannya.

"Siapa kau?"

"Cukup akui saja sialan."

"Keh, apa dulu maumu brengsek."

"Jika kau bertanya waktu yang tepat untuk menghancurkan kim maka saat ini adalah saat yang tepat."

"..."

"Masih belum faham? Kim jongin sudah mati kim junmyeon sudah tidak bisa di andalkan hanya seonggok daging yang berjalan dengan emosi apalagi yang kau tunggu? Kim jongdae atau kim minseok? Apa dengan mereka berdua saja kau takut?"

Luhan menyamankan duduknya dan tertawa tanpa suara, tidak percaya dengan pendengarannya akan semua ucapan yang keluar dari bibir tipis kekasihnya, yang sekarang tengah balik menatapnya sambil mengelus dagu arogan.

"Kau kelihatannya harus mengakui kalau kau tidak mampu menaklukkan kim, tuan jung."

"Jika hanya dengan dua bagian kim yang tidak berguna saja kau tidak bisa, maka berhenti bermimpi menjadi king, pecundang."

"BRENGSEK SIAPA KAU SEBENARNYA!"

Klik

"Wooo, dia terlalu bersemangat." Komentar Sehun sembari menjauhkan telefon sebelum menutupnya cepat.

"Aku tidak percaya melihat apa yang kau lakukan."

"Ahahahahahahahahaha, oh ini sangat menyenangkan hyung. Melihat bagaimana rekanmu jatuh dan hancur."

"Ssshh, ini jarang terjadi bukan?"

Luhan hanya bisa terdiam, dia harus mengingat satu hal yang tidak pernah dia mengerti dari polah pikir Oh Sehun dan Park Chanyeol. Mereka berdua sama. Apa kalian baru saja melihatnya?

Masih segar di pikiran Luhan bagaimana percakapan Sehun dan Jongdae tapi lihat bagaimana Sehun setelah Jongdae baru selangkah keluar dari mansionnya. Luhan yakin jika Jongdae masih ada di sini sudah pasti ruangan ini akan mirip arena bertempur. Dia tidak akan menghalangi Jongdae untuk memberi bogem mentah pada kekasihnya.

"Apa ini kegiatanmu saat ini?" Gemas Luhan masih melihat Sehun dengan aura bahagianya yang kentara.

"Ya, sekarang ini kesibukanku."

"Kesibukan? Aku masih ingat jika jongdae baru saja dari kesini."

"Itu urusan dia."

"Apa?"

Oh Shit Sehun.

"Aku adalah bagian penggembira saat ini hyung." Dengan tangan terlentang Sehun tanpa peduli justru tersenyum manis.

Idiot.

"Lagipula inilah yang di butuhkan kim saat ini. Sebuah tekanan yang lebih besar. Untuk melihat reaksinya dan keluar." Bola mata itu berubah serius dan Luhan bersumpah melihat kilatan tersendiri di sudut mata Sehun.

Terdiam melihat bagaimana Sehun mengubah auranya menjadi hitam dan serius. Menuangkan vodka pada gelas di sampingnya. Luhan terbata, "Kau mengetahuinya?"

"Keh, untuk rumor yang selalu di perbincangkan semua penghuni meja judi kasino?" Sehun menatap Luhan lewat ekor matanya. "Semua orang mengetahuinya hyung, hanya jongin dan otaknya saja yang tidak tau bagaimana cara bersembunyi dengan baik. Aku ingin menendangnya untuk keluar, begitu menginginkannya."

Tersentak Luhan tersadar satu hal, "Sehun. . .maksudmu itu?"

"Ya." Menatap Luhan dengan mantap Sehun meneggak vodkanya.

"Dengan hal ini jongin akan keluar dengan pemberontakan dari pengikut kim."

Bagi kalian yang tersadar bagaimana cara kerja Oh Sehun dan Park Chanyeol mungkin ini hal biasa tapi taukah jika mereka berdua punya perbedaan yang signifikan.

Lets play the game kim jongin.

.

.

.

.

.

Jongin memgambil posisi cue stick untuk melakukan tembakan pada bola sasaran, cukup serius di tengah udara panas siang hari. Cukup cerah untuk memainkan sebuah permainan dengan Taemin yang menemaninya sedangkan Taehyung lebih memilih memainkan ponselnya di sudut ruangan mengabaikan keseruan yang dibuat dua orang lebih tua di sana.

Ctakk!

Benturan dari cue ball pada salah satu sudut berhasil menghantarkan pada bola sasaran Jongin hingga membawanya pada on the hill. Tersenyum untuk kemenangan sementara Taemin hanya berdecih pelan.

"Woaaaa! Hyung!" Taehyung bersuara dengan lantang membuat Jongin juga Taemin menatapnya dengan tanda tanya.

"Ada apa?" Tanya Jongin, mengesampingkan Taemin yang akan membidik dan berjalan mendekat melihat Taehyung yang berdiri mendekatkan ponselnya.

"Kau harus tau ini."

Bola mata Jongin menajam, menatap tiap rentetan kalimat yang ada dalam layar ponsel.

Dugaan rencana pemberontakan terhadap Kim akan dilakukan malam ini dengan tujuan menggagalkan penjualan obat obatan terbesarnya. Terlalu lama Kim berada di atas membuatnya tersadar bahwa sudah waktunya dia tunduk berada di bawah.

Tanpa dia sadari pegangan pada cue sticknya mengerat hingga membuat buku buku jemarinya memutih. Namun Taemin tahu dan melihat semua reaksi sahabatnya. Mengamati dalam keterdiaman Jongin dan tidak berkomentar apapun bahkan setelah Jongin memulai kembali bermain dan membidik bola sasaran dengan kasar.

Emosi yang tidak bisa dia sembunyikan menguar tanpa pencegahan. Menghela nafas Taemin mendudukan tubuhnya di kursi terdekat dan hanya menatap Jongin yang bermain dengan terburu. Tanpa ada alur hanya dengan emosi dan sama sekali tidak menikmati permainan di depannya yang mana hal itu membuat Taemin lama lama mendengus.

"Kalian tidak akan pernah berada dalam jarak terjauh, kim."

Satu kata terakhir ditekankan Taemin untuk menyadarkan pemikiran Jongin terhadap tindakannya. Dia bagian dari Kim bukan dalam jangka waktu pendek selama hidupnya bukan kisaran sebulan dua bulan tapi dia hidup dengan Kim lebih daripada setahun. Taemin tahu akan hal itu bahkan bagaimana kabar berhembus akan kemampuan Jongin dan bagaimana timnya bekerja dengan sangat mengagumkan. Ini bukan hanya kabar angin biasa tapi sebuah fakta yang ada.

"Kau bagian dari mereka. Terlalu sulit jika kau ingin mengabaikan mereka."

"Kembalilah jongin, kau tidak bisa berdiam diri di sini. Kau juga tau jika selama kau menghilang beberapa pemain dalam meja kasino memiliki rencana lain di balik kehadirannya."

"Kau juga turut menyaksikan sendiri bagaimana mereka berseru dan menjadi penjilat untuk mendapatkan kedudukan."

"Mereka ada di meja menemani jongdae hyung mu untuk mendapatkan kepercayaan dan tanpa di duga menyiasati setiap barter dengan beberapa rekan kim dan mengambil kesempatan di tengah kelemahan kim yang tidak sedang bersama."

Jongin tahu itu semua, dia juga tau apa yang di katakan Taemin adalah benar, dia mengamati semuanya. Semua pergerakan penghuni meja kasino yang selalu menatap Kim dengan sorot mata tersendiri.

Sesaat Jongin memejamkan kedua bola matanya, memijat pelipis tanda dia benar benar merasa tidak nyaman saat ini.

"Kenapa semuanya menjadi semakin rumit." Keluhnya seorang diri.

.

.

.

.

.

Brak

"Siapa yang menyuruhmu masuk dokter?"

Bora berjingkat dari meja kerjanya dan melangkah menghampiri Dasom yang masuk terburu dengan tatapan tajam.

"Lihat bagaimana aroganmu dengan daerah kekuasaan yang tidak ingin di sentuh orang lain!" Dasom menggerutu.

"Aku tidak mengerti?" Jawab Bora sekenanya.

"Ya kau memang tidak mengerti dan biarkan aku memberitahumu." Senyum manis yang berefek menakutkan bagi Bora nampak terbingkai di wajah Dasom hingga dalam sekali gerak jemari putih lentik itu sudah menggenggam sebilah pisau kecil yang sangat anggun di jemarinya namun sayang keberadaannya tidak menguntung bagi Bora.

Sret!

"Kurang dari beberapa inchi lagi ini akan menggores lehermu yoon bora, masih mau mengelak?" Todong Dasom.

"Sialan kau. . ." Maki Bora menggertakkan gigi.

Dasom terdiam mengunci tatapan wanita arogan di depannya, tersadar dari tatapan sang dokter Bora menarik napas tertahan. Menyadari keadaanya yang sudah terkunci dengan tubuh dan pisau Dasom di depannya dan belakangnya adalah meja kerja.

"Aku tidak mengetahuinya. . .sama sekali." Aku Bora.

"Pembohong."

"Aku berani bersumpah bahwa bukan aku pelakunya."

Masih belum terpojok juga ternyata, Dasom dalam sekali gerak mengeluarkan benda yang selalu dapat membuat wanita di hadapannya ini menggigil ketakutan.

"KIM DASOM!"

Bora berteriak panik kala benda tajam nan dingin itu menunjukkan keberadaannya di permukaan kulit pinggangnya. Sebuah jarum suntik dengan cairan yang sudah bisa di pastikan bukan cairan biasa.

"Katakan!" Paksa Dasom

"Pemberontakan. . .ini murni pemberontakan. Mafia kecil dari luar changsa."

Mundur selangkah kebelakang Dasom menatap tidak percaya. Mendengarkan penjelasan Bora yang belum sepenuhnya.

"Aku sudah menyelidikinya, baik dari kurir maupun box yang di terima zhang yixing."

"Kurirnya di bunuh begitu dia menyelesaikan tugas, dan mayatnya serta semua bukti sudah di bersihkan. Ini terencana dengan baik dan bukan orang biasa, kemungkinan besar orang ini sudah mengetahui kelemahan zhang dan juga yixing."

"Ini buruk." Desis Dasom.

Bora mampu bernafas lega begitu Dasom sudah melangkahkan kakinya setengah berlari keluar dari ruangannya dengan ponsel menempel di telinga kanannya.

"Perketat penjagaan yixing mulai saat ini jackson."

Sampai kapan kau mampu melindunginya Dasom- ya?

.

.

.

.

.

.

'Jongin, aku hanya pergi sebentar. Maaf karena meninggalkan rumah tanpa ijin darimu aku hanya ingin melihat luar. Tidak akan lama aku janji.'

Mini cooper s abu abu melaju dengan kecepatan sedang, membelah angin untuk menujukkan sejuknya udara sore. Kyungsoo menikmati perjalanannya, terlalu lama dia tidak mengendarai mobil sendiri membuatnya merasa sensasi yang berbeda kali ini, tersenyum seorang diri begitu kesadarannya datang. Cukup lama dia tidak merasakan udara luar rumah Taemin. Salahkan Jongin yang selalu melarangnya untuk hanya sebuah tur kecil kecilan di 10 km samping rumah Taemin.

Seperti seekor burung dalam sangkar, terkekang dan begitu terlindungi bukanlah gaya Kyungsoo. Justru dia merasa risih jika boleh jujur tapi Kyungsoo yakin jika Jongin tidak akan menerima apapun keluhannya. Seperti kemarin. Mereka kembali berdebat akan bagaimana Jongin meminta Kyungsoo berhenti untuk mengizinkan berkunjung ke rumah mereka.

Tidak taukan dia bahwa Kyungsoo sangat merindukannya, bagaimana dia tau benar pertumbuhannha di sana. Di tempatnya berlindung. Rumah.

Rumah dimana dia bersama menghabiskan waktu dengan ketiga hyungnya.

Berawal dari keinginan Kyungsoo hanya untuk mengunjungi beberapa spot indah di sekitar wilayah Taemin tinggal sekarang Mini Coopernya melaju menuju jalan yang dia hafal, sangat. Dengan pohon pinus tinggi menjulang dan begitu asri oleh dedaunan hutan. Dia pulang, dia berada tidak jauh dari rumah.

Rumahnya

Mansion Kim.

Hingga tanpa dia tau, dia telah berhenti di depan pagar mansion. Kyungsoo turun dan masuk pada mansion yang sekarang sudah tidak berpenghuni.

.

.

.

.

.

Sret!

"Waw, reflekmu membaik rupanya. Siapa yang mengajarimu hmm? Jongin atau taemin?"

Kyungsoo mengertakkan giginya, melihat perbuatan gila Sehun dengan sebuah balok kayu yang dia layangkan hampir mengenai punggungnya jika dia tidak reflek menghindar tadi. Berkat bayang bayang di bawah kakinya semua nampak jelas.

"Apa maumu, brengsek!"

Dengan gerakan cepat Kyungsoo maju dan melayangkan kepalan tangan untuk menyasar wajah pucat Sehun yang sayangnya dia bisa menghindar, masih belum selesai Kyungsoo terus mencoba hingga Sehun dapat memegang lengan Kyungsoo yang sudah terjulur untuk memukulnya untuk menahan pergerakan dan melayangkan tendangan dengan lututnya tepat pada perut Kyungsoo.

Dug!

Sehun menyeringai. "Kau masih lambat."

"Uhukk."

Membuang tongkat kayunya karena tidak lagi terpakai Sehun menatap rendah Kyungsoo. Terlalu lama dia berada di perlindungan Jongin membuat Sehun susah untuk menjahilinya. Yeah, gila memang cara Sehun dalam melakukan kegiatannya.

"Merindukan rumahmu?"

"Bukan urusanmu." Kyungsoo bangkit sambil membungkuk mengusap sudut bibirnya dan mengambil waktu yang tepat untuk-

Brak!

"Keh! Sialan."

Mendorong Sehun hingga punggungnya terantuk pagar besi di belakangnya. Itu cukup membuat Kyungsoo tersenyum sambil melangkah jauh di belakang. Jarak teraman untuk mereka berbicara dengan terengah,"Impas."

Sehun terkekeh tanpa bisa dia tahan, membuat Kyungsoo menyerngit tidak pernah paham bagaimana otak Sehun bisa berfungsi dengan baik walaupun kenyataannya tidak dapat dia mengerti.

"Sedang mengingat masa kejayaan kalian?"

Kyungsoo terdiam, dia tau kemana arah pembicaraan ini.

"Oh aku tau, masa masa bahagia kalian sebelum kalian jatuh ke dasar jurang? Apa aku benar?"

"Menyedihkan sekali bukan, dulu bersama tapi sekarang menghilang bagai pengecut. Apa jongin terlalu lemah sampai dia tidak mampu untuk melindungimu di depan orang lain hingga kalian bersembunyi, heh?" Hardik Sehun.

"Jaga bicaramu sehun." Sahut Kyungsoo cepat.

"Satu hal yang harus kau tau bahwa jongin tidak selemah itu." Dengan gerakan cepat Kyungsoo kembali maju melayangkan pukulan dimana Sehun membali menghindar dan Kyungsoo balik melayangkan kaki kanannya untuk menggapai wajah Sehun sebagai sasaran. Saling berusaha memukul dan menghindar, sampai keduanya tidak sadar jika Jongin dengan sumpah serapahnya keluar dari mobil dan berlari menghampiri mereka.

"Oh shit! Apa yang kalian lakukan" teriak Jongin tidak habis fikir dengan yang ada di depannya.

Setaunya Kyungsoo bukan orang yang gampang untuk melayangkan pukulan dan berkelahi, tapi yang di hadapannya ini adalah Sehun seseorang dengan kemampuan yang dia tahu bukan sembarangan.

Sehun tersenyum manis melihat target yang sesungguhnya dia incar sekarang keluar dan menatap sengit, lalu beralih kepada Kyungsoo yang menatap tak kalah tajam. Lihat bagaimana rencananya membuahkan hasil, hanya tinggal menunggu waktu dan benar bukan jika memori lama masih dapat mengalahkan tekad. Menunggu waktu dan bersabar untuk melihat Kim Jongin keluar dengan Kyungsoo sebagai umpannya.

Klik - Gps aktif

Here, kim. I got him.

"Lama tidak bertemu, kim?" Sapa Sehun sengaja menekankan kata terakhir.

Jongin menatap tidak suka, "Apa maumu?"

"Oh, bukankah aku yang bertanya seperti itu? Apa maumu? Merindukan rumah lama huh?" Ejek Sehun.

"Sialan, ayo kyungsoo kita pergi." Menghampiri Kyungsoo dan membawa pergelangan kecil itu dalam genggaman, mengajaknya pergi.

"Lalu kau mau bersembunyi lagi pengecut!"

"Bukan urusanmu!"

"Ya, selama kau lenyap di dunia maka akan baik baik saja untukku, tapi kemudian keluar di meja perjudian dengan pion orang lain, fuck jongin. Kau fikir semudah itu?"

Sehun terlampau geram mendekati Jongin menarik bahunya lalu melayangkan tonjokan penuh di tulang pipi, kena kau.

"Brengsek!"

Baku hantam tidak terelakkan antara Sehun dan Jongin dimana keduanya saling berusaha menyasar tubuh masing masing, menendang,memukul.

"Lebih baik aku musnahkan saja kau, pecundang." Geram Sehun sementara Jongin terengah.

"Itu bukan hakmu."

Baritone di belakang Sehun menghentikan pergerakan yang akan di lakukan keduanya, membekukan keadaan dalam sekali gerak bahkan Kyungsoo ikut terdiam kelu di sana. Sehun mengumpat dengan sangat baik dalam benaknya kala yang datang bukan seorang Kim Jongdae.

Tapi Kim Junmyeon, dengan tatapan dingin tidak terbantahkan dalam balutan long coat hitam mendekat menatap lebih jelas Jongin yang membeku dengan ekspresi bersalah, menyesal dan marah. Sehun mengetahui hal itu jadi dia memberi sedikit jarak kesamping dua langkah untuk memberikan jalan bagi Junmyeon dan Jongin sekedar 'reuni'.

"Apa yang kau lakukan disini kim jongin?" Tanya Junmyeon yang bahkan Jongin membuka mulutnya saja kelu.

"Oh, ato cukup kai seperti nama panggilan mu dulu ketika kita pertama berkenalan?"

"Sekarang jawab pertanyaanku,"

"Sudah selesai kau bermain petak umpet kim jongin?"

"Sudah selesai kau melarikan diri dari keluargamu?"

"Sudah puas menyiksaku dengan otak kekanakanmu? Tidak mau bicara dan memutuskan sendiri?"

"Sudah puas kau membuat semua orang merasa bersalah dan kelimpungan karena tidak tau kabar juga keadaan kalian setelah penyelamatan dan gudang terbakar?"

"JAWAB AKU KIM JONGIN!"

Jongin hanya mampu mengalihkan pandangannya untuk menghindari tatapan penuh amarah dari Junmyeon. Di depannya Junmyeon saat ini tengah meluapkan semua yang dia tahan tahan selama ini. Dan jangan lupakan jika di depannya saat ini merupakan sosok yang selalu berusaha keras melindunginya juga Kyungsoo bahkan semua orang di mansion untuk dapat tetap hidup dan bertahan.

Dia menyesal. Dia tau jika dia pantas untuk mendapatkan luapan kemarahan ini.

Junmyeon tau tau tertawa leps tanpa ada yang mengetahui apa yang dia fikirkan. Lalu menatap Jongin dengan tatapan penuh kemarahan dan rasa sakit.

"Seharusnya aku tau diri, ya seharusnya aku tau diri. Aku bukan siapa siapa untukmu, aku bukan hyung yang baik, aku juga bukan keluargamu. Tidak ada setetes darah yang sama dalam tubuh kita. Aku juga tidak berhak mengaturmu."

Keduanya menatap dalam keterdiam yang mencekik Sehun dan Kyungsoo ikut merasakan itu bahkan Kyungsoo susah untuk bernafas dia ikut bersalah di sini. Junmyeon mengalihkan perhatiannya pada Kyungsoo dan tersenyum miris menatap rambut Kyungsoo yang sudah cukup panjang, dia merasa secarik cahaya di dadanya melihat adik kecilnya sehat berdiri di sana.

"Jaga kyungsoo baik baik. Ini pilihanmu."

"Hyung-" Jongin menyela.

Namun terpotong, "Aku bukan hyungmu."

Tegas dan dingin, tatapan mata hanya tertutup kabut kemarahan dan keputusan bulat. Junmyeon tidak pernah main main akan tekatnya dan Jongin sadar benar hal itu.

"Aku-"

"Aku tidak ingin mendengar suaramu, jongin."

"Aku bukan keluargamu lagi mulai sekarang. Atau kita memang tidak pernah mengakui status keluarga itu."

Dan Jongin sadar hatinya sakit saat ini, separuhnya sebagian di ruang dalam dirinya perlahan lahan hancur. Keluarganya.

"Anggap semua yang kita lalui tidak pernah ada. Atau hanya sekumpulan anak panti asuhan yang sayangnya hidup berkecukupan di sebuah mansion dan bersenang senang."

"Aku membebaskanmu, ini yang kau inginkan. Aku menerimanya."

"Aku juga tidak membutuhkanmu lagi."

Kyungsoo mendengarkan dengan baik, tercengang menatap Junmyeon dengan sorot mata sedih di sana begitu pulan Jongin yg hanya mampu terdiam melihat Junmyeon belum menyelesaikan perkataannya.

"Untuk sebuah tim aku mengakui kemampuanmu."

"Tapi untuk menjadi sebuah pilihan?"

"Aku tidak membutuhkanmu."

Mobil Jongdae sampai di sana beberapa menit allau dan ketika dia keluar dengan Minseok dia terdiam membeku menatap Junmyeon dan Jongin yang sudah berhadapan dan Kyungsoo yang menunduk, Sehun tidak bereaksi apapun. Ini gawat, dengan tatapan Junmyeon yang terlampau dingin dia menakutkan hal lain disana.

"Aku akan memberimu kebebasan jongin." Dengan hal itu sebuah pistol sudah bertengger dengan baik di genggaman Junmyeon dan mengarah pada Jongin.

"TIDAK! HENTIKAN!"

Dor!

Dor!

Kejadiannya begitu cepat, Junmyeon melayangkan tembakan dalam dua bidikan,Jongdae dan Minseok yang berlari mencegah namun terlambat, dan Sehun yang menatap tidak percaya, hingga Kyungsoo yang menjerit.

"JONGIN!"

.

.

Tbc

A/n:

hello saya kembali. 25 Februari hari yang bersejarah ya? Mari bersenang senang.

Terimakasih untuk semangat yang kalian salurkan, saya akan membalas review lain kali maaf untuk waktu yang sangat terlambat, saya akan berusaha lebih baik untuk menulis di sisa waktu di rumah setelah selesai kerja. Hei saya berterima kasih sekali lagi, saya sangat sayang pada kalian. Fighting and love u so much guys

Bels28

loveslessxx

Dudu Luv Nini

fy zhang

Minge-ni

bunnysheep91

D' eXcrusius Paripachuka

Luce,

25 Februari 2018