"KIM JONGDAE!"

Jongdae terlonjak dari tempat duduknya dengan ekspresi horor, Minseok masuk ke ruang kerjanya dengan langkah memburu dan tatapan menguliti seolah bersiap siap untuk menendangnya.

"Apa ini?"

Belum sempat Jongdae bertanya, Minseok terlebih dahulu mengacungkan ponsel milik Jongdae yang menunjukkan map gps yang berkedip kedip kecil, spontan Jongdae terbelalak.

"Oh shit, itu sehun. Dia sudah menemukan jongin, hyung."

Minseok ingin memukul kepala Jongdae saat ini juga. Idiot! Apa yang ada di otak Jongdae saat ini. Bagaimana bisa Sehun menunjukkan gps keberadaan Jongin. Mengambil nafas untuk menahan banyak emosi di dadanya Minseok menatap Jongdae yang meraba laci mejanya. Biar dia tebak jika saat ini dia tengah mencari kunci mobilnya.

"Dimana kunci mobilku hyung? Kita harus cepat kesana sekarang juga!" Panik Jongdae.

"Kau lupa kalau mobilmu ada di bengkel setelah aku remukkan kim?" Jengah Minseok dan Jongdae berwajah musam seketika ingat nasib malang mobilnya. Dan Minseok menyerahkan kunci mobilnya pada Jongdae sebelum lelaki itu mulai merengek karena ingat mobiln malangya.

"Bagaimana sehun bisa mengetahui keberadaan jongin?" Tanya Minseok mengikuti Jongdae yang terburu menuju mobil.

Membuka pintu kemudi Jongdae menjawab meski dia tidak yakin bagaimana tanggapan Minseok setelahnya, "Aku yang meminta bantuan padanya hyung."

Dalam sekejab Minseok menatap tajam Jongdae di sebelah tempat duduknya. "Hell, kim jongdae apa yang kau fikirkan dengan meminta bantuan pada sehun?"

Menelan ludah pelan Jongdae mulai melajukan mobil walau sambil ketir ketir karena bisa saja Minseok mencekiknya saat ini juga. Dia seharusnya tau jika hyungnya tidak pernah setuju dengan ide 'meminta bantuan Sehun'.

"Tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan untuk mengeluarkan jongin dari persembunyiannya hyung hanya itu tujuanku." Elah Jongdae.

"Oh ya, tentu aku tau tapi sehun dalam berurusan dengan jongin selalu menyangkutkan kyungsoo kau juga tau akan hal itu kim." Timpal Minseok gemas bukan main.

Hampir hampir Minseok mengacak rambutnya frustasi, "Aku sama sekali tidak paham bagaimana kalian mampu berteman dan oh astaga jongdae aku benar benar ingin membunuhmu."

"Apa kau-akh! Jika sampai terjadi apa apa ada kyungsoo dan jongin kau yang pertama aku bunuh jongdae."

Habislah dia!

"Sehun, dia bukan sebagaimana chanyeol bertindak. Sehun jauh lebih menguasai emosinya dengan baik, dia bisa mengubah alur permainan sebagaimana dia inginkan. Bahkan chanyeol pernah marah besar karena kelancangan sehun berada di mansion wu dan menemui kedua orang tuanya. Dia jauh lebih terencana dan licik."

Jongdae hanya bisa terdiam. Dia tidak berani bicara hanya untuk mendengar bentakan kasar dari hyungnya jika menyangkut keteledoran dan keluarga. Dan mereka berdua hanya mampu berdoa semoga Sehun tidak ikut menyertakan Kyungsoo dalam misinya. Walau semuanya percuma saat mereka berdua sampai di lokasi tempat gps milik Sehun berkedip. Kyungsoo dan Jongin ada di sana lengkap dengan Sehun tetapi masalah bertambah kala Junmyeon berdiri dengan pistol mengarah pada Jongin dan-

Dor

Dor

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 4: Second, start the game. Be a good children.

Berfikir untuk selamanya berada dalam posisi Leader

Bukan masalah untuk kepemilikanmu

Tapi taukan jika suatu saat kala semua permainan sudah berada dalam genggamanku, kau akan tau.

Tau, bagaimana caraku menggenggam dunia dan juga dia.

Dia yang selama ini menjadi incaranmu.

This is my game

King

So, lets started.

.

.

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : T-M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo membeku dalam sekali tarikan nafas yang tersendat, dua tembakan dia perhatikan dengan baik di depannya Jongin tergeletak dengan lengan dan dada kiri tersasar timah panas milik Junmyeon.

"JONGIN!"

Bruk

Menatap tidak percaya pada Junmyeon yang hanya berdiri tanpa ekspresi hingga Kyungsoo lebih diliputi oleh kemarahan daripada rasa sakit melihat Jongin tergeletak, dalam langkah memburu dia menghampiri Junmyeon dan mengarah pukulan telak pada tulang pipi, hingga Jongdae dan Minseok menariknya yang histeris dengan kemarahan yang memuncak. Berontak dalam pegangan kuat keduanya dan Kyungsoo melepaskan diri hingga mampu menarik kerah depan long coat Junmyeon dan menarik beberapa kali sebagai bentuk kemarahan, Minseok menarik Kyungsoo dalam dekapan dan tangisan si kecil meledak.

"APA YANG KAU LAKUKAN IDIOT!" Berteriak marah Minseok, sembari menatap Junmyeon yang masih tidak berekspresi.

Sehun masih di sana untuk melihat kekacauan temannya, oh apa mereka masih memiliki status teman dalam posisinya ini?

"Ashh!"

Desisan itu mengubah semua atensi hingga terpusat pada pemuda yang bangun dari posisi tergeletaknya dengan lengan berdarah sambil meringis memegangnya dengan jemari sebelah yang menganggur. Jongin bangun dengan kesakitan dan Junmyeon menatap kearah lain dengan dahi berkerut marah.

Keparat memang, bangun setelah tertembak dan mulai melepas rompi anti peluru yang tersembunyi di balik jaket Jongin. Walau lengannya harus tersasar peluru namun itu lebih baik bukan untuknya, daripada nyawanya yang melayang. Yeah, cara klasik cukup berguna di situasi ini.

Dan Jongdae harus mengumpat karena mereka yang ada di sana hampir hampir menelan fakta bahwa Kim Jongin tewas di tangan hyungnya sendiri.

"Oh shit, aku jadi berfikir untuk benar benar membunuhmu." Erang Jongdae.

Berbeda dengan Kyungsoo yang langsung menghambur dalam dekapan Jongin tanpa mau tau akan lengan lelaki tan itu hingga membuatnya meringis kembali.

"Bahkan lenganku sudah berdarah sekarang." Bela Jongin.

"Jadi seperti ini pertemuan yang kau harapkan, jongin." Minseok di sana bertanya dan menatap tajam membuat Jongin kembali mengalihkan pandangan.

Dia mirip seperti pencuri yang tertangkap basah karena ada semua hyungnya yang memberi tatapan tajam. Menampakkan ekspesi tidak nyaman hingga pengakuan salah akhirnya keruar dari mulutnya, "Aku memang salah, kalian pantas marah padaku. Tapi aku harus melakukan untuk melindungi kyungsoo."

Junmyeon tertarik, menatap kembali Jongin dengan sorot kesungguhan dan penyesalan di sana hingga dia memutuskan untuk sadar bahwa apa yang di katakan Jongin ada benarnya.

Untuk seorang kekasih apapun akan dia lakukan dalam melindungi kekasihnya, dia juga akan melakukannya untuk Yixing. Dan kejadian penyekapan Kyungsoo bahkan Junmyeon tidak tau kala itu apa yang terjadi hingga membuat Jongin yang terkenal bar bar sampai sampai memilih menyembunyikan diri selama ini.

Ya, dia harusnya sadar bahwa setiap kelakuan adik adiknya bukan tanpa alasan.

Sementara Junmyeon terdiam dan mengabaikan sekitar dengan pikirannya akan semua yang telah terjadi selama ini, Jongdae lebih memilih untuk menarik Kyungsoo dan menyeret ke arah Minseok lalu mulai memukuli Jongin sebisa mungkin, apapun bagian tubuh yang dapat dia sasar akan dia pukul dengan kaki atau lengan bahkan siku tangannya dan bahkan kepala, sekalipun harus bergulung di tanah dan juga teriakan Jongin jangan lupakan itu, bagaimana bengisnya Jongdae. Yang sebenarnya jika orang lain tau bahwa mereka terlalu larut dalam melepas rindu. Walau dengan cara bar bar.

"Hyung ini masih sakit, sialan." Jongin mengerang hingga berhasil menendang tulang betis Jongdae yang meringis kesakitan.

"Itu pantas untuk seorang pengecut sepertimu." Jongdae menyeringai kala melihat Jongin mengepalkan tangan.

"Kalian berdua memang brengsek." Dengan hal ini Jongin ikut menatap Sehun yang menaikan sebelah alisnya menunggu kata kata Jongin.

"Menjebakku dengan mengikut sertakan manusia sialan seperti dia."

Sehun hanya menyunggingkan senyumannnya sepersekian detik, dia nampak bahagia dengan aura yang kentara, tidak memperdulikan ucapan bahkan makian Jongin karena Jongdae sudah siap menyasarnya lagi. Waktu yang berharga bagi sekarang Oh Sehun.

Sementara Jongin sudah terbakar api kemarahan, "Kemari kau, bukannya kau menunggu untuk mampu berhadapan dengan ku sehun."

"Sebelum bicara seperti itu seharusnya aku yang bertanya padamu sialan." Amuk Jongdae belum selesai.

"Apa kemampuan menembakmu lari terbawa angin hingga kau tidak berani menghadapi terancamnya kyungsoo dan bersembunyi hah!" Setelahnya mereka kembali saling menghantam dengan Jongin yang mengamuk dan Jongdae yang masih belum puas.

Sementara Sehun hanya berguman pelan dengan wajah bahagia, "Terlalu indah untuk melihat mereka bisa saling membunuh, ah hidup ini terasa bermakna sekali."

Cukup yakin jika Luhan ada di sini dia akan rela memukul kepala Sehun karena sikap gila dan idiotnya.

Ketahuilah bahwa hanya Sehun seorang di sana yang sangat menikmati momen membunuh Kim sedang yang lain kalian mampu menerka bagaimana raut wajahnya.

Inilah Sehun dan segala kegilaannya akan kehancuran Kim.

"Hentikan!" Junmyeon membentak, terlaku risih dengan perkelahian kekanakan Jong brother. "Cukup Jongdae."

"Aku ingin menegaskan kembali," seluruh atensi terpusat pada Junmyeon yang mengatakannya, ada rasa cemas dalam benak Kyungsoo kala melihat tatapan mata Junmyeon. Begitu gelap.

"Aku membebaskanmu jongin dan kau kyungsoo. Seperti apa yang sudah kau katakan." Junmyeon menatap Jongin.

"Kau ingin melindungi kyungsoo dengan cara dan pilihanmu sendiri, maka aku bersyukur untuk hal itu. Kemampuanmu dapat kau gunakan dengan baik karenanya tidak lagi perlu bertanggung jawab akan hak haknya dan nyawanya bahkan keselamat kkalian berdua jadi ketika kematian siapapun dari kita terjadi."

Sebuah kalimat yang membuat semua orang berfikir banyak hal, Kyungsoo di sana menatap Junmyeon dengan secarik penyesalan dalam kalimat yang belum dia selesaikan, hingga dia melanjutkannya. "Maka tidak perlu lagi ada sebuah penyesalan di antara kita."

Sehun menyeringai sedangkan Minseok yang menatap tidak percaya, "Junmyeon!"

"Aku mampu untuk pergi ke changsa sendiri, tanpa tim." Setelahnya Junmyeon mengambil langkah untuk meninggalkan mereka menuju mobil.

Brummm!

Semua di sana terdiam berkecamuk dalam pikiran yang menjerat setiap sendi tubuh dalam balutan benang yang tidak bisa di urai. Jongin yang paling kentara di sana, ekspresi cemas, menyesal, ketakutan juga marah. Sementara Kyungsoo terdiam namun tanpa sadar air mata keluar darisana. Keluarganya hancur dia yang terbuang kembali harus merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga. Dan Kyungsoo hanya mampu membekap mulutnya untuk meredam suara.

Minseok masih di sana bersama Jongdae memperhatikan sementara Jongdae sibuk mengumpat melihat kepergian Junmyeon. Sedang Sehun? Kalian tau bagaimana ekspresi gembiranya kala Kim sudah hancur.

Sekali rengkuh Minseok membawa Kyungsoo dalam dekapan, hatinya belum berubah, mereka masih adik adiknya tapi dia tau jika status mereka masih harus di tegaskan kembali. Dia tau bagaimana hati yang Junmyeon rasakan, dia juga tau bagaimana Jongin harus di hadapkan pada Kyungsoo dan keadaan mereka yang selalu terdesak oleh musuh. Karenanya dia perlu mendengar jawaban dari seseorang.

"Jongin. . . . .katakan padaku apa jawabanmu sekarang?"

Apa pilihanmu, Kim?

.

.

.

.

.

.

Dentingan pelan akan peraduan meja kaca dan gelas kristal menjadi pengiring setiap malam malam yang di lalui Wu Yifan atau mungkin hanya Yifan saja. Baginya dia bukan lagi bagian dari Wu dan segala rentetannya. Mengingat bagaimana perjalanan hari kemarin membuatnya tertawa dalam keterdiaman yang mencumbu minuman dalam gelasnya lagi dan lagi. Tidak peduli bagaimana dia selalu tidak pernah absen untuk mengunjungi club malam ini. Sekalipun banyak orang yang manatapnya dengan tatapan lapar atau dengan tatapan menyerngit, Yifan terlampau tidak peduli.

Juga tidak peduli pada wanita dengan balutan baju hijau tosca di pojok sana, dia tau bahkan menghafalkan bagaimana wanita dengan heels merah menyala itu hanya menatap tenang padanya dalam beberapa hari belakangan ini. Dia tidak sedang dalam keinginan menghabiskan malam panas dengan seorang jalang jika kalian ingin bertanya.

Namun berbeda dengan malam ini. Kala langkah mendekat wanita muda itu beradu dengan lantai menuju arah kursi depan bartender di samping Yifan, duduk dengan membawa gelas minumannya sang wanita duduk anggun dan terlampau tenang. Yifan berhenti untuk peduli dan melanjutkan kesenangannya.

"Aku selalu mengagumi bagaimana caramu menikmati minuman tuan muda wu."

Oh Shit, sebutan itu lagi.

Raut wajah Yifan berubah dalam waktu dekat dan sang wanita hanya terkikik pelan kemudian menyambungnya kembali.

"Tidak rindu dengan china, huh?" Sebuah pertanyaan kecil yang dalam benak Yifan hanya mengarah pada kekasihnya. Ah, mantan kekasihnya dulu.

China itu adalah Yixing, ya Zhang Yixing. Hanya ada hal itu yang masih menjadi ingatannya.

Marah untuk masa lalu yang tidak ada indahnya Yifan menggebrak meja dengan gelas kristalnya yang sudah tandas. "Apa maumu!"

"Menanyakan hati kecilmu." Sebuah jawaban ringan.

"Jangan sok tau gadis kecil." Sarkas Yifan.

"Kau akan terkejut mendengar apa yang ku ketahui. Aku yakin akan hal itu." Tidak gentar sang wanita muda kembali bicara.

"Keh, siapa yang peduli." Jawab Yifan.

"Bahkan untuk zhang kecil yang di tinggalkan oleh kekasih kimnya? Atau yang menjadi target pemberontakan?" Pancing sang wanita muda.

Yifan terdiam untuk sesaat, memilih mengambil pesanan baru yang dia dapat di depannya. Menyugesti diri untuk pura pura tuli akan hal itu.

Terlalu tidak mungkin seorang Kim Junmyeon yang menghancurkan pertunangannya meninggalkan Yixing, dan hatinya terbakar mengingat hal itu. Kembali terbuka, sebuah ingatan lama yang masih mencekik hatinya. Sementara sang wanita di sampingnya tertawa dalam hati. Tuan muda Wu di sampingnya terlalu bodoh untuk mampu menyembunyikan ekspresinya.

Semuanya kentara untuk sebuah jalinan cinta.

"Ku fikir kau belum mampu melupakannya tuan muda, tidak mau menemuinya, huh? Aku mampu membantumu jika kau berminat tuan."

Sebuah alunan kalimat ringan yang dengan mudahnya keluar dalam balutan aura ceria yang kentara. Yifan menatap spontan pada sang wanita muda, terlampau terkejut hingga tatapannya berubah menyelidik.

"Siapa kau sialan?!"

Terkekeh anggun sang wanita muda beranjak dari tempat duduknya dengan tatapan manis dan nada yang mengalun lembut namun mampu menghantui Yifan pada setiap tarikan nafasnya.

"Cukup temui aku di depan halte bis dekat swalayan, jika kau berminat."

Semuanya hanya berkutat pada pilihan. Dan sepertinya malam ini adalah keberuntungan, makri kita anggap begitu karena belum ada dua langkah menjauh sang wanita merasa ada suara yang menginterupsi.

"Hei,"

Jika ini benar sebuah kesempatan maka kemungkinan datang dua kali akan sangat tidak mungkin bukan?

Berbalik untuk menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Yifan, "Aku ikut."

.

.

.

.

.

Bora mengambil nafas lega kala pintu apartemennya di tutup kasar oleh kepergian Dasom. Dia selamat dan nyawanya aman, bukan hanya nyawanya namun juga nyawa seorang wanita cantik yang berada di sana, di balik pintu bersembunyi.

Bersyukur pada mulut juga kemampuannya dalam mengatakan kejujuran. Dia banyak berlatih akan hal itu da nyatanya harus di hadapkan pada Dasom, patnernya sendiri.

Sialan memang.

Tapi mereka tetaplah tim, walau layaknya bifak catur 'black and white' berseberangan namun tetap dalam satu papan. Mereka dapat daling bergerak untuk tujuan masing masing tak bisa di dipungkiri juga untuk dapat saling menikam.

Tap tap tap

"Mengelikan melihatmu ketakutan padanya, hanya seorang dokter dan kau mengigil?" Wanita di balik pintu keluar dan tertawa mengejek melihat Bora yang berpegangan pada meja belakangnya untuk menopang tubuh. Masih shock.

"Tutup mulutmu, ini juga untuk keselamatanmu." Bentak Bora kasar.

"Ya ya ya, kau memang harus menjagaku untuk hal ini. Tapi, menyenangkan bekerja sama denganmu." Jia -wanita yang berada di depan Bora- tersenyum mengejek sedangkan Bora hamya menatap jengah.

"Terserah kau. Aku hanya menawarkan apa yang di inginkan oleh tuanmu." Jawab Bora.

"Baiklah baiklah, karena ku fikir tugasku sudah selesai aku akan pergi sebelum dia kembali atau mungkin mencekikmu karena tau kau berbohong." Mengambil selembar berkas yang sudah Bira siapkan Jia mulai melangkah menuju pintu.

"Jia." Panggil Bora menghentikan langkah wanita itu dan berbalik.

Tap tap

"Aku merasa bersalah untuk perkataanku tadi pada dasom akan kurir yang di bunuh setelah mengantarkan barang kepada yixing." Ucap Bora mendekat di depan Jia. Dia terus terang tidak nyaman kala mulutnya mengatakan hal yang berhubungan dengan nyawa rekan kerjanya terlebih untuk kebohongan dengan Dasom tadi.

Untuk menjaga kerja sama terlebih, sikapnya juga harus dia jaga dengan baik.

"Aku tidak mempermasalahkan hal itu." Jawab Jia tersenyum mahfum.

"Terimakasih banyak tapi tetap aku meminta maaf untuk hal itu dan berharap kita dapat berkerjasama kembali." Ucap Bora masih belum bisa terima dengan perkataannya sendiri.

"Tentu." Setelah mengatakannya Jia berbalik untuk melanjutkan langkah hingga-

"Tapi jia, setiap hal yang aku bicarakan itu merupakan sebuah fakta dan-" Bora kembali menghentikan langkahnya

Jleb! - sebuah benda dingin itu menusuk perutnya dari arah belakang.

Semakin dalam dan semakin mengoyak. Membuat Jia terdiam memegang perut depannya yang mulai mengeluarkan darah dengan bola mats melotot. Kesakitan.

"A-akh."

Bora melanjutkan perkataannya, "Seorang kurir yang mengantar kiriman untuk zhang yixing memang harus mati."

Itu pisau yang sudah terlapisi oleh racun yang dapat membunuh dalam waktu 15 menit. Bora sepertinys tengah menepati omongannya dengan Dasom. Dan cukup lucik kala memulai pembunuhan dengan ungkapan maaf terlebih dahulu. Tapi Bora tidak ambil pusing asal wanita di depannya sudah tergeletak kaku.

Peduli setan dengan kerjasama, dia masih bisa mencari patner lain.

Tapi ngomong ngomong

Senang bekerja sama denganmu, Jia

.

.

.

.

.

Minseok sedari tadi menunggu gps Junmyeon dan mengawasinya dalam keterdiam bersama Jongdae di mobil, membiarkan kekasih kotaknya yang sibuk mendial beberapa nomer telepon untuk saling menyatukan pendapat. Entah apa yang mereka perbincangkan tidak bisa menyedot perhatian seorang Minseok dengan layar ponsel dan gpsnya.

"Jongdae."

"Ya, hyungie?" Jongdae terdiam menunggu ucapan dari hyungnya.

"Turun dari mobil." Perintah Minseok membuat Jongdae menyergit.

"Why?" Tanya Jongdae reflek.

"Kau mengusirku?" Tambahnya lagi.

"Aku harus bertemu junmyeon, jadi cepat turun dan minta taekwoon menjemputmu."

Hingga tanpa menunggu waktu lama Jongdae sudah terbengong di tepi jalan menatap mobil milik Minseok melaju meninggalkannya.

Oh hell, dia mirip anak terlantar sekarang. Kekasih terlantar oh itu bukan sebutan yang keren.

"Aku tidak percaya akan dicampakkan seperti ini." Ucap Jongdae mendramatisir.

"Aku turut berduka cita dude." Tiba tiba suara lain menyahut.

"Sialan."

Itu Taekwoon yang entah darimana sudah ada di dalam mobil yang berhenti di sebelah Jongdae. Menatapnya dari kaca mobil dengan senyum aneh.

"Aku mendengar kabar kalo hyungmu mengamuk dan menghajar orang lagi. Jadi aku mencoba mencarimu. Siapa tau ada orang yang membutuhkan belaian tangan penyembuhku."

Oh, oke. Jongdae mirip seperti peta menuju Junmyeon jika seperti ini.

"Dia tidak menghajar orang-" jawabnya datar.

"Oh syukurlah." Taekwoon lega.

"Tapi membunuhnya dan bahkan sang korban bangkit seperti zombie setelah terkena tembakan."

"Hah?!"

Jangan pernah percaya mudah dengan perkataan Jongdae itu mungkin lebih baik.

.

.

.

.

.

.

Junmyeon memilah revolver dan senapan juga beberapa peluru untuk dibawa dalam tas besarnya malam ini, meski baru menujukkan pukul 7 malam, terlalu dini menyiapkan senapan untuk 'berburu' makan malam tapi Junmyeon tetap melakukannya.

Brak!

"Aku tidak mengijinkanmu untuk memulai hal ini tanpa tim." Minseok masuk mendobrak pintu bawah tanah mansion lama mereka.

Ya, Junmyeon menginjakkan kakinya kembali di mansion lama Kim. Rumah lama mereka. Ada banyak peralatan yang mereka simpan disini dan untuk saat seperti inilah perlengkapan ini berguna.

"Aku tidak diperintah dan menerima perintah dari siapapun." Tegas Junmyeon tanpa mau melihat siapa disana.

Minseok ada di sana tau dan sudah memprediksi jawaban Junmyeon. Jongin dan Kyungsoo ada di belakangnya turut serta hanya terdiam tau jika hyungnya sedang dalam kondisi tidak baik.

"Kalau begitu tunjukkan padaku siapa pemandumu di changsa?"

Junmyeon terdiam dalam api kemarahan yang belum padam, menatap Minseok yang bertanya dengan nada menantang. "Aku bisa sendiri dan tidak membutuhkan tim."

Minseok terkekeh lebih pada mengejek bagaimana bebalnya Junmyeon. "Kau lupa siapa yang mau kau hadapi hah? Apa kau fikir appa tidak menyingkirkan anak buah kirimanmu ke changsa?"

"Telfon mereka jika mereka memang masih hidup? Aku ingin melihat suaranya." Tantang Minseok dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

Junmyeon meledak, mendorong meja kaca di sebelah kanannya hingga terbalik dan pecah.

Prang!

"Brengsek!" Mengumpat marah Junmyeon menatap Minseok penuh dendam. Dia ingin menyingkirkan semuanya saat ini juga.

Tau bagaimana Junmyeon mengamuk tidak membuat Minseok senang justru semakin bernafsu untuk mengontrol emosi Junmyeon. Dengan tatapan menantang Minseok memulai tanpa gentar, meski separuh hatinya tidak bisa tenang kala menatap aura kelam Junmyeon dan tatapan elangnya. Tidak ada yang bisa menenangkan anggota tubuhnya bergetar bila menghadapi Junmyeon, pengecualian Yixing tentunya.

"Aku pemandumu mulai saat ini. Jadi turuti perintahku kim junmyeon!" Satu ultimatum di layangkan Minseok dengan tatapan tegas tidak terbantahkan. Dia harus melakukannya.

Junmyeon disana melempar revolver di tangannya ke lantai sebagai bentuk protes lalu melangkah dengan tatapan tajam membunuh yang tidak tersentuh mengabaikan Minseok juga Jongin dan Kyungsoo.

Dia pemimpin dan tidak menerima perintah dari siapapun karena itu mutlak.

.

.

.

.

.

Ruangan rapat mansion Kim kembali di sentuh oleh penghuni rumahnya, Jongdae melihat peta lokasi sedangkan Jongin di sana mencoba setiap peralatan kesayangannya, Minseok dan Kyungsoo bersiap dengan komputer mereka sementara Junmyeon terdiam penuh amarah yang siap meledak. Taehyung, Jungkook juga Jhope menunggu dengan diam dan bersiap untuk menerima perintah.

"Kita akan memulainya dengan rencana pembakaran gudang dan transaksi untuk wilayah busan." Minseok berdiri dan mulai mengintruksi Jongdae juga Jongin akan hal itu. Junmyeon masih terdiam dengan aura yang sama.

"Aku bisa mengatakan ini 89% benar, untuk tuan jung yang memimpin malam ini." Jongdae berkomentar.

"Mereka menyasar obat obatan yang di kirim hari ini. Selain jumlah besar untuk memberi efek juga akan menimbulkan kerugian yang cukup terasa." Ucap Jongin.

"Ini juga menyangkut kiriman uang akan transaksi di vietnam kemarin, dua kendaraan dengan isi berbeda." Sambung Jongdae.

"Apa pendapatmu junmyeon?" Tanya Minseok.

"Hancurkan semuanya!" Perintah Junmyeon mutlak.

Menghancurkan dalam hal ini adalah menghancurkan dua sisi yang sedang berhadapan, baik pihak Kim maupun Tuan Jung sendiri. Sebuah kehancuran besar yang di inginkan Junmyeon dan hal itu bisa di mengerti Jongdae dengan mudah.

Minseok mengiyakan, mengingat dia memberi kesempatan untuk pembuktian Junmyeon dalam menyelesaikan rencananya memecah konsentrasi Appanya dengan daerah China.

Dan mungkin ini adalah rencana terbaik.

"Ini yang aku temukan." Jongdae melanjutkan langkah kedepannya mendekat.

"Gereja wilayah andong akan dijadikan tempat pergantian kendaraan untuk melanjutkan kiriman uang dan mobil obat akan bergerak menuju daegu. Hanya di sana kemungkinan besar kita untuk bertemu dengan rencana busuk keparat tua itu." Jelasnya lagi.

"Aku hanya butuh bertemu dengan pak tua itu saja." Jawab Junmyeon lalu beranjak pergi.

Semua orang di sana faham dengan baik apa makna kata 'bertemu'. Yang berarti semua rencana dan pergerakan dia yang memimpin dan hanya sesuai perintahnya. Jongdae menatap Minseok yang tidak tergerak berarti Kim tertua juga telah menyetujui syarat permainan Junmyeon malam ini.

"Mulai bersiap," komando Minseok melangkah menuju pintu dan menepuk bahu Jongin lalu membisikan beberapa kata padanya dan menjauh.

'Giliranmu sebelum keberangkatan kita mulai.'

.

.

.

.

.

Jongin mengambil nafas panjang melegakan rongga dadanya yang sesak tak berujung, berdiri di depan pintu kayu dimana Junmyeon ada di dalam sana. Menghadapi kembali hyung tertua kedua seperti saat ini bukan keinginan yang baik, sebuah role film bagaimana Junmyeon mengamuk juga tatapan matanya pada Minseok saja serasa ingin menguliti lalu bagaimana dengannya yang bahkan tidak ada apa apanya di banding Minseok.

Mungkin dia akan mati di ruangan ini. Oh semoga dia masih bisa keluar dengan utuh.

Cklek

Tap tap tap

Junmyeon berdiri di depan meja penuh dengan pistol tengah memilah peluru dan beberapa pisau yang akan dia bawa -Dia belum selesai mengingat Minseok mengacaukan acaranya bersiap siap tadi-, acuh tak acuh pada suara pintu ruangannya yang terbuka dan langkah yang berhenti beberapa kaki di belakangnya. Dia tau, terlampau tau bahwa hyungnya pasti akan menyuruh Jongin keruangannya.

"Untuk apa kau kemari." Bermurah hati Junmyeon bersuara terlebih dahulu tanpa membalik tubuhnya.

Bruk

Jongin terduduk bersimpuh dengan lutut menyentuh lantai dan pantangan menunduk. "Aku datang mengemis ampunan darimu hyung."

Melirik sekejap Junmyeon kembali lagi pada beberapa pekerjaan di depannya, tidak peduli dengan keberadaan Jongin.

"Bukankah sudah ku katakan kau bukan lagi bagian dari kim. Tidak ada yang salah dari tindakan kita." Balas Junmyeon.

"Kita sama sama berusaha melindungi apa yang kita anggap berharga, dan kau sudah memilih apa yang berharga bagimu."

"Maafkan aku hyung. . . .ku mohon."

"Jika aku tidak melakukannya?" Tantang Junmyeon membalikkan badannya dengan sebilah pisau panjang berukir lilitan ular di gangangnya.

Berucap frustasi Jongin menatap Junmyeon, "Aku rela menyerahkan nyawaku dibawah kakimu hyung."

"Lakukan!"

Dan pisau di tangan Junmyeon terlempar tepat di depan Jongin bersimpuh. Dengan tangan gemetar dan tatapan tidak percaya Jongin mengambilnya. Dia harus membuktikan jika ini mampu memberikan kepercayaan Junmyeon kembali padanya. Maka dengan hal itu Jongin mengangkat tinggi tinggi pisau dengan kedua tangannya dan bersiap menusukkan pada pahanya sendiri dalam tarikan nafas panjangnya. Junmyeon di depannya masih menatap tajam tanpa pergerakan. Dan Jongin mengarahkan pisau pada pahanya hingga-

Prang!

Sebuah pedang panjang sudah mengangkat dagunya, berjarak satu inchi dari lehernya. Penuh atensi dan keakuratan pergerakan. Tepat dan cepat Junmyeon menampik pisau di tangan Jongin dengan sekali gerakan hingga terlempar ke ujung ruangan berputar putar seiring jarum jam dan terhenti.

"Aku begitu marah hingga ingin memukulmu sampai kau tak mampu bangkit lagi bahkan jika untuk bernafas saja kau akan berat, apa semudah itu kau bersembunyi dan melindungi adikku kyungsoo? Kau fikir berapa orang yang menjadi musuhmu? Satu atau dua atau tiga? Lebih dari itu kim jongin dan kau masih keluargaku sialan!" Dengus Junmyeon melihat bagaimana tindakan adik terbebalnya.

"Siapa yang kau jadikan tameng? Kau mendapat kan orang lain lebih baik daripada aku?" Tambahnya marah.

Jongin hanya mampu tertunduk kembali setelah pedang panjang Junmyeon tersingkir, enggan untuk bangun dan menatap Junmyeon. Memang jelas jika Junmyeon marah besar karena dia bahkan mampu bersembunyi dan berama orang lain yang tentunya Junmyeon sudah mengetahui identitas Taemin dan itu pasti melukai harga diri Junmyeon. Masi terdian sampai interupsi dari pemimpin muda Kim itu bersuara.

"Pergi dan selesaikan semuanya baru kau aku ampuni."

.

.

.

.

.

Brum

Brruummm!

Mobil box beriringan dengan sebuah mobil sedan hitam di belakangnya mengekor melewati jalanan sepi dalam tepian rimbun dedaunan, membelah malam menuju beberapa arah penduduk sepi dan sebuah gereja terawat menjadi tempat pemberhentian mereka, dari arah belakang gereja mobil box tadi menunggu seseorang untuk membuka pintu kayu lebar lebar hingga muat untuk jalan masuk seukuran mobil dan seseorang kembali menutup pintu setelahnya.

Membongkar barang dan siap untuk mengirim uang juga obat obatan yang menjadi pesanan Tuan Besar mereka.

Hingga beberapa orang bertopeng hitam masuk menyerobot para anak buah Kim yang sedang siap memindahkan box box persegi pada mobil lain. Kekacauan terjadi tanpa mampu di cegah, kedua buah kubu saling menyerang dan semakin banyak orang orang asing yang berdatangan dengan topeng hitam yang sama. Saling menikam, menusuk, mendang, melayangkan pukulan pada uluh hati juga tengkuk atau bahkan bogem mentah. Para anak buah Kim terlatih untuk melawan dengan beringas dan tidak kenal ampun terlebih beberapa didikan Junmyeon yang terkenal keras dan tanpa kenal lawan. Tapi dalam hal ini mereka kalah jumlah terlebih adu senjata sudah di pastikan akan menjadi teman kekacauan malam ini.

Dor

Dor

Dor

"Habisi mereka dan bawa lari uangnya."

Dor

Seringai licik itu ada di sana, seorang dengan setelan mahal yang mencolok. Berdiri di barisan paling belakang dari belasan anak buah bertopeng hitamnya, terlalu pengecut untuk sebuah baku hantam.

"Cepat sebelum peliharaan kim datang dan mengobrak abrik kita semua."

Ungkapan yang cukup kurang ajar kala yang di maksud adalah Junmyeon juga Jongdae. Cara yang bisa di sebut licik dan memuakkan.

Tetapi Junmyeon melihatnya, dia tidak jauh dari sana. Dengan segenggam teropong di tanggannya, berdiri di samping pintu mobil mercedes benz hitam miliknya. Jongin melirik dari samping pintu kemudi dalam diam. Sementara Minseok ada di mobil lain di belakang mereka dengan Jongdae.

"Kita masuk!"

Satu komando dan seketika Minseok juga Jongdae mulai masuk kembali ke dalam mobil untuk mengikuti mobil yang membawa Junmyeon lebih dekat dengan bangunan gereja yang hanya sebuah sampul. Mencegah lalat lalat yang tengah berpesta pora dengan bau anyir darah tidak bisa keluar dari dalam sana.

Tuan Jung mengumpat penuh kebencian kala tau tau dua anak buahnya sudah terlempar menabrak pintu lebar hingga terbuka seutuhnya, itu ulang Jongin juga Jongdae dari kedua sisi pimpinan muda mereka, Junmyeon berjalan dengan seringai penuh irama menatap wajah pucat dan tubuh mengigil banjir keringat, dia bisa melihatnya walau tertutup topeng hitam sekalipun. Sementara pimpinan mereka terdiam kaku. Junmyeon terkekeh alih alih mengamuk.

"Aku datang untuk melihat makan malam kalian, jadi kenapa berhenti?" Kearoganan menguar dengan jelas dan tidak ada sepatah kata yang sanggup untuk menjawab sapaan Junmyeon.

"Tuan muda, i-ini tidak seperti yang kau kira." Tergagap Tuan Jung menjawab.

"Penjilat." Komentar Jongin dimana Tuan Jung menatap penuh dendam pada lelaki tan itu.

Kembali terkekeh Junmyeon melanjutkan, " Seharusnya kau bilang jika ingin menghancurkan appa ku."

Menyeringai Tuan Jung memulai mendapat sinyal persahabatan, "Bila tuan muda bersama denganku maka seluruh nyawa dan pengabdian ini sudah pasti milik tuan."

Junmyeon tersenyum sekilas lalu mengucapkan, "Bersenang senanglah."

Secepatnya angin membawa perintah Junmyeon yang berarti untuk membersihkan semuanya Jongin melayangkan pukulan pada perut lelaki yang menjadi anak buah Tuan Jung, Jongdae yang mendapat layangan bogem menahan lengan itu dan memberikan sentuhan keras dengan ujung siku pada bola mata memutar lengan kebelakang dan mematahkannya hingga bunyi 'krak' ada disana.

"Keparat kau junmyeon!" Tuan Jung berteriak histeris karena melihat Jong Brother menyerang tanpa ampun. Mengambil pistolnya dan menodongkan kepada Junmyeon, sedangkan Junmyeon ikut mengambil pistol dan sama sama menodongkannya pada Tuan Jung hingga-

Dorr

Tuan Jung tergeletak tak bernyawa dengan timah menembus dahinya. Junmyeon menoleh ke belakang disana ada Kyungsoo yang sudah berdiri siaga dengan Taehyung dan Jungkook di sampingnya. Minseok segera mengambil langkahnya menjauh menuju mobil namun di hadang oleh sebuah mobil jeep yang baru saja sampai -orang orang Jung datang di saat pimpinan mereka tewas- menyeringai Minseok menarik lengan kemejanya ke atas.

"Sampah!"

Dan dua orang lelaki langsung menerjangnya, menghindar Minseok mengambil Glock pemberian Junmyeon sebelum berangkat tadi dan memukul tepat di tengkuk, lalu berbalik cepat menghindari bogem dan menyasar uluh hati dengan keempat jari tangan.

"Akkhh."

"Biar kami yang urus!" Jungkook segera datang menghajar siapapun yang mendekati Kim tertua dan Kyungsoo masi berada di tempatnya menembak siapapun yang mendekati hyungnya, memberi jalan untuk Minseok masuk ke dalam mobil dan melaju dengan mobil Jhope di belakangnya. Mereka memiliki misi tersendiri.

Sementara Jongin dan Jongdae 'merapikan' bagian dalam gedung, Jungkook dan Taehyung mengurus bagian luar, kali ini rencana mereka jauh lebih tersusun dengan Taehyung yang bertarung melindungi Kyungsoo dan Jungkook yang bertarung lebih keluar untuk menghajar orang orangan Jung dan Kyungsoo adalah pembersih mutlak bagi yang menyentuh jarak terdekat dengan Jungkook. Kyungsoo jauh lebih fokus dan tenang dalam pembawaannya.

Sementara Junmyeon menikmati setiap momen dimana darah berceceran dan suara tembakan yang bersahutan. Jangan tanyakan bagaimana polah Jongin karena dia sudah bersenang senang dengan dunianya sendiri. Memelintir leher lawan, menusukan pisau tepat di uluh hati lalu meberikan bogem mentah tepat di mata hingga memar, menyasar setiap titik vital. Jongdae sendiri yang tengah tercekik seutas kain dari arah belakang berbalik memegang kedua lengan di lehernya dan membanting lelaki itu ke lantai di depannya hingga bunyi remuknya tulang menjadi pengisi malam Jongdae. Akan sia sia dia melatih ototnya jika tidak di gunakan dengan baik.

"Hah. . .hah. . .hah!"

Terengah bersama Jongin dan Jongdae menatap sekeliling lautan darah saling bertumpukan. Jongin menyeringai senang mengusap pelipisnya yang robek karena terkena sasaran kayu. Sementara Jongdae mengusap telapak tangannya dengan sapu tangan -menghilangkan darah yang menyiprat disana. Dan Junmyeon melangkah lebih dalam setelah lama terdiam di ujung pintu, karena kedua adiknya tadi selalu menyasar siapapun yang datang mendekati Junmyeon di depannya.

Menuangkan cairan bensin dari arah mobil hingga ke luar gedung Junmyeon membuat jejak cairan, lalu Jongin dan Jongdae mengekor keluar di belakangnya memberikan sebuah korek api dan-

Buug!

Dduaarr!

Satu wilayah selesai. Taehyung, Jungkook dan Kyungsoo bergabung setelah selesai dengan Jongin langsung menarik Kyungsoo di sampingnya.

"Aku jadi sedikit menyesal belum mengambil beberapa lembar uang di dalam sana." Celetuk Taehyung mendapat tatapan jengah dari Jongin.

Sementara tidak menunggu lama ponsel Kyungsoo berbunyi menandakan pesan masuk yang langsung di berikan pada Junmyeon. "Jhope sudah selesai."

"Hyung juga sudah menyelesaikan pekerjaannya." Sambung Jongdae.

"Kita berkumpul sekarang!" Perintah Junmyeon.

"Baik!"

Brunm

Bruummm!

.

.

.

.

.

Taekwoon menatap jam tangannya dengan gusar menunggu dua mobil mercedes benz dan sebuah jeep hitam mendekat, menarik napas panjang menenangkan diri.

"Hah!"

"Aku tidak menyangka jika mencoba berkhianat walau dengan anaknya sendiri akan semendebarkan ini." Keluh Taekwoon seorang diri.

Dia mungkin sedang gila karena segala kemungkinan buruk terus hinggap di benaknya. Hingga tiga lampu mobil menyorot Taekwoon dari jauh baru dia merasa lebih tenang.

"Aku aman sekarang."

Junmyeon keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobilnya dengan cara melempar ke arah Taekwoon, di ikuti Jongdae, Jongin dan Kyungsoo. Sementara Minseok keluar dari mobilnya.

"Semua sudah aku siapkan."

"Hmm aku tau."

"Aku akan siap menyusulmu jika terjadi sesuatu di sana, kim."

Junmyeon menatap Taekwoon lama dan meberikan pelukan singkat pada dokter muda yang selalu ada di sampingnya selama ini.

"Tolong jika sudah bertemu dengan yixing ciumkan pipinya untukku." Ucap Taekwoon di telinga Junmyeon yang di balas dengan tendangan lutut di perut Taekwoon.

"Uhhuk!"

Mereka tetaplah sama dan sebuah helikopter mendarat bersiap untuk mengantar Junmyeon pada pesawat mereka.

Ya, jika kalian ingin bertanya apa kim bersaudara akan meninggalkan Seoul untuk pergi ke Changsa. Maka jawabannya adalah iya.

Dengan semua kekacauan yang Junmyeon lakukan maka inilah saat yang tepat untuk mengalihkan perhatian Tuan Kim dan melarikan diri.

"Aku titip pak tua itu padamu."

Setelah mengucapkannya maka Junmyeon terakhir naik dan helikopter mereka terbang membelah langit malam. Taekwoon menatap Taehyung, Jungkook dan Jhope bergantian.

"Tugas kita masih ada ya?" Tanya Taekwoon sambil menggaruk tengkuknya, takut.

"Sepertinya begitu hyung," ungkap Jhope maju menyerahkan ponselnya.

"Tinggal kau klik dan akan terdengan boom." Intruksi Jhope ambigu.

Taekwoon mengangkat alisnya dan reflek memencet tombol merah di layar pipih Jhope.

Duuaarr!

Duarrr. . . . .Duaarr!

Reflek yang baik bukan, dan Taekwoon terbengong mendengar ledakan terakhir. "Oh tidak aku baru saja menhancurkan semuanya."

.

.

.

.

.

Hakyeon merasa nafasnya tersendat lebih daripada sebutir kerikil kala semua laporan dari kaki tangan Kim bersamaan saling bersahutan dan satu lelaki yang di yakini anak buahnya datang terpogoh pogoh dengan tangan gemetar menyerahkan sebuah amplop coklat.

Dengan langkah cepat ia menuju ruangan Tuan Kim dan membuka tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Menimbulkan kernyitan tersendir dari sang pemilik ruangan yang tengah menatap beberapa angka di depannya.

"Tuan harus melihat ini." Terburu menyerahkan amplop dan membiarkan Tuan Kim membuka dengan terburu.

Lembar demi lembar, sebuah potret pengkhianatan dan sabotase aset aset dari Kim terpampang jelas di sana.

Prang!

"Siapa yang memulai ini hakyeon." Gemeletuk gigi Tuan Kim menahan semua kemarahan dari ulah para mafia kecil yang tak ubahnya sebuah sampah.

"Tu-tuan Jung dan-" Hakyeon menghentikan perkataannya tidak berani.

"SIAPA!"

"Tuan muda junmyeon juga ikut setelah melenyapkan tuan jung di sana, tuan." Penuh penyesalan Hakyeon

"Setelah?" Tanya Tuan Kim tidak mengerti.

"Saya menduga tuan muda mengetahui rencana dari tuan jung dan sudah menghabisi mereka lebih dahulu di sana namun entah kenapa justru membakar semua yang ada di sana tanpa menyelamatkan kiriman kita juga aset asetnya."

"Anak kurang ajar."

"Da-dan . . . Helikopter kita juga di bawa serta." Ucapan Hakyeon melemah di akhir.

"Keras kepala, blokir penerbangan menuju china sekarang!"

Brak!

"Tu-tuan. . .ma-maaf." Seorang lelaki duduk bersimpuh di depan Hakyeon dan Tuan Kim penuh ketakutan.

"Ki-kita kecolongan tuan."

Dan Tuan Kim menutup kedua matanya penuh penekanan berucap, "Apa lagi sekarang?!"

"Tiga gudang terbesar hancur oleh sekelompok orang dan 5 penyimpanan senjata kita terbakar habis oleh ledakan. Maafkan kami."

Tuan Kim yang awalnya berdiri siap menghabisi lelaki pembawa pesan di depannya terduduk pasrah di kursi kerjanya. Menyadari puluhan milyar kerugian pasti akan segera terhitung di kepalanya. Junmyeon kurang ajar.

"Kiriman obat, uang hasil transaksi dan sekarang penyimpanan senjata. A-ada lebih dari 45% jika di total pada 3 gudang disana." Jelas Hakyeon takut takut.

"Ratakan kekuasaan jung, semuanya aku tidak peduli apapun itu, ini pelajaran untuk mereka yang akan berniat menjadi pengkhianat berikutnya."

"Dan satu lagi hakyeon, telfonkan jongdae untukku."

"Tu-tuan. . .sayangnya tuan muda jongdae dan minseok juga ikut serta, mereka telah bersama dengan kembalinya tuan muda Jongin dan kyungsoo."

"BRENGSEK!" Amarah Tuan Kim meledak.

Jadi dia baru saja kecolongan anak anaknya sendiri? Oh, bukankah ini sangat menarik.

"Jadi semua ini ulah anak anakku sendiri! Fuck! Hakyeon berapa milyard yang harus mereka tanggung!"

Dan Hakyeon menggigil untuk mampu menghitung kerugian hebat ini, hasil transaksi besar dari Vietnam belum lagi senjata simpanan penuh tiga gudang, kerusakan gudang lainnya dan obat obatan yang harusnya bisa mencukupi rumah sakit - rumah sakit besar harus hangus dengan mudah.

Mengerikan!

"Cari tau apa lagi hartaku yang di habiskan junmyeon." Perintah Tuan Kim dimana kedua orang di ruangannya langsung meninggalkannya sendiri sebelum mendapat sasaran timah panas atau bahkan benda pipih yang akan menebas lehernya.

"Anak kurang ajar itu, kenapa tau sekali cara membuat uang ayahnya habis." Monolog Tuan Kim seraya memijat pelipis. Tidak habis fikir jika hampir separuh haryanya hangus dalam sekejap dengan begitu mudah.

Bukankah akan sulit bukan untuk menstabilkan keadaan ini kembali, tuan kim?

Dan kau beruntung memiliki anak yang sangat pintar.

.

.

.

.

.

Tidak ada lagi barang yang dapat diselamatkan. Tidak ada lagi barang yang tersisa. Semua hangus terbakar dalam waktu yang cepat. Tuan Kim dapat meratakan kepemimpinan Jung sebagai bawahannya dan seluruh patner lain dalam perencanaan pemberontakan.

Tapi, kalian tentu tau jika kerugian yang di tanggung Kim jauh lebih besar daripada perataan wilayah Jung. Tuan Kim berfikir ulang untuk melanjutkan eksporasi wilayah China terutama wilayah Zhang.

"Mungkin ada baiknya untuk menyerahkan china kepada tuan muda junmyeon." Nasehat Hakyeon dapat didengar dengan baik oleh Tuan Kim.

Dengan nafas gusar dan pening yang mulai mendera Tuan Kim memerintahkan Hakyeon menghubungi Bora setelahnya.

"Sambungkan pada bora."

Tuut. . .tut. . .tut. . .

klik

"Tuan."

"Junmyeon akan sampai di china sebentar lagi."

Ada jeda keterdiaman di sana.

"Urus dia dan semua keperluannya. Aku tidak mau hartaku kembali habis karena ulahnya lagi, bora."

"Ba-baik, saya siap menunggu kedatangan tuan muda."

Klik

Menghela nafas panjang Tuan Kim melirik Hakyeon, "Bisa kau berikan padaku obat pereda sakit kepala, hakyeon?"

.

.

.

.

.

Bersamaan dengan terputusnya sambungan sebuah pesan email masuk, Bora terperanjat untuk sesaat beranggapan bahwa mereka berdua sebenarnya berjodoh. Karen kemungkinan besar China atau khususnya Zhang akan kedatangan kedua tamu besar mereka.

Ya, Kim Junmyeon dan juga Wu Yifan.

Seketika Bora mulai mendial salah satu nomer yang di hafal, sekalipun hanya tersambung pada mail box milik sang dokter muda namun Bora tetap melanjutkan tujuannya.

"Ketika kau mendengarkan pesan ini maka bersiaplah untuk pergantian kepemimpinan, pak tua kita sudah memyerah dan bersiaplah untuk menyambut tuan muda. Kau tentu senang karena satu hal untuk penunjang kesembuhan pasienmu akan ada tapi ingatlah bahwa statusmu akan berubah setelah hal itu dan kau harus bersiap untuk membuka topengmu dokter muda."

Dan biar aku kenalkan kepada kalian inilah salah satu tim terbaik kepemilikan Tuan Kim.

Dengan dua sisi berbeda namun pada tujuan yang sama. Ya, tujuannya hanya satu menjaga Zhang tetap berada di rotasinya tanpa dia ketahui.

Karena sampai kapanpun baik Tuan Kim maupun putra pewarisnya Kim Junmyeon tidak akan pernah menyerahkan Zhang kepada siapapun.

Yeah, cukup rumit ternyata berurusan dengan Kim.

.

.

.

.

.

Yixing berdiri pada lantai ke -10 dari gedung bertingkat yang masih separuh pembangunan,masih sepi, masih belum terpakai.

Masih terlalu pagi untuk bangun, terlalu pagi untuk melarikan diri dari pengawasan para orang orang gege-nya. Tapi Yixing sudah di sini, menunggu matahari menampakkan seluruh sinarnya menikmati waktu dalam kesendirian dan begitu tenang. Tapi semua tidak berlaku untuk waktu yang lama.

Tap. . . .tap

Sekejap terdapat kerutan di dahi Yixing menyadari bahwa bukan hanya dirinya di sini. Namun satu suara yang dapat membuat darahnya berhenti dan angin serasa menamparnya pagi ini. Terlalu pagi untuk membuat jantungnya berpacu cepat.

"Aku. . . . .tidak menyangka kita akan bertemu disini."

"Yixingie. . ." Baritone yang membuat Yixing membalikkan tubuhnya dengan perasaan campur aduk.

Menatap nanar lelaki yang ada di hadapannya, "Ti-tidak mungkin."

Berucap terlampau lemah Yixing menatap ke arah lain dengan panik mulai merambati benaknya.

"Kumohon. . .tetaplah disana, ku mohon."

"Ada banyak yang ingin aku katakan padamu, xing-err."

Ini pagi yang kelam baginya

Terlalu pagi untuk melihatnya

Terlalu pagi untuk melarikan diri darinya

Terlalu pagi untuk merasakan jantungmu berdegup dengan banyak rasa

Dan

Terlalu pagi untuk membuka buku lama

Terlalu pagi untuk menginginkan satu nama ada di sini.

.

.

.

.

.

Tbc

A/n: siapa di sana?

Ada yang tau? Tulis di review oke,

Saya sakit di awal minggu setelah publish chap 3 dan sehat di minggu setelahnya namun sudah lebih 3 hari kemarin saya kembali sakit. Cuma flu tapi efek ke tubuh total dan saya berdoa kalian readers semua sehat. Fighting buat yg lagi siap siap ujian.

Totalitas Yixing chap depan so tunggu saja kejutan saya. Terimakasih buat yg uda ketemu saya di review kemaren,

elis spr

Besok sayang ketemunya, hehe maaf lama nunggu momen mereka ya. Semoga suka chap ini, maaf sebelumnya.

dindaebak94

Ga mati kok sayang, hehe mian ga bisa cepet buat ini maaf banget. Semoga suka chap ini ya,terimakasih semangatnya

Minge-ni

Hehe minge uda hafal cara penulisan jalan ceritaku nih kek nya, jadi malu malu badak ini. Chap depan aku janjikan momen sulay, sabar ya buat chap ini. Semoga suka terimakasih masih setia dengan ACE, maaf sebelumnya.

heeriztator

Maaf banyak nunggunya lama, saya usaha buat terus nulis, ga apa buyar masi ada jejak di belakang kok buat flashback. Diriku juga kadang buyar siapa aja pemain yg sudah saya bunuh di ACE season 1 hehe. Terimakasih banyak semoga suka chap ini heeriz

fy zhang

Untuk sementara memang harus liat Yixing terancam sih karna posisi china juga tidak baik. Saya bakal usaha banget buat Yixing kuat walau sulit tapi berharap juga dirimu bakal suka sama chap chap ACE yg bakal up kedepannya. Maaf ya sebelumnya,makasih

bunnysheep91

Makasih sudah suka sayang. Ya bener banget, Tuan Kim memang ga suka dg cara Yixing balik ke china karnanya dia usaha tetap pegang Yixing. Semoga suka chap ini ya

Dudu Luv Nini males login

Nunnaaa aih aku kangen nuna, ga knapa napa nun slow aja junmen emang lagi gila kok butuh penawar dia. Semoga nuna suka chap ini

Guest

Maaf baru up ya sayang, semoga suka

See u next time guys, bai

Luce,

16 Maret 2018