Warning : Rated M

Untuk adegan kekerasan dan mohon tidak di tiru.

.

.

.

.

.

.

Showluo membuka pintu kamar apartemen Yixing dengan terburu di temani satu orang anak buahnya yang menunggu di luar apartement dia menyusuri setiap tempat mencari adiknya yang sudah kabur di pagi buta. Tidak tau bagaimana Yixing dapat ide untuk meninggalkan kamarnya terlampau pagi

"Tuan showluo a-ada tamu untuk tuan." Anak buah dari Showluo bergetar penuh rasa patuh dalam menyampaikan pesan di ruangan Showluo berdiri saat ini lalu undur diri.

Tap . . .tap . .

"Hyung. ."

Baritone lembut menginfasi seluruh ruangan dari Zhang tertua dalam sekejap aura tegang mencekam merangsek masuk di apartemen Yixing.

Sedangkan Showluo langsung terdiam kaku dengan tatapan tajam dari arah berdirinya "Apa yang kau lakukan disini!"

Junmyeon ada di sana, ya kalian tidak salah bahwa yang berdiri dengan aura berbahaya adalah pemimpin muda Kim, di ikuti dengan Minseok di belakangnya melangkah mendekat lebih dalam menemui Showluo.

"Xiumin. . .kau juga disini?!" Ucap Showluo.

"Kami ingin menemui yixing." Jawab Minseok tegas.

"Siapa yang mengijinkanmu ke changsa!" Showluo berucap terlampau marah.

Junmyeon satu langkah maju mendekat, "Aku begitu ingin bertemu dengannya hyung."

Showluo mengusap wajahnya kasar, dengan raut frustasi dia menggeleng pelan penuh penyesalan dan berharap Junmyeon mengerti, "Tidak bisa junmyeon."

"Tidak seperti apa yang kau fikirkan." Sambungnya kembali.

Junmyeon menyerngit dengan tatapan tajam, "Ada apa hyung?"

"Semua memburuk." Ungkap Showluo dengan penyesalan.

"Aku tidak bisa membawamu padanya dan bahkan aku berharap kau kembali secepatnya." Jelas Showluo

"Itu tidak akan terjadi sebelum aku berhasil menemui Yixing!" Bantah Junmyeon.

"Junmyeon, keadaan yixing tidak seperti terakhir kau melihatnya. Keadaanya memburuk setelah kejadian itu, bahkan dia terus menangis dan menyalahkan diri sendiri karena kau dan juga yifan." Terang Showluo.

Minseok terdiam dalam rasa kaget bersamaan dengan Junmyeon mendengarkan penjelasan Showluo, tatapan sang pemimpin muda Kim melembut persekian detik memejamkan mata sekejap berharap dapat merengkuh belahan jiwanya lebih cepat.

"Dimana dia sekarang," Geram rendah Junmyeon.

"Tuan muda!" Panggil Dasom.

Deg!

Yang tau tau membungkukkan badan dan masuk ke dalam ruangan dan menyapa Junmyeon juga Minseok.

Showluo ada di sana mematung seketika, dia tidak salah dengar bahwa dokter kepercayaan keluarga miliknya menyebut Junmyeon dan Minseok dengan panggilan 'Tuan Muda'.

"APA APAAN INI!" Marah Showluo.

Dasom menyeringai dengan polesan bibir merah muda menawan, berdiri dengan begitu percaya diri di sebelah Junmyeon. Lalu menatap Junmyeon dengan bungkukan badan penuh penghormatan.

"Saya kim dasom yang di perintahkan tuan kim untuk memandu anda selama di changsa."

Dan Showluo semakin terbakar emosi mendengarnya, "BRENGSEK!"

"Penghianat!"

Junmyeon memperhatikan dalam keterdiaman yang menguntungkan sementara Minseok sudah jelas jelas menyungingkan senyuman melihat ulah pesuruh appanya.

Begitu manis.

Tanpa ragu Dasom berucap, " Ya, kau benar tuan muda showluo. Saya penghianat yang anda percaya sebagai dokter sekaligus psikiater bagi zhang yixing."

"Aku akan membunuhmu!" Geram Showluo berbahaya membuat Dasom terkekeh ringan.

"Namun sebelum itu ada satu hal yang harus anda ketahui." Dasom menatap Showluo lalu berhenti berbicara untuk menatap Junmyeon dengan tegas.

"Wu yifan ada di changsa pagi ini sedang menemui zhang yixing."

Bagai tersambar petir di pagi buta, Showluo meraih meja untuk dia jadikan pegangan sedangkan Minseok menatap penuh kernyitan dan Junmyeon sudah semakin menggelap auranya dengan tangan terkepal.

Yixing mereka, hal berharga mereka saat ini tengah bersama dengan orang yang tidak seharusnya ada.

"Tuan muda harus segera pergi saat ini." Jelas Dasom memberikan ponselnya dengan gps yang menyala berkedip.

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 4: I hate you, Junmyeon.

Jika membencimu adalah cara terbaik

untuk tidak mengulang masa masa kelam itu

Maka akan aku lakukan

Asal semua kenangan itu hilang dan kembali terpendam

Namun kalian kembali datang dan bertemu

Bisakah kita untuk tidak saling mengenal?

Akan aku lakukan jika itu harus membencimu.

Jadi pergi dan biarkan aku sendiri

Karena tidak ada rasa dalam tubuhku yang ku ingat selain rasa sakit

Itu karena mu

Jadi biarkan. . .cukup biarkan aku sendiri.

.

.

.

.

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

.

Yifan berucap terlampau lemah pada Yixing yang menatap ke arah lain dengan panik mulai merambati benaknya.

"Kumohon. . .tetaplah disana, ku mohon."

"Ada banyak yang ingin aku katakan padamu, xing-err."

Berapa banyak?

Berapa banyak kenangan yang harus dia ingat kembali?

Kenapa harus rasa sakit yang dia ingat?

Sedangkan semua rasa bahagianya dan kenangan indah tidak lagi dia miliki.

Apakah ini cukup adil baginya,

Bertanya tentang rasa adil bukankah mereka berdua sama saja saling merasakan sakit. Meskipun dalam porsi yang berbeda.

Yixing menggigil dalam keterdiaman yang tegang dengan Yifan di depannya terlihat lebih rapuh namun tetap berbahaya. Melangkah sedikit demi sedikit dengan tatapan mata sendu nan lembut terarah lurus. Mensugesti Yixing dalam dekapan rasa nyaman dan menenangkan kepanikan yang jelas terlihat. Dia tidak tau harus mampu berbuat apa.

Pemikiran Yixing sudah terlempar pada semua masa lalu mereka, dalam balutan rasa sakit, kalut, ketakutan, sedih dan kecewa. Sudah lebih dahulu hanyut dalam kesedihan dan gelapnya hari kemarin hingga hanya mampu terduduk lemas, Yixing menatap Yifan di depannya dengan air mata yang sudah mengalir. Menunjukkan bahwa si kecil Zhang lemah tanpa perlawanan berarti sedang terperangkap dalam masa lalu yang kelam. Yifan semakin di rundung penyesalan melihatnya dengan gerakan ragu ragu dia menyentuh pelan wajah Yixing. Mengusap lemah pipi pucat di sana. Begitu pelan seolah ketika dia salah bergerak dia akan menghancurkannya, bagai sebuah barang porselen yang begitu berharga.

Yeah, walau sebenarnya Yifan telah menghancurkannya.

"Maafkan aku. . ." Yifan berucap begitu pelan dan sakit melihat Yixing bereaksi dengan air matanya yang turun.

"Maaf."

Yixing mendengarnya terperanjat reflek menjauh mundur hingga terantuk badan mobilnya sendiri. Efek ketakutan terlihat jelas setelah mendengar permintaan maaf Yifan. Membuat Yifan tertunduk semakin tersiksa melihatnya.

Semua bayangan penyiksaannya, semua trauma akan rasa sakit di tubuh juga jiwanya kembali terguncang. Seseorang yang begitu dia hindari kembali ada di depannya.

Tertawa penuh rasa perih Yifan menatap miris pada dirinya sendiri dan juga Yixing yang menjauh dan berucap, "Aku menanamkan ketakutan begitu dalam padamu . . . . . xing err bisakah-"

Ada keraguan di sana, ada ketakutan untuk ungkapan selanjutnya. Yifan berhenti berucap dan menatap Yixing yang sudah mendapatkan dirinya kembali, lebih baik.

"Bisakah. . kita tidak saling mengenal. . ." Rangkai Yixing mengutarakan pendapatnya.

"Kumohon. . .biarkan aku pergi." Sambungnya lemah.

Dan Yifan hanya mampu terdiam sejenak merasakan hatinya kembali sakit, namun rasa sakit yang berbeda. Sakit melihat Yixing bereaksi sebegitu rapuh kala berhadapan dengannya.

"Maafkan aku. . ." Ungkap Yifan lagi.

.

.

.

.

.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja!"

Ckrak!

Sebuah pistol mengancam Junmyeon dari belakang kepalanya bahkan sebelum dia mampu berbalik, Minseok terkejut penuh menatap tidak percaya pada Victoria yang mengacungkan senjata dengan tatapan tajam memperingati pada pergerakan yang akan mereka perbuat. Victoria sudah mendengarkan semuanya bahkan pengakuan Dasom sekalipun hingga dia yang baru datang dapat mengacungkan pistol kepada Junmyeon mencegahnya pergi.

"Diam di sana karena-" Tekan Victoria.

Ckrak!

"Kau yang diam!" Itu Bora yang tersenyum manis menujukkan separuh wajahnya di balik tubuh Victoria.

Ckrak! Gerakan cepat Dasom ganti membidik Showluo dengan dua pistol sekaligus -mengancam-

Skak!

Oh guys, coba lihat bagaiman kesungguhan Tim buatan Tuan Kim benar benar baru terlihat kekompakannya sekarang. Kala tugas mereka di hadapkan pada keselamatan para Tuan muda mereka.

Bora menekankan moncong pistolnya lebih dalam ke belakang kepala Victoria, "Turunkan senjata dan jalan kedepan, CEPAT!"

Tap. . .tap. .

Bergerak penuh kemarahan dan takut, Victoria mengikuti setiap perintah Bora. Lalu kemudian duduk di ujung kursi dengan tangan yang berhasil di ikat olehnya dan mulut terbungkam dasi.

"Tuan bisa pergi sekarang," Ujar Bora dengan senyum dan Dasom menurunkan senjatanya.

"Keparat! Apa kau fikir aku mampu kau takuti hah!" Showluo terlampau marah dan mulai memberontak.

Junmyeon tidak menghiraukan perkataan Zhang tertua karena dia sudah berfokus pada Gps dan Yixing dalam benaknya. Minseok yang mulai mengeluarkan kunci mobil dan berlari menuju basement di ikuti Junmyeon.

"Bukankah kau memiliki urusan denganku tuan muda zhang?" Dasom berucap terlampau santai.

"Aku tidak percaya bahwa selama ini mempercayai penyusup seperti mu!" Ucap Showluo.

"Lalu katakan, kau lebih memilih wu yifan? Daripada tuan mudaku sendiri?" Tantang Dasom.

Bora hanya berdiri lebih di belakang Dasom, diam melihat bagaimana tingkah kedua Zhang. Dan Victoria hanya mampu menatap dalam kemarahan juga kecewa karena bagaimanapun setahun lebih mereka percaya pada wanita korea yang sialnya adalah pesuruh Kim.

Showluo terdiam melihat pertanyaan yang di lontarkan Dasom dan hanya mampu mengeram marah, "Kalian akan hancur setelah ini. . .aku pastikan hal itu."

"Kau tidak bisa melakukan hal itu," Ucap Dasom dengan senyuman percaya diri.

Victoria tertarik menatap lebih pada Dasom menunggunya melanjutkan perkataan.

"Kalian akan hancur jika menujukkan identitas kami dan kim."

"Tuan besar zhang sekarang mempercayaimu sebagai pihak yang di beri tanggung jawab menjaga yixing. Kau sudah pernah sekali gagal menjaga yixing didimu dan jika sekarang kau mengatakan kebenaran kami. Tidakkah itu justru menyerahkan dirimu pada hukuman tuan besar?"

"Kau yang menyarankanku sebagai dokter dari yixing di saat semua dokter gagal dalam melakukan pendekatannya pada yixing. Dan zhang showluo kau membawaku sebagai satu satunya dokter yang bisa berinteraksi dengan yixing dan memberi respon untuk pertamakalinya."

"Kau tidak akan bisa mengatakan kebenaran kami juga adanya tuan muda di sini, zhang showluo."

"Lagipula, coba pilih. Kim atau wu yifan. Jika kau mengungkapkan kebenarannya aku yakin wu yifan semakin berani mendekati yixing dan kau juga tidak akan mampu menanganinya sendiri."

"Keparat kau!" Bentak Showluo

"Aku tidak peduli jika harus menyerahkan diri kepada baba demi keselamatan yixing!" Sambunya lagi tanpa gentar.

"Kalau begitu aku juga akan lebih mudah untuk menyiksa yixing mengantarkannya pada kematian dengan ingatan menyakitkan miliknya." Ucap Dasom dengan melipat kedua tangannya di depan dada.

Balik mengancam! Nice!

"KAU!" Bentak Showluo.

Ckrak!

Moncong pistol menyentuh leher Victoria dengan jemari Bora siap menarik pelatuk yang sudah sedia.

"Turuti atau kalian akan hancur dan mati! Apa kau fikir kim akan melepaskan adikmu dengan mudah?" Tekan Bora.

Oh Shit, mereka berdua benar benar melakukannya dengan baik bukan?

Inilah 'Black and White' dari Tim buatan Tuan Kim, begitu berbahaya dan terencana dengan baik. Mendekati target dengan begitu dalam lalu memaksa dan mengekangnya untuk tetap berada dalam genggaman.

Menyembuhkan namun juga dapat mematikan, terlebih setelah ilmu kedokteran adalah hal yang di miliki. Begitu mudah untuk menunjukan ancaman yang berarti bagi mereka.

"Percayalah. . . .semua akan baik baik saja jika kalian mengikuti permainan kami." Ucapan Dasom begitu manis terdengar di telinga Showluo namun dia tetap menujukkan emosi yang mendalam.

"Kau juga tau dengan pasti bahwa trauma yang ada dalam fikiran yixing memiliki dua kemungkinan menjauhkannya sejauh mungkin dan itu butuh waktu lama atau memperbaiki kenangannya dengan keberadaan tuan muda junmyeon." Jelas Dasom.

"Pikirkan kedudukan zhang yang terancam di china saat ini. Dan siapa yang kau pilih? Wu yifan atau tuan mudaku?" Ulang Dasom lagi.

Dan Zhang Showluo juga Victoria dibuat terdiam dalam pilihan sulit untuk beberapa waktu. Bora melangkah mendekati Dasom dan menyentuh pundaknya dengan tepukan.

"Kami beri waktu kalian berfikir, tapi untuk sekarang aku minta kalian baik baik di sini." Ucap Bora menarik Dasom mundur dan-

Tuk . . . .tuk. .tuk!

"Tidurlah!"

Sebuah bola asap efek bius menyebar dengan cepat setelah Bora lepas dan menutup pintu kamar itu cepat.

Cklek!

"Kita harus cepat menyusul tuan muda!" Ucap Bora menyadarkan Dasom

"Ya,"

.

.

.

.

.

"Menjauh darinya!"

Yifan terdiam menatap seseorang yang mendekat dari arah belakang Yixing. Menatap mengejek, "Untuk apa kau disini!"

Sementara Yixing sudah terdiam kaku, dia masi mendengarkan dengan baik baritone kelam yang dalam memerangkap hatinya dan belum keluar dari sana. Masih sama dengan terakhir dia mendengar suara itu, dengan perlahan menatap kebelakangnya antara kesanggupan dan tidak jika memang benar suara itu adalah suara seseorang yang selama ini diam diam dia inginkan kehadirannya. Dan Yixing terkejut bukan main kala benar adanya Junmyeon berdiri dengan kedua tangan berada di saku celananya, nampak begitu gentle dan berbahaya, aura kelam tidak terbantahkan dengan senyum menawan yang hampir hampir menyeringai begitu kuat, bengis dan kejam menatap lurus pada Yifan.

Mereka berdua bertemu lagi, mengulang kembali pertemuan yang selalu tidak berakhir mengenakkan.

Namun ketika tatapan mata hitam itu bertemu dengan bola mata yang lebih kecil, bola mata hitam kelam itu melembut dalam sekejab sangat cepat secepat angin berhembus dengan perasaan hangat yang entah datang dari mana masuk begitu saja menghangatkan Yixing. Junmyeon berucap tanpa suara yang masih dapat Yixing mengerti, "Aku merindukanmu."

Seolah seluruh perhatian Yixing hanya tertuju padanya. Yifan masih disana menatap dengan baik bagaimana Kim Junmyeon menyedot seluruh atensi dalam diri Yixing dan dia terbakar dalam cemburu yang mengukung seluruh tubuhnya. Maka dengan hal itu jemarinya merambat perlahan mengenggam jemari dingin Yixing, dalam wujud protes pada si kecil.

Yixing bereaksi meremat ujung long coatnya dalam kekalutan yang menjerat kedua kakinya tanpa mampu bergerak. Menunduk melihat bagaimana dua lelaki di sini berhadapan kembali, terdapat ketakutan besar dalam fikirannya. Mengulang masa lalu yang begitu dia hindari.

"Seingatku china tidak lagi menerima turis korea." Ucap Yifan menyeringai melangkah lebih kedepan untuk lebih mudah meraih Yixing pada dekapannya.

"Keh, kau terancam dengan kedatanganku di sini?" Jawab Junmyeon.

"Omong kosong, yixing err. . . . aku berharap pembicaraan kita lebih daripada ini. Aku belum menyelesaikan semuanya yang ingin aku katakan padamu, mungkin lain kali." Jemari Yifan kembali mengambil sebagian besar perhatian si kecil dengan penuh kelembutan dan hati hatian dengan usapan pelan di lengan kanannya.

"Aku bilang menjauh darinya!" Desis Junmyeon berbahaya. Terbakar oleh cemburu yang menganggu dan dia bisa melihat jika Yifan sana ganti menatap penuh kecemburuan padanya.

"Kau bukan keluarganya! Jadi jangan membatasinya!" Balas Yifan tersulut emosi, menarik Yixing berlindung di balik punggungnya.

"Dan kau bukan lagi tunangannya!" Balas Junmyeon cepat dengan gigi bergemeletuk.

Deg!

Tunangan? Kata itu lagi.

Secepat kata itu keluar dari mulut Junmyeon maka secepat itu juga Yixing terperanjat dalam satu kata. Dalam benak Yixing arti kata pertunangan merupakan sebuah cincin dan janji suci tapi semuanya tiba tiba menghitam dan berganti warna semerah dan sepekat darah. Semakin membuat tubuhnya mengigil dalam rasa takut yang merajut sebuah benang tak kasat mata menjerat hingga bergerak sulit dan bahkan bernafas pun dia kesusahan.

"Junmyeon!" Panggil Minseok cepat kala memperhatikan ekspresi wajah Yixing yang memucat.

Junmyeon terperanjat bagaimana Yixing merespon perkataan akan sebuah kata 'pertunangan' dengan cepat menunjukkan ekspresi ketakutan yang merambat dengan cepat terbawa angin mengelilingi mereka yang berada di sana.

Yifan yang menjadi pihak paling dekat dengan si kecil berusaha meraihnya kembali, mengulurkan tangannya dengan perlahan namun Yixing bereaksi berbeda.

"Pe-pergi kalian!" Ucap Yixing terbata melepaskan jemari Yifan dan menatap takut Yifan juga Junmyeon bergantian.

"Yixing ah!" Panggil Junmyeon mencoba mengambil atensi Yixing.

"Ti-tidak! Pergi!" Jawab Yixing terbata dalam selimut ketakutan yang kuat terpancar.

"Aku tidak menginginkanmu! Aku membencimu!" Balas Yixing cepat masih menatap Yifan dan Junmyeon seraya melangkah mundur dengan teratur menjauhi kedua lelaki di sana.

"Yixing err!" Panggil Yifan penuh rasa cemas.

Dor!

Suara tembakan menggelegar dan Junmyeon reflek memperhatikan sekitar dengan cepat. Meskipun fokus utamanya tetap pada pergerakan Yixing yang semakin tidak terkendali. Si kecil tengah larut dalam kenangan lama yang menjerat dalam selimut kepedihan begitu kuat.

"Aku bilang pergi!" Teriak Yixing mulai tidak terkendali dalam merespon uluran tangan Yifan. Junmyeon mengumpat melihat Yifan semakin berani dan keras kepala dalam menangani Yixing.

"Diam disana!" Bentak Junmyeon.

"Tidak mau, aku bilang pergi!" Ucap Yixing lantang menatap Junmyeon dengan rasa sakit yang tercetak jelas di sorot matanya dengan tangan masih menampik uluran Yifan.

"AKU BILANG DIAM!" Teriak Junmyeon tidak terbantahkan dan Yixing terduduk menangis ketakutan saat itu juga.

Dor

Dor

Dor

Dor

"Bunuh mereka semua!"

Oh shit!

Junmyeon refleks melihat ke belakang dimana banyak orang berbaju hitam dengan wajah tertutup memulai baku tembak, Junmyeon juga Minseok langsung mencari tempat bersembunyi dengan cepat dan mulai mengeluarkan pistol masing masing. Walau dalam benaknya Junmyeon mengumpat karena membiarkan Yifan menarik Yixing untuk bersembunyi di balik mobil.

Sialan, Junmyeon kecolongan.

"Hyung!" Panggil Junmyeon menatap Minseok.

"Baik!" Jawab Minseok mengerti maksud Junmyeon, segera memasang handsfree dan mulai mengambil langkah mengintip beberapa orang orang berbaju hitam dan membidiknya.

"Jongin kami di kepung!" Ucap Minseok.

"Aku ke sana!" Jawab Jongin mulai bergerak.

Dor

Dor

Dor

Sret!

Yifan menarik Yixing dalam sekali gerak untuk ikut menunduk dan berlindung di balik mobil sementara dia menyiapkan pistolnya dan mulai menembaki orang asing yang tiba tiba mengepungnya. Belum lagi sebuah helikopter tampak terbang di samping gedung dan soalnya ada dia penembak jitu di sana untuk ikut mengepung mereka dari arah luar gedung ini.

"Menunduk!" Perintah Yifan lembut.

"Yifan?" Beo Yixing menatap dengan pikiran yang campur aduk tidak fokus pada sekitar.

Yifan tau dan sangat terbaca dengan jelas di wajah Yixing bagai lembaran buku yang terbuka bahwa dia tengah terperangkap dalam masa lalunya dan kebingungan, "Hei, semua akan baik baik saja oke?"

Dia menenangkan dalam aura panik mencekam yang mulai merambat mengambil seluruh refleks tubuh. Meski dalam benak Yifan mengumpat karena kondisi yang tidak sepenuhnya menguntungkan.

Dor

Dor

"Keparat itu!"

Junmyeon tidak bisa untuk tidak mengumpat kala tembakan terus menerus terdengar tanpa henti, sialan orang orangan china ini. Junmyeon dapat melihat Jongin dan beberapa pengawal datang mulai menghabisi orang orang asing disana dengan cepat dan tanpa ampun.

Maka dengan segera dia ikut memasang handsfree dan mulai mengeluarkan Glock 20 miliknya. Dan membidik satu persatu lawan untuk dia antarkan pada pintu neraka secepatnya.

Dor

Dor

"Cari dimana yixing dan bawa dia kedalam mobil jongin!" Perintah Junmyeon lewat handsfree pada Jongin dengan tatapan fokus pada lawan lawan di depannya.

"A-apa?"

Jongin mengerang dalam hati kala harus berurusan dengan Yixing. Apa lagi dia dengar dari handsfree milik Minseok jika Yixing menolak untuk mengikuti perintah Junmyeon dan masi terperangkap masa lalunya.

Dor

Dor

"Akan aku buatkan celah untukmu hyung!" Putus Jongin tidak mau berurusan dengan Yixing.

"Jujur jika berurusan dengan yixing hyung aku tidak sanggup, seharusnya kau menyuruh minseok hyung karena wanita dengan wanita." Sambung Jongin seraya menyasar kepala seorang hingga pecah.

Terkutuklah ucapan Jongin yang membuat Minseok juga Junmyeon ingin menendang lelaki itu jika tidak ingat situasi.

Jongin melangkah mendekati mobil dimana Yixing dan Yifan dengan hati hati, mereka terkepung dua orang lelaki dari arah barat laut sementara dari arah timur sebuah penembak jitu di atas helikopter.

Junmyeon refleks mengikuti pergerakan Jongin di depannya, Yifan tampak berada lebih depan dari Yixing -melindunginya-.

Tanpa menunggu waktu lama Junmyeon membidik badan Helikopter dan menyasar baling balingnya dengan tujuan membuat goyah orang orang dalam sana dan menjaga jarak untuk menjauh sementara Jongin langsung melesakkan timahnya pada orang orang yang ikut di jadikan target Yifan. Jongin dengan segera mengambil geranat di kantung bajunya dan melempar ke arah helikopter dan-

Dduaarrr!

Membuat Yifan tersadar dan segera berbalik mengacungkan moncong Deagle yang berhadapan langsung dengan Glock 20 milik Junmyeon. Junmyeon menyeringai, akhirnya mereka berhadapan kembali.

Dor!

Tidak menunggu lama Junmyeon menyasar, melesakkan tembakan yang jika di ukur beberapa centi lagi hampir mengenai telinga kanan Yifan yang terbelalak dengan keberanian dan keakuratan yang tajam.

Bruk! Seorang lelaki berbaju hitam tergeletak tepat lurus di belakang Yifan membuat ia segera berbalik melihat pelipis yang sudah berlubang dan Junmyeon mengambil kesempatan itu untuk menarik Yixing tanpa mau tau pendapat si kecil Zhang.

Dan katakan Junmyeon itu gila atau apa terserah. Tapi dia masih sempat untuk mencuri ciuman dari bibir cherry Yixing dengan lumatan dan gigitan kecil di depan Yifan dalam suasana semencekam ini.

"Oh, hell." Umpat Jongin melihat perbuatan gila hyungnya.

Yifan terbakar cemburu sedangkan Yixing begitu kesadarannya terkumpul mengelak, memberontak dalam kesempitan yang begitu mencekam kala setelah dia di cium dia di lempar ke dalam dekapan Jongin yang bersiap membawanya pergi. Berteriak setengah sinting dan memaki Junmyeon dan siapapun yang menyentuhnya dimana Jongin mulai kesusahan mengatasi Yixing untuk dia bawa ke dalam mobil sementara anak buahnya terus menghajar orang orang baju hitamyang terus berusaha membidik Junmyeon juga Yifan.

Mereka berdua sialan memang bertarung di tengah kekacauan yang sebenarnya janggal.

Sedangkan Junmyeon dan Yifan sudah berhadapan tanpa peduli kekacauan sekitar bagai mereka ada dalam dunia mereka sendiri. Junmyeon menyeringai menjilat bibir mengecap rasa Yixing yang masih tertinggal dengan begitu nikmat, "Kau berutang satu nyawa, bagaimana jika kau bayar dengan nyawamu?"

"Brengsek kau kim! Kenapa bukan kau saja yang mati di sini." Mendesis berbahaya Yifan meludah marah.

"Lebih baik kau saja bedebah!" Junmyeon berucap dengan cepat melompati kap depan mobil yang tidak di sangka sangka pergerakannya oleh Yifan.

Meluncur dengan menyiapkan kaki untuk menyasar tubuh depan Yifan yang saangnya dapat di hindari oleh Yifan. Junmyeon di hadapkan pada bogem yang siap di layangkan,dia menghindar ke kanan lalu ganti menyasar tulang pipi Yifan dengan bogem. Terhuyung Yifan mengeram lalu mulai mengayunkan kaki kirinya memgenai perut Junmyeon hingga sang pemimpin Kim selangkah ke belakang.

Belum puas Yifan mengambil pisau lipatnya untuk dia bawa mengenai apapun yang dapat dia sasar dari tubuh Junmyeon. Junmyeon terus menghindar kala pisau itu mengayun dalam ayunan terburu oleh emosi. Yifan masih terbakar bagaimana cara gila Kim dalam menunjukkan kuasanya. Dan utu berefek pada ayunan pisau yang begitu berantakan. Benda itu sebenarnya bisa mencelakai Junmyeon tapi tanpa pengendalian diri dan emosi kesempatan itu bukan sebuah jaminan.

Junmyeon menendang tangan Yifan yang memegang pisau hingga benda itu terlempar, dia mengerang lalu mengambil pistol dalam saku celana dan menembak Junmyeon tanpa akurasi yang tepat hingga hanya mengenai lengan Junmyeon, yang mana Kim justru tertawa di tengah darah yang mengalir.

Begitu menyiksa Yifan dalam batin mencekik yang sempurna, Junmyeon menyukai hal itu. Sangat menikmati momen ini.

Yifan tau jika dia di tertawakan, "Setelah ini aku pastikan kepalamu dan ini tidak akan meleset."

Junmyeon melakukan tendangan tanpa di kira dan memukul hingga berhasil mengunci tangan Yifan lalu membanting punggungnya bertemu semen dingin yang di jadikan pijakan. Belum selesai Junmyeon meraih kerah baju Yifan yang melemah kesakitan dalam sekejam membenturkan punggungnya kembali dengan mobil di belakangnya.

Bruakk!

"Uhhuk!" Terduduk lemah Yifan memegangi dadanya yang ikut nyeri.

Junmyeon tidak berbicara apapun hanya menatap dengan tatapan dingin tidak tersentuh dalam selimut sifat bengis yang kuat. Menunggu Yifan yang bangkit dengan sisa sisa tenaga.

Yifan sendiri merasa masih mampu berdiri dan berlari menyerang, Junmyeon tidak menunggu lama mengeluarkan kemampuan taekwondonya hingga membuat Yifan kembali terkapar.

"Biar aku hitung berapa kau memiliki hutang nyawa padaku." Menyeringai Junmyeon mengacungkan moncong Glock 20 miliknya dan

Dor!

"Dua buah."

Brumm

Bruummmm

Dor

Dor

Dor

Bora dan Dasom datang dimana keduanya langsung melompat keluar dari mobil berlindung dan mulai menghabisi orang orang asing disana untuk memberi kesempatan pergi bagi Tuan Muda mereka.

.

.

.

.

.

.

Kyungsoo reflek bangun dari duduknya ketika suara pintu terbuka dan bunyi ketukan sepatu memasuki rumah besar Henry yang sekarang menjadi rumah mereka di Changsa. Jongin masuk ke dalam rumah dengan luka lebam di beberapa wajahnya dan sosok yang Kyungsoo tunggu akhirnya datang juga.

"Hyung!" Seru Kyungsoo bersemangat melihat Yixing yang ikut serta.

Dengan cepat Kyungsoo berlari dan menubruk si kecil Zhang tanpa mau tau jika Yixing bisa saja oleng dan terjatuh jika tidak ada Minseok di belakangnya.

Minseok menatap penuh kerhunyitan kala hanya ada Jongin di sofa nyaman ruang tamu, tengah menyamankan diri dengan segelas wine dan wajah yang tengah di rawat beberapa pelayan rumah. Semantara tidak terlihat Junmyeon maupun Jongdae saat ini. Sedangkan Kyungsoo masih nyaman nyaman saja memeluk Yixing seolah hyungnya adalah boneka manusia besar.

"Kyungie ayo kita antar yixing menuju kamarnya." Ajak Minseok yang masih belum melihat indikasi Kyungsoo melepas Yixing.

Kyungsoo tersenyum amat manis lalu mengangguk akan membawa Yixing menuju kamarnya. Tepat saat itu kepala pengawal Lim memperkenalkandiri pada Yixing dan mulai menunjukkan kamar padanya.

"Bagaimana hyung dan semuanya ada di sini?" Untuk pertama kalinya Yixing mengeluarkan suaranya setelah terdiam di dalam kamar bernuansa hitam dan perak.

Minseok tersenyum mendudukkan Yixing di sofa hitam dalam kamarnya yang mulai sekarang akan dia tempati.

"Kami merindukanmu." Jawab Minseok. Namun, Yixing tidak mempercayai begitu saja ucapan ringan tanpa riak emosi itu. Meskipun perilaku Kyungsoo amat sangat menjelaskan bagaiman lelaki bermata bulat itu sangat merindukannya. Yixing memberinya sedikit usapan lembut di lengan Kyungsoo, dia memeluk Yixing begitu erat.

"Rasanya begitu lega dapat bertemu denganmu hyung." Ucap Kyungsoo.

"Bersihkan dirimu sekarang xingie dan kita bisa mulai makan setelahnya," Bujuk Minseok memberikan usapan lembut di wajah si kecil Zhang.

"Baiklah."

"Akan aku siapkan makanannya!"

Dan Kyungsoo berlari keluar dengan semangat. Minseok tersenyum melihatnya dan beralih menatap Yixing yang terdiam sendu tanpa adanya pergerakan yang berarti maka dari itu Minseok yang faham berucap,

"Butuh pelukan?"

Lalu si kecil segera berlari untuk menubrukkan tubuhnya dalam kehangatan yang nyaman. Sepercik rasa takut kembali merambati tubuh Yixing yang jelas terasa pada Minseok di sana.

.

.

.

.

.

Junmyeon memasuki rumah dengan deru nafas kasar dan emosi yang belum sepenuhnya hilang. Melangkah masuk dia menemui Jongin dengan wajah yang sudah di obati namun di biarkan terbuka, berdiri mengikutinya di belakang. Junmyeon lalu mengambil telepon untuk mendial nomer seseorang, "Ke ruangan kerjaku sekarang!" Lalu mematikan dalam detik berikutnya.

"Ada tugas untukmu setelah ini." Berucap tanpa menengok ke belakang Junmyeon berjalan melewati lorong dan berbelok ke arah kanan.

Jongin hanya membeo masih mencerna dengan baik baik ucapan Hyungnya, mengikutinya masuk ke dalam ruang kerja yang sudah ada Minseok di sana bersama Jongdae.

Junmyeon melempar jasnya kasar ke arah punggung kursi dan duduk, melepas kancing pada kerah kemeja putih yang menyiksa, "Dimana dia?"

Pertanyaan Junmyeon dapat di baca dengan baik oleh Minseok, siapa yang di maksud jika bukan lagi si kecil Zhang, maka dengan itu dia menyahut, "Aku baru saja meninggalkan beberapa menit kala dia mandi."

Cklek

Seorang palayan wanita datang dengan sebuah nampan berisikan perlengkapan untuk membersihkan luka di wajah Junmyeon. Minseok menyerngit dan menatap Jongdae yang reflek mengarahkan dagunya pada Jongin. "A-ada apa?" Peka Jongin.

"Apa yang terjadi?" Tanya Minseok.

"Hyung terkena pisau dan tembakan dari wu yifan." Jawab Jongin santai sementera berbeda dengan Minseok yang melebarkan bola matanya menatap menjurus tidak percaya bagaimana Junmyeon bisa membiarkan hal itu terjadi. Junmyeon hanya menyeringai kecil sambil membuka kemeja dan bertelanjang dada di depan pelayang wanita satu satunya yang ada di ruangan itu dimana tentu saja dengan wajah memerah padam, Tuan Kim yang begitu di eluh eluhkan seisi rumah tengah mempertontonkan tubuh atletisnya yang luar biasa panas, ingatkan aku bahwa tidak semua orang bisa melihat pemandang indah itu. Jongin mengumpat pelan melihat sifat bajingan hyungnya yang terlaku suka berlaku semaunya.

"Emosinya meluap tanpa kendali yang baik membuat tembakannya meleset." Timpal Junmyeon sekenanya.

"Biarpun begitu dia sudah di hajar habis habisan tadi, itu lebih daripada setimpal hyung." Ucap Jongdae menyerahkan segelas wine kesukaan Junmyeon di depan meja kerjanya.

Meredakan emosi katanya.

"Lalu kau membunuhnya?" Tanya Minseok benar benar penasaran juga merasa meninggalkan sebuah bagian paling seru yang seharusnya dia tau.

"Jika dia cukup tau diri dia seharusnya menembak kepalanya sendiri untuk membalas hutang nyawa padaku." Kearogannan itu menguar mengisi seluruh bagian ruangan seiring perkataan Junmyeon yang tengah memainkan cairan bening dalam gelas kristalnya.

Jongin hanya memutar matanya jengah sendiri dengan pemikiran Junmyeon sedangkan Minseok masih tidak menyangka, bagaimana bisa Junmyeon bermurah hati jika berurusan dengan rival dan bahkan ini adalah Wu Yifan. Baru dia mau membuka mulutnya untuk bertanya lebih lanjut tentang tindakanmya Junmyeon sudah lebih dulu menjauhkan lengannya untuk dia bebat sendiri tidak membiarkan sang pelayan melakukannya dan menyuruh untuk keluar.

"Aku ingin bertemu dengan mereka." Ucap Junmyeon seraya menatap baik baik lengan yang terbebat rapi.

Jongdae yang sadar akan perkataan Junmyeon segera mendial nomer seseorang dan terdengar suara wanita menyambut di ujung line sana dan mulai berucap lugas dalam bahasa korea kental dengan kepatuhan yang melekat bahkan menyahut kata 'baik' berulang kali.

"Mereka akan datang 15 menit setelah membersihkan keadaan di sana." Jawab Jongdae menutup telponnya. Junmyeon tidak berucal apapun hanya menatap datar dan beranjak dari tempat duduknya untuk meninggalkan ruangan kerja.

"Hyung tunggu." Jongin menahan dengan panggilan yang cepat membuat Junmyeon berbalik menatapnya.

"Tugas untukku?" Tanyanya menggantung dengan telunjuk menunjuk wajahnya sendiri.

Junmyeon memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana berucap tentang tugas yang akan dia berikan, "Cari tau siapa mereka dan dimana markasnya, kau pergi dengan-"

"Kyungsoo!" Sekonyong konyong menyahut tanpa tau aturan, Jongdae reflek memukul belakang kepalanya keras.

"Tidak!" Junmyeon menjawab cepat dan tegas dengan sorot mata kemarahan yang kental.

"Akh! Yak, kenapa tidak!" Tanpa tau aturan Jongin berteriak protes tak tau posisi dan sikon di sekitar.

"Tidak dengan kau membawa adikku!" Ucap Junmyeon dengan nada posesif dan Minseok serta Jongdae reflek menatap tidak suka pada Jongin cepat.

"Ya, jangan ijinkan dia junmyeon. Tidak ada pekerjaan yang akan selesai jika kyungsoo ikut." Sela Minseok cepat.

"Aku justru yakin dia akan betah dengan misinya tanpa tau kapan waktunya pulang." Ucap Jongdae memanas manasi kedua hyungnnya, membuat Jongin panas dingin di buatnya.

Yeah tidak jauh jauh juga prediksi mereka tentang Jongin.

Junmyeon faham jika Jongin tak mampu membantahnya terlebih dengan ketidak setujuan dari Jongdae dan Minseok melangkah meninggalkan ruang kerjanya untuk menemui seseorang yang sudah mengerogoti hatinya akan banyak tebakan.

.

.

.

.

.

Kyungsoo menatap senang bagaimana Yixing memakan banyak dari makanan yang dia bawakan, menunggui si kecil Zhang dengan sabar dan telaten sambil tersenyum bahkan terkekeh pelan kala melihat cara makan Yixing yang menurutnya lucu, hingga yang di perhatian merasa risih dan mulai cemberut. Kyungsoo tidak peduli dan tetap berada di sana hingga ketika Yixing ganti terdiam dengan cara merajuknya Kyungsoo meledak oleh tawa sampai memegangi perut. Hyungnya begitu lucu saat mengunyah beberapa makanan dan dia tidak salah karena tertawa oleh hal itu.

"Hehehe, hyuung aku sangat senang kau ada di sini dapat memakan masakanku tidak taukah kau bahwa aku merindukanmu." Ucap Kyungsoo lagi dengan tulus dan Yixing hanya cemberut untuk kesekian kalinya kembali makan hingga suapan terakhirnya.

Beberapa pelayan di sana tanggap segera mengambil peralatan makanan Yixing dan membawanya dengan troli kecil. Menyisakan minuman dan beberapa potong buah pencuci mulut untuknya di meja.

"Bisakah aku mendapatkan air mineral saja?" Yixing bertanya dengan hati hati dan Kyungsoo tersenyum untuk hal itu, bagaimana cara Yixing menyampaikan keinginannya.

"Segera, tunggu dan jangan kemana mana."

Kyungsoo berpesan seperti meninggalkan anak kecil berumur 5 tahun, ketakutan akan hilangnya jejak si kecil Zhang dari tempat semestinya. Yixing sendiri hanya menatap dengan tatapan polos dan diam di tempat seolah faham dan menuruti keinginan Kyungsoo yang melesat keluar kamar.

Memainkan jemari dengan ujung sweater warna kuning yang telah melekat di tubuhnya, terasa hangat dan nyaman namun ada satu yang mengganjal dalam benaknya, yaitu dengan bau parfum yang melekat, begitu maskulin dan menenangkannya. Seperti mengingatkannya pada seseorang.

"Tapi. . . .siapa?" Monolog Yixing seorang diri.

Yixing terlalu sulit mengingatnya bagaimana hanya rasa was was yang begitu kuat saat inu dia tau.

Cklek

"Kyungie apa ini-" Yixing terdiam menatap sosok yang ada di depan pintu. Berdiri dengan kedua tangan yang diletakkan di dalam saku celana dengan kemeja hitam yang melekat pas. Menatap Yixing begitu intens dan tajam namun ada sepercik kilatan yang tersendiri yang tidak dapat Yixing mengerti.

Tap . . . Tap. . . Tap

Secepat angin membawa Junmyeon memasuki kamar Yixing secepat itu pula Yixing menatap penuh kebencian, sama seperti dia menatapnya kala tadi pertama meteka bertemu. Bayangan masa lalu yang kembali ke atas permukaan dan terlihat jelas setelah menatap wajah tampan lelaki di sana.

Kim Junmyeon disana, berdiri dengan begitu tenang yang dapat membius udara di dalam ruangan kamar Yixing. Membuat sang pemilik kamar merasa sesak nafas untuk alasan yang tidak dia ketahui dengan pasti.

Menetralkan pernafasannya Yixing memilih menatap ke arah jendela kamar yang menampakkan rimbun pepohonan luar sambil bertanya, "Untuk apa kau kemari?"

Junmyeon tersenyum bahkan lebih mirip menyeringai yang sayangnya justru terlihat semakin tampan juga menawan namun penuh aura berbahaya di sampingnya, "Inikah sapaan selamat datang untukku?"

Yixing mengeram tertahan menatap tidak percaya dengan selimut kebencian yang kental, "Kau tidak membutuhkannya!"

Junmyeon refleks terkekeh, bagaimana bisa kekasihnya -Junmyeon tidak membutuhkan persetujuan siapapun untuk klaim yang satu ini- begitu menarik di hari pertama mereka bertemu. "Tidakkah apa yang aku lakukan hari ini cukup untuk menjadi bukti kedatanganku, hm?"

Melangkahkan kakinya perlahan Junmyeon mendekat yang mana suara hentakan kaki itu membuat jantung Yixing jauh lebih tidak baik dengan rasa yang berbeda, sebuah kebencian dan alarm bahaya. Tubuhnya beraksi dengan cepat berdiri di ujung ranjang tempatnya duduk untuk mengantisipasi perbuatan Junmyeon.

"Aku membencimu! Maka pergilah!"

Dan benar bagaimana Yixing menduga duga, Junmyeon menatap Yixing dengan kilatan yang mengunci sekali gerakan tangan kanannya sudah mencengkeram dagu si kecil hingga membuatnya meringis.

"Aku sepertinya tidak bisa berlaku lembut padamu ya?" Tanya Junmyeon dengan seringai.

Yixing mengenggam tangan Junmyeon di dagunya dengan sama kuat berusaha melepaskan, menatap sang penguasa dengan tatapan terluka akan naiknya masa lalu dan juga alasan lain yang tidak bisa Junmyeon baca dari sorot mata itu lalu berucap, "Aku membencimu!"

Junmyeon terdiam membiarkan Yixing meracau dengan semua ekspresi kebenciannya. Dengan kedua tangan kecil yang menarik berusaha melepaskan cengkeramannya, hanya di balas seringai semakin lebar.

Yixing panik dalam kedekatan tubuh mereka dan parfum Junmyeon yang membuat kepalanya tiba tiba teringat sesuatu dan itu membuatnya sakit tapi bukan itu yang menjadi fokus Yixing sekarang melainkan bagaimana dia bisa menjauhkan diri dari Junmyeon

Sejujurnya Yixing tidak ingin melihatnya dia sudah cukup nyaman dengan semua yang dia lakukan sebelum ini dan keberadaan Junmyeon bagai alarm dalam tubuh yang menyala dengan begitu aura panik yanv menyiksa, "Pulangkan aku sekarang! Untuk apa kau membawaku kemari kim!"

Hingga jemari jemari tangannya bergerak acak memukul dada, lengan atau apapun yang dapat Yixing sasar yang mana mengantarkan jemarinya menarik bawah kerah kemeja Junmyeon hingga dua kancingnya terlepas dan melukai kulit bawah tulang selangka hingga berbekas goresan merah.

"Kenapa kau selalu menguji kesabaranku!" Desis Junmyeon berbahaya menatap hasil perbuatan Yixing dengan tajam.

Yixing mengigil dalam kepanikan yang tercetak jelas di wajahnya kala menatap raut menakutkan Junmyeon dalam kemarahan di depannya.

"Seberapa besar kau membenciku hm? Katakan?" Tanya Junmyeon merasa perlu menyadarkan Yixing bagaimana dan dimana seharusnya dia bertindak. Terlebih dengan penolakan dan semua sifat membangkang yang justru semakin Yixing tunjukkan, hal itu melukai harga diri tinggi seorang Kim Junmyeon. Terlebih ingatkan aku bahwa Junmyeon yang bertemu dengan Wu Yifan tadi memberikan efek yang buruk bagi stabilnya emosi.

"Sangat besar! Kau pembohong! Kenapa kau kembali setelah aku berjuang sejauh ini!" Teriak Yixing dan Junmyeon yang tidak tahan dengan sifat pemberontak yang Yixing tunjukkan segera mungkin menerjang tubuh kecil itu yang sayangnya Junmyeon mencengkeram lehernya, dimana Yixing terjatuh di atas ranjang dengan Junmyeon menatap membunuh di atasnya dan leher yang tercekik. Junmyeon tidak main main untuk hal ini dan jangan harakan sentuhan lembut kala dia berhadapan dengan sifat pemberontak juga membangkang Yixing.

"Junmyeon . .akh! Brengsek! Aku- mem-bencimu."

Junmyeon hanya menyeringai dalam seringai yang luar biasa menyeramkan dan tajam semakin menghimpit Yixing pada tempat tidur hingga kepalanya hampir hampir tenggelam dalam ranjang membisikkan, "Ingat satu hal ini, seberapa besar kau membenci pada akhirnya kau yang akan memohon merengek kehadiranku hingga menangis untuk memintaku tetap berada di sini."

Yixing kesulitan bernafas kala itu, dalam artian bagaimana Junmyeon menekan lehernya dengan kekuatan yang tidak main main atau hanya mengertak dan bagaimana ranjang empuk itu menguntungkan bagi sang penguasa untuk menyiksanya, alarm dalam tubuh Yixing berbunyi dengan nyaring bagaimana kaki kaki ramping itu bergetak dalam usaha yang tidak ada bandingannya.

Dan yang membuatnya semakin panik kala semua dari kebencian akan pentiksaan yang dia terima kembali ke atas ingatannya dan itu karena Junmyeon.

Cklek!

"Astaga! Xingie!" Teriak Minseok panik berlari menuju Junmyeon yang hampir hampir membunuh Yixing, menarik bahu Junmyeon untuk membawa tubuh itu menjauh dan menarik Yixing dalam dekapan penuh perlindungan. Menatap Junmyeon dalam kemarahan yang tercetak jelas seolah berteriak 'Apa yang kau lakukan junmyeon!' Minseok tidka peduli bagaimana Junmyeon akan tersinggung dengan caranya berbicara saat ini karena keadaan Yixing jauh lebih penting.

Namun Junmyeon masi terselimut kabut kemarahan dan hanya memalingkan wajah dalam pias yang masih sama. Yixing terisak penuh ketakutan dan gemetar hebat dengan sisa tenaga lemahnya mengais ngais kain fabrik Minseok seolah itu yang akan menyelamatkannya dalam tenaga yang tipis.

"Hiks- . . .aku membencimu!Hiks-

Hyung-uhhuk! hiks. . .aku tidak mau seperti kemarin- hiks!" Ucap Yixing dengan gelengan lemah dan wajah memerah padam dengan nafas naik turun yang cukup memprihatinkan.

"Xingie! Oh astaga, tenanglah sayang!" Minseok semakin mendekap Yixing menjauh dari Junmyeon. Beberapa pelayan ada di sana menaruh cepat air mineral yang kiranya bisa menolong keadaan.

"Hiks- terasa sakit-" Dan kesadaran Yixing hilang di ambang batas kemampuannya. Dengan pikiran panik akan sekitar dan terancam dalam keadaan yang lama menjadi satu dari banyak penyebabnya. Minseok panik seketika menepuk pipi si kecil dna memanggilnya, "Yixing! Hei bangun!"

Dan tisak terdapat sahutan di sana maka Minseok berteriak setengah gila, "Astaga panggilkan dasom sekarang!"

Yixing yang malang.

Junmyeon masih di sana, diam dan tidak menunjukkan ekspresi selain datar tanpa simpati. Lalu lajunya beranjak pergi kala dokter muda itu telah ada di sana.

"Keruang kerjaku setelah ini."

.

.

.

.

.

Tbc-

A/n:

Oke, ini pesan saya buat chap ini dan kedepannya, ACE mengambil rated M dan itu bukan hanya untuk adegan menjurus dewasa namun juga karna kekerasannya. Jadi bagi adek adek yang membaca juga siapapun itu mohon tidak menjadikan ini sebagai bahan tiruan, bisa membedakan mana fakta dan mana fiksi.

Maaf lama, saya mencicil dalam usaha yang sempit (masalah waktu dan beberapa lembur datang)

Saya tunggu keluh kesah kalian, maaf untuk typo dan sampai jumpa.

Guest

Terimakasih banyak semangatnya, ini moodboster bagi saya, semoga tetap suka.

elis spr

Yess, bener banget elis itu yifan, masi ngegantung semoga masi suka ya. Terimakasih

bunnysheep91

Makasih banyak doanya sayang, maaf itu sayangnya yifan dan req sulay mom akan berjalan seiring waktu ya. Walo ga tau kapan kekeke

Guest

Saya berterimakasih pada engkau, semoga suka ya

Dudu Luv Nini males login

Eoonn, haish aku sukanya manggil nunna.

Hehe kangen nunna aku tu, dan nuna uda hafal bnget sifat junmen deh. Maaf nun karna junmen sama yixing masih sama sama keras kepala.

dindaebak94

Sehun always ngeselin kali di sini mah, hehe uda ketemu tapi ya gitu

Guest

Kenapa kita kok jodoh keknya de, ini up malem tapioga ga ngaggu jadwal apapun itu. Terimakasih sudah nunggu dan review.

.

.

.

Luce,

25 Maret 2018