Dasom menatap sebentar pintu coklat di depannya dengan hembusan nafas perlahan dia membuka kenop pintu dan masuk, menemukan Junmyeon sedang terdiam menatap gemerlap malam dari jendela yang menunjukkan padatnya jalanan di bawah sana. Melangkah lebih masuk ke dalam menukan Bora sudah ada di sana berdiri menatapnya tanpa ekspresi.
Junmyeon berbalik dengan kedua tangan di lipat di depan dada, menatap datar namun tajam dan mengunci kedua gadis muda kebanggaan ayahnya. Berdiri sejajar, keduanya membungkuk untuk memberikan penghormatan atas kedatangan Junmyeon. Walau bagaimanapun mereka belum bertemu secara resmi dalam sehari ini.
"Senang dapat menemui tuan muda junmyeon di changsa." Ucap Bora.
Junmyeon mengangguk sebagai balasan dan berjalan mendekati rak kaca berisikan belasan botol wine, mengambilnya dan menuangkan ke gelas kristalnya, "Jelaskan padaku."
Ucapan Junmyeon bagaikan sebuah perintah mutlak. Maka dari itu Bora bersuara pertama, "Mengenai kemarin, saat ini keadaan china tidak dalam keadaan yang baik. Berbagai pihak sedang berusaha menjatuhkan zhang dengan gagalnya penyatuan keluarga bersama wu."
Bora mengatakan dengan kosa kata yang sangat hati hati, tau bagaimana Tuan Mudanya sangat sensitif terhadap beberapa fakta yang ada. Dan Dasom memperhatikan semua itu dengan baik. Berdiri di hadapan Tuan mereka terasa berbeda, jika biasanya mereka hanya berkirim kabar dan laporan sekarang mereka ada dengan mempertanggung jawabkan perbuatan yang mereka lakukan selama ini. Terkesan sangat tidak penting bagi kalian tapi bagi bagaimanapun Junmyeon melihat China dan Changsa harus tetap mendengarkan penjelasan keduanya, bukan bergerak dengan gegabah.
"Banyak dari mafia kecil yang semakin bersemangat menjadikan tuan muda yixing sebagai sasaran karena tau bagaimana kelemahannya. Karena itu showluo begitu mengawasi dengan baik adiknya."
Junmyeon menyerngit, dia tau bagaimana keadaan China yang tidak stabil tapi dia tidak menduga bagaimana banyak pihak hanya tertuju pada Zhang, bukan pada Wu. "Hanya pada zhang? Apa mereka tidak memiliki keinginan mengasar wu atau yang lainnya?"
"Sesungguhnya pergerakan pasar di china yang di pegang zhang juga mengambil alih pemikiran mereka, bagaimana zhang kehilangan 2 pasar besar dalam penyelundupan senjata ke wilayah paris dan beberapa negara di asia tenggara." Jelas Bora.
Pantas saja, semua terkesan bahwa Zhang hanya berfokus untuk bertahan saat ini tanpa adanya gertakan untuk menujukkan kekuatan mereka. Dan hal itu membuat Junmyeon tersenyum lalu meminum wine dalam gelasnya kembali. Menguntungkan namun juga beresiko, menguntungkan bagaimana dia akan sangat memiliki keuntungan pemecahan konsentrasi Zhang dan beresiko karena banyak pihak yang tidak dia ketahui akan mengambil kesempatan melukai si kecil Zhang.
"Hanya tikus tikus kecil rupanya?" Guman Junmyeon.
"Tapi tuan, saya berharap banyak tuan tetap mempertimbangkan untuk menyelidiki lagi dan saya mengajukan diri untuk hal itu."
"Tidak."
"Kau memiliki tugas lain, untuk hal ini aku akan menugaskan jongin, cukup beritahu dimana lokasinya dan dia akan bergerak dengan tim."
"Baik."
Brak!
"Kim junmyeon!"
Minseok mengerang, mendobrak pintu kerja Junmyeon tanpa mau tau apa yang lelaki itu lakukan di dalam. Bora juga Dasom menatap kedatangan Minseok lalu beralih menatap ekspresi Junmyeon yang berubah datar meletakkan gelasnya dan bersandar di depan meja kerjanya dengan aura tidak suka begitu kental menyelimuti ruangan. Tidak ada orang yang berani untuk merusak aktifitasnya tanpa tau diri, tapi ingatkan aku bahwa Minseok sama sekali tidak peduli akan hal itu karena saat ini dia hanya berfikir akan keadaan Yixing.
Berjalan masuk dengan nafas memburu yang terlihat jelas dan Jongdae yang tau hyungnya masuki ruangan Junmyeon segera menyusul, takut takut kalau dua orang itu saling tidak terkendali dengan baik. Bora undur diri setelah menyampaikan apa yang perlu dia beri tau kepada Tuan Mudanya dan keluar setelah Junmyeon mengibaskan tangannya sambil berkata, "Akan aku beritau tugas untukmu selanjutnya."
"Baik, saya akan menunggu perintah dari tuan muda." Ucap Bora patuh dan menunduk untuk berpamitan kepada Junmyeon lalu keluar ruangan setelah sebelumnya dia berpamitan dengan Minseok dan Jongdae di depan pintu.
"Ada apa?" Tanya Junmyeon tidak menunjukkan keadaan hati yang baik, Jongdae menggaruk belakang kepalanya dengan pikiran yang campur aduk.
"Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan junmyeon!" Tanya Minseok menahan emosinya yang hampir meledak.
"Aku hanya menujukkan padanya bagaimana dia harus bersikap." Jawab Junmyeon menatap penuh tekanan pada Minseok, dia terlampau tahu jika hyungnya akan mengamuk dengan tindakannya.
"Lalu apa kau sudah gila dengan hampir membunuhnya barusan?" Minseok berteriak tidak terima dengan jawaban juga perlakukan Junmyeon pada Yixing, karena bagaimana pun juga si kecil Zhang adalah masih adik manisnya yang dulu, yang selalu dia sayangi
"Dan kau tau jika sifat membantah dan pembangkang bukan bagian dari yang aku sukai." Desis Junmyeon berbahaya.
"Tapi berapa kali aku katakan untuk berhenti melakukan kekerasan kepada yixing!" Minseok belum berhenti untuk melakukan protes.
"Dia tidak akan mengerti jika tidak di beri pelajaran!" Ucap Junmyeon santai menenggak wine miliknya, meredakan emosi di ubun ubun karena perkataan Minseok.
"Kau menggunakan emosimu dan itu bukan hal yang baik."
"Lalu emosi siapa yang coba kau atur sekarang kim minseok!"
Junmyeon meledak tanpa penahan yang ada membuat Jongdae mengambil tindakan menahan lengan hyung kesayangannya untuk terdiam di tempat dan tidak berbicara kembali, Junmyeon dan emosi yang dia tunjukkan saat ini bukan hal yang baik bagi mereka dan kedua saudara ini cukup mungkin untuk saling membunuh jika mereka mau karena ketahuilah keduanya hanya berbeda tipis tentang ego jika itu berhubungan dengan Yixing.
Bagaimana Minseok benar benar menjaga adik kecil kesayangannya dan menilai jika perilaku Junmyeon tidak seharusnya dia lakukan pada Yixing. Sedangkan Junmyeon sendiri dalam hidupnya tidak pernah menerima penolakan ataupun bantahan dan ketika berhadapan dengan Yixing juga semua penolakan dan pembangkang yang dia keluarkan. Sungguh Junmyeon tidak punya kesabaran lebih karena dia terbiasa dengan anggukan patuh para orang orang di sampingnya.
"Biarkan saya menjelaskan keadaan tuan muda yixing, saya mohon."
Dasom menyela untuk menjadi penengah keduanya, Junmyeon menatap tajam pada Dasom yang menunduk penuh penghormatan di sana. Sepenuhnya tau jika dia baru saja melanggar sopan santun kepada Tuannya, mendengus tetapi Junmyeon juga tidak dapat mengelak kalau kalau hal itu juga lah yang menganggu fikirannya selama ini.
"Ya, katakan semuanya pada dia dan seluruh otak arogannya." Sungguh Minseok masih berani untuk kembali mengeluarkan ucapan pedasnya dan Jongdae harus mengusap wajahnya kasar untuk hal itu, maka sebelum Junmyeon membanting benda apapun yang dapat dia raih ke depan mereka segera mungkin Jongdae menyeret Minseok keluar dari ruang kerja meski di liputi dengan umpatan.
Percayalah Minseok belum selesai mengamuk Junmyeon jika itu berhubungan dengan Yixing.
"Maafkan saya sebelumnya. Sebelumnya saya berfikir kedatangan tuan muda di changsa akan mengembalikan semua keadaan tuan muda yixing." Dasom kembali membungkuk, permintaan maaf kepada Tuannya, selepas kepergian Minseok dan Jongdae.
"Sebelum kedatangan wu yifan, saya tidak pernah membayangkan bahwa pertemuannya akan saling tumpang tindih dengan wu yifan dan berhadapan kembali di tengah tengah zhang yixing langsung. Saya meminta maaf karena hal itu seharusnya saya bisa mencegah yixing untuk ikut serta bertemu."
"Itu bukan kesalahanmu, yifan reflek menemui yixing di changsa dan tidak menutup kemungkinan aku juga akan ada di sana." Junmyeon menjawab dengan memijat pangkal hidungnya ringan, meredakan pening di kepalanya.
"Tapi hal itu merubah semua keadaan, tuan muda Yixing kembali trauma akan hal hal itu."
Junmyeon melipat kedua tangannya di dada mendengarkan, Dasom menelan ludahnya perlahan gugup di perhatikan dengn intens oleh Junmyeon walau bagaimanapun aura kepemimpinannya sungguh berbeda dari yang dia dengar dari beberapa anak buah Tuan Kim.
"Masa kecil yixing ikut mempengaruhi, ketika kecil dia mengalami dua kali penculikan penyekapan dan menewaskan ibu kandung di depannya, dia mengalami guncangan yang cukup memukul saat itu hingga membuatnya menjadi kesayangan seluruh keluarga zhang selain karena dia anak paling kecil. Kemudian ketika dia awal bertemu dengan wu yifan, semua rencana pembunuhan selalu tertuju kepada dia, tidak terhitung jumlahnya. Itu ikut memberikan tekanan padanya. Setelah itu bersama dengan tuan muda junmyeon dan semua yang dia lewati akan tekanan dan beberapa siksaan, meskipun dia terkesan kuat namun tetap saja membekas dan menumpuk semakin banyak, dan di tambah lagi dengan perlakuan dari wu yifan di hari hari mendekati pertunangan mereka."
Junmyeon tidak menyangkal semuanya yang di katakan Dasom namun dia baru mendengar bagaimana ibu kandung dari Yixing terbunuh saat usianya masih sangat anak anak dan semua itu menjadi satu menumpuk dan bertumpang tindih. Dia bisa membayangkannya sekarang, bagaimana penolakan terhadap Junmyeon adalah hal yang wajar. Dia terlalu jera untuk sebuah pengalaman yang buruk.
"Ketika hari dimana tuan berhadapan dengan wu yifan itu merupakan pukulan terbesar yixing, dia merasa keberadaannya hanya membuat semua orang di sampingnya mengalami hal hal yang buruk. Semua sugesti itu dia dapat saat ingatan masa kecil dalam penculikan, para penculik itu melakukannya dan tertanam dengan baik. Tuan tentu tau jika ingatan anak anak jauh lebih sulit di hilangkan dan akan melekat selamanya."
"Ya, aku tau." Junmyeon memijat pelipisnya perlahan, mengetahui fakta tentang si kecil Zhang dan perjalanan hidupnya.
"Karena hal itulah saya bisa mengatakan jika tuan muda yixing terlanjur terjebak dalam semua pengalaman buruknya." Simpulan Dasom.
"Apa itu artmya keberadaanku mempengaruhi semua kemampuannya selama ini?" Tanya Junmyeon mengingat bagaimana beraninya Yixing pada awal pertemuannya.
"Sayangnya iya, tuan muda junmyeon begitu ada di dalam hati kecilnya namun hal itu juga yang membuatnya begitu menolak semua ketakutan akan hal hal yang akan dia terima di hari mendatang, beberapa bulan awal saya datang sebelum yixing menemui ketenangan hatinya seluruh memampuan menembaknya bahkan tidak lebih dari seorang anak amatiran."
"Percayalah tuan bahwa sebagian besar dari makan malamnya sangat mengingat nama tuan muda, tetapi saya menyesal karena pertemuan dengan wu yifan tadi merubah ketakutannya kembali seperti awal."
Junmyeon menyeringai dengan kilatan senang dan juga marah di saat yeng bersamaan bagaimana si kecil Zhang begitu berharap kedatangannya dan yang paling membuatnya dapat mengangkat wajahnya arogan adalah arti bahwa sebenarnya hati si kecil sudah dia dapatkan.
Yeah, meskipun semuanya kini berubah total dengan ketakutan Yixing yang lebih mendominasi. Junmyeon tidak peduli akan hal itu, dia akan tetap mendapatkan apa yang menjadi miliknya.
"Kau tidak perlu menyesal, kita lihat perkembangannya setelah ini. Asal pastikan bahwa tidak ada yang berani mengusiknya disini." Perintah mutlah dan tegas, menunjukkan bagaiman jiwa otoriternya menguar terhadap barang yang menjadi kepemilikannya. Seolah jika terdapat seseorang yang memasuki wilayahnya akan keluar dalam wujud tragis.
Tetapi percayalah bahwa Junmyeon tidak segan segan melakukannya untuk wilayah juga barang kepemilikannya.
Tertegun oleh pernyataan murah hati Tuannya Dasom menatap dengan bola mata membola, "Itu artinya tuan?"
Junmyeon bukan seseorang ya g berlapang hati memaafkan kesalahan sedikit saja dari bawahannya, teringat berapa banyak anak buah yang di buang percuma oleh Junmyeon -dalam artian di bunuh di tempat- emosi Tuan Muda kita satu ini memang masih sulit di tebak.
Yeah, jangan lupakan bahwa ini juga pengaruh kehadiran Yixing.
"Kita lihat perkembangannya tapi aku pastikan dia yang akan bertekuk lutut dan memohon bahkan mengemis di depanku." Ingatlah bahwa Junmyeon tetaplah seorang Kim dengan harga diri setinggi langit. Pernyataan luar biasa arogan yang sempat membuat Minseok mengamuk bukan berarti dapat di hilangkan setelahnya.
"Akan saya lakukan apapun yang tuan perintahkan." Membungkuk patuh menyenangkan jiwa Junmyeon dalam pertemuan pertama mereka.
"Hm, pergi dan lihat keadaanya."
Junmyeon menikmati kembali winenya dalam seringai yang melekat di wajah tampannya. Memainkan cairan dalam gelasnya sesuka hati. Tinggal sedikit lagi, maka semua yang begitu dia inginkan akan jadi miliknya.
Zhang Yixing.
.
.
.
.
.
Rainha code
Chapter 6: Learn to shoot, Yixing.
Coba bidik dan tunjukkan padaku targetmu
Jadilah anak baik yang penurut
Dan kau kembali melakukan semuanya semaumu
Tapi satu hal yang perlu kau tau
Tidak ada jalan keluar ataupun kembali saat kau disini
Bersamaku.
.
.
This is ACE Season 2
© Pearl Luce
Cast :
Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.
.
Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.
Pair : SuLay
and other.
Genre : Romance, Action, Crime
(Little) Hurt/comfort
Mafia life
Rated : M
This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)
Idea© D'Xp ft Luce.
.
.
Dont plagiat please! Show your own ideas as well!
.
.
.
.
.
Junmyeon menatap kedepan dalam kernyitan yang terbingkai di wajah tampannya, Jongdae mengulurkan telefon genggamnya seolah sebuah benda menjijikkan yang tidak di sukai. Dibalas tatapan tajam Junmyeon pada benda pipih sialan yang tersambung dengan seseorang di ujung line sana. Moodnya baru saja membaik dan sekarang rusak sudah.
Jongdae menyebutkan tanpa suara nama penelfon yang membuat Junmyeon mengalihkan pandangannya, lalu menyadarkan punggungnya nyaman di kursi kerja dengan satu kaki dia lipat di atas kaki satunya -isyarat Junmyeon menyuruh Jongdae untuk menerima panggilan itu seorang diri- memejamkan mata dengan kedua tangan di lipat di dada yang membuat Jongdae mengusap wajahnya kasar melihat kelakuan Junmyeon. Sedangkan bagi Junmyeon justru menghargai waktu bermaknanya, sialan memang.
Klik -sambungan teleponnya terputus.
"Ini tentang Yixing hyung."
Satu kalimat dapat membuat bola mata Junmyeon yang semula terpejam erat terbuka lebar, bagai ada magnet di dalam ucapan Jongdae, membuat sang empu terkekeh melihat reaksinya.
"Showluo hyung mengajukan seseorang untuk dia jadikan pesuruh dalam menjaga dan mengawasi yixing hyung disini."
Tertawa remeh Junmyeon menegakkan tubuhnya, sedangkan Jongdae lebih lebih justru tertawa geli sambil menatap ponselnya sendiri.
"Apa dia fikir ini sebuah tempat bermain anak anak sehingga harus ada yang mengawasi?" Monolog Jongdae yang hanya di balas dengusan Junmyeon.
Berdiri meninggalkan kursinya Junmyeon berpesan, "Biarkan jika itu membuatnya senang." Lalu mengambil langkah keluar dari ruangan meninggalkan Jongdae yang amsih sibuk dengan ponselnya.
"Jongdae." Panggil Junmyeon.
"Ya, hyung."
"Cukup awasi dan pastikan dia tidak macam macam. Aku tidak suka kegaduhan." Setelahnya Junmyeon berlalu menutup pintu tanpa suara dan mengarahkan langkah kakinya ke kamar Yixing. Sejujurnya dia membutuhkan ranjang empuk untuk merilekskan tubuhnya namun melihat beberapa pelayan mendorong troli berisikan minuman yang dia yakini dari kamar Yixing membuat minat untuknya tidur lenyap sudah.
Cklek
Junmyeon menutup kembali pintu kamar yang sudah berganti lampu menjadi temaram itu dengan perlahan. Dasom mendekat untuk membungkuk tubuhnya lalu bersuara kecil kepada Tuannya yang senantiasa menatap lurus pada gundukan selimut yang dia yakini sang empu sudah tertidur lelap, namun sekalipun sudah tertidur Junmyeon tidak bisa berkata tidak untuk berhenti menatapnya terlampau intens. Dasom bahkan harus memanggilnya dua kali untuk menyadarkan Junmyeon.
"Tuan muda yixing sudah siuman dan baru saja tertidur 10 menit yang lalu, dia mengeluh sedikit pusing dan saya sudah memberinya beberapa obat."
"Hmm."
Setelahnya Dasom undur diri pergi meninggalkan Junmyeon yang masih berdiri tegak menatap Yixing di ranjangnya. "Keras kepala." Monolog Junmyeon yang memilih duduk di kursi single menghadap ranjang Yixing, bersembunyi di tengah temaram bahkan gelapnya kamar dalam keterdiaman. Menghabiskan sepanjang malamnya menatap tajam dan intens si kecil yang terlelap dengan tenang dan akan keluar saat semburat langit sudah berganti warna menjadi lebih terang.
Junmyeon akan membawa kaki kakinya meninggal kamar Yixing dengan gontai saat pelayan masuk untuk meminta ijinnya menyiapkan segala keperluan si kecil Zhang di pagi hari. Dia hanya mengangguk tanpa suara dan melesat ke ruang kerjanya untuk menyadarkan kepala di kursi kerja, menghilangkan kantuk meski ujungnya tidak akan bertahan lama karena Jongin sudah di pastikan datang mencarinya di pagi hari.
.
.
.
.
.
Lebih dari seminggu Yixing tinggal bersama dengan Kim, seminggu pula Minseok dan Kyungsoo selalu menemaninya saat akan menjelang jam tidur malam, keduanya akan berebut untuk dapat yang pertama mencapai ranjang Yixing, lalu berakhir saling menindih tertidur hingga Yixing gerah sendiri.
Jongdae akan datang selanjutnya atau mungkin juga Jongin memindahkan kedua orang orang yang sudah terlelap itu ke dalam kamarnya dan membiarkan Yixing melewati malamnya dengan malam malam yang penuh rasa ketakutan hingga membuatnya berkeringat bagai berlari maraton bermil mil. Dia selalu terjebak dalam emosi juga ketakutan yang selalu ada dalam mimpinya.
Selalu dan selalu menjadi rutinitasnya.
Hingga ketika Yixing sudah menyerah akan semua rasa sakit juga ketakutan yang dia rasa.
Menyerah akan semua rasa lelahnya karena selalu di hantui.
Menyerah hingga membiarkan jiwanya terkukung oleh rasa takut.
Lalu saat itu datang dan jiwa Yixing terpendam jauh akan trauma hingga sebuah usapan kelembutan pemenang akan datang menghapus semuanya dengan mudah.
Sangat mudah, hingga nafasnya semakin lama semakin teratur tertidur pulas.
Itu Junmyeon
Dengan usapan lembut tangannya di dahi Yixing.
Satu dari banyak alasan yang membuatnya terjaga dan terdiam di setiap malam dalam ruangan gelap menatap seseorang yang tengah mengarungi tidurnya di atas ranjang.
.
.
.
.
.
Yixing mematut dirinya di depan cermin besar. Menatap dengan baik baik t shirt putih yang di balut jaket denim pada luarnya lengkap dengan celana denim yang sobek di bagian lutut, dia alih alih akan hangout dengan teman sebaya daripada dengan sekumpulan pria pria berbadan kekar juga seram khas para mafia. Salahkan bagaimana Kyungsoo yang pagi buta sudah membangunkannya untuk mencoba setelan ini. Yixing tidak akan bisa membantah untuk permintaan dari adiknya bermata bulat itu.
"Bukankah itu baik?" Tanya Minseok yang sudah memasuki kamar Yixing dengan setelan yang lebih santai, dengan jaket bomber navy dan kemeja black white vertikal di dalamnya.
"Sebenarnya kita akan kemana?" Yixing balik bertanya dengan kernyitan yang terlihat jelas di wajah.
Minseok sedikit meringis dengan jemari menggaruk asal belakang kepalanya, meredakan gugup. Takut takut Yixing tidak menyukai jawabannya, "Hanya keluar sebentar, Junmyeon menginginkan udara baru."
Fuck!
Lihat dan perhatikan pergantian raut wajah Yixing dalam sekejap dengan dahi yang sudah berkerut dan mimik musamnya, menunjukkan ketidaksukaan pada jawaban Minseok, "Dasar seenaknya!" Ucapnya seorang diri dan Minseok tahu jika saat ini Yixing sedang ingin mengamuk pada adiknya.
"Ayo keluar semua sudah menunggu."
Dan benar saja keluar dari kamar Yixing dapat melihat Jongdae dan Kyungsoo yang tengah berbicara suatu hal yang cukup serius dan Jongdae kemudian beralih mengambil ponsel yang nampaknya memastikan kendaraan. Kalau kaloan menanyakan Kim Jongin, maka jawabannya dia sedang menghilang beberapa hari ini, kata Minseok Jongin pergi untuk beberapa hari setelah keluar dari ruangan kerja Junmyeon sekitar 6 hari yang lalu, percayalah bahwa hal itu pula kenapa Yixing selalu menemui Kyungsoo merengek akan tidur bersamanya ketimbang Minseok yang hanya ikut meramaikan suasana mereka. Dan Junmyeon sendiri?
Sang penguasa ada di depan sana menatapnya dalam keterdiaman yang intens, begitu tajam dan dalam untuk menguliti Yixing dalam berbagai arah, tetap datar dan dingin seperti ketika mereka bertemu. Lelaki itu mengenakan setelan turtle neck hitam, overcoat navy dan celana senada terkesan santai dan tampan juga percayalah bahwa lelaki Kim itu tetap berbahaya dalam balutan yang alih alih lebih mirip model daripada sekumpulan mafia berbahaya, sekejap Junmyeon segera memutus pandangannya lalu berbicara sebentar pada seorang bawahan berbaju biru yang di balas anggupan patuh lalu menghilang di balik mobil.
Yixing di tarik lembut dari sebelah kiri yang ketika dia menoleh menukan Minseok dengan senyumannya. Membawanya ke dalam mobil yang sudah menunggu untuk membawanya pergi mengikuti rombongan di depannya. Entah kenapa ini justru seperti rombongan tur perjalanan wisata dengan mobil hitam berderet yang melaju di jalanan, atau justru terkesan berlebihan.
Minseok berujar senang sepanjang perjalanan karena dapat melihat China kembali bersama Yixing, terus berceloteh di sepanjang perjalanan dengan jemari tangan yang menggenggam jemari Yixing atau hanya menepuk pelan lututnya, semua terasa baik baik saja sampai mobil mereka di jajari oleh beberapa pengedara motor dan-
Dor!
Dor!
"Awas hyung!" Yixing berteriak memanggil Minseok dan segera menarik yang lebih tua menunduk, mereka di jajari dari samping kanan kiri dan menembaki kaca jendela dengan brutal.
Dua orang pengawal di depan mengerang akan hal itu segera mengeluarkan pistol dan menembaki pengendara motor itu dengan membabi buta namun kalah cerdik kala ban mobil yang Yixing tumpangi sudah lebih dahulu bocor akan tembakan.
Dor!
Ckiit
Mobil di kendarai dengan sulit dan Yixing berdoa semoga pengawal mereka dapat mengendalikan mobil yang mulai oleng ke kanan dan ke kiri tanpa bisa di cegah. Salah satu dari mereka menyambungkan line ke seseorang yang di yakini Yixing adalah Junmyeon lalu berkata setengah berteriak sebelum dia tertembak lengannya dari arah samping.
"Bos! Kami di tertembak dan mobil hilang kendali mereka terus melakukan perlawanan."
Dor!
"Tepikan mobil sekarang juga!" Yixing bisa mendengar hal itu, saat suara Junmyeon setengah berteriak di line sambungan dan sang pengawal terus menerus berusaha mengendalikan mobil demgan cukup kesulitan dan menahan rasa sakit. Minseok mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan melesakkan timah timah panasanya untuk membuat para pengendara motor di samping mereka enyah namun konsentrasinya terbagi dalam mobil dan mereka, hingga membuatnya lebih pada tembakan acak.
"Pegangan! Mobil akan menabrak pohon tuan!" Ucap sang pengawal di depan. Yixing di tarik dalam dekapan Minseok dan mobil menyalami benturan hebat mengoyak mereka berempat didalam mobil, bersyukur bagaimana mobil tidak terbalik saat itu namun setetes darah mengalir saat pelipis Minseok robek, Yixing histeris mencoba memanggil sang empu dalam kepanikan yang kental.
"Hyu-hyung kau berdarah!" Belum selesai hal itu dia ucapkan harus dia dengar bunyi tembakan dari pengendara pengendara motor yang berhenti tak jauh dari mobil mereka dan melesakkan tembakan.
Dor
Dor
Dor
Dor
Satu pengawal dari mereka yang berada di kursi kemudi melayangkan perlawanan ikut mengarahkan moncong pistol ke arah mereka dengan tubuh hagian depan tubuhnya terjepit oleh badan mobil. Hingga membuatnya tidak bisa berbuat banyak dan tewas saat timah panas menyasar dada dan juga kepalanya.
"Tuan cepat berlindung," Pintu samping terbuka dan Yixing menarik Minseok kesusahan untuk herlindung di balik badan mobil dari tembakan tembakan dan satu pengawal yang masih tersisa terus melakukan perlawanan dengan wajah meringis menahan luka.
Minseok menyamping ikut mencoba membantu walau kepalanya berkunanag saat pelipisnya terus mengeluarkan darah, berdoa semoga Junmyeon datang menyelamatkan mereka saat satu satunya pengawal yang melindungi mereka ikut terbunuh dan tergeletak di samping tubuh Yixing yang semakin kaku panik. Jemari Yixing mengambil pistol di tangan mayat pengawal mereka dan percayalah bahwa dia juga masih bisa melakukan perlawanan walau dengan ketakutan dalam benaknya.
Dor
Dor
Dor
"Menyerahlah kalian berdua dan kami akan berikan kebebasan!"
Omong kosong para pengacau merasuki otak keduanya hingga mobil yang di yakini adalah milik Junmyeon berhenti dan menembaki membabi buta, Junmyeon bersembunyi di balik mobil dengan antek anteknya yang terus melakukan perlawanan hingga membunuh para pengacau dalam sekejap menjadi mayat yang tergeletak dengan dahi bocor dan leher yang mengucur darah deras.
Junmyeon berlari mendekati mobil mereka melihat bagaimana Yixing meleset dalam melesakkan timah panas di genggamannya dan Minseok yang bahkan sudah kehilangan fokusnya dengan benar. Dan wajahnya menatap Yixing semakin tajam menggelap penuh ketidak sukaan yang terasa menusuk.
Mengambil ponselnya lalu berkata "Beritau jongin untuk meninggalkan tugasnya saat ini juga dan kirimkan kendaraan untuk menjemputnya bertemu denganku nanti malam!"
.
.
.
.
.
Junmyeon terdiam bersandar di depan meja kerjanya, menutup kedua bola matanya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Malam ini dia mengenakan kemeja hitam bermotif horisontal lengkap dengan celana hitam membuatnya nampak lebih segar juga berbahaya di saat bersamaan. Menunggu seseorang yang masuk ke ruang kerjanya bergabung dengan mereka.
Cklek
"Bahkan aku baru saja akan menikmati tidur damaiku dan harus kau seret paksa ke sini!"
Kim Jongin datang menggerutu sambil melangkah semakin kedalam ruangan Junmyeon, membuat sang penguasa menatapnya dalam tatapan tajam terkunci rapat penuh ancaman.
Cengengesan Jongin merapat pada Minseok dan terkaget kaget bagaimana hyung bertubuh kecilnya tengah memiliki luka tertutup di area pelipis.
"Apa yang terjadi hyung?" Tanya Jongin mulai heboh. Yang di balas desisan Jongdae yang menatap tidak suka, "Diam kau jongin!"
"Tikus tikus itu." Junmyeon berucap mengambil atensi semua orang di depannya.
"Aku terusik dengan tingkah bar bar mereka, hari ini minseok hyung dan yixing menjadi target mereka. Tidak menutup kemungkinan bahwa ini akan terus berlanjut." Junmyeon mengucapkan kalimatnya terlampau santai dengan menatap lurus kedepan mengabaikan si kecil Zhang yang juga ada dalam ruangan itu, tidak menatapnya sekalipun namanya tersebut dengan jelas. Minseok mengalihkan pandangan.
"Aku tau, aku juga menyadari hal itu." Jawab Jongin mulai serius.
"Karena hal itu aku menyuruhmu kembali tanpa melanjutkan pekerjaanmu." Ucap Junmyeon berlanjut, "Akan aku suruh orang mengantikannya sementara kau aku beri tugas menjadi mentor untuk yixing belajar menembak!" Mengabaikan Yixing yang ada di ruangan ini menatapnya tidak percaya.
Jongin tertegun menatap Junmyeon seolah tidak percaya, "Aku meminta kalian untuk melatihnya sampai dia benar benar mampu membawa senjata sendiri." Junmyeon kembali berucap kepada Jongdae, Jongin juga Minseok di sana.
Dan Yixing sudah terlampau kesal teramat sangat sekarang karena Junmyeon sama sekali tidak menatapnya bahkan menganggapnya ada. "Aku tidak mau!"
Pernyataan Yixing membuat semuanya -kecuali Junmyeon- menatap ke arahnya yang bersungut sungut akan kemarahan hingga ucapan Junmyeon yang terlampau tajam menyahut, "Aku tidak butuh pendapatmu untuk hal ini!"
Jongdae meringis menyadari ketegangan akan keduanya mulai terlihat, dimana Yixing mulai mengepalkan tangan kesal mendengar hal itu. "Berhenti melakukan semua hal yang kau mau padaku dan jangan mengaturku!"
Ini buruk
"Kau milikku dan berhenti melakukan penolakan! Aku tidak butuh pendapatmu asal kau tau yixing!" Ucapan Junmyeon alih alih membuat hati seseorang menghangat justru membuat telinga Yixing memerah marah, pengakuan bagai barang yang rampasan hak haknya dalam melakukan sesuatu.
"Kau bukan anak kecil berusia 5 tahun yang akan selalu mendapatkan perlindungan, aku memberimu perlindungan tapi tidak selamanya seperti ini dengan keadaan yang terjadi saat ini tidak menutup kemungkinan kau akan di hadapkan pada pertempuran sendiri dengan mereka yang mengincarmu." Desis Junmyeon menatap Yixing tajam.
"Aku butuh kerjasama dan profesional kalian dalam hal ini dan akan ada satu orang lagi yang akan menemani kalian dalam hal ini." Ucap Junmyeon, Yixing akan menyahut dengan nafas yang sudah memburu penuh kemarahan dan suara pintu terbuka membuat konsentrasinya terganggu.
"Wang jackson akan ikut serta dalam hal ini."
.
.
.
.
.
"Junmyeon!" Yixing berteriak alih alih memanggil Kim dengan nada baik baik saat semua orang sudah keluar dari ruangannya karena tau bahwa keduanya butuh waktu berbicara, meskipun banyak ketakutan akan apa yang selanjutnya terjadi karena kedua memiliki emosional yang tinggi. Yixing dengan penolakannya dan Junmyeon dengan egonya untuk tidak dapat menerima penolakan.
"Aku peringatkan untuk berhenti menjadi pembangkang." Junmyeon mendesis mengambil wine yang sudah di siapkan di atas mejanya, meneguk cepat meredakan sesuatu dalam dirinya.
"Tapi kau tidak berhak mengatur kehidupanku!"
Junmyeon berbalik menatap Yixing tajam dan memperingati, "Jangan melakukan hal hal yang akan membuatmu menyesal!"
Tapi Yixing tetaplah si kecil Zhang yang tidak bisa di peringati, "Aku tidak akan berhenti sebelum kau mencabut perkataanmu!"
Junmyeon diam menatap tajam dan mengambil langkah mendekat, "Apa yang pernah ku bilang tentang menjadi anak yang baik."
"Kau tidak membutuhkan hal itu!" Ucap Yixing mulai mundur, berusaha mendominasi namun gagal.
"Kau akan menyesal!" Desis Junmyeon tidak menghentikan langkahnya.
"Aku bukan budakmu!"
"Keh!"
Brak!
"A-akhh!"
Junmyeon melakukannya lagi, mendorong Yixing hingga terbentur pintu di belakangnya dan mencengkeram leher putih pucat itu begitu dia mendapatkan celah. Menatap Yixing dengan penuh emosi dalam wajahnya, terlampau marah dengan semua penolakan yang Yixing berikan dengan kebencian yang menguar.
Jemari Yixing mengais ngais tangannya untuk melepaskan dan jangan berharap Junmyeon mau melonggarkan justru semakin menancapkannya, "Bukankah sudah berkali aku katakan untuk berhenti menentangku hmm?"
"Jun-myeon akh! Sialan!" Yixing tidak gentar akan ancamannya.
"Jangan membuatku untuk terus menyiksamu hanya karena otak pembangkangmu yang kau pelihara!" Desis Junmyeon
"Kau memang. . . .hanya bisa menyiksa saja!" Teriak Yixing menahan sakit di lehernya.
"Oh! Apa kau baru saja menantangku untuk dapat melakukan hal lain pada tubuhmu?" Tanya Junmyeon manatap arogan pada si kecil yang menatap penuh kebencian.
"Brengsek kau!"
"Keh! Aku bisa saja membobolmu semalaman dengan siksaan bahkan kau akan menemukan dirimu tidak mampu berjalan bahkan untuk melihat siang setelahnya. Apa kau baru saja menantangku hah?!"
"Akh!"
"Biar aku tunjukkan padamu!"
Rambut Yixing di tarik di paksa mendongak menunjukan bibir cherry yang membuat Junmyeon kehilangan fokusnya, mencengkeram dagu kecil itu dalam jemari yang tidak bisa di katakan pelan ataupun lembut, meraih bibir menawan itu dalam pagutan basah, Junmyeon menghisap bibir atas dan bawah itu begitu kasar dan menuntut mengikut sertakan gigitan gigitan di dalamnya, mencumbuinya menarik sesuka hati dan menghisap kuat menunggu sang empu untuk membuka jalur akses yang tak kunjung terbuka. Namun Junmyeon tidak kehilangan akal gilanya saat hal yang selalu dia inginkan sekarang ada di depannya.
"Akh!" Yixing mengerang merasakan desakan lain dalam bagian bawahnya hingga tak sadar membuatnya membuka jalan untuk lidah Junmyeon masuk mengobrak abrik seluruh bagian yang dia ingin jelajahi disana, memainkan dari ujung gigi geraham ke ujung lainnya menjilat terlampau bergairah atap goa hangatnya dan jangan lupakan bagaimana Junmyeon mengajak lidah Yixing bergabung dalam balutan dan tarian juga lilitan. Yixing terombang ambing dalam dua hal, otaknya menolak namun tubuhnya begitu mendamba bagaimana cara Junmyeon menghisap lidahnya terlampau dalam dan bagaimana jemari Junmyeon juga erat mencengkeram dagu juga lehernya, sakit dan nikmat yang sama sama menjeratnya membuatnya gila.
Ciuman Junmyeon terburu, menuntut begitu erotis seolah mampu menelanjangi Yixing saat ini juga, namun otak Yixing berusaha mendominasi saat sepercih rasa anyir besi dari darah menjadi perasa dalam ciuman juga hisapan Junmyeon, bibirnya di gigit dan jangan katakan itu lembut karena sudah terasa sakit akan hisapan gila gilaan Junmyeon yang sudah hilang kendali sejak mencicipi bibir lembut Yixing.
Memukul menarik rambut Junmyeon hingga terlepas dan berada dalam jemarinya, menujukkan bagaimana Yixing sudah kehilangan nafas normalnya. Mencoba tidak membunuhnya Junmyeon melepaskan ciuman menatap wajah terengah di depannya terlampau merah dengan bibir robek mengeluarkan darah juga leher dan dagu yang memar terdapat bekas tangannya.
"Berhenti menentangku atau kau dan orang orang di sekitarmu akan mendapat yang lebih menyakitkan dari hal ini."
Yixing merosot tak bertenaga kala Junmyeon menatapnya puas lalu melangkah dengan arogan meninggalkannya dengan ancaman yang menyangkut orang terdekat, dengan bola mata sembab dia mulai menangis di balik lututnya dan menekan ereksi ulah lutut Junmyeon juga dalam rasa pahit hatinya yang sakit teramat dalam.
"Hiks . . Hiks!"
.
.
.
.
.
.
Pagi mentari tinggi menjulang membelah rimbunnya daun pepohonan pinus, mereka sedang berada di sebuah rumah lebar yang berarea di tepi hutan, masih teringat jika kemarin mereka pergi dari rumah Henry maka disinilah mereka bermalam. Dipilih karena selain luas juga karena keinginan Junmyeon untuk melatih Yixing dan itu sudah terjadwal dengan baik dalam benaknya jauh jauh hari sebelum penembakan kemarin, yang mana dengan kejadian kemarin saat keberangkatan mereka semakin membuat Junmyeon berambisi membuat Yixing dapat menurut padanya. Sekalipun harus dengan paksaan keras.
Karena hal itulah Junmyeon benar benar menginginkan Yixing untuk kembali di asah lagi kemampuan yang sekarang bagai menghilang tertutup serpihan rasa takut akan trauma. Junmyeon saat ini berdiri jauh di belakang Yixing yang tengah mendapat pintol dari Jongin. Pistol pilihan Junmyeon yaitu Baretta 92.
Jongdae mendekat menatap penuh pertanyaan kepada Junmyeon, "Tidak apa memberinya baretta? Hyung?" Junmyeon mendengarkannya dengan baik dan masih melipat kedua tangannya di dada, "Itu pilihanku." Ucap Junmyeon yang di balas oleh Jongdae dengan garukan pelan di belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Bukankah akan membuat Yixing kesulitan?" Masih belum puas dengan jawaban Junmyeon.
"Dia harus mengatasinya sendiri." Balas Junmyeon mengambil langkah lebih kedepan dengan tatapan tajam menatap dua orang di depan sana yang belum juga mulai berlatih. Jackson juga ikut hadir di sana kala melihat gegenya berlatih dengan begitu terpaksa. Ingin rasanya dia merengkuh gege manis kesayangnnya namun percayalah bahwa Jackson terlampau tau jika wajah menyeramkan Junmyeon bisa membawanya lebih cepat pada kematian. Maka dari itu selagi Jongin mengajari Yixing dia ada di sini melihatnya atau mengamankan nyawanya.
"Berhenti menatapnya dan mulai menembak!" Bentakan kasar Junmyeon mengagetkan Jongin dan Yixing yang tengah terdiam di depan.
"Kenapa bukan kau saja yang melakukannya!" Teriak Yixing tidak mau kalah, namun dia salah jika menantang seorang Kim Junmyeon.
Sret-
Dor!
"YAHH HYUNG!" Jongin hampir hampir melompat kala jaraknya dengan papan sasaran bukan ada di jarak yang jauh, sedangkan Jongdae tertawa memegangi perut melihat wajah horor keduanya. Terpujilah kata kata Yixing bagai sebuah perintah mutlak dan Junmyeon merampas pistol dari salah satu anak buahnya lalu dalam sekali tembak mengenai tepat sasaran yang tidak jauh dari letak Yixing berdiri. Yixing langsung menatapnya ke belakamg dalam sorot sepercik ketakutan dan kemarahan pada sifat arogan Junmyeon.
"Lakukan jika kau bukan anak kecil berusia 5." Tantang Junmyeon dengan tatapan mengejek membuat Yixing berdengung marah, merebut Baretta dari tangan Jongin dan mengarahkan moncongnya-
"Kenapa bukan kau saja yang aku jadikan target sasaran!" Balas Yixing mengarahkan ke Junmyeon tanpa gentar dan terlampau cepat mengambil keputusan.
Jackson tau tau menelan ludah kasar, ini akan jadi situasi yang sulit.
Klek
"Turunkan senjatamu!" Perintah seorang anak buah yang di yakini Yixing merupakan salah satu kepala bawahan Junmyeon, mengacungkan revolver pada Yixing. Namun bukan Zhang jika Yixing tergelak takut akan ancaman.
Junmyeon menyeringai, semua anak buahnya reflek mengarahkan moncong senjatanya pada Yixing saat menyadari si kecil Zhang tengah bermain main dengan nyawanya dan nyawa Tuannya. Lihatlah bagaimana Junmyeon membuat suasana berubah dan Jongin pun telah mengacungkan moncong pistolnya pada kepala Yixing, Jongdae bahkan telah berdiri dengan tatapan tajam di depan Junmyeon untuk menghalangi peluru yang akan melesak padanya.
Yeah, itupun kalau Yixing mampu membidik dengan benar, sedangkan emosinya masih belum terkontrol dengan baik.
Mau taruhan?
"Apa yang pernah ku katakan tentang menjadi anak yang baik dan penurut?" Tanya Junmyeon menyeringai menatap wajah Yixing yang memerah marah.
"Aku tidak peduli!" Teriak Yixing marah.
Dor
Bruk!
Junmyeon menarik cepat Jongdae hingga tersungkur dan dia segera berlindung di balik pohon
"Sialan!" Umpat Jongdae menatap marah.
"Berani membidik dan aku pastikan kepala kalian sebagai gantinya!" Desis Junmyeon pada anak buahnya yang mulai menganggap Yixing sebagai ancaman. Mendengarkan itu Yixing justru semakin marah dengan perintah Junmyeon yang menganggapnya remeh maka dengan langkah penuh emosi dia mendekati Junmyeon seraya melepaskan timah timah panas.
Beberapa anak buah Kim masih berjaga dengan tatapan bingung pada Tuannya dan Jongdae mengangguk menyuruh mereka diam namun semua mulai memberi ruang lebih pada dua Tuan mereka yang sedang menghabiskan waktu untuk bersenang senang. Jongin bahkan memijat pelipisnya melihat hal itu, sedikit was was karena Yixing benar benar membenci Junmyeon saat ini.
Dor!
Dor!
"Siapa yang sebenarnya kau sasar anak kecil!" Junmyeon berucap hampir hampir terkekeh.
Minseok bergabung dengan kernyitan dalam melihat kedua saengnya terkikih menatap kedepan dan memekik kaget dengan polah Yixing, "Astaga apa yang mereka lakukan!" Jongdae reflek menatap Minseok dan menenangkan, "Mereka sedang berusaha membuat suasana romantis hyung,"
"Kau gila kim! Kenapa tidak kau hentikan mereka?" Tanya Minseok heran namun keduanya justru terkekeh melihat Yixing mengamuk.
"Akh! Diam kau kim!" Teriak Yixing frustasi.
Dor!
Dor!
Meleset, semuanya meleset bahkan hanya bantang pohon pinus yang terus terkena timah timah Yixing dan Junmyeon mengandalkan pohon di sekitar untuk bersembunyi. Mengintip sekilas dimana keberangkatan Yixing.
Dor!
Tanah di depannya terkena tembakan, "Shit!" Umpat Junmyeon yang sekarang mulai berfikir bagaimana menunjukkan pada si kecil Zhang tentang tempat dan posisinya, melepas jasnya Junmyeon menyadari langkah maju Yixing.
Dia harus cepat!
Yixing sedikit tersenyum karena mendengar sekilas umpatan Junmyeon, dia terpojok huh! Melangkah dengan begitu percaya diri Yixing langsung menodongkan moncong Baretta miliknya ke balik pohon yang mana hanya ada seonggok jas mahal Junmyeon, membuatnya panik segera melongokkan kepala ke kanan dan kiri Yixing hanya menemukan Jongin dan Jongdae tersenyum yang alih alih mirip seperti seringai, mengejeknya.
"Sudah puas menembak seperti seorang amatirannya?" Bisik Junmyeon mengagetkan Yixing dari arah belakang tubuhnya.
Yixing menyikut dada Junmyeon keras, belum selesai perlawanannya ngomong ngomong dan itu membuat Junmyeon harus memundurkan tubuhnya kebelakang. Menghindar, menendang tangan Yixing hingga Baretta miliknya terlempar kebelakang. Keduanya terlibat saling serang dan menangkis tangan lawan, Junmyeon memanfaatkan hal itu untuk melihat seberapa jauh kemampuan bela diri Yixing, yang bahkan Yixing sempat berputar untuk menendang melayangkan kakinya dan Junmyeon harus melindungi diri dengan kedua tangannya.
"Wow!" Seru Jongdae dan Jongin bebarengan melihat keseriusan Yixing.
"Lebih keras lagi! Apa ini tendangan lembek yang kau banggakan?" Tanya Junmyeon semakin membuat Yixing mengerahkan kemampuannya.
Namun hal itu bukan berarti Junmyeon akan mengalah, dia melayangkan bogem yang mampu di hindari Yixing dan di balas oleh layangan dari Yixing. Dengan terengah Yixng masih berusaha, Junmyeon menangkap kepalan tangan itu mencengkeramnya begitu kuat hingga sulit terlepas. Yixing mengerang namun Junmyeon menyeringai memutar lengan kecil itu kebelakang tubuh Yixing hingga dia beteriak, "Akhh!"
"Kita akhiri disini,"
Bruk!
Junmyeon menekan dengan mudah belakang tumit Yixing yang mana membuatnya tersungkur di tanah dengan keras dan memukul tanah sebagai bentuk protes. Junmyeon berlalu melonggarkan kancing baju bagian atasnya sambil berlalu mengambil Baretta lalu berbalik menatap Yixing yang membalasnya dengan tatapan kebencian. Kekanakan.
"Aku tidak terima protes, bangun dan lakukan dengan baik!" Ucap Junmyeon melangkah berniat memberikan Baretta kepada Yixing hingga-
Dor!
"Brengsek!" Tiba tiba Junmyeon berlari dengan panik ke arah Yixing yang terpaku di tempatnya berdiri.
.
.
.
.
.
Tbc-
A/n:
Hai gaes, happy holiday.
Well banyak yang ga suka sama Junmyeon kelihatannya, kekeke karena kesannya kemaren itu chapter cuman milik Junmyeon seorang sekarang gantian ya, maka dari itu selamat menikmati usaha Yixing untuk menjadi anak pembangkang.
Sampai ketemu minggu depan, saya tunggu komen kalian, dan jaga kesehatan, fokus buat yg ujian saya doakan cepet selesai dan lancar.
Big thanks: D' eXcrusius Paripachuka
Makasih buat yg review chap kemarin.
Dudu Luv Nini males login
Ku bakal semangatin nunna, semangat nun kerjanya ku juga usaha semangat kerja dan nulis ini wehehe, nuna kalo bacok junmen trus icing ngasi jatahnya ke siapa coba?
Selamat membaca chap hari ini nun, semoga suka.
Nowords
Long time no see you, ku kangen komen panjangmu.
Oke kenapa Junmen balik lagi karna banyak hal salah satunya karena awal pertemuan, mulai dari sikap yixing juga egonya yang sungguh berada di atas rata rata. Saya singgung di chap ini untuk menjawab.
Terimakasih sudah menguatkan yixing, dan terimakasih sudah memilih team yifan. Saya bakal usaha keras buat ngasi kejutan kejutan lagi dan terimakasih semangatnya. Ini sangat membantu mood saya. Semoga suka chap ini.
bunnysheep91
Terimakasih sayang, nanti bakal saya sampaikan pada keduanya, ukh! kekeh di sulay nih critanya? Oke lah semoga ga kecewa dengan saya bawakan chap ini.
Terimakasih banyak semangatnya saya usaha buat tetap stabil nulis untuk kalian semua.
Minge-ni
Duh, kok teriak? Ini karena sebel apa karena ala nih, ini chap cuma muter di sulay aja ya walau ga manis manis amat tapi semoga minge ni suka, terimakasih sudah mampir sayang.
Minge-ni
Ngebut baca nih critanya? Kekeke itu yifan kok, biar adil ketemunya barengan tapi ya ga akur sih masian. Terimakasih, semoga suka dg chap baru ini.
zhglayx
Aihh, itu padahal ga sengaja kepikiran lo, fokusnya malah dieiku sama junmen vs yifan. Terimakasih banyak sudah mampir, semoga suka sama chap ini.
Guest
Kekeke kuta se team kek nya, yauda besok bagiannya siksa siksaan aja ga usah ada lembut lembutnya, bercanda kok. Terimakasih bamyak, semoga suka chap ini.
Guest
Hai sayang, kenapa jejakmu selalu bikin aku gemes sendiri bacanya walau cuma dikit tapi bikin senyum. Oke semoga suka ini chap dan makasih sudah buat mood saya balik dengan review kalian semua.
fy zhang
Hehe, maafkan diriku yang terlajur terjebak dosa karena lebih suka yizing tersiksa, asek!
Oke semangat buat ngebutnya baca chap dan semoga dg up ini bisa makin kesambung ceritanya yang d kebut tadi, terimakasih banyak.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah menyukai ACE sejauh ini. Love u all, stay healthy.
Luce,
31 Maret 2018
