A/n :
Banyak yang tidak sadar jika bagian terakhir chap 6 terdapat tembakan dan itu bukan berasal dari Junmyeon.
.
.
.
.
.
.
.
Lesakan peluru suara tembakan dan Yixing kehilangan separuh fokus juga jiwanya saat itu juga, hanya terpaku dengan Junmyeon yang menatap khawatir berlari ke arahnya. Menarik dalam perlindungan Kim yang merapat begitu cepat.
Mengerjap, mencoba menguasai diri juga keadaan.
Namun gagal.
Dia gagal.
Bola mata terbuka menetralkan pupil menerima cahaya siang yang kurang ajar melewati celah celah rimbunnya daun pinus, area latihan penuh sesak, kaki menapak pada tanah tapi tidak dengan jiwa yang pergi meninggalkan raga, berdiri tanpa isi, tatapan menatap tanpa tujuan, terpusat tapi tidak terarah pada fikiran. Jemari kecilnya di renggut dalam tarikan posesif penuh tekanan menyakinkan.
Kau aman, di sini.
Namun sayang Yixing kembali kehilangan dirinya begitu banyak.
Berada di tengah lingkaran benteng manusia, merapat tidak membiarkan sebulir pasir menembus mereka, moncong pistol siaga bersiap melesakkan timah timah yang akan mengoyak daging segar dan jaringan darah terkucur yang berani melanggar area terlarang, menghancurkan organ tubuh tanpa ampunan karena sekali lagi memasuki wilayah kekuasaan sang penguasa. Junmyeon ada di sisinya diperkuat dengan Jongdae bersiap dengan pistol juga dengan rencana di otak cerdasnya dan jangan lupakan Jongin siaga menatap penuh tekanan, bengis dan tanpa ampunan siap melayangkan seluruh tenaga yang menentang perintah sang penguasa.
Di depannya kelompok berbaju hitam dengan wajah tertutup hampir separuh mengancam dengan barisan pistol merapat, mereka mesin pembunuh tanpa jiwa, robot terlatih tanpa nyawa, terlatih hanya untuk satu perintah tidak memandang bahkan mengenal target hanya akan melakukan satu perintah mutlak untuk melenyapkan nyawa nyawa yang ada di hadapan mereka. Minseok datang dari belakang -para pengacau- bersama Kyungsoo tatapan yang tidak pernah lembut untuk para pengacau menjepit mengepung mereka layaknya mangsa, menutup akses layaknya gerombolan singa kelaparan. Berdiri di belakang kelompok pengacau dengan moncong siap meledakkan kepala di depannya jika jika satu langkah memasuki area terlarang lingkarang benteng manusia di depannya.
Terjebak dalam labirin buatan Kim, dengan dan tanpa pintu keluar selain kematian.
Junmyeon mendesis, moodnya hancur dan rusak berjanji tidak memberi sedikit celah untuk bernafas setelah menyadari satu permatanya terguncang dalam yaitu kala melihat Yixing tidak berada dalam keadaan baik, nafas tidak beraturan tapi tatapan kosong dalam keadaan mencekam. Tikus tikus yang tidak tau diri bermain main dengannya, menantang kuasanya juga nyawa seujung biji kedelai mereka. Tatapan sang penguasa berubah menjadi semakin gelap, aura mengental tidak terbantahkan dan tidak tersentuh tidak ada ampunan bahkan belah kasihan. Jongin menyeringai dalam banyak artian akan sekitarnya, kala menyadari perubahan hyungnya.
Bukankah ini akan jadi menyenangkan? Oh, cukup percaya padaku dan siapkan diri kalian.
"Selesaikan!" Desisan dalam mengawali baku tembak. Pengacau cukup punya nyali dengan mengawali pertempuran dan Minseok juga Kyungsoo serta merta tidak membiarkan hal itu bahkan tidak akan jika Junmyeon sekali berucap itu mutlak dan jangan harap jiwa jiwa malaikatnya hadir, kalian salah besar. Bagian berharganya telah tersentuh dan itu adalah Zhang Yixing. Berbeda dengan Jackson yang bersemangat memulai pengalaman pertamanya bersama Kim yang begitu terorganisir.
Coba lihat dan perhatikan mereka, saling mengawasi satu sama lain, sampai sampai perubahan aura dan raut wajah dapat membawa merka dalam gerakan juga tindakan berirama yang mengalir begitu saja. Bagai tarian kematian sang dewa maut menyambut nyawa nyawa yang sudah berserah diri terhadapnya. Menembak - menyasar - mengunci tepat di area vital tanpa ampunan dan terfokus pada satu titik untuk tujuan nyata melindungi Tuannya juga permata terbesar mereka.
Jongdae memberi celah pertama untuk jalan Junmyeon Dan Yixing keluar dari labirin Kim, membawa langkah mundur dengan anak buah yang sama sekali tidak bergeser menjauh dari mereka. Yixing hanya terpaku mengikuti pergerakan dengan bantuan Junmyeon tanpa jiwa membuat pandangan Jongdae seketika berubah sendu.
Dia faham apa yang si rasakan Junmyeon kala itu juga.
Dor
Dor
Baku tembak masih berlangsung. Dengan gerakan perlahan pergelangan tangan Yixing di tarik, Yixing menatap sang penguasa tanpa suara - tanpa protes dan Junmyeon memanfaatkan hal itu mengunci bola mata jernih si kecil untuk tidak memperhatikan sekitar. Menjeratnya dalam perangkap penuh sugesti.
Menatapnya hanya dia, hanya padanya.
Munurut, Yixing di bawa menjauh dari area pertempuran.
Namun sayang beberapa orang pengacau mendekati mereka tanpa ragu satu satu nyawanya melayang.
Dor
Dor
"Brengsek! Hyung cepat bawa yixing pergi!" Jongdae mengumpat merasa bahwa di depannya tidak lebih dari zombie berjalan alih alih orang suruhan. Tidak habis fikir seberapa banyak pemikir atau biang dari pengepungan ini mencuci otak para pengacau hingga tanpa ada ketakutan ataupun ekspresi bahkan reaksi hanya tatapan kosong satu tujuan.
Menghabisi nyawa di depannya.
Tembakan terus di layangkan, memperdengarkan lagu lagu kematian yang menyeruak membuat sesak jiwa jiwa yang terjatuh dalam trauma. "Semua akan baik baik saja." Baretta 92 masih terisi sisa peluru di lesakkan mengenai tepat di dahi salah satu pengacau.
Junmyeon menatap Yixing lebih terkontrol dan berucap layaknya mereka tidak dalam situasi genting seperti ini. "Lihat ini dan fokuskan." Junmyeon membidik dengan terlampau santai memfokuskan pada dada sebelah kiri-
Dor
Sekali lagi!
Menatap area kaki, oke- paha bagian kanan-
Dor! Yixing linglung menatap bergantian antara Junmyeon yang menyeringai dan pengacau yang ambruk satu per satu. "Aku menunggu hasil latihanmu seperti apa yang baru saja kau lihat." Ucapan itu datang kembali mengusap pelan pipi sedingin es. Usapan penenang yang selalu dia dapat dalam gelapnya mimpi mencekap malam hari, usapan yang selalu dia cari kala pagi menjelang, usapan yang selalu menjadi teka tekinya, dan saat ini usapan itu membuat tulang punggungnya lebih rileks dengan ketakutan yang mulai mengendur, dia aman. Setelahnya tau tau mereka sudah di luar area lapangan latihan.
Good job, Kim.
Sang penguasa tersenyum puas dengan kembali mengusap pipi pucat yang semakin lama semakin merona, cantik -sebuah kecantikan alami di tengah kehancuran. Mobil jeep berhenti di depannya sang pengemudi meloncat keluar dengan ekspresi tak kalah khawatir. Lalu di ikuti anak buah lain yang langsung menbantu Jongdae yang masih tertinggal di area latihan.
"Junmyeon! Cepat pergi!" Berucap terburu sambil melompat keluar dari jeep layaknya pemain film action ternama, dengan boot dan rompi juga celana levis robek di sana sini, itu Taekwoon, membuat Junmyeon sempat sempatnya menaikkan alis menyadari keberadaan juga penampilan nyetrik si dokter keluarganya, tanpa surat tanpa pemberitahuan lebih dulu untuk kedatangannya ke Changsa.
Oh, fuck.
"Oke, aku faham. Aku hanya tidak tahan untuk berlama di seoul menunggu kepulanganmu."
Alih alih penjelasan lebih mirip kerinduan akan sang kekasih. Taekwoon bernafas di sela sela mencoba mencari irama yang lebih tenang di antara senggalan yang kentara. Junmyeon berdecih menyadari arah pandangannya.
"Bilang saja kau ingin menemuinya." Sekonyong konyong Junmyeon mengucapkannya. Terlampau tau apa yang di inginkan manusia macam Taekwoon yang menyeringai.
Ketahuilah bahwa bersikap jujur itu lebih baik. Salah satunya dengan mengaku di depan sang penguasa.
"Bawa dia pergi!" Perintah Junmyeon membuat Taekwoon justru ingin mengoreki telinganya, alih alih bersorak sorai. Tapi ingatlah bahwa Kim tidak terduga untuk hal yang akan dia lakukan. Bisa saja nyawanya yang selanjutnya melayang.
Oh hell! ingatkan Taekwoon jika dia belum mencicipi pelaminan.
Junmyeon melirik tajam, kesungguhan ada di dalam sorot matanya, "Aku tidak butuh untuk mengulangnya bukan?" Menyerahkan Yixing pada Taekwoon yang tengah gugup bukan main mendapatkan amanat Junmyeon.
Maka cukup pergi dan bawa dia pulang.
Dan entah angin darimana Yixing memberontak reflek menolak dengan menatap Junmyeon untuk pergi jika tanpa Minseok dan satu nama lagi yang membuat Junmyeon mengeram marah, Jackson Wang.
"Aku ingin bersama minseok hyung! Aku tidak mau pergi! Biarkan aku menunjukkan padamu bahwa aku bukan seorang anak kecil amatiran!" Pandangan matanya menunjukkan sepercik kesedihan, Junmyeon membacanya dengan baik. Meracau dengan begitu serius menanggapi ucapan Junmyeon di area latihan membuat dia turut merasa bersalah akan hal itu.
Taekwoon menyerngit tidak mengerti lalu berusaha meyakinkan Yixing, dia tidak tau apa yang terjadi pada si kecil Zhang juga pada Junmyeon namun begitu prihatin dengan keadaannya saat ini. "Hei, yixingie lihat hyung! Ini hyung perhatikan aku, kita pergi dari sini dan minseok hyung akan menyusul. Akan ada-"
"TIDAK!" Potong Yixing berteriak keras.
"Yixingie."
"Aku bisa membunuh mereka! Aku bukan anak usia 5 tahun."
Junmyeon terdiam tanpa respon berdiri di depan Yixing mendengarkan protesnya. Saat itulah Junmyeon tau jika perkataan Dasom bukan main main, analisisnya akan keadaan Yixing tidak meleset. Membuat Junmyeon tidak tahan membopong si kecil masuk dan duduk di kursi sebelah kemudi memegang kedua bahunya penuh tekanan takut takut dia memberontak. "Zhang yixing! Pegang janjiku, cukup pulang maka mereka akan menyusul sebelum kau sadar seberapa lama kau menunggu!"
Sang penguasa merendahkan egonya dan memilih mengalah untuk menenangkan si kecil.
Brak!
Pintu mobil di tutup paksa, Taekwoon mengambil inisiatif berada di balik kemudi dan mengunci pintu mobil dari area pintu kemudi lalu membawa lari Tuan Puteri dengan begitu terburu seolah jika mereka tidak sampai sebelum mata hari terbenam maka sang Pangeran akan mengetahui bahkan mengambil waktunya untuk mengambil si kecil Zhang dari sisinya.
Biarkan Taekwoon menggila dengan ilusinya sebelum Junmyeon membelahnya menjadi dua bagian. Ingatkan akau untuk hal itu.
.
.
.
.
.
.
Jongin menendang punggung berlubang seorang pengacau tanpa nyawa hingga tersungkur di tanah lalu menjadikannya tumpuan kaki, menatap kelewat angkuh pada lautan mayat juga darah di depannya, memanggu pistol di bahunya. Satu orang istimewa di dorong beberapa anak buah untuk di sajikan di depannya dengan posisi bersimpuh wajah babak belur dan tenaga yang terkuras. Junmyeon mendekat melihat, mengambil tempat di tengah kegaduhan.
Jongdae datang untuk memberitau situasi, "Semua sudah habis dan dia yang paling mencolok karena tanpa pistol atau peledak dan hanya menggunakan gerber mark."
Itu merupakan pisau jenis gerber yang merupakan army knife dengan gagang logam dan gerigi pada dua sisi. Percayalah Junmyeon menahan diri untuk tidak meledak saat itu juga.
Berlutut lalu memeriksa rompi hitam sang pengacau yang lemas dan menemukan ponsel bertepatan sekali dengan dering panggilan masuk.
Klik-
"Aku yakin kau sudah mengingat apa yang kau lupakan, junmyeon?"
"Ya, bahkan sangat mengingatnya." Seringai Junmyeon mengembang liar tanpa di tahan tahan, menjilat bibir bawah terlampau kehausan.
"Apa cukup mengejutkan? Bagus bukan ideku?"
"Aku yakin kita seharusnya bertemu lebih cepat." Junmyeon membuka kelopak matanya menunjukkan kedua mata yang berkilat dalam sinar yang tidak bisa di jelaskan namun Jongdae dan Jongin dibuat terkejut akan hal itu.
"Ya. . .kau tau seberapa aku mendamba bertemu denganmu, junmyeon."
"Aku bersalah tidak menemuimu." Suaranya sangat tulus mengejutkan keluarga Kim di sekitarnya bahkan Minseok terpaku menyaksikan Junmyeon.
"Kita masih bisa bertemu setelah ini."
"Aku tidak sabar." Junmyeon menunggu dengan perlahan.
"Kau membuat hatiku lega junmyeon, oh mari bertemu-"
"Tidak! Aku menginginkan jalanan changsa, tidak salah untuk satu mobil denganmu."
Setelahnya sambungan terputus di akhiri persetujuan dari line di seberang sana, Junmyeon menatap lurus pada ponsel di pengangannya tanpa ekspresi lalu memasukkannya asal ke dalam saku. Datar tidak tersentuh Junmyeon berjongkok menatap kembali wajah pengacau yang menjadi center dari serangan siang ini, menyeringai lalu bangkit. Ternyata sang kurir.
"Aku berikan kau kebebasan."
Dor
Dor
Dor
Tiga lubang bertanggar dengan darah mengucur deras di dahi sang pengacau dengan dan tanpa waktu menunggu nafasnya tertata atau jeda untuk menatap wajah Junmyeon dan semua di sana sadar jika sang penguasa bukan dalam mode terbaik,
"Bersihkan dan pulanglah untuk menemui yixing secepatnya." Dengan kasar merampas salah satu kunci mobil dan melemparnya pada salah satu anak buah yang di temuinya,menunduk patuh tanpa ucapan mengikuti Junmyeon.
Brunm
Bruuunmmm
.
.
.
.
.
.
Rainha code
Chapter 7: Who are you?
Siapa kau?
Aku tidak mengenalmu sama sekali?
Siapa kau?
Hingga membuatku terjebak di sini selama ini?
Siapa kau?
Hingga tubuhku tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya
Who are you?
.
.
This is ACE Season 2
© Pearl Luce
Cast :
Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.
.
Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.
Pair : SuLay
and other.
Genre : Romance, Action, Crime
(Little) Hurt/comfort
Mafia life
Rated : M
This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s), mature content
Idea© D'Xp ft Luce.
.
.
Dont plagiat please! Show your own ideas as well!
.
.
.
.
.
Mobil Junmyeon melaju dengan kecepatan di atas rata rata dalam jalanan sepi Changsa tidak mempedulikan akan kebutuhan orang sesama pengguna jalan karena Junmyeon terlalu acuh tak acuh mengenai hal itu dalam benaknya hanya menyelesaikan secepatnya pertemuan memuakkan -dia sudah merasakannya bahkan sebelum dia bertemu- yang akan dia lakukan, menepi di sisi jalanan yang di kelilingi pepohonan rimbun dengan angin segar yang melegakan, seharusnya berfungsi juga untuk Junmyeon merasa lebih baik tapi nihil.
C-class putih berhenti tepat di depan mobil Ford hitam miliknya, Junmyeon tersenyum memberikan ponsel lama pada bawahannya yang ikut di kursi kemudi dengan pesan 'aku menginginkannya' seraya menatap kedepan tempat mobil C-class itu bertengger. Mengangguk patuh sang bawahan tanpa suara hanya mematuhi aturan main sang penguasa.
Junmyeon membenarkan jas mahalnya berjalan penuh tekanan lalu menundukkan tubuhnya saat sampai di samping jendela mobil yang sudah turun setengah, polesan merah menawan menyapa dalam senyum, berpengaruh pada Junmyeon yang ikut tersenyum sekilas dan masuk pada sisi samping jok belakang kemudi setelah meminta sang pengawal yang duduk di bangku kemudi menyingkir, "Aku tidak menyangka kau ada di changsa."
Yuna, wanita yang sama ada di telfon tersenyum manis menyandarkan kepalanya reflek di bahu Junmyeon, memainkan jemari dengan polesan warna warni mencolok sepanjang potongan jas mahal Junmyeon.
"Aku mengikutimu dan aku tidak suka." menatap intens membawa jemari kecil itu lancang menyentuh wajah tegas Junmyeon yang tidak berekspresi apapun.
Merayu sang dominan, "Apa maksudmu?"
"Kenapa dengan zhang? Ku fikir bahkan kita masih bisa bersama walau banyak waktu kita tidak bertemu."
"Junmyeon. . ."
Dan sang penguasa tidak menjawab hanya membawa jemari lebarnya mengambil tangan mungil Yuna, menjauh dari wajahnya.
Dia muak.
"Memang siapa kau? Berani mengatur kehidupanku?"
Lalu tidak menunggu lama,
"A-aakhh sakit junmyeon!" Teriak Yuna saat dagunya di cengkeraman kuat hingga kepalanya terdorong pada sandaran jok mobil.
"Tidak ada seorangpun yang berani keluar masuk kehidupanku semudah itu dan bahkan aku sudah lupa kapan terakhir kali aku bermain denganmu." Desis Junmyeon menatap tajam.
Tak
Junmyeon mencengkeram pergelangan tangan hingga memerah.
"Junmyeon! Tapi kenapa dengan zhang? Kau tidak harus mengejarnya seperti ini hingga-" ,Bela Yuna yang mencoba menjelaskan.
"Kau begitu lancang," Seru Junmyeon.
"Aku tidak suka kegaduhan." Bola mata Junmyeon menggelap, melirik penuh minat pada sosok di sampingnya yang mulai menyangga wajahnya sendiri dan menatap tidak mengerti pada sang penguasa.
Menguar aura kemarahan yang membuat sosok wanita di sampingnya menggigil ketakutan, firasatnya berkata sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sret- tangan Junmyeon membebaskan pergelangan Yuna yang menjauh dari jangkauannya guna menunjukan barang yang membuatnya hampir meledak di area latihan.
Gerber Mark
Yuna mengeram sayatan melebar sepanjang lengan kirinya, mulutnya tidak dapat terkatup dengan benar merapalkan nama Junmyeon penuh ketakutan juga permohonan melihat pisau yang sama dengan pisau yang di berikan kepada suruhan untuk mengacau dan melukai Zhang Yixing, itu tujuannya.
Ketakutan, Yuna mengeser tubuhnya hingga terantuk badan mobil membuat Junmyeon menyeringai senang lalu mulai membubuhkan tanda yang membuatnya luar biasa puas mendengar teriakan putus asa, "Ju-junmyeon. . Akhhh kumohon akh!"
Satu goresan indah kembali mengenai bahu mulus Yuna yang terpojok.
"Terlebih jika itu menyangkut milikku." Berucap terlampau santai dan Yuna bersumpah melihat iblis berwujudkan manusia di depannya kala lidah Junmyeon justru mengecap manisnya darah di tubuh gerber.
"Akkkkhhhh! Tidak akh hentikan! Aaakhhh wajahku!" Gerber kembali menyentuh korbannya.
"Ada yang ingin kau beritaukan lagi padaku?" Tanya Junmyeon bermain main dengan budaknya. Dia merindukan lengkingan kesakitan dan pengampunan dari para pembangkangnya.
"Tidak! Tidaaakk kumohon aakhhhh junmyeon! Aaaakkkhh dia dia!" Yuna berteriak dalam kepanikan memperoleh atensi dari sang penguasa untuk sekedar sebuah hirupan nafas yang tersendat.
"Dia. . . .dia yang memberitahukannya padaku! Kumohon ampuni aku hiks. . .kumohon. .hiks." Jemarinya bergetar penuh rasa takut menutupi wajahnya yang sudah tersayat di bagian pipi, hasil ukiran sayang dari Junmyeon.
"Katakan." Junmyeon bermurah hati menunggu mulut kecil itu terbuka.
"Aku tidak pernah bertemu dengannya hiks hanya-ha hanya bertukar suara lewat telfon. .aku bersumpah junmyeon." Dan Junmyeon mengeram menyadari hal itu, membuka pintu mobil dengan tatapan tajam dan membawa tubuhnya masuk ke dalam Ford yang sudah siap untuk melaju dan pergi meninggalkan C-class setelah dari kursi Junmyeon melemparkan keluar sebuah-
Tik tik tik
Duuaarr!
Bahan bakar yang mengucur keluar karena tangki yang sengaja di buat bocor dan korek api yang segaja di jatuhkan mewujudkan ledakan mobil dan api berkobar tinggi tinggi. Jangan tanya kemana anak buah Yuna karena kalian tentu tau jika Kim selalu membersihkan saksi mata mereka.
Junmyeon berhenti untuk peduli apa api itu akan terus berkobar atau bagaimana nyawa orang di dalamnya.
.
.
.
.
.
Minseok mondar mandir sambil sesekali melirik Yixing yang di temani Kyungsoo dalam kamarnya, maka percayalah Jongin yang melihat itu merasa pusing sendiri, "Berhentilah hyung, kau berjalan sebanyak apapun tidak akan membuatmu kurus."
Oh shit,
Apa yang baru saja keluar dari bibir manis Jongin membuat empat siku di dahi Minseok keluar yang reflek menggeplak kepalanya tanpa tedeng aling aling, apa adiknya satu ini tidak tau jika dia tengah di landa kekawatiran terhadap keberadaan Junmyeon yang pergi sendiri hanya dengan satu anak buah menemui Yuna, satu dari banyak wanita ular yang menemani malam malam kelam Junmyeon.
Meskipun hanya seorang wanita namun mendengar kabar dari Jongdae jika dia dalang dari pengacauan latihan menembak Yixing sudah cukup membuat Minseok ketar ketir pada keduanya, baik Junmyeon juga Yixing kedepannya akan memiliki banyak musuh yang mengincar. Tapi percayalah bahwa Junmyeon tidak menggubris sedikitpun akan hal itu.
"Hyung. . ." Jongdae memanggil kentara heran melihat keduanya sedang saling menendang dan memukul sedangkan Jongin reflek melepaskan diri dengan rambut lebih dari kata acak acakan seperti terkena badai.
"Apa junmyeon sudah pulang?" Todong Minseok, sedangkan Jongdae justru terdiam dengan wajah serius yang mana Minseok menatapnya dengan keheranan mimik wajah Jongdae, "Ada tamu untuk junmyeon hyung. . ."
Tap tap tap
"Senang bertemu dengan tuan muda disini." Itu Luna satu dari tangan kanan Junmyeon yang ditugaskan menetap di Bangkok berdiri dengan balutan mini dress hitam menawan.
Dan Jongin bersumpah melihat wajah murka Minseok saat itu juga.
.
.
.
.
.
.
Junmyeon menutup pintu mobil dan berjalan memasuki rumah melepas jas hitamnya yang langsung di ambil sopan oleh pelayan. Membuka kancing lengan juga satu kacing kemeja. Langkahnya terburu sama seperti bagaimana emosinya akan meledak, Henry datang dengan menundukkan kepalanya menyapa Tuan Muda mereka, "Dimana dia?" Tanya Junmyeon yang mulai menyusuri bagian bagian rumah.
Henry tersenyum mahfum, "Tuan Yixing berada dalam kamarnya" Junmyeon menganggukkan kepala tanda mengerti lalu mulai mengambil ponselnya, "Ke ruang kerjaku."
Jongdae dan Jongin masuk ke dalam ruang kerjanya lima menit kemudian dan Henry masih berada di sana, Junmyeon memijat pangkal hidungnya, lelah. "Ada penyusup di rumah kita."
Bola mata sang penguasa mengendarkan keseriusan dan mengintimidasi ketiganya yang terkejut mendengarkan. Jongdae memicing curiga juga berfikir keras, bagaimana bisa terdapat penyusup yang dapat melewatinya. Sedangkan Jongin menatap Junmyeon penuh pertanyaan, " Bagaimana kau bisa simpulkan itu hyung?"
"Yuna, dia mengatakannya." Balas Junmyeon.
"Nenek sihir itu benar benar!" seru Jongin spontan.
Henry menunduk penuh penghormatan bermaksud meyakinkan, "Sepenuhnya saya berada bersama tuan muda, tidak ada pemikiran bahkan untuk berkhianat."
Junmyeon menghela nafas mengerti, "Aku tau." Lalu Jongin tanpa diketahui tersenyum membuat Jongdae menatap penuh perhatian. "Jika hyung bilang di rumah ini, maka bukankah itu adalah wilayah kita?"
Junmyeon menatap Jongin menunggu kelanjutannya, "Semua yang berani bermain main di wilayah kita maka kita pastikan dia akan tertangkap karena ini area kekuasaan kita mudah untuk menyisir satu persatu bukan."
Jongdae tersenyum puas dengan pemikiran Jongin, dan sepertinya mereka akan bersiap siap untuk berburu.
"Aku serahkan pada kalian." Junmyeon membalas menyandarkan punggungnya saat dirasa adiknya cukup jenius untuk mengurus hal ini dan memejamkan mata. Dia butuh istirahat dan kepalanya benar benar terasa berat saat ini.
Brak!
"Kim junmyeon!" Teriak Minseok masa bodoh dengan apa yang terjadi dalam ruang kerja Junmyeon, yang mana empunya langsung membuka kedua matanya menatap penuh kemurkaan. Jongin tau itu dan dia menggaruk bagian belakang kepalanya bingung dengan kebiasaan Minseok yang selalu berteriak kala membuka pintu.
"Apa kau yang menyuruh wanita ular itu kemari! Demi tuhan junmyeon aku baru bersyukur kau memberi pelajaran pada yuna dan sekarang kenapa kau justru menyuruhnya kemari!" Sekonyong konyong Minseok mengungkapkan pendapatnya di depan Junmyeon yang justru menyerngit tidak mengerti lalu menatap Jongdae meminta penjelasan.
"Luna kembali, dia mengatakan kau yang menyuruhnya."
Dan Junmyeon tidak bisa untuk tidak mengerang marah mendengarnya.
.
.
.
.
.
Bulan meninggalkan singgasananya berganti mentari yang mulai menduduki tahta dengan sejuta cahaya dan mulai membawa angin segar untuk orang orang yang mau berada di luar rumah menyapanya menunggunya menghangatkan dan membelai tubuhnya, Yixing mengambil Baretta yang dia simpan di laci kamarnya, berjalan dengan semangat kala Minseok dan Jackson ada di depan pintu kamarnya, mereka akan berlatih di area latihan belakang rumah.
Setelah kejadian kemarin dimana para pengacau merusak acara belajarnya, Yixing mulai memikirkan untuk mengikuti kemauan Junmyeon akan latihan menembak dan mengasah kembali kemampuannya. Semalaman juga dia berfikir akan rasa takutnya juga sisi lain dimana dia memang membutuhkan kemampuannya kembali, dibantu sugesti dari Dasom tentunya.
Dan jika kalian mau tau maka percayalah sebagian dari pikiran Yixing mengiyakan pemikiran sang penguasa, hanya 10% dan Yixing terburu mengenyahkan pikiran itu sebelum berkembang seperti adonan roti panggang buatan Kyungsoo. Tetapi dia masih saja membenci Junmyeon sebagaimana besarnya.
"Baiklah kita berlatih disini!" Seru Minseok melihat sekeliling dengan tatapan puas.
Semalam dia meminta Junmyeon untuk melatih Yixing di halaman belakang, dan Junmyeon menyetujuinya setelah meminta Henry mengatur area, keselamatan juga semua perlengkapan yang mereka butuhkan. Dengan begini mereka juga tidak butuh tempat terlalu jauh untuk berlatih, karena sesungguhnya area belakang hunian Henry masih sangatlah luas.
Jackson langsung fokus menjadi mentor, berada di depan menjelaskan memberitahu sebagaimana dapat mempermudah Yixing untuk memulai latihan dan Minseok hanya berdiri di belakang mereka berdua memastikan juga sesekali berteriak untuk mengarahkan. Beberapa anak buah ada berjaga di sana tidak jauh dari mereka, penjagaan di perketat setelah bagaimana kejadian kemarin berlangsung.
Junmyeon datang dengan Jongin yang berdiri di sisi Minseok menatap dari belakang beberapa tembakan Yixing dan papan tembak bergantian, Junmyeon tidak bereaksi apapun hanya wajah datar dan kedua tangan di masukkan pada saku celana tanpa suara selama Jongin dan Minseok saling mengomentari apa yang kurang dari cara Yixing menyasar pusat papan tembak dan bagaimana mendapatkan score baik.
Tiba tiba tatapan mata Junmyeon berganti menatap Jackson dan mulai memicing, menyenggol pelan lengan Jongin dimana dia dan Minseok langsung terdiam melihat Junmyeon, "Ada yang ingin aku pastikan tentang semalam." Dan keduanya faham siapa serta apa yang di maksudkan Junmyeon.
Tap tap
Junmyeon mendekat beberapa langkah di belakang Yixing dan Jackson, "Tangkap dia."
Sekejap beberapa pengawal langsung mengepung Jackson memegangi kedua lengannya, Yixing terpaku dengan tanda tanya besar lalu langsung berteriak, "Apa yang kau lakukan, Kim!" Berniat menodongkan Baretta yang mana dengan sigap seorang pengawal langsung mengambil paksa. Minseok juga Jongin terdiam bagaimana Junmyeon bertindak, mereka membiarkan meski tau akan bagaimana sikap Yixing menghadapi tindakan Junmyeon.
Tapi semua sedang saling menyimpan banyak rasa curiga selama sang penyusup masih berkeliaran di rumah ini.
Semuanya terasa kelabu dan akan banyak orang di curigai hingga harus menyisir satu persatu. Minseok mengetahui akan hal itu dengan baik.
"Kau tau kenapa kita sampai mendapat serangan kemarin? Karena terdapat penyusup di rumah ini."
Yixing menatap bergantian antara Junmyeon juga Jackson yang meringis lalu kembali protes, "Tapi kau tidak bisa menuduh jackson karena hal itu!" Hanya di balas seringai oleh Junmyeon yang justru dalam benaknya menyimpulkan definisi bahwa kemarahan si kecil Zhang adalah sebuah kecantikan yang natural, entah di sisi mana melihat wajah cantik Yixing yang marah merupakan candu tersendiri untuknya.
Oh, Fuck. Aku tidak percaya bahwa seseorang yang -mungkin- sedang jatuh cinta akan segila Junmyeon.
Mendongakkan wajah dengan kearoganan yang kuat, "Aku bisa melakukan apapun disini. Ini rumahku dan aku berhak menahan siapapun."
Dan ingatkan Yixing bahwa di depannya kini adalah sosok Junmyeon dengan harga diri tinggi menjulang dan arogan yang tidak bisa disembuhkan. Yixing begitu gemas bukan main hingga lebih ingin mencabik cabik daging Junmyeon saat ini. Sedangkan Jackson berteriak penuh pembelaan bahwa dia bukan penyusup atau pengkhianat yang di maksudkan Junmyeon kala di seret paksa oleh anak buahnya meninggalkan area latihan.
"Lanjutkan latihanmu, karena jika kau melanggar sedikit saja mungkin yang akan menanggung akibatnya adalah dia." Ancam Junmyeon sambil berlalu meninggalkan area latihan.
"Junmyeon! Kau tidak bisa melakukannya!" Teriak Yixing frustasi lalu menyentak lengan kirinya yang di pegangi seorang anak buah Kim -takut jika Yixing kembali lepas kendali, menatap Minseok yang masih berdiri di sana dengan tatapan meminta bantuan, "Hyung tolong aku. . .Junmyeon membawa-"
"Maafkan aku xingie, tapi kami masih mencari pelakunya disini dan itu adalah hak junmyeon melakukannya." Seketika tubuh Yixing lemas kala membayangkan bagaimana Jackson akan di perlakukan nantinya sedangkan Kim bukan tipe penyabar ataupun tipe berbelas kasihan jika berurusan dengan penyusup ataupun pengacau terlebih lebih seorang pengkhianat.
Di atas sana, dari jendela yang terhalang helaian gorden putih seseorang tengah menyunggingkan senyuman mengejek.
"Aku pasti akan mendapatkanmu, Kim."
.
.
.
.
.
.
"Kau serius dengan keputusanmu menahan jackson?" Taekwoon bersuara menghentikan tatapan Junmyeon pada lembaran laporan yang di dapat dari Luna beberapa jam yang lalu, menanggapi komentar Taekwoon membuat Junmyeon meletakkan bolpoin hitamnya dan menatap Taekwoon serius.
"Ada dua kemungkinan yang berputar dalam benakku, pertama jika benar zhang berada di balik pengacauan kemarin maka mereka salah mengambil yuna sebagai patner, bila bukan maka kemungkinan aku menuduh jackson adalah kesempatan bagi penyusup yang sebenarnya untuk melakukan sesuatu kembali menyentuh dan mencelakai yixing." Jelas Junmyeon.
Junmyeon masih ingat dengan seseorang yang dikirim dalam pengacauan dengan membawa gerber yang mana itu adalah senjata kusus yang tentunya di tujukan pada target utama dan jelas jelas kemarin sebuah tembakan awal di arahkan kepada Yixing -yang mana itu meleset- artinya Yixing disini merupakan target yang akan mereka singkirkan.
Dan taekwoon mengiyakan bagaimana pemikiran junmyeon, "Ada banyak orang yang berada di dekatnya, kau tidak perlu khawatir. Minseok juga kami ada di sampingnya."
Kembali memikirkan bahwa seluruh orang akan berada di sisi Yixing sedikit melegakan Junmyeon, "Ya, aku tau. Tapi aku minta semua yang berhubungan dengan yixing apapun itu yang dia sentuh kau pastikan tidak ada apapun disana."
"Tentu." Balas Taekwoon.
"Lalu bagaimana dengan yixing dia tidak akan diam, aku yakin." Sambungnya lagi
"Hmm. . ." Sang penguasa menguarkan aura kental yang tiba tiba membuat Taekwoon terperanjat dengan seringai dan usapan dagu begitu terlihat brengsek bahkan maniak, "Mungkin aku bisa mendapatkan sebuah negosiasi dengannya."
"Oh, fuck! Brengsek kau junmyeon!" Taekwoon tidak habis fikir jika Junmyeon akan mengambil keuntungan dengan hal ini.
Namun percayalah sedikit saja Junmyeon tidak berpengaruh akan bagaimana umpatan itu di layangkan sahabat dokternya. Sekonyong konyong justru membuat Junmyeon semakin menjadi jadi, mengulas bibir luar dengan lidah yang entah mengapa membayangkan saja membuat Junmyeon 'kehausan' hingga bola matanya berkilat kilat.
Cklek
Taekwoon juga Junmyeon reflek mengarahkan pandangannya pada pintu yang terbuka dan melihat Yixing dengan tatapan antara kesedihan, marah juga frustasi -bola matanya berkaca kaca- Taekwoon terperanjat untuk kesekian kalianya mendekati si kecil Zhang dan memegang bahunya tidak menyadari tatapan dari seseorang di ujung sana yang terbakar juga seolah akan membunuhnya dari arah meja kerja, "Hei, xingie apa yang terjadi?"
Yixing hampir hampir akan menangis begitu Taekwoon menghampirinya dan bertanya demikian namun dia tau jika Junmyeon adalah satu satunya orang yang bisa merubah keputusan di sini, sehingga dia melampiaskannya seraya menahan nahan emosinya maupun air mata yang hampir membasahi pipi pucatnya membentuk aliran sungai dengan berteriak menatap Junmyeon dari balik Taekwoon, "Aku ingin jackson dibebaskan!"
Junmyeon tersenyum remeh mendengarnya dan Taekwoon terperanjat untuk kesekian kalinya berbalik menatap Junmyeon melihat ekspresi sang penguasa yang acuh tak acuh,
"JUNMYEON!" Yixing membentak atau lebih mirip merengek dengan kaki kanan yang di hentakan, Taekwoon justru ingin tertawa melihat ekspresi Yixing namun dia tahan karena sadar jika makhluk kecil di depannya ini akan sangat terlampau sensitif. Junmyeon tidak terpengaruh tetap stabil melakukan pekerjaannya lalu terhenti untuk mengatakan pada Yixing yang membuat Taekwoon merasa aneh di antara mereka dan undur diri.
"Ku fikir bukan seperti itu sopan santun untuk sebuah permohonan."
"Kau!" Teriak Yixing frustasi melangkah cepat mendekati meja kerja Junmyeon namun terhenti seketika kala mendengar jawaban Junmyeon, "Siapa kau?"
Menyeringai.
Yixing justru terpaku, terdiam bahkan merasa bahwa kakinya tidak mampu berpijak dengan benar, 'Siapa dia' sebuah pertanyaan mudah yang di layangkan Junmyeon dan menghentikan separuh dari otak kecilnya, bola mata si kecil semakin memerah saat sebuah kenyataan di depannya menghantam, dia sadar sekarang bahwa di depannya bukan lagi sosok manusia.
"Siapa kau? Sehingga aku harus menuruti ucapanmu yang bahkan lebih mirip bentakan?" Tanya Junmyeon yang mulai berdiri dari kursi kebanggaannya berjalan menghampiri si kecil yang tidak berkutik dengan ucapannya dan mengangkat dagu Yixing, menggali sebanyak apa keberanian untuk kembali menjawab.
Kalian pernah dengar bahwa mungkin sikap bisa di sembunyikan layaknya sebuah drama dengan skenario tertulis bagaimana dan apa yang akan kita sebagai pemain harus bergerak, namun ada kalanya hati tidak bisa di bohongi dan sebaik baiknya sikap yang kita tunjukkan akan tetap ada secarik yang mendekripsikan isi hati kita. Seperti mereka berdua kala sama sama menutup hati dengan kebencian satu sama lain namun tatapan keduanya sama, tatapan kerinduan yang teramat sangat tanpa di sadari menguar bebas terutama Junmyeon bagaimana jemarinya meraih dagu Yixing dan bertengger untuk sebuah usapan lembut, bola matanya tidak lepas dari kelereng jernih Yixing yang berpendar redup, bagaimana si kecil begitu lemah dan rapuh namun indah di saat bersamaan, Junmyeon masih memuji bagaimana makhluk di depannya ini begitu indah dan cantik.
Junmyeon terjebak dalam pesonanya, dan sadarkah kalian jika dalam jiwanya menggelap untuk sebuah tujuan yang akan membawa si kecil dalam jurang kegelapan.
"Aku bukan seseorang yang dengan mudah mengabulkan permohonan, terlebih karena membela seseorang yang menurutku salah." Jemari itu merambat pada pipi pucat dan mengusapnya sangat perlahan. Junmyeon sedikit banyak terbakar bagaimana bibir manis penuh candu ini mengucapkan nama 'Jackson' terlampau fasih dan sangat ringan, tidak untuk nama lelaki lain di mulut Yixing hanya dia - ya hanya dia.
Yixing masih menatap tidak mengerti dan terdiam membiarkan sang penguasa melakukan hal yang dia suka dengan wajahnya, hanya satu yang ada dalam benak Yixing bagaimana kelereng hitam itu begitu kuat memenjarakannya mengambil semua fokus tanpa menyisakan sedikitpun.
"Berikan aku penawaran, zhang yixing?"
Bola mata Yixing melebar menatap tak kuasa bagaimana perkataan Junmyeon menghantam, tidak pernah dia fikirkan jika Junmyeon akan mengucapkannya,
"Sebuah penawaran menarik, mungkin." Junmyeon benar benar brengsek kala hidungnya membaui sepanjang pipi turun hingga lehernya dan memberikan kecupan kecupan pelan di pundaknya.
Yixing tidak bodoh untuk mengartikan perkataan Junmyeon dan tindakannya barusan hingga dia tersentak dengan kecupan di sana lalu mendorong bahu Junmyeon dengan tatapan mata marah, namun Junmyeon justru terkekeh melihat reaksi berlebihan Yixing -menurutnya-
"Baiklah, itu keputusanmu aku tidak akan memaksa." Mengambil ponsel dan jam tangan yang tergeletak di meja kerja lalu berbalik menatap Yixing lebih tenang dan berjalan untuk berucap, "Namun jangan pernah memohon untuk kebebasan lelaki pengawalmu itu."
Yixing gemetar dalam dirinya menatap Junmyeon yang tersenyum tipis di depannya dan mulai berlalu meninggalkannya, maka memberanikan diri dia berucap hingga dia tidak percaya pada ucapannya sendiri, "Ka-kau berjanji tidak akan melakukan apapun padanya dan membebaskannya?"
Junmyeon hanya berhenti sebentar untuk mendengar dan kembali berlalu menuju pintu untuk meraih handlenya namun bahkan belum mencapai depan pintu telah terhenti oleh ucapan Yixing yang begitu lemah, "Hanya. . .hanya malam ini."
Sempurna, seringai Junmyeon menguar mendengar jawaban kekalahan si kecil lalu berbalik , "Keputusan yang bagus." Yixing mendekat untuk memastikan satu hal mengucapkannya terlampau lemah tanpa kemampuan dan penuh harap maka percayalah Junmyeon tidak menyukai hal itu, "Kau berjanji!"
"Ya."
"Aku yang berkuasa di sini aku bisa melakukan apapun." Junmyeon ikut mendekat dengan kedua tangan terlipat di depan dada begitu arogan, termasuk bagaimana fakta dia dapat membuat Yixing untuk menyerahkan apa yang dia inginkan meski harus menyeret Jackson terlebih dahulu.
"Kau iblis, Junmyeon!" Yixing mengucapkannya dengan seluruh kesakitan dalam ekspresi wajahnya, menanggapi Junmyeon hanya menyeringai dan mendekat memberikan kecupan ringan di bibir cherry Yixing.
"Aku tidak keberatan dengan sebutan itu." Tau jika Yixing sadar dia diperalat dan Junmyeon menggunakannya untuk menunjukkan pada si kecil bagaimana kekuasaannya juga kata katanya mempengaruhi.
.
.
.
.
.
"Aku tidak percaya kau sudah ada di sini."
Junmyeon melangkah santai memasuki kamar bernuansa gelap miliknya, menatap senang Yixing yang sudah terduduk bersimpuh marah di ranjang. Terkekeh alih alih menggodanya yang mungkin akan langsung meledak saat ini juga, terbukti dari dengusan Yixing, "Hanya sesuai perjanjian kita!" Lalu dia memalingkan muka enggan menatap wajah menggoda Junmyeon.
"Biarkan aku membasuh diri sebentar."
Tidak butuh jawaban Yixing yang bahkan tidak penting bagi Junmyeon dimana dia begitu saja melepas kemejanya tanpa sungkan atau peduli bagaimana reaksi horor Yixing hingga wajahnya memerah di dalam remangan lampu kamar Junmyeon. Junmyeon tau hal itu dan menyeringai meninggalkannya begitu saja.
Ruangan kamar Junmyeon cukup unik dan nyaman sebenarnya, bagaimana kamar ini cukup luas dan beberapa barang tertata lebih simpel dengan dominan warna hitam dan silver, di sebelah ranjang langsung memperlihatkan pemandangan pepohonan samping hunian Henry dengan kaca lebar, melangkah mendekat Yixing mencoba melihat sesuatu yang mungkin akan dapat dia temui dari jendela kaca itu.
Hingga Junmyeon menyelesaikan kegiatannya dan keluar dengan sebuah piyama hitam dan rambut basahnya Yixing masih di sana, dia tau dan melihat dari pantulan kaca bertukar pandang dengan pantulan kaca, senyum tipis Junmyeon terlihat dari sana hingga sang penguasa menyambut si kecil mendekatinya yang temanggu di depan jedela.
"Apa yang kau lihat?"
Yixing kembali terfokus menatap luar, "Jalan keluar mungkin. Hingga aku bisa bebas dari orang sepertimu." Berbalik menatap tanpa gentar pada Junmyeon yang terkekeh.
"Lalu sudah dapat?" Pertanyaannya mengejek dengan wajah yang mampu membuat Yixing marah tanpa sebab.
Junmyeon tidak butuh jawaban dari keterdiaman Yixing dan mengunci begitu saja pergerakan si kecil dengan menumpu kedua tangan di sisi kanan kiri wajahnya, Yixing menatap penuh kesiagaan.
Hei bukan kah ini cukup erotis? Dengan keadaan Junmyeon yang jauh dari kata kering hanya menggunakan piama dan Yixing terkunci oleh jendela kaca di belakangnya dan Junmyeon di depannya, terlebih dia hanya mengenakan kemeja hijau tosca kebesaran dan celana sebatas lutut berwarna cream.
"Kau gugup?"
Ketahuilah bahwa sang penguasa sedang bermain main dengan mangsanya, "Aku begitu marah sampai rasanya aku ingin membunuhmu."
Junmyeon menyeringai, "Aku tau."
"Aku tau seberapa besar kau ingin membunuhku dengan otak pembangkangmu." Junmyeon tidak peduli memajukan wajahnya hingga kedua pucuk hidung telah bersentuhan hanya sedikit lagi maka mereka berciuman, "Lalu dengan mudah akan aku pastikan kau kehilangan semua hal yang kau miliki."
Dengan begitu sebuah kecupan pelan itu datang, memainkan belahan bibir atas Yixing dengan hisapan tarikan kecil dan lumatan basah berpindah pada bibir bawah yang turut di tarik kecil oleh Junmyeon, Yixing hanya terdiam tanpa membalas membiarkan orang di depannya bermain dengan bibirnya sementara-
Sret!
Bruk!
"Akh!" Yixing berteriak dengan tubuh sudah berbalik wajah membentur kaca di depannya tubuhnya di putar Junmyeon begitu cepat dengan kedua tangan terlipat di belakang,menahannya berulah.
Junmyeon mendengus, "Bukankah aku sudah bilang aku tau segala yang ada dalam otak pembangkangmu!"
"Aaakh!"
Junmyeon merebut sebilah pisau pipih yang tersembunyi di balik lengan kemeja Yixing dan membuangnya begitu saja. Dia tau dengan baik kenapa Yixing tidak membalasnya dan sengaja memancing hingga pisau itu keluar dari persembunyiannya.
Junmyeon mundur dua langkah kebelakang menatap tajam Yixing yang berbalik menatapnya kesakitan, "Aku berbaik hati memberimu penawaran untuk kebebasannya."
"Ah ya, Kau tidak membutuhkan hal ini. Bukan masalah maka kau juga bersiap untuk melihatnya menerima apapun dariku." Junmyeon berucap hampir tidak ada nada main main di sana, tegas dan final.
Yixing kalut seketika, dia melakukan kesalahan besar bermain main dengan Junmyeon dan segala kuasanya dalam hal ini menyangkut nyawa seseorang hingga dia terdiam dengan pikiran berlarian semakin membuatnya ketakutan akan apa yang Junmyeon perintahkan untuk Jackson dan tanpa sadar sang penguasa melangkah meninggalkan keterdiamannya yang bodoh.
Junmyeon marah, tentu bagaimana cara si kecil bermain curang untuknya hingga tanpa tedeng aling aling melangkah meninggalkan kamar dan mulai membuka gagang pintu sampai tubuhnya terdorong dan pintu kembali tertutup, punggungnya membentur daun pintu dibelakangnya, namun bukan hal itu yang membuatnya kaget adalah bagaiman tubuh kecil di depannya gemetar kentara ketakutan dan bibir yang mengecap miliknya penuh kuasa, berusaha mendominasi dan bahkan bermain sendiri.
Mengecup bibir Junmyeon begitu lembut memainkan gigitan kecil di sela permainan bibirnya kemudian hisapan seolah bibir Junmyeon akan robek dengan gigitan kelewat menggelitik dan jangan lupakan bagaimana lumatan disertai lidah yang berusaha menerobos masuk dalam pertahanan Junmyeon.
Junmyeon menatapnya begitu tajam tidak melewatkan bagaimana mata si kecil berganti sayu dan menikmati permainannya sendiri kedua tangannya di genggam di sisi kanan kiri seolah ketakutan dia akan membuka pintu dan meninggalkannya sendiri dalam malam dingin namun tak menunggu lama tangan tangan itu yang kurang ajar memainkan piyama, mencari celah masuk menyentuh lebih dalam dada bidang sang penguasa.
Junmyeon membiarkannya, bagaimana lidah kecil itu masuk dengan gerakan kelewat gemulai mengajaknya bermain dalam belitan hisapan lidah, Junmyeon menyanggupinya memegang kepala Yixing menekan tengkuknya tidak membiarkan dia lagi barang sedetik dan menghisap bibir bawahnya kasar tidak sabaran,
"Aahh!" Lidahnya di lilit hingga entah bagaimana dihisap kelewat sensual penuh tekanan dan nafsu yang semakin menguasai keduanya, tangan Yixing sudah tidak berada dalam area yang benar ketika kedua telapak tangannya mengusap dada Junmyeon kelewat menggoda seolah menantang sang penguasa untuk semakin menujukkan sisi dominan hingga mengukungnya di bawah nafsu yang berputar pesat. Dia terlanjur masuk kedalamnya dan sulit keluar tanpa kenikmatan putih menjemput.
Yixing mengerang kala usapan lembut di belakang tengkuknya dan hisapan tidak sabaran Junmyeon merenggut nafasnya, dia menarik kepala menjauh dengan liur menetes hingga kedagu, "Jangan pergi." Nafasnya tersenggal wajah memerah dan bibir bengkak Junmyeon menatap penuh nafsu namun juga tidak melupakan perbuatan membangkang yang terjadi tadi. Tapi -Fuck Yixing kelewat menggairahkan dengan semua ini.
"Memohonlah." Junmyeon menatap intens dengan kedua tangan belum lepas dari sisi wajah Yixing memberinya usapan lembut di pipi merona.
"Aku mohon junmyeon jangan pergi." Munurut tanpa perlawanan.
Dan selanjutnya Junmyeon tidak menahan nahan lagi untuk mencium Yixing hingga tidak sabaran, menghisap kedua belahan bibirnya dan saling melilit lidah seolah tidak ada lagi hari esok yang akan mereka lalui, Yixing di bawa Junmyeon dalam gendongan dan menyandarkan punggung si kecil di dinding sampingnya, membuat kaki kecil Yixing melilit pinggang ketakutan untuk perginya Junmyeon juga nafsu si pangkal pahanya yang sudah mulai mengeras dan Junmyeon semakin ingin menenggelamkan Yixing pada dinding di balik ciumannya.
"Aaanhh!" Yixing mendesah bagaimana kedua kejantanan mereka bergesekan dengan wajah Junmyeon yang menyeringai, tangannya bermain main di tonjolan kecil di balik kemejanya si kecil memelintir hingga menarik narik sesuka hati -bukan sebuah kelembutan.
Yixing sendiri terkejut bagaimana tubuhnya merespon semua sentuhan Junmyeon, bagaimana tidak lebih dia mirip pelacur yang mengemis segala sentuhan dan perbuatan cabul Junmyeon. Tidak tau darimana datangnya nalurinya membawa kedua tangan meremas remas rambut hitam Junmyeon terlampau kusut, mendongak meraih wajah Junmyeon mengajaknya berciuman saling melumat menjilat dan menghisap. Dia belum puas, belum dengan ciuman yang begitu dalam juga penuh candu membiarkannya berkuasa barang sebentar akan mulut sang dominan.
Punggungnya menyentuh sesuatu yang empuk dan tersadar tubuhnya sudah ada di bawah kukungan Junmyeon di atas dengan celana yang tidak lagi menempat dengan benar, Yixing lupa bagaimana cara Junmyeon membawanya hingga hanya tersangkut dimata kaki yang selanjutnya dia hanya merasakan lidah basah Junmyeon mengecap tulang rahangnya bermain jejak basah melingkupi telinganya mengecap dan mengigit gemas di sana, "Perdengarkan padaku suara indahmu baby." Serak dan dalam Yixing dibuat merinding bagaimana Junmyeon berlaku padanya hingga ceruknya di sentuh main main dari balik celana dalamnya.
"A-ahn!" Yixing bergetar, kedua paha polosnya mengatup namun jemari Junmyeon merambat di sana mencegah, bermain menggoda bergerilya menelusuri terlampau sensual menggoda gundukan juga ceruk tidak mengentuhnya dan hanya bermain main di sebelahnya. Hanya menyentuh sesekali dan meninggalkannya, bibir Junmyeon turun ke area jenjang leher Yixing bermain dengan jilatan kecil kecupan lembut membuat si kecil terbuai dan hingga rasa lain hadir di sana, bukan kisamark dengan kelembutan hisapan kuat tetapi bite mark, Junmyeon lebih suka bagaimana hasil perbuatannya akan sulit hilang bahkan membiru setelahnya.
"Akh!"
Kaki Yixing dibawa mengait di pinggang menarik tubuhnya bangun terduduk di atas pangkuan Junmyeon, tersipu sipu malu saat merasakan gundukan menpengaruhi atensi dan bongkahan pantatnya di bebaskan satu sisi dengan hadiah tamparan setelahnya. Bukan kelembutan ingatlah hal itu.
Plak!
"Akhh!" Yixing menunduk menyembunyikan wajah di ceruk Junmyeon membaui sang penguasa yang menguar maskulin dan kesegaran juga gairah kental. Membiarkan rasa sakit merambati leher yang di gigit juga pantatnya.
Plak!
Plak!
"Akh- sa . .sakit!"
Plak!
"Jun-ahh!"
Junmyeon menyeringai terhibur bagaimana tubuh yang lama dia inginkan merespon perlakuannya kurang ajarnya, bersemangat meninggalkan jejaknya dia membaui leher Yixing dan memberi bitemark di sana. "Akh! Nnh."
Plak!
"Hiks. .nnh! Sakit akh!"
Junmyeon meraih pipi yang mulai basah oleh aliran sungai air mata Yixing berbisik di depan mulutnya, "Memohonlah baby maka aku akan mengabulkannya."
Plak!
"Oh! -nnh."
Itu nikmat, semakin lama semakin sakit namun juga nikmat bersamaan dan Junmyeon belum berhenti menyiksanya dengan bertambah hisapan kuat di tulang selangkanya -itu akan membekas besok dia yakin- Plak!
"Junmyeon. .hiks! Akhh. .sakit."
Plak! Plak!
"Hentikan-nnh kumohon. .ah!"
Junmyeon menjauhkan wajahnya menatap Yixing yang sudah basah mengusapnya lembut dan menciumnya tidak kalah pelan juga dalam membawa di kecil melupakan sakitnya, memijat niplle dalam pusaran lembut. Yixing luluh-terbuai bagaimana sang penguasa menggodanya hingga melupakan harga diri turut memainkan gesekan rangsangan pada kedua kejantanan mereka yang tertutup.
Junmyeon menyeringai dalam ciuman dan merasakan langit langit dalam rongga si kecil dengan begitu menggoda. Lalu dia tersentak kala kancing dari kemejanya lolos dengan tidak elit dan terpelanting entah kemana -Junmyeon menariknya begitu saja tanpa perasaan.
Berharap nipllenya di sentuh oleh dingin sesuatu lidahnya membuat Yixing menyodorkan dadanya, Junmyeon menurutinya hanya berada di sekitar dada menciuminya tanpa benar benar menyentuhnya, membuat Yixing mengerang tersiksa, "Sen-tuhnn. . Ah!"
Bruk!
Yixing terbanting dengan kedua tangan terkunci di atas kepala dan Junmyeon mulai bermain dengan baik dalam jejak basah kecupan dan hisapan dada namun tidak menyentuh karena percayalah Yixing hanya mengingat bagaimana Junmyeon hanya membaui dadanya dan sengaja hanya menyentuh niplenya dengan ujung hidung, "Memohonlah baby. .katakan apa yang kau inginkan."
Gundukan di bawah sana tersiksa dengan ereksi kelewat tegang masuh terkurung celana dalam yang sayangnya sialan sangat sesak ketat saat ini. Seolah belum cukup Junmyeon membuatnya tersiksa dengan semakin merapatnya kedua kejantanan dan bergesekan, "Anh!"
"Kumohon. .umh!"
"Ya baby?" Kecupan itu datang di samping niplenya persis. "Oh! Lebih dekat!"
"Aku tidak mendengarnya sayang," gigitan itu membunuhi dada Yixing,
"Kumohon. . Umh! Sentuh. .ah!Jun-oh disana!"
"Dimana?" Junmyeon menghentikan semuanya menatap penuh perhatian dan wajah Yixing terbakar saat itu juga dengan nafsu kental di ubun ubun. Dia tau jika keinginan sang penguasa tak akan pernah mau di tentang, dan dia kalah malam ini.
"Sentuh aku junmyeon! Disana . . .dimanapun, ku mohon-hiks!" Ereksinya sakit luar biasa dan kenikmatannya menghilang namun tidak berlangsung lama sang penguasa menepati perkataannya menciumin niplle dan memasukkannya dalam rongga hangat dan dinginnya sapuan lidah, di hisap terlampau keras dan bersemangat seolah akan keluar cairan dari sana, kedua tangannya sudah terbebas dan Yixing bersemangat untuk memainkan rambut belakang kepala Junmyeon melampiaskan nafsunya. Dia dapat merasakan jemari Junmyeon menarik tidak sabaran satu kain fabrik yang masih melekat membungkus kejantanan hingga terbebas dan mengacung basah.
Junmyeon tersenyum melihatnya kala si kecil di bawah sana mengeluarkan precum dan berkilat basah, mencoba menggodanya Junmyeon menyentil dan Yixing mengerang kesakitan menggeliat tidak nyaman, "Aannh!"
Kelegaan menyelimutinya kala kedua tangan Junmyeon memegangi pahanya untuk berhenti bergerak dan membawa kejantanannya pada rongga hangat memabukkan milik Junmyeon. Yixing melayang menggigit bibir juga mendesah tidak kuasa dengan hisapan Junmyeon penuh dalam dan kuat. Dia melambung dengan irama naik turun juga gigi yang turut serta, lubangnya di mainkan terus hingga perutnya berputar terdorong oleh sesuatu di bawah sana, dan Junmyeon melepaskan gelombang tinggi itu tiba tiba membuat Yixing memberenggut marah.
Terkekeh, Junmyeon melepaskan piyama yang bahkan tidak terpasang dengan benar akibat tangan tangan Yixing tadi, meloloskannya dan mengambil jemari Yixing untuk menyapa miliknya dibalik kain penghalang, Yixing mengigit bibirnya terlampau gugup bagaimana mimik wajah takut cukup menghibur Junmyeon.
"Tidak ada jalan keluar disini, kau tau itukan baby?"
Yixing mengangguk bagaimanapun juga Junmyeon tidak boleh keluar dari sini dan meninggalkannya untuk sebuah keputusan yang buruk namun percayalah bahwa alih alih melakukan perjanjian mereka lebih dari bermain seolah menghabiskan malam dan tidak ada hari esok jika mereka berhenti disini.
Mungkinkan ini isi hati mereka? Kerinduan?
Oh Fuck! Siapa yang tau jika bukan mereka sendiri.
Bagaimana Yixing beralih menyambut milik Junmyeon tidak peduli seperti apa dirinya kala menyambut kedua tangan Junmyeon dalam mulutnya, dia hisap seolah itu barang kebanggaan Junmyeon dengan wajah terlampau sensual, "Shit . .shit . .shit!"
Junmyeon tidak bisa percaya bagaimana Yixing memainkannya hingga membuatnya kian tegang, "Buka lebar lebar kakimu, baby." Suaranya dalam dan dipenuhi nafsu membubung tinggi.
Menurut, Yixing menunjukkan ceruk merah menggodanya hingga membuat Junmyeon mendekat terlampau tidak sabaran, menggelitik ujungnya dan Yixing bisa membayangkan bagaimana sakit akan besarnya benda itu. Junmyeon mengerti memberikan kecupan di pipi merona si kecil memainkan nipllenya mengalihkan perhatian sementara di bawah sana menerobos tanpa pelumas. Mereka berdua tau apa konsekuensinya dan nafsu sudah mengambil semua kesabaran mereka.
"Aaakhh! Sakit- berhenti!"
Yixing membanting kepalanya perwujudan sakitnya bagian bawah sana terbelah oleh kebanggaan Junmyeon yang mendorong perlahan dan terdiam kala dia merasa Yixing membutuhkan waktu namun itu tidak akan selesai hingga tertanam seluruhnya, "AKH! SHH"
Junmyeon mencium Yixing menghilangkan sakit dengan mengalihkan perhatiannya namun mengeram menyadari Yixing menggigit sisi sudut bibirnya, tidak keberatan alih alih marah karena percayalah lubang Yixing terlampau ketat mencengkeramnya dalam sana dengan kenikmatan Junmyeon melingkupinya begitu dalam. Wajahnya kian arogan dalam kepuasaan yang dicapainya, dan tidak bertahan alunan tubuh mulai terbangun bagi keduanya meskipun Yixing masih meringis kesakitan namun Junmyeon mengabaikan hal itu. Kaki putihnya di angkat setinggi bahu mempermudah bagaimana sodokannya mengenai keseluruhan sisi dalam tubuh Yixing.
Mengutuk Junmyeon yang tidak bertahan lama dalam tempo pelan dan mulai membangun irama keras dan kasar, "Ah- Aah!" Yixing merasa tubuhnya terjaman begitu dalam dan penuh bagaimana dindingnya bersentuhan dengan sesak dan besarnya milik Junmyeon, jangan lupakan bagaimana urat urat di sana begitu turut memacu alat indra perasa Yixing -wajahnya memerah untuk satu hal dan yang lainnya- tatapan Junmyeon yang menelanjangi hingga sisi terdalam tubuhnya dan tempo gerakan Junmyeon yang begitu gentle dan kuat. Jangan lupakan kedua lengan kekar yang mengukungnya tanpa jalan keluar dan bahu lebarnya, oh begitu dia memuji kesempurnaan peia di atasnya yang bergerak liar jemari lentiknya meraih naik ke atas mengusap pipi Junmyeon yang dibalas senyuman -lebih mirip seringai.
Mendominasinya hingga ke tulang terdalam Yixing, terkejut juga hampir hampir melonjak senang kala miliknya yang mengacung kecil meminta perhatian kembali terjamah, kejantanannya di manjakan dengan sebelah tangannya mengocok dengan tempo sama. Tiba tiba bola mata Yixing melebar, ujung benda di dalam sana mengentuh sesuatu yang menjadi pusat kenikmatan terbesarnya sebuah senggolan kecil dan perut Yixing melilit akan sebuah luapan bahkan ledakan di dalam nya.
Junmyeon menatapnya dengan seringai puas, tidak melewatkan bagaimana ekspresinya kala prostat di dalam sana tersentuh dengan akurat. Yixing menggelijang kenikmatan itu mengantarkan gelombang pada kepalanya hingga membuatnya pening bukan main, tusukan Junmyeon terlampau kuat membuatnya bergetar dan terus menerus pada titik yang akurat menghajarnya terlampau nikmat, "Hhnnnngg. . .junmyeon~"
"Angh!"
Nipllenya kembali disapa dengan kadar dan tusukan di bawah sana tidak berkurang, Yixing merintih di sisi telinga Junmyeon menyemangati sang penguasa untuk menguasai tubuhnga dan dia terbuai bagaimana gesekan kejantanan kecilnya dengan perut berotot Junmyeon.
Menghilangkan kewarasan Yixing dan hanya berpikir bagaimana kenikmatan melingkupi kepalanya membuatnya hanya mengerang mendesahkan nama Junmyeon yang menghantarkan pening luar biasa, menggaruk memenuhi juga menusuk tepat pada postatnya. Kaki kaki kecilnya melingkupi pinggang dan bahu Junmyeon tanpa kemampuan besar karena sungguh tenaganya hanya mampu mendesahkan nama Junmyeon kelewat erotis. Menarik wajah tampan di atas yang mengukungnya dalam ciuman panjang dan usapan sensual di tengkuk Junmyeon seolah memberinya persetujuan akan perbuatan kurang ajar Junmyeon kali ini.
Tangan Junmyeon memainkan kejantanan Yixing membawanya pada puncak yang tertunda, mengusap bola di bawah sana memancing gelombang kenikmatan lainnya. "Kau sangat ketat baby." Junmyeon memuji bagaimana lubang Yixing menggodanya dengan hisapan dalam dan begitu ketat remasan pada seluruh sisi miliknya, dia memberikan tusukan konstan dan tepat terlampau senang dengan desahan Yixing akan permainannya dalam setiap panggilan nama penuh pemujaan.
Pantat berisi itu di remas dan Junmyeon menyuruhnya untuk menungging, membuat dia menyanggupinya dan Yixing benar benar malu kala harus menyodorkan lubangnya didepan Junmyeon yang langsung memberinya tamparan keras juga pada ereksinya yang menggantung, "Aanh!"
Terkekeh, Junmyeon memasukkan miliknya dan mulai memberikan tusukan tusukan kelewat cepat dan tepat mengagetkan Yixing hingga terlonjak dan mencengkeram seprai -melampiaskannya, berusaha mengimbangi Junmyeon yang entah dari mana nalurinya Yixing mengetatkan dan meremas milik Junmyeon menimbulkan geraman kasar sang penguasa yang tetap memaju mundurkan miliknya dan peraduan kedua kulit menjadi teman mereka.
"A-aanhh!Junmyeon-nyah!"
Menggelijang Yixing menemukan gelombang kenikmatan yang tadi menghampirinya, Junmyeon yang cukup peka manarik lengan Yixing untuk berdiri bertumpu pada lutut membusurkan tubuhnya, sebelah tangan memeluk tubuh Yixing dan memainkan sebelah nipllenya dan satu lagi mengurut sesuai dengan tempo kecepatan sodokan Junmyeon. Yixing terjatuh dalam pusaran kenikmatan putih dan ledakan di menit berikutnya dengan lengkingan nama Junmyeon membuat sang penguasa menyeringai. Liur menetes meninggalkan gulungan gulungan yang menggetarkan pahanya kala cairan putih menyemprot pada selimut juga seprai di bawahnya dan Junmyeon mengeram bagaimana itu bereaksi pada cengkeraman kuat di kejantanannya dalam lubang Yixing seolah akan di remukkan.
Tidak peduli bagaimana tubuh Yixing yang dia tunggangi terlampau sensitif setelah orgasme Junmyeon memacunya gila gilaan, mengeluar masukkan dan menciumi punggung mulus di depannya, Yixing sudah hampir hampir tersungkur dengan kenikmatan yang seolah tidak ada ujungnya dengan kejantanannya yang masih di genggam Junmyeon di urut seolah mengeluarkan habis sari sarinya. Dan Yixing merasa jika milik Junmyeon mulai membesar di dalam sana. Tau jika sang penguasa akan menjemput kenikmatannya Yixing mengerang menggerakkan tubuhnya berlawanan dan mengetatkan lubangnya,
"Oh!Fuck!"
Dan pada tusukan kelima yang begitu dalam Junmyeon melepaskan sarinya dalam tubuh Yixing yang reflek mendesah bagaimana tubuhnya terasa hangat dengan cairan Junmyeon tidak bisa di bilang sedikit dan bahkan dia masih memaju memundurkan pinggangnya seolah mengeluarkan seluruh sari sari dari dalam sana dan mencabut saat dirasa selesai. Yixing langsung ambruk setelahnya tubuhnya luar biasa remuk nafas tersenggal bukan main dan Junmyeon memgikuti memeluk di belakangnya mengusapnya kelewat lembut dengan berbisik sensual, "Kau luar biasa nikmat baby."
"Ungh."
Setelahnya dia tidak ingat apapun kecuali kecupan di dahinya juga ucapan selamat malam dari Junmyeon.
.
.
.
.
.
Teleponnya berdering mengusik ritual Junmyeon menatap wajah damai Yixing kala terlelap, mendesah malas kala melihat nama id pemanggil namun tetap mengangkatnya, "Tunggu aku di ruang kerja bersama jongdae."
Junmyeon membawa langkah malas mengambil piyama hitam yang kontras dengan kulitnya menyisir rambut dengan jemari dan mulai meninggalkan kamar setelah memastikan Yixing terselimuti dengan baik. Kala dia membuka pintu ruang kerjanya Jongdae menjadi pihak pertama yang menatap horor padanya,
"Uhhuk!"
Menatap kelewat tidak percaya dengan penampilan Junmyeon yang selalu rapi alih alih memakai piyama kusut bukan main, rambut acak acakan, bibir sobek di sisi ujung juga bekas cakaran yang mengintip di balik leher kerah piyama dan jangan lupakan bau-oh sialan bau sex kelewat pekat seolah menunjukkan bagaimana malam panas baru saja dia lalui.
Jongdae ingin menenggelamkan Junmyeon di bak mandi alih alih melihatnya disini.
Brengsek sialan memang dia justru berjalan santai lalu mendudukkan diri kursi kebanggaannya tidak memperhatikan tatapan shock juga terpukul dari sosok lain di ruangan ini.
"Ekhm!" Jongdae mengatur ekpresi juga -sialan dia ingin menonjok wajah arogan Junmyeon yang semakin menjadi- terburu menatap lain dan memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana sebelum lepas, "Mulai presentasimu luna."
Sang wanita satu satunya di ruangan itu tergagap, membuka terburu dengan gemetaran melingkupi diri tanpa dapat terkendali, aura pekat Junmyeon yang selalu kuat semakin kuat di saat ini lalu saat dia sampai pada laporannya dia mencoba mengatur suara agar tidak terlihat begitu gugup dan terpukul oleh hal lain. "Pe-peningkatan saham kita di thailand mengalami kenaikan sempurna tahun ini tuan bahkan hingga 38 % telah kita miliki dan disana semua masih terkontrol baik seperti saat tuan muda berkunjung."
Junmyeon menatap serius, dia memiliki saham di Tailand dan menggunakan orang lain sebagai tameng untuk melindungi nama juga statusnya dalam dunia hitam yang mana tidak akan mempengaruhi banyak pertanyaan, hanya dia dan keluarga kim namun tidak dengan ayahnya -terlalu riskan berhubungan dengan orang tua itu. Dan Luna merupakan gadis yang dia percaya sebagai jembatan pengantar perintahnya dengan wilayah Tailand.
"Jadi hal ini yang membawamu jauh jauh kemari?" Junmyeon bertanya dengan tangan bertumpu di meja menatap penuh perhatian. Jongdae juga tersadar dengan hal itu menatap Luna di sampingnya yang masih gemetar.
"Y-ya tuan muda."
"Kau bisa mengirimkan bagaimana mestinya kita menyampaikan pesan apa itu sulit?" Junmyeon kentara sekali marahnya karena tau tau dia ada di sini tanpa perintah yang seharusnya.
"Saya tidak bisa menahan diri untuk menyampaikan kabar gembira ini, maaf untuk kelancangan saya-"
"Ya! Kau terlampau lancang karenanya aku sekarang harus memikirkan keselamatan juga orang tidak akan tau bagaimana keberadaanmu disini."
"Maaf." Menunduk terlampau menyesal karena reaksi Junmyeon jauh dari perkiraannya.
"Pergilah. Aku benci seorang dengan pikiran pendek."
Luna serasa ingin menangis saat ini mendengarkan perkataan Junmyeon dan menatap tidak percaya dimana Tuan Mudanya enggan menatapnya lagi beralih menuangkan wine.
Jongdae sebenarnya tidak tega bagaimana wajah wanita itu memelas dan hampir menangis hingga dia berucap pelan, "Semua baik baik saja, jadi kau bisa pergi."
"Ba-baik." Setelahnya langkah kecil dia meninggalkan ruangan Junmyeon san bertemu sapa dengan Taekwoon yang sudah menunggu di luar pintu kerja, menyapanya dengan senyuman dan berganti cepat dengan wajah bertanya tanya karena nyatanya kata penenang Jongdae tidak berefek banyak.
Dia merasa sakit dengan ucapan Junmyeon dan juga dengan penampilannya yang luar biasa panas, jika itu karena wanita sewaan bukan hal baru namun Luna yakin jika itu bukan untuk kali ini karena wajah puas terpampang jelas di wajah Junmyeon.
Zhang Yixing, pasti karenanya dia yakin.
"Ada apa dengannya terlihat-Oh! Fuck!"
Taekwoon sekonyong konyong mengumpat setelah tiga langkah memasuki area ruang kerja Junmyeon.
"Percayalah aku tidak bisa bertahan lama jika seperti ini-" balas Jongdae menanggapi komentar Taekwoon.
"Karena ereksimu itu?" Tanya Junmyeon geli.
Dan Jongdae mengumpat setelahnya, "Sialan kau hyung!"
"Oh tidak! Apa yang terjadi pada yixing kecilku!"
Dan Jongdae mengerang frustasi pada kedua lelaki ini.
.
.
.
.
.
Tbc-
A/n:
hello, saya datang dengan menundukkan kepala penuh permintaan maaf, telat dua minggu dari janji. Maaf karena perkerjaan yang tiba tiba kena lembur dua minggu, ya tuhan punggung saya sakit semua.
Hari minggu kemaren dmana seharusnya saya bisa semedi nemenin kalian dengan update harus d geser sepenuhnya karena lembur dan well saya ga mau janji janji sekarang karena kelihatannya mendekati hari puasa akan ada lembur di sana sini. Namun tetep saya bakal up untuk kalian, sungguh sepi banget hidup saya tanpa nyapa kalian di sini dan oh! Saya kaget soal review berterimakasih banyak juga minta maaf, semoga dengan up panjang di atas bisa termaafkan.
Chapter "Who are you" disini lebih pada sisi Junmyeon ver dan kedepannya kita bakal lihat sisi Yixing ver, jadi saya mau bertanya yang saya harap kalian bakal menjawab di review "Pilih, di team manakah kalian Junmyeon atau Yixing?"
Oke buat review chap kemarin:
elis spr
(Maaf datang terlambat sayang jangan marah dan tolong di tega tegain dulu buat sulaynya karena ini batu besar buat mereka wkwkwk)
bunnysheep91
(Terimakasih semangatnya dedeku, oke team sulay nih yang kuat kuat dukungnya kalo gitu wkwkwkwk jangan kegoda ama ipan lo ya )
Nowords
(Saya menghafal setiap review kalian, walau tidak spesifik juga meramal tapi saya begitu bahagia dapat bertemu kalian di sini, dan ketika kau bilang jun pngen punya pacar cantik tapi perkasa di situ saya ngakak tiap baca, maaf soal keterlambatannya saya harap dirimu ga marah dear)
Nowords
(Salammu kusampaikan dear dan percayalah dia langsung bingung karena jadwal padatnya siang malem ga karuan)
Guest
(Dilemanya ga apa tapi kalo tanggung jawab itu apa saya hamilin anak org ya? Wkwkwk)
Guest
(Terimakasih sudah sabar menunggu)
zhglayx
(ku bakal semangat untuk kalian kok)
Guest
(Makasih banyak doamu sayang, dan ya kerjaanku lancar karena mu, dan maaf lama)
cumi cumi
(Itu mungkin karena anda lapar jadinya dugum dugum)
Dudu Luv Nini males login
(Keliatannya demen banget deh nun sama yixing yg kek gini? Team yixing kah? Jangan menyesal lo nun uda dukung yixing daripada jun)
Guest
(Terimakasih juga sudah suka dengan ace, maaf lama)
Minge-ni
(Jun emang nyebelin kok minge ni dan diriku ga bakal halangimu buat ngajar dia wkwkwk. Maaf lama ya)
Guest
(Siyap kapten kekeke)
Guest
(Percayalah saya menahan kangen juga seminggu ketemu kalian)
Guest
(Oke ini up up up)
Guest
(Maaf lama menunggu sayang maaf banget)
Guest
(Dengan amat menyesal saya bilang hadiah buat sehun cuma ucapan dan doa Wkwkwkwk)
Guest
(Saya kok seneng seneng ketawa liat balasanmu sayang)
Guest
(Kekangenanmu tentang siksaan membuat saya bersemangat dan keliatannya kita bakal satu team buat siksa siksaan wkwkwk)
kukunya lay
(Hehe baru up mian ya sayang)
Guest
(Makasih sudah ngingetin up sayang dan ini up untukmu)
.
.
.
.
.
Happy weekend happy holiday,
Jaga kesehatan juga tetap semangat buat kalian semua, sukses terus guys,
See u next time karena saya bakal balik, love u
Luce,
14 April 2018
