Yixing mengerang menggerakkan anggota tubuhnya ditengah dering jam mengusik kedamaian tidurnya, terlampau siang untuk memaki jam di meja samping tempat tidur Junmyeon dan terlalu malu kala sistem otaknya beroperasi mengenang kegiatan semalam mereka, suara Yixing hilang seketika menenggelamkan diri dalam selimut kala seorang menggerakan handle pintu, masuk dengan hentakan kaki yang jelas dan tegas.
Itu Junmyeon,
Yixing dapat mengenalinya begitu baik lalu suaranya menghilang di balik punggungnya diam tanpa suara tidak ada pergerakan dan Yixing merasa nafasnya ikut berhenti dan memelan gila gilaan, menebak nebak apa yang di lakukan penguasa di balik punggungnya.
Entah apa yang membuat Yixing harus terjebak dalam sandiwara 'terlihat masih tertidur' di siangnya hari ini.
Junmyeon sendiri mencari sesuatu yang tertinggal di kamarnya melirik sekilas makhluk kecil yang masih berselimut nyaman di ranjangnya, menatap datar pada gundukan itu tanpa reaksi dan lebih lebih mengacuhkannya dengan jemari yang menggambil cincin yang berada di atas nakas hingga berlalu, ia kembali berbalik meninggalkan Yixing, dalam benak berfikir mungkin si kecil begitu kelelahan dan Junmyeon membiarkannya.
Cklek
Yixing menghela nafas begitu suara pintu tertutup menyapa telinganya, dia bangkit memungut kemejanya yang teronggok mengenaskan sambil meringis kesakitan, berusaha menahan dan berjalan amat tersiksa mencapai kamar mandi Junmyeon -itu terasa bermil mil, dia menggunakan fasilitas sang penguasa -tidak mungkin jugakan jika dia akan keluar dengan penampilan seperti ini, oh betapa Yixing malu benar benar malu saat ini. Dia sudah mirip dengan wanita malam sewaan yang hanya akan di bawa ke atas awan di buat melambung kala rembulan menyapa bumi dan paginya mereka tidak lebih dari barang buangan.
Oh, apa ini cukup kasar bagi kalian? Tapi ketahuilah bahwa itu yang di rasakan oleh Yixing. Terlebih kala Junmyeon tadi tidak melakukan apapun padanya saat tau dia masih tertidur.
Hei, Zhang? Apa kau berharap banyak pada Junmyeon saat ini?
Segera Yixing mengenyahkan pemikirannya dalam sekejab dan menyiram kepalanya di bawah guyuran air hangat, dia butuh ini - sangat butuh untuk membuat kepalanya kembali 'waras' dan tidak melenceng lagi. Dia harus sadar siapa dia disini, seperti apa yang di pertanyakan Junmyeon semalam padanya di ruang kerja lelaki Kim itu.
Begitu membekas, melukainya walau bukan goresan yang teramat dalam.
Sejam lebih Yixing membersihkan diri di dalam kamar mandi atau bahkan lebih dia tidak ingat, keluar dari sana dia di suguhi T-shirt dan celana training. Awalnya Yixing mau mau saja tidak terlalu mempermasalahkan hal itu dan berganti baju namun kala seorang pelayan wanita masuk untuk mengajaknya keluar makan bersamaan dengan wajah tersipu sipu merahnya menatap Yixing membuat Yixing mulai menyerngit dan menatap serius ke arah kaca lebar. Meneliti tiap bagian tubuhnya.
Hell! Itu karena bitemark!
Oh Junmyeon dan semua kebrengsekannya Yixing ingin mengumpat saat itu juga, tanda di lehernya bukan berjumlah satu dua dan bukan dengan warna yang dapat dia samarkan ketahulilah itu hampir berwarna keunguan saat ini yang sayangnya lagi begitu berada di tempat tempat yang sulit di sembunyikan. Tenggelamkan Yixing sekarang juga tolong siapapun, di bawah garis rahangnya, di tulang selangka, di perpotongan leher oh dan jangan di sebutkan lagi dimana Junmyeon memberinya tanda dengan begitu kurang ajar.
Aku yakin lelaki Kim itu sangat tersenyum puas juga bertambah arogan dengan wujud hasil karyanya.
"Bisakah aku mendapatkan sarapan di kamarku saja?" Yixing meringis menarik narik T-shirtnya kelewat tinggi menutupi leher -itupun jika bisa dan tidak membuat pinggangnya malah terbuka. Dia serba salah saat ini kawan kawan. Dan mengutuk Junmyeon dengan segala sumpah serapahnya. Sang pelayan wanita semakin menundukkan kepalanya mematuhi keinginan Tuannya dan keluar seketika.
Sekarang Yixing harus keluar dari kamar Junmyeon dan menuju kamarnya tanpa diketahui orang lain.
.
.
.
.
.
Rainha code
Chapter 8: Who are you? (Yixing ver.)
Siapa kau?
Aku tidak mengenalmu sama sekali?
Siapa kau?
Hingga membuatku terjebak di sini selama ini?
Siapa kau?
Hingga tubuhku tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya
Who are you?
.
.
This is ACE Season 2
© Pearl Luce
Cast :
Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.
.
Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.
Pair : SuLay
and other.
Genre : Romance, Action, Crime
(Little) Hurt/comfort
Mafia life
Rated : M
This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s), mature content
Idea© D'Xp ft Luce.
.
.
Dont plagiat please! Show your own ideas as well!
.
.
.
.
.
Junmyeon menatap datar dan memulai serapannya dengan tenang, sesekali merundingkan beberapa hal dengan Jongin, tidak menaruh perhatian sama sekali pada berapa orang yang duduk di meja makan termasuk Minseok yang menatap khawatir pada kursi kosong di depannya dimana seharusnya Yixing berada. Dia menatap Junmyeon sekilas yang hanya dibalas tatapan mata datar sang penguasa dan balik berbicara serius dengan adik adiknya.
Sialan memang.
"Apa yixing baik baik saja?" Tanya Minseok begitu seorang pelayan wanita yang dimintai mengantar makanan ke kamar Yixing ada di sana. Junmyeon hanya memperhatikan semua dalam diam, enggan berkomentar.
"Ya tuan, tuan muda yixing hanya meminta sarapan di dalam kamarnya saja."
Dan Minseok berjanji akan mendatangi adik kecilnya setelah sarapan paginya selesai.
.
.
.
.
.
Taekwoon melangkah mendekati ruangan paling ujung lorong hunian Henry yang di sambut dengan bungkukan hormat dari anak buah Kim yang bertugas menjaga. Tersenyum dan pintu di bukakan untuknya, selangkah kedalam lampu temaran menyapa indra penglihatannya dan Taekwoon reflek mengarahkan jemarinya mengganti bohlam lampu lebih terang dimana hal itu juga turut berefek pada seseorang yang terikat duduk di depan meja.
Jackson ada di sana, menetralkan penglihatannya dengan cahaya yang lebih terang, tubuhnya pegal namun dia cukup dibiarkan dalam ruangan ini. Taekwoon menjadi pemandangan pertamanya setelah dia tertidur dengan duduk terikat di kursi. Siaga, melihat kedatangan salah satu bawahan kepercayaan sang penguasa dan itu membuat Taekwoon terkekeh.
Bahkan seperti inikah pengaruh Junmyeon akan sebuah ketakutan dalam tubuh musuhnya.
"Santailah sedikit, apa kau sudah di beri sarapan?"
Jackson terbengong bengong mendengarkan pertanyaan Taekwoon, hanya terdiam dan membiarkannya mendekat melepas simpul tali yang melekat, apa lelaki di depannya ini salah minum obat?
"Nah, semedimu sudah selesai. Mari kita sarapan." Ajak Taekwoon begitu simpul talinya lepas dan di berikan pada seorang anak buah Kim di belakangnya. Jackson berdiri dengan linglung dia keluar bahkan sambil di pegangi Taekwoon takut takut kalo lelaki muda di sampingnya ini terjerembab tanpa sengaja. Bisa bisa dia yang di bunuh Junmyeon seketika.
"Sudah selesai?" Tanya Junmyeon mengagetkan Jackson yang baru keluar dari ruangan tempatnya di sekap.
"Ya, sudah."
"Hmm,"
Tanpa perkataan lain Junmyeon melenggang pergi membiarkan Jackson yang masih belum genap nyawanya di tuntun Taekwoon pada ruang makan dengan hidangan lengkap, "Kau mau mandi atau sarapan langsung mungkin?"
"E-eh? Aku sebenarnya tidak mengerti? Kalian menahanku dan membebaskanku semudah ini?"
"Yaah." Taekwoon menggaruk bagian belakang kepalanya dengan raut setengah bingung menjelaskan. "Kau bukan orang yang kami curigai namun kau masuk bagian orang yang harus kami mintai keterangan."
"Aku hampir hampir mati ketakutan ge." Berucap dengan begitu polosnya Jackson membuat Taekwoon semakin menatap tidak enak padanya.
.
.
.
.
.
Cklek
"Pagi yixing ge."
Jackson mengintip dari pintu kamar Yixing dan melongokan kepala sambil menahan senyum mengerjapkan pandangannya kedalam kamar mencari sosok Yixing yang menyembul dari balik selimut dengan hodie putih, keluar dari sana berlari menyambut kedatangan Jackson.
Lelaki wang itu reflek tertawa memeluk gege kesayangannya dengan begitu bahagia seolah mereka sudah tidak bertemu ratusan tahun. Yixing memeluk penuh rasa syukur dan membisikkan pada hati kecilnya untuk berjanji berterimakasih kepada Junmyeon nantinya.
"Aku begitu senang melihatmu baik baik saja jackson." Yixing berucap seraya melepas pelukannya dan mulai memutar Jackson searah jarum jam memeriksa bagian tubuhnya seperti seorang ibu dengan anaknya yang baru saja pulang selepas maju perang. Jackson hampir hampir terjatuh jika dia tidak menjejakkan kakinya kuat kuat.
"Apa mereka menyakitimu?"
"Uh-tidak?"
"Apa mereka melukaimu?"
"Tidak."
"Apa yang mereka lakukan?"
"Hanya menanyaiku. . .itu saja."
Yixing termanggu sejenak tidak mempercayai perkataan Jackson menelisik hingga empunya merasa tidak nyaman bukan main, "Sungguh mereka hanya mengikatku di kursi semalaman menanyaiku beberapa hal dan meninggalkanku setelahnya."
Yixing tidak percaya, ini bukan bagaimana Kim melakukan tugasnya untuk sebuah kecurigaan yang ada di dalam tubuh besar Kim. Terdiam berfikir Yixing membuat Jackson menatap penuh kernyitan, "Ada apa ge?"
"Siapa yang sebenarnya dihadapi kim saat ini jackson?"
.
.
.
.
.
Langit mendung udara menjurus dingin, Junmyeon menatap jauh di depan seolah menembus pohon atau apapun yang ada di depannya. Meletakkan gelasnya di meja nakas dan terdiam tanpa pergerakan, mengabaikan pintu yang terbuka dan suara tapak kaki seseorang. Memikirkan berbagai macam kemungkinan yang tengah di hadapinya, mulai dari penyusup, Yixing hingga pergerakan Zhang yang saat ini hanya Showluo juga Victoria saja yang jelas jelas menyembunyikan fakta keberadaan Yixing padanya. Tidak menutup kemungkinan dimana Baba Honglei akan menyatroninya suatu saat nanti. Sang penguasa memejamkan bola mata kelamnya menenangkan diri.
Taekwoon terdiam menatap Junmyeon dengan sabar menunggu sang penguasa memberinya kesempatan untuk memulai penjelasan yang dia bawa kemari. Hingga tubuh Junmyeon dibawa menatap Taekwoon dengan perhatian penuh.
"Aku sudah selesai, jackson kembali dengan dan tanpa luka sedikitpun."
"Hmm, yixing akan suka dengan hal itu."
Taekwoon hampir menyungingkan senyuman mengejek mendengar jawaban Junmyeon. Namun pintu yang terbuka tanpa ketukan terlebih dahulu membuatnya urung melakukan.
"Maaf untuk kelancangan saya tuan muda." Dasom datang menimbulkan kerutan pada dahi keduanya terlebih dengan nampan berisikan omelet yang jadi menu sarapan pagi mereka beberapa jam yang lalu.
Saling bertatapan kala nampan berisi piring itu teronggok di meja dekat mereka berdua dengan sebuah sendok kecil, serta raut wajah Dasom yang terdiam tidak terbaca membuat Taekwoon tergerak untuk satu pembuktian.
Junmyeon melirik dan dia tidak suka dengan fakta kebenaran yang akan mereka hadapi.
Taekwoon meletakkan sendok kecil seusai penelitian singkatnya dengan dentingan kasar, wajahnya kusut seketika dengan secarik kemarahan terpendam rapih di balik kerutan alis yang kentara. Dasom terdiam semakin diam, keyakinannya mengumbar suasana ruangan semakin lama semakin kental akan kemarahan tertahan, keduanya masih berusaha terdiam sejenak mencoba menenangkan diri sebelum mengatakan fakta yang akan membuat sang penguasa dapat meledak seketika.
"Ini sarin." Satu penjelasan dari Taekwoon membuat Dasom maupun sang empu sendiri ketar ketir melirik Junmyeon di sampingnya. Racun mematikan dan satu lagi fakta yang mampu menjadi alasan akan kemarahan ketiganya adalah ini berada di salah satu piring sarapan Yixing. Dasom bertugas lagi ini mengambil semua makanan untuk dia uji sebelum sampai pada tangan si kecil Zhang dan ini merupakan hasil penemuannya pagi ini, hingga membuatnya terburu mengatakannya pada Junmyeon.
Krak!
"Tuan!" Dasom reflek, seketika menarik sapu tangan di balik sakunya mengambil dengan penuh hormat pada gelas yang sudah remuk di tangan Junmyeon, melukai telapak tangan sang penguasa dengan serpihan kaca kecil disana hingga membentuk aliran sungai merah darah menyakitkan.
Junmyeon tidak berucap apapun hanya terdiam dengan bola matanya yang tertutup membiarkan telapak tangannya di sentuh Dasom. Taekwoon mengalihkan pandangan seketika ingin melampiaskan kemarahan namun dia tahan betul betul. Dia bagaimanapun juga harus menjadi pihak yang mampu menutup kemarahan sang penguasa bukan semakin mengumbarnya dan memancing ledakan kemarahan Junmyeon yang lebih berang lagi. Ingat bukan jika kemarahannya bahkan tidak memiliki kisah kisah lepas dan baik di dalamnya.
"Aku tidak ingin kau berada jauh darinya dasom."
"Baik tuan," Dasom menggigil ketakutan akan luka kala menyingkirkan serpihan gelas kaca itu dari telapak berdarah Junmyeon.
"Dimana dia sekarang?"
"Tuan yixing beberapa menit lalu menuju area latihan bersama jackson dan tuan jongin."
Bola mata Junmyeon terbuka, reflek menoleh pada jendela kaca di sisi kanannya. Dasom sedikit bernafas lega kala bola mata kelam sang penguasa mau terbuka dan tidak lepas menatap Yixing di bawah sana, hal itu berefek pada telapak tangan Junmyeon yang mulai mengendur dan Dasom gunakan kesempatan itu untuk membersihkan lalu membebatnya dengan perban yang sudah di ulurkan Taekwoon tanpa dia tahu darimana dia mendapatkannya. Junmyeon masih menatap intens pada obyek di bawah sana, ada banyak ekspresi yang keluar dari cahaya bola matanya yang kelam.
"Dan taekwoon." Dia masih menatap ke bawah.
"Aku bersiap!"
"Aku tidak ingin melihat mayatnya, ah tidak carikan aku kadar yang lebih rendah dari sarin." Junmyeon tau tau tersenyum kecil memperhatikan Yixing yang lebih mirip penguntit dengan hodie yang menutupi kepalanya dan tangan membidik sasaran. Begitu besar menutupi tubuh kecilnya.
"Apa?" Taekwoon bertanya dan Dasom menatap penuh tanya menunggu kejelasan perintah mutlak Junmyeon.
"Aku ingin melihatnya menerima kematian secara perlahan, itu mungkin akan jadi pertunjukan menyenangkan."
Setelahnya Junmyeon membawa langkah nya keluar ruangan meninggalkan Dasom dan Taekwoon yang terdiam sejenak. Dasom masih menatap pada gelas wine yang sudah remuk dengan begitu intens sedangkan tangannya masih memegang sapu tangan bekas darah Junmyeon.
Taekwoon sudah mengeluarkan ekspresi wajah panik, khawatir juga kemarahan tertahannya. "Ku fikir kita membutuhkan kamera di beberapa tempat." Ucapan Dasom membuat Taekwoon berhenti bergerak gerak aneh dan menatap sang dokter muda.
"Ide bagus." Pemikiran Taekwoon seperti terbebas dari beban berat.
"Dan paman henry yang akan memperhatikan di ruang kontrol." Dasom melihat sang dokter muda mengambil ponselnya dan mengangguk singkat. Mereka memiliki rencana lain sepertinya.
.
.
.
.
.
Junmyeon menuruni tangga dengan sedikit terburu menuju pintu belakang dimana area menembak berada menemukan Jackson yang tersenyum menatap Yixing dan sedikit terkejut melihat kedatangan Junmyeon yang melangkang tenang dari belakang. Yixing mengetahui ekspresi Jackson segera menolehkan kepalanya kebelakang melihat siapa gerangan yang datang. Terkejut dimana Junmyeon ada dengan setelah Tshirt abu abu dan celana training hitam miliknya, segera memalingkan muka saat bola mata jernihnya bersitatap dengan hitam kelam sang penguasa.
Membidik sasaran dengan amatiran, berpura pura fokus meskipun gagal -sangat gagal, terbukti bagaimana Jackson terkejut dengan rentetan suara tembakan yang melenceng semua, lebih lebih itu mirip suara ceplesan alat pembunuh serangga alih alih tembakan. Yixing benar benar enggan membiarkan sedikit dari perhatian dalam dirinya melirik Junmyeon, fakta bahwa si kecil sedang berperang dengan naluri nya sendiri. Karena ketahuilah bahwa dia dan penampilannya saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertemu si arogan Kim, Yixing terbungkus dengan baik akan hoodie dimana sekalipun Jackson memintanya untuk menurunkan dari atas kepala dia tetap bersikukuh memakainya dengan berjuta alasan, tidak akan mencurigakan sebenarnya hanya saja ketika bersamaan Yixing menggunakan hoodie yang membuat Jackson gerah sendiri merasakannya, tidakkah Yixing juga merasakannya?
Junmyeon tetap menatap datar meski dalam batinnya sedang menertawakan Yixing dan keadaannya yang seperti anak hilang dengan pakaiannya, geli sendiri melihatnya menutupi jejak panas semalam. Menyeringai lebih lebih saat pegangan di gagang pistol itu gemetaran begitu kentara. Melipat tangan di dada Junmyeon mengarahkan dagunya pada Yixing kala Jackson menatapnya, memberi perintah.
"Ge, atur emosimu-"
"Aku tidak sedang emosi!" Yixing mengelak secepat memotong ucapan tertunda Jackson -oh oh! Lihat Junmyeon menyeringai di belakang.
"Tapi tanganmu gemetar, ge." Jackson menggaruk kepalanya, bingung.
"TIDAK!"
Yixing membentak kasar lengkap dengan hentakan kaki, Jackson berjingkat kaget dan Junmyeon memalingkan wajahnya terkekeh geli.
Hei, Zhang. Taukah kau jika hal itu semakin mengukuhkanmu, jika kau begitu gemetar juga takut dengan kehadiran Junmyeon. Kau sudah terpengaruh hanya dengan mengetahui kedatangannya tanpa dia menyentuhmu lebih. Bahkan jiwamu sudah bereaksi dan berlaku jujur kenapa begitu berlawanan dengan ucapanmu?
Yixing berbalik cepat menatap tajam pada kekehan mengejek milik sang penguasa, wajah merah cemberut yang mendarah daging tapi Junmyeon tidak terpengaruh justru menunjukkan fakta hasil tembakan Yixing, "Tembakanmu meleset semua, lihat kau mirip anak kecil yang baru mengenal pistol!"
"Tidak ada anak kecil yang boleh bermain pistol junmyeon!" Masih kekeh dengan bentakan dan hentakan kaki.
Jackson heran sendiri dengan tingkah laku Yixing yang aneh. Tapi Junmyeon justru terhibur sendiri melihat tingkahnya, "Aku memulai bermain pistol sejak berumur 10 tahun."
"Karena kau adalah bedebah!"
"Artinya bedebah ini jauh lebih hebat daripada dirimu?" Junmyeon menyeringai atas kemenangannya di depan wajah marah Yixing.
Oh fuck! Yixing ingin menyumpal mulut Junmyeon dengan geranat rasa rasanya, sedangkan Jackson malah tergelak tawa hingga memegangi perutnya melihat Yixing kalah telak. "JACKSON!"
Tatapan bengis, memicing seraya ingin menguliti. Bisa bisanya dia tertawa di atas penderitaan yang Yixing rasakan.
Si kecil sedang mencari sekutu rupanya, dan Jackson langsung mengkeret dimana menahan tawa sebisa mungkin dan berdiri tegak, meskipun melihat wajah memerah Yixing itu dapat memancing tawanya kembali. Berbalik mengacuhkan Junmyeon sebaik yang dia bisa, Yixing memfokuskan pandangannya pada boneka target di depan sana. Mensugesti diri untuk tidak menganggap keberadaan Junmyeon.
Dor -meleset!
Baik mari sekali lagi. Fokus- fokus -fokus!
Dor-
Itu masih meleset!
"Akh!" Mengerang frustasi dan Jackson tidak berani berkomentar melihat Yixing mengertakkan gigi mirip mirip anak anjing liar.
"Aku bisa melakukannya!" Yixing bersuara menyemangati diri sendiri dan Junmyeon masih tersenyum seraya mendekat.
Sret-
Ctak!
"Jika kau tidak nyaman dengan sekitar seharusnya kau bilang."
Yixing membeku, Jackson menganga lebar dan Junmyeon menyeringai puas.
Bagaimana Junmyeon sudah berada amat dekat di samping bahu Yixing membisikkan dengan membenarkan lengan kirinya untuk membidik dan sebelah kanan Junmyeon gunakan untuk melonggarkan tali hoodie hingga terlepas dari atas kepala Yixing. Itu seperti sebuah pelukan dari belakang jika kalian sadari. Membiarkan angin menerpa anak rambutnya yang lembut dan memberi rasa segar pada pikirannya atau mungkin hantaman bagi Yixing setelahnya karena-
"Ge. . .a-apa kau terkena alergi? Lehermu me-merah?" Jackson membiarkan mulutnya berbicara yang dimana hal itu membuat Yixing tergagap.
Oh, Jackson itu bukan lagi warna merah tetapi berwarna ungu jika kau teliti sedikit lagi.
"KIM JUNMYEON AKU BUNUH KAU! SIALAN!"
Sedangkan Junmyeon sudah tertawa puas sambil melenggang pergi membiarkan Yixing yang wajahnya terbakar oleh amarah dan juga malu. Dia terlambat untuk sadar akan hal privat yang dia lindungi keberadaannya.
Siapapun tolong rengkuh Yixing dari besarnya rasa malu yang melingkupi dirinya saat ini.
.
.
.
.
.
Malam berkunjung kala sapuan bintang memberi warna lain dalam tatapan malam, angin dingin merasuk memenuhi rasa dingin yang berubah mencekam untuk keadaan sekitar. Bukan saat yang baik baik saja dalam gelapan malam yang berhembus. Berhadapan dengan kehangatan menjadi impian banyak orang saat ini dalam lingkupan selimut atau perapian yang menyala kala penghujung hari datang.
Lewat tengah malam Junmyeon membawa langkahnya terburu setelah dia selesai bernegosiasi dengan Luna yang memberikan banyak perkerjaan juga penyelesaian perkembangan harta kepemilikannya di Thailand. Panggilan Taekwoon di layar ponselnya mengurungkan niat Junmyeon saat keluar dari ruangan perpustakaan di sisi kiri ruang tengah untuk menuju ruangannya bekerja, terlihat Taekwoon dalam balutan jas hitamnya yang belum terlepas menunjukkan bahwa sang dokter muda baru saja sampai setelah telefon yang baru saja terputus beberapa menit yang lalu. Bora ada di sana dengan setelan kemeja hitam juga levis hitam nampak serasi untuk perpaduan informan Kim. Junmyeon berhenti untuk meneliti style mereka menutup pintu kasar dengan tatapan tak lepas pada keduanya tajam dan menuntut penjelasan keduanya, Bora tidak terkejut hanya meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja kerja Junmyeon dan memberikan bungkukan hormat kepada sang pemimpin Kim.
"Katakanlah." Tanpa basa basi dan Taekwoon hafal semua kebiasaan Kim di depannya dengan latar belakang kehidupan bersama belasan tahun.
"Saya menemukan tanda tanda pemberontakan beberapa hari yang lalu, motifnya masih sama karena keberadaan zhang masih belum memberikan sebuah pergerakan bahkan untuk gertakan semata." Bora menjelaskan dan berefek langsung pada Junmyeon. Lelaki Kim itu mendudukkan diri di kursi kerjanya dan termanggu mematap penuh pertanyaan dan saran untuk hal ini.
Jika kalian berfikir kedatangan Kim ke Changsa hanya untuk Yixing semata maka bersiaplah mencabut semua pemikiran terpuji itu. Kalian belum mengenal Junmyeon tidak sebaik Taekwoon yang terdiam di sana. Dia berputar pada rentetan wine yang tertata rapi mengambil satu di antara terbaik yang telah di pilihkan oleh pelayan Kim dan membawanya pada gelas kaca dengan kubus es seperti bagaimana Junmyeon sukai. Bora mengambil langkah mundur.
Menyodorkan dengan gerakan halus yang tidak sedikitpun Junmyeon lewatkan dengan tatapan tajam menusuk penuh amarah. "Kau membujukku?"
Taekwoon tersenyum di akhiri seringai penuh tekanan kecil, "Kau tau apa yang selalu aku tekankan padamu."
Junmyeon acuh tak acuh mengambil gelasnya dan meminum sekali tenggak, Taekwoon bereaksi terhadap hal itu dan tidak menyukai bagaimana Tuan Muda Kim bereaksi, "Junmyeon!"
"38 persen!"
Bora terdiam dalam bekunya pemikiran yang tiba tiba merambat dan Taekwoon melebarkan bola matanya untuk tebakan apa yang akan di lakukan penguasa dengan ucapannya barusan,
Junmyeon tau tapi acuh, "Berikan, buat zhang memegangnya mereka tidak bisa untuk tetap bertahan dengan segala konspirasi melemahkan selama yixing belum bisa berurusan dengan senjata dan trauma."
Fuck! Kim apa kau gila?!
Apa si arogan Kim di depan kita saat ini sudah mabuk?
Bora sekonyong konyong melangkah terburu dengan berbagai lembar potret foto, "Tuan, saya mohon jangan gegabah. Kita akan semakin banyak memancing orang mengetahui keberadaan kita."
Ini buruk, sangat buruk. Apa kalian tau jika Junmyeon benar benar memberikan 38 persen seperti perkataannya barusan. Taekwoon tanpa menunggu lama mendial nomer Jongdae dan dia datang dengan terburu bersama Minseok 5 menit setelahnya.
"Aku tidak peduli!"
Taekwoon mengerang kembali, ini akan sulit jika menyangkut keputusan Junmyeon dan Yixing menjadi kuncinya. Oh hell!
"Junmyeon dengarkan aku, aku tau bagaimana kau berusaha melindunginya tapi ketika saham 38 persen kau berikan maka zhang tidak lama akan mengatahui keberadaan kita."
"Jangan memancing banyak orang menaruh curiga sementara kita hanya memegang victoria dan showluo ge sebagai kuncinya." Itu Minseok, dia tidak bisa berkata bahkan bereaksi lebih daripada shock untuk keputusan Junmyeon dan di saat seperti ini semakin membuat pening kepalanya saja, Sementara Jongdae belum berekasi masih terdiam melihat bagaimana Junmyeon dengan ekspresi frustasi dan marah lalu Taekwoon yang mulai menatap sekeliling seolah mencari petunjuk membujuk sang Penguasa.
Zhang belum berekasi dengan semua rencana gempuran yang di layangkan para pengacau kecil, Bora yang di ruangan ini di jadikan satu di antara para informan Kim masih terus memantau tetapi tidak ada pergerakan dan tetap bertahan, meskipun ini dunia hitam yang selalu dekat dengan ledakan, tembakan, juga penghancuran namun sebuah tindakan perlawanan, gertakan dan tekanan tetap di perluhkan tidak bagaimana dia terus bertahan. Apa Zhang benar benar akan hanya melakukan hal ini? Hell, Bora mengatakan bagaimana Zhang sebenarnya sudah memberikan sebuah pergerakan dengan menaklukan beberapa wilayah di selatan Changsa namun hal itu kurang berarti dengan berhembusnya angin dimana kelemahan Zhang terbuka dan itu Zhang Yixing.
Bora belum bisa menyimpulkan bagaimana semua ini berurutan terjadi pada Zhang, siapa saja yang menjadi otak dan menyumbang dana terbesar disini. Apakah motifnya masih sama yaitu perebutan wilayah terbesar ataukah hal lain.
Tetapi sekali lagi, Junmyeon tetaplah Junmyeon dengan harga diri tinggi menjulang tidak terusik sekalipun lebih dari satu orang bersuara dan saudara tertuanya ada disana, Junmyeon tetap kekeh mempertahankan pendapatnya dan inilah bagaimana Penguasa menunjukkan keputusannya. Satu hal yang di inginkan Minseok adalah membenturkan kepalanya ke dinding atau dalam lemari es mendinginkan pemikiran gila sialan dari Junmyeon.
"38 persen untuk zhang dan berikan laporanmu besok bahwa mereka sudah memegang wilayah thailand, serta perubahan keadaan setelahnya."
Keputusan Junmyeon final dan tidak bisa di gugah kembali. Taekwoon menatap penuh ekspresi disana lalu beralih meninggalkan ruangan tanpa suara. Jongdae maju kedepan dan bersuara membuat Junmyeon tersenyum mengambil gelasnya untuk wine berikutnya.
"Akan aku lakukan untukmu, hyung." Minseok mengambil langkah duduk di sofa dengan emosi terpendam mendengarkan hal itu, Luna masuk dengan bungkukan hormat dan sedikit banyak terkejut bagaimana sebelum masuk dia berpapasan dengan Taekwoon juga wajah masamnya. Lalu sekarang banyak orang di ruangan Tuan Mudanya dengan berbagai macam ekspresi wajah. Junmyeon berdiri menghampirinya membuat wanita muda itu gemetar antara senang dan gugup, "Lakukan sebagaimana yang di arahkan Jongdae."
Hanya hal itu saja lalu sang penguasa berlalu tanpa menatapnya lagi namun dia senang bukan main. Minseok jengah dan menghentakkan kakinya marah lalu keluar membanting pintu dengan dentuman kasar mengagetkan sisa orang yang ada disana. Jongdae memiliki pekerjaan lain sepertinya setelah ini, well kemarahan Minseoknya bukan hal mudah untuk di urus jika kalian ingin tau.
"Buat pelelangan saham 38 persen besok dan biarkan aku yang akan mengurusnya untuk di pindah tangankan kepada zhang." Luna tersentak dengan sorot mata lain ada kemarahan, terkejut juga pertanyaan besar namun juga ada secarik goresan rasa cemburu.
Sampai seperti inikah, Tuan Mudanya bertindak, hanya untuk seorang Zhang?
Dentuman juga luapan senang di hati kecilnya berubah hancur tidak tersisa, Luna terdiam dengan fakta Zhang yang akan mengambil alih keberhasilannya dan tim yang Junmyeon miliki di Thailand dengan begitu mudah. Hell!
Dan Luna tidak percaya akan hal ini, bagaimana Junmyeon dengan segala keseriusannya yang membangun cara memasuki pasar Thailand dan mendapatkan pegangan kekuasaan menunjukkan taring mematikannya di sana. Kim mencoba terus berkuasa dengan kemampuannya.
"Cukup lakukanlah hal itu luna." Jongdae menegaskan akan ketiadaan reaksi mimik wajah juga feedback sang wanita yang baru baru terbata dan mengangguk.
"Baik tuan, akan saya siapkan." Setelahnya sang wanita pamit undur diri dengan langkah lemah dan ekspresi wajah tidak terbaca meninggalkan ruangan Junmyeon dengan perasaan yang campur aduk, membuka pintu dan kembali menutupnya. Bagaimanapun dia hanya seorang anak buah dari Kim sebuah tentangan akan menimbulkan efek berarti untuknya, tidak mampu memberikan pendapat atau bahkan bantahan.
Selepas dari sana Luna hanya berjalan termanggu menatap ke depan menerawang hingga satu dari kalimat yang terkubur dalam benaknya keluar begitu saja,
"Memang siapa dia!
"Siapa dia hingga tuan muda sampai sebegitu melindunginya? Bahkan dia tidak lebih dari seorang pembangkang!"
"TUTUP MULUTMU!"
Bentakan kasar dari Minseok di belakangnya membuat Luna terlonjak penuh penyesalan dan ketakutan. Dia tidak menyadari jika Tuannya ada di belakang dan mendengarkan perkataannya.
"Jika aku mendengar kau berbicara seperti ini lagi, aku pastikan kau lenyap dari sini luna!" Berujar terlampau kasar untuk ukuran kepada seorang wanita, Minseok setelahnya melenggang pergi tidak memperdulikan keadaan juga ketakutan Luna.
.
.
.
.
.
.
Jackson bersimpuh dengan kepala tertunduk penuh permohonan, di depannya Junmyeon terdiam menatap penuh penilaian. Menghela nafas kasar lalu meletakkan beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.
"Berdirilah."
"Tidak sebelum tuan mengizinkannya."
"Keras kepala!" Junmyeon mendengus mendengar ucapan Jackson, tidak berbeda jauh dari si kecil Zhang batin Junmyeon.
Berdiri dan mengambil langkah mendekati Jackson membuat sang empu mendongak penuh harapan kepada sang penguasa. Junmyeon melempar kunci mobil yang di terima penuh kekagetan Jackson. Masih tidak percaya hingga bolak balik menatap kunci mobil di tangannya dan wajah Junmyeon.
Apa benar yang di depannya ini adalah seorang Kim?
"Ge?"
"Cepat sebelum aku berubah fikiran!"
Setelahnya Jackson terbangun dari duduk dan berlari seperti orang kesetanan membanting pintu ruangan Junmyeon tanpa tau sopan santun lagi dan melenggang pergi.
Jongin masuk setelahnya, tidak lama setelah bantingan pintu dari Jackson. Menatap tidak mengerti dengan polah Jackson barusan bagai di kejar seorang maling alih alih keluar dari rumah hunian, tidak bertahan lama dia menatap Junmyeon dan mengatakan keadaan Zhang yang saat ini tengah memanas.
"Hyung, mereka menyekap victoria nuna dan sepertinya sekarang showluo hyung sedang berusaha membebaskan."
Junmyeon mengangguk mengerti, itu juga seperti apa yang baru saja di sampaikan Bora melalui telepon singkatnya bagaimana Zhang sedang situasi yang memanas dan juga Jackson yang bersimpuh padanya beberapa menit yang lalu.
"Hyung sudah tau?"
"Baru saja tepatnya."
"Apa karena itu dia berlarian tadi? Hyung mengizinkannya?" Pertanyaan Jongin lebih mirip interogasi alih alih pertanyaan yang baik baik saja, dia seperti tidak percaya dengan keputusan Junmyeon.
"Apa langkah kita dalam saham di thailand tidak bisa memberi cukup kekuatan pada mereka?" Tanya Jongin heran.
"Tidak jongin, mereka selama ini hanya bertahan tanpa adanya gertakan lebih jadi pemberian saham ini hanya menyelamatkan mereka dari beberapa persen saja, karena selanjutnya zhang sendiri yang harus menunjukkan ada tikus tikus itu bagaimana kekuasan mereka yang sesungguhnya."
"Kufikir itu sudah berpe-"
Brak!
"JUNMYEON!"
Jongin berbalik menatap terkejut sedangkan Junmyeon menyerngit heran melihat kedatangan Yixing dengan wajah panik.
"Ada apa?"
"Kenapa. . .kenapa kau tidak bilang jika jackson pergi untuk ikut menyelamatkan jiejie!"
"Ku fikir memang seharusnya kau tidak mengetahuinya." Jawab Junmyeon terlampau santai sedangkan Jongin di sampingnya merasa panas dingin sendiri dengan percakapan keduanya.
"Bagaimana bisa!" Bentak Yixing.
"Karena memang tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini!" Tegas Junmyeon
Oh fuck, hei Kim kenapa kata katamu selalu dapat menghancurkan kepercayaan diri Yixing dalam hal seperti ini, lihatlah bagaimana wajah pucatnya mulai memerah karena marah.
"Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku!" Yixing tidak terima karena bagaimanapun berita itu menguncang keluarganya dan dia tidak bisa diam di sini tanpa melakukan apapun. Terlebih ketegasan Junmyeon membuatnya tampak lemah dan dia tidak menyukai hal itu. Dia bukan anak kecil yang membutuhkan sejuta perlindungan jika kalian masih ingat dengan prinsip Yixing.
Tapi Junmyeon tetaplah Junmyeon bagaimana dia dan segala keputusannya bukan sebuah bantahan yang dapat di layangkan jika nyawa kalian tidak ingin di jadikan gantinya. Dia tetaplah Kim yang memilki jiwa kepemimpinan juga arogan yang tidak terbantahkan. Mendongakkan wajah dengan angkuh menantang seberapa besar kemampuan seseorang untuk berani menentang keputusannya. Dan itu juga berlaku bagi Yixing.
Meskipun setiap keputusannya tidak di ambil karena sebuah pemikiran gampang. Ketika kalian ingin memulai sebuah tindakan maka aku sarankan untuk melihat dari banyak sisi dan kalian akan dapatkan rahasia di dalamnya. Namun Yixing terlalu terpengaruh akan keluarga dan segala keselamatannya. Bagaimanapun dia adalah Zhang dan itu mahfum untuk apa yang dia proteskan saat ini.
"Kembalilah ke kamarmu."
Ultimatum Junmyeon layangkan dan itu membuat Yixing semakin marah dengan dan tanpa jawaban dia keluar membanting pintu yang entah sudah berapa orang yang melakukan bantingan pintu ruang kerjanya hari ini. Yixing tau bagaimana Junmyeon dan keputusannya sudah mirip sepasang kekasih yang sulit di lepaskan satu sama lain.
Sementara Yixing pergi Junmyeon merotasikan tubuhnya menghadap Jongin yang membuat anak laki laki itu berjingkat sendiri.
"A-ada apa?"
"Suruh minseok hyung untuk mengurus anak kecil itu."
.
.
.
.
.
.
Berat menapak pada lapisan dingin menusuk sampai ke tulang, melamun di bawah sinar bulan seolah mendapatkan jawaban dari sejuta pertanyaan. Hati gelisah namun sebanyak apapun dia tetap mencoba menutupinya hingga langkah seseorang di belakangnya membuat banyak indra yang dia miliki berpusat dan menatap kedatangan sang penguasa. Itu Junmyeon dengan setelan santai yang terbungkus jaket menghalau dinginnya angin malam di luar hunian Kim. Sang dokter muda masih menatap tanpa suara hingga suara Junmyeon membuyarkannya, "Kau ingin aku kemari, katakan ada apa?"
"Aku tau bagaimana kau mencoba untuk menguatkannya" Taekwoon memulai.
Junmyeon menyerngit mencoba memasang telinganya baik baik dengan kata kata yang Taekwoon mulai baru saja, dia tau jika dokter kepercayaan ayahnya itu tengah membicarakan Yixing, dia tau bagaiamana Taekwoon banyak terdiam walau semua perkataannya selalu dia kerjakan tanpa protes. Junmyeon sadar bagaimana perubahan Taekwoon beberapa waktu ini.
"Bagaimana juga apa usaha yang kau lakukan sejauh ini, aku juga tau bagaimana kau tidak bisa di bantah dan tidak mau menerima penolakan."
Junmyeon melipat kedua tangannya di depan dada masih terdiam membiarkan Taekwoon mengeluarkan seluruh pemikirannya.
"Tapi untuk keputusanmu kali ini aku benar benar protes."
Ya, dan Junmyeon tau akan hal itu. Sebuah suara yang di simpan sendiri oleh Taekwoon.
"Kau tau saat musim dingin dua tahun lalu dimana kau tidak bisa mendapatkannya di genggaman tanganmu kau datang ke paviliun lalu mulai melarikan dirimu pada wine, satu tahun setelahnya kau mulai terbiasa dengan beberapa penghibur di sekelilingmu dan sekarang saat kau berhadapan dengannya lagi, kau lakukan keputusan sejauh ini."
Kim Junmyeon lahir sebagai pewaris tahta dari kepemimpinan Kim, Tuan muda yang di eluhkan karena karisma juga pribadi yang tegas. Dia seseorang yang mengenal bagaimana dunia hitam sejak lahir dan terdidik dengan baik, berbeda bagaimana Tuan Muda yang lain dimana dia di kenalkan pada dunia hitam baik dari segi kerasnya maupun pola hidupnya mafia pada umumnya yang selalu menenggak wine tiap kali mereka inginkan lalu dengan kekuasaan yang hanya menjalankan tanpa memiliki tindakan lebih untuk memperluas atau mencoba wilayah baru.
"Apa seperti ini seorang tuan muda junmyeon yang ku kenal dahulu, yang selalu aku banggakan di setiap keputusan yang kau ambil?"
Junmyeon hidup bagaimana dia di paksa harus mampu berada di luar zona aman. Bertahan diri, berfikir juga bertindak. Keputusan yang di uji dan kebebasan yang di atur, bagaimana dia bersama adik adik angkatnya adalah kebebasan namun dia harus bertahan dengan keputusannya itu jika suatu ketika keselamatan tidak hanya dia yang akan dia tanggung, melainkan juga nyawa adik adiknya, Junmyeon tidak mendapat keluarga yang utuh namun berusaha membuat dunia yang utuh di tengah kegelapan yang selalu menjadi jalannya. Bagaimana dia hidup dan melangkah, bagaimana dia membuat kemampuannya terasah dan di segani, dia Tuan muda yang penuh sopan santun terhitung hanya dalam pertemuan resmi Junmyeon mengecap manis pahitnya wine dan dia masih begitu anti sekalipun sejak umurnya anak anak dia sudah mencicipinya, pemikirannya dingin, keras dan tegas. Dan dari semua itu Taekwoon adalah sahabat kecil juga kepercayaan Tuan Kim yang selalu tersisip di balik kegiatan sang Tuan muda. Dialah pengagum bagaimana Junmyeon dan semua tindakan juga keputusannya.
Dimana Junmyeon selalu memikirkan keluarga buatannya dari semua tindakan dan imbasnya, namun kali ini dia tidak bisa diam. Bagaimana Junmyeon memberikan saham di Thailand yang sudah dia susun dari awal dan semua kesulitannya. Akan tidak bermasalah jika masih ada secuil atas namanya namun jika keseluruhan Taekwoon tidak bisa diam.
Namun dari semua itu dia ingin Junmyeon mendengarkannya sekalipun kemarahan sang penguasa adalah jawaban dari kelancangannya.
"Junmyeon, apa kau mulai kehilangan dirimu sendiri setelah mengenal yixing?"
Dan dari semua perkataan Taekwoon, maka hal inilah yang begitu membuat Junmyeon terpaku dalam keterdiaman. Menatap sang dokter muda yang memancarkan pias tak terbaca bahkan tidak hanya satu rasa namun banyak dari sorot matanya.
"Sejauh ini kau melangkah dan aku kecewa dengan keputusanmu."
Dengan hal ini Taekwoon benar benar menunjukkan bahwa dia tidak setuju dengan keputusan yang sudah Junmyeon ambil tentang pemberian saham kepada keluarga Zhang. Junmyeon tau akan hal itu.
Tanpa Taekwoon sadari sang penguasa mulai menunduk membiarkan dirinya terkuasai banyak emosi di tengan dinginnya angin malam yang bisa saja membekukan.
Hei, apa kalian sadar jika mereka berdua sebenarnya sama sama merasakan hal yang sama?
Dan jangan berfikir jika pertemuan mereka tidak ada yang mengawasi, dari balik jendela gelap lantai dua, terdapat dua pasang mata saling mengawasi dan berpandangan satu sama lain.
Itu Kyungsoo dan Jongin.
Kepergian Taekwoon yang terlihat dari atas membuat Jongin menyandarkan punggungnya kembali di dinding. Terdiam dalam kebisuan suasana perpustakaan yang senyap
"Jongin?"
"Ku fikir tidak mudah untuk memilih? Kau taukan apa maksudku?"
"Aku tidak tau apa yang membuat junmyeon hyung begitu totalitas terhadap yixing hyung, apa itu mirip seperti kau yang membawaku pergi dan menghilang dari kim waktu itu?"
Jongin terdiam masih menatap Junmyeon di bawah sana. Dia mendengar bagaimana Kyungsoo berbicara tapi ada satu hal yang membuatnya terdiam.
"Junmyeon hyung itu seperti memiliki sisi gelap yang tidak bisa dia tunjukkan pada orang lain, bagaimana keputusannya tidak bisa di bantah ku fikir dia memiliki penilaian sendiri."
Dan Kyungsoo membawa jemari kecilnya pada kaca menatap Junmyeon masih terpaku di tempatnya berdiri. "Andai Yixing hyung dapat seperti dulu lagi mungkin junmyeon hyung tidak sendirian seperti saat ini."
Keluarga,
Jongin tau bagaimana sorot bola mata Kyungsoo memancarkan aura hangat itu. Dia tau bagaimana keluarga yang mereka rekatkan satu sama lain ini tersambung sebuah benang merah tak kasat mata. Dan dia bisa melihatnya saat ini, "Pergilah."
Kyungsoo terdiam sejenak lau menatap Jongin di sampingnya, "Kita tidak bisa diamkan ini bukan? Taekwoon hyung juga bagian dari kita. Itu mirip saat aku marah karena keputusan junmyeon hyung merebut yixing hyung dari wu yifan hingga menyangkutkan kim dan berimbas padamu."
"Ya."
"Kau benar soal ini karena jika kita berpencar disini maka kita akan hancur jika menghadapi guncangan sedikit saja." Sahut Jongin setelahnya.
Kyungsoo hanya tersenyum dan menampikkan bibir hati menawannya menatap Jongin lalu bertanya, "Siapa yang kau pilih?"
"Aku tau kalau kau akan memilih junmyeon hyung." Tiba tiba Jongin merotasikan bola matanya.
"Oh, kau memperhatikanku?"
Dan Jongin bisa bisa jengah sendiri melihat jawaban Kyungsoo dan melihat kepergiannya di sertai cengiran jail yang kentara. Setidaknya sekarang permata milik Kim Jongin tidak seredup dulu.
Srekk!
"Aku tau kau di sana." Jongin bersuara dan seorang wanita dengan balutan baju sopan memberikan bungkukan hormat.
Jongin tersenyum, "Sudah puas?"
"Maafkan saya tuan muda."
"Tidak perlu seformal itu padaku,"
"Saya kagum bagaimana tuan jongin dan tuan kyungsoo menangani masalah ini."
"Mereka sering mengatakan jika aku dan kyungsoo lebih mirip tim penjinak gunung merapi yang akan meledak."
Dan Jongin berhasil membuat kekehan dari Dasom beralun begitu saja.
Taukah kalian apa arti keluarga?
Itu lebih mirip sebuah Tim, bagaimana menyelesaikan masalah dengan pikiran dingin dan saling menjaga satu sama lain. Bagaimana mereka akan selalu berusaha menyatu dalam perpecahan karena sebuah ikatan, yaitu keluarga.
.
.
.
.
.
.
Junmyeon membawa langkahnya menaiki anak tangga dan berbelok menuju kamarnya, dia membutuhkan berendam di air hangat untuk menjernihkan pikirannya dan tertidur namun suara pecahan barang dari arah kamar Yixing membuatnya berhenti dan memutar arah menuju kamar si kecil Zhang. Keributan dan suara gaduh terdengar jelas di gendang telinganya. Melihat Minseok ada di sana dan beberapa pelayan menunduk saat melihat kedatangannya.
"Apa yang terjadi?" Pertanyaan Junmyeon reflek memasuki kamar Yixing dengan kekacauan di beberapa sisi.
Minseok menatap sedih juga bingung dengan kedatangan Junmyeon yang menatap selidik pada keduanya sedangkan Yixing terengah dengan kemarahan yang masih kekeh dia simpan.
"Bairkan aku pergi!"
Perkataan itu kembali dan Junmyeon tau situasinya. Melirik bagaimana ekspresi Minseok yang begitu kalut. Junmyeon kembali menatap Yixing.
"Aku tidak mengizinkan."
"Aku bukan budakmu yang bisa kau atur sesukamu kim!"
Panggilan Kim itu keluar dengan begitu mudah dari mulut Yixing menunjukkan bagaimana lelaki di depannya benar benar dalam keadaan yang emosi.
Dan hell, kapan Junmyeon pernah menyebutnya budak, entah mengapa hal ini justru membuat Junmyeon mendidih sendiri.
"Aku menyuruhmu tetap di sini karena sudah ada jackson dan beberapa orang yang membantu."
Minseok tercengang dalam keterdiaman bagaimana Junmyeon mengatakan 'beberapa orang' itu berarti dia menyewa orang untuk membantu Zhang dengan lewat kepergian Jackson. Sungguh Junmyeon tidak pernah mengatakan hal ini kepadanya atau siapapun. Sementara hal itu tidak mengubah keadaan atau kondisi Yixing.
"Pembohong! Aku tau kau membual hanya demi kepentinganmu saja!" Bentak Yixing mengelak dari perkataan Junmyeon.
"Yixing kumohon tenanglah, kita bisa percaya dengan junmyeon."
"Tidak perlu, aku tidak membutuhkan kau percaya dengan ucapanku." Junmyeon menjawab dengan terselip nada arogan yang memiliki aura kecewa di sana.
Apa kalian juga merasakannya?
"Hyung jangan membelanya! Dia itu tidak lebih daripada pembual ulung! Hanya mengambil kesempatan dari kelemahan orang lain!" Yixing terluka begitu dalam, dari sorot mata penuh luka yang terpancar jelas. Bagaimana dia menatap penuh benci pada Junmyeon.
Sementara Minseok tersentak menghadapi keduanya, Yixing yang terluka dan begitu kekeh dengan keinginannya dan Junmyeon yang-
"Kenapa kau suka sekali membuatku marah?"
"Keh! Lihat bagaimana kau sudah mulai menunjukkan keangkuhanmu kim!"
"Jangan melawanku!"
"Aku bukan budakmu!"
Junmyeon mengatur nafasnya kasar, memejamkan bola mata hitamnya dan tiba tiba menatap Minseok di sampingnya, membuat yang di tatap gugup seketika, "Hyung pergilah, kau bisa istirahat aku yakin jongdae menunggumu."
"Apa kau berusaha menghindariku kim!" Yixing berteriak tidak terima di acuhkan.
"Jackson akan kembali besok, diam di sini karena kita bisa menghubunginya." Junmyeon menjawab dengan nada se datar mungkin.
Minseok tertegun, di sampingnya seorang penguasa menguarkan aura kental yang tajam menusuk bahkan membuatnya sesak sendiri namun pandangannya dapat meluluhkan dalam sekejap, juga jangan lupakan bahwa nada bicara Junmyeon berubah total.
Sungguh pengaturan emosi yang baik, Kim. Menenangkan seseorang yang tengah ketakutan akan semua kemungkinan yang mengukung jiwanya.
Minseok menurut bagaimana adiknya berkata dengan berbalik dan akan meninggalkan keduanya dalam kekalutan jika terjadi sesuatu, karena percayalah bahwa Yixing masih begitu terlihat marah.
"Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan! Kau tidak mengerti karena kau tidak memiliki keluarga seperti ku!"
Dan Junmyeon terdiam penuh aura gelap seketika, Minseok yang tertegun hingga dia tidak mampu melangkah tanpa kedua ketahui dia meneteskan air matanya. Ini akan buruk, sangat buruk karena Yixing sudah menyentuh bagian paling dalam dari kegelapan Junmyeon.
"Kau bertingkah seolah kau yang paling hebat! Aku tidak akan lagi menurut padamu! Aku bukan budakmu!"
"AKU MEMBENCIMU KIM!"
Srett!
Tes! Tes! Darah merah segar itu menetes.
"Kau puas sekarang?"
Nada bicara itu, tidak! Tidak mungkin! Minseok berbalik menatap setajam mungkin, tergagap dengan aura ruangan yang lebih menghitam dan lebih mencekam. Luka itu, oh tidak. Junmyeon akan sangat marah saat ini.
Dimana wajah tampannya sudah terluka dengan goresan pisau di tulang pipi kiri dan juga ujung telinga mulai berdarah, dia tidak tau bagaimana tepatnya Yixing menggores karena jelas bagaimana pisau pipih itu di tangan si kecil yang mulai bergetar ketakutan dengan bola mata terbelalak, benar benar gemetaran.
Junmyeon menyeringai setan, pandangan mata menggelap. Mengambil langkah mengintimidasi tanpa kenal lawan. Tanpa peduli setan siapa dia yang ada di hadapannya.
Maka percayalah ini bukan Junmyeon yang kau kenal.
Satu ketakutan besar Minseok yang tidak bisa dia cegah.
Mencoba mencegah Minseok mengambil satu langkah mendekat namun ia begitu tercekat karena Junmyeon reflek menoleh, "Satu langkah dan aku anggap kau pembangkang sepertinya."
"Bukankah kau bilang kau bukan budak? Maka aku akan bermurah hati menunjukkannya padamu."
Dor!
Prang!
Dor!
Dor!
"Akh!"
Junmyeon terkekeh, pias bahagia melihat lelehan cairan merah menguar dari bahu kanan Yixing. Dan Minseok menutup mulut gemetar hebat.
"Bagaimana hmm?"
Yixing bangun menantang malaikat kematian di depannya, "Akhirnya kau menunjukkan sifat aslimu, Kau memang brengsek!"
Junmyeon terdiam, "Aku selalu menunggu kau bersimpuh di bawah kakiku untuk semua perbuatan tidak terpujimu zhang."
"Bermimpi kau kim!"
Yixing maju tanpa peduli apa senjata yang di bawa Junmyeon dan tanpa pikir panjang Yixing mendapatkan tendangan di dada dari Junmyeon, belum cukup sebuah hantaman keras tangan mengenai tulang pipi Yixing hingga dia menabrak meja dan memecahkan vas bunga.
Prang!
Minseok menangis, terduduk kaku melihat keduanya. Jongdae atau siapapun kenapa mereka tidak kemari dan menenangkan mereka berdua.
"Setelah aku menjagamu seperti inikah balasanmu padaku zhang yixing." Junmyeon meraih kerah leher Yixing untuk di bawa berdiri melihat kelopak mata Yixing yang terbuka, secarik kemarah masih ada di sana.
"Kau! Pantas mendapatkannya! Berhenti mengaturku seperti sebuah budak."
Junmyeon tertawa dan Yixing gemetaran, dia sadar bola mata kelam itu berbeda dari seperti yang dia lihat. Ini sangat berbeda, lebih kelam, lebih bengis dan tidak bisa dia kenali siapa yang ada di hadapannya ini.
Ini bukan Kim Junmyeon yang Yixing kenal.
Jongdae dan Taekwoon berlari terburu mendengar suara tembakan dan kegaduhan dari kamar Yixing lalu tercengang bagaimana Junmyeon ada di sana dengan kemarahannya. Jongdae reflek meraih Minseok dalam dekapan.
"Jangan buat dirimu menyesal melakukannya!" Junmyeon mengancam.
"Kau iblis!" Teriak Yixing.
Junmyeon terbakar emosi mencekik leher Yixing tanpa ampun menancapkan kuku kukunya di lingkarang putih pucat leher si kecil mengangkatnya tinggi tinggi dan melemparkan punggung itu pada pintu kaca di belakangnya yang mengarah menuju balkon hingga terdengar benturan keras.
Brak!
"Uhhuk! Akkhhh."
"Bangun kau anak kecil, ini kan perlakuan yang kau inginkan?"
Yixing bangun meraih sebuah payung yang terlipat rapi di dalam vas besar lalu mengayunkannya pada pelipis Junmyeon namun di tahan dengan baik oleh sang empu, Yixing bergetar mundur ketakutan dan satu dua ayunan mengenai lengan tangan juga tubuhnya yang lain.
Air mata turun dari kedua bola mata indah Yixing saat sakit minta ampun menyapa hasil pukulan Junmyeon. Hingga dia terburu melangkah cepat ke luar balkon dan menutup pintu kaca yang tadi sempat membenturnya. Menahan dwngan kedua tangan ketakutan akan Junmyeon di balik pintu.
"ZHANG YIXING!"
Yixing gemetaran bukan main sambil menahan sakit dan berbalik menahan pintu agar tetap tertutup dengan punggung rapuhnya. Dan jangan kira Junmyeon dalam mode monsternya akan mengampuni siapapun yang telah memancing kemarahannya. Satu tendangan kasar dan pintu itu terbuka, Yixing terpelanting menabar pembatas balkon dengan perutnya.
"Akhh!"
"Biar aku tunjukkan perlakuanku kepada budak tidak diuntung sepertimu."
Memutar tubuh ringkih di depannya hingga Junmyeon dapat melihat wajah ketakutan penuh air mata Yixing. Namun dia tidak terpengaruh akan hal itu saat ini, sisi kelamnya sudah di bangkitkan dan akan sulit menghentikannya sekarang. Kembali mencengkeram leher putih itu dan mengangkatnya tinggi mencondongkan ke luar pembatas.
Yixing menatap dengan sorot ketakutan luar biasa, Minseok yang berteriak hingga lemas dan Jongdae yang melebarkan bola matanya.
"Seperti harapanmu akan sebuah budak, biar aku bantu kau merasakannya."
"Ti-tidak!" Yixing gemetaran hebat melirik kebawah dengan kolam renang yang membentang.
"Keh! Berdoalah, jika kau beruntung kau hanya akan terjatuh hanya benturan pada air tidka sampai dasar dan shock tapi jika tidak mungkin kau bisa terjatuh di pinggiran atau beberapa benturan ke dasar kolam mengakibatkan tulang tulangmu remuk." Junmyeon menyeringai, tidak ada belas kasihan di sini.
"A-aku mohon!" "
"Terlambat!"
"AAAAAAAAAAAAAA!"
.
.
.
.
.
.
Tbc-
A/n:
Hai, ini note kecil sebelum bulan puasa akan datang. Dan sudah satu bulan sejak chap kemaren saya up.
Lembur saya datang akhir bulan april hingga mei selama 2 minggu sejak awal bulan dimana hari minggu saya selalu masuk dan hanya libur tgl 1 & 10, benar benar minta maaf karena chap saya habiskan dalam waktu yang lama, saya baca semua review kalian begitu masuk dalam email dan berusaha menuntaskan satu chap meski awalnya saya nulis lalu ujungnya saya ketiduran karena capek, saya baru bisa menuntaskan scene panjang pada tgl 10 jadi maaf karena baru up hari ini. Lembur sebelum bulan puasa memang menguras banyak tapi berkat doa kalian saya berhasil melewati, terimakasih buat kesayangan semua yang membaca ACE sampai hari ini.
Status kedepan saya hiatus selama satu bulan puasa, terlebih rated saya ke depan adalah m untuk beberapa adegan kekerasan meskipun bukan hal vital dan mature content tapi menurut saya itu sebaiknya di tunda terlebih jadwal saat puasa akan sangat padat, berharap kalian memberi pendapat soal hal ini.
Jaga diri kalian baik baik dan jangan sampai sakit selalu sehat saya minta hal itu sehat lah kesayangan ku semua.
Saya akan bersiap untuk next step Junmyeon dan Yixing setelah ini. Karena sesungguhnya kemarin adalah pemberhentian paling aman dan manis untuk keduanya,
Dan sesungguhnya ini belum selesai untuk yixing ver, maaf karena harus saya potong di sini.
Jadi apa kalian sudah membenci Junmyeon sejauh ini? Ceritakan bagaimana keadaan hati kalian guys?
Love u guys,
Selalu jaga kesehatan, oke! Sampai jumpa.
.
.
.
Luce,
14 Mei 2018
