"Keh! Berdoalah, jika kau beruntung kau hanya akan terjatuh hanya benturan pada air tidka sampai dasar dan shock tapi jika tidak mungkin kau bisa terjatuh di pinggiran atau beberapa benturan ke dasar kolam mengakibatkan tulang tulangmu remuk." Junmyeon menyeringai, tidak ada belas kasihan di sini.

"A-aku mohon!" "

"Terlambat!"

"AAAAAAAAAAAAAA!"

Taekwoon mengeram marah menatap tidak percaya kepada Junmyeon. Namun dia bisa menangkap siluet kepedihan mendalam di balik netra kelamnya, hingga tubuhnya berlari menuruni tangga penuh ketakutan dengan degup jantung memacu tak terkendali, mendorong pintu keluar menuju area samping rumah hunian Henry penuh ketakutan. Kepalanya mendidih akan rasa cemas teramat sangat kala suara deburan air menandakan obyek besar baru saja masuk kedalamnya.

Yixing bergerak kacau sekacau pikirannya, meraih dengan kedua tangan akan udara bebas. Berupaya untuk menyelamatkan diri kala grafitasi menarik tubuhnya terjun mendekati kolam. Punggungnya sakit merasakan benturan keras dengan air dan pikirannya kosong, lupa bagaimana tubuhnya harus bergerak mencapai permukaan, tangan bergerak acak dan kaki memendang air hingga kram menyentuh pikirannya. Dia tidak bisa bergerak dalam kepanikan yang mengukung tubuhnya.

Tanpa pikir panjang Taekwoon berlari menuju kolam dengan kedua tangan menarik T-Shirt abu abu melemparnya sembarangan dan menyusul masuk kedalam air.

Junmyeon masih di atas dengan wajah luar biasa angkuh dan kemarahan jelas tercetak di sana. Hingga deburan air kolam sampai di gendang telinganya, menatap setia bahkan tanpa ada niatan bergerak kala seorang lelaki menerjunkan tubuhnya ikut masuk kedalam kolam untuk menolong Yixing.

Berbalik menatap kekacauan dalam kamar yang dia perbuat hanya untuk menatap dua saudara tua juga muda nya menatap penuh pertanyaan dan perhatian dalam linangan air mata Minseok. Junmyeon terhantam kesadaran kala bola mata kucing itu menatap penuh ketakutan, kecewa juga sedih kepadanya.

Apa yang dia perbuat?

Tergagap, meremat tangan dengan tanpa suara meninggalkan ruangan kamar Yixing, melewati keduanya tanpa mau menatap.

.

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 9: My Fault

Angin kesunyian berhembus

Menerpa semua yang berada di depannya

Kenyataan bagaimana aku menyakitimu

Adalah kesadaran terbesar

Akan sebuah kegagalan

Maaf,

Its my fault

.

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan, Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay and other.

Genre : Romance, Action, Crime, (Little) Hurt/comfort

Rated : M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Mafia life, Dldr, BxB, Typo(s), mature content

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

Demam,

Seorang pelayan membungkuk sopan kepada Minseok dan menyerahkan kotak obat juga baskom berisikan air yang mana langsung dia berikan kepada Taekwoon yang duduk di pinggiran tempat tidur Yixing.

"Keringkan dahulu rambutmu taekwoon ah!" Minseok bicara kentara khawatirnya karena air masih melekat di rambut hitamnya.

"Ya, segera." Jawab Taekwoon masih sibuk meletakkan kompres di dahi Yixing.

"Aku yakin demamnya akan segera turun setelah ini." Jongin tau tau sudah masuk dengan Kyungsoo yang berdiri di depan tempat tidur.

"Ya, ini hanya demam biasa." Meyakinkan diri sendiri, Minseok menimpali.

Jongdae masih berdiri di sebelah Minseok mengambil sebuah handuk dan menyampirkannya di atas kepala Taekwoon, gerakan ringannya membuat sang empu terkejut sebentar lalu mengucapkan terimakasih dan mulai berdiri menggusak rambutnya yang basah.

Kyungsoo berjalan memutari tempat duduk hanya untuk menyentuh pipi pucat hyung kesayangannya dan memberi usapan di tangannya, "Aku akan membuatkan bubur."

Minseok tersenyum mendengarnya lalu adik bermata bulatnya mulai meninggalkan mereka bersama Jongin yang mengekor di belakang. Dan beberapa saat setelah pintu tertutup, bola mata si kecil bergerak untuk terbuka.

"Yixing ah?"

.

.

.

.

.

"Hei, apa yang aku rasakan saat ini?" Taekwoon tersenyum lembut menatap kelewat intens dengan sebelah tangan tidak berhenti memberi usapan -berusaha memberikan rasa nyaman.

"Junmyeon. . ." Ucap Yixing membuat Taekwoon maupun Minseok terkejut hingga dibuat terdiam sekejap.

"Apa kau tidak merasakan demam?" Ujar Minseok kentara mengubah topik pembicaraan, takut kala Yixing akan sensitif dengan pembicaraan mengenai Kim nomer dua. Meskipun tidak dapat di tampik jika dia ketakutan bagaimana kejadian barusan akan berefek pada Yixing terutama kejiwaannya.

Kalian tentu lebih hafal daripada aku tentang Kim yang bukan hanya sekali melakukan kekerasan terhadap Yixing.

Taekwoon terdiam hanya menatap Yixing penuh tanda tanya. Bola mata si kecil berpendar redup tetapi Taekwoon dibuat terkejut bagaimana mulut kecil itu mengucapkan nama laki laki yang membuatnya terjatuh dari lantai kamarnya. Setelah berperang dengan batinnya sendiri Taekwoon gunakan tangannya untuk merambat menyentuh tangan pucat Yixing, "Kau bisa bangun? Kita makan sekarang."

Yixing hanya mengangguk dan sesaat setelahnya berusaha menopang tubuh lemahnya untuk duduk bersandar di headboard. Taekwoon sengaja hanya menatap tanpa usaha membantu si kecil guna melihat bagaimana tubuh yang baru saja terlempar dari ketinggian itu berfungsi sebagai mana mestinya.

"Mungkin ini akan membuatmu berfikir sedikit," Taekwoon memulai sebuah suapan kecil bubur buatan Kyungsoo. Minseok menarik kecil kursi terduduk menatap lebih dekat Yixing.

"Apa. . .ini tentang junmyeon?" Yixing menunduk meremat jemari jemarinya yang terkait.

"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini, meminta maaf karena kelakuan junmyeon. Tapi yixing. . . .bisakah kau memaafkannya?" Minseok berucap menatap penuh harap pada bola mata coklat yang berpendar redup.

"Dulu aku pernah melihat junmyeon seperti itu hanya sekali, ketika keluarga kami hancur." Bola mata si kecil berubah aktif, penuh rasa ingin tau dan pemusatkan semua perhatian pada Minseok.

"Kami kehilangan sosok ibu ketika Junmyeon dan aku masih teramat kecil, aku ingat saat itu kami masih memainkan bola saat appa datang untuk membawa kami ke kamar tidur dengan ibu yang sudah sekarat."

"Itu bukan pukulan yang sebenarnya, tapi setelahnya appa berkenalan dengan rubah busuk dan membawanya pergi meninggalkan kami. Junmyeon hancur, marah dan penuh dengan rasa benci. Dalam hari hari setiap pertumbuhannya selalu berlatih dan berlatih."

"Anak kecil yang dulu aku kenal hangat dan penuh kasih sayang berganti dengan sifat dingin penuh kebencian. Dan satu malam kelam dimana salah seorang patner kerja keluarga kim tertangkap mengucapkan kepadanya tentang keluarga yang hancur saat itulah aku berar benar kehilangan adik kecilku, junmyeon marah mengambil apapun di sisinya untuk membunuh tidak peduli bagaimana lengan kaki juga tubuhnya dibenturkan atau terlempar, dia kembali berdiri dan terus menyayatkan pisau."

"Tidak ada dari kami yang bisa mengentikan, karena dia akan membunuh siapapun yang ada untuk mencegahnya, dia menganggapnya sama sebagai penghianat, hingga dia baru berhenti setelah lawannya mati dengan tubuh penuh tebasan juga darah."

"Aku sebagai hyungnya justru duduk lemas kala itu, aku bukanlah seseorang dengan kemampuan yang hebat dimana dapat melindunginya sebagai seorang hyung, dia dulu akan datang kepadaku untuk sebuah pelukan yang biasa kami lakukan tapi aku terlanjur takut hingga hanya berteriak pergi. Setelah malam itu dia jatuh tidak mau bertemu siapapun dan tubuh demam tinggi. Saat tersadar aku benar benar kehilangan keluargaku, kami hancur tidak ada kasih sayang, tidak ada ramainya meja makan, tidak ada perhatian untuk rasa nyaman bahkan tidak ada saling tatap atau bicara bersama."

Perkataan Minseok mengingatkan Yixing tentang kedatangannya di Changsa kala itu. Dan benar bahwa dia bukan seorang dengan kemampuan berkelahi yang baik.

Taekwoon meletakkan sendoknya, menghela nafas berat lalu menunduk, membiarkan Minseok bicara dengan pikirannya yang ikut terbawa ke masa lalu mereka, "Junmyeon selalu berusaha melindungi keluarganya, baginya topik keluarga adalah bahasan paling sensitif, dia hanya menginginkan sebuah keutuhan keluarga tapi semua yang dia inginkan hancur dan tidak lagi berbentuk, kala itu kami sama sama menjauh dimana saling menyalahkan diri sendiri karena gagal menjaga satu sama lain. Jongdae juga jongin datang setelahnya menjadi teman bermain karena kepolosan seorang anak kecil hingga kyungsoo bergabung. Saat itulah junmyeon baru bisa tersenyum lagi, saat jongin mengatakan dia adalah hyung favoritnya dengan jongdae dan kyungsoo yang datang untuk sebuah pelukan."

"Darisana kami membentuk keluarga kami sendiri. Sebuah keluarga kecil dengan kehangatan yang coba kami bagi sebisa mungkin." Minseok mengakhirinya, memejamkan kedua bola matanya sesaat meredam emosi juga air mata yang hendak turun. Jongdae merengkuhnya dari belakang untuk usapan penenang. Dan Taekwoon tidak lagi bersemangat untuk menatap selain marmer di bawah kakinya.

Yixing di hantam kesadaran sepenuhnya, semua yang di katakan Minseok seolah sebuah jarum yang berjumlah ribuan masuk ke dalam hatinya, betapa kasarnya ucapan dia kepada Junmyeon 'Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan! Kau tidak mengerti karena kau tidak memiliki keluarga seperti ku'

Betapa sulitnya Junmyeon saat dia kehilangan keluarganya hingga dia hanya hidup bersama dengan Minseok, karena hal itulah Junmyeon benar benar marah kepadanya. Sadar, Yixing terlalu melukai lelaki Kim itu terlampau dalam, seperti membuka luka lama yang belum sembuh sepenuhnya. Meskipun Junmyeon tidak pernah mengingkari ucapannya, dimana benar bahwa Jackson pergi bersama suruhan Kim dan melepaskan jie jie-nya sebagai sandera.

Yixing terdiam, menunduk hanya meremat kedua jemari tangannya gelisah. "Maafkan. . .aku."

Suara lemah Yixing menyadarkan banyak orang dalam ruangan, hingga Minseok menyahut, "Kau tidak salah, Kau memang sepenuhnya tidak tau bagaimana masa lalu kami."

"Tetapi aku berucap terlampau kasar kepada junmyeon." Aku si kecil Zhang, Taekwoon tersenyum untuk usapan lembut di puncak kepala Yixing.

"Se-bar bar apapun dirimu kau tetaplah seorang anak yang baik yixing ah!" Ucapan Taekwoon mencoba menenangkan Yixing meskipun tidak berhasil.

.

.

.

.

.

Yixing termanggu sejenak, membiarkan Taekwoon juga Minseok mengobrak abrik kotak obat, lebam di tubuh juga pipi kirinya masih jelas. Membuat dokter muda Jung mengambil tindakan pengobatan.

Dia telah bertemu dengan Kyungsoo juga Jongin, membiarkan mereka berdua berbicara panjang kali lebar tentang larangan apa saja yang tidak boleh dia lakukan bahkan hanya untuk meraih segelas air. Sungguh dia haus saat itu hanya untuk menjawab pertanyaan penuh rasa kawatir Kyungsoo. Dia baik baik saja sekarang dengan semua orang dan keramaian dalam kamarnya.

Tetapi, bagaimana dengannya?

Dengan Junmyeon juga beberapa luka yang dia timbulkan di wajah tampannya?

Apa lelaki itu sudah mengambil makannya?

Apa lelaki itu sudah merawat lukanya dengan baik?

Apa lelaki itu dapat memaafkanya?

Apa Junmyeon baik baik saja?

Dia salah telah melukai Junmyeon, Yixing masih menatap pada pintu kamarnya yang tertutup rapat meski semua orang ada dalam kamarnya, berharap akan ada sosok lelaki Kim itu untuk mengetuk pintu dan menyempatkan diri untuk menjenguknya.

Nihil dan helaan nafas berat Yixing keluarkan. Taekwoon tau hal itu, semuanya dia tau, bola mata hitamnya ikut dia bawa pada pintu mengikuti Yixing, namun sekali lagi.

Tidak ada siapapun di sana.

Tidak ada kedatangan Junmyeon.

Ataupun suara ketukan pintu oleh Junmyeon.

Tersadar, Yixing tersenyum miris. Mengingat ketika dia berada di Korea, kala dia juga berada di ruang inap rumah sakit, kala dia terkena kritis untuk sesaat dan Junmyeon juga yang dia harapkan. Sama seperti kali ini, tetapi dapatkah dia melihat wajah Junmyeon saat ini?

Dapatkah?

.

.

.

.

.

Junmyeon menyandarkan kepalanya di kursi dengan bola mata terpejam. Mendiskusikan semua perlengkapan di Thailand bersama Luna cukup memakan tenaga dan fikiran yang banyak. Terlebih dia tidak melalui waktu tidurnya dengan baik dan lebih menghabiskan waktu untuk menyibukkan diri dengan berbagai hal mengenai perlengkapan juga pertahanan persembunyiannya di China, karena bagaimana pun dia belum bisa tampil dengan terbuka terlebih Zhang hanya ada Showluo juga Victoria yang baru bisa dia genggam.

Tapi jika kalian mau tau sesungguhnya hanya untuk mengenyahkan segala pikirannya yang berlarian pada si kecil Zhang.

Seperti saat ini dimana Luna sudah menghilang dari depannya 10 menit yang lalu, tidak ada lagi hal hal yang dapat dia lakukan. Junmyeon terdiam sejenak memijat pelipisnya pening perlahan menyerang kepalanya. Hingga pintu ruangan terbuka dengan Henry masuk bersama troli makanan yang bisa disebut sarapan meskipun masih terlalu dini mengingat ini masih pukul 3 pagi dini hari.

Junmyeon menghela nafas, "Sudah berapa kali aku bilang untuk berhenti memaksaku?"

Henry hanya tersenyum dengan kedua tangan di depan tubuhnya, membungkuk. Terlalu hafal dengan tabiat sang Tuan Muda, "Hanya ketika tuan menghabiskan satu dari sarapan yang saya bawakan."

Junmyeon terdiam meletakkan pandangannya pada beberapa makanan dalam troli, tersenyum samar. "Bagaimana. . .dia. ."

Nafas tercekat, udara menghimpit. Bagai terkurung di antara kedua dinding tak kasat mata, pikirannya terhenti. Menanyakan apakah pantas seseorang sepertinya bertanya keadaan seseorang yang telah dia hancurkan. Bibir Junmyeon terkunci, bayangan kejadian tadi pagi mengusiknya terlampau dalam, menggali semua rasa ingin tau dalam dirinya. Henry sadar akan hal itu.

"Tuan muda zhang dalam pengawasan dokter jung dan tuan muda minseok, lebamnya masih tertinggal namun dia tidak mengalami masalah dengan tulang ataupun organ tubuhnya."

Junmyeon hanya terdiam dengan mulut terkunci rapat, mata bergulir menatap wine yang masih tertinggal di gelas kristal, dia tidak berminat. Hanya memainkan bolpoinnya yang masih setia tertinggal di jemari, Henry membiarkannya terlalu sering dengan nuansa sepi penuh rasa canggung.

Hingga Henry tidak tahan sendiri untuk terdiam tanpa melihat Junmyeon makan, sang Tuan Muda melewatkan hampir 3 periode makannya dan itu bukan hal yang baik baik saja, "Tuan akan memulai makan pagi ini."

Junmyeon tersenyum tipis untuk tekanan yang dia dapati dari kepala pengurus rumahnya. "Bisakah? Bisakah aku mendapatkan bantuan darimu?"

Pertanyaan asing terdengar, membuat Henry terdiam menatap wajah menyedihkan Tuan Mudanya.

Dia mengalami guncangan besar.

Henry tersadar, tersenyum menenangkan lalu membungkuk dengan segala penghormatannya, "Semua ucapan tuan adalah perintah bagi saya."

Namun bola mata Junmyeon berpendar penuh ketidak yakinan. Dan bertepatan kala itu Bora masuk dengan terburu namun berhasil tidak di hiraukan oleh Junmyeon. "Ketika zhang mulai mengetahui keberadaan kita,"

"Ketika semua usaha kita tidak menunjukkan hasil, aku harap kau bisa membawa keluargaku untuk menjauh se jauh mungkin."

Mendengar, tentu saja. Bora tau akan hal itu, dalam sekali tatap bagaimana pandangan juga perhatian Junmyeon dalam mengatakannya kepada Henry membuat Bora sadar Tuannya lebih dari kata tidak baik baik saja, dia melangkah mendekat penuh rasa simpati, seolah dapat menenangkan sang Tuan Muda.

"Aku tidak mau mereka menemukan salah satu dari kalian,"

"Pergilah sejauh mungkin. Konyol memang, tetapi aku yang akan menyelesaikan semua yang ku mulai. Tidak peduli apapun yang akan kau lihat saat itu tiba maka bawa mereka pergi."

"Bisakah kau menyanggupi permintaanku?" Junmyeon menyelesaikan perkataannya, menatap manik hitam Henry penuh kesungguhan. Terdiam untuk menunggu jawaban sang tangan kanan kepercayaan Kim.

Nafas berhembus merasuki dadanya yang terasa sesak, memgingat kembali bagaimana roll film masa mereka bermula.

Dari semua yang telah terjadi,

Semua yang Junmyeon mulai,

Dari awal dia sadar bahwa jika bukan dia yang tertarik kepada si kecil,

Jika bukan dia yang tertarik dengan sifat juga kemampuan mengagumkan dalam hal ledakan,

Jika bukan dia yang tertarik dengan kemampuan si kecil dalam menghancurkan kepercayaannya kepada Jongdae,

Jika bukan dia yang tertarik dengan penghancuran ikatan pertunangan Zhang dan Wu,

Jika bukan dia yang tertarik dan benar benar jatuh cinta kepada Zhang Yixing,

Jika bukan dia yang tertarik untuk masuk dalam lingkarang darah Wu bersaudara dan Zhang,

Dan . . .

Jika bukan dia yang sadar bahwa dia telah melukai keluarganya sejauh ini,

Junmyeon berada dalam posisi terendahnya, saat ini. Dimana Bora menatapnya dengan bola matanya sendiri, bagaimana Tuan Muda yang selalu dia banggakan menunjukkan sisi dari dirinya yang lain.

Henry tidak berkutik bagaimanapun juga Bora, kedua saraf mereka seolah terhenti. Tidak pernah terbayangkan bagaimana Tuan Muda mereka yang terkenal arogan dan tidak pernah menunjukkan rasa sakit bahkan untuk sebuah luka paling dalam akan memiliki pemikiran sejauh ini terlebih untuk keluarga mereka.

Meskipun satu dakta bahwa keluarga Kim hampir memiliki kualifikasi terbaik untuk sebuah pertarungan.

Namun keduanya sadar bukan kualifikasi itu yang tengah Junmyeon jadikan pertimbangan melainkan hal lain.

Bora sadar bahwa ini bukanlah Tuan Muda Kim yang dia kenal dimana keangkuhan, arogan, dingin, penuh kuasa, penuh ambisi dan kekuatan yang ada di hadapannya namun ini merupakan seorang Kim Junmyeon yang menjadi adik dari Kim Minseok dan hyung dari ketiganya.

Hati kecil Junmyeon yang memilih dalam hal ini, maka dari itu Henry menunjukkan kehormatan juga patuhnya, "Saya berjanji dengan segala nafas saya untuk melidungi apa yang tuan muda lindungi."

Bora tidak berucap apapun hanya terdiam, Semua ucapan juga laporan untuk Tuan Mudanya tertelan begitu saja. Satu keyakinan lain yang sekarang terselip dalam hatinya bahwa dia akan melakukan sepenuh hati juga jiwanya untuk melindungi Tuannya.

.

.

.

.

.

"Baiklah. . .coba kita lihat apa pipi merah merona tuan putri masih terlihat jelas?"

"Itu bukan merah hyung tapi biru."

"Sstt, diam aku yang melihat jadi jangan membantah."

Yixing hanya memberenggut mendengar ucapan Taekwoon kala jemari dokter Jung itu mulai mengobati kembali luka lebamnya. Ini sudah hari ke tiga dan cukup membuat tubuhnya terasa lebih baik daripada hari hari kemarin. Dia begitu ingin bangun dari tempat tidur dan mulai menjelajah rumah kembali, karena percaya atau tidak bahwa banyak orang yang menjadi menyeramkan kala Yixing berada di atas tempat tidur. Melarang dengan berbagai macam alasan dan berteriak seolah Yixing adalah pencuri.

Ini melelahkan sungguh!

"Aku ingin melihat Junmyeon. . ." Bisikan lirik Yixing masih terdengar dari jarak Taekwoon berada, dia mendengarkannya terlampau jelas namun entah apa Taekwoon hanya memberhentikan pekerjaannya untuk menatap manik coklat yang berpendar dengan tatapan tidak percaya, seolah ucapannya sendiri adalah hal yang wajar seperti peliharaan yang merindukan tuannya. Oke mungkin salah tapi apa kalian bisa bayangkan bagaimana berada di posisi Taekwoon saat ini dimana di depannya seorang Zhang Yixing yang di lempar dari kamarnya ke kolam renang mencari Junmyeon dengan dan tanpa raut takut sedikitpun.

Seolah kekerasan Kim adalah makanan wajar baginya.

"Taekwoon hyung. . . ." Yixing mencoba merayu.

"Hei. .dengarkan aku, junmyeon mungkin saat ini masih mengurus banyak hal. Yang penting sekarang adalah kesehatanmu." Jelas Taekwoon.

"Aku akan baik baik saja jika hanya untuk menemui junmyeon. . .Apa bisa?" Bujuk Yixing lagi.

"Yixing. . ." Taekwoon mencoba memberikan pengertian.

"Aku menginginkannya!" Bentak Yixing tanpa sadar.

Taekwoon menghela nafas, memundurkan langkahnya untuk berdiri membereskan peralatan hingga pintu kamar terbuka, menampilkan Minseok dengan balutan baju hangatnya berwarna segar.

"Merasa lebih baik?" Tanya Minseok dengan senyum merekah di wajahnya.

"Tentu, bisa aku keluar?" Tanya Yixing bersemangat.

"Apa? Keluar?" Ulang Minseok.

"Ma-maksudnya. . .hanya berkeliling rumah." Jelas Yixing lebih pelan juga terkesan ragu.

Minseok terdiam menatap wajah Yixing yang menunduk lalu bergeser pada Taekwoon yang masih berdiri di samping tempat tidur. Kedua bola mata yang lebih tua bertemu dan terdiam beberapa saat, hingga helaan nafas Minseok keluar.

"Setelah kau selesai sarapan di ruang makan ku fikir kau bisa berkeliling." Putus Minseok di sambut cengiran lebar si kecil dan gelengan tidak percaya Taekwoon.

.

.

.

.

.

.

Taekwoon berdiri lesu dengan pandangan kosong, sementara Dasom segera mungkin memacu langkah kecilnya mendekati satu dari dokter kepercayaan keluarga Kim.

"Apa yang terjadi?" Tanya Dasom setelah menahan satu lengan patnernya.

Mengutuk sesaat kepada kaki kecil juga sepatu dengan heels sialan yang membuatnya harus menjaga langkahnya.

"Aku. . .aku fikir ada yang salah disini." Pandangan Taekwoon berpendar gugup dengan begitu banyak ketidakyakinan.

"Yixing di buat jatuh dari balkon kamarnya hingga kolam renang, dia hingga hampir kehilangan nafasnya karena aku mengangkatnya saat itu harus memberinya tekanan di paru parunya, tetapi saat terbangun kembali ketika demam dia mencari junmyeon untuk pertama kalinya."

"Apa? Tuan melakukannya? Oh tidak!"

"Dia tidak memiliki ketakutan kepada junmyeon dan lagi minseok hyung menceritakan masa lalu junmyeon justru semakin membuatnya menginginkan bertemu."

"Itu wajar. . ."

"Ya dari sana aku berfikir wajar tapi setidaknya dengan riwayat Yixing yang memiliki ketakutan akan masa lalunya dengan penuh darah dan kekerasan, lalu kesan pertamanya bertemu junmyeon adalah ketakutan. Itu bukan hal yang wajar!"

"Kemarahan tuan muda yang benar benar membuat Yixing merasa bersalah?"

"Junmyeon adalah satu dari bagian ketakutan akan ulangan balik kisah kelam yixing, dia menjauhinya sejauh yang kita lihat saat ini, dengan kekerasan junmyeon di balkon lalu pukulan, bentakan dan cekikan di leher, lebih dari itu juga hampir seperti ancaman dorongan menjatuhkan yixing ke kolam. Apakah itu tidak cukup keterlaluan hingga membuatnya semakin takut lalu kenapa yixing justru mencarinya?"

Dasom terdiam dan Taekwoon berfikir untuk kesekian kalinya. Apa yang terjadi disini?

"Apa mungkin . . .tuan muda telah?" Pertanyaan Dasom masih berhenti di tempat kala Taekwoon ikut terdiam mencermati lalu Dasom segera mungkin berlari untuk menuju ruangan Junmyeon berada. Jika memang ini adalah satu dari jawaban yang dia inginkan ini cukup untuk menentukan keputusan selanjutnya.

Langkah terburu Dasom menaiki tangga menuju ruangan Junmyeon namun berhenti kala Bora ada di sana dengan wajah tidak terbaca. Menatap satu dari bagian hitam-putih kebanggan Kim. Wajahnya yang diam penuh ketegasan membuat Dasom mendekatinya hanya untuk mendengarnya, "Sudah selesai. . ."

"Tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan dasom ah!"

Tidak! Tidak mungkin!

Dan darisana membuat Dasom ingin berteriak untuk memaki Junmyeon yang seenaknya mengambil keputusan.

Sialan memang Tuan Mudanya satu itu.

.

.

.

.

.

.

Yixing mengambil langkah kecil dalam setiap gerakannya menuju halaman belakang rumah, dia berhasil membuktikan pada adik juga hyung kesayangannya bahwa dia baik baik saja, menghabiskan makanan sebagaimana mestinya dan segera membujuk sebisa mungkin untuk memperbolehkannya berada di luar kamar.

Tersenyum dalam langkah kecilnya Yixing semakin mendekati ruangan belakang dimana Minseok juga Kyungsoo tadi berjanji untuk membatunya belajar menembak lagi. Dia sedang bersemangat belajar ngomong ngomong.

Satu lagi yang membuatnya sangat bahagia hari ini karena sungguh udara luar benar benar membuatnya semakin baik selain tubuh, kaki juga kepalanya baik baik saja. Dia ingin berlari karena hanya tinggal satu belokan lagi menuju pintu halaman belakangan area menembak namun baru dua langkah dari belokang Yixing berjingkat dengan satu tangan berada di depan dada dan bola mata melotot menelisik sekitar, bunyi benda berat yang terbanting jatuh terdengar amat keras dari sini.

Satu langkah penuh kecurigaan Yixing ambil dan lagi benda yang kelihatannya cukup berat jatuh hingga menimbulkan bunyi debuman. Sebelumnya dia tidak pernah menemui hal itu hingga berbekal keingintahuan Yixing menelisik, mengambil langkah berlawanan menuju jalan pada area menembak. Sebuah pintu hitam tidak tertutup dari arah suara keras itu berasal.

Mengintip dari celah pintu Yixing mengetahui bahwa itu gym, dengan seluruh alat berat guna berlatih dalam pembentukan otot dan juga yang lainnya, sebelum bola matanya sempat berkeliling apa saja alat yang ada di sana bola mata kecilnya sudah terpaku pada dua objek berbeda gender.

Terkejut dengan bola mata terbelalak, itu Junmyeon.

Yang sayangnya dia tidak sendiri namun bersama dengan -Luna.

Satu dari bagian dalam diri Yixing dihimpit oleh perasaan lain yang dia tidak mengetahui penyebabnya. Membuat jemarinya meremat tanpa dia sadari terlebih kala Luna disana berdiri menemani Junmyeon dengan setelan kemeja putih ketat dan bawahan terlampau minim, melayani Junmyeon dengan terlampau aneh untuk orang berfikir bahwa gadis itu tidak berusaha untuk merayu Tuannya sendiri, oh hell.

"Siapa disana?"

Yixing tersentak bagai di sambar petir, nyalinya mengerut mendengar suara Junmyeon yang mirip mirip membentak,karena jelas memang jika dia berada di area yang bukan seharusnya dia datangi.

"Keluar."

Dengan langkah kecil dan kepala menunduk Yixing membawa langkahnya menuju ambang pintu, dari tempatnya berdiri dia dapat melihat semua peralatan olahraga dari ukuran kecil hingga besar lebih luas daripada kelihatannya dan sungguh ini lebih menakjubkan tapi bukan itu yang tengah Yixing perhatian namun bola mata Junmyeon, menatapnya tajam tanpa emosi kala melihatnya pertama kali semenjak kejadian di balkon.

Terdiam Yixing bahkan tidak dapat berkata apapun, merona sesaat kala tau bahwa pemimpin Kim di depannya mulai mendekat dan demi apapun dia baru sadar jika Junmyeon tidak mengenakan atasan, memamerkan otot tubuh keras dan lelehan keringat, Luna di belakangnya mengikuti langkah sang Penguasa dengan raut wajah lain

Sebuah kemarahan terselip di balik wajah cantiknya, terlebih kala Tuannya tidak berkutik dengan kehadiran si kecil yang menurutnya menggangu. Dengan berani jemari tangannya terulur menyentuh lengan Junmyeon yang kelewat panas.

"Tuan, perencanaan tailand sudah menunggu di meja anda."

Yixing berkedip untuk kesekian kalinya menatap kedua orang di depannya tanpa suara, bola matanya berpendar kembali menatap Junmyeon yang juga berbalik menatapnya dalam diam, tanpa emosi juga tanpa suara. Hingga tatapan keduanya di putus begitu saja oleh sang dominan, "Kita pergi."

Tanpa sapaan

Tanpa komentar

Tanpa seruan

Yixing terperanjat dan Junmyeon mengambil langkah menjauh, tanpa memperdulikan kehadiran si kecil. Dia melewatinya begitu saja.

Meraih senyuman kemenangan dari gadis cantik yang diam diam bersorak dalam hatinya.

Dan Yixing mulai menunduk dengan perasaan campur aduk,

"Yixing ah!" Teriak Minseok berlari mendekatinya.

Minseok terdiam melihat Yixing dan punggung Junmyeon yang menghilang di belokan, apa terjadi sesuatu dengan adiknya? Sementara si kecil tidak dapat berbicara, seperti belum kembali pada tubuhnya.

"Hei? Kau baik baik saja? Apa junmyeon melakukan sesuatu?" Pertanyaan dari Minseok menyadarkan Yixing hingga menatap Minseok lalu menggeleng pelan.

"Dia . . . . Tidak menganggapku ada."

.

.

.

.

.

.

Tbc-

A/n: hai apa kabar?

Saya kasi pendek, kemarin baca cerita panjang 5k membuat saya bosan dan tiba tiba berfikir apa kalian perna bosan dg panjang chap yang saya buat? maka dari itu saya coba kasi yang sebegini, pemberhentian paling baik chap 7 kemaren maka dari itu ini mulai ke pertengahan cerita siap siap konflik keluarga dan pertarungan strategi dari dua King kita 'Kim & Zhang'.

Segitu dulu, jaga kesehatan kalian. Sampai jumpa lagi, saya sayang kalian semoga liburannya menyenangkan.

Love u all

Luce,

20 Juni 2018