Dasom dan Bora menatap dalam diam dimana Junmyeon berlalu mengabaikan Yixing yang masih berdiri kaku di ambang pintu, keduanya juga tidak luput memperhatikan bagaimana jemari Luna dengan cukup kurang ajar menempel di lengan panas Junmyeon lalu menggiring sang Penguasa untuk meninggalkan Yixing. Berdecih sesaat Dasom menatap kelewat muak sedangkan patnernya Bora hanya menatap datar.

"Sedang berada di atas angin rupanya, cih!" Monolog Dasom seraya menatap kepergian Junmyeon dan Luna.

Bora menatap Dasom lebih lebih daripada memperhatikan wanita ular di ujung sana, terkekeh pada patnernya yang begitu terpengaruh. Bora tau bagaimana tentunya seorang anak buah seperti mereka mengagumi Tuan Mudanya, dia dan Dasom-pun juga sama mengagumi sosok Penguasa yang begitu arogan, angkuh, dingin namun juga sangat panas di saat bersamaan. Tetapi bukan untuk bersifat lancang. Sebuah kekaguman murni hingga bola matanya mengarah kepada Yixing yang sudah bersama dengan Tuan Minseok -kelihatannya Tuannya yang satu itu mencoba menenangkan. Terkekeh Bora mengeluarkan pendapat meski bola matanya belum lepas dari Yixing, "Tidak lama, kau tunggu saja karena Tuan muda Zhang yang akan membalasnya."

Dasom terperanjat, mengambil langkah mundur untuk menatap sang patner tidak percaya. Mengerutkan kening, "Kau? Bagaimana bisa menyimpulkan hal itu!"

Ikut menatap balik Bora menjatuhkan tatapan remeh, "Tidak selamanya suatu hal yang di kekang akan tetap menurut pada sekitarnya,"

"Lingkungan Tuan Muda Zhang selalu membatasi geraknya sangat berbeda jauh bagaimana keadaan di sini, Tuan Muda Junmyeon justru berusaha membuatnya kembali menjadi dirinya yang dulu."

"Lalu?"

"Kau bisa simpulkan sendiri. Seperti membangunkan seekor macan yang tertidur."

-macan betina mungkin dalam kasusnya kali ini.

Terkekeh hampir tidak percaya, Dasom membayangkan bagaimana Yixing mampu bertingkah menakutkan karena bagaimana pun dia tetap seorang anak kecil yang manja dengan tingkah baik yang walau terkadang suka berada di luar kendali, seperti sebuah bentakan atau bahkan sikap bar-barnya.

.

.

.

.

.

.

Rainha code

Chapter 10: Yixing vs Luna

Bukan subyek yang sebanding untuk ukuran gender,

Tetapi bisakah mereka di sandingkan dalam sebuah perselisihan kecil tidak kasat mata?

Dengan anggapan sebuah kedudukan

Pertanyaan lama yang kembali menghantam

Dan tindakan fatal dari salah satunya

Siapa kau sebenarnya Zhang Yixing?

.

.

This is ACE Season 2

© Pearl Luce

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan, Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay and other.

Genre : Romance, Action, Crime, (Little) Hurt/comfort

Rated : M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Mafia life, Dldr, BxB, Typo(s), mature content

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.

Yixing dibawa menuju area berlatih dengan Minseok yang menuntun lengannya seolah dia akan jatuh. Bukan terjatuh atau tersandung memang namun jiwa si kecil sedang tidak berada dalam tubuhnya. Minseok menjadi miris sendiri melihatnya, kedua anak yang sama sama keras kepala baik Junmyeon sendiri maupun Yixing.

Kyungsoo berjalan mendekat dengan Baretta yang akrab di tangannya. Menyerahkan dengan senyuman bersahabat, Yixing meraihnya dengan tatapan lama.

Baretta itu pemberian Junmyeon. Yang mana otomatis membuat Yixing mengulang perilaku Junmyeon yang menyebalkan. Seperti dimana dia di acuhkan tadi.

Dor!

Oh dia mulai lagi!

Yixing mengarahkan tembakan dengan rasa kesal juga dongkol yang tiba tiba merangsek masuk dalam hatinya tidak terkontrol. Dan percayalah Minseok sudah menepuk dahinya keras melihat kebiasaan Yixing ketika berlatih.

Selalu di awali oleh emosi, aku yakin jika kalian juga akan menyadari kebiasaannya itu.

Kyungsoo disana melihat hanya menggarukkan tangannya di belakang kepala, masih mengamati bagaimana Yixing menembak amatiran. Sungguh berbeda dengan Yixing hyung yang dia lihat di Seoul dulu.

Dor!

Dor!

"Oh, ayolah hyung. Jangan jadikan menembak adalah pelampiasan asal asalanmu!" Teriak Kyungsoo yang tau tau membuat Yixing berhenti membidik lalu berbalik dengan bibir mengerucut lucu dan kaki yang di hentakan, merajuk.

Kelihatannya benar jika Dasom menganggapnya sebagai macan betina dengan tingkahnya yang masih kekanakan seperti ini. Damn!

.

.

.

Melangkah bersama dengan tangan masih di gengam oleh jemari lentik berbalut pewarna merah hitam membuat Junmyeon terdiam, membiarkan sampai dimana keberanian kedua orang yang berbeda gender tadi bertindak. Menguji kenekatan masih masing, huh?

Tentu.

Tidak bodoh bagimana bola matanya bertubrukan dengan bola mata si kecil yang berpendar gugup, canggung juga bingung memulai pembicaraan. Dan Junmyeon masih menunggu dalam keterdiaman yang intens.

Namun dia enggan, Junmyeon enggan untuk melakukannya. Meskipun sekedar pertanyaan akan kabar, keadaan atau apapun itu. Sehingga tidak salah untuk mengikuti permainan wanita di sampingnya, dimana kini dia di bawa menuju ruangan kerja dan pintu terbuka.

Namun satu hal yang menjadikan Junmyeon menatap aneh kepada Luna, karena jemarinya masih bertengger pada lengan -oh lihat bagaimana harga diri Sang Penguasa mulai terluka kawan kawan.

Lupa tabiat lama?

Brakk!

"A-akh! Tu-tuan kenapa?"

Seringai terpampang dan terkutuk bagaimana wajahnya justru semakin tampan, sialan. Apa Junmyeon sedang bermain main dengan mangsanya saat ini?

"Kenapa kau bilang?" Mengeja ulang ucapan Luna, dengan satu tangan mencengkeram leher menekan tubuh kecil anak buahnya membentur pintu hingga tertutup.

Mencekik lebih dalam -dan dalam lagi, memberi sebuah tanda merah yang membuat jiwa Penguasa Junmyeon senang. Tidak peduli ringisan hingga nafas putus putus.

Tidak peduli kepada wajah memohon, memelas seolah dia akan berubah pikiran.

Juga tidak peduli akan bisikan kata 'tolong' yang lemah.

"Ku-mohon!" Ucapan putus putus dan bola mata memerah.

Kelihatannya ada yang merasa kesakitan di sini? Namun ingatlah jika di depanmu bukan sosok manusia-oke?

"Apa? Aku tidak mendengarnya?" Tanya Junmyeon masih menancapkan kukunya seraya mendekatkan telinga, seolah mendengar suara.

Fuck!

Luna meneteskan air mata, kesulitan bernafas jelas sangat terasa merangsek perasaan panik untuk menyingkirkan tangan keras di lehernya, pedih sakit juga lecet mulai dia rasa hingga semakin membuatnya panik menggerakkan semua pikiran juga tenaga lepas dari cengkeraman Junmyeon yang sangat sialan justru menikmati wajah menderitanya.

"Ma. .maaf. .akhh!"

Sebuah benturan hebat tentu bagi Luna yang selalu melihat Tuan Mudanya dengan sikap biasa biasa saja. Dan Junmyeon terkekeh mendengar ucapan wanita di depannya, katakan dia brengsekpun dia rela karena justru mendekatkan wajahnya pada telinga kanan sang wanita untuk menjilat pelan.

"Kau melupakan kata kuncinya, hmm?" Tanya Junmyeon dengan seringai.

Iblis memang!

Memejamkan mata dengan air mata meleleh Luna terisak penuh ketakutan juga bingung apa yang salah dari tindakannya hingga Junmyeon melakukan hal ini, "Akh. . Kumohon ma-aakh. .maaf!"

Bruk!

Reflek tubuh kecil itu terduduk lemah di lantai marmer mengais sebanyak oksigen, kepalanya pening untuk tenggang waktu cekikan juga kepanikan dalam otak kecilnya. Junmyeon masih berdiri menjulang dengan raut wajah penuh kemarahan yang dingin dan menakutkan. Berjongkok untuk menatap menyamakan tinggi membuat reflek tubuh Luna mundur berharap banyak ruang yang dia miliki untuk menghindar.

Satu hal kesenangan Penguasa saat melihat siai lemah lawannya.

"Kau sudah melewati batasanmu, apa kau tau hal itu?" Tanya Junmyeon menatap tajam.

Luna hanya mampu mengangguk penuh rasa takut, hingga membuat Junmyeon menyeringai.

"Tidak ada yang kuizinkan menyentuhku, kau tau hal itu luna?"

"Ma. .maaf tuan. .maaf. .hiks!"

"Bagus. . .karena hanya aku yang bisa melakukannya sendiri atas keinginanku!"

Dengan hal itu Junmyeon jutru menekan bahu Luna hingga kepala terantuk pintu dan memberinya kecupan di perpotongan leher dan bahu. Sang wanita terperanjat untuk kesekian kalinya dengan perlakuan Junmyeon dan merona untuk sesaat hingga rasa sakit sampai di otaknya.

Itu gigitan yang berarti sebuah -bitemark!

"Aahhs!"

Menjauhkan wajah hanya untuk menatap wanita di depannya Junmyeon lakukan, secarik warna merah memenuhi wajah Luna yang basah dengan air mata. Kasihan? Tidak, itu konyol jika Junmyeon menaruh rasa kasihan pada air mata itu.

Justru dia bangga.

"Manis, kembalilah kekamarmu dan fikirkan baik baik tentang seorang anak yang baik."

Terbata untuk sebuah tindakan selanjutnya, Luna mengais ngais kebebasan dan membuka pintu kesetanan lalu berlari menuju kamarnya. Meninggalkan Junmyeon yang mengusap bibirnya dan kaget karena sudah harus berhadapan dengan Henry.

Mengerutkan kening lalu berdehem menetralkan suasana hatinya, Henry hanya tersenyum mahfum dengan kebiasaan kasar Junmyeon. "Saya menawarkan makanan untuk tuan muda."

"Tidak! Aku tidak tertarik." Tegas dan tanpa bantahan Junmyeon masuk semakin ke dalam ruangan kerjanya mengabaikan Henry di belakang.

"Dengan sebuah hiburan kecil."

Dan Henry berhasil membuat seorang Kim berbalik untuk tatapan menunggu penjelasan -Junmyeon tertarik.

Henry tersenyum akrab.

Junmyeon mengalah untuk kedua kalinya terbujuk rayuan sang pengurus rumah tangga dimana langkah tegapnya dia bawa mengikuti Henry masuk pada ruang tengah. Sebuah meja kursi berada di samping jendela lebar yang masih tertutup gorden putih tipis. Dengan sajian makan lengkap tertata rapi di atas sana, bau mengundang untuk Junmyeon duduk untuk menikmati makanannya, namun bukan itu yang hendak Junmyeon tagih melainkan sebuah hiburan kecil -iming iming Henry.

Seraya menatap penuh selidik Junmyeon mendudukan tubuhnya, "Jika itu benar benar tidak mampu menghiburku maka kau harus bersiap!"

Henry tersenyum penuh kepercayaan, "Di balik jendela tuan muda."

Hingga Junmyeon dibuatnya mengerutkan kening menatap pada jendela dan memusatkan untuk menembus luaran sana. Terpaku, terdiam tanpa protes Junmyeon kalah dengan ancamannya kepada Henry.

Sementara sang pengurus rumah merasa menang dapat membujuk Tuan Mudanya untuk memulai makan dengan melihat di luar sana Zhang Yixing berlatih bersama dengan kedua saudaranya, terlihat lucu juga serius di waktu yang bersamaan.

Junmyeon merasa geli ketika sadar akan reaksinya, menatap Henry sekilas lalu menurut untuk makan beberapa hidangan di depannya.

Dia kalah.

.

.

.

Kyungsoo mengambil senjatanya dan bersiap di area, mengimbangi latihan Yixing. Dia tau jika sebenarnya tidak ada yang salah dalam teknik dasar menembak Yixing hanya bagaimana membuat si kecil Zhang ini lebih percaya diri dan berhenti terusik pada emosi emosi sekitar. Kyungsoo juga sedikit banyak menyerngit karena hyungnya bahkan lebih banyak cemberut tidak seperti ketika berada di meja makan tadi bersamanya.

Mungkin sesuatu telah terjadi.

Sehingga dia melirik sekilas pada Yixing dan- Dor!

"Wow!" Yixing berseru melihat hasil tembakan Kyungsoo.

Itu bernilai 90! Cukup membuat Yixing menatap Kyungsoo dan papan bergantian. Lalu berganti dengan Minseok yang turun serta mencoba dan hasilnya juga tidak kalah menakjubkan. Hal itu membuat Yixing terdiam lalu menunduk.

"Hyung. . . Coba tutup bola matamu dan tarik nafas lalu buang perlahan." Kyungsoo mencoba berbicara perlahan seraya meremas bahu Yixing.

"Baiklah akan aku coba."

Tatapan fokus, Yixing mengambil nafas sejenak dan mulai membidik. Berfikir bagaimana menembak bukanlah hal baru yang dia pelajari. Dan hei! Yixing bahkan sudah mengenal lebih daripada setahun lalu bagian mana lagi yang sulit?

Dalam dirinya yang mencoba menutup semua hal dalam kenangan yang tersembunyi mulai keluar. Ketakutan lamanya akan menembak, pistol juga peluru sedikit banyak di gantikan oleh beberapa kata kata yang terekam dalam ingatannya.

'Lihat ini dan fokuskan.'

'Aku menunggu hasil latihanmu seperti apa yang baru saja kau lihat.'

Kyungsoo menatap penuh perhatian dan Minseok ikut terdiam menunggu hingga -Dor!

Tubuh Yixing sesak seketika oleh kedua pelukan dan goncangan. Keduanya saling menarik dan memberikan pelukan hangat. Kyungsoo bersorak dan tersenyum manis sementara Minseok menggusak rambut si kecil penuh rasa bangga. Dan Yixing sedikit demi sedikit ikut tersenyum ceria.

Mendongak, Minseok menatap pada kaca yang masih berselimut gorden putih.

'Aku harap kau melihat ini junmyeon. . .'

Lalu teriakan Kyungsoo selanjutnya yang mengalihkan perhatian Minseok untuk kembali menatap papan score, "Baiklah! Ayo lebih banyak menembak hari ini hyung!"

.

.

.

.

.

.

Jemari lentik meraih udara bebas di depannya, balkon kamar terbuka menampilkan gambaran indah senja dari atas sini, menerbangkan dedaunan kering pertanda gugur akan segera datang. Persetan dengan begitu banyaknya larangan Kyungsoo untuk jangan banyak bergerak, dia sudah dapat bergerak bebas hanya memar yang tersisa untuk pengobatan selanjutnya. Memikirkan dalam keterdiaman teringat bagaimana dulu saat senja juga menyapa apartementnya bukanlah sebuah hal yang dapat dia nikmati se nyaman ini. Meskipun Dasom tetap berada di sisinya dengan pengobatan dan dorongan mental, tetapi disini dia merasa lebih nyaman.

Lebih damai, membuat Yixing terdiam untuk hal hal yang damai.

Tok. . .Tok

Seorang pelayan masuk bersama sebuah nampan berisikan sebuah amplop putih. Yixing menyerngit mendekat dengan wajah penuh tanya, namun pelayan hanya menunjukkan penghormatan terhadap satu dari Tuan Mudanya. Merasa tidak mendapat jawaban Yixing mulai mengambil dalam gerakan ragu.

"Itu dari Jackson." Minseok bersuara begitu masuk ke dalam kamar si kecil, menjelaskan meskipun dia belum mengeluarkan pertanyaannya.

Yixing terduduk di ujung tempat tidur menatapnya masih dalam kebingugan. Kenapa dengan pengawalnya satu itu hingga repot repot menggunakan surat. Oh tidak! Apa terjadi sesuatu?

Tersentak membuat Yixing mulai mengambil surat di dalamnya. Minseok kembali bersuara, "Kurir mengantarnya, aku berfikir kalau dia tidak bisa kembali kesini untuk sekarang."

Sebuah pesan singkat kebiasaan bagaimana cara Zhang berkomunikasi dahulu, dengan beberapa goresan tinta dan semua informasi dapat di kirim juga dapat terbaca jelas.

'Keadaan baik baik saja tapi aku belum bisa pergi, tolong sampaikan terimakasih kepada tuan muda Kim.'

Yixing terdiam membacanya hingga hanya ada suara angin berhembus yang mengisi keterdiaman, "Ada apa?" Tanya Minseok

"Jackson mengatakan semua nya sudah baik tetapi dia belum bisa kembali, dan. . . ." Jawab Yixing.

"Dan?" Beo Minseok.

"Dia ingin aku mengucapkan terimakasih kepada junmyeon. . ." Lanjut Yixing.

Minseok tersenyum mendengarnya, diam diam bersyukur dengan keadaan yang berjalan mulai berangsur membaik bagi keduanya lalu menggusak kepala Yixing penuh kasih. Tetapi Minseok tidak tau jika belum semua pesan dari Jackson terbaca oleh Yixing. Karena ada satu penggal pesan yang membuatnya terdiam penuh pertanyaan.

'Juga untuk bagian thailand'

'Apa sebenarnya yang diam diam kau lakukan kim?'

.

.

.

.

.

"Apa ada hal lain yang ingin kau makan? Selain omelet?"

Pertanyaan Minseok membuat Yixing berjingkat kecil karena kaget, menatap beberapa orang di meja makan yang mulai memperhatikan dirinya. Taekwoon bahkan sampai meletakkan garpu miliknya dan menatap intens. Yixing meringis lalu menggeleng pelan sebagai jawaban dari Minseok yang di balas kedipan mata mengerti, masih merasa canggung sendiri Yixing berdehem sebentar lalu mulai mengambil potongan omelet untuk di masukkan ke dalam mulut kecilnya. Menunduk untuk menghindari tatapan penuh tanya juga rasa khawatir.

Kepala kecilnya masih memikirkan bagaimana surat kecil dari Jackson, dia ingin bertemu Junmyeon untuk sekedar berterimakasih meskipun dia sadar bagaimana dia akan kembali di acuhkan. Namun, kala melihat satu kursi kosong di ujung sana membuat sebagian dari hatinya nyilu. Berharap untuk bertanya kepada salah satu dari bagian meja makan membuat Yixing berfikir jawaban mereka tetap sama.

Enggan untuk mempertemukan Yixing, dia tau bagaimana orang lain amat menjaganya.

Menghela nafas dan Yixing menyelesaikan makannya terlampau cepat, menggeser kursi dengan pelan lalu pamit meninggalkan makan malam mereka.

Dia tau semua orang sedang bertanya tanya apa yang terjadi padanya.

Hanya satu hal yang dapat membuatnya lebih tenang setelah pertanyaannya terjawab. Dan hanya ada satu orang yang memiliki jawaban itu.

Kim Junmyeon.

Memantapkan diri dia mengambil langkah menatap tangga yang mengarah pada lantai atas dimana ruangan Junmyeon berada. Jemari kecil Yixing menatap kayu coklat yang menjadi pegangan tangga, meremat untuk menguatkan diri. Yixing mengambil langkah menuju ruangan Sang Penguasa.

Hingga kakinya kembali terhenti di depan pintu ruang kerja, Yixing mengetuk satu dua kali namun tidak ada jawaban dari dalam hingga jemarinya mengais pegangan pintu dan membuka paksa, persetan jika Junmyeon di dalam lalu mengamuk, karena kebiasaan sialan Junmyeon hanyalah marah dan itu adalah hal yang terlampau sering Yixing temui.

Cklek

Kosong, setelah kakinya dia bawa pada bagian lebih dalam ruangan kerjanya, Yixing sadar bahwa hanya ada dia sendirian di sana. Memutari meja kerja Yixing menemukan beberapa foto bangunan juga beberapa orang yang tidak dia ketahui siapa mereka. Dan satu foto terselip di balik banyaknya gambar, itu foto mansionnya.

'Apa lagi dalam dirinya yang belum junmyeon ketahui?'

Bunyi tapak kaki dari arah pintu membuat Yixing berjingkat lalu segera bersembunyi di balik rak rak tinggi wine. Mencoba sebaik mungkin menyembunyikan diri kala pintu terbuka dan dia dapat melihat sepatu Junmyeon memasuki ruangan bersama dengan heels merah menyala milik Luna.

"Sudah selesai?"

"Sudah tuan, kemungkinan semua barang juga orang orang akan segera meninggalkan thailand dan kembali."

"Bagus, kembali dan perkuat kedudukan korea. Katakan pada mereka untuk menjaga baik baik pak tua-ku."

"Baik, apa ada lagi tuan?"

"Aku belum merasakan bibirmu hari ini."

Apa!? Fuck!

Luna membatu dengan rona merah, Yixing terdiam kaku dengan rasa sakit yang semakin menyiksa sedang Junmyeon hanya menatap datar tanpa emosi apapun, selain seringai.

Sampai kapan kau akan bertahan di sana, boy?

Meremat tangan, Yixing bertahan di sana tanpa niat melirik sekilas atapun menatap, sejenak dia menyesal akan bagaimana otaknya memiliki ide untuk menyusup di dalam ruangan sialan ini. Brengsek kau Kim!

"Sudah puas?"

Yixing tidak menghiraukan ucapan Junmyeon dia masih sibuk bagaimana pemikirannya berkembang dan masih mengutuk laki laki di atas kursi kerjanya. Sampai bunyi tembakan di susul pecahan botol wine di atas kepalanya tepat.

"AAGH!" Teriak Yixing segera menutup telinganya dan keluar dari tempat persembunyian.

Terkejut dengan tatapan dingin Junmyeon yang pertama kali dia lihat. Kebodohan menghantam dirinya karena sadar bahwa lelaki di sana bukan seseorang yang mudah dikelabuhi. Seharusnya dia sudah tau ujungnya, ujung dari persembunyian ini sia sia.

Junmyeon masih menatap penuh pertanyaan apa yang baru saja di lakukan anak kecil di sana hingga menyusup dalam ruangannya.

"Pergi!" Bentak Junmyeon.

"Ti-tidak. . .umm maksudku belum." Jawab Yixing.

"Aku lelah dengan semua bantahanmu zhang." Jengah Junmyeon.

Yixing terdiam dan menunduk penuh penyesalan, kata kata yang selalu dia dengar dari mulut Junmyeon. Akan semua bantahan juga ucapan kasarnya. Tetapi jika dia menyerah di sini maka tidak akan ada lagi orang yang dapat memberinya jawaban tentang pertanyaan dalam dirinya.

"Hanya jawab pertanyaanku dan aku akan pergi!" Yixing berbicara dengan menatap Junmyeon sungguh sungguh.

Junmyeon tersenyum remeh, "Paksaan dan tekanan, kau merasa lebih baik dengan dua hal itu?"

"A-apa?" Beo Yixing.

"Berhenti membual dan keluar dari ruanganku!" Desis Junmyeon.

"Sebelum semua benda di sekitar sini aku buat hancur, atau kau ingin mencoba aku lempar lagi, hmm?" Tanya Junmyeon.

Tubuh kecil itu bergetar dengan bola mata berkedip cepat, Junmyeon menyeringai.

Kena kau!

"Mau mencoba yang mana?" Junmyeon bangkit berdiri dari tempatnya duduk dan memutari meja lalu duduk bersandar di depannya.

"Ti-tidak. . .jangan lagi." Jawab Yixing menunduk.

"Keh! Kau pintar dalam mencari simpati? Dan semua orang akan kembali mengatakan kalau aku iblis disini." Tawa Junmyeon.

"Sebenci itu kau kepadaku?" Tanya Yixing.

Junmyeon menatap tajam, penuh kemarahan yang tiba tiba menguar dari dalam dirinya, "Kenapa kau selalu menentang kuasaku."

Yixing tersentak, mengingat bagaimana ucapan yang sama pernah dia dapat karena sikap membangkangnya, tersenyum miris. "Maaf. . . Seharusnya aku tau dimana kedudukanku."

Dan Junmyeon semakin marah bagaimana dia belihat tindakan Yixing, berlutut dengan tatapan kosong tanpa peduli keselamatannya. Sampai kapan Yixing berhenti berlaku berani dan mulai memperhatikan dirinya sendiri juga keselamatannya sekali lagi.

"Keras kepala, sampai kapan kau akan terus memakai otak pembangkangmu itu!" Teriak Junmyeon.

Yixing tidak bisa terdiam lagi, "Apa yang sebenarnya terjadi dengan thailand?" Bola mata itu berpendar kosong penuh pertanyaan juga tekanan lain yang tidak bisa di mengerti.

"Bukan urusanmu!" Sarkas Junmyeon mengalihkan tatapan kemanapun selain kepada Yixing.

"Tapi itu menjadi urusanku sekarang! Kau. . . .sengaja memberikannya kepada zhang?" Tanya Yixing perlahan memelan di akhir. Dia butuh kejujuran dari Junmyeon.

Junmyeon hanya menatapnya tajam tanpa suara. Membiarkan Yixing berbicara.

"Kau sengaja melakukannya? Junmyeon?" Ulang Yixing.

Cklek

"Tuan semua yang ada di thailand sudah selesai di bereskan. Perwakilan zhang sudah berada di sana." Ucap Luna sembari selesai membuka pintu dan menatap Junmyeon lalu tersentak dengan keberadaan Yixing.

Yixing menatap terkejut pada kedatangan Luna, sedangkan Junmyeon acuh tak acuh mengambil langkah keluar dari ruangannya. Tanpa ucapan apapun pada kedua orang di sana. Sementara otak kecil Yixing memproses ucapan Luna perlahan dengan bola mata terbelalak.

Luna termanggu sejenak, menatap kepergian Junmyeon dan Yixing yang bersimpuh lemah sekarang. Tangannya terkepal untuk sesaat kala pintu tertutup dari luar selepas kepergian Junmyeon.

"Kenapa kau tidak lenyap saja?" Tanya Luna penuh emosi yang meletup letup.

Yixing tergugu menatap Luna penuh tanya,kemarahan tercetak jelas dalam raut wajahnya. Wanita dengan setelan dress coklat pastel itu menatapnya seolah dapat menguliti Yixing. Wanita yang beberapa waktu selalu ada di sisi Junmyeon dengan semua ketanggapan juga kepintaran dan cekatan dalam mengurus semua barang kepemilikan Kim.

Tidak salah dia ada dan satu satunya wanita kepercayaan Kim yang dapat bertahan dengan sifat Junmyeon dalam bisnis dunia bawah tanahnya.

"Kau hanya akan menjadi parasit di rumah ini!" Bentak Luna. Kali ini Yixing merasa tertohok dan panas menjalani dalam hati juga matanya.

Apa dia serendah itu? Dalam tatapan orang lain?

"Aku tidak tau apa yang sebenarnya kau lakukan kepada tuan muda! Tetapi kau tidak lebih hanya sampah disini." Kaki indahnya melangkah memutari Yixing yang masih terdiam tanpa jiwa dan berhenti untuk menatap Yixing dari samping. Tidak sudi menatap wajah penuh tipu muslihat menurut Luna.

"Hanya untuk membangkang dan memberontak!" Masih mengingat bagaimana Tuan Muda kesayangannya hanya di suguhi sebuah bentakan kasar, umpatan bahkan teriakan tidak terima. Luna marah kala itu, kala pertama melihat Yixing dan dari saat itu dia berjanji untuk menjauhkan Tuan Mudanya. Dia tidak akan mengampuni seseorang yang berani membantah perintah bahkan ucapan Junmyeon terlebih menyela.

Dan lagi apa yang di andalkan Zhang Yixing?

Hanya seorang lelaki tidak berguna dan amatiran.

Dia bahkan lebih baik dalam hal menembak, Luna pernah memiliki catatan sebagai kurir jika kalian mau tau, dan setiap kurir memiliki kemampuan menembak sekalipun hanya dasar. Dia sanggup!

Bahkan jika itu untuk menghukum seseorang! Pembangkang!

"Siapa memangnya dirimu, zhang yixing?!" Satu pertanyaan yang selalu mengusik kedamaian dalam jiwa Luna.

Siapa lelaki di depannya?

Hingga begitu terlihat berarti bagi banyak orang. Hingga putra pertama Kim sampai ada selalu untuk menjaga juga melindunginya.

"Kenapa semua orang menjagamu layaknya sebuah barang berharga tapi sikapmu tidak lebih dari rendahan, hanya dapat membentak dan membangkang."

Yixing masih terdiam, semua yang dikatakan wanita di sana tidak ada yang salah. Merasakan bahwa dirinya jatuh sejatuh jatuhnya. Dan salah se-salah salahnya.

"Apa kau fikir kau begitu berharga di hadapan tuan muda!"

Ya, apa dia begitu berharga di depan Junmyeon? Bahkan seorang pimpinan Kim dapat mendapatkan kenikmatan dari seluruh lubang wanita atau laki laki yang memuja juga mengagumi kesempurnaannya. Tertawa miris akan fakta yang menghantam dirinya tidak hanya sekali dua kali membuat Yixing berani berbicara pada tangan kanan kepercayaan Kim.

"Aku sendiri juga bertanya tanya kenapa junmyeon bahkan mau mengurungku di sini. Tapi setidaknya aku bukan penjilat seperti mu."

Yixing tau, mengingat dengan begitu baik bagaimana tindakan juga perbuatan Luna di samping Junmyeon juga tidak lebih dari penjilat yang sedang mencari celah menggoda Tuan mereka sendiri.

Berfikir bahwa mereka sama.

"Apa kau bilang! Ah ya, penjilat? Lalu bagaimana denganmu yang menjual tubuh hanya demi menyelamatkan keluargamu!" Gemeletuk, menahan kemarahan dalam diri untuk tidak menampar pipi pucat Yixing yang masih tersisa lebam di salah satunya.

Yixing membatu, sepercik kemarahan hinggap di hatinya. Tidak saat keluarganya di sentuh. Tidak saat keburukan dirinya di sangkut pautkan. Tidak dengan orang lain yang bahkan tidak tau keluarganya. Orang lain yang tidak tau bagaimana keluarganya begitu menjaga juga melindunginya.

"Diam!" Desis Yixing. Menahan amarah, di depannya adalah seirang wanita walau bagaimanapun juga.

"Apa kau budak sex dari tuan muda? Ah, jadi itu pekerjaanmu?!" Ucapan Luna semakin menjadi.

"AKU BILANG DIAM!" Teriak Yixing penuh tekanan juga rasa frustasi.

Tap. . . tap . . . tap

Tetapi di depan Yixing saat ini adalah seseorang pemilik kepercayaan dari Kim Junmyeon dan satu fakta mengejutkan bahwa dia adalah kesayangan dari Tuan Besar Kim, tengah berdiri menjulang dengan wajah di angkat tidak menutup nutupi kesombongan juga kemarahannya, "Aku tau dan aku yakin kau mengemis kepada tuan muda untuk memberikan daerah thailand agar dapat menaikkan derajat keluargamu! Kau menggunakan tubuhmu dan itu bahkan lebih buruk daripada sampah!"

"Kau tidak tau apapun tentangku! Dan satu lagi aku masih menghargaimu sebagai seorang wanita jadi kumohon diam." Yixing memohon dalam hati yang mulai tersayat sayat.

"Keh!"

Plak!

Sebuah dapratan kasar menghantam dirinya, pipinya yang lebam sekarang memanas, tidak lebih dari sekali tapi kembali Yixing terima.

"Kau fikir aku akan tersentuh dengan bualanmu!" Luna merasa harga dirinya yang tinggi terinjak oleh fakta bahwa dia wanita.

Bugh!

Tidak cukup, sebuah tendangan dia layangkab dengan heels yang dia pakai hingga kepala Yixing terantuk bawah meja kerja Junmyeon.

"Ukhh!"

"Jangan hanya diam brengsek! Bangun jalang!"

Bugh!

"Aku begitu membencimu! Kau seharusnya mati! Kau tidak pantas untuk mendapatkan kebaikan hati tuan muda!"

Dengan kemarahan yang semakin menjadi, Luna melampiaskan kekesalannya pada Yixing yang masih terdiam dalam semua kejadian dan pertanyaan untuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

Junmyeon melangkah keluar dari ruangan kerjanya, dia tidak bisa berdiam disana tanpa membawa si kecil kedalam dekapan penuh permintaan maaf. Tidak kala melihat semua yang benar benar tergambar jelas dalam sorot penuh luka itu. Tidak dengan semua rencana yang telah dia bangun matang matang di China. Satu kesalahan maka efek domino akan ada dan merusak semuanya. Dia harus tetap diam.

Maka kakinya dia bawa pada langkah menuju luar ruangan. Menjaga baik baik tindakannya, dia bisa saja membanting kembali tubuh kecil Yixing hingga membentur dinding dan melakukan lebih banyak pada tubuh kecil lemah itu. Dia tidak bisa menahan lebih banyak desakan jiwa dominannya untuk tidak mengukung dan mendengar rengekan penuh permohonan akan tunduk dan patuhnya si kecil Zhang. Karena melihat sisi lemah dari si kecil cukup banyak bereaksi akan tubuh juga pikirannya.

Sangat!

Tapi, tidak dalam situasi ini.

"Hyung ikut denganku!" Tarikan tangan Jongin membawa Junmyeon pada sebuah ruangan tengah dimana ada lebih dari satu orang disana. Seolah berdiri hanya untuk menunggu kedatangannya. Sorot mata kelamnya di bawa pada pandangan mata serius Taekwoon yang lalu menghantui Junmyeon dan banyak rasa bersalah.

"Tuan kami berhasil mendapatkannya," laporan dari Dasom menyelamatkan rasa bersalah Junmyeon yang begitu mencekik. Menyerngit apa yang menjadi fokus orang dalam ruangan ini.

Junmyeon terdiam menatap beberapa orang dalam ruangan yang mana dia terpusat pada Dasom lalu kembali pada Taekwoon yang juga tengah menatapnya, bayangan kejadian dimana mereka berdua berbicara bersama juga kesalahannya beberapa hari yang lalu membuat Junmyeon enggan untuk berlama lama hingga mengalihkan pandangan. Mengalah untuk ego masing masing membuat Taekwoon bersuara, "Kita menemukan siapa pelaku sarin pada makanan yixing."

Ketahuilah bahwa ego Sang Penguasa sangat tinggi untuk hal ini. Meskipun kita tidak tau pasti apa yang ada dalam benaknya.

Terkejut, Junmyeon menatap Taekwoon dengan tatapan tajam. Dia butuh jawaban akan pelaku itu saat ini dan Dasom menyahut kembali, "Tuan muda Jongin yang membantu kami."

Ganti Jongin yang bersuara, "Aku tidak bisa memastikan sidik jari tetapi aku menemukan sebuah botol khusus yang kemungkinan menjadi tempat sarin."

Sarin hampir menjadi barang perang yang dapat ampuh untuk membunuh musuh dan tentu bukan botol sembarangan yang akan menjadi wadahnya.

"Tunjukkan padaku." Junmyeon mendekat dan Dasom mengeluarkan sebuah bungkus plastik yang menjaga barang temuan mereka ada di sana. Jemari Junmyeon meraih memastikan sebuah botol khusus dengan ukiran bunga cantik yang rumit. Ingatannya menggali dimana dia pernah mengenali ukiran ini.

"Siapa yang kau duga?" Tanya Junmyeon.

Dasom menatap Taekwoon juga Jongin bergantian, mengajukan diri pertama untuk sebuah dugaan dari pengetahuan juga penyelidikan dari sisinya, "Saya dengan beberapa kali menangani sarapan juga makanan yang di bawa untuk kamar Yixing memiliki beberapa perbedaan dari segi penataan juga hal lain. Kemungkinan ini merupakan seseorang yang bisa leluasa berkeliaran."

"Saya memilih nona Luna."

Junmyeon menyerngit dalam, selama beberapa waktu Luna selalu berada dalam pengawasannya dengan dalih dalam perencanaan Thailand yang selalu dia lakukan beberapa hari ini.

Taekwoon mendesis karena seuatu hal lain dalam dirinya, melangkah mendekat menyerahkan sebuah pin bunga yang memiliki corak yang sama, "Aku menemukannya, bukan di dalam kamar tetapi di depan pintu kamar."

"Luna!"

Mengangkatnya, mencermati dengan baik baik motif di dalam pin bunga yang di bawa Taekwoon, Junmyeon meremat penuh kembimbangan. Bagaimana mungkin, tidak itu bukan pertanyaan yang benar tetapi bagaimana bisa jika memang Luna melakukannya tapi untuk apa?

"Jongin, kau mendapatkan sesuatu?"

"Aku tau dimana tempat untuk melihat siapa pemilik pin ini, ikut aku."

Tap tap tap

Lelaki Kim itu kembali memurut kala dirinya di bawa pada pintu salah satu rungan yang jarang dia perhatikan. Menyerngit lalu mengikuti langkah masuk Kim Jongin. Dan fakta dia temui di dalam sana.

Controller?

"Kami menjalankan apa yang menjadi ucapanmu tuan, dengan cctv di seluruh lorong dan ruangan yang dapat kami jangkau tanpa mengurangi privasi setiap orangnya." Dasom menjelaskannya, sebelum Junmyeon memutar semua pertanyaan yang ada dalam benaknya dan ini pilihan yang bagus. Tidak salah dia percayakan pada Dasom juga Taekwoon.

Kembali ke inti!

Junmyeon hanya menatap tajam dan mulai fokus dengan apa yang ada di hadapannya, beberapa layar monitor, "Hari apa kau menemukannya?"

Taekwoon yang langsung mengerti mengatakan, "Lima hari dari sekarang!"

"Putar."

"Baik!"

Dan semua rekaman terputar dengan baik di perhatikan oleh 4 orang sekaligus. Hingga yang ditemukan dalam pencarian mereka mendapat petunjuk juga barang bukti Dasom bersuara, "Dimana tuan meninggalkan luna terakhir kali?"

Dasom tau hal itu karena pagi saat dia kembali dari dapur melihat siluet Junmyeon yang berjalan dengan gadis itu. Menunggu jawaban Junmyeon Dasom mencermati keterkejutan bersama bola mata yang tercekat, "Dia bersama yixing."

Dan Taekwoon sepenuhnya mengumpat, "Fuck!"

"Di ruangan kerjaku!"

Jongin bergerak cepat mengarahkan monitor pada cctv ruangan kerja Junmyeon. Dan menahan nafas setelahnya.

Dia dalam masalah.

.

.

.

.

.

Klek

Moncong handgun siap menemui sasaran, seringai membentuk begitu cantik yang sekarang ada di wajah menawan satu dari kebanggaan Tuan Besar Kim. Nampak percaya diri penuh ambisi juga kesombongan yang memuncak. Tidak peduli bagaimana tubuh ringkih di depannya mulai menapaki lutut,meringis, mengais udara juga tenaga dan jiwa.

Jiwa lemah yang terperangkap dalam lubang serigala.

Jiwa lemah yang menjadi umpan menarik untuk ular atau bahkan hewan buas lainnya.

Menunggu seseorang untuk mengukungnya di bawah rasa sakit tidak terbatas.

Luna di atas angin, berkuasa atas sepercik kepercayaan yang ada di gengamannya. Leluasa juga berkuasa akan apa yang ada dan tiada, melakukan yang menurutnya menguntungkan untuk Tuan Muda kesayangannya juga untuk dirinya.

Akan kasih sayang dan seluruh hidup masa depannya.

Memiliki Tuan Muda dan semua kebahagiaan akan ada di gengamannya.

Dia akan menguasai itu, lebih daripada apapun dan tanpa hambatan sialan macam Zhang Yixing.

"Jadi bagaimana kalau kau mati saja? Aku yakin ku beri pistol pun kau tidak bisa mengenai barang sehelai rambutku!"

Dor!

Sayangnya wanita berbalut tubuh juga wajah bidadari di depan kita adalah balutan kepintaran dan keanggunan sempurna.

Dia menggunakan jenis handgun lengkap dengan peredam suara.

Cukup pintar bukan? Tidak salah menjadi tangan kanan juga kesayangannya Sang Tuan Besar.

Yixing berguling kesamping kanan terengah bagaimana tubuhnya serasa remuk karena sesungguhnya belum sepenuhnya pulih untuk gerakan cepat menghindar dari serangan ini.

Wanita itu menakutkan, dengan perlahan Yixing mencoba berlari menunduk melindungi tubuhnya dari kejaran peluru yang mulai menyasar apapun.

Salahkan Junmyeon dan sok kuasanya juga sifat mesumnya membuat ruangan kerja yang terhitung pribadi lengkap dengan kedap suara. Jadi membuat Luna begitu berkuasa di bawah permaianannya.

Memahami bagaimana jemari lentik itu membawa handgun dan mengayunkannya, Yixing mengetahui cara menyasar wanita itu dari arah kiri. Baiklah, dia cukup mendekat dan menyelesaikan ini. Beranjak dari pelindungannya di balik sofa tengah, Luna berjalan dengan hentakan kaki malaikat maut yang membuat Yixing mengigil, hingga tiba tiba karena kegugupan juga gemetar berakibat sial-

Dor!

"Ahhsss!"

Yixing terduduk lemah lengan kirinya terkena dan mengucur cairan pekat yang membuatnya ketakutan, hingga tulang punggungnya dingin. Luna tersenyum penuh kemenangan. Domba lemahnya sudah bersiap mendekati sang ajal.

"Mati kau-" mocong di arahkan kebawah pada kepala, seringai kemenangan mengantar hingga pelatuk ditarik-Dukk!

Lamban!

Yixing ingat satu dari gerakan Junmyeon kala berada di hutan area latihan menembak, kaki menendang dari jarak dekat pada pergelangan tangan yang membawa pistol hingga terlempar ke belakang tubuh Luna. Masih belum cukup, Yixing bertumpu pada tangan kanan memutar kaki kiri menedang pinggang wanita yang bisa di bilang kecil itu hingga tersungkur membentur meja marmer kecil berisi hiasan kristal milik Junmyeon.

Prang!

Terengah menahan sakit di lengan. Yixing bangkit tertatih memungut handgun yang terlempar tadi, "Kumohon, ini semua tidak ada untungnya bagimu ataupun bagiku." Dia masih menyimpan suara lembut untuk sang wanita walau dalam keadaan seperti ini.

Namun, wanita kita sudah gelap mata.

Ketakutan menghantui dirinya kala membayangkan Junmyeon yang begitu di idamankan jatuh pada tipu muslihat Yixing. Dia tibak bisa berhenti di sini. Dengan wajah memerah menahan sakit karena wajahnya terbentur pinggir meja marmer, lalu telapak tangannya juga mulai merembeskan cairan merah darah. Dia bertekad dan tidak bisa kembali.

"Kau harus mati!"

Mengayunkan potongan hiasan dari kristal yang berujung lancip pada Yixing. Membuat si kecil Zhang harus melangkah mundur. Tidak seimbang Yixing mulai pusing dengan darah yang keluar dari lengan juga pusing karena warna merah di telapak Luna dimana dia mengenggam pecahan kristal.

Tidak! Tidak! Jangan sekarang!

Ketakutan menguasai pikiran dan alam bawah sadarnya hingga hanya mundur tanpa menghindar lebih akurat.

Crash! Satu goresan -dan Luna tertawa jahat.

Pipi Yixing mengeluarkan darah. Lelaki ini sebentar lagi akan mati, dipercayainya anggapan dalam benak Luna hingga membuat Yixing terhuyung membawa tubuh mencari pegangan.

Luna meremehkan melangkah maju, mengangkat kristal lancip di telapaknya ke udara lalu mengayunkan kedepan kuat!

Yixing terbelalak dan menghindar hingga kristal hancur mengenai dinding di belakangnya, punya kesempatan Yixing menendang perut wanita itu hingga terdorong ke belakang lalu kepalanya terantuk lemari buku Junmyeon.

Luna mengerang kesakitan.

Yixing mengais udara dalam sisa tenaga, hingga kala Luna masih bangkit dia ketakutan untuk pergerakan mematikan sang wanita, mengangkat handgun lemah di tangannya, bergetar hebat.

Luna tertawa sadis, "Lihat bagaimana tubuh lemahmu bergetar. Bahkan cara memegangmu saja sudah salah!"

Salah? I-ini salah?

Bagaimana? Bagaimana cara melakukannya dengan baik?

Bagaimana Minseok hyung mengajarinya?

Bagaimana cara Junmyeon melakukannya?

Otak Yixing rusak, kacau se kacau keadaannya, bahkan begitu gampang terprovokasi. Hingga tanpa sadar Luna sudah berdiri menjulang tepat di depannya dengan senyuman dan wajah di miringkan mengejek.

"Ayo lakukan? Tembak aku jika kau bisa?" Tantang Luna dimana jemari penuh darahnya merambat mengenggam tangan Yixing yang menodongkan pistol. Yixing ketakutan dan Luna tau hal itu, dia tau kelemahan si kecil yang malang. Dengan mantap mengarahkan jemari merambat ke arah pelatuk.

"Ini justru memudahkanku untuk menyingkirkanmu di depan tuan muda."

Seiring dengan ucapan Luna bunyi pintu yang terbuka keras terdengar dan-

Dor!

"Akhh! Tu-tuan tolong!"

Luna jatuh limbung dengan Yixing yang tergagap menatap tangannya dan handgun.

"Luna?" Junmyeon menyahut melihatnya jatuh.

Yixing masih tergagap lalu menatap semua orang di depan pintu, Junmyeon, Taekwoon, Dasom nuuna juga Jongin. "Ti-tidak aku tidak melakukannya. . . .tidak!"

Yixing bergetar takut menggeleng penuh pembelaan, sementara Luna terduduk lemah dengan mengumbar senyum jahat yang hanya di tatap Yixing.

Taekwoon tersulut emosi akan rasa iba juga kemarahan, berniat melangkah lebih jauh hingga menarik Yixing dalam rengkuhan penuh perlindungan, Junmyeon tau niatan lelaki Jung itu hingga lengan kirinya tergerak menahan dia yang ada di ambang pintu.

Junmyeon menatap kedepan melihat Luna yang mengais perhatian dan simpati. Menyeringai, Junmyeon tau apa yang harus dia mainkan disini.

Di ruangan kerjanya yang sekarang di sulap menjadi arena permainan Luna.

Dia ratu di sini dan Junmyeon akan menurutinya, dengan langkah perlahan penuh penekanan, siluet tajam tanpa ampunan, melihat fakta di depan dan bukan alasan. Junmyeon memainkan peran dalam genggaman tangan yang mengerat.

Jongin melihat itu, tau aura itu. Menyeringai dan bersiap untuk menjadi saksi.

"Apa yang kalian lakukan!" Geraman kasar penuh intimidasi. Menatap keduanya dan berlama pada Yixing.

Luna mengais kasih sayang juga simpati yang terdorong, meraih bahu Junmyeon membasahi kemeja putih dengan merah darah, Yixing masih menggigil dengan pistol masih ada di tangannya.

"To-tolong tuan. . .sa-sakit."

Junmyeon membawa sang wanita dalam dekapan. Menatap Yixing dalam kuncian kebencian. "Apa yang harus aku lakukan? Katakan padaku?"

"Denganmu yang bahkan sudah berlumuran darah seperti ini, luna?" Sambung Junmyeon.

Sang wanita tersenyum penuh kemenangan, "Hiks. . .saya tidak tau apa salah saya pada tuan muda zhang." Topengnya sudah terpasang untuk mendapatkan kasih sayang penuh Sang Penguasa.

Junmyeon masih di sana untuk mendengarkan, lalu Yixing menyela dengan ketakutan dan tubuh masih gemetar, "Tidak! Dia bo-bohong!"

Junmyeon menyeringai, "Benarkah? Bahkan ketika dia sudah kau tembak sendiri di depan mataku?"

Yixing menggigil, "Ti-tidak. . .tidak!"

"Lalu siapa yang harus aku percaya di sini, sementara tangan kananku sudah kau buat memar di sana sini?" Junmyeon mengeram memuaskan hati mendamba seseorang dibawahnya.

Yixing meneteskan air matanya, Junmyeon mengeram penuh rasa marah akan sikap lemah si kecil, "KATAKAN CEPAT!"

"Hiks. . .hiks. . .aku tau. .aku memang bar bar tapi aku tidak pernah melukai orang tanpa alasan!" Yixing berteriak frustasi dengan lengan sudah menutupi sebagian wajahnya yang ketakutan.

Yixing berkata jujur, Junmyeon cukup dengan hal itu membawa dagu Luna mendongak menatap bola matanya, "Cukup disini. Dasom akan mengobatimu."

Dan Taekwoon mengeraskan rahangnya penuh kemarahan. "JUNMYEON!"

"Bawa kemari botol obatnya!" Dasom tergugu melangkah mendekat dengan wajah bingungnya. Apa yang sebenarnya dipikirkan Junmyeon.

"Dimana yang tadi kau pegang?" Menurut dan Dasom menyerahkan botol dalam plastiknya.

Junmyeon membiarkan Luna merengkuh tubuhnya dan menariknya sebentar, "Kita obati lukamu dengan ini, tunjukkan padaku dimana tempatnya?"

Junmyeon menatap tajam, Luna terbelalak dan Dasom menyeringai.

"Tidak- ti- tidak! Jauhkan itu! JAUHKAN!" Luna berteriak histeris dan mendorong tangan Junmyeon menjauh dari botol berukir cantik. Histeris, dengan cekatan rambut panjang itu di tarik tanpa tau ukuran oleh Junmyeon.

"Kau belum tau apa obat ini kenapa harus takut, hmm?" Nadanya lembut selembut kapas. Namun Luna tetap menggelengkan kepala menolak keras keras apa yang ada di hadapannya meski harus merintih sakit.

Itu botol sarin yang menjadi barang bukti.

"Akui dan aku ampuni." Penawaran Junmyeon berikan dengan senyum mengembang.

Luna menggeleng penuh ketakutan, dia tidak bisa mengakuinya karena akan hancur semua harapan juga rencananya.

Bagus!

Junmyeon berdiri menatap Yixing penuh atensi yang mulai mengusap bekas air matanya.

Air mata itu, akan dia bayar.

"Jongin telfon appa sekarang juga!" Teriakan Junmyeon bagai alarm kematian untuk Luna hingga dia mendidih dan bersujud di bawah kaki Junmyeon.

"Tidak! Tuan! Jangan aku mohon!"

"Bangun!" Dan Junmyeon masih menatap Yixing yang bingung dengan apa yang terjadi di depannya.

Luna bangun mengais tenaga juga ketakutan merambat kaki hingga naik ke tulang belakangnya dan sampai pada kepala yang mulai dingin. Berdiri di depan Junmyeon menutupi arah pandang sang lelaki tetapi Junmyeon mengambil gerakan menggeser tubuh dan kembali menatap Yixing lekat lekat.

"Satu goresan bukan?" Tanya Junmyeon masih menatap si kecil seolah berbicara padanya, Luna menatap tidak mengerti dan Yixing masih terdiam.

Sret- Jleb!

"A-Akhh! Tu-Tuan?! Uhhuk!" Perut bagian kiri bawah diafragmanya tertusuk. Pandangan Luna shock seketika lalu Yixing menatap tidak mengerti.

"Sama seperti apa yang kau goreskan padanya," ucap Junmyeon santai.

Tut. . .tut. . .tut-klik

"Sudah tersambung, hyung?" Jawab Jongin santai seperti mereka tidak sedang malakukan apapun.

Jleb! Sekali lagi berpindah pada sisi tengah. Luna tidak bisa bersuara hanya darah yang keluar dari mulutnya dan perut yang merembes hingga belakang.

"Dua! Untuk percobaan pembunuhan sarin yang kau lakukan."

"Ti-tidakkh!"

Jleb!

"Untuk kerja samamu dengan yuna dan percobaan pembunuhan di area latihan!"

Junmyeon menyeringai melihat wajah di depannya mulai sekarat, tetapi jiwanya masih marah, masih saat tubuh Yixing bergetar karena luka di lengan juga ketakutannya. Dia selalu menyelesaikan siapapun yang melukai si kecil, dan tidak ada catatan untuk ampunan kepada yang berani menyentuhnya.

Kepemilikannya!

"Halo?"

"Junmyeon? Ada apa?"

"Tu-tuankh. . ." Ucap Luna putus asa di ambang hidup dan matinya.

"Luna? Itu kau?"

"Hanya mengatakan bahwa sekarang aku sedang membunuh puteri angkat kesayanganmu."

". . ."

Junmyeon tidak lagi menatap Luna tetapi jemarinya naik mengarah di leher wanita itu dengan satu tangan kanan dia mencekik leher kecil itu, tetapi matanya menatap Yixing intens. Seolah ini merupakan pertunjukan yang dia persembahkan kepadanya. Yixing menatap takut bagaimana kaki kecil Luna terangkat meninggalkan lantai, darah mengalir dengan tetesan yang tidak terbendung. Dan dari belakang bisa dia lihat jemari Junmyeon mencekik tanpa sebuah ampunan dan itu akan berlangsung sampai Luna meregang nyawa. Menyiksa dalam perjalanan menuju kematian

"Tidak!"

Yixing histeris.

"Berhenti. ."

Dia berteriak, tidak bisa menyaksikan ini semua.

Yixing berucap dengan air mata mengalir dan memohon pada Junmyeon namun kakinya tidak bisa bergerak. "Kumohon. . .junmyeon."

Suaranya mengecil tanpa dia tahu, Junmyeon menyeringai tetapi mataya memancarkan kekecewaan dan rasa sakit. "Untuk apa berhenti? Dia hampir membunuhmu."

"Hen. . .hentikan!"

"Tidak! Lakukan sendiri." Junmyeon berucap selayaknya dia ikut merasakan sakit.

"Junmyeon!"

"Ber-henti. . ."

Dor!

Dan Yixing tidak bisa berhenti menatap tangan nya yang menggengam handgun untuk menembak dari belakang tepat di jantung Luna. Mengakhirinya dari penderitaan Junmyeon.

"Good job, boy!" Junmyeon menyeringai melihat hasil tembakan Yixing yang berhasil menghentikan gerakan acak Luna.

Wanita itu mati, dan Junmyeon menghempaskannya tanpa peduli.

Di sana penguasa berdiri menjulang dengan tatapan masih tertuju padanya. Yixing mendongakkan menatap Junmyeon dengan air mata mengalir, "Kau iblis, kim."

Tidak peduli bagaimana ucapan Yixing, "Terimakasih untuk pujiannya."

Junmyeon maju melangkah mendekatinya yang sudah di ambang batas kesadaran, Junmyeon sudah menyadari itu dari awal hingga meraih tubuh lemah dalam dekapannya, perlindungannya. Yixing tidak tau lagi apa yang dia rasakan selain rasa hangat dekapan seseorang dan wajah Junmyeon yang begitu dekat berucap,

"Semua sudah selesai, aku menjagamu!"

.

.

.

.

.

.

Junmyeon duduk membiarkan kesibukan melingkupi ruangan tempatnya duduk, tidak peduli berapa banyak orang yang akan mondar mandir dan kemungkinan akan terganggu akan kehadirannya.

Dia acuh dan kalian tentu sudah menebak hal itu. Hanya duduk di kursi kecil sambil menopang satu kaki. Menatap wajah damai seseorang di atas tempat tidur.

"Apa dia kehilangan banyak darah?"

"Tidak tuan, kami bersyukur bisa mengangkat timah peluru dengan mudah dan cepat."

"Hmm."

Junmyeon berguman dan membiarkan orang orang kembali melakukan pekerjaannya. Sedangkan dia kembali menatap wajah damai Yixing. Seandainya dia tau jika Junmyeon menahan keras tubuhnya untuk tidak mendekat dan menangkup wajah si kecil dalam ciuman juga kecupan seakan bisa menyembuhkan memar juga sayatan di sana. Ada sedikit penyesalan dalam dirinya membiarkan Yixing ada di satu ruangan bersama Luna.

"Tuan, maaf ijinkan saya membersihkannya." Seorang bawahan Dasom bersimpuh di samping kursinya, membersihkan memar sisa tamparan keras Minseok.

Dia terima beberapa menit yang lalu, kala Jongin berucap tentang Luna yang menghajar Yixing, Minseok sudah menatap Junmyeon tajam kala itu. Lalu saat sampai pada bagian Junmyeon yang memaksa Yixing untuk menembak Luna dengan tangannya sendiri Minseok tanpa segan memberinya tamparan keras hingga dia terhuyung.

Dia marah dan Junmyeon tidak melawan sedikitpun. Dia masih mengingat bahkan ucapan Minseok yang berputar di kepalanya.

'Kau! Kenapa tidak pernah berubah!'

'Kuasamu tidak akan pernah ada yang menentang tapi kau harus memikirkan bagaimana yixing dan kejiwaannya.'

'Aku justru lebih ingin membawa yixing pergi daripada melihatnya terus tersiksa karenamu!'

"Tuan?"

"Ya. ." Junmyeon menoleh menemukan Dasom berdiri dengan baskom air yang dia letakkan di sisi meja dekat tempat tidur Yixing.

"Tuan bisa istirahat sekarang."

"Aku tetap di sini."

Bola matanya masih menatap Yixing penuh dan tidak mengalihkan perhatian barang sedetik.

"Apa kau ingin menambahkan satu jejak di wajahku?"

Tiba tiba Junmyeon berucap dan Dasom seketika membawa pandangannya pada Sang Penguasa.

"A-apa?"

Junmyeon memiringkan wajahnya menunjukkan pada Dasom yang berada di sisi depan ranjang, tidak terlalu jauh darinya. Di bawah remang remang lampu kamar, Dasom bisa melihat memar baru di atas tulang pipi Junmyeon.

Itu tamparan yang keras pasti.

"Aku mendapatkannya barusan,"

Dasom tersadar, Junmyeon sedang mengeluh padanya. Menatap kembali pada Yixing yang masih tertidur dia berbicara, "Tuan Minseok benar benar tulus menyayanginya."

Junmyeon tidak membantah, "Kau juga."

"Ya, semua akan nyaman dengan sikap baiknya." Dasom tersenyum manis menatap Yixing.

"Seharusnya kau juga marah padaku." Junmyeon kembali berbicara.

"Kau bisa berteriak padaku atau justru memakiku. Akan aku dengarkan." Kembali bersuara, Junmyeon mencoba menyarankan hal lain seolah itu wajar di antara keduanya.

"Tuan tau jika saya tidak memiliki keberanian untuk hal itu."

Junmyeon tersenyum tipis mendengarnya. Dasom sendiri malah mengira jika tengah berbicara pada seorang anak yang tengah mengadu saat ini. Terfikir satu hal dia mencoba bersuara,

"Tuan punya cara dan pemikiran dari sudut pandang yang berbeda."

Jawaban darinya membuat Junmyeon berfikir jika dia salah berbicara dengan psikolog lulusan terbaik universitas kedokteran Changsa. Akan mudah baginya melihat perspektif dari sisi Junmyeon.

"Tidak dengan cara memanjakannya dan terus memberinya jalan untuk melarikan diri karena rasa takut, dia harus ada untuk menghadapinya." Tegas Junmyeon.

Bola mata Junmyeon berkilat untuk satu hal yang lain, Dasom tau jika dia tengah menatap Pimpinan Kim yang tegas dan penuh pertimbangan. Itu wajar dengan latar belakang masing masing yang herbeda dari dua Kim bersaudara. Dia memakluminya asalkan saat Yixing terjatuh akan ada seseorang yang selalu siap mendekapnya dalam rasa nyaman. Dia fikir Yixing akan kuat dan tegar sedikit demi sedikit. Dasom tanpa sadar mengangguk.

"Aku pergi."

Dasom terkejut menatap Junmyeon yang bangkit dari duduknya. Berusaha menahan, "Tuan tidak ingin disini semalaman?"

Dasom tau akan hal itu, siapa yang selalu ada untuk menjaga Yixing. Dan itu Tuan Mudanya.

"Aku hanya akan frustasi jika berada di depannya."

Junmyeon berujar seraya menatap Dasom seperti berucap 'Ada kau untuknya' kemudian berlalu melangkah pergi namun saat hendel pintu dia gengam suara Dasom kembali terdengar, "Tuan. . .tidakkah semua ini masih bisa di pertahankan?"

Junmyeon terdiam tidak bergerak ataupun berbalik masih menatap tangannya di pengangan pintu, "Kau. . . . Salah satu dari yang terbaik pilihan appaku, tentu tau apa yang harus kau lakukan."

Dasom menunduk, "Maafkan saya."

Dan gumanan Junmyeon pergi dengan pintu yang tertutup.

.

.

.

.

.

.

Tbc-

A/n: Hai apa kabar? Belum ada yang manggillin 'kakaak' dan berucap kangen di review kan?

Kekeke saya sudah datang dengan rasa rindu.

Well, ini oleh oleh dari saya selama liburan sebelum tanggal 25 esok saya kerja. 3 hari ya? Iya kerjaan saya cuma makan tidur di rumah banyak waktu luang.

Terimakasih karena kalian merespon dan memberikan dukungan penuh dalam tipe penulisan. Saya suka terlebih kalian yang membaca jadi lebih banyak tau. Terimakasih sudah bilang bahwa kemarin itu bukan saya banget, atau bagusan malah yang panjang, juga tidak bosan karena pengen lanjut atau yang sudah terbiasa saya kasi panjang. Dan jadilah kita bahas yang panjang panjang. Bagi saya mau kalian baru baca atau udah ngikutin terus saya ga masalah, ga ada peraturan apapun di sini cukup nikmati dan sukai ACE saya sudah sangat berterimakasih. Yang mau marah sama Kim saya persilahkan tetapi untuk satuin sulay saya minta maaf.

Lagipula setiap kali review kalian itu bawaannya gemesin sampe Luna jadi Lucinta Luna itu kok ya bikin saya nepok tembok saking ngenanya. Saya makin gemes sama kalian.

Satu lagi ketinggalan, ini yang baru review pas saya sudah edit summary mau up, mau kalian cerewet atau bagaimanapun saya suka, saya faham gimana kalian yang baca dan terimakasih banyak sudah ikut emosi dengan membaca ACE.

Jaga kesehatan buat mulai aktifitas baru, semangat dan saya sayang kalian. Sampai ketemu lagi.

Luce,

23 Juni 2018