Izinkan saya memulai kisah ini dalam bentuk yang lebih gamblang

Akan sebuah pertempuran yang sudah di tunggu

Startegi, bertahan dan menyerang

Taktik juga kekuatan, setiap pion akan di pasang, untuk memperkuat maupun menyerang dan bertahan.

Menunjukkan seberapa besar kemampuan kepada lawan.

Tentu ini mengenai Kim dan Zhang, kala mereka harus menyerang dan bertahan.

Junmyeon ada di sana, ujung tombak yang akan menghancurkan dan Tuan Honglei tidak akan tinggal untuk terdiam.

Tuan Kim bagai raja di balik layar, menopang, siaga dan memberi jawaban bagi Kim di tanah Changsa.

Hingga Bora, Dasom juga Henry di turunkan. Semua orang akan ikut bagian melumpuhkan benteng Zhang.

Jangan bertanya mengenai Wu yang ikut andil sebagai penguasa di tanah kelahiran. Dan Oh Sehun sebagai pembawa pesan ada untuk di tekan.

ACE yang terbaik sebagai kunci, bahkan lebih berpengaruh seperti joker. Dalam permainan dunia hitam, bukan kelembutan yang ada tapi pertarungan dan saling menaklukan.

Siapa yang mampu bertahan dan siapa yang kalah.

Keduanya, Kim dan Zhang bahkan sudah saling mengincar. Bahkan sebelum Kim Junmyeon sang tombak mengambil langkah.

Dari sebuah pertemuan menjadi sebuah pilihan. Cinta mereka ada, dan dipertanyakan. Namun, apa benar keluarga mereka ada untuk dukungan?

Karena itulah menaklukan di perlukan, dan ini adalah tujuannya.

Mendapatkan apa yang menjadi miliknya.

Ketika raja dan raja di hadapkan, maka hasil akhir strategi mereka yang menjadi pertanyaan.

Chapter 12 : King vs King

Warn : crime and mature content

Word : 15,2 k

.

.

.

.

.

.

Pandangan pertama menyapu alunan angin pagi yang dingin menggugah Minseok untuk terduduk diam menatap jendela kamar tempatnya berbaring saat ini. Kesadarannya kembali dengan cepat menguasai diri akan emosi yang meluap. Pandangan mata tajam dengan raut tidak bersahabat. Meremat ujung selimut yang kini ada di genggamannya. Menyebutkan nama seseorang dengan penuh ambisi di balik setiap pelafalannya.

"Kim junmyeon."

Minseok terlalu kesal untuknya, namun juga terlampau khawatir untuk semua hal yang terjadi di luar sana.

Semua pertanyaan hinggap di benaknya tanpa mampu dia halangi dengan baik, berdoa agar adiknya itu bisa ada di sini untuk dia hajar habis habisan. Tetapi nihil, kala kesadarannya kembali Minseok merasakan sesak di dadanya teramat sangat, sekalipun dia mengumpat dengan kemarahan besar kepada Junmyeon, tetapi dia tidak akan pernah bisa berpisah dengannya, dan juga bukan perpisahan seperti ini, tidak dengan ketakutan seperti ini.

Brengsek!

Tok tok -Cklek!

Dasom membuka pintu perlahan dengan segelas susu juga sarapan pagi untuk Minseok, membungkuk dengan hormat setelah satu langkah menapak lantai kayu di depan pintu kamar, artistik sederhana menyapanya begitu memasuki kamar minimalis Minseok, dengan seluruh aksen kayu. Lampu tidur di atas meja nakas kayu samping ranjang. Jendela yang langsung mengarahkan pada balkon kamar lantai 2, tirai putih yang berembus pelan. Tidak banyak perabotan dan hanya lemari kayu berukuran sedang di ujung kamar dengan kaca berukuran tinggi orang dewasa bersandar rapi di samping lemari. Cukup berbeda dengan hunian Kim yang mereka tinggalkan.

"Jangan masuk jika kau tidak membawa penjelasan detail padaku."

Ancaman yang terlampau pagi sudah menjadi sarapan Dasom, dengan senyuman menawan yang khas ia melangkah setelah sebelumnya memberikan anggukan hormat juga pertanda dia menyanggupi persyaratan Tuan Mudanya. Meletakkan penuh sopan sarapan Minseok di meja nakas sampingnya lalu menangkup kedua tangannya di depan tubuh, sebuah body language untuk pelayanan dan kepatuhan terhadap Tuannya.

"Saya akan memulainya dari awal, semua perjalanan di changsa untuk tuan muda minseok."

Baru mendengar penawaran Dasom langsung membuat Minseok sedikit mengendurkan otot wajahnya. Dasom hanya menggeleng pelan, meletakkan sarapan di nakas terdekat, "Saya harap tuan muda mau menyentuh sarapan pagi terlebih dahulu."

"Itu supaya hyung tidak marah marah ketika kelaparan, hyung bisa keriput lama lama." Itu Jongin yang sudah ikut masuk kedalam ruangan Minseok hingga-

Puk!

"Ouch! Mulutku!"

Jongin reflek menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan setelah Jongdae hadir lengkap dengan pukulan di mulutnya.

Minseok memberenggut seketika, "Kau seolah akan mengatakan hal yang dapat membuatku terkena penyakit jantung, dasom ya!"

Terkekeh pelan untuk menyerahkan sebuah catatan harianyang diam diam di hafal Dasom memulai, "Sejak pertama kedatangan tuan muda junmyeon, semua dari kami sudah bersiap untuk semua kemungkinan yang terjadi, berbagai hal sudah kami lakukan untuk melihat zhang dari semua sisi termasuk bagaimana saya di masukkan sebagai dokter pribadi Yixing, dan bora yang ada untuk memberikan tremor juga semua tekanan."

Xiumin menyerngit. Ada satu fakta yang secara tidak langsung coba di katakan Dasom disini, dia mengatakan sejak kedatangan Junmyeon itu artinya jauh sebelum rencana Junmyeon untuk mengobrak abrik kepemimpinan appanya di Seoul terjadi, Tuan Kim sudah menyiapkan semuanya, Tuan Kim sudah berambisi untuk menggenggam Zhang dalam tanggannya.

Artinya ini sudah terencana?

"Tunggu? Apa maksudmu kau sudah jauh jauh hari di kirim untuk zhang?"

Pertanyaan panik dan tiba tiba dari Minseok membawa sebuah senyuman lembut dari Dasom yang bermakna besar. "Benar tuan."

Kenapa? Bahkan sebelum pertanyaan kenapa keluar dari mulut Minseok suara Dasom sudah membungkamnya secara tidak langsung, "Tuan tentu masih hafal dengan semua peraturan yang di tetapkan tuan besar kim, akan orang asing yang mengetahui struktur maupun bagian dalam dari kim.

"Jika mereka keluar dari Kim maka pilihannya adalah hanya kematian atau tunduk di bawah kaki kim."

Ya, bahkan itu terlampau di hafal Minseok hingga membuatnya memejamkan bola mata, mengerti bagaimana Appa-nya sudah menyasar Zhang untuk dibawa pada pintu kehancuran, jika Zhang tidak mampu di buat tunduk maka Tuan Kim akan benar benar menghancurkannya. Melihat Minseok yang sedikit memahami keadaan Dasom mengatakan bagaimana kondisi mereka saat ini.

"Keberadaan kita sekarang ada di perbatasan changsa, dengan bora yang ada untuk berpisah dengan misi yang berbeda, kami di sini untuk menjaga dan melindungi tuan muda, dan bora ada untuk melihat serta kembali mengawasi zhang."

Dasom benar benar menegaskan bahwa Junmyeon tidak menginginkan keluarganya terkena imbas dari perbuatannya yang bisa di bilang menyerahkan diri kepada Zhang, sengaja melakukan hal itu untuk bisa membuat Junmyeon sendiri yang berhadapan dan masuk untuk tau bagaimana kepemimpinan Zhang di dalam sana, sehingga itu membuat Jongin berdecak marah, "Apa dengan itu semua akan selesai."

Dasom tersenyum lalu kembali berbicara, "Belum selesai tepatnya."

Jongdae dan Jongin reflek menatap Dasom yang kembali tersenyum, "Seperti yang sudah saya katakan jika zhang sulit di tembus dari depan, mereka memiliki perlidungan benteng yang kuat di tanah china dan kita hanyalah pendatang."

"Tuan junmyeon awalnya hanya akan menggunakan saya dan bora untuk membawa keluar yixing dan pergi. Tetapi kedatangan wu yifan di basement pagi hari itu di hadapan kita membuat tuan junmyeon merubah semua rencananya. Tuan memutuskan untuk bertemu dengan zhang, secara langsung."

Perkataan Dasom mengalir seolah mudah untuk dipahami dan semua selesai. Tetapi dengan dia mengatakan jika Zhang kuat di tanah China membuat semua sadar jika walau bagaimanapun mereka adalah pendatang, banyak hal yang membuat mereka tidak bisa menebak bagaimana Changsa dan juga Zhang serta apakah ada mafia lain yang akan turut andil jika Kim melakukan penyerangan terhadap Zhang di Changsa.

Tunggu!

Bagaimana nama Wu Yifan disebut mengingat lagi jika lelaki itu masih sama berambisinya kala melihat Yixing. Tentu hal itu tidak luput dari pengamatan Junmyeon. Meskipun dia memiliki kekuatan dengan adanya orang orang mereka namun tidak menutup kemungkinan bahwa Yifan tau lebih banyak daripada Junmyeon akan Changsa dan Zhang sebagai objeknya.

"Bertemu dengan zhang?" Minseok seolah mengeja lalu menghela nafas selanjutnya mengatakan takut takut,

"Jika junmyeon hyung mengatakan bahwa dia ingin menemui zhang itu artinya dia harus masuk ke dalam tubuh zhang dan berada di dalamnya."

"Benar tuan." Hingga Dasom yang mengiyakan perkataan Jongdae dan Minseok berhenti percaya namun mulutnya tetap melafalkan kata kata,

"Itu artinya seperti menawarkan pertarungan atau kematian." Jongdae berkomentar.

"Zhang tidak akan segan segan membunuh tetapi junmyeon hyung juga berpotensi untuk menjadi umpan agar kita keluar dan baru pertarungan yang sebenarnya di mulai." Kali ini Jongin yang menatap penuh pertimbangan pada Minseok dan Dasom.

"Menurutmu mana yang akan di pilih zhang?" Tambah Jongin.

"Jika melihat mereka memperketat penjagaan changsa maka kita adalah target utamanya, dan junmyeon hyung adalah umpan." Jongdae menyahut.

"Junmyeon artinya menyuruh kita untuk siap bergerak cepat, kita harus menyusup."

Keputusan final itu datang.

Dasom diam diam tertegun, mereka bertiga berfikir dan memahami situasi begitu cepat melupakan emosi sesaat karena pemaksaan untuk keluar kemarin.

Sedangkan dimana bergerak cepat adalah kala Junmyeon melakukan satu sisi menangani langsung Zhang di dalam tubuhnya hingga berhasil memperngaruhinya, sementara Kim yang lainnya berada di luar bergerak untuk mengikuti alur permainan Zhang dari luar. Seperti mengukung erat dari dua sisi yang secara tidak langsung membatasi akses dalam dua sisi.

Pengertian bagaimana Junmyeon dihadapkan pada Zhang dan bentengnya yang sulit ditembus maka tidak ada cara lain untuk bisa masuk ke dalam dan menemui pimpinannya, selain sebagai tawanan.

"Junmyeon hyung sedang menjadikan dirinya umpan, keputusan cepat dan kesigapan kita sebagai bagian luar yang akan membuat efek kejut akan di perlukan dan kita harus masuk ke dalam sesuai waktu yang tepat."

Benar, dan itulah yang sedang Junmyeon lakukan. Menjadikannya umpan dengan mengambil Yixing keluar dari apartemen dan memancing keributan keluarga besar Zhang karena domba kecil kesayangan mereka yang hilang.

"Dan tuan menginginkan hanya dia yang terkena semua imbas dari hal ini, karena itu saya bertugas membawa semua orang menjauh ke arah perbatasan menghindari terancamnya keselamatan."

Minseok tersinggung untuk hal itu, "Aku bahkan masih bisa untuk menghancurkan mereka dasom ya!"

"Tetapi hasilnya akan berbeda jika lebih daripada satu umpan, tuan."

Hal itu benar, bagaimana Junmyeon ada untuk satu satunya umpan adalah kebenaran yag mutlak, kenapa? Karena dialah yang menjadi dalang penculikan Yixing dan menjadi satu satunya kunci akan semua tindakan Kim. Maka Zhang teramat menginginkannya untuk menghentikan semua tindakan bodoh ini.

Jongin mendengus menyadari perbuatan komplit hyungnya, "Jika seperti ini aku menyayangkan sikap junmyeon hyung yang memberikan kepemimpinan thailand pada zhang, hingga memperkuat mereka dan membuat mereka lupa diri hingga berani menyentuh hyung ku!"

Ingatkan aku bahwa Jongin begitu menghormati Junmyeon teramat sangat. Jiwa sebagai adik kecilnya sudah merasa tidak terima dengan semua perlakuan Hyungnya yang begitu membela dan memperkuat Zhang.

"Tuan junmyeon sengaja melakukan hal itu."

"Untuk apa?" Jongin bertanya terlampau emosi. Bagaimana bisa sebuah bagian yang menjadi pengokong mereka 'Kim' sekarang di pakai oleh Zhang yang di gunakan untuk menggertak mereka. Sialan! Kim bahkan masih mampu menghasilkan benturan hebat jika itu yang Zhang inginkan.

"Untuk menghancurkan zhang."

Kenyataannya memang benar, seperti sebuah tanaman kantong semar dimana kalian perlu sebuah aroma menarik untuk memancing lebah datang dan masuk pada perangkap. Lalu tidak akan melepaskannya.

Junmyeon memberikan thailand bukan tanpa alasan, dia menginginkan Zhang kuat. Membuat beberapa konflik di daerah kekuasaan mereka selesai hingga melekat dalam diri mereka bahwa mereka memiliki kekuatan dan menyadari bahwa si kecil kesayangan mereka hilang. Dengan hal itu mereka datang dan akan melakukan apapun jika itu harus menyeret Junmyeon sebagai tawanan untuk menghukumnya. Dan tanpa mereka ketahui jika orang yang mereka bawa adalah umpan serta kunci dari semua ini.

"Membawanya naik lalu mengenggam erat erat."

Jongdae mendengus dan Minseok menatap adik adiknya, "Kalian bersiaplah!"

"Junmyeon mengatakan untuk bertemu dengan pimpinan zhang itu artinya dia menghancurkan mereka dari dalam. Bukan begitu dasom?"

Dan anggukan Dasom menjadi jawabannya. Junmyeon yang memiliki kendali terhadap Thailand tentu laki laki itu tidak semudah itu memberikan kekuasaan kepada seseorang, jika tidak membuatnya tunduk di bawah kakinya.

Dan Junmyeon menginginkan Zhang untuk turut tunduk di bawahnya.

Bagimana caranya? Apa kalian ingat bagaimana Junmyeon menghancurkan mental Yixing dalam sekejap dan membalikkan dirinya untuk menghadap Yifan sebagai orang yang berseberangan dengannya.

"Junmyeon akan menghancurkan honglei baba tapi dengan apa?"

Dasom tersenyum, "Tuan muda junmyeon bahkan sudah mendapatkan semua kepercayaan tuan showluo juga nona victoria. Dan bukankah yixing sudah di pastikan tidak akan membiarkan tuan junmyeon terluka?"

"Fuck!"

"Terlepas dari itu siapa pembimbing kita di sini?" Jongdae bertanya menatap wajah di dalam ruangan.

Minseok menatap Dasom dan Henry bersamaan. Dia sekarang faham jika Junmyeon hanya ingin memanfaatkan jumlah orang yang dia miliki dengan baik dan mengambil resiko lebih banyak untuk dia pikul.

Dan Junmyeon sengaja menyeret mereka keluar dari rumah hunian bersama Dasom dan Henry karena dengan menggabungkan Dasom yang tau seluk beluk Zhang dan Minseok itu seperti mengabungkan dua kunci terbaik mendobrak pintu besar perlindungan Zhang.

Ingatlah bahwa mereka pernah masuk ke dalam.

"Ku fikir junmyeon benar benar tau bagaimana memanfaatkan fasilitas milik appanya." Minseok berkomentar sambil menyeringai.

Dasom dan Minseok adalah jawabannya.

"Aku fikir ini akan seru." Itu Jongdae. Laki laki itu jelas jelas tersenyum miring karena tau jika mereka memiliki orang dalam untuk penyerangan. Jongdae sudah berdamai dengan keadaannya -sepertinya. Karena lelaki itu sudah sedikit bisa beradaptasi juga memahami juga menerka apa yang tengah Hyungnya lakukan.

Berniat untuk benar benar mengukung Zhang dari dalam dan luar, rupanya suasana hati mereka yang sebelumnya di liputi kemarahan dan kecewa pada Junmyeon sudah tergantikan dengan cepat.

Benar benar Tim yang mampu di andalkan.

"Ya, dengan bora di luar memantau tindakan, kita yang masuk kedalam untuk merusak membantu junmyeon hyung saat waktunya tiba." Kini giliran Jongin yang berkomentar dengan tatapan mata berlarian melihat setiap ekspresi orang orang di depannya.

Dia tengah menyelami permainan yang mirip dengan estafet, Junmyeon melakukan start lalu di lanjutkan mereka dan di teruskan oleh Bora.

Wah wah Kim Junmyeon apa ini satu rahasia terselubungmu mengirim mereka ke luar dengan lorong bawah tanah?

Sekalipun bagaimana mereka bermain tanpa gps dan alat komunikasi antar tiga tim namun mereka mampu untuk melihat bagaimana presentase perkembangan dan pergerakan Zhang.

Hell!

Terdengar gila memang bagaimana setiap tindakan mereka akan membuat sebuah efek besar bahkan nyawa menjadi taruhannya.

Hanya mengandalkan intuisi dan analisis terbaik.

"Tetapi kita harus tepat waktu, jika tidak keselamatan junmyeon tetap menjadi taruhannya." Itu Minseok kembali mengingatkan akan kedua adiknya yang mulai mengeluarkan aura aura bersemangat yang begitu kentara. Dan benar saja keduanya tersenyum miring.

Karena Junmyeon, dia ialah sebuah umpan.

Bagaimana kalian melihat Kim disini?

Bukankah Junmyeon ada seperti sebuah ujung tombak?

Dan Minseok serta yang lainnya ada untuk sebuah pemicu di belakangnya.

Dan Tuan Kim ada sebagai otaknya.

Beliau secara tidak langsung adalah raja di balik layar, Beliau tau bagaimana anaknya akan menyikapi semua tindakan dan situasi di lapangan dan beliau akan selalu siap di belakang dengan semua bantuan dan anak buahnya -salah satu contohnya Bora dan Dasom yang lebih awal terjun.

Melihat bagaimana suasana kamar berubah membaik, Minseok menghela nafas. Menenangkan kedua lelaki tangguh di ruangan itu bukan perkara mudah terlebih menyangkut Kim Junmyeon dan Minseok ada untuk hal itu.

Meskipun Kyungsoo ada juga untuk mendukungnya dalam mengatur emosi Jongin tetapi tetap saja dia akan mengatur dan meluruskan semua yang ada di depan mereka.

Satu fakta yang diam diam selalu Minseok tahan selama ini adalah kedua wanita yang tidak bermasalah kala harus bekerja sama dengan mereka,

"Aku yakin jika sebenarnya tugas lain darimu adalah mata mata ayahku! Melindungi kami dan memberikan masukan situasi di changsa karena kau tau lebih dahulu tetapi selain itu secara tidak langsung kau yang mengarahkan kemana kami harus berjalan!"

Dan Dasom hanya mampu terkikik pelan untuk hal itu. Meskipun dalam hati kecilnya dia kagum bagaimana Tuannya Kim Junmyeon begitu tegas dalam mengambil keputusan dan berani. Dan benar saja jika Tuan Muda Kim Junmyeon ada untuk memberikan perintah dan keputusan final yang bisa di andalkan maka Tuan Muda Minseok ada dengan kepekaannya terhadap lingkungan bersama dengan Tuan Muda Kyungsoo yang tidak pernah absen memahami sekitar, mengatur dan menenangkan kedua lelaki lainnya.

Dasom seperti merasakan sebuah dejavu.

"Perkataan tuan begitu mirip dengan ucapan tuan junmyeon, saya seperti skema alur sebuah permainan. Tetapi jika bukan karena tuan junmyeon sendiri yang mencoba mengambil banyak resiko semua ini tidak bisa terjadi."

Perkataan Dasom begitu banyak membuat Jongin mengumpat, bagaimana Junmyeon merencanakan kekuatan untuk Zhang, membuat mereka baik dan menunjukkan kepada China akan kemampuan yang mereka punya lalu sekarang dia menyerahkan diri kepada Zhang bukankah itu sama saja dengan semakin membuat dunia tau jika Zhang ada di atas awan dengan semua kekuatannya.

Hell! Jelas jelas ini semua menguntungkan hanya untuk Zhang.

Minseok menatap keluar jendela, melihat bagaimana hembusan angin bertiup, "Junmyeon tidak pernah melakukan hal nekat jika dia tidak memiliki suatu pegangan kuat."

Lagipula mereka memiliki Dasom yang tentu memiliki cara untuk membuatnya masuk ke dalam.

Minseok yakin Appanya- Tuan Kim tidak akan tinggal diam untuk semua rencana besar ini.

.

.

.

.

.

.

Pukul! -Bruk!

Tendang! -Dug! Dug!

Tinju! -Bruk!

Pukul lagi! -Brak!

Bola mata hitam itu masih menguarkan aura hitam kelam tak terbantah. Kedua tangan bersendekap di depan dada menatap bengis anak lelaki yang sudah berlumuran darah di depannya. Kedua tanganya terantai begitu juga dengan kakinya. Wajahnya memar di sisi tulang pipi, robek di bagian sudut bibir dan hidung yang tergores merah darah.

Perutnya kembali mengalami tendangan dan terbatuk batuk kuat hingga membuatnya bersimpuh dalam sebuah pukulan tinju berikutnya kembali dia dapatkan, membuatnya terhantam tembok di belakangnya.

Itu Junmyeon, tidak berdaya dan bersimbah darah di lengan juga kakinya.

Honglei ada di sana dengan raut tidak puas, anak laki laki yang dia hajar di depannya itu bahkan masih sempat tertawa dengan keadaannya yang sudah terlentang di lantai. Wajahnya benar benar merah penuh luka tidak sama dengan wajah bersihnya yang dia temui pertama di rumah hunian Kim. Tetapi sialannya anak itu masih sanggup tersenyum remeh menatap Honglei hingga dia tidak betah dan melayangkan tendangan lagi.

Junmyeon meringkuk dengan seluruh rasa sakit. Dia tidak bisa pastikan itu merusak dengan hebat organ pentingnya atau tidak tetapi rasanya begitu sakit. Mengais udara dengan rakus Junmyeon menekan rasa sakit dengan egonya yang tinggi. Dia sudah terbiasa dengan semua rasa sakit ini jadi kali ini juga akan sama.

Damn! Terselip umpatan dan sumpah serapah untuk membalas perbuatan orang tua satu ini di benak Junmyeon.

"Katakan! Kau ingin mati atau beritau aku dimana saudara saudara sialanmu itu!"

Junmyeon tertawa dalam hatinya, begitu mudah pertanyaan yang di lontarkan oleh Honglei, apa ini salah satu hal yang akan menjadi sasaran Zhang setelah dia yang di tangkap?

Sialan dalam mimpimu pak tua! Kau akan hancur bahkan sebelum menemukan mereka!

Oh, tiba tiba Junmyeon berfikir kenapa orang tua ini tidak lebih mengkhawatirkan anak anaknya dan hanya menuruti ego untuk melumpuhkan sisa sisa Kim di luar sana.

Apa dia ketakutan dengan daerah kekuasaannya?

Pandangan memekat kuat, Junmyeon mengumpulkan suaranya dan separuh tenaga tidak habis fikir dia jika akan kehabisan tenaga sebanyak ini untuk rasa sakit yang menyebar luas di seluruh tubuhnya, "Uhhuk-kau fikir. . . .kau mampu membunuhku?"

Fuck!

Keh! Kita lihat bagaimana Junmyeon mampu membawa Zhang dalam level tertinggi yang dia bisa. Dia belum kalah! Belum dengan rasa sakit yang dia rasakan ini.

Junmyeon tidak akan menyia nyiakan kesempatan ia berhadapan langsung dengan pimpinan Zhang dan melihat seberapa besar emosi juga ketakutannya akan anak juga daerah kekuasaannya. Junmyeon bersumpah akan segera mungkin merebut Yixing jika sudah begini.

"Kau!" Honglei tidak habis fikir bagaimana anak lelaki yang sudah hampir tidak berbentuk itu masih sanggup melontarkan pertanyaan yang tergolong menantang satu satunya nyawa yang dia punya. Padahal Honglei sudah berbaik hati tidak menyasar vital pada tubuh Junmyeon bermaksud menggertak ana itu untuk bicara dimana saudaranya. Tetapi Kim di depannya ini seperti belum mengenal apa itu kematian.

Hei siapapun peringatkan Zhang jika dia mungkin akan mendapat nerakanya segera jika melenyapkan pewaris utama dari Kim.

Namun benar jika Zhang hingga emosi melihat kelakuan ajaib Junmyeon. Apa pewaris Kim di depannya ini tidak tau siapa orang yang tengah dia tantang? Hell yeah, di sana berdiri Zhang Honglei pemimpin Zhang dengan semua kebengisan dan tidak ada pengecualian untuk sebuah tindakan kecil.

"Aku meragukan kemapuanmu dalam menaklukkan musuh tuan zhang!"

Itu Junmyeon dan sebagian besar keberaniannya, namun tidak beberapa ama tendangan dia terima dari anak buah Zhang yang terpancing emosinya. Biar dia tau dimana seharusnya dia bersujud.

Sementara Tuan Honglei masih diam diam saja melihat Junmyeon.

Bugh! Bugh! Bugh!

"U-untuk. . .se!akh! Seseorang yang hanya bisa menyembunyikan putra paling rapuhnya!" Junmyeon menyeringai melihat emosi keruh si wajah Honglei.

"BRENGSEK KAU KIM!"

Dan benar saja lelaki itu meledak, memaki Junmyeon dan membenturkannya ke dinding. Habis susah kesabarannya melihat Junmyeon yang harus mengoceh tidak tau diri.

"Se brengsek. . . .brengseknya aku. . .setidaknya aku tidak mengekangnya dan memenjarakan mental dalam trauma dan rasa bersalahnya!" Junmyeon mengucapkan apa yang paling mengganjal di fikirannya, terlebih saat tau cara Honglei menangani trauma Yixing akan darah dan senapan.

"Tau apa kau soal putraku! Dia milikku dan kau hanyalah pengacau."

Bagi Honglei Junmyeon tidak lebih dari pengacau yang datamg dan membahayakan nyawa putranya lagi dan lagi.

Junmyeon tau tau terkekeh, meskipun dengan menahan sakit dan memar dia berusaha terduduk menatap Honglei baik baik. Raut wajah orang tua itu begitu menggelitik hati Junmyeon. Dan ketahuilah dia menahan baik baik emosinya saat ini.

"Itu artinya aku bisa menghancurkan kalian berdua, sebagai seorang pengacau?" Terlihat seperti pertanyaan yang tau tau sebuah keinginan mutlak.

"BRENGSEK!"

Junmyeon tidak takut lagi, keinginannya sudah final.

"Seberapa berani kau tuan zhang? Aku bisa menghancurkanmu sekarang juga!"

Honglei mendengus, merasa hanya mendengarkan omong kosong dari anak kecil, membuang muka muak melihatnya. Tetapi Junmyeon ada di tangannya saat ini maka tidak ada lagi batasan dan halangan untuk mengacaukan Kim. Jelas jelas putranya mengacau di Changsa dan Honglei berkesempatan untuk benar benar membalas perbuatan anak ini.

"Kita lihat kalau begitu, berapa orang yang bisa kau bawa untuk ada di changsa saat ini." Honglei menantang Junmyeon, dia tau jika berita akan pewaris utama yang menjadi sandera akan menyebar kuat dan jangan pernah remehkan benteng Zhang.

"Tapi tenang saja, Aku lebih ingin menyiksamu dan melihat sampai kapan mereka bersembunyi,"

Tidak masalah bagi Honglei jika anak anak Kim yang lain tetap bersembunyi, karena baginya menyiksa Junmyeon juga menimbulkan kepuasan tersendiri. Lagipula dia yakin tidak selamanya anak anak Kim itu bersembunyi.

"Sisir semua daerah changsa, seluruhnya aku tidak peduli itu warga sipil atau apapun juga. Dan bunuh mereka."

Honglei berjongkok menyamakan tingginya lalu memukul kelewat tepat pada wajah Junmyeon hingga limbung tersungkur ke samping.

Bruk!

"Kenapa? Kau takut kim?" Honglei terkekeh.

"Sebelum kau menyentuh mereka . . . Kau bahkan sudah kalah lebih dahulu oleh putramu sendiri." Junmyeon menatap tajam dari jatuhnya, sadar jika orang tua di depannya mempermainkan nyawa orang orang terbaiknya.

"Pembual! Cukup katakan kau takut kehilangan mereka, itu sebuah kehancuran juga bukan." Honglei muak melihat Junmyeon yang terlihat baik baik saja.

"Kalau begitu mari kita hitung siapa yang akan menemui kehancurannya lebih dahulu, kau atau aku tuan zhang?"

Dan tantangan itu membuat Honglei harus mengepalkan erat erat tangannya penuh kemarahan.

Brak!

"Kau akan mati setelah ini."

.

.

.

.

.

.

Junmyeon mulai merasakan kaku kaku akibat memar yang hinggap di seluruh tubuhnya dia duduk bersandar dinding dingin yang menjadi satu satunya bagian dalam ruangan sempit pengap yang dia huni saat ini. Kepalanya berputar hebat, bau amis menyengat kuat, hampir hampir dia tidak yakin akan bisa tersadar sepanjang malam. Mengais oksigen masih dia pertahankam sampai saat ini, berharap suhu ruangan dapat menghangat, namun hanya dengan harapan.

Bola matanya coba dia pejamkan untuk mengusir sedikitnya resiko kehabisan tenaga, untuk saat ini. Mengandalkan indera pendengaran yang dia coba pasang baik baik untuk mendengar siapa yang akan datang berkunjung setelah ini.

Begitu khayal jika orang tua itu langsung diam dan tidak kembali jika cuma untuk merecoki atau menyiksanya kembali. Keyakinan Junmyeon berkata jika masih begitu banyak yang ingin Zhang Honglei tekan padanya.

Junmyeon terkekeh, dia tidak membayangkan jika menjadi sandera akan se sakit ini. Membuatnya menyadari separuh pemikiran bodohnya. Lama terdiam sebuah suara memecah konsentrasi Junmyeon.

Dan benar!

Bunyi langkah sayup sayup terdengar, Junmyeon masih mengatur nafasnya yang tersenggal. Mencoba tidak menghiraukan karena sungguh rasa tubuhnya begitu remuk redam, tetapi ada kejanggalan yang kentara di dalam bunyi langkah itu. Dalam beberapa detik akan berhenti dan kemudian melangkah hingga menimbulkan bunyi lagi lalu berhenti kembali, Junmyeon tanpa sadar menyerngit mendengarnya namun kembali terdiam acuh dan menunggu, dia hanya bisa melakukan itu untuk menghemat tenaga juga untuk berjaga jaga akan kemungkinan terburuk seperti serangan tiba tiba. Ketika pemilik langkah itu hampir sampai di ruangannya yang berada di ujung lorong gelap suaranya semakin memelan dan penuh kehati hatian. Hingga bunyi pintu terbuka amat sangat hati hati dan perlahan lalu dapat dia dengar bunyi nafas yang tercekat setelahnya.

Junmyeon masih menunggu hingga hadirnya dia merasakan sentuhan lembut di pipi memarnya.

Yixing menahan nafas, bibirnya gemetar lalu tersenggal akan ulahnya sendiri, sedikit berlari menghampiri Junmyeon yang berstandar lemah di dinding dingin, selembar selimut hangat di balutkan di belakang punggung Junmyeon, menyentuh perlahan pipi memar membuat kernyitan di dahinya begitu kentara, bibirnya dia gigit kuat kuat.

Jemari lentik gemetaran mengambil kapas dan alkohol membersihkan luka di pelipis pertama tama.

"Sshh!" Junmyeon mendesis menahan perih di sana.

"Maaf. . .aku. .akan perlahan."

Suara lembut itu seperti sebuah serbuk penyembuh tak kasat mata yang memercik di diri Junmyeon hingga dengan begitu perlahan ia membuka kedua bola matanya yang tertutup hanya untuk menatap wajah panik dan khawatir Yixing, tersenyum tipis dalam keterdiaman yang mencekam.

Yixing masih fokus, dia hanya menatap Junmyeon sebentar lalu cepat kembali fokus dengan luka yang hampir ada di semua sisi wajah juga tubuhnya, mensugesti diri sendiri untuk fokus pada kegiatan yang dia lakukan tanpa terusik oleh tatapan Junmyeon.

"Aku tidak akan bisa menyangkal bahwa semua orang akan suka dan sayang padamu." Junmyeon bicara menatap Yixing yang masih terdiam, menelisik dalam dia betapa indahnya karya Tuhan di depannya ini.

Ya, bisa di lihat bahwa itu karena sikap baik yang selalu Yixing berikan.

"Masih teringat tentang keinginanmu jika kau sembuh?" Junmyeon bertanya, tidak ada yang keluar sedikit pun dari mulut kecil Yixing.

Dia seperti tengah di acuhkan, tersadar membuat Junmyeon terkekeh seorang diri.

"Kau bilang akan menghajarku jika sudah sembuh." Junmyeon masih setia bermonolog.

Yixing masih fokus dengan raut wajah sendu menatap setiap luka di sana.

"Kau bisa melakukannya, dan aku akan menepati janjiku kala itu."

Yixing mendesah lelah, menurunkan jemarinya dan menatap Junmyeon dengan wajah sedih di sana, "Apa ini lucu menurut mu?"

Junmyeon terkekeh senang, melihat baik baik reaksi Yixing yang berada dekat di depannya, dari beberapa monolognya berakhir dengan kemarahan terselip di balik ucapan Yixing hingga dia merasa seperti mendapat karma atas perbuatannya pada Yixing, "Aku seperti terkena karma karena melakukan kekerasan padamu."

Yixing hanya terdiam menatap Junmyeon dengan alis hampir bertautan dan wajah menyiratkan kesedihan. Bagaimanapun mereka orang tuanya tidak sepantasnya melakukan semua ini pada Junmyeon. Yixing menunduk mengingat beberapa waktu saat dia di lempar Junmyeon dari balkon adalah karena sikapnya juga, jika bukan dia yang terus memaksa tanpa mendengar penjelasan dari Junmyeon, jika bukan karena dia yang terus memberontak karena rasa marah dan ingin menjauh dari Junmyeon hingga mengatakan hal sensitif akan keluarga kepada Junmyeon. Mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi.

Ya, mungkin saja.

"Maafkan aku." Junmyeon kembali berucap melihat Yixing yang menunduk. Mengamati jemarinya yang bergetar darah yang menghiasi kapas juga alkohol. Junmyeon tau benar jika si kecil dalam pikiran yang berlarian tak tentu arah, keinginan hati kecil Junmyeon adalah merengkuh tubuh ringkih di depannya dalam selaput kehangatan yang ada. Dalam dekapan penuh perlindungan. Miliknya.

"Kenapa?" Hanya kata kata itu yang mampu Yixing ucapkan kepada Junmyeon.

Junmyeon terdiam menatap baik baik manik bergetar milik si kecil Zhang lalu bicara, "Kau tau-"

Yixing menyela cepat, "Katakan junmyeon. . ."

"Aku mencintaimu."

Yixing mendengus, menatap nanar jemarinya yang kembali bergetar karena darah, mengigit bibir sembari memberi tatapan tidak percaya, "Haruskah seperti ini?"

"Kau suka?!"

"Apa ini tujuanmu junmyeon?!"

"Kau tau. . . .kau tau semuanya sudah berakhir!"

"Kenapa kau masih kemari bahkan setelah kita sudah saling berpisah!"

"Kenapa kau tidak bisa berhenti dan membuat dirimu sendiri baik baik saja daripada menjadi seperti ini!" Yixing tidak bisa untuk diam lagi.

Tidak ketika semua luka dan keadaan genting yang ada di hadapannya, tidak dengan semua yang akan berat untuk di jadapi Junmyeon. Tidak dengan semua ini akan berimbas pada Junmyeon. Yixing tidak menginginkan hal ini! Yixing tidak bisa untuk tidak marah, frustasi, tertekan jika harus melihat Junmyeon yang berhadapan dengan keluarganya dan berakhir penuh luka.

Tidak bisa untuk kembali ketakutan jika. . . .

Junmyeon kembali meregang nyawa.

Tidak dengan rasa kehilangan itu, Yixing tidak bisa melihat Junmyeon yang akan tergeletak dan bersimbah darah.

Seperti saat itu.

Yixing tidak bisa.

Sedangkan Junmyeon masih setia menunggu semua kata kata Yixing keluar, memberikan waktu untuknya bicara. Tetapi anak di depannya sudah lebih dari pada tremor kecil tidak bisa mengatakan semua yang ada dalam benaknya hanya gemetar hebat dengan pikiran berlarian, Junmyeon terlampau hapal dengan semua itu hingga dia tanpa mengucapkan apapun mencondongkan tubuhnya kedepan dan sebuah kecupan lembut mendarat di bibir cherry Yixing.

Air mata itu turun, begitu spontan.

Dengan keduanya yang bertatap dalam lautan emosi yang satu dengan tatapan penuh kepanikan yang berkecamuk sedang yang satu menatap seakan meminta sebuah kepercayaan. Bisakah Junmyeon meminta Yixing untuk hanya percaya kepadanya?

"Aku tidak peduli, tetapi dengan ini aku bisa berhadapan langsung dengan babamu."

Yixing menyela dengan nafas tersenggal, menatap nanar pada Junmyeon, "Kau sengaja?"

"Ya." Junmyeon harus jujur untuk Yixing, berharap banyak dapat meminta sebuah kepercayaan darinya.

"Junmyeon kau-" Yixing tidak habis fikir hingga kembali mengatakan protesnya namun lagi Junmyeon memanggut bibirnya dalam kecepatan dan ketepatan yang sama, gerakan yang hati hati, begitu lembut dan pelan menyesap penuh penghayatan.

Kelembutan juga ketulusan ada di sana begitu menyita perhatian dan indra pengecapnya. Begitu meminta eksistensi dan mengambil hati Yixing, dia terdiam dalam kedua kelembutan yang saling menempel, mengecap, penuh dengan perasaan. Kembali terdiam menempel dengan bola mata saling bertukar pandang. Yixing kembali meneteskan air mata. Maka Junmyeon berusaha melumatnya meskipun begitu lemah dengan sisa kelembutan disana.

Yixing memutusnya lalu menunduk untuk terisak, "Hentikan. . .hiks. . .kumohon." semua yang dia tahan keuarlah sudah. Semua kekhawatiran terhadap Junmyeon tidak bisa di bendung lagi. Yixing menangis dalam permohonan yang pasti.

"Sstt. . .jangan menangis, xing ah."

Junmyeon hanya bisa mengecup pipi pucat itu berkali kali untuk menenangkannya hingga turun ke leher berusaha keras meredakan kesedihan si kecil dan Junmyeon merasakan Yixing menumpukan kepala di bahunya. Bersandar, membuat Junmyeon berusaha keras merengkuh tubuh kecil itu, mengecup berkali kali pucuk kepalanya.

"Lihat apa yang baba lakukan. . .hiks. . Lihat tubuhmu. . .hiks hentikan. ." Rengekan dengan nafas tersenggal membuat Junmyeon malah terkekeh yang semakin memperlihatkan bahwa Yixing masih seperti anak kecil, masih sama ketika pertama dia bertemu begitu mengemaskan juga terkadang menjengkelkan berapa banyak sisi hatinya yang sudah di renggut paksa oleh anak laki laki di depannya ini. Dan begitu banyak keinginan Junmyeon untuk bisa memilikinya, sedangkan sekarang dia di suruh berhenti? Sementara anak laki laki di dekapannya ini benar benar membutuhkan seseorang untuk ada dan mendekapnya.

Junmyeon tidak akan bertindak bodoh untuk melepasnya. Tidak!

Di kecupnya pucuk kepala itu lagi untuk membuat tangisan mereda. Cukup lama hingga Junmyeon gemas sendiri kala hidung memerah itu membuat Yixing semakin manis lalu tanpa bisa di cegah lagi dia membisikkan beberapa patah kata yang mampu membuat Yixing terdiam spontan lalu mendongak cemberut hingga berubah cepat dalam kilatan marah, menunduk mencari kulit bahu Junmyeon untuk gigitan kasar. Menancapkan gigi sehatnya hingga membuat bekas merah kentara. Junmyeon mengerang dalam kesakitan yang pasti dan Yixing puas melihatnya meskipun rasa kesal dan sesenggukannya belum sepenuhnya hilang, air matanya masih turun sedikit.

Lihat bagaimana laki laki Kim itu menenangkan yang kemudian memilih menggunakan cara lain karena Yixing juga tidak bisa diam dari sesenggukannya, dimana Junmyeon yang tadi berucap kelewat percaya diri dengan kata kata mesumnya, 'Jika kau terus menangis seperti ini justru membuatku semakin ingin menggagahimu saat ini juga.'

Hingga berganti erangan sakit di detik berikutnya.

"AKHHH!"

Bagus sekali Kim sekarang anak dan orang tua bermarga Zhang itu sedah lengkap karena sama sama memberikan luka ditubuhmu.

Sepertinya Junmyeon terlampau beruntung hari ini hingga harus menerima paket komplit dari Zhang.

Yixing masih menatap penuh kekesalan pada Junmyeon di depannya meskipun tidak di pungkiri dia bisa bisanya merona hanya karna ucapan yang sialannya mesum dari mulut Junmyeon.

Namun Junmyeon bersyukur meskipun dengan harus kembali mendapat rasa sakit dia akhirnya bisa membuat si kecil sedikit lebih baik, lihat bagaimana merah rona di pipinya yang begitu kentara. Junmyeon kembali mencuri kecupan di sana.

Tap. . .tap. . .tap.

Bunyi tapak kaki mengema di ruangan Junmyeon membuat keduanya terfokus pada langkah itu. Pertanyaan siapa gerangan yang telah masuk ke dalam lorong yang berjalan kemari! Hell, Yixing bisa dalam bahaya jika itu terjadi dan dia ketahuan di sini. Secepat kilat keduanya bertatapan dalam mencekamnya keadaan sekarang, bibir di gigit dan mata berlarian dalam benak yang memikirkan hal lain yang kemungkinan bisa ia jadikan jalan keluar.

Junmyeon tersenyum menatap Yixing yang panik merambat naik di otak kecilnya. Begitu menggemaskan dalam satu sisi hingga dia berucap kelewat santai, menikmati sedikit waktu mengamati ekspresi si kecil, "Bersembunyi lah ada yang datang."

Secepat Yixing menarik selimut yang dia kalungkan Junmyeon dan membawa perlatan p3k lalu berlari pada sudut tergelap ruangan di antara beberapa barang yang menumpuk di sudut gelap.

Junmyeon kembali waspada setelah memastikan bahwa Yixing akan baik baik saja di sana, bola mata sianganya menatap pintu yang sebentar lagi terbuka. Jemari melakukan pemanasan dan indra pendengarannya menajam aktif, dari bunyi tapak kaki Junmyeon menemukan jika hanya satu orang yang akan berkunjung. Kemungkinan hanya anak buah untuk berjaga atau justru orang lain.

Pintu terbuka dan sapaan lembut mengalun,Junmyeon mendongak dengan bola mata terkejut.

"Junmyeon. . . ."

Suara halus seorang wanita, Junmyeon sedikit bernafas lega. Yixing aman. Tetapi juga tidak, wanita dalam balutan kemeja merah marun dan bawahan celana panjang hitam, rambut terurai anggun menatap lembut juga sedikit bersalah, tetapi Junmyeon yang tau segera melempar senyum kepada Victoria, wanita yang berdiri di depannya.

"Nunna, senang bisa melihat nunna kembali setelah kabar penyekapan terjadi."

Junmyeon berucap akan bagaimana terakhir dia mendengar kabar jika Victoria sedang di sekap hingga membuat Yixing kala itu mengamuk meminta untuk membantu, ah! Kalian tentu tidak lupa akan hal itu hingga dimana Junmyeon sudah mengizinkan Jackson saja masih belum cukup, lalu berakhir hingga keduanya bertengkar hebat.

Berbeda Junmyeon beda juga Victoria yang mendengus, tau jika anak muda di depannya sengaja mengatakan hal itu, meskipun benar kala Junmyeon bicara karena terhitung ini pertemuan mereka yang pertama.

"Junmyeon, berhenti berpura pura akan kedatanganku."

Victoria berbicara dalam dengusan untuk Junmyeon berhenti berpura pura akan kedatangannya, Victoria tau benar jika Kim di depannya ini tau apa maksud kedatangannya.

"Hmm," Junmyeon hanya mengiyakan.

"Kau tau jika aku sudah memperingatimu, kau juga yang sudah menjawab sendiri teleponnya waktu itu. Tetapi kenapa kau tidak menghindar dari pengepungan ini!" Victoria berucap kelewat frustasi, dia memberitau Junmyeon akan sebelum penyerangan adalah harapan jika Junmyeon mampu mengatasi semua itu dan bahkan melawan untuk menunjukkan pada Honglei bahwa dia mampu menjaga Yixing tetapi apa yang dia dapat Junmyeon justru pasrah pasrah saja di seret hingga babak belur dan malah bahagia bahagia saja dapat berada di mansion ini.

Victoria kembali bersuara, "Kenapa kau tidak melawan sedikitpun! "

"Ini keinginanku nunna." Junmyeon menjawab terlampau enteng, mengabaikan ekspresi Victoria ataupun melupakan jika masih ada satu manusia di ujung sana yang ikut andil mendengarkan penjelasannya.

Junmyeon gila.

Dia menjawab dengan suara tenang dan tatapan pasti. Sedangkan Victoria?

Deg! Degupan jantung terpacu tidak percaya yang jelas jelas berasal dari diri Victoria.

A-apa?!

Yixing, anak itu sudah pasti kepala kecilnya akan segera berlarian menggabungkan semua hal hal yang kemungkinan akan di lakukan oleh laki laki gila macam Kim Junmyeon.

"Hanya dengan ini aku bisa berhadapan langsung dengan paman honglei." Junmyeon tanpa ragu mengatakan hal itu dan jelas hal itu membuat Victoria menahan nafas untuk sesaat, sedangkan Yixing, anak itu sudah mengumpat melihat keras kepalanya dan bebalnya seorang Kim Junmyeon. Yixing tau banyak bagaimana Junmyeon dan dia hafal akan tabiat itu.

"Junmyeon. . . . ." Victoria mencoba mengerang mendengar jawaban Kim di depannya. Bagaimana cara melemaskan pemikiran Junmyeon, itu membuat Victoria panik dan frustasi sendiri. Junmyeon harus berhenti ini buruk.

"Kau mungkin berfikir ini akan baik baik saja tetapi tidak saat ini. . . .paman memastikan semua wilayah akan di sisir untuk mencari saudaramu bahkan dalam keadaan hidup ataupun mati."

Victoria mengatakan apa yang membuatnya tidak setuju dengan cara Junmyeon yang mau mau saja di jadikan sandera. Victoria berharap banyak jika pimpinan Kim di depannya ini mau berubah fikiran hingga membatalkan semua rencananya yang tengah dia susun untuk melindungi saudaranya yang sekarang sedang di jadikan target pencarian dari Zhang. Alasan Victoria awalnya adalah ini, namun dia berharap tanpa memberitahu Junmyeon maka anak itu akan menurut dan faham lalu mengganti rencananya namun terpaksa ia sekarang menjelaskan demi membuat Junmyeon mengerti.

Semuanya Victoria fikir setelah mengatakannya Junmyeon akan berubah dan dia akan lega namun lagi lagi ia harus berjingkat kaget kala menemukan benda terjatuh kasar-

Brakh!

Lalu seseorang berlari menjauhi lorong dengan suara tergesa dan mendobrak pintu di luar sana kasar, Victoria tidak bisa tidak terkejut melihatnya dan itu adalah keponakannya. Tidak! Tidak, ini buruk jika Yixing tau apa yang tengah Babanya lakukan pada Kim maka anak itu tidak akan tinggal diam. Victoria tidak bisa bayangkan jika mereka berdua bicara lalu Yixing akan menjadi sasaran kemarahan Babanya.

"Yi-yixing?"

Victoria mengucapkan seolah tidak percaya, "Dia baru saja ada di-"

"Ya,"

Junmyeon mengiyakan, dia memberitau Victoria jika anak kecil itu sudah ada di sini sejak kedatangannya, dan Junmyeon juga mengatakan jika anak itu mendengarkan semua ucapan Victoria dengan baik, mulut merah merona Victoria sempat mengatakn 'ini buruk' yang terdengar oleh Junmyeon dan bertanya kenapa lalu ia menjelaskan jika pertemuan Baba Honglei dan Yixing akan berubah buruk untuk saat ini. Baba tidak akan bisa di hentikan jika itu kemarahan menyangkut Yixing dan anak itu pasti akan keras kepala dalam suatu hal yang dia inginkan.

"Aku akan mengeluarkanmu." Victoria berucap final. Memberikan penawaran terbaiknya yang dia bisa. Dia sudah mempercayai Junmyeon dengan amat sangat dan jika anak itu keluar semua keadaan akan berubah dan Yixing setidaknya akan terhindar dari kekerasan yang mungkin akan di lakukan Baba Honglei kepadanya, jika ada Junmyeon yang ikut membelanya atau menyelamatkannya.

"Aku percaya pada mereka, nunna."

Hell yeah, Apa kalian tidak tau jika ini keinginan Junmyeon.

Ini tujuan Junmyeon,

Inilah kemenangan Junmyeon,

Inilah yang dimaksud Junmyeon,

Bahkan sebelum dia di siksa, dihancurkan, atau saudaranya di sentuh Zhang Honglei, pria itu akan kalah oleh putranya sendiri.

Zhang Yixing

Tentu saja, bagaimana Junmyeon tidak percaya diri, jika dia sudah merebut hati dan keseluruhan dalam diri Yixing. Honglei tidak akan memiliki sekutu bahkan tidak akan bisa mengatur putranya untuk menurut padanya. Lelaki tua itu kalah oleh putranya sendiri.

Putra manisnya yang sudah terlampau jatuh pada Junmyeon, sekalipun Yixing mengelak, menentang untuk mengakui bahwa dia menginginkan Junmyeon dapat kalian lihat dia dan segala tingkahnya tadi, Yixing secara tidak langsung sudah menunjukkan hati kecilnya kepada Junmyeon.

Dan Junmyeon tau hal ini akan terjadi. Karenanya inilah kartu as yang Junmyeon miliki yang bisa membawanya kepada Honglei lalu menghancurkan kekuasaan pria itu.

Ucapannya terbukti nyata bahwa dia kalah oleh perintah dan kekuasaan pada putra yang dia jaga rapat rapat.

Zhang tidak memiliki sedikit pun jiwa Yixing, tidak bahkan untuk hatinya.

Dan satu lagi yang membuat Junmyeon bisa menghancurkan Zhang Honglei sebentar lagi, adalah karena kepercayaannya.

Ya, tentu saja. Kim bukan seorang manusia yang memiliki ikatan keluarga dengannya namun juga kemampuan dan kecerdasannya.

Jangan lupakan itu, karena hal itulah yang menjadi penyebab kehancuran Zhang, akan dia buat Honglei bertekuk lutut jika dia masih menghalangi keinginan Junmyeon untuk memiliki Yixing.

Tersenyum Junmyeon mengatakan akan kepercayaannya akan saudara saudaranya yang tengah di jadikan target pencarian,

"Bagaimana mereka bergerak aku percaya, sekalipun tanpa gps tanpa alat komunikasi, mereka bukan anak kecil yang akan mudah terlihat, mereka memiliki kemampuan nunna."

Berhenti meremehkan mereka!

Yeah,

Kim bukan sekumpulan anak kecil!

Pandangan mata Victoria berucap seolah dia tidak setuju akan hal itu, Junmyeon lalu menambahkan,

"Aku akan menyelesaikan semuanya, dengan berada di sini yang mungkin ini akan melukai nunna." Memberitahukan akan rencananya di sini.

Satu ucapan yang di tangkap, membuat Victoria sadar dan sepenuhnya mengatakan pertanyaan, yang mana itu cukup membuat dia faham di depannya masihlah pimpinan Kim yang berbahaya.

"Melukai? Junmyeon -kau? Tidak sedang berusaha menghancurkan-"

Jangan kira Victoria bodoh menyangkut perkataan itu, dia begitu peka terhadap Junmyeon dan semua ucapannya, anak ini tidak bisa di pandang sebelah mata. Junmyeon menatap terlampau tenang.

"Maaf nunna tapi aku akan menghancurkan zhang jika memang yixing tidak ada dalam genggamanku."

Deg!

Ti-tidak!

Tunggu, ini seperti konsekuensi yang akan Zhang ambil jika menyentuh saudara Kim dan menarik Yixing semakin memjauh darinya.

Dari Junmyeon dan tidak menuruti atau bahkan mementang kuasanya.

Tidak! Ini membuat fikiran Victoria penuh seketika, paman Honglei yang menekan Kim semaunya.

Yixing yang akan menghalangi jalan dari Paman Honglei

Dan Junmyeon yang akan menghancurkan Zhang jika paman masih saja teguh pendirian tidak memberikan Yixing kepadanya atau masih menyentuh saudara saudaranya.

Victoria tergugu menatap Junmyeon.

Inikah? Inikah kemampuanmu, Kim?

Inikah rencanamu yang sebenarnya?

"Aku. . .Aku tidak pernah. . Me-meragukan kemampuanmu kim."

Victoria sesak untuk suatu hal yang tak kasat mata, sebuah kepanikan dan ketakutan menjadi satu.

"Maaf nunna, tidak ada penawaran lain bagiku, hanya hal itu yang akan aku lakukan melihat tindakan dan keputusan paman jika tetap keras kepala menarik yixing menjauh atau justru mencoba melukai saudaraku." Junmyeon berucap final.

"Junmyeon tetapi itu akan tetap melukai perasaan yixing dengan melukai paman." Victoria berucap, memang sulit jika di fikir di sini untuk Yixing.

"Tetapi Yixing dan saudaraku juga merupakan hal terpenting dalam kehidupanku nunna, aku tidak bisa main main jika paman benar benar melukai keduanya."

Ya, Junmyeon benar jika memang keduanya adalah mutiara berharga dalam hidupnya karena itu dia tidak akan segan segan menyingkirkan siapapun di sana.

Victoria tau jika itu keputusan terakhir hingga membuatnya lemas bukan kepalang, "Kau benar benar membuatku semakin lemas junmyeon."

"Maaf nunna. . ."

Seharusnya Honglei sadar jika Kim Junmyeon bukan hanya seorang pewaris sah dari kepemimpinan Kim di daerah kuasa Korea Selatan.

Seharusnya Honglei ingat bagaimana lelaki Kim itu bisa mengacaukan proses pernikahan putranya dengan Wu Yifan, yang- fuck! Hanya datang menyambut acara pernikahan dengan kedua tangan terbuka. Namun bisa membuat semua alur acara berantakan, hanya dengan keberadaannya yang duduk di meja undangan gereja tanpa menarik Yixing atau mengiming imingi putranya.

Seharusnya Honglei ingat bagaimana Junmyeon merebut baik baik hati juga jiwa Yixing hingga menyingkirkan nama Yifan dalam ingatan akan status tunangan.

Seharusnya Honglei ingat jika Junmyeon juga yang mampu membuat kepercayaan Victoria juga Showluo melekat dalam diri anak muda itu.

Seharusnya Honglei lebih sadar lagi jika kisah putranya yang awalnya menjadi musuh, lalu mampu di jebak dalam gudang dengan semua pertempuran dan melumpuhkan Yixing di malam itu. Meskipun Yixing menghancurkan semua kepercayaan dan membuka seluruh rahasia penghianatan Kim Jongdae demi sosok kakak tertua yang dia cintai. Tetapi Yixing justru di buat bertekuk lutut secara perlahan dengan kata cinta.

Seharusnya,

Ya, seharusnya dia lebih sadar sepenuhnya jika anak muda berdarah Kim itu memilki segalanya. Kemampuan diri, pola fikir, taktik, politik bahkan sejarah berlatar pendidikan keluarga dokter. Kim terkenal memiliki tangan kanan kepercayaan dengan status kedokteran yang melekat pada gelarnya.

Mau di hitung? Jung Taekwoon, Kim Dasom, belum lagi dokter kepercayaan Tuan Kim yaitu Hakyeon jika kalian lupa. Mereka selalu memiliki status terbaik di sisi kepemimpinan.

Kim Jongin sebagai penembak terbaik dan bagian lapangan dan Kim Jongdae sebagai otak dalam strategi penghancuran. Do Kyungsoo yang sudah di angkat menjadi anak dari Tuan Kim juga mewarisi bagaimana pendidikan psikologi dalam diri Kim Kyungsoo. Kabar terakhir yang dia dengar adalah kemampuannya yang membaik dalam teknik menembak. Sedangkan Kim Minseok yang pernah dia tatap wajah dan senyum ramahnya memiliki pengendalian diri terbaik, dia punya andil banyak untuk membuat Junmyeon sedikitnya menurut dan patuh walau dalam jangka waktu yang tidak lama.

Kim Junmyeon memiliki mereka sebagai penguat tim terbaik. Dan Zhang sudah cukup kecolongan dengan keberadaan Dasom yang sudah ada sebagai mata mata terbaik selama lebih dari setahun, berada di posisi terbaik yang memegang kendali pada kejiwaan putranya.

Kim seperti mempermainkan dirinya begitu baik, mengobati luka putranya namun juga mencengkeram dalam gengaman yang tidak ada pintu keluar.

Namun Honglei sepertinya lupa jika semua putranya benar benar ada di pihak sialan Kim. Yang sekarang ada untuk menentangnya. Di depannya secara terang terangan tanpa ada rasa sungkan.

Ya, mereka di depan Honglei saat ini.

"Aku tidak akan pernah berhenti untuk mengingatkan baba jika yixing sudah terbukti baik baik saja bersama junmyeon! Bukan dengan sebuah kekangan! Baba tidak pernah tau jika itu hanya akan membebani pikiran Yixing dan memenuhinya dalam rasa bersalah!"

Honglei tidak terima menyela cepat, "Kau fikir menjatuhkan yixing dari balkon pada kolam renang itu baik baik saja zhang showluo!"

"Aku memang tidak setuju untuk hal itu tetapi jangan bicara seolah baba tidak pernah memberikan sebuah kekerasan pada yixing!" Showluo belum selesai.

"Dia putraku, showluo!" Teriak Honglei.

"Ya, yixing adalah putra kesayangan baba hingga pernah membuatku merasa iri pada anak itu tetapi apa kekerasan setelah kematian ibu kepada yixing sebagai pelampiasan itu benar?"

Mendiang ibu Yixing meninggal dalam sebuah penyekapan dimana Yixing kecil ada di sana sebagai sandera bersama ibunya, penyelamatan berlangsung lama dan negosiasi gagal menewaskan ibunya yang mendekap erat putranya untuk menyelamatkan nyawa di kecil. Honglei menumpahkan semua kekesalannya kepada si kecil Yixing setelah itu sebagai bentuk ketidak terimaannya terhadap kematian sang istri.

Aura keluarga Zhang kala itu benar benar pekat, tidak sedikit pihak pihak yang akan mendapat dapratan untuk kesalahan sepele, dari hal itu Showluo over protektif terhadap adiknya, Yixing tidak pernah mengeluh dan lebih sering diam untuk hanya menatap foto mendiang ibunya dan mengatakan maaf untuk sebuah tangisan kecil.

"Keberadaan kita saat ini masih sama, berada di antara kim dan wu yifan. Dan aku tidak akan pernah setuju jika yifan menjadi jalan keluarnya!" Showluo tidak bisa tidak diam, tidak kali ini. Sekalipun menentang Babanya adalah jawaban.

"Kalau begitu jangan pernah memilih kedua nya!" Tekan Honglei setelahnya.

Bahkan sebelum ada tarikan nafas Honglei kembali berteriak, "Aku tanya padamu! Kau lebih memilih meninggalkan changsa dan juga junmyeon atau dia yang akan mati di depanmu dengan tanganku sendiri."

Itu pertanyaan untuk Yixing,

"JAWAB AKU YIXING!"

Terlalu mendadak dan terlalu melukai banyak hati kecilnya, air mata Yixing mengalir tanpa bisa di cegah. Dengan keadaan yang masih sama Yixing bangun dari tersungkurnya setelah sebelumnya dia terlempar karena mendapat dapratan keras hingga dahinya memerah lebam, untuk hanya menatap Babanya yang memberinya pilihan sulit.

"Aku berjanji akan menghabisi semua keluarga kim junmyeon jika kau tetap bersikukuh ada di pihaknya!"

Ini tentang Junmyeon, laki laki yang masih dia simpan baik baik namanya dalam lubuk hati paling dalam yang selalu dia tolak kehadirannya dengan semua otak keras kepalanya, cuma untuk membawa kesadaran pada lelaki Kim itu agar menjauh darinya, dari dirinya yang hanya mampu memberikan sebuah kesakitan.

Yixing sadar akan kebenaran dia hanya sebuah kunci untuk rasa sakit, itu adalah satu satunya deskripsi yang saat ini melekat dalam dirinya.

Lihatlah bagaimana Showluo dan juga Victoria yang sama sama menderitanya karena status hubungannya dengan Kim. Yixing hanya terdiam dengan semua pemikiran terburuk yang selalu berkaitan dengan perjalanan hidupnya.

Masih terdiam Yixing memilih hanya untuk menatap kakinya dalam tatapan sendu yang pilu, kenapa Babanya selalu menghadapkan pada pilihan yang sulit. Itu sungguh melukai hatinya hingga lelehan liquid membasahi pipi pucatnya.

"Paman kenapa selalu memaksa xingie! Itu menyakitinya paman!" Victoria tidak bisa hanya diam sementara melihat Yixing sudah ada dalam kesakitannya.

"Aku hanya bertanya pada yixing bukan kalian! Jadi cepat jawab pertanyaanku." Honglei kembali menatap tajam putra kecilnya.

"Tetapi tidak dengan seperti ini!"

"A-apa. . .setelahnya baba berjanji tidak akan menyakiti junmyeon?" Dengan terbata Yixing hanya mampu mengeluarkan apa isi hatinya dan menatap penuh permohonan pada Babanya.

"Anak kurang ajar, berapa kali aku katakan untuk berhenti ada di pihak junmyeon!"

Namun sekali lagi tamparan keras kembali Honglei layangkan kasar untuk Yixing -Plak!

"Seberapa besarnya kau menginginkan keselamatan kim dibanding keluargamu sendiri! Apa yang ada di otakmu, hah!" Bentak Honglei.

"BABA HENTIKAN!" Showluo segera menarik Yixing dalam dekapannya setelah babanya kembali membenturkan dengan meja di belakangnya. Anak itu terisak dalam diam.

Honglei sendiri tidak habis fikir bagaimana bisa anak anaknya lebih memilih Kim dibanding menuruti kemauannya, "Kalian berdua tidak ada yang bisa di pilih bahkan untuk memperjuangkan keselamatan keluarga kalian sendiri!"

Sialan! Apa Junmyeon sudah benar benar memperbudak pikiran mereka.

"A-aku. . . .aku akan menurut." Yixing bersuara lemah.

"Hei, xingie sayang. . . .lihat gege. . .kumohon." Showluo meraih dagunya melihat baik baik wajah memerah penuh luka. Dia tidak bisa melihat hal ini. Yixing sudah terluka terlalu lama dia tidak bisa melihat hal ini.

"Yixing. . .tenanglah."

Honglei menilik kembali kedua anaknya.

"Aku. . .aku. . Akan pergi."

"Tidak!"

"Xingie!"

Semuanya berteriak marah Victoria, Showluo maupun Wangxun. Tidak pernah terima dengan keputusan Yixing yang lebih menuruti Babanya. Mereka tidak akan bisa jauh dari Yixing, tidak setelah trauma yang membuat anak ceria itu semakin tertutup dengan keluarganya sendiri.

"Tapi ijinkan aku bertemu junmyeon untuk terakhir, aku ingin menemuinya. . ."

"Tidak-"

"Aku mohon . . .hiks. . .baba."

.

.

.

.

.

Junmyeon tertegun kala Jackson datang tergopoh menuju ke arahnya membawa segenggam kunci besi di tangan. Membuka gembok yang merantai kaki dan tangannya. Dia belum mengucapkan apapun tetapi anak itu lebih dahulu mengatakan dia tidak ada waktu banyak menjelaskan. Segera menatih tubuh Junmyeon keluar dari ruangan menuju lorong berbelit yang dia tidak ingat berapa belokan mereka lakukan.

Yixing ada di mobil kala mereka sudah keluar melewati area belakang mansion dengan hoodie yang menutup tubuh juga kepalanya. Junmyeon di bawa pergi bahkan tidak ada perkataan yang mengiringi selain ucapan 'sebentar lagi jadi bertahanlah' Junmyeon tidak mengucapkan apapun hanya diam dan menurut tidak bersuara dan bahkan terus terjaga dengan sekuat tenaga.

Tenaganya sudah benar benar menipis jika hanya untuk menopang tubuhnya lebih banyak lagi dan lagi kepalanya berputar begitu banyak, dia tidak tau kenapa tubuhnya benar benar tidak bisa di ajak kompromi dengan siksaan sepele ini. Ada yang salah Junmyeon yakin. Hingga bahkan panggilan panik Yixing hanya terdengar samar di telinganya dan semuanya menggelap dengan cepat.

Junmyeon tahu semuanya yang terjadi padanya, bagaimana kepanikan terdengar di suara Yixing hingga mereka sampai. Dia merasakan tubuhnya di bawa kembali dan itu pasti Jackson lalu lama setelahnya dia merasa di baringkan dan beberapa alat di pasang di tubuhnya, lalu suntikan menginvasi tubuhnya.

Kala tersadar Yixing ada di sampingnya bola matanya menyipit dengan senyuman teduh begitu manis, Junmyeon ingin tau berapa lama anak itu berada di sana. Tapi kesadarannya mulai menelisik dimana dia sekarang, Yixing segera buka suara, "Ini apartemenku."

Ah! Itu sudah pasti jika Yixing membawanya kemari.

Junmyeon mengeram mencoba bangun, memaksa tubuhnya untuk duduk bersandar di headboard meskipun Yixing melarang hal itu tetapi Junmyeon yakin lukanya baik baik saja, ini bukan luka tembakan jadi dia mencoba untuk tidak membuat Yixing terlalu memikirkannya.

"Jangan bergerak dulu! Junmyeon!"

Yixing harusnya tau jika kata katanya tidak akan di gubris oleh Junmyeon. Tapi mengingat bagaimana pemeriksaan terakhir Junmyeon tadi di nyatakan sudah baik baik saja sudah cukup membuat Yixing membiarkan pria Kim itu terduduk menatapnya lembut.

Memalingkan wajahnya cepat sebelum semburat merah menawan semakin terlihat. Yixing hampir berhasil melakukannya jika saja Junmyeon tidak menahan lengannya terlampau cepat hingga dia harus berpura pura bertanya, "Ada yang kau butuhkan?"

Junmyeon menyeringai, lalu memberikan tatapan remeh kala melihat Yixing sudah kembali ke sifat aslinya, "Ada, dan itu dirimu."

"Hentikan, kim! Berapa kali aku katakan untuk berhenti!" Yixing melepaskan cepat lengannya lalu beralih ke meja di samping ranjang, mengambil beberapa perlengkapan obat untuk membersihkan luka di wajah Junmyeon.

Sedangkan Junmyeon hanya terdiam, membiarkan Yixing bergerak untuk melakukan apa yang dia lakukan sementara dia menatap baik baik ruangan bernuansa metalik ini. Junmyeon baru fokus pada Yixing kala anak itu sudah membawa sapu tangan untuk luka wajahnya dan menurut dalam diam.

Hingga sebuah memar menganggu pikirannya.

"Ini. . .kenapa? Siapa yang melakukan?"

Yixing bergetar merasakan sapuan lembut tangan Junmyeon di sisi pipi kanannya, mereka sudah berada di apartemen Yixing dengan tenaga Junmyeon yang sudah lebih terisi dan lebih pulih. Bola mata hitam itu menatap penuh perhatian juga rasa khawatir yang menguat seiring mulut Yixing yang masih terdiam. Yixing gugup, takut dan berusaha menghindari pandangan mata itu, dengan kedua tangannya yang mulai meremat perlahan sapu tangan yang akan membersihkan luka luka di wajah Junmyeon.

"Biar aku bersihkan dulu."

Sret-

"Jawab pertanyaanku dahulu!"

Junmyeon bersuara - tau kemana arah Yixing untuk menghindar, jemarinya menahan pergelangan tangan Yixing dan merebut lembut sapu tangan itu, meletakkannya begitu saja di dalam baskom. Menarik Yixing untuk semakin mendekat. Mencermati baik baik lebam di pipi kanan si kecil lalu bola matanya melihat lebam dengan bekas darah di bawah pelipis kiri seperti sebuah benturan.

"Apa aku yang melakukannya?"

Junmyeon bertanya, dia ingat benar jika dia juga orang yang sering memberikan banyak tanda di tubuh si kecil, bahkan tidak bisa hilang dalam hitungan 1 hingga 3 hari. Sembari otaknya berfikir keras kapan, dimana dan kenapa bisa ada bekas ini di wajah Yixing, sang empu menjawab dengan suara lirih namun terselip gemetar di sana.

"Tidak. . .itu bukan junmyeon."

Tatapan Junmyeon teralihkan akan suara kecil Yixing yang menjawab. Lalu muncul pertanyaan bagaimana hal ini terjadi. Menatap perubahan mimik wajah dan gelagat Yixing. Bola mata itu panik dengan begitu kentara, menghindari tatapan penuh tanda tanya Junmyeon.

Junmyeon mengeram, menarik kasar dagu Yixing dan seketika ringisan dan erangan sakit terdengar. "Akhh!"

Junmyeon reflek melepasnya, demi Tuhan dia hanya menarik bukan mencengkeram atau bahkan menancapkan kukunya di sana. Hell, lihat Tuan Muda kita yang amat sangat berhati hati dalam memperlakukan si kecil berbeda jauh kala bagaimana dia berbuat tempo hari lalu. Netra hitamnya meredup penuh kepanikan melihat Yixing yang meringis, lalu terkejut juga ada bekas kuku yang memerah di leher anak itu.

Sialan! Perbuatan siapa ini.

"Maaf. . .Aku tidak melihatnya."

Yixing hanya berbisik lirih bahwa itu tidak apa dan baik baik saja. Tetapi Junmyeon masih di liputi rasa khawatir. Dengan perlahan dengan membuat dorongan pelan dalam diri Junmyeon untuk menarik Yixing berbaring, Junmyeon membawanya untuk berada di bawah kukungan, memudahkan Kim itu lebih menyisir setiap bagian wajah juga leher yang terlihat lebam.

Dan itu masih baru.

Junmyeon yakin untuk hal itu.

"Jika bukan aku lalu siapa?"

Yixing hanya mengerjap dengan tatapan mata berlarian panik. Mengigiti bibirnya penuh kegusaran. Bibir itu masih terkunci begitu rapat enggan untuk memberitahu Junmyeon barang sedikit saja, "Sudahlah junmyeon. . ."

Jemari Yixing bergerak gelisah begitu kentara sementara manik milik Kim masih menatapnya tidak berubah. Menuntut dan begitu mencermati setiap polah juga bagian tubuh Yixing yang dapat dia perhatikan dengan cermat.

Setelahnya masih tidak ada jawaban membuat desahan lelah keluar begitu saja dari mulut Junmyeon. Jika sudah seperti ini Junmyeon harus mengalah, mendekatkan wajahnya dan mengikis jarak di antara keduanya.

Memanggut bibir cherry itu dalam sesapan pelan, memainkan atas bawah dengan tatapan yang tidak lepas membawa kelembutan. Menarik lembut bibir bawah dan atas lalu melumatnya lagi. Yixing hanya menurut tanpa sebuah protes. Dimana keterdiamannya justru membuat Junmyeon semakin yakin jika anak itu takut untuk mengungkap kejujuran.

Junmyeon merambat ke pipi kanan dan menciumnya lembut penuh perasaan dalam alunan pelan Junmyeon berbisik, "Katakan yixing ah."

Yixing disana dengan tatapan penuh ketakutan dan pertimbangan besar, tetapi hanya diam membiarkan Junmyeon memanggut bibirnya beberapa kali sebelum melesakkan wajahnya di sepanjang tulang pipi hingga turun ke leher. Yixing berjingkat di sana, memegang erat bahu Junmyeon, berharap menjauhkan tubuh Kim di atasnya itu karena Junmyeon menyasar belakang lehernya dalam sapuan nafas hangat memburu.

"Ukh! Berhenti!"

"Tidak sebelum kau mengatakannya."

Dan Junmyeon benar benar tidak berbohong soal itu, dengan semangat meniup belakang leher Yixing hingga wajah memerah itu benar benar terlihat jelas di depannya, "Ah. .Junmyeon. . .tolong berhenti!"

Junmyeon menatap Yixing dalam jarak terdekat dengan dorongan entah bagaimana dia kembali membawa Yixing dalam pagutan yang lebih berirama dan tenang, memainkan kedua belah bibir kental itu dalam tarikan dan sesapan hingga pasokan oksigen yang baru menipis mereka berhenti, saling menatap dan Junmyeon adalah pihak pertama yang memutusnya, memilih menghirup baik baik area leher Yixing, hingga satu jawaban dia dapat.

"Baba."

Yixing merasakan Junmyeon berhenti melakukan aktivitasnya dan terdiam selama beberapa detik, menjauhkan wajah hanya untuk menampilkan ekspresi tidak percaya yang jelas di sana, terlihat bola mata hitamnya menelisik dengan baik setiap luka di wajah manis kekasihnya. Lalu ekspresinya hilang secepat angin berhembus dan berganti kemarahan besar di sana.

Junmyeon bagaimanapun terkejut, Zhang Honglei yang melakukan hal ini, dimana dia yang paling berambisi menyelamatkan juga menjaga Yixing, tetapi apa yang ada di depannya dengan semua luka itu membuat Junmyeon murka, tidak ada yang boleh menyentuh miliknya kelewat kasar bahkan menimbulkan bekas.

Sepercik pertanyaan berada di benak Junmyeon, apakah seperti ini cara Honglei juntuk menjaga Yixing selama ini? Berapa banyak Yixing menerima luka ini? Dan lagi, apa ini juga cara Honglei untuk memulihkan trauma bahkan yang sudah merubah pendirian Yixing dan kehidupannya.

Tetapi Junmyeon teringat bagaimana dan siapa yang dia hadapi di sini. Ini adalah Zhang dimana kepemimpinan tertinggi adalah Honglei, lalu apa ini merupakan caranya untuk mengagalkan rencananya dengan menekan Yixing, hingga menorehkan kekerasan berbekas luka. Untuk memaksa anak ini menurut dan menjauh.

Fuck! Jika bukan untuk memaksa Yixing akan apapun keinginannya kenapa ada luka seperti ini?!

"Akan aku hancurkan."

Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Junmyeon, namun mampu membuat Yixing mendongak, bola mata menatap penuh kekagetan, takut juga khawatir yang sialannya, justru semakin membuat Junmyeon murka.

"Ti-tidak! Tidak junmyeon tidak!"

Anak itu histeris begitu kentara, kedua tangan melupakan luka di dada Junmyeon, menarik dalam rematan yang terasa di atas dada sang dominan dalam berbalut kemeja. Dengan gelengan hebat dan ketakutan kuat Yixing memohon, untuk sebuah kemarahan Junmyeon dan apapun yang menbuatnya naik pitam, bola mata sang penguasa menggelap.

Dia selalu marah jika itu menyangkut miliknya dan tidak ada pengecualian untuk hal itu.

Tidak ada yang boleh melukainya bahkan menyentuh seujung rambut pun.

Dia sadar yang di hadapi adalah Zhang dan Junmyeon tidak peduli untuk hal itu, ini adalah tujuannya datang ke Changsa, menjadikan Yixing miliknya dan bersiap untuk menundukan Zhang dalam gengaman yang mengikat tanpa pintu keluar, ataupun pilihan lain.

Tidak peduli dengan apapun.

Junmyeon masih terdiam, dalam tatapan penuh ketegasan disana dan Yixing masih menggeleng penuh permintaan. Tanpa sadar perbuatan itu membuat Junmyeon memalingkan muka melihat sisi lain ruangan kamar yang mereka tempati, dia ingin marah bagaimana sifat Yixing namun dia akan menahannya.

Melihat anak itu memohon begitu hebat mau tidak mau Junmyeon yang harus mengalah, menahan egonya untuk tidak menyasar Yixing atau lebih parahnya justu menambah lukanya

Ingat bagaimana kau merayu anak itu kala mulutnya terkunci rapat Kim!

Jangan buat suatu hal yang gegabah hingga berimbas pada semua rencanamu!

Yixing masih meraung dalam tangisan, mendekap erat Junmyeon yang sudah bersandar di headboard, sambil sebelah tangannya menyelam di helaian rambut lembutnya, dengan usapan lembut tetapi tidak ada suara yang keluar.

Menunjukkan bagaimana pengendalian diri Kim yang sedang dia tahan baik baik.

Yixing tidak menyukai hal itu.

Melihat bagaimana Junmyeon bersikap tetapi dia juga tidak bisa membiarkan keluarganya ada dalam bahaya dengan Kim yang menjadi lawan. Yixing tidak pernah bisa melihatnya. Dia tau bagaimana akhirnya jika hal itu terjadi.

Melayang dalam ketakutan, prediksi dalam kecemasan.

Akan hal hal yang berhubungan dengan keluarganya membuat Yixing tanpa sadar mengabaikan usapan Junmyeon hingga membuat lelaki Kim itu menghentikan usapannya, meraih dagu hingga si kecil menatap mendongak dalam bola mata basahnya.

"Katakan mengapa melarangku?" Junmyeon begitu menggebu untuk menghancurkan apapun yang ada di depannya, namun sedetik kemudian ia menghela nafas, tersadar melihat Yixing kehilangan konsentrasi, bahkan untuk jarak sedekat ini hingga jemari Junmyeon harus andil memberi rangsangan usapan lembut di pucuk kepala.

Anak itu pasti menggunakan otak kecilnya terlalu keras.

Dan itu hanya untuk melindungi keluarganya, yang menyakitinya.

Junmyeon kembali di buat bertekuk lutut lagi dan lagi. Mengesampingkan semua emosi juga keinginan membunuhnya, untuk Yixing.

Hanya Yixing.

Bukannya menjawab justru raungan keras kembali Junmyeon dapati, "Jangaan!"

Yixing benar benar di hinggapi ketakutan hebat, Kim di depannya ini bukan orang yang akan main main dengan ucapannya dan Yixing tidak membutuhkan bukti lagi untuk hal itu, dia harus bisa menghentikan Junmyeon.

"Mereka. . .apapun itu hiks! Perlakuannya. . .mereka tetap keluargaku."

Junmyeon mendengus, tidak percaya dengan hubungan kkeluarg, yang bahkan anak kecil ini lebih tersiksa di bandingkan nyaman dengan mereka.

"Mereka yang aku miliki. . . kumohon jangan."

Menatap tidak percaya, Junmyeon masih menunduk mengamati Yixing yang sekarang memeluknya erat dengan tremor hebat, dia jelas ketakutan.

"Jadi juga karena ini kau menolakku?" Junmyeon bertanya hampir hampir berharap jika tebakannya salah.

Tetapi Junmyeon justru di buat ketakutan kala reaksi tubuh Yixing berbeda, ia melepas rengkuhan itu dan menatap Junmyeon dalam keterdiaman yang pasif.

Junmyeon akan benar benar membunuh siapapun setelah ini.

"Meskipun aku sudah ada di depanmu?" Junmyeon bertanya tidak percaya tetapi Yixing menangis dalam diam.

Junmyeon masih terdiam melihat reaksi Yixing yang akan dia tunjukkan tetapi si kecil Zhang justru menunduk tidak mampu menatap bola mata nyalang Junmyeon.

"Fuck! Aku benar benar mencintaimu yixing!" Junmyeon membentak marah.

Seumur umur Junmyeon belum pernah jatuh cinta hingga begitu hebat untuk membunuh siapapun yang mendekati mutiaranya.

"Apa yang kau takuti? Katakan dan aku akan menyingkirkan semuanya untukmu!" Junmyeon berucap kelewat frustasi dengan keadaan mereka.

Apa perlindungan yang dia tunjukkan kepada Yixing belum begitu jelas?

Apa semua yang telah Junmyeon lakukan untuk Yixing tidak berarti sama sekali?

Hingga anak itu lebih memilih diam di satu tempat tanpa berusaha membalas perasaannya.

Junmyeon bersumpah akan membunuh siapapun yang sudah membuat Yixing ketakutan seperti ini.

"Kau! Yang aku takuti itu kau kim!" Teriak Yixing.

Junmyeon membeku, menatap tidak percaya dengan anak itu.

"Kau tidak tau betapa hancurnya aku ketika melihatmu terluka! Aku tidak tau. . .cukup junmyeon. . .Aku tidak bisa melihat semua orang terluka hanya karena aku. . .tidak setelah ibu."

Junmyeon menggali seberapa banyak ingatan yang dia tinggal hampir hampir saat Yixing terlebih menyebut 'ibu' di hadapannya untuk pertama kali. Masih di ingat baik baik ucapan Dasom tempo hari lalu akan Yixing yang pernah menjadi sandera daam kasus penculikan bersama ibunya dan Yixing kecil bisa bebas dari penyekapan namun tidak dengan sang ibu yang harus tewas di tangan penyandera. Junmyeon tau juga jikalau hal itulah yang membuat Yixing lebih banyak tertekan secara tidak langsung oleh keluarganya sendiri karena kesalahan yang tidak sepenuhnya menjadi salah anak seusianya. Orang tua tentu akan mengorbankan dirinya hanya untuk buah hati mereka bukankah itu benar?

"Hiks. . .tidak dengan orang yang aku sayangi."

Isakan kecil Yixing membuat Junmyeon kembali sadar jika anak ini tidak bisa lagi dia tekan untuk sebuah pilihan tegas, kala Yixing menunjukkan sosok rapuh sesungguhnya, yang selalu dia sembunyikan di balik sikap pemberontak dan keras kepala.

Junmyeon selama ini selalu menekan Yixing untuk menuruti bagaimana seharusnya dia bersikap. Junmyeon tau jika Yixing kehilangan banyak dari dirinya akan trauma, anak itu menghindari ketakutannya dan bukan ada untuk melawan. Hal itu jugalah yang selalu dia katakan.

Namun, sekarang berbeda. Junmyeon di hadapkan pada sisi Yixing yang sesungguhnya. Dimana anak itu rapuh dalam selimuti ketakutan.

"Kumohon berhenti. . .Aku tidak bisa melihatmu terluka."

Junmyeon sadar benar jika masalah ini menghimpitnya terlampau cepat, hingga jemari kembali terulur setelah menjauh dari tubuh ringkih Yixing merengkuhnya,

"Bahkan aku berani mempertaruhkan nyawaku jika itu hanya untukmu, baby."

Namun jawaban Yixing tidak sama dengan harapan Junmyeon, "Tidak! Kau bahkan tidak menyayangi dirimu sendiri!"

"Yixing ah! Baby, kumohon kau bahkan tidak pantas diperlukan seperti ini." Junmyeon mencoba melembut.

Yixing hanya mampu mendongak menatap Junmyeon kelewat memohon dengan kedua tangan menggenggam baik baik jemarinya, "Tidak. . . . . kumohon. . .Junmyeon."

Yixing kembali menolaknya, mengatakan tidak untuk kesekian kalinya.

"Keh, jadi semua usahaku selama ini sia sia?" Junmyeon berucap frustasi, karena yang Junmyeon yakini bahwa semua ucapan Yixing bukanlah isi hati sesungguhnya.

Anak itu hanya mengatakan demi kebaikannya yang merupakan kebaikan Junmyeon dan juga kebaikan keluarganya.

Sekali lagi Yixing lebih mementingkan keluarganya daripada dirinya sendiri.

"Hiks. . .junmyeon. ."

"Jawab aku." -bisakah di sini Junmyeon memaksa Yixing untuk berhenti membohonginya, membohongi perasaannya.

"Hiks."

Junmyeon bahkan tidak pernah yakin untuk melakukannya, tidak dengan perpisahan, tidak dengan semua ucapan Yixing yang dia rasa bukanlah kejujuran, "Baby, biarkan aku memilikimu, menjagamu."

Mencoba kembali membujuk, menunjukan kesungguhannya Junmyeon membawa dahi keduanya saling menempel, hanya untuk merasakan kesedihan yang Yixing rasa, membaginya bersama, berharap bisa membuat si kecil sadar jika Junmyeon juga ikut merasakannya. Namun anak itu terlalu bebal untuk mau bicara dan hanya menggeleng dengan sisa tangisannya, "Jangan. .hiks."

Bola mata Junmyeon menatap sendu untuk sebuah pertanyaan yang keluar, yang dia miliki sebuah pertanyaan kunci terakhirnya, "Apa kau tidak mencintaiku, yixing ah?"

Satu satunya pertanyaan yang selalu ada di benak Junmyeon, dan hingga saat ini ia belum mendapat jawabannya. Junmyeon selalu mengatakannya sejak dahulu namun dalam ingatannya Yixing belum pernah sekalipun membalas.

Dan kali ini, Yixing kembali terdiam. Hingga menimbulkan luka sepanjang hati Junmyeon.

"Baik, aku mengerti." Keputusan sepihak Junmyeon ambil.

"Aku kembali ditolak ternyata." Monolognya, tertawa miris dengan bola mata menatap Yixing yang bahkan bernafaspun anak itu kesulitan.

Junmyeon menatap Yixing yang bahkan tidak sanggup mengangkat wajahnya, rasa kecewa merambati dan kemarahan ada di sana. Junmyeon benar benar frustasi kala ini. Namun, hanya saat ini juga dia bisa meminta Yixing untuk mengatakan sebuah kepastian. Jika Junmyeon menuntut itu maka hanya saat inilah waktu yang tepat untuk meminta kelutusan final Yixing.

Maka dari itu Junmyeon ingin menghancurkan perasaannya sendiri saat ini dan menelan rasa sakit yang sesungguhnya dengan bertanya kepada Yixing, dan menanti jawabannya.

"Tatap aku baby dan katakan. . . . bahwa kau tidak mencintaiku."

Junmyeon mengambil pergelangan tangan itu, di tarik lembut memaksa dengan perlahan kepada Yixing untuk duduk berhadapan dan menatapnya. Junmyeon memohon untuk bisa melepaskan semua perasaannya, meminta Yixing untuk benar benar menghancurkannya.

Setelah semua yang dia lakukan Junmyeon hanya ingin Yixing sendiri yang menghancurkannya. Hanya dengan mengatakan tidak dan Junmyeon yakin bahwa hatinya akan benar benar hancur dan berhenti untuk memperjuangkan perasaannya.

"Hiks. . ."

Junmyeon mengusap kasar wajahnya, frustasi se- frustasinya. Yixing hanya menangis bahkan anak itu menutup mata untuk tidak menatap Junmyeon dengan lelehan air mata yang hampir tidak berhenti dari tadi.

"Baby . . kumohon katakan agar aku bisa benar benar pergi darimu."

Katakan Junmyeon gila, dia memohon untuk sebuah kehancurannya sendiri. Di hadapan Yixing, orang yang begitu ingin dia jaga dengan nyawanya ssendiri. Junmyeon sudah berada dalam keadaan terendahnya kala ini namun Yixing seperti enggan untuk mengakhirinya dan bahkan masih setia membisu dalam isakan. Masih setia untuk menyayat hati kecilnya.

"Katakan dan buat aku untuk melupakanmu. . ."

Junmyeon kecewa bagaimana waktu mempermainkan mereka, bagaimana keadaan yang menyiksa dan dia lebih kecewa bahwa akhirnya kenyataan dia tidak dapat memiliki Yixing bukan lagi sebuah ketakutan tetapi sekarang sudah ada di depan matanya.

"Junmyeon. . .aku. . .tidak bisa." Yixing sudah benar benar tidak memiliki jiwanya lagi.

Anak itu sudah lemah, Junmyeon dapat memahaminya hanya dengan menatapnya saja. Yixing hancur dan lebih memilih egonya. Untuk tetap bertahan di keputusannya. Junmyeon juga tau akan hal itu.

Maka sekali lagi biarkan Junmyeon mengalah, membawa telapak tangannya mengusap lembut pucuk kepala yang lebih muda dengan tatapan luar biasa sendu, "Aku tidak meminta kalau begitu. . ."

"Tetapi ijinkan aku memelukmu. . .untuk terakhir kalinya." Yixing justru semakin menangis.

Kala tubuhnya di peluk, kala kehangatan masuk ke dalam ingatannya, ini yang terakhir bukan?

Junmyeon mengecup lama dahinya dan berbisik pelan, "Berjanjilah kau akan menjaga tubuh kecil ini."

"Berhenti melukainya dengan semua ego juga tingkahmu. . . ."

Semua seperti rol film rusak, berputar bagaimana ketika mereka bersama dan jauh lebih sering berdebat dalam perselisihan hingga ucapan yang sering terdengar dari Junmyeon adalah tentang ego dan tingkahnya yang keras kepala.

"Berjanjilah untuk hidup lebih baik daripada ini."

Yixing tau bahwa dengan hal ini dia akan menghancurkan semuanya, dan dia juga tau jika saat ini dia tengah melihat kehancuran Junmyeon. Bagaimana lelaki ini tidak pernah bisa melepasnya begitu saja. Lelaki yang selalu dia tatap dengan kekaguman tengah menghadapi kehancuran karenanya. Junmyeon yang selalu menatapnya dengan ketegasan dan sejuta cara untuk melindunginya sekarang telah di ambang batas kemampuannya. Junmyeon menunjukkan separuh dirinya yang benar benar hancur.

"Dan tolong jangan hapus ingatanmu tentangku."

Hatinya sakit untuk permintaan ini. Apa sebegitu buruknya Yixing hingga Junmyeon memintanya untuk tidak menghapus ingatannya akan lelaki Kim itu. Setelah semua yang mereka lakukan, setelah semua hal mereka lalui. Apa semudah itu?

Meskipun semua kenangan manis mereka sudah lebih banyak di lalui oleh kenangan buruk karena Yixing sendiri yang selalu keras kepala, memancing kesabaran Junmyeon dalam menghadapinya hanya demi lepas dari lelaki ini.

Hanya untuk mengubur rasa yang dia miliki.

Hanya untuk egonya, menolak dan memintanya pergi.

Apa ini rasanya di lepas secara perlahan.

Setelah selama ini Junmyeon yang selalu memberinya ucapan juga perbuatan akan cinta.

Dan perlahan kehangatan itu menghilang, jiwa Yixing kosong. Seperti di hantam oleh badai angin musim dingin. Kesepian dan pusat kasih sayangnya hilang. Seseorang yang selalu ada untuk menatap dan melindunginya akan pergi seiring tangan Junmyeon yang perlahan terlepas. Seiring kecupan di dahinya yang perlahan memudar hilang. Seiring dengan bola mata Junmyeon dan senyuman kesedihan ada di sana dan ucapan selamat tinggal itu ada menyapanya.

Yixing panik, dalam sisa tenaga mengais pusat kehidupannya. Pusat perhatiannya, meraih apapun yang ada di depannya, sekalipun itu akan berdampak banyak.

Biarkan dia egois kali ini.

Dia tidak bisa melihat kehancuran ini.

"Ti. .tidak!"

Itu suara yang sangat pelan namun luar biasa menyayat.

Mereka sama sama hancur, sama sama rapuh.

Seolah mereka memang sudah di takdirkan untuk bersama dan di paksa saling menjauh.

"Maafkan aku. . .hiks. . .maaf junmyeon. . .maaf."

Dan kecupan itu datang bertubi tubi, menghujani seluruh wajah Yixing yang bisa Junmyeon jangkau, merengkuhnya sebisa mungkin tidak membiarkan Yixing merasa dingin lagi.

"Aku menyukaimu. . Hiks . . . Jangan pergi. . ."

Junmyeon sudah berhenti untuk ingat bagaimana mereka berdiri atau justru sudah terduduk, yang dia ingat hanya Yixing yang meraihnya dan Junmyeon membawa dalam dekapannya. Tidak membiarkan anak itu menangis sendiri lagi. Memberinya kecupan di manapun juga ucapan terimakasih yang tidak berhenti dia bisikan. Junmyeon diam diam berjanji akan menyelesaikan semua hal setelah ini untuk Yixing.

Sekalipun itu harus melumpuhkan Zhang Honglei sendiri, akan dia lakukan.

.

.

.

.

.

Junmyeon masih setia mendekap erat Yixing yang saat ini ada di atas pangkuannya, menyandarkan kepalanya di dada dan memberikan kecupan di puncak kepala. Yixing sendiri terdiam menikmati keadaan mereka yang saling terdiam seolah olah berdamai dengan keadaan. Memainkan jemarinya di balik kancing kerah kemeja abu abu Junmyeon.

Yixing akan sesekali mendongak hanya untuk menatap Junmyeon yang masih sama terdiam dan memberinya kecupan di ujung hidungnya. Keduanya tersenyum hingga Junmyeon sadar bola mata Yixing sembab bukan main, anak itu menangis pada waktu yang lama. "Aku mencintaimu."

Hanya kata kata itu yang akan keluar dari Junmyeon dan Yixing akan membawa jemarinya menyentuh sisi wajah Junmyeon dan mengusapnya perlahan, "Aku juga mencintaimu junmyeon."

"Tetapi aku jauh lebih mencintaimu." Dan Yixing akan memeluk erat pusat kedamaiannya.

"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. . ." Itu terdengar seperti mereka tidak memiliki jalan di depan yang benar benar terbuka lebar.

Junmyeon hanya kembali mendekap Yixing dalam kehangatan dan berucap kelewat lembut di pucuk kepalanya, "Cukup percaya padaku dan tetaplah seperti ini."

Yixing mendongak untuk mempertemukan bola mata dan tatapan mereka saling menyelami dalam detik berikutnya, "Aku percaya padamu."

Junmyeon tersenyum dan menutup jarak mereka, hanya terdiam dan menikmati kedekatan mereka. Hingga Yixing yang memulai, Junmyeon tau dan memberikan kesempatan kepadanya. Mengikis jarak bibirnya hingga menempel lalu mengecupnya perlahan dalam melodi lembut yang tidak pernah Yixing pelajari.

Jiwanya merinding akan sebuah kenangan mereka bersama, akan kerinduan yang hampir mereka lupakan yang selalu tertutup ego masing masing hingga keduanya hampir lupa jika pertemuan mereka tidak memiliki awal yang baik. Yixing melumat memberikan sensasi kecupan basah yang dalam hingga jantungnya berdegup kencang hanya karena perbuatannya sendiri, memainkan bagian lembut Junmyeon atas bawah yang di biarkan saja oleh empunya, baru ketika Yixing puas dan memberi jarak untuk tatapan intens Junmyeon, dari sana Yixing tau jika dia merasakan kegugupan yang bukan main.

Wajah di depan Junmyeon beralih menatap arah lain untuk sembunyi, sembunyi dari tatapan elang miliknya yang siap mengobrak abrik sisi paling dalam dari si kecil Zhang yang sudah lama tidak dia lihat. Junmyeon menarik dalam kekangan kedua jemarinya di dagu. Bola mata itu berpendar banyak emosi di sana dan menjadi sayu kala jarak mereka mendekat, dalam alunan deting jarum jam Junmyeon mengikisnya untuk hisapan kuat dan lumatan main main bagian atas dan bawah bergantian dalam ritme pendek yang memabukkan. Dalam sensai kecupan basah, seluruh bagian dia sentuh dan enggan meninggalkan sisa yang kering di sana, gigitan dia berikan dan tidak terdengar protes di sana, Junmyeon beranjak menelusupkan daging lembutnya mengajak bermain area dalam goa hangat dan dansa dalam tarian panjang terjadi, lidah Yixing tidak bisa terlepas, di lilit dan menggelitik. Air liur bercampur dan enggan untuk tau siapa yang memiiki itu semua.

Yixing tersendat oleh nafsunya sendiri, oleh degupan jantung dan nafas pendek hingga darahnya mendidih dan berpusat di wajahnya. Junmyeon tidak keberatan mengulang tarian yang sama, berpindah untuk area yang pas bagi mereka kembali menciptakan kecipak basah penuh candu.

Satu dari sisi terdalam menampakkan dirinya dalam kecupan basah Junmyeon menariknya ke sisi luar menghisap bukan main bibir bengkak Yixing. Memberi jarak untuk melihat kombinasi terbaik yang dia ketahui, bibir bengkak terbuka, liur yang tidak di bilang rapi, nafas pendek penuh aura panas dan wajah memerah dengan tatapan sayu.

Betapa manisnya anak ini hingga Junmyeon begitu ingin menghancurkannya dalam balutan kenikmatan tiada tepi hingga ujung putih yang menjemputnya. Yixing tau jika kabut nafsu membalut mereka begitu cepat. Hingga jantung dan jiwanya sama sama berdegup gila, jemarinya menarik wajah Junmyeon dalam kecupan kembali, kali ini mereka sama sama tidak menahan untuk alur cepat penuh kecipak keras, tidak dengan kelembutan kala keduanya sama sama mengerti apa yang mereka butuhkan dalam kerinduan gila ini.

Yixing mendesah tertahan kala jemari Junmyeon mengusap kelewat lembut penuh alunan di punggungnya, tubuhnya melengkung namun tidak tau jika Junmyeon memanfaatkannya untuk membawa mendekat mengikis jarak hingga tubuhnya menempel erat.

Yixing menggila hingga tubuhnya bergerak di luar kendali, menggesekkan miliknya dengan Junmyeon yang sama sama terbalut kain fabrikan. Mendengar umpatan Junmyeon lalu terkikik dan kembali mengecup Junmyeon, dia tergila gila oleh sensasi ciuman mereka sendiri dan tidak tau kapan udara pendingin ruangan menyapa kulit punggung bawahnya kelewat mudah.

Jemari Junmyeon ada di bawah sana. Memberikan stimulasi kelewat erotis, mengusap punggung hingga ke atas menyusuri setiap keindahan yang Tuhan berikan padanya lewat Yixing. Bahkan perutnya sekarang mulai terjamah dan Yixing bersiap untuk sentuhan pada tonjolannya yang sudah mengeras akibat gesekannya sendiri tadi.

Tapi seolah dia di hadapkan pada Junmyeon yang sering menggodanya, Junmyeon yang diam diam di bencinya, Junmyeon yang terlalu senang membuatnya kesal, kala gesekan di bagian bawah mereka terasa lebih intens hingga membuat kepalanya pening Junmyeon memainkan tubuhnya dengan baik, bibirnya ada di lehernya memberikan tanda kelewat sensual sementara tangannya menari nari tetapi selalu menghindari tonjolan mungilnya, hanya berada di sisinya tetapi tidak menyentuh sepenuhnya.

"Junmyeon~"

Namanya di panggil kelewat frustasi, Yixing bahkan membawa wajah rupawan itu ke hadapannya untuk sebuah ciuman lagi dan lagi, Junmyeon menyeringai jemarinya di tuntun untuk menyentuh si kecil kecoklatan di dada dalam gesekan perlahan hingga gesekan kasar lalu Junmyeon kembali pasif dan menghindarinya, dia ingin melihat bagaimana frustasinya Yixing. Namun anak itu menurut saja kala setelan kaos t-shirtnya di lepas oleh Junmyeon. Lalu dengan dan menatap penuh seringai Junmyeon menyentil tonjolan itu hingga sang empu memekik keras, sampai kata kata 'kumohon' datang dan Junmyeon menghisap keras area itu. Tanpa ampun.

Yixing mendongak, lega bukan main. Tubuh nya dia bawa menopang tinggi untuk memudahkan sang lekaki Kim, sementara tangannya ada di leher belakang juga rambut bawah Junmyeon, menariknya dalam ungkapan atas perlakuan cabul Junmyeon pada tubuhnya. Yixing belum puas membawa satu tangan Junmyeon mengarahkan pada tonjolan satunya dan pekikan satit harus rela dia keluarkan saat jemari itu langsung memberikan tekanan kasar dalam jepitan tangan, memelintir, menarik dan mencubitnya. Yixing kalang kabut terlebih tangan besar Junmyeon ada di bongkahan pantatnya menarik narik melebarkan dan bahkan memberikan tamparan keras.

Yixing mendesah saat bagian lain tonjolan kecil dadanya di sentuh bergantian, Junmyeon kasar dalam memperlakukannya dalam gigitan gemas juga hisapan yang dia rasa bisa membuat dadanya semakin menggembung lucu, Yixing berusaha mengatakan 'tidak' atau 'tolong jangan' namun yang ada hanya nafas putus putusnya yang terdengar.

Junmyeon menyelesaikannya dan menatap wajah luar biasa sayu Yixing dalam kabut nafsu. Dia tersenyum mengusap peluh yang ada di wajah cantik itu lalu mengecup dahi hingga turun ke hidung dan berakhir di bibir cherrynya.

Ciuman mereka memiliki ritme pelan dan dalam kali ini, mengecap penuh rasa yang coba mereka bagi kali ini. Ada begitu banyak kelembutan yang semakin membuat Yixing tremor.

"Aku tidak bisa berhenti." Junmyeon memberikan peringatan.

Yixing hanya tersenyum dan mengecup kembali bibir itu, "Kalau begitu lakukan kim."

Dan Yixing harus rela terbanting ke ranjang di belakangnya dan menerima kukungan Junmyeon, lelaki itu menyeringai dan ia luar biasa tampan dari sini. Yixing membawa jemarinya naik dan melihat keindahan itu, hingga jemarinya di kecup oleh Junmyeon. Yixing terkikik dan dengan nakalnya membawa lututnya bermain di area vital lelaki itu.

Junmyeon benar benar ingin membuat Yixing berteriak frustasi kali ini.

"Aku tidak akan melepaskanmu."

Namun Yixing malah mengigit bibirnya menggoda hingga menekan lututnya dimana kedua bola Junmyeon ada di sana. "Fuck!"

Junmyeon mencium Yixing dalam tarian lidah sengit. Berbagi air liur hingga si kecil tersedak, mengangkat punggung dan pantatnya untuk melepas celana training yang dia kenakan dan hanya melepas satu kakinya, menyisakan kaki satunya masih menyangkut celananya. Yixing tidak protes hanya lututnya kembali berlarian, namun Junmyeon mencekalnya dengan usapan kelewat sensual dari area lutut hingga berputar dan turun menjelajah pahanya yang saat ini terasa mengigil oleh pendingin dan oleh nafsunya sendiri.

Junmyeon kembali menyentil namun ini adalah ereksi kecilnya dan Yixing mengerang begitu indah, jemarinya kembali menari dan menjelajah, hanya dua jari dan bisa membuat Yixing mabuk kepayang.

"Junmyeon ku mohon~"

Dan senyuman Junmyeon justru membuat Yixing mengerang, menggeliat mencari pelampiasan tercepat untuk ereksi juga nafsu yang membumbung tinggi, jemari Junmyeon meraih minyak zaitun yang tadi sempat Yixing gunakan untuk melemaskan luka goresnya. Membuka botol yang diam diam merekam ekspresi wajah Yixing yang tergugu.

"Aku bilang bahwa aku tidak akan melepaskanmu."

Dan tiba tiba Yixing blank tanpa dia ketahui, Junmyeon sudah ada lagi di atasnya namun lelaki itu melebarkan kakinya menempatkan diri di antaranya dan mengecup tutut Yixing sementara satu jemarinya tau tau mengitari lingkaran kenikmatannya, ia mengigil tau apa yang akan di sasar lelaki itu.

"A-ahh~"

Lubangnya di tekan main main oleh sensai dingin, pahanya di kecup di hisap di lecehkan dengan begitu kentara di depan wajahnya, Yixing hanya bisa pasrah dia terhipnotis hanya untuk menatap bola mata kelam Junmyeon yang ada di sana dan semakin terperangkap oleh nafsunya sendiri. Kelembutan dan benda asing itu masuk menyapa lubangnya yang sudah lama kosong. Membuat Yixing mengigil oleh rasa dingin dan licin.

Mendongak Yixing terkejut oleh perlakuan Junmyeon pada penis tegangnya, memegang dalan kocokan bertempo pelan yang semaki lama semakin cepat. Tidak dengan lubangnya yang di mainkan dan kelicinan aktif.

Junmyeon tidak terlalu lama, memainkan serta lidahnya dan menghisap ujung hingga batang ereksi Yixing, mengabsen bahkan tidak ragu untuk mengecup dua buah bola yang membuat Yixing diliputi kenikmatan bertubi tubi. Sebelah tangannya ada di paha menjaga agar anak itu tidak menjepitnya karena nafsu yang membumbung tinggi.

Yixing merasa terlalu banyak dan semakin banyak kala Junmyeon sudah memiliki tiga jari di dalam sana, melebar dalam rasa sakit perih namun bertubrukan dengan nikmat yang ada dari hisapan kuat di area vitalnya. Junmyeon menyeringai lebih kala prostat itu di temukan dengan mudah.

Yixing dia buat kelimpungan karena tekanan di prostatnya lama dan lambat sementara ereksinya di manjakan kelewat intens. Kakinya bergerak gelisah dan Yixing merasa testisnya memberat, bola mata berkabut dan Junmyeon tau akan hal itu.

Organsme akan segera menjemput dan kedutan di penis itu semakin terasa hingga lelehan cairan hangat menyapa lidah Junmyeon. Yixing menerima pelepasan pertamanya, "Ah- Ah! Junmyeon umngh. ."

Punggung melengkung itu perlahan mulai kendur dan kembali berpijak pada empuknya ranjang, Yixing hanya bisa bernafas putus putus sarat akan kelelahan pasca pelepasan. Menarik Junmyeon untuk kembali berbagi ciuman dan kecipak basah terdengar, membagi sisa sisa lelehan yang tadi terkecap di lidah Junmyeon.

Terlena oleh setiap permainan ludah juga tangan Junmyeon, Yixing tidak sadar jika lubangnya sudah tidak lagi tersentuh oleh ketiga jari dan minyak pelumas.

Junmyeon sudah mempersiapkan dirinya dalam balutan pelumas dan bersiap untuk memuai pertempuran di depan lubang Yixing.

Kala ciuman mereka memiliki jeda Junmyeon menatap penuh meminta keyakinan di sana dan siapa sangka Yixing mengeser bongkahan pantatnya mendekat hingga ujung Junmyeon sudah bersentuhan dengan bibir lubangnya.

Satu dorongan dan Yixing di manjakan dalam cubitan tonjolan dada, dia mencoba menahan dan menetralisir sendirian. Namun rasa terbelah juga panas itu tetap ada di sana. "Akh! Sakiit."

Junmyeon tau, menghentikannya dan jemari meraih penis lemas di sana, memainkan jemari ke atas ke bawah lalu mengenggamnya. Merasa sudah memberi jeda dorongan ia lakukan lagi sekalipun Yixing tetap memberikan ringisan sakit. Membungkam bibir cherry dam ciuman dan dorongan semakin Junmyeon berikan hingga setengah miliknya masuk.

"Junmyeon-akh! Tidak! Hentikan!" Yixing kepayahan dalam liputan sakit dan panas namun penisnya kembali di kocok dalam kecepatan membuatnya hampir terlupa bahwa Junmyeon ada di ambang batas kesabarannya untuk menikmati cengkraman hangat lubang nikmat miliknya. Hingga dengan kasar menekan masuk keseluruhan miliknya hingga terbenam habis.

Yixing mengerang dalam sakit yang mendominasi dan Junmyeon memejamkan mata untuk kehangatan nikmatnya.

Perut Yixing menegang seiring benda dalam lubangnya, itu begitu panas dan penuh. Yixing hampir hampir tidak bisa bergerak bahkan jika dia ingin untuk melarikan diri dari rasa panas itu.

Terenggah dan tarikan benda panjang itu terasa, begitu terasa begitu intens Junmyeon membawanya hingga ujung dan masuk perlahan, lelaki itu masih terpejam untuk menikmati setiap inchi tubuhnya di manjakan oleh sempit dan hangatnya lubang Yixing.

Hingga pada tarikan ketiga Junmyeon berani untuk menggempur cepat dan mengukung submisif dalam kukungan kuasanya. Beradu mata dalam kenikmatan yang di cari puncaknya.

Yixing hanya bisa mendesah kala tusukan itu semakin membuat pantatnya bergunjang di hempasi pinggul penuh tenaga Junmyeon. Lelaki itu tidak main main kala sudah menemukan prostatnya dan mengempur tanpa celah di sana.

Menyasar penuh atensi hingga Yixing hampir terlonjak lonjak dalam kukungannya.

Jemari kecil anak itu hanya sampai pada lengan berotot yang mengukungnya, sebatas tenaganya mampu memegang dan bahkan mencengkeram di sana. Merasakan sakit yang terkikis oleh kenikmatan bertubi tubi dari gempuran prostat yang hampir tidak pernah meleset.

"Ungh. . .tidakh! Begitu dalam. .junmyeon ah!"

Begitu dalam Junmyeon menyentuhnya hingga lelaki itu begitu ingin melihat Yixing mengerang keras karena prostatnya di tekan dalam dan lama saat tusukannya memelan tepat, Yixing semakin menggeleng frustasi lagi ketika penisnya yang sudah memerah siap menjemput pelepasan justru di genggam dalam kocokan dan tusukan di lubangnya memelan menjauhi prostat lalu kembali untuk menekannya intens dan lama.

Ini terlalu banyak dan Yixing akan segera meledak setelah ini.

Terbukti dari mengencangnya cengkeraman yang Junmyeon rasakan di miliknya, dia tau jika ini pertanda pelepasan Yixing semakin dekat hingga membuatnya terburu menarik keluar miliknya dan membalik cepat tubuh Yixing untuk tengkurap dan membawanya ke ujung ranjang, dengan kaki menyentuh lantai dan tubuh bagian atasnya masih berada di ranjang, Junmyeon menusuk masuk cepat menuntaskan hasrat yang sebentar lagi kian meninggi.

Mengayunkan pinggul keras memenuhi lubang kenikmatan Yixing hingga miliknya menempel erat, memastikan prostatnya di gempur kasar hingga suara becek akibat precum dan licinnya pelumas memenuhi ruangan.

"Ang -Ahh, junmyeonngh aku-"

Tergagap oleh kenikmatan bertubi tubi yang datang, perut Yixing semakin penuh dan terlilit, dengan penis yang bergesekan dengan ranjang dan dada yang di jadikan sasaran bagi jemari Junmyeon, tusukan dia rasakan teramat dalam kala pinggul Junmyeon mengayun penuh tenaga hingga putih penyapa dan pening kepalanya terangkat seperti melayang menikmati tiap tusukan intens hingga rasa sesak akibat penis Junmyeon yang membesar dia terima didetik berikutnya, lelaki itu akan mencapai pelepasannya segera hingga Yixing dengan sisa tenaga mengetatkan lubangnya memancing sang dominan dalam pusara kenikmatan.

"Fuck!"

Junmyeon mengumpat tau jika si kecil sengaja melakukannya hingga pada tusukan ketiga dia melepaskan benihnya di lubang Yixing lalu ambruk begitu saja. Detik berlalu dan Junmyeon bangun hingga dia merasa jika tubuh Yixing merosot,

Bersiap untuk terjatuh jika saja tidak Junmyeon menahan pinggulnya dengan kedua tangan. Membawa dalam gendongan untuk menyapa empuknya ranjang lebih cepat, menutupi dengan selimut dan bergabung setelahnya.

Junmyeon mengecup gemas pipi Yixing yang hanya di tanggapi gumanan kecil si pemilik yang sudah menutup mata sarat lelah dan tenaganya yang habis terkuras, dan setelah kecupan di dahi terakhir Junmyeon ikut membawa dirinya larut dalam alam mimpi.

.

.

.

.

.

Berjalan tertatih dengan tubuh nyeri hingga tenaga yang masih terisi separuh. Tubuhnya di balut bathrobe lembut terpantul di depan kaca wastefel. Bersemu merah lalu menunduk tanpa sebab sekalipun hanya ada dia di sana.

Jemarinya merambati bekas merah dalam lingkaran leher jenjangnya dan senyum itu hadir di sana, oh tidak. Sepertinya wajah Yixing memerah hingga dia lupa untuk apa dia ada di sini sekalipun ini masih pukul 4 dini hari. Yixing menyelesaikan pekerjaannya cepat kendati tubuhnya bisa di ajak kompromi namun dia butuh begitu banyak istirahat sebelum Junmyeon bangun dan segala kebutuhan lelaki itu akan menjadi tanggungjawabnya.

Mengenakan training dan kemeja seadanya Yixing menyergit kala mendengar gesekan yang di yakini jendela terbuka. Apa lelaki itu sudah bangun?

Terburu oleh pikirannya hingga membiarkan bathrobe tersampir begitu saja di samping wastafel, Yixing membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar.

"Junmyeon? Kau sudah bangun?" Bertanya sembari membawa kakinya melangkah keluar menyusuri gelapnya ruangan yang minim pencahayaan dan Yixing hanya sadar bahunya di tarik mundur dengan cepat dan mulutnya di sumpal oleh sapu tangan basah yang membuat kepalanya ringan lalu semua gelap.

.

.

.

.

.

Seharusnya semua baik baik saja. Semua berjalan dengan sempurna. Semua semestinya ada dan tidak lagi hancur bermasalah. Seharusnya bukan?

Matahari bersinar dengan semestinya, udara masih cenderung dingin dan sejuk -itu baik, langit cederung cerah namun berawan semestinya semua keadaan ini memperbaiki diri juga jiwa seseorang. Semestinya bukan?

Tetapi, seperti sebuah deburan ombak yang berlalu cepat menghempas pinggiran pantai dan menyapanya lalu kembali ke laut. Seperti Junmyeon yang kehilangan segalanya begitu banyak. Semuanya, dirinya juga jiwanya termasuk kesabarannya yang tiba tiba menguap entah kemana di gantikan cepat dengan kemarahan juga frustasi di dalamnya. Mengembang seperti sebuah setetes tinta yang menyebar cepat dalam air dan menguasainya terlampau banyak.

Bora sudah ada untuk meredam semua gejolak api yang akan menbakar apartement Yixing, bukan sebuah api yang sesungguhnya melainkan kemarahan Junmyeon. Lelaki itu sudah bertumpu pada meja yang berantakan. Bukan hanya meja namun seluruh kamar sudah sepenuhnya hancur berantakan, sehancur perasaannya karena kehilangan Yixing untuk kedua kalinya.

"Cari tau semuanya!" Junmyeon bahkan tidak menoleh pada Bora dan Taekwoon yang datang tergesa.

"Apa yang terjadi?" Taekwoon berjalan melewati kertas bersebaran, bingkai foto yang tergeletak. Bahkan beberapa buku dan lampu meja yang tumbang.

"Aku jelas tau jika mereka berniat menjauhkanku dengannya." Taekwoon terkejut, jika maksud Junmyeon hanya memisahkan yaitu membawanya ke mansion.

"Junmyeon. . ."

"Jendela terbuka paksa dari luar dan handuk yixing terjatuh, bahkan lampu kamar mandi masih menyala." Bora melangkah mendekat setelah sebelumnya keluar dari kamar dimana Junmyeon berada.

"Di culik, atau di bawa paksa. Entah dalam keadaan sadar atau dalam pengaruh obat bius aku tidak tau." Junmyeon mengusap kasar wajahnya terlampau penat dengan semua hal.

"Apa perintah tuan muda sekarang?" Bora bersiap dan Taekwoon bahkan tidak bersuara.

"Pindahkan kepemilikian wilayah thailand, aku akan hancurkan mereka sekarang juga."

Mengangkat telepon dan bunyi klik terdengar hingga Bora mengucapkan sepatah kata, "Kembali sekarang."

Pip-

"Mereka akan ada dalam perjalanan 30 menit untuk sampai, tuan."

Ya, dalam 30 menit juga semua tim akan berkumpul dan Junmyeon tidak main main dalam rencananya untuk menyerang Zhang kali ini. Dia mampu dan akan merebut apa yang telah mereka ambil darinya.

Ketiganya meninggalkan apartement Yixing setelah Junmyeon mengatakan dirinya baik baik saja kepada Taekwoon, lelaki itu mengkhawatirkannya namun pikiran Junmyeon hanya tertuju pada Yixing dan Yixing. Hingga dengan tergesa dia keluar dari apartement menuju basement parkir dimana mobil Bora ada di sana.

Tinggal enam langkah mereka sampai sebelum sebuah mobil jeep berhenti tidak terlalu jauh darinya, "Yo hyung, kita bertemu lagi."

"Fuck! Aku tidak percaya akan bertemu mereka di sini." Taekwoon mengumpat dan Bora yang menatap tidak bersahabat. Dua orang jelas jelas memiliki sejarah buruk dalam sebuah kepentingan dan keuntungan.

Sedangkan Junmyeon, "Jangan datang jika kau hanya menyapa, chanyeol."

"Hanya menitipkan kunci, mungkin?" Lelaki itu berjalan mendekat lalu melempar kunci mobil yang di tangkap baik oleh Junmyeon.

"Kau sedang menunjukkan dukunganmu?" Tanya Junmyeon menatap penuh seringai pada kunci mobil jeep yang ada di tangannya.

"Ikut kami." Mereka pergi dan Chanyeol masuk ke dalam mobil sedan hitam yang sudah jelas Sehun di sana sebagai pengemudi.

Mereka di bawa ke dalam jalanan terowongan dan sebuah kompleks sepi penuh penjagaan. Junmyeon tidak menganggap lebih untuk hal hal itu hanya menjalankan jeep lalu berakgir pada sebuah gerbang lebar yang di jaga ketat.

Anak anak Wu memang seperti inikah?

Junmyeon malas memikirkannya dan membiarkan dirinya di bawa masuk lebih dalam.

"Mereka yang ada di sana akan setia menunggu perintahmu, ini janjiku seperti sebuah pilihan aku untuk ada di pihakmu. Bahkan seluruh Wu yang ada di Changsa akan ada untukmu."

Sebuah penawaran menggiurkan datang dan berhembus sesegar angin pagi, semanis buah di musim panas. Chanyeol disana menunjukkan kekuatannya dan penawaran terbaik. Sedangkan Junmyeon, dia tau jika ini pasti berkaitan dengan lelaki bermarga Byun yang dulu selalu diceritakan Yixing. Akan kedekatan mereka dan perlindungannya.

"Kau sedang berusaha menunjukkan partisipasimu?" Itu pertanyaan dari Taekwoon, hampir hampir dia heran bagaimana Chanyeol dan Sehun selalu tau banyak hal yang terjadi pada Kim dan keluarganya.

"Well, justru menyenangkan. Bagaimana aku ada dalam bagian pemilik dari thailand dan sekarang changsa akan kau porak porandakan. Bukankah nama wu akan ikut naik?"

Tampan sialan! Senyuman Chenyeol bertebar tanpa tau malu akan ucapannya, sudah Taekwoon duga jika akan ada banyak maksud dalam keikutsertaannya kali ini. Dia tipe orang yang akan membantu jika itu menguntungkan. Sialan bukan?

"Bedebah kau yeol." Sekonyong konyong Junmyeon mengatakannya namun hanya di tanggapi kekehan tak bermakna.

"Tetapi sampaikan salamku pada appa untuk mengirim setiap langkah kalian ke sini."

Kim itu selalu tau dimana bagian terbaik untuk menekan seseorang, Junmyeon tau jika Tuan Kim tidak akan terdiam bahkan setelah memegang Oh Yunho yang merupakan ayah Sehun sebagai sekutu. Well, kala kembali ke Seoul ia akan mendengar cerita bagaimana seorang Oh Sehun tunduk di bawah perintah Tuan Kim.

"Fuck!"

Lihat bukan? Bagaimana umpatan Sehun sudah jelas jika appa nya tidak main main kala mengancam Sehun.

Bora meraih atensi lebih tidak peduli bagaimana ke empat lelaki itu saling menikam melewati kata kata, "Mereka akan kita pakai untuk jalan utama menuju mansion, ada sekitar empat atau tiga pos aktif yang menjaga di luar."

"Ya, dan bawa dasom lebih cepat bersama yang lain." Junmyeon memberi perintah.

"Junmyeon aku tidak menyarankanmu dengan glock, tidak akan pernah!" Seru Taekwoon kala jemari Junmyeon mulai merambati keindahan mematikan sebuah Glock.

"Jangan menentangku!" Desisnya penuh kemarahan.

"Pikirkan yixing. Bagaimana hancurnya anak itu jika tau kau pelindungnya juga seseorang yang begitu dia kagumi justru menjadi pembunuh dari orang tuanya." Jelas Taekwoon yang tau kelemahan terbesarnya.

"Dan bahkan mereka yang menjauhkan yixing dariku!" Bela Junmyeon seraya menatap tajam Taekwoon.

"Junmyeon ini ujianmu! Bukankah kim di ajarkan untuk menyembuhkan namun juga menabur luka? Aku yakin kau punya banyak cara untuk menaklukkan mereka."

Namun sesungguhnya di balik ucapan Taekwoon mrnyembunyikan satu fakta, bahwa Junmyeon harus bisa menekan egonya untuk mengantar kematian seseorang hari ini. Mereka bukan akan membunuh tetapi melumpuhkannya. Tetapi kalian bahkan terlampau hafal jika Junmyeon hanya ada untuk mengantar kematian dan penyiksaan pada mereka hingga menuju ambang batas jembatan keputus asaan dan teriakan nyaring nyanyian kematian.

Ini tantangan baru untuk Kim bagaimana menyikapi emosi dan ambisi membunuhnya. Dan Taekwoon cerdik dengan menggunakan Yixing sebagai alasannya hingga bisa di lihat bagaimana Junmyeon berangsur memejamkan bola matamya dan mengontrol baik baik jiwanya. Menormalkan setiap tarikan nafasnya dengan bola mats menerawang baik baik dalam pola pikir yang coba dia bangun sedikit demi sedikit.

"Berapa jumlah bius yang kita punya?" Lihat bagaimana ptaknya cepat berputar.

"Gunakan jarum bius, bola asap dan sedikit ledakan, sisanya singkirkan dan ikat. Aku mau dasom ada bersama kalian berdua." Rencana dimulai dan Chanyeol diam diam berdecak kagum.

Glock terlempar dan Junmyeon menyelipkan pisau di sisi belakang tubuhnya, "Aku benar benar ingin menghancurkannya asal kau tau taekwoon."

"Mereka adalah bagian dari kehidupan yixing dari masa kecilnya, jangan rusak mereka junmyeon setidaknya biarkan yixing memiliki masa kecilnya yang bisa dia kenang." Itu sebuah kebenaran yang tersimpan di balik memanfaatkannya sebagai lamdasan menekan Junmyeon dan tindakannya.

"Tidak seperti kita."

Itu fakta mmenyakitkan yang tidak seharusnya terucap.

"BRENGSEK!" Dan Junmyeon menendang dengan baik meja di depannya hingga roboh.

Taekwoon sudah hafal reaksi itu, dimana Junmyeon akan menghancurkan apapun jika ingatan tidak mengenakan masa kecilnya di umbar begitu kentara oleh orang lain. Namun Taekwoon harus melakukannya -terpaksa- karena jika tidak Junmyeon akan masih membiarkan dirinya menyentuh keluarga Zhang sedikit dan itu akan membuat Yixing hancur saat mengetahuinya.

"Hancurkan mereka dengan ledakan, tuan. Dan sisanya kita bereskan." Bora tau banyak akan masa kecil kelam milik Kim jadi dia ada untuk meredakan setiap jarum tak kasat mata yang di tebar Taekwoon barusan.

"Setidaknya aku membantu untuk urusan depan, bagian dalam kalian sendiri yang urus." Chanyeol segera mengambil tindakan.

"Hmm." Balas Junmyeon.

"Tuan muda, sekarang mereka sudah ada diperjalanan." Bora menurunkan ponselnya dan menatap Junmyeon,

Laki laki itu terdiam beberapa saat lalu memejamkan matanya hingga tatapan setajam elang itu terbuka lagi sebuah pesan suara menginterupsi kegiatan mereka semua.

"Jangan bergerak sedikitpun dari sana, karena untuk masuk ke dalam pengamanan zhang kalian butuh lebih banyak orang dalam."

Dan Bora benar benar tersenyum, itu jelas suara Minseok yang sekarang berada dalam perjalanan. Mereka memperoleh guide dengan adanya Minseok dan juga Dasom. Meskipun Junmyeon harus menunggu sebentar lagi namun semua ini akan mengawali semuanya.

Mari menghancurkan zhang,

.

.

.

.

.

Tbc-

Hei, ini Luce. Eumm aku datang setelah 3 bulan. Ini begitu terlambat, aku ga akan cerita apa yg terjadi hingga begitu lama namun maaf dan maaf sungguh maaf untuk datang terlambat. Ada banyak yang akan aku sampaikan dan berharap kalian mau membaca bagian kecil ini.

- Next chap, mereka bertiga akan bertemu. Junmyeon - Yixing -Yifan

-Aku berfikir untuk segera menentukan ending dan epilog untuk ace.

- Ada banyak pertanyaan, salah satunya apa yang kalian inginkan di ending? Aku berfikir bahwa ending akan sangat berpengaruh bagi sebuah cerita dalam meninbulkan kesan dan aku sudah takut bahkan sebelum mencoba, apa kalian berminat untuk mengatakan keinginan kalian? Setidaknya ada sebagai masukan?

- Untuk readers kesayangan, hei kalian tahukah jika aku begitu bersyukur, bangga dan haru bisa memiliki kalian sebagai pembaca setia. Aku bahkan malu bagaimana menyampaikan keterlambatan ini, dengan cara penyampaian informasi kapan update yg minim. Kalian memenuhi kolom review bahkan setelah aku vakum 3 bulan di chap pertama 'vanille' itu benar benar membuatku malu pada diriku sendiri dan juga terharu, kalian menghargai karyaku dengan sangat baik. Terimakasih sudah membuat saya banyak tersenyum dengan setiap ketikan review yang datang.

- Untuk 'gues' kesayangan yang selalu panggil kak tapi ga ada satu inisial disana dan juga 'krongindororo' kalian seperti dua adik kecilku yang manis. Terimakasih untuk selalu mengingatkan saya cepat update. Bukan hanya kalian tetapi banyak dari kolom review dan saya ga bisa benar benar membalas satu persatu. Tapi tetap akan saya ucapkan terimakasih sudah membaca ace dan menghargai karya ku, siapapun visitor yang masuk untuk berkunjung sekalipun tidak ada untuk meninggalkan pesan tapi besar harapan, hati kalian akan menghangat dan bahagia dengan kehadiran 'ACE' juga semua karyaku. Sekali lagi terimakasih.

Dan karena saking lamanya saya lupa kapan saya mulai update chap 11 dari awal teaser sampai full chap, okay tetapi chap 12 ini akan aku persembahkan spesial buat kalian ;

Guest; Krongindororo; Nowords; heeriztator; bunnysheep91; Bee614; naluw; Dudu Luv Nini males login; Guest anak kost ; dll.

Oh lupa, untuk next chap belum bisa tentukan kapan karena awal desember aku ada kegiatan dan untuk libur kerja baru akan dimulai pada perayaan natal hingga tahun baru. Jadi jaga kesehatan kalian dan semoga sukses.

Luce, 29 November 2018