A/n :

Aku memulai draf chap ini setelah mendengarkan 'sign' sebelum membuatnya, ku fikir itu memiliki tempo yang cocok dan sesuai.

.

.

.

.

.

Keputusan sudah di ambil

Permainan dalam usaha menyerang dan bertahan.

Saling berhadapan kedua pimpinan.

Menguasai dan dikuasai.

Dengan dimintanya Zhang Yixing.

Kepemilikan sah dari Kim.

Maka dengan hal itu, peperangan dimulai.

Chap 13 : Mine!

.

.

.

.

.

Udara sesak oksigen menipis, jemari meremat kemudi dengan adrenalin terpacu, seperti jarum barometer yang merambat naik dan naik, semakin dekat dan dekat, seolah tidak menapak di jalan luas tetapi berada di arena balap. Bibir di gigit perlahan menunjukkan kegugupan yang begitu kentara. Ruangan menyempit otak bekerja keras dua kali lipat. Gerbang menawan di depan, kokoh gagah berdiri menunjukkan kepemilikan sah tanah terlarang.

Mobil mercy hitam menepi pada pos jaga terdekat sebelum kemewahan gerbang agung terlewat, menampilkan seorang lelaki bertubuh gempal dengan kacamata hitam yang menghadang, berdiri kokoh seolah manekin alih alih anjing penjaga, pintu kemudi terbuka dengan kaki putih mulus balutan hells merah menawan, menampilkan belahan separuh paha dengan setelan rok berwarna putih.

Wanita dewasa dengan blush kurva leher rendah, menyibak rambut kebelakang, tatapan mata menarik penuh godaan, bibir terpoles merah mawar terbalut senyuman manis menawan, menyandar mobil dengan begitu anggun juga menggoda dalam tatapan.

"Apa maumu?"

Terkekeh pelan, alih alih godaan yang dia harapkan justru sambutan galak anjing penjaga. Mencoba tidak tergoda rupanya.

"Aku kim dasom, satu dari dokter pribadi tuan muda zhang, ku fikir kau sudah hafal dan membukakan pintu lebih cepat."

Mata menyelidik pandangan menilai, alih alih bertanya lebih banyak justru komentar yang di dapat, "Kau tidak terlihat seperti dokter nona!"

"Berikan satu lenganmu dan biar aku suntik kau!"

Rupanya Dasom lebih suka berdebat daripada diam tidak masuk dan memulai pergi, dan benar saja Dasom lebih suka di sana lebih lama, berbalik hanya sekedar bertanya bau botol farfumnya.

"Apa ini terlalu wangi menurutmu? Ini hari penting bagiku."

-Bruk!

Satu seprotan dan tubuh di depannya ambruk tanpa daya. Dasom dan semua hal tentangnya ada untuk peringatan, berpura pura menunjukkan baru farfum dalam spray lalu semprotan itu datang dalam bius tinggi.

"Lama! Apa saja yang kau lakukan!"

Bentakan kasar tiba tiba berseru dan bola mata berputar menjadi jawaban. Kakinya menghentak dalam balutan protes yang kentara, "Siapa suruh memakaikanku baju dengan belahan serendah ini! Astaga kau tidak lihat bagaimana mata mereka begitu ingin aku congkel!"

Ganti Bora yang memutar bola matanya lelah, menendang kasar tubuh di depannya, dalam pos dia sudah menyingkir beberapa orang -dengan kemarahan- dan juga kekesalan karena Dasom dinilai kurang greget dalam menyingkirkan satu orang saja.

"Setidaknya kau masih memakai baju lengkap dasom."

"Tapi tidak seterbuka ini juga!"

"Ya sudah buka saja sekalian bajumu kalau kau merasa rugi pakai yang setengah setengah!"

Bora dan pemikiran agresifnya, memang dalam sebuah nama 'Black and White' itu begitu terwujud dengan pola tingkah mereka berdua termasuk ketika mereka berdebat dan tidak sesuai dalam pemikiran atau ide. Dasom ingin mengumpat dan Bora yang jengkel sendiri.

Mengesampingkan kemarahan mereka, komputer di atur sebagai mana hingga gerbang terbuka dan cctv hanya menampilkan clip seputar menit menit terakhir sebelum gerbang dan pos penjagaan berhasil mereka kelabuhi.

Dengan masuknya empat pengendara montor dan Bora yang masuk ke mobil dengan Dasom yang mengemudi di belakangnya mobil jeep hitam mereka mulai berjalan menuju pos selanjutnya dan mansion Zhang yang menjadi tujuan.

"Pos pertama selesai."

.

.

.

.

.

Pos penjagaan Zhang memiliki kunci pada bagian pertama sekali kau bisa lolos disana maka semuanya akan sangat mudah, bagaimana kawasan mereka di jaga dengan sedemikian rupa tetap saja akan ada celah untuk memanipulasi keadaanya. Meskipun begitu setiap cctv tentu tersebar dengan apik bagaikan pucuk pucuk tumbuhan yang keluar dengan serentak dan memiliki renggang yang pas.

Itu sebuah hal wajar. Bagaimana penjagaan diperketat untuk menjaga semua antek antek terbaik mereka yang duduk nyaman di singgasananya tanpa mau tau gangguan baik itu tikus tikus tanah atau para pemburu harta yang berpura pura dalam balutan baju senada.

Zhang terkenal dengan bagaimana benteng keker mereka ada dan menjaga, sekalipun jangan pernah lupakan jika anjing anjing patuh mereka akan ada dan tidak segan untuk menghabisi setelah turunnya perintah dan orang orang yang dijadikan buruan.

Dasom berkeringat tanpa sadar bagaimana mereka menjadikan dirinya dan seluruh anggota Kim adalah target buruan, kepala mereka bahkan bisa di tukar dengan apapun harta yang kau minta, itupun jika bisa. Namun tetap saja dalam dunia hitam jangan berharap segala kemungkinan yang belum pasti itu tidak mungkin terjadi, sehingga kata kata apapun mungkin itu bisa saja terjadi.

"Apa yang ada dalam pikiranmu?" Bora tau gelagat itu duduk di bangku kemudi mengikuti rombongan beberapa anak buah Wu Chanlei yang mengacau di depan.

Mereka bersenjata lengkap dengan laras panjang bahkan bom asap ataupun bom aktif yang siap meledak juga geranat. Anjing penjaga Zhang juga sepertinya sudah sadar berusaha menghadang dan bahkan mengejar. Namun mereka teramat piawai untuk urusan iring iringan ini. Bahkan Dasom harus akui dia merasa setidaknya dijaga dengan baik dengan beberapa anak buah yang membuntuti juga di samping kanan kiri mobil Bora; dengan sepeda montor mereka.

"Kau seharusnya tau jika ini pertama kalinya aku ikut ke lapangan langsung." Ungkapnya gemetar.

"Aku ada disini adik kecil." Panggilan itu; panggilan lama yang bahkan Dasom lupa sudah berapa lama tidak mendengarnya.

"Kita akan segera bergabung dengan tuan muda minseok."

Suara sambungan handsfree terdengar dan Bora bersiap dengan pistol yang dia simpan seluruhnya di mobil sedang Dasom mulai membuka semua perlengkapannya dan menyisipkan di tubuh pada bagian yang dia jangkau dengan baik.

"Lets play!"

Komando terdengar perintah mengaum, menimbulkan seringai seringai licik di balik kemudi, anak anak Wu sama di didiknya dengan kejam dan beringas jika urusan misi ataupun pengamanan, maka jangan tanya jika dengan leluasa kala pos selanjutnya ada di depan mata maka geranat geranat terlempar dengan apik.

Duar

Duar

Duar

"Lakukan pembersihan, kalian tidak perlu khawatir soal cctv."

Dan senyuman senyuman bengis jelas terlihat. Bora menilik kembali spion mobilnya untuk tersenyum, mobil milik Taekwoon dengan Minseok dan Kyungsoo di dalamnya sudah ada di belakangnya.

"Kita selesaikan mereka lebih cepat, aku tidak sabar melihat penyambutan di pintu utama."

Itu suara Minseok, dengan handsfree maka semua orang mendengarnya, namun Taekwoon yang jelas jelas memegang kemudi di sampingnya terkekeh, "Ada yang begitu merindu dengan rumah ternyata."

Jongdae mengemudi dengan balutan wajah tenang tanpa raut panik di dalam hembusan nafasnya, Jongin di sampingnya mengisi peluru dengan tatapan ke depan memberikan salah satunya untuk Jongdae yang tanpa tau tau mengacungkan moncong pistolnya keluar jendela dan menyasar tiap kepala yang masih berdiri tegak mengikuti mobil mereka dengan beberapa montor mengusik pengamanan anak buah Wu.

Dor

Dor

"Wah, rupanya berfungsi."

Jongin merotasikan bola matanya sinis, lalu terdengar pelan gumanan Jongin seperti 'Bedebah itu.' Jongdae mendengarnya namun enggan berkomentar. Melihat Jongin yang mulai mengeluarkan sebagian tubuhnya menghabisi beberapa mobil di belakang mereka yang jelas jelas anak buah Zhang.

Dor

Dor

Dor

"Sialan! Berapa lama lagi!"

Umpatan Jongin terdengar dan Minseok di depan sana tersenyum, "Kita sampai."

"Itu artinya tidak masalah dengan pembersihan."

Duar

Dua mobil sedan hitam yang mengikuti mereka terbakar dan terpelanting hingga terbalik begitu dramatisnya.

"Berhenti sekarang juga!"

Dan rombongan Kim menurut untuk turun dari mobil mereka. Dengan Tuan Muda mereka yang memimpin.

Kim Minseok, berdiri dengan angkuh dan jemari di kedua saku celananya, menatap penuh ambisi menantang setiap mata yang ada di depan mereka untuk menghadang.

"Ti-tidak. . ."

Senyuman yang dia tunggu tunggu akhirnya bisa dia hadirkan, di hadapan seluruh anak buah Zhang berdiri dengan seorang yang pernah menjadi bagian dari tubuhnya, Zhang Xiumin. Ada dengan kejadian masa lalu dan tentunya para anjing penjaga tidak pernah lupa bagaimana mereka mengenal mantan Tuan Muda mereka yang selalu dalam didikan Showluo dan juga kasih sayang Yixing. Minseok menatap dalam decakan remeh selanjutnya, "Masih berani menghadangku?"

Dan saat orang orang di depannya tidak bereaksi Minseok membentak, "Menyingkir!"

"Tuan muda xiumin. . .kenapa bisa de-dengan."

"Bodoh! Mereka target kita!"

"Kau gila jelas saja tuan muda xiumin ada di sana!"

"Idiot! Penggal kepalanya dan kita akan dapat separuh dari wilayah selatan changsa!"

Tap- tap- tap

Bora mendekat dengan percaya diri di samping Minseok yang berdiri tegap. Lalu menatap berapa jumlah antek antek yang jelas jelas menyerukan peperangan di hadapan Tuannya.

"Negoisasimu tidak bisa berjalan jika kalian saling berseru satu sama lain tuan tuan."

Dasom ikut mendekat dan menopang kedua tangannya di atas pintu mobil kemudi Bora tersenyum manis hingga- Buff

Jleb-

"Akh!"

Bruk! Seorang anak buah di barisan paling depan terjatuh dengan jarum yang menancap di lehernya,"Nikmati sarapannya."

Lima buah bom aktif terempar mengenai mereka hingga tidak menunggu hitungan detik yang lama terdengar ledakan di sana, Bora dan Minseok reflek melompat menghindar.

Duar

Duar

Duar

Satu dari kelimanya adalah bom asap hingga jangan tanya jika Taekwoon maju bersama Jongdae bertarung dengan tangan kosong menghajar dengan pukulan tendangan juga pelintiran leher yang patah seolah itu hal hal yang ringan terdengar. Bunyi patahan tulang hadir hingga tanpa sungkan tendangan di perut juga punggung, Jongin melayangkan sikut membentur hidung anak buah Zhang hingga berdarah lalu tanpa sungkan melayangkan putaran untuk menendang hingga tersungkur mencium tanah.

Bora menyiapkan dua pistol pada kedua sisi tangannya dan Dasom di belakang dengan pisau dalam genggaman, meremehkan. Seorang bedebah Zhang memegang bahu Dasom menarik kasar, tidak terima ayunan pisau melayang menyasar wajah kejam di sana. Berdecih karena hanya sebuah goresan tipis yang mengeluarkan cairan, Dasom menyeringai karena pada dasarnya itu racun yang bekerja cepat dalam melumpuhkan seseorang hingga tanpa tenaga tendangan ringan Dasom saja bisa membuatnya roboh.

"Mau coba mencicipinya." Mencoba menggertak namun justru seruan menantang yang di terima.

"BUNUH WANITA SIALAN ITU!"

Umpatan Bora sepenuhnya mengudara, melempar pisau pipih menembus tepat di jantung satu orang terdepan penyerang Dasom, tidak menunggu waktu pistol mengayun membentuk ritme melayangnya bulir peluru penembus titik titik vital. Juga tendangan yang tidak main main dari seorang wanita, jangan lupakan hells mereka yang menimbulkan rasa tusukan sakit tersendiri.

Taekwoon sepenuhnya berdecak, "Kau bilang hanya gunakan cara lembut dan obat bius, kenapa berubah begini!"

Bora dan Dasom tau tau menjawab serentak, "Peduli setan!" Dan dada seseorang yang sudah terduduk dengan lutut di tendang Dasom tanpa peduli.

Junmyeon keluar dari mobil dengan dan tanpa suara, dari tadi hanya duduk menikmati momen momen timnya bermain dengan anjing anjing buruan mereka. Tanpa berminat atau menyahut dalam balutan perintah melalui handsfree, lelaki itu bahkan tidak bersuara hanya berjalan dengan angkuh menginjak mayat mayat yang bertaburan seperti guguran bunga di musim semi.

Menyaduk kepala seseorang yang tengah berusaha bangkit dengan sebelah kakinya. Junmyeon mengarahkan moncong Dessert Eagle menembus dahi bawahan Zhang. Jongin dan Jongdae otomatis melirik kebelakang mereka dimana Junmyeon berdiri tegak mengusap moncong Dessert Eagle yang otomatis membuat kedua Kim bersaudara mengambil pistol masing masing menyisir kedepan jalan Junmyeon untuk mengcovernya.

Nyanyian kematian tidak bisa di hentikan atau bahkan dibuat sekecil mungkin untuk tidak membangunkan pemilik rumah, namun itu hanyalan khayalan konyol yang jelas jelas tidak mungkin terjadi. Sambutan terbaik ada di ruang tengah begitu semua bagian dari Kim berdiri menginjakkan kakinya di mansion Zhang. Mereka menuju dimana ruang tengah menyapa kemegahan kekuasaan Zhang disana. Dan benar saja, Zhang Showluo juga Wangxun ada untuk menyambut mereka.

"Aku tidak menyangka jika kau akan bertindak sejauh ini Junmyeon."

Wajah marah penuh aura membunuh Showluo layangkan namun Junmyeon tidak merespon barang sepatah pun, hanya menatap datar tanpa emosi di sana. Sedangkan ruangan itu menjadi sangat terasa sempit karena banyaknya anak buah Zhang yang mulai ada untuk menghajar mereka.

"Tidak ada kata selamat jika kau sudah mengenal Kim lebih daripada nama mereka hyung." Minseok menyahut dalam selimut kemarahan yang tiba tiba bersarang.

"Biarkan tuan junmyeon lewat dan semua akan baik baik saja." Dasom menimpali.

"Seharusnya aku lebih bersikap tegas pada kalian semua. Bereskan!"

Dor

Dor

Pyar!

Duar!

Jongin dan Jongdae sadar jika mereka hanya ada untuk kata sambutan yang ujung ujungnya akan sama yaitu peperangan, hingga keduanya berkomplot setuju untuk satu menembak lampu gantung kristal dan satu menembak sambil melempar bom asap.

"BRENGSEK!" Umpatan itu membuat kedua Kim bersaudara senang.

"Akan kami buatkan jalan, cukup pergi dan temui pentolannya hyung, percayakan pada kami."

Jongin dan jongdae memasang masker mereka tanpa sungkan menembus asap yang sudah cukup berkurang menghajar sisa sisa orang yang bertahan dari serangannya.

.

.

.

.

.

Yixing mengejap menyapa cahaya, retina beradaptasi dengan nafas tersenggal. Sapuan hangat mantel ada dalam pelukannya. Senyuman manis sang kakak keponakan ada untuk sebuah salam paginya. "Hai, kau sudah bangun."

Itu senyuman yang menawan dan memikat tentu saja, namun Yixing tergagap menilik sekitar hingga keadaan dalam mobil yang berjalan dia temukan jawaban.

Dia di culik atau singkatnya dia di bawa paksa.

"Kau tentu tau jika paman bahkan tidak memberimu waktu lebih."

Yang seharusnya Yixing tau jika keluarganya akan tetap kolot untuk tidak menerima Junmyeon dan Kim sebagai pasangannya, belahan jiwanya.

"Aku akan menurut kemanapun kalian membawaku menjauh, tapi ada satu tempat yang ingin aku kunjungi."

"Yixing, Kau tentu tau jika kau lebih dari sekedar keponakan bagiku. Jadi katakan."

"Rumah ibu."

Dan Victoria meremat setelan abu abunya menilik Yixing dan pandangan kosong yang membelah sisi pinggir jalanan sebagai hiburannya.

"Sebentar lagi kita sampai."

Hanya itu yang dia bisa, membiarkan anak kecil di sampingnya mengunjungi rumah ibunya sebelum benar benar meninggalkan Changsa menuju Beijing lebih cepat.

Yixing terdiam tanpa suara, sekalipun Victoria selalu menekankan ada dalam pihaknya namun dia juga bukanlah seseorang yang bebas dalam bertindak dalam kawasan Zhang hingga akan sama saja menatap Victoria sekarang yang ada dalam pengawasan Babanya, Zhang Honglei.

Mobil mereka berhenti di depan sebuah gapura hitam terawat penuh kemegahan, menunjukkan tidak siapa saja bisa ada di sini. Hingga rumput rumput hijau rapi dan terawat menyapanya.

Yixing menapak menguatkan hati dan tekat, berbisik pada hembusan angin akan kedatangannya, Victoria di belakang menilik lau berbalik menuju toko bunga tak jauh dari mereka ada. Membiarkan anak itu bernafas walau hanya di rumah ibunya.

Pemakaman itu nampak sepi, wajar karena hanya keturunan Zhang yang disemayamkan di sana. Melihat beberapa makam makam terawat, membiarkan kaki kaki kecilnya memijak dan mendekati satu pusara yang berada di atas, cukup baik untuk menemuinya dan mengucap salam dalam senyuman penuh rasa sendu dan emosional di dalamnya.

"Ma, aku merindukanmu."

Lutut bergetar tanpa kuat menopang berat tubuhnya, terduduk bersimpuh di samping pusara sang ibunda. Bercerita dalam setiap kata dan tangisan. Yixing terlarut hingga membiarkan dirinya terjatuh dalam memori masa lalunya. Victoria berjalan memasuki area pemakaman membawa bunga mawar putih kesukaan bibinya namun dalam langkah mendekatnya ada siluet hitam di balik pohon di depan mereka yang cukup memiliki jarak dan keterkejutan ada untuk menyapa di menit selanjutnya.

Dalam balutan jaket hitamnya, berdiri tegak seorang Wu dari salah satu penerusnya, Yifan ada di sana. Bola mata tajam mengamati penuh emosi yang tidak terbaca.

Victoria mengigit bibirnya ketakutan, hingga membuat buket bunga yang dia bawa berakhir di tanah dan moncong pistol teracung melawan. "Apa yang kau lakukan disini tuan wu!"

Hal itu tentunya mengejutkan Yifan maupun Yixing yang sama sama menatap Victoria dengan moncong megacung dan tergugu hingga pandangan keduanya bertemu. Tatapan setajam elang itu melunak, melembut berharap kehangatan mampu tersalurkan sekarang. Sedang tatapan bola mata kecil berpendar gugup juga takut, ada rasa penasaran bagaimana lelaki Kanada itu bisa di sini. Namun rasa takut juga khawatirnya menyeruak melihat bagaimana Victoria ada berjaga darinya.

Yifan tidak menggubris keberadaan sang wanita hanya menatap terpaku lalu mengambil langkah mempersempit lebar jarak.

"Diam disana! Aku bilang diam disana!"

Victoria berteriak penuh tekanan, berharap banyak dapat menghambat langkah tegas lelaki di seberang sana. Namun percuma seolah hembusan angin tak berarti semuanya hanya lewat tanpa makna.

"Begitu lama aku berharap hari dimana aku dapat melihatmu lagi, yixing ah."

Menguatkan diri sendiri Victoria menarik pelatuk, menargetkan tubuh pria di ujung sana atau jika bisa kepalanya,

Dor

Yifan mengeringai sinis menatap sang wanita keturunan Zhang dengan mudah mengeluarkan HS2000 dan menyasar sisi kiri Victoria, dalam sebuah gertakan.

Dor

Bruk!

Bola mata melotot, Victoria terduduk di tanah dalam keterkejutan yang aktif hingga membuat Yixing ikut terkejut dan Yifan menyeringai penuh kemenangan.

"Berapa lama kalian memperketat penjagaan seperti ini."

Berdecih Yifan menatap balik Yixing yang gemetar kecil. Respon yang selalu dia dapati selama berhadapan dengannya. Yifan menatap sendu setelah memperhatikannya.

"Apa mau-mu?" Tanya Yixing menahan diri.

"Menemuimu, berbicara banyak denganmu."

"A-aku fikir semuanya sudah selesai, ge."

"Yixing."

"A-aku hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap gege dan semua orang."

"Kau masih sama seperti dulu."

"Tidak!"

Yifan terkekeh, "Bahkan kau masih sama manisnya. Lihat caramu mengelak."

Pipi pucat itu menghangat begitu cepat namun Yixing menekan kemampuannya untuk berbicara tegas, "Bisakah gege kabulkan permintaanku untuk pergi!"

Yifan justru tersenyum, "Akan percuma saja aku mengikuti kalian sampai di sini jika kemudian pergi."

Yixing mengambil satu langkah mundur seiring langkah mendekat Yifan, jelas jelas dia ketakutan bagaimana kekuatan lelaki yang dia hadapi kali ini tidak bisa di bilang main main. Namun tau tau helaan nafas itu berhembus kasar, raut wajah tegas di sana yang semula tersenyum berubah sendu.

"Aku menahan diriku begitu lama untuk dapat bertemu denganmu."

"Aku meninggalkan begitu banyak luka benar bukan?"

"Maafkan aku, yixing ah."

Bola mata itu mengerjap cepat sedang tubuhnya tidak mampu merespon banyak, begitu pula Victoria yang ikut ikutan tertegun bagaimana wajah tegas itu meminta maaf penuh sorot mata penyesalan, begitu tulus dan tanpa kebohongan di sana.

Yixing merendahkan pandangannya lebih memilih menatap kaki kaki panjang Yifan daripada wajah menawannya untuk tersenyum namun sarat akan kesenduan.

"Gege tau jika aku sudah me-"

Dor!

"Akh!"

"Fuck!"

Yifan menunduk untuk mengeluarkan moncong HS2000 dari balik mantel panjangnya dan menyasar ke arah pintu masuk pemakaman dengan gagah berdiri orang orang berbaju hitam yang menutup sebagian wajahnya, menyembunyikan identitas. Tembakan dia lesatkan sambil mempersempit jarak dengan Yixing yang sudah terpaku penuh emosi tidak teraturnya hingga anak itu gemetar.

Traumanya kembali,

Victoria melesat membalik tubuhnya melawan dalam tembakan yang beradu bersautan, namun baru tersadar jikalau lengan kirinya sudah bercucuran darah.

Dor

Dor

"Ji-jie kau terluka."

Seharusnya Yixing tidak melihat warna itu.

Seharusnya, hingga membuat Victoria lebih memilih menyembunyikan warna itu dari arah pandang Yixing. Yifan, dia diam memahami jika ini satu dari trauma yang Yixing miliki, sambil tetap konsetrasi menyasar kepala kepala di sana untuk dia lumpuhkan.

Dor

Dor

Dor

"Cepat manjauh dari sana yixing!" Teriakan Yifan bercampur nada panik, kesadarannya mengatakan jika kelompotan orang orang yang beradu tembak dengannya tengah menyasar Yixing melihat dari arah tembakan mereka yang lebih banyak melumpuhkan dia dan Victoria namun tidak mengarah pada Yixing sedikitpun.

Yixing hendak berlari menghampiri Victoria namun tanah di depan yang hendak dia pijak justru di layangkan tembakan hingga dia dengan kebingungan menatap kedua orang yang ada di dekatnya, Victoria berteriak dalam panik, "PERGI!"

"Keparat itu." Yifan mengumpat. Mengarahkan baik baik moncong HS2000 pada kepala salah satunya dan menarik pelatuk dengan segenap emosi yang menguar tanpa kendali atau di tahan tahan lagi.

Siapa orang orang sialan ini, yang begitu gamang menyasar seseorang tanpa tau jika akan berakibat fatal. Zhang tidak akan main main jika putera bungsu kesayangan mereka sampai tergores bahkan sedikitpun. Apalagi jika Kim mengetahui hal ini- Oh fuck! Apa yang ada di fikiran Yifan hingga mau memikirkan nama sialan itu!

Dor

Dor

Dor

Yifan berlari ketakutan mendekati Yixing dan menariknya ke dalam dekapannya hingga keduanya menjauh dengan Yifan yang terus menggarahkan tembakan tanpa putus. Melindunginya, sekalipun si kecil jauh lebih memberontak daripada mendukung tindakannya dan diam mempermudah keadaan.

Ini juga bukan kehendaknya, untuk berada dalam buruan timah panas yang siap membuat luka. Sekalipun sang lawan yang membidik di ujung sana masih terlihat jelas gerakan amatirnya namun dia tidak akan lengah begitu saja.

"Shit!" Dia sadar jika sebentar lagi pelurunya akan segera habis dengan segera menarik berlari, Victoria sudah dalam tangan tangan para komplotan dan benar mereka hanya melumpuhkan, tapi Yixing berteriak panik dengan pemberontakan untuk menolong Victoria. Dengan frustasi Yifan menggangkat dalam gendongan untuk masuk pada barisan pohon yang menutup area pemakaman berharap banyak para anjing anjing sialan itu tidak akan ikut namun Yixing tetap memberontak.

"Apa kau gila! Mereka menginginkanmu!" Suara berat pria di depannya berteriak penuh tekanan, terlihat begitu marah dengan perbuatan Yixing.

"Lepaskan! Victoria jie masih di sana!"

Pemberontakan disana itu ada, Yifan menghela nafas kasar menatap terlebih pada raut tidak suka si kecil yang ada hingga ubun ubun kepala, hingga ketika Yifan melanjutkan perkataannya dia mencoba menahan emosinya dengan baik untuk membuat anak itu mengerti, "Yixing dengar, kau yang di inginkan mereka!"

"Lepas!"

"ZHANG YIXING!"

Yifan menyesal setelah bentakaan dia layangkan, anak itu mengkerut ketakutan tidak berani menatap bola mata hitam yang bergulir tajam penuh tekanan dan ketegasan. Helaan nafas lagi lagi keluar dan dia mencoba memberi penjelasan pada ucapan selanjutnya, "Mereka hanya menjadikan victoria jie umpan untuk kau mendekat karena kau yang mereka incar jadi sekarang-"

Dor!

"Bangsat!"

Jemari kecilnya di tarik, berlari menjauhi area pemakaman di belakang mereka di antara pepohonan. Yixing menoleh kebelakang, ketakutan akan bunyi tembakan mengudara namun jemarinya di remat Yifan. Mencoba menyalurkan keyakinannya akan selamat dari kejaran orang orang sialan di belakang sana.

Berlari menerabas pohon pohon hingga keduanya sama sama lelah bagaimana yang di temui hanya pohon. Mengumpati orang orang keparat yang masih saja nekat untuk mengejar mereka. Yifan sedari tadi terus menatap kebelakang dimana mereka mencoba membuat jarak dari kejaran orang orang di sana. Juga untuk terus melihat Yixing yang tidak henti hentinya menampilkan raut wajah khawatir juga ketakutan.

Pemakanan itu berujung pada pepohonan rimbun di sisi sisian jurang berujung sungai berarus cukup deras. Yifan menyesal mengambil jalan ini seharusnya dia mengambil jalan ke sisian luar rimbunya pohon pinus mereka. Lamat lamat juga terdengar suara kaki kaki para pengejar mereka. Yixing menoleh ke belakang.

"Apa tidak ada jalan lain?" Tanyanya ketakutan.

Segera Yifan menarik tangan Yixing untuk dia bawa ke sisi bawah jurang, "Ayo turun."

"Tidak itu-"

"Yixing percayalah, kita tidak punya banyak waktu lagi."

Hingga tubuh Yifan yang sudah berada di tepian bawah jurang yang lebih rendah dari Yixing berdiri dia mengulurkan kedua tangannya, menjangkau tubuh Yixing yang kelak akan ikut turun di batu yang dia pijak.

Mengambil langkah hati hati dia terus menuntun Yixing untuk berjalan di tepian. Tidak cukup curam hingga ke sungai namun sisi ini cukup tertutup dan sudah di lihat dari atas, kala suara langkah yang bergerak cepat mereka berdua sadar jika pengejarnya ada di belakang sana maka Yifan dengan cepat melihat sekeliling yang kelak bisa dia gunakan untuk mengecoh.

Sebanyak empat hingga lima orang berlari menerobos rimbunnya pohon pinus yang masuk menjadi bagian dari area belakang pemakaman Zhang. Kehilangan jejak dan mereka memelankan langkah hingga sampai di tepian jurang yang berada di samping sungai.

"Kemana perginya mereka, depan sana adalah sungai tidak mu-"

Byur!

Suara deburan keras membuat kelimanya saling berpandangan hingga dua disana berlari cepat menuju jurang dan menilik sungai dimana ada dua buah stel baju yang ikut terhanyut arus sungai.

"Idiot! Aku tidak tau mereka senekat itu!"

"Apa yang harus kita lakukan?"

"Kita tunggu di sisian sebelum jembatan besar arah timur? Atau kita biarkan?"

"Nyonya meminta kita untuk membawa salah satunya untuk menjauhkan dengan tuan muda kim tapi jika dia lebih memilih mati bukannya itu justru mempermudah kita?"

Percakapan itu terdengar begitu jelas, hingga salah satu dari mereka yang terlihat sebagai leader mengakhiri percakapan dengan memutuskan untuk pergi ke jembatan sebelah timur di ujung sana. Lalu langkah kaki setengah berlari menjauh menjadi hal terakhir yang mereka pilih, mungkin di ujung timur jembatan sana mereka dapat menangkap Yixing juga Yifan yang melarikan diri dengan arus sungai di bawah sana.

Yifan mengerjap merasakan kedamaian saat menatap wajah manis di depannya, yang merona lucu dengan sebuah senyuman tipis dari Yifan. Keduanya beranjak menjauh dari tepian jurang dengan jemari Yixing yang masih ada dalam genggaman Yifan.

Yixing menghempaskannya begitu mereka selesai di atas. Menatap memicing mencoba marah namun gagal. Menghela nafas setelahnya, "A-aku mau pulang."

"Jangan konyol, mereka jelas jelas mengincarmu apa kau fikir jika kita kembali ke pemakaman akan baik baik saja."

Yifan meraih kembali pergelangan tangan itu, menariknya lembut untuk mengikutinya. Melirik baik baik anak kecil itu hanya menunduk menatap tanah yang ada di pijakannya.

.

.

.

.

.

Junmyeon menatap tajam Honglei yang jelas jelas ada di kursi kebanggaannya. Namun sebelum itu dia tau jika harus melewati anak buah sialan Zhang yang berdiri membuat benteng dengan tubuh mereka. Peduli setan, batin Junmyeon berteriak untuk menghabisi mereka dalam waktu cepat bahkan untuk membuat ketua mereka akhirnya bertekuk lutut mengemis di hadapannya dan menyerahkan Yixing lebih cepat.

Seorang anak buah maju dengan tinju melayang ke sisi kanan, Junmyeon menghindar membungkuk lalu mengambil tendangan di lutut hingga terduduk dan melayangkan tendangan keras ke arah wajah hingga darah mengucur deras dari hidungnya dan tumbang, tiga orang bersama sama mengeroyok Junmyeon hingga layangan tinju ada dari kiri, tendangan kaki dari arah depan dan Junmyeon menghindari dalam sekejap mengayunkan kakinya ke arah kepala dan mengakhiri dalam tinjuan kuat belum selesai sikunya di hantamkan wajah orang yang mencoba mengambil kesempatan dari arah belakang hingga hidungnya berdarah dan Junmyeon memelintir leher hingga bunyi gemeteluk tulang bagai sebuah nyanyian hadir.

Tangan patah, tendangan di dada hingga kaki yang di tendang hingga tersungkur di tanah bahkan pipi memar berdarah, Junmyeon menghabisi semuanya bahkan membanting seseorang jelas jelas di meja depan Honglei duduk. Tendangan di dada hingga bunyi tulang rusuk hancur Junmyeon selesai dengan mengusap setetes darah di sudut bibirnya.

Honglei hanya menatap tajam melihat belasan anak buah tidak bergunanya yang sudah berbaring di sudut sudut dengan rintihan kesakitan yang kentara. Sementara anak dari Kim melangkah dengan angkuh dan jelas jelas menantang Honglei yang terbalut emosi.

"Aku berfikir bahwa seharusnya aku membunuhmu sejak waktu itu." Dia bangkit, berdecih sinis penuh arogansi. Menatap penuh cemoohan pada Junmyeon yang berdiri menjulang dengan tenaga yang mencoba dikumpulkan.

Junmyeon tau tau menertawakan ucapan Honglei tidak terpengaruh dan menyeringai menantang tanpa rasa takut, "Jangan menyesal, karena aku belum membuat paman dan zhang tunduk dan mengemis ampunan di bawah kakiku."

"Bedebah tidak tau diri!" Honglei mengeluarkan sumpah serapahnya.

"Berapa kali aku katakan jika paman tidak akan pernah menang, bahkan wujudnya kekuasaan zhang juga dipertanyakan sekarang." Terlontar ejekan nyata dalam setiap bait kalimat Junmyeon hingga tau tau membakar sisi Honglei untuk semakin marah kepadanya. Mengingat ingat bahwa sebelum dia mulai menapak kaki di wilayah mansion sudah di pastikan kepemilikan Thailand yang sempat di pegang oleh Zhang harus kembali jatuh ke tangan Junmyeon. Meskipun dia tidak menunjukkan kepemilikan sah akan hal itu dan hanya menggunakan kambing hitam dalam manipulasinya.

"Jika kau adalah dalang dari hilangnya kekuasaanku di thailand maka aku pastikan akan membunuhmu, kim!" Honglei jelas marah, Thailand seperti sebuah bukti nyata bahwa dia masih dapat berkuasa dan patut untuk di takuti juga diperhitungkan dalam hal kekuasaan namun jika seperti ini maka sudah di pastikan nama baik Zhang akan segera di ragukan oleh mafia mafia di tanah luas China yang sedang memanas dalam perebutannya.

"Seharusnya orang tua sepertimu berterima kasih kepadaku." Untaian katanya begitu tegas, tanpa keraguan di sana dan jelas terselimut kemarahan yang nyata. Junmyeon seperti akan menelan orang tua di depannya hidup hidup. Jika bukan karena kekasih kecilnya yang lahir dari sperma yang sialannya milik Honglei sudah di pastikan tanpa menunggu lama orang tua ini akan meregang nyawa dengan tubuh tergantung di depan mansiom untuk dijadikan pelajaran karena menentang kuasa bahkan keinginan Kim.

"BRENGSEK!"

Brak!

Honglei menggebrak meja, menendangnya hingga menubruk tubuh Junmyeon yang meringis kesakitan. Junmyeon terlena sedikit hingga dia harus membiarkan tubuhnya menyapa meja. Menyingkirkan meja sialan yang ternyata cukup berat Junmyeon harus menghadapi tendangan kaki Honglei hingga membuatnya bersimpuh dan mulai menahan tubuh dengan satu tangan sementara kaki melayangkan tendangan menyasar persendian belakang lutut untuk membuat Honglei lumpuh sepersekian detik lalu mengambil tindakan menyerang dengan layangan tinju dan tendangan.

Mengusap darah dimana wajah tergorek, Honglei mengambil pisau yang dia gunakan senjata, mengarahkan ke bagian bagian vital tubuh Junmyeon.

Menghindar, Junmyeon membawa tendangan ke perut lalu berputar menampik lengan yang melemparkan pisau ke sudut kolong meja. Junmyeon belum selesai menendang dada yang berhasil di hindari dengan mundurnya Honglei. Tidak menunggu waktu lama Junmyeon berlari menggunakan meja sebagai tumpuan meloncat mengarahkan bogem yang tidak bisa di hindari membuat Honglei tersungkur, merasa gengsi Honglei bangkit kembali laku melayangkan tinju dan tendangan memutar dimana kakinya di tampik oleh Junmyeon dan di cekal, di tarik sekuat tenaga laku melayangkan pukulan telak.

Honglei tersungkur membentur almari di belakangnya dengan hidung berdarah. Junmyeon memutar memutar pergelangan tangannya membuat bunyi gemeletuk di jari jemari, mendekati Honglei yang tidak sanggup bangun. Lalu berjongkok dan mengeluarkan sesuatu dari balik tubuhnya.

"Aku tidak pernah bermain main dalam ucapanku." Dessert Eagle menempelkan moncongmya di bawah rahang Honglei, mengacung tegak menunjukkan ketegasan bentuknya akan perlawanan dan sedikit ampunan. Junmyeon mengakhiri perlawanan enggan berlama lama memainkan drama dan menunjukkan kekuatan yang sempat di ragukan.

Honglei memicing penuh kebencian, sebelah jari jemarinya merayap mencari kesempatan.

"Aku bahkan berusaha keras menghormatimu sebagai orang tua dari yixing. Tapi aku tidak tau jika kau bahkan membuatnya menjauh dariku." Junmyeon menatap penuh rasa sakit dan marah di sana. Sebuah tatapan bengis alih alih rasa sungkan akan perbuatannya dengan calon mertua. Peduli setan, Junmyeon hanya akan membuat orang tua di depannya ini bersimpuh memohon ampunan di bawah kakinya dalam ketakutan dengan dunianya yang akan hancur. Lihat saja, bagaimana Junmyeon akan mendengar lolongan memohon penuh keputusasaan juga ketakutan yang mendarah daging. Namun seolah kesabaran Junmyeon benar benar di uji di sini.

"Aku tidak akan pernah memberikan yixing padamu!" Teriakan protes dan jemari Honglei sudah terdapat pisau yang tadi sempat terlempar -karena Junmyeon menampiknya- mengarahkan pada tubuh bagian kiri Junmyeon namun gerakan cepat Junmyeon menggunakan siku tangannya menampik dan tangan satu lagi memberikan bogem mentah di perut Honglei hingga orang tua itu harus berbatuk darah disana.

Junmyeon dalam hati diam diam berbicara bahwa orang tua di depannya ini tidak seperti yang dia bayangkan dan dia berjanji akan mengakhiri semuanya di sini. Sedangkan dia tidak habis fikir dengannya, bagaimana orang tua di depannya begitu keras kepala.

"Sepertinya ucapanku kurang jelas!"

Dor

Lengan kiri itu cukup baik tersasar timah milik Junmyeon hingga rintihan kesakitan ada di sana. Seperti sebuah permainan dan Junmyeon menikmati ringisan itu begitu jelas, "Seharusnya timah ini menyasar jantung atau mungkin kepalamu, sehingga seluruh orang akan tau siapa yang seharusnya di takuti dan patuh terhadap perintahnya."

Cklek - kala moncong Dessert Eagle kembali terisi timah yang siap siap menyapa lawannya Junmyeon menyunggingkan seringai yang menjadi kebencian Honglei. Lalu berucap tegas dan lugas tanpa ada penawaran di dalamnya

"Berikan yixing padaku dan semua akan baik baik saja, nyawa kalian akan aku ampuni." Itu sebuah perintah tegas bukan sebuah penawaran atau bahkan gurauan. Hanya satu hal yaitu Zhang Yixing.

Dor

Seperti percobaan menembak, Junmyeon mengarahkan moncongnya ke belakang dan mengenai sasaran. Tanpa menilik baik baik sasarannya seorang bawahan yang berusaha keras tersadar beberapa menit lalu sudah meregang nyawa berkat tembakan di dahi dari Junmyeon.

Honglei menatap itu dengan baik, aura yang keluar dari putra terbaik Kim sekaligus pewaris sah-nya bukan hal yang gemeng gemeng belaka. Dahulu mungkin Honglei akan acuh tidak mempercayainya namun saat netranya berhadapan langsung seperti ini dia tau dimana letak kebenarannya dan semua hal akan kisah Junmyeon yang menghabisi orang orang yang berani menyentuh Yixing itu benar adanya, sekalipun hal itu adalah anak buah Kim sendiri. "Kau anak kecil paling kurang ajar! Seperti inikah caramu bertemu calon mertuamu!"

"Calon mertua yang bahkan menjadikanku barang buruan dengan hadiah seperempat wilayah changsa?" Junmyeon tau tau menertawakan ucapan yang dia tidak habis fikir akan keluar dari mulut Honglei, apa orang tua di bawahnya ini mulai memikirkan keselamatannya?

"INI BAHKAN WILAYAH KEKUASAANKU!"

Ah~ rupanya dugaan Junmyeon melenceng jauh.

Junmyeon tersenyum sinis, "Kau tau, aku tidak segan segan meruntuhkan semuanya dan membuat zhang tunduk mengemis melupakan harga dirinya di bawah kakiku jika Yixing tidak kau serahkan!"

Siapa yang akan menyangka jika Honglei justru tertawa lepas, menatap Junmyeon begitu menyebalkan dimana Kim dan berbicara mengejek -mencoba memancing emosinya, "Bahkan jika kau putari mansion ini tidak akan kau temukan, karena dia tidak di sini."

Junmyeon tanpa berbicara langsung melayangkan pukulan di pipi keras hingga menambah memarnya Honglei lalu berdiri menjulang masih mengacungkan moncong Dessert Eagle ke arah kepala sang pemimpin Zhang.

"Sepertinya kau jauh lebih suka caraku ini!" Dan satu sisi yang belum pernah Honglei temui, hanya kabar angin yang berhembus; yang lagi lagi dia abaikan kebenarannya, jika Kim Junmyeon sudah ada dalam mode terbaiknya bahkan ampunan dari lawan sudah tidak akan dia terima lagi, tidak akan berpengaruh, sekalipun mereka meraung penuh kesakitan penuh penghormatan mendamba akan pengampunan dan mengemis maka itu tidak akan berpengaruh lagi; tidak dan bahkan jangan berharap. Kala auranya mencekam kuat, menunjukkan dominasi sisi penguasa yang sesungguhnya, tanpa bantahan tanpa sisi lembut hanya ketajaman intens dan tidak akan ada orang yang bisa menghentikan jari jemarinya yang merangkap sebagai pencabut nyawa.

Brak!

"Junmyeon! Hentikan!" Teriak Taekwoon yang datang dengan dobrakan di pintu, namun tatapan mata Junmyeon seolah tidak bisa di alihkan, anak terbaik Kim itu seperti bukan dirinya lagi sudah terbalut aura monster seperti yang pernah dia temui saat melenyapkan anak buah wu dalam lautan akuarium garam dan listrik yang melukai Yixing kala di Seoul setahun yang lalu; begitu kuat begitu bengis begitu tajam begitu fokus dan hanya terarah.

"Kalau begitu ucapkan selamat datang dengan neraka." Junmyeon bersiap menarik pelatuknya, tanpa peduli apapun di sekitarnya.

"Lebih baik kau membunuhku daripada yixing harus ada bersamamu." Bahkan dengan mulut penuh darah Honglei masih sempat mengatakannya.

"JUNMYEON!"

"Kau akan menyesal jika melakukannya!" Teriakan Taekwoon mencoba menyadarkan sisi gelap Junmyeon yang dalam hati mengumpati Honglei kenapa menyembunyikan Yixing, dia sudah mengitari mansion ini dan nihil. Sedangkan sekarang, di saat saat seperti ini hanya Yixing. Ya, hanya Yixing yang mampu membuatnya berhenti.

"Aku harus mencobanya terlebih dahulu untuk mengetahuinya."

Benar bukan apa yang aku katakan?

Lelaki yang berdiri menjulang dalam ketegasan penuh intimidasi di sana bukan seorang Kim Junmyeon yang kau kenal.

"Mobil yang membawa yixing terbakar!"

Deg!

Showluo di sana, tertatih oleh salah seorang anak buahnya yang sama saja tidak genap. Lelaki yang menjadi calon pewaris Zhang itu tergagap dan bersimpuh di lantai penuh ampunan dan permohonan. Mengemis membuang jauh jauh harga dirinya dan menunduk bahkan tidak berani menatap tajam kepada Junmyeon yang saat ini tengah membawa babanya menuju ujung kematian, "Tolong jangan lukai keluargaku, ku mohon. Aku putra pertama pewaris Zhang mengaku tunduk di bawahmu kim. Dibawah kuasamu, dibawah perintahmu Kim junmyeon!"

"Zhang showluo!"

"Kita sudah kalah baba! Kita bahkan sudah kehilangan semuanya! Tidak ada anak buah lagi yang tersisa! Bahkan tidak ada lagi apapun yang dapat kita andalkan untuk melawan." Showluo mengatakan kejujuran dan fakta yang ada, menunjukkan kebenaran kepada babanya untuk berhenti melawan ataupun keras kepala mengalahkan Junmyeon yang bahkan setelah dia tahu Junmyeon membawa Wu Chanlei dalam hal ini berarti dia mendapatkan sokongan kekuatan hebat dan tidak main main disana.

Percayalah Junmyeon hanya melirik kedetik lalu kembali memusatkan atensi pada Honglei yang semakin lemah di hadapannya, tidak menyahuti Showluo tetapi menyeringai sadis melihatnya mengemis ampunan darinya hingga dia mengucapkan pertanyaan yang sudah kesekian kali dia tekankan, "Lihat ucapanku, jika kau menurut dan mengatakan kebenarannya padaku mungkin kehancuranmu bisa sedikit aku toleransi!"

"Junmyeon tolong." Showluo memohon bola matanya hanya terpusat pada Dessert Eagle yang masih mengarah dengan baik kepada kepala babanya. Lalu melanjutkan perkataannya dengan tenaga lamat lamat penuh harapan, "Tolong singkirkan itu aku mohon. A-akan aku katakan,"

"Ka-kami membawanya ke beijing."

Dor

Showluo terduduk bersimpuh tanpa tenaga yang tersisa, hati dan jantungnya hampir saja lepas keluar dari rongga begitu mendengar tembakan mengudara dari jari jemari Junmyeon, "Kau beruntung putramu jauh lebih bijak, dan jika bukan karena yixing aku pastikan sudah mengantarmu ke neraka!"

"Jongdae!" Teriakan Junmyeon penuh perintah membuat sang empu yang di panggil segera muncul dengan informasi yang sudah dia terima dari anak buahnya.

"Areal pemakaman zhang, tempat terakhir yang dia kunjungi. Victoria nunna di tangkap kemungkinan di jadikan sandera namun yixing dan yifan melarikan diri." Penjelasan Jongdae tau tau membakar satu sisian hati Junmyeon akan keberadaan Yifan dengan kekasih kecilnya.

Keterkejutan melanda bersama sumpah serapah mengudara, "Bedebah itu bersama dengan milikku?"

Junmyeon menatap tatapan tajam kepada Honglei dan Showluo bergantian seperti mengatakan 'lihat hasil perbuatanmu'

Hingga dalam benturan keras Junmyeon menutup pintu dan mengambil langkah menjauh bersama Jongdae dan Taekwoon serta Jongin ada menunggu di luar. Keadaan mansion Zhang begitu mengenaskan. Omong kosong dengan bertindak lembut tetapi nyatanya mayat mayat bergelempangan di semua sisi, kata Jongin tadi sempat terdengar bahwa kurang sah jika peperangan ada tanpa nyawa sebagai hidangan utama. Hingga bola mata Junmyeon menatap kedua anak kecil yang di ikat oleh sepasang tali, itu Renjun dan Chenle. Anak itu, Junmyeon ingat mereka pernah ikut dengannya saat menuju jeju. Menyuruh seseorang untuk membebaskannya tanpa kata, sedang keduanya hanya merunduk tau bagaimana aura penguasa penuh intimidasi masih menguar hebat disana.

Bora yang mulai mengisi pistolnya untuk kesekian kalinya, sementara Dasom yang mengeluh akan kehabisan stok biusnya begitu banyak. Minseok berdiri menunggu kedatangan Junmyeon terdiam bersama Kyungsoo yang masih mengenggam pistolnya; tetap bersiaga.

"Aku serahkan mansion ini padamu hyung." Nada di sana ada untuk melunak barang sedetik. Minseok tau jika kemarahan jelas ada di dalam diri Junmyeon terlebih kenyataan ketidakberadaan Yixing saat ini.

"Bawa kyungsoo bersamamu, kau membutuhkannya dan dia terlatih." Minseok menyodorkan satu adik terbaiknya dimana dia percaya Kyungsoo akan lebih berguna daripada itu jika Jongdae dan Jongin akan ada di kedua sisi Junmyeon.

"Aku juga akan ikut!" Penegasan tak kasat mata ada dalam perkataan Taekwoon, yang berani mengajukan diri meskipun Junmyeon menatapnya dengan tajam; tidak ada orang yang berani bertindak sepertinya di lingkungan Kim jika kalian mau tau.

Junmyeon tau jika lelaki Jung itu tidak akan membiarkannya pergi tanpa jauh darinya, sebenarnya menyebalkan seolah Junmyeon tidak mampu melakukannya sendiri namun bukan itu tujuannya, namun lebih pada penjagaan dan itu semua ada karena kesetiaan mereka terhadap Kim dan Junmyeon.

"Kau tau jika aku tidak akan mundur untuk ikut denganmu! Atau kau bisa memilih antara aku dan dasom!" Pilihan diberikan Taekwoon karena Junmyeon yang enggan memberikan jawaban finalnya hingga pandangan bola mata penguasa bergulir ke arah Dasom dan Bora yang bersiap untuk sebuah perintah. Akan cukup rumyan dengan membawa Dasom, dia terbiasa oleh misi jarak dekat bukan pertempuran jarak jauh dan jika jarak jauh kau akan mengatakan Bora dalam bidangnya. Mereka di rancang untuk satu tim tetapi bukan pertempuran seperti ini yang membutuhkan sifat cekatan pada satu orang di dalamnya.

Junmyeon mendesah lelah, lalu berucap ringan. "Masuk!"

Dia melangkah menuju mobil dengan Jongin yang menyetir dan Junmyeon di sisi sebelah kemudi. Sementara Taekwoon mengambil alih mobil kedua dengan Jongin di sampingnya dan Kyungsoo duduk di belakang lengkap dengan alat pelacaknya.

.

.

.

.

.

Mereka menyusuri sepanjang hutan dan menjauhi pemakaman dimana Yifan memilih hal itu untuk tidak bertemu kembali dengan orang orang pengejar mereka. Sepanjang jalan mereka tempuh dalam keheningan tidak ada yang bersuara atau mencoba bersuara.

Sebuah gubuk kecil terdapat di depan mereka terhalangi oleh rerumputan liar yang selalu Yifan singkirkan saat berjalan di depannya. Hingga keduanya memutuskan untuk berteduh karena malam menjelang dan Yixing hampir hampir terjatuh karena tersandung kakinya sendiri dan menubruk punggung Yifan. Dia melakukannya hampir ke tiga kali, hal itu tidak luput membuat Yifan khawatir; karena dia tau jika Yixing memiliki pertahanan tubuh yang lebih rendah daripada kebanyakan orang lainnya.

"Kita istirahat!"

"Tidak mau! Aku mau pulang!"

Peduli setan, Yifan tetap menariknya ke dalam gubuk dan memeriksa dalamnya dengan pisau dan kayu panjang hingga di rasa aman dia menarik Yixing untuk di bawa duduk di atas tumpukan jemari yang dia temukan di sudut ruangan; yang nyatanya anak itu bahkan nampak lebih daripada kata lelah.

"Sepertinya rumah ini belum di tinggalkan begitu lama." Komentar Yifan enggan untuk di perhatikan karena Yixing teramat lelah setelah berlari, menuruni jurang, lalu berjalan sejauh ini. Kakinya menjerit minta di luruskan karena rasanya luar biasa lelah. Dia mengatur nafasnya sambil menyandar pada dinding dingin di sampingnya. Menatap Yifan yang sibuk membuat perapian di depan mereka dengan peralatan seadaan sambil sesekali melirik ke luar jendela untuk memastikan tidak ada orang yang mendekat.

Kala api sudah menyala kecil Yifan berduduk di sisi lain berseberangan dengan Yixing yang masih mengatur nafasnya, anak itu menatap api tanpa kata dengan tatapan kosong tanpa raut emosi. Terdiam dan menikmati kesunyian, membuat Yifan hanya memperhatikannya dalam diam. Enggan merusak momen dan saat ini lelaki itu diam diam bersyukur dapat bersama dengan Yixing walaupun dalam keadaan seperti ini.

Tau di pandangi Yixing mengalihkan wajahnya, menyembunyikan di samping dinding yang dia senderi.

Mendengus Yifan melemparkan kayu kecil ke perapian. Menatap kobaran api kecil dia berkata tanpa menatap raut wajah Yixing, "Aku tau kau masih sangat marah padaku."

"Tolong maafkan aku."

Bola mata cokelat indah itu terbuka perlahan, tidak menatap Yifan namun menyahuti perkataannya dengan suara lirih, "Gege harus berhenti meminta maaf jika ingin aku memaafkanmu."

Yifan terkekeh, "Sebenarnya aku begitu bersyukur dapat memiliki kesempatan berbicara denganmu, sedekat ini tanpa orang lain yang akan merusaknya-"

Yixing terkesiap oleh semua ucapan Yifan menatap takut yang jelas jelas di terima dengan baik oleh lelaki Kanada itu berucap melanjutkan, "Meskipun aku tau kau akan ketakutan karenaku, tetapi Ini begitu melegakan untukku."

"Banyak hal yang ingin aku luruskan, dan aku benar benar mengharapkan kau mau menerimaku lagi meskipun kita tidak bisa seperti dahulu."

Yixing terdiam lama hanya menjadi pihak pasif yang mendengarkan perkataan Yifan seperti mendengarkan nyanyian lulaby terdiam lama hingga ketika suaranya kembali dia mengawali ucapannya, "Gege tau."

"Bahwa semua hal ini hanya berujung pada rasa sakit. Aku, gege ataupun junmyeon. Tidak ada yang tidak tersakiti. Aku mengatakan kepada junmyeon untuk berhenti begitu pula akan aku katakan kepada gege. Untuk berhenti." Kala ucapan terakhirnya Yixing memusatkan perhatian pada bola mata hitam Yifan, berharap dapat mengirimkan secarik perasaan yang dia rasakan; untuk dimengerti.

"Namun, kalian seperti sama sama keras kepala untuk mengatakan iya dan menurutiku, terkadang aku berharap jika aku tidak terlahir ke dunia ini sebagai zhang yixing mungkin akan lebih baik. Banyak hal yang tidak ingin aku temui-aku hindari tetapi banyak hal juga yang ingin aku simpan baik baik. Aku terkadang berfikir apa aku anak durhaka karena menentang banyak keputusan baba, terkadang berfikir apa yang harus aku lakukan untuk tidak menyakiti kalian dan orang lain." Anak itu berbicara hanya menatap ke jendela yang berjarak satu siku darinya bersandar lemah di dinding, menatap langit malam yang begitu hitam penuh kedamaian. Berbicara tanpa menatap lawan bicaranya namun Yifan tidak protes dan hanya menatap memperhatikannya.

Mungkin jika itu Junmyeon lelaki itu akan marah hingga menarik dagu Yixing untuk menatap bola matanya kala bicara, mengingat namanya Yixing hanya ingin mengucapkan rangkaian maaf padanya. Dia tau perbuatannya dan ketidak jujurannya akan kepergian ini yang sudah jelas jelas dia tau tidak dia beritahukan kepadanya.

"Apa kehadiranku begitu menganggumu?"

Pertanyaan Yifan kali ini dapat menarik sepenuhnya perhatian Yixing, anak itu menatap tepat ke bola mata Yifan dan menyelami luka lebar di sana. Yixing tersenyum miris mengembalikan tatapannya pada kobaran api kecil yang senantiasa menjaga malamnya dari dingin, tetapi tidak dengan jiwanya.

"Tidak ada jawaban yang dapat kau peroleh dari hal itu ge. Kau tau hal itu."

Anak itu merekatkan pelukannya di kedua kakinya sendiri lalu berucap begitu lirih tanpa Yifan sadari bola matanya sudah berkaca kaca, "Aku-aku,"

"Aku merasa lelah dengan semua ini-hiks-aku ingin semua ini berakhir!"

"Aku muak! Aku ingin marah-hiks-tetapi itu tidak mungkin!" Setelahnya dia hanya bisa menangis histeris dengan Yifan yang sudah ada di sisinya menenangkan tanpa berucap dia melepas mantelnya dan menyampirkannya di bahu Yixing menyelimuti anak itu dari dia menangis hingga saat ini jatuh tertidur.

Yixing begitu indah dalam siraman cahaya rembulan yang diam diam mengintip mereka dari balik jendela. Begitu menawan, manis dan lucu dengan lekung pipinya namun juga rapuh di saat bersamaan. Yifan mengusapnya penuh kehati-hatian begitu takut dan mengecup dahinya dalam permintaan maaf yang teramat sangat.

Menghabiskan malamnya untuk membiarkan dirinya terjaga dengan rembulan dan sisa kobaran api yang akan menghangatkan tubuh juga sedikit bagian yang sangat kecil dalam hatinya. Menghabiskan sisa kayu dalam diam dengan tangan yang masih aktif memberikan usapan usapan nyaman. Sangat lama hingga saat Yifan hampir tertidur bunyi bunyi terdengar dari arah luar gubuk mereka.

Yifan memicing melawan gelap dan minim cahaya hingga melihat siluet seseorang dari sisi barat daya. Siapa gerangan yang mendekat!

Junmyeon sudah ada di sana dengan tatapan tajam dan raut wajah datar emosi tidak terbaca, sementara Yifan berdecih keluar dari persembunyiannya tanpa ragu. Siapa yang tau jika yang menemukan mereka lebih dahulu adalah Kim di depannya ini.

"Apa maumu?" Pertanyaan tidak mengenakkan sudah mengawali percakapan mereka.

"Menghabisimu dan mengambil milikku." Jawaban Junmyeon membuat Yifan tersenyum mengejek.

"Jangan berharap aku akan menyerahkannya." Yifan mengambil ancang ancang untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan melepas Yixing semudah itu; bahkan jika bisa tidak akan pernah.

"Sejak kapan kau memiliki hak terhadap milikku!" Batin Junmyeon berteriak marah bagaimana mulut Yifan mengucapkan kalimat dengan aura posesif yang menguar kental.

Dor

Junmyeon hanya terdiam tidak mengelak dengan tembakan yang di layangkan Yifan melalui moncong HS2000 yang ada dalam genggamannya,menatap tanpa arti lengannya yang mulai mengeluarkan darah lalu mendengus sinis. Menatap tajam ke arah lelaki Kanada itu hingga emosi menguasai dirinya begitu banyak. Akan dia selesaikan semua ini, karena sesungguhnya begitu banyak rasa tidak sabar daripada kesabaran yang menguasai diri Junmyeon untuk segera menyelesaikan semua. Dan membawa si kecil kembali dalam dekapannya.

"Kalau begitu ayo selesaikan, kita belum pernah mengakhiri pertemuan kita sebelumnya bukan!" Yifan berucap masih mengacungkan moncong HS2000 miliknya, sedikit tertegun bagaimana Junmyeon menyikapi sakit di lengan akibat timah panasnya. Yang tau tau hanya di lirik tanpa minat.

"Ku fikir seharusnya menyadarkanmu. Siapa yang sebenarnya berkuasa disini." Setelah ucapan itu Junmyeon langsung menyerang tanpa menunggu waktu lama, membiarkan Yifan yang terlena sedikit dan lengah melayangkan pukulan juga tendangan hingga pipi kanannya harus menerima bogem untuk saat ini. Dalam benak Yifan tidak mengira bahwa Junmyeon akan melawan dengan tangan kosong dan menghajarnya.

Yifan menampik semua tendangan dan pukulan Junmyeon dengan kedua tangannya, tak pelak hal itu membuat Junmyeon lebih mengerahkan kemampuan beladiri nya hingga perut sebelah kanan berakhir menerima pukulan dari Junmyeon. Yifan meringis sesaat lalu terlihat begitu marah, bola matanya menatap mencoba mengintimidasi.

Menyerang Junmyeon dengan tangannya yang ternyata di tangkis dengan lengan Junmyeon hingga sebuah tendangan lutut di layangkan membuat Junmyeon menghindar dan mundur. Berfikir mempunyai kesempatan Yifan mengarahkan tendangan hingga membuat Junmyeon harus kembali menghindar terbentur pohon di belakangnya.

Yifan melihat hal itu seperti Junmyeon terpojok olehnya lalu berlari menerjang dan menendang dengan tujuan dada atau setinggi perut. Berputar Junmyeon menghindar hingga tendangan itu berpijak pada batang pohon, Junmyeon tidak menunggu lama hingga Yifan berpindah posisi melayangkan pukulan menyasar perut hingga sang empu harus mengaduh dan mundur ke belakang memegangi area yang terkena pukulan.

Junmyeon berjalan ke depan dengan meludah kasar, menatap Yifan yang mulai bangkit Junmyeon mendekat memukul telak paha sebelah kanannya hingga dia kembali terduduk dengan lutut menopang tubuh, Yifan tidak mau memyerah melayangkan pukulan namun tenaganya terlalu lambat Junmyeon meraihnya hingga tanpa aba aba menarik dan melempar tubuh itu membentur tanah.

"Brengsek!" Yifan bangkit berteriak marah, Junmyeon hanya menatap tanpa ekspresi hingga bogem mentah melayang padanya.

Yifan terkekeh melihat pipi Junmyeon yang robek terkena ketika cincin di jemari jemarinya. Menatap remeh lalu menyasar dada Junmyeon dengan tendangan dan pukulan.

Junmyeon menghindar lalu berlari menjadikan tumpuan meloncat sebuah batang pohon hingga berbalik melayangkan pukulan keras dan terpusat mengenai wajah Yifan hingga dia tersungkur dan mulut mengeluarkan darah, mendudukinya lalu melayangkan pukulan pukulan ke kedua sisi wajahnya.

"JUNMYEON!" Teriak Yixing menjadi akhir dari pergerakan Kim.

Mengambil nafas tersenggal dan menatap ke belakang dimana bola mata hitam tajam itu melunak penuh kelegaan kala menatap Yixing yang berdiri di ambang pintu dengan tubuh ketakutan, wajah manis itu pias akan rasa khawatir mendalam dan menggeleng pelan sebagai permintaan.

Junmyeon bangkit dari tubuh tergeletaknya Yifan, menunjukkan pada si kecil kesayangannya bahwa dia menurut dan mengikuti kemauannya hingga dia berbalik menatap sepenuhnya kepada Yixing yang masih berlelehkan air mata; sesenggukan. Dalam pancaran pendar coklatnya banyak emosi di sana yang terlihat dari mulai rasa khawatir, ketakutan, bahagia, juga kesedihan. Yixing sudah tenggelam dalam pusaran yang dia buat sendiri.

Dor

"Akh!" Teriak Yixing kala timah panas melesat di sisi kanannya berdiri.

"Bedebah sialan itu!" Sekonyong konyong Junmyeon mengumpat memutar tubuhnya mengacungkan Dessert Eagle lalu mengeluarkan tembakan dari arah depannya. Sedangkan Yifan mulai terbangun merambati tanah menyasar HS2000 yang terlempar lalu mulai mengacungkan moncong pistolnya mengeram menatap Junmyeon tak kalah tajamnya. Junmyeon sedang memusatkan perhatian pada kelompot orang tak dikenal yang menyasarkan timah kepada Yixing. Ini kesempatan bagus untuk melesakkan timah pada jantung dan dadanya. Maka dengan begitu semua hal yang menjadi penghalang baginya akan hilang.

Dalam waktu dia berbaring melihat keadaan sekitar dia berfikir inilah jalan dan sedikit kesempatan di balik rumitnya keadaan saat ini, yang dapat dia manfaatkan untuk kepentingan dirinya seorang.

Mungkin dengan ini dia akan mendapatkan Yixing.

Dengan kesempatan ini dia bisa berdiri di atas mayat seorang pewaris Kim yang ditakuti.

Dengan ini dia bisa memonopoli Yixing seorang diri.

Dengan ini dia tidak perlu takut melihat Kim dengan kekuatannya yang dapat merebut miliknya.

Dengan ini sebuah bayangan seseorang dalam gelap yang terduduk di atas tangisan tiba tiba datang membanjiri.

Tubuhnya tidak bisa terkontrol.

Emosi menguasai.

Yifan kalap menggenggam HS2000 dalam alunan suara tembakan Junmyeon yang melindungi Yixing dan dirinya.

Dor

Bruk!

Junmyeon menatap tajam begitu pula dengan Yifan yang mengunci tatapannya dengan Kim di sebelahnya.

"Bola matamu awas juga!" Pujian itu lolos begitu saja, dan tau tau Yifan menemukan dirinya melakukan tindakan yang sama dengan Junmyeon. Melindungi dambatan hatinya.

Yixing berada dalam lingkungan perlindungan buatan kedua lelaki di sisinya yang sama sama berkuasa, mendominasi dan luar biasa tampan. Junmyeon yang menatap tajam dengan tidak melepaskan dirinya tetap mengawasi sisi depan dan samping sementara Yifan mendapat bagian belakang mengapit Yixing di tengah keduanya. Tanpa suara tanpa percakapan dan tanpa rencana kerjasama dan hanya mengandalkan intuisi keduanya. Mengambil pusat perlindungan pada satu orang yaitu Zhang Yixing.

"Seharusnya kali ini aku marah padamu kim!"

"Diam sialan!"

"Jangan berpura pura bodoh! Suruh anak buahmu itu berhenti mengincar yixing!"

"Jika mereka anak buahku maka yang ada mereka sudah mati di tanganku saat ini!"

"Omong kosong, katakan itu pada pesuruh yang mengatasnamakan kim!"

Junmyeon menyerngit dalam keterdiaman melirik Yifan yang mengumpati setiap timah timah yang menari dalam alunan udara malam. Tidak mengerti bagaimana dan di sisi mana yang mengatasnamakan Kim, lalu tatapannya kembali ke depan menyasarkan timah timahnya untuk menyapa lawan lebih cepat hingga teriakan tercekat dari salah satu orang di belakang Junmyeon membuat langit malam semakin gelap seolah turun menyelimutinya.

Tbc-

Hei-

Ace ada untuk single update dan tidak bersama vanile. Happy new year 2019.

Semoga banyak hal hal baik dan membahagiakan di tahun ini.

With love, luce

1 Januari 2019