Pion terbaik dari Kim adalah Kim Junmyeon

Sudah dapat dipastikan bahwa pewaris utama mereka adalah sang kekuatan besar juga pengaruh terbesar.

Dengan ambisi, keahlian, kekuatan dan kecerdasan di dalamnya, Kim menjadi pemegang kendali di korea yang harus diperhatikan baik baik.

Zhang Yixing adalah kartu as yang paling mudah untuk di incar, begitu berharga juga begitu lemah, untuk menghancurkan Kim maupun untuk keuntungan lainnya.

Kelemahan Zhang sudah di pastikan akan ada di tangan jika Yixing ada dalam genggaman. Anak termanis yang menjadi kesayangan dari banyak orang.

Perlindungan terbaik selalu dia dapat namun selalu ada cara untuk mencelakainya.

Kala Wu Yifan kembali maka semuanya akan menjadi mudah, karena dia ada untuk menjadi kambing hitam.

Sekalipun niat tulus terselip dalam setiap tarikan nafasnya namun berhadapan dengan rival lama bukan menjamin namanya akan tetap baik baik saja.

Dia selalu ada untuk dimanfaatkan, sebagai pion dari niat jahat untuk sebuah keuntungan pihak lain.

Meskipun keinginannya memiliki si kecil tetap menjadi pilihan namun dalam lubuk hatinya terselip sebuah permintaan maaf penuh penyesalan.

ACE akan selalu memainkan kepemilikan kartu as juga pion pion terbaik di dalamnya, selalu membawa pada pusaran berdarah dengan kecamuk balas dendam, kekuasaan dan penaklukkan yang tidak bisa di ganggu gugat.

Siapa yang terkuat dia yang memegang kendali dan siapa yang mendapatkan kesempatan maka dia akan memiliki kemungkinan untuk memenangkan pertempuran.

Zhang secara garis besar sudah berada dalam genggaman Kim, namun ketiadaan sang mutiara membuat kemenangan Kim tidak sepenuhnya utuh.

Hingga celah celah bagi pihak luar yang mencoba memainkan benang benang merah masih di pastikan

Hingga mengusik sebuah ketenangan.

Sekali lagi Kim harus terlilit dalam pusaran permainan, untuk keluar dari pusaran permainan yang berselimut awan hitam tak kasat mata.

Seperti sebuah meja judi, berhadapan dua orang pion pion terbaik dari Kim juga Wu untuk sekali lagi, dengan Zhang ada untuk di dudukkan di atas meja taruhan. Namun apakah mereka berdua tau jika ada dua pion lagi di samping mereka yang saling bekerja sama untuk kehancuran ketiganya.

Dalam kabut hitam terselip bisikan adu domba dalam aura pembalasan yang berujung keuntungan pribadi.

Dalam waktu yang sama bisakah mereka berdua menghadapinya. Mengambil pilihannya.

Pilihan untuk sebuah kesempatan di tengah kesempitan atau pilihan yang lain yang lebih mulia.

Jika kau sudah mengenal bagaimana ACE memainkan perannya, maka kau akan tau bagaimana kedua pion Wu dan Kim memainkan setiap kartu di tangannya

Dengan satu tujuan yang sama, menjadikan kepemilikan sah akan sang mutiara terbaik Zhang.

Long time no see you, so?

.

.

.

Welcome back to this game,

This is ACE season 2,

With me, pearl luce lets start the game

.

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea© D'Xp ft Luce.

.

.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

Keadaan berbeda,

Bukan lagi Park Chanyeol dengan segala kepentingannya.

Bukan lagi Kim yang terpaksa atau sengaja di tarik dalam lingkaran.

Bukan Zhang yang akan berdiam dalam ujung segitiga permainan

.

Keadaan telah berbeda.

.

Kala hanya ada yang tersisa Kim dan Zhang

Dengan sisa permainan dan kekuasaan yang dipertaruhkan.

Sekalipun Wu Yifan masih berkuasa

Masih dengan mutiara kecil mereka yang di jadikan sasaran.

.

Namun, akankah semua akan sama kala ketiganya di hadapkan dalam satu keadaan bersama?

.

Siapa yang akan tumbang dan di tumbangkan?

.

Siapa yang akan rela menyingkir dan di singkirkan?

.

Atau siapa yang akan berdiri tegak?

.

Ego atau perasaan yang akan mereka pilih dalam satu tim?

With ACE in this chapter, regret and past : full team, a new team.

.

.

.

.

.

"Berapa kali kita mengalami hal ini?" Sapaan hangat mengawali di antara kekacauan dan kehancuran yang ada. Mengalun selembut angin yang mengawali musim semi, begitu ringan tanpa ada sepercik api yang berkobar, mencoba membangun suasana di tengah kehancuran yang menjadi imbasnya. Minseok tidak pernah di ragukan untuk hal itu, satu daripada bagian Zhang yang sempat merasakan kehangatan di tanah yang sama. Menatap tanpa emosi juga kemarahan akan sikap ketua mereka. Tuan Zhang Honglei duduk di ujung meja makan di mana sisi kanannya terdapat sang putra pewaris sah kepercayaan yaitu Zhang Showluo dan di sisi lainnya Wangxun ada untuk bersanding dengannya, menghitung kehidupan dari kehancuran yang tersisa.

Pertanyaan Minseok mengawali semua kesadaran yang ada dan tersisa. Seolah roll film yang akan memutar memori memori lama, mengalun tanpa dicegah dan tanpa ingin dilakukan, cukup mudah namun begitu mengena.

Bukankah benar?

Seberapa sering mereka mengalami hal ini.

Damn! Katakan padaku seberapa banyak kalian mengingatnya!

Seberapa banyak hal hal yang di liputi emosi itu tercipta dan ada.

Seberapa cepat mereka menemui pertempuran ini lagi dan lagi.

Hingga mereka sampai di detik ini, menunduknya Showluo mengawali dirinya akan kesadaran di tanah Seoul dan pertemuan yang terjadi setelah pengintaian. Anak buah yang di kirim untuk menyelamatkan Yixing dari berita tertangkapnya dia di tangan dingin seorang pewaris Kim. Hingga kemarahannya yang melihat Junmyeon menemui Park Chanyeol di mansion. Sudah sejauh itu dia melangkah.

Hingga dia ada di depan didinya yang menunjukkan friksi pembelaan akan keberadaan Kim. Sebuah ketegasan akan rasa suka yang mulai ada di hati kecil didinya.

Dalam putaran yang sama dengan lingkup yang sama pula. Masih berhadapan dengan Kim dan ujung tombaknya, Kim Junmyeon dan masih dengan Wu yang begitu mencintai Yixing adiknya, Wu Yifan.

Dalam putaran benaknya, Showluo sadar jika hari ini akan datang dimana Junmyeon akan berhadapan dengan keluarganya, namun tidak pernah terbayangkan akan sebegini hancurnya.

Hei Zhang? Kau sedang meragukan pion terbaik Kim ternyata?

Menghela nafas dan menunduk, hanya itu yang dapat Showluo lakukan.

Minseok ada dalam pengamatannya, kejelian matanya mengamati satu persatu orang yang ada. Mengingat kembali dalam benaknya jika Changsa akan ada dalam genggaman Kim.

Itu targetnya! Sudah di pastikan.

Namun, kala pandangan matanya menatap setiap raut emosi di wajah orang yang pernah menjadi tempatnya berteduh seperti ini membuat jiwa manusia milik Minseok keluar ke permukaan tanpa di duga. Benar kata Junmyeon, jika Changsa bukan tempat yang pas untuknya memimpin misi. Bukan untuknya menguji mental sebagai pemimpin misi kali ini.

Dan pantas jika Tuan Kim sudah lebih dahulu menyentuh Changsa dibanding dia ataupun Junmyeon.

Changsa lebih dari apa yang mereka bayangkan. Begitu banyak hal yang belum mereka lihat dari Changsa.

"Aku tidak tau harus berterimakasih kepada kalian atau justru marah." Dimana kata kata Honglei mencabut atensi semuanya dan hanya terpusat adanya, yang menatap tanpa mimik wajah yang terbaca, lurus kedepan tanpa objek yang jelas.

Kehancuran mereka benar benar tidak menyisakan apapun, hanya segelintir anak buah yang benar benar masih bisa di katakan hidup. Pernah aku bilang akan 'omong kosong melakukan dengan cara lembut'. Ini dunia hitam, terlalu naif jika mengakui atau menginginkan kelembutan dalam urusan menaklukan teritori lawan. Terlebih kala susunan tim-nya adalah kombinasi tim inti dari Junmyeon dengan susunan Jongin sang ahli tembak dan eksekusi, Jongdae sang pemikir ahli lapangan, Minseok kunci terbaik dari dalamnya Zhang, lalu Kyungsoo yang ada dengan pertempuran jarak jauh. Digabungkan dengan tim buatan Tuan Kim yang memiliki kualifikasi akademik kedokteran yaitu Kim Dasom yang lebih dahulu memperoleh hati dari Zhang dipadukan dengan Yoon Bora yang merupakan eksekusi jarak jauh dan keahlian berkelahinya.

Dengan putra mereka Kim Junmyeon dan ayahnya Tuan Kim sebagai lawan. Bisa di katakan ini kekalahan telak mereka sebagai Zhang.

Mereka yaitu Zhang, bisa di katakan harus menghadapi serangan awal dari Tuan Kim dan di selesaikan dengan aksi Junmyeon bersama kombinasi tim yang ada.

Tersisa penyesalan setelah semua terjadi, tetapi Honglei juga tidak bisa menyerahkan putranya begitu saja karena perilaku Junmyeon yang menurutnya tidak akan berdampak baik. Enggan untuk menuruti kemauan anak bungsunya yang bagi dia tidak bisa kembali memilih seseorang yang sama dengan masa lalunya yang hancur.

Minseok tersadar "Semua sudah kita lalui sejauh ini, mungkin memang seharusnya aku meminta maaf."

Bagaimanapun juga Kim melakukan begitu banyak masalah dengan Yixing, dan Kim juga yang memainkan bumbu percintaan hingga menarik jauh kerenggangan di antara Wu dan Zhang.

Itu di sengaja dan itu faktanya!

"Jika menelusur ke depan kufikir ini bukan sepenuhnya salahmu." Tau tau Showluo berucap, bola matanya bertubrukan dengan kelerang milik Minseok dan masih menunjukkan raut wajah tanpa emosinya, melanjutkan kembali perkataannya.

"Mengingat kembali kim ada karena campur tangan Chanyeol yang benar benar pintar mencari lawan yang pantas untuk menghadang wu dan menggenggam zhang." Showluo tentu sudah tau akan hal itu.

Siapa yang tidak mengenal Chanyeol?

Spesifikasi seorang Park Chanyeol sulit untuk diragukan.

Seorang Park Chanyeol atau Wu Chanlei, dengan kecerdikan dan kelicikannya. Karena memang benar jika di uji siapa yang mampu setara kekuatannya dengan marga Wu dan kemenangannya dalam penguasaan wilayah. Lalu siapa yang bisa mengimbangi dengan baik permainan emosi juga taktik dalam setiap langkah milik Zhang.

Maka mafia Kim adalah jawabannya.

Apalagi yang perlu di jelaskan dengan kemampuan, kekuatan, kecerdikan, satuan tim, dan pion yang memiliki spesifikasi terbaik seperti black and white, lalu Kyungsoo dan kedua lelakinya serta putra putra milik Tuan Kim.

Mereka benar benar berhadapan dengan semua bagian dari Kim yang di pegang oleh Tuan Kim sebagai King dengan kedudukan tertinggi.

Showluo tersenyum miris mengingat terlambatnya kesadaran yang seharusnya dia ketahui akan siapa lawan mereka sebenanya. Melanjutkan kembali akan fakta awal yang membawa mereka kedalam pusaran pemainan darah dan cinta.

"Wu sudah di kenal dengan semua rentetan perebutan tahta yang selalu dihembuskan dari para sesepuh mereka, dan terlalu pas untuk adanya dua pilar yang sama sama berpotensi untuk menjadi penerus keluarga." Semua mengiyakan hal ini adanya.

"Yang sayangnya salah satu dari mereka mencintai Yixing begitu dalam. Jika saja aku bisa melarang didiku lebih awal sebelum cinta itu ada untuk dia rasakan, semua tidak akan serumit ini."

Penyesalan merambat begitu cepat ke dalam hati Showluo dan tidak ada yang bisa menyangkalnya disana.

"Yixing mungkin tidak akan bertemu junmyeon atau tidak jatuh cinta dengan yifan. Dan aku tidak harus membawamu ke china sebagai awal dari pertemuan kita yang selanjutnya."

Pada saat ini kata seandainya adalah hal yang begitu terasa. Awal bagaimana Minseok harus di jadikan tawanan karena menyelamatkan Yixing dari todongan pistol yang dibawa oleh sallah satu Kim. Penyesalan selalu ada di belakang dan tantangan selalu ada di depan. Tinggal bagaimana kalian memulai dan menyikapinya.

"Sekarang terasa jika tinggal kita yang memainkan sisa sisa permaian dari alur yang sudah selesai di mainkan chanyeol." Showluo tau tau tersenyum miris untuk kesadarannya yang mampir kali ini.

Bukankah ini lebih mirip jika mereka sepenuhnya masuk dalam permainan Chanyeol yang sayangnya sudah lebih dahulu menyingkir dari inti pusaran karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dan jika Minseok fikir hal itu benar adanya, sekarang hanya tinggal Kim yang berusaha mendapatkan apa yang dia rasa menjadi miliknya. Oh, betapa licik juga pintarnya seorang Wu dalam menciptakan putaran pertarungan ini. Dan Minseok juga sadar jika menyasar Yixing dari Zhang bukan perkara halus melainkan dengan cara kasar seperti ini, "Aku meminta maaf jika sekarang harus kami yang melakukan kekerasan untuk bisa mendapatkan yixing -"

"Tetapi aku juga marah jika paman harus menjauhkan yixing dari junmyeon." Sambung Minseok lagi.

"Aku hanya ingin menjaganya dengan caraku yang aku rasa benar. Aku terlalu marah akan perlakuan kalian juga yifan kepada yixing hingga aku rasa lebih baik dia tidak bersama dengan salah satunya." Jawab Honglei, dia hanya berusaha menjadi seorang ayah yang seharusnya menjaga putra putranya. Namun tidak tahu jika akan berefek seperti ini.

Showluo menerawang dalam tatapan mata mengarungi memori masa lalu, mengingat baik baik sorot mata dalam kenangan akan sosok pemimpin Kim, "Junmyeon sekalipun dengan caranya yang tidak bisa di bilang lembut aku tau jika dalam lubuk hatinya begitu menjaga juga menyayangi yixing."

Mencoba membenarkannya Minseok mengawali perkataannya akan Junmyeon, "Adikku memang bar bar, tidak ada dari Kim yang terkenal lemah lembut tetapi untuk yixing semua akan junmyeon lakukan jika itu harus membahayakan keselamatannya. Dia begitu menjaga keluarga juga orang terkasihnya. Jadi paman-"

Sorot ketegasan seorang Kim ada dalam siratan matanya mengarah menuju tepat pada persetujuan pimpinan Zhang yang dia hormati,

"Apakah bisa paman berikan satu kesempatan untuk junmyeon mencoba lagi?"

Sebuah pertanyaan keluar untuk mencari kesungguhan dari langkah yang akan di ambil. Minseok ada di sana menatap penuh kepastian pada sosok dewasa yang masih dia hormati dan masih melekat kebaikannya di benak.

Hingga Showluo juga ikut terdiam menunggu keputusan akhir dari babanya dan menatap penuh kesungguhan di sana. Tanpa tau jika jantungnya bertalu penuh tekanan juga harapan. Sampai sebuah anggukan datang dari Zhang Honglei dan Wangxun ikut tersenyum di ikuti Minseok dan Showluo, mulai mengambil langkah untuk melangkah bersama dengan didinya, Zhang Xiumin.

Mari memulai langkah pertamanya kembali di Changsa, China.

.

.

.

.

.

Jongdae mengerang dan Jongin menghempaskan satu dari bagian mereka. Menatap nyalang kepada semua orang seakan menguliti mereka dalam diam.

"Katakan!" Perkataan Jongin mengubah awan hitam berada tepat di atas kepala mereka yang mendengarnya.

Ingat jika Kim memiliki tingkat emosi juga tingkat kemarahan yang begitu menjijikkan?

"KATAKAN PADAKU SIAPA YANG MENYURUH KALIAN MENINGGALKAN JUNMYEON HYUNG!"

"Brengsek!"

Jongdae menarik kesekian kalinya rambut hingga tersisa helaian di kedua jemari tangannya. Enggan untuk tau dan bahkan menilik apa yang Jongin lakukan.

Menulikan diri akan makian Jongin dan suara pukulan kekerasan. Baru kala Jongdae terdiam menyaksikan Jongin yang membabi buta saat itu dia mulai memanggil satu adik terkuatnya.

"Jongin hentikan."

Kalem sialan memang, namun Jongin menurut begitu saja. Meletakkan kerah kemeja bawahannya dengan begitu mudah dan menjauhinya yang sudah babak belur sana sini.

"Kita butuh lebih daripada ini." Jongdae merasa jika yang mereka hadapi lebih terkonsep dengan semua hal ini.

Bola mata Jongdae memusat tajam, membuat Jongin berdecih akan fakta yang coba di sampaikan. "Akan aku hancurkan."

Tut . . .tut. . .tut

"Bora!"

"Ya tuan, terjadi se-" Bora siaga dalam setiap nafasnya.

"Kami membutuhkan pelacak!"

"Baik, siapa yang tuan inginkan?" Sigap dalam bertindak siap mendial nomer untuk kebutuhan tuannya.

"Ma-maaf tuan?" Terbata dalam sikap dan pikiran Bora terdiam.

Minseok menyahut dalam setiap langkah, "Berikan padaku!"

"Jongdae!"

"Hyung-"

Minseok bergetar dengan tangan meremat di kedua sisi tubuhnya. Menatap nyalang dalam setiap baris yang terucap di ujung line sana hingga mengaktifkan fitur speaker pada panggilan : dia tidak bisa mengendalikan dirinya lebih baik lagi.

"-kami kehilangan begitu banyak, hyung menghilang tanpa jejak dan juga semua. Termasuk Yixing dan juga yifan jika memang benar dia ada di sana atau berada sebagai dalang semua ini."

"Maaf tapi aku benar benar kehilangan jejak junmyeon hyung."

Terdiam dalam kesunyian yang menjerat jiwa dan batin Minseok. Hingga tepukan tangan di bahunya mengangetkan.

"Jongdae." Suara Showluo begitu tenang kentara tau dengan baik keadaan mereka.

Sebuah kepastian ada, jika Junmyeon menghilangkan bisa di pastikan Yixing juga tidak ada bersamanya.

"Ya, hyung?"

"Bawa pada titik kumpul kami akan merapat!"

Tatapan mata itu terpusat begitu saja pada Showluo yang merebut telefon dalam genggaman Minseok dan Bora menatap tanpa putus bersama. Sebelum dirinya berdiri untuk mengatakan, "Saya akan bersiap dengan tim pelacak kami tuan muda."

Showluo tersenyum kalem, "Mari temukan bersama xiu!"

Wangxun ada di sana menyaksikan dalam senyuman, sebelum dia menatap saudara lelaki tertuanya dalam tatapan matang.

Mereka lebih dewasa untuk sebuah misi bersama.

.

.

.

Tut. . .tut. . .tut. .-klik

"Aku selalu menunggu sambungan telepon darimu putraku."

Sapaan ringan mengalun selembut bulu yang berenang di udara. Menyapa keindahan bumi yang terlihat dari pancaran indah sang surya.

Minseok mengawali harinya dengan kabar terbaik yang dia pilih untuk mengamankan keadaan di satu sisi dan membiarkan satu sisi lainnya berenang mencari tepian terbaik akan permata yang sempat hilang.

Dalam mobil Minseok mengawali dengan tatapan Showluo dan Kyungsoo yang ada di belakangnya. Satu mobil dengan anak buah yang mengikuti dan Bora yang melesat kauh di depan terkoneksi langsung dengan di bantu Dasom dan tim black and white lainnya.

Paman Henry dengan status terakhir yang terdengar adalah mulai merapat dengan sisa anggota yang akan ikut memperkuat rumah besar keluarga Zhang yang sempat porak poranda sistem keamanannya.

Sedikitnya orang membuat mereka harus pintar pintar membagi waktu dan posisi.

"Appa, semua baik baik saja dan kami bersama dengan zhang."

Tatapan menerawang, Minseok membelah semua kemungkinan yang datang bersahutan menghantui. Mempersiapkan mulut licinnya untuk setiap pertanyaan dan maksud terselubung dari sang Pimpinan tertinggi. Minseok tau dengan jelas siapa yang di hadapi dalam informasi keadaan seburuk ini.

"Lalu bagaimana junmyeon?"

Tebakan tepat!

Yang sayangnya Minseok sudah mempertimbangkan dengan akan hal ini. Untuk saat ini saja, untuk kala ini saja biarkan sang dominan yaitu Kim Junmyeon yang menyelesaikannya dengan semua tim. Bukan untuk menutup bagaimana Tuan Kim akan tau tetapi waktu yang tidak dia inginkan datang terlalu cepat.

Tidak untuk saat ini.

"Satu dari masalah datang dan kami harus menyambut tamu dari tanah china yang membutuhkan perhatian." Minseok rasa ini jawaban paling baik yang dia miliki.

"Seperti itukah? Berapa banyak, anak anak akan datang untukmu."

Dia tau!

Sejauh apapun orang tua pasti tau keadaan anak anak mereka. Namun, Minseok akan melakukan semua upaya untuk melakukan se-mandiri mungkin sebelum bantuan mereka datang dan dia butuhkan. Dia percaya pada tim dan juga Junmyeon.

"Tidak karena kami memiliki formasi penuh bersama showluo ge juga paman zhang." Kemantapan hati coba dia bangun dalam setiap alunan penguat hati yang coba dia lakukan juga berharap doa doanya akan terpanjatkan.

"Aku begitu ingin mendengar suara junmyeon." Minseok tau dan merasa ini adalah pertanyaan tersulit untuknya.

Dengan keadaan dia tidak bersanding dengan adik kandungnya membuat jiwa juga raganya lemas untuk satu alasan pasti.

Mencoba menguasai diri Minseok kembali berucap untuk kebohongan yang tidak dia katakan, "Kelak ketika aku bersamanya."

"Minseok. ."

"Ya."

"Aku percaya pada kalian."

Hatinya bergetar, akan banyak rasa yang membuncah. Namun, bagai sebuah amunisi yang di isi kembali Minseok membesarkan hatinya akan sebuah kemungkinan yang akan ada di depannya.

"Kami akan pulang secepatnya, bersama yixing."

.

.

.

.

.

.

"Satu masalah datang dan aku benar benar minta maaf karena melepaskan Junmyeon hyung kesendirian dalam pencarian."

Jongdae mendekat dengan terburu untuk menemui Minseok yang baru saja bergabung bersama Showluo. Selepas kepergian Bora yang sudah melesat dengan beberapa pengendara motor lainnya untuk menyisir semua tempat yang sudah di identifikasikan sebagai tempat terakhir Junmyeon bersama Yixing dan Yifan berada.

"Bagaimana bisa?" Showluo yang pertama kali menyahut mendengar penjelasan yang di ajukan Jongdae saat ini.

"Aku tidak memiliki petunjuk satu pun tapi bekas pertempuran ada namun tidak dengan orangnya. Seperti menghilang begitu saja." Jelas Jongdae.

Kyungsoo mendekat setelah menyerahkan laptop untuk di ambil alih oleh bawahan Bora yang ada bersama mereka, "Hyung ini seperti sudah di rencanakan dan memang menjadi target incaran."

Minseok meredam emosinya begitu dalam, hingga hembusan nafas lemah keluar bersama ketakutan yang dia simpan, "Ini adalah satu dari banyak ketakutan yang aku fikirkan. Kita tidak ada di seoul tetapi di changsa yang bukan menjadi kualifikasi kita. Dengan ada dan siapa lawan masih begitu sulit untuk kita ketahui."

"Minseok tenanglah, kita akan mencari bersama sama. Aku ada bersama kalian disini." Showluo menenangkan.

-Tap . . .tap. . .tap

"Hanya belum di ketahui."

Hingga suara bass menyahut

Dalam langkah mendekat

Kemarahan menyelimuti dalam setiap langkahnya.

"Kau!" Teriakan Jongin yang lama terdiam membuat semua orang mengalihkan perhatian kepada beberapa orang yang tiba tiba bergabung dalam lingkaran..

.

.

.

.

"Aku tidak ingat memanggil kalian di sini." Bersamaan dengan ujaran yang di layangkan Jongdae dengan itu pula tamu tamu mereka mulai mendekat mempersempit ruang.

Tatapan tajam Jongin dan rasa marah yang memusat dari Kyungsoo. Menatap tajam terpusat satu sosok menyebalkan yang begitu mengena dalam ingatan.

"Jangan terlalu sensitif." Balas Chanyeol.

Ini tentang Park Chanyeol yang selalu bisa membuat jiwa orang mendidih hanya karena senyuman menyebalkan yang sialannya tampan namun juga sama brengsek-nya dengan sikap dan ucapannya.

Ah,

Bagaimana dengan Jongdae, sisi Kim yang sering dalam kerja sama dengan Park. Namun kali ini aku fikir jika lebih banyak dari mereka membenci daripada menyukai kedatangan mereka.

"Tidak, hanya saja jika bukan karena kau dan semua kemampuanmu menarik kim dalam hal ini semua tidak akan serumit ini wu chanlei." Zhang Showluo begitu representatif akan isi hati dan secuil kemarahan yang tercipta.

"Showluo ge sepertinya belum bisa memaafkanku." Namun Chanyeol yang tidak peduli tetaplah sama. Tidak mau tau akan bagaiman tanggapan dan kemarahan orang lain, atau justru menyukainya.

"Hentikan chanyeol, kita tidak datang untuk berdebat." Si kecil di balik tubuh tinggi menjulang Chanyeol menarik lengan lelaki jakung itu untuk menyingkir.

Lalu menegaskan, "Aku byun baekhyun, datang kemari untuk ikut dalam tim."

Kyungsoo dan Jongin menatap dalam keterkejutan. Terdiam semua orang adalah wujud nyata perlakuan juga tindakan berbeda yang dilakukan oleh Park. Ini bukan sebuah kebahagiaan yang mereka dapati melainkan justru kecurigaan besar yang bersarang.

Jongdae bergerak untuk maju sebagai tatapan mencari kejujuran, "Satu tujuan?"

"Ya." Sehun menjawab ogah ogahan.

Mencari celah dan enggan menganggap eksistensi si kecil puppy yang menatap penuh kesungguhan, semua yang ada dan berhadapan dengan Wu Chanlei selalu tau bagaimana tabiat berlebel 'baik' miliknya.

Minseok menatap mencari ekspresi wajah, Showluo yang masih terdiam. Menatap tajam dalam setiap lekukan kata berbahaya.

Sekalipun yang di acuhkan adalah pusat kehidupan Chanyeol, yaitu Byun Baekhyun. Kesalahan besar atau sebuah peluang besar?

Hei Kim? Apa kalian mau untuk kedua kalinya jatuh dalam siasat dan permainan manis juga rapi milik Park?

Hell, terjatuh di lubang yang sama itu namanya! Bodoh!

"Jangan lakukan hal konyol! Aku sarankan kau berhenti untuk bermain main chanyeol!" Bentakan Jongin membuat Chanyeol tersenyum miring, bahagia bukan main melihat wajah Jongin.

Oh lihat, siapa yang menguak rasa trauma pertama kalinya. Begitu mengagumkan bukan cara Park dalam membuka luka dan menabur garamnya.

Dalam hal itu tergelak sebuah pemikiran cepat, menghentikan Chanyeol dan semua kata kata manis berujung luka yang di ucapkan hingga sentakan cepat si kecil yang menjadi kunci kepemilikan Chanyeol menyahut, "Tidak! Kami datang untuk satu tujuan yang sama!"

Kejelasan dan keraguan membaur cepat. Itu teriakan Baekhyun. Menatap dengan kesungguhan akan mencari sekutu saat ini.

Yang sayangnya luka terlanjur menyayat ingatan Kim dan Zhang.

Pusaran berdarah kepemilikan tahta Wu bukan perkara mudah yang pernah mereka lakukan.

"Percaya padaku!" Teriakan Baekhyun sadar bagaimana semua orang terlalu marah kepada kekasihnya.

Tidak menyalahkan dan enggan melakukannya yang nyatanya tidak berguna banyak saat ini. Waktu tidak bisa di putar ulang. Bukan sebuah pertunjukan yang bisa di atur lebih dari sekali. Baekhyun juga tidak mengelak, namun saat ini dia ingin lebih daripada kepercayaan yang ada di sematkan kepada mereka.

Sret!

"Jika kau macam macam!"

-nafas tercekat dan ketakutan naik memuncak!

"Jongin!"

Pistol mengarah tepat ke kepala Chanyeol membuat semua orang menatap dengan ketegangan. Sekalipun wajah menyebalkannya akan tetap ada, Chanyeol tetap menatap remeh dan Jongin kembali melanjutkan perkataannya, "Atau melakukan hal yang hanya menguntungkanmu saja. Bersiap siaplah untuk aku penggal kepalamu!"

Desisan Jongin dia dengarkan namun Chanyeol masih santai untuk menjawabnya, "Seperti yang kau dengar, anggap ini hadiah terimakasihku karena kim turut menghancurkan yifan -dan juga zhang!"

Di akhir kalimatnya Chanyeol sengaja menjatuhkan lirikan penuh ejekan kepada sang penerus Zhang.

Sialan, pencari mati! Baekhyun ingin mencekik lehernya saat ini juga untuk ucapan tak bermutu yang hanya menambah minimnya percaya saat ini.

"Brengsek!" Showluo jelas marah dan Minseok menjadi yang pertama menahan bahunya untuk menghalangi pertengkaran tak bermutu.

Walau jelas itu juga membuat Kim dan semuanya muak juga ingin menghantam wajah menyebalkan Chanyeol yang sok berkuasa.

Oh ayolah, permainan dan predikat 'raja dibalik layar' atas semua permusuhan ini sudah jelas jelas adalah Park Chanyeol dan semua kepandaiannya menemukan lawan tangguh untuk Yifan dan keluarga Zhang.

"Karenanya kami ada di sini dan mungkin juga menikmati pertunjukannya." Haish! Jangan lupakan Sehun! Omongannya tidak pernah bisa di terima! Dia jelas sama brengseknya!

"Sialan!"

"Aku berjanji akan membunuhmu setelah ini!" Ucapan tenang Jongdae membuat semua terdiam. Dia yang paling dekat dan mengenal cara kerja Chanyeol dan hanya dia yang sudah marah akan membuat semua faham dengan keadaannya.

Namun bagi Chanyeol semua ucapan Jongin atau Jongdae dan juga Showluo ia anggap angin lalu. Masa bodoh baginya.

Meskipun jika Jongdae yang menyatakan akan memiliki efek lain yang tersendiri.

Menekan dalam ritme halus tak kasat mata.

"Mari buktikan kalau begitu!" Chanyeol maju selangkah dengan tangan di masukkan dalam saku celana dan senyuman menantang di depan Jongdae yang menatap tanpa ekspresi.

"Kami punya denah dan bala bantuan untuk kalian." Sehun menyahut dalam interaksi serius.

"Kami punya pion di sana! Dan jangan lupakan kalau saudara tirimu masih ikut dalam semua rentetan masalah ini." Tekanan yang Jongdae lakukan ternyata mampu memyulut dua sisi yang berbeda dalam diri Chanyeol.

Kemarahan dan tekanan.

Hell yeah!

Hei Park! Aku lupa, ini Kim Jongdae dengan posisi terbaik Kim dalam segi srategi di medan pertempuran. Jangan salahkan dia yang bisa memancing kemarahan dan emosimu untuk naik dan membakarnya untuk mau dan menetap di jalan yang Kim inginkan.

Kau meragukan seorang Kim ternyata.

Tersenyum miring Showluo tau jika Kim ada untuk sebuah Tim. Jongdae pintar dalam melihat lawan dan memancing emosi Chanyeol yang imbasnya sangat terasa dengan keikutsertaan Baekhyun, dia kekasihnya yang satu lagi poin plusnya adalah. . .

Byun Baekhyun adalah teman masa kecil Yixing.

Dan dia. . .

Begitu membenci kedekatan Wu Yifan untuk semua aspeknya.

"Yeol! Berhenti melakukannya! Sekarang!" Perkataan tajam tanpa nada tinggi oleh Baekhyun membuat Chanyeol bertekuk lutut kala itu juga mundur begitu teratur namun tajam mengunci pergerakan, terlebih Sehun mengiyakan tanpa bantahan.

Apa yang aku bilang akan kunci kepemilikan Chanyeol tadi.

"Kita harus mendekat dengan lokasi, karena sebelum itu kita menjauh dari sini sekarang juga." Itu Xi Luhan. Datang paling terakhir, enggan berdebat atau mendengar perdebatan dan hanya mengatakan sepatah kata untuk lemparan kunci yang dia berikan kepada Sehun.

"Satu tim! Ayo lakukan!" Jongdae mengomando menyingkir dari lingkaran diskusi dan menuju mobil.

Brum! Brumm- bruumm.

.

.

.

.

.

"Hyung!" Teguran tegas Jongin membuat Jongdae menatap pada anak laki laki di sebelah kemudinya.

Tatapan yang tajam namun tidak ada ucapan setelahnya membuat sang Kim ketiga tau apa yang dia fikirkan.

"Hyung! Jongin hansfree, kita tersambung dengan minseok dan showluo ge!" Cukup terkejut dalam bentakan tegas, pengingat emosi juga mengatur strategi dengan medan daln koordinasi tim. Ada Kyungsoo yang melakukan perannya.

Dalam hentakan jemari jemati aktif dan laptop do pangkuannya dia menyambungkan saluran komunikasi bagi tim miliknya dan juga Zhang.

Klik-

"Jongdae."

"Ya hyung." Jawaban jongdae mengawali semua pendengaran yang dipertajam.

Bola mata aktif dan berkeliaran. Pikiran menerjang penuh pertimbangan. Jongin dan Kyungsoo mencoba satu fikiran. Jongdae bersiap untuk sejauh apa perbuatan dan konsekuensi di depan mereka hingga Minseok menganalisa dan Showluo yang akan membentengi dan mengingat setiap perbuatan dari Kim.

"Kau yakin bagaimana chanyeol akan ada dalam satu tim dengan kita dan junmyeon hyung?"

Nada keraguan itu ada dan dimengerti dengan baik olehnya, begitu tegas dan terfokus Jongdae menjawab, "Aku yakin mereka akan menurut."

"Jongdae-ie! Chanlei selalu memiliki sisi melenceng mereka dalam penyelesaian konflik kau tau itu." Inilah kegunaan Showluo bagimana keikutsertaannya diperhitungkan.

Dia lahir dan besar di Changsa tau bagimana orang orang dan pola pikir mereka.

"Ya ge, ini memang beresiko tetapi aku bahkan tidak memiliki banyak anggota di changsa saat ini." Terbentur oleh keadaan. Cukup menyesalkan.

Namun Kim! Kau harus tau jika Chanyeol dan Sehun adalah salah satu kualifikasi terbaik untuk sebuah pion yang patut diperhitungkan.

-yang dimana mengesampingkan sifat sifat terbaik mereka.

"Kau tau siapa yang kau hadapi?" Pertanyaan Minseok melanjutkan alur permainan yang aksn mereka hadapi.

"Aku tau." Jawaban Jongdae mengalun dalam tarikan nafas tertahan Jongin di sampingnya.

Memang hanya sebuah analisis yang di kembangkan Jongdae saat ini. Dengan keadaan medan yang begitu mulus, bersih tanpa cela. Untuk ukuran yang emreka bawa adalah pimpinan Kim dengan semua kualifikasi terbaik dan Wu Yifan yang ikut serta dan satu lagi adalah Yixing. Tiga orang yang mana ketiganya jika di satukan akan tidak mungkin dalam satu waktu yang keadaan yang sama hingga tidak mengetahui musuh mereka dalam jarak terdekat.

Kalian jauh lebih tau akan hal itu!

Desahan nafas Minseok sepertinya satu fikiran dengan Jongdae hingga bola mata lelah dn khawatirnya muncul kepermukaan. "Keluarga lama."

"Siapa hyung?" Jongin menyalak marah.

"Orang lain yang mendapat kebebasan dari kim." Penjelasan pelan penuh tekanan dari Jongdae membuat seluruh penerima hansfree merasa tertekan tak kasat mata.

"Jangan terlalu berfikir bahwa itu benar hyung, kau tau changsa bukan seoul yang bisa kau tebak dan terbukti kebenarannya. Ini china dan changsa." Itu Kyungsoo dengan kemamuannya mengatur emosi yang siap meledak ledak dari Kim.

"Kembali pada chanyeol, berapa persen kemungkinan dia menurut dan rencana penyelamatan ini berhasil." Showluo turut mendukung.

"68% bagiku." Itu Jongin yang tersulut.

"Itu bisa menurun dengan keberadaan yifan, dia akan melenceng kala menemukan lelaki itu di sana." Minseok menambahi.

"75% bagiku." Jongdae menjawab jelas.

Lalu menjelaskan kenapa dia berani mengatakan setinggi itu, "Di sana ada junmyeon hyung. Chanyeol dan junmyeon hyung entah apa yang pernah mereka bicarakan keduanya memiliki ikatan dan insting tersendiri untuk menyatukan jalur atau jalan yang mereka tuju."

Teringat sesuatu Showluo berkata, "Itu bisa lebih tinggi, ada byun baekhyun dan sisi positifnya anak itu adalah teman baik dari yixing, akan kecil kemungkinan jika chanyeol tidak menuruti kemauan kekasihnya.."

"Jadi, kita bisa memakai mereka?" Tanya Minseok meyakinkan.

"Kufikir itu. . ." Jongdae menyeringai aktif.

Jongin tau sekarang siapa yang akan dia jadikan umpan untuk menekan lawan yang menjadi sekutu, "-tidak buruk."

Karena Byun Baekhyun ada untuk sebagai umpan dibalik semua tindakan kedua lelaki itu.

Great!

Satu dari alasan bagaimana Chanyeol menyembunyikan kekasih puppynya ada dalam tubuh Wu, musuhnya sendiri. Adalah ini.

Kelemahannya!

Lets make a new tim, kim!

.

.

.

.

.

.

Bagaimanapun ACE akan tetap berlaku dalam semua permainan mereka.

Masih meragukan kekuatan ace?

Kemari dan akan aku tunjukkan satu persatu kepemilikannya,

Dengan adanya Park Chanyeol yang ikut dalam satu tim bersama Kim, sebuah keraguan ada di sana. Jelas bagaimana hal itu terbukti karena semua kelammya masa lalu akan Jongin dan Kyungsoo atau Jongdae dan Minseok ada karena akibat dari perbuatan dan permainannya.

Namun, kali ini akan berbeda. Chanyeol seperti menyodorkan dirinya dalam satu pusaran yang Kim buat untuk kemenangannya sendiri. Kali ini, dia bagaikan bersimpuh, bersedia untuk mengikuti permainan yang Kim buat dengan gayanya dan dengan cara mainnya.

Sesuatu khas yang Kim lakukan.

Chanyeol bersedia melakukannya, dan bagaimana tidak di katakan 'bersimpuh di depan Kim' jika dia juga turut mengikutsertakan Byun Baekhyun dalam misi kali ini. Maka disanalah kunci dari ace yang bisa di pegang oleh Kim.

Masih ragu? Mari lihat sisi Sehun di sini.

Laki laki Oh yang datang dalam sisi informan yang awalnya ada untuk menonton pertunjukan dari sisa sisa pertempuran lingkaran berdarah Wu, licik atau biadab?

Sama saja, namun ada yang berbeda di sini. Dimana dia dengan semua kemampuannya mau mau saja turut serta dan ada di lapangan bersama untuk memperkuat tim. Kalian merasakannya?

Ya, ada yang berbeda. Ada yang begitu berkuasa dan berefek langsung kepada lelaki Oh sialan tampan Sehun yang selalu berkuasa turut dalam setiap strategi permainan.

Mungkin bisa di sebut dengan lingkaran roda kehidupan. Kala kau ada di bawah maka bangkit dan bersiaplah untuk naik. Namun kala kau ada di atas maka jangan lengah karena kau bisa ada di bawah setelahnya.

Hei hei~

Ingat bagaimana Tuan Kim adalah benteng yang siap dibelakang untuk semua hal yang di alami Kim Junmyeon sebagai tombak terdepan Kim? Menyikapinya, menarik ataupun memberikan amunisi yang sekarang berperan sebagai raja di balik layar setiap pion pion Kim. Maka akan aku tunjukkan kekuatan lain darinya di sisi ini.

Uri King,

Dengan kedekatan antara Kim dan Oh Yunho ketika hari dimana jamuan teh di adakan, satu tahun yang lalu. Itu sudah merupakan asal daripada langkah dari Tuan Kim. Bukankah kalian juga sudah memprediksi akan hal itu. Dan terlebih untuk kali ini.

Jika Kim tidak bisa memegang peranan Oh maka itu sama saja dia terjatuh di lubang yang sama, karenanya kedatangan dan ikut sertaan Sehun menemui Junmyeon tempo hari yang lalu adalah bentuk nyata kekuatan Tuan Kim.

"Sehun-" peringatan Chanyeol kelas atas bagaimana kelakuan ajaib Sehun yang tidak dia sukai.

Chanyeol terlalu suka bagaimana kedudukannya dan keadaannya saat ini. Enggan untuk bertingkah lebih.

"Ada apa hyung? Bukankah kau bilang untuk tidak tertarik?" Tau bukan bagaimana Sehun memancing kemarahan Baekhyun akan status Yifan yang juga ada di Changsa untuk menemui Yixing saat ini.

"Jangan bodoh! Kau memancing baekhyun untuk semua ini sialan!" Bentakan nyata Chanyeol lepas begitu saja.

Dan kekehan Sehun yang menjadi jawaban, "Oh ya!"

"Katakan cepat dimana dia sekarang! Dan biar aku membunuhnya!" Paksa Chanyeol.

"Kau masih semaniak dulu ternyata." Seringai Sehun mengembang, menghujat tabiat lama Chanyeol yang sudah dia rindukan.

"Sialan kau-" Maki Chanyeol cepat

"Tuan!" Teguran dari seorang anak buah yang masuk terbirit birit membuat Chanyeol dan Sehun terdiam dalam kernyitan dahi. Menatap penuh tanda tanya pada sosok bawahan Wu yang menunduk takut.

Sebuah telepon di serahkan dalam bentuk tundukan hormat yang kentara,

Klik

"Sia-"

"Park chanyeol."

-Deg

"Tidak menyangka akan begitu sulit menghubungi penerus sah dari wu, benar?"

Sialan batin Chanyeol, mengumpat bagaimana suara tegas penuh wibawa yang mengudara saat ini adalah satu dari beberapa tetua pimpinan Mafia ada berbicara dengannya.

"Tuan kim. . ."

"Kau begitu pintar untuk mengenali suaraku, anak muda."

Tercekat dan Chanyeol seperti di hadapkan pada dinding yang kokoh tiba tiba. Begitu cepat dan menjebak Sialan bukan! Ada apa juga lelaki tua ini berbicara dengannya.

"Begitu merasa terhormat bisa menerima panggilan dari tuan kim." Chanyeol masihlah Park yang begitu pintar menguasai keadaan bukankah begitu. Masih dapat menyunggingkan senyuman sekalipun mengumpat luar dalam.

Kekehan pelan dari Tuan Kim membuat suasana mencekam alih alib membuat gendang telinga Chanyeol menghangat. Sialan batin Chanyeol mengumpati keadaan -lagi- yang dia hadapi saat ini.

"Aku sangat menunggu waktu untuk bisa berbicara denganmu . . . -dan juga putra tuan oh yang terhormat."

Deg! Bola mata Chanyeol menajam, menatap terkejut pada Sehun yang berdiri di depannya. Memperhatikan dalam diam, dan Chanyeol merasakan kesulitan bernafas tiba tiba.

"Oh sehun." Reflek Chanyeol.

Ponselnya di turunkan di depan dada menatap benda pipih itu dengan loudspeakers yang di aktifkan.

"Tentu saja, bukankah kalian ada dalam satu ruangan sekarang?" Suara nyaring yang membuat Sehun menyerngit.

"Benar, tuan."

"Itu jauh lebih baik, sama dengan penjelasan yang di berikan tuan oh kepadaku barusan."

A-apa? Barusan dia bilang!

Fuck!

Sejak kapan Kim ada dalam mansion Oh, fuck! fuck! fuck! Sudah jelas kau di jebak Oh Sehun!

Sehun tercekat dalam sekejap, kepalan tangannya menguat. Dia menebak nebak kemana arah kemudi layar milik Tuan Kim ini berlabuh.

"Bagaimana rasanya menduduki kursi pewaris wu, park chanyeol? Atau aku harus memanggilmu wu chanlei?" Oh! Kursi pewaris, sedikit banyak Chanyeol tau kemana arah pembicaraan ini jika bukan pada lingkaran berdarah milik Wu.

"Ku fikir sudah saatnya aku mempertanyakan perjanjian yang kau buat bersama junmyeon?"

Deg! Dan sekali lagi Chanyeol di buat terkejut akan fakta yang di ketahui oleh Tuan Kim, meskipun dalam hal ini fakta pertemuan Kim Junmyeon dan dia akan perjanjian yang pernah mereka lakukan itu ada saat saat dimana keadaan Kim dalam kesulitan akan tamu Changsa yang dia jamu kala itu. Kalian tentu ingat, kala hanya ada Junmyeon dan Chanyeol di ruangan pribadinya di mansion Park.

"Bagaimana tuan tau?" Tanya Chanyeol seraya menahan desisan.

"Begitu terlihat jelas dari kedua pola permainan kalian. Dan aku ayahnya, bagaimana aku tidak tau perangai anakku."

"Kami fikir perjanjian yang kami lakukan sudah sepenuhnya selesai."

"Oh benarkah? Jadi kau fikir di sini tidak ada konsekuensi dan imbas dari perjanjian yang sengaja dan tidak kau buat park chanyeol!"

"Tidak ada konsekuensi yang pernah kami bahas tuan kim! Jangan mencoba mendesakku! Junmyeon hyung sepenuhnya tau akan imbas semua hal ini!" Chanyeol menaikkan nada bicaranya! Menentang akan menjadi objek yang dipojokkan.

"Kau benar benar pewaris wu ternyata." Alih alih marah Tuan Kim punya pembawaan tenang luar biasa.

"Kalau begitu biarkan aku bertanya dari sisi putra tunggal tuan oh. Bukankah kau sudah berjanji untuk berhenti mencampuri urusan kim dan semuanya yang berimbas melebar oh sehun."

"Ku fikir tuan kim salah di sini, tidak ada ke ikutsertaan ku- "

"Tapi tidak ada keikutsertaan jika kau tidak mencoba membocorkan keberadaan kim di china, oh sehun!" Teriak di seberang line itu jelas adanya.

Glek!

"Kau melanggarnya, sisi permainannya bukan hanya sekedar inti kalian bertiga. Antara wu, atau zhang dan kim."

"Aku tidak ingin berbelit, cukup meminta lebih daripada keikutsertaan kalian, karena kursi yang kau duduki park chanyeol jika bukan karena kim kau tidak akan mampu berada di sana untuk itu bagaimanapun aku meminta timbal balik untuk junmyeon saat ini."

"Beserta dengan keluarga oh tentu saja, bukankah begitu? Atau biarkan tuan oh sendiri yang mengatakannya padamu-"

"A-apa?"

"OH SEHUN!" Teriak itu -sudah lebih daripada jelas jika itu adalah milik Oh Yunho.

"Cukup jelas, permintaanku tidak lebih. Selesaikan semua permainan dengan jumlah formasi penuh seperti kalian memulainya hingga garis akhir kalian temukan. Dan tidak akan ada ancaman di sini maupun di kanada. Jadi lakukan."

-Klik

"BANGSAT!"

Kekehan Luhan justru membuat semua orang yang merasakan mencekamnya suasana ruangan menatap tidak percaya pada putra pewaris keluarga Xi itu, "Sudah berapa kali aku katakan, kalian tidak hanya berhadapan dengan kim junmyeon seorang."

Sosok anggun itu tau tau sudah duduk menopang satu kakinya di atas kaki lain dan menatap kedua lelaki tian di ujung sana dengan senyuman manis tanpa beban.

"Jika kau sudah menemukan lebih daripada anggota kim yang turun serta ke lapangan. Artinya kau sudah menyentuh keseluruhan dari kim."

"Anggota kim lainnya?" Beo Baekhyun. Sang puppy sudah duduk dengan tatapan menyelidik.

"Hmm. Cha hakyeon, lee donghae, yoon bora, kim dasom. Terlebih hingga kim minseok yang di sentuh oleh yifan dan yuan shasha hingga dia mengalami cedera kala itu. Itu fatal."

Sangat fatal

"Tuan kim tidak seringan tangan itu membiarkan junmyeon berjalan seorang diri, junmyeon lebih daripada seorang anak lelaki kim namun aset. Ini lebih daripada permasalahan cinta segitiga. Sekalipun tuan kim menantang junmyeon untuk mampu berjalan di changsa sendiri dengan taktiknya bersama tim inti tapi black-white tetap di dekatnya, di sana kalian akan tau jika mereka melapisi tim junmyeon dengan tubuh kim dan mengawasinya."

Baekhyun berdecak lalu mulai membantah, "Tetapi bahkan kim di changsa ada dengan cara penanganan mereka sendiri."

"Kau benar baekhyunie, tetapi kim tidak mempermasalahkan penyelesaian junmyeon akan zhang. Apa di hancurkan atau negosiasi mereka yang akan bermain. Baru jika junmyeon menyerah dengan caranya kim yang akan bertindak dengan cara yang mereka inginkan"

"Tetapi intinya ada pada kedudukan king yang masih di pegang oleh tuan kim, sehingga jika terjadi benturan di ujung tombak mereka tuan kim akan memilikil sejuta alternatif lain untuk tetap memuluskan tujuannya, kemungkinan terburuk yang ada dan berputar adalah jika junmyeon tidak dapat mendapatkan yixing maka otomatis nama zhang akan hangus saat itu juga. Berbeda dengan wu yang sepenuhnya ada dan semua otaknya ada padamu, yeol."

Bangsat!

Sialan!

Bajingan!

Keparat!

Oh yeol! Keluarkan seluruh sumpah serapahmu dan tidak akan ada yang berubah.

Kau tetaplah pemain dari lingkaran berdarah yang kau buat dan akhir dari permainan juga harus kau tentukan. Sekalipun sekarang melebar, namun bukankah ini masih berasal darimu?

Beda Chanyeol beda Sehun, laki laki itu terdiam dengan tatapan tajam menerawang yang kelam. Hingga jemarinya menari aktif di atas layar pipih mendial nomer seseorang hingga suara tersambung dari line di seberang berbunyi,

Klik

"Bos?"

"Cari dimana letak kim junmyeon sekarang, jangan terlihat dan tetap pada porsimu. Tetapi temukan dia. Secepatnya."

Anak laki laki Oh itu bagai tidak terbebani akan apapun lagi, beda dengan Chanyeol yang sudah jelas enggan untuk berpindah tempat nyamannya.

"Baik bos! Data akan segera terkirim."

Pip

Seringai tersungging begitu ringan, hingga tatapannya beralih pada Chanyeol yang masih meradang, "Bukankah aku pernah bilang jika menonton saja tidak seru?"

"Ayo lakukan~" nada seringan kapas namun yang satu meradang.

"Ck ck, kau ini tidak terpengaruh atau justru seperti menerima undangan permainan tuan oh yang terhormat?" Tanya Luhan jengah.

"Jangan menyindirku sayang, dan baek -seperti biasa." Kala dagunya mengarah pada Chanyeol maka lelaki Byun itu mendengus tidak begitu kentara.

"-bagianmu."

.

.

.

.

"Chanyeol!"

"Aku terlalu nyaman ada di zonaku, baek."

"Tetapi kau tidak bisa untuk seperti ini, semua kita mulai dan kita tidak bisa bersantai kala mereka masih dalam keadaan mencekam yeol."

"Akan aku carikan cara agar junmyeon hyung mampu mampu saja dengan semua hal di changsa."

"Tetapi aku tidak setuju juga dengan keberadaan yifan hyung!"

"Aku tidak pernah suka jika hal ini terdengar padamu!"

"Aku bilang katakan jika itu tentang hyungku! Chanyeol bahkam dia adalah satu satunya hyung untukku!"

"Kau ingat yuan, wanita yang kau hajar kala itu baek.." tiba tiba Sehun berucap tanpa peduli perdebatan mereka, dengan jemari yang masih menggenggam ponselnya dan terlihat sibuk.

"Ya," jawab Baekhyun singkat.

"Dia masih hidup dan ada untuk bekerja sama dengan nyonya Xiaoran, salah satu wanita dari masa lalu tuan kim." Terang Sehun.

"Dia ada di changsa? Benar begitu bukan! Dan kemungkinan dia tamu yang tenggah di jamu zhang juga kim saat ini. Yang di incar lebih adalah zhang." Sambung Sehun.

"Chanyeol!" Bentakan kasar Baekhyun layangkan sebagai wujud perintah atas permintaannya.

"Ya,"

"Aku sudah bersiap untuk membantu mereka menyusup atau bahkan menghancurkan rumah wanita itu untuk yixing hyung." Tambah Baekhyun.

"Tidak!" Tegas Chanyeol.

"Dan aku akan tetap ikut!" Kegigihan Baekhyun ada di sini, di tunjukkan dalam tekad yang akan sulit untuk Chanyeol hindari keinginannya, dia bisa melihat dalam pancaran mata itu. Chanyeol seperti ingin menghancurkan barang barang di sekitarnya jika seperti ini.

"Sayang!"

"Chanyeol ijinkan!"

Menarik nafas panjang, Chanyeol mengusap kasar wajahnya, frustasi begitu dengan keputusan mutlak Baekhyun akan Yixing dan tujuan mereka. Bagaimana dia tidak frustasi jika kekasih puppy-nya yang begitu ia lindungi akan membahayakan diri begitu saja dengan misi ini. Hell!

Namun ini akan Zhang Yixing, satu satunya Zhang yang sudah mencuri hati dan perhatian kecil akan sikap baiknya terhadap hati milik Byun Baekhyun, sulit untuk mengatakan tidak, dan lebih lebih ini akan Wu Yifan sosok laki laki yang menjadi daftar nomer satu akan Baekhyun singkirkan jika berada dalam radius terdekat dengan hyung kesayangannya.

Chanyeol tau dengan baik akan hal itu.

"Aku akan melindungimu, itu persyaratannya."

Inilah yang mungkin akan Chanyeol lakukan sebagai antisipasi juga alternatif yang bisa dia lakukan. Dengan berat hati dan tatapan mata yang menerawang tajam.

"Ya, asal aku bisa membunuh yuan saat itu juga jika menyentuh yixing hyung."

Dia tau jika itu tujuannya. Maka dia akan siap untuk dalam radius terdekat kala Baekhyun benar benar melakukannya.

"Kita bergerak bersama." Luhan menyarankan. Dia juga tidak mau jika Yifan mencapai kebahagiaannya, kalian tentu ingat akan hal itu.

Chanyeol menerawang, "Dan kita butuh lebih banyak informasi untuk tanah tidak tersentuh di pinggiran changsa."

"Keh, lihat siapa yang lebih tertarik dengan zhang saat ini?" Ejek Sehun.

"Oh sehun! Gunakan dirimu dengan baik untuk situasi ini!" Bentak Baekhyun, anak laki laki itu bersungut sungut lucu.

"Jika bukan aku yang memberi tau, memang kalian bisa dapat informasi dari mana?" Bentak Sehun tidak terima.

"Hajar dia yeol, sungguh!" Baekhyun memprovokasi.

"Kau bisa mengandalkanku tuan wu." Tawar Luhan.

"Huh, siapa kau disini sekarang oh sehun? Luhan ada di pihakku." Bentak Baekhyun dengan berkacak pinggang

"Sialan!"

Salah satu alasan dari banyak hal dimana Wu bersedia akan keterlibatannya yang sekedar daripada informasi dan bantuan semata, seperti kala lemparan kunci dan anak buah akan penghancuran Zhang.

Chanyeol tentu hanya berniat dengan semua keikutsertaan yang palsu, dimana pikirannya hanya terpusat dalam kesenangan dan perlindungan untuk Baekhyun. Namun, dengan lebih daripada tekanan juga keinginan mutlak Tuan Kim maupun Baekhyun apakah dia mampu hanya melakukan keikutsertaan palsu dan tanpa kesungguhan?

.

.

.

.

.

Mobil berjalan dengan iringan mobil Jongin bersama Jongdae dan Kyungsoo di depan di ikuti oleh Minseok dan Showluo lalu di pimpin oleh Chanyeol, Sehun dan Baekhyun di belakang.

Satu daripada jalanan Changsa membawa mereka pada sisi punggiran yang cukup sunyi untuk di sadari kemana mereka akan di bawa hingga dua montor mulai memberika randa klakson dan menyalip ke sisian depan. Mengejutkan Minseok di dalam mobil.

"Itu bora! Ge, ini membuatku takut jika memang ini benar."

"Minseok jika memang ini benar,dan nyonya Xiaoran yang ada di balik semua ini. Tidak akan ada yang bisa menghentikan kita." Showluo berusaha menenangkan, meskipun dalam diri nya mengalir banyak keraguan akan hal itu. Seperti menyisir sisian yang tau sengan pasti seorang Kim.

Pesan dari Kyungsoo tersambung di mrnit selanjutnya akan area mana yang akan mereka tuju, dengan semua kejelasan itu Minseok benar benar meremat kedua jemarinya dalam gelisah.

Mansion dalam area tak tersentuh di sisian Changsa menjadi tujuan mereka. Dimana mantan ibu tirinya dahulu akan ia sambangi. Xiaoran Lim.

Wanita cantik yang pernah mengisi beberapa hari hari masa kecilnya yang kelam. Satu satunya orang yanv dibiarkan hidup sekalipun telah berpisah dengan keluarga besar Kim.

"Junmyeon. . .tunggu kami sebentar lagi."

.

.

.

.

.

.

Chanyeol menatap dalam seringai, melipat tangan di depan dadanya untuk senyuman penuh kesombongan yang ada. Dengan Sehun yang masih memasang beberapa alat aneh kunonya di beberapa dahan pohon di sisi kanan kirinya. Enggan tau atau mencari tau apa dan guna alat alat Sehun.

Tidak di sangka sangka jika daratan lain Changsa punya cerita lain di balik itu semua yang bahkan mengarah langsung pada inti Kim, yaitu tuan Kim dengan -Junmyeon juga Minseok. Oh, astaga jika Chanyeol tau ini lebih awal bukankah akan sangat menyenangkan setiap perjalanannya di Seoul setahun yang lalu.

Demi seluruh Changsa dan otak terpujinya Park Chanyeol.

Jongin menatap dalam dengusan kentara yang coba dia damaikan hati kecilnya yang memberontak untuk sebuah pukulan muak di wajah tampan Chanyeol.

Tapak langkah Bora mendekat dan semua orang terpusat pada sang gadis kepercayaan Kim. "Kami mendapatkan informasi banyak berakhir disini,"

Chanyeol mendekat dalam langkah angkuh tak terelakkan. "Menyapa keluarga lama?" Tanyanya dalam senyuman mengundang kerusuhan pasti.

Bora enggan untuk memberi kesempatan untuk sebuah pertarungan kecil yang mungkin akan ada, hingga dia mulai mengambil laporan untuk hal itu. "Sinyal paling kuat. Gps tuan muda ada di sini. Itu membuat kami tidak yakin pada awalnya namun kala foto sebuah mobil mini bus yang membawa tiga orang di dalamnya membuat kami mau tidak mau percaya jika tuan muda ada di sini."

"Nyonya lim."

Jongdae mendesah untuk ketiga kalinya dalam penjelasan dan seluruh fakta yang di bawa oleh Bora bersama anak buahnya. Dalam sekejap wajah wajah frustasi bercampur aduk dengan kemarahan ada dalam seluruh Kim. Hingga kekehan Chanyeol yang paling menyebalkan sekalipun tidak di indahkah oleh mereka. Showluo yang paling berusaha menenangkan didinya -ya, karena Minseok yang paling terlihat khawatirnya.

Kyungsoo yang paling mudah mengambil sisi baiknya, mulai menyalakan sekian banyak alat deteksi dini dan semua orang menatapnya, "Semakin cepat kita menyusun rencana, Semakin baik."

"Ck, kau berguna juga rupanya." Decakan penuh nada ejek Sehun datang hanya di tanggapi tatapan sengit Kyungsoo. Yang mana akhirnya dia mengumpat setelah Jongin terang terangan menendang tulang keringnya.

Cukup baik ku rasa.

Lagipula Kim, tidakkah kau sadar apa guna Chanyeol dan seluruh tim miliknya jika bukan untuk musuh seperti Nyonya Xiaoran.

"Posisi mansion ini berada di depan hutan pinus yang tersebar dalam pohonan besar rata. Kita punya keuntungan di sana."

"Taman mansion yang luas di bagian depan kurasa. . ."

"Itu, labirin. Dengan taman labirin bagian samping kiri. Penjagaan ketat ada di semua titik mansion. Dari depan gerbang, sisi taman kiri mansion lalu bagian belakang yang langsung pada danau buatan."

"Ku fikir nenek itu tidak menyiapkan hunian nyaman untuknya tetapi lebih pada tempat yang cocok untuk melarikan diri dari sisi manapun."

Fikirkan bagaimana semua titik rumah huniannya di lengkapi dengan alat yang bisa dia gunakan untuk tipu muslihat dengan taman labirin -jangan katakan tentang keindahannya jika kalian tidak melihat sisi aman dan manfaat terselubung di dalamnya, mengecoh musuh dengan labirin taman atau bagiamana dengan danau buatan yang di siapkan boat disana untuk melarikan diri lebih cepat. Astaga, bukankah ini sangat bagus. Dalam artian berbeda tentunya.

Mansion ini terlalu lemah dalam pertahanan benar? Namun dengan semua segi penempatan dan tata letak menjadi sebuah jebakan dan fasilitas akan pelarian dan perlindungan sang penghuninya.

Jongdae berbalik untuk menatap Chanyeol dan Sehun, dalam sapuan nafas yang tenang dan tatapan tajam -Chanyeol harus mengakui pusat konsertrasi terbaiknya.

"Bersiap?" Tanya Chanyeol singkat dengan sebelah alisnya yang naik, menunggu.

"Ya." Jawab Jongdae cepat.

"Ck," Decakan akan selalu terdengar dari Sehun, anak itu tidak ada ikhlas ikhlasnya dalam melakukan pekerjaan seperti ini. Terbiasa di balik layar, memang bukan kriterianya.

Yang sebenarnya dia harus membawa dirinya jauh dari zona aman seorang Oh.

Tablet di keluarkan, dengan sebuah peta gps yang berhasil di dapat, informan Oh. Sehun berdiri di sisi Chanyeol mulai menjelaskan keadaan geografis yang harus mereka akui tata letak bangunan dan semua yang ada di sana tersusun dalam rencana tersembunyi yang erat artinya dalam perlindungan pemilik Mansion. Kyungsoo terdiam dalam konsetrasinya, mulai melacak semua kebenaran dan salinan data yang Sehun punya. Anak itu bekerja dalam diam dan tenang melihat situasi.

Beda dengan Taekwoon, yang diam diam dia khawatir setengah mati. Minseok dengan Showluo mendengarkan setiap bait dan penjelasan serta kemungkinan strategi yang mereka gunakan dan mampu mereka lakukan sengan jumlah yang ada.

Jongin mendengarkan dengan tatapan mata aktif yang memainkan teropong, mereka berada di dalam rimbunnya hutan di sisi Mansion. Tidak jauh namun cukup dalam zona amannya.

Bora sendiri sudah menyerahkan salinan gps yang dia ketahui beberapa saat yang lalu. Menyala begitu aktif, Kyungsoo yang bertugas untuk hal itu.

Keputusan mereka ambil. Dengan erangan Jongdae yang jelas tidak ada yang berani melakukan ejekan lebih. "Temukan dahulu dimana gps junmyeon hyung."

"Aku mencoba." Kyungsoo masih terus bergerak aktif, Sehun tau hal itu mendekat dengan tenang dan tatapan tajam yang memperhatikan setiap pergerakan Kyungsoo dari belakangnya.

Cklek-

"Huh?"

"Lakukan dengan itu, kau lebih lambat dari yang ku kira." Ejekan Sehun tentu saja untuk si kecil bermata owl memberenggut, tentu saja adalah balasan Kyungsoo namun anak itu menurut saja dan kembali bekerja.

Baekhyun dan Luhan yang tersenyum tipis di sana. Keduanya mungkin akan setuju menyuarakan Sehun dan Chanyeol yang sudah mulai bisa bergabung dengan Kim.

"Jika aku boleh menambahkan. Bahkan kita tidak ada cara lain untuk menyusup masuk pada mansio Lim." Luhan bergerak memberi pendapat.

"Mansion Lim di kenal dengan daratan tidak tersentuh benar? Itu menujukkan sedikitnya aktifitas di sana. Bukan hal yang pernah kalian temui setara dengan bandar narkoba yang akan memiliki transaksi dalam putaran tiap minggu yang tepat."

"Geografis mereka mendukung karenanya sematan kata daratan tidak tersentuh ada di sini. Tempat ini bukan untuk orang orang baru jika kalian tidak punya strategi terbaik. Karenanya hanya ada dua jalan dari sana."

Penjelasan Luhan yang panjang membuat mau tidak mau mereka mengakui dimana dan bagaimana lingkungan mereka saat ini, hingga sahutan Chanyeol membuat Luhan mengutarakan akhir pendapatnya, "Katakan."

"Darat atau udara."

"Itu terlalu riskan."

"Pemgeboran bawah tanah, itu bisa namun tidak dengan kondisi mendesak seperti ini. Kalian butuh lebih banyak anak buah untuk menyusup lewat sisi darat dari sebelah manapun, taman dari gerbang depan atau belakang melalui danau. Namun dengan jumlah kita yang hanya sedikit jalur udara mampu membuat kita berpencar dengan baik dan terpusat untuk pengepungan."

"Tidak akan ada kata berpencar dalam misi ini tuan xi." Ketegasan ada dalam sorot mata Chanyeol. Mengakhiri penjelasan Luhan dengan ketakutan akan sebuah tim dan berpencar.

Jongin menyeringai untuk sebuah ide atau kesempatan yang bisa menekan pihak. "Artinya hanya ada satu jalan bukan."

"Jongin. Jangan memaksakan diri, kita bisa cari cara lain yang lebih aman." Minseok menengahi.

"Kita sudah terlanjur terjebak hyung." Erang Jongin.

"Apa yang di inginkan wanita itu, hyung kau tau?" Tiba tiba Jongdae berfikir ke arah lain.

"Hanya ada satu hal yang aku tau yaitu kekuasaan." Jelas Minseok mengingat ingat rupa dan lagak sang mantan ibu tiri.

"Kekuasaan kim. Karena itu. . ." Showluo mengeja keadaan.

"Dia begitu berani menyentuh junmyeon hyung seorang diri." Tambah Jongin.

"Tidak salah lagi." Taekwoon mengiyakan.

"Dasar wanita." Sahut Sehun tanpa ekspresi.

"Karenanya aku begitu benci wanita, dan jauh menyukai yang berbatang namun secantik mutiara, bukan begitu baby?" Ungkap Chanyeol yang membuaf semua orang menatap jijik kepadanya.

"Enyah kau, yeol!" Balas Baekhyun cepat.

"Aku mau muntah." Kyungsoo tiba tiba bersuara.

Jongin menggelengkan kepala lalu berbicara, "Apa dengan hal itu menyimpulkan bahwa kemungkinan junmyeon di dalam sana baik baik saja?"

"Tidak." Sahut Jongdae.

"Kejadian buruk masih bisa berlaku." Minseok mengatakan di tengah ketakutan utamanya

"Lakukan saja." Jongin sudah tidak sabar.

"Apa?" Beo Jongdae.

"Serang mereka dari taman labirin." Jelas Jongin.

"Itu beresiko." Minseok menengahi.

"Kita buat peta singkatnya dan-" Taekwoon memberi pendapat namun terpotong dengan perkataan Showluo.

"Ledakan." Singkat Showluo.

"Benar kata tuan showluo, gunakan ledakan dan tetap masuk dari gerbang utama, tuan kami masih sanggup membantu sampai di sini." Bora meyakinkan.

Melakukan yang terbaik tentu adalah yang mereka inginkan. Namun dengan jumlah dan keadaan yang tidak mendukung seperti di wilayah sendiri membuat mereka harus mengolah firi fan strategi sebaik mungkin.

Wu bisa saja membantu tetapi Ini bukan hal mudah yang semua selesai dengan bertambahnya anak buah penyerang.

"Bora berapa banyak barang yang masih kita punya?" Tanya Minseok.

"Tidak terlalu banyak tetapi cukup untuk sebuah permulaan tuan." Jawab Bora.

"Biarkan saya dan beberapa anak buah di sini untuk berada di depan."

Tawaran Bora sesuai, bagaimanapun dia poin yang sudah dipercaya di tanah Changsa oleh Tuan Kim langsung. Maka secara kriteria itu mencukupi untuk semua urusan dan menyerang sekalipun ini akan berbeda dengan pola permainannya yang biasa dia lakukan.

Jika kalian mau tau, Bora memiliki bagian yang mirip dengan Sehun. Yang sebenarnya lebih banyak bermain di balik layar. Namun untuk keadaan seperti ini akan tidak mungkin dia ada di balik layar.

"Ya, handsfree akan terpasang dengan begitu kyungsoo akan memberitau dimana letak junmyeon dan yixing berada." Jelas Minseok. Yang secara tidak langsung mengiyakan strategi Bora.

Chanyeol menatap Minseok dan "Akan ada yang bertugas di sini, tidak semua akan ikut."

"Aku akan ikut bergerak." Suara Baekhyun adalah yang paling tidak di inginkan Chanyeol dalam hal ini.

"Tidak." Hingga bentakan tegas dia keluarkan. Chanyeol mengambil alih pembagian tugas jika bukan begini Baekhyun tidak akan mau tinggal diam.

"Kyungsoo dan minseok akan di sini bersamaku. Aku menjaga mereka." Showluo mengambil langkah.

Chanyeol menatap semua orang di sana hingga dia berbicara, "Sehun akan bersamaku. Baekhyun kau tetap di sini bersama luhan. Ini akan cukup sekalipun hanya aku, sehun, jongin, taekwoon hyung, dan jongdae yang menyerang. Ada bora dan anak buahnya di depan mencari jalan."

"Jangan konyol!" Luhan bersuara keras.

"Mereka lebih daripada itu chanyeol! Jangan kau fikir nyonya lim kekurangan anjing penjaga dengan dia yang mendapat pimpinan misi kim. Aku juga baekhyun bisa membantu." Tambahnya.

"Aku tidak mengizinkannya." Baekhyun maju selangkah.

Drrt -drrtt

Deringan ponsel yabg bergetar membuat semua pertengkaran itu memudar namun masih tersisa.

"Siapa?"

Terdiam sementara dalam keadaan mencekam, "Tuan besar kim."

.

.

.

.

.

.

Junmyeon mengerjap dalam keterdiaman, angin dingin menusuk tulang, udara pengap tercium dalam jangkauan, bercampur amis dan anyir tanpa perlawanan, menyusup masuk indra penciuman. Gelap menguasai dalam ruangan kosong luas yang hanya ada dia dan dua orang di belakangnya yang masih dalam pengaruh obat bius.

"Bedebah sialan!" Tiba tiba ingatan menerpa pikiran Junmyeon tentang bagaimana dan kenapa dia bisa dalam keadaan terikat seperti ini dan mengumpat merasakan kebencian menerpa. Siapa gerangan tuan mereka hingga berakhir mengikat dia seperti ini. Sialan memang, Junmyeon diam diam menyerukan peperangan dalam hembusan nafasnya. Bola matanya bergerak aktif menilik atap yang menjadi payung di atasnya, dimana letak ventilasi udara juga pintu ruangan kiranya yang ada di ruangan pengap, gelap juga menjijikkan seperti ini.

Kala itu semua dia tersadar jika satu dari dua orang di belakangnya terbangun, Junmyeon tinggal menebak itu Yixing atau si brengsek Yifan.

Oh yeah pimpinan kita sedang dalam kesadarannya. Ngomong ngomong dia belum menyuarakan perdamaian yang benar benar terdamai dengan lelaki yang masih melekatkan marga Wu di depan namanya itu.

Lama terdiam hingga sebuah desahan nafas mengiringi tanpa sahutan suara, ternyata itu adalah Yifan yang ikut sadar dari lirikan juga gerakan kecil tubuh Junmyeon. Mendengus hingga tau tau udara sekitar memanas sedikit demi sedikit.

"Aku benar benar tidak tau apa yang ada di benak anak buahmu, kim."

Junmyeon terdiam dalam pemikirannya, enggan menyahut alih alih cekcok mulut dengan Yifan, katakan jika dia lebih suka langsung menghajar hingga wajah sialan itu babak belur di tangannya. Karena dengan hal itu lebih jelas untuk memuaskan hatinya. Namun, sejujurnya ada sepercik kemarahan akan ungkapan 'anak buah' dalam perkataan Yifan, hal gila apa yang dimaksud oleh sang rival.

"Kau tidak menyahut? Berpura pura tuli?" Perkataan Yifan mengalir begitu mulus untuk menarik sebuah peperangan kecil dalam keterdiaman sunyi yang mereka tempati saat ini.

Hingga Junmyeon merasa risih sendiri dengan ucapan ucapan yang dia nilai tidak bermutu, menggertak untuk membuat yang berbicara diam Junmyeon berkata, "Diam atau aku akan merobek mulutmu!"

"Cukup katakan ya, maka semua selesai." Sebenarnya Yifan masih marah bagaimana orang orang Kim yang jelas jelas begitu mengincarnya dan juga Yixing sebagai target utamanya. Bagaimana bisa sosok laki laki yang jelas jelas menjadi pewaris utama Kim membiarkan satu dari sisi lain keluarga Kim-nya datang justru untuk menyasar Yixing.

Jika begini bukankah lebih baik jika Yixing bersama dengannya yang jelas jelas tidak akan ada orang yang akan mencelakainya.

Oh-oh! Rupanya masih melekat rasa ingin untuk lebih dan mengalahkan Junmyeon.

Yifan sesungguhnya jika di hadapkan pada perlindungan akan si kecil Zhang tidak lebih daripada Junmyeon ataupun Zhang Honglei dan Zhang Showluo. Bagaimana si kecil benar benar menjadi pusat atas semua perlindungan yang ada, bagaimana anak itu adalah pusat dari seluruh upaya untuk segala kasih sayang yang ada.

Namun kisah masa lalu Yifan yang benar benar mengena di benak si kecil membuatnya benar benar ada dalam keadaan frustasi, dia ingin merengkuh dalam akan perlindungan dan permintaan maaf namun reaksi Yixing justru berbeda dari harapannya.

"Apa kau kira kata selesai akan membebaskanku dari sini sialan!" Ucapan Junmyeon tau tau membawa Yifan dalam keadaan nyata yang ada. Terbangun dari pikirannya sendiri membuat Yifan menyadari ada secarik kemarahan dalam untaian kata kata Junmyeon.

Hingga membuatnya juga ikutan tersulut dan membalas, "Tentu saja iya dan kau bisa berhenti berpura pura dengan niat bulusmu mencelakai yixing!"

Cklek

"Oh! Kedua tuan muda kita sudah bangun ternyata!"

Sapaan hangat dan seorang wanita dengan balutan kemeja hijau tosca cantik dengan wajah berpoles juga bibir merona membuat Junmyeon maupun Yifan menatap baik baik sosok yang berdiri menjulang di ujung pintu sana. Keterkejutan lebih banyaj ada di raut wajah Yifan berbeda dengan Junmyeon yang hanya menatap datar tanpa emosi yang kentara. Yifan ada untuk terbelalak tak percaya dan menatap penuh kemarahan setelahnya.

"Kau!"

Junmyeon hanya faham dan berdecih setelahnya, "Keh! Lihat siapa yang bertemu siapa sekarang!"

Mereka melakukan reuni di saat yang tidak pas sepertinya.

Senyuman cantik namun tidak menarik untuk sebuah tanggapan dengan kata baik baik saja, itu adalah Yuan Shasha yang dahulu menjadi satu dari tim Yifan kala merebut Yixing dari tangan Junmyeon. Satu daripada pion masa lalu yang harus kembali hadir dan tiba tiba mengusik juga berbalik arah, "Kita bertemu lagi, tuan muda wu yifan! Tetapi ngomong ngomong kita bukan satu tim lagi sekarang!"

"Yuan! Katakan apa tujuanmu sekarang!" Kemarahan jelas kala mereka tidak lagi dalam perahu yang sama. Dan Yifan menuntut lebih akan banyak hal dalam benaknya. Dimana sejujurnya keberadaan Yuan yang berada di lain perahu dengannya justru membuatnya ketar ketir akan reaksi Yixing kepadanya, akan luka masa lalu yang harus dia ingat lagi dan itu menyangkut Yifan.

Alunan tawa itu datang dari bibir berpoles warna peace cantik yang begitu menggoda. Tau tau seringai muncul dan Yifan mengumpat melihatnya.

"Membalaskan dendamku tentu saja."

Junmyeon menatap tajam tanpa suara. Tertarik akan ucapan yang tidak bisa dia anggap main main jika hal itu menyangkut kepemilikannya. Namun Yuan sadar akan di perhatikan tanpa sungkan mengutarakan apa tujuan utamanya. Pesuli setan jika Junmyeon akan benar benar mengibarkan bendera perang untuknya, peduli setan jika Yifan akan ada untuk membunuhnya jika itu menyangkut si kecil. Namun dendamnya terlanjur tergores banyak akan tubuhnya yang terlebih sudah tidak seperti dahulu. Dan itu semua tidak akan ada jika bukan karena anak dari keturunan Zhang.

"Jika bukan karena anak laki laki yang ada di tengah tengah kalian itu, aku tidak akan mungkin menjadi cacat dan kehilangan kakiku!"

Masih teringat di benaknya akan siksaan dari lelaki Byun yang jelas jelas begitu marah besar akan dia yang menjadi dalang akan ide ide bejat yang di lakukan Wu Yifan dahulu pada si kecil Zhang. Terlebih dengan melukai Zhang inilah dia bisa menghancurkan Kim. Akan Kim Jongdae dan dendam masa lalunya pada semua orang keturunan Kim.

Dengan menyentuh Zhang dia bisa menghancurkan dua laki laki di depannya ini.

Hanya cukup satu orang,

Hanya cukup satu nama,

Dan itu adalah Zhang Yixing.

Sebuah dosa masa lalu seperti menerpa keduanya,

Seperti sebuah pembayaran atas perbuatannya,

Seperti di hadapkan pada siksaan yang ada dan pilihan dari banyaknya rentetan domino.

Yang sekali lagi Zhang Yixing menjadi kuncinya di sini.

Hal inilah yang begitu membuat Yixing begitu di inginkan saat ini.

"Jangan coba coba!" Gemeletuk gigi ada untuk terdengar, ancaman tidak main main itu datang penuh kesungguhan dari sorot mata penuh kemarahan dari Yifan.

Namun dengan hal itu ketegasan akan rencana Yuan justru semakin matang.

Reaksi yang di tunjukkan Yifan lebih daripada apa yang dia harapkan.

Seringai itu datang tanpa di undang, terlalu banyak kemenangan yang akan dia raih, dengan kepercayaan tinggi yang akan dia dapatkan tentu saja, dia berada di atas angin sekarang. Dan jangan tanyakan kekuasaannya sekarang, dia berkuasa.

Ini adalah Yuan dan semua kemampuan menghancurkan.

"Apa yang bisa kau hentikan dariku memang? Aku berjalan di atas kemauanku sendiri sekarang!"

"Aku bersumpah akan membunuhmu!"

"Ya, mungkin kau bisa tapi jangan berharap lebih! Anak itu yang akan kau saksikan mati terlebih dahulu!"

"Brengsek!"

"Kau tidak punya apa apa sekarang tuan wu! Apa kau fikir kau kufasilitasi untuk ada di changsa hanya untuk melihat yixing?"

Deg!

Sebuah fakta terungkap membuat Yifan mau tidak mau terdiam dalam kebingungan. Apa ada hal yang tidak dia ketahui saat seperti ini.

"A-apa?!"

"Ahahahaha, kau baru sadar sekarang? Kau kemari untuk menyaksikan kematian dari orang yang begitu kau cintai, tuan muda!" Keinginan bulat seorang Yuan bukan hal yang bagus untuk di dengar.

"Mulutmu itu-"

Namun sebelum suara Yifan menginterupsi nada bicara Junmyeon dan ketegasannya yang menyahut.

"Aku berjanji akan merobeknya dengan tanganku sendiri." -Deg!

Menguatkan hati dari keterkejutan akan aura juga sorotan mata dingin terkendali, keteguhan hati Yuan shasha goyah dalam ketakutan yang menghimpit! Enggan untuk mengakui aura tegas penuh rasa kejam juga bengis yang menguar kuat dari tubuh pimpinan Kim itu dalam sekali ucap.

"Aku pastikan kau tidak akan bisa."

Srek

"Oh- sang tuan putri sudah siuman?"

.

.

.

.

.

Yixing mengerjap melihat langit langit hitam yang hanya memancarkan cahaya minim, tubuhnya lemas tanpa tenaga kepalanya pusing tidak terelakkan, hanya mengerjap menatap sekitar, memahami dan menerka kiranya ada dimana dia sekarang. Tubuhnya terlampau lemah bahkan suaranya mungkin sangat lirih saat ini.

Kala kesadaran menerpa Yixing tau jika kaki dan tangannya kebas, tali mengikat tubuhnya dalam posisi duduk di atas lantai dengan tangan di belakang dan kaki di ikat di depan. Yixing kesulitan bergerak namun juga tidak dapat berbuat banyak. Kala kepalanya dia senderkan dia tau jika dia tidak di ikat sendirian.

Suara suara bersautan dengan nada kasar membentak merasuki telinganya dengan kasar dan membuat kepala pening.

"Oh, sang tuan putri sudah sadar?"

Kata kata yang mengalun rendah itu membuat sepenuhnya jiwa Yixing tertarik melihat pada arah suara. Mengerjap mencapai kesempurnaan penglihatan melihat sosok wanita dalam balutan seringai sadis yang berdiri tak jauh darinya dengan sekumpulan pria berbadan kekar di sana. Yuan shanshan menatap penuh kebencian dengan dengusan tidak percaya.

"Kau. . .feromon apa yang ada dalam dirimu hingga harus mendapat perlindungan dari banyak orang?"

Pertanyaan Yuan hanya di tanggapi kernyitan tidak mengerti dari Yixing hanya dia merasa sebuah tarikan dari tali yang mengikat jemarinya menguat dan membuat tangannya sakit saking eratnya. Yixing menunduk menahannya tanpa tau jika itu ulah Yifan di sisinya yang mengeras menahan diri untuk tidak meledak dengan amarahnya karena merasa marah dengan perkataan sang wanita yang dahulu sempat dia percaya sebagai satu dari tangan kanannya.

"Lihat dan bagaimana aku memperlakukanmu setelah ini!"

Setelahnya alunan kaki itu menjauh dan Yixing meringis. Anak itu menunduk dalam ketakutan dengan sisa tenaga dari tubuhnya yang rapuh. Anak itu begitu lemah jika di perhatikan lebih dekat terlebih dengan ucapan Yuan yang benar benar menggoncang jiwanya.

"Asshh!"

Keluhan Yixing membuat Yifan benar benar memperhatikan sepenuhnya, "Kau terluka?"

"Tidak -hanya, ini terlalu erat dan membuat tubuhku tidak bisa bergerak." Sahut Yixing mencoba menggerakkan tubuhnya.

"Aku tau siapa orang di balik rencana ini," kesadaran Junmyeon membuat keduanya berpusat pada perkataannya seorang.

"Mereka akan membuat kita berpisah, memindahkan dalam ruangan yang berbeda."

Keterkejutan dari Yifan membuatmya kembali menanyakan hal yang sama, "Mereka benar benar bagian darimu, kim?"

"Cih! Aku tidak sudi mengakuinya!" Dari jawaban Junmyeon dapat Yixing tangkap jika ada sisi lain dari keluarga Kim yang tidak se-ide dengan Tuan Kim.

"Jadi artinya benar jika ini bagian dari rencana keluargamu!" Namun Yifan tetaplah Yifan dan jangan lupakan jika mereka masih berstatus rival. Karena kalian tentu ingat bagaimana aku menegaskannya bahwa semua karena dan terpusat oleh Zhang Yixing.

"Dia bukan bagian dari keuargaku, brengsek!"

Sret-

Gengaman jari jari itu meredakan sedikit lebih banyak dari emosi memanas milik Junmyeon.

Tau alih alih lelaki ini dalam keadaan yang sulit dan enggan untuk mengungkapkan siapa dan apa maksud terselubung di baliknya. Yixing tau jika Junmyeon begitu tertutup dengan masa lalu yang membekas dalam kehidupannya. Enggan bersuara dan memperkeruh hanya ini yang berfungsi bagi Junmyeon. Dan berhasil membuatnya membaik.

Namun Yixing tau jika bukan hanya Junmyeon yang patut untuk di dinginkan melainkan Yifan juga hingga ikut dia raih jemari jemari kecil milik Yifan untuk sekedar membuatnya terdiam dan mereda sesaat.

"Hanya sosok wanita yang dulu menyeret pak tua untuk memenuhi kesenangan sematanya." Dan Yixing tersadar bahwa Junmyeon mencoba mengungkap kebenaran dibalik semua ini.

Junmyeon tersadar kala menilik dan terdiam mengamati sisi dekorasi dalam pertahanan dan sel ruangan untuk tahanan yang di gunakan. Segi ukiran atau sagala hasil pekerjaan dan bahan dari bangunan yang ada mengurung mereka saat ini.

Ini begitu satu tipe dengan-'nya' yang dia ketahui semua keburukan dalam kisah dalam perjalanan hidup Junmyeon.

Satu daripada ingatan Yixing ada untuk di urai, sebagian dari cerita singkat Minseok akan sosok Junmyeon dan masa kecilnya yang tidak berlangsung baik. Dan Yixing tersadar hingga aura orang di sisiannya menguar tidak baik baik saja. Yixing menyandarkan tubuhnya pada sisi kanan Junmyeon mengenggam erat jemari yang dapat dia raih.

"Mereka akan mengincarku. Aku tidak tau apa yang diinginkannya namun sebentar lagi dia akan datang."

Bukan cenayan atau semacamnya tetapi ini adalah cara yang biasa 'dia' lakukan dalam cara agar keinginannya di turuti atau sekedar sebuah perhatian yang tidak kecil.

Tanyakan pada Minseok kecil maka Junmyeon akan mengamuk kala fakta itu kembali di bongkar.

"Jadi mereka seperti berkomplot." Yixing mencoba menerka keadaan mereka saat ini.

"Keh, nenek sihir itu benar benar mendapat teman sekarang." Junmyeon mengiyakan.

Sementara Yifan masih menunduk untuk sebuah penyesalan bagaimana dunianya terbalik seperti saat ini, "Aku tidak percaya jika orang yang dulu aku jadikan patner akan ikut mengincarmu disini."

"Itu karena kau asal menerima rekan patner." Itu jelas Junmyeon. Dan jika di lihat sekarang keduanya tengah beradu mulut hingga membuat Yixing yang berada di tengah tengah mereka benar benar dibuat mengeluh.

"Jika aku tau seperti ini hasilnya aku tidak akan pernah menerima ajakan, sialan!" Balas Yifan tidak kalah sengit.

Ini tidak akan berhenti.

"Omong kosong!"

"Hentikan." Yixing mengerang dan mereka berdua terdiam -otomatis. Astaga Yixing bahkan tidak bisa menutupi kedua telinganya untuk hal itu karena tangan yang di ikat dan Yixing dibuat mendengus hingga harus melirik kedua lelaki bebal di sampingnya .

Dia tidak membayangkan kenapa mereka berdua sangat sulit di ajak berdamai.

"Maaf." Hanya Yifan yang ada untuk bersuara. Memalingkan muka enggan menatap lirikan pedas Yixing yabg masih bersungut sebal. Sementara untuk Junmyeon jelas jelas hal itu tidak akan dia lakukan.

Oh ayolah kalian tau bagaimana harga diri Kim setinggi langit.

Yixing enggan berkomentar untuk memperkeruh suasana saat ini. Hingga dia memilih memikirkan bagaimana cara agar dia lebas dari jerata tapi ini.

"Bawa ini bersamamu, dan bebaskan Yixing jika kalian ada dalam satu ruangan."

Sret!

Yixing reflek menoleh sebisa mungkin dia lakukan untuk menatap Junmyeon. Lelaki itu begitu tenang dan membuat Yixing khawatir sendiri akan dirinya. Tidak tau pasti juga apa yang di berikan olehnya kepada Yifan dengan terdengar sebegitu pentingnya.

"Lalu kau, kim?" Tanya Yifan kala jemarinya menerima sebilah besi pipih bergerigi. Tentu saja itu merupakan pisau pipih kecil yang bisa melepas tali temali ini.

"Aku yakin nenek sihir itu akan butuh bicara padaku." Jawaban percaya diri Junmyeon membuat Yixing semakin tidak yakain akan hal itu.

"Junmyeon?" Panggil Yixing mmemastikan.

Junmyeon tersenyum, masih sempatnya sang pimpinan Kim mengeluarkan senyuman yang jelas jelas tidak sesuai dengan keadaan mereka. Jemari kecil yang ada dalam jangkauan jemarinya di usap dan di remat kecil untuk menunjukkan friksi ketenangan sekalipun gagal, "Aku tau jika yang kita hadapi adalah bagian dari masa laluku, tetapi janji akan perlindungan untukmu tetap akan aku berikan."

"Jika dia benar benar melakukan apa yang dia katakan aku tidak segan segan menebas lehernya sekalipun dia wanita!" Itu Yifan dengan ambisi membunuhnya.

Rematan tangan itu ada namun sebuah serangan mental justru dia hadapi, "Aku benar benar tidak berguna ya?"

Junmyeon tau tau terkekeh, "Kau hanya belum menunjukkan hasil dari latihanmu."

"Kau melatihnya, kim?" Seru Yifan kaget akan perkataan Junmyeon akan sebuah latihan untuk si kecil di sisiannya. Ah! Yifan justru berenang dalam ingatan mereka bersama dan fakta fakta Yixing akan tingkah lakunya.

"Ya, untuk ukuran penembak amatiran berusia 5 tahun." Junmyeon berseru dengan lirikan nakal yang tau tau tersirat ejekan telak.

Cepat tersulut, Yixing cemberut dengan balasan klasik miliknya, "Aku bukan anak usia 5 tahun, kim!"

Gerutuan itu justru mengundang kekehan dari sisi lain pihak, "Aku jadi teringat jika kau dulu lebih menyukai ledakan dan pisau karena menghindari senapan, xingie!"

Apa yang ada dalam masa lalu itu bangkit tanpa di tahan. Yifan menatap jauh untuk ingatan apa saja yang masih begitu rapi ia simpan, akan memori seorang Zhang Yixing dan semua polah uniknya.

"Dia benar benar buruk dalam menembak! Jauh lebih pintar untuk keras kepala akan sikap pembangkangnya." Jelas jelas itu adalah kata kata yang selalu Junmyeon keluhkan akam sifat Yixing.

"Aku tidak!" Yixing mengelak.

"Dan juga rengekan!" Tambah Yifan.

"Ya, itu hal terbesar yang begitu aku keluhkan." Junmyeon setuju.

"Aku bilang tidak!" Bantah Yixing.

"Kau hanya perlu mengaku!" Kekeh Junmyeon.

"Tidak junmyeon!" Bela Yixing.

"Haah! Lihat bagaimana aku tidak bisa untuk tidak menyukaimu jika sikapmu masih seperti ini." Balas Yifan, yang telak membuat Yixing menunduk tanpa bisa menbalas perkataannya. Sementara Junmyeon tidak berucap atau bereaksi apapun.

Dan Yixing tersadar dalam keterdiaman Junmyeon. Namun dia juga tidak bisa melakukan banyak hal. Jemari kekar itu ia sentuh meskipun begitu dingin dan sedikit.

"Gunakan waktu sebaik mungkin." Junmyeon memulai kembali dalam nada bicara serius yang kental memarik perhatian lebih Yifan.

"Mereka akan datang kemari, akan aku ulur waktu yang aku bisa. Dan cari jalan keluar, mereka akan datang secepatnya." Junmyeon mengutarakan rencananya, dia yakin jika nenek tua yang menjadi kepala pengurungan mereka akan datang dan menyeretnya untuk berhadapan langsung. Tiba tiba Junmyeon bernafsu untuk menghabisinya segera.

"Mereka?" Tanya Yixing.

"Jongin." Balas Junmyeon.

"Sebaik apapun mereka mengurung kita di sini, kim akan tau. Dan cukup ikuti mereka setelahnya, tunjukkan pisau pemberianku maka semua akan baik baik saja." Jelas Junmyeon, dia yakin jika adik adiknya akan segera menjemput mereka di sini. Ah, terlebih ada Yixing siapa yang tidak akan datang untuk anak kecil ini.

"Hanya cukup yixing. Aku bisa keluar sendiri dari sini." Jawaban Wu yang penuh dengan sebuah harga diri yang di junjung tinggi.

"Terserah." Balas Junmyeon enggan peduli

Junmyeon melanjutkan perkataannya yang tertunda, dan pemikirannya menajam akan hal itu "Aku tidak tau kapan mereka akan datang, tetapi kemungkinan terburuk yang berputar di benakku adalah Yixing yang di bawa terpisah."

"Aku akan menyusup untuk itu dan menemukannya." Putus Yifan cepat.

Pemikiran terbaik Wu!

Junmyeon langsung setuju akan hal itu tanpa mengambil lebih banyak waktu untuk mengiyakan, "Ya, dan yixing ah." Ada jeda di sana

"Berikan petunjuk apapun pada jalan yang kau lewati, jika kau di bawa terlalu jauh. Tetapi berjanjilah jika kau akan bertahan dalam waktu yang lama." Yifan sesungguhnya cukup membayangkan akan segala bentuk kemungkinan buruk yang akan terjadi. Dia tau siapa Yuan dan pemikirannya. Wanita licik itu akan melakukan hal cukup mengerikan pada targetnya.

"Jangan lakukan hal konyol, cukup bertahan dan salah satu dari kami akan datang untukmu." Pesan Junmyeon sebenarnya membuat hati kecil Yixing marah akan kata kata 'konyol' di sana namun jiwa kecil anak itu sudah jauh membuatnya terdiam dan menurut.

"Aku tidak akan melepaskanmu." Tambah Junmyeon.

"Kau tidak perlu takut, aku akan menjemputmu." Jemari Yifan mengalun memberikan penenang.

Ah, sebuah kalimat penenang namun saling menunjukkan kekuatan masing masing?

Cukup bersyukur karena baik Yifan maupun Junmyeon ada dalam satu masalah yang sama, dan diperparah dengan Yixing sebagai target utama. Membuat keduanya untuk berfikir ulang akan perselisihan ataupun perdamaian yang mereka lakukan.

Jika kalian bertanya apakah mereka benar benar berdamai maka jawabannya bisa kalian rangkai dari sikap sikap mereka sendiri.

Ah, tentu saja. Bukankah itu teramat jelas?

Yeah! Siapa yang setuju untuk kesulitan dalam cinta segitiga?

Itu merepotkan.

Lihat dimana hati kecil mereka berperang dalam bait bait penenang yang mereka nyanyikan seolah lulaby malam untuk Yixing.

Hanya demi menenangkan satu obyek paling raput yang mereka jaga. Dimana secara tidak langsung membuat keduanya berdamai sesaat untuk sebuah penenang di tengah ketegangan akan penahanan mereka di sini.

Yixing sendiri benar benar merasa tidak berguna untuk saat ini. Berapa kali dia berfikir bahwa posisi ini tidak dia alami sekali dua kali tetapi sering. Hingga dalam tempo seperti ini dia juga tidak merasa berguna.

Namun kali ini, dengan hadirnya Yifan juga Junmyeon di kedua sisinya Yixing lebih memusatkan perhatiannya kepada keberadaan keduanya. Tetap memegang kedua tangan mereka.

Menghangatnya, begitu nyaman dan menjaga mereka untuk tetap tenang agar kembali tidak berseteru. Untuk saat ini. Dan kalian pasti bisa bagiamana panasnya jika kedua orang ini beraeteru.

Dan tanpa dia sadari sikapnya akan berefek terhadap kelanjutan mereka bertiga.

Junmyeon ataupun Yifan tau hal itu. Tau akan getaran peringatan itu. Sangat tau bagaimana sisi lembut mereka bertaruh untuk mendapatkan atau mengukuhkan hati si kecil.

Namun setidaknya,

Dua poin terbaik mereka lakukan adalah yang berhasil di capai keduanya,

Menenangkan Yixing dan jalan keluar saat ini.

Mencoba untuk sebuah tim baru?

.

.

.

.

"Ba-bagaimana jika gagal?"

"Yifan akan menjemputmu." Ini merupakan kalimat paling tidak di inginkan oleh Junmyeon.

Tatapan tajam itu dia ketahui hadirnya. Sialan! Apa dia begitu gila hingga menyerahkan kekasihnya yang baru dia dapat pengakuan kepada rival seumur hidupnya. Oh hell, Junmyeon benar benar tidak punya banyak pilihan di sini apa kalian tau akan hal itu?

Yixing menatap tidak percaya sekalipun dia tau Junmyeon tidak akan dapat melihat bola mata berkaca kacanya yang sudah datang begitu cepat. Baginya itu adalah sebuah pertanda buruk yang akan Junmyeon dan mereka hadapi.

Dengan keadaan dan tempat serta situasi tidak menguntungkan ini. Berapa banyak hal yang mengancam mereka dan keselamatannya.

"Lalu. . .junmyeon?"

Bukan- bukan hal itu yang ingin Yixing katakan tetapi dia ingin lebih banyak rencana yang bisa meningkatkan presentase keberhasilan akan keluarnya mereka dari sini.

"Mereka akan datang sebentar lagi."

Tetapi Junmyeon dan semua perkataannya tidak memunculkan presepsi yang bisa di pastikan keberhasilannya.

"Tidak! Tunggu bagaimana denganmu." Pertanyaannya kembali terulang.

Ada banyak persepsi yang di hasilkan dari sana. Bagaimana Yifan bergerak menunjukkan ketertarikan lebih pada pertanyaan Yixing. Anak itu begitu khawatirnya kepada Junmyeon yang bahkan lelaki sialan Kim itu tidak banyak merespon. Mengambang di udara yang semakin membuat mereka sesak. Ada kecemburuan yang merambat sedikit demi sedikit pada dadanya untuk semua perhatian lebih dari Yixing.

Apakah anak itu bahkan tidak menaruh kepercayaan akan dirinya yang akan mampu membawanya keluar dari hunian sialan yang memenjarakan mereka.

"Yixing cukup ketahui jika kau hanya perlu menjaga kesadaranmu." Ucapan Junmyeon tiba tiba membuat Yifan menyerngit lebih tentang tujuan dan arah pembicaraannya.

Yifan mengambil kesimpulan cepat bahwa mereka akan membuat Yixing sebagai targetnya. Bukan kabar bagus yang akan membuat kekawatiran Yifan bertambah.

Sialan!

Ini akan memburuk dia harus dapat menemukan celah atau bila tidak maka cerobong asap yang bisa membawanya pada ventilasi udara besar yang bisa menekan Yixing keluar dari sana.

"Semua akan baik baik saja." Ujar Yifan menenangkan Yixing yang bergerak gelisan dan juga dirinya sendiri

"Junmyeon!"

-cklek

Kala teriakan Yixing dan udara panik yang menyerang maka dengan itu pula gerakan cepat knop pintu di putar dan tiga orang bertubuh kekar masuk.

Yixing tidak dapat mengatur nafasnya dengan baik dan tidak tersenggal karena perintah pelepasan rantai untuk Junmyeon.

"Lepaskan rantai tuan muda."

"Tidak!"

"Berhenti membawanya pergi!"

Teriakan panik Yixing membuat Junmyeon mengingat ingat bagaimana anak itu akan bisa di atur dengan baik oleh Yifan dan banyak waktu yang akan dia hitung setelah keluar dan berpisah dengannya mulai saat ini.

Menunjukkan perkiraan bagaimana dan kemana akan kemungkinan bola permainan nenek sihir ini berputar.

Junmyeon terlampau tau karakteristik dan etnik yang begitu melekat di setiap ornamen rumah chinese ini.

Lim Xiaoran.

Lama tidak menyapa wanita tua itu.

Kala lorong dia temui Junmyeon mendapat kebebasannya dengan kedua tangan yang di lepaskan dari borgol. Namun dua lelaki di sisi kanan kiri serta belakangnya membuat Junmyeon muak. Lihat bagaimana ibu tirinya begitu berambisi.

Untuk kekuasaan, cih wanita ular!

Junmyeon terdiam dalam sentakan kasar yang dia berikan pada lelaki bermata sipit di sisi kanannya terlalu menyentuh bahunya, seolah dia akan melarikan diri.

Tatapan mereka beradu dalam sengitnya emosi yang Junmyeon bangun akan ketidak sukaannya. Hell yeah, siapa yang akan pergi begitu saja dari sini tanpa mayat wanita sialan yang menjadi dalang semua hal memalukan ini.

Junmyeon berjanji akan membunuhnya dan akan menjadi bagian menyenangkan tersendiri baginya.

Cklek-

"Silahkan masuk tuan muda."

Dengusan terdengar jelas akan jawaban dari perkataannya. Junmyeon terlalu muak akan permainan gila ini. Hingga menatap wanita dengan heels menyala di ujung sana begitu membuat dia mendidih.

"Begitu lama aku tidak menatapmu, putra kecilku." Xiaoran menyapa dengan senyuman.

"Apa maumu?!"

.

.

.

.

.

Tuan Kim menatap setiap foto yang berhasil mampir di meja kerjanya, akan kabar terakhir mansion Zhang dan kerusakannya. Menyisihkan satu foto dimana capture menangkap ekspresi wajah Junmyeon dan tim yang bersiap untuk masuk mobil.

Tak pernah gagal mencari setiap jejak dari anak anaknya.

"Apa yang mereka lakukan untuk sebuah penyambutan tamu, hakyeon?"

Pertanyaan mengudara dan Hakyeon menatap sang Tuan Besar dalam pemikirannya yang menajam. Menelisik dari pola fikir para Tuan Muda mereka.

"Tuan muda terkesan menutupinya tuan, jika ini akan keikutsertaan park chanyeol terlihat tidak mungkin. Karena mereka lebih daripada mampu untuk bisa berjalan tanpa bantuan wu."

Tuan Kim menatap bawahannya dalam siluet ketidaksetujuan yang kontras, "Tetapi mereka memulai permainan berdarah dengan tiga sisi dalam satu meja, hakyeon. Bagaimana aku tidak menekan wu jika kedudukannya juga hasil daripada perjalanan minseok dan sehun di kanada."

Mengukuhkan bagaimana kursi kepemimpinan di jatuhkan karena polah tingkah Kim juga, tidak rela karena bagaimanapun Kim kehilangan Zhang begitu saja kala itu dan keuntungan terbesar ada di tangan Wu Chanlei.

"Haruskah kita menuju tanah changsa tuan?" Pertimbangan di layangkan.

"Kita tunggu hingga anak anak siap." Jawaban pasti penuh kehati hatian.

"Baik." Patuh akan keputusan dan menyusun strategi menjadi pilihan.

"Sambungkan telepon kepada kedua anak perempuan milikku."

Ah, yeah! Inilah bagian paling menarik dari kekuatan benteng seorang Tuan Kim akan anak anak mereka.

Selalu punya cara tersendiri, benar?

"Akan saya lakukan." Hingga jemari Hakyeon menyentuh gagang telepon ketukan pintu membuyarkannya.

Tok- tok- tok.

"Tuan ada kabar dari changsa." Ten berseru dengan tundukan hormat memasuki ruangan.

Dengan adanya ijin untuk laporan Ten memulai, "Tuan muda junmyeon menghilang dalam radar pantauan kami dan sekarang sisa tim mulai bergerak mencari, tetapi yang membuat kami ragu adalah radar gps yang menyala aktif di pinggiran kota changsa."

Pinggiran kota Changsa, adalah sebuah ingatan lain yang cukup membekas dalam sisian seorang Kim, hingga berkas ada di atas tangan seorang Tuan Kim. Fakta baru terkuak akan siapa tamu yang menghadapi Junmyeon di sana.

Daratan tidak tersentuh milik Changsa.

"Apa itu di sengaja tuan?" Pertanyaan di ujung fakta mengejutkan kembali ada, mengejutkan semua pihak seketika.

-Prang

"Tu-tuan kim." Keterkejutan itu bukan hanya karena jatuhnya cangkir yang masih berisi cairan teh favorit dari sang tuan besar, namun juga bagaimana kabar dari Ten akan membawa mereka kepada kesadaran siapa gerangan tamu yang tengah dan akan di sambut oleh anak anak Kim di Changsa.

"Hakyeon . . . ."

"Ya tuan, maaf atas perbuatan saya yang ceroboh."

Kala cangkir kesayangan Tuan Kim yang terletak di sisi kiri lengannya jatuh tersentuh tanpa sengaja hingga mengenai pahanya. Cairan panas itu masih menampilkan uapnya yang masih terlihat. Sekalipun bukan benar benar dalam keadaan panas yang sesungguhnya namun cenderung hangat untuk dapat di minum pasca seduhan namun kejadian itu membuat Hakyeon cukup kelimpungan.

"Hal ini tidak seberapa, namun kita tidak tau bagaimana junmyeon dan minseok. Jika mereka berhadapan dengannya mungkin sesuatu yang lebih buruk bisa terjadi."

Insting sosok orang tua bagaimanapun begitu kuat, kala pikiran menerawang itu hadir begitu cepat merangsek dada hingga sesak terasa tanpa di duga.

Bagaimana keadaanmu saat ini Junmyeon?

Dengan sosok di pinggiran Changsa yang begitu di kenal baik oleh Tuan Kim. Sosok yang memiliki masa kelam dan sebuah ambisi yang buruk.

"Ya tuan." Tundukan hormat Hakyeon ada.

"Sambungkan pada bora." -sebelum firasat buruknya bertambah semakin kuat.

Mari bergerak, secepatnya. Tuan?

.

.

.

.

.

Bora mulai mengisi amunisi pada pistol yang ada di tangannya, dengan jumlah tiga anak buah yang dia miliki dan sisa tim inti juga Wu Chanlei dan juga Zhang. Melirik pada tuan mudanya yang siap untuk menyisir mansion tersembunyi di sisian Changsa.

"Mari mulai semua ini dengan kehancuran yang terbaik." Itu Sehun dengan seringai dan jam tangan yang siap menyambungkan langsung pada tangan kanannya untuk informasi cepat.

Namun dalam sisa waktu yang mereka miliki ponsel Bora berdering untuk sebuah kejanggalan yang aktif. Itu Tuan Kim.

Minseok menatap takut dalam sorot matanya yang membuatnya membeku untuk kesadaran akan appanya tentang situasi Changsa yang mereka sembunyikan.

Hingga membekunya Yoon Bora sebagai bagian dari tim kebanggaan Kim harus terdiam untuk tunduk.

"Seberapa besar langkah yang kau buat kali ini, yoon bora!"

Kala nama panggilan tak lagi di gunakan dalam sapaan yang Tuan Kim layangkan, harus menjadi tanda bagi Bora untuk sadar jika Tuannya sedang dalam kemarahan yang jelas.

"Tuan. Maaf untuk kelancangan yang saya lakukan."

"Turuti perkataanku! Mundur sekarang juga."

Fuck!

Apa yang baru saja Tuan Kim katakan untuk sebuah kemunduran dimana Junmyeon adalah salah satu tawanannya.

Bagaimana bisa?

Akh! Bagaimana bisa Bora mundur sedangkah musuh yang mereka hadapi penuh dengan kejutan.

Itu gila!

Minseok hampir hampir berteriakan untuk memberikan penjelasan yang siap dia katakan. Namun Jongdae mencegah dengan tangan kirinya untuk melihat bagaimana Bora menjawab perintah mutlak itu.

Berdengung dengan waktu Bora memberi penjelasan, "Tuan, kami dalam keadaan yang memungkinkan untuk menyerang."

"YOON BORA!"

Tergagap oleh teriakan mutlak di line seberang, "Mundur."

"Itu bukan porsimu lagi yoon bora!"

"Kau bukan aku tempatkan untuk hal ini."

"Ya tuan."

"Mundur."

"Baik tuan."

Dalam tundukan penuh menyesalan, angin berhembus tak terduga. Chanyeol terdiam dalam pemikiran dan perkiraan yang berlarian. Membaca situasi dan strategi yang akan di tetapkan oleh sang raja di balik layar.

Dengan menempatkannya di sini, tunduk dalam alunan tarian kematian yang akan mereka lakukan bersama Kim, sementara mata mata dan anak buah pilihan yang coba di tarik dari misi. Apa yang tengah Tuan Kim pikirkan?

Bahkan anehnya Sehun sama sekali tidak berkutik atau bersuara. Jongdae juga terdiam dan Jongin yang kentara gusarnya. Minseok terlihat menatap dalam kekecewaan juga pertanyaan yang mendalam.

Zhang Showluo yang pertama bergerak untuk tenaga penguat. Menenangkan sang didi.

Taekwoon yang terdiam dalam pemikiran mencoba menguatkan pemikiran Jongin di sisinya.

"Maaf untuk hal ini tuan muda, tetapi perintah tuan Kim adalah mutlak."

Tidak ada yang berkutik dengan semua orang yang tengah menyiapkan semua hal untuk menyerang. Chanyeol melangkah pertama mendekati pusaran masalah. "Dengan ada atau tidaknya bora itu tidak akan berpengaruh."

"Cepat selesaikan maka semua akan terlihat-"

"Kalian bisa menang melalui masa kelam kim yang pernah kalian temui atau tidak." Sindiran pedas penuh makna ternyata.

"Sialan! Cepat selesaikan nenek sihir itu dan seret yifan!" Jongin tersulut untuk emosi membunuh dengan menyelipkan dua pistol dalam saku celananya.

"Tim ini bukan hanya berisi tentang kami tapi kau juga sialan!" Sungut Jongdae dan Taekwoon menyeringai untuk sebuah awalan yang akan mereka lalui.

"Kau kehilangan sisa timmu di korea kawan?"

Sialan memang.

Kapan mereka berdua berhenti untuk saling menyindir dan menikam dalam setiap kata kata.

Apa lagi jika bukan Sehun dan Chanyeol. Duo sialan yang menjadi satu tim inti dengan Jongin dan Jongdae harus kembali ribut untuk saling menikam. Bukan hal baru lagi jika Kim akan sangat dekat dengan informan bayaran mereka yang selalu mereka pakai, siapa lagi jika bukan Jhope cs.

Ah, patner kerja lama yang tertinggal.

Baekhyun hingga lelah untuk memukul kepala kekasihnya atau Sehun dalam hal ini. Taekwoon sebenarnya jengah namun dalam lubuk hatinya memang Jhope dan timnya adalah satuan komplit untuk misi mereka.

"Bedebah diam kau!" Umpat Jongin yang membuat kekehan jelas Chanyeol terdengar.

"Bisakah kalian diam dan mulai melihat ini!" Teriakan Kyungsoo jelas sekali jengahnya dengan keempat pria di sana yang hanya saling melempar peluru tak kasat mata.

"Kita tidak akan selesai hingga tahun depan jika terus seperti ini kim dan kau- park!" Sebutan terarah di layangkan Luhan hingga jari telunjuknya mengarah pada sang ketua sialan, untuk tim lama Chanyeol dan Sehun.

Apalagi jika bukan hal itu.

Pemindai panas aktif dan gps denah mansion sudah tersalin dengan baik. Layar datar yang menampilkannya di arahkan pada keempat pria yang selalu berdebat. Kyungsoo melepas arah pandangnya dengan kecemasan.

"Selesaikan apa yang kita mulai! Bukan tentang kedudukan tahta dan hanya target orang semata. Ini akan sangat berbeda dari pertemuan bersama kita terakhir kalinya."

Tatapan fokus luar biasa di tunjukkan Chanyeol kali ini, kata kata Kim nomer empat ini memang selalu berhati hati dan memiliki pemilahan masalah terbaik. Dari sisi tim yang memiliki daya pembunuh yang kuat Kyunsoo banyak berperan aktif dalam penyelesaian setiap langkah. Dia memilah masalah hingga bagian paling kecil dan rinci.

"Silahkan meninggikan ego kalian masing masing dan saling menikam, tetapi ini mansion bukan kepemilikan wu yang bisa di lihat dengan mudah melalui histori atau zhang yang ada untuk benteng manusia. Ini bukan mengantarkan pada pertemuan kalian dengan junmyeon hyung atau yixing hyung dan yifan. Tetapi ini daratan tersembunyi changsa." Lanjutnya.

"Ada banyak hal yang sengaja di sembunyikan di sini. Dan hyung. . . .ini bukan penyergapan gedung senjata yang selalu kita lakukan. Ini mansion yang belum pernah kita masuki." Kyungsoo menegaskan, karena ketakutannya akan sikap remeh yang tiba tiba merasuk dalam setiap bait kata penilaian milik hyungnya.

Mansion di dunia mafia itu lebih daripada lapang jebakan bagi orang luar. Itu kunci daripada sebuah rumah hunian, merangkap jebakan dan kunci daripada serangan.

"Kyungsoo benar. Melihat mesin pemindai panas di sana banyak orang berjaga dalam tiga sisi, gerbang yang jarang terbuka, taman labirin, dan dalam mansion." Luhan selalu ada untuk berada dalam sekutu adik terkecil Kim, menilai juga menengahi perdebatan konyol kekanakan yang tak kunjung usai.

"Gunakan ledakan, mari lakukan dengan cara pertemuan zhang. Ledakan bagus untuk mengecoh dan jumlah orang yang sedikit. Kita bisa memanfaatkannya untuk memusatkan perhatian." Jongin bersemangat, mengingat pertemuan pertama mereka dengan si kecil Zhang dalam ledakan dan kemarahan yang terpusat.

Showluo diam diam terkekeh akan hal itu, dia tau arah pembicaraan Jongin sekalipun anak itu tidak mencoba menyinggung perasaannya akan sikap dan polah didi Lamb miliknya.

Nostalgia rupanya.

Chanyeol yang selanjutnya bersuara dengan kedua tangannya terlipat di depan dada, menatap fokus memasuki strategi tak kasap mata milik Kim dan Xi yang tengah di bangun, "Gerbang masuk, selanjutkan biar aku yang memimpin. Sehun akan menyisir dengan gpsnya yang terpasang, kyungsoo dan kalian berdua akan tetap ada di sini. Hyung kami titip mereka dan biar kami berempat yang menhancurkan mereka."

"Ada banyak jumlah anak buah di sini dan kalian cukup lihat kemana mereka akan melarikan diri, itu tidak menutup kemungkinan."

"Kami semua akan ikut kecuali kyungsoo sebagai monitor bersama dengan showluo hyung." Minseok mencoba mencari bola mata hitam milik adik terkecil Kim saat ini, dan doe eyes itu mengangguk dalam persetujuan cepat, Showluo-ge juga bukan bidak yang sesuai untuk hal ini. Alih alih menyelamatkan Yixing kedudukannya disini akan menjadi momok kedepan untuk kekuasaannya yang terancam. Ini areal yang pas untuk Kim dan tim baru mereka menyerang dan bukan Zhang yang baru saja rubuh bahkan oleh tangan Kim sendiri.

Namun bukan berarti tidak ada yang membantah penyataan Minseok yang diam diam sudah kooperatif dengan Baekhyun dan Luhan untuk hal ini. Chanyeol-lah yang pertama menyorot tajam dalam tatapan dan bantahan. Menolak keras untuk persetujuan dalam penyerangan.

"Berhenti membantah, kita bahkan kekurangan orang. Ini sebuah mansion chanyeol, atau bukan pekarangan rumah kosong dengan luas tidak seberapa." Teriakan keras di keluarkan Byun satu satunya.

"Fuck!"

"Jika kau ingin semua baik baik saja maka selesaikan dengan sebuah kemenangan yang pasti!" Oh! Jangan remehkan ungkapan Luhan saat ini, karena hal itu menekan ego dan kemampuan Chanyeol dan semua orang di sana pada bagian paling maksimal.

Klek!

"Siapkan peluru kalian, kita hancurkan mansion sialan itu." Jongdae selalu tau bagaimana semangat dikobarkan untuk sebuah penghancuran yang terencana.

Semua dalam satu rantaian perintah dan tidak ada main main di sana. Satu misi dengan kesenangan dalam melodi penghancuran yang jelas.

Semua bersiap kala itu juga dengan senjata yang bahkan bukan hanya satu di pegang namun juga di selipkan dan di isi amunisi. Jongin terlihat begitu kentara sekali bersemangatnya dan Sehun diam diam bicara empat mata dengan Kyungsoo karena anak itu akan diam dalam perlindungan dan monitor untuk semua yang ada di dalan mansion itu. Jongdae dan Jongin menatap dalam perhatian diam.

"Selesaikan." Pisau pipih di serahkan Jongdae kepada Jongin yang menyeringai baik baik.

Menilai bahwa benda kuno ini akan ada di tangannya kala dua pistol semi otomatis sudah dia kantongi. Jongin tertawa melihat benda kuno yang baginya tidak berguna, Namun tidak dengan Chanyeol dan Jongdae yang menatapnya serius, "Sialan!"

Haish! Tugas kusus ada di tangan Jongin.

Itu adalah inti tatapannya dan pisau itu. Dia baru saja mengumpat untuk yang satu ini.

.

.

.

.

.

.

Tatapan memusat jauh ke depan terhalang pohon dan semak namun siapa yang peduli, hanya kehancuran dan kemenangan yang mereka bawa dengan harga diri setinggi langit, secercah mentari dan mereka melewati siang ini untuk eksekusi. Terlalu lama berdiskusi membuat tangan tangan terlatih mereka gatal untuk tidak menumbangkan manusia dan menghancurkan benteng pertahanan.

Ada di depan dan bagai maniak penghancur macam Jongin atau Chanyeol siapa yang peduli akan hari tenang jika bukan pada kehancuran dan berseraknya kekalahan di bawah kaki mereka dengan dia yang ada di puncak piramida monster yang tengah bergabung dalam satu alunan melodi yang di tiup dewa kematian.

Mereka ada bukan untuk menonton, ada untuk pion permainan yang di liukkan. Tangan mengepal dan jejak kaki yang tanpa ragu menghancurkan apapun di depan mereka. Kyungsoo tersenyum dalam diam akan keberangkatan. Mengucapkan kalimat penyemangat dan tes di setiap saluran suara hingga bunyi gemuruh datang membuat kesiagaan meningkat dan gelombang panik.

Itu jelas merupakan heli

Sialan!

Apa mereka di serang jauh lebih dahulu sebelum kaki mereka menepatkan diri dari mansion!

Bajingan itu! Semakin membuat muak!

Apa secanggih itu alat pelacak penyusup yang mereka miliki hingga dengan jarak sejauh ini sudah terdeteksi niat niat Chanyeol dan Jongin.

Fuck! Fuck!

Gemuruh belum reda dan ganti saluran mereka yang mengeluarkan bunyi gemerisik mengundang emosi dan kepanikan.

Itu penyadapan! Sudah tidak salah! Radio mereka berhasil di sadap! Itu artinya Kyungsoo. . . -fuck!

"I'm found them, guys"

Jongin hampir mengamuk jika bukan Jongdae yang menahan lengannya. Hingga suara sapaan justru membuat bola mata mereka hampir keluar dan umpatan lolos begitu lancar.

"It's me, roger!"

Minseok tanpa sadar mengeluarkan nafas lega tanpa tau jika dia menahannya sedari tadi. Dengan senyuman dia pancarkan sebuah kegembiraan, "Melegakan melihat kalian di sini." Ucapan Minseok tidak pernah salah untuk melegakan hati banyak orang sekalipun itu hanya bagian Kim yang akan tau dimana dan apa yang tengah terjadi.

"Hyung! Kami mendekat dengan satu tim penuh!"

Suara anak laki laki itu jelas di arahkan pada tim yan ada dengan keadaan yang tengah di bangun saat ini. Dan Chanyeol tidak bisa untuk tidak menatap penuh perhatian lebih pada Kim yang ada di sampingnya, Jongdae melihat itu mengatakan padanya jika ini adalah anak didik Kim yang tidak pernah menyentuh misi luar hingga hanya berfokus pada sisi Tuan Kim seorang dan ini adalah tim terlatih milik Kim.

"A-apa?" Sahutan tidak percaya Minseok membuat semua orang terdiam.

"Lakukan pendaratan! Kami datang dalam barisan." Begitu jelas begitu terstruktur.

"Menjauh dari mansion, sembunyi dalam hutan. Kita akan ada dalam barisan penyerang!" Ujar anak laki laki yang Minseok kenal sebagai Taeyong, leader kecil kepercayaan appanya.

"Ta-taeyong?"

"Hehehe hyung. . .aku benar benar ingin menangis rasanya. . ."

"Sekarang aku bisa masuk dalam satu tim inti yang sama dengan hyung, ini seperti mimpi."

Deg!

Seringai aktif Jongin membuat semuanya semakin menarik. Itu membuat Sehun diam diam menyisir rambutnya kebelakang, dia sedikit bisa bersantai sepertinya. Tidak pernah meragukan bagaimana Tuan Kim benar benar membungkus tim anak anak mereka dengan baik.

Jadi apa ini arti dimana proporsi Bora di tolak keras untuknya.

Semua tersambung begitu apik.

Bukankah ini begitu terlihat seperti satu team kompleks?

.

.

.

.

.

.

"Sungguh di luar dugaan jika tuan kim merencanakan ini semua, sial." Decihan Chanyeol mengawali seutas tali turun dari helikopter yang membawa satu tim penuh anak didik kim.

Entah kenapa Chanyeol seperti merasa cukup dipermainkan.

Sialan! Mau unjuk kekuatan tapi rupanya Tuan Kim punya rencana untuk tidak semata bergantung dari Chanyeol.

Mengapa melihat hal ini justru membuatku tertawa, mungkin ada yang tengah gagal percaya diri untuk unjuk diri.

Berdecih, kala mudah saja dia menguasai permainan seperti menunjukkan bahwa Park Chanyeol memimpin misi menguasai diri dan memberi makan egonya.

Dia kehilangan hal itu, kehilangan kesempatan itu.

Mau bersikap sombong di hadapan Junmyeon sepertinya.

Namun dari sisi lain, kalian jauh lebih jeli dari siapapun. Akan siapa Tuan Kim dan bagaimana dia menyusun serta menempatkan pion pion baik dari sisinya maupun dari luar. Sekalipun beliau tidak akan tau bagaimana tim ini akan menyatu di depannya.

Sebuah pelukan dan awal percakapan juga strategi terbentuk. Banyak kediaman dalam diri anak anak yang lebih muda, melihat kekuatan tim di depan mereka dan begitu tau dimana letak mereka selain untuk memperkuat kedudukan. Mereka di latih untuk itu, dengan teroganisir leader muda mark mendekat menyetujui semua startegi dan mulai penempatan dalam sekejap.

Sekali lagi Sehun dan Chanyeol dibuat terdiam.

"Bersiap?"

"Kufikir sudah dimulai."

"Hmm, mari bermain lembut."

.

.

.

.

.

Terlalu kesal dengan cara masuk, terlalu banyak orang yang kompetitif? Dan desain mansion yang diam diam membuat banyak anggota mengumpat Ah sial! Tim ini bahkan tidak memiliki sosok lemah di dalamnya. Begitu penuh kekuatan dan terkontrol dengan baik.

"Bagaimana jika kita lebih meniru cara zhang untuk hal ini?"

Sehun menimang nimang dalam mainan di telapak tangannya sebuah geranat aktif dengan tatapan mata bermain main menatap gerbang dari balik pohon tempatnya bersembunyi. Luhan menatapnya dalam dengusan jengah.

"Berikan padaku."

Kala jemari Luhan menyentuh bola bola geranat maka yang dia lakukan di menit berikutnya adalah hal gila yang tidak pernah di bayangkan oleh Tuan muda Xi yang terhormat yang sebelumnya lemah lembut penuh perhitungan.

Membuka geranat aktif lalu menendang dengan begitu mudahnya hingga membuat geranat itu terlempar tinggi ke langit dan terjatuh menuju dalam pagar mansion hingga ledakan terdengar.

Duarr

Dengan senyuman manis dan inilah Xi dengan ambisinya. Yang membuat Sehun mengatupkan rahangnya yang telah lama jatuh. Demi apa, dia baru mulai menimang rencana dan Luhan melakukan tanpa pikir panjang.

"Kemudikan mobilnya."

Bruum bruuuummmm!

Hingga detik selanjutnya -Dduuarr!

Ledakan besar dari dalam mobil itu membuat porak poranda area gerbang depan mansion Lim. Jangan terkejut, karena Kim melakukannya dengan begitu baik, memasang mobil dalam keadaan hidup dengan pengganjal gas mobil hingga membuat mobil itu melaju begitu saja menerobos pagar hingga roboh dan meledak di dalam area mansion karena bom aktif hitungan detik di dalamnya.

Masih percaya jika cara Kim dalam misi mereka selalu berbuat halus? Tanpa sebuah bar bar di dalamnya.

Oh astaga, itu hanya bualan, kalian sangat faham hal itu.

Inilah Kim. Dan ketahuilah cara mereka bermain, terlebih dengan Park atau Wu yang sama sama menyukai hal gila.

Satu mobil berikutnya melaju setelah jalan masuk mereka terbuka dengan begitu dramatisnya. Chanyeol melompat begitu mobil jeep modifikasi yang telah menyatu dengan senapan laras panjang memasuki area mansion setelah ledakan. Lalu melakukan tendangan kuat mengenai rahang seorang anak buah Lim hingga roboh.

Sehun dan Jongdae yang berikutnya turun memberikan bogem mentah yang mana keduanya beradu jotos dengan pukulan dan menghindar tidak terelakkan.

Baekhyun sepenuhnya dapat menangani musuh dengan keahliannya memusatkan pukulan pada alat vital yang melumpuhkan. Dengan Luhan yang sudah memperoleh sebilah besi ringan namun keras untuk memecahkan kepala kepala yang berani ada di jarak terdekatkan.

Yang sekalipun dalam tim terdapat Baekhyun dengan taekwondo dan juga sang as dari Kim untuk perjalanan Park, lalu Luhan yang jangan ragukan kemampuan menembak juga bela dirinya, Minseok serta Taekwoon yang menemukan ritme pertarungan duo mereka, dengan Jongin penembak jitu, Jongdae otak strategi, Sehun informan terbaik, lalu Chanyeol sebagai pimpinan penyerangan di sini. Masih saja ada hal hal yang sebenarnya jauh dari mereka sadari jika semua bergabung menjadi tim yang sama.

Dalam ritme pembunuhan dan bertarung.

Oh tentu saja, mereka melupakan ini. Kisah konyol lama dari Kim dan anggota paling jenius miliknya.

Seperti-

"KIM JONGIN!" Teriakan Jongdae yang pertama menyulut api kemarahan dari tim.

Bagaimana tidak berteriak kala semua tim terjun dalam pembersihan Jongin justru mengunci pintu jeep dan sempat sempatnya sibuk sendiri.

"Akh! Iya!" Jawab Jongin tak kalah berteriak, kala tanggannya lebih memilih menimang senjata tanpa mengoperasikannya. Melihat lalu memilih lalu kembali memilih milih lagi.

Dia hanya menyibukkan diri tanpa guna sama sekali. "Keluar kau sialan!" Teriakan yang bahkan lebih banyak orang terganggu daripada setuju. Meski keduanya bukan hal yang bisa di pilih.

"Kenapa kalian tidak memberiku waktu hanya untuk bersantai! Aku bahkan belum makan hari ini!" Eluh Jongin.

"Peduli setan!" Sahut Minseok.

"Bunuh mereka atau kau yang aku bunuh!" Kyungsoo dari kejauhan meradang dibuatnya.

"Fuck!" Umpat Jongin, tau dia terpojok untuk menuruti kemauan mereka.

Mungkin ungkapan untuk tidak berbicara dengan Jongin adalah hal yang patut di perhatikan dengan baik kali ini. Lihat bagaimana otak jenius macam Kim Jongin bekerja menyelesaikan masalah yang tengah mereka hadapi.

Oh shit! Anak siapa sebenarnya dia!

Bukannya mulai menyingkirkan anak buah Lim yang berdatangan justru berlari begitu saja ke arah luar gerbang tanpa peduli bagaimana begongnya Luhan atau ekspresi geram bukan mainnya Minseok dan Jongdae juga teriakan marah Kyungsoo yang membuat semua orang harus mengusap telinga karena handsfree yang tersambung.

Inilah Kim dan semua kekompakannya.

Begitu ajaibnya sebuah tim dari keluarga Kim.

Lelaki Kim itu tiba tiba masuk dengan mobil Jeep yang atasnya sudah terpasang senapan laras panjang aktif dengan amunisi menggantung siap lalu melajukannya begitu saja hingga dengan membabi buta menembaki semua orang di bawah mobil sana tanpa pandang bulu.

Dor dor dor

Dor dor!

Bagaimana Junmyeon bisa memiliki adik gila macam dia? Oh fuck!

Dor- dor- dor- yang sayangnya hal itu justru membuat semua bagian dari tim mereka sendiri juga harus ikut bersembunyi bahkan di balik pot pot bunga besar sekalipun. Agar terhindar dari cara waras Jongin dalam membunuh.

Dia lebih mirip penembak amatir daripada mahir.

"Brengsek! Kim, aku bunuh kau!" Sehun jengah bukan main menyahut sebilah pisaunya yang baru saja -tidak sengaja- menancap begitu dalam di perut sebelah kanan anak buah lim.

Dor dor dor

"Idiot! Kim jongin." Umpat Chanyeol melindungi kepala Baekhyun dengan kedua tangannya dalam dekap.

"Hah . . Hah . .apalagi!" Teriak Jongin dengan wajah lelah dan kentaranya serba salah menatap orang orang di bawah mobil jeepnya.

Sehun tanpa menunggu lama langsung melempar begitu saja pisau pipih miliknya yang lain yang dengan mudah di hindari Jongin lalu berucap kelewat heran, "Bisakah kau bersikap waras, kim!"

"Mereka sangat banyak, tidak ada cara lain untuk hal itu." Jawab Jongin.

"Ada, kau mau lihat, lakukan ten." Perintah Jongdae yang dengan mudah di sanggupi Ten dan Mark dengan ancang ancang lalu-

Duarr

Duarr

"Aku tidak pernah ingat jika kim tidak melakukan hal hal tanpa sifat bar bar mereka." Chanyeol memijat pelipisnya pelan lalu berdecak diakhir kalimatnya.

"Tidak sadar diri." Ucap Baekhyun yang langsung mendapat tatapan pura pura manisnya milik Chanyeol.

Atau tentang betapa akrabnya Kim dan Park untuk urusan kerja sama yang baik. Sekalipun itu Kim Jongdae yang sudah banyak melakukan kerjasama. Tetapi tetap saja jika itu berurusan dengan Park Chanyeol maka -mungkin ungkapan untuk pertimbangan kembali harus di lakukan.

Kala semua orang orang Lim tidak berhenti untuk mengepung dan menyerang mereka. Jongdae di buat berteriak dan mengeram marah kala Chanyeol justru tidak benar benar bisa membunuh mereka dengan cepat.

Maunya mereka melakukan kerjasama untuk menghabisi lebih banyak orang dengan bersama sama namun yang ada justru Jongdae yang di buat kewalahan karena Chanyeol lebih banyak menghindar daripada menyerang. Idiot!

"Lakukan dengan benar brengsek!" Pukulan telak di layangkan Jongdae pada lelaki bertubuh gempal dengan kepala botak yang menghadangnya untuk berduel.

Shit!

"Siapa yang tengah bermain main sialan!" Tendangan memutar di lakukan Chanyeol dengan sungut kemarahan membalas ucapan Jongdae. Merobohkan seorang yang melayangkan pukulan dengan tongkat di belakangnya lalu menatap Jongdae ingin menguliti.

Demi apapun itu! Siapa yang lebih gila disini!

Siapa yang sedang di ajak berduel sebenarnya disini, anak buah Lim atau tim mereka sendiri.

Bagaimana bisa ada tim macam mereka, Akh!

Luhan mengeram marah mendengar hal hal tidak bermutu hingga tembakan keras dia layangkan dalam kemarahannya,

Dor

Dor

Dor!

"Fuck! Lakukan dengan benar!" Teriak Luhan marah.

Perempatan marah tau tau nampak di sudut dahi keduanya, lalu berteriak klop menyahuti Luhan dengan Jongdae mengangkat kaki kiri dan Chanyeol mengangkat kaki kanan untuk menendang perut seorang lelaki tua yang berlari dengan kedua tangan membawa tongkat dari arah depan mereka berdua dan membalas ucapan Luhan,

"SIAPA YANG BERMAIN MEMANG!"

-brukk

Oh, oke! Lumayan.

Luhan menggeleng kepala heran bercampur helaan nafas, enggan menjadi tua mendadak hanya karena polah tingkah macam Kim dan Park yang terkenal akan saling mengimbangi taraf kegilaan, lalu berjalan mendekati mereka untuk menepuk bahu keduanya dan berlalu dengan senapan laras panjang di bahunya, "Bagus, bertengkarlah lagi."

"Puaskan! PUASKAN SAJA!"

Aku yakin Luhan benar benar meradang sekarang.

Dia muak melihat kedua lelaki yang tidak ada akur akur nya, sekalipun itu membawa keduanya tetap pada fokus membunuh tetapi-

"Idiot, jangan hanya bengong park! Bunuh mereka!"

Oh Fuck!

"Aku bukan pembantumu, kim!"

Demi apapun itu berisik, sialan!

"Sampai kapan mereka akan terus cek cok seperti itu, minseok!" Taekwoon menempelkan punggungnya dengan Minseok, heran melihat kelakuan ajaib Jongdae dan Chanyeol.

"Sampai mereka kenyang. Taekwoon angkat aku!" Perintah cepat Minseok.

Taekwoon menurut saja kala tiga hingga empat orang mengepung mereka melingkar, dengan tangan yang di tahan oleh Taekwoon dan punggung yang di gunakan sandaran Minseok di angkat dengan kaki yang siap menendang dada orang orang yang melingkari mereka.

Semua memang terkontrol namun begitu absurd jika kalian melihat dalam jarak terdekat.

.

.

.

Semua terkontrol dengan baik oleh Lim, dengan laporan yang ada untuk membentuk sebuah serangan jelas, "Nyonya saat ini wu dan zhang sudah jelas ikut andil untuk menyerangan di depan sana."

"Siapkan penembak di lantai dua untuk membunuh mereka, sasar kim minseok sebagai target pertama. Bunuh dia."

"Baik."

.

.

.

Cklek

Dor . .dor. . .dor

Dor - dor -dor!

"Minseok, awas!" Taekwoon berteriak kala melihat tanah tempat mereka berpijak menjadi sasaran hujan peluru dari lantai atas.

"Jongdae!" Teriakan ketakutan Minseok jelas menjadi alarm aktif bagi Jongdae yang langsung menendang dada seseorang hingga ambruk setelahnya berlari meraup Minseok berpindah berlindung di pot bunga menghindari tembakan dari atas.

Melirik sekilas Jongdae mengumpat, "Bajingan itu benar benar cari mati."

"A-aku tidak mengerti tetapi semua peluru mengarah padaku." Jelas Minseok.

"Minseok hyung targetnya." Ungkap Jongin.

"Park, aku butuh lebih daripada kebebasan untuk bersenang senang." Geram Jongdae.

"Keh, dengan senang hati, tanpa batasan kali ini kim." Chanyeol menyeringai.

"Wuuhuuuuu!" Teriak Jongin menggila, mengambil sebuah bola geranat lalu melempar begitu saja ke arah balkon mansion.

Duarr!

Oh, saatnya bersenang senang sepertinya.

Belum selesai dari sana, anak anak didikan Kim memiliki cara lain untuk menyelesaikan melalui pertarungan udara, "Kami mendekat dengan drone aktif dengan daya ledak tinggi, hyung peringatan untuk menjauh sekarang juga."

Penjelasan dari handsfree tau tau membuat seringai mereka semakin lebar.

"Sekarang!"

Dduuarr duuarr dduarr!

Dengan drone yang sudah di pastikan penembak di lantai atas mansion roboh dengan bangunan pembatas yang ikut hancur.

"Baekhyun sekarang." Komando dari Chanyeol membuat Baekhyun melempar dua bola asap aktif yang langsung menghalangi jarak padang. Dimana semua anggota tim sudah menjauh Jongin dan Sehun melompat naik kembali ke atas mobil jeep lalu menembaki para anjing anjing penjaga milik Lim dengan laras panjang tanpa jeda.

Dor

Dor dor!

Dor dor dor dor!

"Fiuh~"

"Sempurna, daging panggang kita siap untuk di tumpuk dan di sajikan." Ungkap Jongin dengan senyuman ceria alih alih kejam menatap mayat mayat tergeletak di depan mereka dengan tangan yang berimajinasi menumpuk numpuk barang imajinatif di depannya

"Selesai kim?" Tanya Sehun tidak begitu yakin.

"Tinggal mansionnya, dan nenek sihir di dalam sana."

"Keh, aku seharusnya meminta appa kim untuk membawakan sebuah tang tempur untuk meratakan bangunan sialan ini."

Oh astaga!

Sepertinya Kim kita kali ini begitu ingin meratakan bangunan di depannya ini dengan tanah.

"Jaga ucapanmu idiot! Kau sedang bersama dengan anak anak! Kau tau artinya itu!"

Bagaimana bisa hal itu di ucapkan begitu mudah oleh Jongin yang notabene jenius hebat sedangkan mereka sedanga ada dalam tim gabungan dengan anak anak besutan appanya sendiri yang itu pasti akan bisa dengan mudah tersambung dengan pusat. Mulutnya memang tidak bisa di atur hingga Kyungsoo menbentak di ujung sana, "Kim jongin! Jika sampai appa menelfon hanya karena ucapan anehmu maka aku jadikan roti panggang kau besok!"

"Aku lebih memilih meminta jet tempur untuk memaketkanmu kilat ke kutub utara kim." Sahut Jongdae lagi.

Geram tentu saja, karena terakhir Jongin meminta barang barang di luar nalar di sanggupi begitu saja oleh Tuan Kim.

Kala itu mereka dalam misi menghancurkan mansion bandar ganja di kota Gongju, dengan kesepakatan ini adalah sebuah sergapan tanpa suara. Namun dengan kewarasan Jongin di luar batas yang tanpa pengetahuan Junmyeon dia meminta Tuan Kim dan di 'iya-kan' begitu saja hingga melalui anak buahnya membawa sebuah meriam untuk membuka paksa pintu belakang markas.

Ledakan keras dan pintu kayu itu hancur dengan wajah bengong Taekwoon menghiasi.

Umpatan Jongdae dan wajah kesalnya adalah hal pertama yang menyapa, "Fuck! Kau gila sudah membawa barang warisan museum itu kemari kim."

Yang tentunya hal itu membuka kedatangan mereka kemari. Oh betapa pintarnya Kim Jongin dan seluruh otak warasnya.

Dan dengan entengnya Jongin menjawab, "Mereka bahkan tidak menggunakannya dan hanya menjadikan pajangan."

Karena itu memang benda museum Kim, astaga siapapun bisa tua mendadak karena lelaki ini.

Oh, Shit.

Seketika itu juga Junmyeon memukul kepala anak itu tanpa ancang ancang terlebih dahulu.

Anak kesayangan Tuan Kim katanya -mengalahkan Junmyeon.

Hell.

Namun rupanya ada yang satu ide dengan Jongin kali ini, yaitu Oh Sehun yang tiba tiba ikut bergabung dengannya lengkap kedua tangan berkacak pinggang dan berucap kelewat mudah, " Kenapa bukan kau bawakan molen besar dengan campuran semen dan kau masukan wanita itu kedalamnya."

Bagus, ini yang dinamakan kombinasi sempurna.

.

.

.

.

.

"Ku fikir, kata kataku untuk membawa yixing bersamamu harus aku tarik kembali." Ucap Junmyeon begitu mudah dengan tangan kanan yang memain mainkan berputar di depan Yifan. Dalam aura menantang yang kuat menerpa.

"Jun- apa. . .ada apa dengan kalian?" Tanya Yixing yang mulai ketakutan kala tatapan Junmyeon dia yakini lebih beringas untuk membunuh Yifan.

Bukankah mereka sudah baik baik saja sebelumnya? Tunggu ada apa dengan ucapan Junmyeon yang justru berubah dari rencana yang mereka susun pada awalnya.

Jleb-

Brengsek sialan! Pisau pipih menancap dengan cepat di dinding tepat di sisi kiri Yifan jika dia tidak reflek menghindar dia tentu tau dimana benda besi yang telah di asah itu menacap. Junmyeon tidak main main ternyata terlebih dengan dia yang saat ini menyisir rambutnya kebelakang, emosi terpancar dalam bola matanya dan seringai sialan itu memperjelas segalanya.

Yifan tidak mengerti akan Kim di depannya saat ini, "Yixing pergi dan menjauh dari kami, dia bukan manusia yang kau kenal lagi." Berbisik lirih.

Hingga ayunan kaki melayang dengan gerakan memutar padanya dan Yifan harus di buat menunduk menghindarinya. Junmyeon di sana hanya terkekeh gila.

"Apa maksudmu brengsek!" Teriak Yifan jengah.

"Akan kau bawa kemana yixing! Bukannya aku memintamu hanya diam menunggu aku membebaskan kalian!" Jawab Junmyeon seraya mengayunkan pedang ke sisi kiri Yifan.

"Berhenti untuk mengulur waktu, kim!" Bantah Yifan seraya menghindar dari ayunan serangan.

Yixing panik melihatnya seraya mundur guna menjauhi ayunan serangan Junmyeon yang dia rasa begitu banyak menguarkan emosi di serial ayunan pedang miliknya.

"Lalu membiarkanmu membawa kabur kekasihku lagi, sialan!" Seru Junmyeon dalam emosi.

"Brengsek! Dia bukan milikmu!" Maki Yifan tau jika orang di depannya ini memang benar benar tercipta begitu sialannya.

"Kalian berdua hentikan!" Lerai Yixing yang tidak berefek apapun.

"Aku akan menghentikannya jika dia mati!" Ungkap Junmyeon.

"Kalau begitu ayo, selesaikan apa yang belum pernah kita selesaikan!" Sahut Yifan begitu dia meraih pedang silver yang menjadi hiasan di salah satu vas besar yang ada di ruangan keluarga Lim.

.

.

.

.

.

.

Katakan semua bar bar dan mereka memang layak mendapatkan pengakuan itu. Kim bukan hal yang halus untuk sentuhan permainan dunia gelap apalagi akan musuh yang menyatakan perang untuk sebuah perdamaian semata.

Bukan secara terang terangan memang namun kala nama Lim Xiaoran di sebut sebuah ingatan kelam akan keluarga Kim yang hancur kembali terulang. Salah sebenarnya melakukan penyerangan secara terbuka kepada Mansion daratan tersembunyi di Changsa. Namun hal itu tidak terelakkan kala Zhang Yixing harus di seret kedalam penculikan itu.

Terlebih lagi, Victoria sendiri yang merupakan salah satu korban dari insiden penculikan itu. Meskipun hal ini membuat Kim bingung dalam mengambil langkah.

Karena bagaimanapun juga ini lebih mirip sebuah pemberontakan. Hingga tak salah jika Yifan mengatakan dengan lantang bahwa Kim Junmyeon selama ini hanya bersembunyi di balik niat terselubungnya.

Wajar.

Karena Kim seperti di hadapkan pada sisi lain dari sosok orang yang pernah menjadi keluarganya.

Dan hal inilah yang membuat Junmyeon harus mengingat dengan betul bahwa Xiaoran adalah satu satunya orang yang pernah bebas begitu saja bahkan setelah dia pernah menjadi keluarga Kim.

Dan sosok ayahnya sendiri yang telah membebaskannya.

Sosok wanita yang pernah ada dalam hidupnya.

Namun bagi Minseok dan Junmyeon itu tidak lebih dari salah satu penyebab kematian ibu biologis mereka. Wanita yang membawa Ayah mereka menjauh dari jangkauan mereka. Apalagi yang di inginkan 'wanita ular' sebutan dari Junmyeon sematkan yang berbeda dengan Minseok kala menyebutnya 'nenek sihir' selain daripada harta dan kekuasaan sang pemimpin Kim.

Dia bisa melakukan apapun dan di hormati dalam keadaan apapun. Oh, begitu dangkal!

Tendangan kuat tidak pikir panjang di ayunkan Chanyeol begitu ada di depan pintu ukiran tua yang menghubungkannya dengan ruangan dalam utama yang ada di mansion. Peduli setan jika kemarahan dan ancang ancang ana buah Lim yang menyambut, dia punya lebih banyak tenaga denga anak laki laki tanggap di kedua sisinya.

Namun gilanya, justru ada pimpinan Kim dan Yifan sialan yang tengah beradu jotos saat ini.

Jongdae terkejut dan Jongin berdecih, kejutan apa yang tengah ada di depan mereka sementara Chanyeol sudah mengepalkan jemari tangannya kuat. Sehun terdiam melihat dengan baik gerakan keduanya, gila jika dia masih bisa bisanya memuji setiap cara menyerang dan menangkis dari keduanya. Sebuah cara para Tuan Muda yang akan mewarisi gelar tahta, begitu anggun namun terpusat dan tajam, dia bisa melihat itu dari mereka sekalipun presentase menyerang mereka berbeda.

Begitu nyata kala Junmyeon mengayunkan benda pipih panjang tajam itu menyasar bagian depan dada Yifan, mengayun lalu menusuk mengincar jantung dimana hal itu langsung di tangkis begitu cepat. Junmyeon seperti telah memprediksi hal itu mengikuti putaran kemana Yifan menangkis pedangnya lalu berputar dan kembali memberikan ayunan keras masih menyasar dadanya. Gesekan benda tajam itu memenuhi pendengaran tanpa peduli lagi keduanya saling menyasar dengan terarah dan kegilaan mereka terlihat bagaimana Junmyeon justru tertawa begitu mudah saat goresan pedang Yifan mengenai lengan kirinya dan melihat bagaimana Yifan terenggah begitu cepat menunjuk bagaimana pemuda Wu itu mengerahkan seluruh fokusnya untuk mengenai segelincir lengan Junmyeon.

Sementara yang di sasar hanya tertawa gila. Hell.

Saat bola mata Sehun bergeser menuju Yixing yang menggerakkan bola matanya dalam setiap pergerakan pukulan dan perkelahian keduanya dalam emosi yang kuat. Sehun tau ada yang salah.

"Ada yang mengadu domba mereka."

Jongdae mengangguk setuju, "Lebih tajam daripada pertemuan mereka sebelumnya, hyung terlihat fokus dan tajam, sementara yifan terburu buru untuk mengakhiri sambil mencari celah."

Itu terbukti bagaimana cara Junmyeon menangani Yifan dengan ayunan konstan yang saling bertemu dan menekan kedua pedang mereka, lalu Yifan akan ada untuk menendang perut Junmyeon mencoba mencari celah. Menjauh bersamaan bukan alasan Junmyeon untuk tidak lagi mengarahkan benda tajam itu kepadanya justru melompati meja dan menemukan Yifan untuk di pojokkan dengan keadaan satu kaki terduduk menopang tubuh dengan lutut dan menahan serangan pedang dengan pedangnya sendiri.

Umpatan 'Brengsek' semacamnya datang dengan dengusan Yifan akan polah Kim di depannya ini yang tidak ada main mainnya. Hampir kewalahan.

Jongin berdecih dalam kesenangan melangkah maju dengan pistol semiaktif yang dia keluarkan, "Mari lihat bagaimana keseruan kalian dalam membunuh."

Dan pistolnya di lempar begitu saja mendekati kaki Junmyeon dan Yifan, Jongdae ingin mengumpat akan tindakan ceroboh itu bagaimana jika bukan Junmyeon yang mendapatkan -oh benar bukan dia! Fuck, Jongin!

Yifan mendapatkannya. Itu begitu indah, mereka bermain main maka mari lihat seberapa gila mereka dapat melakukannya.

Tapi Junmyeon dalam gerakan cepat menangkis tangan Yifan yang meraih pistol yang terlempar di lantai, Sehun menyeringai senang. Ini yang ingin dia lihat hingga menemani Jongin dengan mengikuti kebodohannya. Peduli akan tatapan Chanyeol dan Jongdae yang tajam menusuk tetapi dia tidak datang kesini tanpa alasan kesenangan yang sangat ia ingin lihat jika bukan adegan saling bunuh antar kedua Tuan Muda terdidik.

Dengan ini impas!

Umpatan keluar polos dan jangan tanya siapa yang begitu emosi terpendam erat di sana melihat dengan bola mata begitu keruh dan gelap, Chanyeol terlalu marah hingga membuat dia menggertakkan gigi dengan begitu kuat saat ini.

Tanpa peduli dan justru membuat semua orang melihat penuh minat padanya kala langkah kakinya di bawa masuk dan mendekati lingkaran pertarungan dengan lengan di sinsingkan lalu tiba tiba meraih wajah Yifan yang mana menutupi arah serangan Junmyeon yang terdiam sesaat untuk dalam pukulan telak -membuatnya tersungkur. Lalu masih belum puas dengan melangkah mendekati obyeknya lagi.

"Bangsat!" Teriak Junmyeon yang begitu mengejutkan semuanya.

Giliran Chanyeol yang mendapat tendangan tepat di punggungnya. Apa?! Tentu saja tendangan Junmyeon yang justru ganti menyingkirkan Yifan.

Kau gila Jun?! Fuck!

Apa yang terjadi di sini! Bukankah sudah jelas jika Chanyeol akan berada satu dalam pihak bersamamu, dan idiot datang begitu cepat kepada otak dungu Junmyeon yang tidak terduga.

Jongdae ada bersama Sehun untuk tercengang. Apa yang di harapkan Junmyeon.

Namun katakan Junmyeon beruntung karena Chanyeol begitu bebal dan hanya berselimut kemarahan tanpa peduli akan mau atau tidak Junmyeon menerima bantuan yang tentunya sosok tuan muda tidak jauh dari sifat angkuhnya.

Memberikan sebuah sayatan dengan rencana terbaik di tekankan Chanyeol, mengambil tanpa ragu futnitur besi tua yang ada di sekitar ruangan Lim, enggan peduli efeknya hanya mengayunkan dengan mantap sementara Junmyeon membuat dia harus menghindar terus menerus akan layangan bogem, Chanyeol memutar tubuhnya untuk ayunan kuat kaki yang berharap mengenai wajah bangsat Yifan.

Harapan, dan Yifan mengumpat setelahnya akan kombinasi gila mereka. Ujung sepatu Chanyeol mengenai sisi pipi kanannya, "Kau punya sekutu sekarang, kim?"

Terlalu jelas hingga dia hanya tertawa menanggapinya,

Jongdae jelas melihat tatapan mata Junmyeon kala itu dia juga telah mendapat pertunjukan dari Sehun akan mereka tengah di adu domba melihat Yixing berdiri di sana dan jelas jika mereka tengah mencoba melarikan diri tetapi ada apa dengan hyungnya dan dia bahkan tidak menemukan sosok wanita sialan yang seharusnya ada untuk dia bunuh bersama dengan Jongin. Hingga suara langkah mengusik ketenangannya, di atas dia melihat Yuan bersama Xiaoran ada untuk seringai kemenangan. Bangsat batin Jongdae saat ini sementara yang ada di depan mereka Kim Junmyeon tengah menyasar Wu Yifan dan Park Chanyeol yang tengah membantunya dengan baik.

Ini di luar kendali hingga pistol yang di dapat Yifan mulai di gunakan Jongdae juga mulai membidik siapa orang yang akan membahayakan hyung kesayangannya, "Lakukan jika kau mampu." Desisnya penuh tekanan.

Tapi Yifan bukan anak kemarin sore hingga terlampau takut untuk sebuah ancaman kematian jika itu akan mengakhiri semuanya dia rela.

Cklek- pistol di todongkan dan Yifan mantap mengarah pada kepala Junmyeon namun belum berganti detik ayunan pistol juga mengarah kepada kepalanya -bukan dari Jongdae.

Itu Chanyeol, "Cukup muak aku melihat ulahmu!"

Cklek-

"Jangan coba coba mengambil kesempatan," Chanyeol bersumpah itu adalah suara paling gelap yang pernah dia dengar keluar dari mulut Junmyeon hingga dia merasakan udara dalam ruangan ini menekan begitu banyak.

Bahkan untuk semuanya di buat terkejut dengan aura dominan yang ada di sana, menekan terlalu kuat untuk sebuah pertarungan. Bagaimana tidak jika saat ini Yifan dengan nafas terengah menatap bengis ke arah Junmyeon dengan pistol sengacung di kepala, sedang Chanyeol di sisi kirinya menekan pistol ke arah kepala Yifan dan Junmyeon? Dia justru menekan pistolnya pada kepala Chanyeol.

Menekan dalam setiap kata dan bantahan yang ada, membuat Yifan maupun Chanyeol menggigil hingga pada tulang belakang mereka akan perintah disana.

Ketiga tatapan yang hampir hampir membuat Kyungsoo menggigil dalam mobil kala kamera pengintai mansion sudah dia sadap. Apa yang akan terjadi membuatnya mengigiti bibir penuh kecemasan.

Sampai ledakan itu datang dan bom asap di keluarkan. Semua kacau dan permainan segera bergerak dalam geseran aktif mematikan.

"Sekarang, oh sehun!"

-duarr!

Sehun melempar geranatnya begitu dia tau dimana letak yang di arahkan oleh Jongdae, balkon di lantai dua menyasar kedua wanita ular yang menjulang di ujung sana lalu Jongin mulai menyasar lampu hias gantung memisahkan ketika Tuan Muda yang berseteru guna melerai juga membawa kesadaran mereka lebih banyak.

Namun teriakan Yixing membuat semua orang yang sudah dalam keadaan genting semakin parah! "Junm-"

Anak itu di sekap dengan sapu tangan di mulutnya pistol mengarah tepat ke pelipis sebelah kiri, diseret dan di tarik begitu saja oleh seorang anak buah dan Junmyeon bersumpah melihat Tuan Lee ada di sana.

"Bajingan! Kembalikan dia!" Teriakannya membuat Yifan dan semua orang menilik ke arahnya dan Yifan berteriak marah selanjutnya menyerukan nama Yixing.

"Tidak ada waktu lagi." Kyungsoo mengambil langkah mengarahkan dari handsfree.

"Ten -mark bawa anak anak masuk, ikuti Jongin temukan wanita itu, lalu-" Jongdae mengambil alih perintah.

"Chanyeol hyung memiliki yuan, itu kesepakatannya." Sehun menyahut dengan bola mata Chanyeol yang sudah kehilangan fokus.

"Aku datang!" Itu suara Baekhyun.

"Yixing di bawa pergi, taeyong bisa kau lihat dari atas?"

"Kami gunakan drone dan heli siap mendekat. Aku bersama doyoung dan taeil, menyasar dari udara."

"Harus ada seseorang yang melihat kemana yixing di bawa."

Junmyeon menatap Jongin yang langsung tanggap melempar handsfree miliknya sebelum dia mengucapkan sepatah kata untuk Kyungsoo di line nya. Memasang cepat dan mulai melakukan perintah. "Biar wu yang mencari yixing."

"A-apa?"

Pistol miliknya di lempar dan Yifan tidak punya kesempatan untuk menolak, saat ledakan dan jatuhnya lampu hias di atap membuat ketiganya menjauh dari segitiga berdarah yang hampir merenggut nyawa, tatapan Junmyeon bukan main main saja, "Temukan dia! Sementara aku membunuh mantan keluargaku!"

Yifan tercengang, bagaimana pengakuan Junmyeon membuatnya terdiam dan memproses. Sementara Chanyeol menatap sang Kim. Tentu saja.

"Tidak ada protes! Pimpinan aku ambil alih! Lakukan apa yang jadi target kalian park! Aku tau yuan ada di dalam catatanmu!"

Jongdae mengusak rambutnya frustasi lalu tanpa pikir panjang meminta satu buah handsfree dan melempar begitu saja ke arah Yifan setelah memanggil nama marganya 'Wu! Buat benda ini berguna!'

"Aku mengambil alih satu mobil, ada mobil keluar dari sisi kanan mansion! Aku bertaruh itu yixing. Siapa yang membawa?" Itu suara Luhan, Junmyeon memantau ketika sejata Gerber miliknya tengah ada di tangan.

"Itu lee dongwook! Penjualan manusia yang terkenal di tiongkok dan gangnam." Penjelasan Yifan masuk begitu saja.

"Bunuh dan sisakan kepalanya untukku, ada pertemuan sah yang harus aku temui setelah ini."

Anak anak Kim segera berada di sisi kanan kiri Junmyeon dan Jongin, tersenyum diam diam Mark dan Ten juga yang lain akan kedekatan dan menyaksikan secara langsung aura membunuh dari hyung kebanggaan mereka. Lalu perintah Jongin menggema segera, "Cover junmyeon hyung dan aku akan memimpin di depan, Temukan dia."

"Baik!"

Setelahnya semua orang menuju lantai atas dan alunan tembakan mengalun begitu cepat. Chanyeol bagimana pun juga memberontak tapi kala suara Baekhyun yang mendekat membuatnya diam dan mulai menyisir dengan Sehun mencari wanita sialan mereka, Yuan Shasha tentu saja.

Beda Kim dan Park tentu beda lagi Luhan dan Taekwoon yang sudah ada dalam satu mobil untuk sebuah pengejaran terhadap sedan mewah yang di yakini membawa Yixing di dalamnya. Yang mana Yifan sebagaimana mestinya ikut andil dalam pengejaran dengan mobil sitaan milik Lim di garasi mereka, anak laki laki itu menonjok begitu melihat seorang anak buah Lim yang akan masuk ke dalam mobil dan mengoperasikannya seperti kesetanan mengambil pistol yang siap di arahkan ke luar jendela guna membantai siapa yang berani menghalanginya. Mengikuti arah dan gps bekerja sama dengan Kyungsoo yang ikut memantau bersama Showluo di sana. Dan yang mereka temukan lebih daripada kejutan belaka.

"Bisakah. . .bisakah aku menyebut ini akan menuju arah sungai xiangjiang?"

"Brengsek! Mereka siap untuk melarikan diri!"

"Bisa aku pastikan untuk sebuah perahu boat yang akan berada di sana."

Jongdae tau geraman marah di tunjukkan Junmyeon untuk semua informasi barusan, dia membunuh dengan sekali tebas pada anak buah Lim dan menendangnya hingga kepala terbentur vas bunga mahal dengan artistik mesir yang besar menjulang.

Ngeri sendiri akan kebiasaan emosi Junmyeon dalam setiap pertarungan. Menggiling wanita yang menjadi dalang dalam penyekapan mereka saat ini terpojok dengan tangan gemetaran yang memegang pistol tanpa keberanian yang cukup.

"Liat siapa yang berkuasa di sini? Alih alih untuk mencoba jadi pemimpin permainan?"

Dor!

Menghindar dengan begitu mudah Junmyeon berjalan melewati lesatan timah hanya dengan mengeser sebagian langkah penuh kehati hatian miliknya, dengan kekeh ledekan yang gagal dia tahan. Sang wanita gemetar bukan main di ujung pertahanannya.

"Kesalahan pertama karena kau segaja menyapaku. Kesalahan kedua karena kau begitu lancang memunculkan wajah busukmu di hadapan keluargaku. Dan kesalahan ketiga adalah. . . ."

"Kau berani menyentuh milikku."

Jongdae masih ada dalam fokusnya, benar benar menangani bagaimana lingkungan bergerak memanas dan lebih. Tidak hanya melihat dari cara menekan Junmyeon untuk menguliti mental mantan ibu tirinya

"Kau tidak akan bisa melakukannya. . .putra kecilku."

Sapaan akrabnya membuat hati Junmyeon bersedir akan kerinduan dan kemarahan, ada banyak kenangan di dalam kata kata itu. Juga ada banyak kenangan rasa sakit di dalamnya. Minseok yang pertama sadar menatap dengan cemas dalam tatapan dimana Junmyeon akan melemah. Ada banyak hal kenapa Xiaoran ada dan masih dalam keadaan hidup bahkan setelah meninggalkan Kim. Ada banyak hal, dimana salah satu faktanya adalah wanita itu benar benar menggenggam erat hati dari ayah dan putra kesayangan mereka.

Kalian tentu tau jika ikatan batin lebih menyakitkan dan bahkan bisa membuat seseorang lemah hingga jatuh begitu dalam.

Jongdae yang pertama bergerak, maju untuk membuat wanita kelahiran Changsa itu tunduk dan tidak melawan yang dimana hal itu salah, sang wanita bergerak gesit menuju ruang di depan Junmyeon tepat hingga pisau pipi di balik lengan bajunya mengarah, mengancam keselamatan nyawanya. Junmyeon lengah dan dia faham menggenggam erat pergelangan tangan yang mengancam itu. Menatap dalam tatapan diamnya.

"Kau tidak bisa. Tidak setelah kalian merebut semuanya dariku! Tidak bahkan dengan zhang yang akan menjadi milikmu. Dia tidak pantas bersanding dengan putra terbaikku-"

"Aku bahkan tidak sudi kau panggil sebagai putramu! Kau penyebab kematian ibu kandungku dan bahkan-"

"Aku membesarkanmu! Merawatmu dengan tangan dan usahaku! Bagaimana bisa kau membandingkanku dengan wanita yang hanya hidup di atas mesin penunjang-"

"Tutup mulutmu!"

Grep! Junmyeon tidak pernah bermain main dengan mangsanya, satu dari banyak hal yang semua orang ketahui sekalipun sisi lemahnya akan muncul kepermukaan akan semua kilas balik yang harus di bongkar dengan kehadiran ibu tiri dan semua pendapat akan ketidak setujuan akan hubungan Kim dan Zhang. Namun Junmyeon terlanjur gelap hati, jemarinya menekan leher rapuh sang wanita dengan gigi gemeletuk gemas ingin menguliti, wanita itu sudah di bawa tinggi menjauhi lantai marmer. Tercekik hingga kehilangan pasokan udara.

Minseok juga yang pertama berteriak namun hal itu tidak masuk kepada telinga Junmyeon hanya berlalu bagai angin. Hingga suara Kyungsoo yang berseru di telepon. Memberikan sebuah informasi akan keadaan di tepian sungai Xiangjiang. Lelaki Kim itu melepaskan mangsanya yang berbatuk hebat membiarkan Jongin dan semua orang orang menanganinya hingga dia di sambut dengan jemari dingin Minseok dan tatapan khawatirnya.

Junmyeon sudah tenggelam begitu jauh.

Namun sebutan wanita sihir atau nenek ular adalah fakta, bahkan wanita itu masih bisa tertawa, "Kau masih. . .masih anak kecilku yang baik dan penurut. Kau tidak akan bisa-"

"Ikat wanita sialan itu!" Jongin berteriak geram dan Jongdae segera melempar plester menutup mulut sialan yang dari tadi mengoceh. Minseok berteriak dia pantas mendapatkan hal itu karena mencelakai Yixing dan Junmyeon. Semua hal menjadi kondusif setelahnya.

Dan Minseok harus bisa membawa Junmyeon keluar dari sini secara utuh, prioritas berikutnya adalah Yixing. Junmyeon harus ada di sana untuknya.

Anak laki laki Kim berhasil keluar dengan menyerahkan wanita itu pada sisa anak buah melewati tangga dan menemukan Baekhyun dan Chanyeol yang menatap partner Xiaoran sudah terduduk dengan tubuh terikat. Wanita itu masih sama mengocehnya, menemukan dirinya lebih percaya diri untuk menghancurkan mental seseorang dengan emosi yang mana hanya mengulur waktu sementara sisa dari rencana mereka membunuh Zhang di lakukan.

Junmyeon sudah hampir mengabaikannya dengan hanya fokus menatap pintu tinggi menjulang ketika perkataan wanita itu mampir di telinganya. Dia terdiam dan fokus memproses semua keadaan mereka.

"Bahkan. . .sekalipun kalian ada di sana, anak itu akan tetap mati di tangan kami. . .sekalipun kau terjun dan menolongnya semua percuma dia hanya di takdirkan mati. Dan bukan untuk hidup. Sekalipun kau mencari hingga ke dasar maka kau tidak akan menemukannya karena semua-"

Dor!

"Brengsek!"

Dor! Dor!

"Cukup!"

Dor!

"Baekhyun!"

Semua terjadi begitu cepat, dengan ucapan ucapan Yuan yang menggema di ruangan di gantikan bidikan pistol Baekhyun yang meraih dari milik anak buahnya. Menyasar perut wanita hingga berkucuran darah lalu berpindah ke dada sebelah kiri dan kepala adalah yang terakhir di sasar, anak itu sudah meringkuk dengan nafas naik turun di dekapan Chanyeol begitu terguncang akan semua rencana yang di bicarakan. Junmyeon memiliki kesempatan bertatap dengan matanya hingga dia menyahut seketika kunci mobil yang di acungkan Sehun kala tau lelaki itu berlari menuju pintu keluar. Jongdae dan Ten yang berlari menyusulnya.

"Kyungsoo berikan koordinatnya."

"Baik."

.

.

.

.

Yixing masih bertahan bahkan kala mulutnya harus di ikat oleh sebuah kain. Dalam perjalanan yang dia tidak gentar melakukan perlawanan bahkan ketika kepalanya di pukul hingga membentur kursi penumpang hingga membuat dia merasa dunia berputar begitu kencang. Yixing mengambil nafas terengah menatap orang orang dalam mobil lalu mendapat sebuah tamparan keras sekali lagi dan dia mendengar dengungan cukup keras mengaburkan pendengarannya akan kata kata kasar lelaki di sebelahnya akan bagaimana bebalnya dia dan semua sikapnya.

Yixing hanya berharap bagaimana Junmyeon atau Yifan akan berada di dekatnya sebentar lagi. Hingga dia menangkap bayangan sebuah benda melayang di atas mobil sebelah kiri.

Memang benar jika Helikopter Taeyong mengikuti mereka dengan begitu dekat mendekati tepian sungai Xiangjiang tembakan yang di arahkan ke udara membuat mereka memakai jarak aman. Kyungsoo berteriak di line seberang bagaimana umpatan Jongin terdengar setelahnya. Tembakan masih membabi buta. Hingga tanggapan Luhan yang ada dalam mobil cepat mengatakan bahwa mereka harus menjauh sebelum baling baling atau mesin mereka terkena. Cukup fatal jika hal itu terjadi.

Junmyeon mengumpat di sela sela kemudinya itu yang bisa di dengar semua orang sambil menekan gas gila gilaan yang dia lakukan. Kyungsoo benar benar khawatir saat ini.

Yifan menyalip dengan kecepatan gila di depan mobil Luhan tidak peduli bagaimana anak dari pimpinan Xi itu mengumpat akan mobil Yifan dan tingkah urakan miliknya di jalanan padahal hanya sedikit lagi mereka akan sampai lebih cepat. Dan ternyata kekhawatiran Luhan masih di uji kembali kala Yifan tanpa menunggu lebih lama, membuka pintu mobil membantingnya untuk meloncat mulai menyasar anak buah yang bisa di hitung lalu melemparkab bogem mentah dan dia tidak lupa masih tau bagaimana caranya menggunakan pedang yang masih setia dia bawa untuk mengayun membelah dada seseorang tangan kanan mereka hingga berkucuran darah.

"Bangsat satu itu, apa otaknya sudah membeku!"

"Sialan!"

Dan banyak umpatan lainnya yang keluar dari mulut Luhan bagaimana menyimpulkan tingkah laku Yifan yang mulai seenaknya sedangkan mereka mengejar hanya bertiga. Oh, astaga Luhan mengusap wajahnya kasar. Merasa salah mengikuti orang diam diam menyumbat telinganya akan semua ucapan sisa tim dan mulai mengeluarkan piatol semi aktif miliknya untuk mempersempit jumlah tenaga yang keluar.

Dengan sekuat tenaga mereka bertahan hingga Junmyeon datang menabrak seorang anak buah hingga terlempar, dia tidak peduli. Meloncat keluar dengan ayunan kaki yang menyasar dada seseorang hingga tersungkur. Oh pemandangan yang indah hingga mereka kembali berkelahi. Mulai membuat musuk terpojok dan semua seperti bagaimana seharusnya mereka menggunakan kartu as terbaiknya.

Yixing.

Anak itu di seret dengan tubuh lemas yang hanya mampu menopang setengah daripada berat tubuhnya. Dengan tangan yang terikat di belakang tubuhnya terdapat rantai di sana dan mulut yang di bekap sebuah kain. Gerak aktif bola matanya menunjuk bagaimana dia masih sepenuhnya sadar yang mana hanya tenaganya yang sudah mulai melemas melihat bagaimana anak itu tidak punya perlawanan berarti kala lehernya di acungkan pisau pipih berukuran kecil.

Junmyeon yang pertama berdecih dengan cukup puas menarik pecahan kaca yang dia temukan di sisa perjalanan kemari yang telah menancap dengan baik di tubuh lawannya, melempar begitu saja dan menendang mayat di depannya. Tanpa repot repot untuk sebuah ketakutan akan gertakan semata. Tersenyum remeh dan berucap santai, "Apa penawarannya, katakan?"

Bedebah sombong itu benar benar.

Luhan ingin mendecih menangapi perkataan indah Junmyeon seolah dia di tanah kelahirannya dan berkuasa sepenuhnya, oh sialan tampan. Khas seorang tuan muda yang dia lupakan tetapi Luhan harus sadar jika dia ada di pihak yang sama sehingga negosiasi adalah pilihan terbaik, melihat lagi lawan mereka adalah bos penjualan manusia di dunia bawah tanah yang cukup terkenal.

"Aku dapat penawaran tinggi hanya untuk berita kematiannya." Sementara Dongwook benar benar memiliki niatan yang baik dengan membawa Yixing dan dirinya di tepian sungai yang mana hanya selangkah lagi dia melewati pagar pembatas maka dia akan jatuh.

"Keparat tidak tau diri, kau yang akan membusuk setelah ini." Yifan mengeram marah setelah membanting kepala seorang anak buah mereka.

Berdiri dengan mengusap darah yang keluar di sudut bibirnya. Menatap kelewat garang pada sosok lelaki yang mengekang Yixing dengan begitu kasarnya.

Junmyeon hanya terkekeh, "Kau tau jika kau akan kehilangan banyak hal jika menentang keinginanku."

"Sepertinya kepalamu jauh lebih baik terpisah." Dengusan Luhan hampir hampir tertawa gila, melihat kolotnya Dongwook akan penawaran kemanusiaan mereka. Sedangkan dia seharusnya tau jika anak buah mereka sudah hampir habis di sini.

Merasa terpojok.

"Persetan! Kau fikir kau begitu berkuasa di sini!" Yang tanpa menunggu lama justru mendorong Yixing hingga terjebur ke dalam sungai dan mengeluarkan pistol di balik saku jas miliknya untuk menembak Junmyeon-

Dor! Namun kalah cepat dengan Kyungsoo yang sudah membidik dengan senjata laras panjangnya dari jarak jauh di dalam mobil mereka. Anak itu sudah datang lebih dahulu dengan Showluo sebagai pemegang kemudi dan berhenti di saat yang tepat untuk melayangkan bidikan.

Tapi Dongwook bahkan belum merasa kalah hingga tau darimana arah tembakan yang mengenai lengan kanannya dan menembaki cepat bertubi tubi.

Dor! Dor! Dor!

"Yixing!"

"Kyungsoo!"

"Brengsek!"

Junmyeon hanya meledak begitu tembakan di layangkan Dongwook dan Yixing yang masuk ke dalam air. Harus bersembunyi menghindari tembakan tak terarah yang di lakukan Dongwook menghalanginya menyelamatkan Yixing ataupun masuk ke dalam air. Karena bahkan Fuck! Air ada di balik punggung Dongwook yang mulai melangkah mundur sedikit demi sedikit dan meloncat menuju perahu boat pribadi. Menahan penyelamatan Yixing dan dia memiliki banyak waktu untuk melarikan diri.

"Keparat!"

"Kami datang!" Teriakan Jongin dan Jongdae menggema bagai penolong keduanya sudah berlari semenjak keluar dari dalam mobil -meskipun mereka mengabaikan fakta bahwa Kyungsoo baru saja tertembak- dan Junmyeon tanpa pikir panjang berteriak, "Bawa kepalanya untukku, jongin!"

Lalu berlari menuju air

Byurr- dan menyelamatkan Yixing.

"Brengsek! Bedebah itu melarikan diri sementara kita tidak punya apapun!" Jongdae berucap dengan kepala menilik air sungai baik baik dan mengabaikan umpatan Jongin.

"Kami datang dari udara hyung!" Itu informasi yang mereka dapat, reflek.

Bagaimana Doyoung tengah melihat dengan baik dari senjata mereka yang mengarah dengan baik pada perahu boat Dongwook dan membidiknya.

Dor!

Duaarr!

"Temukan mayatnya!" Dan itu menjadi fokus utama Jongin dan Jongdae.

.

.

.

Semua begitu gelap, menjadi buram dan tidak terkendali. Tubuhnya butuh daripada sebuah kebebasan dan udara namun jiwa dalam dirinya seakan menyerah untuk semua hal dan siksaan yang di tujukan orang lain bahkan jika itu adalah berita kematiannya. Namun dia masih bisa melihat bagaimana dari atas seseorang masuk ke dalan air untuk menyelam ke dalam dan berusaha menggapainya.

Yixing berusaha keras melepas bagian tangannya dengan sekuat tenaga, namun bagaimana hal itu lepas jika sebuah rantai mengikat dan gembok kecil ada mengunci di sana. Dia frustasi dan merasakan hampir menangis. Menggelengkan kepala dengan sisa tenaga kala tangan Junmyeon ada menarik lengannya.

Junmyeon berusaha menarik tubuh Yixing dan beban berat rantai di dalam air, mengumpat dalam hati akan rencana dan pemikiran pintar orang orang Dongwook. Junmyeon berusaha melepaskannya namun nihil karena itu besi dan mereka ada di dalam air.

Dan efek buruknya dari semua benda itu adalah Yixing yang mana mengalami kesulitan dalam nafasnya karena- Hell! Junmyeon datang lambat dengan acara Dongwook yang menembaki tanah tempat mereka berpijak. Dan benar saja kepanikan datang menghantam kala gelembung nafas terakhir yang bisa Yixing tahan di dalam air berhembus meninggalkan tenggorokannya.

Anak itu ada di batas kemampuannya. Bertahan.

Junmyeon panik menarik semakin cepat menuju kepermukaan namun jangan lupakan bagaimana arus air juga berpengaruh menarik mereka sementara Yixing sudah mulai tidak sadar.

Fuck! Fuck!

Fuck!

Umpatan dalam hati yang terus keluar dan Junmyeon yang berusaha mengangkat tubuh Yixing, hingga tiba tiba satu tangan membantunya mencapai permukaan. Dengan Yifan dan isyaratnya menunjuk ke atas dan mendorong dari sisi lainnya. Dapat dia lihat bagaimana kepanikan disana dan wajah Yixing yang bolak balik dia tepuk.

Anak itu sudah lama menahan rasa sakit.

Junmyeon sadar hal itu hingga jiwanya harus diam dan benar benar fokus untuk menyelamatkannya. Membiarkan Yifan menyentuh bibir ceri yang pucat lemah itu dan meniupkan sebagian nafasnya di sana.

Menciumnya.

Membagi nyawanya.

Junmyeon memalingkan wajah dia harus tau jika hal ini untuk Yixing hingga dorongan keras di antara arus air, dia sadar isyarat ke permukaan dan berenang semakin kuat menarik tubuh lemah Yixing. Hingga cahaya semakin terlihat dan Junmyeon terenggah di permukaan, bernafas satu satu dengan sepucuk . Di tarik dengan cepat oleh Taekwoon yang masuk ke dalam air membantunya. Menyeret tubuh lemah Yixing ke tepian dan mulai membaringkannya.

Junmyeon terbatuk begitu sampai ke tepian dan membaringkan diri terenggag kuat sementara Yixing ada dalam penanganan manual Taekwoon memompa nafas di dadasnya untuk mengeluarkan air dalam tubuhnya.

"Dia tidak keluar dari dalam air!" Teriakan itu membangunkan Junmyeon menilik ke tepian sungai yang berarus jernih.

Dimana Yifan? Benar anak itu seharusnya ada di permukaan saat ini.

"Hyung! Wu masih ada di dalam sana dan dia tidak akan bisa naik sendirian!" Kala menilik lebih baik lagi dan Junmyeon harus berusaha keras menilai semua orang dengan Showluo bersama Minseok dan Jongdae di sebelah kanannya. Chanyeol bahkan sudah ada di sana dengan Baekhyun dan Sehun yang wajahnya lebih baik. Semua ada di sana belum bagaimana di belakang Jongin menemani Kyungsoo serta Luhan yang diam diam mencari lelaki Wu yang belum kunjung di permukaan

Byur!

Semua orang terpana bagaimana hal itu terlihat.

Itu Chanyeol! Yang telah masuk ke dalam air. Hingga semua menunggu bagaimana lelaki itu akan ada di permukaan dan terengah. Taekwoon pertama berteriak, "Suruh mereka mengirim mobil atau apapun untuk menjemput kita! Mereka harus ada di rumah sakit sekarang!"

Junmyeon masih bertahan dengan kepalanya yang berputar keras mengabaikannya untuk membantu Chanyeol dan Jongdae yang menyeret Yifan, membiarkan Taekwoon bergeser menanganinya dengan tekanan memompa dada. Yixing sudah berbatuk keras dengan Minseok yang menjaga kepalanya di pangkuan. Bergerak lemah namun masih menutup mata.

Sementara Chanyeol terdiam membeku dalam dinginnya air yang memenuhi sekujur tubuhnya. Tidak ada yang bersuara dalam hal itu hingga terpaan keras angin menyadarkannya akan helikopter yang mulai mencapai landasan turun cukup lapang.

"Cepat! Bawa yifan dan Yixing. Aku yakin mereka bisa membawanya ke rumah sakit dasom berada." Intruksi Taekwoon tidak ada yang membantah dengan begitu saja keduanya di gotong begitu helikopter mendarat.

Semua begitu cepat dan Junmyeon merasakan ketakutan akan hal lain di hatinya mencoba bangun dengan sempoyongan dan Taekwoon menopang tubuhnya. "Kau juga, biarkan kami menanngani sisanya!"

"Tidak. . ." Jawab Junmyeon lirih.

"Junmyeon, semua telah baik baik saja. Dasom di sini dan juga hakyeon."

"Hakyeon?" Junmyeon masih memproses kata kata Taekwoon mencoba memikirkan bagaimana tangan kanan kepercayaan appanya ada di Changsa.

Hingga kata kata Taekwoon menjawab semuanya, "Ya, anak anak tidak datang sendirian mereka bersama tuan kim dan juga hakyeon. Mereka ada di sini."

Menyerngit bagaimana semua kejutan ini membuatnya semakin berfikir keras hingga terasa kepalanya berputar lalu kata kata Taekwoon mengema di akhir sebelum pandangannya menggelap dan dia mengumpat.

"Sekarang biarkan tubuhmu beristirahat." Tanpa menunggu lama suntikan masuk begitu saja dalam tubuhnya dan Junmyeon ambruk.

"Taekwoon!" Teriakan Minseok membuatnya menatap ke arah lelaki Kim itu dengan serius.

"Kita harus bergegas ke rumah sakit, tubuh junmyeon juga membutuhkannya."

Dan semua orang faham jika mereka bertiga yang paling banyak terkuras tenaganya.

.

.

.

.

.

Tbc

A/n:

Big thanks : Heeriztator

Terimakasih banyak untuk semuanya, riri.

Semua dalam bab ini sudah sejak awal tahun saya rencanakan. Untuk saat ini dan bulan ini, karena bulan ini begitu spesial dalam hidup saya.

Ketakutan terbesar dalam penulisan ujung tombak ace di sini hanya satu, saya takut jika kalian tidak menyukainya.

Exo melakukan yang terbaik untuk comeback mereka, begitu kuat dan tetap menjadi center. Groove, saya menyukainya teringat 24/7 dalam melodi yang unik.

Maka tolong berikan komentar panjang kalian di sini. Dan maaf untuk semua kesalahan saya. Bisakah saya mendapat kritik kalian? Saran kalian? Cinta kalian? I miss it, to much.

Ini 22,5k penulisan terpanjang saya, dan apa ini cukup terasa? Masih kurang?

With love,

Luce.

29 November 2019