'Taekwoon? Apa yang aku katakan atas izinmu ke changsa di hari itu?'

'Tuan. . .kami berhasil menyelamatkan junmyeon.'

'Dengan keberadaannya di ranjang rumah sakit?'

'Apa aku harus mengatakannya lagi untuk tidak pernah melihat keluarga kim di ranjang rumah sakit setelah minseokku, jung taekwoon!'

'Maaf tuan!'

'Dia pewarisku dan tidak aku ijinkan siapapun merendahkannya!'

'Kami tidak bisa menyela diantara strateginya."

'Maka berdiri di sampingnya, taekwoon!'

'Aku ada di changsa, jemput aku. Aku ingin melihat puntraku.'

'Baik.'

.

.

.

.

.

Jantung berdebar dalam ketakutan, mental hancur dalam tarian permainan

Tuan Kim marah untuk perjuangan Junmyeon

Kepemilikannya sah namun permainan dan strategi saling tumpang tindih

Bagi Junmyeon dia sudah melakukan segalanya namun bagi orang lain ini semua salah

Bukan ending yang di inginkan kala melihatnya berbaring di ranjang rumah sakit

Kemarahan dan frustasi, ketakutan dan kepergian, kekalahan dan ancaman semua menjadi satu

Orang tua ingin yang terbaik bagi anak anak mereka, jika dia yang kau perjuangan hanya menyayat hati maka tinggalkan

Junmyeon frustasi untuk meyakinkan, kecewa akan kesalahannya.

Setelah semua perjuangannya apakah dia harus berhenti dan kecewa?

Sekalipun kisah mereka bukan selayaknya kisah cinta yang baik baik saja.

Ketakutan memaksa ego, arogansi akan kuasa dan perintah, kepemilikan sah dari nama seseorang.

Serahkan dirimu dalam tarian permintaan maaf sebelum dia menyerah, kecewa, dan pergi.

Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Zhang Yixing?

.

.

.

Chapter 15 : Unexpected Ending

Welcome back to this game,

This is ACE season 2,

With me, pearl luce lets start the game

Cast :

Kim Junmyeon, Zhang Yixing, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Oh Sehun, Wu Yifan.

Honglei, Wangxun, Showluo, Victoria, Jackson, Taekwoon, Donghae, Taemin, Taehyung, Jungkook, Jhope, Taehyun, Mark, Johnny, Renjun, Chenle, Jeno, Taeyong, Ten, Doyoung, Dasom, Bora.

Pair : SuLay

and other.

Genre : Romance, Action, Crime

(Little) Hurt/comfort

Mafia life

Rated : M

This is Sulay Story in Ace Season- 2, Dldr, BxB, Typo(s)

Idea D'Xp ft Luce.

Dont plagiat please! Show your own ideas as well!

.

.

.

.

.


Bukan perdamaian.

Ini jelas bukan sebuah pertemuan yang di harapkan dari semua hal setelah kesadarannya kembali. Namun bukan hal yang begitu Yifan keluhkan akan keberadaan adik tirinya dalam kamar inap miliknya.

Tatapannya masih sama, bagaimana banyak kebencian yang keluar dalam bola mata hitam miliknya, dengan semua hal yang dia miliki begitu sulit mungkin untuk mengharapkan dia mau berdamai atau mungkin ketenangan yang lebih baik.

"Aku masih tidak begitu yakin jika kau adalah orang pertama yang akan aku lihat setelah kesadaranku pulih." Memijat pelipisnya dan kembali memejamkan bola mata Yifan lakukan, mengontrol diri juga emosinya. Cukup kaget melihat tamu di kamar inapnya.

"Terimakasih? Apa itu ucapan terima kasihmu?" Pertanyaan Chanyeol jelas menunjukkan bahwa dia tidak dengan keputusan berdamai di sini.

Sebuah pertanyaan besar bagaimana dia ada untuk berdamai, omong kosong! Kalian ingat benar tabiat Park.

"Untuk menyelamatkanku dari kematian?" Jawab Yifan ogah ogahan.

"Bedebah sialan!" Umpat Chanyeol.

"Aku tidak ingat meminta untuk yang satu itu, aku memilih sendiri untuk kematianku dan tidak seharusnya kau datang untuk menyelamatkanku."

"Aku bahkan menyesal berfikir mungkin kau akan memohon di hadapanku untuk sebuah perdamaian."

Yifan terdiam untuk sebuah perdamaian yang di katakan Chanyeol, tanpa berkutik sekalipun hal itu akan mengusik hatinya yang paling dalam. Kelelahan jelas menjadi hal yang dia rasakan, bagaimana semua kebencian dan peperangan ini akan selalu menjadi selimut dalam udara kehidupannya. Tidak pernah ada keadaan yang dia inginkan. Tidak sebagai mana mestinya sebuah kehidupan yang ada, dengan kedamaian dalam setiap tarikan nafas. Yifan terlampau lelah untuk semua perseteruan keluarga ini.

Seandainya.

Jika kala dia hidup dia tau untuk semua perjalanan melelahkan ini mungkin dia akan memilih untuk menjadi orang lain. Dia bahkan tidak mendapatkan sebuah wujud keluarga yang sempurna, tidak untuk cinta, tidak untuk saudara. Yifan menejamkan matanya, menarik nafas lelah yang begitu kentara.

Tidak ada yang bisa dia katakan.

Memang benar benar tidak ada kata yang bisa terucap dengan baik untuk keluar. Belum sempat tersusun kata kata itu hingga Yixing masuk adalah hal pertama yang mungkin akan dia anggap menyelamatkannya dari situasi ini. Meskipun di sisi Chanyeol dan Yixing sama sama terkejut akan keadaan mereka.

Bukan hal yang baik untuk dinginnya ruangan.

"Tidak seharusnya kau ada di sini." Chanyeol kembali berucap kelewat dingin, menatap ke samping dengan lirikan menusuk tidak bersahabat memperhatikan dengan baik anak lelaki yang berdiri dengan jemari masih memegang erat kenop pintu.

Tersentak karena ini memang bukan wilayah yang seharusnya dia datangi, Yixing berusaha mengelak, "Kufikir kau juga sama mencurigakan, Park!"

Tertawa mengejek, Chanyeol bahkan repot repot memutar tubuhnya menatap mahkluk kecil di sebelah kirinya. "Oh! Jadi lumrah untuk mantan tunangan sepertimu ada di sini? Bukan mengunjungi Junmyeon hyung? Begitu!"

Yixing terdiam kaku, tidak berkutik. Bukan hal baik untuk adu mulut jika lawanmu adalah Chanyeol. "Biar aku tanya, apa kau sudah mengetahui keadaan junmyeon hyung sekarang?"

"Mau berterimakasih untuk pahlawanmu?" Tambah Chanyeol mengejek dimana Yixing bahkan tidak menyahuti ungkapan Chanyeol yang kelewat kasar yang dia layangkan dengan lirikan teramat sinis pada laki laki yang berbaring di atas ranjang.

Mendengarnya, sangat jelas hal itu di tujukan untuknya.

Dia tahu!

Namun, Yifan tidak mengambil opsi jawaban apapun membiarkan ungkapan Chanyeol mengudara, begitu menusuknya. Membiarkannya, mengucapkan semua kata tertahannya.

"Tidak ada sebuah ungkapan perdamaian dalam kamusku, tidak untuk seseorang yang terlalu naif." Ucap Chanyeol masih mempertahankan tatapan tajam miliknya untuk Yifan. Menahan emosi yang menguar, merusak udara dalam setiap tarikan nafas untuk kedua laki laki di sampingnya.

Seperti ultimatum dia kembali bicara, "Tetap berada dalam batasan selama sebuah kehidupan adalah hal yang kau inginkan. Bahkan, kau telah berhutang satu nyawa untukku karena telah menyelamatkanmu."

Lalu berbalik menatap satu satunya Zhang di ruangan ini, "Aku juga tidak menyesal telah menghancurkan pertunangan kalian."

Dalam hal ini Yixing mendongak menatap tatapan mengejek penuh dari Chanyeol. Anak itu marah tetapi menahannya.

"Dan aku tidak mengelak membutuhkanmu untuk menghancurkan Yifan bahkan jika dengan hal itu aku harus berhadapan dengan Kim, aku tidak menyesalinya."

Seolah belum cukup Chanyeol kembali berucap di sela sela tawanya, "Kau memang tidak seharusnya di sini!"

"BERHENTI BICARA PADANYA!" Teriakan Yifan menjadi penanda jika lelaki itu marah akan kelakuan Chanyeol, mengejutkan Yixing yang menatap baik baik ekspresi marah di wajah Yifan. Sedang Chanyeol bahkan lebih marah lagi.

"Aku tahu, sangat tahu jika kalian menginginkan kematianku dan aku tidak peduli. Itu bukan hal baru yang aku temui. Tapi, berhenti membuat Yixing ikut dalam permaianmu yeol!"

"Kau fikir untuk apa aku menyelamatkanmu?" Chanyeol menatap penuh emosi

"AKU MENYELAMATKANMU UNTUK MEMBUATMU TETAP ADA DALAM BATASMU!" Teriaknya penuh tuntutan.

"Dan jika kau ingin aku berhenti menarik anak kecil itu -maka jaga batasanmu!" Sambung Chanyeol dengan jemari menunjuk ke arah Yixing tajam.

"Jangan kembali ke China! Bahkan jangan berfikir untuk mengulanginya! Dengan begitu ku ampuni kau sekali lagi dan membiarkanmu hidup. . .gege!" Tambahnya sebelum memalingkan wajah untuk menatap Yixing.

"Dan kau. . .menjauh dari sini jika kau tidak ingin reputasimu hancur, Zhang Yixing!" Dentuman pintu terdengar dengan kepergian Chanyeol, menerobos Yixing yang terdiam kaku di sana.

.

.

.

.

.

Udara penuh sesak, dingin sedingin salju tapi tidak membawa tentram di dalam lubuk jiwa terdalam. Masih sama ringannya namun semua hilang dan tidak terbentuk, perasaan mereka dan kata kata mereka terkikis begitu saja oleh waktu.

Yifan masih terdiam menatap langit langit, enggan memulai semua percakapan kembali, enggan melihat Yixing sekalipun dia begitu ingin. Yixing justru menghela nafas, begitu tidak nyaman akan keadaan ini hingga memulai dengan satu langkah kecil.

"Bagaimana keadaan gege? Aku mendengar semua cerita dari showluo ge juga victoria jie, sebab itu aku berada di sini." Jelas Yixing panjang.

Yifan tersenyum ringan menatap manik coklat yang berpendar aktif, "Baik, seperti yang kau lihat. Senang melihatmu bisa berjalan dan berdiri di sini."

"Chanyeol. ." Ucap Yixing terjeda.

"Jangan kau fikirkan ucapannya, dia . . . Sudah pasti masih marah padaku." Ungkap Yifan.

"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu, ge. Berhenti terbebani oleh ucapannya, Aku yakin dia tidak memiliki filter untuk setiap ucapan yang keluar dari mulutnya." Sahut Yixing.

Yifan tersenyum mengucap terimakasih kelewat pelan. "Kau. . .Sudah melihat keadaannya?"

Sadar pertanyaan itu mengarah pada lekaki Kim atau sang rival membuat Yixing tersenyum muram dengan sebuah gelengan pelan. Memancing kernyitan di dahi Yifan, "Kenapa? Kalian. . ."

"Tidak, Aku hanya. . .Junmyeon memiliki semua orang di sana, bahkan tuan kim datang ke changsa. Aku fikir gege . . .Lebih membutuhkan teman." Ucap Yixing hati hati.

Yifan terkekeh pelan, "Kenapa terlihat begitu manis?"

"Tidaaakk!" Teriak Yixing tanpa sadar hingga membuatnya menutup mulut besarnya reflek. Yifan kembali terkekeh dengan hiburan kecilnya.

"Gege baik baik saja, bukan?" Tanya Yixing kembali memastikan.

"Seperti yang kau lihat, tapi yixingie. . ." Ucap Yifan terjeda.

"Aku sudah memaafkan gege, aku tidak mau membebani dengan semua kejadian masa lalu. Aku. . .hanya berfikir untuk memulai lebih baik lagi."

"Yixing. ."

"Aku juga berharap gege akan melakukan hal yang sama untuk itu. Gege harus memulai semuanya tanpa terusik dengan hari kemarin, itu tidak berubah dan tidak indah maka biarkan dan buat yang lebih baik dari semua itu."

"Terimakasih. . .kau mengkhawatirkanku begitu banyak."

"Aku hanya berfikir bahwa masa lalu mungkin mengikuti kita seperti bayang bayang tetapi masa depan kita belum terukir dan semua tergantung kita yang berusaha."

"Apakah . . .Aku bisa mendengar jawabanmu?" Ucapan Yifan yang tiba tiba membuat Yixing mengerjap dan mendengarkan.

"Kau berubah banyak dari mulai kau menginjakkan kaki di seoul, aku tidak menemui satu tahun kemarin tetapi aku masih menerima semua pembaharuan akan dirimu, dan hari ini kau benar benar mau bicara padaku tidak seperti ketakutanmu saat melihatku. Kau banyak berubah, xingie."

"Gege tau jawabanku. ."

"Maka katakan xingie. Aku ingin mendengarnya darimu."

"Junmyeon. . .Dia selalu mengecapku sebagai seorang pembangkang, keras kepala, tidak bisa diatur. Tetapi, dia tau bagaimana aku ketakutan. Aku tau dia marah saat aku gemetar, saat aku takut bahkan saat aku menangis, dia mengatakan bahwa aku harus menghadapinya. Dan dia akan selalu siap di belakangku untuk menopangku jika aku jatuh. Dia. . ."

"Namanya benar benar sudah memenuhi hatimu. . .semuanya bahkan untukku aku tidak yakin . ."

"Ge. . .berhenti mempersulit dirimu sendiri."

"Setidaknya dengan begini aku akan tenang melihatmu dengannya. . ."

"Hmm."

"Kau harus kembali, temui dia. Kau tau, chanyeol tidak segan segan melakukan hal diluar nalar untuk menjebakku atau kau di saat kita bicara seperti ini."

"Aku tau. . .Aku akan kembali, sampai jumpa." Ucap Yixing masih belum tega meninggalkan Yifan yang masih terbaring lemah.

Namun, yang di tatap hanya menunjukkan mimik wajah lega dan senyum yang mengembang. Seolah mengatakan dia baik baik saja sekalipun Yixing mulai beranjak pergi.

Yifan pikir kala ia mengatakan untuk meminta Yixing segera pergi dengan kemungkinan Chanyeol akan berulah adalah benar dan tidak terlambat. Hanya beberapa menit dia berbicara barusan dan saling tatap untuk sebuah kejujuran. Yixing pun juga berfikir begitu, mereka hanya bicara sebentar saling meluruskan hubungan antara mereka bertiga, meskipun bagi Yifan ini begitu menyakitkan. Namun semua berubah, kala tatapan mata setajam elang itu sudah berada di depan pintu kamar Yifan, bersandar begitu kalem namun penuh siaga, kala tatapan mereka bertemu Yixing merasa bahwa dunianya runtuh.

Yifan menyadarinya dari balik jendela lebar kamar inapnya meskipun tidak sempat bertatap dengan kebencian namun semua terlambat, Junmyeon ada di sana dengan tatapan tidak baik baik saja. Sempat mengucap beberapa kata dan Yixing harus kembali dalam keadaan yang membuatnya tidak bisa merangkai kata ataupun bergerak dari tempatnya berdiri.

Kau melakukan kesalahan, Zhang Yixing.

.

.

Sebuah kemarahan memuncak dan meledak. Kala cahaya putih menerobos masuk merusak pikiran dan kesadaran di dapati. Bukan ungkapan syukur, bukan ucapan selamat. Bukan senyuman tapi sorot mata setajam elang. Berlarian mengelilingi ruangan, melihat dengan teliti semua alat yang menempel dalam tubuhnya, selang infus dia temukan membuat kedua kelopak matanya kembali terpejam erat.

Sialan!

Apa yang terjadi?

Berapa lama dia terpejam?

Ingatan menggali emosi, kesadaran merusak memori, berlarian dengan teriakan dan kepanikan. Satu nama yang di cari dan umpatan menandakan awal dari kemarahan, penuh sesaknya dada, bercampur aduk dengan kecewa juga kemarahan pada diri sendiri.

Zhang Yixing.

Hanya dia! Ya, hanya Yixing!

Keberadaan dan namanya selalu mejadi pusat perhatian juga dunia bagi lelaki yang terpejam erat di atas ranjang rumah sakit. Kim Junmyeon masih berusaha bersahabat dengan emosi dan monster dalam dirinya.

Wow, Kim! Sampai kapan kau akan terdiam?

Bahkan menahan dirinya dengan baik kala suara pintu terbuka dengan lembut, dia masih bisa. Junmyeon masih bisa bersabar dan melihat apa yang terjadi, masih terdiam setia mendengar dengan baik dan teliti apa yang akan dia temui. Suara barang di letakkan di samping meja nakas membuatnya terdiam menebak, di sana seorang perawat perempuan meletakan jarum suntik dan sebuah botol kecil. Junmyeon marah kala itu juga melihat bagaimana barang yang memurutnya -brengsek- bisa membuatnya melemah ada untuk membuatnya terdiam.

Sialan!

Bola matanya terbuka menusuk penuh atensi mengubah langit langit kamar inapnya meredup dalam sekali tarikan nafas, gelap mencekam dengan gerakan setipis angin namun kuat menerkam jemari tangan wanita di samping ranjangnya ada dalam genggaman tidak bersahabat, begitu menusuk dan kuat. Junmyeon menatap tajam melihat terkejutnya lawan.

Tanpa ampunan!

"Berhenti melakukan perintahnya memberiku obat bius sialan itu. Atau kau yang habis di tanganku!"

Hanya tergagap dan membeku adalah satu satunya umpan balik yang diterima dan itu membuatnya semakin marah, dihempaskan pergelangan tangan itu membuat perawat mundur beberapa langkah ketakutan. Dan bunyi benturan keras menjadi akhir untuk memancing orang di luar ruangan memusatkan perhatian.

Pyar!

Serpihan gelas kaca hancur tak terbentuk di lantai kala bertemu kerasnya dinding dingin rumah sakit. Junmyeon masih setia menatap penuh kemarahan sedang sang perawat sudah menggigil ketakutan dengan dua tangan sudah berada di kedua telinganya. Dengan penuh kemarahan jemari meraup selang infus dengan sekali sentakan menarik paksa meninggalkan tangannya. Benda sialan!

"Hyung!" Hingga teriakan Jongdae dan Jongin yang menyelamatkannya.

Minseok masuk tidak begitu lama, melihat kedua adiknya sudah berada di kanan kiri Junmyeon dan seorang perawat yang tengah ketakutan, lewat isyarat dia mengeluarkannya dari situasi tidak nyaman ini.

"Kau sudah sadar?" Tanya Minseok dengan raut wajah gembira.

"Dimana Yixing?" Tanya Junmyeon.

"Di kamarnya." Jawab Minseok sudah menduga jika anak itu akan menanyakan Yixing.

"Aku hanya kalian suruh untuk selesai dan aku menurut lalu kenapa dengan semua bius sialan ini?" Protes Junmyeon menunjukkan bekas infus yang sudah dia cabut paksa di tangannya. Menatap setiap pasang mata mencari penjelasan dari keputusan yang menurut Junmyeon adalah hal tidak berguna.

"Appa mengkhawatirkan keadaanmu junmyeon begitu juga dengan semua orang, kau harus istirahat -" Balas Minseok kalem. Mencoba memberinya pengertian dan membuatnya lebih tenang. Minseok begitu tau bagaimana tabiat sang pimpinan Kim.

"Aku tidak selemah itu!" Protes Junmyeon lagi.

"Junmyeon!" Teriak Minseok, mencoba menekan namun gagal.

"Appa? Ada di sini?" Tanya Junmyeon menatap tajam menuntut jawaban.

Hanya kemarahan yang menyelimutinya.

.

.

.

.

.

Bukan hal yang baik, dia yakin. Ini bukan keadaan yang baik. Bagaimana kekacauan di kamar Junmyeon terdengar dan keadaannya yang sudah sadar tercium. Tuan Kim benar benar datang secepat angin, menerpa kamar inap membuat semua orang membungkuk. Menuju ranjang Junmyeon dengan kekhawatiran mendalam.

Sekalipun itu berbeda jauh dengan sang anak. Minseok yang akan tau bagaimana alur semua ini, kemarahan Junmyeon tidak akan berhenti sampai di sini. Mengingat anak laki laki itu begitu membenci status pasien yang melekat padanya saat ini. Dan protektif yang dilakukan Tuan Kim akan berbenturan dengan Junmyeon. Itu pasti.

Idiot memang.

Jika tau akan seperti ini Junmyeon lebih memilih memukul wajah sialan Jung Taekwoon dan semua ide ataupun nasehat darinya.

Minseok yang paling merasakan aura ini, begitu kental begitu mengusik. Ketidaknyamanan hal ini begitu dia takutkan, kala ayahnya berhadapan dengan Junmyeon dalam satu ruangan.

"Aku tidak tau appa akan datang." Sapa Junmyeon begitu tau Ayah biologisnya beranjak memasuki ruang inap miliknya. Sekalipun hal ini bukan dengan sapaan yang baik baik saja, karena kemarahan Junmyeon tidak mungkin akan sebentar.

Helaan nafas begitu terdengar jelas meminta beberapa antek anteknya untuk keluar bersama semua orang menyisakan hanya mereka berdua lalu berubah dengan tatapan yang sulit di artikan menatap Junmyeon -anak kebanggan- sambil berucap, "Aku tidak pernah berharap akan jadi seperti ini."

Kentara sekali.

"Karena itu appa menyasar changsa dan berusaha keras menggagalkanku?" Pertanyaan Junmyeon keluar begitu berani. Sangat tau bagaimana percakapan ini menunjukkan kekecewaan ayahnya akan keadaanya saat ini.

"Ini bukan seoul!" Jawab Tuan Kim dalam nada serius.

Memperingati.

"Ya! Tapi zhang yixing adalah milikku!" Tegas Junmyeon tak mau kalah. Junmyeon bukan tipe orang yang berbelit belit jika itu masalah Zhang dan Junmyeon tau hal ini akan mengarah kemana. Terlalu hafal dengan sang ayah.

Tuan Kim terdiam, menelisik baik emosi yang menguar dari kedua bola mata hitam itu. Junmyeon benar benar kekeh dalam setiap katanya dan nada penuh kepemilikannya. Tuan Kim begitu tau akan hal itu.

"Semua yang menentang kim akan hancur dan mati junmyeon, kau tau hal itu." Tuan Kim mengingatkan.

"Aku tidak akan bisa bernegosiasi tentang zhang, appa!" Balas Junmyeon.

Dengusan frustasi itu ada dan Tuan Kim menatap dinding dingin di sebelah kirinya sebelum pergi meninggalkan ruangan anaknya untuk berucap, "Kau harus istirahat lebih, junmyeon."

Terlalu enggan berdebat dengan anaknya. Sementara Junmyeon justru mengamuk dengan pemutusan sepihak percakapan mereka, namun mencoba menahannya. Masih terdiam untuk berfikir.

Cklek

Junmyeon termenung tatapan matanya terarah namun kelereng hitamnya berlarian panik. Kekhawatiran menyerang, reflek kepalan tangan menghantam dinding di belakang tempat tidurnya sekali pukulan.

Bangsat! Tidak akan ada yang menggagalkan rencananya! Tidak akan!

Brak!

Minseok terkejut namun tidak bersuara, kedua adiknya juga hanya terdiam duduk di sisi ruangan begitu masuk seolah hal ini dan saat ini mereka tidak bisa melakukan apapun, hingga Taekwoon masuk berucap kelewat santai mengejutkan semua orang, "Junmyeon? Kau sadar!"

"Brengsek kau jung taekwoon!" Balas Junmyeon tidak bersahabat yang nyatanya hanya di balas tatapan tidak percaya.

Tanpa beban. Sebelum sebuah bantal menyasar wajahnya. Yang Junmyeon harapakan dia bisa mengangkat meja makas di sampingnya untuk menyasar wajah Jung Sialan Taekwoon.

Bruk!

Belum sempat Taekwoon mengumpati pimpinannya dia sudah dibuah kaget dengan jari jemari Junmyeon.

"Ya! Ya! Junmyeon ada apa!" Cegah Taekwoon saat tau Junmyeon mulai merobek baju rumah sakit yang tengah membalut dadanya. Lalu menarik lagi di meja nakas menemukan kemeja hitam miliknya.

Sret

Tidak ada yang bisa menahannya di sini.

Tidak ada!

"Biarkan aku melihatnya!" Bangkit Junmyeon, tekatkan kuat dan dia tidak akan puas ataupun percaya dengan semua ucapan orang hari ini, terlebih dengan kedatangan Tuan Kim membuat Junmyeon lebih daripada waspada akan semua regulasi di sini.

Yang mana dia harus risih melihat Taekwoon menghalangi jalannya keluar dari kamar inap. Minseok sudah pening untuk menahannya sementara Jongdae dan Jongin hanya menatap mahfum. Sudah mereka duga jika memisahkan kamar inap mereka bukan hal yang bagus namun semua ini terjadi di bawah pengarahan Tuan Kim.

Begitu semua selesai dan helikopter anak anak turun dan misi selesai dengan Tuan Kim sudah berada di dalam mobil merci hitam lengkap dengan Cha Hakyeon di dalamnya.

Kala itu terjadi Minseok sudah pesimis melihatnya.

Pertanda tidak baik baginya.

Sialan memang, mereka seperti kalah cepat.

"Tolong tetap diam di sana junmyeon!" Teriak Taekwoon untuk kesekian kalinya. Tidak peduli dengan tatapan menguliti Junmyeon di depannya yang acuh tak acuh jemarinya masih bergerak dan dia tidak bisa dihentikan.

Tap -tap!

"Siapa? Melihat siapa?"

Bangsat sialan! Bukan seseorang yang diharapkan untuk hadir.

Langkah kaki pasti dan teriakan penuh dari sosok yang tidak bisa di harapkan menerobos kedamaian di kamar inap Junmyeon bukan pertanda baik. Memancing kemarahan dam emosi semua orang, itu pasti.

Walaupun kamar Junmyeon tidak bisa di bilang damai damai amat.

"Ku fikir kau sudah pulang park chanyeol?" Sahut Taekwoon yang pertama terpancing.

"Keh!"

Chanyeol tau tau sudah berada di balik punggung Taekwoon menatap sinis tingkahnya yang terbilang aneh. Dia menghalangi jalan Junmyeon bagaikan Junmyeon seorang bocah bayi yang akan diam jika jalannya di blokir.

Jongin yang bertama berdecih melihat kehadiran lelaki Park itu. Namun, Junmyeon masih menatap penuh atensi. Siap untuk gelud dengan lelaki mantan timnya saat memporakporandakan mansion Xiaoran.

Tau jika kehadirannya di respon Chanyeol berucap santai sambil menatap Junmyeon baik baik, "Dia pergi ke kamar wu yifan!"

"Omong kosong dan akan ku bunuh kau sialan!" Amuk Jongin seketika bangkit dari duduknya. Tau sangat jika hanya untuk memancing kekacauan di sana.

"Cih!" Decih Chanyeol mundur mengisyaratkan Junmyeon untuk melihat sendiri.

"Minggir!" Namun Junmyeon terlanjur marah, dengan semua orang dan aturan. Mengingat ucapan appanya dia merasa semua orang begitu patuh dengan keputusan Tuan Kim dan tidak memihak padanya.

"Brengsek! Junmyeon tunggu!"

Maka dia harus melihatnya sendiri.

.

.

.

.

.

"Junmyeon! Jangan buat keributan! Junmyeon tunggu dengarkan aku! Junmyeon!"

Situasinya sulit.

Bahkan sulit untuk membuat Taekwoon bernafas baik baik saja, sulit untuk mengetahui bagaimana pola fikir Yixing ataupun Junmyeon. Jika di tanya bebal maka keduanya sama.

Apa harus seperti ini sebuah jodoh dan kesamaan akan sikap bebalnya?

Taekwoon hanya bisa berharap.

Namun di sini bagikan Taekwoon harus berdiri sekuat tembok China untuk menghalangi apapun tindakan bar bar Junmyeon. Karena sulit untuk percaya anak itu akan diam jika berhubungan dengan Yixing dan rivalnya Wu Yifan. Taekwoon takut takut jika Junmyeon akan melemparkan geranat atau hingga mengebom kamar inap Yifan saking bencinya.

Idiot Taekwoon dan semua halusinasinya.

Bagaimana tidak jika Junmyeon dan dia sudah ada di depan kamar inap Yifan dan benar apa kata Park Sialan Chanyeol jika anak bungsu Zhang itu tengah mengunjunginya. Terbukti bagaimana anak kecil itu terlihat dari jendela kaca ruangan.

Dia benar benar ada di sana. Tidak menyadari seekor singa sudah bersiap siap menunggu mangsanya keluar dari persembunyian. Hingga umpatan kesekian kalinya dari Taekwoon terdengar, Yixing keluar dari kamar Yifan tanpa melihat dia tengah di incar.

Saat kontak mata menyadarkannya akan sosok yang berdiri menjulang bersandar di dinding menghadap padanya, bola mata hitam itu berpendar kelam Yixing melakukan kontak mata dengan ketakutan.

Kala sudah dia dapati Junmyeon hanya menatap dengan sorot mata sulit dimengerti. Hingga membuat Yixing membeku dalam jarak dekat, bahkan takut untuk melangkah maju atau kembali masuk ke dalam ruangan.

Konyol sialan memang! Yang mana Taekwoon ingin menjambak rambutnya sendiri melihat hal ini.

"Sudah puas?" Tanya Junmyeon acuh tak acuh kepada Yixing yang membeku.

"Junmyeon. . ." Jawab Yixing dengan perasaan campur aduk. Melihat kondisi Junmyeon dengan kemeja hitam namun masih menggunakan celana setelan rumah sakit membuatnya khawatir juga takut akan amarah lelaki Kim itu.

"Yah- emm. . .yixing ah! Jangan bepergian keluar dari kamarmu! Kau harus istirahat!" Taekwoon menengahi, melihat bagaimana ekspresi kedua bukan hal yang baik. Takut takut sang submisif akan dapat teriakan lebih lagi dari Junmyeon.

"Taekwoon!" Panggil Junmyeon tidak kalah keras dengan degup jantung yang di panggil.

"Y-ya?" Kaget Taekwoon.

"Suruh dokter untuk memeriksa otaknya bukan tubuh kecilnya! Mungkin dia terlalu banyak terbentur!" Cerca Junmyeon sebelum meninggalkan Yixing yang masih membeku disana.

Sialan! Taekwoon ingin mengumpati Junmyeon rasanya.

.

.

.

.

.

Yixing melangkah dalam penyesalan, melewati koridor rumah sakit yang teramat sepi. Menilik baik baik kenapa bisa tidak ada orang yang berlalu lalang. Lupa jika ini adalah Kim dan bagaimana cara mereka melakukan pekerjaannya, dimana bahkan orang lain tidak akan bisa menyentuh bau juga aroma mereka.

Ini Kim.

Yang Yixing bahkan hampir melupakan faktanya. Dia melukainya, dengan tatapan yang dia terima tadi, Yixing menyesalinya. Dengan keadaan Junmyeon yang masih mengenakan setengah setelan rumah sakit dia tau lelaki Kim itu berjuang mati matian untuknya.

Ini Kim yang mana dia siap terluka untuk Yixing. Selalu melihat juga memperhatikan setiap langkah anak bungsu dari Zhang. Yixing menghela nafas dibuatnya.

Selalu seperti ini.

Dan Yifan, setidaknya Yixing tau bagaimana keadaan lelaki Wu itu saat ini. Dia membaik, mengatakan semua pertengkarannya dengan Chanyeol adalah hal wajar karena dia melanggar janjinya dengan anak laki laki itu. Dia sudah tersenyum bahkan menggusak pucuk kepalanya.

Dia memang tidak bisa melakukan untuk dua orang di saat bersamaan dan akan membawanya dalam perasaan bersalah seperti ini.

Di saat bersamaan?

Hell, Yixing apa kau berniat selingkuh dari Kim?

Oh, fuck! Yixing aku tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupanmu kelak.

Dan Yixing benar benar harus menggelengkan kepalanya untuk menyisihkan semua pemikiran gila juga penyesalannya.

Hingga tanpa Yixing sadari dia sudah di tarik dalam dekapan hangat sang gege.

Showluo di sana menatapnya penuh syukur wajah adiknya, membawanya masuk dengan penuh bahagia untuk bertemu dengan semua orang yang telah menunggunya. Dengan wajah terkejut usapan penuh kasih dia rasakan membawa kehangatan dan ungkapan penuh syukur.

Victoria jie bahkan sudah ada di sana menariknya dalam dekapan berikutnya. Yixing bisa melihat wajah wajah keluarganya dengan senyuman lebar dan penuh harap. Terbesit di dalam hatinya akan keadaan Junmyeon dan Yifan yang dia yakini tidak seperti keadaannya saat ini. Dia yakin Junmyeon dan Kim tidak semudah ini untuk kata kata selesai. Kim akan begitu berbeda dengan kehadiran Tuan Kim dan Yifan. . .

Dia berharap lelaki itu akan membaik bersama dengan waktu yang mengobatinya.

Apa yang dia fikirkan saat ini? Dengan kedua nama lelaki yang sama sama pernah mengisi hatinya.

.

.

.

.

.

Junmyeon membuat keributan itu bukan hal baru bagi Kim bersaudara.

Junmyeon yang tidak menyukai keseluruhan bau rumah sakit memang benar adanya.

Junmyeon yang tidak bisa di atur juga benar adanya, lelaki penuh kuasa mana yang mau menurut bahkan ketika dia sakit.

Kau hanya butuh penawarnya, sosok yang begitu berharga untuknya, maka dia akan luluh tanpa perlawanan.

Namun, hal itu tidak berarti jika berhadapan dengan Tuan Kim. Beliau masih mempertahankan keputusannya untuk tetap mempertahankan diri Junmyeon berada dalam pengawasan Hakyeon juga tim dokter, meskipun sang anak melayangkan setiap tatapan mematikan yang akan membuat beberapa dokter enggan untuk mendekatinya.

Dia lebih mirip singa kelaparan jika kau datang dengan semua obat dan tetek bengek kesehatan.

Percayalah, leher para tim dokter bisa patah jika Junmyeon tidak di tahan Jongdae atau Minseok.

Hakyeon bahkan hingga menjatuhkan bebarapa barang saking gugupnya, bukan tatapan mata yang diam tapi juga ancaman yang dia dapati. Minseok memutar bolamatanya lelah hingga meminta Jongin dan Jongdae harus tetap bertahan dalam kamar inapnya. Sementara Kyungsoo mulai bergabung dengan Minseok, menenangkannya.

Hanya Taekwoon yang bersikap tenang tanpa beban, anteng anteng saja dengan beberapa buku pengusir bosan di kamar inap Junmyeon yang bila dilihat lihat ini bukan seperti kamar vvip, Junmyeon sudah mengerang kesekian kalinya untuk menyuruh semua orang keluar namun yang ada hanya tatapan aneh seolah Kim mengusik kesenangan mereka.

Sebenarnya, jika dipikir pikir Junmyeon yang mengamuk tidak jauh jauh dari kejadian Yixing di kamar inap Yifan tadi. Semua Kim tau akan hal itu, mereka hanya diam enggan ikut campur masalah percintaan rumit mereka.

Hal itu semakin terbukti dimana Junmyeon menanyakan kapan Wu itu akan angkat kaki dari rumah sakit ini.

Taekwoon hanya memijat pelipisnya pelan.

Tipe cemburu dari Kim sepertinya naik kepermukaan.

Tetapi ingatlah jika jangan pernah menanyakan hal ini kepada Junmyeon, dia akan mengelak atau lebih buruknya menendangmu dari sini. Lelaki Kim nomer dua itu mengeluh tidak merasakan empuknya ranjang terlebih dengan selesainya semua ini. Junmyeon mulai memikirkan semua tindakan ayahnya terhadap Zhang selain dia memikirkan rivalnya yang mungkin menggondol Yixing dari sini tanpa dia sadari.

Oh, Kim. Kau gila.

Sekalipun kemarahannya tetap tetapi Junmyeon masih kekeh untuk mempertahankan Zhang dalam pengawasannya. Dia berfikir untuk mengulangi percakapan dengan ayahnya, namun bukan di sini.

Sialan dia benar benar berharap bisa keluar dari tempat ini.

"Keluarkan aku dari sini, brengsek!" Teriak Junmyeon masih bertahan terdiam duduk di atas ranjang.

Jongdae mengistirahatkan kepalanya di sandaran sofa dengan mata tertutup, lelah dengan teriakan gila hyungnya. Sementara Jongin masih asik dengan ponsel di tangannya, acuh dan cuek cuek saja dengan Junmyeon. Toh, Junmyeon tidak akan bisa turun dari ranjang dan mencekiknya tiba tiba atau mendaprat kepalanya -dia akan aman dari amukan- dia yakin. Junmyeon jengah.

"Kim Jongin!!" Teriak Junmyeon muak.

"Astaga hyung." Rengek Jongin. Salah tebak dia.

"Kim Jongdae!" Panggil Junmyeon.

"Berhenti mengabsen nama adikmu, hyung!" Teriak Jongin idiot.

"Tenang hyung tenanglah." Jawab Jongdae setengah setengah.

Junmyeon mengusap wajahnya kasar, "Apa kalian bahkan tidak jengah dengan bau obat sialan ini?"

Kenapa Junmyeon jadi lebih cerewet daripada wanita. Sebenarnya semua orang dalam ruangan ini tau dan faham sangat dengan apa yang membuat suasana hati Junmyeon begitu memburuk, ingin rasanya untuk mengejek Sang Penguasa yang begitu angkuh, tegas juga begitu mendikte macam Junmyeon. Namun, apa mereka tidak sayang nyawa. Ingat ingat kemarahan Junmyeon tidak jauh beda dengan naga atau bahkan singa.

Namun itu hampir tidak berlaku untuk saudara tertua.

"Jawab dulu pertanyaanku, apa ini karena zhang yixing?"

"Tidak."

"Kau berkilah kim junmyeon!"

"Hyung!"

Jongin dan Jongdae reflek tertawa, melihat bagaimana hanya Kim Minseok yang berani memojokkan Junmyeon.

"Ku bunuh kalian!" Bentak Junmyeon pada Jongdae dan Jongin. Yah, mereka harus puas berhenti tertawa. Selain mereka berdua harus dapat tatapan membunuh setelahnya.

Jongdae memejamkan mata damai, peduli setan bagaimana kemarahan Kim nomer dua, menyandarkan kepala di sandaran kursi di ikuti Jongin lalu berkata kelewat santai, "Tenanglah dalam semalam saja hyung."

"Bedebah ini, katakan sekali lagi." Sahut Junmyeon tidak menunggu lama mulai menggeledah laci nakas mencari barang tumpul untuk dapat dia lempar.

"Bersabarlah malam ini hyung, kami akan mengeluarkanmu besok." Janji Jongin.

Taekwoon yang melihat keduanya hanya menggeleng penuh tawa terlalu mahfum akan sifat mereka, "Ya, lakukan saja junmyeon -"

Belum selesai ucapan Taekwoon, dia sudah mendapatkan lemparan bantal tepat di mukanya. Lelaki Jung itu mengumpati Junmyeon begitu lantang. Lalu mengatakan jika pagi dia akan mendapat hasil pemeriksaan lengkap dari ketiganya. Junmyeon mengalah setelah tau hal itu meskipun masih melipat kedua tangannya di depan dada. Menyimpan kemarahannya, enggan tidur menutup matanya. Sedangkan untuk kesekian kalinya Minseok membentaknya lagi karena hanya memancing anak buah Appanya kembali bertindak diluar keinginan mereka.

Junmyeon bahkan sudah menerima bentakan itu lebih dari tiga kali.

Sialan!

.

.

.

.

.

Katakan Junmyeon hanya bertingkah seenaknya, membuat dirinya hanya tertidur tiga jam atau lebih aku tidak mengingatnya. Yang begitu terlihat hanya dia yang mencoba tidur tapi juga terbangun menjaga masing masing orang yanga ada dalam ruangan inap miliknya. Memperhatikan kaki Jongin yang tidak bisa diam untuk tidak memeluk tubuh Jongdae atau Jongdae yang tidak pernah lelah menendang. Taekwoon yang akan bersuara aneh dan cuma Minseok yang anteng bersandar dinding rumah sakit.

Junmyeon masih setia menunggu jam berputar dengan kepala berfikir, jemarinya memainkan ponsel yang sedari tadi dia sembunyikan di bawah selimut. Menghela nafas lelah, Junmyeon membanting ponselnya di nakas meja. Menampilkan server utama rumah sakit yang selesai dia bobol. Bukan apa apa, Junmyeon menggunakannya jika saja Jongin lupa bagaimana mulut besarnya berucap semalam.

Junmyeon menghela nafas, bersabar namun matanya enggan terpejam. Lelah dengan keadaannya, lelaki Kim itu nekat meraih hoodie biru di dekatnya meninggalkan kamar. Dia butuh angin segar, muak dengan bau obat obatan yang menguar kuat. Di sela acara kaburnya dari kamar inap, Junmyeon sempat heran dengan semua orang yang bisa tidur nyenyak dengan bau obat menyengat yang sulit dia terima.

Menikmati kakinya melangkah di heningnya lorong rumah sakit. Mengingat dengan baik denah gedung membawanya pada rooftop. Dunia bahkan masih gelap terlampau damai dari segala kesibukan, masih lama untuk menunggu matahari terbit mengingat dia meninggalkan kamarnya jam menunjukkan pukul setengah tiga dini hari. Terlampau lelah untuk berbaring menurutnya.

Indahnya Changsa saat dini hari yang tidak pernah dia temui. Junmyeon menatap dalam diam setiap gemerlap lampu hingga langkah kaki malas membuatnya berdecak hingga tatapan sengit dia layangkan.

Seolah hal wajar, sosok lelaki yang mengusik Junmyeon tetap melangkah, menjaga dari jarak terbaiknya dan enggan memberikan tanggapan lebih. Alih alih balasan berucap kata justru tatapan mata acuh tak acuh di layangkan, "Kita sama sama butuh udara segar. Jadi, anggap saja kita terhalang tembok besar china, kim."

Malas berdebat bahkan menatap wajah sialan yang Junmyeon benci membuatnya terdiam. Memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana dan menatap lautan gedung kota Changsa dingin.

Selama hampir 5 menit terdiam dan dirasa cukup membuat lelaki di samping Junmyeon berbicara, membelah heningnya Changsa. "Apa rencanamu setelah ini?"

Pertanyaan itu tau tau membuat Junmyeon menatap tidak suka hingga repot repot menghadapkan tubuhnya, "Apa yang ingin kau dengar?"

Wu Yifan, lelaki yang sudah berdiri di samping Junmyeon hanya tersenyum mengejek. Seperti biasa tidak ada kedamaian yang berhembus dari pembicaraan mereka. Memperkeruh suasana hati keduanya, "Babamu datang dan itu tidak terlihat baik baik saja, kim."

"Bedebah sialan ini!" Umpatan Junmyeon layangkan dengan nafas pendek kentara kemarahannya lalu bicara.

"Jangan berfikir-" lanjutnya

"Bahkan tidak bisa. . .jangan buang waktumu kim. Jangan jadikan dia obyek dari keingintahuanmu." Yifan memperingati dengan tatapan matanya mengarah tepat tanpa tedeng aling aling. Melupakan fakta mereka bisa gelud bersama.

Bahkan sama sama memakai baju rumah sakit. Konyol.

"Aku tidak bisa berada pada kedudukanmu tetapi jika kau gagal memperlakukan yixing dengan baik. Aku tidak segan untuk merebutnya darimu." Masih angkuh dan sombong seperti saudaranya, Yifan bahkan masih bisa mengeluarkan kata kata yang memancing kerusuhan.

"Kau mengancamku? Sekalipun hasil akhirnya kau tau akan sama." Sahut Junmyeon. Yang jelas kentara sekali terpancing jika itu menyangkut kuasa dan kepemilikannya.

Dua idiot ini tidak ada akurnya.

Masih belum puas bahkan untuk memperkeruh suasana Yifan kembali berucap, "Lalu kenapa kau tidak berhenti mempersulit dirimu sendiri, sedangkan kau tau hatinya sudah jelas hanya untukmu."

Dan Junmyeon harus puas mengakui jika dia kalah telak dalam pembicaraan ini.

"Jangan buang waktumu." Ctak! Pisau bergerigi berukir milik Junmyeon dilempar begitu saja kepadanya. Yang di tangkap secepat kilat oleh sang empu. Yifan mengembalikan, bagaimana mereka bertukar kala penyekapan. Menilik baik baik wajah kaku serius yang sama sama di pasang keduanya seolah saling menantang dan saling membunuh

Brak!

"Junmyeon!"

Hingga panggilan penuh kecemasan ada disana. Memisah perang dingin yang selalu mereka lakukan seolah tidak bisa sedetikpun berdamai.

"Kau dengar sendiri kan?" Ucap Yifan. Membenarkan ucapannya sendiri terlebih dengan fakta yang ada di depan mata mereka.

Tetapi lelaki Kim itu masih mempertahankan dirinya dan harga diri yang menjulang, hingga sempat dia dengar Yifan mengumpat hingga mengatainya keras kepala.

Dia tidak peduli. Sekalipun Yixing kembali berteriak panik kepada keduanya, "Apa yang terjadi? Apa yang kalian lakukan?"

Mengingat kembali jika dia masih marah dengan kelakuan si kecil Zhang yang tengah berdiri dengan raut wajah ketakutan bagaimana dekatnya mereka berdua berdiri. Ya, di sana Yixing berdiri dibalik pintu yang menghubungkan rooftop.

Yifan yang sadar perasaan si kecil lebih dahulu, tersenyum menenangkan lalu meninggalkan Junmyeon menghampiri Yixing berkata, "Apa yang ada di fikiranmu, hmm?" Seraya menggusak pucuk kepalanya.

Fuck you, Wu Yifan!

Kau menenangkan Yixing atau menyalakan api di dada Junmyeon. Aku tidak faham bagaimana pola pikir Wu satu ini. Sulit menerima mereka tanpa sebuah kerusakan, tidak beda dengan adiknya. Mungkin setelah ini Junmyeon akan menyiapkan roket berisi bom tepat ke tubuh Wu Yifan.

Junmyeon melihatnya, begitu jelas. Bagaimana tubuh kecil itu di sentuh pucuk kepalanya, dia mengumpat dalam hati, namun bukan Kim jika dia tidak bisa memainkan permainannya terlebih sudah di pancing seorang Wu. Lihat lebih pintar siapa setelah ini.

Dimana Zhang dalam hal sesimpel dan sekecil ini masih menjadi pusat target mereka berdua.

Lihat bagaimana Junmyeon melakukannya, masih se-santai yang biasa dia lakukan namun terpusat, Yixing bahkan sudah menatap takut takut terlalu hafal perangai buruk Kim. Hingga dia mendekat, berdiri begitu dekat dengan si kecil yang menunduk.

"Kenapa tidak kau peluk dia? Padahal dia akan berangkat pagi ini?" Pertanyaan Junmyeon tau tau membuat Yixing terkejut.

"Junmyeon. . " ucap Yixing lirih, dia tau tatapan kecewa ada di sana, membakar.

Namun lelaki Kim itu terlanjur pergi melenggang begitu saja. Dimana semua itu tidak luput dari penglihatan Yifan hingga dia mengumpati Junmyeon dan seluruh tingkah arogannya.

"Kim. . .benar benar."

Namun dari sini kalian bisa lihat jika semua ucapan Yifan benar adanya.

.

.

.

.

.

Masih sama, masih dini hari. Junmyeon tidak meninggalkan kamar untuk berjam jam bersama bedebah macam Wu Yifan. Kala jemarinya kembali menyentuh dinginnya gagang pintu dan membuka dia di sambut tatapan mata tajam Jongdae di balik pintu berdiri menjulang. Junmyeon mengerutkan kening mengambil langkah masuk lebih dalam hingga bunyi pintu tertutup di iringi bunyi klik kunci.

Baru Junmyeon berhenti dan menatap baik baik raut wajah Jongdae. Anak lelaki Kim nomer tiga itu bahkan memasang peredam suara yang sengaja dia siapkan. Terbukti bagaimana itu mulai berkedip merah tanda alat itu aktif.

"Bukankah sudah kubilang tenang hanya dalam semalam hyung." Ucapnya mengintimidasi Junmyeon dengan kemarahannya.

Junmyeon sadar, "Aku butuh udara segar." Ucapnya sambil melepas hoodie berjalan pelan ke ranjang.

"Oke, mari mulai bicara. Kyungsoo?" Itu ucapan Minseok mulai melirik adik bungsunya yang tengah repot dengan laptop.

"Ya, sudah hyung." Sahut Kyungsoo singkat.

Junmyeon sadar anak bermata doe eyes itu tengah sibuk dengan laptop di pengakuannya yang tidak dia temui kemarin sore. Minseok bahkan sudah rapi dengan setelah kemeja coklat soft dan Taekwoon mulai meletakkan ponselnya lelaki Jung itu bahkan sudah rapi. Apa Junmyeon meninggalkan kamarnya terlalu lama?

"Junmyeon, kita butuh waktu untuk menyelahi semua ini. Itu yang membuat kita memaksa kau diam dalam semalam. Kyungsoo mendapati jika kamera dan penyadap suara aktif terpasang, appa benar benar mengcover semua pergerakan kita. Karena itu kita butuh ijin darinya untuk menyadap tanpa ketahuan saat ini." Minseok mulai menjelaskan situasi yang mereka hadapi.

Junmyeon menerima semua penjelasan itu dengan ketenangan dan pemikiran dalam. Namun tatapannya berubah cepat.

"Apa ini bukan ending yang di inginkannya?" Pertanyaan Junmyeon keluar dengan secarik kemarahan tak kasap mata.

"Bukan tidak diinginkan hyung, tetapi. . ." Jongin mencoba menjelaskan namun sulit.

"Sepertinya appa terpancing dengan rencanamu menjadi tawanan zhang kala itu." Jawab Minseok. Kelihatannya keberadaan Tuan Kim bukan hal baik, sedangkan Junmyeon dengan rencana awalnya hanya akan menyajikan endingnya tanpa tau bagaimana dan cara apa yang mereka lakukan di Changsa.

"Appa merasa hyung terlalu nekat." Dengan jawaban Jongdae membuat Junmyeon menusatkan perhatiannya baik baik hingga menghela nafas.

"Aku hanya merasa kita akan segera kembali ke seoul tanpa apapun dan siapapun." Mata Jongin masih terpejam tetapi kata katanya masih menguar dengan lancar. Anak itu sekalipun tidur paling nyenyak dan lebih lama tidak akan puas tanpa memanfaatkan waktu hanya untuk memejamkan mata.

Dia begitu mudah mengucapkan dan Junmyeon tau tau mengepalkan tangannya. "Itu tidak akan terjadi!"

"Lalu apa rencanamu, hyung?" Tanya Jongdae.

"Negosiasi, kita masih memiliki sisa permainan kemarin. Itu masih orang tuaku Jongdae." Jawab Junmyeon, coba merangkai sebuah jalan keluar.

"Junmyeon. . . Aku hanya berharap zhang tidak akan-" Takut Minseok.

"Tidak lagi hyung, tidak setelah aku menghancurkan mereka. Susun semua kembali pada hunian bersama paman henry, biar aku bicara dengan appa." Junmyeon memastikan.

"Aku fikir ini mahfum setelah pertemuan kita di jeju dan semua orang menghilang, kita belum pernah berpisah seperti itu." Ucap Jongin yang justru salah tempat.

"Perlarian." Hujat Jongdae, ingatan terbaik dari Kim Jongdae.

"Berhenti mengataiku!" Teriak Jongin.

"Kyungsoo cari lelaki yang lebih baik dari sialan itu." Jongdae memulai pertengkarang mereka.

"Jongdae berhenti dia adikmu juga." Minseok menengahi.

"Cukup jangan katakan hal ini pada zhang dan yixing. Aku tidak ingin mereka khawatir dan nekat." Putus Junmyeon.

"Jika tidak berhasil? Apa. . .kita akan tetap melepaskan yixing hyung dan kembali tanpanya?" Itu pertanyaan Kyungsoo dengan tatapan dari kejadian yang tidak dia harapkan.

"Mungkin aku akan membawa park dalam hal ini." Santai Junmyeon dengan seringai menyebalkan miliknya.

"Junmyeon apa menurutmu rencana appa? Kau tau jika saat aku berada di rumah sakit, showluo ge juga ada di sana." Ingat Minseok.

Junmyeon menatap baik baik, "Zhang tetaplah milikku hyung, kau tau itu."

Ketakutan kala ini adalah dengan kehadiran Tuan Kim di Changsa, ending daripada Junmyeon tidak bisa dikatakan baik baik saja. Pertemuan dengan Xiaoran dan Yuan serta bagaimana Junmyeon menjadi tawanan Zhang sebelum menghancurkannya membuat pergerakan Tuan Kim untuk mengcover semua.

Ketakutan yang berselimut tebal di balik secarik kecewa.

Mahfum bagiamana hal ini di lakukan orang tua untuk menjaga baik baik anaknya, namun arogan dan kekuasan Junmyeon tidak bisa begitu saja dia serahkan. Dimana lelaki Kim itu bahkan sudah mengklaim telak kepemilikannya akan Zhang Yixing.

Jika memang benar keberadaan Tuan Kim hanya untuk menarik Junmyeon dan seluruh tim kembali tanpa membawa Zhang di dalamnya maka langkah selanjutnya Junmyeon harus dia lakukan lebih dari semua usaha sebelumnya.

Mirip dengan kemenangan palsu.

Terlebih setelah tau dan mengenal Kim dalam dunia hitam terlalu baik baik saja jika hanya di biarkan hidup setelah ditaklukkan, hanya ada dua pilihan ikut serta atau harus mati tanpa garis keturunan.

Hal yang dihadapi Zhang akan lebih buruk jika bukan Junmyeon yang memimpin.

Apakah ini ending yang tidak dia inginkan?

.


Dua mobil Mercy hitam itu terparkir dengan apik di halaman bandara Changsa. Itu Park Chanyeol, lelaki dengan balutan jas hitam rapih keluar dengan beberapa antek anteknya yang setia berjaga di sisi depan dan belakang. Kedua tangannya di lipat di depan dada dengan angkuh memandang sosok lelaki jakung yang keluar dari mobil dengan tas hitam yang dia tenteng.

Bagaimana ucapan Park bukanlah lelucon belaka, ingat bagaimana dia mengambil alih Wu dan semua kekuasaan seperti yang saat ini dia lakukan untuk melindungi tahtanya.

Yeah, satu dari ketakutannya. Dia harus bisa mengatasi.

Wajahnya jauh dari kata ramah atau alih alih kehilangan, itu begitu dingin. Bahkan rela mengatakan kepada anak buahnya untuk mengantar Yifan hingga pintu keberangkatan. "Pastikan dia melakukan penerbangannya."

"Aku bisa melakukannya sendiri!" Teriak Yifan datang menyahut ungkapan tidak mengenakkan.

Belum sempat dia membalasnya sebuah Porsche panamera putih berhenti hingga teriakan tidak terduga mengiringi langkah keluarnya. Wajah panik itu tidak luput melihat Chanyeol, secarik kemarahan disana.

"Gege!"

"Yixing?"

Yifan tertegun bagaimana little lamb dari Zhang keluar ditemani Jackson kali ini. Bagaimana anak itu tau akan keberangkatannya.

"Wah wah. . .Kita lihat siapa yang ada di sini?" Ucap Chanyeol memasang pose terbaiknya denga kedua tangan didalam saku celana melihat mendekatnya Yixing sambil menyenderkan tubuh dengan mobilnya.

"Tutup mulutmu yeol! Dan berhenti menekannya." Bentak Yifan.

"Keh! Mantan yang begitu berharga." Caci Chanyeol seolah belum puas. Yang mana mendapat tatapan benci dari Yixing.

"Diam kau!" Chanyeol sedikit terluka dengan keberanian Yixing dan tatapannya. Diam diam mengumpat mulai mengotak atik ponselnya membiarkan perhatiannya terbagi dengan benda pipih di tangannya.

"Aku datang untuk. . .mengantar gege dan salam perpisahan." Ucap Yixing pelan takut takut membuat suasana hati Yifan terluka.

Namun yang di ajak bicara diam diam tersenyum hingga tidak bisa dia sembunyikan darinya. Jelas terlihat kagum bagaimana si kecil bertindak. Membatin bahwa Kim begitu beruntung, fakta menyedihkan baginya, namun seperti Yifan menikmati keberadaan di hadapannya saat ini hingga kembali menggusak pucuk kepala Yixing sayang lalu mengucapkan terimakasih.

Yixing tersenyum namun kala tangan itu turun menuju pipinya dia menghindar, Yifan sadar dan kaku tiba tiba berucap maaf begitu cepat. Seolah sadar jika kesalahannya akan membuat si kecil pergi.

"Aku berharap gege tiba di sana dengan selamat, sampai jumpa dan jaga diri gege baik baik." Ucap Yixing dengan senyuman kecil.

"Hmm, aku pergi. Kau. . .jika membutuhkan sesuatu aku akan selalu ada untukmu." Pesan Yifan masih kekeh dengan kepercayaan yang ada dalam dirinya.

"Gege." Cegah Yixing agar Yifan tidak mengucapkan hal yang macam macam.

"Sampai jumpa." Pamit Yifan.

Langkah kaki Yifan dengan pasti menjauh. Membiarkan Yixing dengan keterdiamannya berdiri disana. Membiarkan anak buah Wu mengantar pewaris mereka yang gagal. Membiarkan Chanyeol menatap tanpa kata penuh sorot tajam di sana.

Membiarkan semua memorinya tertinggal di tanah China.

.

.

.

.

.

Junmyeon menatapnya dari dalam BMW X6 dengan Taekwoon di samping kemudi, dia sudah ada di sana. Jika ada yang bertanya sejak kapan maka sejak dia melihat mobil Yixing pergi meninggalkan rumah sakit begitu terburu buru dengan Jackson yang mencoba menghalangi anak laki laki itu.

Maka dia mengikutinya, begitu tenang dan diam. Meskipun jika di tanya bagaimana kabar dalam mobil dimana Taekwoon menjadi teman satu mobil maka dia akan mengatakan jika di sini begitu panas, Taekwoon ketar ketir berada di dalam mobil. Takut apa yang terjadi dengan Junmyeon ataupun dengan Yixing. Atau apa yang akan mereka katakan jika saling berhadapan.

Hell!

Melihat bagaimana Yixing ada di sana dengan Yifan, Junmyeon teringat dengan benar ucapan Victoria satu tahun yang lalu, kisah cinta Yixing dengan Wu Sialan Yifan jika benang yang mengikat mereka adalah rasa simpati. Bukan kasih sayang dan cinta yang sebenarnya. Junmyeon melihatnya di sini, dia benar benar tau sekarang. Hingga ponselnya berdering dengan nama Chanyeol.

Taekwoon membenturkan kepalanya dengan jelas ke jendela.

"Astaga Park Chanyeol jangan buat keributan! Ku mohon Tuhan!" Gumanan Taekwoon terlalu keras.

Idiot.

Junmyeon mendengarnya hanya menyeringai lalu membalas, "Berdoalah."

-pip-

'Kau tau apa yang dilakukan kekasihmu?'

Junmyeon dan semua kegilaannya bahkan dia tersenyum, memperdengarkan suara di line seberang pada Taekwoon sebelum mematikan mode loudspeakers dan menjawab dengan kelewat santai berupa gumanan. Taekwoon benar benar diserang sakit kepala saat ini.

Masih terdiam, melihat dengan baik dari kursi kemudi. Junmyeon masih melihat bagaimana cara mereka bicara bahkan Junmyeon tau Yixing melayangkan tatapan sengit pada Chanyeol. Hingga ucaoan kelewat santainya di tujukan pada Taekwoon, "Turun."

Itu nada tanpa emosi milik Kim. Namun, otak Taekwoon berhenti memproses informasi yang dia terima. Menyebabkan dia gagal dan Junmyeon harus meliriknya untuk memberi tatapan menusuk, "Jangan buat aku menendangmu."

Taekwoon bahkan tidak bisa mengeluarkan protes, membuka pintu mobil dengan kalem seolah dia baru saja dicampakkan. Baru kala kedua kakinya menginjak bumi dia mampu berucap, "Junmyeon? Ya! Bagaimana aku-"

"Kau tau jalan pulang."

Darisana baru tatapan mata mereka bertemu, Yixing tidak pernah menduga dia akan kembali menerima tatapan mata Junmyeon seperti ketika di rumah sakit. Junmyeon melihatnya dari belakang kemudi begitu tajam dan dingin. Hingga mobil Junmyeon mulai meninggalkan area parkir bandara, disana Yixing panik.

"Aku bawa mobilnya." Secepat kilat menyahut kunci mobil yang ada di tangan Jackson lalu berlari ke arah

"A-apa? Gege tunggu!" Teriak Jackson kalah cepat

Brum - brumm

Dan di sinilah mereka berdua, baik Jackson ataupun Taekwoon sama sama terdiam, menghela napas dan frustasi kala ditelantarkan oleh para Tuan Muda mereka.

.

.

.

.

.

Junmyeon melihatnya dari belakang kemudi melirik spion mobil dengan baik kala dia keluar dari jalanan utama membawa mobilnya masuk lebih dalam meninggalkan area padat penduduk kota Changsa dan semakin masuk pada area pedesaan. Mengesampingkan bagaimana tingkahnya yang urakan. Yang membuat Junmyeon hanya tau adalah Porsche milik Yixing mengikutinya.

Junmyeon membanting kemarahannya di dalam mobil, menekan gas kuat mencari lingkungan sepi untuk melihat keberanian seseorang.

Sementara Yixing masih mencoba mengejar mobil Junmyeon dalam ketakutan pasti. Anak itu sadar benar bagaimana tatapan mata yang dia dapati kala melihat Junmyeon dari balik kemudi sebelum meninggalkan area parkir bandara. Ada kemarahan dan kekecewaan di sana. Dia harus bisa bicara dengan Junmyeon dan menjelaskan semua kesalahpahaman ini.

Kim Brengsek Junmyeon, kau sendiri yang menunjukkan kepergian Wu Yifan dan kau sendiri yang marah.

Konyol!

Meskipun ketakutannya pada lelaki Kim itu benar benar membuatnya semakin gemetar dibalik kemudi saat ini. Dan Yixing harus benar benar di uji kala menemukan lelaki Kim itu sudah tau bahwa dia di ikuti karena terlalu mustahil untuk Junmyeon tidak menyadari keberadaan Yixing yang mengejar mobilnya, dimana dia tau tau sudah memarkir mobilnya di pinggir jalan dengan santai melipat kedua tangan di depan dada menunggu kedatangan mobil Yixing dengan duduk bersandarkan kap mobil bagian belakang.

Yixing melihat hal itu, membuka mobil seperti dia akan menghadapi hal tersulit di dunia. Melamgkah perlahan dalam balutan permintaan maaf, dia sudah ketakutan bahkan hanya menatap sang empu di depan matanya.

Hingga panggilan nama yang begitu sulit dia ucapkan perlahan keluar dari bibir cherrynya, "Junmyeon."

"Hmm." Balasnya begitu singkat, tajam, dingin dan terpusat penuh arogansi, menatap tepat ke pusat jiwa Yixing yang mulai hilang.

"Apa Jackson kala ini mulai membebaskanmu untuk berbuat sesuka hati begitu keluar dari rumah sakit, zhang yixing?" Sahutnya lagi, masih bersandar di kapsana mobil dengan kedua tangan di lipat di depan dada.

"Aku. . .Aku ingin bicara padamu." Jawab Yixing takut takut.

"Kalau begitu lakukan." Balasnya dengan tatapan mata masih begitu dingin, dengan kekecewaan yang terlihat sepercik kecil disana.

Bahkan belum puas melihat rasa takut jelas di wajahnya Junmyeon kembali menekan, "Waktumu 5 menit untuk melakukannya."

Dan bahkan Yixing tidak bisa melakukan apapun dengan tatapan yang begitu dingin seolah mengulitinya kali ini. Begitu angkuh begitu tidak tersentuh. Junmyeon yang dia kenal memang arogan, memang penuh dengan kuasa yang tidak segan menunjukkan pada lawan bicaranya. Namun, tidak pernah sekalipun dia berlaku sedemikian untuk Yixing.

Tidak hari ini, tidak untuk kali ini.

Dia melakukan kesalahan besar. Dan hanya bisa terdiam kala Junmyeon menatapnya sekarang. Yixing terlarut dalam kesalahan yang jelas di depan matanya, kalah akan fakta yang tidak terbantahkan. Bahkan bicarapun dia tidak sanggup. Terlampau malu untuk melihat tatapan kecewa dan marah di bola mata hitam favoritnya.

"Kau tidak bicara? Baik aku pergi dan jangan mengikutiku lagi." Final Junmyeon, tidak mau peduli bagaimana perang batin yang tepat ada di depan matanya.

"Maaf. . ." Ucapan lirih itu keluar, keluar dari dalam lubuk hatinya yang terdalam.

"Sudah aku maafkan, sekarang pergilah. Semua orang akan mengkhawatirkanmu." Balas Junmyeon.

Melihat ketidakpedulian Yixing tau dan semakin menunduk kembali berucap, "Maafkan aku. . .maaf junmyeon."

"Kau meminta maaf? Sekarang kau tau dimana kesalahanmu zhang yixing?" Mendengar bagaimana Yixing berucap sebuah uap kemarahan keluar dan meletup dalam sekali ucapan, Junmyeon marah dan itu faktanya.

"Apa kau tau betapa aku ingin melenyapkan satu nyawa saat ini, hah!" Teriak Junmyeon dalam kemarahan yang menguar begitu cepat. Dia tidak bisa menahannya lagi, kala sekelebat bayangan akan usapan di pucuk kepala itu mampir begitu dia kenal.

"Aku menahannya sejak malam dimana aku melihat dia bersamamu! Membawamu atau mungkin juga melakukan hal hal bodoh padamu dan bahkan aku menahan asal kau bisa aman dan keluar dari mansion lim hingga berharap bisa melihatmu tanpa harus mempertaruhkan nyawa."

Dia menahannya, dia hanya memikirkan keselamatan Yixing. Dia hanya berpusat pada satu titik. Demi Yixing, apapun bagi Junmyeon akan dia lakukan termasuk menahan bagaimana emosi dan egonya untuk menghabisi Wu Yifan.

"Aku benar benar ingin membunuhnya bahkan saat tau dia benar benar ada untuk membawamu keluar dari mansion tapi aku tidak terima melihat hal itu, kau harusnya selamat dengan kedua tanganku sendiri bukan dari tangan orang lain tetapi aku menahan semuanya. Bahkan jika tidak demi kau. . .-mungkin aku sudah menjadikan dia mayat saat berduel denganku sebelum hari pernikahanmu di jeju."

Deg!

Dan detak jantung Yixing seperti berhenti kala mendengar ucapan Junmyeon.

'Hari pernikahanmu di jeju'

Jadi, apakah Junmyeon dan Yifan bahkan sudah saling berhadapan sebelum hari pernikahan itu? Otak Yixing berhenti bekerja, tatapan matanya buram oleh air mata, kesalahan yang dia perbuat semakin menjatuhkannya dengan semua ucapa Junmyeon.

Dia tidak mengetahuinya, sedikitpun tidak. Mereka berhenti bicara untuk kejadian kelam itu satu tahun. Semua akses untuk bicara dengan Kim di tutup. Dia juga berhenti untuk percaya pada cinta dan pilihannya mulai hari itu. Dia salah.

Yixing melakukan kesalahan besar. Begitu besar hingga Junmyeon menatapnya sebegitu dingin.

"AKU MENAHANNYA ZHANG YIXING!"

Brak-

Tangan itu membentur kap mobil begitu kuat, menghancurkan segala keberanian yang dipupuk oleh Yixing untuk mengucap maaf, begitu marahnya Junmyeon hingga membalik tubuhnya memunggungi Yixing tanpa mau menatap wajahnya.

"Aku memikirkanmu! Aku hanya memikirkan sebagaimana ini akan berakibat kepadamu. . .aku tau bagaimana kehilangan seseorang yang sudah menjadi masa lalu kita sekalipun bukan hal yang baik. Aku tau rasanya. . Aku bahkan tidak ingin memancing peperangan lagi dengan wu atau siapapun yang hanya akan berimbas semakin besar untukmu dan keluargamu. Tapi hari ini, kau membuatku ingin membunuhnya." Junmyeon bernafas, untuk menatap jauh kedepan mobilnya lalu menunduk untuk mengucap kata kata yang bahkan tidak ingin dia bayangkan. Sekalipun suara tangis sesenggukan Yixing masih terdengar.

"Aku sampai berfikir mungkin benar kata appaku jika aku harus melepaskanmu. Atau mungkin kau juga mulai muak denganku."

Bagaimanapun kalian tau betapa Junmyeon tidak menginginkan hal itu. Namun Junmyeon tau hal itu dengan baik dari semua gerak gerik Tuan Kim selama dia berada di kamar inap.

"Pergilah, berhenti memaksaku meladeni tingkahmu saat ini."

"Junmyeon. . .maaf. . ."

"Jangan memanggilku lagi atau kau akan menyesal!"

"Hiks. ."

"Maaf. . .maafkan aku."

Seolah semua angin dan udara berpusat pada satu titik, Junmyeon juga melakukan hal yang sama. Menatap satu pusat kehidupannya, berbalik menatap ke belakang dimana anak itu menutup mulut dengan tubuh menunduk menghindari suara yang keluar, menghindari kemarahan yang lain.

Tidak ada yang akan bertahan dalam hitungan menit. Tidak dari salah satu di antaranya. Junmyeon sudah menarik anak itu dalam pelukan, kemarahannya hilang entah kemana, melihat bagaimana anak itu menangis hingga sesenggukan. Junmyeon tau benar bagaimana Yixing dan semua tingkahnya, bagaimana anak itu akan menyesali perbuatannya dengan sebuah tangisan.

Kau masih ingat bagaimana anak itu akan menangis jika dia sudah benar benar dalam posisi terendah.

Selangkah kau tidak ada dalam posisi terbaikmu kau akan hancur melihat pusat duniamu, tidak ada yang akan tau bagaimana pola fikir Yixing dan kau akan kehilangan dia jika kau masih mengukuhkan egomu.

Mungkin cinta selalu berbalut dengan emosi, ego, api cemburu, posesif dan kepemilikan yang kuat namun dibalik semua itu sebuah pengorbanan harus kau lakukan untuk keberadaan kalian dalam satu jalinan tangan. Meluruhkan ego mengesampingkan harga diri dan lebih memilih perasaan akan membuat kalian menemukan jalan keluar.

Kala kesadaran mereka kembali Yixing sudah di tarik dalam dekapan Junmyeon, dia masih merasakan dingin namun usapan penenang itu memberinya banyak perubahan, betapa Junmyeon merindukan tubuh ini setelah kesadarannya membaik. Betapa dia ingin melihat baik baik tentang semua luka yang di alaminya.

Kemarahan menguar secepat angin, maka secepat itu pula penyesalan merasuk sedingin air. Junmyeon juga mengalami hal itu. Dalam semua kata katanya yang keluar dia menyesalinya. Anak dalam dekapannya bahkan terduduk tidak mampu menopang berat tubuhnya yang dipenuhi dengan penyesalan yang Junmyeon buat. Membuatnya hanya mampu duduk mendekap di depannya, membiarkan kemeja yang membalut tubuhnya basah dan kusut dengan cengkeraman tangan Yixing.

Meskipun bibir Junmyeon tidak mengucap sepatah katapun.

.

.

.

.

.

Pemikiran setiap orang akan berbeda begitu pula dengan strategi mereka. Semua memiliki ciri khas sekalipun ego dan arogansi tetap menjadi kunci. Tidak berbeda dengan alur lama yang jadi petunjuk semua pertemuan. Namun semua tumpang tindih, antara keinginan satu dengan yang lain. Tujuannya sama untuk melindungi anak juga orang terkasih

Jantung berdebar, mental menjerit. Junmyeon harus mengakui kesalahannya. Mencoba memperbaiki ending yang di rasa salah. Dan tekanan terbesar bukan berasal dari Zhang lagi namun dari orang tuanya sendiri.

Cklek - Pintu ruangan tengah terbuka bagaimana ada di sana Tuan Kim berdiri sendiri di antara sofa dan meja menatap hiasan dinding yang diam membisu.

"Appa." Panggil Junmyeon memasuki ruangan.

"Junmyeon . . Sudah membaik?" Bagaimana Tuan Kim tidak begitu rindu dengan suara khas anak lelakinya, yang sudah dalam balutan jas hitam dan kejema abu abu yang mengintip. Selalu rapih dan pas di antara bahu bahu kekar, ketegasan. Sosok lelaki yang menjadi kebanggaan Kim dan baginya.

"Aku perlu bicara banyak dengan appa." Ucap Junmyeon to the point.

Terlalu hafal kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Terlalu sering dimana hal ini akan berpusat. Dan tentu Tuan Kim akan menghindarinya, tatapannya, ucapannya, auranya, keinginannya.

Keputusanya sudah dalam bentuk final. "Kita harus berkemas." Sahutnya tanpa melihat Junmyeon.

"Ada banyak pertanyaan dan appa harus menjawabnya." Kekeh Junmyeon terlalu hafal bagaimana gerak gerik orang tua biologisnya yang enggan menatap berusaha membelakangi, tetapi ia begitu ingin pembicaraan ini terjadi. Begitu ingin mencari celah terbaik di sini untuknya.

"Kau tidak akan berhenti." Dengus Tuan Kim.

"Sebelum aku mendapat apa yang aku mau . . .apa ini bukan ending yang appa inginkan?" Tambahnya cepat melanjutkan perkataan Ayahnya, mencari celah untuk melihat selarik wajah beliau.

"Aku mengatur semuanya, semua baik baik saja. Keluargaku aman dan mereka bahkan tidak tersentuh oleh zhang. Aku merusak bagaimana kepercayaan zhang dan mereka ada padaku, memaksa mereka untuk ikut serta dengan sadar saat kedatangan pertama kami ke changsa, dan bahkan mereka sudah kalah saat ini." Jelas Junmyeon.

Junmyeon bukan sosok yang berada di depan mengatur permainan atau yang akan memotong permainan sesorang dan menggantinya dengan alur yang dia inginkan.

Dia akan ada mengikuti alur lawan lalu menjebaknya dengan kesalahan dan kelemahan mereka hingga dia bisa menunjukkan taringnya. Dia akan ada duduk di balik meja kerjanya melihat lawannya bermain dan mengikuti lalu menusuknya dengan tepat dan terarah dalam kesalahan yang lawannya buat juga kelemahannya.

Benar bagaimana Junmyeon melandasi permainan ayahnya dengan pion yang sudah ada di changsa. Memulai semuanya dari mengatur Showluo dan Victoria lalu mengambil Yixing hingga menguatkan Zhang dengan kepemilikan Thailand.

Mencengkeram Zhang, membawanya bermain dalam alunan melodi searah dan membuatnya naik ke awan hingga menjatuhkannya.

Kelemahan Zhang ada pada anak bungsunya, maka dengan kepemilikan Yixing ada padanya yang membuat Junmyeon begitu berkuasa dalam alur permainan. Hingga Xiaoran yang mengusik dan menjadikan semua tumpang tindih.

"Tidak bisakah aku menyelesaikannya?" Tanya Junmyeon, berusaha melakukan yang terbaik untuk kepuasan dimata Ayahnya.

"Kau memulainya-" ucap Tuan Kim.

"Appa yang mendahuluiku. . .dengan dasom lebih dahulu berada di changsa." Tekan Junmyeon.

Tuan Kim menatap Junmyeon dan berdiri dengan baik di hadapan anak lelakinya dengan kedua tangan di belakang tubuhnya, berucap, "Aku tidak akan melepaskannya dengan semua hal yang ada di jeju, junmyeon. Aku membiarkanmu datang ke changsa, dengan dasom dan bora. Tim yang sudah aku rancang sebagaimana kim ada untuk melumpuhkan tapi juga membalut lukanya, tapi aku tidak pernah berfikir kau akan menjadi lebih daripada berani dengan penyerahan diri dan tubuh penuh luka milikmu."

"Aku yang menginginkannya appa. Dan aku tau akan berhasil karena aku memegang zhang itu yang membuatku yakin dan kuat, zhang yixing jelas adalah milikku dan zhang tidak punya pilihan lain yang akan menyelamatkan mereka." Jelas Junmyeon.

"Tapi kau tau? Jika kim terpecah dengan baik sejak puncak permainan kalian berempat di jeju?" Tuan Kim menyebutkan 'berempat' bagimana Wu terpisah menjadi dua dengan Kim dan Zhang.

"Ya, aku mengacaukannya." Desah Junmyeon mengakui, mengingat dia tertembak kala itu. Yang membawa Zhang Honglei menarik paksa Yixing kembali ke China.

"Kau tau kesalahanmu di sana?" Cerca Tuan Kim.

Junmyeon harus memalingkan wajahnya dengan bibir yang coba di basahi, kepanikan dan kesalahan merambati dirinya sedikit demi sedikit.

"Mental seseorang hancur disana, kau tau? Bukan hanya zhang yixingmu. . .tapi juga keluargamu." Tekan Tuan Kim.

Junmyeon sadar, bagaimana keluarganya benar benar berimbas

"Appa."

"Junmyeon, berhenti memaksanya jika dia tidak menginginkanmu."

"Aku tidak ingin minseok atau kyungsoo. . ."

"Dan bahkan dirimu, putraku pewarisku . ."

"Tidak ada yang boleh menyentuh atau bahkan menjadikannya tawanan. Kau ujung tombak dari Kim jika mereka merendahkanmu sedikit saja maka mereka menantang Kim dan kematiannya. Kim sanggup melakukannya untuk mengembalikan kehormatan putra pewarisnya, junmyeon."

"Itu keinginanku sendiri appa."

"Dia tidak menginginkanmu. . .bahkan menjadikannya takluk bukan pilihan."

"Semua orang harus membayarnya. . .bukan hanya zhang bahkan jika itu park dan juga oh."

"Baik. . . Lalu bagaimana dengan mantan ibu tiriku? Appa membiarkannya baik baik saja sampai dia mengacaukan rencanaku, membuat aturan sendiri di atas permainanku? Masih bertahan hidup bahkan punya kuasa untuk menculik kekasihku, merusak semua yang sudah aku rencanakan."

"Aku bilang berkemas junmyeon."

Cklek -

Dan pembicaraan mereka tidak berujung dalam jalan keluar sebagaimana di inginkan Junmyeon. Meninggalkan anak itu terdiam dengan dinginnya udara. Melangkah meninggalkan ruangan sebagaimana di lakukan ayah biologisnya beberapa menit yang lalu. Berjalan goyah tanpa peduli tatapan mata seluruh adik adiknya.

.

.

.

.

.

Showluo harus mahfum, dia harus menahan diri dengan baik baik. Tidak bicara bahkan tidak mampu bertanya. Ini masih pukul delapan malam untuk melihat didinya bangun dalam sebuah kepanikan.

Dasom tidak ada di sana, tidak setelah kedatangan Tuan Kim ke Changsa. Cukup mengejutkannya dan mulai membuat khawatir semua orang. Namun Junmyeon bahkan masih menggendong Yixing yang tertidur saat dia ada di persilakan masuk oleh anak buah Zhang yang sudah gemetaran kala melihat BMW miliknya memasuki halaman.

Tetapi kenapa dengan Yixing yang bangun dengan tangisan dan kepanikan jelas di depan matanya. Memaksa Showluo masuk ke kamar hanya untuk melihat anggota keluarganya menangis begitu hancur. Yixing di tarik dalam dekapan, kala dia lemas hanya karena sebuah tangisan.

Tuan Zhang Honglei bahkan sudah mampir ke dalam kamar anak bungsunya dengan raut panik tidak terelakkan. Ikut berjongkok mengusap pundak kecil penuh getaran emosi. Yixing bahkan tidak mampu bicara hingga dia mulai kehilangan ritme nafas, memaksanya untuk menerima segelas air minum dari keluarganya yang panik.

Kala di paksa dengan air minum sekalipun dengan harus menekan penuh usaha, akhirnya Yixing mampu terdiam. Menenangkan diri hanya untuk menjernihkan penglihatan melihat Showluo di sampingnya lalu babanya yang berjongkok di sisi yang lainnya. Juga paman Wangxun dan Victoria yang ikut melihat dari ujung ruangan kamarnya.

Dia kembali menangis lemah, menaruh wajahnya untuk bisa bersembunyi di dekapan Showluo meskipun mustahil.

"Aku. . .hiks. . .membuatnya marah, ge. Aku melakukan kesalahan dengan menemui yifan ge di bandara hari ini."

Showluo harus terpejam menerima fakta yang di katakan didinya dan Honglei harus memalingkan wajahnya sebelum kembali mendengar kata kata Yixing.

"Aku meminta maaf . . .dan bahkan junmyeon tidak mengucapkan apapun. Hiks! Aku melakukan kesalahan besar gege."

Lewat ucapan Yixing, mereka tau seberapa besar anak itu mencintainya. Showluo bahkan hanya mampu menenangkan Yixing saat ini membuatnya diam dan tenang, menerima seluruh raut dan ucapan penyesalan dari dalam dirinya.

.

.

.

.

.

"Junmyeon."

Panggilan Minseok mengawali bagaimana caranya menemukan Junmyeon di dalam ruangan bar mini milk keluarganya. Melihat adiknya duduk menikmati single sofa hitam dengan kepala menyandar, dengan segelas wine di atas meja tepat di sisinya. Hanya bergumam bahkan untuk repot menjawab panggilan darinya.

Kala Minseok sudah duduk di sisi sofa dekat dengannya, tau tau pertanyaan nyeleneh Junmyeon ada dalam segala keanehan, "Hyung sudah makan?"

Minseok terlalu hafal, "Kau tidak lapar?"

Melupakan bagaimana topik makan malam ada di ruangan bar mini, terlalu aneh untuk hal itu dimana banyak dari sudut ruangan ini hanya untuk melepas frustasi juga lelah. Dengan wine sebagai pelampiasannya. Namun, Minseok santai saja menanggapi pertanyaan itu, mengikuti arus seperti kebiasaan Junmyeon.

"Tidak, aku kenyang hanya dengan melihat appa di sini." Keluh Junmyeon.

"Dan kau juga bertengkar dengan yixing." Junmyeon tidak akan bertanya bagaimana cara Minseok mengetahuinya kala dia mendapati jemari tangannya mengenggam ponsel begitu erat.

"Hmm, ponselku tidak sengaja terinjak mobil saat pulang tadi." Kilahnya.

Minseok tidak perlu menggoda anak itu kala dia benar benar menampilkan raut lelah jelas di wajahnya, kala dia tidak punya perlawanan dan hanya bisa berkilah, "Kau harus istirahat dan berhenti minum."

"Aku akan tetap di sini, tolong jangan biarkan siapapun masuk." Pinta Junmyeon.

"Kau begitu terlihat lelah, junmyeon. Kita akan menemukan solusinya, tenanglah." Setidaknya Minseok ada untuk menenangkannya, membiarkannya dalam posisi seperti terakhir kali di lihatnya meskipun khawatir leher Junmyeon akan sakit kala bangun nanti.

.

.

.

.

.

Honglei bahkan hanya bisa terdiam dengan melihat duduk bersimpuhnya sang anak bungsu dari keluarga Zhang. Dengan kedua tangan bertumpu di kedua lututnya, kala dia melepaskan dekapan Showluo untuk memanggilnya dan berlutut mengejar langkahnya meninggalkan ruangan dimana Honglei berjongkok mengusap pucuk kepalanya penuh kasih beberapa menit yang lalu.

Victoria bahkan menutup mulutnya, tidak bisa tidak terkejut dengan semua yang dia lihat hari ini, Yixing sedang memperjuangkan seluruh hatinya. Murni dari dalam dirinya. Bukan diri Yixing yang akan terduduk diam menerima keputusan keluarganya.

Dia sedang memperjuangkan seluruh perasaannya, berhenti menutupi hati kecilnya yang selama ini dia sembunyikan.

"Aku mohon baba. . . ."

Sebuah permohonan dari dalam hatinya, yang ikut membuat Showluo lemas di belakangnya. Menatap lantai penuh harap bagaimana jawaban dari Babanya akan menentukan semuanya. Untuk keutuhan hati didinya. Juga untuk keluarganya.

"Aku mohon. . .hanya biarkan aku bersama dengan junmyeon, aku tidak bisa melihat kemarahannya. Aku bersalah tapi jangan halangi aku menemuinya. Biarkan aku memilihnya."

"Aku mohon."

.

Tbc!

A/n:

Saya kehilangan nyawa ace begitu banyak. Hambar, itu yang terasa sampai saya faham dimana letak kemarahan dan permainan ini membangun.

Ending adalah ketakutan terbesar, saya akan selalu menghindari ending karena memori otak saya kalau sudah ada kata ending maka dia akan auto menghapus semua alur baik yang sudah saya tulis maupun yang belum dan bosan sudah pasti.

Saya menulis ini dengan kerinduan pada exo. Sangat.

Dan saya benci chapter ini, tidak suka bagaimana saya harus membuat mereka bertengkar. Kemarahan Junmyeon begitu mengerikan kali ini, karena menyangkut hatinya. Dan Yixing yang kena marah justru saya yang panik.

Ada dua bagian sebenarnya untuk chap ini, yaitu ending yang tidak diinginkan dan harapan. Saya harus potong di bagian harapan karena kalau kalian nunggu pasti kelamaan.

Kekeke.

Harapan untuk tahun ini, semoga semua semakin membaik dan membaik, semoga kalian sehat dan selalu dalam lindungan Tuhan. Terimakasih banyak sudah menunggu dan selamat menunggu lagi.

Jadi apakah ini cuhatan saya atau spoiler?

Oke mari mulai saja.

Tema kali ini adalah grow up!

Saya bukan ahlinya bagian romansa dan romantisnya mereka, saya hanya merasakan panik. Action lebih baik itu yang ada di pikiran saya.

Scene yang membuat saya tertekan karena emosi yang mengalir ketika mereka bertengkar. Mungkin kalian akan terbiasa atau itu bukan hal baru dari setiap bab di season 2 mereka selalu crash, ga ada damai damainya hingga hanya berujung emosi dari Junmyeon tapi coba tilik baik baik. Ini seperti melihat pertumbuhan kisah cinta kedua Tuan Muda kita.

Dari season 1, Junmyeon lebih aktif dalam semua perlakuan lalu semua mulai berubah dengan season 2, dimana Yixing menolak dengan semua bantahan di awal hingga menyatakan kalah dengan hatinya mengesampingkan ego untuk mengatakan rasa sukanya.

Dan ketika semua mulai membaik mereka ada di sini dengan kesalahan Yixing. Meskipun Yifan sudah mengaku kalah secara tidak langsung di depan Junmyeon tetapi kesalahan tetaplah kesalahan.

Jadi, mari biarkan mereka memulai kembali. Dengan kesempatan yang coba kita berikan pada sisi Tuan Muda Zhang.

Yixing perbaiki semua kesalahan ini dengan caramu.

Mari lihat pertumbuhan kisah kalian dari sini.

Mari lihat bagaimana dia membuka pintu untuk kedua keluarga.

Jangan biarkan Junmyeon berjuang sendirian, Zhang. Biarkan Tuan Muda Zhang kita mulai membalas semua perlakuan khusus Kim. Untuknya.

.

.

With love, Luce

11 Januari 2021