Disclaimer : Semua tokoh di Naruto hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang meluaskan imajinasi saya
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Warning : OC, OOC, Mis-typo (s)
Rated : M
Chapter 12 : I Do Really Love You
Aku mundur selangkah. Sepertinya aku tidak bisa terlalu lama ada di tempat ini.
'Poff'
Apa yang dilihat kagebunshin seperti ditransfer secara langsung ke kepalaku. Aku diam, merenungi apa yang baru saja kulihat. Boneka itu, tidak salah lagi pasti boneka Hashirama dan Tobirama. Untuk apa mereka melakukan itu? Aku pernah dengar ada ilmu sihir yang menggunakan boneka sebagai perantara. Apa mereka tengah melakukan itu? Sejak kapan mereka menguasai ilmu sihir? Apa Hani dan keluarganya punya niat jahat pada kedua kakak beradik Senju itu?
Aku harus tahu apa yang sebenarnya diinginkan klan Yuki.
Demi tujuan itu, aku rela untuk tetap pulang ke rumah walau Hani sedang menginap di rumah. Terkadang aku sedikit mencuri dengar apa saja yang dia bicarakan dengan kak Hashirama dan Tobirama. Aku tidak mendengar ada yang aneh di pembicaraan mereka. Aku juga seringkali keluar di malam hari, mencoba membuntuti Hani disaat Ia tidak datang berkunjung ke rumah dengan harapan bisa melihat altar di hutan barat lebih seksama. Sudah berkali-kali aku menyisir hutan barat, tapi tempat ritual yang kulihat kemarin tidak ada. Tempat itu hanya lahan kosong di tengah hutan. Aku tidak menemukan adanya tanda-tanda ruang bawah tanah atau semacamnya, sungguh aneh.
Dan benar saja, altar itu baru bisa kembali kulihat saat Hani kembali datang kesana di malam bulan purnama. Saat itu aku bisa melihat altar itu ada lagi, lengkap dengan patung Buddha, lilin dan dupanya.
Aku tidak mengerti apa yang ingin dilakukan klan Yuki terhadap Senju. Tidak ada apapun yang terjadi pada kedua kakak beradik Senju itu. Namun yang kulihat akhir-akhir ini adalah entah kenapa klan Yuki semakin dilibatkan dalam pengambilan keputusan, rencana perang, dan bahkan mereka diperbolehkan membuat peraturan baru untuk mengatur orang-orang yang tinggal di wilayah ini. Walaupun klan Hagoromo lebih besar dari klan Yuki, Senju tidak langsung melibatkan kami. Mereka melibatkan kami untuk turut mengatur peraturan mereka setelah kami lebih dulu memberikan kontribusi besar seperti pasukan, ramuan obat, bahkan hingga Katsuyu, siput penyembuh klan Hagoromo yang terkenal. Sedangkan klan Yuki? Apa yang mereka lakukan? Tidak ada.
Mungkin itu yang mereka inginkan, tujuan mereka adalah membuat Senju percaya hingga memberikan bagian di pemerintahan. Aku menyimpulkan sendiri.
Jadi klan Yuki mau menguasai Senju? Kenapa klan kecil seperti itu punya ambisi yang sangat besar?
Hatiku seakan berteriak memprotes saat otakku menyarankan agar aku diam saja atas rencana klan Yuki. Klan Senju memang tidak memperlakukanku dengan baik, tapi entah mengapa aku merasa ini harus dihentikan.
'Poff!'
Bayanganku menghilang. Aku berpikir sejenak dari Igaku no Niwa, tempatku menginap bersama Satsu dan Amari malam ini. Apa yang bisa kulakukan untuk menghentikan mereka? Apakah jika aku mengatakan apa yang kulihat secara langsung pada kak Hashirama, Ia akan percaya?
"Apa ini? Tuan Hashirama memberitahu bahwa pertemuan antar klan akan diundur menjadi tanggal 25 bulan ini" ujar Amari sambil membuka sebuah gulungan.
"Kenapa diundur ya?" Tanya Satsu ingin tahu. "Mungkin mereka sibuk"
Bagai petir menyambar di malam hari, sepertinya ada satu rencana. Rencana untuk membuktikan apa yang selama ini tengah dilakukan klan Yuki pada semua orang. Mungkin saja itu berhasil.
"Satsu, Amari.. aku ingin cerita sesuatu pada kalian. Apa kalian mau dengar?" Aku menoleh bergantian pada kedua gadis itu.
Satsu langsung mengangguk tanda setuju, sementara Amari terlihat sedikit bingung.
"Tentu saja, Nona" ujar Amari segera. "Apa itu?"
Aku menghela napas panjang. Sepertinya sulit jadinya untuk menceritakan apa yang kulihat pada mereka. Aku juga yakin sulit bagi mereka untuk percaya apa yang akan kukatakan. Tapi untuk rencana satu ini, aku butuh sedikit bantuan Satsu dan Amari. Mungkin.. ada kemungkinan rencana ini berhasil.
-8-8-8-
"Nozu datang ke pertemuan malam ini?" Tobirama mengerutkan dahi.
"Iya.. tadi dia bilang begitu. Memangnya kenapa?" Hashirama bertanya balik.
"Tidak apa-apa" balas Tobirama tak acuh.
"Nozu memang jarang ikut diskusi kita. Tapi jika dipikir-pikir lagi.." Hashirama mencoba mengingat-ingat. "Kita memang belum pernah mengajak Nozu ikut ke pertemuan kita. Selama ini dia datang sendiri atau kita hanya memberitahu hasil diskusi kita padanya saat dia tidak hadir"
"Mungkin topik diskusi kali ini membuatnya tertarik" Tobirama melirik jam dinding. "Sudah hampir pukul 8 malam, kak. Ayo kita bergegas"
Hashirama dan Tobirama berjalan menuju gedung pemerintahan Senju, tempat dimana mereka mengadakan rapat malam ini. Setibanya disana, ruang rapat sudah dipenuhi banyak orang, termasuk Nozu yang sudah datang bersama Satsu. Yoshimura Hagoromo, pemimpin pasukan perang Hagoromo tidak datang malam ini karena masih menjalani pemulihan. Anehnya malam itu Hani Yuki tidak terlihat disana, mungkin belum tiba. Klan Yuki datang dengan perwakilan lain. Setelah melihat Hashirama dan Tobirama datang, orang-orang itu segera bergegas duduk ke tempat masing-masing.
"Selamat malam semuanya" Hashirama menyapa semua yang hadir malam itu. "Maaf sudah membuat kalian menunggu" Hashirama tersenyum. "Mari kita mulai diskusi malam ini, pertama tentang perombakan hutan di daerah perbatasan"
Diskusi malam itu berjalan baik. Sesekali Tobirama melirik Nozu. Wanita itu tampak memperhatikan jalannya diskusi dengan tenang, sesekali mencatat sesuatu di buku catatannya. Jika memang Nozu begitu tertarik dengan diskusi malam ini, kenapa Ia begitu pasif? Ia hanya duduk diam, sesekali bicara dengan Satsu disebelahnya, lalu diam lagi. Ada yang aneh dengan aura Nozu malam ini.
Tobirama memutuskan untuk mengaktifkan mode deteksi. Chakra Nozu terlihat stabil, cenderung sangat stabil. Ada yang aneh dengan aliran chakra itu. Sesuatu yang pastinya akan diketahui oleh ninja deteksi tingkat tinggi sekelas Tobirama Senju.
'Kagebunshin'
Tobirama mengerutkan dahi. Untuk apa Nozu datang dengan kagebunshin di pertemuan ini?
Pertemuan panjang yang diiringi dengan diskusi dari berbagai klan itu selesai tiga jam setelah dimulai. Hashirama menutup pertemuan malam itu dengan membacakan hasil diskusi keseluruhan, yang diikuti dengan penandatanganan persetujuan oleh masing-masing perwakilan klan.
"Setelah diskusi panjang ini selesai, Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada kalian semua"
Tobirama yang tengah merapikan berkas-berkas di meja mau tak mau menoleh ke sumber suara. Sebenarnya Ia cukup terkejut mendengar pernyataan Nozu yang tiba-tiba. Tak hanya Tobirama, Hashirama-pun terlihat terkejut. Semua orang di ruangan itu kini menoleh ke arah Nozu Hagoromo. Wanita itu tersenyum.
"Aku ingin menunjukkan sesuatu yang bagus pada kalian. Untuk itu, saya meminta anda semua untuk ikut dengan saya dan bersama-sama melihat apa yang memang harus kita lihat bersama" Nozu berdiri dari tempat duduknya.
Perkataan Nozu membuat orang-orang disana terkejut, bertanya-tanya apa yang tengah dilakukan wanita Hagoromo itu didepan banyak orang. Tobirama mengerutkan dahi, Ia melirik Hashirama yang terlihat bingung.
"Apa yang mau dilakukan Nozu, Tobirama?" Tanya Hashirama.
"Entahlah" jawab Tobirama. "Aku sendiri tidak tahu apa yang dipikirkannya akhir-akhir ini. Kakak tahu belakangan ini dia aneh, kan?" Tobirama bangkit berdiri dari tempat duduknya.
"Sebaiknya kita ikut kesana. Mungkin memang ada sesuatu yang penting" Hashirama ikut bergegas, yang diikuti Tobirama, berjalan mengikuti Nozu dan Satsu yang berjalan menuju hutan barat.
Malam ini adalah malam bulan purnama, membuat suasana terasa lebih terang. Cahaya bulan keperakan menyinari orang-orang yang tengah bergegas menerobos hutan di malam hari. Tidak banyak yang mengikuti kedua wanita itu, hanya Hashirama, Tobirama, Toka dan tiga orang perwakilan klan Yuki. Di tengah jalan, mendadak Nozu menghentikan langkah untuk melihat ke sekeliling.
"Apa yang sebenarnya ingin kalian tunjukan?" Tanya seorang anggota klan Yuki lantang. "Jangan mempermainkan kami seperti ini!"
Tobirama masih menebak-nebak apa yang sebenarnya sedang terjadi. Nozu ingin menunjukkan sesuatu dan orang-orang dari klan Yuki yang ikut bersama mereka mulai terlihat tidak nyaman sejak meninggalkan ruang rapat, terlihat jelas dari bagaimana aliran chakra mereka. Apa Nozu ingin memberitahu hal buruk yang berhubungan dengan klan Yuki?
"Apa kau ingin memberi tanda pada rekanmu yang berada kurang lebih 3 meter lagi untuk melarikan diri?" Nozu balas bertanya pada orang itu. "Percuma, usahamu sia-sia. Mereka tidak bisa lari lagi" Nozu kembali bergegas.
Sesaat kemudian, langkah mereka terhenti oleh apa yang ada di depan mereka. Hani Yuki terikat di pohon, bersama dengan seorang pria paruh baya yang dikenali Tobirama sebagai Shin Yuki, salah seorang tetua klan Yuki. Mereka terlihat tidak berdaya, terikat di pohon dalam keadaan luka-luka dan mulut tertutup kain. Hashirama segera menghampiri kedua orang itu dan melepas kain penutup mulut mereka.
"Hani, ada apa ini? Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Hashirama khawatir.
"Aku yang melakukannya" Nozu yang asli muncul dari balik pohon, diikuti oleh Amari, sementara bayangan Nozu menghilang. "Perhatian kalian hanya tertuju pada kedua orang itu. Tidakkah kalian memperhatikan ada yang aneh di sekeliling kalian?"
Walaupun tidak melihat apapun, Tobirama merasa ada aura aneh disana. Merasa ada sesuatu yang janggal, Tobirama memutuskan menyisir area itu bersama Toka, berusaha menemukan apa yang ada dibalik aura misterius ini. Pandangan Tobirama tertuju pada sebuah altar kecil dengan patung Buddha dan beberapa lilin disekitarnya.
"Sejak kapan benda itu ada disana?" Tanya Tobirama sambil berjalan mendekati altar itu. "Apa ini?"
Hashirama yang tengah memeriksa luka-luka di tubuh Hani menoleh. "Apa itu Tobirama?"
"Sebaiknya kakak tanyakan sendiri pada Hani Yuki dan kakek ini" ujar Nozu. "Apa yang mereka lakukan dengan altar itu dan dua benda ini"
Nozu melempar dua buah boneka ke depan Hashirama. Pria itu mengerutkan dahi, bertanya-tanya benda apa yang dilempar Nozu tadi. Ia bangkit berdiri untuk mengamati kedua boneka itu dari dekat. Hashirama berjongkok dan mengambil kedua benda itu sekaligus. Hashirama mengerutkan dahi. Kenapa kedua boneka itu begitu mirip dengan Ia dan Tobirama?
"Hani, benda apa ini?" Tanya Hashirama yang masih terus memperhatikan kedua boneka itu.
Walaupun Hashirama bertanya dengan suara datar, Tobirama bisa merasa kakaknya mulai waspada. Hashirama kini menatap Hani dengan tatapan tajam dan terarah.
"Itu.. kakak dengarkan dulu penjelasanku" Hani terlihat ketakutan. "Aku.. kami.."
"Kak Hashirama, aku curiga mereka punya niat tidak baik pada Senju. Tuduhanku ini beralasan. Jika memang ini bukanlah sesuatu yang buruk, kenapa mereka menyembunyikan semua ini dari kalian?" Nozu ikut dalam pembicaraan. "Altar ini hanya ada di malam bulan purnama. Tidakkah itu aneh? Bagaimana dengan kedua boneka itu? Bukankah boneka itu mirip kakak dan Tobirama?"
"Hei, jangan seenaknya saja bicara!" Anggota klan Yuki yang lain berteriak marah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang budaya kami!"
"Budaya macam apa yang menyihir orang seperti ini? Ini kejahatan!" Nozu balas berteriak. "Bagaimana bisa klan kecil seperti kalian begitu serakah hingga melakukan segala cara demi menguasai Senju?"
"Dasar tidak tahu diri! Kau bukan bagian Senju! Kau tidak punya hak menghakimi kami, wanita kurang ajar!"
"Cukup!" suara Hashirama terdengar keras dan bergema di area yang cukup luas itu, membuat semua orang terdiam. "Nozu, berhenti bicara yang tidak-tidak. Aku akan selidiki ini lebih lanjut"
Hashirama memasukkan kedua boneka itu kedalam kantung senjatanya. "Sudah malam, waktunya istirahat. Semuanya silakan kembali ke tempat masing-masing" Hashirama melirik Tobirama. "Ayo pulang, Tobirama!"
"Kak Hashirama, Tobirama, aku.. aku harus memberitahu kalian apa yang sebenarnya terjadi" Walaupun terluka, Hani berusaha berjalan mengikuti Hashirama yang tengah berjalan pergi.
"Nona Hani, apa yang nona lakukan?" Salah seorang anggota klan Yuki lainnya menarik lengan Hani. "Luka nona harus segera diobati. Jika tidak nanti.."
"Tidak!" Hani segera menampik uluran tangan pria itu. Ia berjalan menuju Tobirama yang ada dibelakang Hashirama. Wanita itu tersungkur jatuh sambil memegang tangan Tobirama, membuat Tobirama terpaksa berhenti melangkah. "Aku harus jelaskan semuanya malam ini, Tobirama. Kumohon dengarkan aku.."
"Jika kau memang ingin mengatakan sesuatu tentang hal ini, berhentilah memohon dan ikut kami ke rumah" ujar Hashirama tanpa menoleh. "Jelaskan yang sebenarnya"
Tobirama melepas tangan Hani, membuat wanita itu kembali tersungkur ke tanah. Pandangan Tobirama tertuju pada Nozu yang tengah bicara dengan Amari.
"Apa yang kau lakukan disana? Ayo pulang. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu" ujar Tobirama.
Nozu mengerutkan keningnya. "Kau menyuruhku pulang?"
Tobirama menghela napas. "Memang aku bicara pada siapa lagi? Aku harus memastikan apa saja yang ada di kepalamu sebelum kau bertindak lebih jauh.."
"Untuk apa kau melakukan itu? Kau curiga aku memfitnah wanita ini?" Sanggah Nozu tidak terima. "Malam ini aku mau menginap di Igaku no Niwa dan tidak ada yang bisa.."
"Aku suamimu! Jangan membantah lagi" Tobirama berjalan mendekati Nozu dan menarik lengannya. "Kita pulang!"
Tobirama tertegun. Kenapa kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulutnya? Baru kali ini Tobirama berkata bahwa Ia adalah suami Nozu dan untuk apa pula Ia mengatakan itu? Apa dengan kata-kata itu Nozu bisa ikut pulang ke rumahnya tanpa membantah? Sungguh hal yang tidak masuk akal. Karena kata-kata itu sudah terlanjur terucap, mau diapakan lagi?
Nozu berusaha melepaskan tangannya. Semakin keras usaha Nozu melepaskan diri, semakin erat Tobirama memegang lengannya, membuat usahanya sia-sia. Tobirama melirik Amari yang tengah memperhatikan mereka tanpa bicara sepatah katapun. "Kau pulanglah juga"
"Amari, aku mau kau menginap di rumahku malam ini" pinta Nozu saat Tobirama mulai membawanya menjauh. "Temani aku. Orang ini.."
"Tidak perlu" sela Tobirama. "Kau pulanglah! Ada sesuatu yang harus dibicarakan empat mata dengan nona-mu. Ini perintah!"
"Baik Tuan" Amari membungkuk hormat. "Saya pamit undur diri"
"Aku bisa jalan sendiri! Kau tak perlu menuntunku berjalan" Nozu masih berusaha melepaskan diri. "Bukankah wanita itu lebih butuh bantuanmu daripada aku? Kenapa kau tidak bantu dia saja?"
Tobirama melepaskan pegangannya. Nozu mengusap-usap lengannya yang terlihat memerahan. Sepertinya Tobirama mencengkram lengan Nozu terlalu kuat. "Aku tidak ingin ribut denganmu disini. Bagus kalau kau bisa jalan sendiri. Jangan coba melarikan diri atau kau rasakan akibatnya nanti"
"Sekarang kau memperlakukanku seperti tahanan, eh?" Tanya Nozu tidak terima. "Tobirama, kenapa kau masih saja curiga padaku? Memangnya.."
"Hentikan Nozu" sela Hashirama. "Malam ini kita perlu berpikir banyak. Simpan tenagamu untuk beberapa urusan penting nanti. Aku juga ingin bicara denganmu malam ini"
Nozu tidak mengatakan apapun. Wanita itu mengerti Hashirama serius memikirkan hal ini. Ia hanya diam dan berjalan mengikuti kakak beradik Senju itu sambil menunduk.
-8-8-8-
Aku semakin tidak mengerti.
Seminggu setelah kejadian penemuan altar klan Yuki, aku berkali-kali menjelaskan pada kak Hashirama dan Tobirama bagaimana kekhawatiranku tentang kelangsungan klan Senju jika mereka masih tinggal disini. Tapi kenapa mereka tidak mengerti hal itu? Hanya kak Yoshi yang mendukung keputusanku untuk mengusir klan Yuki, tapi selama kedua pemimpin Senju itu tidak mau, apa lagi yang bisa dilakukannya?
Tobirama terus berkata bahwa Ia ingin menyelidiki kasus ini lebih detail lagi untuk mengetahui apa yang dilakukan klan Yuki. Yang langsung terlintas di pikiranku adalah bagaimana bisa membuktikan ilmu sihir yang diluar nalar manusia? Sementara kak Hashirama malah terus menasihatiku agar aku tidak terlalu cemburu pada Hani yang memang sudah punya hubungan dekat dengan Tobirama dan keluarga Senju dari dulu. Apa katanya? Aku cemburu?
Kak Hashirama berkata Ia mengerti kekhawatiranku. Tapi kenapa Ia tidak mengusir klan Yuki dari wilayah Senju? Hani berkata bahwa ritual itu dilakukan untuk memohon kesehatan dan keselamatan kedua pemimpin Senju dan semua anggotanya. Benarkah? Kenapa aku merasa sanksi akan jawabannya? Kenapa pula kak Hashirama dan Tobirama terlihat tidak keberatan dengan pembelaan tidak masuk akal yang dilontarkan wanita es itu? Mereka berkata mau menyelidiki lagi masalah ini hingga tuntas. Tapi apa? Sekarang hubungan mereka dan Hani sudah seperti dulu, seakan masalah ritual misterius itu hanya angin lalu.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya seolah dengan itu pikiranku bisa lebih jernih. Kak Hashirama memintaku untuk tidak keluar rumah hingga masalah ini selesai diusut. Alasannya karena Ia tidak mau ada orang klan Yuki yang tidak terima dengan perkataanku kemarin dan berbuat sesuatu padaku di luar sana. Jujur kata aku merasa risih dengan keberadaan Hani yang masih keluar masuk rumah ini. Tapi dengan kesadaran penuh, aku mencoba mengabaikan perasaan itu.
Sekarang aku sendirian. Berada di rumah ini membuatku tidak bisa bertemu dengan Satsu dan Amari. Sudah seminggu lamanya aku disini dan yang kulakukan hanyalah mengecek pemulihan luka beberapa pasukan perang Senju dan Hagoromo dari pertempuran kemarin. Kak Hashirama, kak Yoshi dan Tobirama kini tengah sibuk mengatur infrastruktur Senju dan rencana mereka untuk menjalin aliansi dengan klan Uzumaki. Aku yang tadinya ingin mengutarakan ide pembangunan rumah sakit di wilayah Senju jadi terpaksa menunggu hingga mereka tidak terlalu sibuk. Padahal selama satu minggu, rencana pembangunan rumah sakit itu sudah kususun sempurna beserta tata letak ruang penunjang medis yang menurutku sudah rapi. Aku mengangkat bahu.
Ya sudah, mau diapakan lagi?
Rumah ini membuatku merasa lebih kesepian dari biasanya. Aku jadi lebih merindukan kak Nozomi dan Hana. Kak Yoshi yang baru saja bergabung dengan Senju memang sudah memberitahu bahwa Hana tidak ikut kedalam pasukan tempur Uchiha dan kak Nozomi baik-baik saja saat meninggalkan medan perang. Tapi apa kabar mereka sekarang?
Aku sendirian dan terbuang seperti tahanan. Kak Hashirama memang menempatkan anak buahnya untuk menjagaku disini tapi sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang peduli apa yang kulakukan di rumah ini.
'Mungkin aku bisa mengirim surat ke Hana dan menanyakan kabarnya langsung!'
Aku membereskan meja kerjaku dan meletakkan gulungan itu disebuah laci. Kuambil sebuah gulungan kertas baru dan merobeknya menjadi helaian kertas kecil. Jika beruntung, aku mungkin bisa mendapat jawaban dalam beberapa hari.
Setelah selesai menulis surat, aku memutuskan untuk mengirim surat itu dengan burung lain. Karena aku mengirim surat ke Hana yang tinggal di wilayah Uchiha, aku harus memastikan tidak ada yang melihatku menerbangkan burung ke arah selatan. Kutinggalkan bayanganku di rumah dan pergi keluar rumah diam-diam, melewati anak buah kak Hashirama yang tengah asyik bermain kartu di depan.
Aku bergegas menuju wilayah perbatasan setelah mengambil sebuah burung merpati dari Igaku no Niwa. Susah payah aku mengendap-endap agar tidak ada yang melaporkan kepergianku dari rumah pada kak Hashirama dan Tobirama. Setibanya disana, aku segera melepaskan burung itu dan melihatnya terbang pergi hingga tidak terlihat lagi.
Aku duduk termenung, menatap sungai yang mengalir tenang searah dengan hembusan angin. Berada di luar rumah membuatku merasa lebih baik. Sungguh lelah berada di lingkungan yang hanya ingin memanfaatkanmu. Rasanya aku sudah tidak ingin tinggal di rumah itu lagi.
Jika dipikir sekali lagi, arti keberadaanku bagi orang-orang Senju disini hanyalah sebatas ninja medis. Mereka hanya mencariku disaat-saat kritis dan melupakanku setelahnya. Setelah semua yang kuberikan untuk Senju, mereka malah menganggapku wanita arogan yang pencemburu, terlebih lagi setelah kejadian minggu lalu. Aku tidak minta ucapan terima kasih. Aku hanya ingin dihargai dan tidak dipandang sebelah mata setelah semua yang kulakukan untuk mereka dan untuk menghentikan perang ini. Mataku terasa panas. Aku melempar sebuah batu ke arah sungai sambil menahan air mata yang sudah memenuhi kelopak mataku.
"Ini tidak adil!"
"Nozu, dunia ini memang seperti itu. Masih perlukah kau bertanya?"
Aku menoleh kearah sumber suara yang terdengar sangat tidak asing untukku. Suara yang membuat air mataku langsung mengalir saat mendengarnya. Mendengar orang itu ada didekatku. Aku benar-benar merasa ini mimpi.
Kudapati Nozomi Hagoromo tengah duduk dibawah pohon yang tidak jauh dariku, mengamatiku sambil tersenyum.
Untuk sejenak aku ragu. Kak Nozomi, terakhir kali kudengar kabar tentangnya dari Hana, dia sudah tidak menganggapku sebagai adiknya lagi dan dia juga memberi perintah pada shinobi klan Hagoromo untuk membunuhku jika mereka bertemu denganku.
Jika dia yang langsung bertemu denganku, Apa dia akan membunuhku?
"Nozu, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Sungguh" Kak Nozomi mengangkat jari kelingkingnya. "Aku janji" Ia tersenyum ramah seperti hari-hari dimana kami masih bahagia dulu.
Air mataku tumpah. Aku tidak sanggup lagi menahannya. Aku segera berlari dan memeluk kak Nozomi dengan sangat erat.
Kak Nozomi balas memelukku dan mengelus-elus punggungku. Aku tidak peduli apakah ini mimpi atau kenyataan. Aku menangis sekeras-kerasnya di pelukan kak Nozomi. Rasanya begitu senang bisa bertemu dengan keluarga yang selalu menyayangimu apapun yang terjadi, keluarga yang selalu menerimamu apa adanya tidak peduli apa kekurangan dan kelebihanmu, keluarga yang tidak pernah mau memanfaatkanmu.
"Nozu, ada apa? Kenapa menangis begini? Kau sudah dewasa, bukan anak kecil lagi" ujar kak Nozomi lembut.
Walaupun berkata demikian, dia tetap mengelus-elus punggungku, seakan menyuruhku untuk terus menangis hingga hatiku terasa lega.
Setelah berhenti menangis, kak Nozomi mengajakku duduk dibawah pohon bersamanya. Aku masih terisak. Aku sangat senang bisa bertemu kak Nozomi saat ini. Walaupun aku mati setelah ini, aku pasti pergi dengan sangat senang karena bisa melihat kak Nozomi lagi.
"Ini, minum dulu" kak Nozomi memberiku air dalam botol bambu. "Tenangkan dirimu dulu sebelum menceritakan semuanya padaku"
Aku meneguk air didalamnya perlahan. "Kak.. Kak Nozomi, kenapa bisa ada disini? Apa aku mimpi?" Tanyaku sambil menatap kak Nozomi dengan tatapan tidak percaya.
Sudah lama sekali aku tidak melihat kak Nozomi. Kak Nozomi, dengan kulit putih, mata hitam besar, rambut hitam cepak, tubuhnya yang ideal, kemampuan sebagai seorang pemimpin klan yang setara dengan ayah dan kepribadiannya yang baik. Andai saja aku bukan adiknya, mungkin aku sudah jatuh cinta pada kak Nozomi.
Kak Nozomi tersenyum dan mencubit tanganku dengan keras. "Apa rasanya sakit? Kalau iya, kau tidak bermimpi, Nozu" kak Nozomi mengacak-acak rambutku pelan.
"Kakak, kau.."
"Kenapa?" tanya kak Nozomi sambil mengangkat alis.
Aku tersenyum lebar. Lagi-lagi air mata kembali mengalir di pipiku. "Kau.. Kau sudah kembali jadi kak Nozomi yang kukenal dulu.. Kakak.."
Aku memeluk kak Nozomi dengan erat sambil menangis. Kak Nozomi hanya mengelus-elus kepalaku sambil tertawa.
"Aku minta maaf, Nozu. Sepertinya kau benar. Aku kehilangan diriku dan akhirnya berhasil menemukannya kembali. Selama ini aku salah jalan. Bahkan aku tidak menghiraukan apa yang Hana katakan padaku hingga peristiwa itu terjadi. Sejak Izuna meninggal, Madara memperlakukan kami lebih buruk. Hana benar, aku sudah salah jalan" kak Nozomi menatapku dengan tatapan sendu. "Aku berharap semoga kau bisa memaafkan semua kesalahanku, Nozu"
"Madara memperlakukan kakak dan Hana dengan buruk?" Aku terkejut. "Apa yang dia lakukan Kak? Madara melukai kalian?"
"Tidak apa-apa. itu sudah berlalu" Nozomi tersenyum. "Yang penting sekarang aku sudah sadar bahwa aku salah"
Aku tidak berhenti menangis. "Kalau begitu kakak dan Hana pergi saja jika merasa ada yang salah dengan Madara. Kak Nozomi sudah kembali. Aku tidak mau kalian menderita di sana"
"Ada apa denganmu, Nozu? Kenapa kau jadi cengeng sekarang? Ayo, jangan menangis terus"
Aku melepaskan pelukanku darinya. "Kakak ada keperluan apa datang kesini?" tanyaku terisak sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajahku.
"Aku sedang mencari beberapa tanaman obat" jawab kak Nozomi ringan. "Kau sendiri, apa yang sedang kau lakukan disini? Jalan-jalan ke wilayah perbatasan seorang diri itu berbahaya. Kau perempuan Nozu, kau ingat, kan?"
"Aku harus pergi sendiri, Kak. Aku baru saja mengirim surat ke Hana diam-diam. Aku rindu kak Nozomi dan Hana. Mereka tidak akan mengizinkanku mengirim surat ke Uchiha. Mereka bisa menuduhku yang tidak-tidak lagi"
"Ah, Nozu.."
Kak Nozomi menatapku beberapa saat dengan tatapan lembut sambil tersenyum, membuatku merasa aneh sekaligus senang. Sudah lama rasanya tidak bertemu dengan kak Nozomi yang sangat menyayangiku dan Hana.
"Ada apa, kak?" tanyaku heran.
"Adik perempuanku ini rupanya sudah menikah sekarang". Kak Nozomi tersenyum lembut. "Selamat untuk pernikahanmu. Kuharap kau bahagia selalu dengan Tobirama. Kau menyukai pria itu dari dulu, aku tahu" sambungnya sambil mengedipkan mata.
Aku terdiam dan hanya memandang kak Nozomi dengan tatapan sendu.
'Aku tidak sebahagia yang kau pikirkan, Kak. Walaupun dulu aku pernah menyukainya.. Jika dipikir lagi, aku mungkin akan lebih bahagia jika tidak menikah dengannya'
"Nozu, ada apa?" Kak Nozomi bertanya heran.
"Tidak apa-apa kak" balasku segera. "Kak, bisakah kita bertemu setiap hari disini? Aku kesepian disana, tidak ada kak Nozomi dan Hana. Hashirama dan Tobirama Senju, mereka.."
"Apa mereka tidak memperlakukanmu dengan baik, Nozu?" Kak Nozomi menyela ucapanku.
"Aku.. aku akan ceritakan semuanya pada kakak nanti. Ceritanya panjang sekali. Karena itu aku ingin kita bertemu lagi besok, besok dan besok lagi"
"Aku tidak bisa pergi setiap hari, Nozu. Madara pasti curiga. Mungkin.." Nozomi memutar matanya. "Kita bisa bertemu disini dua hari seminggu, tiap hari ke 2 dan 5, bagaimana?"
"Baik kak!" Aku langsung setuju. "Kita bertemu tiga hari lagi. Kakak terlihat lebih kurus. Aku akan membawakan makanan untuk kakak saat kita bertemu lagi. Aku juga akan bercerita pada Satsu dan Amari bahwa aku bertemu kakak dan.."
"Apa tidak apa-apa kau menceritakan ini pada mereka, Nozu?" Kak Nozomi kembali menyela perkataanku.
"Tidak apa-apa. Mereka seperti brankas besi! Mereka tidak akan membocorkan informasi apapun yang kuberikan pada mereka" jawabku bersemangat.
"Baiklah, kita bertemu tiga hari lagi disini, Nozu" Nozomi tersenyum. "Pastikan tidak ada siapapun yang mengikutimu. Jika kau membawaku hadiah makanan, aku juga punya kejutan yang akan kuberikan padamu saat kita bertemu lagi"
"Kejutan apa itu? Kakak mau membuatku tidak bisa tidur ya?" Aku mengerutkan kening.
"Hahaha.. kalau diberitahu sekarang, bukan kejutan lagi namanya" kak Nozomi tertawa pelan. "Kau juga membuatku tidak bisa tidur, menebak-nebak kira-kira apa makanan yang akan kau berikan padaku nanti"
Aku memukul lengan kak Nozomi pelan. "Kakak bisa saja! Kakak juga harus janji bertemu denganku lagi ya" aku memeluk kak Nozomi sekali lagi. "Aku sayang kakak"
"Aku benar-benar menyayangimu Nozu. Aku sangat menyayangimu" kak Nozomi berkata dengan suaranya yang lembut dan tulus sambil memelukku.
-8-8-8-
"Maaf aku tidak bisa ikut makan siang dengan kakak dan Yoshimura Hagoromo hari ini"
Hashirama terlihat bingung. "Hah? Kenapa? Kau mau kemana Tobirama?"
Tobirama menghela napas pelan. "Aku mau menemui Nozu di rumah dan mengajaknya makan siang diluar hari ini"
Hashirama tersenyum lebar. "Wah, wah, Tobirama.. kau sedang mencoba menjadi pria romantis ya? Pria romantis itu mengajak makan malam bersama, bukan makan siang bersama" Hashirama mengedipkan mata. "Setelah makan malam, kau bisa memberinya 'kejutan' yang indah"
Tobirama hanya melirik kakaknya dengan tatapan kesal.
"Tobirama, tolong jangan katakan padaku bahwa kau sepolos itu. Kau tahu apa yang kumaksud dengan 'kejutan' kan? Ayolah, kau pria dewasa!" ujar Hashirama dengan suara lebih jahil.
"Sudahlah kak, jangan menggodaku lagi" ujar Tobirama pelan. "Sekarang sudah pukul 11. Aku harus menemuinya di rumah sebelum dia mulai masak sesuatu untuk makan siang"
"Tobirama, aku jadi berpikir.." Hashirama berjalan mendekati adik semata wayangnya itu. "Belakangan ini Nozu jadi lebih galak dari biasanya. Mungkin.. mungkin dia jadi begitu karena kau kurang memperhatikannya"
Tobirama mengerutkan dahi. "Belakangan ini aku sibuk. Kakak tahu itu. Kita punya banyak masalah yang harus dipikirkan dan diselesaikan. Belakangan ini aku juga kurang tidur, mana ada waktu untuk memperhatikan Nozu seperti yang kakak bilang tadi"
Hashirama menggelengkan kepala. "Tidak, tidak Tobirama. Tidak boleh begitu. Dia itu istrimu, bukan temanmu. Kau harus berikan waktu lebih untuknya"
"Aku lebih senang kau menyebut Nozu sebagai temanku, Kak. Karena begitulah kenyataannya" balas Tobirama datar. "Kau akan merasakan bagaimana sulitnya saat kau menjalani pernikahanmu nanti"
"Oh iya, mungkin kau benar" Hashirama menenggelamkan diri di kursinya yang besar. "Sebentar lagi statusku juga sama sepertimu. Tapi aku.. aku yakin jodohku memang ada di klan Uzumaki"
"Bagaimana kakak bisa seyakin itu?" Tanya Tobirama tak acuh.
"Tobirama, kau tahu.." Hashirama mencondongkan tubuhnya ke depan. "Saat sesuatu sudah terjadi, kita harus yakin bahwa itulah yang terbaik. Saat aku sudah menikahi wanita dari klan Uzumaki, saat itulah aku tahu bahwa memang menikah dengannya adalah takdir. Begitu pula denganmu. Jika kau tidak ditakdirkan bersama Nozu, kalian tidak akan menikah"
"Mungkin kasusnya berbeda bila yang terjadi adalah pernikahan politik" sanggah Tobirama. "Pernikahan itu hanya terjadi dengan syarat kedua pihak setuju dan mendapat keuntungan masing-masing. Bukan takdir yang indah seperti perkataan Kakak tadi"
"Kau terlalu realistis, Tobirama. Tidak semua hal di dunia ini bisa dipikirkan serasional itu" Hashirama mengangkat bahu. "Ya sudahlah, bersenang-senanglah bersama Nozu! Aku yakin Ia mengalami waktu-waktu sulit belakangan ini. Ditambah lagi banyaknya orang yang semakin tidak menyukainya karena masalah dengan klan Yuki kemarin"
"Baik, kak. Aku pergi dulu. Sampaikan salamku pada Yoshimura Hagoromo" Tobirama berjalan pergi meninggalkan ruangan Hashirama.
Entah mengapa berita tentang Nozu yang dianggap memfitnah klan Yuki begitu cepat menyebar di kalangan warga biasa. Entah siapa juga yang menyebarkan berita itu tapi nasi sudah menjadi bubur. Siapapun yang melakukannya, baik Tobirama bahkan Hashirama sekalipun tidak bisa mengembalikan kepercayaan warga pada Nozu semudah membalik telapak tangan.
Banyaknya pekerjaan akhir-akhir ini dan tingkah laku Nozu yang galak memang membuat Tobirama enggan berinteraksi banyak dengan wanita Hagoromo itu. Bukankah lebih baik menyelesaikan masalah dan bukan menambah masalah? Bagaimana bisa Ia memberi perhatian lebih pada Nozu disaat perbincangan mereka selalu berakhir dengan tensi tinggi? Tobirama benci itu. Adanya ketegangan seperti itu dalam satu rumah juga membuatnya tidak tenang. Karena itu selama ini Ia memutuskan untuk diam saja.
'Semoga saja hari ini dia sedang dalam kondisi baik. Mungkin kali ini kita bisa membicarakan sesuatu yang lebih menyenangkan'
Setibanya di rumah Senju, Ia disambut beberapa anak buah Hashirama didepan pintu.
"Selamat siang Tuan Tobirama. Ada keperluan apa hingga Tuan pulang ke rumah di siang hari?"
"Nozu ada di dalam kan? Dia sedang ada dimana?" Tanya Tobirama langsung.
"Tadi baru saja saya melihat Nyonya Nozu memberi makan burung merpatinya, lalu masuk lagi ke rumah" jawab anak buahnya.
Tobirama masuk ke dalam rumah. Sepertinya Nozu ada di dapur. Ia berjalan menuju dapur. Nozu yang tengah mencuci sayur dan buah menoleh pada Tobirama yang baru masuk ke dapur.
"Tobirama, kenapa kau pulang siang? Ada sesuatu yang harus kau ambil?" Tanya Nozu dengan wajah bingung.
"Aku ingin makan siang di rumah makan Tenpakki tapi kakak dan Yoshimura Hagoromo memilih makan di tempat lain. Siapa tahu kau juga ingin makan siang di tempat yang sama denganku" Tobirama berusaha membuat suaranya terdengar sebiasa mungkin.
"Boleh saja" Nozu segera membalas. Entah kenapa Nozu langsung setuju. "Untung aku belum buat apa-apa"
"Kalau kau sudah memasak sesuatu, kita bisa makan masakanmu nanti malam. Ayo pergi" Tobirama berjalan keluar dari dapur.
Nozu melepaskan apronnya dan berjalan mengikuti Tobirama. Ia hanya membetulkan tusuk kondenya dan keluar rumah bersama Tobirama menuju rumah makan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
'boff, boff, boff.. DARR!'
Seketika saat keluar dari halaman rumah, mereka dikejutkan dengan adanya serangan bom asap dan kunai yang dilemparkan seseorang. Serangan kunai itu berlangsung bertubi-tubi, mencoba melukai mereka dari segala arah. Tobirama menghalau kunai-kunai itu dengan pedangnya. Adanya asap yang tak kunjung hilang membuat jarak pandang Tobirama makin pendek. Ia mencoba mendeteksi dimana Nozu berada untuk memastikannya baik-baik saja. Dari pergerakan dan bunyi dentingan kunainya, Tobirama dapat merasa bahwa Nozu tengah terdesak. Secepat mungkin Ia berlari ke arah Nozu dan menariknya. Namun ada sesuatu yang membuat Nozu tidak dapat beranjak dari tempat berdirinya tadi.
Karena ledakan tiba-tiba tadi, kaki Nozu terjepit banyak reruntuhan kayu, membuatnya tidak dapat ditarik. Tobirama berusaha menarik Nozu secepat mungkin, namun serangan kunai yang makin cepat membuat Tobirama tidak bisa menghalau beberapa senjata yang mengarah ke Nozu.
'Poff'
"Hah?"
Nozu menghilang setelah tertusuk kunai. Apa? Jadi Nozu yang ada di rumahnya hanyalah bayangan? Lalu dimana Ia yang asli? Bagaimana bisa Tobirama terlambat menyadarinya?
Setelah serangan senjata itu berhenti, ada sehelai kertas yang jatuh tepat di hadapan Tobirama. Ia membaca isinya yang ternyata berisi surat ancaman yang ditulis dengan darah.
NOZU HAGOROMO, JIKA KAU MASIH SAYANG NYAWAMU, PERGILAH KE WILAYAH PERBATASAN TENGAH MALAM INI. JIKA TIDAK, BERSIAPLAH MENGHADAPI KEMATIAN YANG LEBIH MENGERIKAN LAGI!
"Tuan Tobirama, apa anda baik-baik saja?" Anak buah Tobirama dan Hashirama yang diperintahkan menjaga Nozu datang setelah mendengar keributan tadi. "Dimana Nyonya Nozu?"
"Apa kalian melihat ada seseorang mencurigakan yang mengintai rumah ini?" Tobirama balik bertanya.
"Selama satu minggu ini tidak ada yang aneh, Tuan" jawab seorang anak buahnya.
Tobirama mengerutkan dahi. Siapa yang mengirim surat ini dan dimana Nozu sekarang? Apa mereka sudah menangkapnya? Tobirama berusaha tenang. Apa Nozu menggunakan kagebunshin karena Ia merasa ada bahaya yang mengintai?
Tobirama mengaktifkan mode deteksinya, mencoba mencari keberadaan Nozu di sekitar rumah. Nozu tidak ada disana. Lalu dimanakah dia berada sekarang?
"Kalian tetaplah berjaga disini untuk antisipasi adanya serangan lanjutan" Tobirama menunjukkan surat ancaman itu pada anak buahnya. "Ada yang punya niat tidak baik pada Nozu, aku akan cari tahu siapa dia"
"Baik Tuan Tobirama"
Tobirama berlari secepat mungkin menyusuri wilayah Senju. Seharusnya Nozu tidak pergi jauh. Ada dimana Ia sekarang? Apa Ia terluka? Tidak mungkin mereka menangkap Nozu. Tobirama yakin Nozu tidak selemah itu. Jika memang Nozu merasa ancaman itu dari dulu, kenapa Ia tidak memberitahunya? Tobirama sadar, mungkin saja Nozu enggan bicara karena wanita itu berpikir Tobirama tidak peduli pada keselamatannya.
Pikiran Tobirama segera kembali begitu Ia merasakan chakra Nozu ada di suatu tempat yang letaknya dekat dengan wilayah perbatasan. Tobirama mempercepat langkahnya. Di surat ancaman tadi, ada orang yang meminta Nozu datang ke wilayah perbatasan.
'Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi disana'
Chakra Nozu semakin terasa kuat saat Tobirama mendekati daerah perbatasan. Ada chakra seseorang yang tengah bersamanya. Chakra ini terasa tidak asing. Auranya terasa seperti laki-laki. Siapa laki-laki yang tengah bersama Nozu disana? Apa si pengirim surat ancaman tadi?
Langkah Tobirama terhenti ketika Ia menemukan Nozu sedang berdiri bersama seorang pria yang begitu dikenalnya. Tobirama yakin Ia pernah mendeteksi chakra pria itu sebelumnya.
Nozomi Hagoromo.
"Tobirama Senju, lama tidak bertemu" sapa Nozomi sopan.
Tobirama berusaha mengatur napasnya dengan baik. "Kau.. apa yang kau lakukan disini? Nozomi, apa kau yang mengirim surat ancaman dan jebakan di depan rumah kami?" Tobirama bertanya tanpa basa-basi.
"Tobirama, apa yang kau katakan? Kak Nozomi tidak melakukan apa-apa" balas Nozu. "Kenapa kau menuduhnya begitu?"
"Kenapa kau pergi dari rumah tanpa seizinku? Kenapa kau pergi dari rumah tanpa sepengetahuanku?" Tobirama balik bertanya pada Nozu dengan napas yang masih terengah-engah.
Nozu terlihat takut. "Aku kemari karena..."
"Karena ingin bertemu denganku. Tobirama, kau jangan salah paham" Nozomi menyela perkataan Nozu. "Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan bersama"
"Nozu, kau.." Tobirama melempar tatapan sinis pada Nozu. "Apa kau membelot dan memberitahu semua rencana Senju pada Nozomi yang merupakan kaki tangan Uchiha?" Tanya Tobirama sinis.
"Jangan berprasangka dulu, adik ipar" balas Nozomi ringan. "Kau selalu punya pikiran tidak baik pada adikku, sepertinya itulah yang terjadi selama ini"
"Aku tidak memberitahu apapun!" Teriak Nozu tidak terima. "Kakak bisa lihat sendiri bagaimana pikirannya tentang aku? Karena itulah semuanya terjadi, kak. Aku tidak pernah berpikir apapun tentangnya tapi dia.."
"Cukup Nozu!" Bentak Tobirama dengan suara keras. "Bagaimana bisa kau memberitahu apa yang terjadi pada musuh?"
"Dia bukan musuh. Dia kakakku! Dia kakak iparmu!" Nozu balas berteriak. "Kenapa perkataamu tidak sopan sekali, menuduh dan berteriak seperti itu pada kak Nozomi?"
"Aku tidak punya keluarga yang bergabung dengan Uchiha" ujar Tobirama kesal.
Kenapa semua selalu berakhir seperti ini disaat Tobirama ingin memperbaiki hubungannya dengan Nozu? Bukannya memperbaiki, apa yang terjadi malah memperburuk hubungan mereka dibanding segalanya. Ia mengkhawatirkan Nozu. Ia khawatir ada hal buruk yang terjadi pada wanita itu. Tapi Nozu tidak menghargai perasaannya sama sekali. Perkataan dan perbuatan Nozu sungguh membuatnya kesal.
"Tobirama selagi kita bertemu, ada yang ingin kusampaikan padamu" Nozomi berjalan mendekati Tobirama. "Bisa kita bicara berdua saja. Aku hanya menganggapmu sebagai adik ipar, tidak lebih. Karenanya tolong turunkan tensi diantara kita sejenak" Ia menoleh pada Nozu. "Apa tidak apa-apa jika kakak bicara dengan Tobirama sebentar?"
Nozu mengangguk. "Jika ada yang mau kakak katakan padanya, aku akan menunggu disini"
Tobirama merasa tidak yakin. Terakhir kali Ia bertemu dengan Nozomi di medan perang. Saat itu Ia bahkan membantu Izuna untuk melukainya. Bagaimana bisa Ia percaya pada Nozomi semudah itu? Nozomi yang ada di ingatannya adalah Nozomi yang sudah mirip dengan Madara. Tapi yang ada dihadapannya sekarang? Nozomi terlihat berbeda. Ia lebih tenang dan auranya terasa seperti saat dulu Ia belum bergabung dengan Uchiha. Apa Nozomi tengah menjebaknya? Tidak, pertahanan dirinya tidak boleh longgar. Mungkin saja Nozomi menjadikan kesempatan ini untuk membalas kematian Izuna.
"Terserah jika kau masih curiga padaku. Tidak apa-apa. Kuharap kau mau bicara padaku setelah apa yang terjadi diantara kita selama ini" Nozomi tersenyum. "Soal pertarungan kemarin, maaf.. aku terpaksa melukaimu"
"Tidak perlu basa-basi" balas Tobirama dingin. "Cepat katakan apa yang mau kau katakan. Setelah selesai, aku akan bawa Nozu pulang bersamaku"
"Tobirama..." Tatapan Nozomi pada Tobirama berubah sendu. "Kau bilang tadi ada yang mengirim surat ancaman untuk Nozu?"
"Benar" jawab Tobirama datar. "Untuk kebaikan dan keselamatannya, aku akan menjaganya lebih ketat setelah ini"
"Tobirama Senju. Aku sungguh mengenalmu, baik sebagai adik, rekan sepertarungan, lawan, maupun sebagai pria" tatapan Nozomi beralih ke Nozu yang tengah menunggu mereka sambil duduk dibawah pohon. "Aku hanya punya dua hal paling berharga dunia ini, Nozu dan Hana. Aku sangat berterima kasih jika kau bisa menjaga salah satu hartaku yang paling berharga. Kau tahu? Jika bukan karena Nozu menyukaimu, Ia tidak akan mau berpisah denganku dan bergabung dengan Senju"
"Dia bukan melakukannya karena perasaan, aku tahu itu" sela Tobirama. "Yang diinginkan Nozu sama seperti kakakku, Hashirama. Ia ingin menghentikan perang antar klan yang tiada habisnya ini. Karena itulah Ia bergabung dengan Senju yang menurutnya bisa memberi bantuan lebih untuk mencapai tujuannya"
"Aku punya satu pertanyaan untukmu" Nozomi tersenyum. "Aku tahu kau ninja tipe deteksi tingkat tinggi. Tapi bukankah kau kesulitan mendeteksi pergerakan chakra Nozu? Bukankah kau kesulitan mengenali yang mana chakra bayangan dan chakra tubuh aslinya? Tidakkah kau penasaran akan hal itu?"
"Darimana kau tahu semua itu?" Tanya Tobirama curiga.
"Adik ipar, kau lucu sekali. Tentu saja Nozu yang malang sudah menceritakan apa yang terjadi selama ini, sejak Ia datang ke wilayah Senju hingga sekarang" Nozomi terkekeh. "Jangan marah. Ia tidak punya tempat bercerita dan bukankah wajar jika Ia bercerita pada kakaknya? Jujur, aku terkejut ketika kau tidak langsung sadar Nozu mengirim kagebunshinnya untuk datang di pertemuan klan Minggu kemarin"
Tobirama diam. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan Nozomi padanya?
"Lalu, tidakkah kau bingung kenapa sekarang kau bisa menemukannya dengan mudah?" Nozomi bertanya lagi.
"Berhenti menanyakan hal-hal aneh padaku dan katakan apa yang ingin kau sampaikan padaku langsung" ujar Tobirama kesal.
"Aku tahu dari ekspresimu. Saat kau pertama kali tiba kemari, kau khawatir hal buruk yang terjadi pada Nozu. Kau peduli padanya" Nozomi tersenyum. "Saat ada perasaan sayang dan peduli pada Nozu, saat itulah kau baru bisa merasakan keberadaannya, sejauh apapun Ia berada. Bukankah adikku wanita yang cantik dan tangguh? Jika kau peduli dan sayang padanya, kehidupan pernikahan kalian akan lebih hangat. Pernikahan, meskipun untuk tujuan politik sekalipun, adalah momen sakral penyatuan dua manusia dan kau harus memahaminya lebih. Jika kau memang mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatannya seperti yang kau katakan tadi, tolong jangan hanya memberinya penjaga dan menawannya di rumah. Sayangi dan pedulikan Ia. Jika kau melakukannya, kau pasti tahu seberapa besar cinta yang dimiliki Nozu untukmu Tobirama, hanya untukmu"
Tobirama menghela napas. "Kenapa kau malah menceramahiku soal bagaimana kehidupan pernikahan yang baik? Apa hanya itu yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Tidak" balas Nozomi cepat. Ia menatap Tobirama drngan tatapan aneh. "Aku ingin minta tolong padamu untuk menjaga Nozu. Setelah kulihat, kau adalah orang terbaik yang bisa menjaganya selain aku"
Tobirama melempar tatapan bingung ke arah Nozomi. Mungkin permintaannya terdengar biasa. Ia hanya meminta Tobirama menjaga Nozu karena Ia sangat menyayangi Nozu dan Ia tidak bisa menjaganya lagi karena sekarang Nozomi adalah bagian Uchiha. Tapi entah mengapa, ada perasaan lain yang tidak sesederhana ucapan Nozomi dalam ucapannya. Perasaan itu entah apa, Tobirama tidak bisa menerjemahkannya kedalam kata-kata.
"Tentu saja. Aku akan menjaganya lebih baik dari siapapun di Senju" balas Tobirama datar. "Kau tidak perlu khawatir"
Nozomi tersenyum lebar. "Maukah kau berjanji padaku untuk menjaga Nozu meski dalam keadaan seburuk apapun?"
Tobirama mengangguk. "Ini janjiku padamu. Aku akan menjaga adikmu walau dunia terbalik sekalipun. Apa kekhawatiranmu sudah hilang? Kenapa kau terlihat begitu khawatir?" Tobirama balik bertanya.
"Banyak yang berkata padaku seorang Senju tidak akan melanggar janjinya sampai mati" Nozomi tersenyum simpul. "Aku tahu kau memang tipikal pria Senju seperti itu. Terima kasih Tobirama. Kuucapkan terima kasih dengan segenap jiwaku"
"Kau tidak perlu berterima kasih seperti itu" balas Tobirama. "Lagipula sekarang Nozu bukan lagi Hagoromo. Sekarang namanya adalah Nozu Senju. Aku bingung kenapa banyak orang yang masih memanggilnya Nozu Hagoromo"
"Yah, kau benar. Sekarang dia adalah Senju dan Hagoromo" Nozomi tertawa ringan. "Oh iya, jika aku menambahkan Hana dalam janjimu, bisa kah?" Nozomi bertanya lagi.
"Apa? Menambahkan Hana? Maksudmu kau memintaku menjaga Hana juga?" Tanya Tobirama tidak mengerti. "Bagaimana bisa? Dia tanggung jawabmu. Aku tidak bisa menjaganya, dia tinggal di wilayah Uchiha denganmu"
"Hahahaha, kau benar.. kau pintar juga" Nozomi tertawa pelan. "Tapi Hana belum menikah, selain aku yang menjaganya, pada siapa lagi aku bisa minta tolong? Kau mau kan Tobirama?"
"Aku tidak keberatan" jawab Tobirama. "Nozu sekarang adalah keluargaku, begitu pula kau dan Hana. Aku jadi makin bingung, bagaimana bisa keluargaku tinggal bersama Uchiha? Kenapa kau tidak ikut Nozu untuk bergabung dengan kami saja? Bukankah dengan begitu kau bisa menjaga kedua adikmu sekaligus?". Apapun hasilnya tidak masalah, Tobirama merasa ini saat yang cocok untuk mengajak Nozomi dan adiknya bergabung dengan Senju.
"Aku.. aku harus memikirkannya lagi" balas Nozomi. "Ah! Oh iya, ada satu hal penting lagi yang harus kuberitahu padamu"
Tobirama mengangkat alis. "Apa itu?"
"Rahasia ini hanya diketahui orang-orang Hagoromo saja. Ini tentang Yoshimura Hagoromo yang baru saja bergabung dengan Senju" Nozomi berkedip jahil. "Kau harus hati-hati dengannya. Ia tangan kananku dan Ia sangat menyukai Nozu. Apa kau memperhatikan gerak-geriknya saat bersama Nozu? Dia sempat meminta aku menikahkannya dengan Nozu. Tapi kutolak karena saat itu Nozu tidak menyukainya. Jangan sampai dia mengambil tempatmu, Tobirama?" Nozomi menepuk pundak Tobirama pelan.
"Apa yang kau katakan? Yoshimura Hagoromo menyukai Nozu? Sudah seharusnya dia menghapus perasaannya karena wanita yang disukainya sudah menikah" ujar Tobirama sebal.
"Wah, wah.. kau langsung berkomentar banyak ya" Nozomi mengangkat alis. "Tidak kusangka ternyata hal inilah yang paling membuatmu bersemangat. Jika memang begitu, akuilah kau menyukai adikku"
'Apa katanya? Aku menyukai Nozu?'
Tobirama mendengus sebal. Tidak mungkin. Apa yang dikatakan Nozomi benar? Atau dia hanya sedang menggodanya sekarang? Seperti yang biasa dilakukan Hashirama padanya? Kenapa sekarang Tobirama merasa kesulitan membedakan mana benar dan tidak?
Nozomi berjalan mendekat ke Tobirama dan mengulurkan tangan. "Terima kasih banyak Tobirama Senju. Mungkin di lain waktu, kita bisa menjadi teman, bahkan saudara"
"Bahkan sekarang kita sudah menjadi teman dan saudara" Tobirama menyambut uluran tangan Nozomi, menjabatnya dengan erat. "Aku berharap kau bisa menyikapi posisi dan perananmu dengan bijaksana dalam peperangan ini"
"Wah, aku menerima nasihat pertama dari adik iparku" Nozomi terkekeh. "Kau tahu? Kau adalah adik ipar pertamaku. Mungkin karena itulah aku merasa punya ikatan yang kuat denganmu"
Tobirama tersenyum mendengar perkataan Nozomi. Jika dilihat lagi, Nozomi sesungguhnya punya sifat yang mirip dengan kakaknya, Hashirama.
Nozomi bersiul dan melambai pada Nozu yang masih menunggu dibawah pohon. Nozu menoleh dan berjalan mendekat, lalu memeluk Nozomi
"Sudah selesai bicaranya, lama sekali?" Nozu terlihat bingung.
"Tanyakan saja pada kakakmu ini. Ternyata setelah bicara lebih lama, kakakmu sama anehnya denganmu" jawab Tobirama tak acuh.
"Yah, namanya juga kakak beradik. Kau harus maklum" Nozomi tertawa ringan. Mendadak pandangannya berubah serius. "Tobirama, kita akan bertemu lagi dua hari lagi. Persiapkan dirimu"
Tobirama terkejut. "Apa maksudmu dua hari lagi Madara.."
"Benar. Aku yakin kalian tidak menyadari hal ini. Semoga kalian bisa menyikapi informasi ini sebaik mungkin" Nozomi berjalan pergi. Ia melompat ke atas pepohonan.
"Kak Nozomi, apa tidak apa-apa?" Nozu memandang kakaknya khawatir.
"Tidak apa-apa Nozu. Akan aneh jadinya jika Madara bertemu Senju tanpa persiapan" Nozomi bicara tanpa menoleh kebelakang. "Dua hari lagi, siapkan pasukan kalian di daerah perbatasan sejak subuh. Aku tidak tahu kapan Madara memulainya"
"Terima kasih atas informasinya" ujar Tobirama sopan.
"Anggap saja kita impas kalau begitu" Nozomi tertawa pelan. Ia menoleh kebelakang. "Sampai jumpa lagi, Nozu. Kakak sangat menyayangimu" Nozomi tersenyum tulus pada Nozu.
"Aku juga sayang padamu kak, Nozomi!" Nozu melambai. "Janji ya, kita akan bertemu lagi!"
Nozomi mengangguk. Sesaat kemudian Ia menghilang dibalik rimbunnya pepohonan.
"Ayo pulang! Untung saja tidak terjadi apa-apa" Tobirama mulai berjalan pulang.
Nozu mengikuti langkah Tobirama. "Maaf aku tidak memberitahumu.."
"Sudahlah" sela Tobirama. "Yang penting hari ini semua baik-baik saja"
Tiba-tiba Nozu menghentikan langkahnya. Ia terpaku menatap Tobirama yang masih terus berjalan. Membuat Tobirama mau tak mau berhenti berjalan dan menoleh kebelakang.
"Ada apa lagi?" Tanya Tobirama heran.
"Tobirama, apa kita.." Nozu terdiam sejenak, lalu kembali menatap Tobirama. "Bagaimana kalau kita tidak bisa jadi satu keluarga lagi?"
Tobirama mendengus sebal. "Apa maksudmu? Kau mau kita bercerai dan menikah dengan pria lain?"
"Eh, bukan begitu" sanggah Nozu cepat. "Tapi bagaimana jika..."
"Kita adalah satu keluarga. Tapi tidak dengan kakak dan adikmu. Jika kau ingin mereka jadi satu keluarga dengan kita, ajak mereka bergabung. Aku yakin kak Hashirama sangat senang mendengarnya seperti menang undian lotre"
"Kau benar" Nozu tersenyum hambar. "Yah, mungkin suatu hari aku akan bicarakan dengan kak Nozomi"
Tobirama menggelengkan kepala. Dua kakak beradik Hagoromo itu memang mirip, tidak berhenti mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.
Selama perjalanan pulang tidak ada percakapan lain antara mereka. Nozu hanya diam. Sementara Tobirama terus menebak-nebak mengapa Nozomi memberitahu informasi kapan Madara akan menyerang pada Senju. Bukankah dengan melakukan itu, Nozomi mengkhianati Madara? Sungguh di masa peperangan ini, sulit membedakan mana yang lawan dan kawan.
Tobirama seharusnya merasa lebih tenang. Setelah mengetahui informasi itu, Ia akan secepatnya menyusun strategi bersama Hashirama. Pengikut Madara juga sudah tidak sebanyak dulu sejak banyak orang Uchiha yang mengungsi ke Senju. Sebaliknya mengapa Ia merasa lebih khawatir daripada sebelumnya?
Tobirama menghela napas. Tidak ada yang bisa dilakukannya pada masa depan selain berdoa semoga hanya hal baik yang akan datang kedepannya.
To be continued..
A/N : Hola Readers.. kita berjumpa lagii.. :)
Terima kasih untuk Readers yang sudah mengikuti kelanjutan fic ini.. Akhirnya saya bisa publish chapter 12.. rasanya senang sekali.. :D
Bagaimana pendapat kalian tentang chapter ini? Semoga penulisannya tidak membingungkan yaa.. :))
Saya cukup senang menulis percakapan Nozomi dan Tobirama, baru kali ini mereka ketemu bicara banyak, haha..
Kritik dan saran kedepannya dari Readers akan saya terima dengan senang hati.. Saya juga akan berusaha update secepat yang saya bisa..
See you on the next chapter!!
