Disclaimer : Semua tokoh di Naruto hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OC, OOC, Mis-typo (s)

Rated : M

Chapter 13 : Time To Farewell

Pagi ini hujan.

Sejak aku membuka mata, hujan sudah turun. Aku memutuskan untuk bangun walaupun udara terasa begitu dingin dan langit masih gelap. Entahlah, ada banyak hal di kepalaku sehingga aku memilih untuk membuka mata di pagi sedingin es ini.

Setelah bangun, aku segera berjalan menuju meja dan minum segelas air. Tatapanku tertuju pada Tobirama yang masih tidur. Derasnya suara hujan sepertinya membuat Ia tidak bisa merasa aku sudah bangun. Di hari-hari biasa, saat aku turun dari tempat tidur, Ia pasti membuka mata walaupun tidak mengatakan apapun. Aku memandang punggung dan rambut putihnya sambil tersenyum.

'Ninja hebat sepertimu bisa ditipu hujan ya?'

Setelah bertemu kak Nozomi, Tobirama langsung menyampaikan informasi serangan Madara Uchiha lusa besok pada pasukan perang Senju dan Hagoromo. Kak Hashirama memutuskan untuk mengirim ulang surat perjanjian gencatan senjata hari ini. Kak Hashirama merasa gencatan senjata adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Mengingat Madara tidak punya pengikut sebanyak dulu, mungkin saja korban di pihak Uchiha bisa bertambah banyak.

Setelah menyelesaikan surat perjanjian gencatan senjata baru, Tobirama dan kak Hashirama berdiskusi sepanjang malam untuk menyusun strategi cadangan bila Madara masih tidak setuju dengan gencatan senjata yang ditawarkan Senju. Karena itulah Tobirama baru pergi tidur lewat tengah malam.

Setelah mandi dan merapikan rambut, aku terpaku didepan meja rias. Walaupun pandanganku lurus menatap cermin, pikiranku melayang ke pembicaraan dengan kak Nozomi kemarin.

*

"Nozu, kenapa kau bawakan makanan sebanyak ini untukku?"

Aku tersenyum tipis. "Ini makanan kesukaan kakak. Aku tahu kakak sudah lama tidak makan ini sejak aku pergi. Kak Nozomi, ayo makan yang banyak"

Kak Nozomi tersenyum lebar dan mulai memakan makanan yang kubawa untuknya hari ini. Bila dipikir lagi, sudah lama aku tidak melihat kak Nozomi makan didepanku.

"Nozu, apa kau baik-baik saja? Kenapa memperhatikanku seperti itu?" Kak Nozomi bertanya heran.

"Tidak apa-apa" jawabku spontan. "Aku senang melihat kakak banyak makan"

"Hahaha, kau senang melihatku bertambah gemuk kalau begitu" gurau Kak Nozomi sambil tertawa ringan.

Aku menggelengkan kepala. "Bukan begitu! Aku senang kak Nozomi tidak kelaparan"

"Nozu, apa kau sudah tahu bahwa Madara Uchiha akan mengadakan pertemuan lagi dengan Hashirama Senju lusa besok?" Tanya kak Nozomi dengan suara rendah.

"Benarkah?" Aku yang terkejut bertanya balik. "Aku tidak tahu kak. Yang kutahu dengan kondisinya sekarang, Madara kekurangan pendukung. Kak Hashirama sudah mengirim perjanjian gencatan senjata tapi sepertinya Madara tidak menerimanya"

"Madara akan membawaku dan Hana serta beberapa anggota klan Hagoromo untuk melawan lagi" balas Nozomi.

Aku membelalakan mata. "Apa? Kenapa harus bertempur lagi? Bukankah lebih baik jika kita melakukan gencatan senjata?"

"Nozu, dengarkan aku" kak Nozomi bicara serius. "Aku mau kau dan bawahanmu yang ada di Senju ikut pertarungan itu. Aku dan Hana akan membawamu pergi dari Senju. Setelah berpikir ulang, kita tidak bisa bekerja sama dengan Senju maupun Uchiha untuk menghentikan perang ini. Mereka klan besar dengan harga diri tinggi yang tidak mau tunduk pada siapapun. Mereka akan selalu mementingkan kepentingan mereka saja, seperti yang kau lihat dengan mata kepalamu sendiri"

"Kak Nozomi, tapi.. bagaimana bisa kita pergi diam-diam di tengah pertarungan seperti itu?" Aku makin bingung. "Bukankah itu tidak mungkin?"

"Lebih tidak mungkin lagi bila kita memberitahu Senju dan Uchiha kita akan pergi" jawab kak Nozomi segera. "Madara bisa membunuhku bila Ia tahu aku mencoba kabur karena aku sudah tahu terlalu banyak rahasia Uchiha" lanjutnya getir.

"Kenapa.. Madara kejam sekali, kak?" Aku tidak habis pikir. "Walaupun kakak tahu rahasia Uchiha, kakak tidak akan melakukan apapun 'kan? Kita hanya ingin pergi dari mereka. Itu saja!"

"Benar, Nozu. Kita tidak akan berperang dengan klan lain. Kita hanya akan mencari tempat tinggal untuk hidup berdampingan dengan yang lain. Madara Uchiha tidak akan tunduk pada Senju. Aku yakin itu. Peperangan antara Senju dan Uchiha tidak akan berakhir" lanjut kak Nozomi. "Aku tidak ingin melihatmu dan Hana lebih menderita daripada ini. Aku sudah berjanji pada ayah dan ibu untuk melindungi kalian. Setelah kau pergi dari Senju, klan kita bisa mulai hidup yang baru di negara lain"

Aku bingung. Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku ikut pergi dengan kak Nozomi atau..

"Bagaimana Nozu? Kau setuju?" kak Nozomi bertanya lagi padaku.

"Aku hanya berpikir.. Hashirama Senju sepertinya sudah menganggapku sebagai adiknya sendiri. Ia bahkan mempercayakan catatan kesehatan seluruh anggota klan Senju padaku. Bagaimana bisa aku membalas kepercayaannya dengan pergi begitu saja?" tanyaku ragu.

"Nozu, Hashirama Senju adalah seorang ketua klan. Seorang ketua pasti akan melakukan apapun demi keuntungan klannya. Apabila Ia merasa ada orang hebat yang dapat membantunya, bagaimana bisa Ia melewatkan kesempatan itu? Tidak ada orang lain di klan Senju yang memiliki pengetahuan medis tingkat tinggi sepertimu. Bahkan kau adalah kunoichi medis terhebat di klan Hagoromo. Karena itu Hashirama Senju percaya padamu". Kak Nozomi menggenggam tanganku. "Kau tidak bisa terus menderita disana, Nozu. Kau juga harus menemukan kebahagiaanmu sendiri"

Aku tertegun mendengar perkataan kak Nozomi. Ada benarnya juga apa yang dikatakannya. Selama ini Hashirama Senju hanya memanfaatkanku yang sangat mudah tertipu.

"Tapi bagaimana strategi kita agar kita bisa pergi dari medan perang tanpa sepengetahuan mereka?" Tanyaku ingin tahu. "Kita tidak mungkin pergi begitu saja 'kan?"

Kak Nozomi mengerutkan dahi. "Ada rencana yang kupikirkan akhir-akhir ini. Jika bertemu di medan perang nanti, Hashirama akan berhadapan dengan Madara, sementara kau melawan Hana dan aku melawan Tobirama. Kau dan Hana bisa berpura-pura bertarung di tempat yang jauh, bawa semua anggota klan bersama kalian. Kalian tunggulah aku di dekat laut Utara. Madara tidak akan memperhatikanku saat melawan Hashirama. Setelah mengalahkan Tobirama, aku akan menyusul kalian ke laut Utara dan kita pergi bersama"

"Bagaimana dengan wanita dan anak-anak dari klan kita?" Aku bertanya kembali. "Mereka tidak ikut berperang"

"Mereka akan keluar dari wilayah Uchiha saat perang berlangsung. Madara pasti membawa semua pasukannya ke medan perang. Penjagaan disekitar tempat tinggal pasti longgar. Saat itulah mereka bisa melarikan diri" jawab kak Nozomi.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk memahami rencana panjang kak Nozomi dan memikirkan segala konsekuensinya. "Mengalahkan Tobirama? Dia bukan lawan yang bisa dikalahkan semudah itu, kak. Aku tidak mau kakak terluka karena bertarung dengannya"

"Aku tahu" Nozomi tersenyum. "Aku tahu aku tidak bisa mengalahkan Hashirama Senju, tapi aku yakin bisa menang dari Tobirama"

"Kakak akan terlibat pertarungan hidup-mati dengannya kalau begitu" aku mulai khawatir. "Apakah tidak ada rencana lain selain ini, kak?"

"Aku tidak akan mati bila melawannya, Nozu" kak Nozomi berusaha meyakinkanku.

"Kalau begitu, kakak akan membunuhnya?" Aku bertanya lagi. "Kenapa harus sesulit itu?"

"Aku tahu kau menyukai pria itu, Nozu. Karena alasan itu, aku tidak akan membunuhnya" jawab kak Nozomi pelan. "Aku akan mengalahkannya tanpa membunuhnya. Aku janji"

"Cara ini terlalu beresiko" Aku merasa tidak tenang. "Aku yakin ada cara lain yang lebih aman. Bagaimana jika kak Nozomi, Hana dan yang lain bergabung dengan Senju? Minta bantuan kak Hashirama. Dia pasti senang bisa membantu kakak meninggalkan Uchiha"

"Tidak bisa, Nozu" sela kak Nozomi getir. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya. "Jika Hashirama Senju mengizinkanmu untuk meninggalkan Senju, lain halnya dengan Madara Uchiha. Aku, Hana dan orang-orang kita disana tidak akan dibiarkannya keluar hidup-hidup. Hanya dengan cara ini aku bisa mengeluarkan Hana dan orang-orang kita disana dengan selamat"

Aku diam. Perasaanku masih tidak tenang. Selain merasa rencana ini terlalu tiba-tiba, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku.

"Semakin aku mengenal Madara Uchiha, semakin aku mengenal sifat buruknya. Sejak kematian Izuna, dia berubah. Madara bisa jadi ancaman di masa depan. Dunia tidak akan berhenti berperang jika Ia masih hidup" kak Nozomi tertunduk lesu. "Aku sangat menyesali keputusanku bergabung dengannya. Setelah mengetahui rahasia Sharingan, kukira dojutsu itu bisa membantu kita menghentikan perang. Tapi yang kudapat.. hanya melihat penderitaan Hana dan yang lain dibawah pimpinannya" lanjutnya dengan mata berkaca-kaca saking kesalnya.

Otakku mulai terasa seperti mesin simulasi yang langsung memikirkan kemungkinan apa yang terjadi dengan rencana kak Nozomi.

"Jika kita pergi dari Senju dan Uchiha, bukankah Madara akan tahu kakak pergi membawa rahasia Uchiha? Ia tidak akan membiarkan kita hidup tenang, kak. Madara pasti balas dendam" Aku mengutarakan hasil pemikiranku.

"Aku sudah mempertimbangkan hal itu Nozu. Karena itulah.. " Kak Nozomi tersenyum lirih. "Dengan semua informasi yang kudapat tentang Uchiha, di pertarungan nanti aku akan membantu Senju membunuh Madara"

"Kakak mengkhianatinya kalau begitu" ujarku muram. "Madara.. dia pasti tidak bisa memaafkanmu, kak"

"Tidak apa-apa jika dia membenciku seumur hidup. Dengan begitu, walau di masa depan ada Madara selanjutnya, kita punya waktu untuk menata ulang hidup dari awal. Aku sudah berdiskusi dengan paman Yamada dan Hana. Setelah melarikan diri dari medan perang, kita akan terpecah menjadi beberapa kelompok dan pergi ke wilayah berbeda. Selanjutnya untuk menyamarkan identitas, kita akan bergabung dengan klan lain. Tanpa memberitahu jati diri sebenarnya, kita bisa lebih diterima. Beberapa tahun kedepannya, aku yakin tidak ada yang mengetahui dimana keadaan klan Hagoromo sebenarnya. Dengan begitu bawahan Madara akan sulit menemukan kita" jelas kak Nozomi panjang lebar.

"Walaupun hanya aku yang tahu pasti apa sebenarnya rahasia Uchiha, Madara pasti tidak hanya membalas dendam padaku seorang. Ia tipikal pria yang menuntaskan dendamnya hingga akar. Siapapun orang Hagoromo yang ditemuinya pasti dibunuh juga" lanjutnya kemudian. "Beritahu ini pada Yoshimura dan orang-orangmu disana. Kita bertemu lagi di area perbatasan lusa besok. Mengerti?"

Aku menutup mata, mencoba memikirkan semua perkataan kak Nozomi dengan seksama. Aku harus mengambil keputusan. Jika tidak sekarang, lalu kapan?

Aku sudah muak dimanfaatkan mereka. Mungkin kak Nozomi benar. Aku harus memulai hidup baru yang jauh dari orang-orang Senju itu.

Aku menoleh pada kak Nozomi. "Baiklah kak. Aku akan meninggalkan Senju dengan orang-orangku. Aku akan beritahu ini pada kak Yoshi dan yang lain"

Kak Nozomi tersenyum mendengar perkataanku.

*

Aku menghela napas panjang. Aku tidak bisa tidur karena terus memikirkan rencana itu dari malam. Pikiranku kacau dan bingung. Kemarin sore, aku sudah mengabari kak Yoshi dan diluar dugaan Ia setuju tanpa banyak komentar. Kenapa aku merasa ada yang salah dengan semua ini? Apa aku sudah mencintai Senju seperti keluarga sendiri sehingga berat rasanya untuk pergi? Atau aku belum rela meninggalkan kak Hashirama dan Tobirama? Untuk apa aku berpikir begitu? mereka bisa hidup dengan baik bahkan sebelum aku datang. Selama ini mereka juga menganggapku tidak ada.

"Kau sudah bangun?"

Saking terkejutnya hampir saja aku melompat dari tempat dudukku.

"Eh iya.." jawabku sekenanya.

Tobirama masih terlihat lelah namun entah mengapa Ia memaksakan diri bangun. Ia menatap jendela, mengamati hujan yang belum berhenti.

"Sebelum aku tidur hujan dan masih hujan saat aku bangun" Tobirama bangun dari tempat tidur. "Padahal hari ini Toka dan Yoshimura mau mengantar surat ke Uchiha. Perjalanan mereka bisa lebih memakan waktu jika hujan"

"Ya.. kau benar" tanpa sadar aku membalas perkataannya.

Tobirama mengalihkan pandangannya ke arahku. Ia mengamati wajahku dengan seksama lalu berjalan menuju kamar mandi.

Aku mengamati pria itu hingga Ia menutup pintu kamar mandi. Mengamati punggungnya hingga hilang dari pandangan. Aku tersenyum sendu.

'Tobirama, apa kau tidak bisa merasa aku sedang begitu cemas? Bukankah kau pandai membaca pikiran seseorang?'

Aku tersenyum getir.

'Aku tahu.. kau memang tidak pernah peduli padaku'

Aku berjalan menuju lemari pakaian dan menatap vas bunga yang ada di atas lemari pakaianku. Aku teringat saat pertama menginjakkan kaki di rumah Senju setelah aku menikah, saat pertama kali Tobirama meletakkan vas bunga itu diatas. Tanpa sadar aku membuka pintu lemariku dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang.

Aku memandang kotak itu sambil tersenyum kecil. Kubuka tutupnya dan kudapati dua helai pakaian latihan berupa hakama sederhana berwarna biru dan merah terlipat rapi didalamnya. Aku membuat baju itu saat tinggal di rumah selama satu Minggu setelah insiden dengan klan Yuki. Pakaian itu sudah jadi. Aku ingin memberinya sebagai hadiah ulang tahun kak Hashirama dan Tobirama nanti. Tapi mengingat sebentar lagi aku akan pergi..

Aku kembali menutup kotak itu, lalu berjalan menuju lemari Tobirama dan membukanya. Kuletakkan kotak itu di sudut lemari sehingga tidak terlalu mencolok. Mungkin saat aku pergi, Tobirama akan melihat kotak ini. Semoga nanti hadiah kecil ini bisa membuatnya ingat padaku.

Aku menutup pintu lemarinya.

'Atau mungkin tidak sama sekali'

'Cklek'

Tobirama keluar dari kamar mandi. Ia hanya memakai celana panjang hitam. berjalan dengan rambut yang masih basah, lalu meletakkan handuknya di sebuah gantungan.

"Tobirama, apa kau sibuk hari ini?" Aku berusaha bicara sebiasa mungkin.

Tobirama menoleh ke arahku. "Tidak juga"

Aku tersenyum. "Baguslah kalau begitu! Malam ini ada festival musim panas di desa bukan? Kau mau menemaniku pergi kesana?"

"Walaupun menyukai budaya, aku tidak terlalu suka festival. Disana ramai sekali" Ia berjalan menuju lemari disebelahku dan membukanya.

"Ayolah.. sekali saja pergi bersamaku. Mau ya?" Aku mencoba mengajaknya lagi. "Sekali saja.."

Tobirama menghela napas. Ia mengambil setelan lengan panjang hitam dan memakainya. "Baik, malam ini kita kesana"

Tanpa sadar aku memeluk Tobirama saking senangnya. "Waaahh... Terima kasih!"

"Sudahlah.. Aku harus memberitahu sesuatu pada Yoshimura dan Toka sebelum mereka berangkat" Tobirama melepaskan pelukanku. "Waspadalah. Orang yang kemarin mengirim surat ancaman itu bisa saja berbuat sesuatu hari ini"

Aku mengangguk. "Sampai jumpa nanti malam kalau begitu"

Tobirama menatapku lurus dan tersenyum, lalu Ia berjalan keluar kamar.

Aku tersenyum sendiri. Selama tinggal disini, aku hanya terus bertengkar dan berselisih paham dengan Tobirama. Aku jadi sedih bila Ia hanya teringat akan perseteruan kami saat Ia mengingatku nanti.

Aku berjalan menuju jendela dan tersenyum memandang langit biru yang baru saja datang. Hujan sudah berhenti.

'Kali ini, semoga saja aku bisa membuat satu kenangan baik bersama Tobirama'

-8-8-8-

"Tobirama, aku mau berangkat ke festival sekarang" ujar Hashirama yang sudah siap dengan kimono orangenya.

Tobirama terbingung-bingung menatap pakaian Hashirama. "Apa kimono itu.. tidak terlalu mencolok, kak?"

"Tentu tidak, Tobirama!" Balas Hashirama bersemangat. "Ini semangat musim panas! Kau juga bersemangatlah!" Lanjutnya sambil menepuk bahu Tobirama.

"Kau pasti pulang larut malam, benar kan kak? Kau tidak mungkin melewatkan permainan kartu disana" tebak Tobirama.

"Hahahaha, siapa lagi yang mengenalku lebih baik daripada dirimu, Tobirama! Hahahaha" Hashirama tertawa sambil memukul bahu Tobirama cukup keras.

Tobirama ikut tertawa pelan bersama kakaknya. "Berhati-hatilah dengan uang yang kau bawa dijalan, kak. Aku akan menyusul nanti"

Hashirama membulatkan mata. "Eh? Kau mau ikut festival?"

"Memangnya kenapa?" Tobirama balik bertanya. "Aku tidak boleh ikut?"

"Bukan, bukan begitu" Hashirama menggeleng. "Biasanya kau tidak suka ikut festival. Kau bilang disana berisik"

"Yah, disana memang berisik" Tobirama mengaku. "Tapi sekali-kali, aku ingin lihat-lihat sesuatu disana. Barangkali ada yang menarik"

"Kau butuh hiburan, Tobirama! Besok akan jadi hari yang sulit!" Hashirama tersenyum lebar. "Oh! Jika kau kesana, jangan lupa membawa permohonanmu di kertas dan gantungkan di hiasan bambu disana ya!"

"Baik. Aku tidak akan lupa" balas Tobirama. "Terima kasih sudah mengingatkanku, kak"

"Wah, wah.. kira-kira apa permohonanmu tahun ini ya? Hmm.. biarkan aku menebaknya" Hashirama terlihat berpikir. "Ah! Aku tahu! Tahun ini kau ingin punya seorang anak laki-laki yang tampan seperti aku!"

Tobirama menggelengkan kepala.

"Berhenti mengatakan hal yang tidak masuk akal, kak. Cepatlah pergi bila sudah siap. Aku akan menyusul. Sampai jumpa di festival nanti"

"Ah! Kau benar juga" Hashirama berjalan membawa tas kainnya. "Sampai jumpa disana! Ah.. Ajak Nozu ya! Aku tidak mau melihatmu berjalan sendiri di festival nanti. Sampai jumpa!" Ujarnya sambil berjalan keluar rumah.

Tobirama tersenyum tipis. Apa yang Hashirama bilang? Dia tidak ingin melihat Tobirama sendiri disana? Bagaimana dengan dirinya sendiri? Dia mengatakan itu seolah-olah Hashirama pergi ke festival itu dengan pasangannya.

"Ah! Aku harus menulis permohonan sebelum kesana!" Ia berjalan menuju meja, mengeluarkan secarik kertas dan botol tinta disana. Setelah selesai, Tobirama melihat tulisannya secara keseluruhan.

'Semoga tahun ini menjadi tahun yang penuh dengan perdamaian. Semoga semua yang ditakdirkan baik akan terjadi'

Sepertinya cukup.

Ia melipat kertas itu, membereskan botol tintanya dan berjalan menuju kamarnya. Pintu kamar masih tertutup. Sepertinya Nozu belum selesai berpakaian. Padahal dia sudah bersiap-siap setengah jam lalu. Mungkin tidak apa-apa jika Tobirama mengetuk pintu dan bertanya apa Ia sudah siap atau belum.

'Brak'

"Eh?"

Tobirama menghentikan langkahnya. Pintu kamar tiba-tiba terbuka dan Nozu berdiri di depannya menggunakan kimono kuning. Kali ini Nozu menggerai rambut hitam sebahunya dan menyelipkan hiasan bunga kuning yang serasi dengan kimononya di telinga. Tobirama cukup terpukau dengan penampilan baru Nozu malam ini, seakan Ia tengah menemui wanita berbeda. Namun Ia segera berusaha mengusir perasaan aneh itu.

"Maaf membuatmu menunggu, Tobirama" Nozu tersenyum lebar. "Kupikir kimono kuning cocok dengan kimono biru langit yang kau pakai"

Tobirama tersenyum. "Ayo berangkat"

Festival musim panas Senju memang sangat meriah. Hashirama sendiri yang merancang jalannya acara ini. Warga Senju, Yuki dan Hagoromo berbaur dalam keramaian yang menyenangkan. Tobirama sudah lama tidak mengunjungi festival di desa seperti ini. Jalan dipenuhi oleh gemerlap lampu gantung dan lampion, membuat malam terasa terang. Berbagai macam hiasan pohon bambu yang ditempeli kertas permohonan berwarna-warni juga ikut memeriahkan suasana. Banyak kedai yang menawarkan berbagai macam makanan, kerajinan tangan dan permainan khas festival musim panas untuk menyambut semua orang. Ada pula pertunjukkan seni dan pawai yang menambah semangat malam musim panas. Semua orang seakan terhanyut dan lupa akan kekhawatiran mereka pada pertempuran besok.

"Aku mau beli taiyaki lagi!" Nozu berseru girang. "Tobirama, kau mau makan apa lagi?"

"Aku sudah makan banyak sekali dan tidak bisa makan lagi" jawab Tobirama. Ia harus mengeraskan suaranya agar Nozu bisa mendengarnya di keramaian malam.

"Temani aku kesana ya" Nozu menggandeng lengan Tobirama. "Ayo!"

"Kau belum kenyang?" Tanya Tobirama. "Kau sudah dua jam berjalan-jalan disini dan beli banyak makanan. Jangan terlalu banyak makan. Tidak baik untuk kesehatan!"

Nozu tersenyum senang. "Aku belum makan dari rumah jadi.. Eh! Tunggu sebentar Tobirama!"

Nozu berjalan menghampiri sebuah kedai yang menjual kerajinan tangan dari bambu. Ia terlihat begitu tertarik dengan topi jerami berpita merah yang ada di etalase paling atas. Topi itu memang unik dengan desain yang berbeda dengan topi jerami musim panas pada umumnya.

"Permisi Pak! Topi jerami diatas dijual berapa?" Tanya Nozu bersemangat.

"Maaf Nona. Topi ini tidak dijual. Ini hadiah untuk permainan disana" jawab si penjual menunjuk ke arena permainan yang ada disebelah kedainya.

"Kalau begitu, aku harus ikut main dan membawa pulang topi itu!" Ujar Nozu berapi-api. Ia berjalan menghampiri Tobirama. "Tobirama, aku mau main disana sebentar. Ayo ikut dan lihatlah kemenanganku!"

Tobirama tersenyum sambil menggelengkan kepala. Ia mengikuti Nozu berjalan ke kedai tadi. Nozu memang aneh. Baru saja Ia memukau Tobirama dengan penampilannya yang terlihat lebih dewasa dan anggun, sekarang Ia sudah seperti bocah lima tahun lagi.

"Ahhh! Bagaimana bisa aku tidak bisa memasukkan lingkaran kayu ini!" Ujar Nozu kesal. "Sepertinya lingkarannya terlalu kecil jadi tidak masuk-masuk"

"Jangan paksa dirimu, Nozu" Hashirama tiba-tiba menyeruak masuk ke dalam kedai. Ia melihat sekeliling dan tersenyum senang mendapati Tobirama ada di kedai yang sama. "Mungkin topi itu tidak jodoh denganmu. Biar kulihat, mungkin akulah jodohnya malam ini!"

"Tidak bisa begitu, kak!" Protes Nozu. "Aku yang lebih dulu menemukan topi ini. Kakak juga sudah beli banyak" Nozu menunjuk ke tangan Hashirama yang membawa banyak plastik lain.

"Maaf Nona. Tapi anda hanya bisa main satu kali" si penjual ikut dalam pembicaraan Nozu dan Hashirama. "Silakan coba dan mari kita lihat keberuntungan anda malam ini, Tuan"

"Kalau begitu biar aku yang main" entah mengapa Tobirama ikut masuk kedalam pembicaraan mereka. Moodnya sedang baik malam ini, karena itu Ia memutuskan untuk bermain. Tobirama melirik Nozu. "Akan kubawa pulang topi itu untukmu"

Nozu berjingkrak senang. "Waah! Baiknya! Kalau begitu, sebagai hadiah tambahan jika kau menang, aku akan memberimu satu ciuman. Kau yang pilih tempatnya dimana!"

'Apa katanya? Nozu.. dia mau menciumku disini?'

"Wah, wah Tobirama.. wajahmu merah seperti tomat. Hahahaha, kau lucu sekali adikku! Hahahaha" Hashirama tertawa girang.

Tobirama memegang wajahnya. Perkataan Nozu tadi memang membuat wajahnya terasa panas. Tapi apa wajahnya benar-benar memerah seperti yang dikatakan Hashirama tadi? Tobirama mengutuk dirinya sendiri. Bodoh! Kenapa Ia malah melakukan hal memalukan dan dilihat banyak orang begini?

"Jika tuan-tuan yang bermain, sepertinya saya harus mengubah permainannya sedikit supaya lebih seru" si penjual ikut bersemangat. Adanya Hashirama dan Tobirama di kedai itu membuat orang-orang tertarik menonton. "Siapa yang paling cepat memasukkan 200 lingkaran kayu kedalam tiang disana, dialah yang berhak membawa pulang topi ini"

"Ayo kita tunjukkan kemampuan masing-masing, Tobirama!" Hashirama berseru penuh semangat. "Kali ini aku tidak akan mengalah!"

"Aku bisa melempar lebih tepat sasaran dari pada kakak! Jangan anggap aku remeh!" Ujar Tobirama tidak mau kalah.

Si penjual memegang pencatat waktu di tangannya. "Baik.. pertandingan dimulai. Satu, dua, tigaaa"

Kakak beradik Senju itu seperti tenggelam dalam serunya permainan malam itu. Mereka bergantian melempar lingkaran kayu itu ke tiang yang dituju, diiringi gemuruh penonton yang memberi semangat pada keduanya untuk menyelesaikan permainan itu secepatnya mungkin.

"Dan pemenangnya.. selamat untuk anda Tuan! Topi jerami indah ini kini milik anda!" Si penjual mengangkat tangan Tobirama. Tepuk tangan dan sorakan selamat memenuhi kedai kecil itu. Ia memberikan topi jerami itu pada Tobirama.

"Sial!! Aku benci kalah" ujar Hashirama gusar.

Tobirama berjalan ke arah Nozu dan memakaikannya topi jerami itu. "Ini untukmu"

"Tobirama terima kasih!!" Nozu memeluk Tobirama dengan erat. "Eh! Sesuai janjiku tadi, aku akan memberimu ciuman. Kau mau dicium dimana?"

Tobirama merasa wajahnya memanas lagi.

"Nozu, kau harus menciumnya dengan panas sepanas musim panas ini" Hashirama berseru jahil. "Nah, Tobirama.. ayo pilih kau ingin dicium dimana? Dahi, pipi, bibir, atau.."

"Hentikan Kak! Biar aku yang putuskan!" Sela Tobirama. Ia tidak mau Hashirama berkata yang tidak-tidak didepan banyak orang.

Tobirama menoleh ke wajah Nozu dihadapannya. Ia tidak sempat menyadari Nozu tengah menatap wajahnya dari dekat. Tobirama merasa dadanya berdebar-debar. Mata mereka bertemu. Wajah mereka yang hanya berjarak satu hembusan nafas membuat bibirnya tanpa sengaja bersentuhan dengan bibir Nozu.

Nozu yang terlihat terkejut awalnya, malah tersenyum dan melayangkan sebuah ciuman manis dan lembut di bibir Tobirama.

"Waah.. ciuman di bibir yang luar biasa!" Hashirama bertepuk tangan yang diiringi keriuhan orang-orang disekitar. "Nozu, ciumanmu kurang dalam dan bergairah!"

"Kak Hashirama jangan begitu!" Nozu memukul lengan Hashirama. "Aku malu.."

"Hahahaha.. walaupun kalah, aku dapat sesuatu yang bagus malam ini" Hashirama mengedipkan mata. "Selamat ya Tobirama! Kalau begitu aku akan ke kedai berikutnya untuk mencari kesenangan lain! Sampai Nanti.. semoga kalian bersenang-senang malam ini"

Tobirama menghela napas sambil berusaha menenangkan diri. "Ayo kita pulang, Nozu. Sudah malam" Ia menarik lengan Nozu keluar dari kedai itu. "Terima kasih banyak untuk malam ini" Tobirama memberi salam pada penjaga toko.

Mereka berjalan meninggalkan keramaian festival musim panas malam itu. Setibanya di rumah, Tobirama segera membenahi peralatan tempurnya untuk besok dan Nozu memilih mandi. Tobirama baru kembali masuk ke kamar saat waktu sudah menunjukkan tengah malam setelah mengantar Hashirama yang pulang setengah mabuk ke tempat tidurnya. Setibanya di kamar, Ia menemukan Nozu yang tengah duduk termenung di tempat tidur sambil memandangi topi jerami yang baru mereka bawa pulang.

"Kau belum tidur?" Tanya Tobirama begitu Ia melihat Nozu.

Nozu menatap Tobirama dengan tatapan sendu. Sesaat kemudian, Ia kembali tersenyum. "Tobirama.. terima kasih untuk hari ini. Aku.. senang sekali"

"Tidak perlu berkata begitu" Tobirama duduk di tempat tidur membelakangi Nozu. "Aku ragu besok kau ikut ke medan perang. Apa tidak apa-apa? Kau sudah lama tidak melawan orang-orang Uchiha itu"

"Jangan remehkan aku!" Seru Nozu. "Aku bukan perempuan lemah. Aku sudah menyiapkan segalanya untuk pertarungan besok"

"Aku mengerti" Tobirama melepas bakiaknya, lalu berbaring di tempat tidur. "Hanya saja lawan kita disana.. bukanlah orang yang punya simpati pada lawan. Kau ninja medis. Jangan ke garis depan.."

"Aku bukan ninja medis biasa dan akan bertempur di garis depan besok, bersamamu dan kak Hashirama" sela Nozu.

"Kau keras kepala" ujar Tobirama pelan. "Lakukan apa yang kau suka tapi ingat, jangan bahayakan dirimu. Mundur ke belakang jika kau merasa bahaya. Aku tidak bisa terlalu memperhatikanmu di medan perang nanti"

Nozu tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir" Ia berjalan ke meja dan meletakkan topi itu diatasnya. "Aku menunggumu tidur malam ini. Ayo tidur sama-sama. Besok.."

"Kemari.."

Nozu menoleh ke arah Tobirama dengan terkejut. Ia yakin Tobirama berkata 'Kemari' tapi..

"Ayo kita tidur. Jangan membuang waktu lagi. Kita butuh banyak tenaga besok" Tobirama memejamkan mata.

Nozu mengangguk. Ia naik ke tempat tidur dan berbaring di sebelah Tobirama. Saat kepala Nozu menyentuh bantal, Tobirama merengkuh Nozu ke pelukannya. "Kau membuatku merasa lebih panas kalau begini"

Nozu segera menjauhkan diri. "Kalau begitu.."

"Posisi ini nyaman" Tobirama memotong perkataan Nozu sambil kembali menarik wanita itu ke atas dadanya. "Selamat tidur"

Setelah memejamkan mata, Tobirama tidak langsung tidur. Ia tahu Nozu juga begitu. Walau diam, bulu matanya masih bergerak menggelitik dagu Tobirama. Ia masih membuka dan menutup matanya beberapa kali.

Entah mengapa hari ini Tobirama ingin tidur seperti ini. Rasanya kecemasan pikirannya akan esok hari terhapus oleh kenyamanan yang tengah dirasakannya sekarang. Ia terlalu lelah memikirkan alasannya. Tobirama lebih memilih menggunakan sisa tenaganya hari ini untuk memeluk Nozu dan meresapi wangi parfumnya yang seketika mengantar Tobirama ke alam bawah sadar.

'Semoga besok jadi hari yang baik'

-8-8-8-

Udara pagi ini sangat dingin.

Aku mengusap-usap lenganku sendiri, seakan itu bisa membuatku lebih hangat. Pasukan perang Senju dan Hagoromo sudah menunggu di wilayah perbatasan dari subuh. Sudah dua jam kami menunggu disini, tapi Madara Uchiha dan pasukannya belum terlihat.

Aku melirik ke sekitar. Sepertinya bukan hanya aku yang merasa kedinginan pagi ini. Beberapa pasukan Senju dan Hagoromo juga terlihat melakukan hal yang sama. Tatapanku teralih pada Kak Hashirama yang tengah serius membicarakan sesuatu dengan Tobirama. Aku menatap mereka sendu.

'Kak Hashirama, Tobirama, sudah waktunya aku pergi...'

Aku merasa berhutang banyak pada mereka. Meskipun jika dipikir lagi, sepertinya aku sudah sedikit membayar perbuatan baik mereka padaku. Tapi hutang budi bukanlah sesuatu yang bisa dibayar begitu saja. Baru saja aku menghabiskan waktu menyenangkan dengan kakak beradik itu kemarin malam. Tapi inilah kenyataan yang harus dihadapi.

Ah! Benar juga kemarin malam...

Aku kembali melirik Tobirama yang kini tengah serius membicarakan sesuatu dengan Toka. Apa semalam aku bermimpi? Rasanya tidak.

Tapi.. kemarin malam, baru kali itu Tobirama memelukku saat tidur. Dadaku terasa hangat memikirkannya. Kenapa dia melakukan itu? Apa dia tahu aku akan pergi? Apa dia mulai melunak padaku? Kulirik kembali Tobirama disana, sepertinya dia tidak tahu. Pagi ini dia bersikap seolah-olah tidak ada hal khusus yang terjadi kemarin. Yah.. aku cukup setuju, sebenarnya itu bukan hal besar tapi...

Aku tersenyum getir. Mungkin aku terlalu banyak berharap.

Aku.. tetap menyukainya meski dia sudah berjanji menikahi wanita lain. Aku juga tetap menunggunya membalas perasaanku walau aku tahu saat itu tidak akan pernah datang.

'Benar- benar orang bodoh!'

"Mereka datang" gumam Tobirama tiba-tiba. "Lima ratus meter dari arah jam 12. Kita harus bersiap untuk serangan jarak jauh" lanjut Tobirama yang sudah mulai menggenggam pedangnya.

Seluruh pasukan Senju terlihat siaga. Mereka menggenggam senjata masing-masing, tak terkecuali denganku beserta Satsu dan Amari. Satsu mulai membuka gulungan senjatanya sementara Amari terlihat siap dengan puluhan jarum ditangannya. Kak Yoshi juga bersiap menggenggam pedangnya.

"Jangan jauh-jauh dariku, Nozu" kak Yoshi tersenyum. "Aku akan menjagamu"

Aku segera membalas senyumannya. "Terima kasih kak Yoshi"

Sesaat kemudian, Madara tiba di Medan perang bersama sisa pasukan Uchiha di pihaknya. Tatapanku langsung teralih pada kak Nozomi dan Hana yang ada di samping Madara. Mataku perih, mencoba menahan air mata yang sudah memenuhi mataku. Aku begitu merindukan mereka. Aku sudah rela pergi dari semua ini dan menghabiskan hidup bahagia bersama mereka berdua hingga maut menjemput nanti.

Karena pasukan Uchiha sudah berkurang banyak. Pasukan Madara kali ini didominasi oleh orang-orang Hagoromo. Aku mengerti. Madara mungkin tidak curiga kenapa pasukan Hagoromo dibawa sebanyak ini. Kak Nozomi memang hebat. Ia bisa mengelabui ninja sehebat Madara.

Sudah lama aku tidak melihat Madara Uchiha. Ia masih terlihat mengerikan seperti terakhir kali aku melihatnya. Tapi dari jarak sejauh ini, aku sudah bisa merasakan aura membunuhnya yang sangat kuat. Orang itu.. pastinya sudah banyak berubah sejak kematian adik semata wayangnya. Selain auranya, ada hal lain yang berubah dari Madara.

Matanya. Madara Uchiha sudah mendapatkan Mangekyou sharingan abadi. Mata itu.. baru bisa didapat setelah seorang Uchiha mencangkok mata saudaranya. Jika memang begitu, pastilah Ia sudah mengambil mata Izuna.

"Adikku meninggal akibat lukanya waktu itu" Madara mulai bicara. "Dan mewariskan kekuatannya untuk melindungi Uchiha"

"Aku sudah mengirim surat perjanjian gencatan senjata!" balas Kak Hashirama serius. "Kalau kau mau melindungi Uchiha, berhentilah bertarung!"

Dalam sekejap Madara mengeluarkan ninjutsu andalan sekaligus pertahanan absolutnya, Susanoo. Aku pernah melihat Susanoo Uchiha sebelumnya tapi aura Susanoo ini lebih gelap dan kelam.

"HASHIRAMA! SAMPAI KAPAN KAU TERUS MEMBICARAKAN IMPIAN ANAK KECIL?" Madara berteriak murka. "KITA TAKKAN BISA SALING MENUNJUKKAN ISI HATI!"

Susanoo Madara segera menebas pasukan Senju. Pertarungan dimulai. Sesuai rencana, aku dan pasukan Hagoromo berusaha berlari menghindari tebasan Susanoo Madara sambil mencari Hana dan kak Nozomi. Kak Yoshimura sudah memberitahu Kak Hashirama dan Tobirama bahwa Ia dan pasukannya akan terus bersamaku saat pasukan Senju terfokus pada Madara.

"Kak Nozu, lama tak jumpa" Hana menyapaku saat aku menemukannya.

Aku tersenyum. Aku harus membuat mereka semua melihatku dan Hana seolah-olah bertarung. Aku mulai merapal segel.

"Katon: Goukakyuu no Jutsu!"

Bola api raksasa berwarna biru menyerang Hana. Ia balik tersenyum padaku dan merapal jurus balik.

"Suiton: Suijinheki!"

Hana mengeluarkan dinding air besar yang melindunginya sekaligus memadamkan bola api raksasa biru yang kukeluarkan tadi. Aku tersenyum. Kekuatan Hana masih sama, tidak berkurang.

Sedikit demi sedikit, sambil menyerang dengan ninjutsu satu sama lain, kami berjalan menjauhi Medan perang dan merapat menuju laut Utara. Diikuti oleh orang-orang Hagoromo di kedua belah pihak. Aku melirik kak Nozomi di kejauhan. Ia tengah beradu pedang dengan Tobirama. Aku menatap mereka sendu.

'Kak Nozomi, kau harus janji untuk tidak terbunuh disini. Sebentar lagi kita akan bersama lagi 'kan? Bertahanlah kak..'

"Kak Nozu, kita harus bergegas membawa orang-orang ke laut Utara. Disana paman Yamada sudah menyiapkan kapal untuk kita semua" ujar Hana pelan.

Aku mengangguk. Aku menoleh ke arah kak Yoshi yang juga ikut mengangguk.

'DUAR DUARR'

Aku terkejut. Ada suara ledakan besar dari arah laut Utara. Bukankah disana ada paman Yamada dan para wanita serta anak-anak? Apa ada yang menyerang mereka? Bulu kudukku berdiri. Aku merasa harus segera bergegas kesana sebelum Madara dan yang lain sadar kami akan pergi. Aku memandang arena pertarungan Madara dan Hashirama dari jauh. Mereka terlihat masih sibuk bertarung. Sepertinya keadaan masih aman.

Kami semua kembali bergegas menuju kumpulan kapal yang sudah disiapkan kak Nozomi di laut Utara. Aku bisa melihat paman Yamada dan para wanita klan Hagoromo yang sedang menaiki kapal dari kejauhan. Aku bersyukur mereka semua baik-baik saja.

"Aku minta perhatian kalian semua sebentar" Hana bicara dengan suara keras setibanya kami di tempat yang dijanjikan. "Kalian naiklah ke kapal-kapal kecil disana. Satu kapal hanya untuk sepuluh orang" lanjut Hana. "Kalian akan berlayar jauh dan terpencar ke banyak tempat. Tapi tolong jaga martabat klan kita dimanapun kalian berada. Klan kita klan yang terhormat. Jangan berbuat hal yang menodai nama kita semua. Perang tidak akan berhenti. Jangan biarkan mereka tahu jati diri kalian yang sebenarnya. Biarlah kita hidup dalam rahasia tapi kita bisa merasakan damainya hidup tanpa perang"

Aku tersenyum. Aku bisa melihat jiwa kepemimpinan pada Hana. Sedikit banyak dia pasti sudah belajar dari kak Nozomi bagaimana menjadi pemimpin yang baik.

Satu per satu pasukan perang Hagoromo mulai naik kedalam kapal kecil itu. Aku melihat ke sekeliling. Ada bekas ledakan yang tidak jauh dari tempat ini. Untung saja ledakan itu tidak merusak kapal yang akan kami gunakan. Tapi siapa pelakunya? Apa paman Yamada bertarung dengan seseorang?

Satu per satu kapal mulai berlayar dan menjauh dari dermaga, sesuai dengan perintah Hana. Aku dan Hana diam ditempat, menunggu dengan khawatir hingga kak Nozomi tiba.

"Nona Nozu, Nona Hana, kita harus bergegas naik" Satsu menarik lenganku.

"Tidak, Satsu" aku menarik kembali lenganku pelan. "Aku dan Hana akan menunggu hingga kak Nozomi datang, baru kami bertiga ikut pergi. Kau pergilah lebih dulu dengan Amari"

"Nona bicara apa?" Amari menimpali pembicaraan kami. "Kami tidak akan pergi sampai Nona pergi. Kami ingin melanjutkan hidup bersama Nona Hana dan Nona Nozu. Jika anda menunggu, kami ikut menunggu"

Aku merasa bersalah. Mereka sudah lama mengikuti aku dan Hana di masa perang ini. Mereka juga layak mendapatkan hidup yang damai. Jika terus menungguku seperti ini, mereka..

"Tapi Amari.."

"Kami tidak akan pergi sebelum Nona dan Tuan Nozomi pergi dari sini" ujar Satsu bersikeras. "Tuan Yoshimura juga mengatakan hal yang sama. Ia akan menunggu hingga Tuan Nozomi tiba"

Tiba-tiba ada angin besar yang berhembus dari arah hutan menuju laut Utara. Angin itu begitu besar, hingga membuat pepohonan di hutan tercabut dan membuat laut berguncang. Satsu dan Amari hampir saja terbawa angin jika saja kak Yoshi tidak menyelamatkan mereka. Kapal-kapal kami yang ada di kejauhan terlihat kehilangan keseimbangan dan ada beberapa diantara yang jatuh ke laut.

"Semuanya mendekat padaku!! Doton:Doryuheki!"

Sebuah tembok tanah besar dan cukup luas muncul dari bawah. Dinding tanah itu kubuat untuk melindungi kami semua dari benda berat yang berterbangan. Kami berusaha sekuat tenaga agar tidak terbawa angin. Aku juga mengalirkan banyak chakra ke tanah sebagai pijakan. Sungguh sulit. Angin itu baru reda setelah 15 menit, membuat keadaan disekitar porak poranda.

'Angin ini seperti tidak asing. Mungkinkah?'

"Wah, wah.. boleh aku ikut bergabung?"

Aku diam terpaku. Aura menakutkan ini. Aku tidak menyangka bisa merasakannya dari jarak sedekat ini.

Madara Uchiha muncul dari dalam hutan membawa senjata kipas besarnya. Angin yang dikeluarkan dari kipasan senjatanya begitu kuat. Orang ini sangat berbahaya.

"Cepat pergi!" Kak Yoshi berteriak keras ke arah laut. "Jangan memelankan kecepatan. Pergilah sejauh mungkin"

"Hana, apa kau pikir kau bisa pergi semudah itu?" Madara menyeringai. "Kau milik Izuna dan selamanya adalah bagian Uchiha. Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun. Kita memang tidak pernah bisa membaca hati satu sama lain. Padahal aku sudah menganggapmu dan Nozomi sebagai sekutu"

Hana terlihat ketakutan. Madara mengalihkan pandangannya ke arahku. Tatapannya penuh dendam, membuatku merinding.

"Nozu Hagoromo, lama tak jumpa" Ia menatapku tajam. "Kurasa kau tidak sebodoh itu untuk membawa pergi kakak dan adikmu dariku, bukan? Mereka sudah terlalu banyak mengetahui rahasia Uchiha. Sayang sekali, aku tidak akan membiarkan mereka pergi"

Aku memasang posisi siap menyerang. Walau mencoba mengusir rasa takut yang kurasakan sekarang, tetap saja tubuhku bereaksi. Sekujur tubuhku berkeringat dan gemetar. Aku belum pernah bertarung langsung dengan Madara Uchiha yang disebut-sebut memiliki kekuatan seimbang dengan Hashirama Senju.

Hana memegang tanganku. Aku tahu Ia tengah merasakan ketakutan yang sama denganku. Tangannya berkeringat dan wajahnya terlihat pucat. Namun sepertinya Ia berusaha menenangkan kami. "Kak, Madara yang didepan kita hanya kagebunshin. Kita pasti bisa mengalahkannya"

"Wah, kalian tidak adil soal jumlah" Madara tersenyum sinis. "Sebagai Shinobi, bukankah kita harus bertarung dengan adil? Kagebunshin no jutsu!"

Madara memperbanyak bayangannya menjadi tiga. Ia melapisi tiap bayangannya dengan Susanoo yang mengerikan.

Aku mengepalkan tangan saking kesalnya. Madara sialan. Aku sangat mengerti satu bayangan saja akan sulit sekali dikalahkan. Bagaimana mengalahkan tiga sekaligus?

"Kau tidak perlu khawatir, Nozu" kak Yoshi menghunus pedangnya. "Aku akan melindungimu dan Hana, lalu kita akan mengalahkannya bersama"

"Nona Hana, Nona Nozu, kami juga akan membantu" Satsu dan Amari berkata bersamaan. Mereka sudah siap menyerang.

Aku menatap Hana yang juga sudah menghunus pedangnya. Aku tidak bisa mundur. Mungkin sudah waktunya, aku harus bertarung hidup-mati disini dengannya. Jika tak mampu bertahan, dia takkan segan membunuh kami semua disini. Aku menarik nafas panjang dan memusatkan konsentrasi pada Madara. Sekuat apapun dia, aku yakin Madara punya kelemahan.

"Kita mulai!"

To be continued..

-8-8-8-

A/N: Halo Readers!! Kita bertemu lagi di chapter 13!! Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita ini.. :))

Kali ini saya mencoba memasukkan sedikit adegan action. Apa sudah cukup jelas penulisannya?

Untuk chapter ini, saya senang sekali waktu menulis scene Tobirama, Nozu dan Hashirama di festival musim panas.. rasanya sambil menulis, saya bisa membayangkan langsung mereka bersenang-senang disana.. o

Saya akan berusaha update cerita ini secepat mungkin. Kritik dan saran dari kalian selalu saya terima dengan terbuka.. :")

Bagaimana kelanjutan pertarungan Nozu, Hana dan Madara? Apa mereka bisa meloloskan diri bersama Nozomi?

Hehehe.. see you on the next chapter!!