Disclaimer : Semua tokoh di Naruto hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning : OC, OOC, Mis-typo (s)

Rated : M

Chapter 14 : Three Union

Tobirama benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Baru beberapa saat lalu, Ia bertarung dengan Nozomi Hagoromo yang bersekutu dengan Madara Uchiha. Ada yang tidak biasa dari pergerakan Nozomi hari itu. Gerakannya begitu hati-hati seakan-akan Ia tengah menahan dirinya karena sesuatu. Tidak seperti pertarungan sebelumnya.

Kini yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah pertarungan, Nozomi malah menghentikan pertarungan dan berkata Ia akan membantu Hashirama dan Tobirama mengalahkan Madara. Tobirama menatap Nozomi penuh selidik.

'Apa perkataan pria ini bisa dipercaya?'

Nozomi mengajaknya pergi dari tempat mereka bertarung menuju ke tempat Hashirama dan Madara.

"Kita harus bergegas" ujar Nozomi serius. "Aku punya batas waktu. Semakin cepat, semakin baik"

Sebenarnya Tobirama masih tidak bisa percaya dengan Nozomi sepenuhnya walaupun Ia bisa melihat sepertinya Nozomi benar-benar ingin mengalahkan Madara.

"Kau memilih bersekutu dengan Madara, tapi sekarang kau berkata mau membunuhnya" Tobirama memulai pembicaraan. "Jujur kata aku tidak bisa percaya sepenuhnya padamu"

Nozomi tersenyum tipis. "Yah.. itu hakmu"

Tobirama menggelengkan kepala. Ia tidak mau terlalu menanggapi hal ini dengan serius. Jika Nozomi memang ingin membantunya dan Hashirama mengalahkan Madara, bukankah itu hal yang harus disyukuri?

Mereka terus bergegas mendekat ke tempat pertarungan Hashirama dan Madara. Tobirama mengaktifkan mode deteksi. Aura chakra Madara terasa begitu kuat dari jarak sejauh ini. Pastinya Ia tengah menggunakan Susanoo untuk melawan Hashirama. Tapi tunggu dulu..

Tobirama berhenti tiba-tiba. Membuat Nozomi menghentikan langkahnya juga.

"Kenapa?" Tobirama mengerutkan dahi. "Aku bisa merasakan chakra Madara di dua tempat?"

"Apa katamu?" Tanya Nozomi heran. "Bukankah hanya ada satu Madara yang sedang dihadapi Hashirama?"

"Aku yakin tidak pernah salah mengenali chakra Madara" ujar Tobirama yakin. "Aku merasakan chakranya ada di sekitar laut Utara. Apa yang dilakukannya disana?"

"Jika memang begitu.." wajah Nozomi tiba-tiba terlihat pucat. "Madara, sial!" Nozomi mengepalkan tangan dengan kesal.

"Ada apa?" Kini Tobirama yang bertanya heran. "Untuk apa Madara menggunakan kagebunshin di tempat lain? Bagaimana bisa Ia bertarung dengan kakak sambil membuat kagebunshin di tempat lain. Dia terlalu meremehkan kakak"

Nozomi diam dan terus berlari menuju tempat Hashirama dan Madara. Tobirama merasa sepertinya ada yang salah. Kenapa Nozomi terlihat sekesal itu? Apa ada sesuatu yang berbahaya disana?

"Nozomi Hagoromo, kau tidak mau menjelaskan apa yang terjadi?" Tobirama bertanya lagi.

"Tidak sekarang" jawab Nozomi tanpa menoleh. "Jika ingin mengalahkan Madara, ini saatnya"

Setibanya di tempat yang dituju, Hashirama dan Madara masih bertarung. Keadaan disekitar mereka porak poranda. Terlihat hutan besar Jukai Kotan dan bunga beracun Kajukai Korin yang hancur akibat terjangan Susanoo. Keduanya tidak terlihat terluka. Tidak ada satupun anggota Senju maupun Uchiha yang berada didekat mereka.

"Gouen!"

Madara mengeluarkan bola api besar berukuran banyak ke sekeliling Hashirama. Tidak tinggal diam, Hashirama merapal jurus pertahanan.

"Suiton: Mizukabe!"

Nozomi masuk ke dalam pertarungan Hashirama dan Madara dengan dinding air raksasanya. Membuat bola-bola api Madara padam.

Hashirama mengerutkan dahi. "Nozomi, kau.."

"Sekarang kita teman, Hashirama Senju" Nozomi tersenyum. "Aku akan membantumu mengalahkan Madara"

"Nozomi Hagoromo, kau.." ujar Madara geram. "Setelah sejauh ini, beraninya kau memihak Senju!"

"Karena sudah mengenalmu sejauh ini, aku memilih untuk memihak Senju, kawanku Madara" Nozomi tersenyum pahit. "Sebagai teman, aku tidak bisa membiarkanmu dimakan dendam dan rasa serakah lebih banyak lagi"

"Nozomi Hagoromo, bukankah sudah kuingatkan apa akibatnya jika kau dan adikmu berkhianat? Aku tidak akan mentolerir penghianatan dalam keluargaku" balas Madara geram.

"Itu ketentuanmu dan aku punya ketentuanku sendiri. Hashirama Senju, Hana-pun melihat kaulah pemimpin di masa depan" ujar Nozomi pada Hashirama. Ia kembali menoleh ke Madara. "Dengan ideologimu, aku merasa kau harus dihentikan untuk kedamaian masa depan"

"Fufufu.. menghentikanku tidaklah semudah itu!" Madara terlihat lebih marah dari sebelumnya. "Nozomi, akan kubunuh kau!"

Ketiganya terlibat pertarungan luar biasa sengit. Selama satu jam, berbagai macam ninjutsu api, air, kayu, tanah dikeluarkan bergantian oleh ketiga Shinobi andalan tiap-tiap klan yang dijuluki dewa perang. Tobirama memilih untuk tidak ikut bertarung. Ia benar-benar mengerti. Pertarungan ini bukan level dimana dirinya bisa bergabung.

Tobirama sibuk memperhatikan gerak-gerik ketiga Shinobi itu. Disaat Hashirama atau Nozomi lengah, Ia akan mengisi celah itu untuk menyerang Madara. Bukannya bermaksud untuk tidak adil dalam pertarungan. Hanya saja bila lawannya adalah Madara Uchiha, jika ada cara untuk menghentikannya, apapun itu, Tobirama pasti melakukannya.

Ia menoleh ke arah pasukan Senju lainnya. Mereka sudah membekuk banyak pasukan Uchiha. Sehingga kini, banyak dari mereka yang juga ikut menonton pertarungan hebat antara Hashirama Senju, Madara Uchiha dan Nozomi Hagoromo.

Dengan mode deteksi, Tobirama kembali mencoba menganalisa pertarungan. Chakra Madara terasa tidak terlalu kuat seperti biasanya. Pasti karena Ia terpaksa membagi chakranya agar bisa bertarung dengan baik di tempat lain. Chakra Madara memang luar biasa besar, hampir setara dengan kakaknya.

'Nozu, apa dia baik-baik saja?'

Pikiran akan Nozu mendadak muncul di kepalanya. Tobirama mengaktifkan mode deteksi. Sejak mulai bertarung dengan Nozomi, Ia tidak sempat melacak dimana keberadaan Nozu. Lawannya Hana dan pasukan Hagoromo lain. Tapi ada Yoshimura, Satsu dan Amari yang bersama Nozu. Tobirama seharusnya tidak terlalu khawatir.

'Perasaan ini..'

Tobirama tertegun. Untuk yang kedua kali, tidak mungkin dia keliru dalam mengenali chakra. Tobirama benar-benar yakin Ia merasakan aura chakra Nozu ada di dekat laut Utara. Tempat itu.. tempat yang sama dengan keberadaan chakra kedua Madara. Apa Madara menyerang Nozu disana? Tobirama kembali menfokuskan konsentrasinya. Bukankah disana ada banyak orang? Kenapa hanya chakra Nozu dan Madara yang terasa kuat? Firasat buruk mendadak menyergapnya.

'Apa yang lain sudah...'

"Mokuton: Daijurin no Jutsu!"

Terdengar bunyi gemuruh besar dari tanah. Hashirama mengubah tangannya menjadi pohon sangat besar dan bercabang untuk mencengkram Susanoo Madara. Susanoo biru itu terlihat tidak dalam keadaan sempurna, dapat terlihat dari tidak lengkapnya jubah perang yang dikenakan Susanoo Madara. Madara terlihat tertekan.

"Ini saatnya" Nozomi membuka gulungan besar yang terselip di pinggangnya dan merapal jurus. Dari dalam gulungan itu, keluar sebuah busur panah berukuran besar dan beberapa anak panahnya. "Hashirama, bisakah kau menahan Madara dan Susanoo-nya lebih lama lagi? Jika Madara tidak bergerak, aku akan lebih mudah menyerangnya"

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Hashirama.

"Aku akan jelaskan nanti. Kita tidak punya banyak waktu" ujar Nozomi buru-buru.

"Akan kuusahakan" Balas Hashirama singkat. Madara dan Susanoo-nya terlihat mencoba melepaskan diri. Namun Hashirama kembali menambah cabang kayu besar dari tangannya, membuat Madara tidak bergerak.

Nozomi mengambil sepuluh anak panah sekaligus dan memasangnya di busur panah. Ia melompat tinggi ke atas.

"Ninpou: Seinaru no Jutsu!"

Sepuluh anak panah itu ditembakkan bersamaan oleh Nozomi ke arah Susanoo Madara. Anak panah itu tepat menancap di sepuluh titik berbeda. Di ujung tiap anak panah, tampak adanya benang chakra biru yang terhubung pada tangan Nozomi.

"Ninpou: Tokushu Shiru!"

Dapat terlihat jelas benang chakra di tiap-tiap anak panah menyerap chakra Madara, membuat Susanoo bertambah kecil hingga menjadi kerangka. Chakra itu mengalir masuk kedalam tubuh Nozomi. Baru kali ini Tobirama melihat Nozomi bertarung melawan Uchiha. Tak disangka Ia punya kekuatan sebesar itu untuk melemahkan Susanoo Madara yang berukuran sangat besar hingga tidak terlihat lagi.

Madara terlihat makin melemah. Beberapa saat kemudian Nozomi memutuskan benang chakranya. Keduanya terhuyung dan jatuh ke tanah.

"Kita lanjutkan kembali pertarungan kita" Hashirama segera melilit Madara dengan sulur kayunya.

"Nozomi sialan.. jurus itu" Madara berusaha melepaskan diri. "Kau.. jika berbuat sejauh ini.. Nozomi, kau pasti.. mati.."

Tobirama segera bergegas menghampiri Nozomi. Sungguh ninjutsu luar biasa dari pemimpin klan Hagoromo. Jika saja Nozomi mau bersekutu dengan Senju dari awal, Madara pastinya lebih cepat dikalahkan.

"Nozomi, serangan yang luar biasa.. Kau.."

Tobirama berhenti bicara saat Ia melihat keadaan Nozomi dari dekat. Sekujur tubuhnya lebam. Darah mengalir dari mata, telinga dan hidungnya. Nozomi terlihat beberapa kali batuk darah. Ia masih tersungkur di tanah dan tidak dapat bergerak.

"Nozomi! Apa yang terjadi?" Tobirama segera berlari menghampirinya. "Apa itu jurus terlarang yang berbahaya? Kenapa kau berbuat sejauh itu?"

"Aku... tidak apa-apa.. " Nozomi berusaha bicara. Ia terlihat kesakitan.

"Bagaimana bisa ini tidak apa-apa?" Tobirama membantu Nozomi bangun dan memapahnya. "Kau terluka parah. Kakak akan menyembuhkanmu.."

"Ha.. na.. Nozu" Nozomi memegangi dadanya.

"Jangan bicara dulu" Tobirama berusaha menenangkan diri. Dalam keadaan begini, Ia tidak boleh panik. Tobirama menoleh pada Hashirama. "Kak! Bisakah kau kemari sebentar? Nozomi terluka parah" Tobirama berteriak keras.

Hashirama segera melepas sulur kayu dari tangannya. Dengan serangan Nozomi tadi, Madara terlihat sudah kehabisan chakra untuk bertarung, Ia tidak dapat melepaskan diri dari sulur kayu yang masih mengikatnya.

Hashirama merasa ada firasat buruk. Jurus sehebat itu pasti.. punya konsekuensi yang besar. Ia segera melompat menghampiri Nozomi dan Tobirama. Betapa terkejutnya Hashirama ketika melihat keadaan Nozomi dari dekat.

"Astaga! Kau terluka parah Nozomi" Hashirama segera melakukan pengobatan dengan ninjutsu medisnya. "Jurus itu.. kau tidak perlu menggunakannya jika terlalu berbahaya"

"Aku mengerti.." Nozomi mulai bisa bicara lagi. "Aku bukan melakukannya untukmu. Tapi untuk diriku sendiri"

"Sudahlah, jangan bicara" ujar Hashirama. "Aku akan menyembuhkanmu dan kita pulang bersama ke desa"

"Tidak.." Nozomi menggeleng pelan. Ia menoleh ke arah Tobirama. "Tobirama, kau ninja tercepat di masa ini, bukan? Kau.. bisa kau antar aku.. menemui Nozu dan Hana di laut Utara sekarang?"

"Tidak bisa begitu" sela Hashirama. "Lukamu terlalu parah. Kita tidak bisa pergi kesana sekarang"

"Aku.. ingin melihat mereka" Nozomi tersenyum tipis.

"Semua jaringanmu rusak dan pecah. Kau sekarat dan hampir mati" Hashirama memperbesar cakupan chakra hijaunya. Ia terlihat tegang.

"Sudahlah, Hashirama" sela Nozomi pelan. "Aku mungkin tidak akan selamat. Penyembuhan yang kau lakukan ini, hanya bersifat sementara.. Jika aku menggunakan jurus itu, aku pasti.."

"Tidak!" Potong Tobirama. "Kenapa kau jadi pesimis di saat begini? Kakakku ninja medis hebat. Dia pasti bisa menyembuhkanmu"

"Tobirama ini..." Hashirama terlihat pucat, wajahnya kosong. "Sejauh apapun usahaku memperbaiki tiap jaringan dan sel di tubuhnya.. lukanya selalu terbuka lagi.."

Tobirama mengepalkan tangan dengan kesal. Ia merasa sungguh kesal dengan ketidakberdayaannya. Nozomi sudah membantu Senju mengalahkan Madara dan mereka tidak bisa menolong Nozomi kali ini?

"Tobirama, kau.. bawalah Nozomi ke laut Utara sesuai permintaannya dengan Hiraishin no Jutsu" Hashirama menghentikan pengobatannya. "Aku akan mengurus Madara"

"Kenapa kakak berhenti mengobatinya?" Tanya Tobirama kesal. "Apa kakak menyerah semudah itu?"

"Hashirama kawanku, hanya kau yang bisa mengalahkan Madara. Aku.. yakin itu" Nozomi berkata pelan. "Setelah ini, Madara.. keputusannya ada di tanganmu. Kuharap sebagai sahabatnya dari dulu.. kau.. bisa mengambil keputusan terbaik"

"Tentu saja.. Aku tidak akan menyia-nyiakan perjuanganmu" Hashirama berjalan memunggungi Nozomi dan Tobirama. "Terima kasih Nozomi. Terima kasih.." lanjutnya dengan suara bergetar

Dari suara Hashirama, Tobirama mengerti kakaknya bukan menyerah begitu saja. Hashirama melakukan hal itu karena memang sudah tidak ada yang bisa dilakukannya lagi sebagai ninja medis. Jika memang ini keinginan terakhir Nozomi..

Tobirama memapah Nozomi berdiri. Tangan Nozomi terasa begitu lunak, seperti kertas yang terkena air. Ada sebersit rasa ngilu dan nyeri yang mendera Tobirama saat Ia melingkarkan lengan Nozomi di lehernya.

"Baiklah, kita pergi!"

Dengan Hiraishin no Jutsu, Tobirama pergi secepat mungkin menuju laut Utara. Ia juga mencoba untuk memapah Nozomi dengan hati-hati agar tidak terjadi hal yang lebih buruk pada tubuhnya. Toka dan beberapa ninja Senju lain juga ikut pergi bersama Tobirama.

Selama perjalanan, Tobirama kembali menggunakan mode sensornya. Chakra Madara sudah tidak terasa lagi disana. Tobirama hanya bisa merasakan chakra Nozu yang sepertinya melemah. Bayangan Madara disana pastinya hilang saat Nozomi sudah menyerap hampir seluruh chakra dari tubuh asli Madara. Jika dipikir ulang, kenapa Nozomi tidak menyerap seluruh chakra Madara dan membiarkannya mati saja?

Setibanya di laut Utara, Tobirama menemukan tempat itu porak poranda. Sesuai perkiraannya, bayangan Madara sudah tidak ada. Ia menemukan Nozu dalam keadaan penuh luka disamping Hana yang terbaring di tanah. Yoshimura Hagoromo terluka parah dan tidak sadarkan diri. Satsu dan Amari tengah berusaha mengobati Yoshimura.

Tatapan mereka bertemu. Nozu segera menyadari kedatangan Tobirama dan kakaknya. Ia mencoba berdiri, namun kembali jatuh. Melihat itu, Tobirama yakin Nozu terluka. Ia segera mendekati Nozu dan Hana.

"Kak Nozomi.. akhirnya kakak datang! Apa kakak..."

Nozu berhenti bicara ketika Ia menyadari keadaan Nozomi yang sebenarnya dari dekat. Wajahnya pucat pasi. Dengan segenap kekuatannya, Nozu bangkit berdiri menghampiri Nozomi yang kini terbaring di pangkuan Tobirama.

"Kakak.. kenapa kakak seperti ini?" Air mata langsung mengalir di wajah Nozu yang penuh luka. "Aku akan mengobati kakak! Tunggu sebentar"

Nozu mengumpulkan chakranya di tangan dan membalurkannya ke luka-luka di sekujur tubuh Nozomi. "Kakak menggunakan teknik itu? Tubuh kakak tidak sekuat ayah. Kenapa kakak melakukan itu? Kakak harus yakin akan sembuh. Aku akan berusaha menyembuhkan kakak. Tenanglah kak.."

"Nozu sudahlah" Tobirama memegang tangan Nozu. "Nozomi.. mungkin tidak bisa selamat"

"Tidak!" Nozu menampik tangan Tobirama dengan keras. "Tobirama.. aku tidak akan memaafkanmu jika berkata macam-macam!"

Nozu kembali melanjutkan pengobatannya. "Kakak, tenanglah! Aku disini untuk menyembuhkan kakak"

Tobirama diam. Dia tahu betul chakra Nozu tidak banyak lagi. Tapi wanita itu tetap mengalirkan chakra ke telapak tangannya untuk mengobati Nozomi. Membuat darah mengalir dari seluruh luka di tangannya.

"Nozu.. Hana, dimana?" Tanya Nozomi pelan.

"Hana.. Hana.." Nozu terlihat hilang akal. "Hana baik-baik saja kak. Tidak perlu khawatir. Dia masih hidup" Ia kembali menangis. "Kakak! Bertahanlah!"

Nozomi menggeleng. "Aku senang Hana selamat.. Maaf Nozu, kita tidak bisa pergi.."

"Apa yang kakak katakan?" Nozu bertanya sambil menghapus air matanya yang jatuh. "Kita akan pergi setelah kakak sembuh"

"Aku selalu menyusahkanmu.. Aku membuatmu dan Hana menderita.. Aku bukan kakak yang baik.. Aku.."

"Hentikan Kak! Kumohon!" Nozu berteriak keras. "Berhenti bicara macam-macam!"

Tobirama kembali memegang tangan Nozu. Ia menatap wanita itu serius. "Nozu, hentikan pengobatannya dan dengarkanlah hal terakhir yang ingin dikatakan Nozomi"

Nozu tertegun. Chakra biru di telapak tangannya perlahan menghilang. Nozu, dengan kemampuan medis sehebat itu, Ia pasti sudah tahu Nozomi tidak akan hidup lebih lama lagi. Tapi Ia melawan semua akal sehatnya dan tetap berusaha menyembuhkan Nozomi walaupun hal itu mustahil. Perkataan Tobirama seakan menariknya kembali ke akal sehatnya.

"Nozu.. aku yakin kita akan bersama lagi suatu hari.." Nozomi tersenyum tipis. "Terima kasih sudah menyadarkanku.. maaf aku tidak bisa menjaga Hana dengan baik.. berhati-hatilah, masih banyak orang yang ingin berbuat jahat padamu.."

Nozu diam, tubuhnya gemetar. Wajah penuh lukanya menatap Nozomi dengan tatapan kosong.

Nozomi memejamkan mata. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk menggenggam tangan Tobirama. "Tobirama.. kau dan Hashirama.."

Genggaman Nozomi terlepas begitu saja. Darah masih mengalir dari sekujur tubuhnya yang kini sudah tak bernyawa lagi. Tobirama berusaha menahan diri dari perasaan sesak yang memenuhi dadanya. Perasaan ini mengingatkannya akan kematian Itama dan Kawarama. Ia menggenggam erat tangan Nozomi yang terkulai lemas.

"Kak Nozomi, beristirahatlah yang tenang. Aku tidak akan mengingkari janjiku padamu" ujar Tobirama pelan. "Penderitaanmu sudah berakhir..."

"TIDAK!" Nozu kembali berteriak histeris. "KAK NOZOMI, KAU PASTI PURA-PURA MATI KAN? KAU PASTI HANYA TIDUR KAN? AYO BANGUN! JANGAN BERCANDA! INI TIDAK LUCU, KAK!" Nozu menangis sejadi-jadinya. "KAKAK! KAK NOZOMI.. KAKAK.."

Tobirama berusaha menahan air matanya yang hampir jatuh. Kematian Nozomi dan melihat Nozu yang menangis sejadi-jadinya sambil berteriak histeris membuat seluruh badan Tobirama terasa pilu.

Nozu menepuk-nepuk wajah Nozomi pelan. "Kak Nozomi, bangun kak! Jangan tidur disini.. bukankah kakak bilang padaku jangan pernah tidur di tempat berbahaya" Nozu kembali mengumpulkan chakra di telapak tangannya dan kembali mengobati Nozomi seperti orang hilang akal.

"Hentikan, Nozu" Tobirama kembali menghentikan usaha sia-sia Nozu. "Aku tahu chakramu sudah tidak banyak" Tobirama meletakkan tubuh Nozomi dengan hati-hati di tanah.

Nozu diam. Tubuhnya bergetar hebat. Sambil menangis, Ia kembali mengerahkan seluruh kemampuan medisnya tanpa peduli perkataan Tobirama.

Beberapa saat kemudian, Nozu menghentikan pengobatannya. Ia bersimpuh di tanah. Wajahnya sangat pucat. Sesaat kemudian, Ia pingsan, tak sadarkan diri. Tobirama menangkap tubuhnya tepat sebelum Nozu jatuh.

Tobirama mengamati Nozu yang kini tergeletak tak sadar di pelukannya. Wanita ini keras kepala sekali. Apapun yang dikatakan Tobirama, Ia tetap tidak bisa menerima kenyataan kakaknya sudah meninggal hingga kehabisan chakra seperti ini.

"Toka, tolong bawa tubuh Nozomi ke desa" perintah Tobirama pada Toka yang ada bersamanya. Ia membaringkan Nozu dengan hati-hati diatas tanah dan menoleh pada beberapa bawahannya yang lain. "Tolong kalian bawa Nozu dan orang-orang yang terluka ini untuk mendapat pengobatan secepatnya. Aku akan kembali ke medan perang"

"Baik Tuan Tobirama" jawab Toka segera. Wanita itu berjalan membawa tubuh Nozomi sementara beberapa Shinobi Senju yang lain membawa Nozu, Hana dan Yoshimura.

Tobirama berjalan menghampiri Satsu dan Amari yang terdiam setelah Yoshimura dibawa oleh Shinobi Senju. "Satsu, Amari, pulanglah ke desa. Pantau penyembuhan Nona kalian. Kita akan bicarakan ini lebih lanjut setelah Nozu atau Hana sadar"

Keduanya hanya mengangguk. Walau tidak menderita luka berat, mereka terlihat begitu kelelahan. Dua orang shinobi Senju mendatangi Satsu dan Amari, menawarkan bantuan untuk memapah mereka berjalan. Keduanya menolak dan berjalan sendiri dengan tertatih-tatih.

"Kita kembali ke tempat kakak" Tobirama bergegas bersama beberapa orang anak buahnya. Tobirama dan pasukannya kembali ke daerah perbatasan.

Setibanya di daerah perbatasan, Ia berjalan mendekati kakaknya yang tengah berbicara dengan Madara yang terbaring tak berdaya.

Tobirama berjalan mendekati Madara. Pria ini, dengan ambisinya dia sudah menghancurkan ratusan hidup manusia lain. Mungkin perkataan Nozomi benar. Tidak ada jalan lain untuk menghentikan Madara selain membunuhnya. Tobirama menarik pedangnya dan siap menghujamkannya pada Madara.

"Madara, dengan ini semuanya berakhir"

"Tunggu Tobirama" ujar Hashirama. "Nozomi.. dia bisa saja membunuh Madara dengan jurus itu. Tapi, dia membiarkannya hidup dan menyerahkan keputusan akhirnya pada kita. Kita tidak boleh gegabah"

"KENAPA KAK? INI KESEMPATAN KITA UNTUK MENGAKHIRI SEMUANYA!"

Tobirama mulai emosi. Dari tadi Ia sudah berusaha menahan segala macam emosi yang merasuki pikirannya dan sekarang dia tidak tahan lagi. Jika saja Madara Uchiha bisa hilang dari muka bumi ini, masalahnya tidak akan serumit dan sejauh ini. Jika saja Madara tidak seperti itu, Nozomi pastinya belum meninggal.

"JANGAN IKUT CAMPUR!"

Hashirama mengeluarkan aura membunuh. Membuat Tobirama diam seketika, tak berani membantah sepatah katapun.

"Huh! Lakukanlah dengan cepat, Hashirama" ujar Madara tidak peduli. "Jika kau yang membunuhku, aku puas"

"Sok tegar juga percuma" ujar Hashirama. "Jika membunuh ketua klan sepertimu, para Uchiha muda yang memujamu akan mengamuk"

"Tidak. Orang seperti itu sudah tidak ada lagi" sanggah Madara.

"Tidak, pasti ada" sela Hashirama. "Apa kita tidak bisa bermain lempar batu seperti dulu lagi?"

"Itu mustahil. Kita sudah berubah. Aku yang sekarang sudah tidak mempunyai saudara lagi. Aku juga tidak mempercayai kalian"

"Apa yang harus kulakukan agar kau dapat percaya?" Tanya Hashirama sendu.

"Kalau ingin saling menunjukan isi hati" Madara menatap langit. "Bunuh adikmu sekarang juga atau bunuh diri. Dengan itu, kita impas. Lalu aku akan mempercayai klan kalian"

"Membunuh adik atau bunuh diri katamu?" Tanya seorang Shinobi Senju. "Jangan bicara konyol. Dasar.."

Hashirama mengangkat tangan, memberi tanda pada anak buahnya untuk tutup mulut.

"Itu mustahil" ujar Tobirama gusar. "Apa yang akan kakak lakukan? Kakak mau membunuhku? Atau mati demi omong kosongnya? Menggelikan. Jangan dengarkan dia, kak!"

Hashirama diam tertegun. Ia menatap Madara yang masih tergeletak di tanah, lalu bangkit berdiri.

"Terima kasih Madara. Kau memang penuh kasih sayang" ujar Hashirama sambil melepas armor besinya dan mengambil sebuah kunai. Dari dalam lubuk hatinya, Hashirama sangat tersentuh. Madara memberinya pilihan agar tidak membunuh Tobirama. Madara mengerti perasaan sebagai seorang kakak.

Tobirama mengenal betul siapa pria bernama Hashirama Senju itu. Kakak laki-lakinya memang orang yang terlalu baik dan naif. Demi tekadnya menghentikan perang antar klan yang mustahil, Hashirama rela melakukan apapun, termasuk mencoba berdamai dengan Madara walaupun ketua klan Uchiha itu berkali-kali ingin membunuhnya di tiap pertarungan. Tobirama tidak habis pikir. Setelah semua yang mereka lakukan sejauh ini, apa kakaknya memilih bunuh diri demi mendapat kepercayaan Madara yang bisa saja berarti omong kosong? Memikirkan semua hal itu membuat Tobirama hampir gila.

"Dengar Tobirama. Ingatlah dan ukirlah ini sebagai kata-kata terakhirku. Ini kata-kata yang kuucapkan dengan bayaran nyawaku dan berlaku untuk semua anggota klan" Hashirama menatap Tobirama serius. "Setelah aku mati, jangan bunuh Madara. Perseteruan antara Uchiha dan Senju takkan dimaafkan"

Tobirama diam, memandang kakaknya tidak percaya. Hashirama yang selalu menjadi sosok yang paling dikagumi Tobirama setelah ayahnya ternyata menganggap nyawanya sendiri tidak berarti. Demi Hashirama, Tobirama rela melakukan apapun, termasuk mengorbankan diri maupun bergabung dengan Uchiha. Bahkan Nozomi Hagoromo sudah mengorbankan diri untuk menghentikan peperangan ini.

Bagaimana bisa Ia mengakhiri hidupnya semudah itu?

"Bersumpahlah atas nama ayah kita, rekan-rekan yang sudah pergi mendahului kita serta para cucu yang belum lahir" Hashirama berusaha menguatkan tekadnya. Jika memang ini satu-satunya cara agar Madara percaya pada Senju. Jika memang ini satu-satunya cara untuk menghentikan perang ini seperti impian bersama mereka dulu. Jika memang nyawanya adalah bayaran yang setimpal untuk itu..

Hashirama meneteskan air mata tanpa sadar. "Selamat tinggal"

Tekad Hashirama sudah bulat. Tobirama diam dan tidak bergerak selangkah pun saat Hashirama mengarahkan kunai ke tubuhnya.

Dalam sekejap mata, sebelum kunai menusuk tubuh Hashirama, Madara bangkit berdiri dan menahan tangan Hashirama, mencegahnya bunuh diri.

"Sudah cukup" Madara menghalangi Hashirama. "Aku sudah melihat isi hatimu"

Hashirama terkejut. "Madara, kau.."

"Aku setuju dengan gencatan senjata dan menjalin aliansi dengan Senju" Madara membuat keputusan.

Dada Tobirama serasa mencelos. Disatu sisi Ia bersyukur kakaknya tidak bunuh diri. Tapi di sisi lain Ia juga merasa kesal dengan semua perkataan Hashirama dan Madara. Hampir saja Tobirama kehilangan kakak laki-lakinya hanya demi kepercayaan Madara? Benar-benar menggelikan.

"Madara, terima kasih. Terima kasih.. terima kasih" Hashirama tidak bisa menahan air mata bahagianya. "Terima kasih.."

"Kumohon hentikan semua ini, kak! Kau benar-benar merendahkan dirimu sendiri!" sela Tobirama kesal. "Baguslah jika dia tahu gencatan senjata adalah keputusan terbaik! Aku akan segera kembali ke desa. Aku masih ada urusan dengan Nozomi dan.."

"Nozomi, kau benar" Hashirama memotong perkataan Tobirama. "Ini alasan kenapa kau tidak membunuh Madara, bukan? Kau pasti sudah tahu Madara akan berubah. Terima kasih banyak untuk semuanya. Terima kasih Nozomi.. Aku janji akan menjaga Madara dan semuanya untukmu"

~=~

Setelah perjuangan dan pengorbanan yang panjang, bagaikan mimpi, sejak hari itu perang dunia Shinobi pertama berakhir. Madara Uchiha beserta seluruh klan Uchiha ikut bergabung dengan klan Senju dan Hagoromo. Para petinggi kedua klan mengadakan pertemuan resmi antara kedua ketua klan sebagai simbol bersatunya dua klan terkuat zaman itu.

Dengan jumlahnya yang tidak banyak lagi, Hashirama memutuskan untuk menjadikan klan Hagoromo yang tersisa sebagai anggota klan Senju. Ia juga mengusulkan agar mereka mengganti nama keluarga menjadi Senju. Sebagai perwakilan klan Hagoromo, Satsu dan Amari hanya menjelaskan bahwa semua anggota klan Hagoromo sudah tercerai berai ke berbagai tempat. Mereka belum bisa menyetujui maupun menolak usul Hashirama. Mereka akan menunggu hingga Nozu dan Hana bangun dari tidur panjangnya.

Tiga klan terkuat masa itu, Senju, Uchiha dan Hagoromo akhirnya bersatu.

Tobirama menatap kalender di meja kerjanya. Benar juga, sudah satu minggu.

Sudah satu minggu lamanya sejak perang besar itu berakhir. Sesaat setelah perjanjian perdamaian antara Senju dan Uchiha, klan Senju mengadakan pemakaman untuk menghormati Nozomi Hagoromo. Hashirama memutuskan untuk memakamkan Nozomi disebelah makam ayah mereka sebagai bentuk kekeluargaan antara Hagoromo dan Senju.

Kedua kakak beradik Hagoromo itu belum sadar bahkan hingga hari ketujuh setelah perang selesai. Hashirama memberitahu bahwa Hana terkena genjutsu tsukuyomi mangekyou sharigan dan Ia sudah meminta Madara memberikan obat untuk sadar dari jurus itu. Walaupun Madara sudah memberinya obat penawar, Hana tetap saja tidak sadarkan diri. Hashirama menyimpulkan efek obatnya mungkin berbeda untuk setiap orang.

Sementara Nozu menderita luka fisik lebih parah dari Hana. Luka bakar, memar dan sayatan senjata terlihat di sekujur tubuhnya. Tulang-tulangnya patah dan ada benturan hebat di kepalanya, membuat Nozu masih belum sadarkan diri. Hashirama menambahkan, adanya pukulan mental yang luar biasa juga bisa menjadi penyebab hilangnya kesadaran seseorang dalam jangka waktu lama.

Tobirama berjalan keluar kamarnya. Sudah satu minggu ini Ia tidak melihat Nozu di rumah. Terakhir kali wanita itu menginjakkan kaki disini..

'Kenapa banyak hal berubah dalam waktu sesingkat ini?'

Tobirama berjalan pelan keluar rumah. Sejak bersatunya Senju dan Uchiha, Hashirama jadi lebih sering menghabiskan waktu dengan Madara untuk membicarakan administrasi desa. Sesungguhnya Tobirama ingin bergabung dalam diskusi mereka. Namun ketidaknyamanan saat bersama Madara membuatnya memilih untuk tidak ikut pertemuan mereka terlalu sering.

"Tobirama, mau kemana?"

Tobirama menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Hani Yuki tengah berjalan menghampiri Tobirama.

"Kau ingin menjenguk kak Nozu?" Tanya Hani kemudian.

"Sejak kapan kau memanggilnya kakak?" Tobirama balik bertanya.

Hani tersenyum lembut. "Sepertinya aku akan lebih akrab dengannya jika aku memanggilnya kakak" jawab Hani. "Aku harus lebih akrab dengannya setelah ini. Setelah perang selesai, bukankah kau berjanji akan.."

"Aku tidak ingin membicarakan itu sekarang" sela Tobirama.

"Aku mengerti kau sibuk" Hani tersenyum tipis. "Biarkan aku menjagamu saat kak Nozu belum sadar"

"Aku bisa jaga diri sendiri" balas Tobirama cepat. "Dia akan segera bangun. Aku yakin"

"Semoga saja" timpal Hani. "Aku berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Kak Nozu dan adiknya. Melawan Madara Uchiha sama saja mencari mati. Aku sudah dengar luka yang mereka derita akibat pertarungan kemarin begitu parah"

"Hentikan omong kosongmu itu" ujar Tobirama tak acuh.

Awalnya Tobirama memang ingin menjenguk Nozu. Namun kedatangan Hani membuatnya enggan pergi kesana. Ia memilih untuk pergi ke sungai dan Hani tetap mengikutinya.

"Aku senang perang sudah berakhir" Hani tersenyum kecil. "Tidak akan ada pertarungan lagi. Sekarang anak-anak tidak akan berperang. Kita semua akan hidup damai disini" Hani menatap Tobirama lurus. "Apa yang ingin dilakukan seorang Tobirama Senju sekarang?"

Tobirama duduk di bawah pohon. Mengamati aliran sungai yang teduh membuatnya merasa tenang. "Aku hanya ingin menata ulang semua dari awal"

"Jangan bekerja terlalu keras. Kau akan sakit" Hani tersenyum. Ia duduk di sebelah Tobirama dan menggandeng lengan pria itu. "Kalau aku.. Aku sudah membayangkan menghabiskan hari-hariku sebagai istrimu. Aku tidak sabar menunggu hari bahagia itu datang. Itulah awal hidup bahagia kita"

Hari bahagia? Walaupun sering berselisih paham, hari-hari saat Nozu dirumah bersamanya membuat Tobirama merasa tenang dan nyaman. Apa itu juga bisa dikatakan bahagia? Jika Ia harus memilih hari paling bahagia dengan Nozu.. mungkin festival musim panas itu adalah jawabannya.

"Kau bilang aku mirip ibumu dan kau akan melindungiku seumur hidup. Aku masih ingat pernyataan perasaanmu. Saat itu kau masih kecil tapi kau tampan sekali" Hani tersenyum sendu mengingat masa lalu. "Saat itu juga kau merebut hatiku"

Mengingat kejadian itu membuat Tobirama merasa aneh. Saat itu, pertama kali dalam hidupnya Ia melihat seorang wanita yang sangat mirip ibunya. Wanita berambut putih panjang dengan tatapan teduh. Saat itu, Tobirama kecil merasa ia ingin melindungi wanita itu apapun yang terjadi karena Ia tidak mampu melindungi ibunya yang sangat Ia sayangi.

Tapi, bukankah saat itu berbeda dengan sekarang?

"Tobirama, kau belum mengumumkan pernikahanmu dengan kak Nozu pada semua orang disini. Lalu bagaimana? Apa kau ingin menikahiku lebih dulu atau menjadikanku istri keduamu?" Hani bertanya lagi. "Kau berjanji padaku lebih dulu tapi kau melangsungkan pernikahan lebih dulu dengan kak Nozu. Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana"

"Hani, bukankah sudah kukatakan padamu aku tidak ingin membicarakan hal itu sekarang?" Tobirama mulai terganggu.

"Tidak, Tobirama" sanggah Hani. "Kita harus memutuskan ini sebelum kak Nozu bangun. Kita akan memberitahunya setelah dia lebih sehat". Hani menatap Tobirama lurus. "Kau.. pasti tetap ingin menjadikan kak Nozu istri pertamamu ya?"

Tobirama bangkit berdiri. Lebih baik jika Ia pergi meninggalkan Hani sebelum Ia merasa lebih terganggu dan mengatakan hal lain yang tidak enak didengar.

"Tobirama.." Hani memeluk Tobirama dari belakang. "Kenapa kau tidak memberiku kehangatanmu? Sampai kapan aku harus menunggu lebih lama lagi?"

Tobirama segera melepaskan diri. Ia merasa ada seseorang yang datang mendekat kearahnya.

"Tuan Tobirama, rupanya anda disini" Toka Senju datang menghampiri Tobirama. Sore itu Ia mengenakan kimono rumahan standar. Pakaian yang jarang dikenakannya saat perang berlangsung. "Maaf mengganggu waktu istirahat, Tuan. Ada sesuatu yang harus saya katakan"

"Apa yang ingin kau sampaikan, Toka?" Tanya Tobirama segera.

Toka tersenyum. Wanita berwajah dingin itu kini terlihat lebih ekspresif. "Tuan, ada kabar gembira. Nona Nozu sudah bangun dari tidur panjangnya"

To be continued..

-8-8-8-

A/N : halo Readers semua.. kita bertemu lagi.. :)

Saya datang dengan chapter yang sedih.. disini kita semua harus berpisah dengan Nozomi.. T_T

Padahal dia baru sadar kembali seperti semula lagi, tapi Author (?) belum mengizinkan dia bahagia dengan adik-adiknya.. maafkan saya yang buat cerita sedih ini ya.. T_T

Akhirnya Nozu sadar setelah satu minggu. Bagaimana kelanjutan cerita Tobirama dan Nozu setelah Senju dan Uchiha bersatu??

See you on the next chapter..