Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 15 : The End of Contract

Sudah dua minggu berlalu sejak pertarungan itu.

Sudah dua minggu juga kak Nozomi pergi.

Aku tidak pernah menyangka Uchiha secara resmi menyatakan gencatan senjata dan bergabung dengan Senju.

Apa ini mimpi? Sepertinya bukan.

Luka-luka di tubuhku seakan berteriak pertarungan itu memang terjadi.

Luka-luka di sekujur tubuhku juga belum sembuh sepenuhnya. Tulang kering kaki kananku patah. Aku belum bisa berjalan dengan baik hingga harus menggunakan tongkat. Seringkali aku merasa rasa sakit luar biasa di kepalaku. Masih terbayang jelas saat Susanoo Madara menghempaskanku ke tebing di dekat pantai laut Utara. Jika saja aku tidak membuat dinding tanah pelindung tepat waktu, pastinya bukan hanya kepalaku yang retak. Mungkin saja aku sudah tercerai berai.

Sekujur tubuhku terasa lemas dan sakit. Sudah lima hari aku tidak makan dan hanya minum air putih. Aku sudah tidak punya gairah untuk hidup lagi. Jiwaku sudah pergi bersama kak Nozomi dan Hana yang mungkin tidak akan bangun dari tidur panjangnya. Tubuh ini.. mungkin tinggal menunggu saatnya sebentar lagi.

Padahal sedikit lagi. Hanya selangkah lagi, aku bisa pergi dari kejamnya dunia perang Shinobi ini bersama kak Nozomi dan Hana, lalu memulai hidup bahagia kami.

Kenapa takdir berkata lain?

Aku terpisah dari kak Nozomi selama-lamanya.

Hatiku serasa disayat-sayat melihat kak Nozomi yang terluka berlumuran darah. Sebagai ninja medis, aku tidak bisa menyembuhkan luka pengguna jurus Tonkutsu shiru. Mengingat bagaimana wajah kak Nozomi saat terakhir kali Ia bicara padaku membuat dadaku sesak.

Walaupun sudah bersamaku disini, Hana sudah tak sadarkan diri selama dua minggu. Hana terkena tsukuyomi Madara karena melindungiku. Air mataku mengalir jatuh. Saat itu, jika bukan karena keinginan yang sangat kuat untuk pergi bersama kak Nozomi, aku pasti sudah mati.

Kak Yoshimura sudah sadar. Dia menderita luka yang lebih parah dariku. Hingga sekarang, Ia belum bisa turun dari tempat tidur. Selama satu minggu ini, aku benar-benar bergantung pada Satsu dan Amari, bahkan hanya untuk sekedar mengganti pakaian.

Tidak bisa melindungi Hana dan Kak Nozomi, aku benar-benar tidak berguna.

Satu minggu lalu. Saat pertama aku membuka mata. Kakak beradik Senju itu datang menjengukku bersama Hani Yuki. Kenapa mereka membawa Hani juga? Mereka seperti ingin menunjukkan sesuatu padaku.

Sekarang perang sudah berakhir. Tujuan perjanjian kami sudah tercapai. Hanya menunggu waktu sebelum Hani menyingkirkanku dengan resmi. Hanya menunggu waktu juga Tobirama akan menceraikanku, memutus hubungan dengan Hagoromo setelah perang selesai lalu menikahi Hani. Sebentar lagi, aku akan diusir dari rumah Senju.

Aku tersenyum pahit. Seperti kata pepatah, habis manis, sepah dibuang. Mengingat jumlah anggota klan Hagoromo yang hanya sedikit, Tobirama pasti tidak segan untuk memutuskan hubungan antara Senju dan Hagoromo.

Dengan keadaanku yang sekarang, butuh waktu lama untuk menyembuhkan diri dan kembali menjadi ninja medis yang mereka butuhkan. Aku pasti terlihat seperti sampah dibandingkan dengan Hani yang bisa melakukan apapun.

Sudah cukup! Aku juga punya harga diri. Aku tidak akan membiarkan mereka mengusirku dari sini.

Aku beringsut untuk turun dari tempat tidur, mengambil tongkat untuk membantuku berjalan dan keluar dari kamar.

"Nona Nozu, anda mau kemana?" Amari menghampiriku segera begitu Ia melihatku keluar kamar. "Jika ada yang ingin Nona ambil, Nona bisa panggil saya"

Lima hari belakangan, aku tinggal di Igaku no Niwa. Aku tidak mau pulang lagi ke rumah mereka selamanya.

"Tidak Amari" aku terlalu lemas untuk banyak bicara. "Aku.. mau pergi"

"Kemana?" Amari bertanya dengan khawatir. "Nona jangan pergi kemana-mana dulu"

Aku menggeleng. "Aku harus pergi, Amari.. Aku mau menemui Hashirama Senju"

"Saya bisa memanggil beliau kesini untuk bicara dengan Nona" sela Amari. "Nona jangan banyak bergerak dulu. Bagaimana jika luka-luka yang lain terbuka lagi?"

"Amari, maukah kau menemaniku?" aku memohon dengan semua tenagaku. "Amari, kumohon. Aku harus menyampaikan sesuatu pada Hashirama"

Amari diam. Sepertinya Ia tahu keinginanku untuk pergi begitu kuat.

"Baiklah, Nona. Saya akan membantu Nona berjalan ke tempat Hashirama Senju. Mohon tunggu sebentar, saya akan kabari Satsu untuk berjaga disini" Amari bergegas menemui Satsu yang tengah mencuci pakaian di belakang.

Beberapa saat kemudian, tibalah kami di rumah Senju. Hashirama belum pergi keluar rumah. Ia menyambut kami dengan hangat sambil menyajikan tiga cangkir teh hangat sebagai teman minum.

"Nozu, aku senang kau sudah bisa berjalan kemari" Hashirama tersenyum hangat. "Penyembuhanmu masih perlu waktu cukup lama. Tapi yakinlah kau akan segera sembuh"

"Terima kasih" balasku singkat sambil meminum teh.

"Nozu, wajahmu pucat sekali" Hashirama mengamatiku dengan seksama. "Kau masih belum mau makan, ya? Apa perasaanmu masih tidak enak untuk makan? Kau harus makan untuk mempercepat penyembuhan"

"Ada yang ingin kubicarakan langsung denganmu" aku memutuskan untuk langsung bicara. "Aku akan meninggalkan tempat ini secepat mungkin dengan orang-orangku"

"Nona.. apa yang Nona katakan?" Amari terlihat terkejut.

Hashirama mengerutkan dahi. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Tapi, Nozu.. kau belum sembuh. Hana juga belum sadar dan.."

"Hana tidak akan sadar" aku berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh. "Sekarang dia seperti mati suri. Aku pernah melihat orang yang terkena serangan tsukuyomi dan tidak sadar hingga akhirnya meninggal"

"Nozu, jangan menyerah begitu. Aku yakin Hana akan sadar tapi tidak bisa memastikan kapan Ia akan bangun" ujar Hashirama.

"Perjanjian kita juga sudah berakhir. Sesuai perjanjian, aku akan meninggalkan tempat ini" aku tetap lanjut berbicara.

Hashirama menggeleng. "Tidak Nozu. Kita bukan lagi aliansi, kita adalah keluarga. Soal pernikahanmu dengan Tobirama, akan diumumkan secepatnya.."

"Itu tidak penting" aku memotong perkataanya. Hashirama, bagaimana bisa dia berkata sudah menganggapku sebagai keluarga? Dia hanya memandang aku dan orang-orangku sebelah mata. Hanya itu. Aku benar-benar muak menjadi alat mereka. Sampai kapan mereka akan menahanku dan memanfaatkanku disini?

"Aku tidak akan mengizinkanmu pergi, Nozu" Hashirama terlihat khawatir.

"Kakakku sudah mengorbankan nyawa demi mengalahkan Madara. Tonkutsu shiru, itu teknik rahasia pemimpin klan Hagoromo dari masa ke masa. Dengan jurus itu, mereka bisa menarik puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang ke neraka walau harus dibayar dengan nyawa mereka sendiri" aku menatap Hashirama serius. "Dengan jurus itu, aku yakin Madara sekarat dan kau bisa membunuhnya. Kenapa kau tidak membunuhnya?"

Hashirama diam. Ia menatapku dalam-dalam.

"Kau lebih menyayangi Madara dibanding kakakku. Tidak apa-apa. Itu hakmu" aku tersenyum getir.

"Jangan salah sangka, Nozu" Hashirama mulai serius. "Apalah gunanya jika kita membunuh Madara? Esok hari, akan ada generasi muda yang balas dendam dan perang akan terulang. Jika bersatu seperti ini, kemungkinan terjadi perang lagi lebih kecil"

"Kau lebih memilih Madara, Tobirama juga lebih memilih Hani dan klan Yuki. Aku mengerti, sejak awal tidak ada tempat untukku dan orang-orangku disini" Nozu tersenyum sendu.

Hashirama menggeleng. "Kau salah, Nozu. Kakakmu sendiri yang ingin agar aku tidak membunuh Madara. Dengan jurus tadi, seharusnya dia bisa membunuh Madara jika dia mau. Tapi apa yang terjadi? Nozomi tetap membiarkannya hidup"

"Kak Nozomi tidak bisa membunuhnya karena tubuhnya lemah" balasku dengan suara bergetar. "Dia lemah dan sakit seperti Ibu. Karena itulah dia tidak bisa membunuh Madara"

"Tidak Nozu! Nozomi berkata sebagai kawan Madara, Ia ingin menghentikan Madara berbuat kejahatan lebih jauh" Hashirama berusaha memberi tahu apa yang terjadi. "Nozomi ingin Madara berubah dan dia menitipkan tugas itu padaku sebagai pria yang pernah menjadi sahabat Madara"

"Kakakku tidak pernah menganggap Madara sebagai teman!" Sanggahku tidak terima. Aku sangat kesal hingga ingin menangis. "Madara selalu menyiksa dia dan Hana disana. Bagaimana bisa seorang teman melakukan itu?"

Aku berhenti bicara tiba-tiba. Kepalaku terasa sangat sakit. Aku menutup mata sambil memegangi kepalaku yang rasanya seperti ditusuk benda tajam.

"Nona Nozu, anda baik-baik saja?" Amari terlihat khawatir. "Nona, anda belum sembuh. Tuan Hashirama, kumohon hentikan pembicaraan ini. Anda akan menyiksa Nona Nozu jika terus membicarakan ini"

Hashirama menghela napas panjang. "Nozu, istirahatlah disini dulu jika kau mau. Tobirama dan Hani sedang tidak dirumah"

"Tidak" aku berusaha menjawab walaupun kepalaku masih sangat sakit. "Aku akan pulang dan pergi dari sini secepatnya"

"Setidaknya tunggulah hingga Yoshimura sembuh. Baru setelah itu kau kuizinkan pergi" Hashirama bangkit berdiri. "Jika ada Yoshimura, aku yakin dia bisa menjagamu dengan baik diluar sana"

Amari menatap Hashirama tidak percaya. "Tuan Hashirama, anda benar-benar ingin kami pergi?"

"Amari, bawa Nozu kembali ke Igaku no Niwa. Aku titipkan dia padamu" Hashirama berjalan pergi meninggalkan kami. "Saat ini, tidak ada lagi yang bisa kukatakan pada Nozu"

Aku tidak tahan lagi. Kepalaku terasa sangat sakit, hatiku juga sakit. Air mataku yang selama ini tertahan akhirnya jatuh. Jika Hashirama Senju benar-benar menganggap kami keluarga, kenapa dia tidak sadar akan perlakuan Senju selama ini pada kami? Kami dibenci, didiskriminasi dan ditolak oleh hampir semua warga Senju. Kenapa dia tidak mengatakan sesuatu yang bisa dilakukannya untuk membuat kami merasa seperti keluarganya?

"Nona, tenanglah dulu" Amari mengelus punggungku. "Kita pulang"

Aku menghapus air mata di wajahku, lalu berusaha bangun dan berjalan dibantu Amari meninggalkan rumah Senju. Setibanya di halaman depan, kami berpapasan dengan Hani Yuki.

"Kak Nozu, apa kau sudah sembuh?" Ia bertanya setelah melihatku. "Jika iya, maukah kau menunggu disini sebentar? Aku akan memasak banyak untuk perayaan kakak sudah sembuh"

"Jika memang kakak belum sembuh" Hani menatapku dari kepala hingga kaki. "Aku juga akan buatkan bubur. Luka kakak sepertinya sembuh lebih lama dari perkiraan"

"Tidak perlu, terima kasih" Amari terlihat tersinggung. "Kami permisi"

Hani tersenyum menatapku. Ia pasti sangat puas dan senang melihatku yang terlihat sangat menyedihkan. Auranya seperti mengatakan bahwa dia sudah mengalahkanku dan sah menjadi Nyonya besar di rumah Hashirama Senju.

'Aku yakin akan ada balasan untuk semua perbuatan tidak adil yang dia lakukan padaku'

-8-8-8-

Tobirama duduk diam di kursi kayu sementara Hashirama berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya.

"Tobirama, kapan kau akan mengumumkan pernikahanmu dengan Nozu? Aku yakin itu membuatnya gelisah akhir-akhir ini hingga dia ingin pergi dari sini secepatnya" Hashirama terlihat khawatir.

"Sejak kapan dia jadi orang yang gila perhatian seperti itu?" Jawab Tobirama sinis. "Lagipula dia tidak akan pergi jika tidak bisa berjalan, kak. Berhentilah khawatir"

"Tobirama kau harus mengerti. Nozu baru saja kehilangan Nozomi. Hana juga belum sadar. Pikirannya pasti kacau" Hashirama duduk disebelah Tobirama.

"Kita semua kehilangan orang yang kita sayangi akibat perang tidak masuk akal ini. Kita juga kehilangan ayah, ibu, Itama dan Kawarama" balas Tobirama. "Tidak seharusnya Ia membesar-besarkan penderitaannya seperti itu"

"Tobirama, aku tahu Nozu adalah wanita keras kepala. Aku khawatir dia nekat pergi" ujar Hashirama yang masih cemas. "Kau tahu? Kemarin Satsu berkata padaku Nozu sudah tidak makan lima hari. Lama-lama dia bisa mati jika terus hidup begitu"

"Lalu aku harus apa, kak?" Tobirama mulai kehilangan kesabaran. "Nozu tidak pernah mau bertemu dengan kita saat kita datang menjenguknya. Dia sudah tidak mau bicara dengan kakak, jadi dia pasti lebih benci padaku. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika memang dia sendiri yang ingin mati"

Hashirama menatap adiknya lurus. "Tobirama, apa kau mau Nozu hidup menyedihkan seperti itu? Apa kau tega membiarkannya mati begitu saja?"

Tobirama diam. Setelah perang selesai, Tobirama merasa lebih lelah dari sebelumnya. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Selain banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakannya untuk membangun desa, memikirkan Nozu yang belum sadar membuatnya khawatir siang malam hingga kehilangan nafsu makan.

Setiap kali melihat wanita itu tak sadar di ruangannya, Tobirama merasa kesal dan sedih. Ia berjanji pada Nozomi untuk menjaga Nozu. Tapi Ia tidak bisa melakukan apapun selain mendoakan agar wanita itu cepat sadar dari keadaan kritisnya. Mungkin saja saat itu Tobirama lebih sering memikirkan Nozu dibanding Hashirama.

Dan setelah Nozu sadar, keadaan malah makin rumit. Sejujurnya Tobirama sangat senang wanita itu masih hidup, setelah semua luka parah yang dideritanya. Tapi kenapa tiba-tiba Nozu menjauhkan diri dari mereka? lalu menyalahkan dia dan Hashirama atas kematian Nozomi? Nozomi sendiri yang ingin mengorbankan diri demi Madara dan perang ini. Apa Nozu tidak tahu itu?

"Tobirama, bahkan dia sudah tidak memanggilku kakak seperti biasanya. Dia pasti sangat membenciku ya?" Hashirama terlihat sedih.

Tobirama menatap kakaknya. Hashirama sangat menyayangi dan menyukai Nozu. Hingga detik ini, Tobirama masih bertanya-tanya kenapa bukan Hashirama saja yang menikah dengan Nozu dan Tobirama menikah dengan wanita dari klan Uzumaki itu? Namun mengingat janjinya pada Hani..

Hani Yuki, Tobirama hanya ingin melindungi wanita itu. Itu saja. Ia sama sekali tidak bermaksud menikahinya. Ia masih ingat dengan jelas, saat Hani kecil sekarat dan hampir mati, Tobirama yang baru saja kehilangan ibunya berjanji akan melakukan apapun yang penting gadis itu selamat. Saat itu Hani meminta Tobirama untuk berjanji menikahinya dan Ia menyanggupi janji itu. Dengan tekad kuat untuk tetap hidup, Hani bisa selamat dari masa-masa kritis akibat pertempuran saat itu.

Namun sekarang Tobirama punya janji lain. Janji pada Nozomi Hagoromo untuk melindungi Nozu dan Hana apapun yang terjadi. Jika dipikir lagi, Tobirama sudah menyanggupi janji untuk melindungi kedua wanita itu, Nozu dan Hani.

Tapi ada sesuatu yang berbeda diantara keduanya.

Tobirama setuju dengan perkataan kakaknya bahwa hal yang terjadi adalah yang terbaik, termasuk pernikahannya dengan Nozu. Mungkin takdir membantu mengarahkan Tobirama untuk memilih satu diantara mereka, untuk menikahi Nozu dan bukan Hani.

Ada sesuatu dari Nozu yang entah mengapa membuat wanita itu selalu ada di pikirannya walaupun Tobirama tidak ingin memikirkannya.

'tok, tok'

"Ah! Itu pasti Madara" Hashirama bangkit berdiri dari kursinya. "Masuklah, Madara"

Pintu ruangan terbuka dan lelaki Uchiha berambut panjang itu masuk kedalam ruangan. Auranya tetap mengerikan walaupun kini Madara sudah menjadi sekutu Senju. Tatapan Madara tertuju pada Tobirama yang juga tengah memperhatikannya dengan tatapan tajam. Mata mereka bertemu.

"Tobirama, malam ini aku ingin berdiskusi dengan Madara tentang desa kita" Hashirama berjalan menuju Madara dan menjabat tangannya. "Madara, tidak apa-apa jika Tobirama ikut bergabung?"

"Tidak apa-apa" balas Madara datar. "Mungkin dia punya masukkan bagus untuk rencana kita"

"Tidak, kak" Tobirama bangkit berdiri dari kursinya. "Aku akan menengok Nozu di Igaku no Niwa"

Hashirama mengerti. Tobirama merasa sangat tidak nyaman jika ada didekat Madara. Pasti itu hanya alasan agar dia bisa pergi dari sini tanpa menyinggung Madara.

"Kau pergi dengan Hani?" Tanya Hashirama.

"Tidak, aku pergi sendiri" Ia berjalan keluar ruangan. "Silakan nikmati waktu diskusi kalian. Aku akan bergabung lain waktu"

"Tobirama, kau mau menemui wanita Hagoromo itu?" Tanya Madara tiba-tiba.

Tobirama berhenti berjalan. Ia tidak menyangka Madara tertarik dengan kegiatannya malam ini. "Ya, ada yang ingin kau sampaikan?"

"Kudengar keadaannya makin parah akhir-akhir ini. Aku ingin bertemu langsung dengannya tapi sepertinya dia tidak ingin bertemu denganku" ujar Madara.

"Baguslah jika kau sudah tahu" timpal Tobirama. "Aku harap kau tahu batasanmu untuk bertemu dengannya, mengingat apa yang sudah kau lakukan pada keluarganya"

"Tobirama, jangan bicara begitu" ujar Hashirama. Kata-kata tadi pasti sudah sangat menyinggung Madara yang kini sudah menjadi teman mereka.

"Jika keadaannya sudah lebih baik, katakan padanya aku ingin bertemu. Ada yang ingin kukatakan" balas Madara tak acuh.

Tobirama mengerutkan dahi curiga. "Kenapa tidak kau katakan sekarang? Aku akan menyampaikannya nanti"

"Tidak" Madara menggeleng. "Aku harus mengatakan ini langsung padanya"

Tobirama melipat tangan di dadanya. Ia merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Apa yang ingin dilakukan Madara Uchiha kali ini? Apa dia ingin memperalat Nozu menjadi budaknya seperti yang dilakukannya pada Nozomi dulu?

"Hentikan Tobirama" Hashirama terlihat tidak nyaman dengan kecurigaan Tobirama. "Madara tidak mungkin berbuat sesuatu yang merugikan kita"

"Semoga saja" Tobirama kembali berjalan meninggalkan ruangan itu. "Selamat malam kak"

Tobirama mengerti Hashirama pasti sangat keberatan dengan sikap curiganya terhadap Madara. Namun hingga detik ini, Tobirama masih tidak bisa mempercayai Madara seperti Ia percaya pada kakaknya. Bagaimana bisa musuh bebuyutan menjadi teman? Jika tidak waspada, Uchiha bisa menjadi duri dalam sekam. Mereka kuat dan berbahaya. Mungkin di suatu hari yang indah, mereka bisa melakukan kudeta untuk merebut pemerintahan desa.

Tobirama segera menyingkirkan pikiran tentang Madara begitu tiba di halaman depan Igaku no Niwa. Taman obat ini sudah seperti rumah kedua untuk Nozu. Tobirama bisa melihat lampu di dalam masih menyala dan ada bayangan orang yang berlalu lalang. Mereka belum pergi tidur padahal malam sudah cukup larut.

Setelah menghela napas panjang, Tobirama memantapkan langkahnya untuk masuk kedalam dan mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, pintu rumah itu terbuka dan Tobirama bertemu Satsu setelah sekian lama.

"Ah! Selamat malam Tuan Tobirama" Satsu membungkuk hormat. "Ada yang bisa saya bantu?"

"Satsu, Nozu sudah tidur?" Tanya Tobirama segera. "Aku ingin bertemu dengannya"

Satsu terlihat bingung. "Mari masuk kedalam dulu, Tuan. Diluar dingin" Ia mempersilakan Tobirama masuk di ruang depan.

Rumah ini tidak berubah. Semuanya masih tetap sama walau sudah banyak hal yang terjadi.

"Nozu, ada dimana?" Tobirama bertanya lagi.

"Nona Nozu ada di kamar, menunggui Nona Hana. Tapi Tuan.." Satsu terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Ia menahan diri untuk tidak mengatakannya.

"Ada apa, Satsu?" Tobirama mengerutkan dahi. "Katakanlah"

"Nona Nozu.. sepertinya tidak ingin bertemu dengan siapapun" Satsu memberanikan diri untuk bicara. "Maaf Tuan, bahkan hari ini Ia belum bicara sepatah katapun padaku dan Amari"

Tobirama menghela napas panjang. "Dia juga tidak makan hari ini?"

Satsu menggeleng. "Nona belum makan enam hari, Tuan. Dia selalu berkata akan makan saat Nona Hana bangun. Tapi.. tapi nyatanya Nona Hana belum sadar hingga detik ini"

Tobirama mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa Nozu melakukan ini padanya? Disaat Tobirama begitu khawatir dengan keadaanya, kenapa dia malah menyakiti diri sendiri? Apapun yang terjadi, Tobirama tidak akan membiarkan wanita itu mati sia-sia.

"Aku akan tetap menemuinya walaupun dia tidak mau bertemu" Tobirama menyeruak masuk.

"Tunggu, Tuan" Satsu menarik lengan Tobirama. "Aku mohon agar Tuan berhati-hati saat bicara dengan Nona. Nona tambah aneh akhir-akhir ini. Aku berharap Tuan bisa mengatakan sesuatu untuk memperbaiki keadaannya. Aku dan Amari tidak tahu harus minta bantuan pada siapa lagi selain pada Tuan"

Tobirama mengerti. Nozu tidak hanya membuatnya dan Hashirama khawatir. Ia juga membuat Satsu dan Amari yang sangat menyayanginya khawatir seperti ini.

"Aku akan berusaha sebisaku" balas Tobirama singkat.

"Terima kasih, Tuan! Terima kasih!" Satsu menundukkan kepala berkali-kali sebagai tanda terima kasihnya yang sangat dalam. "Mari kemari Tuan, saya antar menuju kamar Nona Hana"

Tobirama mengikuti Satsu yang membawanya menuju sebuah kamar kecil yang terletak di belakang. Sepertinya pembicaraannya dengan Nozu nanti akan jadi pembicaraan yang sangat melelahkan.

"Silakan masuk, Tuan. Ini kamar Nona Hana" Satsu berbisik pelan. "Ini makanannya. Semoga Nona mau makan"

"Terima kasih banyak, Satsu"

Tobirama membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Sekilas, Ia bisa melihat siluet tubuh Nozu yang tengah duduk disebuah kursi, disampingnya ada sebuah tempat tidur dimana Hana masih terbaring tak sadarkan diri. Nozu tampak tidak tertarik dengan siapa yang masuk ke dalam kamar. Ia tetap diam sambil menatap langit malam melalui jendela kamar.

"Nozu, kau.. sudah lebih baik?"

Rupanya suara Tobirama mampu membuat Nozu menoleh. Cahaya kamar itu redup, hanya diterangi oleh sinar bulan yang masuk melalui jendela kamar. Nozu bangkit berdiri dari kursinya, berjalan perlahan untuk menyalakan lampu.

Betapa terkejutnya Tobirama melihat Nozu yang ada didepan matanya. Nozu terlihat begitu kurus dan pucat, dengan pipi tirus serta mata bengkak dan menghitam. Luka-luka di wajahnya sudah terlihat membaik namun penampilannya sangat menyedihkan. Ini sangat berbeda dengan penampilannya Nozu di kesehariannya yang ceria dan bersemangat. Rasanya sudah seratus tahun lamanya Ia tidak bertemu dengan Nozu yang selalu berisik dan penuh tawa.

Nozu balas menatap Tobirama dengan tatapan kosong. Ia menatap Tobirama cukup lama, lalu kembali duduk dan menyeka wajah Hana dengan sebuah handuk kecil.

"Kau mau apa?" Tanya Nozu yang kini memunggungi Tobirama.

"Sampai kapan kau mau hidup seperti ini?" Tobirama berusaha bicara sedatar mungkin.

"Entahlah.." balas Nozu pelan. "Mungkin selamanya seperti ini. Mereka.. sudah membawa pergi jiwaku. Bukankah sama saja sekarang aku sudah mati?"

"Kau masih bernapas dan bergerak. Nozu, kau belum mati" Tobirama membalas perkataan Nozu. "Sampai kapan kau mau menyiksa dirimu dengan meratapi apa yang sudah terjadi?"

"Selama-lamanya, Tobirama.. Aku akan seperti ini" jawab Nozu yang terdengar seperti orang hilang akal. "Bukankah kau lebih senang? Dengan begini aku tidak akan menggangu siapapun termasuk dirimu.."

"Hentikan omong kosongmu" Tobirama mulai kehabisan kesabaran. Kenapa wanita ini selalu membuat kesabarannya habis? Ia berjalan mendekati Nozu dan membalik tubuh wanita itu agar Tobirama bisa menatap wajahnya lurus.

Tobirama tertegun begitu matanya bertemu dengan mata Nozu. Tatapan Nozu menyiratkan kepedihan dan kesakitan yang mendalam. Seketika Tobirama merasa dadanya sesak dan sakit. Melihat Nozu yang begitu menderita membuatnya seakan bisa merasakan kesakitan yang sama di tubuhnya sendiri.

"Mereka memang akan pergi cepat atau lambat. Kau harus menghargai hidupmu demi orang-orang yang sudah mati" Tobirama berusaha bicara lagi. "Apa kau pikir Nozomi tidak sakit melihatmu seperti ini?"

"Kakak sudah pergi. Hana juga sebentar lagi pergi. Aku juga akan menyusul mereka sebentar lagi" Nozu tersenyum lirih. "Kenapa kau masih menemuiku? Kau mau menertawai aku yang sudah seperti mayat hidup ini?"

"Penghargaan terbesar untuk orang yang sudah mati adalah melanjutkan hidup dengan baik dan menyimpan kenangan mereka dengan baik" Tobirama mulai frustasi. "Berhenti menyiksa dirimu seperti ini"

"Aku akan tetap begini hingga Hana bangun" ujar Nozu bersikeras.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati konyol seperti ini" Tobirama menarik Nozu berdiri tapi Nozu segera menarik kembali lengannya.

"Aku mengkhawatirkanmu"

Tanpa sadar kata-kata itu meluncur keluar dari mulut Tobirama. Mungkin pikirannya juga jadi kacau melihat Nozu seperti itu.

"Khawatir? Apa aku tidak salah dengar? Bukankah kau memang tidak peduli padaku? Ada Hani yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu disana" Nozu menghela napas panjang. "Kau akan menikahinya sebentar lagi, bukan? Untuk apa kau buang-buang waktu disini? Lebih baik kau gunakan waktumu yang berharga untuk memikirkan masa depan bahagia dengan Hani"

Tobirama tertegun. Sejak kapan Nozu tahu janjinya pada Hani? Seharusnya tidak ada yang tahu selain Tobirama dan Hani sendiri. Apa Hani yang mengatakannya pada Nozu sehingga Nozu jadi seperti ini?

"Pergilah. Aku tidak mau melihatmu lagi"

"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Tobirama curiga.

"Tidak penting aku dengar dari mana" Nozu bergumam lirih. "Aku lelah, pergilah"

"Aku khawatir padamu. Kakak juga, pelayanmu juga. Kau mau kami semua mati karena melihatmu seperti ini?" Tobirama mulai kehilangan kesabaran.

"Kalian semua tidak perlu melakukan itu untukku. Lanjutkan saja hidup kalian masing-masing" Nozu kembali bicara meracau.

Tobirama kembali mengacak rambutnya frustasi. Nozu sungguh tidak mau mendengarkan perkatanya. Ia bahkan tidak menghargai sedikitpun niat baik Tobirama maupun orang-orang yang mengkhawatirkannya. Baru kali ini Tobirama benar-benar menunjukkan kepeduliannya dan Nozu tidak menghargai itu.

"Sudah cukup. Kau harus diberi pelajaran agar kau lebih menghargai hidupmu" Tobirama menarik Nozu frustasi. "Kau harus makan atau aku akan memaksamu makan bagaimanapun caranya!"

"TIDAK!" Nozu berusaha melepaskan diri. "AKU TIDAK MAU MELIHAT ORANG TIDAK BERPERASAAN SEPERTIMU. PERGI!"

Tobirama sungguh tidak habis pikir. Bagaimana bisa Nozu berkata Ia tidak berperasaan setelah apa yang dikatakannya sejauh ini?

"Aku.. benar-benar benci padamu" Nozu menekan kata terakhirnya. "PERGI! AKU TIDAK MAU MELIHATMU LAGI!" Ia berteriak keras.

"Nona Nozu, ada apa?" Amari menyeruak masuk kedalam kamar. "Kenapa anda berteriak seperti itu?"

"Kau harus makan!" Tobirama mencengkram Nozu dengan erat, lalu memasukkan sesendok makanan ke mulutnya dengan paksa. Nozu yang tidak memiliki tenaga untuk melawan akhirnya terpaksa menelan makanannya dengan pedih.

"Tuan Tobirama, hentikan! Anda bisa melukai Nona" Amari menarik lengan Tobirama. "Nona Nozu, tidak sopan berteriak pada Tuan Tobirama seperti itu"

Tobirama diam. Dadanya seperti ingin meledak menahan emosi yang dari tadi dirasakannya. "Siapkan saja peti mati untuk Nona-mu ini. Biarkan saja dia mati. Aku tidak peduli lagi"

Tobirama berjalan keluar meninggalkan tempat itu dengan perasaan kesal luar biasa. Nozu sangat keterlaluan.

'Percuma aku membuang perasaan dan waktuku untuknya'

Di tengah jalan, Tobirama mengepalkan tangannya. Walapun dia sangat marah bercampur sedih melihat Nozu menyakiti dirinya sendiri dan perkataannya membuat Tobirama sakit hati, Ia tetap tidak bisa membiarkan wanita itu mati. Jika dia mati..

'Seperti yang sudah kukatakan, aku tidak akan membiarkanmu mati. Bagaimanapun caranya!'

-8-8-8-

Langit sore ini cerah.

Sejak tiga hari lalu, kakiku mulai membaik. Begitu pula luka-lukaku yang lain. Aku merasa lebih sehat. Kini aku mulai bisa melakukan kegiatan ringan seperti makan, mandi, berpakaian tanpa dibantu Satsu dan Amari.

Rupanya takdir belum mengizinkanku mati. Tiga hari lalu seperti keajaiban, aku mendapat tanda-tanda Hana mulai sadar dari komanya. Entah benar atau tidak, saat aku bicara padanya, Hana merespon perkataanku walau hanya berupa anggukan dan gelengan. Aku berharap Hana akan sadar dalam beberapa hari kedepan. Hal itulah yang mengembalikan semangat hidupku sehingga penyembuhan lukaku bisa berlangsung lebih cepat.

Setelah mandi, aku berjalan menuju kamar Hana dan berpapasan dengan Satsu.

"Selamat sore, Nona Nozu!" Satsu menyapaku ceria. "Aku sudah letakkan handuk dan ember kecil berisi air di dalam. Mari kita ganti pakaian Nona Hana"

Aku tersenyum dan mengangguk pelan. "Terima kasih Satsu"

Kami masuk ke kamar Hana bersama. Satsu membantuku melepaskan pakaian Hana dan memakaikan kimono baru untuknya sementara aku menyeka tubuh Hana dengan handuk basah.

"Aku yakin Nona Hana akan sadar sebentar lagi" ujar Satsu yakin. "Kemarin Nona Hana mengirimkan tanda yang baik"

Aku mengangguk dan tersenyum tipis. Nasib sungguh baik. Aku tidak dibiarkannya sebatang kara di dunia ini. Tatapanku teralih pada Satsu yang tengah memperhatikanku dengan seksama.

Aku mengerutkan kening. "Ada apa Satsu? Apa ada yang aneh?"

"Tidak, Nona" Satsu menggeleng. "Aku senang sekali. Sekarang Nona sudah jadi Nona Nozu yang cantik dan bersemangat lagi. Sejak Tuan Tobirama memaksa Nona untuk makan malam itu, keadaan Nona jadi lebih baik"

Aku menghela napas. "Aku bukan mau makan karena dia yang menyuruhku makan. Kebetulan setelah dia datang, paginya Hana merespon perkataanku. Berhenti bicara tentang Tobirama. Aku akan tetap bertahan hidup demi Hana. Aku belum boleh mati"

"Tidak Nona" Satsu kembali menggeleng. "Aku yakin pasti itu karena Tuan Tobirama bicara padamu"

Aku terdiam. Setelah tiga hari lalu, Tobirama belum mengunjungiku lagi dan aku tidak peduli. Aku yakin sekarang dia tengah sibuk mengurus desa baru bersama Hashirama dan Madara.

Jujur kata, aku tidak terlalu ingat apa yang kukatakan pada Tobirama tiga hari lalu. Saat itu pikiranku kacau sekali dan entah kenapa dia datang. Aku hanya ingat samar-samar Tobirama memintaku untuk tidak mati konyol karena menangisi Hana dan Kak Nozomi. Aku tidak terlalu ingat apa hal yang kukatakan tapi sepertinya aku membicarakan Hani lalu berteriak padanya. Mungkin perkataanku saat itu keterlaluan. Tapi ya sudahlah. Sebentar lagi aku juga akan pergi dari sini.

"Nona Nozu, apa kita benar-benar akan pergi dari sini?" Tanya Satsu.

Aku mengangguk pelan. "Ya. Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa, Nona. Tapi.." Satsu terlihat ragu. "Bukankah Hashirama Senju sudah mengatakan kita adalah bagian dari Senju mulai sekarang? Sepertinya beliau ingin kita tetap tinggal disini"

"Mungkin saja begitu. Mungkin saja tidak" Aku menatap Satsu lurus. "Kak Yoshimura juga sudah lebih sehat sekarang. Saat Hana bangun, kita akan pergi"

"Nona, tapi aku dan Amari.."

"Jika kau sudah merasa nyaman dan tetap ingin tinggal disini, tidak apa-apa" aku tersenyum menatapnya. Aku memberikan kebebasan penuh padanya untuk tinggal atau ikut denganku.

"Nona, sejak Uchiha bergabung, entah kenapa warga Senju jadi lebih ramah pada kita. Bahkan pagi ini banyak dari mereka yang datang memberikan hadiah buah, makanan dan obat-obatan untuk Nona Nozu dan Nona Hana. Mereka juga ingin menjenguk dan melihat Nona secara langsung. Aku tidak tahu kenapa mereka berubah begitu" ujar Satsu bingung. "Padahal sebelumnya mereka sangat membenci kita"

"Mungkin saja karena Hashirama Senju sudah memberitahu semua warga disini bahwa kak Nozomi membantunya mengalahkan Madara dan menghentikan perang" Aku mencoba menerka-nerka.

"Orang-orang disini sudah baik pada kita. Kalau kita pergi ke tempat lain, jangan-jangan orang disana tidak menerima kita lagi" Satsu terlihat khawatir.

"Selamanya aku tidak akan merasa nyaman disini" aku bergumam pelan. "Sepertinya hidupku akan lebih baik jika aku hidup jauh dari dua orang bernama Tobirama Senju dan Hani Yuki"

Satsu menatapku sedih. "Aku tahu wanita bernama Hani dan keluarganya tidak menyukai Nona karena dia menyukai Tuan Tobirama. Andai saja mereka bisa menghilang dari sini.."

"Tidak mungkin, Satsu" aku menyela perkataannya. "Bukankah aku sudah memberitahumu Tobirama akan menikah dengan Hani setelah perang selesai?"

"Ya, Nona sudah mengatakannya" Satsu bergumam getir. "Bagaimana bisa Tuan Tobirama melakukan itu pada Nona setelah semua yang Nona berikan? Dia bahkan tidak mengakui Nona sebagai istrinya yang sah. Pernikahannya dengan Nona hanya untuk mendapat bantuan Tuan Yoshimura. Itu memang keterlaluan"

"Ya sudahlah, mau diapakan lagi" ujarku putus asa. "Aku juga yang sudah setuju dari awal. Seharusnya aku sudah tahu akhirnya jadi begini. Jadi itu bukan masalah besar"

"Nona Nozu, Satsu, makan malam sudah siap" Amari berteriak dari depan.

"Mari kita makan dulu, Nona" Satsu beranjak bangun dari kursinya.

Setelah selesai makan malam, aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar sendiri untuk mencari udara segar. Masih pukul setengah 8 malam dan jalan-jalan setapak di desa masih ramai. Karena itulah Satsu dan Amari mengizinkanku berjalan sendiri asal aku tidak pulang larut malam. Aku tersenyum sendiri. Kalau begini, mereka seperti orang tuaku dan aku seperti anak mereka.

Hingga detik ini, aku masih belum bisa percaya akan perubahan sikap warga Senju padaku dan orang-orang Hagoromo disini. Semua orang yang berpapasan denganku dijalan melempar senyum ramah bahkan hingga membungkuk hormat. Mereka lebih canggung menerima warga Uchiha yang baru bergabung. Aku sangat mengerti. Menerima seseorang yang sudah membunuh keluargamu tidaklah semudah yang diucapkan. Hingga detik ini, aku juga masih tidak mau bertemu dengan Madara Uchiha.

"Selamat malam, Nona Nozu" suara yang familiar menyapaku dari salah satu kedai sake. Aku menoleh dan mendapati Toka Senju tengah berjalan keluar dari kedai itu dan menghampiriku.

"Toka! Lama tak bertemu" Aku memeluknya hangat. "Apa kabar?"

"Kabar saya sangat baik, Nona. Terutama setelah melihat keadaaan Nona semakin baik dari hari ke hari" Toka tersenyum. Wanita itu sudah tidak sedingin saat pertama kali kami bertemu. Sekarang dia terlihat lebih bahagia dan murah senyum.

"Terima kasih, Toka" aku tersenyum hangat padanya. "Kau baik sekali"

"Nona, maukah anda ikut bergabung bersama keluarga saya? Kami sekeluarga sedang merayakan berakhirnya perang ini. Ada banyak makanan dan minuman enak disana" ajak Toka sopan.

Aku menimbang-nimbang. "Tapi aku baru saja makan malam, jadi.."

"Tidak masalah. Jika begitu, anda ikut minum saja" Toka memotong perkataanku.

"Minum?" Aku mengerutkan dahi. "Aku bukan orang yang kuat untuk minum-minum. Aku cepat mabuk dan sulit berhenti jika sudah minum sake. Jika sudah begitu.."

"Ayolah, Nona. Segelas sake tidak akan membuatmu mati" Toka menarik lenganku.

Toka Senju adalah wanita Senju pertama yang bersikap baik padaku. Bahkan disaat semua orang memandangku buruk, Toka-lah satu-satunya yang membelaku, sama seperti saat di pasar dulu. Mengingat mungkin saja aku tidak akan bertemu lagi dengan Toka setelah pergi dari sini membuatku ingin mengakrabkan diri dengannya dan keluarganya malam ini. Mungkin tidak apa-apa..

Aku tersenyum kaku. "Baiklah.. tapi sebentar saja ya"

-8-8-8-

"Tobirama, kau belum tidur?"

Tobirama menoleh tak acuh kearah Hani yang memasuki ruang kerjanya. Ia kembali lanjut menulis. "Ya. Ada apa?"

Hani duduk di kursi yang ada dihadapan Tobirama. Ia mengamati Tobirama yang tengah menulis sambil tersenyum. "Tulisanmu rapi sekali. Sudah larut malam, ayo tidur"

"Kau pergilah tidur duluan jika kau mau. Aku harus menyelesaikan ini malam ini" Tobirama bicara tanpa melihat Hani.

"Tobirama, malam ini apa aku boleh tidur denganmu?"

Tobirama meletakkan kuasnya. Ia berhenti menulis dan menatap Hani dengan mata merahnya yang tajam. "Kau punya kamar sendiri"

"Aku kesepian" Hani tersenyum sendu. "Aku ingin kau menemaniku malam ini"

"Sudah kukatakan padamu aku akan menyelesaikan laporan ini malam ini. Lebih baik kau tidak perlu menungguku" Tobirama berusaha bicara sedatar mungkin.

Hani berdiri dan memeluk Tobirama dari belakang. "Ayolah Tobirama. Kita bisa melakukan banyak hal malam ini.."

'tok, tok, tok, tok'

Kesempatan bagus. Ketukan pintu secara otomatis bisa membuat Tobirama melepaskan diri dari Hani.

"Siapa yang datang malam-malam begini?" Tobirama berdiri dari kursinya dan berjalan kedepan. Hani mengangkat bahu, lalu mengikutinya hingga ke ruang tamu.

Tobirama membuka pintu dan menemukan Satsu disana. Wajah Satsu terlihat panik dan khawatir.

"Satsu, kenapa kau datang selarut ini? Apa ada sesuatu?" Tanya Tobirama curiga.

"Maaf menggangu, Tuan Tobirama" jawab Satsu panik. "Nona Nozu.."

"Nozu? Ada apa dengannya?" Tanya Tobirama spontan.

"Nona Nozu mabuk dan mengamuk di kedai sake. Aku dan Amari tidak bisa menghentikannya. Aku ingin minta bantuan Tuan untuk membawa Nona Nozu pergi dari kedai itu" pinta Satsu khawatir.

'Nozu. Wanita itu benar-benar.. Kenapa Ia terus saja melakukan hal aneh akhir-akhir ini?'

"Dimana dia, Satsu? Aku akan bawa dia pulang kemari" Tobirama bergegas pergi bersama Satsu, meninggalkan Hani yang berdiri dibelakangnya tanpa berkata apapun.

Hani tersenyum sinis. Bagaimana bisa Tobirama meninggalkannya begitu saja demi wanita bernama Nozu Hagoromo itu? Tidak bisa begitu. Hani sudah memiliki pria itu lebih awal, bahkan sebelum Nozu masuk kedalam kehidupan Tobirama. Ia tidak akan membiarkan siapapun merebut pria yang sangat dicintainya itu. Bahkan jika Hani tidak bisa memiliki pria itu, maka tidak ada seorang wanita pun di dunia ini yang boleh memilikinya.

"Nozu Hagoromo, bagaimana bisa dia menggunakan cara murahan seperti itu untuk merebut perhatian Tobirama?" ujar Hani geram. "Tunggu saja hingga waktumu tiba" lanjutnya sinis.

To be continued..

-8-8-8-

A/N: Readers semua.. kita bertemu lagi.. :))

Apa kabar semuanya? Semoga sehat dan bahagia selalu yaa..

Oh iya, author ingin berterima kasih sekali pada kalian yang masih mengikuti kelanjutan cerita ini.. dukungan dari kalian supaya author menyelesaikan fic ini sangat membantu :D

Maaf kalau disini Nozu terlihat seperti orang sakit jiwa.. kira-kira apa yang akan dilakukan Tobirama supaya Nozu bisa kembali seperti semula lagi ya?

Hihihi.. jawabannya tunggu chapter berikutnya yaa.. ;)

See you soon all.. :D