Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 16 : Coming Back Home

Dengan mata terbelalak, Tobirama tiba di kedai minum yang porak poranda itu.

"Nona, saya mohon hentikan!"

Seorang perempuan tua berusaha memegangi Nozu yang terlihat mabuk. Amari dan beberapa warga Senju juga mencoba menghentikan Nozu menghancurkan tempat itu lebih jauh.

Wajah Nozu terlihat sangat merah, pandangannya sangar, pakaiannya dan rambutnya berantakan. Tobirama tidak habis pikir. Bagaimana bisa wanita berstatus nyonya Senju membiarkan dirinya mabuk berat di tempat umum seperti ini?

"Berikan aku.. segelas anggur lagi.. Jika tidak.." tatapan Nozu menyapu bangunan itu. "Eh.. aku akan menghancurkan tempat ini, itu, dan sebelahnya lagi.."

"Nona Nozu, kumohon! Kita pulang!" Amari berteriak keras.

"Nozu, hentikan!"

Tobirama berteriak dengan suara lantang dan keras. Membuat semua orang di kedai minum itu menoleh padanya, tak terkecuali Nozu. Wanita itu berjalan sempoyongan mendekati Tobirama. Ia berhenti di tengah jalan, terjatuh dan muntah. Sambil menggelengkan kepala, Tobirama berjalan menghampirinya.

"Kita pulang!" Tobirama menarik lengan Nozu dengan keras.

"Ah.. apa kau menjemputku, pria tampan?" Nozu balas bertanya dengan terengah-engah. Ia memperhatikan wajah Tobirama dengan seksama dan tersenyum gila. "Wah, wah, bagaimana bisa ada pangeran tampan menjemputku pulang?"

Tobirama menarik Nozu berdiri. "Berhenti mempermalukan dirimu seperti ini"

"Aku memang memalukan, Tobirama Senju" Nozu mulai cegukan. "Karena aku jelek dan memalukan, kau pasti malu padaku.. Pasti.. pasti benar begitu. Karena itu kau mencari wanita lain.. Ah, bukan.. bukan.. Kau lebih dulu bersamanya, lalu aku datang dan.."

"Lebih baik kau turuti perkataanku sebelum aku memaksamu lebih jauh" Tobirama memberi peringatan. "Aku tidak mau menyeretmu pulang dengan kasar"

"Hei.. kau tidak bisa menyeretku pulang.. " Nozu kembali berjalan sempoyongan. "Terserah aku mau pulang kemana dan dengan siapa.. Kau tidak mau aku ikut campur urusanmu.. Aku juga tidak mau kau ikut campur dengan urusanku.."

"Nona Nozu, mari saya antar pulang" Toka juga berusaha keras membujuk Nozu walau Nozu tak mendengarkannya sedikitpun.

"Tidak, Toka cantik.. tidak.." Nozu menggeleng. Ia berjalan menuju kedai itu dan memukulkan tinjunya ke dinding kedai itu, membuat bangunan dua lantai itu semakin rusak dan hampir rubuh. "Apa kalian tahu? Pria itu.." Nozu menunjuk Tobirama. "Dia membuatku seperti ini. Ah, tidak.. sepertinya dia ingin aku lebih hancur lagi dari ini.."

Nozu kembali menghantamkan tinjunya ke dinding kedai minum itu. Kedai tingkat dua yang mayoritas disusun oleh pondasi kayu itu akhirnya roboh. Orang-orang yang berada disekitar bangunan berlari menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan.

'Nozu, dia tidak bisa dibiarkan terus mengamuk dan bicara meracau didepan umum seperti ini'

Tobirama berjalan mendekati Nozu. Ia menarik napas panjang, berusaha memusatkan chakra pada tangannya. Walaupun merasa sangat lelah, Ia butuh banyak tenaga untuk menyeret Nozu pergi dari tempat ini. Nozu yang memang mabuk tidak menyadari Tobirama tengah berjalan mendekat.

Dalam hitungan detik, Tobirama mengangkat tubuh Nozu dan menggendong wanita itu terbalik dengan paksa di atas bahunya.

"Tobirama Senju, lepaskan aku! Lepaskan! LEPASKAN!"

Nozu memukul-mukul tubuh Tobirama tapi pria itu tidak bergeming. Pukulan Nozu lebih keras dari biasanya. Pasti karena Ia sedang mabuk. "Kita pulang ke rumah"

Dengan takut-takut, Satsu berjalan mendekati Tobirama. "Tuan Tobirama, apa tidak apa-apa jika hari ini Nona dibawa ke rumah Tuan?"

Tobirama mengangkat alis. "Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa, Tuan" Satsu terlihat bingung. "Nona Nozu pernah bilang dia tidak mau pergi ke rumah Tuan lagi"

"Rumahku adalah rumahnya. Karena itu dia harus pulang ke rumahnya" Tobirama membetulkan posisi tubuh Nozu di bahunya. Nozu terlihat lemas tak berdaya. Barangkali Ia sudah kehabisan tenaga karena mengamuk di kedai itu.

"Mohon maaf Tuan Tobirama. Ini semua salah saya" Toka membungkuk dalam-dalam. "Saya seharusnya menjaga Nona lebih baik tapi.."

"Sudahlah, Toka" sela Tobirama. "Tolong kau urus semua kekacauan disini. Itu akan sangat membantu"

"Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan!" Toka kembali membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih banyak Tuan Tobirama"

Tobirama mengangguk. Ia segera bergegas membawa Nozu yang masih bicara meracau pulang ke rumah Senju. Tobirama tidak akan membiarkan wanita itu pergi dari rumah ini. Bagaimanapun caranya.

Setibanya di rumah Senju, Hani yang dari tadi khawatir menunggu Tobirama langsung menghampirinya ketika pria itu masuk ke dalam rumah. Ia sangat senang Tobirama sudah kembali. Namun tatapan Hani berubah dingin ketika melihat Tobirama membawa Nozu yang kini tidak sadarkan diri di bahunya.

"Tobirama, kenapa kau bawa kakak kemari?" tanyanya dingin. "Kenapa pula dia semabuk itu? Sungguh tidak tahu diri"

Tobirama diam sejenak dan hanya menoleh pada Hani. Ia kembali berjalan menuju kamarnya tanpa memperhatikan Hani yang menatapnya penuh amarah.

Hani betul-betul geram. Tubuhnya gemetar saking kesalnya. Bagaimana bisa Nozu Hagoromo kembali menginjakkan kaki di rumah ini? Bukankah sebentar lagi wanita itu akan hilang selamanya dari kehidupan Hani dan Tobirama?

Hani sangat mengerti. Sebagai wanita yang mencintai Tobirama, Ia tahu betul bagaimana peringai pria berambut putih itu. Sejak Nozu masuk dalam kehidupan mereka melalui pernikahan politik itu, Tobirama berubah. Ia tidak sehangat dan seramah saat mereka tinggal bersama dulu. Tobirama menjauh saat Hani menyentuhnya. Ditambah lagi sejak insiden dengan klan Yuki dan malam festival musim panas itu. Hani mendengus kesal. Bisa-bisanya Nozu merebut Tobirama-nya seperti itu.

"Sudah cukup! Tobirama hanya milikku seorang. Nozu Hagoromo, camkan itu baik-baik" gumam Hani sambil mengepalkan tangan.

~=~

'Ah! Dia lumayan berat juga!'

Tobirama berusaha menurunkan Nozu ke tempat tidur. Disaat bersamaan, Nozu membuka mata. Ia terlihat masih mabuk. Wajahnya masih sama tidak karuan seperti di kedai tadi. Tobirama menghela napas. Ada perasaan lega yang dirasakannya setelah membawa Nozu kembali pulang ke rumah Senju.

Nozu menatap sekelilingnya dengan bingung. "Ini.. aku dimana?"

"Kau sudah pulang ke rumah. Istirahatlah" jawab Tobirama. Ia berjalan menuju tempat tidur dan menata bantalnya agar Nozu bisa berbaring lebih nyaman. "Tidurlah dulu"

Nozu berjalan mendekati Tobirama yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Bukannya merebahkan diri, Ia malah duduk di atas paha Tobirama yang membuat tubuh mereka berhadapan. Nozu melingkarkan tangannya di leher Tobirama. Setelah sekian lama, mata mereka kembali bertemu dalam jarak yang lebih dekat dan posisi yang lebih intim.

Tobirama terkejut mendapati tingkah laku Nozu yang tidak biasa malam itu. Namun Ia memilih diam. Ada yang membuatnya menantikan apa yang akan dilakukan Nozu selanjutnya.

Nozu menatapnya lurus. Walaupun tengah mabuk, Ia menatap Tobirama dengan dalam. "Kenapa aku harus bertemu denganmu di dunia ini?"

"Entahlah" sahut Tobirama datar. Posisi ini membuat jantungnya berdebar kencang. Nozu duduk diatas pahanya, menimbulkan sensasi tidak biasa disana. Ia tidak pernah sedekat ini dengan Nozu sebelumnya. Tobirama menghela napas, berusaha mengatur emosinya sebiasa mungkin.

"Aku.. dengan bodohnya aku jatuh hati sejak.. ehm? Sejak kapan ya?" Nozu tertawa pelan. Ia memutar matanya. "Ah! Ya.. sejak pertemuan pertama kita. Waktu itu kita masih kecil, sesungguhnya aku belum sadar bagaimana perasaanku padamu hari itu. Aku.. hanya senang melihatmu dan ingin bersamamu lebih lama, lebih lama, lebih lama lagi.."

'Nozu, apa Ia tengah mencoba mengatakan sesuatu padaku? Sesuatu yang belum pernah dikatakannya selama ini? Mata orang mabuk tidak mungkin sefokus ini'

"Lalu aku sadar saat kau dan kakakmu datang ke wilayah kami saat itu. Kau.." Nozu memegang wajah Tobirama dengan kedua tangannya. "Saat itu aku bingung kenapa orang sepertimu ada di dunia ini. Kau sama sekali tidak melihatku saat itu. Tapi kau tahu? Aku selalu melihatmu" Ia menyandarkan kepalanya di bahu Tobirama. "Pernikahan ini mungkin hanyalah pernikahan politik untukmu. Tapi bagiku, ini adalah satu-satunya pernikahan yang ingin kujalani dalam hidup. Walaupun kau meninggalkanku setelah ini, aku tidak akan menikah lagi.."

Tobirama menyandarkan kepalanya ke kepala Nozu. Ada sebersit rasa bersalah di dadanya. Walaupun Ia sudah tahu Nozu menyukainya, Tobirama sama sekali tidak menyangka Nozu menganggapnya seperti itu, seistimewa itu.

"Bagaimana bisa aku mencintai orang lain jika kau sudah membawa hatiku pergi?" Nozu kembali menegakkan tubuhnya dan mengelus-elus wajah Tobirama.

Tobirama menatap wajah wanita itu dalam-dalam. Tobirama mengerti kata-kata yang diucapkan Nozu barusan bukanlah perkataan meracau. Saat ini Nozu seperti tengah mengatakan isi hatinya yang mungkin tidak akan pernah dikatakannya seumur hidup.

Ada desiran aneh yang dirasakan Tobirama di sekujur tubuhnya ketika mendengar semua perkataan itu. Nozu, dia terlihat lebih cantik jika dilihat dari dekat dan dengan rambutnya tergerai berantakan seperti ini. Baru kali ini Tobirama merasakan perasaan seperti ini saat bersama Nozu selama hidupnya. Tanpa sadar, Tobirama melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Nozu, menariknya mendekat.

Nozu menatap mata Tobirama dalam-dalam. Ia mencondongkan tubuhnya kedepan, menarik kepala Tobirama mendekat kemudian memberikan ciuman yang lembut dan panas ke bibir Tobirama.

Tobirama sungguh terkejut Nozu menciumnya saat itu.

Seketika ciuman itu berubah menjadi ciuman yang dalam dan penuh hasrat. Tobirama bisa merasakannya dari setiap gerakan bibir Nozu yang terasa begitu menginginkannya. Begitu Tobirama membuka mulutnya untuk mengimbangi pergerakan Nozu, wanita itu memperdalam ciumannya dan menggerakkan lidahnya naik turun dengan lembut, menggoda Tobirama yang kini ikut terdorong melakukan gerakan yang sama.

Tobirama merasa sekujur tubuhnya panas. Entah kenapa Ia tidak bisa memikirkan apapun di kepalanya selain betapa nikmatnya ciuman malam itu. Tubuh mereka mulai terasa rileks, membuat mereka lebih leluasa menjelajahi satu sama lain. Tobirama menarik Nozu lebih erat ke pelukannya, sementara tangan Nozu kini mulai membelai rambut putih Tobirama. Selama beberapa menit, mereka terus menikmati ciuman penuh gairah itu hingga akhirnya Nozu lebih dulu melepaskan ciumannya.

Wanita itu berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah, begitu pula dengan Tobirama. Nozu menatap Tobirama lekat-lekat.

"Senju Tobirama, aku mencintaimu"

Perkataan yang diucapkan Nozu dengan nafasnya yang terengah benar-benar membakar Tobirama malam itu.

Pria itu tidak mampu menahan dirinya untuk kembali mencium Nozu dengan bergairah. Bagaimana bisa pernyataan cinta seorang wanita terasa begitu sensual seperti ini? Walaupun Nozu mabuk, Tobirama yakin dia serius mengatakan perkataan tadi. Perlahan tapi pasti, perasaan untuk memiliki Nozu seutuhnya muncul di pikiran Tobirama. Rasa itu memunculkan ketegangan yang intens di pangkal pahanya. Instingnya sebagai seorang pria seakan berteriak apa yang harus dilakukannya setelah ini. Mereka sudah menikah dan ditakdirkan untuk memiliki satu sama lain. Jika Nozu juga memang menginginkannya, tidak ada lagi penghalang diantara mereka.

Setelah menciumnya, dengan cepat Tobirama mengangkat Nozu dan merebahkannya ke tempat tidur. Ia melepaskan bajunya dan menindih Nozu yang kini tepat berada di bawahnya. Posisi ini begitu intim. Dengan pelan, Tobirama memberikan beberapa ciuman kecil di tengkuk dan leher Nozu, membuat wanita itu menggeliat merasakan sensasinya. Tobirama menyingkap kimono Nozu, lalu bergerak kebawah dan menciumi dada atasnya.

Pakaian Nozu memang basah malam itu. Sepertinya Ia menumpahkan air dan anggur di pakaiannya saat mengamuk di kedai tadi. Tobirama mengangkat tubuhnya. Nozu tidak boleh tidur dengan pakaian basah malam ini. Selain itu, Tobirama mungkin lebih leluasa bergerak jika tidak ada helaian kain yang menghalanginya.

Dengan perlahan, Ia menarik tali pengikat kimono Nozu yang masih terlilit di pinggangnya. Ia melepas obi dan seluruh pakaian yang dikenakan Nozu malam itu. Hingga akhirnya kini Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana indahnya lekuk tubuh wanita itu dalam balutan kulitnya yang halus. Melihat Nozu seperti ini membuat bagian bawah tubuhnya terasa makin tegang dan sakit.

"Kau milikku, Nozu Senju"

Tobirama kembali menindih Nozu. Wanita itu kini memejamkan matanya dan diam. Ia tidak merespon pergerakan Tobirama, membuat pria itu mengerutkan kening. Baru saja Nozu terlihat begitu menikmati sentuhannya. Ia memperhatikan Nozu dengan seksama.

Wanita itu tidur.

Tobirama menggeram. Bagaimana bisa Nozu tidur di saat-saat seperti ini? Dia memang tidak pernah berubah dari dulu. Selalu saja tidur di tempat yang tidak seharusnya. Ia merebahkan diri di sebelah Nozu dan menatap wanita itu yang tertidur pulas, nafasnya teratur.

Nozu Hagoromo, bagaimana bisa wanita itu kini begitu menarik perhatiannya? Dari dulu, Tobirama berusaha untuk menekan perasaannya sebisa mungkin. Perasaan akan membunuh Shinobi, itulah yang diajarkan perang antar klan padanya. Ia tumbuh menjadi pribadi yang menutup diri terhadap wanita.

Di satu sisi, Tobirama memang berjanji untuk menikahi Hani. Ia ingin menikah dengan Hani karena ingin melindungi wanita yang mirip dengan ibunya itu. Dulu Tobirama mengerti dia menyukai Hani. Tapi apa dia masih merasa hal yang sama setelah bertemu Nozu? Walaupun sering melakukan perbuatan yang aneh-aneh, Nozu punya aura yang sama dengan Hashirama, ceria dan hangat, membuat Tobirama merasa nyaman saat bersamanya. Berkali-kali Hani mencoba mendekatinya dan menyentuhnya, tapi dengan seluruh kesadarannya, Tobirama menolak wanita itu. Menyentuh seorang wanita yang tidak ada dihatinya terlihat seperti kejahatan seksual. Tapi malam ini? Seluruh kesadaran dan alam bawah sadarnya seakan meminta Tobirama untuk terus menyentuh wanita itu.

Malam ini seakan memperjelas semua yang terlihat kabur di mata Tobirama. Kini Ia benar-benar mengerti bagaimana perasaannya kepada dua wanita itu. Setelah melihat bagaimana dalamnya perasaan Nozu padanya, kali ini Tobirama mungkin akan mengambil keputusan berbeda dalam hidupnya.

Mungkin, tidak apa-apa jika Ia tidak menahan perasaannya dan mengikuti kata hatinya. Untuk memilih Nozu sebagai pasangan hidupnya.

Tobirama mengelus wajah Nozu dengan pelan. Masih teringat jelas bagaimana Nozu membuatnya begitu bergairah dengan ciuman tadi. Tobirama tidak pernah menyangka Nozu bisa menggodanya seperti itu. Selama ini Nozu tidak pernah menunjukkannya pada Tobirama, entah karena dia malu atau alasan lain. Wajah Nozu terlihat sangat lelah. Setelah semua yang terjadi, akan lebih baik jika Nozu melanjutkan hidup bersamanya, yang akan terus menjaganya, selamanya.

Walaupun harus terpaksa menahan keinginannya malam ini, Tobirama tidak keberatan sama sekali. Rasa sakit yang tengah dirasakannya memang tidak menyenangkan. Namun yang terpenting malam ini Tobirama berhasil membawa istrinya kembali ke pelukannya.

"Istirahatlah, Nozu" Tobirama berbisik pelan di telinga Nozu sambil memeluknya. "Kali ini, aku tidak akan melepasmu"

-8-8-8-

Samar-samar aku bisa merasa kepalaku sakit.

Rasanya memang tidak sesakit saat aku baru sadar setelah pertarungan dengan Madara. Tapi sekarang kepalaku terasa lebih pusing, semuanya terasa berputar-putar. Aku merasa mual dan ingin muntah.

Susah payah aku berusaha keluar dari keadaan tidak menyenangkan itu dengan membuka mata. Aku mendapati diriku tengah berbaring di sebuah tempat tidur dalam ruangan yang gelap. Tapi dimana? Hal terakhir yang kuingat adalah saat aku minum-minum dengan keluarga Toka di kedai minum. Aku tidak ingat berjalan pulang ke rumah..

Ah! Sepertinya kemarin aku mabuk. Aku bergidik ngeri. Terakhir kali aku mabuk, aku hampir saja menghancurkan sebuah bangunan.

Apa yang sudah kulakukan? Kenapa tiba-tiba aku disini? Aku tidak ingat sama sekali.

Sekilas ada aroma familiar yang melintas di hidungku. Wangi ini..

Aku merasa begitu mengenalnya walaupun di sisi lain aku merasa sudah lama tidak mencium wangi ini lagi. Otakku berputar, mencari memori wewangian ini. Aku tertegun begitu otakku berhasil mengingat aroma apa ini.

Ini wangi Tobirama. Tidak salah lagi. Pria itu memang mengenakan wewangian campuran musk, kayu manis dan bunga amber.

Tapi Tobirama tidak mungkin ada bersamaku sekarang. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Wangi ini, kadang aku samar-samar menciumnya saat aku rindu padanya. Tapi wangi yang kucium hari ini begitu kuat, apa aku sedang sangat merindukannya? Kupikir tidak.

Aku beranjak bangun dari tempat tidur. Ada tangan besar yang melingkari tubuhku. Tangan itu memeluk tubuhku dengan posesif. Aku mengerutkan dahi. Tangan siapa ini? Apa aku sudah tidur dengan pria yang tidak kukenal di kedai minum karena aku mabuk?

Tanpa pikir panjang, aku segera memindahkan tangan pria itu dan segera duduk di tempat tidur. Kamar ini begitu gelap, hanya diterangi oleh sedikit cahaya matahari yang masuk melalui tirai bambu yang menutupi jendela.

Betapa terkejutnya aku ketika mendapati selimut yang menutupi tubuhku turun kebawah dan memperlihatkan bagian tubuh atasku yang tanpa busana. Aku terkesiap. Detik berikutnya aku sadar bahwa aku berada di ruangan itu tanpa mengenakan sehelai benangpun. Tanpa pikir panjang, aku segera menoleh ke pria yang masih terlelap tidur di sebelahku. Walaupun gelap, rambut putihnya tetap terlihat. Samar-samar aku menangkap siluet wajahnya yang begitu kukenal.

Pria itu.. Tobirama Senju.

Aku meremas selimut dengan sangat kuat saking kesalnya. Menatap pria itu tidur di sebelahku bertelanjang dada membuatku sangat kesal. Apa yang sudah kulakukan dengan pria ini?! Aku segera meraba pangkal pahaku. Tidak ada rasa sakit disana. Bukankah mereka mengatakan jika seorang wanita berhubungan dengan pria untuk pertama kali akan ada rasa sakit di pangkal pahanya? Seharusnya kami tidak melakukan apapun semalam.

Walaupun masih merasa tidak yakin, perlakuannya padaku kali ini membuatku begitu muak. Bagaimana bisa dia mengambil keuntungan dariku bahkan hingga di saat terakhir sebelum pergi? Bukankah setelah ini dia akan menikah dengan Hani Yuki? Jika begitu, kenapa dia masih menyentuhku? Apa dia pikir aku wanita murahan yang bisa dipermainkan satu malam seperti ini?

Aku sangat tersinggung, marah, kesal dan kecewa. Aku bahkan merasa jijik pada diriku sendiri. Bagaimana bisa aku membiarkan pria itu menyentuhku? Tubuhku gemetar saking marahnya. Mataku terasa panas menahan air mata kebencian yang meluap karena emosi. Tanpa pikir panjang, aku segera turun dari tempat tidur dan membalut tubuhku dengan selimut.

"Kau sudah bangun?"

Suara Tobirama yang baru saja terjaga membuatku menoleh. Tobirama, dia tengah menatapku dengan mata merahnya yang tajam.

Aku diam terpaku menatapnya. Air mataku jatuh. Dasar pria hidung belang! Bagaimana bisa dia memanfaatkanku seperti ini padahal Ia sudah membuangku seperti sampah? Dia membuatku terlihat seperti wanita rendah dan murahan. Kurang ajar! Aku tidak bisa menerima perlakuan seperti ini!

Tobirama bangun. Ia turun dari tempat tidur, meminum segelas air di meja dan berjalan ke arahku. Aku berjalan mundur, menjauh darinya yang semakin dekat.

Entah mengapa seisi ruangan terasa berputar. Kupejamkan mata untuk membuatku lebih baik. Aku harus pergi dari sini! Harus!

Begitu aku mampu membuka mata, Tobirama sudah memelukku, membuatku tidak bisa menjauh selangkahpun darinya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Aku tidak bisa menahan diri untuk berteriak. "LEPASKAN AKU! LEPASKAN!"

Tobirama hanya diam sambil menatapku. Aku berusaha keras melepaskan diri sambil beberapa kali memukuli tubuhnya. Sekeras apapun aku memukulnya, Tobirama tidak bergeming. Aku memang sedang dalam kondisi tidak baik pagi ini. Perlawananku pasti tidak ada artinya. Tapi aku tidak mau pasrah pada keadaan. Aku tetap memukulnya dan berusaha melepaskan diri.

"KENAPA KAU MELECEHKANKU SEPERTI INI?" Aku berteriak frustasi. "KAU SUDAH MEMBUATKU SAKIT HATI! SEKARANG KAU MAU MENGHANCURKANKU SEPERTI INI HINGGA AKU TIDAK BERNILAI LAGI? KAU TEGA! TAK BERPERASAAN! MANUSIA BERHATI DINGIN! AKU BENCI PADAMU! BENCI! AKU BENCI!" Aku berteriak keras sambil terus memukulnya.

Saat menyadari aku tidak bisa melarikan diri lagi, tangisku pecah. Aku berhenti memukulnya dan menangis sekeras mungkin, menumpahkan semua perasaan kalut yang tengah kurasakan saat ini.

Tobirama diam. Dia mengelus punggungku pelan. "Kau sudah selesai bicara? Bisakah aku mulai bicara padamu sekarang?"

Aku tidak menjawab. Aku bahkan tidak peduli pada perkataannya. Air mataku terus mengalir, aku tidak bisa berhenti menangis.

"Aku tidak pandai mengatakan ini, jadi tolong dengarkan aku sebentar" Tobirama berbisik pelan di telingaku sambil masih terus mengelus punggungku.

Aku sesenggukan. Perasaanku campur aduk. Aku benci dengan ketidakberdayaanku di saat-saat seperti ini. Aku benci Tobirama yang dengan terang-terangan melecehkanku sebelum Ia berpaling pada wanita lain. Aku benci!

"Setelah kematian kak Nozomi, apa kau pikir aku kurang cukup menderita sejauh ini? Apa kau pikir aku kurang menderita melihatmu bersama Hani? Aku menyukaimu, Tobirama. Aku suka padamu! Karena itu hatiku sakit jika melihatmu terus bersama wanita itu! Hatiku sakit begitu tahu aku tidak akan pernah punya tempat di hatimu selamanya! Hatiku sakit saat aku sadar bahwa aku harus merelakanmu untuk seorang wanita bernama Hani Yuki!" Aku tidak tahan lagi. Kata-kata itu keluar begitu saja dari pikiranku yang kacau balau.

"Nozu Senju, dengarkan aku" ujar Tobirama pelan. Ia mengendurkan pelukannya padaku dan menepuk-nepuk punggungku, membuatku merasa lebih rileks.

"Kemarin malam kau membuatku benar-benar menyadari sesuatu. Entah sejak kapan perasaan ini datang tapi.." Tobirama menggantung perkataannya. Ia memegang wajahku dan menghapus air mataku. "Kupikir ada beberapa hal yang tidak bisa kusangkal di dunia ini, termasuk perasaanku padamu"

"Aku sendiri tidak mengerti kenapa bisa seperti ini. Aku sadar. Aku tidak hanya menyukaimu yang selalu membuatku tersenyum dan merasa nyaman. Aku juga membutuhkanmu.."

"Kau tidak membutuhkanku!" Aku menyela perkataannya. "Kau lebih membutuhkan Hani. Kau akan membuangku dan.."

"Siapa yang membuangmu?" Tobirama balik menyela perkataanku.

"Kau mengatakannya waktu itu!" Air mataku kembali jatuh. "Aku mendengar kau akan membuangku setelah perang selesai dan menikahi Hani. Aku dengar itu dari mulutmu, Tobirama!"

"Aku tidak ingin menikah dengan wanita yang tidak kucintai" gumam Tobirama pelan. "Aku tidak akan membiarkan wanita yang kucintai pergi"

'Apa maksud perkataannya? Apa dia sudah memilih antara aku dan Hani?'

Tobirama berhenti memelukku. Ia menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Kali ini aku merasa ada kehangatan pada tatapannya yang dalam. Mata merahnya yang selalu terlihat tajam kini menatapku dengan lembut dan penuh perasaan. Ia tersenyum tulus.

'Perkataan macam apa tadi? Bagaimana aku bisa percaya padanya? Apa ini mimpi?'

Sesaat kemudian, aku merasa sinar matanya berubah. Tobirama memainkan rambutku yang tergerai jatuh dengan jari-jari tangannya yang panjang dan besar.

"Kau sudah tidak sendiri lagi. Nozu, kau milikku"

Tobirama mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mencium bibirku dengan lembut. Aku diam, memejamkan mata sambil merasakan tiap gerakan bibirnya yang melumat bibirku dengan panas. Tubuhku seperti bergerak sendiri, membalas setiap ciuman yang diberikannya. Ciuman ini seakan menandakan kepemilikannya atas diriku. Astaga! Bagaimana bisa Tobirama menciumku seperti ini?

Ciuman itu semakin dalam, bergairah dan panas. Aku seperti terlarut dalam suasana, membiarkannya masuk dan menjelajah didalam sana. Samar-samar aku bisa merasa ada yang mendesak dibalik celana panjang hitam yang dikenakannya. Bukankah pria hanya seperti ini saat mereka sedang memiliki hasrat untuk..

Tobirama mendorongku ke dinding kamar dan mengunci pergerakanku. membuatku semakin tidak berdaya dan hanya bisa menikmati cumbuannya. Selimut yang melilit tubuhku jatuh ke lantai. Sensasi yang kurasakan saat kulit kami bersentuhan sungguh tidak dapat kujelaskan, membuatku makin terbawa suasana. Kini pria itu menciumi leher, tengkuk dan dadaku dengan liar. Aku hanya bisa pasrah menikmati gerakannya yang membuatku terbuai. Tanpa sadar tanganku bergerak mengelus punggungnya yang kekar dan berotot.

'tok, tok, tok'

Suara ketukan di pintu kamar saat itu membuatku terkejut hingga jantungku serasa ingin melompat keluar.

"Nozu, Tobirama, kalian sudah bangun? Ada kabar baik" ujar kak Hashirama dari luar kamar. "Hana sudah sadar!"

Baru kali ini suara kak Hashirama membuatku luar biasa kaget.

Tobirama berhenti menciumku. Ia mengendurkan pegangannya sambil mengatur nafasnya yang memburu. Aku juga melakukan hal yang sama.

'Apa yang kak Hashirama katakan tadi? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas'

Tobirama menatapku dengan tatapannya yang masih sama. Berdiri didepannya tanpa sehelai kain seperti ini membuatku luar biasa malu hingga wajahku panas seperti mendidih. Aku segera mengambil selimut yang jatuh di lantai dan menggunakannya untuk menutupi tubuhku.

"Hana sudah sadar? Itu kabar baik" gumam Tobirama pelan setelah nafasnya cukup teratur. "Kau mau menemuinya di Igaku no Niwa?"

Aku terlalu malu untuk bicara sehingga aku hanya mengangguk tanpa melihat wajahnya.

"Kau harus mandi dulu. Pakaianmu kotor sekali kemarin malam" Tobirama berjalan menuju tempat tidur dan kembali berbaring diatasnya. "Aku akan mandi setelah kau selesai. Kita akan pergi ke Igaku no Niwa setelah makan pagi"

Aku kembali mengangguk. Hana sudah sadar. Sesungguhnya aku sangat gembira hingga ingin melompat-lompat. Tapi apa yang baru saja terjadi membuat pikiranku kacau bukan main. Alhasil aku diam dan hanya berjalan ke kamar mandi sambil menahan rasa pusing di kepalaku. Aku melirik sekilas ke arah Tobirama yang tengah berbaring sambil memejamkan matanya.

Entah kenapa Tobirama bisa merasa aku tengah memandangnya. Mata merahnya menatapku balik, membuatku segera mengalihkan tatapanku darinya.

"Jika kau masih merasa tidak baik, aku yang akan menyiapkan makan pagi" ujar Tobirama dari tempat tidur.

"Oh.. iya.." balasku asal sambil buru-buru masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Selama mandi, aku tidak habis pikir kenapa Tobirama bersikap seperti itu pagi ini. Jantungku terus berdebar kencang. Apa ada yang salah denganku? Apa yang sudah kulakukan dengannya kemarin? Mengingat bagaimana dia menciumku membuatku malu bahkan hanya untuk sekedar bicara hal umum padanya.

Namun entah mengapa ada rasa senang yang hangat jauh di dalam dadaku. Perasaan itu membuat dadaku terasa mengembang. Jika Tobirama menyentuhku seperti itu, apa dia suka padaku? Lalu bagaimana aku harus bersikap padanya setelah ini? Selama ini hubungan kami jauh dan dingin tapi tiba-tiba dia malah..

Tanpa sadar aku menggigit bibirku pelan. Gerakan bibir Tobirama masih begitu terasa di bibirku. Tiap sentuhannya di kulitku masih bisa kurasakan hingga detik ini. Ciuman tadi begitu sensual dan...

Aku memukul pipiku berulang-ulang. Sudah cukup! Aku harus berhenti memikirkannya! Rasanya aku ingin mengurung diri di kamar mandi selamanya supaya aku tidak perlu malu bertemu dengan Tobirama di luar sana.

Tapi bagaimana bisa aku terus mengurung diri disini? Hana sudah sadar dan aku sangat ingin bertemu dengannya. Lagipula jika aku terkurung di kamar mandi seumur hidup, bagaimana aku bisa makan, tidur dan beraktivitas seperti biasa?

Aku menghela napas berat. Biarlah apa yang sudah terjadi. Setelah selesai membersihkan diri, aku mengambil handuk untuk mengeringkan badan dan rambutku.

"Aku harus segera menemui Hana!"

Aku tertegun ketika mendapati aku tidak membawa kimono untuk kukenakan setelah mandi.

"Aku lupa bawa baju kesini!"

Aku memukul kepalaku sendiri tanpa sadar, membuatku kembali pusing setelahnya. Aku lupa kemarin baru saja aku mabuk. Kenapa aku malah memukul kepala sendiri? Sepertinya otakku sudah tidak bisa berfungsi normal, padahal hari masih pagi.

Aku tidak mau keluar kamar mandi tanpa pakaian. Ada Tobirama di kamar dan aku terlalu malu bertemu dengannya. Selimut yang tadi kugunakan sudah kotor dan basah terkena cipratan air. Mana mungkin aku memakai kain itu lagi? Aku berpikir sejenak.

"Ah! Ya sudah, aku pakai handuk saja! Yang penting aku masih menutupi tubuhku dengan sesuatu. Aku akan buru-buru mengambil pakaian dan memakainya di kamar mandi"

Kubuka pintu kamar mandi perlahan. Sesuai dugaan, Tobirama masih disana. Dia masih saja berbaring di tempat tidur sambil menutup mata. Aku harus buru-buru mengambil pakaian di lemari sebelum dia melihatku. Apa bisa?

Sesuai dugaanku, Tobirama membuka matanya dan memperhatikanku yang berjalan menuju lemari pakaian. Aku mengambil kimono pertama yang kulihat beserta Obi dan tali pengikatnya dengan secepat kilat. Aku tidak peduli jika warnanya tidak sesuai. Aku bisa memperbaikinya nanti saat Tobirama mandi.

"Jika ada yang tertinggal, kau bisa panggil aku. Aku akan ambilkan untukmu" gumam Tobirama yang masih memperhatikanku.

"Tidak usah, terima kasih" balasku buru-buru sambil berjalan ke kamar mandi.

"Ya sudah. Terserah" Tobirama kembali menutup mata. "Akan lebih baik jika kau keluar dari kamar mandi tanpa handuk"

Aku ternganga. Apa Tobirama baru saja menggodaku? Wajahku terasa panas sekali. Pasti wajahku sudah semerah tomat. Aku memilih diam dan kembali berjalan secepat mungkin ke kamar mandi, membuatku tanpa sengaja hampir terpeleset di tengah jalan. Syukurlah aku bisa mempertahankan keseimbangan dan tidak jatuh.

"Kau akan melukai dirimu sendiri jika tidak hati-hati"

Tobirama, bagaimana dia bisa tahu apa yang terjadi tanpa melihat? Apa diam-diam dia mengaktifkan mode deteksinya untuk mengamati pergerakanku?

Pria itu, benar-benar.. rasanya aku sudah tidak sanggup bicara padanya karena malu.

Aku memilih diam meninggalkannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.

-8-8-8-

"Maaf baru bisa bicara denganmu, Nozu. Setelah dari Igaku no Niwa, aku harus mengantar Hani pulang. Dia bilang ada urusan di rumahnya" Hashirama tersenyum senang. "Kita baru bisa bicara di waktu makan malam begini"

Nozu terlihat canggung. "Tidak apa-apa.."

"Panggil aku 'Kak Hashirama' lagi seperti dulu, ya?" Sela Hashirama. "Ayolah.. aku mohon"

"Jangan memohon untuk hal kecil begitu, Kak" Tobirama ikut masuk dalam pembicaraan. "Lagipula bukannya tadi di Igaku no Niwa Nozu sudah memanggil kakak dengan panggilan itu?"

"Eh, oh iya. Kau benar juga Tobirama" balas Hashirama sambil mengingat-ingat. "Tapi kalau begitu.. kenapa kau terlihat begitu canggung, Nozu?"

"Tidak apa-apa, Kak Hashirama" Nozu bergumam pelan. "Aku hanya merasa tidak pantas duduk disini bersama kalian.."

"Aduh, kenapa kau malah berpikir begitu?" tanya Hashirama yang kembali menyela perkataan Nozu. "Kau sudah memanggilku 'Kak Hashirama'. Kau juga mau pulang kemari lagi. Nozu, kau membuatku senang sampai ingin menangis"

"Tidak Kak Hashirama. Kau terlalu baik padaku" Nozu termenung. "Setelah semua perkataan buruk yang kukatakan padamu, bagaimana bisa kau masih bersikap sebaik ini padaku?"

"Perkataan buruk?" Hashirama mengerutkan dahi. "Memang kapan kau pernah berkata buruk padaku? Tobirama, kau ingat sesuatu? Kenapa aku tidak mengingat apapun?"

Tobirama tersenyum tipis. Ia kembali mengambil sepotong ikan dan meletakkannya kedalam mangkuknya. "Sudah lama aku tidak makan masakan Nozu. Rasanya.." Tobirama melirik Nozu. "Tidak seenak biasanya"

"Kalau tidak enak kenapa malah tambah lagi?" Tanya Nozu protes.

Tobirama tersenyum. Rasanya Nozu sudah kembali menjadi Nozu-nya yang dulu, Nozu yang pertama kali menginjakkan kaki di rumah Senju.

"Nozu, kau lihat saja! Tobirama akan makan masakanmu sampai gendut! Tobirama, piringnya jangan dimakan ya! Hahahaha" Hashirama kembali tertawa girang.

"Kak Hashirama, aku serius" Nozu kembali bicara pada Hashirama. "Aku merasa bodoh kembali lagi kesini. Aku sudah berkata aku akan pergi tapi nyatanya aku malah kembali lagi. Aku sungguh tidak berguna" Nozu tertunduk lesu.

"Hahahaha.. kau kan wanita! Tidak apa-apa jika wanita berubah pikiran, benar 'kan Tobirama?" Hashirama tertawa girang.

"Jika saja aku bicara pada kalian sebelum aku setuju dengan rencana kak Nozomi, mungkin kalian akan mengizinkanku pergi" Nozu bergumam suram. "Mungkin saja kak Hashirama bisa membantu kak Nozomi, Hana dan yang lain untuk pergi dari Madara"

"Untuk hal terakhir yang kau katakan, aku tidak jamin bisa melakukanya, Nozu" balas Hashirama segera. "Aku tidak bisa membantu Nozomi dan yang lain untuk melarikan diri dari Madara. Mungkin pertarungan itu memang harus terjadi agar orang-orangmu bisa pergi dari Uchiha"

Tobirama melirik Nozu. Wajahnya masih terlihat begitu sedih ketika mereka mulai membicarakan Nozomi. Nozu memang sangat menyayangi Kakak laki-lakinya itu. Wajar saja jika ia merasa begitu kehilangan.

"Nozu, mulai sekarang kami akan menjagamu seperti Nozomi" ujar Tobirama. "Oh iya, jika Hana sudah lebih baik nanti, dia akan tinggal disini bersama kita"

Mata Nozu melebar. Ia sungguh tidak bisa menutupi ekspresi senangnya. "Hana, boleh tinggal disini?"

Tobirama mengangguk. "Tentu. Kenapa tidak?"

"Diluar dugaan, Hana bisa bangun dari koma secepat ini. Seharusnya dalam waktu dekat, Ia akan cepat pulih" Hashirama tersenyum.

"Aku sangat senang Hana sudah sadar. Terima kasih banyak sudah merawat adikku, kak Hashirama! Terima kasih! Terima kasih" Nozu menundukkan kepala berkali-kali.

"Sudahlah, Nozu. Nanti kepalamu sakit lagi" ujar Tobirama.

"Ah iya! Benar. Karena Tobirama sudah jadi suamimu, biar aku yang menggantikan Nozomi sebagai kakak laki-lakimu. Aku pasti akan menjagamu sebaik dia" Hashirama mengedipkan mata. Ia memelirik Tobirama lalu tersenyum jahil.

Tobirama yang sadar kakaknya bergelagat aneh, balik memandangi kakaknya.

"Apa?" tanya Tobirama galak.

"Tidak apa-apa" balas Hashirama dengan senyum jahilnya. "Kau.. bagaimana bisa kau membujuk Nozu untuk pulang kesini? Kau pasti merayunya ya? Benar 'kan? Ayo katakan padaku bagaimana kata-kata rayuanmu itu"

Tobirama menghela napas. Ia meletakkan sumpitnya. Saat Hashirama mengatakan kata rayuan, entah mengapa Tobirama jadi teringat akan kejadian tadi pagi. Ia sungguh tidak bisa mengendalikan diri dan perkataannya. Bagaimana bisa seorang Tobirama Senju bersikap seperti itu? Walau merasa terganggu, Tobirama tidak dapat menutupi wajahnya yang memerah karena malu.

"Berhentilah bercanda, kak. Bercandanya.."

"Bercandanya sudah keterlaluan ya?" Hashirama menyela Tobirama dengan jahil. Ia memperhatikan Tobirama dengan seksama. "Wah, coba lihat! Aku menang! Tobirama, kau wajib membelikanku kue beras sebanyak yang aku mau! Hahahaha!" Hashirama kembali tertawa senang.

"Apa itu? Menang?" Nozu terlihat bingung. "Sejak kapan kalian.."

"Hahaha, benar Nozu. Aku pernah punya taruhan dengan Tobirama" ujar Hashirama yang masih tertawa. "Jadi, siapapun yang berhasil menggoda satu sama lain hingga wajahnya merah seperti tomat, dia yang menang! Yang kalah wajib membelikan makanan apapun yang diminta si pemenang"

"Hah?" Nozu mengerutkan dahi. "Dasar anak laki-laki! Permainan kalian aneh-aneh"

"Tunggu dulu, Kak. Ini tidak adil" sela Tobirama. "Seharusnya taruhan itu kita lakukan saat sama-sama sudah menikah. Sampai sekarang juga kau belum punya pasangan"

"Oh iya, benar juga" Hashirama mendadak teringat akan sesuatu. "Soal pasangan ya.. Aku ingin memberitahu sesuatu pada kalian"

"Apa itu?" Nozu terlihat tertarik. "Jangan-jangan kak Hashirama sudah menemui wanita yang kakak sukai ya?" Tebaknya kemudian.

"Bukan, bukan begitu, Nozu" jawab Hashirama santai. Ia melirik Tobirama. "Tobirama, aku sudah pernah bilang padamu bahwa bukan hanya kau yang akan menjalani pernikahan politik, bukan? Setelah ini, beberapa minggu kedepan aku akan pergi ke tempat klan Uzumaki untuk mengurus tawaran bergabung melalui pernikahan politik. Sesungguhnya mereka sudah setuju dan mereka sudah memilihkan calon untukku. Aku akan pergi kesana sekaligus mengumpulkan bijuu"

"Bijuu?" Nozu mengangkat alis. "Kumpulan chakra berbentuk hewan besar yang konon adalah hewan piaraan Rikkudo Sennin?"

"Benar, Nozu. Aku sudah mempelajari bahwa bijuu bisa dikendalikan dengan elemen kayu. Mulai sekarang aku akan mulai mengumpulkan mereka satu per satu. Totalnya ada 9 bijuu. Tapi negara pasir sudah punya 1 bijuu. Aku akan mengumpulkan yang lain" jawab Hashirama bersemangat. "Aku sudah sepakat dengan Tobirama bahwa nantinya bijuu akan jadi tawaran dari kita untuk menjalin aliansi dengan negara lain"

"Kak, kau sungguh akan pergi sendiri?" Tanya Tobirama. "Bijuu bukan lawan enteng. Aku akan ikut denganmu jika kau perlu bantuan"

"Tidak, Tobirama. Mereka hanya bisa dikendalikan Mokuton. Akan lebih sulit untukku jika kau ikut" Hashirama melirik Nozu. "Nah, selama aku pergi mengumpulkan bijuu dan menjemput calon istriku, tolong kau jaga Tobirama disini untukku ya"

"Berarti aku akan disini dengan Tobirama saja selama berminggu-minggu?" Nozu terlihat canggung. "Kak, tapi.."

"Aku bukan anak kecil yang harus dijaga, kak! Lagipula akan ada Hana yang bergabung dengan kita" sela Tobirama. Ia mengerutkan dahi dan menatap Nozu. "Kenapa? Kau tidak suka berada denganku di rumah?"

"Bukan begitu" balas Nozu segera.

"Sudahlah" Hashirama tersenyum. "Anggap saja kalian seperti sedang berbulan madu" lanjutnya sambil mengedipkan mata.

"Mana ada bulan madu seperti itu?" Tobirama mendengus sebal.

"Kalian hanya berdua saja. itu kan sama saja dengan bulan madu" Hashirama menyikut Tobirama pelan. "Saat aku pulang nanti, jangan-jangan Nozu sudah mengandung keponakanku"

Tobirama diam. Kata-kata kakaknya barusan sukses membuat wajahnya kembali terasa panas. Disisi lain kata-kata itu juga membuat dada Tobirama terasa hangat. Memiliki anak? Hal itu tidak pernah terlintas di pikirannya. Tobirama mengalihkan pandangannya ke Nozu yang tengah mengamati ruang makan dengan canggung dan wajah yang tersipu malu. Pasti Ia tengah berusaha menutupi perasaannya, seperti yang dilakukan Tobirama sekarang.

Tobirama mengerti. Setelah semua kejadian yang terjadi, pasti Nozu merasa begitu canggung berada dirumah hanya bersamanya.

"Oh iya Nozu, kau tahu? Belakangan ini, banyak anak-anak Senju yang ingin bertemu denganmu. Kenapa ya?" Hashirama mengerutkan kening.

"Dia suka anak-anak. Sama sepertimu, Kak" balas Tobirama ringan.

"Nozu, aku ingin meminta tolong padamu? Sebenarnya ini ide Tobirama" Hashirama mengalihkan pandangannya ke arah Nozu. "Aku ingin kau mengajar anak-anak di akademi ninja yang sedang kita bangun sekarang"

Nozu membulatkan mata. "Apa? Mengajar anak-anak? Mengajarkan apa?"

"Aku pikir kau cocok dengan pekerjaan itu" Tobirama tersenyum tipis. "Sekarang kau punya tanggung jawab lain. Aku harap kau berusaha lebih keras mulai sekarang. Kau akan mengajarkan teknik dasar ninja serta teknik ninjutsu medis. Aku yakin anak-anak ninja itu pasti sudah dididik oleh orang tua mereka masing-masing. Tapi bukankah akan lebih menyenangkan jika mereka bisa belajar teknik ninja sambil bermain dengan teman sebayanya?"

'tok, tok, tok'

Suara ketukan di pintu depan mengalihkan perhatian mereka.

"Oh iya, aku lupa memberitahu kalian. Hari ini aku mengundang Madara datang" Hashirama tersenyum. "Setelah kukatakan padanya Nozu sudah membaik, dia ingin datang dan bicara denganmu, Nozu"

Tobirama mengerutkan dahi. Madara Uchiha? Kenapa dia bersikeras ingin bertemu Nozu secepat mungkin? Gelagatnya mencurigakan.

'Apa yang sebenarnya diinginkannya dari Nozu?'

Hashirama berjalan meninggalkan ruang makan dan membuka pintu depan. Sesaat kemudian Ia kembali ke ruang makan bersama Madara.

"Madara, kau datang disaat yang tepat! Kita bisa makan malam dulu sambil berbincang sesaat" Hashirama tersenyum senang. "Kau bisa bicara dengan Nozu setelahnya"

Madara diam. Ia terus memperhatikan Nozu yang kini terlihat lebih canggung. Wanita itu menundukkan kepalanya dan terlihat tidak nyaman, membuat Tobirama merasa hal yang sama. Suasana di ruang makan malam itu kini terasa tegang.

"Nozu Hagoromo, aku ingin bicara empat mata denganmu"

To be continued..

-8-8-8-

A/N: halo Readers.. kita bertemu lagi di chapter 16 :)

Terima kasih sekali lagi untuk kalian yang masih mengikuti jalannya cerita ini :D

Akhirnya di chapter ini, saya bisa publish bagian yang membuat fic ini punya rating M.. ini pertama kalinya saya tulis cerita begini.. mohon maaf jika penulisannya kurang bagus.. tapi jujur kata saya seneng banget tulis chapter ini :D

Akhirnya Nozu mau pulang ke rumah Senju. Bagaimana kelanjutan hubungan Tobirama dan Nozu setelah ini ya? Semoga kalian penasaran dengan chapter selanjutnya.. ,

See you all on the next chapter ;)