Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 17 : The Uchihas

Nozu memilih diam. Kini wajahnya terlihat pucat. Ia masih menundukkan kepala sambil memainkan jari-jari tangannya dengan canggung.

"Kalian bisa bicara berdua setelah makan malam" Hashirama berusaha mencairkan suasana. "Ayo kita makan dulu"

"Tidak perlu repot-repot, Hashirama. Terima kasih" ujar Madara sambil menatap Tobirama yang tengah memandangnya dengan tatapan penuh selidik. "Aku akan tunggu kalian selesai makan malam di ruang tamu"

Tobirama mengalihkan pandangannya pada Nozu. Terlihat jelas wanita itu tidak ingin bertemu dengan Madara, apalagi bicara empat mata dengannya. Mengingat Madara sudah membunuh ayah dan kakaknya, pastinya Nozu membenci Madara. Tobirama mengerti Madara memang punya aura mengerikan. Sepertinya aura itulah yang membuat Nozu tidak bisa menolak permintaan Madara untuk bicara dengannya malam itu.

Tidak! Nozu adalah istrinya. Bagaimana bisa Tobirama diam saja melihat Madara memaksa istrinya seperti itu?

"Madara, sepertinya kalian harus tentukan hari lain untuk berbincang" ujar Tobirama tiba-tiba.

Madara mengerutkan dahi dan menatap Tobirama dengan tatapan tersinggung.

"Tobirama, Madara sudah menunggu cukup lama. Lagipula keadaan Nozu juga sudah lebih baik" Hashirama berusaha memperbaiki suasana. "Kau tidak perlu khawatir. Madara tidak akan melukai Nozu. Dia hanya ingin bicara"

"Tapi yang diajak bicara sedang tidak mau bicara, Kak. Apa kakak tidak bisa lihat?" Tanya Tobirama dingin.

Hashirama menatap Nozu. Wanita itu terlihat cukup terkejut mendengar perkataan Tobirama. "Nozu, apa kau masih belum mau bicara dengan Madara? Dia pria yang baik, Nozu. Tenang saja"

Nozu tersenyum canggung. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi lagi-lagi Nozu mengurungkan niatnya dan hanya diam.

Tobirama menghela napas. "Setelah makan malam, aku harus berdiskusi dengan Nozu mengenai pekerjaan barunya di akademi ninja" Tobirama menatap Madara dengan mata merahnya yang tajam. "Besok dia akan mulai mengajar disana"

Madara yang sepertinya paham dengan situasi, memilih diam. Ia berjalan menuju Hashirama.

"Baiklah, Hashirama. Mungkin lain waktu" ujarnya singkat. Pemimpin klan Uchiha itu berjalan meninggalkan ruang makan. "Aku pamit undur diri. Selamat malam"

Hashirama diam. Ia menatap Nozu dan Tobirama bergantian.

"Nozu, aku mengerti kau pasti masih tidak bisa melupakan kenangan buruk tentang Madara" Hashirama mulai bicara. "Tapi jika kau masih seperti ini, sampai kapan kita bisa menciptakan desa yang damai? Madara yang sekarang dan Madara yang dulu berbeda. Aku benar-benar mengenalnya sebagai pria yang baik. Kau tidak perlu takut padanya"

"Kau tidak bisa egois begitu, Kak" sela Tobirama. "Madara mungkin baik padamu. Tapi dia tidak bersikap seperti itu pada semua orang"

"Tobirama, sampai kapan kau curiga pada Madara seperti itu? Madara akan bersikap baik jika kita juga mau menerimanya" balas Hashirama.

"Kak, aku tidak bisa terima kau memaksa Nozu untuk bicara dengannya hari ini. Peristiwa akhir-akhir ini yang berhubungan dengan Madara pasti meninggalkan luka dalam untuknya" Tobirama mulai kesal. "Aku yakin Nozu mau bicara dengannya di suatu waktu tapi tidak hari ini"

"Kak Hashirama, yang dikatakan Tobirama benar" Nozu menyela pembicaraan kakak beradik Senju itu. "Aku akan bicara dengannya lain waktu, tapi tidak hari ini. Maaf.."

"Kau tidak perlu minta maaf, Nozu" ujar Tobirama sambil melipat kedua tangannya di dada. "Aku juga memilih untuk tidak bicara dengannya kecuali untuk kepentingan desa"

"Astaga, Tobirama!" Hashirama menggelengkan kepala. "Bagaimana bisa Uchiha percaya sepenuhnya pada kita jika perlakuanmu pada pemimpin mereka seperti itu?"

"Lebih tepatnya, Uchiha tidak akan pernah percaya pada kita dan aku tidak akan pernah percaya pada Uchiha, Kak" tegas Tobirama. "Seperti yang kukatakan sebelumnya, mereka kuat dan makin berbahaya seiring dengan bertambahnya kebencian mereka"

"Tobirama, hentikan perkataanmu" Hashirama mulai bicara dengan nada tinggi. "Kau akan menciptakan api dalam sekam jika terus berpikiran tidak baik tentang Uchiha"

Tobirama mendengus sebal. "Apa aku tidak salah dengar? Justru mereka yang akan jadi api dalam sekam untuk kita, Kak.."

"Tobirama, ayo kita mulai bicara tentang akademi" Nozu mencoba memberanikan diri untuk bicara. Ia pasti sudah merasakan ketegangan atmosfer diantara Hashirama dan Tobirama. "Aku sudah selesai makan"

Tobirama menghela napas panjang. "Ya sudah. Ayo" Ia bangkit berdiri dari kursinya. "Mungkin lebih baik kita bicara di ruang diskusi. Aku beberapa dokumen yang ingin kutunjukkan padamu"

Nozu mengangguk. Ia menatap Hashirama. "Kak Hashirama, kami pamit untuk diskusi"

"Ya, ya" balas Hashirama sambil memijat keningnya. "Selamat malam kalian berdua"

Nozu berdiri dari kursinya dan berjalan mengikuti Tobirama yang sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan. Mereka berjalan menuju ruang diskusi, yang juga merupakan ruang kerja Tobirama.

"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bertengkar dengan kak Hashirama" gumam Nozu saat mereka memasuki ruang itu.

"Tidak masalah" balas Tobirama yang tengah membuka sebuah lemari kayu di sudut ruangan. "Aku dan kakak akan selalu begitu jika bicara tentang Uchiha"

"Oh.. begitu.." ujar Nozu canggung. "Terima kasih, Tobirama. Aku memang sedang tidak dalam kondisi baik untuk bicara dengan Madara malam ini"

"Tidak perlu berterima kasih" Tobirama berjalan dengan membawa setumpuk dokumen. "Aku tahu kau butuh waktu"

Nozu tersenyum tipis. Ia melirik setumpuk dokumen yang baru saja diletakkan Tobirama diatas meja kerjanya. "Dokumen apa ini?"

"Ini data siswa yang sudah menjadi murid akademi kita. Ada informasi umum serta peta kemampuan masing-masing anak" jelas Tobirama. "Aku ingin kau mempelajari dokumen ini sebelum bertemu mereka. Dengan itu kau bisa mengarahkan mereka sesuai kemampuan masing-masing"

Nozu menatap dokumen itu dengan matanya yang berkilat semangat. "Aku akan membacanya malam ini!"

Tobirama tersenyum. "Baiklah. Melihat kau yang sudah semangat begini, sepertinya kau bisa mulai bertemu dengan mereka di akademi besok"

-8-8-8-

"Baiklah! Pelajaran hari ini sampai disini. Besok kita akan membahas analisis ninjutsu level menengah" Aku menutup kelas hari ini sambil menghapus catatan di papan tulis.

"Waktunya pulang!"

"Aaahhh.. selesai juga. Aku mengantuk!"

"Aku lapaar!! Mau makan!!"

"Terima kasih untuk hari ini, Guru Nozu" seorang anak perempuan mendekatiku. "Hari ini Guru cantik sekali. Jadi aku mau memberi sesuatu untuk guru"

"Benarkah? Bukannya kemarin dan hari ini aku sama saja?" Tanyaku pada anak perempuan itu.

"Tidak. Hari ini Guru mengenakan pakaian berwarna merah muda. Guru Nozu jadi tambah cantik"

"Wah? Terima kasih kalau begitu" Aku tersenyum lebar.

"Aku ingin memberi guru bunga berwarna merah muda ini, sama seperti warna pakaian Guru Nozu" anak itu menyerahkan setangkai bunga berwarna merah muda padaku.

'Bunga ini cuma bunga alang-alang. Tapi jika menerimanya sebagai hadiah dari anak-anak seperti ini, rasanya hangat sekali'

"Terima kasih banyak" aku mengelus kepala anak perempuan bernama Biwako itu. "Coba lihat, bukankah itu ibumu?" Ujarku sambil menunjuk seorang wanita paruh baya berambut coklat yang sama dengan Biwako.

"Ah! Benar! Kalau begitu aku pulang dulu, guru Nozu. Sampai besok" anak itu melambaikan tangannya dengan ceria.

"Sampai jumpa besok, Biwako. Hati-hati dijalan" aku berseru saat Biwako dan Ibunya berjalan keluar dari kelas.

Cuaca hari ini dingin. Sekarang memang sudah memasuki musim gugur.

Sudah hampir satu minggu lamanya aku bekerja sebagai tenaga pengajar di akademi ninja ini. Sesungguhnya aku cukup menikmati tiap momen bersama anak-anak disini.

Ada perasaan hangat yang terasa ketika melihat anak-anak Senju bisa bermain dengan anak-anak Uchiha dan klan lain. Terkadang aku masih bisa merasakan ketegangan atmosfer diantara orang tua mereka. Namun sesekali para orang tua itu memilih untuk berusaha mengakrabkan diri karena anak mereka bermain bersama. Hubungan antar warga tiap klan disini mulai membaik.

Aku sudah berencana untuk kembali menengok Hana setelah selesai mengajar. Kami akan masak makan siang kesukaannya hari ini. Kondisi Hana makin baik setiap hari. Walaupun tubuhnya masih terasa kaku dan sakit di beberapa bagian, sepertinya lusa besok Hana sudah bisa tinggal di rumah Hashirama Senju. Rumah itu pasti akan jadi lebih baik jika ada Hana di dalamnya.

Kak Hashirama sudah memulai perjalanannya mengumpulkan Bijuu. Saat Ia kembali nanti, Ia akan membawa seorang wanita Uzumaki bersamanya.

Aku termenung. Tak kusangka kak Hashirama akan menikah secepat ini. Bagaimana wanita Uzumaki yang akan dinikahinya nanti? Sekilas muncul perasaan sedih yang aneh di hatiku. Apa setelah kak Hashirama menikah nanti, sikapnya pada Tobirama dan aku akan berubah? Apa wanita itu adalah wanita terbaik untuk kak Hashirama?

Aku menggelengkan kepala. Untuk apa memikirkan hal yang bukan urusanku? Memangnya kenapa jika kak Hashirama menikah? Itu haknya. Aku tidak boleh berprasangka buruk pada calon istrinya yang bahkan belum pernah kutemui sekalipun.

Sudah lima hari aku berada di rumah hanya bersama dengan Tobirama. Sejak kak Hashirama pergi, Tobirama menggantikannya mengurus infrastruktur desa. Pekerjaannya jadi tambah banyak, jadi dia selalu pulang malam. Walaupun pekerjaan itu membuat Tobirama lebih lelah, sesungguhnya itu membuatku merasa lebih baik. Setelah kejadian tak terduga pagi itu, aku hampir-hampir tidak mampu bicara padanya. Kami hanya bicara hal-hal penting. Biasanya setelah dia pulang, dua jam kemudian aku sudah tidur.

Tobirama, jika dipikir lagi aku merasa bersalah mendiamkannya lima hari belakangan ini. Habis bagaimana lagi? Aku lupa bagaimana caranya bicara biasa saja padanya. Setiap kali melihatnya, aku merasa dia kini menatapku dengan tatapan berbeda. Pasti karena kejadian itu!

Walaupun hanya bertemu dengan Tobirama dua jam sehari, aku merasa lebih memperhatikan pria itu dari sebelumnya. Aku jadi lebih sering memikirkannya disaat tidak bersamanya dan aku merasa sangat senang saat melihatnya pulang. Rasanya belakangan ini aku jadi lebih suka mencium parfumnya dan menatap wajahnya. Terkadang aku juga merasa dia menatapku lembut, padahal sorot mata merahnya tajam sekali. Apa aku yang salah mengira? Mungkin saja.

Pikiranku melayang jauh saat aku tengah membereskan meja. Tobirama memang berkata dia tidak akan membuangku. Bahkan jika aku tidak salah dengar, aku mendengar dia berkata dia menyukaiku dan membutuhkanku.

Tapi bagaimana dengan Hani? Setelah kejadian itu, selama satu Minggu ini Hani tidak pernah datang ke rumah. Aku juga tidak pernah bertemu dengannya. Apa Tobirama bisa menghapus janjinya semudah itu pada Hani? Entahlah, aku tidak mengerti!

Disisi lain, aku memang senang jika memang Tobirama punya perasaan padaku. Entah mengapa aku langsung memikirkan satu hal.

Bagaimana bila tempatku dan Hani tertukar?

Jika aku adalah Hani, wanita yang mencintai dan dicintai Tobirama dari dulu, aku pasti sangat sedih saat Tobirama punya perasaan pada wanita lain. Pastinya Hani sudah memikirkan hari-hari bahagianya sebagai istri Tobirama dan aku dengan tidak tahu dirinya masuk kedalam kehidupan mereka dan mengambil calon suaminya. Siapa yang tidak kesal? Jika aku adalah Hani, aku juga pasti benci pada wanita yang merebut Tobirama dariku.

Aku menghela napas. Aku benar-benar orang ketiga dalam hubungan mereka. Aku datang dan merusak semuanya.

Belakangan ini aku seringkali memikirkan hal-hal ini, membuatku merasa bersalah. Terpikir olehku, mungkin saja saat itu Tobirama berkata Ia menyukaiku karena terbawa suasana.

Jika dia memang masih punya perasaan pada Hani, mungkin ada baiknya aku pergi dari kehidupan mereka dan mengubur perasaanku dalam-dalam. Bukankah pepatah mengatakan cinta tidak selalu memiliki? Jika aku memang mencintai Tobirama, aku seharusnya ikut senang melihatnya hidup bahagia bersama Hani, wanita yang dicintainya sejak dulu.

Setelah selesai beres-beres dan berpamitan dengan orang-orang di akademi, aku berjalan keluar sambil menenteng sebuah kotak makan berisi mochi kacang, oleh-oleh untuk Hana. Kemarin Satsu dan Amari sudah belanja bahan makanan yang dibutuhkan untuk membuat makanan kesukaan Hana. Aku akan memasak dengannya siang ini sambil menceritakan bagaimana keseharianku di akademi. Hana selalu tertarik mendengar ceritaku. Aku juga selalu senang berbagi cerita dengannya.

Pandanganku tertuju pada seorang anak Uchiha berambur hitam ikal yang tengah bersandar di pohon. Aku mengenal betul siapa anak itu. Dia Kagami Uchiha, anak yang jenius di kelasku. Biasanya orang tuanya akan langsung menjemputnya pulang setelah sekolah bubar. Jika kuingat-ingat, aku sudah beres-beres kurang lebih tiga puluh menit. Kenapa orang tuanya belum juga datang?

Aku berjalan menghampirinya. Dia tersenyum begitu melihatku.

"Guru Nozu, anda mau pulang?" Kagami bertanya sambil tersenyum padaku.

"Aku mau ke Igaku no Niwa. Kagami, orang tuamu belum datang?" Aku bertanya balik.

Kagami menggelengkan kepala. "Hari ini orang tuaku pergi, jadi aku pulang sendiri. Aku baru saja selesai latihan dengan teman-teman"

"Wah, kau masih punya banyak tenaga setelah kelas selesai, ya?" aku tersenyum.

"Guru mau ke Igaku no Niwa? Kalau tidak salah, tempat itu searah dengan rumahku. Ayo kita jalan bersama, Guru!" ajak Kagami bersemangat.

"Tentu" Aku menggandeng tangannya.

Kagami balas memegang tanganku. "Guru, bagaimana jika guru ikut makan siang di rumahku sebentar? Ibu pasti senang bertemu dengan guru"

"Sayang sekali aku tidak bisa ikut makan siang di rumahmu, Kagami. Siang ini aku akan makan siang dengan adikku di Igaku no Niwa" aku mengangkat bahu. "Maaf ya"

"Guru punya adik?" Kagami terlihat terkejut. "Aku tidak tahu"

"Ya, aku punya adik perempuan. Namanya Hana" jawabku senang. "Dia kunoichi yang cantik dan hebat. Tapi dia sedang sakit. Tenang saja, dia akan sembuh sebentar lagi"

"Jika sempat, aku ingin datang menjenguk adik Guru" Kagami tersenyum.

"Baik! Kapan-kapan yah!" Aku mengedipkan mata.

Tidak lama setelahnya kami memasuki wilayah perumahan Uchiha. Ada lambang kebesaran mereka, simbol kipas legendaris Uchiha dimana-mana. Lambang itu bahkan selalu ada di tiap pakaian anggota klannya.

Tidak sulit membedakan warga Uchiha dari yang lain. Mayoritas dari mereka berambut hitam atau coklat gelap. Mereka punya mata hitam besar yang berbeda dari mata kebanyakan orang. Tidak ada satupun dari mereka yang menggunakan sharingan. Hal itu membuatku bersyukur didalam hati, perang sudah selesai. Di Medan perang, aku selalu bertemu para Uchiha dengan sharingan mereka yang bisa membunuhku kapan saja.

Walaupun aku terlihat begitu berbeda dengan orang-orang Uchiha disana, dari segi pakaian maupun wajah, mereka tidak memandangku aneh. Mereka memperlakukanku seperti orang biasa. Bahkan beberapa dari mereka menundukkan kepala hormat padaku, padahal aku tidak mengenal mereka. Aku ingat, sebagian dari mereka adalah orang-orang yang pernah kuobati lukanya setelah perang selesai. Aku mendadak salah tingkah dan hanya bisa menundukkan kepala balik. Mereka sangat sopan, membuatku merasa tidak enak.

Kagami menuntunku berjalan menuju sebuah rumah. Dia berhenti didepan rumah itu. "Ini rumahku, Guru! Kuharap guru bisa berkunjung dan ikut makan suatu hari nanti" Kagami melepas sepatunya dan masuk kedalam rumah. "Ibu, aku pulang! Lihat! Hari ini aku pulang bersama guru Nozu!"

Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Wanita itu berambut ikal, mirip dengan Kagami. Ia terlihat cantik dalam balutan kimono rumahan Uchiha berwarna biru tua.

"Selamat siang, Guru. Silakan masuk! Maaf rumah kami sempit" wanita itu menyapaku ramah.

"Ah! Tidak. Rumahku juga sekecil ini. Rumah ini terasa sangat nyaman, padahal baru pertama kali aku kesini" aku tersenyum ramah.

Mendadak, aku merasakan aura aneh disekitarku. Aura ini tidak berasal dari dalam rumah, melainkan dari luar. Aku menatap ke sekeliling, mencoba mencari tahu dari mana sumber aura aneh ini.

"Nozu Hagoromo, tak kusangka kau datang ke wilayah Uchiha"

Aku terpaku. Suara Madara Uchiha dibelakangku membuatku terdiam. Aku balas menatapnya. Sejak kapan dia berdiri dibelakangku?

"Tuan Madara, selamat siang!" Ibu Kagami memberi salam dengan sopan. "Mari mampir untuk makan siang sebentar"

"Tidak, terima kasih. Aku ada urusan dengan wanita Hagoromo ini" Madara menatapku dengan tatapannya yang tajam.

Aku berusaha menutupi kewaspadaanku dan bertingkah biasa saja. Mungkin takdirku memang harus mendengar apa yang ingin dikatakannya padaku hari ini.

Aku menoleh dan tersenyum pada Kagami. "Kagami, aku ada urusan sebentar. Kau istirahatlah. Sampai jumpa di kelas besok"

Madara berjalan menuntunku menuju suatu tempat. Aku yang memang belum terlalu mengerti wilayah Uchiha hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Di tengah perjalanan, semua orang Uchiha menyapa Madara dengan begitu hormat. Madara memang kuat dan punya kharisma luar biasa. Hal itulah yang bisa membuatnya menjadi pemimpin hebat. Andai saja dia sedikit lebih lembut, mungkin orang-orang akan menyukainya seperti mereka menyukai kak Hashirama.

Kami berhenti di sebuah lahan kosong di tengah hutan. Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa Madara ingin bicara denganku di tempat seperti ini? Mungkin dia sengaja memilih tempat ini supaya tidak ada satupun yang mendengar pembicaraan kami.

"Jadi bagaimana pekerjaanmu di akademi? Kau menyukainya?" Madara tiba-tiba bertanya.

"Sejauh ini baik" jawabku hati-hati.

"Ada urusan apa kau datang kemari?" Madara bertanya lagi.

Aku mengerutkan dahi. "Aku hanya ingin mampir sebentar ke rumah Kagami Uchiha. Dia muridku yang sangat pintar di akademi"

"Kagami, ya?" gumam Madara. "Ya, anak itu memang berbeda"

Aku diam sejenak. Kenapa Madara menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu? Pasti bukan itu yang ingin dikatakannya padaku.

Madara menghela napas. Ia menatapku tajam. "Nozu Hagoromo, ada yang ingin kutanyakan padamu"

Aku mengerutkan kening. Apa yang ingin ditanyakannya? Aku tidak punya hubungan dengan klan Uchiha. Kenapa dia bertanya padaku?

"Sebelumnya aku minta maaf soal Nozomi" Madara terlihat canggung. "Soal Nozomi.."

"Tidak apa-apa" aku menyela perkataannya. "Aku mengerti bagaimana perasaan kak Nozomi padamu. Karena itu aku mengerti kenapa dia memilih mati seperti itu" ujarku sendu.

"Aku tidak bermaksud membunuhnya. Aku bahkan tidak menyangka dia menggunakan teknik itu" Sekilas aku melihat ada rasa bersalah pada wajahnya. Namun ekspresi itu segera tertutup oleh ekspresi datarnya.

"Kakakku sudah memilih jalan hidupnya dan aku menghargainya" aku menghela napas panjang. "Sudahlah. Aku tidak ingin membahas ini denganmu"

"Baiklah" gumam Madara pelan.

Aku mengamati pria Uchiha itu. Dia memang terlihat berbeda dari pria Uchiha umumnya, terutama sorot matanya. Matanya begitu tajam dan terlihat menyimpan kesakitan mendalam.

"Apa yang ingin kau tanyakan?" Aku memberanikan diri untuk bertanya.

Sekilas aku melihat ada keraguan di wajah Madara. Sepertinya dia ingin menanyakan hal yang sensitif sehingga keraguan itu muncul. Sesaat kemudian, Ia kembali mengeraskan hatinya.

"Bukannya berprasangka buruk padamu" Madara mulai bicara. "Selama Nozomi hidup, aku menganggapnya sebagai sahabatku. Aku begitu percaya padanya. Karena itulah aku mempercayakan banyak hal rahasia padanya" Madara melirikku dengan ekor matanya yang tajam. "Termasuk rahasia Uchiha dan Sharingan"

Aku diam sambil menyimak seluruh perkataannya dengan kesadaran penuh. Aku mulai mengerti apa yang ingin ditanyakannya padaku.

"Sebagai seorang ketua Klan sebesar Uchiha, aku harus mempertahankan harga diri klan kami walaupun sekarang kami dan Senju sudah menjadi satu" Madara lanjut berbicara. "Rahasia Uchiha dan Sharingan bukanlah sesuatu yang ingin kubagi dengan Senju. Setelah melihat bagaimana perlakuan mereka sejauh ini pada kami, aku memutuskan untuk tetap waspada"

"Mungkin mereka belum bisa menerima kaliam mengingat sejarah kalian yang bermusuhan sejak lama. Tapi kak Hashirama percaya padamu dan yang lain" Aku mencoba membalas perkataan Madara.

"Aku tahu kau juga tidak diterima dengan baik oleh orang-orang Senju. Kau harus melayani mereka, baru mereka akan melihatmu. Bukankah begitu, Nozu?" Madara menyipitkan matanya. "Aku sudah memprediksi hal ini. Karena itu aku tidak bisa tenang jika ada salah satu dari mereka yang mengetahui rahasia besar Uchiha"

"Siapa yang tahu? Hana?" Aku bertanya lagi.

"Aku percaya Hana tidak tahu apa-apa tentang rahasia ini" jawab Madara sambil berjalan mondar-mandir. Dia menatapku tajam. "Aku curiga Nozomi memberitahu rahasia itu padamu"

Sesuai dugaan, memang itulah yang ingin ditanyakan Madara padaku.

Aku menghela napas. "Kau tidak perlu khawatir" Aku melempar tatapan sendu pada pria Uchiha berambut hitam panjang itu. "Sebagai sesama ketua klan, kak Nozomi pasti tahu betapa pentingnya rahasia yang telah kau beritahu padanya. Dia bukan orang yang mudah mengkhianati kepercayaan temannya, bahkan demi keluarganya sekalipun"

"Apa kau bicara jujur?" Madara menatapku tidak percaya. "Kukira setelah Nozomi menunjukkan gelagat ingin berpisah dari Uchiha, dia akan memberitahu rahasia itu padamu untuk membantu Senju mengalahkan kami"

Aku menggeleng. "Sharingan bisa membaca pikiran seseorang bukan? Kau bisa membaca pikiranku dengan sharingan sekarang. Aku tidak bohong"

Disaat bersamaan aku bisa melihat Madara terlihat lega dan terharu. Sepertinya dia sangat senang tidak ada dari kami yang mengetahui rahasia itu. Walaupun tahu apa sebenarnya rahasia Uchiha dan Sharingan, aku sendiri juga tidak membutuhkannya.

"Kau sudah mendapatkan informasi yang kau inginkan. Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Aku bertanya lagi. "Jika tidak, aku pamit undur diri. Aku mau makan siang dengan Hana di Igaku no Niwa"

"Hana.. apa dia sudah lebih baik?" Tak kusangka Madara terlihat tertarik saat aku menyebut nama Hana.

Aku mengangguk. "Dia sudah lebih baik. Aku bersyukur penyembuhannya berlangsung cepat"

"Baguslah jika begitu" Madara terlihat lega. Aku melihatnya tersenyum tipis. "Aku akan menengoknya bila ada waktu"

"Baiklah" balasku singkat. Aku menundukkan kepala. "Aku permisi"

Madara menatap kepergianku. "Bola api birumu begitu indah. Baru kali itu aku melihatnya. Wajar saja jika mereka menyebutmu Nona Uchiha dalam Hagoromo"

Aku menghentikan langkah dan menoleh padanya. "Apa maksudmu?"

"Sepertinya kau dan saudara-saudaramu lebih cocok bergabung dengan Uchiha daripada dengan Senju" ujar Madara. "Aku tidak mengerti kenapa kalian memihak Senju. Tapi melihat kau punya perangai yang mirip Hashirama, mungkin itu alasanmu ingin bergabung dengan Senju"

Aku tidak mengerti kenapa Madara berkata begitu padaku. Tidak ada gunanya juga aku mengklarifikasi kebenaran perkataannya. Aku memilih diam.

"Hashirama saat ini sedang pergi mengumpulkan bijuu. Aku ingin membantunya tapi dia tetap ingin pergi sendiri" Madara menatap langit. "Sebentar lagi klan Uzumaki akan bergabung, mereka setuju untuk bergabung melalui pernikahan politik"

Madara melirikku. "Kau juga menjalani pernikahan politik agar bisa bersekutu dengan Senju, bukan?"

Aku terkejut. Bukankah tidak ada yang tahu pernikahanku selain orang-orang Hagoromo disini dan Senju?

"Bagaimana kau tahu..?"

Madara menatapku dan mengerutkan dahi. "Tentu saja aku tahu. Aku sungguh tidak mengerti. Jika aku jadi kau, aku hanya akan setuju melakukan pernikahan macam itu dengan Hashirama, tidak dengan Tobirama"

"Itu bukan urusanmu" sahutku.

"Aku tidak pernah tahu apa yang ada di pikiran Tobirama. Sepertinya dia hanya punya pikiran buruk pada orang yang lebih kuat darinya" ujar Madara. "Padahal kekuatannya jauh dibawah Hashirama, tapi dia lebih sombong dari kakaknya"

Aku diam. Perkataan Madara memang tidak sepenuhnya salah. Tapi..

"Kesombongannya akan berbalik menyerangnya suatu hari nanti. Aku yakin" Madara menatapku. "Apa kau tahan hidup bersama orang seperti itu?"

"Entahlah" aku mengangkat bahu. "Itu urusanku. Kau tidak perlu ambil pusing memikirkannya"

"Aku ingin memberitahu hal lain padamu, Nozu Hagoromo" Madara berjalan mendekat. "Alasan lain kenapa aku setuju untuk berdamai dengan Senju adalah karena Hana"

"Hana?" Tanyaku bingung. "Bagaimana bisa Hana.."

"Kau mungkin sudah tahu. Adikku Izuna begitu menyukainya. Sebelum Izuna meninggal, aku berjanji akan melindungi Hana. Karena itulah aku menjebaknya dalam tsukuyomi di awal pertarungan kita agar aku tidak perlu melukainya lebih jauh"

"Aku akan menjaga Hana setelah ini. Kau tidak perlu repot-repot, Madara" ujarku pelan.

Madara menggeleng. "Aku tidak peduli kau berkata apa. Aku akan tetap menjaganya"

"Kau keras kepala" Aku kembali berjalan. "Tapi.. terima kasih kau mau membantuku menjaga Hana"

"Hana juga sangat menyayangimu, Nozu. Dengan itu, aku punya tanggung jawab tambahan" Madara kembali menatapku dengan tajam. "Jika Tobirama berbuat macam-macam padamu. Kau bisa beritahu aku dan aku akan beri dia pelajaran. Anggap saja ini balas budi pada kakakmu"

Aku tertegun. Kata-kata yang baru saja diucapkan Madara membuatku teringat pada Kak Nozomi.

"Terima kasih banyak untuk waktunya" Madara berjalan ke arah berlawanan. "Senang berbincang denganmu, Nona Uchiha"

Madara pergi dan menghilang dibalik pepohonan. Aku diam sejenak, memikirkan semua perkataannya.

Jika memang dia mau melakukan apa yang dikatakannya, Madara bukanlah orang jahat yang harus selalu dicurigai.

Mungkin Tobirama harus mengubah pemikirannya tentang itu.

-8-8-8-

Setelah beberapa hari yang melelahkan, akhirnya hari ini Tobirama bisa pulang lebih awal ke rumah.

Hashirama sudah pergi selama satu minggu. Ia mengirim surat pada Tobirama bahwa kemungkinan tiga hari kedepan dia akan pulang ke rumah bersama calon istrinya.

Tobirama keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan kimono rumahan Senju. Ia melirik jam dinding. Masih pukul enam sore. Biasanya dia selalu pulang ke rumah paling cepat pukul sepuluh malam. Banyak hal yang harus dikerjakannya dan tanpa bantuan Hashirama, mau tidak mau Tobirama harus meluangkan lebih banyak waktu agar pekerjaan itu selesai tepat waktu.

Di waktu luangnya yang tidak banyak ini, Tobirama memutuskan untuk membersihkan koleksi pedangnya. Setelah perang dengan Uchiha terakhir kali, Ia sudah lama tidak menggunakan senjata itu. Tobirama mengambil empat bilah pedangnya dan membawanya ke halaman belakang.

Setelah meletakkan pedangnya dan mengambil beberapa peralatan pembersihnya, Tobirama duduk bersila di teras belakang rumahnya. Menikmati pemandangan langit sore yang mulai menyambut malam dengan dedaunan berwarna keemasan. Angin yang berhembus pelan sore itu kian menyempurnakan suasana hatinya.

'tokk'

"Eh?"

Tobirama menoleh. Ia menemukan Nozu yang tengah menjulurkan kepalanya dari dalam rumah.

"Eh, kau sedang bersih-bersih ya?" Tanya Nozu salah tingkah. "Baiklah, aku masak makan malam dulu"

"Nozu" panggil Tobirama pelan. "Aku belum terlalu lapar. Kau bisa bantu aku sebentar?"

Nozu mengangkat alis. "Oh? Ada apa?"

"Kau bisa membantuku membersihkan pedang-pedang ini?" Tanya Tobirama. "Bantuanmu akan mempersingkat waktu"

Nozu berjalan menghampiri Tobirama. "Pedang ya? Hana dan kak Nozomi sering memakainya. Jadi aku juga sering membantu mereka merawat dan membersihkan pedang-pedangnya"

"Coba kulihat bagaimana caramu merawat pedang-pedang ini" ujar Tobirama pada Nozu yang kini sudah duduk disebelahnya.

"Kau pakai minyak apa untuk perawatannya?" Tanya Nozu sambil mengamati pedang Tobirama. "Kilapnya bagus sekali. Wanginya juga beda"

"Minyak choji, seperti biasa" jawab Tobirama yang sudah mulai membalurkan minyak pada pedangnya. "Aku menambahkan minyak kayu manis. Hanya sedikit, tapi bisa membuat wangi khas yang tahan lama di sarung pedang. Selain minyak, teknik membersihkannya yang jadi kunci menjaga kilap dan tajamnya"

"Hahaha.. dasar pria kayu manis. Aku tidak mengerti kenapa kau suka sekali wangi kayu manis" Nozu tertawa pelan. "Aku ingat Hana juga pernah bilang begitu. Kalian sama-sama suka pedang. Jika Hana sudah tinggal disini, sepertinya kalian bisa akrab"

"Kapan Hana bisa tinggal disini?" Tanya Tobirama sambil memperhatikan bagaimana Nozu membersihkan pedangnya.

"Sepertinya besok Hana sudah bisa tinggal disini" balas Nozu pelan. Ia berhenti membersihkan pedang itu dan menatap Tobirama sejenak.

"Kenapa?" Tanya Tobirama heran. "Kenapa kau menatapku begitu?

"Tidak apa-apa" Nozu kembali menggosok pedang di tangannya dengan sapu tangan. "Aku ingin bicara sesuatu denganmu"

"Kalau begitu, katakan saja" gumam Tobirama pelan. "Akan lebih baik jika kau beri tahu aku apa yang kau pikirkan sekarang. Mungkin itu bisa membuatmu merasa lebih baik"

Nozu memandang langit sore yang kini telah berubah menjadi malam. Malam ini cukup cerah, bahkan bulan sabit sudah bersinar terang di langit meskipun waktu baru menunjukkan pukul 7 malam. Ia tersenyum menatap indahnya langit malam.

"Aku harap kau bisa mengerti dan tidak tersinggung, Tobirama" Nozu mulai bicara.

Tobirama mengangguk. "Kau tepat memilih waktu. Hari ini aku tidak terlalu lelah"

Tobirama melirik Nozu. Ia menerka-nerka apa yang akan dikatakannya.Sesaat wanita itu terlihat ragu. Nozu memejamkan matanya sesaat dan menatap Tobirama lurus.

"Sebelum Hana tinggal disini, aku ingin tahu. Apa kau masih punya perasaan terhadap Hani?"

Tobirama diam. Kenapa pula Nozu harus menanyakan itu padanya? Bukankah hal itu tidak ada hubungannya dengan kedatangan Hana?

"Maaf. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu" Nozu menundukkan kepala. "Aku hanya ingin tahu dimana tempatku seharusnya"

Tobirama mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Aku memang lahir di keluarga dengan status tinggi. Karena itulah aku begitu memikirkan harga diri dan statusku. Aku menerima pernikahan ini karena aku suka padamu" Nozu menatap halaman belakang dengan sendu. "Saat aku tahu kau punya janji dengan wanita lain, aku jadi sangat marah dan cemburu. Padahal seharusnya aku bisa menerima apapun yang terjadi karena aku setuju untuk bergabug dengan Senju. Ini pedangnya" Nozu memberikan pedang yang sudah dibersihkannya pada Tobirama.

Tobirama mengambil pedang itu dari tangan Nozu. Ia melihat pantulan wajah Nozu di mata pedangnya. Wajah Nozu terlihat sedih.

"Padahal dibandingkan kekecewaanku, kau dan Hani pasti lebih kecewa" Nozu tersenyum sendiri. "Aku menghancurkan janji kalian. Jika aku jadi Hani, aku pasti sangat membenci wanita bernama Nozu Hagoromo itu"

Tobirama mengerutkan dahi. "Kau belum katakan padaku, dari mana kau tahu tentang janji itu? Kapan kau mendengarnya?"

"Sudah lama. Tidak ada gunanya mengungkit hal yang sudah lama" Nozu menghela napas. "Apa yang terjadi seringkali tidak sesuai dengan kemauan kita. Aku terlalu naif saat berpikir akulah satu-satunya wanita yang harus kau cintai karena aku adalah istrimu. Padahal siapa aku? Aku hanya orang baru dalam hidup kalian. Jika aku memang mencintaimu, Tobirama, maka hal terbaik yang harus kulakukan adalah melihatmu bahagia dengan wanita yang kau cintai"

"Nozu, kenapa kau malah berpikir seperti itu?" Tanya Tobirama heran. "Kau tidak seharusnya..."

"Sungguh, aku lelah jadi orang ketiga" sela Nozu. "Jika memang kau masih mencintai Hani, aku dan Hana dengan senang hati akan mencari tempat tinggal lain. Tenang saja, aku tidak akan merebutmu dari Hani. Aku tahu itu tidak mungkin bisa. Oh iya.." tatapan Nozu kembali tertuju pada langit malam. "Soal kejadian pagi itu... Jika kau mau, kau bisa melupakannya. Anggap saja kejadian itu tidak pernak terjadi"

"Cukup!" Tobirama bangkit berdiri tiba-tiba, membuat sarung pedang yang tadi ada di pangkuannya jatuh. "Aku tidak mau mendengar omongan kosongmu lagi! Pemikiran macam apa itu?"

Nozu menatap Tobirama penuh tanya. "Kenapa kau..

"Kau ingin bertanya kenapa aku marah?" Tanya Tobirama sebal. "Bagaimana kau bisa menyuruhku melupakan kejadian itu sementara aku tidak bisa berhenti memikirkannya?!"

Nozu terlihat terkejut. Pipinya mendadak bersemu merah. "Tobirama, kau.."

"Sekarang bagaimana jika aku bertanya balik. Apa kau bisa melupakan kejadian itu dan menganggapnya tidak ada?" Tanya Tobirama kesal.

"Aku.." Nozu terlihat ragu berkata-kata. "Aku tidak mungkin melupakannya"

"Lalu kenapa kau suruh aku melakukan hal itu?" Tanya Tobirama sambil menyipitkan mata.

"Bagaimana aku bisa tahu perkataanmu saat itu benar atau tidak" jawab Nozu segera. "Laki-laki pasti lupa akal sehatnya dalam keadaan seperti itu"

"Perlukah kuberitahu lagi semua padamu? Bukankah aku sudah berkata aku menyukaimu? Kau mau aku terus mengulang perkataan itu? Setelah kau membuatku suka padamu, sekarang kau mau meninggalkanku begitu saja?" Ujar Tobirama kesal. "Kau benar-benar keterlaluan!"

Bagaimana bisa Nozu mengatakan hal itu padanya? Setelah mengerti perasaannya pada Nozu, bahkan kini Tobirama tidak menyimpan sedikitpun rasa terhadap Hani. Kenapa dia malah ingin pergi? Apa lagi yang harus Tobirama katakan agar Nozu bisa mengerti?

"Maaf, Tobirama. Aku tidak bermaksud membuatmu marah" ujar Nozu yang merasa bersalah. "Aku hanya ingin.."

"Benar, aku marah. Kau puas?" Tobirama melempar tatapan sebal pada Nozu. Ia berjalan masuk kedalam rumah. "Aku tidak peduli apa yang mau kau lakukan disini. Jika kau pergi, aku akan menyeretmu pulang kembali kesini, ke rumah suamimu!"

"Lalu bagaimana dengan Hani?" Tanya Nozu kemudian. "Kau tidak mungkin membuangnya seperti sepatu usang, bukan? Apa yang akan kau lakukan padanya?"

Tobirama diam. Ia sudah memikirkan hal itu sejak Ia sadar akan perasaannya pada Nozu. Dia sudah memilih Nozu.

Ia tidak bisa menepati janjinya pada Hani

"Itu urusanku" jawab Tobirama. "Aku akan beritahu Hani tentang hal ini"

"Bagaimana kau bisa membuatnya menerima semua ini? Katakan padaku" ujar Nozu yang kini berdiri di belakang Tobirama.

Tobirama menghela napas. Ia membalikkan badannya dan menatap Nozu sesaat. "Ini semua demi kebaikannya. Akan lebih baik jika dia mencari pria lain yang hanya bisa mencintainya seorang. Dengan itu, dia akan lebih bahagia"

Nozu diam. Dia tidak berani menatap wajah Tobirama yang kini berada lebih tinggi darinya. Walapun masih banyak hal tidak terjawab di pikirannya, Ia memilih untuk menyimpannya hari ini. Sepertinya perkataannya malam ini sudah cukup menyinggung pria itu.

Tobirama kembali menghela napas. Ia menggenggam tangan Nozu, menariknya mendekat. Ia menunduk dan mengamati kepala Nozu. "Sudahlah. Aku selalu merasa ada yang salah jika marah padamu. Berhentilah memasang wajah bersalah seperti itu"

Nozu mendongak keatas. Ia tidak menyangka Tobirama tengah menatapnya dari dekat. Tobirama memiringkan kepalanya dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Nozu. Sesaat kemudian Tobirama melepaskan ciumannya. Ia menatap Nozu dengan mata merahnya yang tajam.

"Tetaplah disini, Nozu"

Entah kenapa air mata mengalir jatuh ke pipi Nozu.

"Tobirama, aku selalu ingin bersamamu. Apa aku bermimpi lagi? Ini bukan mimpi 'kan?" Tanya Nozu tidak percaya.

Tobirama menggeleng. Ia menyentuhkan ujung hidungnya pada hidung Nozu dengan sayang. "Ini bukan mimpi. Kau bisa merasakan sentuhanku, bukan?"

Nozu memeluk Tobirama dengan erat. Tobirama tersenyum. Ia balas memeluk wanita itu dengan erat dan hangat.

"Mulai sekarang, kita akan terus bersama" bisik Tobirama di telinga Nozu dengan pelan. Ia memberi beberapa ciuman kecil pada pipi Nozu dan kembali memeluknya. "Soal Hani, aku harap kau bisa percayakan urusan itu padaku"

"Kali ini aku percaya padamu" balas Nozu sambil mengangguk. "Maaf sudah meragukanmu, Tobirama. Terima kasih"

"Yah, sudahlah" Tobirama melepaskan pelukannya. "Kembali kasih"

Ia menatap Nozu. "Oh iya, aku sudah merapikan kamar tamu. Kamar itu akan jadi kamar Hana nantinya"

Nozu mengerutkan kening. "Tobirama, sejak kapan kau.."

"Aku melakukannya saat kau tidur" jawab Tobirama segera. "Kita hanya bertemu sebentar setiap harinya dan kau tidur. Aku membereskan kamar itu saat kau tidur"

"Tapi kau sudah lelah kerja dari pagi" Nozu terlihat bersalah. "Harusnya aku saja yang siapkan kamar untuk Hana"

Tobirama menggeleng. "Kenapa? Aku juga ingin menyambut adik iparku dengan baik" Ia tersenyum tipis. "Apa tidak boleh?"

"Bukan begitu.."

"Oh iya, aku dapat kabar kau pergi ke wilayah Uchiha kemarin" Tobirama menatapku penuh selidik. "Apa yang kau lakukan disana?"

Nozu membulatkan mata. "Kau tahu dari mana?"

"Tentu saja aku tahu" balas Tobirama. "Orang-orang Uchiha yang kutemui hari ini banyak membicarakanmu"

"Hah? Mereka bilang apa tentangku?" Tanya Nozu penasaran. "Aku kesana untuk mengantar Kagami, muridku pulang. Tapi apa mereka berpikir hal-hal aneh tentangku?"

Tobirama mengamati Nozu dengan seksama. Ia sungguh tidak mengerti apa yang dilakukan Nozu saat itu, tapi orang-orang Uchiha terlihat begitu menyukainya. Tidak sedikit dari mereka yang berkata ingin menikah dengan Nozu.

Tobirama melirik Nozu. "Kau bertemu Madara disana?"

"Tidak" jawab Nozu segera. "Aku tidak bertemu dengannya disana"

"Baguslah" Tobirama mengangguk. "Aku tidak menyukainya. Kuharap kau bisa jaga jarak dengannya. Aku merasa dia ingin mendekatimu. Entah dengan tujuan apa"

Nozu diam. Ia menatap Tobirama sambil mengerutkan keningnya.

"Ya sudah. Aku lapar. Ayo kita makan" Tobirama berjalan masuk ke dapur. Ia membuka lemari makanan. "Ikan panggang kemarin malam sudah habis?"

"Iya. Aku yang makan" balas Nozu. "Malam ini aku berencana membuat Sukiyaki. Kau mau makan yang lain?"

"Tidak perlu" Tobirama duduk di meja makan. "Aku akan makan semua yang kau masak"

Nozu tersenyum tipis. Ia mulai memasak sementara Tobirama duduk di meja makan dan mengamatinya.

"Oh iya, Tobirama" Nozu mulai bicara sambil memotong-motong sayur. "Hari ini dingin sekali. Padahal hari-hari di musim panas kemarin benar-benar panas. Peralihan cuaca seperti ini bisa membuat orang cepat sakit"

"Mungkin kau benar" gumam Tobirama singkat. Ia tersenyum sendiri. Setelah beberapa hari ini, Tobirama bersyukur Nozu mulai bersikap biasa padanya.

Jika dipikir lagi, sudah berapa lama Tobirama mengenal Nozu? Entahlah, rasanya sudah lama sekali. Ia juga tidak mengerti kenapa takdir mempertemukannya dengan wanita itu. Tobirama mengamati Nozu yang sibuk dengan masakannya. Jika dilihat-lihat, Nozu punya aura yang berbeda dari Hani. Rasanya saat bersamanya, Tobirama jadi lebih sering tertawa. Tawa itu membuat pikirannya terasa tenang dan rileks.

Jika Tobirama sudah menetapkan pilihannya, Ia tidak bisa membiarkan keadaan tetap seperti ini. Ia harus mengambil langkah sesegera mungkin.

"Aku akan bicarakan ini dengannya secepatnya. Aku janji" ujar Tobirama sambil menatap Nozu lekat-lekat.

Nozu mengangguk. Ia menatap Tobirama lurus. "Aku percaya kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Hani tanpa membuat masalah lain"

-8-8-8-

'Tok, tok, tok'

Entah sudah berapa kali ketukan pintu itu terdengar. Aku berusaha membuka mataku yang terasa seperti disatukan dengan lem. Kemarin malam aku memutuskan untuk menyelesaikan laporan kelas dan laporan pembuatan obat bulanan sehingga aku harus tidur larut malam bersama Tobirama yang juga sibuk dengan peraturan-peraturan baru yang dibuatnya. Rasanya aku ingin tidur sebentar lagi.. lima menit lagi..

Aku melirik Tobirama. Pria itu sudah duduk di tempat tidur. Aku bisa melihat matanya masih sayu.

"Aku saja yang buka pintu" ujarnya serak sambil turun dari tempat tidur.

'Wah! Bagus sekali dia mau turun dari tempat tidur! Ini jarang terjadi! Aku bisa tidur sebentar lagi'

Beberapa saat kemudian, tidurku kembali terganggu. Kali ini apa lagi?

"Nozu, Hana sudah datang. Diantar Satsu dan Amari" Tobirama mengguncang-guncang badanku. "Ayo bangun"

Kedua mataku yang sedari tadi masih tertutup rapat, mendadak terbuka lebar begitu mendengar kata-kata Tobirama.

'Hana?!'

To be continued..

-8-8-8-

A/N: Halo readers.. mohon maaf sekali kita baru bertemu hari ini.. padahal terakhir kali update udah cukup lama..

Terima kasih banyakk untuk kalian yang sudah setia menunggu.. :))

Akhirnya Nozu mau tinggal di rumah Senju bersama adiknya, Hana. Semoga Nozu dan Tobirama rukun-rukun kedepannya ya.. :)

Kira-kira bagaimana Tobirama memberitahu Hani soal janjinya yang terpaksa harus diingkari? Bagaimana juga kehidupan mereka setelah ada Hana dan calon istri Hashirama, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Uzumaki Mito?

See you on the next chapter! ;)