Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Warning: OOC, OC mis-typo(s)
Rated : M
Chapter 18 : New Sibling
Tobirama berjalan menuju ruang makan. Sayup-sayup Ia mendengar suara Nozu yang tengah bicara dengan Hana, Satsu dan Amari di meja makan. Tobirama tersenyum tipis. Sudah lama suasana rumah tidak seramai ini.
Ia memasuki ruang makan dan mendapati mereka tengah mengoles roti panggang dengan beberapa selai. Tobirama tersenyum.
"Selamat pagi"
"Selamat pagi Tuan Tobirama" Satsu dan Amari balas menyapa Tobirama.
"Tobirama, kau sudah selesai mandi? Ayo makan!" Nozu memberikan sepiring roti panggang pada Tobirama. "Rotimu kuberi sedikit bubuk kayu manis. Aku pikir kau suka"
Tobirama duduk di kursinya. "Terima kasih" gumamnya pelan. Pandangan matanya tertuju pada Hana yang kini duduk di depannya. "Senang bertemu denganmu, Hana"
"Akhirnya kita bertemu" ujar Hana. "Sudah lama aku ingin bertemu denganmu langsung seperti ini"
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Tobirama sambil memakan sarapannya.
"Aku sudah lebih baik" jawab Hana. "Setelah sembuh, aku akan secepatnya membantu kalian"
"Tidak perlu buru-buru" balas Tobirama. "Fokus ke penyembuhan dulu. Kau bisa melakukan apapun jika sudah sehat. Aku harap kau nyaman tinggal disini. Mulai sekarang ini rumahmu"
Hana tersenyum kecil. "Terima kasih"
"Wah! Sudah jam segini" Nozu memakan sarapannya buru-buru. "Aku bisa terlambat ke akademi"
Tobirama melirik Nozu. "Jika masih lapar, kau bawa saja roti-roti ini dan makan disana. Jangan memberi contoh tidak baik pada anak-anak dengan datang terlambat!"
"Apa sih? Aku belum terlambat" Nozu memasukkan sepotong roti yang masih besar ke mulutnya. Ia mengambil tas dan beberapa helai kertas yang ada di depannya. "Aku pergi dulu!" Gumamnya tidak jelas.
"Nona tunggu!" Seru Satsu. "Kami juga mau ke Igaku no Niwa" Satsu menoleh pada Tobirama dan Hana bergantian. "Tuan Tobirama, Nona Hana, saya pamit dulu"
"Hati-hati dijalan. Semoga hari ini jadi hari yang baik untuk kalian" Hana tersenyum tulus.
"Tobirama, aku titip Hana yaa!" Seru Nozu dari ruang tamu. "Aku akan pulang ke rumah saat makan siang. Hei, kau dengar kan?"
"Aku tidak apa-apa, Kak. Aku akan menunggu kakak pulang" balas Hana dari ruang makan.
"Saya permisi, Tuan, Nona" Amari ikut bergegas meninggalkan ruangan bersama Satsu dan Nozu.
Tobirama menghabiskan sarapannya. Setelah selesai mencuci piring, Ia kembali ke ruang makan. Hana masih duduk disana walaupun makanannya sudah habis.
"Aku ada di ruang kerja kakak. Kau bisa kesana jika ingin bicara denganku" ujar Tobirama.
"Baiklah" balas Hana pelan. "Aku akan beres-beres meja makan dulu"
"Perlu bantuan?" Tobirama menawarkan diri.
Hana menggeleng. "Tidak, terima kasih"
"Baiklah" balas Tobirama singkat. "Jangan bekerja terlalu banyak"
Hana tersenyum. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan mulai membereskan meja makan sementara Tobirama berjalan menuju ruang kerja Hashirama.
Kemarin malam, Tobirama sudah setuju untuk berangkat ke kantor dari siang. Ia akan mengerjakan beberapa dokumen di rumah sambil menjaga Hana di rumah. Mengingat Hashirama belum pulang dan Nozu yang harus pergi ke akademi tiap pagi, Tobirama tidak keberatan untuk tetap di rumah hingga jam makan siang. Ia jadi punya waktu istirahat lebih banyak.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tobirama mulai merasa lelah duduk membaca dokumen di ruang kerja. Ia tersenyum menatap surat perjanjian yang ada di depannya. Lusa lalu Toka pulang membawa kabar baik. Klan Sarutobi dan Himura menandatangani surat itu, yang berarti mereka setuju untuk bergabung. Dengan ini, desa yang mereka bangun akan bertambah besar.
Berikutnya Tobirama menargetkan klan Hyuuga, Nara, Yamanaka dan Akimichi untuk diajak bergabung. Mereka klan kuat. Semakin banyaknya Shinobi hebat yang bergabung, pertahanan mereka akan semakin baik. Ia meletakkan gulungan surat perjanjian yang akan dikirimnya pada keempat klan itu didalam laci meja.
Sebelum Hashirama pergi, mereka sudah membicarakan tentang pemimpin desa. Tobirama setuju dengan ide itu. Sistem satu negara dan satu desa memang terlihat lebih solid. Karena itu desa ini perlu pemimpin hebat yang bisa mengatur dan mengawasi semuanya. Soal nama desa, Tobirama masih memikirkannya. Mungkin Tobirama akan mendiskusikannya lagi dengan Hashirama saat dia kembali.
Setelah selesai merapikan dokumen di meja Hashirama, Tobirama bangkit berdiri dan berjalan-jalan ke sekeliling rumah. Hashirama adalah tokoh dibalik semua pembangunan desa. Seharusnya dia yang pantas menjadi pemimpin desa ini. Mengingat Uchiha kemungkinan akan mengajukan Madara sebagai pemimpin, mungkin akan lebih baik jika pemilihan pemimpin desa dilakukan dengan demokratis. Pendapat semua warga akan diperhitungkan untuk memilih orang terbaik.
'tak, tak, tak, tak'
"..."
Suara di halaman belakang mengalihkan perhatian Tobirama. Tidak ada orang di rumah ini selain dia dan Hana. Apa yang dilakukan Hana di halaman belakang?
Setibanya di halaman belakang, Tobirama mendapati Hana yang tengah berlatih dengan pedang kayu. Ia menggunakan pohon sebagai objek latihannya. Tobirama mengerutkan dahi. Bukankah Hana belum benar-benar sembuh?
"Kau sudah mulai berlatih?" Tanya Tobirama.
Hana menoleh ke belakang. Ia menyeka keringat yang mengalir di wajahnya. "Ini hanya latihan ringan"
Tobirama berjalan mendekat. Ia memperhatikan gerakan Hana yang tengah berlatih menebas dengan pedang kayu. Dari gerakannya, Tobirama bisa melihat Hana termasuk pengguna pedang yang terampil. Gerakannya saat mengayun pedang punya karakter tersendiri, luwes sekaligus kuat.
Tobirama tersenyum. "Untuk seseorang yang baru sembuh, kau boleh juga"
Hana menggeleng. "Ini bukan apa-apa"
"Jika kau bosan berlatih dengan pohon itu, aku bisa jadi teman latihanmu" ujar Tobirama. "Kalau kau mau"
Hana menatap Tobirama sejenak. "Aku tahu kemampuanmu menggunakan pedang lebih baik dariku"
"Belum tentu" Tobirama mengamati pedang kayu Hana. Itu bukan pedang kayu biasa. Warnanya lebih terang dan teksturnya terlihat kasar, tidak seperti pedang kayu dari pohon ek yang sering digunakan Tobirama untuk berlatih.
"Bisa kulihat pedang kayumu sebentar?" Tanya Tobirama.
"Tentu" Hana memberikan pedang itu pada Tobirama.
Tobirama mengerutkan dahi. Pedang ini tiga kali lebih berat dari pedang kayu umumnya. Tobirama mencoba mengayunkan pedang itu sambil memukul pohon beberapa kali. Sesuai dugaannya, ini bukan pedang kayu biasa.
"Pedang ini terbuat dari kayu apa?" Tanya Tobirama. "Kayu ini lebih berat dan padat dari kayu biasa"
"Kayu besi. Kau pernah dengar?" Hana bertanya balik.
Tobirama menggeleng. "Kau membuat pedang ini sendiri?"
"Tidak. Ini buatan kak Nozomi" jawab Hana sendu. "Kak Nozomi yang menemukan kayu jenis ini bisa digunakan sebagai pedang kayu khusus. Dia memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku yang ke 17"
"Oh, begitu" gumam Tobirama pelan. Ia menangkap ekspresi sedih di wajah Hana begitu mereka membicarakan Nozomi. Nozu pasti sudah memberitahunya semua yang terjadi.
"Ayo kita berlatih bersama" Tobirama mencoba mengganti suasana. "Karena kau memakai pedang kayu, aku juga akan memakai pedang kayu. Tunggu sebentar, aku akan ambil di kamarku"
Hana hanya diam sementara Tobirama masuk ke dalam rumah dan kembali ke halaman belakang dengan sebuah pedang kayu di tangannya.
"Ini pedang kayu biasa. Dari pohon ek" Tobirama menggengam pedangnya. "Pikiranmu harus fokus walaupun ini hanya latihan. Kita mulai"
Hana menatap Tobirama sejenak. Ia tersenyum kecil. "Aku tidak tahu kenapa kau begitu tertarik berlatih denganku"
"Hanya orang dengan kemampuan tidak biasa yang menggunakan pedang tidak biasa" jawab Tobirama. "Aku belum pernah melihat keahlian berpedangmu"
"Kemampuanku tidak sebesar ekspektasimu" gumam Hana pelan.
Hana memasang posisi siap menyerang dengan pedang kayunya. Ia mulai mengayunkan pedangnya ke arah Tobirama. Bunyi pedang kayu yang diadu terdengar seiring pergerakan mereka yang menyerang satu sama lain. Walaupun masih belum sehat, diluar dugaan Hana mampu memberikan pukulan kuat dan cepat dengan pedang kayunya. Tobirama yang tadinya berniat tidak terlalu serius dalam latihan ini akhirnya memutuskan untuk serius. Mereka berlatih selama tiga puluh menit hingga akhirnya Tobirama berhasil menjatuhkan pedang Hana.
"Sudah kukatakan kemampuanku masih kurang" ujar Hana yang masih mengatur napasnya. "Aku kalah"
"Tidak" Tobirama mengambil pedang kayu Hana dan menyerahkannya. "Kau hanya belum sembuh benar. Kita akan kembali berlatih lagi saat kau sudah sembuh. Mungkin saja kau bisa memukul jatuh pedangku"
"Padahal pedang ini lebih berat. Tapi tetap saja aku tidak bisa mengalahkanmu. Tenaga laki-laki memang lebih kuat dari perempuan"
"Mungkin kau benar" balas Tobirama. "Tapi jika punya teknik yang baik, perempuan juga tidak bisa dianggap enteng. Dia bisa saja mengalahkan seorang laki-laki bertenaga besar" Tobirama melirik Hana. "Ayo kita istirahat"
Hana mengangguk. Mereka berjalan menuju teras belakang rumah. Tobirama duduk dilantai sementara Hana masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian Hana keluar membawa dua gelas minuman berwarna putih. Ia meletakkan minuman itu di lantai dan duduk di sebelah Tobirama.
"Minuman apa ini?" Tobirama terlihat tertarik. "Apa ini susu?"
"Susu almond" jawab Hana. "Aku menambahkan sedikit buah beri didalamnya. Rasanya segar jika minum ini setelah berlatih"
Tobirama mengambil segelas susu almond itu dan meminumnya. "Kau benar. Rasanya segar"
"Kau suka?" Tanya Hana. "Dari wajahmu, sepertinya kau suka"
"Rasanya unik, tapi enak dan segar" Tobirama tersenyum tipis. "Aku suka"
"Apa baru kali ini kau minum susu almond?" Hana bertanya lagi "Aku dan kak Nozu sering membuatnya dulu. Kupikir dia juga sering membuat minuman ini disini karena dia juga suka rasanya"
Tobirama terdiam. "Ada banyak hal yang terjadi disini. Mungkin karena itu dia tidak sempat membuatnya"
"Yah, kau benar" Hana tersenyum simpul. "Kak Nozu sudah menceritakannya semua padaku"
Hana menatap Tobirama lurus dan mengamati wajahnya dengan seksama.
Tobirama menghabiskan minumannya. Ia balas menatap Hana dan mengerutkan kening. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa" jawab Hana sambil tersenyum kecil. "Aku teringat sesuatu. Dulu, setiap kali ada orang yang bilang dia suka pada kak Nozu, kak Nozu selalu bilang dia sudah punya orang yang disukainya. Aku sempat bingung dia bohong atau tidak. Jika aku tanya siapa orang itu, Kak Nozu selalu menjawab laki-laki itu adalah orang dengan rambut putih dan mata merah. Tidak salah lagi, itu pasti kau"
"Dia mengatakan itu?" Tobirama menggelengkan kepala. "Dasar Nozu, dari dulu tidak pernah berubah. Selalu saja mengatakan hal aneh-aneh"
"Dia mengatakan itu sejak berusia sembilan tahun" lanjut Hana. "Aku menyadari kau adalah orang yang selama ini disukainya sejak kau datang ke wilayah kami waktu itu. Sebelumnya aku jarang pergi ke medan perang, jadi kita tidak pernah bertemu"
Tobirama diam. Ia teringat akan perkataan Nozu malam itu, ketika dia mabuk. Nozu juga mengatakan hal yang sama. Wanita itu memang sudah menyukai Tobirama dari dulu.
"Saat aku tahu kak Nozu menikah denganmu. Aku senang sekali jika dia bisa menikah dengan orang yang disukainya" Hana tersenyum kecil. Ia menatap Tobirama. "Tapi aku tidak tahu kau menyukainya atau tidak"
"Entahlah" Tobirama bergumam pelan. "Dia orang yang aneh. Dia benar-benar mirip kakak. Kadang dia membuatku merasa jadi orang lain saat bicara dengannya"
"Hashirama Senju maksudmu? Apa kak Nozu dan Hashirama Senju semirip itu?" Hana terlihat tertarik.
"Kau bisa melihatnya sendiri saat kakak pulang nanti" balas Tobirama. "Nozu memberikanku pandangan bagaimana jika kakak terlahir sebagai perempuan"
Hana mengamati Tobirama. "Walaupun kau punya sifat berlawanan dengan kakakmu, aku tahu kau sangat menyayanginya. Aku merasa kau punya perasaan yang sama pada kak Nozu, tapi kau enggan mengungkapkannya"
Tobirama diam. Dari kecil Ia sudah terbiasa menekan segala perasaan dan emosi sebagai seorang Shinobi. Akan jadi hal yang sulit jika Ia ingin menunjukkan perasaannya kali ini.
"Tidak apa-apa jika kau enggan menunjukkannya. Aku mengerti" Hana meminum minumannya. "Aku berharap kau bisa menjaga kak Nozu seperti kau menjaga kakakmu"
"Kau tidak perlu khawatir" gumam Tobirama pelan. "Sepertinya sudah takdirku melindungi orang-orang seperti mereka"
"Sekarang kita sudah satu keluarga, kau bisa memanggilku kakak" Tobirama tersenyum. "Aku akan sangat senang jika punya adik sekaligus teman berlatih pedang yang hebat sepertimu"
"Apa tidak apa-apa?" Hana terlihat canggung. "Aku baru saja bertemu denganmu hari ini.."
"Aku sudah lama menikah dengan kakakmu. Sebenarnya kita sudah lama juga jadi keluarga" sela Tobirama.
Hana tersenyum kecil. "Terima kasih banyak untuk sambutannya kak Tobirama. Aku senang kau menerimaku dengan baik"
Tobirama tersenyum sendu. "Sudah lama sekali tidak ada yang memanggilku kakak. Terakhir kali.. Itama"
Tobirama diam. Ada rasa sakit yang perih didalam dadanya ketika Ia menyebut nama Itama. Itama dan Kawarama, dua orang adik laki-lakinya yang meninggal selama perang. Walaupun waktu sudah berlalu lama, rasa sakit itu tetap terasa di dadanya setiap Tobirama mengingat bagaimana kedua adiknya mati.
Hana menatap langit sendu. "Kak Tobirama, apa menurutmu perang benar-benar sudah berakhir?"
"Kupikir belum" Tobirama bergumam pelan. "Sekarang kami sedang dalam tahap menjalin aliansi dengan berbagai klan. Masih banyak klan yang berseteru karena dendam dan iri pada satu sama lain. Itu bisa jadi pemicu perang selanjutnya. Mereka sama sekali tidak bisa menekan perasaan demi kepentingan bersama. Memang sifat yang egois, tapi juga manusiawi"
"Perasaan memang sulit dilupakan" gumam Hana. "Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa perasaan. Jika memang ada, dia sudah bukan manusia lagi namanya"
"Kenapa orang-orang baik seperti kalian harus saling membunuh seperti ini?" Hana bergumam sendiri. "Jika saja kalian bisa mengerti satu sama lain, tidak ada yang perlu mati, tidak ada yang akan sedih"
Tobirama menoleh. Wajah Hana terlihat begitu sedih.
"Andai saja kak Nozomi bisa tinggal bersama kita sekarang" Hana menghapus air matanya yang jatuh. "Kak Nozomi.."
"Kita akan mempertahankan perdamaian ini. Seperti yang diinginkan Nozomi" Tobirama bergumam pelan. "Dia pasti senang melihat perang sudah berakhir dari atas sana. Kita tidak boleh membuatnya sedih"
"Apa kakak percaya orang yang sudah meninggal bisa melihat kita bahkan disaat kita tidak bisa melihat mereka lagi?" tanya Hana dengan suara bergetar.
"Aku percaya orang yang sudah meninggal tidak sepenuhnya meninggalkan kita" Tobirama bergumam sendu. "Mereka ada disekitar kita untuk mengamati..."
'Tok, tok, tok'
"Hana! Aku pulang!!"
Tobirama bangkit berdiri. "Sudah jam makan siang, ya?"
Hana langsung berlari kedepan. Dia memeluk Nozu yang baru saja tiba di rumah dengan erat.
"Eh, kenapa? Ada apa?" Tanya Nozu heran. Ia bingung kenapa Hana tiba-tiba berlari dan memeluknya seperti itu.
"Aku rindu kakak" jawab Hana yang belum melepas pelukannya.
"Hana, kau menangis?" Tanya Nozu. Tatapannya langsung teralih pada Tobirama yang baru muncul dari dapur. "Tobirama, kenapa kau buat Hana menangis?"
"Bukan kak. Aku bukan menangis karena kak Tobirama. Aku hanya sedang rindu pada kakak dan kak Nozomi" Hana melepas pelukannya.
Nozu diam sejenak. Ekspresinya berubah begitu Hana menyebut nama Nozomi. Kedua kakak beradik itu pastinya masih merasa sangat sedih atas kepergian Nozomi.
"Aku juga sering memikirkan kak Nozomi akhir-akhir ini" Nozu bergumam pelan. "Ayo kita kunjungi kakak"
"Ide bagus" ujar Tobirama. "Kita akan mengunjungi Nozomi bersama akhir bulan ini. Aku dan kakak juga harus meletakkan bunga di makam ayah, Itama dan Kawarama"
Nozu mengangguk. "Ada beberapa urusan di Igaku no Niwa dan akademi yang harus kuselesaikan. Setelah itu, kita kunjungi kak Nozomi" Ia meletakkan setumpuk kertas yang dibawanya di meja makan.
"Hana, kukira Tobirama memperlakukanmu dengan tidak baik" Nozu melirik Tobirama. "Jika memang begitu, kau beritahu saja aku. Nanti kuhajar dia untukmu"
"Itu kalau kau bisa" sahut Tobirama. "Jika tidak, aku yang akan balik menghajarmu"
"Tidak kak Nozu. Kak Tobirama sangat baik padaku" sanggah Hana.
Tobirama tersenyum. "Aku juga merasa cocok dengannya. Hana bukan tipe orang kelebihan tenaga sepertimu. Dia orang yang tenang dan punya pemikiran panjang"
"Ya sudah, baguslah jika kalian akur" Nozu berjalan ke dapur. "Ayo kita makan siang! Tobirama, kau belum siap-siap? Sebentar lagi kan pergi kerja"
"Tadi aku berlatih sebentar. Aku akan siap-siap dan pergi setelah makan siang" jawab Tobirama. Ia mengamati raut wajah Nozu dan menatapnya jahil. "Kenapa? Kau cemburu pada Hana karena aku merasa cocok dengannya?"
"Siapa yang bilang begitu? Jangan seenaknya menyimpulkan sendiri" jawab Nozu sebal. "Mana mungkin aku cemburu pada adik sendiri. Dasar!"
Nozu kembali melirik Tobirama. "Terima kasih sudah menjaga Hana untukku"
"Kembali kasih. Senang bisa membantumu" Tobirama tersenyum. Ia berjalan menuju Nozu dan mengelus kepala wanita itu dengan pelan. Ia melirik Hana. "Senang rasanya sekarang kita punya anggota keluarga baru di rumah ini"
-8-8-8-
Aku berlari keluar dari Igaku no Niwa. Pagi ini aku terlalu sibuk menimbang ulang dosis takaran obat untuk para warga yang sakit. Padahal Tobirama sudah bilang kak Hashirama akan pulang siang ini. Mau bagaimana lagi? Kemarin Satsu salah membaca takaran dosis obat. Untung pagi ini aku mengecek pekerjaannya sehingga obat itu belum sempat diberikan ke warga.
Sekarang kak Hashirama pasti sudah pulang ke rumah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya dan aku rindu padanya! Aku akan memeluknya seerat mungkin!
Kak Hashirama juga membawa pulang calon istrinya hari ini. Bagaimana wanita yang dibawanya itu? Seperti apa ya orang yang akan jadi calon istri seorang Hashirama Senju?
Setibanya di halaman rumah. Aku bisa melihat banyak bakiak di rak sepatu depan. Mereka sudah di rumah. Pintu depan terbuka sedikit, membuatku bisa melihat kak Hashirama yang tengah duduk berbincang di ruang tamu.
"Kak Hashirama!"
Aku membuka bakiak dan membuka pintu depan perlahan. Aku tidak dapat menahan senyum ketika kak Hashirama balik tersenyum menatapku.
"Nozu! Astaga, aku rindu padamu!"
Aku berjalan menuju kak Hashirama dan memeluknya dengan erat. "Kak Hashirama, selamat datang!!" Ujarku sambil tersenyum lebar.
"Hahaha, kau terlihat lebih sehat setelah berada dirumah bersama Tobirama, eh?" Kak Hashirama balas memelukku. Ia melepaskan pelukannya. "Nah, tuan-tuan. Perkenalkan. Dia adikku, Nozu Senju"
"Bukankah anda tidak punya adik lagi selain Tobirama?" Tanya seorang pria berambut merah pendek yang sedang duduk di sofa.
Hashirama tersenyum. "Ah! Bagaimana menceritakannya ya? Dia ini.."
"Kita akan bicarakan tentang Nozu nanti, kak" sela Tobirama. "Itu diluar topik pembicaraan kita sekarang"
Aku terpaku menatap orang-orang yang tengah berkumpul di ruang tamu. Mereka pasti anggota klan Uzumaki dari desa kecil Uzushiogakure. Mereka semua berambut merah, kecuali seorang pria lansia berambut putih panjang. Mereka juga punya aura yang khas. Tatapanku tertuju pada seorang wanita berambut merah yang dikonde dua. Wanita itu mengenakan kimono hijau dan menyelipkan hiasan berupa helaian kertas di kedua konde rambutnya. Wanita itu mengamatiku.
'Wanita itu..'
"Ah, kau benar juga Tobirama" ujar Hashirama. "Maaf Nozu, kita akan bicara nanti. Sekarang aku ada urusan dengan klan Uzumaki"
"Baiklah" aku mengangguk. "Aku akan menunggu di dalam"
"Mari kita lanjutkan diskusinya di ruang kerja, tuan-tuan" Tobirama bangkit berdiri. "Silakan ikuti saya"
Orang-orang dari klan Uzumaki itu berdiri dan mengikuti Tobirama meninggalkan ruang tamu. Kak Hashirama menghampiri wanita berkonde itu dan mengatakan sesuatu padanya. Lalu kak Hashirama melirikku.
"Nozu, kenalkan. Ini calon kakak iparmu, Mito Uzumaki" kak Hashirama mengenalkan wanita itu padaku.
Wanita cantik itu tersenyum dan menundukkan kepala. Ia mengulurkan tangannya. "Aku Mito Uzumaki. Senang bertemu denganmu"
Firasatku benar! Dia calon istri kak Hashirama, yang juga calon kakak iparku. Aku menjabat uluran tangannya. "Senang bertemu denganmu. Aku Nozu Hagoromo"
Hagoromo?" Mito mengangkat alis.
"Benar" sahutku. "Apa ada yang aneh?"
Wanita berambut merah itu menggeleng. "Tidak apa-apa"
"Mito, aku akan berbicang dengan Tobirama dan yang lain di ruang kerja. Kau bisa menunggu kami disini bersama Nozu dan Hana" Hashirama menepuk bahu Mito pelan.
"Ah! Hana, wanita berambut violet tadi" Mito tersenyum. "Tak kusangka dia adikmu. Sekilas kalian terlihat berbeda sekali"
"Banyak orang yang bilang begitu" aku tersenyum. "Karena warna rambut kami begitu berbeda. Tapi jika sudah kenal kami, banyak yang bilang wajah kami mirip"
"Baiklah, Nozu. Aku pergi dulu ya" Hashirama tersenyum padaku. "Ah! Aku bawakan oleh-oleh untukmu. Tapi kusimpan dimana ya? Aku lupa"
"Kau menyimpannya di kotak kecil yang sudah kau berikan pada Tobirama. Kau bilang tadi mau memberikannya dengan hadiah untuk Tobirama supaya kau tidak lupa" balas Mito.
"Hahaha, kau benar! Aku sudah seperti kakek-kakek!" Hashirama tertawa lepas. "Ya sudah, aku ke ruang kerja dulu ya"
Aku mengangguk. Setelah kak Hashirama pergi, hanya ada aku dan Mito Uzumaki di ruang tamu. Terakhir kali aku bertemu dengan wanita berstatus tinggi seperti ini adalah saat aku bertemu dengan Hani. Apa wanita ini seperti Hani? Memikirkannya membuatku merasa tidak enak.
"Mungkin lebih baik kita berbicang di teras belakang. Disana sejuk dan pemandangannya bagus" ajakku sambil berusaha membuang pikiran buruk jauh-jauh. "Hana dimana, ya?"
"Tadi dia bilang dia menunggu di dapur" sahut Mito. "Oh iya, karena kau datang terlambat, kue yang kubawa kemari sudah habis. Tapi masih ada satu kotak dibelakang"
"Wah, kalian baik sekali" aku tersenyum. "Kue apa itu?" Tanyaku ingin tahu.
Mito tersenyum. "Kue khas klan Uzumaki. Aku ingin memberinya pada kalian sebagai ucapan selamat datang. Ayo kita ke dapur"
Aku mengangguk dan kami berjalan bersama ke dapur. Sejauh ini, aku merasa nyaman saat bersama wanita Uzumaki ini. Semoga saja dia memang wanita terbaik untuk kak Hashirama yang baik hati.
"Kak Nozu!" Hana menyapaku riang. "Akhirnya kakak pulang juga"
"Maaf ya Hana. Aku terlambat lagi. Semua karena Satsu. Dia ceroboh sekali! Aku tidak akan mempercayakan masalah penakaran dosis obat padanya" aku menggerutu.
"Tidak apa-apa. Kak, cobalah kue yang dibawa kak Mito kemari. Rasanya enak sekali" ujar Hana senang.
"Eh, kak Mito?" tanyaku bingung. Apa tidak apa-apa memanggilnya dengan panggilan dekat seperti itu saat pertama bertemu?
"Setelah menikah dengan Hashirama nanti, kalian akan jadi saudara iparku, benar bukan?" Ujar Mito yang tengah memotong kue. "Panggil saja aku Kak Mito supaya lebih akrab"
"Baiklah, kak Mito" aku tersenyum lebar. "Senangnya punya kakak perempuan. Selama ini aku dan Hana hanya punya kakak laki-laki"
"Jadi kalian dari klan Hagoromo ya?" Tanya Mito sambil membawa sebuah piring berisi beberapa potong kue. "Ini, semoga kau suka"
"Apapun yang Hana bilang enak pasti enak sekali" aku bicara tidak jelas.
"Lebih enak jika dimakan bersama dengan nanas" Mito tersenyum melihatku yang langsung makan dua potong kue. "Sebentar ya. Aku potong nanas dulu"
Aku dan Hana mengangguk. Hana menatapku. "Kak, besok aku mau mulai membantu kakak di Igaku no Niwa"
"Eh? Kau sudah benar-benar sembuh?" Tanyaku dengan mulut penuh kue.
"Aku bosan terlalu lama diam seperti patung disini sementara kakak kerja rodi" jawab Hana sebal.
Walaupun berkata dengan suara biasa saja, kata-kata Hana tadi terdengar begitu lucu di telingaku, membuatku tertawa saat mulutku penuh dengan kue.
"Ah!"
Aku dan Hana menoleh bersamaan. Dari meja makan, kami bisa melihat jari kak Mito teriris pisau dan berdarah.
"Kak Mito baik-baik saja?" Ujarku dan Hana bersamaan. Kami bangkit berdiri dari kursi dan berjalan mendekatinya. Darah yang mengalir cukup banyak. Sepertinya luka potongnya cukup besar.
"Tidak apa-apa. Aku kurang hati-hati" Mito tersenyum. "Nanas ini keras sekali"
"Biar aku yang lanjutkan memotong nanasnya, Kak" Hana menawarkan diri. "Luka kakak harus diobati dulu. Tenang saja! Kak Nozu ninja medis hebat"
"Terima kasih, Hana" balas Mito. "Maaf merepotkan"
"Lukanya harus dicuci dulu dan dipastikan steril sebelum diobati lebih lanjut" aku membuka keran air. Kak Mito segera membersihkan lukanya dengan air mengalir.
Aku mengambil kotak obat sederhana yang sengaja kuletakkan di dapur untuk insiden tidak terduga. Aku mengambil cairan antiseptik disana dan mengoleskannya ke jari kak Mito yang terluka. Setelah membuat lukanya steril, aku mulai menyembuhkan luka potong itu dengan ninjutsu medis. Perlahan, chakra yang menyelimuti telapak tanganku berubah warna menjadi hijau.
"Elemen angin" ujarku tanpa sadar.
"Kau tahu dari mana?" Kak Mito terlihat terkejut.
"Aku bisa mendeteksi perubahan chakra seseorang saat menyembuhkan mereka" jawabku pelan. "Akan sedikit sakit setelah ini, maaf ya.."
Aku yakin kak Mito merasakan rasa sakit yang lebih saat aku mengalirkan chakraku masuk ke dalam lukanya untuk mempercepat penyembuhan. Sesaat kemudian, lukanya menutup sempurna. Seperti tidak pernah tergores.
"Maaf untuk sensasi tidak menyenangkan tadi. Tapi sekarang lukanya sudah benar-benar sembuh" ujarku senang.
"Teknik penyembuhanmu berbeda dengan ninjutsu medis pada umumnya" gumam Mito sambil mengamati bekas lukanya yang kini bahkan tidak terlihat.
Aku tersenyum. "Aku bisa mengobati lebih cepat, tapi lebih sakit. Mungkin pengobatan ini hanya berguna di medan perang yang tidak memberi banyak waktu pemulihan"
"Jika lukanya lebih besar, rasanya akan lebih sakit lagi?" Tanya Mito ingin tahu.
"Benar" sahut Hana. "Karena itu kakak selalu siaga membawa jarum suntik berisi obat bius berdosis singkat agar orang yang diobati tidak mati karena rasa sakit"
Aku tersenyum canggung. "Entah cara pengobatan ini lebih baik atau lebih buruk"
Pandanganku tertuju pada kak Mito. "Tadi aku hanya mengalirkan sedikit chakra tapi lukanya menutup cepat sekali"
"Kau tahu, Nozu? Klan kami terkenal dengan kemampuan fisik dan tenaga luar biasa" jelas Mito. "Kau bisa bilang kami orang yang sulit mati"
"Wah! Luar biasa klan Uzumaki!" aku berseru kagum. "Jika kak Mito menikah dengan kak Hashirama yang juga punya kemampuan fisik luar biasa, keturunan kalian pasti luar biasa hebat!"
Kak Mito memperhatikanku dengan seksama. "Nozu, apa benar kau istri Tobirama?"
"Kami memang sudah menikah tapi hanya beberapa tetua klan dan orang penting yang tahu. Saat itu kami menikah untuk mendesak Uchiha agar perang bisa dihentikan" jelasku. "Entahlah aku ini bisa dibilang istrinya atau bukan"
"Kau membantu Senju tanpa mendapat pengakuan apapun" Mito mengerutkan dahi. "Jika tetua klan kami diberi kesepakatan seperti itu, kami pasti menolak bergabung"
Aku menghela napas. "Aku setuju dengan banyak alasan. Tidak apa-apa" aku berusaha tersenyum. "Mungkin saja mereka akan memberitahu semuanya disaat yang tepat. Tapi saat ini, kepentingan desa masih jadi yang utama. Sepertinya aku masih harus menunggu"
"Pantas saja Tobirama terlihat tidak nyaman saat Hashirama mengenalkanmu pada orang-orang disini"
"Tidak apa-apa, Kak. Sungguh" Aku tersenyum. "Apa kak Mito akan menikah dengan kak Hashirama secepatnya?"
"Sepertinya aku juga masih harus menunggu" Ujar Mito. "Setelah ini, akan diumumkan nama desa serta pemilihan pemimpin desa ini bukan? Hashirama bilang begitu. Mungkin setelah pemilihan selesai, kami baru melangsungkan pernikahan"
"Oh.." aku mengangguk. "Kemarin Tobirama bilang pemimpin desa ini akan diberi gelar Hokage. Negara Hi yang dipimpin Hokage dengan tekad api, itu bagus! Aku suka namanya"
"Namanya seperti melambangkan semangat membara, ya?" Hana ikut bicara. "Pasti kak Hashirama yang mengusulkannya"
"Hahaha, benar! Dia mudah ditebak ya?" Aku terkekeh.
"Lalu nama desa ini apa?" Tanya kak Mito penasaran.
"Entahlah. Mungkin kak Hashirama masih memikirkan namanya" aku memutar bola mata. "Kak Mito akan tinggal disini walaupun belum menikah kan?"
"Nozu, apa yang kau katakan?" Wajah Mito merona merah. "Mana bisa aku tinggal disini jika belum menikah dengan Hashirama? Orang-orang akan berpikir tidak baik tentangku"
"Tapi Hana tinggal disini dan tidak menikah dengan siapapun di rumah ini" aku berpikir-pikir. "Pasti menyenangkan jika kak Mito tinggal disini bersama kami. Aku merasa cocok dengan kak Mito. Hana juga pasti merasa begitu. Benar kan, Hana?"
Hana tertawa pelan dan mengangguk. "Kak, aku kan adikmu. Masih punya hubungan keluarga denganmu. Tapi kak Mito? Jangan minta yang macam-macam kak"
"Oh iya ya.." aku kembali berpikir. "Jadi kak Mito belum tinggal disini. Tidak seru! Aku mau kak Hashirama cepat menikah dengan kak Mito supaya kak Mito bisa tinggal disini"
Mito tersenyum. "Baiklah. Kau bisa bilang pada Hashirama langsung. Siapa tau jika kau yang minta, dia mau melakukannya melihat sepertinya dia sangat sayang padamu"
"Oke!" Aku mengedipkan mata.
Aku merasa lega. Kak Mito sepertinya memang wanita yang baik. Aku sangat menyayangi kak Hashirama. Jika wanita yang dinikahinya seperti Hani Yuki, aku merasa tidak rela. Tapi melihat kepribadiannya yang lembut dan tenang, dia memang cocok dengan kak Hashirama.
"Terima kasih sudah datang dalam kehidupan kami" Aku menggengam tangan kak Mito. "Aku mohon bantuannya untuk menjaga kak Hashirama yang sangat kusayangi" Aku menundukkan kepala.
"Nozu, kau seperti bicara pada orang lain" kak Mito tertawa pelan. "Tolong bantu aku jika aku menemukan kesulitan di tengah jalan, ya"
Aku mengangguk. "Pasti!" ujarku sambil tersenyum tulus.
-8-8-8-
Sejak Hana mulai bekerja di Igaku no Niwa, Tobirama bisa kembali berangkat kerja pagi hari dan pulang saat matahari terbenam. Selain tidak harus pulang malam, Tobirama juga lebih suka bersiap-siap di pagi hari sambil menikmati udara pagi yang masih sejuk dan segar.
Kesibukan di taman belakang membuat Tobirama tertarik. Setelah selesai mandi, Ia berjalan ke halaman belakang rumah dan menemui Hashirama yang tengah mengurus tanaman disana sambil bernyanyi riang.
Tobirama tersenyum sendiri. Tanaman itu adalah tanaman hias yang disukai Mito Uzumaki, calon istrinya. Hashirama baru menanam tanaman itu setelah dia pulang dari perjalanan panjangnya. Rupanya kakaknya yang ceroboh dan naif itu tengah mencoba menjadi pria pengertian untuk calon istrinya nanti.
"Tidak biasanya kakak sesibuk ini pagi hari" Tobirama berjalan menghampiri Hashirama.
"Eh, Tobirama" Hashirama tersenyum. "Waktu menyiram tanaman paling baik itu pagi hari. Kalau bisa dibawah pukul 9 pagi"
Pandangan Tobirama tertuju pada bunga besar berwarna merah muda yang ditanam paling banyak. Bunga itu punya banyak kelopak yang berlapis-lapis dan wanginya harum.
"Apa Mito Uzumaki suka bunga ini? Kakak menanamnya paling banyak" ujar Tobirama sambil mengamati semua tanaman hias disana.
"Panggil saja dia Kak Mito. Dia akan jadi kakak iparmu sebentar lagi" Hashirama tertawa pelan.
"Tobirama, kau memang mengenalku. Aku tidak bisa bohong lagi" lanjut Hashirama. "Aku menanam bunga ini paling banyak karena Mito sangat suka bunga ini"
"Ini bunga apa?" Tanya Tobirama ingin tahu.
"Namanya bunga peoni" jawab Hashirama. "Tidakkah bunga ini sangat cantik? Bunga ini melambangkan kebahagiaan, kehormatan dan kepribadian berkelas. Benar-benar cocok dengan Mito. Dia suka hal-hal yang indah dan cantik seperti ini. Aku harap dia betah tinggal disini"
"Bunga ini memang cocok dengannya" gumam Tobirama. Ia melirik Hashirama yang tengah tersenyum senang sambil memandangi bunga itu. "Setelah kak Mito datang, aku lihat kakak jadi semakin seiring tersenyum"
"Ah? Benarkah?" Hashirama terlihat salah tingkah. "Hahahaha.. kau bisa saja Tobirama"
"Bukankah kak Mito akan datang kemari pagi ini?" Tanya Tobirama. "Nozu bilang dia akan mengajak kak Mito ke Igaku no Niwa"
"Kau benar" Hashirama memetik beberapa tangkai bunga peoni. "Aku akan memberi bunga-bunga ini sebagai kejutan. Yang mana yang paling bagus ya?"
Tobirama mengangkat alis. "Sepertinya dia akan menyukai kejutanmu, Kak"
"Yah, semoga saja!" Ujar Hashirama senang sambil memilah-milah mana bunga peoni yang akan dirangkainya bersama dengan secarik kertas.
"Ya sudah. Aku kedalam dulu" Tobirama menepuk bahu Hashirama pelan. Ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil sesekali menggelengkan kepala saat menoleh ke arah Hashirama yang terlihat begitu semangat menyiapkan buket bunga.
Mungkin saja kakaknya sedang jatuh cinta.
"Tobirama, kau sudah mau berangkat?" Tanya Nozu yang baru saja masuk ke dapur. "Hari ini kau pulang untuk makan siang di rumah?"
"Tidak. Aku makan diluar siang ini" jawab Tobirama. "Kau siapkan makan malam saja"
"Oh, baiklah" Nozu mengangguk. "Hari ini aku mau makan siang di Igaku no Niwa dengan Hana, Satsu, Amari dan kak Mito"
Tobirama tersenyum. Ia mengamati Nozu sesaat. "Kau menyukai Mito Uzumaki?"
Nozu mengangguk. "Dia wanita yang baik. Kenapa aku bisa tidak suka padanya?"
"Aku punya perasaan sepertinya wanita itu cocok dengan kakak" Tobirama melirik Nozu. "Kau merasa begitu juga?"
"Kak Mito memang cantik dan baik" Nozu berpikir-pikir. "Sepertinya kak Hashirama juga menyukai sifatnya"
"Jika kau suka padanya, Kakak pasti juga menyukainya. Kalian punya selera mirip" Tobirama mengangkat bahu.
'Tok, tok, tok'
"Ah! Itu pasti kak Mito" Nozu berseru senang. Ia langsung meninggalkan Tobirama dan bergegas ke depan.
Tobirama duduk di meja makan. Ia mengamati sarapan pagi itu, semangkuk sereal lengkap dengan taburan buah dan madu.
"Kak Tobirama ingin minum apa pagi ini?" Hana datang ke ruang makan membawa teko kaca berisi teh. "Ini teh melati. Jika mau yang lain, aku ambilkan di dapur"
"Aku minum teh saja pagi ini. Terima kasih" Tobirama bergumam pelan.
"Selamat pagi semua" Mito Uzumaki masuk ke ruang makan dan menyapa semua orang yang ada disana dengan senyum hangat.
"Pagi, kak Mito" Hana tersenyum senang. "Kakak sudah sarapan belum? Jika belum, ayo ikut sarapan bersama kami"
"Aku sudah sarapan di rumah. Terima kasih" Mito tersenyum. "Kalian tidak perlu buru-buru menghabiskan sarapannya. Aku akan menunggu"
"Eh, kak Hashirama mana?" Tanya Nozu heran. "Kenapa dia belum datang kesini? Sebentar ya! Aku panggil kak Hashirama dulu" Nozu berjalan ke belakang.
Sesaat kemudian Nozu kembali bersama dengan Hashirama. Pria itu tersenyum lebar begitu melihat banyak orang di ruang makan.
"Wah, senangnya melihat kita berkumpul bersama lagi pagi ini! Selamat pagi semuanya!" Sapa Hashirama ceria. "Semoga hari ini jadi hari yang baik untuk kita semua"
Nozu mengangguk. "Kak Hashirama semangat sekali. Seperti matahari pagi"
"Nozu, coba kau lihat lagi mana yang lebih terang, aku atau matahari" ujar Hashirama bercanda. Ia melirik Mito. "Oh iya, hari ini Mito jadi pergi ke Igaku no Niwa denganmu, Nozu?"
"Iya. Kami akan bersenang-senang disana hari ini" jawab Nozu tak kalah semangatnya.
"Kalian memang mirip. Seperti saudara kandung" ujar Mito yang memperhatikan Hashirama dan Nozu bergantian.
"Tapi saudara aslinya kan Tobirama" ujar Nozu sambil melirik Tobirama. "Tobirama, penampilan dan sifatmu sangat berbeda dengan kak Hashirama. Bisa-bisa orang mengira kau bohong saat kau mengaku sebagai adik kak Hashirama"
"Terserah mereka mau bilang aku bohong atau tidak" balas Tobirama tak acuh. Pembicaraan itu membuat Hana dan Mito tertawa pelan.
"Oh iya, sebentar lagi kita akan mengumumkan nama desa dan mengajukan calon pemimpin desa" sela Hashirama. "Tobirama, sepertinya akhir-akhir ini kita akan sibuk"
"Tidak apa-apa. Aku akan lakukan yang terbaik untuk desa kita" ujar Tobirama.
Setelah menghabiskan sarapan pagi, Tobirama bergegas ke ruang kerjanya untuk mengambil beberapa dokumen yang harus dibawa ke kantor pagi ini. Ia keluar dari ruang kerjanya membawa beberapa gulungan kertas yang dibawa dalam sebuah tas kain. Tobirama masuk ke ruang kerja Hashirama. Ruangan itu kosong.
"..."
Tobirama mengerutkan dahi. Sudah pukul delapan pagi dan meja Hashirama masih berantakan. Apa dia belum selesai beres-beres? Apa yang sedang dilakukannya sekarang? Tobirama berjalan ke sekeliling rumah. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat Hashirama ada di teras belakang rumah bersama Mito.
Hashirama terlihat sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan dengan Mito, terlihat dari senyum dan tawa mereka yang cerah pagi itu. Tak lama berselang, Hashirama tiba-tiba mengeluarkan buket bunga yang sudah dirangkainya seperti sulap dan memberikannya pada Mito. Wajah Mito merona merah sementara Hashirama tersenyum salah tingkah. Mito terlihat begitu senang. Ia melompat dan memeluk Hashirama, membuat wajah Hashirama ikut merona merah.
Tobirama tertawa pelan. Pemandangan seperti ini baru pertama kali dia lihat.
Pandangan Tobirama tertuju pada Nozu yang juga tengah memperhatikan mereka dari dapur. Nozu juga tersenyum sendiri melihat mereka, sama seperti Tobirama.
Nozu menghela napas dan menoleh ke arah Tobirama. Ia cukup terkejut melihat Tobirama tengah memperhatikannya. Ia tersenyum dan menempelkan jari telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Tobirama tetap diam di tempatnya dan kembali membereskan dapur.
Jika dipikir-pikir, walau sudah menikah hampir satu tahun lamanya, Tobirama tidak pernah tahu apa yang disukai Nozu. Bahkan Ia tidak pernah tahu apa bunga kesukaan Nozu. Selama ini Nozu juga tidak pernah mengatakan apapun yang dia suka pada Tobirama. Sedangkan Hashirama, bahkan walaupun belum menikah, Ia sudah tahu banyak tentang Mito, termasuk apa yang dia suka dan tidak suka.
Tobirama tersenyum pahit. Dalam hal memberi perhatian pada orang yang disukai, dibanding kakaknya, Tobirama merasa payah. Nozu pasti juga merasa begitu.
Bagaimana bisa Ia menanyakan itu semua pada Nozu? Akan lebih baik jika Ia mencari tahu informasi itu sendiri dan memberikan apa yang disukai Nozu sebagai kejutan. Tapi bagaimana dia bisa tahu hal-hal pribadi seperti itu?
Terlintas satu ide brilian yang bisa membuatnya tahu semua tentang Nozu, walaupun Ia tidak bertanya langsung pada wanita itu. Tobirama juga tidak ingin kalah dari kakaknya dalam hal itu.
'Aku akan bertanya pada Hana. Mungkin dia mau membantu'
~=~
Pagi ini Hashirama dan Tobirama akan berkumpul dengan tetua Senju untuk membahas tentang pemilihan pemimpin desa yang akan diberi gelar Hokage serta memberitahu beberapa klan yang akan diajak bergabung. Sesuai perjanjian, klan Sarutobi akan datang ke desa besok, sementara klan Shimura baru bergabung lusa depan. Mereka semua juga sepakat untuk mengajak klan Hyuuga, Nara, Akimichi, dan Yamanaka bergabung demi kestabilan desa.
Jam makan siang sudah selesai. Setelah makan siang dengan para tetua klan Senju, Hashirama meninggalkan ruang makan begitu cepat. Ia hanya berkata ada hal penting yang harus diurus sebentar. Tobirama mengerutkan dahi. Sebentar katanya? Sudah hampir pukul dua siang tapi Hashirama belum kembali ke ruangannya. Apa dia pergi menemui Mito di Igaku no Niwa?
Tobirama merapikan meja Hashirama dan keluar mencari kakaknya. Setelah makan siang, mereka akan menetapkan tanggal untuk mendiskusikan nama dan pemimpin desa bersama Madara sebagai perwakilan Uchiha dan Yoshimura sebagai perwakilan Hagoromo serta para petinggi negara Hi. Yoshimura sudah tiba sejak pukul setengah dua siang. Beberapa petinggi negara Hi juga sudah tiba satu per satu. Sampai kapan mereka diam menunggu seperti ini?
Untuk mempersingkat waktu, Tobirama menggunakan mode deteksi untuk mencari Hashirama. Dari sensornya, Tobirama bisa merasakan aura Hashirama ada diatas tebing batu di sudut selatan desa. Tobirama bisa merasakan kehadiran orang lain di sebelah kakaknya, Madara Uchiha juga tengah berada di tempat yang sama. Rupanya karena alasan yang sama pemimpin Uchiha itu tidak tiba di rapat mereka tepat waktu.
Tobirama menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Apa yang harus dibicarakan dengan Madara sepenting itu hingga mereka harus menunda jadwal rapat yang sudah direncanakan jauh-jauh hari?
Setibanya di atas tebing batu yang dituju, Tobirama menyipitkan matanya. Ia menatap punggung Hashirama dan Madara dari jauh. Tobirama melompat mendekat.
"Ternyata disini!" Ujar Tobirama. "Kenapa keluyuran disini? Para petinggi negara Hi akan tiba untuk rapat tahu!" Sambungnya sebal.
Madara menoleh. "Tobirama.."
Tobirama diam. Ia menatap Madara penuh selidik.
'Hal penting apa yang dibicarakan kakak dengannya?'
"Aku yakin para petinggi belum semuanya tiba. Tenang saja Tobirama, aku hanya ingin menjemput Madara dan mengajaknya berangkat bersama" Ujar Hashirama.
"Baguslah jika kakak tidak melupakan hal penting!" Tobirama membalik badan. Ia melirik Hashirama. "Sudah waktunya kau mengakhiri diskusi dengan Madara. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan berdua denganmu sebelum rapat nanti, Kak"
"Baiklah" Hashirama berusaha tersenyum untuk mencairkan suasana. "Mari Madara, kita kesana bersama"
Setibanya di gedung pemerintahan Senju, Hashirama lebih dulu mengantar Madara menuju ruang pertemuan dan berjalan menuju ruangannya. Saat membuka pintu ruang kerjanya, Hashirama mendapati Tobirama tengah duduk di meja kerjanya sambil melipat tangan di dada. Hashirama memasuki ruangan dengan hati-hati dan duduk di kursinya.
"Katakan padaku apa yang kakak bicarakan dengan Madara" ujar Tobirama tanpa basa-basi. "Jika itu masalah desa, kau tidak bisa memutuskannya seorang diri, kak"
Hashirama berpikir sejenak. Ia menatap Tobirama lurus. "Aku ingin menjadikan Madara sebagai Hokage"
Tobirama membelalakkan mata tidak percaya. "Hokage?"
Hashirama diam. Ia masih menatap Tobirama yang duduk di mejanya.
"Kenapa memutuskan seenaknya?" Tanya Tobirama tidak setuju. "Mengajukan Madara sebagai kandidat boleh saja. Tapi keputusan akhirnya ditentukan lewat diskusi dengan para petinggi berdasarkan suara terbanyak dari penduduk negara Hi dan desa! Sekarang beda dengan zaman ayah!" Protesnya panjang lebar.
Hashirama mengerutkan dahi. "Tapi.."
"Madara Uchiha juga.. tidak mungkin terpilih sebagai pemimpin" ujar Tobirama mencibir. "Semua juga tahu kalau tokoh utama dalam pembangunan desa itu kakak. Para anggota klan Uchiha juga bilang begitu"
Tobirama menyipitkan matanya. Ia menatap Hashirama tajam. "Selain itu, apa kakak tidak tahu gosip tentang Uchiha?"
Hashirama memilih diam sementara Tobirama terus mengamatinya. "Sharingan.. kekuatan pupil mata mereka akan meningkat seiring dalamnya kebencian mereka. Entah apa yang akan mereka lakukan.. bagi desa.."
"Jangan bicara begitu, Tobirama!" sela Hashirama. Ia merasa ada kecurigaan aneh dalam kata-kata yang baru saja diucapkan Tobirama.
'Krit'
Hashirama bangkit berdiri setelah menyadari ada seseorang di balik jendela. Ia berjalan membuka jendela dan melihat sekeliling. "Rasanya ada orang.. Tobirama, kau pasti tahu kan?"
"Tidak, aku sedang tidak mengerahkan chakra" ujar Tobirama tak acuh. "Jangan mengalihkan pembicaraan, kak"
Hashirama tertegun. Tatapannya tertuju pada sehelai daun dengan lubang kecil ditengah. Daun itu mirip dengan daun yang dipegang Madara saat mereka membicarakan tentang nama desa dan hokage. Ia mengambil daun itu. Sesaat kemudian, daun yang sudah rapuh itu terbelah dua.
"Kita akan menerapkan sistem demokratis" ujar Tobirama tegas. "Ada keluhan?"
Hashirama menggengam patahan daun yang masih ada di tangannya. "Tidak.. Aku tak keberatan"
"Ya sudah" Tobirama turun dari meja Hashirama. "Ayo kita temui para petinggi dan mulai rapat siang ini"
Hashirama kembali menutup jendela dan berjalan mengikuti Tobirama.
-8-8-8-
Desa Konohagakure, nama yang bagus.
Aku tersenyum sendiri menatap ikat kepala dengan simbol desa Konohagakure yang baru saja kucuci. Secara pribadi aku suka simbol desa ini. Setelah mengumumkan nama desa, sistem klan Shinobi dihapuskan. Kini kami semua disebut Shinobi Konoha. Tidak ada lagi yang menggunakan lambang klan masing-masing. Jujur kata aku masih belum tahu dimana ikat kepala itu harus kupakai. Sepertinya aku hanya akan memakainya jika ada hal yang membuatku harus keluar desa.
Pemilihan Hokage juga sudah selesai dan Hashirama Senju terpilih sebagai Hokage pertama yang dipilih semua penduduk desa, mengalahkan Madara Uchiha sebagai kandidat kedua. Bukannya merasa Madara tidak pantas menyandang gelar hokage. Hanya saja aku juga merasa kak Hashirama bisa lebih dekat dengan para warga.
Aku sangat senang ketika menghadiri upacara pelantikannya. Dengan usaha dan tekadnya yang luar biasa untuk menghentikan perang serta menyatukan banyak klan Shinobi, Kak Hashirama pantas mendapatkan gelar itu. Sekarang klan Sarutobi dan Shimura sudah bergabung. Klan besar lain seperti Hyuuga, Nara, Akimichi dan Yamanaka juga memberi sambutan positif pada ajakan Tobirama untuk menjadi bagian desa Konoha. Ada pula beberapa keluarga yang dengan sendiri menyatakan kesediaannya untuk bergabung seperti keluarga Hatake, Utatane, Mitokado dan banyak lagi.
Setelah banyak klan menjadi anggota baru desa Konoha, tugasku di akademi jadi makin banyak. Minggu kemarin, aku dan beberapa pengajar akademi sibuk menganalisa potensi anak-anak Shinobi dari masing-masing klan itu untuk diberi tingkat misi dan pengajaran yang sesuai. Kagami Uchiha, Hiruzen Sarutobi dan Danzo Shimura adalah tiga anak yang paling menarik perhatianku. Mereka punya potensi luar biasa sebagai ninja walaupun usia mereka masih muda.
Aku tersenyum-senyum sendiri memandangi baju hokage yang sedang kucuci. Ada tulisan kanji 'Hokage Pertama' yang ditulis dengan bordir buatan tangan berwarna merah dibelakang jubahnya. Aku memperhatikan bordir itu dengan seksama. Rasanya ada kebanggaan tersendiri saat memikirkan kakakku adalah seorang Hokage. Sebagai pemimpin desa dan negara Hi sekaligus ninja terkuat di sini, Hokage benar-benar luar biasa!
Aku sengaja menjemur baju itu terakhir. Walau sudah berkali-kali melihatnya, aku masih saja dibuat terkesima oleh jubah itu.
"Kau menyukainya? Hokage?"
Aku menoleh. Tobirama tengah menatapku sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Aku cukup terkejut Ia mengenakan kimono latihan yang kuberikan padanya sebelum perang terakhir dengan Madara. Kimono biru lengan pendek itu terlihat cocok dikenakan bersama dalaman jala armor. Ia mengenakan celana panjang biru tua dan tali pengikat kuning di pinggang yang berwarna senada dengan gelang kain yang digunakannya.
"Baju itu cocok denganmu" Aku mengamatinya dengan kagum.
"Kau membuat pakaian ini dengan ukuran yang tepat. Jahitannya juga rapi" Tobirama berjalan mendekat. Ia memperhatikan jubah hokage yang tengah kupegang. "Setelah ini masih banyak yang harus kita lakukan. Kau jangan terlalu senang. Kita masih harus waspada terhadap serangan desa lain"
Aku tersenyum. "Habis, bagaimana ya? Menurutku Hokage itu luar biasa! Aku bangga sekali Kak Hashirama jadi hokage pertama desa ini! Aku yakin dia akan membawa perdamaian untuk kita semua. Tidak perlu ada perang lagi"
"Yah, semoga saja" balas Tobirama sambil memandang jauh. Ia menatapku lurus dan tersenyum tipis.
"Kenapa?" Tanyaku heran.
"Tidak apa-apa" balas Tobirama. "Hari ini kita kedatangan tamu istimewa. Jika kau sudah selesai mencuci, aku ingin memperkenalkan mereka padamu"
"Tamu istimewa? Mereka?" Aku membulatkan mata. "Kau ingin mengenalkanku pada lebih dari satu orang?"
Tobirama mengangguk. "Tepat. Ayo! Mereka sudah menunggu di halaman depan"
Aku mengerutkan kening. Tobirama ingin mengenalkanku pada seseorang? Kira-kira mereka siapa?
Tobirama berjalan lebih dulu ke depan sementara aku segera menjemur jubah hokage dan membereskan ember-ember cucian. Tidak lama berselang, aku tiba di halaman depan.
'Orang-orang ini, mungkinkah?'
Aku mengerutkan dahi menatap mereka yang kini berdiri di hadapanku.
"Kalian?"
To be continued..
-8-8-8-
A/N: Halo readers semua.. Akhirnya setelah cukup lama, saya berhasil update lagi :)
Di chapter ini, jujur saya suka menulis interaksi tobirama x hana, nozu x mito x hana.. Keluarga Senju jadi tambah banyakk :D
Siapa ya orang yang mau dikenalkan Tobirama ke Nozu?
Hehe.. See you on the next chapter!
