Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 19 : The Prophecy

Tobirama tersenyum. Sepertinya ini memang waktu yang tepat untuk mengenalkan mereka pada Nozu.

Nozu mengerutkan kening dan menatap ketiga anak itu bergantian. "Kalian?"

"Selamat pagi guru Nozu!" Seorang anak laki-laki berambut coklat tua cepak menyapa Nozu dengan bersemangat.

"Kalau tidak salah.." Nozu mengamati anak itu dengan seksama dan mengingat-ingat. "Hiruzen, eh?"

"Tepat sekali! Aku senang guru masih mengingat namaku!" Jawab anak bernama Hiruzen itu.

"Bagaimana bisa tidak?" Nozu tersenyum. "Siapa yang bisa lupa bagaimana kau memukau para guru di akademi dengan ninjutsu dan taijutsu-mu? Kau memang anak Sasuke Sarutobi! Luar biasa!"

Nozu memandangi kedua anak lain yang datang bersama Hiruzen, seorang anak laki-laki berambut hitam lurus berkacamata dan seorang anak perempuan berambut hitam yang dikonde keatas. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengingat siapa mereka.

Tobirama berjalan menghampiri Nozu. "Anak laki-laki itu bernama Homura Mitokado dan anak perempuan itu bernama Koharu Utatane. Mulai sekarang mereka bertiga adalah muridku"

"Murid?" Nozu terlihat terkejut. "Sejak kapan kau membuat tim sendiri?"

"Aku rasa anak-anak ini punya potensi lebih dibanding yang lain. Karena itu aku menjadikan mereka muridku. Satu tim beranggotakan aku sebagai guru dan tiga murid. Tim ini tidak hanya sebagai rekan berlatih tapi juga untuk menjalankan misi. Kupikir itu bagus" jelas Tobirama.

"Bukankah kau juga merasa begitu saat melihat Saru? Mereka juga punya kemampuan yang tak kalah hebatnya"

Nozu menatap Tobirama heran. "Saru?"

"Hiruzen Sarutobi. Aku memanggilnya Saru" ujar Tobirama.

Nozu berpikir sejenak. "Karena namanya Hiruzen, mungkin lebih baik jika kau memanggilnya Hiru"

"Tidak. Nama Saru cocok untuknya. Mengingat dia adalah putra Sasuke Sarutobi dan Shinobi kebanggaan klannya" Tobirama melirik Hiruzen. "Benar begitu, Saru?"

"Tuan Tobirama anda bicara berlebihan" jawab Hiruzen rendah hati. "Saya masih harus banyak belajar"

"Untuk apa kita bertemu dengan wanita ini?" Tanya anak laki-laki yang bernama Homura. "Bukankah dia hanya ninja medis dari klan Hagoromo? Dia bukan siapa-siapa"

"Benar" sahut anak perempuan bernama Koharu. "Hiruzen, bagaimana bisa kau memanggil wanita ini guru? Waktu di akademi, dia hanya bisa memberi penjelasan yang membosankan"

"Jangan berkata begitu! Bagaimanapun juga dia adalah Shinobi perwakilan akademi Konoha yang ditugaskan untuk menguji kemampuan kita. Pasti dia kunoichi hebat" Hiruzen mengingatkan kedua temannya. "Karena itu kita harus memanggilnya guru"

"Jangan menganggapnya berlebihan, Hiruzen! Dia bahkan menilai kemampuan kita saat ujian kelulusan hanya dengan melihat" ujar Koharu dingin. "Kita bahkan tidak tahu apakah wanita ini hanya besar mulut saja atau tidak"

"Tuan Tobirama, apa tujuan anda membawa kami kemari?" Tanya Homura yang mulai terlihat bosan. "Tidak bisakah kita memulai latihan atau mulai mengerjakan misi penting?"

"Ah.. anak-anak ini.." Nozu menggelengkan kepala sambil menatap Homura dan Koharu bergantian. "Kalian masih kecil. Jangan menilai sesuatu hanya berdasarkan pandangan kalian sendiri. Bisa saja kalian keliru"

Tobirama menoleh ke arah Nozu. "Nah, Nozu.. Apa yang ingin kau berikan pada mereka sebagai hadiah perkenalan?"

"Kau memilih tiga anak yang sama keras kepalanya denganmu" Nozu tersenyum. "Mereka belum jadi shinobi seutuhnya. Tobirama, aku harap kau tidak melepas mereka untuk tugas-tugas berbahaya"

"Maaf atas perkataan tadi guru Nozu" Hiruzen membungkuk. "Maafkan perkataan kedua temanku"

"Kau tidak perlu minta maaf untuk teman-temanmu, Hiruzen" Nozu melirik Tobirama. Matanya berkilat semangat. "Tobirama, bisa aku minta waktu untuk bermain sebentar dengan anak-anakmu?"

"Tentu" balas Tobirama. Ia duduk bersila di teras depan rumah. "Kuberi waktu tiga puluh menit. Ada hal yang harus kami diskusikan setelah ini"

"Bermain?" Tanya Koharu tidak percaya. "Apa-apaan ini Tuan Tobirama?"

"Tidak masalah jika hanya tiga puluh menit" Nozu kembali menatap ketiga anak itu bergantian. "Kali ini aku akan menguji apakah kalian pantas menjadi murid Tobirama. Tobirama Senju itu bukan sembarang orang yang akan mengambil kalian sebagai muridnya. Dia ninja hebat!"

"Omong kosong macam apa ini?" Ujar Homura tidak terima.

"Aku akan melihat bagaimana kalian menghadapi wanita ini" ujar Tobirama ringan. "Aku hanya bisa bilang, jangan remehkan lawanmu"

"Wah? Memangnya aku terlihat selemah itu ya?" Nozu mengangkat alis. "Baiklah, dengarkan baik-baik! Peraturan permainan ini sederhana. Siapa yang jatuh pertama kali, dia yang kalah. Jika ada salah satu diantara kalian yang jatuh, aku menang walaupun masih ada dua orang yang berdiri. Karena itu, perhatikan baik-baik keadaan masing-masing, ya"

Nozu tersenyum. Ia menatap ketiga anak itu dengan tatapan serius. "Kalian bisa berkerja sama atau menyerangku sendiri-sendiri. Kali ini kita sepakat untuk tidak menggunakan ninjutsu. Ini halaman rumah, bukan hutan. Aku tidak mau permainan ini membuatku harus susah payah membereskan halaman"

"Apa senjata bisa digunakan?" Tanya Koharu.

"Aku ingin tidak ada yang terluka jadi aku tidak mengizinkan kalian menggunakan senjata. Ini hanya tentang kecepatan dan ketangkasan. Latihan awal" Nozu tersenyum. "Jika ada yang menggunakan senjata atau ninjutsu untuk melukai lawan, dia dianggap kalah"

"Bagaimana jika selama tiga puluh menit, tidak ada diantara kita yang jatuh?" Tanya Hiruzen. "Apa kita imbang?"

"Hasil seperti itu tidak mungkin ada" balas Nozu bersemangat. "Melihat bagaimana kemampuan kalian, aku yakin bisa memukul jatuh salah satu dari kalian dalam waktu tiga puluh menit. Jika aku beruntung, tiga puluh menit kedepan kalian bertiga sudah berada pada posisi mencium tanah"

Hiruzen, Homura dan Koharu diam. Mereka mendekat untuk mendiskusikan sesuatu sementara Nozu mulai merenggangkan otot-ototnya.

"Bisa kita mulai sekarang?" Tanya Nozu. "Kalian pasti tidak ingin membuat Tuan Tobirama menunggu lama, bukan?"

"Mohon kerjasamanya, guru!" Hiruzen membungkukan badan. "Kami akan berusaha yang terbaik"

Mata Nozu berkilat semangat. "Tidak ada senjata, tidak ada ninjutsu, hanya taijutsu! Kita mulai!"

Ketiga anak itu mulai bergantian menyerang Nozu dari segala arah. Tobirama mengamati pergerakan mereka sambil duduk di teras depan. Untuk langkah pertama, sepertinya mereka sepakat untuk menganalisa bagaimana kemampuan Nozu secara individu.

Tobirama sering melihat Nozu berlatih di halaman rumah namun baru kali ini Ia melihat Nozu bergerak menghadapi lawannya. Saat perang melawan Uchiha kemarin, Ia tidak sempat memperhatikan Nozu karena harus menghadapi Nozomi di waktu bersamaan. Diluar dugaan, kemampuan bertarung Nozu jauh diatas ninja medis rata-rata yang selalu disimpan jauh dari medan perang. Nozu membuat seolah-olah ketiga anak didiknya tidak melakukan apapun.

"Ramai sekali.. padahal masih pagi"

Tobirama menoleh ke belakang. Ia mendapati Hana yang tengah bersandar pada pintu masuk rumah. Hana mengamati ketiga anak yang tengah berlatih dengan Nozu.

"Siapa anak-anak itu?" Tanya Hana ingin tahu.

"Mereka akan jadi muridku" jawab Tobirama santai.

"Oh.." balas Hana sambil mengangguk. "Jika mereka akan jadi muridmu, kenapa mereka melawan kak Nozu? Kau sedang menguji kemampuan mereka?"

"Tepat sekali" ujar Tobirama. "Siapa yang lebih dulu jatuh, dia yang kalah"

"Ini akan jadi tontonan menarik" Hana tersenyum kecil. "Kak Tobirama, aku senang kau mengenalkan anak-anakmu pada Kak Nozu"

"Bagaimanapun juga anak didikku adalah anak didiknya" Tobirama tersenyum simpul. "Aku ingin mereka bertiga punya hubungan yang baik dengan Nozu"

Selama lima belas menit, mereka berempat terus beradu pukulan satu sama lain. Walaupun kini Hiruzen dan timnya mulai menggunakan formasi kerja sama, Nozu terlihat santai menganggapi setiap serangan yang diterimanya. Ada satu waktu dimana hasil kerja sama mereka hampir membuat Nozu jatuh. Nozu melompat beberapa langkah menjauh dari ketiga anak itu yang kini tengah berdiri berdekatan dan membicarakan sesuatu.

"Sepertinya waktu kita tidak lama lagi" ujar Nozu yang tengah mengatur napasnya sambil mengamati ketiga anak itu dengan seksama. "Kalian harus buat rencana bagus untuk mengalahkanku sebelum aku memukul jatuh kalian bertiga sekaligus"

Ketiga anak itu mengakhiri diskusi mereka dan mulai kembali melancarkan serangan-serangan ke arah Nozu. Tobirama tersenyum. Mereka bukan anak-anak biasa. Seharusnya dalam waktu lima belas menit, mereka sudah mengetahui bagaimana pergerakan Nozu.

Dari apa yang dilihat Tobirama, Nozu tidak menanggapi mereka dengan serius. Bahkan beberapa kali terlihat Nozu secara sengaja memberikan cela saat menyerang balik ketiga anak itu. Cela yang sangat sempit, namun jika digunakan tepat waktu, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk mengalahkan Nozu yang levelnya berada diatas mereka.

"Bagaimana bisa perempuan itu menghindari semua serangan kita?" Tanya Homura terengah-engah tidak percaya.

"Bahkan kita sudah gunakan taktik bom asap terselubung" Koharu mengatur napasnya yang tersengal. "Dia.. bukan ninja medis biasa. Ninja medis seharusnya tidak bisa bertarung seperti ini"

"Kita akan gunakan rencana B" ujar Hiruzen sambil memasang ancang-ancang. "Kalian bersiaplah!"

"Pelajaran tambahan untuk kalian hari ini. Jangan pernah meremehkan ninja medis" Nozu melemparkan bom asap. "Kali ini, giliranku!"

'Poff'

Nozu menyerang mereka dari dalam gumpalan asap tebal. Sepertinya di saat-saat terakhir, Ia mengubah pola serangannya, membuat ketiga anak itu kewalahan. Dari balik kabut asap, Tobirama bisa melihat Homura yang mengalami masalah penglihatan dengan kacamatanya. Nozu memanfaatkan keadaan itu untuk menyerang Hiruzen dan Koharu secara bersamaan. Tanpa diduga, ternyata gangguan mata Homura hanya tipuan. Ia segera menyerang Nozu saat perhatiannya tertuju pada Hiruzen dan Koharu.

'BRAKKK'

Tobirama bangkit berdiri. Ada suara orang yang jatuh ke tanah. Ia tidak bisa melihat dengan jelas dari tempatnya sekarang.

'Apa mereka berhasil mengalahkan Nozu?'

Kabut bom asap perlahan-lahan menghilang. Hasil akhir pertarungan mereka tanpa diduga seri. Nozu jatuh ke tanah, begitu pula dengan ketiga anak itu.

Nozu bangkit berdiri dan terbatuk beberapa kali. Dari jauh Tobirama bisa melihat ada noda merah di kimono Nozu yang berwarna putih. Tobirama mengerutkan dahi. Apa Nozu terluka? Bukankah mereka sepakat untuk tidak menggunakan senjata dan ninjutsu apapun? Seharusnya pukulan Homura hanya membuat Nozu jatuh dan tidak membuatnya terluka.

"Kak Nozu terluka.." Hana bergumam pelan.

"Kalian curang" gumam Nozu sambil memegangi luka yang mengeluarkan darah di perutnya. "Kalian melanggar kesepakatan kita di awal. Kalian kalah!"

Hiruzen yang tersungkur di tanah terbelalak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka Homura akan melukai Nozu dengan senjata tajam.

"Homura! Kenapa kau lakukan itu? Kita bisa mengalahkan guru Nozu tanpa melukainya. Itu curang!" Teriak Hiruzen tidak terima.

"Kita tidak akan bisa mengalahkannya jika hanya diberi waktu tiga puluh menit, Hiruzen" Koharu membela Homura. "Jika memang ini yang harus kita lakukan untuk mengalahkannya, mau bagaimana lagi? Lagipula dia ninja medis. Luka seperti itu tidak akan membuatnya mati"

"Tetap saja itu melanggar kesepakatan! Ini sama saja mempermalukan diri didepan Tuan Tobirama!" Hiruzen tidak terima. "Kalian tidak mengatakan ini sebelumnya padaku!" Hiruzen bangkit berdiri dan hendak berjalan menghampiri Homura. "Homura, kau kurang ajar! Beraninya..."

'Brukkk'

Hiruzen kembali terjatuh ke tanah. Begitu pula dengan Koharu dan Homura yang mencoba bangkit. Setiap kali bergerak, tubuh mereka bergerak tidak sesuai dengan apa yang mereka inginkan dan alhasil mereka kembali jatuh ke tanah.

"Ini adalah teknik medis tingkat tinggi yang memungkinkan merusak gerak motorik lawan. Dengan mengubah chakra di tangan menjadi listrik, setiap pukulan ke tubuh lawan akan mengalirkan chakra listrik ke sistem saraf musuh sehingga mengacaukan dan memutus kendali mereka atas tubuhnya sendiri" jelas Nozu. "Ranshinshou, teknik medis tingkat tinggi ini membuat musuh lumpuh dan tidak bisa bertarung"

"Hei, kau juga curang!" Teriak Homura. "Kau bilang di awal kita tidak diperbolehkan menggunakan ninjutsu!"

"Tubuh kalian sakit 'kan? Ini pelajaran untuk kalian agar kalian lebih menghargai kejujuran sebagai Shinobi!" ujar Nozu kesal. "Kalian akan kehilangan jati diri jika hanya memikirkan tujuan tanpa peduli apapun! Tidak ada gunanya jadi shinobi hebat yang tidak punya hati"

Tobirama dan Hana berjalan menghampiri Nozu. Hana segera mengobati luka Nozu dengan ninjutsu medisnya sementara Tobirama melempar tatapan tajam pada ketiga anak itu.

"Hari ini aku kecewa pada kalian" ujar Tobirama. "Kalian adalah anak-anak paling berbakat dari klan masing-masing. Sayang sekali kalian tidak bisa mempertahankan nilai-nilai penting seorang shinobi"

Tobirama melempar tatapan tajam pada Hiruzen. "Saru, aku kecewa padamu yang tidak bisa membaca dan mengentikan keinginan kedua temanmu untuk berbuat curang" Ia melempar tatapan tajam yang sama ke arah Homura dan Koharu. "Sedangkan kalian. Sepertinya aku tidak perlu mengatakan kenapa aku sangat kecewa pada kalian berdua. Kalian pasti sudah tahu apa penyebabnya"

"Tuan Tobirama, kami mohon maaf" Ujar Hiruzen menyesal. Walaupun masih tidak bisa berdiri, Ia tetap berusaha menundukkan kepala untuk minta maaf.

"Hal ini tidak akan terjadi lagi, Tuan Tobirama" ujar Homura dan Koharu bersamaan. "Kami sungguh mohon maaf"

Tobirama menghela napas. Nozu benar. Mereka memang masih anak-anak yang harus banyak berlatih. "Kita akan bicarakan ini nanti"

Tobirama menoleh ke arah Nozu. Ia memperhatikan pakaian Nozu yang kotor karena darah. Sepertinya luka sayatan kunai itu tidak terlalu dalam.

"Nozu, kau tidak apa-apa?" Tanya Tobirama.

"Aku tidak apa-apa" balas Nozu. "Daripada itu, aku lebih kesal pada anak-anak ini. Mereka bilang mereka muridmu? Tidak seharusnya murid Tobirama Senju melakukan hal ini"

"Kau benar. Mereka masih perlu belajar. Terima kasih banyak sudah mengajari mereka pelajaran penting hari ini" gumam Tobirama. Ia melirik ketiga anak itu yang masih tidak bisa bergerak. "Berapa lama pengaruh dari jurusmu ini?"

"Serangan macam ini hanya bisa disembuhkan oleh ninja medis ahli" jawab Nozu. "Jika didiamkan saja, jangka waktu pengaruhnya berbeda-beda tiap orang. Tapi umumnya keadaan ini bertahan satu hari"

"Selamat pagi semuanya! Wah, wah.. aku ketinggalan keseruan apa pagi ini?"

Semua orang di halaman sontak langsung menoleh ke arah sumber suara. Hashirama datang bersama Toka Senju. Hashirama mengerutkan dahi melihat bercak darah di kimono Nozu dan tiga orang anak yang tersungkur di tanah.

"Apa yang terjadi disini, Tobirama?" Hashirama berjalan mendekati Tobirama. "Bukankah mereka muridmu? Apa yang membawa mereka kemari?"

"Kami hanya sedang latihan, Kak. Aku ingin mengenalkan mereka pada Nozu sekaligus mengajak mereka berlatih" jawab Tobirama. "Tapi sepertinya latihan hari ini harus ditunda dulu"

"Yah, kalian memang harus menundanya" Hashirama berjalan menuju Nozu dan Hana. Ia mengamati bercak darah di pakaian Nozu.

"Nozu, kau terluka?" Tanya Hashirama khawatir. "Siapa yang melakukan ini padamu?"

"Tidak apa-apa, Kak. Hana sudah menyembuhkanku" Nozu tersenyum.

"Oh, baguslah jika kau baik-baik saja" ujar Hashirama lega. "Pagi ini aku ingin mengajak kalian menemui tetua desa untuk membicarakan tanggal baik upacara pernikahanku. Ada peramal dari klan Sarutobi juga disana. Kita akan meminta pendapatnya tentang masa depan desa. Aku harap kalian bisa ikut"

"Apa kita tidak pergi bersama kak Mito?" Tanya Hana.

"Mito sudah pergi kesana lebih dulu dengan beberapa orang klan Uzumaki" jawab Hashirama. "Mereka akan tiba lebih dulu disana. Ayo kita segera berangkat agar tidak membuat mereka yang disana menunggu terlalu lama" ujar Hashirama sambil bergegas masuk kedalam rumah, diikuti Toka Senju.

"Baiklah, Kak. Kami akan bersiap-siap sebentar" ujar Hana yang setuju ikut. Ia melirik Nozu yang ada di sebelahnya. "Ayo Kak, kita kedalam"

"Tunggu sebentar, Hana. Aku masih ada urusan dengan anak-anak ini" ujar Nozu sambil mengamati Hiruzen, Homura dan Koharu yang tergeletak di tanah.

Hana menghela napas. "Ya sudah. Aku akan masuk ke dalam lebih dulu. Jika sudah selesai, kakak segera siap-siap dan ganti pakaian, ya" ujarnya sambil berjalan masuk kedalam rumah.

Nozu berjalan menghampiri ketiga anak itu yang masih terlihat kesakitan, diikuti Tobirama yang berjalan disebelahnya.

"Mohon maafkan kesalahan kami, guru Nozu" ujar Homura, Hiruzen dan Koharu bersamaan. "Kami sadar akan kesalahan kami dan tidak akan mengulanginya kembali"

"Aku akan mengamati kalian untuk melihat apakah kalian sudah benar-benar belajar atau tidak" Nozu menghela napas.

Ia mengumpulkan chakra ditangannya dan menyembuhkan satu per satu anak-anak itu hingga mereka bisa bergerak seperti biasa.

"Selamat tim Tobirama. Kalian lulus ujianku!" ujar Nozu sambil tersenyum hangat.

Tobirama hanya diam dan mengamati mereka sambil sesekali tersenyum. Ia senang melihat Nozu sepertinya sudah menerima dan menyayangi ketiga anak muridnya.

"Mulai hari ini, dia adalah guru kalian juga. Jadi hormati dan dengarkan apa perkataannya" ujar Tobirama pada Hiruzen, Homura dan Koharu. "Aku harap kalian bisa mengingat pelajaran hari ini dengan baik"

"Baik, Tuan Tobirama" ujar ketiganya bersamaan sambil membungkuk hormat.

"Setelah ini aku ada urusan penting jadi diskusi tim hari ini ditunda besok" ujar Tobirama. "Kalian bisa kembali ke tempat masing-masing"

Ketiga anak itu menunduk dan berjalan meninggalkan rumah Senju. Ditengah perjalanan, Hiruzen berhenti dan kembali berjalan menghampiri Nozu dan Tobirama yang masih ada di halaman depan.

"Maaf Tuan Tobirama, ada yang ingin saya tanyakan" ujar Hiruzen.

Tobirama tersenyum tipis. "Apa yang ingin kau tanyakan, Saru?"

Hiruzen menatap Nozu kagum. "Siapa perempuan ini sehingga dia bisa punya kemampuan luar biasa? Dia terlihat dekat dengan Tuan Tobirama?"

Tobirama memejamkan matanya dan tersenyum. Ia membisikkan sesuatu di telinga Hiruzen.

"Perempuan ini istriku, Saru. Aku harap kau bisa merahasiakannya dari yang lain hingga aku mengumumkan hal ini pada semua orang. Karena itulah, aku ingin kau dan teman-temanmu menghormati Nozu seperti kalian menghormati aku. Mengerti?"

Hiruzen terlihat tidak percaya dan Tobirama tersenyum.

"Hei, hei, kalian bicarakan sesuatu yang rahasia didepanku ya? Jahat!" Nozu berdecak sebal.

"Benar guru Nozu. Aku harus merahasiakan ini! Sampai nanti" Hiruzen tersenyum lebar. "Sampai jumpa lagi, Tuan Tobirama. Semoga harimu menyenangkan!"

"Doa yang sama untukmu, Saru" balas Tobirama.

Nozu menghela napas. "Ya sudah! Tidak apa-apa jika aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan. Aku harap kau tidak bicara yang aneh-aneh tentangku pada Saru. Aku suka anak itu. Jangan sampai dia merasa aneh padaku setelah mendengar kata-katamu, Tobirama"

"Kita punya selera yang sama kali ini" Tobirama mengangkat alis. "Kau tidak perlu khawatir"

"Ayo kita segera siap-siap sebelum Kakak menegur kita lagi. Dia sangat bersemangat menentukan hari pernikahannya. Jangan sampai kita merusak semangatnya hari ini" lanjut Tobirama.

Nozu tersenyum sambil menatap wajah Tobirama yang lebih tinggi darinya.

"Tentu!"

-8-8-8-

"Tanggal terbaik untuk pernikahan kalian adalah tanggal 25 bulan depan" ujar seorang tetua klan Senju. "Kami memilih tanggal itu berdasarkan perhitungan dari tanggal lahir kedua mempelai dan menghindari larangan-larangan serta tanggal buruk sesuai kepercayaan tiap-tiap klan di desa Konoha"

Aku hanya bisa menatap para tetua itu tidak percaya. Perhitungan mereka tentang hari baik sungguh membingungkan. Jika mereka bilang tanggal itu bagus, sepertinya kami hanya bisa percaya pada mereka.

"Dua puluh lima angka yang bagus" Kak Hashirama tersenyum. "Terima kasih banyak untuk saran dari kalian, para tetua" Hashirama membungkuk hormat.

"Baguslah jika kita sudah menetapkan tanggal, Kak" Tobirama menepuk bahu kakaknya. "Setelah ini kita akan mengumumkannya secara tertulis dalam bentuk surat pemberitahuan"

"Terima kasih banyak untuk kerja samanya" Kak Mito ikut membungkuk hormat. "Aku sangat menghargai bantuan kalian"

"Pernikahan kalian sudah ditakdirkan dan sesuai dengan kehendak alam" ujar seorang nenek peramal dari klan Sarutobi yang ramalannya selalu dipercaya oleh klan mereka turun temurun. "Bersatunya Senju dan Uzumaki akan mendatangkan keseimbangan di desa ini"

"Terima kasih, nenek" Hashirama menggengam tangan nenek peramal itu. "Berkat dari anda sungguh tak ternilai harganya"

"Hmm..." Nenek itu menjabat tangan Hashirama dengan erat. "Aku bisa melihat ada kesedihan, kepahitan yang bercampur bersama kebahagiaan dan tawa dalam hidupmu. Kau seterang matahari, Hashirama Senju. Awan gelap akan pergi saat mendekatimu. Langkah sulit yang kau ambil akan jadi penentu masa depan desa"

Tatapan kak Hashirama berubah serius ketika mendengar ramalan yang diberikan nenek itu. Sepertinya Ia berusaha mengingat tiap kata mengenai masa depannya. Tak lama berselang, Kak Hashirama kembali tersenyum ramah seperti biasa.

"Terima kasih banyak atas petunjuknya" ujar Hashirama sopan. "Secara keseluruhan terdengar bagus"

Kak Hashirama melirik kak Mito, aku, Hana dan Tobirama yang duduk disebelahnya. "Apa anda tidak keberatan meluangkan waktu untuk membaca nasib yang lain?"

"Tidak perlu repot-repot" ujar Tobirama segera. "Aku tidak terlalu percaya ramalan semacam itu, Kak. Terima kasih"

Tanpa diduga, nenek itu berjalan mendekati Tobirama dan menjabat tangannya. Tobirama mengerutkan dahi.

"Kau adik dari Hashirama Senju, bukan?" Ujar nenek itu sambil mengamati Tobirama. "Kalian punya aura berbeda. Auramu dingin seperti air, berbeda dengan kakakmu yang panas seperti api"

"Kami memang punya kepribadian berbeda" gumam Tobirama.

Dari apa yang kulihat, sepertinya Tobirama ingin melepaskan tangannya dari nenek itu. Tapi di sisi lain, Ia merasa tindakan itu tidak sopan dilakukan pada orang tua. Tobirama terlihat tidak nyaman walaupun Ia tidak mengatakan apapun selama nenek peramal itu menelaah telapak tangannya.

"Dingin dan mengalir, itulah kau. Kesuksesan besar menantimu di masa depan sebagai bayaran atas penderitaan di masa lalu. Kau yang sudah melawan takdir akan membayar di akhir. Ingatlah hal ini, hanya air yang bisa memadamkan api"

"Aku melawan takdir?" Tobirama mengerutkan dahi mendengar perkataan nenek itu yang pastinya terdengar tidak masuk akal untuk seorang Tobirama Senju. Ia memaksakan diri tersenyum. "Walaupun tidak mengerti perkataan anda sepenuhnya, terima kasih untuk ramalannya"

Nenek itu mengamati Hashirama dan Tobirama bergantian. "Kalian kakak beradik hebat yang punya jalan hidup sulit. Percayalah untuk selalu teguh pada pilihan yang kalian ambil"

"Kami akan mengingatnya dengan baik. Terima kasih" ujar kak Hashirama.

Kak Mito mendekati nenek itu. "Apa anda juga bisa membaca masa depan saya?" Tanyanya sambil mengulurkan tangan.

"Tentu saja, Nona manis" ujar nenek itu ramah. Ia menggenggam tangan kak Mito dengan erat. "Kau dan Hashirama sudah ditakdirkan oleh langit untuk bersama. Satu hari kau harus berhadapan dengan makhluk ganas yang akan merenggut dirimu jika kau tidak hati-hati. Secara keseluruhan peruntunganmu baik. Lebih banyaklah bersabar saat menghadapi hal-hal sulit"

"Makhluk ganas?" Kak Mito terlihat bingung. "Bisa anda jelaskan apa yang anda maksud dengan makhluk ganas?"

"Mohon maaf, Nona. Saya tidak bisa melihat apapun selain yang sudah saya katakan" balas nenek peramal.

"Oh..." kak Mito mengangguk. "Terima kasih" lanjutnya sambil tersenyum.

"Kak Nozu, bagaimana jika kita coba peruntungan kita kali ini?" Hana menyikut lenganku. "Kita lihat siapa yang lebih beruntung diantara kita. Aku merasa nenek ini punya kemampuan meramal yang bagus"

"Aku juga tertarik mendengar apa yang akan dikatakan nenek Sarutobi ini tentang kita berdua" ujarku bersemangat. "Bisakah anda juga membaca masa depan kami?" Pintaku sopan.

"Tentu" balas nenek itu sambil tersenyum. Ia berjalan mendekat. Aku mengulurkan tanganku dan nenek itu menggengamnya erat.

"Panas!" Nenek itu berteriak keras dan segera melepaskan tanganku, membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut.

"Apa.. yang terjadi?" Tanyaku spontan. Aku memegang telapak tanganku dan tidak terasa panas disana. "Apa ada yang salah?"

Nenek peramal itu melempar tatapan aneh padaku. Tubuhnya gemetar dan Ia terlihat ketakutan. Aku menatapnya terheran-heran.

'Kenapa? Apa yang salah denganku?'

"Tolong katakan apa yang anda lihat" pinta kak Hashirama. "Apa ada hal tidak baik yang anda lihat pada Nozu?"

"Dia.. wanita itu.." Nenek peramal itu menoleh pada Hashirama. "Hashirama Senju, tidak seharusnya kau membawa dia kemari. Dia bukan bagian dari desa Konohagakure"

Aku mengerutkan dahi. Apa katanya? Aku bukan bagian desa Konohagakure? Bagaimana nenek ini bisa seenaknya menyimpulkan hal itu?

"Apa maksud perkataan anda?" Tanya Tobirama yang terlihat heran. "Nozu sudah jadi bagian dari kami bahkan sebelum desa ini didirikan dan semuanya baik-baik saja"

"Ini tidak bisa dilihat dengan cara seperti itu, Tuan" Nenek peramal itu membalas perkataan Tobirama. Dia kembali menatapku dengan wajah ketakutan.

"Wanita ini membawa angin darah yang mengerikan!" Ujar nenek itu dengan suara bergetar. "Aku bisa melihat ancaman besar bagi desa kita dalam nona ini. Baik di awal, buruk pada akhirnya. Bersiaplah untuk hari mengerikan itu"

Hatiku serasa mencelos. Baru kali ini aku meminta seseorang melihat masa depanku dan kenapa ramalannya terdengar begitu menakutkan? Apa benar hal-hal mengerikan yang dikatakan nenek ini akan terjadi? Tapi bagaimana mungkin?

Aku menggelengkan kepala dan menatap orang-orang disekitar. Mereka semua diam. Kak Hashirama dan kak Mito terlihat begitu terkejut. Begitu pula Hana dan Tobirama. Beberapa orang tetua Senju yang ikut mendengar ramalan itu melempar tatapan aneh padaku.

"Bagaimana bisa kak Nozu melakukan semua itu?" Tanya Hana tidak percaya. "Angin darah? Itu tidak masuk akal"

"Tidak, Nona. Tidak ada yang bisa mengendalikan takdir, kau tahu? Sebagai adiknya, kau juga harus hati-hati terhadap takdirmu" Balas nenek itu sambil menatap Hana lekat-lekat. "Bisa saja angin itu menguasaimu tanpa kau sadari. Langit akan mengambil kembali apa yang tidak berada ditempatnya.."

"Cukup!" sela Tobirama. "Semua ini tidak masuk akal dan bahkan tidak bisa dibuktikan. Nyatanya kita sedang dalam keadaan baik. Mohon maaf, saya tidak bisa percaya perkataan anda"

"Jika memang anda melihat hal mengerikan pada Nozu. Apa yang anda sarankan untuk mencegah keburukan itu datang pada kami?" Tanya kak Hashirama pada peramal itu.

"Untuk apa kakak menanyakan itu?" tanya Tobirama tidak setuju.

"Semakin cepat semakin baik. Lakukan apa yang dikehendaki langit" jawab nenek itu. "Lebih baik anda mengirim nona ini dan keluarganya ke tempat yang jauh dari desa"

"Hal itu.. tidak mungkin" gumam kak Hashirama terbata-bata.

Aku bingung. Seperti apa yang dikatakan Tobirama, sejauh ini keadaan desa terus bertambah baik seiring bertambahnya jumlah penduduk kami. Aku tidak mungkin menghancurkan perdamaian dan desa yang bahkan harus kubayar dengan kepergian kak Nozomi.

Seketika aku langsung merasa tidak enak pada kak Hashirama, Tobirama dan semua orang yang ada di ruangan itu. Entah apa yang mereka pikirkan tentangku setelah mendengar ramalan itu.

"Sudahlah" kak Mito berusaha memecah ketegangan. "Terima kasih untuk waktunya. Mohon maaf, setelah ini kami harus segera menemui pembuat pakaian pengantin. Sepertinya kita sudah terlalu lama disini, benar begitu Hashirama?"

Aku menatap kak Mito sendu. Aku tahu betul pertemuan dengan pembuat pakaian pengantin itu dilakukan sore ini. Kak Mito pasti melakukan itu untuk membuatku merasa lebih baik. Kebaikannya sungguh membuatku terharu.

"Ah! Benar juga. Aku sampai lupa" Hashirama menepuk keningnya. "Mito benar. Kami masih ada janji di tempat lain" Ia menatap para tetua disekelilingnya. "Terima kasih banyak untuk diskusi hari ini. Sesuai perkataan Tobirama, karena ramalan ini tidak bisa kita buktikan dengan apapun, aku harap kalian yang mendengarnya bisa menyikapi masalah ini dengan bijak"

"Tidak baik membuat warga khawatir dengan hal yang belum tentu benar. Itu akan mengacaukan stabilitas desa yang baru kita bangun" sambung Tobirama. "Karena itu, aku mohon kerja sama anda sekalian untuk tetap merahasiakan hal ini. Demi kepentingan bersama, saya mohon anda sekalian bisa mengerti" lanjutnya sambil menundukkan kepala.

"Tentu saja, Tuan Tobirama. Anda tidak perlu khawatir" ujar seorang tetua klan Senju. "Kami tidak akan memberitahu hal ini pada warga dengan syarat anda dan Tuan Hashirama harus lebih waspada terhadap ancaman apapun. Banyak klan dan desa lain yang iri melihat perkembangan desa Konohagakure yang begitu pesat"

"Terima kasih untuk pengertiannya. Kami pamit undur diri" Hashirama bangkit berdiri. "Selamat siang semuanya"

Kak Hashirama berjalan meninggalkan ruangan, diikuti Tobirama dan kak Mito. Aku bangkit berdiri dari tempat duduk, berjalan menyusul mereka bersama Hana dengan kepala tertunduk lesu.

"Sudahlah, kak. Perkataan nenek itu tidak perlu dimasukkan kedalam hati" ujar Hana setelah kami meninggalkan tempat itu. "Aku tidak percaya apa yang dikatakan peramal itu. Aku yakin tidak ada hal mengerikan seperti itu yang akan terjadi"

Kak Hashirama berhenti melangkah. Ia berjalan ke sebelahku dan meletakkan tangannya di atas kepalaku. "Tenang saja. Tidak ada hal buruk yang akan terjadi, Nozu. Semua akan baik-baik saja" ujar kak Hashirama dengan senyum khasnya.

"Memangnya apa yang salah dengan semua ini?" Tanya kak Mito ikut masuk kedalam pembicaraan. "Kita akan jadi keluarga dan selamanya akan seperti itu. Nozu, Hana, kalian jangan sedih lagi ya!" Ia mengelus punggung kami berdua dengan lembut.

Aku mengangkat kepala. Aku sangat terharu mendapati kak Hashirama dan kak Mito tengah menatapku dengan tatapan sayang. Aku menoleh ke arah Tobirama dan mata kami bertemu.

Tobirama, dia menatapku lurus. Aku tidak bisa membaca apa yang dipikirkannya sekarang. Wajahnya selalu tenang dan datar. Tobirama sangat menyukai desa ini. Mungkin saja dia akan membenciku yang diramal akan menghancurkan desa Konoha yang sangat dicintainya.

Tobirama berjalan mendekat padaku. "Nozu, anggap saja kau tidak pernah mendengar kata-kata tadi" Tobirama menatapku dengan mata merahnya yang tajam.

"Tobirama, kau.." Aku balas menatapnya. "Katanya aku akan membawa angin darah ke Konoha.."

"Tidak perlu buang-buang tenaga untuk memikirkan hal yang tidak ada" Tobirama menyela perkataanku.

"Kalian..." Aku mengusap mataku yang sudah berkaca-kaca. Kata-kata mereka semua membuat dadaku terasa hangat. Walaupun mereka mendengar hal mengerikan tentangku dan Hana, mereka tetap memperlakukan kami dengan begitu baik dan hangat. Benar-benar seperti keluarga kandung.

Aku melirik Hana. Rasanya aku bisa merasakan perasaan haru yang sama dari pantulan sinar matanya yang teduh.

Aku menyeka semua air mata yang ada di kelopak mataku dan menarik napas dalam-dalam.

"Terima kasih. Aku benar-benar menyayangi kalian" aku tersenyum lebar.

"Kau memang harus menyayangi kami, Nozu. Terutama suamimu ini" Hashirama menyikut Tobirama pelan. "Dia yang paling butuh kasih sayangmu"

"Kenapa kita tiba-tiba membicarakan ini?" Tanya Tobirama heran sambil menggelengkan kepala. "Kakak benar-benar ahli mengalihkan pembicaraan. Dasar!"

"Baiklah! Aku akan pergi ke tempat pembuat pakaian pengantin bersama Nozu dan Hana sekarang. Kami akan mengajak orang-orang disana makan siang bersama" ujar Mito tersenyum. "Kalian tidak apa-apa pulang ke rumah sendiri?"

"Jangan salah! Kami juga punya acara!" Ujar Hashirama tidak mau kalah. "Kami harus membicarakan banyak hal sebagai dua orang pria dewasa. Ini bukan hal yang bisa dipahami wanita. Benar 'kan, Tobirama?"

Perkataan kak Hashirama membuatku, Hana dan kak Mito tertawa, sementara Tobirama hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku kakaknya.

"Baiklah! Tapi jangan sampai melewatkan makan siang, ya! Kami pergi dulu" kak Mito melambaikan tangan.

Tobirama menatapku dan tersenyum tipis, membuatku tanpa sadar membalas senyumannya.

"Dinginkan kepalamu. Sampai jumpa nanti malam" ujar Tobirama.

Aku mengangguk. "Ya! Kau juga bersenang-senanglah!"

Tobirama.. aku hanya bisa diam menatap punggungnya yang makin lama makin jauh. Ia berjalan pergi bersama kak Hashirama.

'Tobirama, terima kasih..'

"Nozu, apa Tobirama memang selalu seperti itu padamu?" kak Mito tiba-tiba bertanya.

Aku mengerutkan kening. "Maksudnya seperti itu?"

"Aku saja bisa melihat kau sangat sedih setelah mendengar ramalan itu. Siapa yang tidak sedih? Tapi Tobirama hanya bicara sedatar itu padamu" Kak Mito menggelengkan kepala. "Seharusnya dia bisa mengatakan hal lain yang akan membuatmu merasa lebih baik lagi"

"Sepertinya memang seperti itulah cara kak Tobirama memberikan perhatiannya" Hana mencoba menganalisa. "Dia bukan orang yang terang-terangan mengungkapkan kasih sayangnya di depan umum"

"Aku setuju dengan Hana" aku bergumam pelan. "Aku masih beruntung dia mau sedikit menghiburku. Jika dia mau, bisa saja dia tidak berkata apa-apa padaku"

"Jika aku yang jadi istri Tobirama, aku pasti sudah kehabisan kata-kata saat bicara padanya" Kak Mito menghela napas. "Kau hebat sekali masih bisa menemukan apa yang harus kalian bicarakan bersama"

"Benar, kak" Hana ikut setuju. "Sepertinya hanya kak Nozu yang bisa jadi istrinya"

"Biasanya kami memang hanya bicara untuk hal-hal penting" balasku. "Dia memang tidak suka banyak bicara"

Aku tersenyum sendiri. Rasanya aneh aku bisa menyukai orang dengan kepribadian kaku dan keras seperti Tobirama. Dia memang jarang memberikan perhatian lebih. Tapi sekali dia menunjukkan perasaannya padaku..

Mendadak aku teringat bagaimana dia menciumku dengan lembut malam itu, saat kami membicarakan masalah Hani. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana rasanya saat bibirnya bergerak menyentuh bibirku.

Jika kuingat lagi, Tobirama sudah menciumku dua kali. Dia juga sudah melihatku tanpa mengenakan sehelai benangpun. Dia memang suamiku tapi entah kenapa aku merasa malu. Bagaimana bisa pria setampan dia melakukan hal-hal seintim itu bersamaku?

"Eh, Nozu? Kenapa wajahmu merah begitu?" Tanya kak Mito. Ia mengangguk dan melempar tatapan jahil pada Hana. "Hana, coba kau tanyakan apa yang sedang dipikirkan kakakmu"

"Hmm, kakak pasti memikirkan hal-hal romantis dengan kak Tobirama ya? Atau bisa jadi.." Hana menyikutku pelan. "Kakak sedang memikirkan momen panas bersama kak Tobirama, ya? Iya 'kan?" Dia kembali menyikutku berkali-kali.

"Sudahlah! Itu tidak penting" ujarku salah tingkah. Aku berusaha membuang pikiran itu jauh-jauh sebelum wajahku jadi lebih merah lagi.

"Aku ingin bicarakan banyak hal denganmu sebagai istri Tobirama Senju, Nozu" Kak Mito mengedipkan mata. "Tentu saja setelah aku menikah nanti. Hana yang belum menikah juga boleh ikut. Banyak hal yang ingin kutanyakan tentang pria-pria Senju itu"

"Hahahaha.. aku menunggu hari itu datang, Kak" Hana tertawa pelan. "Mungkin aku bisa belajar banyak"

Aku tersenyum sendiri. Rasanya begitu nyaman hidup bersama orang-orang yang menyayangi kita seperti ini.

Aku hanya bisa berharap semoga hal-hal mengerikan dalam ramalan itu tidak akan pernah terjadi.

-8-8-8-

Sore menjelang malam ini terasa baik. Udara musim gugur yang hendak memasuki musim dingin memang terasa dingin tapi sejuk. Setelah selesai mandi Tobirama memilih untuk duduk di teras belakang sambil menunggu rambutnya kering. Ada sensasi menyenangkan ketika semilir angin sore menggelitik rambutnya yang masih basah, menimbulkan perasaan nyaman dan membuat hatinya tenang disaat bersamaan.

Setibanya di teras belakang, Ia menemukan Nozu tengah duduk memandangi langit malam sambil menulis sesuatu. Tobirama tersenyum, lalu berjalan dan duduk di sebelahnya, membuat Nozu otomatis menoleh.

"Kau sedang menulis apa?" Tanya Tobirama yang tertarik dengan tulisan Nozu.

"Oh, ini.." Nozu menutup bukunya dan memperlihatkan sampul depan buku yang bertuliskan 'Ninjutsu Medis Tingkat Menengah'.

Tobirama mengerutkan kening. "Buku panduan ninjutsu medis?"

"Tepat! Kau tahu? Di akademi, saat aku menunjukkan seperti apa ninjutsu medis, banyak anak-anak yang tertarik mempelajarinya, termasuk Homura. Aku tidak sangka dia tertarik. Sayang dia bukan tipe ninja yang bisa jadi ninja medis. Ninja medis butuh keterampilan mengolah chakra dengan tingkat akurasi tinggi. Tidak semua orang punya kemampuan itu" jelas Nozu. "Aku sudah selesai menulis dasar-dasarnya. Sekarang aku mulai menulis untuk tingkat menengah"

"Hebat. Kau membuatku bangga" ujar Tobirama kagum.

"Kau merasa begitu?" Tanya Nozu yang terlihat senang. "Hahahaha.. terima kasih. Senang rasanya kemampuanku diakui oleh shinobi sehebat Tobirama Senju" Nozu tertawa pelan.

"Kau belum mengonde rambutmu?" Tanya Tobirama sambil mengamati rambut hitam Nozu yang masih tergerai. "Ternyata rambutmu sudah tambah panjang, ya"

"Aku mencuci rambutku sore ini. Rambutku baru saja kering. Aku ingin menggerainya sebentar" balas Nozu ringan. "Rasanya sejuk menggerai rambut sore hari. Cuaca sudah tidak panas dan tidak banyak aktivitas lagi di sore hari"

Tobirama tersenyum tipis. Memandangi Nozu dengan rambut tergerai membuatnya merasa senang. Nozu terlihat lebih cantik saat Ia menggerai rambutnya.

"Sebentar lagi pernikahan kak Hashirama dan kak Mito akan dilaksanakan" Nozu bergumam pelan. "Akan ada pesta seru untuk merayakannya. Aku tidak sabar hari itu tiba!"

"Tinggal dua hari lagi" ujar Tobirama. "Semua persiapannya sudah selesai. Kau sudah menyiapkan hadiah untuk mereka?"

"Tentu!" Jawab Nozu bersemangat. "Kau tahu? Aku membuatnya sendiri"

Tobirama mengangkat alis. "Bagus jika kau membuatnya sendiri. Boleh aku tahu apa itu?"

Nozu menyipitkan matanya. Ia melirik Tobirama curiga. "Hei, hei.. kau menanyakannya karena belum menyiapkan kado untuk mereka 'kan?"

"Jangan asal bicara. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk mereka" sanggah Tobirama cepat.

Nozu membulatkan matanya. "Wah! Apa hadiah pernikahan yang akan diberikan seorang Tobirama Senju untuk kakak laki-laki yang sangat disayanginya?" Ia kembali melirik Tobirama dengan jahil. "Jangan bilang padaku kau hanya memberi uang dalam amplop"

"Aku akan memberikan mereka sepasang kalung. Aku menuliskan tulisan kanji berisi doa agar mereka selalu bahagia di tiap manik-maniknya" jawab Tobirama. "Aku tidak seburuk yang kau kira. Sekarang beritahu aku apa hadiah darimu"

"Kenapa kita sama-sama memberikan barang sepasang untuk mereka?" Tanya Nozu heran. "Rencananya aku akan memberikan dua buah baju tidur yang kubuat sendiri. Warna hitam untuk kak Hashirama dan warna merah untuk kak Mito. Serasi 'kan? Sesuai warna rambut mereka. Hahahaha..." Nozu tertawa sendiri.

Tobirama ikut tertawa pelan mendengar perkataan Nozu. "Sesuai dugaanku. Kau memberi mereka hadiah yang aneh-aneh"

"Aneh apanya? Bukannya itu bagus?" Tanya Nozu tidak terima. "Aku dapat ide memberi mereka pakaian tidur setelah melihat kimono pernikahan mereka. Kau juga sudah lihat 'kan, Tobirama? Aku tidak tahu Senju punya desain yang sangat bagus untuk kimono pernikahan, baik mempelai pria maupun wanitanya. Lusa lalu aku melihat kak Mito menggunakan kimono putih khas Senju. Dia sangat cantik" lanjut Nozu dengan mata berbinar.

Nozu terus saja bicara betapa kagumnya Ia pada tradisi pernikahan Senju dengan mata berbinar-binar. Tobirama hanya bisa diam mendengarkan sambil menatap Nozu dengan tatapan sendu.

Nozu adalah istri Tobirama. Sudah seharusnya Nozu mengenakan kimono Senju yang sama dengan Mito di hari pernikahannya. Sudah sepantasnya juga warga Konoha lebih menghormati Nozu seperti mereka menghormati Mito.

Tobirama tersenyum lirih sambil memaki dirinya sendiri dalam hati. Apanya yang Nyonya Senju? Hingga kini Tobirama belum memberikan pengakuan akan status Nozu yang sebenarnya. Tobirama merasa bersalah. Tidak seharusnya Ia memperlakukan wanita yang dicintainya seperti ini.

"Kau ingin kita juga melangsungkan pesta pernikahan?" Tanya Tobirama menyela perkataan Nozu.

Nozu berhenti bicara dan terdiam sesaat.

"Eh, aku tidak bermaksud begitu. Aku tidak iri.." ujar nozu salah tingkah. "Aku hanya mau bilang kalau aku suka tradisi Senju.."

"Siapa yang bilang kau iri?" Sela Tobirama. "Aku hanya ingin bertanya apa kau juga ingin kita melangsungkan pesta pernikahan seperti kakak atau tidak"

Nozu kembali diam. Ia terlihat memikirkan sesuatu, lalu menatap Tobirama lurus.

"Kita sudah melangsungkan pesta pernikahan waktu itu. Tidak perlu dirayakan besar-besaran"

"Aku hanya ingin bertanya apakah kau ingin mengambil hakmu atau tidak" ujar Tobirama. "Jujur kata, aku juga lebih suka pernikahan sederhana dengan tamu tidak banyak. Tapi jika kau ingin kita merayakannya bersama warga Konoha, aku tak keberatan"

"Kita satu pemikiran kalau begitu" gumam Nozu. "Aku lebih suka warga Konoha melihatku seperti ini saja. Aku tidak mau mereka menganggap statusku tinggi. Aku hanya mau mereka menghormatiku sebagai sesama warga Konoha, itu saja"

"Kau menikahi orang yang salah kalau begitu" Tobirama melirik Nozu. "Karena sekarang kau sudah menikah denganku yang punya status tinggi di desa, kau harus menerima statusmu di Konohagakure. Bukankah di klan Hagoromo statusmu juga setinggi ini?"

"Kau benar" Nozu mengangguk. "Tapi setelah menjalani hidup seperti warga biasa disini, ternyata aku lebih suka jadi warga biasa dibanding kaum elit"

Tobirama menggeleng. "Kau terlambat"

Nozu menatap langit malam sendu. "Bagaimana reaksi warga Konoha melihat adik Hokage pertama menikah dengan wanita yang akan membawa masalah besar ke desa?"

"Kita sudah sepakat tidak ada yang akan mengatakan ramalan itu pada warga Konoha. Kau tidak perlu memikirkan omong kosong itu lagi" ujar Tobirama.

"Aku memang tidak memikirkannya, tapi aku tidak bisa melupakannya" Nozu menghela napas. "Tapi.. bukannya ada kemungkinan apa yang dikatakan peramal itu benar?"

"Jika memang kau akan menghancurkan desa seperti apa yang dikatakannya.." Tobirama menatap Nozu lurus. "Bagaimanapun juga aku akan menghentikanmu sebelum itu terjadi. Aku tahu kau mencintai desa dan perdamaian ini sama sepertiku. Tidak mungkin kau menghancurkan apa yang kau sukai"

Nozu menatap Tobirama sejenak. Ia tersenyum lirih. "Kau percaya padaku?"

"Tentu saja" jawab Tobirama segera. "Aku sudah percayakan semua hal padamu, termasuk perasaanku"

Nozu tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca saking senangnya. Ia langsung saja memeluk Tobirama, membuat pria itu mengerutkan dahi melihat tingkah lakunya. Nozu mengadahkan kepala, menatap wajah Tobirama dari dekat. Ia tersenyum tulus.

"Tobirama, aku sangat menyukaimu!"

'Deg'

Melihat Nozu yang cantik dari jarak sedekat itu membuat Tobirama merasa wajahnya panas. Apa wajahnya memerah lagi? Seketika Tobirama merasa detak jantungnya bertambah cepat. Bukankah Tobirama memang sudah tahu Nozu menyukainya? Nozu juga pernah mengatakannya sebelumnya. Tapi kenapa mendengar Nozu mengatakan hal itu dalam kondisi seperti ini membuat Tobirama malu?

Nozu yang berada sangat dekat dengan Tobirama terlihat menyadari perubahan pada wajahnya. Kulit Tobirama yang sangat putih membuat rona merah itu semakin jelas. Nozu menatap Tobirama seksama.

"Tobirama, wajahmu.."

"Sudahlah" Tobirama memalingkan wajahnya. Ia melepaskan pelukan Nozu dan bangkit berdiri. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu malam ini. Aku harap kau suka" ujar Tobirama sambil berjalan masuk ke dalam. "Tunggu disini sebentar"

Tobirama berjalan masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih tidak teratur.

Walaupun merasa malu, ada rasa senang yang hangat dalam dada Tobirama ketika mengingat Nozu berkata Ia menyukainya dengan tulus. Tobirama tidak habis pikir kenapa perasaan seperti ini bisa dirasakannya.

'Nozu.. bagaimana bisa dia membuatku seperti ini?'

Tobirama menggelengkan kepala. Setelah beberapa saat menenangkan diri, Tobirama berjalan menuju sudut kamar dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang. Ia tersenyum dan membawa kotak itu ke teras belakang.

"Apa itu?" Tanya Nozu sambil memandangi kotak yang dibawa Tobirama.

"Kau lihat saja sendiri" ujar Tobirama. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan sebuah alat musik yang terbuat dari kayu dengan tiga belas senar.

"Koto (gitar klasik Jepang)?" Nozu mengangkat alisnya. "Tobirama, kau bisa bermain koto?"

"Tentu" Tobirama mulai memetik beberapa senarnya. "Aku membuat satu instrumen dari koto untukmu. Kau mau dengar?"

Nozu mengangguk berkali-kali dengan senang. "Tentu!"

"Tapi ada syaratnya" sela Tobirama.

Nozu mengerutkan dahi. "Apa sih? Katanya instrumen itu hadiah untukku. Kenapa ada syaratnya?"

"Tentu saja ada" Tobirama menatap Nozu lurus. "Syaratnya, aku minta kau tidak memikirkan omong kosong peramal itu. Aku tidak suka melihatmu sedih"

Nozu tersenyum. "Maaf Tobirama, aku benar-benar akan menganggapnya angin lalu.."

"Anggap kau tidak pernah dengar" sela Tobirama.

"Baik, baik. Aku akan menganggap tidak pernah mendengarnya" ujar Nozu patuh.

Tobirama tersenyum tipis dan mengelus kepala Nozu. Ia melirik buku yang tengah ditulis Nozu. "Aku tahu akhir-akhir ini kau sering tidur malam untuk menulis buku itu dan bangun terlambat. Aku minta kau tidur lebih awal besok. Jangan sampai kita terlambat di hari bahagia kakak"

"Kalau itu aku juga tahu!" Nozu memukul bahu Tobirama pelan. Ia tersenyum menatap pria itu.

"Tobirama, terima kasih"

Tobirama ikut tersenyum. Ia melirik Nozu dengan sayang dan mulai memetik koto didepannya. "Kembali kasih"

To be continued..

-8-8-8-

A/N : Halo Readers.. apa kabarnya nih?? Semoga sehat-sehat dan bahagia selalu yaa.. :D

Kali ini author datang lebih cepat dari biasanya, wusssh... Hehehe :p

Kita sudah sampai di bab 19.. sudah jauh ya?? Terima kasih banyak unuk kalian semua yang sudah meluangkan waktu untuk membaca sampai sejauh ini.. Arigatou!!

Di bab ini, Nozu kenalan sama anak-anak Tobirama dan ternyata Nozu mendapat ramalan aneh yang tidak bagus.. :(

Semoga ga ada hal-hal buruk yang terjadi yaa.. /

Saya selalu senang menulis saat Tobirama mengungkapkan rasa sayangnya ke Nozu, hihihi.. semoga Tobirama yang ada di cerita ini mirip dengan karakter aslinya yaa.. :3

Untuk chapter besok, saya akan menceritakan tentang pernikahan sang hokage pertama, Hashirama Senju.. kira2 seperti apa ya??

See you on the next chapter!!