Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Warning: OOC, OC mis-typo(s)

Rated : M

Chapter 21 : To My Dearest Wife

Aku membuka mata. Suasana terasa hening.

'Sekarang jam berapa?'

Aku mengangkat kepalaku yang masih ada di atas meja. Mataku segera mencari-cari jam dinding di Igaku no Niwa. Aku cukup terkejut mendapati jarum pendek jam sudah berada di angka sebelas.

Aku segera bangkit berdiri dari tempat duduk. Rupanya aku sudah tidur cukup lama di meja, hampir 4 jam hingga leherku sakit seperti mau patah. Padahal aku berencana hanya ingin tidur tiga puluh menit. Aku mencari Satsu dan Amari. Dari kertas yang ditempel di dekat pintu, aku tahu mereka sudah pamit pulang ke rumah untuk membuat penawar racun, obat bius dan obat-obatan lain di rumah mereka.

Walaupun pulang lebih dulu, dengan baik hati mereka membereskan Igaku no Niwa sebelum pulang. Aku hanya tinggal membereskan meja kerja saja. Mereka baik sekali, padahal aku yakin mereka juga lelah, sama sepertiku.

Aku menghela napas dan kembali ke tempat dudukku. Pandanganku tertuju pada sebuah buku bertuliskan 'Catatan Kematian' yang masih ada di atas meja. Selama tiga bulan terakhir, aku sudah mengganti buku setebal 50 halaman itu sebanyak tiga kali.

Pikiranku melayang menelusuri kejadian yang terjadi akhir-akhir ini. Rasanya berat menerima kenyataan banyak warga Konoha yang mati, entah karena pertarungan atau sakit. Perang memang sudah berakhir, tapi kini muncul banyak perseteruan antara negara Hi dan negara lain, terutama negara besar Tsuchi (tanah) dan Kaminari (petir). Masalahnya macam-macam, mulai dari dendam masa lalu hingga invasi untuk memperluas daerah kekuasaan.

Sudah cukup banyak serangan di wilayah perbatasan maupun didalam desa Konoha. Belakangan ini, Madara Uchiha memperketat keamanan desa dengan lebih banyak mengirim shinobi hebat di wilayah perbatasan.

Sejak Hokage membuat kebijakan baru untuk mengikutsertakan ninja medis dalam setiap misi berbahaya, akhir-akhir ini aku disibukkan dengan pelatihan ninja medis. Beruntung Hana, Satsu dan Amari bisa membantu dengan sangat baik. Kami berempat juga seringkali diikutsertakan dalam misi-misi berbahaya untuk meningkatkan peluang angka hidup shinobi Konoha yang belakangan ini menurun.

Mulai hari ini Hana berjaga di daerah perbatasan dan baru pulang lusa. Aku menerima laporan keadaan disana aman. Aku sangat bersyukur, Hana tidak harus berhadapan dengan Shinobi Kumogakure dan Iwagakure yang berbahaya.

Jujur, aku selalu khawatir saat Hana, Satsu dan Amari dikirim pergi bersama yang lain untuk melaksanakan berbagai misi. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah tugas kami sebagai ninja medis untuk turut serta dalam setiap pertarungan, menjaga para ninja itu sekuat tenaga agar bisa kembali dengan selamat.

Hari ini aku harus menerima kematian Takeda Uchiha setelah Ia dan timnya terlibat pertarungan hidup mati dengan ninja Takigakure. Minggu lalu, aku begitu terkejut menemukan satu mayat diantara mereka yang kembali tanpa jantung. Takeda Uchiha dan dua orang temannya masih dalam keadaan hidup saat dibawa pulang ke desa, tapi mereka menderita luka parah di banyak bagian vital. Satu per satu dari mereka mati, dan sang ketua, Takeda Uchiha menjadi orang terakhir dalam tim itu yang akhirnya pergi.

Aku membuka buku 'Catatan Kematian' yang ada di hadapanku dan menemukan nama Takeda Uchiha menjadi nama terakhir yang baru saja kutulis di buku itu. Mataku melirik kolom 'Penyebab Kematian' yang belum sempat kuisi sejak siang tadi. Aku mengambil sebuah pena dan mencelupkannya dalam botol tinta.

'Melalui operasi Kranial (tengkorak), ditemukan kerusakan permanen di otak akibat sejenis jurus manipulasi pikiran dan benturan keras. Luka tusukan parah di bagian dada (paru-paru dan hati). Meninggal dunia pukul 18.30, pada usia 30 tahun 4 bulan 15 hari'

Aku menutup buku itu bersamaan dengan helaan napas panjang.

Sudah cukup, aku tidak ingin membuka buku itu lagi.

Dengan segera, aku berbenah dan pergi meninggalkan Igaku no Niwa. Hari ini aku melewatkan makan malam setelah operasi yang melelahkan dari siang tadi. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan Takeda Uchiha tapi takdir berkata lain.

Belakangan ini, aku merasa jadi ninja medis tidak berguna.

Aku berjalan gontai menyusuri jalan menuju rumah. Masih terbayang bagaimana istri Takeda Uchiha yang tidak terima suaminya meninggal. Dia menangis sejadi-jadinya di depan ruang operasi dan masih menangis hingga pihak keluarga membawanya pulang.

Walaupun banyak yang berkata kita harus merelakan orang yang sudah meninggal agar mereka bisa beristirahat dengan tenang, aku mengerti rasa sakit kehilangan orang yang kita sayangi benar-benar sakit. Butuh waktu lama agar orang yang ditinggalkan menerima perpisahan itu.

Aku tiba di rumah hampir tengah malam. Aku tersenyum sendu. Mengingat anggota keluarga di rumah ini masih lengkap memunculkan rasa senang tersendiri di pikiranku.

"Nozu, kau sudah pulang?"

Aku menoleh dan mendapati kak Mito menyambutku pulang dari ruang tengah. Aku sangat senang melihatnya masih berdiri sehat selamat di depanku. Aku berjalan mendekat dan memeluknya, membuat kak Mito mengerutkan dahi.

"Nozu, ada apa?" Tanya kak Mito heran. "Kau baik-baik saja? Aku kira hari ini kau tidak pulang. Aku baru saja mau pergi tidur"

"Aku baik-baik saja, Kak" jawabku yang masih memeluknya. "Terima kasih sudah menungguku pulang"

"Sama-sama" Kak Mito menepuk punggungku pelan. "Apa kau sudah makan malam? Pergilah tidur setelah makan. Aku yakin kau butuh banyak istirahat"

Aku melepas pelukanku. "Apa ada kabar dari Kak Hashirama hari ini? Kapan dia pulang?"

"Hashirama pulang tiga hari lagi. Dia mengabariku hari ini bertemu dengan ninja Takigakure yang kemarin menyerang Takeda Uchiha dan timnya. Katanya namanya Kakuzu" kak Mito berusaha mengingat-ingat. "Hashirama bilang dia ninja yang sangat berbahaya dengan ninjutsu aneh. Aku tahu kau lelah. Aku akan berikan surat dari Hashirama tentang keterangan kemampuannya besok"

"Baiklah, kak. Terima kasih" aku kembali tersenyum.

"Tobirama sudah pulang, tapi aku tidak tahu dia sudah tidur atau belum" Kak Mito balas tersenyum. "Kalian istirahatlah. Aku tidur dulu"

Aku mengangguk. Kak Mito berjalan menuju kamarnya sementara aku berjalan menuju dapur, makan masakan sisa makan malam tadi dan segera bergegas ke kamar.

Ketika pintu kamar terbuka, aku mendapati Tobirama masih duduk di meja kerja dan menulis sesuatu. Malam itu Ia mengenakan kimono rumahan khas Senju, pakaian yang jarang dikenakan oleh seorang Tobirama. Ia berhenti menulis ketika aku masuk dan melempar senyum tipis khasnya, menyambutku pulang.

"Akhirnya kau pulang"

Aku tidak bisa menahan diri untuk membalas senyumnya begitu melihat sosoknya yang seperti biasa masih duduk di meja itu, sibuk dengan segala jenis laporannya.

Begitu melihat Tobirama, aku mengerti. Istri Takeda Uchiha begitu sedih melepas kepergian suaminya. Jika hal itu terjadi pada Tobirama, mungkin..

"Kenapa kau terus saja berdiri disana sambil menatapku begitu?" Tobirama mengerutkan keningnya. "Ayo masuk"

Aku tersadar dari lamunanku, lalu kembali tersenyum dan masuk ke kamar. Aku berjalan menghampiri Tobirama yang sudah kembali menulis.

"Kau belum tidur? Sudah tengah malam" Tanyaku sambil mengamati tulisannya. Aku tersenyum, sebagai laki-laki, tulisan Tobirama termasuk rapi. Apalagi jika ditulis tengah malam begini saat mata sudah terasa lelah.

Tobirama meletakkan kuasnya, lalu menatapku sejenak.

"Aku menunggumu"

Aku membulatkan mata. Perkataannya cukup membuatku heran. Tidak biasanya dia berkata begitu padaku. Menunggu? Apa ada hal sangat penting yang harus dibicarakannya denganku hari ini hingga dia rela menunggu hingga selarut ini?

"Oh.." ucapku tanpa sadar. "Tapi aku mandi dulu, ya. Aku belum mandi sore tadi"

Tobirama tersenyum. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada gulungan kertas di atas meja. "Hati-hati" pesannya singkat.

Aku mengangguk, membalas perkataannya. Aku berjalan menuju lemari, membawa pakaian bersih dan masuk ke kamar mandi.

Rasanya begitu segar saat air hangat dan sabun membasuh tubuhku yang lelah hari ini, membuatku betah berlama-lama di kamar mandi dalam suasana yang membuatku rileks. Mengingat waktu sudah larut, aku memutuskan untuk segera mengakhiri sesi berendam yang menyenangkan malam ini. Beberapa saat kemudian, aku sudah kembali mengenakan kimono, bersiap untuk istirahat.

Saat keluar dari kamar mandi, aku begitu terkejut mendapati perubahan suasana dalam kamar. Padahal sepertinya aku hanya berada disana tiga puluh menit. Bola mataku bergulir menatap sekeliling kamar penuh rasa ingin tahu.

Ruangan itu gelap. Hanya lampu tidur bernuansa kuning temaram yang menyinari ruangan. Cahayanya membuat suasana kamar tampak misterius. Samar-samar, aku mencium aroma teh hijau dan lavender yang tidak biasa. Tatapanku tertuju pada nyala kumpulan lilin kecil berwarna putih dan biru yang terletak manis diatas meja tempat Tobirama biasa menulis, membuatku tertarik melihat benda itu lebih dekat.

Lilin-lilin berwarna putih dan biru dalam wadah kaca itu ditata begitu cantik diatas meja bersama vas bunga kaca berisi bunga mawar, lily putih dan lavender. Ada satu botol kecil anggur dan dua buah gelas yang masing-masing diletakkan berhadapan, menyempurnakan suasana hingga terlihat begitu romantis. Aku bisa melihat ada tungku keramik kecil dengan minyak aromaterapi diatas meja. Rupanya wangi menenangkan ini berasal dari situ.

Aku mengerutkan dahi. Siapa yang menyiapkan semua ini? Apa Tobirama...

"Kau sudah selesai?"

Suara Tobirama membuyarkan lamunanku. Aku menoleh padanya yang kini tengah berdiri bersandar di pintu kamar sambil melipat kedua tangannya di dada dan mengamatiku. Tobirama tersenyum tipis sambil berjalan mendekat.

"Aku harap kau menyukainya" ujarnya pelan. Samar-samar aku merasa ada yang berbeda dari suaranya yang berat. Suara Tobirama terasa lebih lembut malam ini.

"Tobirama, ini luar biasa.." aku menatapnya kagum. "Bagaimana bisa.."

"Sepertinya keadaan desa akhir-akhir ini membuatmu lelah" sela Tobirama. "Aku pikir kau butuh sedikit hiburan"

"Kau juga sibuk akhir-akhir ini" balasku. "Bukan hanya aku, kau juga butuh hiburan"

Tobirama berpikir sejenak. "Mungkin kau benar. Kita butuh hiburan"

Tatapanku kembali tertuju pada lilin dan bunga diatas meja. "Lilin, bunga lily dan aroma ini.. Tobirama, aku sangat menyukainya! Bagaimana kau tahu aku suka semua ini?"

Tobirama tersenyum tipis. "Aku suamimu. Bukannya wajar jika aku tahu apa yang kau suka dan tidak suka?"

"Tapi aku belum pernah mengatakan apapun padamu" ujarku tidak percaya. "Semua ini sangat cantik.."

"Sepertimu" sela Tobirama. Ia duduk di salah satu kursi. "Aku harap ini bisa membuatmu merasa lebih baik. Duduklah. Kau bisa bicara padaku jika ada hal yang mengganggu pikiranmu"

Aku diam sejenak memandangi Tobirama yang tengah membuka botol anggur itu dan menuangkan isinya kedalam dua gelas yang ada diatas meja. Kata-katanya barusan membuatku tersipu malu.

"Ada apa?" Tobirama melirikku heran. "Kau tidak mau duduk?"

"Bukan begitu" sanggahku cepat. Aku mengambil tempat duduk dihadapan Tobirama. "Jika kau mengajakku minum anggur malam ini, maaf. Aku sedang tidak ingin mabuk.."

"Siapa yang ingin mabuk denganmu?" Tobirama menyela perkataanku. "Ini bukan anggur biasa. Ini anggur putih tanpa alkohol, bisa membuatmu rileks tanpa harus mabuk. Aku juga tidak mau bicara denganmu yang sedang mabuk.." Tobirama melirikku dengan ekor matanya. Matanya berkilat jahil. "Kau bisa saja membunuhku"

Tobirama hanya tertawa pelan melihatku mendengus sebal.

"Nozu, kau sudah makan malam?" Tobirama bertanya padaku. "Jika belum, aku bisa ambilkan makanan untukmu"

Aku tersenyum menatap pria bermata merah itu. "Belakangan ini kau sering mengingatkan aku untuk tidak melewatkan makan. Biasanya aku yang terus berpesan begitu padamu"

"Akhir-akhir ini aku tahu kau kesulitan. Orang yang sedang kesulitan biasanya lupa makan" Tobirama mengangkat bahu. "Jadi, sudah makan atau belum?"

"Sudah" jawabku sambil mengangguk. "Aku mengaku, tadi aku melewatkan makan malam dan baru makan saat sampai di rumah"

"Sudah kuduga" Tobirama menyipitkan mata. "Kalau begitu, jika kau belum pulang sampai jam makan malam, aku akan ke Igaku no Niwa dan menyuruhmu makan"

"Tapi jam 7 malam aku belum tentu disana. Aku bisa saja ada di tempat lain" balasku cepat.

"Tidak perlu khawatir. Aku pasti tahu kau dimana" Tobirama menatapku lurus. "Kau lupa aku ninja sensor?"

"Ya ampun.. Maaf ya, aku lupa" aku tertawa pelan sementara Tobirama menggelengkan kepala.

Aku memandangi lilin-lilin cantik yang ada diatas meja. Melihat api berwarna biru dan merah di atas lilin yang cantik jadi hiburan tersendiri di mataku. Aku suka memandangi lilin sejak masih kecil. Apalagi Tobirama menempatkannya dalam wadah kaca yang unik, membuat lilin itu terlihat lebih cantik.

"Tobirama, ini.. bagus sekali" aku bergumam pelan. "Sepertinya apa yang kau beri ini terlalu bagus. Setelah semua yang terjadi akhir-akhir ini, aku tidak pantas menerimanya"

"Kenapa kau bilang begitu?" Tobirama mengerutkan dahi. "Tentu saja kau pantas menerimanya. Kau sudah bekerja keras"

"Kerja kerasku tidak ada hasilnya" aku bergumam lirih sambil menyesap anggur dalam gelasku.

Aku cukup terkejut mendapati sensasi tidak biasa dalam anggur itu. Rasanya seperti ada yang meletup-letup dan berbuih dalam mulutku. Tapi sensasi ini terasa menyenangkan.

Tobirama mengamati wajahku. "Kau suka rasanya? Aku mencampur sedikit soda, berharap itu bisa menghilangkan penat di kepalamu"

Aku tersenyum memperhatikan anggur itu. "Kombinasi ini luar biasa! Sejak kapan kau ahli mencampur minuman?"

"Entahlah. Aku hanya merasa kombinasi mereka cocok" jawab Tobirama. Ia sudah menghabiskan satu gelas dan hendak mengisi kembali gelasnya.

"Kau memberiku kejutan yang luar biasa. Aku suka semuanya, lilinnya, bunganya, aroma terapinya, bahkan hingga rasa anggur dan suasananya" Aku menatap Tobirama lurus.

"Kembali ke pembicaraan tadi" Tobirama bersandar di kursinya. Ia menatapku dengan mata merahnya yang tajam. "Kerja kerasmu tidak ada hasilnya? Siapa yang bilang begitu padamu?"

"Aku sadar dengan sendirinya, Tobirama" jawabku. Aku kembali menyesap anggur itu. "Sudah dengar kabar Takeda Uchiha?"

"Aku turut berduka untuknya dan keluarganya" ujar Tobirama pelan.

"Aku-lah yang bertanggung jawab atas kematiannya. Aku ninja medis. Tugasku adalah menyelamatkan nyawa orang-orang. Aku tidak melakukan tugasku dengan baik" Aku menghabiskan minumanku. "Banyak orang yang mati dibawah perawatanku. Aku.. tidak berguna"

Sejenak, suasana diantara kami terasa hening.

Tobirama mengisi gelasku yang sudah kosong. "Akhir-akhir ini memang banyak pertarungan dan serangan tidak terduga dimana-mana. Sudah kuduga, perang tidak bisa dihentikan hanya karena Madara setuju bergabung dengan kita"

"Perang, lagi-lagi perang" aku berguman lirih. "Tobirama, bisakah kita hidup di satu waktu tanpa perang?" Aku meneguk anggur itu, mulai merasa lebih hangat dan rileks. "Aku lelah melihat banyak orang mati karena perang"

"Aku yakin kau sudah berusaha sekuat tenaga menolong mereka" Tobirama menatapku. "Jika akhirnya mereka pergi, itu bukan salahmu. Mungkin memang sudah ditakdirkan seperti itu"

"Mereka datang padaku. Emm.. mereka semua selalu terluka parah. Selalu saja tidak banyak hal yang bisa kulakukan" aku menundukkan kepala. "Akhirnya aku hanya bisa melihat wajah kaku jenazah mereka dan mendengar tangisan pilu orang-orang yang menyayangi mereka"

"Sepertinya kau melupakan banyak hal akhir-akhir ini" Tobirama bergumam pelan. "Kau memang sudah gagal beberapa kali. Tapi, apa kau tidak ingat kau juga sudah menyelamatkan banyak jiwa lain? Mungkin tidak bisa kusebutkan satu per satu. Kau menyelamatkan temanku, Akira Senju dan aku sangat berterima kasih untuk itu"

"Ah.. Akira Senju" aku berusaha mengingat-ingat. "Waktu itu aku membuat keputusan sepihak untuk mengamputasi tangannya tanpa meminta persetujuan keluarganya lebih dulu. Akhirnya sekarang dia tidak bisa jadi ahli pedang lagi"

"Kau bilang apa?" Tanya Tobirama heran. "Jika kau tidak memotong tangannya, dia bisa mati karena racun kugutsu Suna yang menyebar luar biasa cepat. Kau menyelamatkan nyawanya dan itu yang paling penting. Hargai kerja kerasmu dan berhenti menyalahkan diri sendiri"

Aku mengangkat kepala. Entah kenapa kata-kata yang baru saja diucapkan Tobirama seperti membuatku sadar akan satu hal.

"Kita mungkin tidak bisa kembali ke masa lalu yang terlihat lebih baik dari sekarang" Tobirama menatapku lurus. "Sesulit apapun keadaan sekarang, percayalah ada hal baik yang tidak dimiliki masa lalu dan masa depan"

Tobirama mengambil setangkai bunga lily putih dari dalam vas bunga, lalu menyerahkannya padaku.

"Teruslah lakukan hal terbaik yang bisa kau lakukan dalam hidup. Dengan semangat itu, kau bisa menolong lebih banyak orang lagi" ujar Tobirama kepadaku. "Jadikan masa lalu sebagai pelajaran berharga, masa kini sebagai realisasi pembelajaran masa lalu dan masa depan sebagai pencapaian atas hasil belajarmu"

Aku tertegun. Kata-kata itu..

Mataku mulai terasa panas. "Tobirama, kau..."

"Ini, terimalah" Tobirama mendekatkan bunga itu ke wajahku, membuat tanganku seakan bergerak sendiri untuk menerimanya. Ia memperhatikan wajahku dan tersenyum.

"Kau memang mirip bunga lily. Mungkin karena alasan itu lily putih jadi bunga kesukaanmu" Tobirama bergumam pelan. "Mereka bilang bunga lily putih punya makna ketulusan, pengabdian, rasa simpatik, kehidupan baru, dan juga persahabatan"

Aku begitu terharu. Perkataan Tobirama begitu menyentuh hati, membuatku merasa hangat setelah mendengarnya. Sejak banyak kejadian tidak menyenangkan akhir-akhir ini, entah kenapa kata-katanya seakan mengangkat beban berat di pundakku.

"Tobirama, terima kasih.." Aku menyeka air mata yang memenuhi kelopak mataku. "Terima kasih.. terima kasih.."

"Kembali kasih" balas Tobirama. Di ruangan dengan cahaya temaram ini, aku bisa melihat senyumnya padaku begitu tulus. "Sepertinya kau sudah merasa lebih baik. Apa aku salah?"

Aku menggeleng. "Aku sudah baik-baik saja, Tobirama. Kau tidak perlu khawatir"

"Syukurlah" ujar Tobirama pelan. Ia bangkit berdiri, berjalan menuju lemari pakaiannya dan kembali duduk di depanku.

Tobirama menatapku lurus. "Aku ingin memberimu satu kejutan terakhir. Semoga kau bisa menerimanya dengan baik"

Tobirama mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari dalam sakunya. Aku mengamati kotak itu sambil bertanya-tanya apa isi didalamnya. Untuk ukuran sekecil itu, mungkinkah...

Tobirama membuka kotak itu dan dua pasang cincin putih berkilau balas menatapku ketika kotak itu terbuka. Satu cincin terlihat lebih kecil dari yang lain, namun terlihat lebih cantik dengan batu berwarna biru kecil diatasnya.

"Aku harap cincin ini bisa jadi simbol ikatan diantara kita. Seperti bentuk lingkaran dari cincin ini, aku harap ikatan diantara kita tidak akan pernah putus" Ia menatapku lurus. "Nah, Nozu Senju. Kau tidak keberatan aku memakaikan ini di jari manismu?"

Kejutan yang diberikan Tobirama malam ini membuatku kehabisan kata-kata. Aku hanya bisa mengangguk beberapa kali dan meletakkan tanganku diatas meja. Tobirama memakaikan cincin dengan batu biru yang berukuran lebih kecil di jari manisku.

Samar-samar aku bisa melihat tangan Tobirama gemetar. Aku sangat mengerti Tobirama bukan orang yang biasa mengungkapkan perasaannya seperti ini. Dia pasti.. sudah berusaha keras memberikan semua ini untuk membuatku senang.

Tobirama menghela napas. Ia tersenyum begitu melihat cincin itu pas di jariku. "Ayo pakaikan cincin yang satunya di tanganku. Cincin ini sepasang. Jika satunya ada di tanganmu, yang lain harus ada di tanganku"

Aku menatap Tobirama terharu. Ia meletakkan tangannya di atas meja, menungguku menyematkan cincin itu di jari manisnya.

Sungguh, apa yang terjadi saat ini rasanya seperti mimpi. Aku tidak menyangka akan ada saat romantis seperti ini bersama Tobirama seumur hidupku. Aku mengambil cincin itu dari kotaknya dan memakaikannya di jari manis Tobirama.

Tobirama mengamati tangan kirinya yang kini terlihat berbeda dan tersenyum senang. Ia menuangkan kembali anggur putih kedalam gelasnya, lalu segera meminumnya. Pandangannya tertuju pada jam di kamar.

"Sudah malam sekali" Tobirama bangkit berdiri dari kursi. "Banyak hal yang harus kita lakukan besok. Kita harus istirahat"

Tobirama berjalan menuju tempat tidur. Ia berhenti di tengah jalan dan mengamati langit malam dari balik jendela kamar yang kini tidak tertutup tirai bambu.

Aku diam, menatap siluet sosoknya dari tempatku duduk.

Tobirama Senju, pria itu.. setelah apa yang sudah kami lewati bersama hingga saat ini, perasaan suka yang kurasakan padanya seperti bertambah berkali-kali lipat. Walaupun kami banyak berselisih paham, justru pertengkaran seperti itulah yang jadi perekat hubungan kami. Aku merasa seperti jatuh pada perasaan cinta yang dalam begitu melihatnya.

Aku bangkit berdiri, berjalan menghampiri Tobirama yang masih memandangi langit malam.

Aku menatap wajahnya penuh rasa haru. "Tobirama, terima kasih.."

"Berhentilah mengatakan 'terima kasih' berulang-ulang. Kau terdengar seperti mesin" Tobirama menyela perkataanku. "Ayo kita istirahat"

Bagaimana bisa aku membalas kebaikannya padaku hingga malam ini selain mengatakan terima kasih? Jujur, aku tidak tahu apa yang dia suka. Aku juga tidak bisa memberi barang yang disukainya saat ini. Tapi.. Tobirama membuatku merasa tersentuh malam ini dan aku ingin memberikan sesuatu yang bisa membuatnya merasakan hal yang sama.

Dalam hitungan detik, aku berusaha berpikir. Mungkin saja.. ada satu hal yang bisa kuberikan pada Tobirama, sebagai tanda terima kasihku. Aku tidak tahu dia menyukainya atau tidak, tapi setidaknya aku bisa memberikan ini sebagai tanda cintaku padanya.

Walaupun sudah membuat banyak masalah, semoga saja malam ini aku bisa memberi sedikit kebahagiaan untuk dia yang sudah membuatku bahagia.

Aku menarik tangan Tobirama, membuatnya membalikkan badan dan kembali menatapku.

Mendadak muncul sebersit keraguan dalam pikiranku, membuatku diam terpaku menatap wajahnya. Wajahku terasa panas dan jantungku mulai berdebar. Pasti Tobirama melihat wajahku yang merona merah sekarang. Bagaimana ini? Aku malu!

'Apa tidak apa-apa jika aku memberanikan diri untuk...'

Tobirama menatapku lurus. Sebelum aku sempat berpikir bagaimana cara terbaik untuk mengungkapkan perasaanku padanya, Tobirama lebih dulu memegang wajahku dengan kedua tangannya. Ia memiringkan kepala, lalu mencium bibirku.

Aku luar biasa terkejut hingga jantungku berdetak tiga kali lebih cepat. Bagaimana bisa dia tengah memikirkan hal yang sama denganku? Apa ini berarti dia juga menginginkanku sebagaimana aku menginginkannya? Kuharap pemikiran ini tidak salah.

Aku memberanikan diri untuk membalas ciumannya yang terasa begitu bergairah. Oh.. sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini, perasaan saat bibir kami bertemu dalam sebuah ciuman panas dan aku merindukan itu.

Kuputuskan untuk membalas semua pemberiannya malam itu dengan ciuman yang menunjukkan seberapa sedalam perasaanku padanya.. hanya untuknya...

'Tobirama Senju, aku mencintaimu'

-8-8-8-

Nozu menarik tangan Tobirama, membuat Tobirama menoleh dan menatapnya.

'Apa ada yang ingin dikatakannya lagi malam ini?'

Tobirama menatap Nozu lekat-lekat, membuat wajah gadis itu merona merah. Nozu dengan wajah yang tersipu malu terlihat lebih cantik dan... menggoda? Entahlah apa kenyataannya benar seperti itu atau Tobirama yang berpikir terlalu jauh.

Setelah menjalani waktu-waktu sulit belakangan ini, Tobirama ingin memberi sesuatu untuk Nozu, hal yang disukai wanita itu tentunya. Ia berharap Nozu bisa kembali menjalani hari dengan pikiran positif seperti biasanya. Akhir-akhir ini Nozu terlihat seperti orang lain, selalu pulang larut malam dengan tatapan lelah.Tobirama khawatir jika Ia terus hidup tidak sehat seperti itu.

Hana memberi banyak informasi yang sangat membantu malam ini. Kejutan itu sukses membuat Nozu menjadi lebih baik malam ini. Tujuannya tercapai dan Tobirama merasa puas dengan itu. Ingin rasanya Ia menutup malam ini dengan sebuah ciuman manis, membuat semuanya terlihat sempurna.

Namun apa yang terjadi justru berlawanan dengan apa yang dipikirkannya. Ciuman manis itu kini jadi semakin panas dan Tobirama tidak bisa menghentikannya.

Tapi saat ini bukankah Nozu sedang lelah? Tidak seharusnya Tobirama membuat Nozu lebih lelah lagi. Seharusnya sekarang Ia tidur sambil memeluk Nozu, membuatnya beristirahat senyaman mungkin, bukan menciumnya seperti ini.

Beberapa menit setelahnya, Tobirama lebih dulu melepaskan diri. Bukannya merasa puas, Tobirama justru menginginkan lebih. Ia menatap Nozu yang tengah mengatur napasnya.

"Ini.. kejutan untukku?" Tanya Tobirama dengan suara serak. Ia menempelkan dahinya di kepala Nozu.

Nozu yang masih terengah-engah hanya mengangguk.

"Aku harap kau suka, Tobirama" Nozu menyandarkan tubuhnya pada Tobirama.

Tobirama tersenyum. Sepertinya kata 'suka' tidak cukup menggambarkan apa yang dirasakannya sekarang. Sudah lama Ia merindukan perasaan saat mereka melakukan interaksi seperti ini. Tobirama seringkali memikirkannya di waktu-waktu luang dan betapa senangnya Ia menerima kejutan yang memang sudah diinginkannya sejak lama.

"Aku rindu saat bibir kita bertemu" Tobirama merengkuh Nozu kedalam pelukannya. "Aku begitu menikmati ciuman tadi. Terima kasih"

"Aku juga begitu, Tobirama" Nozu berbisik pelan.

Tobirama menatap Nozu dengan tatapan dalam. Setelah ciuman tadi, keinginannya untuk menyentuh wanita itu bertambah besar. Ia memeluk Nozu dan kembali memberi ciuman dengan bergairah.

Bukan hanya Tobirama, Nozu terlihat begitu menikmati momen itu. Ia menutup mata, membiarkan dirinya bergerak mengikuti nalurinya sebagai wanita. Tanpa sadar, tangan Nozu bergerak pelan mengelus punggung pria itu, membuat ciuman mereka semakin panas.

Tobirama tidak bisa menahan desiran aneh yang ada di pangkal pahanya, membuat bagian bawahnya terasa tegang. Sial! Sentuhan Nozu benar-benar membakar Tobirama malam itu.

Tobirama kembali melepaskan ciumannya. Nozu menatapnya sambil mengerutkan dahi, tanda protes. Tobirama tersenyum. Ia yakin Nozu menginginkan hal yang sama dengannya malam ini.

"Nozu Senju, jika bermain air, kau akan basah" Tobirama menatap Nozu dengan tatapan dalam. "Aku pikir kau cukup cerdas untuk mengerti apa yang baru saja kukatakan"

Nozu balas menatap Tobirama dengan tatapan dalam. Sebagai wanita dewasa, Ia mengerti betul apa maksud perkataan Tobirama. Pria itu memang pandai merangkai kata.

"Kau tidak bisa membuatku menyerah secepat itu, Tobirama" Nozu tersenyum. "Butuh banyak air untuk memadamkan api. Jika tidak, kau akan terbakar"

Tobirama masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nozu. "Aku suka kata-katamu. Benar, Kau membuatku terbakar malam ini..."

Tobirama kembali memberi ciuman lembut pada pipi dan leher Nozu, sementara Nozu diam. Ia begitu menikmati perasaan saat Tobirama menyentuhnya.

"Kita harus mencari tempat yang lebih nyaman" Tobirama menarik tusuk konde yang dikenakan Nozu, membuat rambut hitamnya jatuh tergerai lalu menjatuhkan tusuk konde itu ke lantai.

"Cantik..."

Tobirama bergumam pelan saat kedua matanya menelusuri tubuh Nozu dari atas hingga bawah. Nozu yang tersipu malu hanya tersenyum dengan wajah merona merah.

Dengan satu gerakan, Ia menggendong Nozu dengan mesra dan membaringkan tubuhnya perlahan di atas tempat tidur.

Tobirama berbaring di sebelah Nozu. Matanya tidak dapat lepas dari wanita itu. Ada perasaan aneh yang Ia rasakan saat ini, membuat jantungnya berdebar kencang. Tobirama menatap Nozu lekat-lekat.

Wanita itu balas menatapnya dengan mata hitamnya yang besar dan lentik. Tobirama tersenyum tanpa sadar. Ia sungguh beruntung memiliki istri yang cantik seperti Nozu.

Tobirama merengkuh Nozu kedalam pelukannya. Bagaimana Ia memberitahu Nozu akan perasaan ini? Ada rasa bahagia yang hangat di dadanya. Disisi lain, ada keinginan kuat untuk menjadikan wanita itu miliknya malam ini. Kenapa perasaan Tobirama malah bercampur aduk di saat seperti ini?

"Aku mencintaimu, Nozu"

Satu kalimat pendek, yang Tobirama rasa cukup menjelaskan perasaannya malam ini.

Pernyataan cinta itu membuat dada Nozu terasa hangat. Baru kali ini Tobirama mengungkapkannya setelah sekian lama mereka bersama. Nozu balas memeluk Tobirama erat. Ia mencium leher Tobirama dengan lembut, lalu melepas pelukannya. Nozu beranjak bangun dan kini berada pada posisi setengah duduk sambil menatap wajah Tobirama dari atas. Ia tersenyum tulus.

"Tobirama Senju, aku mencintaimu"

Nozu kembali mencium bibir Tobirama dan Tobirama menyambutnya dengan senang hati. Walaupun malam ini Ia sudah berkali-kali mencium Nozu, Tobirama tidak merasa bosan sedikitpun. Ia balik menindih Nozu dan terus menciumnya dengan panas.

Nozu berusaha mengimbangi gerakan Tobirama. Pria itu melepaskan ciumannya, lalu tangannya melepas obi yang melilit kimono Nozu. Ia menatap Nozu dengan mata merahnya yang tajam.

"Kau milikku, Nozu" ujar Tobirama penuh penekanan. Perlahan, Ia mulai melepas kain kimono yang membalut tubuh Nozu, membuat Nozu terkesiap malu dan menutup kembali kain itu dengan spontan.

Tobirama tertawa pelan melihat tingkah Nozu yang kini menoleh ke arah lain dengan wajah merah padam. Ia tersenyum.

"Aku suamimu. Tidak perlu malu" Tobirama menarik tangan Nozu dan meletakkan tangan itu di dadanya. "Aku pikir kau perlu melakukan hal yang sama. Rasanya tidak nyaman jika terus mengenakan pakaian seperti ini"

Nozu menatap Tobirama. Sejenak ada keraguan di matanya. Mereka saling mencintai dan sudah menikah. Hal ini wajar terjadi. Tapi kenapa Nozu merasa begitu malu? Melihat Tobirama membuka satu per satu pakaiannya dengan tatapan seperti itu membuatnya luar biasa malu.

Tobirama kembali memberi ciuman dalam padanya, seakan memberi tanda agar Nozu tidak ragu menyentuhnya, sama seperti yang dilakukannya sekarang. Perlahan, Nozu menggerakkan tangannya untuk melepas seluruh pakaian yang dikenakan Tobirama.

Tobirama tidak bisa menahan diri untuk melepas seluruh pakaian yang dikenakan Nozu dengan cepat. Sensasi hangat dan sensual saat kulit mereka bersentuhan membuat keduanya semakin terbakar. Tobirama bergerak cepat memberi ciuman di seluruh tubuh Nozu yang kini terlihat jelas tanpa busana, membuat wanita itu mengerang saat menikmati tiap sentuhan yang diberikan Tobirama.

'Ah! Bagaimana bisa suaranya terdengar begitu sensual?'

Tangan Tobirama bergerak menelusuri tiap lekukan tubuh Nozu, membuat gairah Tobirama memuncak hingga ubun-ubun. Tubuh wanita itu begitu menggairahkan. Kulitnya yang halus, lekuk tubuhnya yang sempurna, dadanya yang menggoda.. Rasanya Tobirama seperti orang yang kehilangan akal sehat saat ini.

Sentuhan Tobirama membuat ada desiran aneh yang terasa di pangkal paha Nozu. Baru kali ini Ia melihat Tobirama tanpa busana, membuat Nozu benar-benar malu. Tubuh pria itu yang berotot dan proporsinya yang bagus membuat pria itu terlihat lebih tampan.

Tatapan Nozu seperti bergerak sendiri ke satu tempat di bagian bawah tubuh Tobirama yang selama ini membuatnya begitu penasaran. Ia tidak pernah membayangkan akan ada hari dimana Ia bisa melihatnya secara langsung. Momen ini sungguh intim dan hingga detik ini Nozu tidak percaya Ia tengah melakukanya dengan Tobirama Senju, pria yang sangat dicintainya.

Ah! Nozu luar biasa malu begitu matanya melihat milik Tobirama yang sudah menegang di bawah, hingga tanpa sadar Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya panas seperti mendidih. Bagaimana bisa melihat Tobirama seperti ini membuatnya bergairah?

Tobirama tersenyum melihat tingkah Nozu yang terlihat canggung. Wajar saja, mengingat ini adalah saat pertama untuk mereka. Mungkin saja para wanita merasa malu untuk bergerak dan cenderung menunggu instruksi dari si pria. Tapi, bukankah wanita yang memulai juga terlihat seksi?

Tobirama kembali menarik tangan Nozu dan meletakkannya di atas pahanya, membuat Nozu terkejut.

"Aku yakin banyak yang ingin kau ketahui disini" Tobirama berbisik serak. "Apa kau butuh bantuan untuk mengarahkanmu?"

Nozu diam. Ia bukan anak kecil yang tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini. Dengan pengetahuannya sebagai ninja medis, Nozu jelas mengerti apa yang harus dilakukannya saat ini. Tapi rasa malu luar biasa seakan menahannya untuk bergerak lebih jauh.

'Apa yang kau pikirkan, Nozu? Kau mencintainya dan ingin membuatnya senang 'kan? Jangan malu!'

Nozu menggeleng pelan. Ia memberanikan diri menatap wajah Tobirama dan berusaha tersenyum.

Perlahan, tangannya bergerak menelusuri paha Tobirama dan area disekitarnya. Rasa percaya dirinya naik begitu mendapati Tobirama yang terlihat begitu menyukai sentuhannya. Justru sebagai ninja medis, Nozu punya pengetahuan lebih dibanding wanita lain yang baru saja menjalani malam pertamanya. Semoga saja Ia bisa melakukannya dengan baik malam ini.

Sentuhan Nozu di beberapa bagian tubuhnya yang tidak biasa membuat Tobirama mengerang. Sepertinya Nozu sudah menyingkirkan rasa malunya. Tobirama tersenyum. Jadi ini kah sentuhan sensual seorang ninja medis? Dengan sentuhan kecil yang tidak biasa di titik tertentu, Nozu membuatnya merasakan kenikmatan yang baru kali ini dirasakan Tobirama di sekujur tubuhnya.

Banyak orang yang berkata Tobirama sangat beruntung bisa memiliki istri seorang ninja medis karena pengetahuan mereka tentang bagaimana memuaskan pasangan lebih baik. Mungkin perkataan mereka tidak salah.

Tobirama kembali mengerang. Ia begitu menikmati tiap sentuhan Nozu di tubuhnya. Ia kembali menyentuh Nozu balik sambil memberikan ciuman penuh gairah di bibir dan sekujur tubuhnya.

Semakin lama mereka saling menyentuh satu sama lain, Tobirama merasa ada ikatan batin sangat kuat diantara mereka. Ikatan itu seperti satu tingkat diatas perasaan cinta pada umumnya. Ikatan yang akan selalu menyatukan mereka, bahkan disaat mereka terpisah oleh apapun dan sejauh apapun.

"Kau menyukainya, Tobirama?" Nozu bertanya dengan suaranya yang lembut dan serak.

Merasakan sentuhan, mendengar suara desahan dan melihat wajah serta tubuh Nozu yang menggoda membuat kepala Tobirama pening.

"Lakukan lebih cepat" balas Tobirama dengan napas memburu.

Nozu melempar tatapan menggoda pada Tobirama. "Perintah diterima, Tuan Senju"

Nozu mempercepat gerakannya. Perkataan dan sentuhan Nozu membuat Tobirama kembali mendesah, menahan kenikmatan yang dirasakannya saat ini. Kini Nozu memberi ciuman kecil di tiap ruas tubuh Tobirama dari atas hingga bawah, membuat kepala Tobirama makin terasa pening.

"Tobirama, aku ingin lebih mengenal tubuhmu" Nozu bergumam pelan. "Coba kita lihat apa hal menarik yang bisa kutemukan di tiap bagiannya"

Tobirama menarik tubuh Nozu keatas dan menciumnya dengan panas. Ini tidak bisa dibiarkan. Jika Nozu menyentuhnya lagi, mungkin saja Tobirama tidak bisa menahan apa yang masih bisa ditahannya hingga saat ini.

Setelah ciuman yang begitu panas, Tobirama melepaskan diri dan keduanya mengatur napas mereka yang terengah-engah. Tubuh mereka kini basah oleh keringat. Nozu menyentuh dada Tobirama dengan gerakan sensual. Sentuhan kecil yang membuat pria berambut putih itu kembali mendesah.

"Tubuhmu basah sekali" Nozu mengusap punggung Tobirama. "Tobirama, kau baik-baik saja?"

Tobirama mengangguk pelan. Jari-jarinya yang panjang bergerak menelusuri area disekitar pangkal paha Nozu. Wanita itu mendesah pelan begitu merasakan sentuhan Tobirama di bagian tubuhnya yang paling sensitif. Ia tersenyum tipis, mendapati Nozu yang sudah siap menerimanya malam ini.

Tobirama kembali menindih Nozu. Ia tersenyum puas mendapati Nozu yang tengah menatapnya dengan tatapan bergairah. Nozu.. Dia terlihat lebih cantik, bahkan saat rambutnya tergerai berantakan dengan tubuh yang berkeringat.

Nozu memegang wajah Tobirama dengan kedua tangannya dan menariknya mendekat. Ia memberi ciuman panas yang singkat disana.

"Kau sangat tampan, Tobirama. Kau tahu? Melihat wajahmu seperti ini membuatku merasakan kepuasan tersendiri "

Tobirama tersenyum tipis. Tidak ada lagi yang diinginkan malam ini selain memiliki Nozu seutuhnya, sebagai istrinya.

"Aku akan lakukan dengan cepat. Kudengar itu bisa sedikit meringankan rasa tidak nyamannya" Tobirama bergumam pelan.

Nozu mengangguk. "Aku cukup tegang. Tapi kupikir kita sudah cukup melakukan apa yang harus kita lakukan"

Tobirama menggenggam tangan Nozu dengan erat. Ia menatap wanita itu tajam dengan mata merahnya yang kini terasa berkabut.

"Aku mencintaimu, Nozu"

Nozu balas menggengam tangan Tobirama dengan erat. Ia tersenyum menatap suaminya, pria Senju yang begitu dicintainya sejak dulu.

"Aku mencintaimu, Tobirama"

Kata-kata Nozu seperti memberi izin bagi Tobirama untuk masuk. Ia membuka kaki Nozu perlahan. Wanita ini masih perawan. Sebagai pria, sudah jadi kewajibannya untuk memberi kesan baik di saat pertama mereka. Tobirama menghela napas, berusaha menenangkan diri. Ia tidak boleh terburu-buru walaupun gairahnya kini sudah membuat kepalanya terasa sangat pening.

Tobirama mulai bergerak. Melihat Nozu yang sudah siap menerimanya. Dengan satu gerakan cepat, Tobirama berusaha sebisa mungkin untuk menembus penghalang itu dengan cepat.

Nozu terkesiap. Ia mencengkram tangan Tobirama dengan erat saat rasa sakit itu terasa. Walaupun sebagai ninja Ia seringkali dihadapkan pada luka disekujur tubuh, Nozu merasa rasa sakit ini berbeda dengan luka pada umumnya. Mengingat rasa sakit itu terasa di bagian tubuhnya yang sensitif, membuat rasa sakit itu makin terasa hingga membuat mata Nozu berair dan terasa panas.

Nozu baru mampu membuka mata ketika Tobirama sudah berada didalamnya. Rasa sakit yang perih itu masih terasa di pangkal pahanya. Proses itu terasa cukup sakit, seakan menghilangkan perasaan senang yang dirasakan Nozu sebelumnya. Ia menatap Tobirama yang ternyata tengah menatapnya khawatir.

"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Tobirama khawatir. Ia merendahkan kepalanya, lalu memberi ciuman lembut di dahi Nozu.

Nozu tersenyum. Pria yang setiap harinya selalu berwajah datar itu kini terlihat jelas memandangnya khawatir. Ekspresi itu membuat Nozu terharu. Setelah melalui berbagai hal, kali ini Nozu benar-benar merasa Tobirama mencintainya dengan tulus.

"Ada apa? Kenapa tidak menjawab?" Tanya Tobirama yang kini terlihat lebih khawatir. Posisi badannya terlihat canggung. "Apa rasanya sangat sakit? Jika begitu.."

Nozu kembali menggenggam erat tangan Tobirama dan menggeleng, memberi tanda agar Tobirama tetap berada di posisinya sekarang.

"Aku baik-baik saja" Nozu bergumam pelan. "Maaf membuatmu khawatir. Kita bisa memulainya lagi"

Nozu tertawa pelan melihat perubahan ekspresi wajah Tobirama yang tadinya terlihat begitu khawatir menjadi lega. Perubahan wajah Tobirama yang begitu kontras membuatnya tidak bisa menahan tawa. Sungguh, Tobirama yang ada di depannya sekarang jauh berbeda dengan Tobirama yang ditemuinya sehari-hari.

Tobirama menghela napas. "Aku tidak akan memaksa lebih jauh jika kau tidak nyaman"

"Aku sudah baik-baik saja" Nozu melempar tatapan sayang pada Tobirama.

Tobirama tersenyum. Ia balas melempar tatapan sayang pada istrinya. "Aku percaya padamu"

Setelah merasa lega mengetahui Nozu baik-baik saja setelah tahap sulit tadi, Tobirama mulai bergerak naik turun. Tidak perlu waktu lama untuk mengembalikan keinginannya yang sempat terjeda rasa khawatir tadi. Tobirama harus berusaha mengatur gerakannya agar Nozu merasa nyaman setelah rasa sakit tadi.

Lagi-lagi apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Setiap gerakannya didalam Nozu membuatnya merasakan kenikmatan luar biasa yang selama ini belum pernah dirasakannya. Perasaan itu membuat gerakan Tobirama bertambah cepat seiring bertambahnya sensasi menyenangkan yang tengah dirasakannya. Rasanya sangat sulit untuk menahan diri hingga di titik ini.

Nozu cukup terkejut saat Tobirama bergerak makin cepat. Rasa sakit di selangkangannya lambat laun tergantikan oleh perasaan yang jauh berbeda. Gerakan Tobirama yang cepat perlahan membuatnya merasakan sensasi kenikmatan yang baru kali ini dirasakannya. Perlahan, sensasi itu seolah-olah menarik kembali perasaan bahagia yang dirasakannya di awal tadi. Perasaan itu kini terasa hampir menelannya...

"Kita lakukan bersama" ujar Tobirama serak. Pandangannya kini berkabut dan kepalanya pusing. Ia sungguh tidak dapat menahan diri lagi.

Dalam satu gerakan, mereka melepaskan semuanya dalam ledakan perasaan yang terasa luar biasa. Sungguh malam yang aneh, namun terasa begitu istimewa. Setelah sesi yang melelahkan itu berakhir manis, keduanya saling menatap dalam hembusan nafas yang memburu. Mereka sudah menjadi satu dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka, apapun yang terjadi.

Tobirama yang dari tadi menahan diri agar tidak menindih seluruh tubuh Nozu akhirnya menyerah. Ia sungguh lelah setelah apa yang baru saja terjadi. Tangan dan kakinya terasa kaku, membuat Tobirama akhirnya merebahkan tubuhnya di atas Nozu.

Tobirama segera menarik tubuhnya keatas kembali. "Maaf..."

"Berbaringlah. Kau pasti lelah, Tobirama" sela Nozu. Ia memeluk pria itu, memintanya agar tidak beranjak bangun.

"Aku... jauh lebih berat darimu" ujar Tobirama tersengal.

"Ini belum terlalu berat" Nozu mencium pipi Tobirama yang kini ada disebelah wajahnya. "Aku pernah tertimpa benda yang lebih berat daripada tubuhmu dan aku masih hidup"

"Benarkah?" Tanya Tobirama yang tanpa sadar tersenyum. Kata-kata Nozu terdengar lucu di teliganya.

Mereka kembali diam. Saling menatap satu sama lain sambil mengatur napas setelah kejadian luar biasa yang baru saja mereka rasakan bersama.

"Nozu, terima kasih"

Nozu tersenyum. Ia menyentuhkan ujung hidungnya dengan sayang ke wajah Tobirama.

"Kembali kasih" Nozu bergumam pelan. "Terima kasih untuk malam ini, Tobirama"

Tobirama mengangguk dan tersenyum tulus. Ia mengangkat tubuhnya, lalu melepaskan diri seluruhnya dari Nozu. Tobirama kini membaringkan tubuhnya yang lelah disebelah Nozu, memejamkan mata dan mengistirahatkan pikirannya yang kini masih melayang-layang memikirkan sensasi luar biasa yang baru saja dirasakannya.

"Kau pasti lelah" Nozu memijat tangan Tobirama dengan pelan setelah mereka beristirahat sejenak. "Tapi kita tidak bisa langsung tidur. Lebih baik kita membersihkan diri dulu. Aku juga punya sedikit urusan di kamar mandi"

"Kau benar-benar ninja medis. Mementingkan kesehatan di segala keadaan" Tobirama membuka mata dan menatap Nozu dengan sayang. "Jika kau perlu bantuan di kamar mandi, jangan segan minta bantuanku"

Nozu balas tersenyum dan mengangguk. Tobirama bangun dari tempat tidur. Ia menggendong Nozu hingga ke depan pintu kamar mandi. Setelah Nozu berkata Ia tidak perlu dibantu, Tobirama kembali ke tempat tidur setelah minum segelas air. Ia menunggu hingga Nozu selesai dengan urusannya sambil membereskan pakaian mereka yang berserakan.

Saat Nozu keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbalut handuk, Tobirama berjalan dan memberinya segelas air. "Kau pasti haus. Aku akan beres-beres dulu. Berbaringlah lebih dulu. Aku akan menyusul"

Nozu menerima gelas itu dan meminum air di dalamnya hingga habis. "Terima kasih, Tobirama"

Tobirama mengangguk dan berjalan ke kamar mandi, sementara Nozu memutuskan kembali berbaring. Tatapannya tertuju pada noda darah dan pakaian mereka yang kini terlipat rapi di atas tempat tidur. Nozu menepuk wajahnya berkali-kali, meyakinkan diri bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah mimpi.

Bagaimana bisa Ia dan Tobirama kini benar-benar menjadi suami istri? Nozu diam terpaku. Ia sungguh tidak percaya malam ini Ia sudah bukan seorang gadis lagi. Apa yang sudah dia lakukan bersama Tobirama membuat wajahnya merona merah malu. Jadi inikah perasaan seorang gadis di malam pertamanya?

"Kenapa belum berbaring? Kau baik-baik saja?"

Suara Tobirama menyadarkan Nozu dari lamunannya. Wanita itu tersenyum menatap Tobirama yang kini tengah berdiri di depan pintu kamar mandi.

"Kau sudah membereskan semuanya" Nozu menatap Tobirama terharu. "Terima kasih"

"Tidak dengan sepreinya" balas Tobirama segera. "Mungkin besok pagi. Malam ini lelah sekali. Sekarang sudah hampir pukul dua pagi"

Tobirama tersenyum. Ia berjalan mendekati Nozu dan melepaskan handuk yang melilit tubuhnya. "Aku ingin tidur denganmu tanpa pakaian malam ini"

Tobirama membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia kembali tersenyum menatap Nozu yang naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelahnya dengan canggung. Tobirama langsung memeluk Nozu begitu wanita itu meletakkan kepalanya di bahu Tobirama.

"Besok kau ada jadwal pagi di akademi?" Tanya Tobirama.

Nozu mengangguk. "Aku ada kelas pagi. Pasti besok aku tidak bisa bangun pagi. Bagaimana ini?"

"Lupakan kelas pagi" Tobirama mencium dahi Nozu. "Tidurlah sepuasnya malam ini, Nozu. Kau butuh banyak istirahat. Pagi nanti, aku akan kirimkan surat ke akademi kalau besok kau tidak bisa datang karena ada diskusi penting denganku"

Tobirama meletakkan tangan Nozu diatas pangkal pahanya, membuat Nozu tanpa segaja menyentuh milik Tobirama yang kini sudah menegang lagi. Ia menatap Tobirama heran.

"Tobirama, kau sudah.."

"Jika kau ada waktu luang pagi nanti, aku ingin kita menggunakan itu untuk sesi selanjutnya" sela Tobirama sambil melempar tatapan menggoda.

Wajah Nozu memerah seperti udang rebus, membuat Tobirama tertawa pelan.

"Aku begitu menikmatinya, Nozu. Aku jadi terus menginginkannya dan satu kali bukanlah jumlah yang cukup" Tobirama melirik Nozu dengan mata merahnya yang tajam. "Tapi malam ini, aku lebih memilih untuk membuatmu merasa nyaman. Ayo kita tidur"

Perkataan Tobirama membuat dada Nozu terasa hangat. Tobirama tidak hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Ia juga memikirkan kondisi dan perasaan Nozu. Tobirama begitu memperhatikannya, membuat Nozu terharu.

Terlintas di pikiran Nozu bagaimana mereka bertemu di hutan pertama kali. Tobirama terasa begitu jauh. Ketika Nozu hendak menolong Tobirama di tengah perang, pria itu justru menolongnya balik dengan memberi transfusi darah yang dibantu Hashirama. Saat itu, Nozu berpikir tidak ada kesempatan baginya untuk mendekatkan diri dengan Tobirama. Tapi sekarang?

Ia bahkan bisa menyentuh pria itu dan mengungkapkan rasa cintanya dengan bebas. Nozu menatap wajah Tobirama. Takdir sungguh baik. Pernikahan politik yang mereka jalani sudah berubah menjadi pernikahan penuh cinta.

Nozu tersenyum simpul. Ia juga harus banyak berterima kasih pada Hashirama yang mengusulkan pernikahan itu. Jika tidak, mungkin saja saat ini Ia dan Tobirama hidup terpisah, tidak mengenal satu sama lain.

Tanpa disangka, Tobirama yang malam itu hampir membunuhnya, Tobirama yang dingin dan tidak menyukainya, Tobirama yang selalu berkata sinis padanya, kini berubah menjadi pria yang begitu tulus mencintainya.

Nozu menghirup kuat-kuat aroma kayu manis dari tubuh Tobirama. Ia memeluk pria itu dengan erat. Tidur dalam pelukannya, bersandar didadanya yang bidang, ditemani aroma kayu manis ternyata terasa begitu hangat. Nozu mengangkat kepalanya, lalu memberi kecupan mesra di bibir Tobirama.

"Tobirama, aku sangat menyukaimu. Terima kasih" Nozu bergumam pelan dengan suara senang.

Tobirama merasa sangat senang, namun tubuhnya terasa begitu lelah. Aroma tubuh Nozu dan wangi minyak aromaterapi yang memenuhi ruangan seakan menghasut matanya agar tertutup rapat. Ia memeluk tubuh Nozu yang terasa begitu halus dengan erat.

"Kembali kasih, Nyonya Senju" ucap Tobirama sebelum akhirnya mereka jatuh kedalam alam mimpi masing-masing, mengakhiri hari yang luar biasa itu.

To be continued..

-8-8-8-

A/N : Halo Readers semuanya.. saya datang kembaliiii.. :D

Kali ini saya datang dengan chapter yang romantis.. :3

Ini pertama kalinya saya menulis 'bed scene' pasangan yang sudah menikah.. semoga saja saya bisa menuliskannya dengan baik yaa.. mengingat banyak orang yang tidak bisa menuliskan momen ini dengan baik, jujur, saya takut penulisannya malah jadi 'over'.. (-_-")

Akhirnya Tobirama dan Nozu benar-benar jadi pasangan yang saling mencintai.. :D Selamat untuk kalian berdua!!!! (#authormenangisbahagia)

Semoga kedepannya kalian berdua rukun-rukun dan selalu bersama di waktu senang maupun susah.. :))

Saya memutuskan untuk memotong chapter ini sampai disini supaya 'romantic feeling'-nya tidak hilang.. hihihi.. :)

Saya akan kembali dengan chapter selanjutnya secepat mungkin.. terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mendukung saya hingga saat ini.. support kalian berarti sekaliiii... :D

Semoga kalian masih penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya.. hihihi, see you on the next chapter!!