Harry menarik napas dalam dalam dan bersandar di dinding luar dapur. Sudah lama sekali dia tidak kehilangan kendali sampai membuat sesuatu meledak seperti itu. Kalau saja bibi Marge tidak menjelek jelekkan ibunya, mungkin hal seperti itu takkan terjadi.
Yah, siapa yang tidak akan marah jika ibumu disama samakan dengan induk anjing? Tentu saja Harry marah, hal itu memicu sihirnya menggelegak dan membuat gelas anggur yang tengah dipegang bibi Marge pecah seketika.
Tidak. Harry harus tenang. Jangan sampai hal itu terjadi lagi. Formulir Hogsmeade lah taruhannya, dan ia ingin formulir itu ditanda tangani agar ia dapat pergi bersama Ron dan Hermione.
Yah, ia mendapat kiriman formulir itu tiga hari yang lalu. Tepat satu jam setelah ulang tahunnya. Harry sangat senang. Tentu saja ia ingin pergi ke satu satunya desa sihir non muggle di inggris dan bersenang senang di sana.
Dan perlu diingat, formulir Hogsmeade bukanlah satu satunya yang ia pertaruhkan disini, Harry bisa saja berurusan dengan kementrian.
Harry masih dibawah umur dan menurut undang undang sihir, ia tidak boleh menggunakan sihir diluar sekolah. Riwayat masa lalunya juga tidak bisa dibilang bersih. Baru musim panas lalu ia mendapat peringatan resmi yang jelas jelas mengatakan bila kementrian mendengar ada sihir lagi di Privet Drive, maka Harry akan dikeluarkan dari Hogwarts.
Didengarnya keluarga Dursley meninggalkan meja, Harry bergegas meninggalkan rumah. Ia butuh ketenangan omong omong.
Saat berada di halaman yang berada tepat disamping rumah nomor lima, Harry melihatnya. Si gadis perak yang merupakan tetangga barunya itu tengah mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumahnya.
Valerie memakai jaket tanpa retsleting kesukaannya yang kali ini berwarna putih. Dia duduk di bawah pohon beserta dengan makanan dan minuman ringan di sekelilingnya. Tangannya tengah memainkan sebuah gitar putih yang ada di pangkuannya sembari bernyanyi.
Meski tak mengerti dengan bahasa yang di nyanyikan si gadis perak, Harry tetap mendengarkan. Dia seolah terhipnotis dengan suara merdu yang keluar dari bibir gadis itu. Seakan alam mendukung, sinar mentari musim panas pun menyorot nya dengan indah. Angin yang berhembus menerbangkan helaian rambut keriting peraknya, menambah kesan menyejukkan bila dilihat.
Hanya satu kata yang bisa Harry gambarkan untuk Valerie saat ini. Cantik. Dan Harry terkekeh geli karena pikiran itu.
Merlin! Dia bahkan baru tiga belas, belum saat nya untuk memikirkan hal itu. Apalagi dia masih jadi incaran Voldemort sekarang.
"Hey, Harry! Kenapa kau tertawa di situ?" Harry tersentak. Dia ketahuan tetangga barunya. Mata gadis itu memicing. "Kau menertawakan suara ku, ya? Suara ku jelek, kan?"
"Tidak, tidak," Harry cepat cepat membantah. "Suaramu bagus, kok."
Gadis itu masih memicing. Tapi sedetik kemudian, ekspresi wajahnya kembali ceria. Dia melambaikan tangannya, meminta Harry untuk bergabung dengan piknik kecilnya.
"Kau pandai memainkan gitar," puji Harry, ketika ia mengambil tempat di hadapan gadis itu untuk bergabung dengan piknik kecilnya.
"Ah, biasa saja kok." Valerie merendah.
"Tapi aku tidak mengerti satu pun kata dari lagu itu," kata Harry polos, membuat Valerie tertawa kecil.
"Tentu saja, itu kan bahasa korea," katanya. "Mau dengar versi inggris nya?"
Harry hanya mengangguk sebagai jawaban. Gadis perak itu pun kembali memainkan gitarnya.
There is a song inside my heart
And it's longing to be played
So I'm taking up my old guitar today~
I have only one request
Hear me out as I confess
All the feelings I never could say~
Sekali lagi, Harry merasa terhipnotis dengan suara gadis perak di hadapannya. Tapi Harry menikmati itu.
My unending love for you, hollow words cannot describe
At times I hide behind a wall of pride
I'm standing in the open, although it's hard to do~
So listen carefully, I'll sing for you
Yeah, Harry mendengarkannya dengan seksama. Seperti apa yang diminta dari lirik lagu itu. Dan detik berikutnya, dia tertegun.
The way you cry, the way you smile
Will you ever know how much they mean to me~?
Words I regret, and the pain they left
Can I take it away?
Let me try to, now I'll sing for you~, sing for you~
And I hope it'll bring~ happiness
Bolehkah dia berharap lagu itu untuknya? Lirik lagu itu begitu telak memukul hatinya. Mengingatkan dia akan perlakuan keluarga Dursley yang menganggap dia tak berharga, juga orang orang dunia sihir yang menganggap dia Harry Potter si-anak-yang-bertahan-hidup, bukan Harry.
When tomorrow has begun
And you rise with the sun
Though I'll act the same as before
Gadis perak itu menatapnya dengan senyum yang terkembang. Membuat Harry merasa... entahlah, dihargai karena itu dirinya sendiri?
I meant it when I said
That you're an angel heaven sent~
Gadis itu kembali menghayati lagunya.
Every day I am blessed
So I'm here to confess
With the song from my heart
The way you cry, the way you smile
Will you ever know how much they mean to me?
Please keep my words in your memory
If you ever forget, then I'll tell you again~
Kembali. Gadis itu kembali menatapnya. Dengan ekspresi yang lebih kuat dari sebelumnya.
Yes, I promise that I'll sing for you, sing for you
Listen carefully, I'll sing for you...
Gadis perak itu selesai menyanyikan lagunya. Dia menatap dalam ke mata Harry. Manik kelabu bertemu dengan hijau cemerlang, saling mengirim sinyal untuk suatu kehangatan. Mereka berdua terjebak hening, sampai akhirnya Valerie bersuara.
"Kau berharga, Harry. Tidak peduli apapun yang dikatakan orang orang, kau tetaplah berharga." Kata gadis perak itu, tersenyum lembut. "Lebih baik untuk memikirkan hal yang menyenangkan dari pada hal hal sampah seperti itu."
Saat itu Harry sadar. Gadis perak di hadapannya dapat membaca dirinya bagaikan buku terbuka. Mencari apa yang salah dalam tulisan di buku, kemudian menghapus dan membubuhkan suatu hal yang dapat memperbaiki si buku, secara suka rela.
"Terima kasih, Valerie."
.oOo.
Harry melewatkan hari hari berikutnya dengan memaksakan diri untuk memikirkan buku panduan dan sapu-hal yang menurut Harry menyenangkan, seperti apa yang disarankan Valerie- setiap kali bibi Marge mengomelinya. Yah, meskipun pandangan Harry jadi kosong menerawang, karena bibi Marge menyuarakan pendapat bahwa Harry menderita lemah mental.
Akhirnya setelah lama ditunggu, tibalah malam terakhir bibi Marge dirumah itu. Keluarga Dursley mengadakan makan malam sebagai tanda perpisahan dengan mengundang Valerie sebagai tamu. Bibi Marge lah yang meminta nya sendiri. Ia bilang ingin makan bersama anak perempuan yang ingin dijodohkan dengan keponakan tersayangnya. Harry ingin muntah mendengarnya.
Bibi Petunia memasak makanan "wah" untuk makan malam dan paman Vernon membuka beberapa botol anggur. Mereka menikmati sup dan ikan salem tanpa sekalipun menyebut kesalahan Harry. Saat makan pai lemon, mereka dibuat bosan dengan paman Vernon yang bercerita tentang Grunnings dan perusahaan bor nya. Kemudian bibi Petunia membuat sebuah kopi dan susu untuk Valerie, sedangkan paman Vernon membuka sebotol brandy.
"Kau tergoda, Marge?"
Bibi Marge sudah agak terlalu banyak minum anggur. Mukanya yang besar sudah sangat merah.
"Sedikit saja kalau begitu..." katanya terkekeh, "tambah lagi... sedikit lagi... nah, begitu."
Dudley sedang makan potongan pai nya yang ke empat, sepertinya ia lupa ada Valerie disini. Bibi Petunia meminum kopi dengan kelingking mencuat. Dan Valerie terlihat menikmati susu nya dengan tenang. Harry sebetulnya sudah ingin menghilang ke dalam kamarnya, tetapi mata kecil paman Vernon menatapnya dengan marah. Dan ia tau dia harus duduk di situ sampai acara makan malam berakhir. Untung ada Valerie disini yang selalu tersenyum menenangkan ke arahnya.
"Aah..." kata bibi Marge, mendecakkan bibir dan meletakkan gelas brandy nya, "kau suka makan malam disini, Valerie?" Bibi Marge menoleh kearah Valerie yang disebelahnya.
"Tentu, bibi Marge. Terima kasih sudah mengundangku." Oh yeah, Valerie juga dipaksa untuk menyebutnya bibi seumur hidupnya. Sama seperti Harry.
"Kapanpun, dear. Kapanpun." Bibi Marge kembali meminum brandy nya hingga gelas itu kosong. Ia bersendawa keras dan mengelus perut besarnya.
"Aku selalu suka melihat anak yang berukuran sehat," bibi Marge meneruskan, mengedip kepada Dudley, "kau lihat, Valerie. Dudley akan menjadi laki laki berukuran layak, sama seperti ayahnya. Kau tak perlu ragu."
Harry, untuk pertama kalinya melihat ada kernyitan di dahi beserta tatapan aneh dari wajah Valerie. Sejauh ini, gadis perak itu selalu tersenyum manis. Jujur, Harry cukup puas melihatnya seperti itu.
"Ya, aku mau brandy sedikit lagi Vernon..." paman Vernon lekas mengisi gelas kosong bibi Marge, yang habis lagi dalam sekali teguk.
"Kalau anak yang satu ini..." dia mengedikkan kepalanya ke arah Harry, yang langsung merasa perutnya kencang. Buku panduan dan demi Valerie, pikirnya cepat.
"Yang mukanya kejam dan kerdil ini. Anjing juga ada yang begitu. Tahun lalu kusuruh kolonel Fubster uuntuk menenggelamkan yang seperti itu. Anjing jembel. Lemah. Turunan kelas rendah."
Harry berusaha mengingat halaman dua belas bukunya: Mantra untuk Menyembuhkan Sapu yang Malas Berbalik.
"Asalnya dari darah, seperti yang kukatakan kemarin. Darah buruk pasti kelihatan. Bukannya aku menjelek jelekkan keluargamu Petunia." Dia mengelus tangan bibi Petunia dengan tangannya yang seperti sekop, "tapi adikmu telur yang busuk. Mereka selalu ada dalam keluarga yang terbaik. Kemudian dia kabur dengan orang kelas rendah tak berguna, dan ini hasilnya di depan kita."
Harry menatap piringnya, dering aneh memenuhi telinganya. Pegang sapumu erat erat pada ujungnya. Tetapi, ia tidak bisa mengingat apa kelanjutannya. Suara bibi Marge seakan masuk kedalam dirinya seperti bor paman Vernon.
"Si Potter ini," kata bibi Marge keras keras, menyambar botol brandy dan menuangkannya ke gelas beserta di atas taplak meja, "kalian tidak pernah bercerita apa pekerjaannya."
Paman Vernon dan bibi Petunia tampak tegang sekali. Dudley bahkan mendongak dari pai nya, melongo menatap orang tuanya. Sedikit aneh Harry rasakan begitu melihat wajah datar tanpa ekspresi dari Valerie.
"Dia- tidak bekerja." Kata paman Vernon, setengah melirik Harry, "tidak punya pekerjaan."
"Seperti yang kuduga!" Seru bibi Marge. Menenggak brandy nya banyak banyak dan menyeka dagu dengan lengannya, "kau dengar ini Valerie, ini aku beri nasehat untuk anak gadis seperti mu. Kau tidak boleh menikahi orang seperti Potter ini. Pemalas, pengangguran, yang tak bisa apa apa..."
"Bukan," kata Harry tiba tiba. Meja langsung sunyi senyap. Sekujur tubuh Harry gemetar. Belum pernah ia semarah ini.
"TAMBAH BRANDY NYA!" Teriak paman Vernon, yang sudah pucat. Ia mengosongkan botol brandy ke gelas bibi Marge.
"Kau..." dia menggertak Harry, "pergi tidur sana."
"Jangan Vernon." Bibi Marge cegukan. Ia mengacungkan tangannya mencegah, mata kecil nya menatap ke arah Harry, "ayo nak, teruskan. Bangga akan orang tua mu, ya? Mereka mati dalam kecelakaan mobil. Mabuk kukira..."
"Mereka tidak mati dalam kecelakaan mobil!" Kata Harry, yang sekarang sudah berdiri.
"Mereka meninggal dalam kecelakaan mobil, pembohong kecil, dan meninggalkanmu untuk menjadi beban saudara mereka yang terhormat dan rajin bekerja!" Teriak bibi Marge, menggelembung Sangking marahnya. "Kau anak kurang ajar tak tahu terima kasih yang..."
Bibi Marge mendadak berhenti berbicara. Wajahnya yang besar merah menjadi semakin besar, mata kecil nya yang merah menajdi menonjol, dan mulutnya tertarik begitu kencang sampai tak bisa bicara. Detik berikutnya, bibi Marge terbang menjadi balon ke langit langit ruang makan.
Dan begitulah. Kekacauan tiba tiba terjadi. Mereka semua berteriak kepada Harry yang sedang mengambil koper beserta semua barang barang yang akan ia bawa ke Hogwarts dan juga menenteng sangkar Hedwig. Tapi Harry terlalu marah untuk melihat ke belakang. Ia bahkan mengancam paman Vernon dengan tongkatnya, tak memperdulikan tentang Valerie yang baru saja melihatnya dengan tongkat sihir.
Ia melangkah keluar dari rumah nomor empat dengan emosi yang meluap luap. Berjalan dengan cepat di tengah jalan Magnolia Crescent yang gelap, Harry tiba tiba mendengar derap langkah juga suara gadis yang memanggil nya.
"Harry!"
Dia kenal suara itu. Itu adalah suara gadis yang beberapa hari ini dekat dengannya. Suara gadis perak si tetangga baru. Suara Valerie Kim.
Dia berbalik dan mendapati gadis perak itu berdiri menatapnya.
"Kau... mau pergi? Kemana?"
Harry terdiam sebentar, "aku tidak tau, tapi yang pasti aku akan pergi jauh dari sini. Sampai jumpa, Valerie." Kemudian ia kembali berjalan tanpa berbalik hanya untuk sekedar melihat reaksi apa yang di berikan gadis perak itu.
Harry tau, bisa saja ia tak akan dapat melihat gadis itu lagi. Atau jika beruntung, ia dapat melihatnya di musim panas tahun depan. Tapi ia takut untuk berbalik. Ia takut dengan reaksi apa yang diberikan gadis perak itu setelah tau apa yang ia perbuat pada bibi Marge tadi. Penyihir bagi para muggle adalah sesuatu yang jahat, dan Harry tak siap untuk melihat tanggapan yang sama dari gadis itu untuknya.
Ia tak sanggup membayangkan kehilangan kepercayaan dari gadis itu. Dan ia memilih lari.
.oOo.
Huwaaa! Kasian si 'arry khawatir. Tapi ya gimana ya, namanya juga trauma.
Untuk Auliyaa, terima kasih atas pujiannya, ini pertama kalinya aku buat fanfict Harry potter lho :D
Lagu yang dinyanyikan oleh Valerie adalah milik EXO yang berjudul sing for you. Yang kpopers tau lah, lagu korea kan itu. Tapi lirik yang di nyanyi in sama Valerie itu english version nya.
Btw, ada yang bisa kasih tau cara buat garis di ffn? Aku masih newbie soalnya :p
