Banyak hal yang terjadi begitu Harry meninggalkan Privet Drive. Mulai dari matanya yang melihat anjing hitam sebesar beruang di jalanan Magnolia Crescent; Pergi ke Leaky Cauldron dengan menaiki bus Ksatria; dan bertemu dengan Cornelius Fudge -menteri sihir- yang mengatakan ia tidak akan diberi hukuman walau pun telah menggelembungkan bibi Marge. Ia bahkan diberi kebebasan kemana saja selama liburan ini asalkan masih di Diagon Alley.

Perlu beberapa hari baginya untuk membiasakan diri dengan ini. Belum pernah dia bisa bangun kapan saja yang dia suka atau makan apapun yang diinginkannya. Dia bahkan bisa kemanapun yang dia mau. Walaupun hanya di Diagon Alley, tapi Harry tidak akan melanggar janji nya pada Fudge untuk tidak berkeliaran di dunia Muggle lagi karena tempat ini saja sudah begitu luar biasa baginya.

Harry melewatkan hari hari musim panas yang panjang dengan melihat lihat toko dan makan di bawah payung warna warni di depan kafe kafe, tempat para pengunjung memamerkan belanjaannya atau mendiskusikan kasus Sirius Black -tawanan Azkaban yang melarikan diri baru baru ini. Harry juga mengerjakan pr di depan toko es krim Florean Fortescue dengan di bantu oleh Florean Fortescue sendiri. Dan ia selalu mendapat es krim gratis disana.

Hari hari berlalu dan sampailah pada hari terakhir liburan musim panas. Sejauh ini Harry belum melihat adanya Ron dan Hermione. Paling tidak mereka akan bertemu di Hogwarts Express nantinya, begitu pikir Harry.

Harry kemudian berjalan jalan lagi ke Diagon Alley untuk melihat Firebolt -sapu terbaru yang merupakan sapu paling cepat didunia- untuk yang terakhir kalinya saat tiba tiba ada suara memanggil nya dengan keras.

Harry merasa sedikit de javu. Ia jadi ingat, saat malam ketika ia melarikan diri dari Privet Drive, Valerie datang menyusul nya. Dan karena ketidak percayaan dirinya tentang apa yang gadis silver itu pikir kan tentang nya, ia lari begitu saja. Sampai saat ini Harry masih bertanya tanya, dimana ke-Gryffindor-an nya saat itu?

Harry berbalik dan mendapati Ron dan Hermione yang berada di depan toko es krim Florean Fortescue. Seperti biasa, mereka menanyakan keadaan Harry. Mereka sudah tau tentang nya yang menggelembungkan bibi Marge tentunya. Kemudian mereka menyeberang jalan ke Magical Menagerie karena Hermione ingin membeli hewan peliharaan juga Ron yang ingin memeriksakan Scabbers -tikus peliharaan Ron.

Saat memasuki toko, mereka langsung disuguhkan dengan pemandangan beberapa hewan peliharaan yang agak aneh. Ada beberapa tikus, katak, siput beracun, kucing, beberapa burung hantu dan masih banyak yang lain.

Harry berjalan ke tempat dimana terdapat berbagai macam burung hantu, dan melihat satu yang menarik. Burung itu kecil, dengan mata bulat dan bulu dengan warna percampuran hitam dan perak, perak yang mirip rambut Valerie. Hal ini kembali mengingatkan nya tentang perpisahan mereka yang buruk. Jika ia memberikan sesuatu sebagai permintaan maaf saat mereka kembali bertemu, apakah pertemanan mereka akan utuh lagi? Meskipun Harry adalah penyihir dan dia adalah Muggle, apakah bisa terjadi?

Tak ada salahnya mencoba kan? Maka ia akan mencoba.

Harry baru saja akan mengambil burung hantu beserta sangkar nya itu ketika keributan kecil terjadi. Sebuah bola bulu besar berwarna jingga melesat keluar toko diikuti penyihir penjaga toko dan juga Ron yang meneriaki Scabbers. Harry segera menyusul dan mendapati Ron yang tengah memasukan tikus nya kedalam saku di depan toko Peralatan Quidditch Berkualitas.

Ron memijat mijat kepalanya, "makhluk apa itu tadi?"

"Kalau bukan kucing yang besar sekali, ya harimau kecil." Kata Harry.

Mereka kembali ke Magical Menagerie untuk menemui Hermione yang sepertinya masih memilih burung hantu nya. Tapi saat mereka sampai, Hermione keluar tidak membawa satupun burung, tangannya memeluk erat kucing jingga yang baru saja berbuat keributan kecil.

Ron langsung memprotes begitu tau kalau Hermione malah membeli monster jingga yang baru saja hampir menguliti kepalanya. Tetapi Hermione bersikeras kalau Crookshanks -nama si kucing- tidak sengaja.

Selama mereka berdebat, Harry sudah memasuki toko dan menuju ke tempat dimana burung hantu silver itu berada. Ia membelinya. Si penyihir bilang burung itu berjenis Pigmy dari Afrika. Tapi Harry tak begitu peduli, karena ia langsung keluar begitu membayar beberapa galleon untuk burung itu.

"Kau membeli burung hantu lagi?" Harry mengangguk sebagai respon. Ron menatapnya dengan dahi berkerut heran, begitu juga dengan Hermione.

"Memangnya kenapa dengan Hedwig?" Tanya Hermione.

"Hedwig tidak apa apa. Ini bukan untukku." Harry kembali memperhatikan burung hantu yang berada didalam sangkar yang di pegang nya.

"Kalau bukan untukmu? Untuk siapa?" Ron ikut memperhatikan burung hantu itu.

"Untuk Valerie. Semoga saja dia suka." Harry berjalan meninggalkan Ron dan Hermione yang lagi lagi memasang wajah dengan dahi berkerut.

"Siapa Valerie?"

.oOo.

Harry tengah berbaring mendengarkan teriakan teriakan teredam dari kamar sebelah, sembari berpikir tentang apa yang ia tak sengaja dengar dari percakapan antara mr Weasley dan mrs Weasley.

Sirius Black kabur dari Azkaban dengan kemungkinan sedang mengincar nyawanya. Ia heran kenapa dia tidak menjadi lebih takut. Sirius Black telah membunuh tiga belas orang hanya dalam sekali kutuk, jelas hal itu mengerikan. Tapi seperti yang dikatakan mrs Weasley, tempat teraman saat ini adalah Hogwarts dimana Albus Dumbledore berada. Bukankah Dumbledore adalah satu satunya orang yang Lord Voldemort takuti? Tentu Black sebagai tangan kanannya akan sama takutnya dengan tuannya sendiri, bukan?

Tidak, setelah semua dipertimbangkan, hal yang paling mengganggu Harry adalah fakta bahwa kemungkinannya mengunjungi Hogsmeade adalah tidak ada sama sekali. Tak seorangpun yang menginginkan Harry meninggalkan kastil yang aman sampai Black tertangkap. Bahkan ia curiga kalau semua gerak geriknya diawasi.

Dia mencibir kepada langit langit yang gelap. Mereka pikir ia tidak bisa menjaga diri? Dia sudah tiga kali lolos dari Voldemort, toh dia tidak apa apa.

"Aku tidak mau dibunuh," kata Harry keras keras sebelum akhirnya jatuh tertidur karena mengantuk.

.oOo.

Esok paginya mereka sibuk bersiap siap ke stasiun King's Cross. Ron terus mengeluh ingin segera pergi ke Hogwarts karena ingin jauh jauh dari Percy. Setelah semalam menuduhnya menghilangkan lencana ketua murid, pagi ini Percy kembali menuduhnya menumpahkan teh ke foto Penelope Clearwater -Pacar Percy.

Tak hanya itu, Hermione terus mengganggunya dengan pertanyaan 'siapa Valerie?' Atau 'ceritakan padaku semua tentangnya, Harry' dan masih banyak lagi. Memang, kemarin ia berjanji untuk menceritakan tentang Valerie si tetangga barunya di Privet Drive itu. Tapi, tidak bisakah ia menunggu sampai mereka di dalam Hogwarts Express?

Harry kembali teringat apa yang ia dengar tadi malam. Ia juga akan menceritakannya kepada mereka nanti.

Mereka pergi ke stasiun King's Cross menaiki mobil kementrian. Ada dua mobil kuna hijau tua, masing masing dikemudikan penyihir misterius berseragam warna hijau zamrud.

"Masuk Harry," kata mr Weasley sambil memandang kanan kiri jalan yang ramai.

Harry masuk ke tempat duduk belakang, tak lama kemudian di susul Hermione, Ron dan... Percy! Ini jelas membuat Ron sebal sekali.

Perjalanan ke stasiun biasa biasa saja dibanding dengan perjalanan Harry menaiki bus Ksatria. Mobil Kementrian Sihir ini kelihatannya seperti mobil biasa, meskipun Harry perhatikan mobil mobil ini bisa melewati celah yang tak mungkin untuk mobil paman Vernon lewati.

Mr Weasley menempel Harry terus saat memasuki stasiun. Mereka bahkan memasuki peron 9 3/4 bersama. Disusul Percy dan Ginny.

Percy menemukan Penelope dengan wajah yang memerah, membuat Harry dan Ginny saling pandang dan tertawa. Percy berjalan mendekati gadis berambut ikal panjang seraya membusungkan dada, sehingga tak mungkin bagi si gadis untuk yak melihat lencana mengkilap di dadanya.

Setelah sisa keluarga Weasley dan Hermione bergabung, mereka segera menaikkan barang barang ke gerbong yang kosong, dan kembali untuk mengucapkan selamat tinggal pada mr dan mrs Weasley.

Mrs Weasley mencium semua anak anaknya, kemudian Hermione, dan terakhir Harry. Harry malu, tapi sebetulnya senang, ketika mrs Weasley menambahinya dengan pelukan.

"Hati hati ya, Harry." Katanya ketika menegakkan diri, matanya terlihat berkaca kaca. Kemudian ia membuka tasnya yang besar sekali dan berkata, "Aku sudah membuatkan sandwich untuk kalian semua. Ini, Ron, bukan... isinya bukan kornet daging. Fred? Dimana Fred? Ini nak..."

Harry sedang memperhatikan yang lain yang sedang mengerumuni mrs Weasley ketika ia mendengar suara memanggilnya. Suara seorang gadis yang selama dua minggu ini mengganggu pikirannya. Suara seorang gadis yang membuat Harry merasa bersalah karena meninggalkannya malam itu. Tapi tak mungkin, kan?

Harry berbalik hanya untuk memastikan kalau ia hanya berhalusinasi. Ia ingin sekali hanya melihat udara kosong saat berbalik. Tapi tidak, yang ia lihat adalah sesosok gadis berambut perak keriting yang tengah berdiri tak jauh darinya. Mata abu abu gadis itu berbinar bahagia dan bibirnya membentuk senyum riang yang sangat khas nya. Dan detik berikutnya, gadis perak itu sudah menubruk Harry dengan pelukan yang erat sekali.

"Oh, Harry... akhirnya kita bertemu kembali. Aku sangat merindukanmu, kau tau? Malam itu kau berkata seolah olah tak akan kembali saja." Kata gadis perak itu sambil tetap memeluk Harry erat, semakin erat malah. Harry masih terlalu terkejut untuk membalas pelukannya juga.

Harry kembali sadar dari keterkejutan nya saat gadis itu melepas pelukannya. Gadis itu tersenyum manis, persis seperti yang dulu sering ia lakukan kepada Harry.

"Valerie... kenapa bisa di sini?" Tanya Harry pada akhirnya.

"Menurutmu kenapa?" Tanyanya balik, mencoba untuk misterius.

"Kau juga Penyihir?" Harry memekik, gadis perak itu semakin melebarkan senyum manisnya,

"Kau tidak pernah bilang!" Seru Harry kesal. Tentu saja, ia sudah berhari hari memikirkan apa yang Valerie (yang ia pikir seorang muggle) katakan tentang nya yang seorang penyihir saat ternyata ia juga seorang penyihir. Ugh!

"Aku juga tidak tau kau seorang penyihir," jawabnya polos, "Lagipula kita tidak boleh melanggar Undang Undang Tentang Kerahasiaan, kan?" Harry terdiam, dia memang benar sih.

Harry baru akan bertanya lebih lanjut ketika Ron dan Hermione menghampiri mereka dengan wajah bertanya tanya. Pasti mereka terkejut melihat adegan berpelukan antara ia dan gadis perak di sampingnya ini.

"Harry... ini siapa?" Hermione mengerjap bingung ke arah Valerie, sedangkan Ron hanya menatap gadis perak itu dalam diam. Matanya memancarkan sebuah rasa suka saat melihat Valerie, tentu karena memang Valerie cantik.

"Halo, namaku Valerie Kim." Gadis itu sudah terlebih dahulu memperkenalkan diri pada mereka, dan mengulurkan tangan.

"Jadi kau Valerie?" Hermione yang pertama menjabat tangannya, "Aku Hermione Granger."

"Aku Ronald Weasley, kau bisa panggil aku Ron." Ron menjabat tangan Valerie dengan gaya sok keren. Ia berusaha keras untuk membuat Valerie terkesan. Tetapi sepertinya gadis perak itu tau tujuannya, sehingga yang Harry lihat, gadis itu hanya tersenyum geli.

Valerie dibawa untuk berkenalan dengan keluarga Weasley yang lain. Mrs Weasley kelihatan senang mengetahui fakta bahwa Valerie tinggal sebgai tetangga Harry di Privet Drive, itu artinya akan ada orang yang mengerti dia disana. Percy memperkenalkan diri dengan gaya sok penting, dan tak lupa memberi tahu fakta dia seorang ketua murid. Fred dan George berusaha membuat lelucon dan itu sukses membuat si gadis perak tertawa. Ginny terlihat sangat menyukai Valerie, dan agak kecewa saat tau ia berada di tahun ketiga, bukan tahun kedua sepertinya.

Semua terlihat menyukai Valerie, dan Harry senang dengan fakta itu. Tapi kemudian mr Weasley memanggilnya untuk berbicara secara pribadi dengannya, Harry menduga kalau itu tentang Sirius Black, dan ternyata benar. Mereka berbicara dan pada akhirnya mr Weasley menyuruh Harry bersumpah untuk tidak mencari Black. Tapi Harry tidak mengucapkannya karena peluit Hogwarts Express sudah berbunyi cukup keras, menandakan kalau kereta akan segera berangkat.

Asap meliuk dari atas kereta. Kereta sudah mulai bergerak. Harry berlari ke pintu gerbong. Ron membuka nya dan mundur agar Harry bisa masuk. Mereka menjulurkan kepala dari jendela dan melambaikan tangan kepada mr dan mrs Weasley sampai kereta api berbelok di tikungan dan mereka tidak kelihatan lagi.

"Aku perlu berbicara dengan kalian." Harry bergumam kepada Ron dan Hermione sementara kereta meluncur dengan cepat.

"Pergi jauh jauh, Ginny." Kata Ron.

"Oh, sopan sekali." Kata Ginny tersinggung, lalu pergi.

"Apa sebaiknya aku juga pergi?" Tanya Valerie dengan ekspresi wajah sungkan.

"Tidak perlu," Harry melarang, "Aku ingin kau mendengar ini juga, agar kau tau seberapa berbahaya menjadi teman seorang Harry Potter."

Harry kembali diserang rasa takut, sama seperti saat malam dimana ia menggelembungkan bibi Marge di depan Valerie. Saat itu ia takut kalau gadis perak itu takkan mau berteman dengannya lagi karena dia seorang penyihir. Sekarang ia takut kalau gadis perak itu tak mau berteman dengannya karena ia berbahaya bagi orang orang di sekitarnya. Harry takut untuk kehilangan Valerie sebagai temannya.

.oOo.

Yo yo yo! Halo lagi untuk para readers yang bersedia baca fanfict ini. Kembali lagi dengan saya, Valia Ramadhani si imajinator berlebihan.

Untuk chapter ini, jujur aku kurang puas juga. Sadar, kan? Chapter ini kurang dialognya T-T

Sebenernya, aku buat cerita ini berlandaskan canon di buku dengan penambahan oc Valerie Kim. Dan karena ini bukan dari sudut pandang si oc, melainkan dari sudut pandang Harry alias pemeran utama dalam cerita sesungguhnya, canon nya kebanyakan. Hehehe :D

Auliyaa: pertanyaan mu udah ke jawab, kan? Bener loh harapanmu, Valerie emang bener a witch! Dan aku gak nyangka bakal ketemu EXO-L disini. Aku terhura :")

Betelgeuts: Senangnya ketemu yang sejenis :)) Aku juga suka kalo mereka nyanyi english deh, apalagi waktu D.O nyanyi For Life yang english version waktu itu, merinding pas nada tinggi nya :")

Udah dulu ah, entar kebanyakan a/n lagi. Sampai ketemu chapter depan ya!