Selama sisa perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Akhirnya kereta berhenti di stasiun Hogsmeade, dan anak anak berdesakan turun. Burung burung hantu ber uhu uhu keras, kucing kucing mengeong, dan katak piaraan Neville berkuak keras dibawah topinya.

Harry mengambil kandang Hedwig beserta kandang burung hantu perak yang akan dia berikan pada Valerie.

"Valerie, ini dariku." Katanya sambil menyerahkan burung hantu itu.

Valerie memperhatikan burung yang dipegang Harry, kemudian tersenyum. "Terima kasih, Harry. Padahal kau tak perlu repot repot." Dia mengambilnya.

"Tidak apa apa, ini juga untuk permintaan maaf karena waktu itu aku meninggalkan mu begitu saja," kata Harry, dengan senyum kecil.

Valerie menatapnya dengan senyum lembut yang biasa, dan kemudian dia terlihat berpikir, "Aku akan menamainya Varry."

"Varry?"

"Iya, Valerie dan Harry." Harry memerah mendengarnya, itu terdengar seperti hubungan yang—yah, seperti itulah. Untuk menutupinya, ia kemudian mengajak Valerie untuk berjalan mengikuti rombongan meninggalkan peron.

"Anak anak kelas satu kesini!" Terdengar suara yang mereka kenal. Harry, Ron, dan Hermione menoleh dan melihat sosok raksasa Hagrid di ujung peron, memanggil anak anak kelas satu yang ketakutan. Valerie mengikuti arah pandang mereka bertiga, dan terlihat penasaran akan sosok itu.

"Baik baik saja kalian bertiga?" Hagrid berteriak diatas kepala anak anak. Mereka melambai padanya, tapi tak punya kesempatan bicara, karena mereka terbawa kerumunan anak anak yang menjauhi peron.

Mereka berempat mengikuti anak anak yang lain keluar ke jalan tanah yang kasar. Dijalan itu paling tidak ada seratus kereta menunggu anak anak yang tersisa. Masing masing ditarik, menurut dugaan Harry, oleh kuda yang tak kelihatan.

"Ayo masuk, Valerie!" Hermione menarik tangan gadis perak itu untuk masuk bersamanya ke dalam kereta, yang langsung diikuti olehnya dan Ron. Harry sempat melihat kalau Valerie sedikit melirik ke arah depan kereta. Mungkin gadis itu penasaran dengan keretanya.

Ketika kereta mendekati sepasang gerbang besi yang kokoh, Harry melihat ada dua Dementor tinggi besar di kanan kiri gerbang. Gelombang rasa dingin tak nyaman siap menggulung nya lagi. Harry bersandar kembali ke tempat duduknya yang empuk dan memejamkan matanya sampai mereka melewati gerbang.

Ketika Harry turun, terdengar suara senang di telinganya.

"Kau pingsan, Potter? Apakah yang dikatakan Longbottom benar? Kau benar benar pingsan?" Malfoy menyodok melewati Hermione untuk memblokir Harry sehingga tak bisa menaiki undakan kastil. Wajahnya berseri seri dan matanya yang pucat berkilat jahat.

"Minggir, Malfoy." Kata Ron, yang rahangnya terkatup rapat.

"Ayolah, cowok pirang, tidak bisakah kau tidak mengganggu? Memangnya kau tidak lelah setelah perjalanan jauh?" Valerie bertanya dengan nada riang yang persuasif, tapi itu sama sekali tak berpengaruh pada Malfoy, ia malah menyerang Valerie dengan ejekan.

"Oh, kudengar ada seorang cewek perak yang berteriak keras ketakutan saat ada Dementor. Itu pasti kau, kan?" Malfoy kemudian tertawa mengejek.

Harry langsung geram. Malfoy boleh saja mengejeknya, tapi tidak dengan temannya. Harry baru akan mengutuk nya saat sebuah suara terdengar dibelakang mereka.

"Ada masalah?" Profesor Lupin baru saja turun dari kereta selanjutnya.

Malfoy menatap Profesor Lupin dengan menghina. Dia sudah melihat tambalan dijubahnya dan kopernya yang butut. Dengan sedikit sinis dia menjawab, "Oh, tidak-eh-Profesor," kemudian menyeringai kepada Crabbe dan Goyle, dan mengajak mereka naik undakan masuk kastil.

Hermione menyodok punggung Ron agar bergegas, dan mereka berempat bergabung dengan kerumunan anak anak yang memenuhi undakan, memasuki pintu kedalam Aula Besar.

Harry mengikuti anak anak menuju pintu itu, tapi baru saja melihat sekilas langit langit sihirnya, yang malam ini gelap berawan, ada suara memanggil, "mr Potter! miss Granger! Aku ingin bertemu kalian. Oh, dan kau juga miss Kim."

Harry dan Hermione berbalik keheranan. Profesor McGonagall, guru Transfigurasi sekaligus kepala asrama Gryffindor, memanggil mereka dari atas kepala anak anak. Harry mendekatinya, perasaannya tak enak. Profesor McGonagall selalu membuatnya merasa melakukan sesuatu hal yang salah.

"Tak perlu cemas begitu, aku cuma mau bicara sedikit di kantor ku." Katanya kepada mereka. "Kau terus saja, mr Weasley."

Mereka bertiga mengikuti Profesor McGonagall. Begitu sampai di kantornya, ruangan kecil dengan api besar yang hangat dan nyaman, profesor McGonagall memberi isyarat agar mereka duduk. Dan tiba tiba saja ia berkata, "Profesor Lupin mengirim burung hantu kalau kau sakit di kereta api, Potter, Kim."

Sebelum Harry dan Valerie menjawab, terdengar suara ketukan di pintu dan Madam Pomfrey, matron rumah sakit, masuk.

Harry merasa wajahnya memerah. Bahwa tadi dia pingsan, atau entah apa, sudah memalukan. Apalagi ditambah semua orang jadi repot begini.

"Saya tidak apa apa," katanya. "Saya tak perlu apa apa, tapi mungkin Valerie..."

"Oh, kau rupanya?" Kata madam Pomfrey, mengabaikan Harry dan membungkuk untuk memeriksanya. "Apa kau melakukan sesuatu yang berbahaya lagi?"

"Gara gara Dementor, Poppy." Kata Profesor McGonagall.

Mereka bertukar pandang suram, dan kemudian madam Pomfrey berdecak mencela.

"Memasang Dementor di sekolah," gumamnya, mendorong rambut hitam Harry kebelakang dan meraba dahi nya. "Dia bukan orang pertama yang pingsan. Ya, dia berkeringat. Sungguh mengerikan, Dementor dengan pengaruh nya pada orang orang yang rapuh..."

"Saya tidak rapuh!" Kata Harry jengkel.

"Tentu saja tidak," madam Pomfrey memeriksa nadinya. Kemudian beralih kepada Valerie dan melakukan semua yang tadi ia lakukan pada Harry.

"Apa yang mereka perlukan?" Tanya profesor McGonagall ringkas. "Istirahat di tempat tidur? Apa perlu mereka menginap di rumah sakit?"

"Saya tidak apa apa!" Harry melompat bangun. Membayangkan apa yang dikatakan Draco Malfoy kalau ia ke rumah sakit sungguh merupakan siksaan.

"Mereka harus makan coklat, setidaknya," kata madam Pomfrey, kali ini berusaha memeriksa mata Valerie.

"Kami sudah makan coklat, kok." kata Valerie.

"Diberi profesor Lupin. Dia membagikannya pada kami semua." Harry menimpali.

"Oh ya?" Madam Pomfrey bertanya dengan nada senang.

"Ya, dia bahkan memberi ku coklat rasa matcha," Valerie menjawab dengan antusias. Sampai sekarang Harry tak tau apa itu matcha.

"Jadi, akhirnya kita mendapat guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang tahu obat obat nya." Madam Pomfrey kelihatan lega dan bahagia.

"Kalian yakin tidak apa apa?" Tanya profesor McGonagall tajam.

"Ya," jawab Harry dan Valerie serempak.

"Baiklah. Kalau begitu silahkan tunggu diluar sementara aku berbicara pada miss Granger tentang jadwal pelajarannya. Dan untuk miss Kim, kau bisa ke kantor kepala sekolah, kata kuncinya kerumunan kecoa. Profesor Dumbledore ingin bicara denganmu."

Harry dan Valerie keluar ke koridor bersamaan dengan madam Pomfrey yang langsung kembali ke Sayap Rumah Sakit. Harry mengantar Valerie sampai kedepan patung gargoyle. Ketika Harry bertanya apakah gadis itu mau agar Harry menunggunya, dia menjawab tidak usah. Karena itu Harry kembali lagi ke depan kantor McGonagall.

Sesampainya disana, Hermione baru saja keluar dengan tampang gembira sekali, diikuti profesor McGonagall. Mereka bertiga langsung menuju ke Aula Besar.

Rasanya seperti memasuki lautan topi hitam. Masing masing meja panjang asrama dipenuhi anak anak, wajah mereka berkilau ditimpa ribuan cahaya lilin yang menggantung di udara. Seleksi asrama rupanya masih berlangsung.

Profesor McGonagall ke tempat duduknya di meja guru. Harry tak melihat adanya eksistensi Profesor Dumbledore, pasti sedang membicarakan sesuatu hal dengan Valerie. Harry dan Hermione berjalan sepelan mungkin menuju meja Gryffindor. Anak anak menengok memandang mereka, beberapa diantaranya ada yang menunjuk nunjuk Harry. Sepertinya kisah tentang Dementor sudah menyebar luas.

Harry dan Hermione duduk mengapit Ron yang sudah menyediakan tempat untuk mereka.

"Kenapa sih kalian dipanggil?" Bisik Ron ke Harry, "Dan dimana Valerie? Tadi dia juga bersama kalian, kan?"

Harry mulai menjelaskan dengan berbisik, tetapi ketika profesor Dumbledore masuk ke aula besar dengan seorang gadis berambut perak, ia berhenti. Aula seketika dipenuhi dengan bisik bisik penasaran akan sosok yang mengikuti kepala sekolah mereka.

'Siapa gadis berambut perak itu?'

'Kenapa dia datang bersama profesor Dumbledore?'

'Ada kepentingan apa?'

'Gadis itu cantik sekali.'

Harry mendengus untuk kalimat yang terakhir.

Profesor Dumbledore berdiri di atas podium dengan Valerie yang berdiri tak jauh di sebelahnya. Kepala sekolah Hogwarts itu mulai menjelaskan pada seluruh sekolah tentang Dementor Azkaban yang akan berjaga jaga di sekitar sekolah. Kemudian disusul dengan pengumuman guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang baru yaitu Profesor Lupin. Lalu tentang profesor Kattleburn, guru Pemeliharaan Satwa Gaib yang akan digantikan Rubeus Hagrid, yang langsung dihadiahkan tepukan paling keras dari meja Gryffindor.

"Dan terakhir, kalian pasti penasaran tentang gadis di sampingku ini, bukan?" Dumbledore menyapukan pandangan nya ke seluruh penjuru Aula Besar yang benar benar penasaran dengan si gadis perak.

"Namanya Valerie Kim, dia adalah murid pindahan dari Mahoutokoro dan akan melanjutkan tahun ketiga nya disini." Beberapa orang ada yang langsung melempar tatapan merendahkan, tentu karena mereka tau Mahoutokoro adalah sekolah yang muridnya paling sedikit diantara sebelas sekolah sihir. Tapi ada juga yang benar benar sangat penasaran begitu mendengar nama sekolah itu disebutkan, karena meski sekolah itu kecil, pendidikan disana sangatlah bagus.

"Kau tau, katanya pelatihan Quidditch di sana sangat berat." Bisik Oliver Wood. Anak anak yang menyukai Quidditch di meja Gryffindor langsung menatap tak percaya, benarkah?

"Miss Kim akan diseleksi masuk asrama sekarang juga. Silahkan duduk di kursi itu miss," perkataan Dumbledore membuat Harry menegang saat itu juga, ia bahkan lupa jika gadis perak itu belum seleksi masuk asrama. Bagaimana jika mereka tidak se asrama? Mungkin mereka masih bisa bertemu, tapi akan lebih nyaman jika mereka bisa satu rumah. Dan yang lebih buruk, bagaimana jika ia masuk asrama ular-asrama Slytherin? Sungguh tak bisa Harry bayangkan.

Valerie kemudian duduk dan dipasangkan topi seleksi. Gadis itu terlihat antusias, dan kemudian terlihat ada sedikit perdebatan—atau sepertinya hanya percakapan— dengan si topi seleksi. Harry menunggu dnegan was was, begitupun Hermione dan Ron, karena bagaimanapun mereka sudah mejadi teman.

"Gryffindor!" Dan saat nama itu tercetus, seluruh penjuru aula bertepuk keras -kecuali untuk Slytherin.

Harry merasa sangat lega saat melihat Valerie yang berjalan ke meja Gryffindor dengan senyuman manis khas nya. Hermione langsung memeluk Valerie karena ia mengira gadis perak itu akan masuk asrama lain. Gadis perak itu juga mendapat banyak ungkapan selamat dari teman teman se asrama nya.

"Nah, kurasa semua yang penting sudah kusampaikan," kata Dumbledore. "ayo, kita mulai pesta!"

Piring-piring dan piala piala emas mendadak dipenuhi makanan dan minuman. Harry, mendadak lapar sekali, mengambil segala yang bisa diraihnya dan mulia makan. Pestanya menyenangkan sekali. Aula dipebuhi obrolan, tawa, dan denting denting pisau dan garpu, apalagi di meja Gryffindor. Selain mendapat murid baru kelas satu, mereka juga mendapat satu murid pindahan dari Asia, seorang gadis berambut perak di tahun ketiga.

Ketika sepih-serpih kue tar labu kuning sudah meleleh dari piring-piring emas, Dumbledore berkata bahwa sudah saatnya bagi mereka semua untuk tidur. Ron, Hermione, dan Harry yang mengajak Valerie, menghampiri Hagrid untuk memberikan selamat. Hagrid menangis terharu saat Hermione memberikan ucapan selamat. Dan saat Valerie juga mengucapkan selamat ditambah dengan kata 'Profesor', Hagrid mengeluarkan air matanya lebih banyak. Akhirnya Profesor McGonagall meminta mereka untuk meninggalkannya.

Mereka bergabung dengan anak anak Gryffindor yang memenuhi tangga pualam, dan sangat lelah sekarang, menyusuri koridor koridor, menaiki beberapa tangga lagi, sampaike jalan masuk ke Menara Gryffindor yang tersembunyi. Lukisan besar nyonya gemuk bergaun merah jambu menanyai mereka, "kata kunci?"

"Sebentar, Sebentar!" Percy berteriak dari belakang kerumunan.

"Kata kuncinya adalah Fortuna Major!"

"Oh, tidak," kata Neville Longbottom sedih. Dia selalu kesulitan mengingat kata kunci. Valerie yang sepertinya menyadari kesedihan itu, hanya menepuk bahu Neville menyemangati.

Saat mereka berempat melewati lubang lukisan, banyak anak anak yang mayoritas tahun ketiga mengerubungi mereka, atau lebih tepatnya Valerie.

"Hey, Kim! bagaimana jika kita mengobrol sebentar?" Lavender Brown, si gadis dengan pita rambut bertanya. Belum sempat Valerie menjawab, sudah ada banyak pertanyaan lain yang datang.

"Kau benar benar pindahan dari sekolah Jepang itu?"

"Bagaimana Mahoutokoro?"

"Apa kau bermain Quidditch di sana?"

"Kenapa kau pindah?"

"Apa rambutmu benar benar asli berwarna perak?"

"Eh, tapi bukannya orang asia itu selalu memiliki rambut berwarna gelap?"

"Kau mewarnainya, ya?"

Valerie terlihat sangat bingung untuk menjawab satu persatu pertanyaan yang dilemparkan secara beruntun kepadanya. Baru ingin membuka mulut, sudah ada pertanyaan baru lagi. Hal itu ditangkap oleh Harry yang mulai kesal dengan pertanyaan pertanyaan yang tidak tau situasi dan kondisi itu, tidak bisakah besok saja? Mereka kan baru sampai tadi, tidakkah mereka lelah?

"Kau mau ke Hogsmeade bersamaku?"

"Wow, wow, wow! tenang semua," George langsung menerobos untuk menghalangi mereka. "Ayolah teman teman, tidakkah kalian kasihan padanya yang baru sampai setelah perjalanan jauh? Dia pasti lelah."

"Lebih baik kalian bubar sebelum Percy yang membubarkan kalian." Kata Fred yang langsung berhasil membubarkan kawanan itu.

Harry menghela napas, "Terima kasih Fred, George."

"Serahkan saja pada kami," ucap George kemudian berlalu bersama saudara kembarnya menuju kamar putra.

"Orang orang itu tak tau situasi benar," Hermione menggerutu sambil menyeret Valerie ke kamar mereka, meninggalkan Ron dan Harry yang masih di ruang rekreasi berdua.

.oOo.

Saat seleksi Valerie berlangsung.

"Wah, wah, wah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan seorang Kim," kata topi seleksi, kemudian terlihat mengkerut berpikir.

"Hmm... cermat, licik, dan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Slytherin, eh? Tapi... kau juga selalu berani mengambil resiko, sangat setia pada kawan, dan akan mengambil keputusan tanpa pikir panjang dalam beberapa situasi. Gryffindor, bukan? Sama seperti Kim terdahulu, kau punya karakteristik dari dua asrama yang berseberangan. Jadi dimana aku akan menempatkan mu?"

"Kalau begitu, bisakah kau meletakkanku di asrama yang aku inginkan?"

"Hati kecilmu ingin agar kau ada di asrama yang sama dengannya, bukan?"

"Ya, bisa kau mewujudkannya?"

"Tentu saja, kau akan menjadi hebat di tempat yang kau inginkan."

Dan kemudian, topi seleksi meneriakan satu nama asrama dengan sangat lantang,

"GRYFFINDOR!"