OOC | DON'T LIKE DON'T READ
PRODUCE 101 S2 FANFICTION
FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY
M, ABO!AU
YUNHWA
Happy reading~
"Jadi, kenapa kau menerima perjodohan ini?" Seorang pemuda tampan dengan bahu 60cm itu bertanya sambil menyeruput secangkir Espresso kepada pemuda manis di hadapannya. Sesekali pemuda tampan itu menghirup feromon yang menguar dari tubuh pemuda manis tersebut. Manis seperti orangnya.
"Aku hanya menaati perintah raja," jawab sang pemuda manis dengan raut wajah datar. Ya, meski wajah dan feromonnya manis—yang menandakan dirinya seorang omega—tapi sedari tadi wajahnya selalu datar.
Sang pemuda tampan terkekeh dengan nada mengejek. "Korona, selalu patuh dengan atasannya. Tak heran sampai sekarang kalian terus menjadi bottom."
"Jangan membuat masalah tuan Kang. Kau tau jika kita dijodohkan untuk menyatukan Barbarian dan Korona." Kini omega manis itu menatap tajam pemuda tampan di depannya. Sedikit tak suka saat pemuda itu menyinggung tentang klannya.
Ya, mereka adalah pemuda dari klan Korona dan klan Barbarian yang dijodohkan untuk menyatukan kedua klan tersebut setelah peperangan hebat para leluhur mereka. "Ahh … Kau benar Hwang. Mari kita lakukan perjodohan ini."
Omega manis bermarga Hwang dengan nama Minhyun itu sedikit memancarkan tatapan tak percaya pada pemuda tampan dihadapannya. "Kau menerima perjodohan ini?"
Sang pemuda tampan itu tersenyum lebar yang membuat wajahnya terlihat manis dan ramah, berbeda dengan beberapa menit yang lalu. "Kau terlalu sempurna untuk bisa kutolak, Minhyunnie. Kau manis, pintar, dan yang terpenting," pemuda dengan marga Kang itu bergerak mendekati Minhyun yang membuat omega manis itu memundurkan tubuhnya, gentar dengan aura dominasinya. "feromonmu manis, membuatku turn on," bisiknya tepat di telinga omega itu.
"Brengsek, Kang Daniel!"
Daniel tertawa lepas, "jangan mengumpat, Minhyunnie," pemuda Kang itu menjeda ucapannya. "Tapi aku benar-benar ingin menerima perjodohan ini. Aku pure alpha dan kau pure omega, kita bisa menjadi pasangan yang menggemparkan dunia, babe."
"Bagaimana jika kau bertemu dengan matemu sebelum kita mating?" Minhyun bertanya tetap dengan wajah datarnya. Pure omega itu tau bahwa mereka bukanlah sepasang mate yang sudah ditakdirkan bersama sejak mereka dilahirkan. Namun, ikatan fated mate dapat hilang setelah sepasang manusia melakukan mating dengan yang bukan matenya.
"Wow … apakah ini tanda bahwa kau tidak sabar untuk mendesah dibawahku? Sabar, sayang, ini masih permulaan."
"Kau menjijikan, Kang Daniel. Kalau bukan perintah raja, aku sudah menolak perjodohan itu mentah-mentah."
Minhyun benar-benar jengah dengan kelakuan alpha di depannya yang terus tersenyum memandangi wajahnya. Ia bersumpah, kalau saja pria Kang itu bukan orang yang dipilih Raja Hwang—ayahnya sendiri—sebagai jodohnya dalam tanda perjanjian damai kedua klan pasti sudah ditendangnya Kang Daniel itu jauh-jauh darinya. Sayang seribu sayang, selain karena kenyataan pahit bahwa Daniel adalah oknum utama perjodohannya, juga si pria Kang itu adalah seorang pure alpha yang memiliki kemungkinan sangat kecil untuk bisa dikalahkannya.
"Cha, aku harus pergi. Kelasku akan dimulai sebentar lagi. Sampai jumpa, sayang." Daniel beranjak dari kursinya seraya melemparkan tatapan genit kepada Minhyun. Korbannya hanya membalas dengan tatapan yang sarat akan rasa jijik sambil bersumpah dalam hati bahwa suatu saat ia akan menyiram wajah itu dengan Espressonya sendiri.
.
.
.
Hyunbin menjatuhkan alat makannya dengan dramatis. Wajahnya menatap tak percaya pada sepupunya yang masih memakan makan siangnya dengan santai. Sama sekali tak tau bahwa dirinya membuat sang sepupu kaget. "K-kau bilang siapa, hyung?"
Sang sepupu mengeryit dan menatap bingung pada Hyunbin. "Apa yang siapa?"
"Calonmu," jawabnya cepat. Tampak wajah Hyunbin seolah berharap bahwa apa yang baru saja ia dengar dari sang sepupu beberapa menit yang lalu itu salah.
"Ooh …" Mengerti dengan maksud Hyunbin, sang sepupu kembali makan dengan santai. "Hwang Minhyun."
"Sial."
"Kenapa sih, Hyunbin-ah?" Pria itu menatap wajah frustrasi Hyunbin dengan tenang. Matanya berkilat remeh dengan senyum tertahan di wajahnya. Seolah mendapatkan permainan yang menarik dari sepupunya sesama pure alpha. Pemuda yang lebih muda satu tahun di depannya itu hanya diam tanpa menjawab. Kali ini senyuman remeh itu benar-benar terkembang. "Ah … aku paham. Kenapa tidak bilang, jadi Hwang Minhyun itu omega yang selama ini kau ceritakan? Wah … kurasa aku harus memuji seleramu, Hyunbin-ah … tapi sayang sekali sebentar lagi ia akan menjadi mate-ku. Maaf ya, Kwon sayang …," ejeknya.
Hyunbin mendelik tajam. Tadinya ia tidak ingin emosi, toh memang sebelumnya hyung-nya itu tidak ia beri tahu secara jelas nama omega yang diincarnya —ia hanya menyebut-nyebut Hwang-omega-manis waktu bercerita— tapi ejekan pria yang lebih tua itu malah menyulutnya. "Kudoakan semoga kau impoten, Kang."
Pria alpha hanya tertawa mengejek. "Aduh, Kwon, maaf saja. Aku tidak berminat mengikuti jejak kakakku."
"Kudoakan agar kau berminat," jawab Hyunbin.
Kedua alpha itu berdiri dan bertatapan, saling mengeluarkan aura kuat alpha yang marah. Mahasiswa yang berada di sekitar mereka mulai menepi, merasakan sebentar lagi akan ada pertarungan hebat dua orang pure alpha di kantin Political Science yang ramai siang ini.
"Astaga, kalian berdua sudah dewasa, tapi kenapa bertingkah seperti anak kecil? Sudahlah, jangan bertengkar di sini. Kalau mau, di lapangan saja." Seruan itu mengalihkan perhatian keduanya. Daniel memperlihatkan smirk dan duduk dengan tenang sembari meraih botol minumannya lalu dengan santai menumpukan kaki kanannya di atas paha kiri. Kebiasaannya kalau sedang puas menyulut emosi orang.
Hyunbin tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari wajah Daniel. Ia mencibir pada alpha yang tadi menegur mereka. "Anak kemarin sore tidak usah ikut campur."
Taedong, alpha-penyelamat-situasi-kantin siang ini, terdiam. Agak gentar dengan Hyunbin yang jelas lebih kuat darinya. Tapi sebentar kemudian ia menggeleng. "Kurasa anak kemarin sore ini bisa lebih dewasa daripada pure alpha yang hendak bertengkar di kantin karena masalah sepele."
Hyunbin mendelik. "Masalah sepele, katamu? Memangnya kau tahu apa yang membuatku marah sekarang?"
Daniel meneguk minumannya dengan santai, menonton percakapan dua dongsaeng-nya seolah percakapan-menuju-pertengkaran adalah acara menarik yang tidak boleh dilewatkan. Apalagi kalau yang emosi itu Hyunbin. Wah, seru ….
"Ya, memangnya apa?" tanya Taedong.
"Masalah cinta, Taedong-ssi … kau seharusnya lihat bagaimana wajahnya Hyunbin merah padam saat mendengar pujaan hatinya akan direbut Daniel." Suara dari ujung kantin membuat mereka menoleh. Hyunbin tampak semakin emosi saja. Kalau di film kartun mungkin ubun-ubunnya sudah berasap saking panasnya. Di ujung kantin itu, seorang Kim Sangbin, senior mereka, mahasiswa semester 5 tengah menyeruput jajangmyeonnya dengan tenang setelah berbicara begitu.
"Mwo? Benar begitu?" tanya Taedong pada Hyunbin dan Daniel.
"Bukan merebut, tapi akulah yang ditakdirkan berjodoh dengan pujaan hatinya," koreksi Daniel.
"Jadi selama ini Hyunbin jatuh cinta pada omega—putera mahkota Korona? Gila kau Hyunbin!" seru Taedong yang teringat kalau Daniel memang akan dijodohkan dengan orang. Tapi bukan orang biasa, melainkan putera mahkota klan Korona. Hyunbin merosot di kursinya. Namun pandangan matanya masih menggelap dengan amarah serta kekecewaan dan kesedihan yang bercampur aduk, semrawut dalam pikirannya.
"Sudahlah, Hyunbin-ah … maaf ya karena sudah menjadi jodohnya Hwang-omega-manis-Minhyun. Dia memang jauh lebih baik menjadi milikku daripada dengan bocah sepertimu." Daniel bangkit dari kursinya dan mengusak rambut Hyunbin yang kembali melotot tidak terima. Lalu berlalu begitu saja.
"Sialan kau Kang—ANJING!" teriak Hyunbin saat tangan Taedong mendarat keras di tengkuknya.
"Bodoh, jangan menghina anggota kerajaan!"
"Aku juga anggota kerajaan, bangsat!"
.
.
.
Di gerbang gedung fakultas kedokteran, dua pria berwajah manis berjalan bersisian. Hendak berjalan pulang setelah menjalani kegiatan kuliah yang padat hari ini.
"Jadi, kau bisa, kan,membantuku memahami materi untuk praktikum besok?" salah satu pria manis itu membuka suara. Yang diajak bicara mengangguk sambil terus berjalan menghindari lirikan beberapa alpha di sekitarnya. Ya, dari penampilan mereka saja terlihat kalau mereka berdua adalah omega. 100% omega.
"Tapi aku tidak bisa membantumu saat praktikum nanti," lanjut pemuda manis yang satunya lagi.
"Wae? Kau sibuk?" tanya pemuda manis pertama, yang memiliki tiga titik berbentuk konstelasi di pipi kirinya. "Oh, ya. Pasti perjodohanmu dengan pangeran klan sebelah itu membuatmu sibuk."
"Ah, bukan. Lagipula itu tidak ada hubungannya dengan ini, Ong Seongwoo." Temannya menggeleng. Mata rubahnya sempat melirik keadaan sekitar, kemudian mendekatkan dirinya pada pemuda sesama omega di sampingnya. "Aku … yah, kau tahu … besok jadwal heat-ku bulan ini."
"Wah, begitu?" pemuda yang kita ketahui bermarga Ong itu mengangkat alisnya. "Wah, heat-nya Minhyun memang selalu teratur, ya. Bagus sekali."
"Ya?" Minhyun menatap tak mengerti pada Seongwoo setelah sempat kelabakan karena pemuda itu berbicara blak-blakan begitu saja tentang heat-nya. Yah, meskipun bukan hal yang tabu, tapi tetap saja, Minhyun malu.
"Heat-ku tidak pernah teratur. Jadi aku tidak tahu kapan heat akan datang setiap bulannya. Bulan ini saja sudah telat seminggu."
"Aish, kalau begitu kau harus berhati-hati, Seongwoo," timpal Minhyun.
"Iya, kau tahu aku selalu berhati-hati." Seongwoo mengangguk mantap. "Kau tadi bilang mau ke gedung political science dulu, kan? Kalau begitu, aku duluan ya." Namja itu melambaikan tangannya sambil tersenyum pada sahabatnya. "Semoga perjodohanmu lancar."
Seongwoo berjalan meninggalkan Minhyun setelah berpamitan. Sebagai sahabat, mungkin Seongwoo bisa dibilang tidak solid karena tidak menemani Minhyun ke gedung yang didominasi alpha dan beta dominan. Tapi mau bagaimana lagi kalau Minhyun bilang mau sendiri? Lagipula, ayolah … ini zaman modern. Omega tidak perlu lagi bersembunyi dan menjadi lemah sejak adanya gerakan emansipasi omega bertahun-tahun lalu. Derajat mereka sekarang nyaris sama. Yah … meskipun hukum alam tetap berlaku, sih. Tapi setidaknya para omega sudah punya perlindungan di mata hukum maupun di masyarakat zaman sekarang.
Omong-omong tentang perjodohan Minhyun … sahabatnya yang merupakan orang penting —calon penerus pemimpin klannya— itu memang dijodohkan dengan sesama calon penerus dari mantan musuh klannya. Tapi kalau ditanya apakah Seongwoo mengenal atau setidaknya melihat alpha calon jodoh Minhyun, Seongwoo akan menjawab "tidak pernah." Seongwoo hanya tahu sebatas itu. Bahkan ia bisa dibilang tidak peduli dan tidak tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang perjodohan sahabatnya.
Bukannya Seongwoo apatis, hanya saja ia memang tidak tertarik dengan urusan dua klan besar itu. Terlahir sebagai orang bebas atau yang sering disebut Kelompok Abu-abu yang tidak terikat pada klan manapun membuatnya tidak mau berurusan dengan apapun yang menyangkut tentang kelompok klan manapun.
Sudah bertahun-tahun sejak ia hidup menyendiri, ia tidak merasa bermasalah dengan itu. Soal bahaya yang harus dihadapinya karena ia omega, ia sudah mengantisipasinya dengan selalu membawa supressant everytime everywhere. Tidak lupa juga Seongwoo selalu memakai parfume untuk menyembunyikan feromonnya secara rutin.
Tapi entah karena sial, kebetulan, atau semacam itu, kemarin ia baru menyadari kalau supressant yang selalu menjadi teman baiknya itu habis tak bersisa. Baru ia ingat sebenarnya hari ini ia berencana meminta Minhyun untuk menemaninya membeli teman baiknya lagi.
Seongwoo menghela nafasnya, sambil melirik arloji di pergelangan tangannya dan membulatkan matanya kaget. Sudah hampir 6 jam sejak terakhir kali ia memakai parfumenya. Gawat, aroma parfumenya itu hanya bertahan selama 6 jam. Artinya, dalam hitungan menit, aroma parfume itu akan hilang menyisakan bau feromonnya yang tajam mengudara. Ia merogoh setiap kantung di tasnya demi mencari botol kaca berkapasitas 75ml berisi cairan berwarna terang pelindungnya dari bau feromonnya yang tajam. Namun, benda itu tidak ada di sana.
"Astaga! Kenapa aku bisa lupa membawanya!" pekik Seongwoo dalam hati.
Pria bermarga Ong itu jadi panik sendiri. Ia berharap tidak ada kejadian yang tidak diinginkan, tapi kenapa feelingnya merasa aneh. Tangannya mulai berkeringat akibat kepanikan yang melandanya.
Tunggu … Seongwoo rasanya ingin mengumpat dalam hati merasakan panas yang amat sangat di sekujur tubuhnya mulai dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Wajahnya memerah dengan peluh mengalir di keningnya. Matanya yang tajam ia edarkan ke sekeliling jalan setapak yang ia lalui, setengah waspada dan setengah berharap tidak ada siapapun yang akan mencium bau feromonnya. Ingat, meski zaman ini sudah modern, tapi kejahatan dapat terjadi di mana saja. Terutama dengan hukum alam yang masih berlaku.
'Sepi …' batinnya tersenyum lega. Otaknya segera memberi perintah untuk cepat-cepat pulang tapi tubuhnya terlalu lemas. Ia heat.
Seongwoo menelan ludah gugup melihat sesuatu yang mulai terbangun diantara kedua kakinya, menahan sakit ketika celana ketat yang sedang ia kenakan seolah menekan alat vitalnya. Dan rasanya Seongwoo ingin menangis saja saat merasakan bagian belakangnya melembab. Celana ketatnya yang berwarna abu-abu jelas tidak akan mampu menyembunyikan itu. Justru menambah kesengsaraannya.
Dengan susah payah, pria Ong itu melangkah lunglai melanjutkan perjalanannya. Namun kakinya yang sudah lemas seperti jelly seakan tak mampu menopang tubuhnya. Salah, ini benar-benar salah. Kenapa hari ini kesialan seolah mengeroyoknya sekaligus? Sudah tidak membawa supressant, tidak membawa parfume, dan heatnya datang di tengah jalan. Seandainya tidak dosa, Seongwoo ingin memaki Tuhan saja rasanya.
Seongwoo tidak ingin menjadi mangsa dari para dominan yang tidak bertanggung jawab. Ia mati-matian berdoa agar tak ada satu pun dominan yang melihat dirinya sekarang. Tapi tampaknya Tuhan seolah dendam padanya. Doa yang mati-matian ia panjatkan tidak didengar dengan adanya tangan kekar yang mengangkat tubuhnya. Belum lagi bau alpha yang kuat menguar dari pemilik tangan kokoh tersebut.
"Kepar—hh—athh …" umpat Seongwoo yang malah terdengar seperti desahan akibat posisi gendongan dimana alpha itu mengangkatnya seperti memanggul karung beras. Dan hal itu menyebabkan genitalnya bergesekan dengan tulang selangka orang itu.
Sedetik kemudian, ia merasakan sesuatu menyelimuti bagian belakangnya, sebelum tubuhnya yang panas dan penuh keringat terkulai lemas di bahu sang alpha asing yang membawanya entah kemana.
.
.
.
Hyunbin nyaris menganga melihat omega manis yang berdiri di hadapannya, di koridor gedung political science. Mata rubah omega itu menatap tajam ke seluruh penjuru, mencari seseorang tanpa mengindahkan tatapan dominan-dominan nyaris kelaparan di sekitar.
"Aku mencari Kang Daniel," ujar omega itu mutlak.
"Y—ya? Daniel?" Hyunbin kelabakan melihat ke sekeliling. "Dia ada di— aduh! Omega manis sepertimu kenapa bisa sampai di tempat ini? Bahaya."
Omega yang kita ketahui bernama Minhyun itu menghela napas. Ada berapa alpha konyol nan aneh di dunia ini yang belum ia temui selain Kang Daniel dan alpha di depannya ini? "Aku ada urusan dengannya. Kalau kau bisa membantu memanggilkannya untukku, maka panggilkan, tapi kalau tidak bisa, berhenti bersikap konyol dan menyingkirlah."
"Mencariku, sayang?" belum sempat Hyunbin menjawab, suara husky itu sudah terdengar di balik bahunya. Hyunbin menoleh dan mendapati sepupunya itu sudah berdiri di sana dan tersenyum penuh makna. "Kau tidak perlu repot-repot menghampiriku ke sini, sayang. Lihat betapa banyak mata yang menatap jatuh hati kepadamu," kata Daniel lagi seraya mengelus pipi Minhyun, bertujuan untuk memancing sepupu bertubuh tinggi yang kini hanya diam menatapnya.
Hyunbin mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sengaja sekali si Kang ini. Pikirnya. Pandangannya beralih pada Minhyun yang menepis tangan Daniel dan berbicara dengan wajah datarnya, "seandainya aku tidak punya sesuatu yang penting untuk disampaikan, aku juga ogah menghampirimu, Tuan Kang." Hyunbin menahan senyum mendengarnya. Kalimat itu berarti omega itu tidak menaruh hati juga pada Kang Daniel, kan? Setidaknya belum.
"Oh, kalau begitu bagaimana jika ke café biasa? Secangkir espresso mungkin bisa menemani kita berbincang," ajak Daniel. Minhyun menggeleng.
"Tidak. Aku hanya mau menyampaikan sedikit hal penting mengenai pertemuan-pertemuan selanjutnya untuk perjodohan kita, jadi tak perlu susah-susah mengajakku ke café itu karena aku akan langsung pulang."
"Baik. Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang. Bagaimana kalau bicara di mobil saja?" putus pria pecinta kopi—terutama espresso—itu dengan nada perintah. Minhyun mengedikkan bahu dan mengikuti langkah alpha arogan itu keluar gedung.
Hyunbin menatap kepergian keduanya dengan hampa. Minhyun bahkan tidak mempedulikannya lagi—atau setidaknya mengangguk pamit kepadanya sebelum pergi. Minhyun memang bukan fated mate-nya. Tapi omega bermata rubah itu telah mencuri perhatiannya sejak pertama kali bertemu dalam acara seminar kesehatan di kampus. Termasuk dalam mahasiswa unggulan di fakultas kedokteran sekaligus orang penting di klannya membuat Minhyun menjadi pembicara di acara itu. Hyunbin yang kala itu sama sekali tidak mengenal Minhyun kecuali namanya terpesona pada penampilan sang omega. Sejak saat itu ia sering bercerita pada Daniel mengenai omega itu. Tidak menyangka ia kalau omega yang membuatnya jatuh hati tersebut adalah putera Klan Korona yang dijodohkan dengan sepupunya.
.
.
.
"Sampai jumpa besok, sayang. Istirahat yang tenang, ya …."
Minhyun mendelik jijik kepada Daniel yang tersenyum genit ke arahnya. Ia keluar dari mobil mewah yang ditumpanginya tersebut dan membanting pintunya keras. Membuat pria di dalam terkekeh. Merasa berhasil menggodanya.
Setelah memastikan omega manis itu masuk ke rumah besarnya, Daniel kembali melajukan mobilnya keluar dari perumahan elit di wilayah Korona itu. Sambil bersiul ia menyetir dan tiba-tiba ….
Ckiiiitt!
"Hei, bajingan! Hati-hati kalau menyetir!"
Alpha itu mengernyit mendengar teriakan seorang anak laki-laki yang berdiri di depan mobilnya dengan wajah terkejut. Ia bergerak melepas seatbelt dan keluar dari mobilnya dengan gaya angkuh mendekati anak laki-laki itu.
"Oh, seorang pure alpha kecil," ujar pria berbahu lebar yang juga merupakan pure alpha tersebut. Si pure alpha kecil menatapnya dengan berani, sedangkan pure alpha dewasa mendengus geli. Sudah biasa. Memang sudah biasa melihat ada seorang alpha muda yang dengan berani menentang alpha dewasa. Lagipula memang begitu seharusnya sikap seorang alpha. "Aduh, manisnya … sudahlah, jangan menatapku seolah menantang begitu. Aku sedang tidak ingin menaklukkan orang. Apalagi anak kecil."
Anak itu membeliak kesal. Entah karena dibilang manis, atau karena disebut anak kecil, yang jelas pure alpha muda itu tidak terima salah satu sebutan itu untuknya. "Apa kau bilang? Sembarangan saja. Aku bukan anak kecil!"
Menanggapi itu, Daniel hanya tertawa. "Anak kecil yang merajuk memang selalu terlihat imut. Aigoo … manisnya …" Ia mencubit pipi sang alpha muda yang langsung menampiknya dengan kasar.
"Hentikan. Jangan bilang aku manis. Aku seorang alpha," sentak alpha muda itu marah.
"Mau kau alpha, beta, ataupun omega, kalau kau manis tetap saja manis. Kau tidak bisa menyangkalnya."
Alpha muda itu menatapnya aneh. Apa-apaan sih, orang ini? Dia sehat atau tidak?
"Ah, iya. Kau tidak mengenalku? Oh, apa kau bukan Barbarian ya, kau anggota klan Korona?"
"Memangnya siapa kau harus kukenal segala," sahutnya.
"Eeiii … jangan begitu. Aku Kang Daniel. Calon penerus kepemimpinan Klan Barbarian. siapa namamu, anak manis?" tanya Daniel sembari mengulurkan tangannya.
Alpha muda itu terkejut, lantas membungkukkan tubuhnya. "K—Kang wangja-nim. Maafkan kelancanganku," serunya tergagap dengan raut wajah bersalah. Berbalik 180 derajat dengan anak yang tadi dengan lancang meneriaki sang alpha dewasa.
Daniel terkekeh. "Kau yakin kau ini alpha? Alpha tidak meminta maaf." Ia membungkuk sedikit untuk mengangkat dagu anak itu dengan tangan kanannya kemudian kembali tegap bersedekap. "Siapa namamu? Biar kuingat."
"Lee—Lee Woojin imnida …." Woojin kembali membungkuk sopan mengingat orang di depannya adalah calon mate pangeran klan Korona yang terhormat dan juga merupakan putera mahkota di klannya sendiri.
"Korona." Daniel mendengus, "tipikal." Ia mengusak rambut Woojin dan kembali berbicara, "alpha sejati tidak perlu membungkuk seperti itu. Memang seharusnya aku bisa saja melakukan sesuatu pada mulut lancangmu yang berani berteriak padaku, tapi aku sedang ingin bermurah hati. Dan asal kau tahu, aku tidak suka bermurah hati kecuali pada sesuatu yang kusukai."
"Ne?" Woojin menatap Daniel tidak mengerti.
"Sampai jumpa lagi, Lee Woojin," lambai Daniel seraya berbalik hendak memasuki mobilnya kembali. Namun tangan kecil Woojin mencegahnya tiba-tiba.
"T—tunggu, wangja-nim!" serunya. "Aku … aku ingin …," gumam Woojin pelan. Mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. "Ah, terima kasih karena telah bermurah hati padaku, Kang Wangja-nim."
Daniel tertawa. "Panggil hyung saja. Aku suka anak manis sepertimu." Kemudian alpha dewasa itu masuk ke mobil dan melajukannya pelan meninggalkan sang alpha muda setelah tersenyum pamit. Woojin terpana. Kalau boleh jujur, ini pertama kalinya ia melihat seorang alpha penuh kharisma seperti Kang Daniel.
Ia tidak tahu saja sifat asli putera mahkota itu di luar sana.
.
.
.
"Ahhnn … sshhh … panas …." Omega itu menggeliat dan mendesis panjang begitu terbangun dalam balutan selimut di atas tempat tidur empuk dari bulu angsa yang menjadi tempat pembaringannya entah sejak kapan. Ia berusaha membuka matanya dan mencerna apa yang sedang terjadi. Dilihatnya langit-langit yang berwarna krem cerah dengan lampu-lampu yang terang di atasnya. Dinding ruangan itu terlihat berwarna putih bersih dengan sentuhan warna karamel yang elegan. Bukan … ini bukan kamarnya.
Cleck …!
Suara pintu ruangan yang terbuka mengalihkan perhatian omega yang tengah mengalami masa heat itu. Manik matanya bergetar seiring sebuah siluet pria bertubuh tegap memasuki ruangan itu. Tinggi, dan bahunya lebar. Aura dominan pun menguar kuat begitu siluetnya tampak sempurna di hadapannya. Tubuh omega itu bergetar antara ketakutan atau menahan hasrat yang kuat akibat hormonnya yang meletup-letup.
Alpha itu berdiri tepat di hadapannya sembari menimang sebuah botol kecil. Ia menatap manik sang omega yang bergetar ketakutan, lalu menyusuri penampilan acak-acakan pria manis itu.
Bibir tipis yang ranum itu terus terbuka mengais udara. Wajah merah dengan peluh yang mengalir di dekat pelipisnya. Rambut hitam legam yang berantakan—juga basah dengan keringat. Ditambah kemeja putih yang membalut tubuh kurusnya kini sudah tampak tembus pandang karena keringat, dengan beberapa kancing yang terbuka menambah kesan pemandangan sensual bagi sang alpha. Omega itu gemetar ketakutan dan merapatkan selimut tipis itu menutupi tubuhnya ketika sang alpha menggeram rendah di hadapannya.
"Ja-jangan mendekathh," rintih pemuda manis itu putus asa merasakan tubuhnya yang mendamba sentuhan namun pikirannya masih cukup waras untuk memperingatkan bahaya yang dihadapinya dengan adanya alpha di hadapannya saat ini. Alpha itu berjalan mendekati tempat tidur, membuat sang omega beringsut merapatkan diri ke pojoknya. Mereka berpandangan sesaat, manik bergetar milik sang omega beradu dengan tatapan tajam sang alpha.
"Ambillah." Omega itu terbelalak ketika tangan sang alpha terjulur mengulurkan sebutir pil putih yang sangat ia kenali. Dengan takut-takut ia menerima pil itu dari tangan sang alpha. Alpha itu mengitari tempat tidurnya untuk mencapai nakas. Diraihnya segelas air di nakas itu dan lagi-lagi diserahkan pada omega yang masih menatapnya tak mengerti. "Minum," katanya.
Omega itu segera menelan pil itu. Itu adalah supressant. Obat penting untuk menekan hormon omega yang sedang heat. Setelahnya, sang omega menatap alpha itu tidak mengerti. Kebanyakan alpha akan terangsang apabila berada di dekat omega yang sedang heat. Terlebih pure omega sepertinya yang memiliki feromon kuat yang menggoda alpha manapun. Tapi alpha yang satu ini ….
"Sudah mendingan?" tanya alpha itu.
Sang omega mengangguk setelah merasakan panas tubuhnya mereda. Namun, bau feromonnya masih menguar di udara. "Ke—kenapa?" gumamnya.
Alpha itu menghela napas. "Pure omega sepertimu seharusnya amat berhati-hati. Aku menemukanmu heat di tengah jalan dengan bau yang membuat gila. Bagaimana bisa kau tidak membawa supressant, atau setidaknya menggunakan parfum di saat penting seperti itu? Kau beruntung aku menemukanmu, kalau tidak mungkin kau tidak akan selamat." Ia menatap sang omega dengan tajam. "Kau tidak tahu kan, bagaimana susahnya mengangkut seorang omega penuh keringat dengan bau feromon yang tajam dan terus melenguh dan mengerang setiap saat? Sekali lagi, kau beruntung hanya aku yang menemukanmu. Dengan begitu tubuhmu selamat dan tidak perlu menyewa pengacara untuk membelamu di pengadilan. Sekarang, kalau boleh tahu, siapa namamu?"
"Ong—Seongwoo," lirih omega itu yang lebih terdengar seperti bisikan. Alpha itu mengangguk.
"Kau selamat, Seongwoo. Tidak usah berterima kasih padaku. Sebentar, aku sedang menyiapkan sup di dapur, sepertinya sudah matang, kau sebaiknya ganti bajumu," kata sang alpha seraya beranjak menuju pintu setelah menunjuk setelan pakaian yang terlipat di nakas. "Oh, omong-omong … kau bisa panggil aku Kang."
Seongwoo mendesah lega begitu pria yang mengaku bernama Kang itu keluar dari kamar. Ia beranjak pelan meraih kaus dan celana training di nakas. Sedikit kebesaran, tapi tidak buruk. Setidaknya pakaian itu lebih baik daripada kemeja putih yang nyaris tembus pandang dan celana bahan ketat abu-abu yang sudah basah entah karena apa itu. Secepat kilat ia mengganti pakaiannya dan kembali duduk di pinggir tempat tidur.
Mata indahnya menerawang ke langit-langit dan berpikir, bagaimana bisa ada alpha sebaik dia? Entah kenapa hati Seongwoo menghangat. Ia merasa dilindungi di sini. Yah … setidaknya sampai ambang batas kesabaran alpha itu menahan diri dari bau feromonnya yang gila-gilaan itu. Namun, salahkah Seongwoo bila berharap alpha itu akan tetap menahan diri dan melindunginya, atau setidaknya mengantarnya pulang ke apartemennya?
Tolong ingatkan Seongwoo untuk bertobat setelah sempat memaki Tuhan beberapa waktu yang lalu.
.
.
.
.
.
Yang di bawah boleh di skip, tapi disarankan baca
Karena cerita ini bersifat fantasy dengan menggunakan istilah omegaverse ditambah dengan istilah yang kami karang sendiri, maka ...
Sekilas mengenai Dunia ABO versi YunHwa :
Dalam cerita ini, manusia memiliki tiga kasta, yaitu :
Alpha, adalah kasta tertinggi yang unggul dalam segala hal. Kekuatan, kecerdasan, ketangkasan, kepemimpinan, dan lain-lain. Mampu membuahi omega dan memiliki stamina yang kuat. Dalam dunia ABO versi YunHwa di book ini, alpha terbagi menjadi dua : alpha biasa dan pure alpha. Pure alpha adalah semacam alpha superior yang memiliki kekuasaan lebih tinggi dibandingkan alpha biasa. Memiliki aura dominan terkuat, dan tidak dapat dikalahkan.
Beta, adalah kasta tengah, satu tingkat di bawah alpha. Dalam book ini, beta juga terbagi menjadi dua : Dominan beta dan Submissive beta. Mungkin tidak perlu dijelaskan apa bedanya dominan dengan submissive, karena YunHwa yakin pembaca pasti tahu.
Omega, kasta terendah dari tiga kasta. Male omega memiliki rahim dan dapat mengandung apabila dibuahi. Dalam versi YunHwa, lagi-lagi omega terbagi menjadi dua : omega biasa dengan pure omega. Pure omega memiliki feromon yang lebih kuat daripada omega biasa. Mereka juga unggul dalam kecerdasan, dan penampilan. Beberapa pure omega bahkan bisa saja mengalahkan alpha biasa.
Manusia di dunia ABO versi YunHwa berusia panjang. 1 tahun lama di dunia fiksi ini sama dengan 10 tahun lama dunia manusia biasa. Usia mereka dihitung sesuai lama 1 tahun di dunia mereka.
Mengenai klan, dunia ABO versi YunHwa berfokus pada dua klan besar yang masing-masing dipimpin oleh seorang raja.
Klan Barbarian, Klan ini dikenal dengan insting bertahan hidupnya yang liar dan keras. Klan ini didominasi dengan bibit-bibit unggul alpha dan pure alpha serta beta dan beberapa omega. Klan ini dipimpin oleh Raja Kang dengan Panglima Kwon sebagai penasihat. Keluarga raja terdiri atas dua anak yang kedua-duanya adalah pure alpha (sedikit spoiler).
Klan Korona, Klan yang satu ini kebalikan dari Klan Barbarian. Mereka lebih mengunggulkan diri di bidang teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Klan ini bersifat tunduk pada penguasa. Dari 10 bayi yang lahir di klan Korona, hanya satu kemungkinan bayi alpha lahir. Klan ini dipimpin oleh Raja Hwang, salah satu alpha yang ada di sana. Keluarga raja Hwang akhir-akhir ini berhasil membesarkan satu-satunya pure alpha muda di klan mereka, yakni anak angkat raja setelah juga berhasil membesarkan satu bibit unggul pure omega, yakni putera mahkota.
Kedua klan tersebut memiliki wilayah masing-masing. Seperti yang diceritakan, dua klan besar tersebut pernah berperang dengan dahsyat, namun beberapa tahun setelah perang tersebut, diadakan gencatan senjata dan ditandatanganilah pakta perdamaian oleh kedua klan. Sebagai bukti perdamaian, dua putera kerajaan klan dijodohkan untuk mempersatukan dua klan tersebut.
Selain dua klan besar, ada beberapa klan kecil yang tidak perlu disebutkan, dan ada juga sekelompok orang bebas yang tidak terikat pada klan apapun—dalam fiksi ini disebut Kelompok Abu-abu. Orang-orang bebas ini biasanya adalah alpha atau omega. Beta tidak ada yang hidup di luar klan, karena semua beta mengabdikan diri pada alpha dan melindungi omega.
Dunia fiksi ini berada pada zaman modern dimana kasta sudah tidak terlalu penting, namun hukum alam tetap berlaku.
