OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

Sidepair!Taedonghan

YUNHWA

Happy reading~

Orang bilang,

Temukan fated mate-mu, maka kau akan menemukan potongan penting yang melengkapi hidupmu.

Mereka yang tersenyum indah bersama fated mate mereka, bilang bahwa hidup yang lengkap bersama mate adalah kebahagiaan yang hakiki.

Mereka yang berhasil merintis kesuksesan bersama fated mate mereka, bilang bahwa fated mate diikuti dengan blessed fate yang membawa mereka pada kesuksesan hidup dan usaha.

Meski tak sedikit pasangan fated mate yang hidup tanpa cinta, hanya terikat dengan takdir dan berakhir dengan betrayal yang menyakitkan, tapi mereka memiliki pandangan lain tentang fated mate. Bahwa fated mate adalah salah satu wujud simbolisasi keberuntungan yang mesti mereka raih. Meski dengan cara menyakitkan sekalipun.

Maka dapat diartikan pula bahwa setelah keberuntungan itu habis didapatkan, kau bisa membuang sumbernya.

Kalimat terakhir adalah kesimpulan yang didapatkan oleh seorang pemuda berkulit pucat yang duduk di selasar jalan di depan toko kelontong yang tutup, memandangi langit lembayung yang mendung menitikkan sisa-sisa air hujan sore itu.

Ia membenci takdir yang membuatnya memiliki fated mate. Ah, bukan. Lebih cenderung pada, ia membenci dirinya yang memiliki fated mate sementara ia tidak menginginkannya. Fated mate hanya membuatnya ingin lari. Ingin mati. Pergi dari kehidupan yang menyakitkan. Ia sudah cukup nyaman hidup dengan caranya sendiri. Hei, ia bahkan memiliki kekasih! Seorang omega manis dari klan Barbarian. Keturunan ras etnis Negeri Matahari Terbit.

Selama ini ia menunggu waktu yang tepat untuk mating, menandai kepemilikannya terhadap sang omega. Bukannya pengecut, hanya saja ia juga gugup dengan keadaannya. Bahwa ia tengah menjalani hubungan cinta terlarang yang sangat tidak lazim bagi manusia dengan kasta zaman sekarang. Namun, kejadian yang dialaminya hari ini menjawab semuanya.

Di saat gejolak itu muncul dalam dirinya, menyambungkan sehelai benang merah tipis yang sangat tidak diharapkannya. Dan membuatnya mual. Sangat mual. Sedikit banyak ia menyukai bagaimana sensasi itu bergolak dalam hatinya, namun sebanyak itu pula ia membenci untaian takdir yang membawanya. Maka ia sampai pada suatu keputusan …

Ia akan mating dengan kekasihnya. Tak peduli hal itu akan menyebabkan betrayal yang menyakitkan bagi dirinya maupun mate-nya. Ia akan melakukannya.

"Yeoboseyo, Kenta hyung," sapanya melalui telepon genggam. "Aku membutuhkanmu, tolong datang kemari." Ia berbisik lirih menyebutkan alamat tempatnya berada sekarang. samar-samar ia mendengar suara lain di seberang telepon tempat kekasihnya berbicara. Tapi peduli setan. Ia tidak memikirkan itu.

.

.

.

"Woah, Hyung! Kurasa aku setuju dengan ucapanmu. Di sini sangat menyenangkan! Lihat, aku berkeringat banyak sekali karena latihan yang hebat!"

Daniel menampakkan smirk-nya mendengar celotehan alpha muda yang tengah bersemangat itu. Tak jauh dari mereka, di tengah lapangan balai pelatihan alpha, alpha-alpha muda dengan rentang usia belasan hingga dua puluh tahun tampak terengah kelelahan setelah latihan —yang sebenarnya lebih seperti bertanding— dengan Lee Woojin.

Pure alpha muda itu tadi begitu semangat menghadapi tujuh sampai sembilan alpha sekaligus. Kemudian melakukan berbagai latihan dengan alat-alat yang berat dan bagus, dan memilih kuda paling gagah —yang tanpa sepengetahuannya adalah milik Daniel— untuk dipacu dengan kecepatan gila hingga kuda itu meringkik lantang.

Daniel melambaikan tangannya ke belakang, memberi kode kepada seseorang di belakangnya untuk mendekat.

"Lee Woojin, perkenalkan, Park Woojin. Petarung terhebat di sini. Kepercayaanku."

Lee Woojin berkedip pelan mendengar nama remaja berkulit tan dengan gingsul yang berdiri menatapnya dengan wajah datar. Kemudian ia beralih menatap Daniel. Meminta penjelasan lagi.

"Nama kalian sama. Jadi aku ingin memperkenalkan kalian secara langsung seperti ini. lagipula, tampaknya kalian bisa menjadi partner latihan yang baik," kata Daniel sambil tertawa.

"Ya, annyeonghaseyo, Park Woojin imnida. Usiaku 19 tahun. Aaaiiiyyyyaaakkk!!"

Seruan lantang Park Woojin membuat Lee Woojin kaget. Sedangkan Daniel dengan ringannya tertawa manis sekali. Tampaknya suasana hati sang pangeran sedang baik sekarang.

"Dia seorang yatim piatu. Ayahnya adalah seorang panglima besar yang gugur ketika perang besar 15 tahun yang lalu. Kurasa semangatnya turun dari ayahnya," jelas Daniel lagi.

Woojin kecil mengangguk-angguk. "Lee Woojin imnida. 15 tahun. Semoga kita bisa berteman, Woojin-ssi! Hiyak!" seru Woojin menirukan cara berkenalan Park Woojin.

Wajah datar itu perlahan mencair. Woojin yang lebih tua tertawa lebar memperlihatkan gingsul dan matanya yang menyipit. Kedua Woojin pun berjabat tangan. Astaga. Kenapa aku ingin tertawa karena narasi ini.

Ketika kedua Woojin itu tengah berkenalan dan mulai saling mendekatkan diri, seorang pria alpha paruh baya berjalan melewati mereka dan berhenti sebentar untuk menyapa sang putera mahkota, Daniel.

"Daniel-ssi, kau di sini."

"Ah, Samchon. Apa kabar?" sahut Daniel berbasa-basi. Bagaimana tidak, di depannya adalah Panglima Kwon yang notabene adalah ayahnya Hyunbin sekaligus pamannya sendiri.

"Seluruh anggota keluarga sedang sibuk dengan perjodohanmu. Itu adalah sebuah kegiatan yang sakral dan penting untuk persatuan dua klan besar." Kening Panglima Kwon berkerut ketika merasakan sebuah aura lain yang familiar di dekatnya. "Letnan Lee Yoojin?" gumamnya seraya menoleh, lalu mendapati dua Woojin remaja tengah berjalan sambil mempraktikkan ilmu bela diri ke lapangan.

Tolong jangan biarkan aku tertawa lagi karena narasi tentang Woojin.

.

.

.

"Donghan-ah, waeyo?" Kenta berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan wajah lelaki yang terlihat sangat kacau. Donghan memang selalu kacau, tapi tidak pernah sekacau ini.

Rasanya kaget sekali ketika kekasihnya tiba-tiba menelepon sore hari, dengan suara lirih memintanya untuk datang, dan berujung menemukannya di sudut gang kecil di daerah pertokoan. Duduk sendirian memeluk lutut di balik kegelapan.

Tanpa banyak bicara Kenta membawa lelaki yang lebih muda darinya itu ke apartemennya setelah menelepon seseorang. Lalu menenangkan kekasihnya di sana.

"Hyung …" Donghan langsung memeluk Kenta yang berada dihadapannya. Melampiaskan rasa rindu sekaligus kegelisahannya. Hidungnya menelusup di ceruk leher pemuda yang bertubuh lebih kecil darinya. Menghirup aroma feromon memabukkan yang bisa menenangkannya.

Namun, kali ini aroma itu berbeda. Entah mengapa seolah ada campuran lain dalam aroma itu. Tapi persetan. Selama bau ini masih bisa menenangkannya bersama kehangatan dari sang omega, Donghan tidak peduli yang lain.

"Donghan-ah ..." Kenta mengelus punggung Donghan dengan lembut. Menyalurkan ketenangan yang kekasihnya itu inginkan. Rasanya pemuda bergingsul itu ingin mengatakan sesuatu, tapi diurungkannya. Ia memilih untuk tutup mulut dulu dan menunggu sampai kekasihnya yang kacau ini tenang.

"Hyung ..." bisik Donghan lirih, membuat sang omega merinding. "Aku sudah lama menunggu saat ini. Sangat lama."

Kenta makin merinding mendengar suara Donghan yang serak. Namun, lelaki itu tetap membiarkan yang lebih muda terus memeluknya. Bahkan mulai mengecupi lehernya.

"Dan sekarang, aku telah mempersiapkan semuanya, Hyung. Aku mencintaimu. Izinkan aku menandaimu."

"T-tunggu--!"

Kenta terkesiap. Ia tahu hal ini—hari dimana Donghan akan menandainya—pasti akan terjadi. Tapi tidak hari ini. Ia tergagap. Tangan kecilnya berusaha mendorong tubuh Donghan yang masih setia menempelinya. Kecupan-kecupan di lehernya semakin menjalar hingga ke belakang. Ke daerah tengkuk dimana para alpha dan dominan beta biasa menandai pasangannya.

Donghan tidak mengindahkan usaha Kenta menjauhkan tubuhnya. Tekadnya sudah bulat untuk segera menandai sang omega menjadi mate resminya sebelum fated mate menemukannya untuk kedua kali.

Kecupannya sudah mencapai bagian belakang leher sang omega dan hampir saja ia menggigit tengkuk itu, ketika kenyataan menamparnya dengan keras.

Tanda ruam keunguan beserta bekas gigitan yang dalam menghiasi tengkuk itu.

"K-Kenta hyung?" Donghan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Kenta.

Ekspresinya terluka. Sungguh terluka.

"Maafkan aku, Donghan-ah ..." ucap Kenta dengan nada penyesalan yang amat kentara.

Donghan berusaha menetralkan napasnya yang memburu. Sial. Matanya memanas. Kekasihnya, omega yang dicintainya ...

Telah dimiliki orang lain.

Tangannya meremat jemari Kenta dengan erat seolah tidak memperbolehkan sang omega menjauh sedikitpun darinya.

"S--siapa, Hyung?" Donghan tercekat. "M-mate?"

Kenta mengangguk pelan seraya mengetatkan genggamannya pada jemari Donghan. "Maafkan aku, Donghan-ah ..."

Mati-matian Donghan menahan air mata sialan yang mulai berdesak-desakan di pelupuknya. Serta emosi yang mulai naik dan memanas. "Siapa, Hyung. Apa aku mengenalnya?" ulang Donghan dengan senyuman yang dipaksakan.

Kenta mendesah pelan sebelum dengan ragu-ragu menatap mata Donghan dan menjawab, "ya, dia bilang ia mengenalmu. Ia ...

... Kim Sanggyun."

Dan nama tersebut akhirnya meruntuhkan pertahanan seorang Kim Donghan.

.

.

.

Taedong mengerutkan keningnya gelisah. Sejak dari café tadi, ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi di kelasnya. Debaran-debaran kecil itu terus menggema di kepalanya. Terkadang perasaan marah dan muak entah kenapa ikut menguasainya. Itu bukan mood-nya sendiri, melainkan mood yang dirasakan mate-nya di luar sana. Ia tahu, gejolak-gejolak itu adalah tanda bahwa bukan hanya ia yang menyadari bahwa ia sudah menemui mate-nya. Mate-nya juga sadar. Mate-nya juga tahu. Itulah yang menyebabkan gejolak jiwa mereka mulai terhubung meski hanya sekian persen.

Taedong menghela napas dengan kasar. Yakin jika mate-nya ini bukan seorang yang lemah lembut seperti wanita atau pemuda manis impiannya. Di kepalanya banyak berputar-putar berbagai umpatan kasar dengan perasaan marah yang semakin menggebu-gebu. Taedong jadi ikut muak. Dengan segera ia meraih kunci mobilnya dan mencari pemuda kasar yang ditakdirkan menjadi mate-nya.

Pemuda itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan gila. Mengandalkan insting, ia mencoba mencari dimana adanya sang mate yang sedari pagi mengganggu pikirannya. Apapun yang terjadi, ia harus menemukannya.

"Hei! Hati-hati, bung!" Teriak seseorang ketika mobilnya nyaris menyerempet trotoar saat melewati tikungan.

Mengabaikan pemuda tinggi berkulit putih itu, Taedong tetap melajukan mobilnya dan dengan cepat menghilang di kejauhan.

"Orang gila. Apa yang ia kejar," gumam remaja berseragam tadi sambil menatap kepergian mobil Taedong.

.

.

.

Taedong menghentikan mobilnya di pinggir jalanan yang sepi di perbatasan wilayah klan. Lapangan yang dipenuhi ilalang kuning menyapanya di bawah langit yang menggelap. Instingnya menyuruhnya berhenti di sini.

Alpha itu turun dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari sosok yang kemungkinan adalah mate-nya. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, ia berjalan menyusuri hamparan ilalang yang tingginya sepinggang itu.

Isak tangis.

Umpatan marah.

Debaran jantung yang menggila.

Taedong yakin di sini tempatnya. Ia bahkan bisa mendengar semuanya lebih jelas dari sebelumnya. Dan di sana, tak jauh dari tempatnya berdiri, di ujung lapangan yang mengarah langsung ke tepi sungai membentuk jurang kecil yang indah dan menyedihkan di saat yang bersamaan, sosok itu tengah duduk memeluk lutut dengan wajah yang terbenam di antaranya.

"Ketemu."

.

.

.

Donghan duduk memeluk lutut. Tenggelam dalam isak tangis yang teredam. Sesekali berdoa agar tidak ada siapapun yang datang ke sini dan mendengar isakannya.

Seumur hidup, ia tidak pernah menangis. Ah, kecuali waktu bayi. Tentu saja. Namun, semua rentetan nasib buruk yang dialaminya meruntuhkan semua pertahanan. Menghancurkan bendungan kristal air mata yang sudah lama dibangunnya. Sudah berulang kali ia memaki Tuhan, memprotes setiap takdir yang mengikutinya. Dan benar adanya bahwa Tuhan membenci orang yang membencinya. Rentetan kesialan yang membuntuti Donghan menjadi bukti nyatanya. Dan hari ini adalah puncak dari semuanya.

"Hei, kau di sana!"

Tergesa, Donghan menghapus setiap jejak air matanya. Ia berniat menengok ke belakang, ke asal suara yang memanggilnya sebelum merasakan sesuatu yang tadi sempat dilupakan bergejolak dalam hatinya.

Deg ...

Deg ...

Deg ...

"Mate?" Batin Donghan bersuara. Seketika itu juga pandangannya menggelap karena amarah.

"Menjauh," gumamnya.

"Kau bahkan tidak menoleh padaku."

Donghan memutar kepalanya dengan gusar dan menatap sosok yang berdiri tak jauh darinya itu dengan nyalang. "Apa? Kau tidak berpikir kalau aku adalah mate-mu, kan? Enyah dari hadapanku atau kubunuh kau!" teriak Donghan nyaring.

"Aku ragu kau bisa membunuhku," sahut Taedong ringan.

Donghan menggeram. Ia bangkit berdiri dan mencibir kepada pemuda alpha di hadapannya.

"Aku bahkan bisa mengambil kepalamu dan memajangnya di dinding rumahku kalau mau. Tapi melihat wajahmu saja sudah muak."

Taedong menghela napas kasar mendengarnya. "Buktikan kalau kau bisa. Aku sungguh menyesal. Apa salahku di kehidupan sebelumnya sampai memiliki mate kacau sepertimu?"

"Aku bukan mate-mu!!"

Taedong tersentak. Teriakan Donghan membuatnya kesal. "Apa kau tahu, orang yang menolak fated mate mereka akan merasakan sakit parah dalam jiwanya."

"Tanpa mengetahui itu pun jiwaku sudah sakit sejak dulu, anjing sialan!"

"Hei! Jaga bahasamu!" Taedong akhirnya ikut meninggikan suaranya. Ikut emosi karena mate yang lancang memakinya. Ia tidak terima mate kasar seperti ini.

Oleh karena itu, ia akan mengajarkannya cara sopan santun.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" Teriak Donghan ketika Taedong maju dan mengunci pergerakannya. Wajah alpha itu sangat dekat dan membuat jantungnya seolah berhenti berdetak saking takutnya.

"Mari kita lihat," smirk, "apakah kau bisa membunuhku seperti yang kau katakan setelah ini."

Donghan melotot ketika merasakan kecupan dingin di sudut bibir dan menjalar ke dagu serta leher jenjangnya yang putih tak bercela.

"Brengsek! Babi! Hentikan, sialan!" Jeritan tercekat Donghan dikeluarkan dengan sekuat tenaga seraya mendorong tubuh Taedong. Namun, percuma. Tenaga Taedong sebagai alpha cukup kuat. Lebih kuat dari alpha-alpha biasa yang pernah dikalahkan Donghan. Merasa sia-sia, tangannya menjulur ke leher sang alpha dan mencekiknya kuat-kuat.

Nahas.

Hanya satu kata itu yang menggambarkan nasibnya. Cekikan kuat yang dibuatnya justru malah menyebabkan gigitan spontan di tengkuknya. Di selaput tempat para alpha dan beta dominan menandai mate mereka.

"Aaarrgghh--" Donghan merintih kesakitan. Darah mengalir dari tengkuknya dan langsung dijilat habis oleh sang alpha. Taedong tersenyum menang di tengah cekikan Donghan yang melemah. "Kau-- IBLIS!"

"Kau tidak mampu membunuhku," senyum Taedong terulas semakin lebar. Donghan mengepalkan tangannya dengan wajah memerah yang sarat akan emosi. "Namaku Kim Taedong," bisik Taedong seraya mengelus pipi mulus Donghan. "Kuharap kau mengingat itu di pertemuan selanjutnya."

Lalu alpha itu berbalik dan berjalan menjauhi Donghan yang terduduk lemas.

"Tidaak! Menjauh dariku, bajingan!!"

"Kau bukan omega, tapi kenapa kau manis sekali?"

"Mereka menyakitiku! Tolong aku, Hyung!!"

"Salah sendiri. Kenapa juga kau lahir seperti ini? Bukan omega tapi tetap pihak bawah seperti omega. Andai saja kau alpha. Atau setidaknya seorang dominan. Nasibmu pasti akan lebih baik dari ini. Sekarang terima saja. Bukankah memang itu tugas beta? Melindungi omega dan melayani alpha."

"Alpha, my alpha..."

"Aaarrgghh!! Sialaaaann!!" Jerit Donghan semakin frustrasi kala kilasan masa lalu itu muncul begitu saja di benaknya.

"Kupastikan tidak akan ada pertemuan selanjutnya, selamanya."

.

.

.

"Astagaa Seongwoo-ya! Aku sudah berulang kali mengingatkanmu agar berhati-hati!" Minhyun mendecak sebal mendengar kekehan kecil di seberang telepon. Di sana, sahabatnya, Ong Seongwoo tengah berbicara. Menceritakan pertemuannya dengan seorang alpha luar biasa di hari pertama heat-nya.

"Jangan khawatir, Minhyun-ah ... begini-begini aku punya kadar keberuntungan yang tinggi."

"Ya tapi tidak dengan meminta seorang alpha yang baru kau temui menjadi mate-mu juga! Kau bisa dibilang omega murahan," sungut Minhyun.

"Dia seorang pure alpha, Minhyunnie~ dan jangan khawatir, membanting harga diri adalah tukaran yang sepadan untuk mendapatkan alpha gagah dan baik hati sepertinya."

"Kau gila."

"Bisa jadi aku gila karena jatuh cinta. Kau tahu? Bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya yang merdu di dalam kepalaku. Rasanya aku ingin bertemu lagi dengannya."

"Oh, ya, bahkan kudengar mood-mu sedang amat bagus hari ini," sahut Minhyun seraya menoleh ke arah pintu, mendengar keributan anak-anak remaja yang memang biasa berkeliaran di dalam rumahnya.

"Tentu saja mood-ku sedang bagus. Aku sedang menyusun rencana untuk menemuinya lagi."

"Astaga! Tunggu sebentar, Seongwoo. Di luar berisik sekali." Minhyun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu.

"Anak-anak panglima Lee ada di rumahmu?"

"Ne," jawab Minhyun. Kini ia membuka pintu kamarnya.

"Oh, ya? Mana si alpha muda?" Seongwoo terkekeh di seberang telepon ketika mendengar Minhyun berseru menegur para remaja tanpa menjauhkan teleponnya.

"Ya! Apa yang kalian ributkan?" Tegur Minhyun. Pandangannya tertuju pada Woojin yang tampak kotor dan bau keringat. "Woojin-ah, darimana saja kau?"

"Berlatih dengan hyung-ku," jawab Woojin sekenanya. Menimbulkan cibiran protes dari Daehwi yang berdiri di depannya dengan wajah cemberut.

"Yak! Kau tidak berlatih denganku, jadi kau punya hyung selain aku?" Serunya.

"Tentu saja. Lagipula kau lebih cocok dipanggil noona," ejek Woojin.

"Itu kasar sekali," sungut Daehwi sebal.

"Aish, sudahlah kalian berdua! Woojin-ah! Pergilah bersihkan dirimu. Kau kotor dan bau sekali!" Minhyun akhirnya berseru lagi setelah menyadari keadaan Woojin yang sangat tidak steril untuk rumahnya. Ia kemudian teringat kalau di seberang sana, seorang omega lain tengah mendengarkannya sambil cekikikan via telepon. "Seongwoo-ya, maafkan aku, kututup dulu ya?"

"Ne ... ne ... baiklah. Kkk, sampai jumpa nanti Minhyun wangja-nim~"

"Jangan memanggilku begitu, bodoh," gumam Minhyun setelah menutup teleponnya. "Ya! Alpha Lee! Cepat bersih-bersih!" serunya ulang.

"Kalau mau dibilang bau, sebenarnya feromonmu jauh lebih bau. Tapi baiklah, wangja-nim. Untuk menghormatimu yang cinta kebersihan, aku akan bersih-bersih," sahut Woojin sambil melesat pergi ke kamar mandi.

"Sudah kubilang panggil aku hyung kalau tidak di istana!" omel Minhyun sebal. Daehwi terkikik melihatnya.

"Yang sabar, Hyung. Memang anaknya semenyebalkan itu, kok."

"Minhyun hyung! Wangja-nim!"

Braakk!! gubrakk!!

Kedua omega itu sontak menoleh mendengar keributan seseorang yang berlari terburu-buru hingga menabrak sesuatu.

"Seonho?" kernyit Daehwi.

"Ah, hah ... hah ... hah ... ada Daehwi hyung juga," kata sosok jangkung itu begitu sampai di hadapan mereka dengan terengah-engah.

"Apa yang terjadi?" tanya Minhyun.

"Hah ... hah ... tolong ... tolong aku!! Alpha gila itu terus mengejarku!!"

.

.

.

.

.

Adegan nayana-nya ntar lagi ya, soalnya Yun gabisa nulis adegan itu, dan YunHwa ketemunya di sekolah jadi tidak memungkinkan untuk menulis ituan di sekolah :(