OOC DON'T LIKE DON'T READ
PRODUCE 101 S2 FANFICTION
FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY
M, ABO!AU
YUNHWA
.
.
.
Apabila seorang alpha sudah menemukan fated mate-nya, maka ia akan melakukan segala cara agar bisa menjaga sang mate agar tetap berada di sisinya.
Tiga hari belakangan ini Minhyun pusing. Seonho terus mengeluh dan mengadu padanya. Beta muda itu memohon sampai berlutut agar sang pangeran bermata rubah itu mau membiarkannya bersembunyi di tempat tinggalnya. Sebenarnya bukan masalah bagi Minhyun. Toh, anak-anak remaja tanggung—Seonho, dan Lee bersaudara—itu memang sudah biasa tinggal di rumahnya. Namun, dalam situasi seperti ini, dimana Seonho terus merengek gelisah dan membicarakan alpha aneh yang mengejar-ngejarnya dalam tiga hari belakangan sungguh mengganggu seorang Hwang Minhyun, omega dalam masa heat yang butuh ketenangan.
Rumah Minhyun yang seharusnya menjadi sumber ketenangan bagi sang omega malah ramai dengan tiga remaja tanggung yang menginap di rumahnya. Seonho, putera bibi koki Yoo, dan Woojin serta Daehwi, kedua bersaudara dengan ke-tidak mirip-an yang hakiki, putera panglima Lee yang terhormat.
Seperti pagi yang cerah ini.
"Hyung, alpha itu pasti masih ingin mengejarku. Dia benar-benar mencariku kemana-mana." Seonho merengek sambil berguling-guling di atas karpet berbulu tebal di ruang utama rumah Minhyun.
"Seonho-ya, apa benar alpha aneh itu mengejar-ngejarmu, atau hanya perasaanmu saja?" tanya Daehwi yang baru saja keluar dari bilik sehabis meaksanakan titah wajib Putera Mahkota Hwang.
Mandi.
"Benar, Hyung! Aku yakin sekali. Aku bahkan bisa merasakan kalau ia makin mendekat dan tatapannya mengarah padaku!" Seonho bergidik menceritakannya. "Oh, bahkan sekarang aku bisa merasakan ia mencari-cari aku."
"Mungkin itu fated mate-mu," sahut Woojin asal.
"Ngaco! Seonho masih sangat muda untuk menemukan mate," sergah Daehwi seraya melemparkan bantal sofa ke wajah Woojin. "Kau tahu, usia paling muda untuk menemukan mate adalah 17 tahun, sementara usia minimal untuk mating adalah 20 tahun. Sedangkan Seonho baru 16. Itu adalah pengetahuan paling mendasar, lho!"
"Tapi bisa saja," sahut Minhyun akhirnya setelah sedari tadi mendiamkan ketiga bocah itu berbicara. "Mungkin saja alpha yang menjadi mate Seonho yang sudah cukup umur untuk menemukan mate. Bukan tidak mungkin ia bisa memengaruhi keadaannya."
"Wow, bisa menemukan mate di usia muda. Mengesankan," komentar Woojin yang sedang asyik bermain game console di ruangan yang sama. "Ada juga yang sampai lewat usia matang belum menemukan mate, bukan?"
"Apa yang sedang berusaha kau bicarakan?" Minhyun mendelik ketika Daehwi bertanya.
"Minhyun hyung, kau benar-benar yakin tidak akan bertemu fated mate dengan menerima perjodohan dengan Pangeran Kang?"
Wajah Minhyun menegang. Atmosfir tiba-tiba berubah hening sebelum bunyi bel yang ditekan bertubi-tubi menginterupsi mereka.
"Kau tidak tahu apa-apa. Jadi jangan membicarakan hal itu lagi," ujar Minhyun sebelum beranjak meninggalkan ketiga remaja—yang kebingungan akan sikapnya yang tiba-tiba berubah—untuk membuka pintu.
... Dan terkejut mendapati orang di baliknya.
"Ong Seongwoo! Ada apa kemari?"
Sedangkan si tamu hanya menunjukkan senyum termanisnya dan mengangkat telapak tangannya menyapa si Putera mahkota sahabatnya. "annyeong~"
"Bukannya kau sedang heat? Kenapa berkeliaran ke sini?" tanya Minhyun.
"Bukankah 'berkeliaran' itu kata yang 'liar'? terbukti dengan ada kata 'liar' di dalamnya," kata Seongwoo masih dengan cengiran khasnya. "Jangan khawatir, Hyunnie … kau lihat aku sudah menggunakan 'perisai ganda anti dominan' untuk menjaga diriku. Aku juga bawa supressant dan parfum." Lanjutnya sembari memperlihatkan penampilannya yang menggunakan coat panjang dan tebal, di balik coat itu ia mengenakan sweater turtle neck ditambah collar hitam dengan kunci yang melingkar di lehernya.
"Terserah, terserah. Ayo masuk." Minhyun mempersilahkan omega sahabatnya itu masuk ke rumahnya.
"Uwaaaa … Woojinnie Young Alpha, annyeong~" seru Seongwoo sambil berlari ke arah Woojin yang terbelalak dan langsung bangkit menghindar dengan panik. "Jahatnya, aku merindukanmu tahu …" sungut Seongwoo.
"Tapi aku tidak!" jawab Woojin sembari menjulurkan lidahnya. "Dengan ini bertambah lagi sumber aroma feromon menyengat."
"Hyung, mau kubuatkan minuman?" tawar Seonho yang langsung diangguki Seongwoo.
"Gomawo, Seonho-ya~"
"Buat untuk kalian juga," seru Minhyun pada Seonho yang beranjak ke dapur bersama Daehwi. Omega bermata rubah itu kemudian beralih pada Seongwoo yang sudah saling mencubit-cubit pipi dengan gemasnya bersama Woojin. "Ada yang ingin kau lakukan?"
"Ah? Itu … Kau punya buku Fisiologi Sherwood kan? Aku membutuhkan itu untuk melengkapi catatan. Katanya 70% catatan materi yang diberikan Dr. Oh bersumber dari buku itu," pinta Seongwoo setelah melepas cubitannya dari pipi gembul Woojin.
"Oh, baiklah. Tapi aku lupa dimana menyimpannya. Sebentar biar kucarikan." Minhyun beranjak pergi meninggalkan Seongwoo dengan Woojin berdua.
"Hyung … untung aku masih dibawah umur. Bau feromonmu lebih parah dari Minhyun hyung," keluh Woojin sambil mengipasi hidungnya dengan tangan.
"Segitu baunya? Padahal aku sudah memakai hampir setengah botol parfum." Seongwoo berusaha mengendus tubuhnya. Namun ia hanya dapat mencium aroma parfumnya yang beraroma citrus. Segar.
"Ah, hyung tidak tahu betapa tajamnya penciuman alpha ya? Hati-hati, Hyung. Dengan feromon menyengat apalagi dengan wajah semanis itu bisa-bisa jadi sasaran empuk alpha dewasa," ungkap Woojin santai.
"Siapa yang kau sebut manis?" seru Seongwoo setengah tidak terima.
"Tentu saja Hyung."
"Enak saja manis." Seongwoo memberengut.
"Hyung, jangan begitu. Sekali kau manis tetap saja manis. Apapun kastamu. Mau kau alpha, beta, maupun omega. Itu kata hyung-ku," kata Woojin. "Kalau hyung-ku melihatmu juga pasti ia akan mati-matian menyebutmu manis."
"Hyung-mu …? Daehwi?" Kening Seongwoo mengernyit. Rasanya sejauh ini Daehwi tidak pernah menyebutnya manis.
"Bukan tentu saja. Hyung-ku adalah calon suaminya Hwang Minhyun wangja-nim. Kang wangja-nim," sanggah Woojin. "Lagipula Daehwi itu lebih cocok dipanggil nuna."
Seongwoo menoleh dengan cepat sampai terdengar bunyi berderak dari lehernya yang terbungkus collar. Ia tidak sempat berpikir untuk tertawa mengenai sebutan nuna yang dikatakan Woojin. Telinganya lebih tajam menangkap hal lain.
"Kang …?" tanyanya tampak terkejut. "w-wangja-nim?" Seolah tidak percaya, wajah omega itu menganga dengan mata terbelalak.
"Woo, aku menemukannya ... Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Hyun, benar calonmu ... bermarga Kang?" tanya Seongwoo.
Minhyun mengangguk dengan dahi berkerut. "Tentu saja. Bukankah memang sudah jelas kalau calonku adalah putera mahkota Barbarian? Kenapa kau seperti takjub begitu?"
"Oh, aku baru tahu Raja klan itu bermarga Kang."
"Eh? Kau terlalu lama hidup sendirian sampai-sampai tidak tahu apa-apa tentang itu?"
Seongwoo tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang tidak terlalu rapi. "Calonmu pasti pure alpha yang tampan dan berkharisma, ya?"
Minhyun menghela napas. "Tampan, mungkin. Dan, ya, ia akan sangat berkharisma—kalau saja ia punya sedikit tata krama."
Seongwoo tersenyum dan menaik-turunkan alisnya menggoda Minhyun.
"Eiy, kau ini kenapa?"
.
.
.
"Checkmate." Alpha itu tersenyum sambil meletakkan pion kuda hitam pada papan catur di depannya. Lawannya menatapnya dengan tatapan tidak percaya bercampur dengan kagum. Tak habis pikir dengan pria yang mengajaknya bertanding catur di sore hari yang cerah ini. "Aku sudah mengalahkanmu sebanyak 3 kali, Hyung. Kau tidak ada niatan untuk mengalahkanku?"
"Sudahlah, Daniel … aku mengakui kau cerdas. Mau bertanding berapa kali pun kemungkinanku untuk menang hanya sepersekian persen," jawab sang lawan yang tak lain adalah Dongho, kakaknya sendiri. Dongho sendiri tidak paham dengan kelakuan Daniel yang biasanya malas berbincang tiba-tiba mendekat padanya seperti ini. Ia bahkan memanggilnya hyung. Sungguh mengejutkan.
"Makanya, kau tidak berniat untuk mencoba mengalahkanku, Hyung?"
Nah, kan! Kesurupan apa dia. Dongho semakin curiga.
Tidak mendapat jawaban dari Dongho, Daniel beranjak dari tempat duduknya. "Ada yang bisa kuminum, Hyung?"
"Bukankah biasanya kau mengambil sendiri?" tanya Dongho sedikit bercanda. "Ambil saja di kulkas."
Memang, sejak Daniel datang tadi siang, alpha itu langsung mengajak Dongho main catur tanpa mengambil minum terlebih dahulu. Hanya makanan ringan yang menemani permainan mereka. Pantas saja tenggorokannya terasa gatal saat ini. Alpha berambut perak itu menyampirkan cardigannya asal ke atas sofa dan beranjak mengambil minuman.
"Hyung. Terapimu berhasil?" tanya Daniel tiba-tiba, membuat Dongho tersedak angin. Sang kakak mengerutkan dahi heran. Pertanyaan adiknya benar-benar random.
"Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin tahu," sahut Daniel sambil membawa dua botol wine dengan dua gelas di tangannya. "Minum sedikit tidak akan memabukkan, kan?"
"Ini masih terlalu siang," tegur Dongho yang—tentu saja— tidak diindahkan Daniel.
"Ayolah, hanya wine." Alpha itu kini mulai menuangkan wine ke kedua gelas yang dibawanya. Kedua pure alpha bersaudara itu bersulang dan mulai menenggak minuman mereka.
"Hyung," panggil Daniel lagi setelah menenggak minumannya. "Omega yang waktu terakhir kali aku datang ada di sini … kemana?"
Dongho kini benar-benar tersedak. Ia terbatuk dengan hebat dan menatap Daniel dengan mata memerah menahan panas di tenggorokannya. "Apa maksudmu?"
Daniel tersenyum polos. "Ada berapa pure omega di dunia, Hyung?"
"Tidak tahu." Dongho menggelengkan kepalanya. "Apa yang sedang berusaha kau bicarakan sebenarnya?"
"Pure omega yang ada di sini waktu itu bukan Minhyun, kan? Feromonnya manis sekali. Lain kali kau harus mengenalkan aku dengannya ... kecuali kalau dia Minhyun," ujar Daniel. Kemudian kembali beranjak dari tempatnya. "Kalau begitu aku pergi ya, Hyung," pamitnya lalu pergi.
Dongho terperangah. Terlalu terkejut dengan fakta bahwa adiknya mengetahui tentang omega di rumahnya beberapa hari yang lalu.
"Hei, Daniel," panggil Dongho. Daniel menoleh sembari tersenyum penuh arti. "Kau tahu terapiku tidak pernah berhasil. Aku hanya akan sembuh bila bertemu dengan mate-ku. Dan ..." Dongho menggantungkan kalimatnya sebentar, "lupakan."
"Baiklah, aku paham." Daniel terkekeh pelan. "Tadinya aku sempat berpikir kalau kau sudah sembuh dan mulai menyimpan pure omega seperti Minhyun untuk menghangatkan tubuhmu."
Dongho menatap datar adiknya yang lagi-lagi terkekeh seolah tidak ada yang salah dari perkataannya tadi.
"Kalau begitu, Hyung, aku pamit." Daniel melambaikan tangan sebelum menghilang di balik pintu.
Dongho menghela napas panjang. Ia memijit kepalanya yang mendadak pusing. Sepertinya ia butuh istirahat.
.
.
.
Daniel berjalan santai keluar dari apartemen. Sambil bersiul dengan pipi merona—tanda suasana hatinya sangat baik, ia menghampiri jaguar hitam kesayangannya.
Srett!
Alpha itu baru saja mengenakan seatbelt-nya ketika bau yang segar dan manis menyeruak menghampiri hidungnya. Daniel memejamkan matanya sambil menghirup aroma itu pelan-pelan.
Rasanya kenal.Aroma ini ... rasanya begitu dekat denganku.Oh, shit.
Daniel mengumpat dalam hati ketika sesuatu dalam dirinya bangkit perlahan. Tidak ingin berlama-lama, ia melajukan mobilnya menjauh. Sebelum nafsu buas yang baru saja muncul itu semakin memuncak.
Terlalu kencang ia melajukan mobilnya, sampai nyaris menyerempet sesosok pemuda ber-coat panjang yang sedang lewat di sana.
.
.
.
Ting tong! Ting tong!
Mata yang baru saja terpejam kembali terbuka ketika mendengar suara bel yang dibunyikan berkali-kali. Dongho mengusap wajahnya gusar sambil beranjak menuju pintu. Tidak mungkin Daniel kembali lagi karena kalau itu Daniel ia tidak mungkin menekan bel.
"Annyeonghaseyo, Kang-ssi~"
"ASTAGA!" Dongho nyaris mengumpat akibat terkejut melihat sosok yang berdiri di depan rumahnya dengan cengiran lebar. Bau omega bercampur parfum citrus menguar memenuhi indera penciumannya.
"Aku hanya ingin mengembalikan pakaian yang kau pinjamkan padaku tempo lalu. Bolehkah aku masuk?" Tanya sosok itu ceria.
Dongho membuka pintunya lebih lebar dan mempersilahkan ia masuk. Wajahnya diliputi keheranan dan juga ... frustrasi. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanyanya setelah mempersilahkan tamunya duduk.
Sosok itu, yang tak lain adalah pure omega, Ong Seongwoo tersenyum lebar. "Aku sudah mengenali dan menghapal baumu di rumah ini. Jadi aku pergi dengan bermodalkan insting untuk menemukan tempat ini." Pemuda Ong itu memandang ke sekeliling. "Woah, ternyata instingku kuat sekali ya."
"Bukan itu maksudku, argh ... bukankah kau sedang heat? Atau masa heat itu sudah beres?"
"Tentu saja belum," jawab Seongwoo enteng diiringi cengiran lebar.
Dongho menatap si omega dengan sebelah alis terangkat. "Belum selesai heat?"
Seongwoo mengangguk.
"Astaga, kau ini omega. Kau tahu betapa berbahayanya bagi omega yang sedang heat untuk berkeliaran di luar!"
"Tenang saja, aku sudah memakai pelindung ganda. Dan aku juga tidak lupa bawa supressant serta parfum." Omega itu kemudian merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah tas jinjing kecil. "Ini, tempo lalu aku pulang dengan mengenakan kaus dan celana training milikmu. Sekarang aku kembalikan~"
Dongho meringis pelan menerima tas jinjing kecil dari tangan Seongwoo. "Sebenarnya tidak kau kembalikan juga tidak masalah," ujarnya mengingat betapa frustrasinya ia dengan aroma omega yang tertinggal di kamarnya setelah kedatangan Seongwoo, yang mengharuskannya menyemprotkan 3 botol pewangi ruangan dan membuang semua bantal dan sprei tempat tidur yang tadinya berada di kamar itu. Oh, jangan lupakan jaket cokelat yang ia gunakan untuk menyelimuti sang omega ketika mengantarnya. Sudah ia buang.
Dan kini, di depannya, sang omega menyerahkan sepasang pakaian yang pasti terdapat aroma omega yang menempel.
"Kau mau kubuatkan minum? Tunggu di sini sebentar," kata Dongho akhirnya. Seongwoo mengangguk dan tersenyum manis memandang sang alpha yang kini beranjak menuju dapur.
Omega itu kini duduk sendirian di sofa besar ruang utama. Pikirannya menerawang dan merasakan ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, terlebih ketika mencium sebuah aroma yang ... entah kenapa terasa dekat dengannya. Bukan, bukan masalah jarak. Tapi dekat dalam artian lain, seolah Seongwoo memang ditakdirkan untuk mengenali aroma alpha kuat yang menggelitik indera penciumannya saat ini.
Seongwoo menghirup aroma itu dalam-dalam dan menyimpannya di rongga paru-parunya. Sungguh memabukkan, menenangkan, namun menggentarkan, sekaligus menggairahkan. "Ahh, apakah ini aroma seorang pure alpha?" gumam omega itu pelan. Lehernya berputar 90 derajat ke kiri untuk menemukan sumber aroma dominan yang membuatnya terbuai. Dan memang, jawabannya di sana.
Cardigan rajut berwarna hitam dengan sentuhan warna merah linear di bagian pinggir dan sedikit kombinasi merah-hijau di kedua lengannya tersampir tepat setengah depa di samping kepalanya. Dan dari cardigan itu menguar aroma dominan yang bercampur dengan parfum cedar wood yang memabukkan.
"Ini teh chamomile minumlah." Suara alpha Kang yang meletakkan sebuah cangkir berisi teh pada meja di hadapan Seongwoo membuat pikiran Seongwoo teralihkan dari cardigan beraroma memabukkan yang sempat membuat kewarasannya nyaris hilang.
"Ah, terima kasih banyak Tuan Kang~" ucapnya seraya meraih cangkir tersebut dengan sopan.
Dongho mengangguk kaku. Kemudian mereka minum dengan hening. Sejujurnya ia masih sedikit canggung dengan omega manis yang pernah memintanya untuk menjadi mate ini. Hanya saja, ia juga perlu memperlakukan tamunya dengan baik. Berdoa saja sang omega tidak membahas permintaan menjadi mate waktu itu.
"Tuan Kang, aku minta maaf tentang perilakuku yang kurang baik tempo lalu." Seongwoo angkat bicara. "Kurasa sekarang aku tahu alasanmu menolakku menjadi mate," lanjutnya dengan rona kemerahan di pipinya.
Dongho membelalak. "Kau tahu?"
Seongwoo mengangguk. "Tentu saja. Kau putera mahkota Klan Barbarian, kan? Yah, aku hanya seorang omega tanpa klan yang hidup sendirian. Tentu saja Minhyun jauh lebih baik daripada aku."
"Y-ya? Eh? Kenapa Minhyun?" tanya Dongho gugup. Omega di depannya hanya menatapnya dengan mata berbinar dan senyuman manis yang tulus.
"Sejujurnya aku patah hati, tapi mau bagaimana lagi. Sudah keputusan raja tidak bisa diganggu gugat, bukan? Nanti, jadilah suami sekaligus mate yang baik untuk Minhyun, ya?"
"Tunggu sebentar, kurasa ada yang salah di sini," kata Dongho dengan kerutan di dahi yang terus bertambah.
"Tidak ada yang salah, Tuan Kang. Aku tidak akan membahas apapun lagi tentang permintaanku yang itu. Terima kasih banyak karena telah berbaik hati padaku ..." ucap Seongwoo memotong perkataan alpha Kang yang semakin kebingungan.
"Kalau begitu, aku pamit. Terima kasih banyak, Tuan Kang ..." Seongwoo bangkit dan membungkukkan tubuhnya di depan Dongho sebelum beranjak keluar dari apartemen. Meninggalkan Dongho yang terperangah.
Sepeninggal Seongwoo, Dongho yang tidak habis pikir akan kelakuan sang omega manis itu memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya dengan membereskan sisa teh dan cangkir yang tadi digunakannya untuk menjamu Seongwoo.
Ia sedang mencuci sebuah cangkir ketika pintu apartemennya kembali terbuka dan tertutup dengan cepat dan keras.
Cklek! Bruk!
"Perhatikan caramu menutup pintu. Ini bukan apartemenmu," tegur Dongho mengetahui siapa yang datang. Pasti Daniel ... Ia menengok ke ruang utama dan menemukan adiknya tengah mondar-mandir di seluruh penjuru ruangan seolah sedang mencari sesuatu. "Apa yang kau cari?"
"Hyung! Kau lihat cardiganku?"
"Cardigan yang mana?"
"Cardigan yang ... yang ku letakkan di sini!" Daniel menunjuk sofa hitam tempatnya tadi menyampirkan cardigannya. " Itu oversize cable knit cardigan dari Gucci, astaga! Aku sudah mengeluarkan 1150 US Dollar untuk membeli benda itu bagaimana aku bisa melupakannya?"
"Aku tidak melihatnya," jawab Dongho seadanya. Ia memang tidak melihat Daniel meletakkan cardigannya tadi. "Mungkin kau salah meletakkan itu. Carilah di tempat lain."
"Ah, sialan!" maki Daniel saat tidak menemukan cardigannya. Tapi kemudian ia mengendus dengan dahi berkerut. "Apakah tadi Minhyun kemari?"
Kerutan di kening Dongho bertambah lagi. "Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Minhyun, Ya Tuhan!"
Daniel pun melarikan diri.
"Mimpi apa aku semalam sampai dua orang aneh muncul di sepanjang sore ini?" keluh Dongho kemudian.
.
.
.
"Astaga, aku benar-benar seperti orang mesum! Bagaimana cardigan ini bisa terbawa olehku?" seru seorang omega manis di kediamannya sambil merentangkan secarik Gucci oversize cable knit cardigan berwarna hitam.
"Tapi ... sayang kalau dikembalikan. Setidaknya aku bisa menggunakannya untuk menemani tidurku. Wanginya enak."
Dan di malam-malam selanjutnya, cardigan itu menginap di pelukan sang omega.
.
.
.
Sudah enam hari. Masa heat Minhyun hampir selesai dan ia ingin makan ramyeon pedas di malam hari. Maka ia mengenakan coat-nya dan memanggil alpha, beta, dan omega cilik di rumahnya, lalu berangkat ke minimarket dengan diiringi ketiganya. Sayangnya, minimarket yang masih buka pukul 10.30 malam itu letaknya cukup jauh sehingga mereka berangkat menggunakan bus karena Minhyun malas menyetir.
"Hyung, lebih enak yang kuah atau yang goreng?" tanya Seonho sambil memperlihatkan dua bungkus ramyeon pedas berbeda jenis di tangannya.
"Beli saja dua-duanya," jawab Minhyun yang langsung membuat Seonho bersorak.
Selepas dari minimarket, keempat orang itu menunggu bus di halte. Saat itu sudah hampir tengah malam dan mereka tengah menunggu bus terakhir.
"Hyung, aku ingin buang air," bisik Daehwi kepada Minhyun. Minhyun menoleh dan melirik Woojin yang asyik sendiri dengan game di ponselnya.
"Woojin, temani kakakmu ke toilet," perintah Minhyun. Woojin hanya menoleh kemudian mendengus kesal.
"Kau harus mentraktirku tteokbokki lain kali," kata Woojin pada Daehwi sebelum membiarkan omega itu menggamit lengannya.
"Hyung, apakah kita benar-benar hanya akan makan ramyeon pedas?" tanya Seonho sepeninggal Lee bersaudara. Minhyun mengangkat alisnya. Ia paham keinginan Seonho. Tadi mereka hanya berbelanja ramyeon, sayuran, dan daging asap sebagai bahan pelengkap. Putera mahkota itu merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. "Belilah beberapa makanan ringan dalam 10 menit. Busnya datang 15 menit lagi."
Seonho bersorak. "Terima kasih, Minhyun wangja-nim memang yang terbaik!" Tapi sesaat ia berbalik ke minimarket, ia kembali menatap Minhyun dengan khawatir. "Tapi, Hyung, tidak apa-apa sendirian?"
Dijawab dengan gelengan oleh Minhyun. "Sudah hampir tengah malam. Dan kurasa jarang ada alpha yang berkeliaran di sini—tempat ini jauh dari club. Jadi, tidak apa-apa. Aku akan menunggu." Seonho mengangguk dan berlari ke minimarket.
Tap ... tap ... tap ...
Minhyun mengeratkan coat dan menundukkan kepalanya ketika mendengar langkah kaki sesorang yang berhenti tepat di samping halte. Aroma alpha memenuhi indera penciumannya.
Tidak ada pergerakan apapun dari keduanya. Baik sang omega maupun alpha yang baru saja datang, keduanya diam tanpa suara. Hal itu membuat Minhyun penasaran, karena biasanya, apabila ada omega beraroma manis sepertinya, alpha manapun akan berdiri agak dekat dan mengendus aromanya secara terang-terangan. Dan Minhyun sudah mempersiapkan keahlian judo-nya untuk mengantisipasi hal itu. Namun, tidak ada pergerakan apapun dari sang alpha. Hal itu membuat Minhyun penasaran dan menengok keadaannya.
"HYUNG! Kami kembali!!" Teriakan tiga bocah menginterupsi keadaan hening tersebut. Ketiga remaja itu menghampiri Minhyun dengan terburu-buru, terutama Seonho yang matanya terus memicing melihat alpha di tempat itu.
"Busnya datang, Hyung! Ayo cepat!" seru Daehwi sambil menarik tangan Minhyun masuk ke dalam bus yang berhenti tepat di depan mereka.
Minhyun naik dengan mata yang masih memperhatikan sang alpha yang berdiri mematung dekat tiang penyangga halte. Dia ... bukankah yang waktu itu?
"Hyung! Apakah alpha itu bersikap kurang ajar? Apa kau baik-baik saja?" tanya Seonho yang langsung mengambil tempat di sebelah Minhyun sementara Woojin dan Daehwi duduk bersebelahan di bangku depan.
Minhyun menggeleng. Sekali lagi, ia menengok ke arah sang alpha yang masih saja mematung tanpa menaiki bus. Padahal bus ini bus terakhir. Tapi ... wajah alpha itu ... kenapa merah sekali?
Tarikan napas tertahan dari Seonho menyadarkan Minhyun dari lamunannya. "Ada apa?" tanya Minhyun.
"Hyung, i-itu ... alpha yang mengejar-ngejarku," bisik Seonho yang langsung terdengar oleh kedua Lee bersaudara.
"Aih, jinjja? Mana orangnya?" seru Woojin yang langsung dibekap mulutnya oleh Seonho.
"Sssshhhhh ... dia sedang tidur!" desis Seonho sambil menunjuk seorang remaja tinggi yang tidur dengan wajah tertutup tudung jaketnya di bangku seberang.
.
.
.
"Semalam aku bertemu dengan Minhyun Sunbaenim," cerita Hyunbin di siang hari yang cerah itu ketika ia dan Taedong duduk menghadapi seporsi makan siang di kantin jurusan Political Science. Yang diajak bicara hanya melirik sekilas, kemudian mendengung menanggapi.
"Sepertinya ia sedang heat. Feromonnya—gila, benar-benar menyengat! Aku sampai menahan napasku hampir 10 menit. Wajahku pasti konyol sekali saat itu. Ahh seandainya aku bisa memilikinya ..."
"Berhentilah mengonsumsi LSD. Halusinasimu semakin parah," ujar Taedong akhirnya merespon.
"Hei, aku bahkan tidak pernah menyentuh benda itu! Ada apa denganmu?"
"Minhyun sunbaenim itu seorang putera mahkota, dan dia akan dijodohkan dengan Daniel atas persetujuan keduanya. Kau tidak mungkin bisa memilikinya seperti dalam imajinasimu."
"Ayolah, Daniel itu sudah berubah. Daniel yang dulu kukenal tidak mungkin menerima perjodohan itu dengan lapang dada. Aku sudah mengenal samoyed itu sejak kecil, dan ia lebih suka kucing daripada rubah."
Percakapan mereka terhenti sampai situ karena objek pembicaraan mereka baru saja melintas bersama dengan para pengikutnya. Siapa lagi kalau bukan alpha-alpha yang pernah memenangkan duel di arena club tempat ia biasa duduk menggoyangkan kaki di malam hari? Alpha itu menengok ke arah dua alpha yang duduk meliriknya dan tersenyum angkuh sambil melambaikan tangan. Sebenarnya ia tidak bermaksud angkuh, hanya saja entah kenapa senyumnya terasa angkuh.
Hyunbin dan Taedong hanya diam dan kembali menghadapi makanan mereka. "Mood-mu tampak hancur akhir-akhir ini." Hyunbin mengganti topik pembicaraan.
Taedong mengangkat kepalanya dan terdiam sejenak. "Bukan mood-ku," jawabnya. "Tapi mate-ku."
"Ah? Kau sudah menemukan mate? Bagaimana? Apakah dia cantik? Atau dia seorang laki-laki omega manis? Kau sudah mating dengannya?"
Taedong mendelik mendengar pertanyaan terakhir Hyunbin. "Dia seorang beta. Tampaknya dia seorang yang keras. Dan ... aku sudah melakukan penandaan padanya." Taedong tiba-tiba bergerak gelisah.
"Oi, Taedong! Waeyo?"
Alpha itu mengernyit sebelum berdiri dengan tergesa. "Mate," gumamnya sambil berlari meninggalkan tempat.
.
.
.
To be continued~Maapkeun Yun karena Ongnielnya belum ketemu-ketemu ... hehe.Tunggu beberapa menit untuk menemukan kelanjutan kisah Taedonghan!Yah, karena kami sadar kalau di work ini kebanyakan cerita Taedonghan. Jadi, untuk mencegah fanfict ini berpindah aliran jadi fanfict Taedonghan, Yun memutuskan untuk menyelesaikan Konflik Taedonghan dan membongkar masa lalu Donghan di chapter 5-b.Jangan lupa tinggalkan jejak, ya ... luv you all very much~