OOC DON'T LIKE DON'T READ
PRODUCE 101 S2 FANFICTION
FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY
M, ABO!AU
Sidepair!Taedonghan
YUNHWA
Happy reading~
SUPERWARN!! Chapter ini terdapat konten dewasa. Mohon kebijakan pembaca untuk melanjutkan. Yun dan Hwa tidak mau bertanggung jawab apabila ada pembaca yang bersikeras lanjut membaca adegan dewasa di siang hari dan mengurangi pahala puasa (bagi yang menjalankan). Kalau malam ya terserah. Bagi yang merasa risih atau terganggu, mohon skip bagian yang ditandai dengan lambang (18) dan langsung menuju (--batas suci--).
Be wise readers! 감사합니다~
.
.
.
"Donghan-ah ..." tiga ketukan dilayangkan pada pintu bercat hitam. Geraman rendah menjawab dari balik pintu. "Donghan-ah ..." panggil pemuda bermata jernih itu sekali lagi.
"Dia sudah makan?" Sang pemuda bermata jernih, Youngmin, menoleh dan menggeleng dengan raut khawatir. Mate-nya berdiri di sampingnya dan mengetuk pintu kamar Donghan. "Donghan-ah. Keluarlah. Kau harus makan," panggil sang alpha, Donghyun.
"Aku tidak lapar!" seru Donghan akhirnya.
Pasangan itu mendesah pelan. Sudah seminggu Donghan terus mengurung diri di kamarnya. Setelah pada hari itu pulang dengan mata sembab dan bau yang sudah bercampur dengan bau seorang alpha.
Donghyun bingung. Donghan yang ia kenal selama ini adalah seorang beta terkuat yang tampak seperti alpha. Ia kuat, tajam, gesit, dan cerdas. Tidak ada seorang pun yang mampu menjatuhkannya maupun air matanya. Bahkan ketika ia mengalami perlakuan buruk dan kehilangan orang tuanya dalam keadaan terhancurnya pun ia tidak menangis.
Kali ini berbeda. Entah kejadian apa yang Donghan lalui hari itu sehingga sang beta pulang dengan sklera putih jernih yang sudah berubah menjadi merah. Ia pun hanya diam tak menjawab ketika ditanya, dan ditemukan menangis sesenggukan saat tidur sambil mengatakan bahwa mate-nya adalah alpha.
Melihat itu, dan tanda gigitan di tengkuk Donghan, akhirnya Donghyun dan Youngmin menyimpulkan bahwa Donghan baru saja menemukan mate-nya.
Namun, itu bukan hal yang bagus melihat kondisi Donghan. Beberapa kali dalam seminggu ini pasangan itu menemukan Donghan tengah berusaha menghapus tanda di tengkuknya dengan pisau—yang berarti mengiris kulit tengkuknya agar tanda itu terkupas. Kemudian beta itu akan meraung marah ketika Donghyun atau Youngmin merebut pisau itu demi menyelamatkannya.
Dan kini, ia mengurung diri di kamar yang sudah berhasil diisolasi dari segala jenis benda tajam yang membahayakan. Dan sudah berhari-hari setelah itu, Donghan sulit untuk diajak bicara sekalipun.
"Kim Donghan, ini perintah!" Donghyun akhirnya menaikkan nada suaranya. Sejujurnya, ia tidak pernah sekalipun meninggikan suara kepada sepupunya. Apalagi di depan mate-nya. Namun, rasa khawatir terhadap kondisi Donghan saat ini memaksanya mengeraskan suaranya.
Cklek!
Terdengar bunyi kunci yang diputar dari dalam. Tetapi yang ditunggu tidak kunjung keluar. "Donghan-ah ..." panggil Youngmin lagi dengan ketukan lembut. "Kami boleh masuk?"
Tidak ada jawaban.
Perlahan, Donghyun memutar kenop pintu. Terbuka. Kepalanya masuk untuk menengok keadaan di dalam kamar sepupunya.
Kacau.
Berantakan.
Donghan sendiri tengah duduk dengan kaki ditekuk di samping pintu. Tangannya masih sibuk mengelus secarik foto lama orang tuanya.
"Donghan-ah ... makanlah dulu," suruh Donghyun pelan. Beta itu hanya mengangguk samar.
"Kuletakkan makanannya di sini, ya? Tidak apa-apa kalau kau masih ingin sendiri. Tenangkanlah dirimu ..." sambung Youngmin seraya meletakkan baki makanan di hadapan Donghan.
"Kami akan ada di ruang utama, kalau kau siap bercerita. Sudah seminggu kau seperti ini, kuharap kami bisa membantumu agar lebih baik."
Donghan lagi-lagi hanya mengangguk sambil terus mengelus foto orang tuanya dengan ibu jari.
Ibu jarinya berhenti tepat pada wajah sang ibu yang tersenyum cerah. Donghan tak kuasa membendung kenangan masa lalu itu kembali di pikirannya.
.
.
.
"Alpha ... my alpha ..."Sejak gugurnya sang ayah, hidup Donghan tidak pernah tenang. Ibunya mengalami shock serta trauma mental yang berat.
Ya, semua orang tahu, bila salah seorang di antara sepasang mate mati, maka bisa dipastikan kondisi pasangannya akan jauh dari kata baik. Dan Donghan yang kala itu baru berusia 6 tahun harus menemukan fakta bahwa kesehatan mental ibunya menurun akibat gugurnya sang ayah.Sang ibu terus meracau dengan tubuh lemah, memanggil Donghan dengan sebutan "my alpha" dan terus bersikap seolah suaminya masih ada. Untung ada Paman Kim, adik dari ayah Donghan yang bekerja sebagai dokter membantunya. Selain itu, keluarga Kim dari Klan Barbarian, pendukung perdamaian klan besar, juga ikut membantu merawatnya.
"Ayah bilang, kesehatan bibi sudah hampir membaik. Namun, sulit untuk menyembuhkan traumanya," kata sepupunya suatu hari ketika mengantar Donghan menjenguk sang ibu.
Donghan yang sejak dulu selalu bersikap tegar, mengangguk dan tersenyum tulus. "Apapun, tolong lakukan yang terbaik untuk ibuku."
"Seorang alpha akan selalu melindungi. Alpha adalah pemimpin, alpha adalah panutan, my alpha, my alpha ..."
Donghan menggenggam erat tangan sang ibu sambil mendengarkan ucapan yang dikeluarkan bilah bibir pucat itu. "Ya, eomma, aku berjanji akan menjadi alpha yang baik."
Kini, menatap foto ibunya, Donghan kembali menitikkan air mata.
"Eomma ... alpha-mu punya mate alpha ..."
.
.
.
Pandangan Donghan teralih ke sampingnya, dimana tergeletak beberapa foto lain yang sudah ia remas sampai rusak, menampilkan wajah lugu anak-anak remaja belasan tahun yang asyik bermain, dan terselip di antara foto-foto itu, foto seorang pemuda Jepang tersenyum manis menampilkan gingsulnya.
"Donghan-ah, aku mengetahui segalanya. Termasuk ... termasuk fakta bahwa kau bukanlah seorang alpha." Omega itu menggigit bibirnya, ragu untuk melanjutkan. Dilihatnya napas Donghan yang sudah mulai memburu, seolah ingin menangis.
"Dengar, Kim Donghan ... aku tidak tahu alasanmu melakukan itu, aku juga tidak akan menghukummu dengan hal itu. Tapi ... Kau harus belajar untuk menerima takdirmu sendiri, Kim."
Donghan mulai terisak ketika Kenta mengusap bahunya dengan lembut. "Satu lagi," bisik Kenta pelan. "Aku tidak pernah menyesal menjadi kekasihmu ... terima kasih, dan maafkan aku karena tidak bisa melakukan apa-apa untukmu."
Saat itu, enam hari yang lalu, semua masa lalu buruk yang sudah susah payah ia kubur kembali melintas. Semakin lama semakin jelas, membuat Donghan ingin meledakkan dirinya karena kecewa. Ditambah kehadiran Kim Sanggyun kembali dalam kisah hidupnya.
Donghan berjalan keliling kamar, dan berhenti di jendelanya yang lebar, menghadap langsung ke taman belakang. Ia menghapus air matanya kasar.
"Donghyun ... Youngmin hyung ... aku pamit," bisiknya—yang tentu tidak mungkin didengar oleh pasangan muda itu. Ia pun melompat keluar jendela dan berlari menjauh.
.
.
.
Jembatan Mapo. Lokasi yang Donghan tuju. Ia menarik napasnya yang sedikit tersendat dan menyentuh sisi jembatan yang mengarah langsung ke Sungai Han yang mengalir.
Ia mengusap sisi jembatan yang bertuliskan "sekali lagi, cobalah" dan "hidup itu indah" di samping "telepon SOS kehidupan". Donghan mendengus. Konyol. Memangnya tulisan-tulisan seperti ini bisa mencegah orang bunuh diri?
.
.
.
"Sanggyun-ah ... ia adalah Kim Donghan dari Korona. Tolong beri salam ..."Anak lelaki berusia 10 tahun itu menoleh dan tersenyum melihat anak lelaki lain yang dituntun oleh sang ayah dengan kepala tertunduk. "Annyeong, Donghan ..." sapa Sanggyun.
Perlahan, wajah mungil itu terangkat malu-malu. "Ayahnya gugur dalam perang besar, dan ibunya mengalami gangguan mental. Aku membawanya ke sini sebagai kehormatan untuk mengangkatnya sebagai putera keduaku. Kau bersedia menjadi kakak yang baik untuknya?" tanya sang ayah kepada Sanggyun. Sanggyun tersenyum makin lebar dan mengangguk semangat.
...
Woah, kau hebat!" Sanggyun berseru memuji Donghan yang baru saja berhasil menebas boneka kayu dengan pedang latihannya. "Kau seorang alpha?"
Donghan menggaruk pipinya bingung. "Sejujurnya, aku belum pernah melakukan tes. Jadi aku belum tahu, apakah aku alpha, beta, atau omega."
Anak berusia 10 tahun itu mengernyit sebentar, kemudian mengangguk. "Mm, kalau begitu, aku akan menganggapmu alpha."
"Bagaimana kalau ternyata aku beta, atau bahkan omega?"
"Tidak masalah! Kau tetap adikku yang cerdas dan kuat. Seorang alpha!"
Beberapa tahun pun berlalu, Donghan hidup bahagia bersama keluarga Kim—marga yang sama dengannya, di Klan Barbarian. Ia pun memandang Klan Barbarian sebagai klan yang lebih baik daripada klan asalnya sendiri yang membiarkannya terlantar tanpa ayah bersama ibu yang sakit jiwa.
Donghan tumbuh menjadi remaja yang hebat. Ia bahkan berhasil mengikuti akselerasi sehingga ia sekolah tiga tahun lebih cepat dari anak seusianya. Sanggyun tidak iri, ia bangga, dan terus mendukung Donghan. Bahkan, ketika jati diri Donghan sebagai beta terungkap di depannya, ia terus tersenyum menyemangati Donghan dan menyembunyikan fakta itu dari teman-teman alpha-nya.
Sampai suatu saat, bencana itu terjadi. Melibatkan kelompok alpha kawanan Sanggyun, di hari pertama kali sang beta mengalami heat. Sang beta memberontak dan melawan. Perlawanannya membuahkan hasil berupa cidera berat pada semua alpha yang menyerangnya. Donghan boleh bangga, ia berhasil melindungi diri sendiri. Namun, ekspresi Sanggyun menunjukkan hal yang berbeda.
"Hyung! Mereka menyakitiku! Aku hanya membela diri!"
Sang alpha hanya menatap Donghan dengan dingin dan mengatakan hal yang sangat menusuk hatinya. "Salahmu sendiri. Kau bukan alpha. Hanya beta yang lemah. Kenapa tidak menerima saja takdirmu sebagai beta? Melindungi omega, dan melayani alpha."
Donghan terkejut. Tidak menyangka ia akan mendengar ucapan menyakitkan itu dari mulut alpha yang selama ini menjadi panutannya. Tak ayal, ia merasa geram dan memukul wajah sang alpha dengan keras sebelum pergi.
...
"Donghan-ah ... maafkan aku ..."Donghan menatap sepupunya yang tengah balas menatapnya dengan perasaan bersalah. Ya, sepupunya—putera Paman Kim yang sudah lama ia lupakan semenjak mengenal Sanggyun, kini menghampirinya dan meminta maaf.
"Ayahku ... uhh ... ibumu ... sudah tidak terselamatkan," ungkap Donghyun dengan pandangan sedih. Donghan hanya diam dan menggeleng. "Beliau tidak sadarkan diri tadi siang. Kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Namun beliau sudah ... tiada." Donghyun tampak sangat berhati-hati memilih kata untuk Donghan.
Donghan hanya bangkit dan menatap Donghyun yang kebingungan melihat reaksinya. "Ayo, selenggarakan upacara pemakaman."
...
"Tak apa, memang sudah waktunya untuk pergi. Tetap hidup hanya akan membuatnya tersiksa," gumam Donghan sembari mengelus guci berisi abu ibunya. Ia bahkan tidak sedikitpun menitikkan air mata. "Menangisinya hanya akan membuang tenagaku, bukan? Ibuku sudah bahagia di sana, mengapa di sini aku harus bersedih? Aku adalah alpha yang kuat."
"Donghan-ah ..." Donghan menoleh untuk mendapati seorang alpha yang berdiri menatapnya dengan pandangan bersalah. Ia membuang muka, dan berlalu dari tempat itu.
Kim Sanggyun, nama yang berusaha mati-matian ia hapus dari dalam ingatannya, waktu itu berlari mengejarnya dan meneriakkan maaf. Namun, hati Donghan masih sangat tertutup untuk mampu memaafkannya
.
.
.
Donghan menarik napas panjang. Sudah cukup kenangan masa lalunya. Kini ia memandang air sungai yang jernih di bawahnya. Sekali lagi, tulisan di jembatan seolah berbicara padanya. "Sekali lagi, cobalah ; hidup itu indah". Namun kini, Donghan menggeleng dan tersenyum getir.
"Maaf, tapi aku sudah lelah, dan hidup ini tidak cukup indah untukku."
Dan perlahan, tubuh itu lunglai menuju sungai.
Sebelum sebuah tangan menariknya dan kembali menggumpalkan amarahnya.
.
.
.
Taedong mendesah lelah. Firasatnya yang buruk akibat dari perasaan sang mate yang tersalur padanya membuat dirinya tak segan menarik beta manis itu dari pinggir jembatan, dengan sepertiga badan yang sudah melalui batas jembatan. Dengan kekuatan alphanya, Taedong menarik sang mate dan membawanya ke dalam mobilnya. Tentunya tidak lepas dari berontakan sang beta. Untung saja hari sudah malam dan wilayah itu sepi, jadi tak ada yang terganggu dengan teriakan-teriakan Donghan.
"Yak! Bangsat ... Lepaskan aku, sialan!" Tubuh Taedong sakit karena dirinya terus merengkuh sang mate yang terus memberontak. Walaupun Donghan adalah submisive beta, kekuatannya tidak kalah dengan para dominan. Dengan sigap Taedong memasangkan seatbelt ke tubuh Donghan, menutup pintu penumpang mobilnya, dan berlari ke kursi pengemudi sebelum Donghan dapat lari. "Brengsek! Buka pintunya!"
Taedong diam saja meski teriakan-teriakan Donghan membuat kepalanya sakit. Hatinya yang sudah sakit—benar-benar sakit—karena sang fated mate ingin mengakhiri hidupnya membuat Taedong marah. Namun ia tahu jika mate-nya ini orang yang keras. Jika dilawan dengan kekerasan pun urusannya tidak akan selesai, setidaknya disini Taedong harus lebih dewasa dengan menahan gejolak amarahnya yang sedari tadi ingin keluar.
"Yak, sialan! Aku bicara padamu!" Pukulan telak dari kepalan tangan Donghan tepat mengenai rahang Taedong membuat sudut bibir sang dominan berdarah. Donghan terengah, menatap tajam sang mate yang masih terdiam sembari mengusap bibirnya. Perasaan marah dari sang dominan dapat Donghan rasakan. Namun, bukannya terbawa emosi sang mate, justru Donghan merasa nyalinya menciut merasakan aura sang alpha. Ya, meski Donghan merupakan pribadi yang keras, dia tetaplah seorang submisive yang akan tunduk pada aura dominan.
"Akhh ..." Ringisan Donghan terdengar sedetik kemudian. Lengannya sakit karena dicengkram oleh sang alpha. Beta itu dapat melihat tatapan dingin dari sang alpha yang membuat dirinya takut, meski Donghan dapat menutupi rasa takutnya dengan balas menatap Taedong nyalang.
"Apa yang kau mau, Kim Donghan?" Pertanyaan dari sang dominan yang disertai desisan berbahaya darinya membuat Donghan tak sanggup lagi menatap Taedong. Meski Donghan sudah sering menantang alpha, dirinya merasa kalah jika berhadapan dengan mate-nya ini dan Donghan benci itu.
"Kau bisa lihat sendiri bukan? Aku ingin mengakhiri hidupku," balas Donghan tanpa membalas tatapan Taedong yang semakin dingin. Sungguh, seumur hidupnya, ini pertama kalinya Donghan gentar dengan aura alpha.
"Brengsek, beta!" Tangan Taedong mencengkram rahang Donghan, memaksa sang mate untuk menatapnya dengan satu tangan lain mencengkram kedua tangan Donghan diatas kepalanya. "Jika kau berniat untuk mati, kau bisa melakukannya sebelum bertemu denganku, sialan!" Donghan memejamkan matanya. Taedong memang tidak berteriak padanya, namun desisan dari sang dominan semakin membuat Donghan gentar. "Kau sendiri tidak bodoh untuk tau bahwa disini aku kesakitan, bangsat!"
Donghan benci ketika menyadari bahwa ia berusaha mati-matian menahan tangisnya saat tangan Taedong semakin kuat mencengkram rahangnya. Menandai bahwa ia sudah kalah telak dari sang alpha. Bahkan kulit putihnya sudah terhias bercak darah karena kuku Taedong. "Le-lepaskan tanganmu dulu ..."
Mendengar ucapan lirih dari Donghan membuat amarah Taedong sedikit menguap. Perlahan ia mengendurkan cengkramannya, namun tak sampai melepasnya. Tangan Taedong mengusap lembut rahang putih sang mate. Mendesah saat melihat titik-titik darah keluar dari kulit Donghan, menandakan jika cengkramannya tidak main-main. "Bicaralah."
"Kau tentu merasakan bukan jika aku selalu muak. Aku muak dengan hidupku! Dan kau memperparahnya dengan mengikatku," ujar Donghan seraya menatap manik Taedong dengan sayu, membuat Taedong harus menahan nafsunya yang tiba-tiba keluar saat ia menatap Donghan dengan intens. Wajah Donghan itu cantik—menurut Taedong—. Wajahnya yang penuh dengan peluh dan matanya yang menatapnya sayu seperti meminta untuk segera dijamah. Seseorang tolong kembalikan pikiran waras Kim Taedong. "Kumohon lepaskan aku. Aku minta maaf jika tindakanku menyakitimu. Tapi aku benar-benar lelah dengan semua ini. Tidak ada yang bisa kunikmati lagi."
Donghan benar-benar menekan egonya untuk mengatakan kalimat tersebut. Pertama kali dalam hidupnya ia memohon dan meminta maaf. Namun, bukannya membuat sang dominan semakin melunak, kini yang Donghan dapati adalah tatapan tajam dari matenya. Lebih menakutkan dari tatapan dinginnya beberapa saat lalu.
"Sayang, kau sudah berada dalam genggamanku dan aku tidak akan melepaskan apa yang menjadi milikku," Nada desisan Taedong kembali lagi membuat sang beta menggigil ketakutan. "Tak ada yang bisa kau nikmati, hm? Akan kuberi kau kenikmatan yang tak pernah kau rasakan, sayang."
.
.
.
--YOU'RE GOING TO ENTER 18 AREA--
PLEASE BE WISE
.
.
.
.
.
Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring di kepala Donghan setelah menangkap maksud dari sang alpha. "Lepask ... hmmpphh."
Terlambat untuk berteriak. Bibir Taedong kini sudah mengunci bibir sang submisive dengan lumatan yang kasar. Tak pernah Taedong sangka jika bibir matenya semanis ini. Taedong melepas sebentar pagutannya untuk berkata, "kau membuat bibirku berdarah, sayang. Akan kubalas dengan cara lain." Dan kembali melanjutkan lumatannya.
Donghan tentu saja memberontak, namun usahanya sama sekali tak menghasilkan apapun. Kedua tangan sang beta pun semakin dicengkram erat oleh sang alpha. Donghan benci, benci dirinya yang berada dalam keadaan tak berdaya.
Donghan bersikeras menutup bibirnya saat lidah Taedong berusaha keras menerobos mulutnya. "Akhh ..." Namun usaha itu hanya dapat bertahan sebentar ketika Taedong menggigit bawah bibirnya, menyebabkan ringisan dari sang beta yang membuat lidah Taedong dapat masuk melalui celah bibirnya yang terbuka.
Lidah Taedong menggelitiki langit-langit mulutnya, membuat Donghan harus menahan lenguhannya. Lidahnya pun tak membalas ajakan perang lidah dari sang alpha. Donghan tak mampu melawan Taedong maka dia harus diam saja. Rasa anyir pun dapat keduanya rasakan entah berasal dari darah segar sang beta atau darah mengering dari sang alpha.
Tak ada perlawanan membuat Taedong bosan. Segera ia melepas pagutannya dan langsung tersenyum simpul melihat sang mate terengah dengan bibir merah, basah dan bengkak. Sungguh sensual. "Kau cantik, sayang," puji Taedong dengan bisikan yang tepat ia katakan di telinga sang beta.
"Hnnnhh ..." Donghan merutuk dirinya yang kelepasan melenguh. Benci mendapati dirinya yang sensitif dibawah sentuhan Taedong. Hubungan mate itu tidak main-main.
Taedong tersenyum tipis mendengar lenguhan kelepasan dari Donghan. Membuatnya semakin turn on. Tanpa mengulur waktu lagi Taedong merobek kaus yang Donghan kenakan alih-alih membukanya pelan-pelan. Tangan Donghan yang terlepas dari cengkraman pun membuat sang submisive segera menutupi tubuh bagian atasnya.
"Kumohon hentikan ini." Masa bodo dengan harga dirinya yang setinggi langit sekarang. Taedong sudah membuatnya tak punya harga diri lagi.
"Ssttt ... Kita ditakdirkan bersama, sayang. Jangan menolakku." Dengan sigap Taedong melepas seatbelt Donghan dan memindahkan tubuh sang beta ke kursi belakang untuk memudahkan kegiatan mereka selanjutnya. Mulut Taedong segera menginvasi tubuh bagian atas sang mate yang sudah terbaring pasrah dengan kedua tangannya ditahan oleh kedua tangan Taedong di samping kepalanya.
Mulut Taedong mulai mengecupi bagian rahangnya—dan berhasil mencicipi rasa anyir dari darah Donghan yang mulai mengering—, turun ke leher sang mate dan berhasil memberikan beberapa tanda kepemilikan disana, dan kembali turun hingga mulutnya berhenti pada tonjolan kecil yang ada didada sang beta. "Jangan menahan desahanmu, sayang. Sebut namaku."
Donghan mengakui jika disaat-saat seperti ini, tubuh bekerja lebih cepat dibandingkan otaknya. Jadi alih-alih berteriak, Donghan malah menuruti ucapan sang alpha. "Ssshh ... Kim ngghh Taedongghh ..."
Lagi-lagi senyum tipis terukir di bibir Taedong saat Donghan mengingat namanya. "Lanjutkan seperti itu, sayang."
Mulut sang alpha segera menghisap nipple kanan sang beta, dengan tangan kirinya memilin nipple kirinya.kedua tangan Taedong tak lagi menahan tangan Donghan membuat sang alpha dapat memanjakan kedua tonjolan itu bergantian.
"Ahhhnnn ..." Lenguhan panjang Donghan keluarkan saat Taedong menghisap kuat nipple kirinya setelah melakukan hal yang sama pada yang sebelah kanan. Menyudahi aksinya, Taedong tersenyum miring melihat kedua nipple itu jadi membengkak dan sedikit memerah.
Mulut sang alpha kembali berpagutan dengan sang mate dan dibalas oleh sang beta walau dengan gerakan malu-malu—Donghan masih memiliki sedikit ego—. Menyadari itu Taedong tersenyum dalam hati, sangat percaya diri bahwa dia dapat menaklukan sang beta dengan sekali bersetubuh.
Sambil tetap berciuman, tangan Taedong dengan ahli membuka jeans dan boxer yang Donghan kenakan, membuat sang submisive telanjang sepenuhnya. Dengan segera tangannya memijat kejantanan Donghan yang tak lebih besar dari miliknya.
"Aaahh .. Taedonghhh ngghhh ..."
"Hm?" Kini mulut Taedong mengecupi kembali leher Donghan dengan tangan yang mulai mengocok milik matenya. Membuat sang submisive mendesah lebih keras.
Intesitas kocokan Taedong semakin menguat membuat Donghan merasa kewalahan dengan nikmat yang terus datang. "Tae—hhh ... A-Akuu hampir ngghh ..."
"Keluarkan, sayang." Dan dengan ucapan Taedong, Donghan meraih puncaknya. Sperma Donghan yang mengotori baju Taedong ia abaikan, fokusnya hanya pada sang mate yang memejamkan matanya. Masih menikmati euforia sehabis orgasme. Tanpa jijik Taedong menjilat sperma Donghan yang ada ditangannya. "Rasamu manis. Aku menyukainya. Cobalah."
Donghan mengernyit jijik, namun tetap menjilati jari-jari Taedong yang berlumuran cairannya sendiri. Donghan segera mengalihkan wajahnya yang memerah melihat sang alpha tersenyum miring padanya. "Kau cantik sekali. Menungginglah. Aku tak ingin berlama-lama lagi."
Tanpa babibu Donghan segera menuruti ucapan sang dominan. Ia berbalik dan menungging, menunjukkan bokong putih mulusnya dan holenya yang memerah dan berkedut. Taedong yang gemas segera menampar bokong submisivenya, membuatnya mendapat ringisan disertai lirikan tajam sang beta.
Seraya mengeluarkan kejantanannya sendiri, Taedong berujar, "Aku sudah tak sabar jadi aku tidak akan melakukan pemanasan lagi. Berikan aku air liurmu." Tangan sang alpha terulur kedepan untuk menampung air liur sang beta yang akan ia gunakan untuk pelumas. Setelah mendapat apa yang diinginkan, Taedong segera melumurinya pada kejantanannya dan melakukan penetrasi.
"Akkkhh ... Sa-sakit Kimm ..." Walaupun kejantanan Taedong baru masuk ujungnya saja, Donghan sudah meringis kesakitan. Bahkan ada air mata diujung manik sang beta.
Jepitan hole sang beta juga membuat Taedong merasa ngilu. Sang alpha menggeram tertahan sambil menghitung dalam hati untuk segera melesakkan kejantanannya kedalam hole sang mate. Meski akan sakit, namun sakitnya akan datang langsung, tidak perlahan-lahan.
Dan dalam detik ketiga, kejantanan Taedong berhasil masuk kedalam hole matenya.
"Aaakkhh ... Taedongghh hikss ..." Mendengar isakan dari submisivenya membuat Taedong harus bersabar untuk mendiamkan kejantanannya dulu, membiarkan hole matenya beradaptasi dengan kejantanannya.
"Holemu menjepitku shhh ..." Tangan Taedong aktif meremas bokong dan pinggul matenya, mendistraksi rasa sakit yang sang beta rasakan. Beberapa detik berlalu pun dapat Taedong dengar isakan matenya mulai mereda. Taedong membungkuk, mengecup tanda ikatan mate yang ia buat beberapa waktu lalu.
"Bergeraklah." Taedong tersenyum, mengecup sekali lagi tanda yang mengikat hubungan mereka berdua dan dilanjutkan oleh gerakan pinggulnya. Bergerak dengan percepatan konstan yang membuat desahan Donghan kembali.
"Hmmm ... Kim Donghan shh ..." geraman rendah Taedong keluar saat hole sang beta seolah rakus menelannya. Tangannya sesekali menampar bokong Donghan yang dijawab dengan desahan nikmat.
Plakk ...
"Ngaahh .. Le-lebih cepat nghh ..." Taedong menurut. Mempercepat gerakan pinggulnya yang membuat kejantanannya ingin segera mengeluarkan isinya. "Aku akan hnnn ..."
"Bersama, sayang ..." Dan dengan tiga kali sodokan kuat, keduanya sampai pada puncaknya. Sperma Donghan mengotori jok mobil Taedong dan sperma Taedong memenuhi hole submisivenya.
Setelah menikmati kenikmatan pasca orgasme, Taedong segera mencabut kejantanannya—diiringi ringisan pelan dari Donghan—dan segera berbaring disamping tubuh Donghan. Ukuran jok yang tidak seberapa membuat mereka harus tidur menyamping dengan Taedong yang merengkuh tubuh penuh peluh matenya.
"Aku menyayangimu."
.
.
.
.
.
--B A T A S S U C I--
Taedong menatap wajah pemuda yang tertidur di kasurnya. Sesekali mengusap lelehan air mata yang beberapa kali turun ke pipinya. Benar-benar cantik dan memesona. Hanya saja ... Taedong sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya. Ia mengakui kalau ia pun bersalah karena bisa-bisanya kelepasan menyetubuhi sang beta yang sedang dalam kondisi terhancurnya. Yah, meskipun mereka memang mate, tapi tetap saja hal itu menyalahi aturan yang sewajarnya. Bahkan ia belum pernah mendengar satu kalimat pun cerita Donghan mengenai hal yang menyebabkan kekacauan dalam dirinya.
"Eungh ..." Beta itu menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Kau sudah bangun?" bisik Taedong sambil mengusap pipi sang beta yang masih ada jejak air mata. Mate-nya bangkit dengan keterkejutan yang nyata. Ia duduk dan mengerjap, menatap mata sang alpha yang balas menatapnya. "Maafkan aku ..." ucap Taedong lirih.
Napas Donghan memburu. Dadanya bergemuruh, sesak dan ketakutan. Ia teringat perlakuan Taedong padanya. Dan mengingat itu, membuatnya mengingat kembali wajah-wajah puas yang merendahkan di masa lalunya.
"Pe-pergi! Jangan mendekat!!" jerit Donghan sekuat tenaga. Alpha di depannya hanya mendesah lelah.
"Kumohon, maafkan aku. Ayo kita bicarakan ini baik-baik ..." alpha itu menggantungkan kalimatnya, "mate ...?"
Tubuh Donghan mengejang mendengar kata itu keluar dari bilah bibir Taedong. Ia ingin menangis lagi.
"Ssshhh ... maafkan aku, maafkan aku. Aku telah menjadi alpha yang buruk untukmu."
Donghan menjengit merasakan pelukan hangat sang alpha menyelimuti tubuhnya. Ia ingin berontak, namun tubuhnya bereaksi lain. Lengannya kini malah melingkar di pinggang Taedong, dan membenamkan wajahnya pada leher sang alpha.
Mate-nya.
"Ceritakan padaku, katakan padaku apa yang ingin kau katakan," bisik Taedong. Donghan menggeleng. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh Taedong. Sang alpha yang paham akhirnya mengangguk, dan mengelus punggung sang beta.
Sambil mendoakan kelanjutan yang baik untuk kisah mereka.
.
.
.
Sedikit omong kosong dari Hwa
Yun :"bikinin nayana nya ya.."
Hmm :)
Jujur ya walaupun otak Hwa udah terkontaminasi sama dunia kenikmatan penuh dosa itu, tapi Hwa cuma bisa bikin nayana yang straight. Ini pertama kalinya bikin nayana pelangi. So, Hwa Cuma mau bilang maaf kalo nayana nya kurang nge-feel dan bertele-tele.
Jangan ikutan nafsu ya. Mas Taedong aja yang udah kelepasan nafsu sama Dek Donghan. Kasian kalo macan kiyowo ini mesti di gangbang. Udah pernah soalnya.. eh?
Yun be like : Hehe, Yun bukannya polos, tapi kan seenggaknya Hwa udah pengalaman nulis begituan. Beda sama Yun yang baru bisa baca doang :3
Eh, Hwa kelepasan nulis sampai 1000 kata lebih :3
Btw, adakah yang bisa menebak mana tulisan Yun dan mana tulisan Hwa, serta memberi tahu apa bedanya?
Jangan lupa tinggalkan jejak~ :)
