OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

YUNHWA

.

.

.

"Bagaimana bila kau bertemu dengan mate-mu sebelum kita mating?"

Daniel benar-benar membuat dirinya tersenyum semanis mungkin malam itu. Sendok dan garpu beradu dengan piring kristal menciptakan dentingan-dentingan kecil yang mewarnai jamuan malam itu. Duduk berhadapan dengannya keluarga Raja Hwang yang sangat anggun, mengenakan pakaian kebesaran dan mengangguk sopan ketika berbicara. Pangeran mereka, Hwang Minhyun, duduk tak berkutik dengan memasang wajah datarnya.

"Terima kasih banyak atas makan malamnya. Sungguh suatu kehormatan dijamu di kediaman Raja Kang yang terhormat," ucap Raja Hwang berbasa-basi setelah acara makan malam selesai.

Raja Kang tersenyum ramah. "Tentu saja sudah menjadi kewajiban kami sebagai tuan rumah untuk menjamu anda. Lagipula ... sebagai calon besan kita harus lebih mengakrabkan diri bukan?" Raja Kang menyenggol bahu Daniel.

Daniel hanya menampilkan senyum memikatnya sambil melirik visual Minhyun malam ini yang tampak begitu tampan sekaligus manis berbalut setelan putih bersih yang dijahit dengan benang emas.

"Aah ... tampaknya alpha muda kita juga sangat menyukai Pangeran Hwang. Lihat senyumnya," celetuk Permaisuri Kang dengan nada menggoda puteranya.

Daniel tertawa kecil melihat Minhyun yang tidak bereaksi apapun. Ia mengangguk. "Tentu saja saya sangat menyukai Pangeran Minhyun. Ia sangat indah dan anggun. Aku ingin ia menjadi permaisuriku."

"Aah cinta anak muda. Bukankah mereka sangat serasi?"

Semua anggota keluarga kerajaan mengangguk setuju dan tertawa. Tentu saja tanpa Minhyun karena omega bermata rubah itu tetap diam dan menatap Daniel dengan wajah datarnya.

"Saya akan menempatkan mereka untuk memimpin di wilayah utara di luar klan. Di sana lahannya sangat subur dan sdmnya bagus, hanya saja belum terstruktur. Dengan bersatunya alpha dan omega dari kedua klan, akan terbentuk satu klan baru, kerajaan baru, di wilayah baru, gabungan dari dua klan besar kita dan memperluas koneksi kerajaan dengan dunia," usul Raja Hwang. Raja Kang mengangguk setuju.

"Lantas siapa yang akan kau angkat sebagai penerus kerajaan pengganti putera mahkota?"

"Anda lupa klan kami juga membesarkan seorang pure alpha yang berbakat. Lee Woojin. Ia yang akan menjadi raja Korona selanjutnya."

Daniel melirik Raja Hwang sekilas.

"Ah, pernikahan putera kita akan diselenggarakan tiga bulan lagi. Aku sangat tidak sabar. Puteraku Minhyun juga selalu bersemangat menanti pernikahannya," ungkap Permaisuri Hwang seraya menyentuh lengan Minhyun. Daniel melihat raut wajah Minhyun tampak tengah berusaha mempertahankan sikap sopannya di sini.

"Tentu saja. Senang rasanya mendapatkan menantu secantik dan sesopan putera anda. Bukan begitu, Daniel?" imbuh Permaisuri Kang.

Daniel sejenak ingin mengangguk mengiyakan. Namun mendadak sekelebat bayangan sosok melintas dengan cepat. Sosok itu tampak tersengal seolah menghindari sesuatu. Bulir keringat turun dari pelipisnya.

"AAAAAKKK!!"

Daniel bangkit dengan spontan, menggebrak meja di hadapannya. Penuh rasa terkejut, ia terengah dan mendapati setiap pasang mata di ruangan itu mengarah padanya.

"T-tentu saja! Mendapatkan mate sepertinya adalah sebuah keberkahan!!" seru Daniel gelagapan.

Malam ini kelakuan Daniel berhasil mengubah wajah datar Minhyun menjadi kernyitan heran.

.

.

.

"Kau sudah bekerja keras." Park Woojin menepuk bahu alpha mungil yang duduk menggenggam pedang kayu di hadapannya. Alpha mungil itu mendongak dan tersenyum sampai matanya menghilang.

"Latihan yang menyenangkan, Hyung," sahutnya seraya menangkap botol air minum yang dilemparkan Hyunmin dari pinggir lapangan.

Ya, saat ini Park Woojin tengah berlatih pedang bersama pure alpha muda yang sudah dikenalnya hampir dua minggu belakangan. Ia menggelengkan kepalanya sambil meletakkan bokongnya di samping Woojin kecil.

"Latihan ini tidak menyenangkan melihat kau berkembang begitu pesat melebihiku."

Lee Woojin terkekeh. "Kau juga berkembang pesat, Hyung. Tidak heran Daniel hyung menyebutmu sebagai prajurit terhebat di istana."

"Tampaknya kau begitu bahagia di sini. Akhir-akhir ini kau bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di sini daripada di korona." Pemuda bergingsul itu mendengus.

Satu menit ia tidak mendapatkan respon dari anak di sampingnya, ia pun menoleh dan mendapati Lee Woojin tengah menunduk menggores-gores tanah dengan ujung pedang kayunya.

"Woojin-ah."

Woojin kecil mendongak. "Ya, Hyung?"

"Hm. Lupakan."

"Kulihat akhir-akhir ini kalian berdua selalu berlatih bersama, ya?" Kedua Woojin itu mendongak mendengar sapaan hangat di depan mereka. Park Woojin yang pertama kali mengenal siapa yang datang segera berdiri untuk membungkukkan badannya dengan sopan.

"Annyeonghaseyo," sapa Woojin kepada pria paruh baya bertubuh gagah yang tersenyum kepadanya. Panglima Kwon. Adik dari permaisuri Kang. Paman dari sang pangeran.

Lee Woojin hanya ikut-ikutan berdiri sambil melongo. Sejujurnya ia belum mengenal siapa paman ini.

"Annyeonghaseyo, Park Woojin, Lee Woojin," sapa Panglima Kwon sekali lagi. "Melihat kalian berdua mengingatkanku pada dua orang prajurit terbaik di masa lalu."

"Bukankah ayahku adalah yang terbaik pada masanya?" Park Woojin membanggakan diri.

"Ya. Ayahmu Park Seongwoo, dan temannya, Lee Yoojin. Mereka berdua gugur dalam perang besar."

"Lee Yoojin?" gumam Lee Woojin mengulang nama yang diucapkan Panglima Kwon.

Sang panglima tersenyum mengiyakan. "Mereka adalah contoh persahabatan terindah yang pernah kulihat. Bahkan setelah kematian mereka. Aura mereka terlihat pada kalian. Aku bahkan hampir mengira kedua prajurit hebat itu hidup kembali ketika melihat kalian bersama."

.

.

.

"Oh, Woojin? Kau di sini?"

"Hyung!" Lee Woojin melambaikan tangan dengan semangat menyapa alpha dewasa yang baru saja muncul di istana. "Kemana saja, Hyung? Aku sudah mau pulang."

"Aku menghabiskan waktuku di apartemen. Kau sudah mau pulang? Mau pulang bersamaku?"

"Nah. LeeWoo, kau bisa pulang dengan yang mulia pangeran," celetuk Park Woojin datar membuat dua orang lainnya terkekeh.

"Hyung, aku pulang ya. Sering-sering ajak aku latihan di sini."

Woojin mengernyit. "Biasanya juga kau yang datang ke sini tiba-tiba mengajak latihan."

"Ne ... tapi untuk ke depannya akan sulit untuk kabur lagi dari Korona ke sini. Kau yang harus mengajakku nanti supaya aku diizinkan."

"Kabur?" Daniel mengerutkan dahinya mendengar ucapan Woojin kecil. Park Woojin juga melakukan hal yang sama. Bahkan ia juga memiringkan kepalanya.

Woojin kecil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa. Hyung, aku pulang ya!" Alpha kecil itu berjalan riang menuju gerbang.

"Hei! Aku akan mengantarmu!" Panggil Daniel seraya mengejar Lee Woojin dan menariknya masuk ke mobil.

"Hyung, kau pangeran, bukan supir," protes Woojin dengan bibir mengerucut.

Daniel melirik sebal. "Apakah salah seorang pangeran menyetir mobil?"

"Hyung juga akan menjadi raja bukan? Rasanya aneh sekali disetiri oleh calon pemimpin kerajaan."

Daniel menatap Woojin lama. Menghela napas kemudian. Ia meraih seatbelt-nya setelah membantu memakaikan seatbelt Woojin dan mulai menjalankan mobilnya. Mendadak ia teringat acara makan malam kerajaan bersama tunangannya dua hari lalu.

"Pasti lelah bukan, menjadi calon pemimpin kerajaan?"

.

.

.

Gradakk ... gradakk ...Whrrrrrr ...Seongwoo menyandarkan kepalanya pada tubuh mesin cuci yang bergetar bersama perputaran pakaian di dalam tabungnya. Ia menunggu sampai tabung itu berhenti berputar dan mesin cuci itu berbunyi nyaring tanda tugasnya selesai.

Omega itu mendesah pelan saat mengeluarkan helaian kain dari dalam tabung aluminium itu. Ia cemberut ketika mengeluarkan helai kain rajutan berbentuk cardigan berwarna hitam dengan aksen merah-hijau itu dari mesin cucinya.

"Sial. Baunya jadi hilang kan ..." gumamnya sembari mengendus aroma cardigan itu. Malam itu, dua hari lalu, cardigan mewah yang aromanya sangat disukai Seongwoo itu ternodai oleh lumpur akibat terjatuh saat ia sedang berlari. Sudah dua hari juga ia menahan diri untuk tidak mencuci noda kotor di cardigan itu dengan sabun demi mempertahankan aroma asli yang menempel pada tekstil tersebut. Namun, apa daya. Noda itu terlalu membandel untuk bisa dilarutkan hanya dengan air. Terpaksalah ia mencuci cardigan tersebut dengan sabun yang menyebabkan bau alphanya nyaris tertutupi.

"Menyebalkan," sungut sang omega lagi sembari menggantungkan cardigan yang masih setengah basah itu pada rak jemuran di halaman kecil di samping kamarnya.

Memasuki rumah dengan lunglai, ia memandang cardigan hitam yang sudah terjemur itu dengan tatapan sendu. Mendadak ia teringat ucapan minki tempo lalu mengenai pemilik cardigan yang diasumsikan adalah mate-nya.

"Mate ya ..." gumam Seongwoo. Ia menelungkupkan wajahnya pada tangan yang bersandar pada bingkai jendela. Rona-rona kecil muncul di wajahnya. Ia mencoba membayangkan visual alpha yang diduga sebagai pemilik cardigan mewah tersebut.

Rambut perak,

Mata kecil namun tajam,

Garis rahang tegas,

Bibir tebal kemerahan yang indah,

Dada bidang,

Bahu lebar yang kokoh,

Lengan besar yang--

Ugh ... semakin dibayangkan Seongwoo semakin merona saja rasanya. Sumpah, visual mate-nya begitu tampan. Bukan om-om buncit haus seks seperti yang dibayangkannya selama belasan tahun ini.

Tanpa sadar, mata omega itu terpejam dan ia menguap lebar. Perlahan kepalanya terkulai sebelum terdengar dengkuran pelan dari belah bibir tipis itu.

"Hyung, kau juga pantas dilindungi ..."

"Saat besar nanti, carilah mate yang bisa melindungimu."

"Saranghaeyo~ Seongwoo hyung!"

"Aku baik-baik saja, Hyung. Aku baik-baik saja."

"Semuanya, bertahanlah ... bertahanlah ... kita akan selamat ..."

"AAAAKKKH!!!"

.

.

.

Mata Daniel membesar sesaat setelah kakinya berhasil menginjak pedal rem dengan tergesa. Napasnya memburu dan dadanya berdebar dengan keras.

"Astaga, Hyung. Kau baik-baik saja?" Pure alpha kecil di sampingnya menatapnya horor dengan pupil bergetar. Daniel terengah, masih berusaha menetralkan napasnya akibat kejadian dua menit lalu yang nyaris saja merenggut nyawa seseorang andai kesadarannya terlambat datang barang sedetik saja.

Siang itu rasanya pikiran Daniel melayang begitu saja sehingga mobilnya nyaris menabrak sosok jangkung yang tengah menyeberang. Beruntung kesadarannya kembali pada waktunya sehingga kedua tangan kokoh itu sempat membanting stirnya ke kiri dan menginjak pedal rem tepat satu inchi sebelum mobil beralih mencium batang tiang pemancar listrik. Alpha dewasa itu meremat setirnya dengan kasar.

"Hyung?"

Panggilan Woojin membuat sang putera mahkota tersentak. Ia menoleh ke arah alpha kecil itu dan menghela napasnya pelan. "Ah, Ani ... gwaenchanha ..." gumamnya dengan debaran kaget yang belum berhenti sepenuhnya. "Kau harus segera pulang," imbuhnya. Woojin mengangguk.

Daniel menghentikan laju mobilnya di depan gapura besar perumahan pejabat klan Korona karena alpha kecil itu meminta agar menurunkannya di sana. Woojin turun dengan sigap dan melambaikan tangannya kepada Daniel.

"Sampai jumpa, Hyung. Berhati-hatilah," serunya.

Daniel membalasnya dengan senyuman gigi kelincinya. "Sampai jumpa, berjuanglah!"

Woojin terkekeh menatap kepergian mobil mewah tersebut. Ia menggaruk pipinya sambil berjalan santai melewati bangunan-bangunan tempat tinggal yang luas menuju satu rumah bercat putih yang sudah seperti tempat tinggalnya sendiri.

Rumah Minhyun.

"Woojin-ah! Darimana saja kau?! Sedari tadi banyak utusan raja datang mencarimu. Kau ini calon raja pengganti Raja Hwang. Tidak sepatutnya kau pergi main-main!"

Woojin memutar bola matanya malas. Cercaan sambutan itu keluar dari mulut Daehwi, omega yang merupakan kakaknya sendiri. Ia nyaris saja melemparkan ransel berisi alat latihannya ke sembarang tempat kalau saja sepasang mata rubah milik Minhyun wangja-nim tidak menatapnya dari balik bukunya.

"Dimana kau seharusnya meletakkan tasmu?"

Malas, alpha kecil itu menyeret ranselnya ke ruangan yang selalu menjadi kamarnya setiap ia, Seonho, dan Daehwi bermalam di sini. "Hyung, aku istirahat dulu, ya. Capek habis main pedang," tukasnya seraya melangkah menuju kamar.

"Main pedang?" Daehwi mengernyit.

"Latihan."

"Akhir-akhir ini kau selalu berlatih di luar, ya?" Seonho yang sedari tadi diam sambil mengunyah setoples keripik kentang akhirnya bersuara. Namun berakhir merengut karena tidak mendapat respon apapun.

"Jangan lupa bersihkan dulu tubuhmu!" seru Minhyun.

.

.

.

Hari sudah hampir malam di kediaman Hwang Minhyun. Seonho tengah membereskan rumah sembari mengunyah sebungkus besar snack rasa udang sedangkan penghuni lainnya berada di ruangan lain yang berbeda, meninggalkan Seonho sendiri.

Masa bodoh, yang penting ada makanan untuk dikunyah.

Beta itu sedang menghisap debu dengan vacuum ketika didengarnya bel pintu depan memekik nyaring.

"Ne, tunggu sebentar ..." seru Seonho sambil segera berlari menuju pintu dan memeriksa kamera yang menghadap langsung ke luar pintu. Dilihatnya sesosok tinggi tengah menopang sosok lain yang kurus dan lunglai.

Seonho membelalak. Ia tidak mengenal sosok tinggi yang berdiri dengan wajah kebingungan di depan pintu, namun ia mengenal sosok kurus yang dibawanya.

"Minhyun hyung ...!" Panggilnya lantang seraya berlari mencari sang tuan rumah. "Hyung! Seseorang di depan rumah, memanggul Seongwoo hyung!" lapor Seonho dengan napas tersengal begitu menemukan sang pangeran di ruang pribadinya.

Minhyun menoleh dengan cepat dan tergesa menutup buku yang tengah dibacanya. Ia memelototkan mata rubahnya membuat Seonho sedikit tersentak takut. "Seongwoo? Dengan siapa?"

"T-tidak tahu ..." lirih Seonho.

"Kau?!" Minhyun terpekik kaget mendapati sosok manusia di depan pintunya. Sang tamu pun ikut menahan napasnya antara terkejut dan gugup. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"A-ah ... orang ini ... aku menemukannya menangis seperti orang mabuk di jalan dan aku--" ucapan pria itu terpotong tatapan tajam Minhyun. "Aku tahu dia omega tapi aku tidak melakukan apapun, sungguh! Dia hanya--"

"Bawa dia masuk. Segera."

Gantian Minhyun yang terkesiap melihat tamu yang merupakan pure alpha itu menuruti saja apa perintahnya. Membuat Minhyun ragu-ragu akan status pure alpha yang disandang orang itu.

"Minhyun ... hiks." Seongwoo mendongakkan kepalanya menunjukkan wajah penuh air mata dan napas sesenggukan. Tatapan omega itu tertuju pada Seonho yang sedari tadi hanya mematung menonton Minhyun menyambut tamunya. "Seon-ho ... hiks ... hiks ..."

"Hyung?" panggil Seonho pelan. Kebingungan dengan tingkah Seongwoo.

"Seon-ho ... peluk ... aku..."

Brukk!!

Seonho nyaris menjerit ketika omega bermarga Ong itu menubruk dan memeluknya dengan beringas. Pemuda Ong itu menangkup wajah Seonho dan menangis tanpa suara.

"Lin ... lin," bisik Seongwoo sebelum kembali melesakkan wajahnya di ceruk leher Seonho.

"Hyung, apa yang terjadi??" tanya Seonho panik.

"Seongwoo-ya, ada apa?" Minhyun ikut panik dan berusaha meraih Seongwoo, mengabaikan tamu alpha yang mengantar pemuda Ong itu terbengong menyaksikan drama tangis omega dan beta di hadapannya.

"Kwon Hyunbin," panggil Minhyun. Pure alpha rasa beta itu gelagapan menoleh. "Katakan padaku apa yang terjadi pada Seongwoo."

"Aku menemukannya menangis seperti orang mabuk di halte bus. Dia seorang omega, aku takut hal itu akan membahayakannya jadi aku mencoba memberinya tumpangan pulang. Tapi ia hanya memberikan alamat ini. Sungguh, aku tidak tahu apa ya--"

"Paham. Sekarang kau pulang saja. Seongwoo aman di sini."

Hyunbin cemberut karena ucapannya kembali dipotong oleh Minhyun. Ia kemudian menghela napas dan dengan berat hati membungkukkan badannya pamit.

Baru saja ia berbalik dan berjalan tiga langkah, suara Minhyun kembali memanggilnya sehingga mau tidak mau alpha yang menaruh hati pada putera mahkota Korona bermata rubah itu kembali menoleh.

Dan mendapati senyum sekilas dari Minhyun.

"Terima kasih."

.

.

.

"Apa yang terjadi pada Seongwoo hyung? Suhu tubuhnya panas sekali!" pekik Daehwi yang baru saja datang bersama Woojin setelah mendengar keributan kecil di ruang utama.

Minhyun menyelimuti tubuh Seongwoo yang menggigil dan menggeleng cemas. Sahabatnya itu kini tampak lemah dan ketakutan. Tangannya menggenggam erat tangan Seonho yang juga tampak cemas melihatnya.

"Aku tidak paham," ujar Minhyun. Sungguh, terakhir kali ia melihat Seongwoo yang seperti ini adalah sepuluh tahun yang lalu, saat omega bermarga Ong itu pertama kali bertemu dengan Seonho.

Ya, sepuluh tahun yang lalu, Seongwoo pernah seperti ini. Tampak depresi dan terus menangis tiap melihat Seonho sambil menyebut satu nama ... Lin.

Tapi ayolah, itu sepuluh tahun yang lalu!

"Setahuku Seongwoo sudah sangat sembuh setelah mendapat treatment dari Dokter Jung," gumam Minhyun lagi.

"I-ini ... sama seperti sepuluh tahun yang lalu?" bisik Seonho gugup. Ia ingat sepuluh tahun yang lalu, ketika pertama kali ia bertemu dengan hyung manis ini. Anak berusia 13 tahun yang menangis meraung-raung memeluk Seonho yang saat itu baru berusia 6 tahun. Lalu akhirnya berhenti setelah melalui berbagai sesi konseling dan terapi dari seorang psikiater ternama Korona.

Daehwi menggigit bibirnya cemas, sedangkan Woojin menatap bingung kepada hyung yang biasanya selalu ceria dan konyol dimanapun ia berada itu.

"Satu yang membuatku bingung ..." Minhyun menggantungkan kalimatnya, membuat tanda tanya di kepala ketiga remaja tanggung yang menunggu lanjutannya. "Aku samar-samar mencium bau Daniel padanya."

.

.

.

Annyeong~ Yun is back!!

Jangan lupa tinggalkan jejak berupa review yaa hehe