OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

YUNHWA

.

.

.

*Taedonghan muncul lagi di sini hehe

Happy reading yeorobunn~

.

.

.

Pukul 3 pagi Taedong tersentak mendapati keadaan beta di sebelahnya yang menggigil hebat. Tubuh beta itu mengejang dan bibirnya memucat.

"Donghan, waeyo?" gumamnya sembari menyentuh dahi Donghan.

Astaga, panas!

"Donghan, Kim Donghan! Bangunlah!" seru Taedong panik seraya mengguncangkan tubuh mate-nya itu.

"Hei, astaga! Apa yang terjadi?" Taedong berusaha keras membangunkan Donghan dengan menarik tangan sang beta dan menenggelamkan tubuh mate-nya itu dalam pelukannya. Beberapa lama kemudian, getaran pada tubuh Donghan berangsur-angsur menghilang.

"Appa ... eomma ..." panggil Donghan lirih. Taedong menggerakkan tangan kanannya untuk mengusap surai lembut sang beta. Berusaha menenangkan mate manisnya.

"Alpha ... brengsek."

Bahu Taedong terkulai. Rasanya hatinya sakit dihujam ribuan benda tajam mendengar umpatan yang dikeluarkan mate-nya entah sadar atau tidak. Yang Taedong tahu, umpatan itu ditujukan kepadanya.

Sudah seminggu beta itu tinggal di rumahnya, dan seminggu itu pula ia membolos kuliah, mengandalkan jasa titip absen kepada Hyunbin. Bukan karena malas atau belum mengerjakan tugas--meski sebagian besar alasannya bisa jadi itu--tapi ia tidak bisa meninggalkan mate-nya yang tampak semakin kacau setelah kejadian waktu itu.

Taedong sebisa mungkin tidak membiarkan Donghan duduk sendirian di satu ruangan. Ia akan terus membuntuti kemanapun mate-nya pergi. Sekali-dua kali ia lalai menjaga Donghan, nyaris saja beta itu mengundang malaikat pencabut nyawa ke rumahnya.

Benar-benar malaikat pencabut nyawa. Itu sama sekali bukan kiasan. Begini saja contohnya di hari pertama Donghan tinggal, ketika Taedong menyalin catatan materi kuliah yang dikirimkan Hyunbin melalui ponsel di ruang utama apartemennya, Donghan yang berada di kamar tidur nyaris terlupakan. Ketika Taedong teringat, beta itu sudah mencekik dirinya dengan tali tambang yang didapatkan entah dari mana.

Juga waktu Taedong kelelahan dan tertidur tanpa Donghan. Ketika bangun alpha itu menemukan betanya tergeletak di dapur dengan bersimbah darah dari pergelangan tangannya dan berakhir dengan Taedong yang murka karena ketakutan. Dan jangan pikir Taedong membiarkan Donghan di kamar mandi sendirian karena terakhir kali ia membiarkan mate-nya di kamar mandi tiga hari yang lalu, ia menemukan beta itu sudah merendam tubuhnya dengan air panas--benar-benar panas, bukan hangat--tanpa mencampurnya dengan air dingin sehingga sekujur tubuhnya melepuh.

Taedong mendesah. Seminggu bersama Donghan benar-benar menguras tenaga dan pikirannya--serta emosinya. Dipandanginya tubuh Donghan yang dipenuhi luka merah akibat melepuh tiga hari yang lalu.

"Sebenarnya seburuk apa aku sampai kau ingin mengakhiri hidupmu setelah menjadi mate-ku?"

Tubuh Donghan menggeliat. Gumaman-gumaman kecil yang tidak jelas apa katanya terdengar menggelitik telinga sang alpha. Keringat dari pelipisnya turun mengenai jari Taedong yang menyangga kepalanya.

Taedong menatap bulir keringat yang mengalir di jarinya. Perlahan kepalanya menunduk dan mencicipi tetes tersebut. Ah, rupanya walaupun seminggu ini ia tinggal bersama Donghan, ia mati-matian menahan hasratnya juga. Ia tidak mau mengulang kesalahannya menyetubuhi sang beta tanpa persetujuannya lagi.

Lagipula apa yang bisa diharapkan selain dari hubungan mate mereka? Sebelumnya mereka hanyalah orang asing. Bahkan Taedong sendiri mengetahui nama Donghan hanya melalui instingnya yang menggumamkan nama itu terus-menerus di pikirannya. Ya, Donghan bahkan belum mengenalkan dirinya secara langsung di hadapan Taedong. Boro-boro tahu kisah hidupnya. Mengingat itu Taedong jadi frustrasi sendiri.

"Hhhhh ... hhaahh ... hahh ..."

Taedong terkejut mendengar tarikan napas berat dari bibir Donghan. Panik, ia merasakan tubuh di dalam rengkuhannya menggigil dan suhunya kembali memanas.

"Aahhkk ... uweekk!" Taedong melotot ketika sang mate bangkit tiba-tiba dari pelukannya dan muntah di hadapannya. Di atas tempat tidurnya. Begitu berhasil mengeluarkan isi perutnya, Donghan menangis memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan mendongak menatap Taedong. "Aaghh ... to-tolong," lirihnya sebelum menjatuhkan tubuhnya ke depan menabrak bahu Taedong.

"Astaga, bertahanlah, sayang," seru Taedong sambil membungkus tubuh menggigil sang beta dan menggendong tubuhnya menuju mobil.

Alpha itu melarikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit sipil di wilayah timur Klannya. Berharap di pagi buta itu segera menemukan dokter yang bisa menolong mate-nya.

.

.

.

"Tenanglah, kau aman bersamaku."

Seongwoo bangun dengan napas tersengal. Dahinya basah oleh keringat. Bayangan wajah seorang alpha di mimpinya membangunkannya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati ruangan yang ia kenal, namun bukan miliknya.

"Min-hyun ...?" panggilnya dengan suara serak.

Derit pintu menjawab panggilan Seongwoo dibarengi dengan kepala Seonho yang menyembul dari baliknya. "Oh, Hyung, kau sudah bangun!" seru beta muda itu seraya berlari lagi ke luar ruangan.

Lima menit kemudian, Seonho masuk dengan tergopoh membawa segelas air dan sebungkus snack keju yang sudah dibuka. "Minum dulu, Hyung," katanya sambil menyerahkan gelas itu pada hyung-nya.

"Kemana si wangja-nim?" Seongwoo bertanya setelah meneguk sekilas air yang langsung memulihkan tenggorokannya dari dahaga.

"Masih tidur, Hyung. Lihat sekarang masih jam berapa."

Seongwoo otomatis mendongak ke arah jam dinding yang berdetak dengan apik di atas cermin, sekitar 45 di samping tempat tidur Seongwoo.

03.35

Oh, pantas saja. Batin Seongwoo memaklumi.

Ia meringis kecil memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut pusing. Ia mengernyitkan dahinya ketika menyadari sesuatu melihat Seonho. "Lalu kenapa kau bangun?"

Seonho menunduk dan bergumam pelan, "aku tidak bisa tidur ..."

Sang beta sepertinya merasakan dengan jelas tatapan sang omega yang seolah menanyakan detailnya. Ia mendesah keras dan mencebikkan bibirnya pada Seongwoo. "Aku khawatir karena Hyung, tahu!"

"Aku? Kenapa?" Seongwoo menunjuk dirinya sendiri dengan wajah bodoh membuat sang beta semakin merengut sebal.

"Kau ... eung ... kata Minhyun hyung ... kejadian sepuluh tahun yang lalu terulang lagi. Kau menggigau frustrasi memanggil nama Linlin berulang kali sambil memelukku. Itu membuatku takut, Hyung!"

Sang omega menunduk. Entah kenapa ada rasa panas yang menjalari matanya dan berlomba untuk keluar lagi. "Mimpi itu muncul lagi," gumamnya yang tampaknya tidak terdengar oleh Seonho karena beta itu kini mulai asyik mengunyah snack rasa keju.

"Hyung, kalau tidak lancang--ekhm. Aku benar-benar penasaran siapa Linlin itu? Kenapa kau selalu menyentuh wajahku tiap kali teringat dia? Bahkan setelah sepuluh tahun." Seonho berujar sembari terus mengunyah.

"Ah, tentang itu ..." Seongwoo menggantungkan kalimatnya sebentar. Sang beta tampak penasaran menunggu. Bahkan ia menghentikan kunyahannya. "Pertanyaanmu lancang, hehe. Jadi tidak akan kujawab."

Jawaban Seongwoo begitu lugas sampai-sampai sang beta mengerucutkan bibirnya kecewa. Seongwoo terkekeh. Air mata yang tadi nyaris keluar hilang lagi dalam sekejap. "Sudah, kau sebaiknya tidurlah. Jangan sampai sakit karena mengkhawatirkanku."

Tanpa sepatah kata, Seonho yang masih cemberut beranjak dari tempatnya menuju pintu.

Helaan napas sang omega terdengar begitu pintu tertutup. "Bagaimana mereka bisa begitu mirip ..."

.

.

.

"INI TENTANG MATE-KU! Ayolah, bagaimana kalian bisa diam saja melihat alpha yang nyaris kehilangan mate-nya? Astagaa!" Taedong menggebrak meja reservasi rumah sakit dengan putus asa. Tatapan beberapa orang yang berlalu-lalang di rumah sakit mengarah kepadanya. Tampak berlebihan memang, tapi sebesar itu kekhawatiran Taedong terhadap Donghan.

"Maafkan kami tuan, tolong bersabar menunggu karena kamar belum ada yang siap ditempati." Petugas reservasi itu berbicara setenang mungkin menghadapi alpha yang marah. Ia menunduk dengan menyatukan kedua telapak tangannya di dada sebagai bentuk hormat permintaan maaf sekaligus tata kesopanan di hadapan pengunjung.

Taedong menggeram. Alpha itu menatap frustrasi ke penjuru rumah sakit yang untungnya masih sepi itu. Ia beralih kepada sang mate yang ia baringkan di kursi tunggu, lalu menghampirinya. Membenarkan letak selimut yang membungkus tubuh mate-nya. "Ada yang sakit?" tanya Taedong berjongkok menyejajarkan wajahnya dengan Donghan.

Donghan hanya diam dengan bibir bergetar dan gigi bergemeletuk akibat tubuh yang menggigil. Matanya terpejam erat. Taedong menggenggam tangan yang berbalut perban itu dengan lembut dipenuhi rasa khawatir.

"Kim Taedong?" Sebuah suara membuat Taedong menoleh. Refleks ia berdiri melihat pemilik suara tersebut.

"Hyung! Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

Sosok yang dipanggil hyung itu tersenyum sembari menjabat tangan Taedong. "Menemui sepupu temanku. Oh! Apa ini?" Sosok yang merupakan alpha itu mengernyit mencium aroma Taedong. "Bau alphamu semakin kuat. Haha. Kau sudah menemukan mate?"

Taedong mendengus. Kakak sepupunya ini selalu menganalisis sesuatu dengan cepat. Suara batuk dari tempat mate-nya menyadarkannya. "Hyung, astaga. Mate-ku!" Taedong menghampiri mate-nya dan mengusap punggung sang mate yang terbatuk.

Sepupunya memperhatikan dengan seksama. "Astaga, mate-mu sakit? Kemana pihak rumah sakit di keadaan genting seperti ini."

"Pihak rumah sakit brengsek. Mereka benar-benar lambat. Mereka bilang kamar belum ada yang siap ditempati, sialan. Mereka sengaja membuat kami menderita," umpat Taedong. Ia panik lagi ketika tubuh sang beta mengejang dan semakin panas. "Astaga! Hyung, bagaimana ini, lakukan sesuatu!"

Sang sepupu yang melihat keadaan itu menghampiri Taedong dengan cepat. Alpha bermarga Kim itu merengkuh mate-nya dengan raut wajah putus asa dan khawatir. Namun, mendadak langkah sang sepupu terhenti melihat selimut yang tersingkap menampilkan wajah Donghan.

BRAKK!!!

"SEGERA SIAPKAN KAMAR VIP UNTUK PASIEN BERNAMA KIM DONGHAN!! CEPAT SEBELUM IA MATI DAN PRESDIR KIM MEMBUNUHMU!" teriak sepupu Taedong lantang setelah terburu menggebrak meja reservasi. Para pegawai di sana terkejut dan secara otomatis mereka melakukan apa yang disuruh.

Donghan diambil alih oleh perawat dan dibawa ke kamar VIP rumah sakit. Tubuh beta yang sangat lemah dan dipenuhi luka itu segera ditangani oleh dokter jaga sebelum diserahkan kepada dokter terbaik di sana. Sejenak Taedong tercengang, namun ia merasa bersyukur dalam hatinya. Ia menatap sang sepupu yang tampak sama khawatirnya dengannya.

"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa tubuhnya penuh luka seperti itu?" desis sang sepupu yang sempat melihat sekilas tubuh penuh luka Donghan.

Namun, pertanyaan itu seolah lewat begitu saja dari telinga Taedong. Alpha itu malah berfokus pada hal lain.

"Sanggyun hyung, kau mengenal Kim Donghan?"

.

.

.

"... Sembilan, sepuluh!"

Daniel terkejut ketika pedang di tangannya terhempas begitu saja. Sedangkan alpha bertubuh tinggi di depannya tersenyum bangga.

"Astaga, apa ini? Tidak seperti Pangeran Kang," kata lawan mainnya dengan senyum mengejek. Alpha itu memungut pedang milik Daniel dan menghampiri sang putera mahkota sambil bersiul. Ia menyerahkan pedang itu ke tangan Daniel. "Konsentrasimu kemana, Hyung? Tidak biasanya aku berhasil menjatuhkan pedangmu hanya dalam sepuluh hitungan." Kemudian kembali memasang kuda-kuda di tempatnya. "Ayo lanjut!"

Daniel melirik lawan main yang merupakan sepupunya itu. Bukannya ikut memasang kuda-kuda untuk penyerangan, alpha muda itu hanya melemparkan pedangnya asal ke tanah dan beranjak menuju tempat duduknya di bawah kanopi hijau yang rindang.

"Mwo?" Hyunbin mengernyit bingung. Daniel tampak seribu kali lebih lelah dari biasanya. Dengan ringkas ia memungut kembali pedang Daniel dan menghampiri sepupunya itu. "Heol. Apa yang terjadi denganmu?"

Alpha itu hanya menggelengkan kepala sembari menenggak air mineral dari botolnya. Tangan kirinya sibuk mengusap dahinya yang basah karena keringat.

"Hyung, sumpah ini tidak seperti dirimu. Kemana putera mahkota Barbarian yang angkuh itu, huh?" pancing Hyunbin setengah bercanda. Tangannya iseng menyenggol lengan kanan Daniel sehingga air yang sedang diminumnya tumpah ke wajah.

"Akh! Sialan," umpat Daniel sembari terbatuk akibat beberapa bulir air yang mengalir masuk ke hidungnya.

"A-aa ... mianhae, Hyung. Aku setengah tidak sengaja tadi hahaha." Hyunbin terkekeh geli.

"Hm."

Hyunbin semakin bingung mendengar respon singkat Daniel. "Ey, hyung. Sesuatu mengganggumu? Ceritakan saja padaku. Begini-begini aku juga pendengar yang baik, bukan?"

"Bukan," sahut Daniel pendek setelah mengusap wajahnya dengan baju yang ia pakai. Ia menoleh pada Hyunbin yang memiringkan kepalanya heran. "Kau sama sekali bukan pendengar yang baik."

"Ya! Sedang begini pun kau masih bisa menghinaku?" protes sang sepupu tidak terima.

Alpha itu akhirnya terkekeh melihat reaksi Hyunbin. "Sedang begini apanya? Aku tidak kenapa-napa."

Putera Panglima Kwon itu bangkit dan berkacak pinggang di depan Daniel. "Kau tidak tahu berapa banyak yang kukorbankan untukmu sedari dulu?"

Daniel menatap Hyunbin datar.

"Sejak kecil--ah, tidak. Saat ini saja aku tengah mengorbankan perasaanku untukmu, tahu!"

"Berlebihan," dengus Daniel.

"Heii ayolah. Kau tahu Minhyun sunbaenim adalah omega yang kusukai tapi aku melepaskan rasa itu demi kelancaran pernikahanmu dan penobatanmu sebagai raja. Sialnya aku malah semakin jatuh hati melihat ia tersenyum padaku," cecar Hyunbin dengan raut wajah yang perlahan berubah sedih.

"Tersenyum? Kapan?" tanya Daniel penasaran. Sejauh ini ia mengenal Minhyun, ia tidak pernah melihat putera mahkota korona itu tersenyum. Sedikit pun.

Tapi Hyunbin langsung tergagap dengan pertanyaan itu. "En-tahlah ... mungkin aku mengonsumsi LSD seperti kata Taedong."

"Pft. Idiot." Daniel mendengus sebelum bangkit dan bersiap untuk meninggalkan tempat. "Kalau kau lelah mengorbankan perasaanmu, kenapa tidak kau rebut saja Minhyun dariku?"

"Lucu sekali. Memangnya boleh?" decak Hyunbin dengan senyuman tidak ikhlas.

"Ya--" jawab Daniel sembari melangkah pergi. Hyunbin nyaris berteriak senang mendengar itu sebelum Daniel menoleh lagi dan melanjutkan, "--kali."

"BANGSAT KAU!" Akhirnya Hyunbin tetap jadi berteriak. Tapi sambil membanting pedangnya dan mengacungkan jari tengahnya pada Daniel yang terkekeh pergi.

.

.

.

Omega itu memicingkan matanya melihat tingkah Seongwoo. Padahal baru tadi malam ia diantar Hyunbin ke sini dengan tubuh gemetaran, kini sudah heboh bernyanyi di dapur sambil masak bersama Seonho.

Ulin unmyeong-iya

Machi najgwa bam-iya

Sesang-i uril galla noh-eun daedo

Always i love you, ya

Oneul bam gibun joh-eun

Uri dul man-ui sinho, heart sign!

Seongwoo mengakhiri lagunya dengan mengacungkan heart sign dengan kedua tangannya tepat di depan wajah Minhyun yang langsung melotot melihatnya. Omega manis berkonstelasi bintang itu kemudian melanjutkan senandung kecilnya seraya menyusun hidangan sarapan di meja sambil terus menggoyangkan seluruh tubuhnya diiringi gelak tawa Seonho.

"Heart sign, heart sign--aduh! Sialan kau Wangja-nim." Minhyun terkekeh sejenak setelah berhasil menjentik dahi Seongwoo dengan jari lentiknya yang--sudah dipastikan--rasanya pedas di kulit. Ia menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi Seongwoo agak keras dan menahan bagian belakang kepala Seongwoo dengan tangan kirinya sambil sedikit tertawa geli.

"Aduh, aduh! Ya! Putera mahkota Klan ini menyebalkan sekali!" seru Seongwoo yang tidak terima diperlakukan seperti itu.

"Sudah tidak panas, sih. Ternyata kau tidak sakit," kata Minhyun setelah melepaskan tangannya dari kepala Seongwoo.

"Hush ... jauh-jauh tanganmu dariku!" Seongwoo menggerakkan tangannya seolah mengusir Minhyun dari sekitarnya. Minhyun tertawa renyah sambil menghampiri Seonho yang sedari tadi hanya menyumbang tawa sambil menunggu masakannya matang.

"Tumis ayam pedas?" ujar Minhyun ketika melihat makanan yang dimasak Seonho.

"Ehm, sejujurnya aku baru belajar resep itu kemarin. Jadi aku tidak tahu hasilnya," ungkap Seonho jujur dengan wajah polosnya.

Minhyun mengangguk dan mengusak rambut Seonho gemas. "Tak apa. Aku selalu percaya kemampuan memasak putera bibi koki istana selalu bisa diandalkan."

Seonho terkekeh senang. Tangannya mulai sibuk memindahkan kimchi yang sudah matang ke mangkuk untuk dihidangkan. Minhyun mengulurkan tangannya, hendak membantu membawa mangkuk kimchi itu ke meja makan. Namun, sebelum ujung jarinya menyentuh mangkuk itu, tangan lain sudah menyambarnya dengan cepat.

"Sudah. Wangja-nim diam saja." Seongwoo, si pelaku menjulurkan lidah pada Minhyun yang tertawa dan beralih ke sink untuk mencuci tangan.

"Hyung ..." rengekan kecil dari pintu dapur menginterupsi kegiatan kedua omega dan beta tersebut. Di sana, sesosok kepala menyembul memperlihatkan wajah lelah dengan bibir mengerucut. "Aku lelah ..."

Minhyun hanya menoleh sekilas, kemudian mengeringkan tangannya. "Sarapan dulu saja."

Anak itu masuk ke dapur dengan tetap mempertahankan wajah lesunya.

"Aigoo, Woojinnie, kenapa? Hm?" tanya Seongwoo dengan tangan yang aktif mencubiti pipi tembam Woojin.

"Buku-bukunya terlalu tebal dan memusingkan," sahut Woojin seraya menyomot apel yang sudah dikupas di meja makan. Hal itu memancing perhatian Minhyun.

"Cuci tangan dulu!" perintah omega itu. Woojin hanya tersenyum tanpa dosa menampakkan gigi-gigi kecilnya dan berjalan untuk mencuci tangan. "Yang aku suruh kau pelajari itu belum seberapa. Kau harus menguasai semua ilmu dalam sistem politik sebagai bekal untuk menjadi raja."

"Sesungguhnya. Di dalam hatiku. Aku tidak berminat." Minhyun mendelik. Woojin mengangkat bahunya cuek.

"Daehwi mana ya?" tanya Seonho setelah menyelesaikan tumis ayan pedasnya.

"Dia di kamar mandi sejak satu jam yang lalu," sahut Woojin.

Tak lama kemudian, Daehwi datang dengan keadaan bersih bersinar dan kegiatan sarapan di rumah Pangeran Hwang pun dimulai.

.

.

.

"Hyung, kau ingat tentang alpha aneh yang mengejarku waktu itu?" tanya Seonho yang bergelayut di bahu Minhyun. Minhyun yang tengah membaca buku--entah buku apa lagi itu--mendengung menanggapi. "Sejak berpapasan di bus waktu itu, aku tidak pernah merasakannya lagi, Hyung."

"Kenapa? Kau merindukannya?" kerling Daehwi jahil.

"Aniyaa ... aku hanya bertanya-tanya. Biasanya dia selalu ada di pikiranku, tapi sekarang menghilang." Seonho mencebikkan bibirnya. "Yang tersisa tinggal detak jantung yang terus berbunyi di sini," lanjutnya sambil menunjuk kepalanya.

"Sudah kubilang, dia mate-mu. Tidak percaya sih," timpal Woojin yang baru saja muncul sambil membawa segelas air. Minhyun mengerutkan dahi melihat alpha kecil itu. "Hanya mengambil air minum, Hyung. Aku akan belajar lagi."

"Oh, baguslah. Belajar yang rajin," sahut Minhyun sambil kembali memusatkan perhatiannya pada buku. "Kau beruntung diizinkan belajar di sini, bukan di istana."

"Tampaknya Woojin akan bosan kalau sendirian. Aku temani ya?" Daehwi ikut menyusul Woojin ke ruang belajarnya.

Seongwoo yang sedari tadi memerhatikan sambil memainkan ponselnya mulai bersuara. "Alpha kecilku mau diangkat jadi raja?"

Minhyun mengangguk.

"Lalu Seonho, sejak kapan kau punya mate? Tidak bilang-bilang pada hyung, ya. Tega sekali."

Seonho menggeleng keras-keras. "Tidak tahu. Lagipula belum tentu ia benar-benar mate-ku. Kami hanya bertemu sekali dan ia langsung mengejarku tanpa sebab. Dan bertemu lagi di bus tapi dia sedang tidur," kilahnya.

"Kau sendiri, Woo," sela Minhyun. Seongwoo mengangkat alisnya menunggu lanjutan kalimat Minhyun. "Aku mencium bau lain saat kau diantar ke sini kemarin. Apa terjadi sesuatu padamu sebelum kau ke sini?"

Seongwoo menimbang-nimbang jawaban yang tepat atas pertanyaan Minhyun. "Ng ... aku hanya mengulang mimpi buruk lamaku. Sudah, hanya itu. --ah, lalu di halte aku bertemu orang yang mau mengantarku kemari."

"Berapa orang?" Minhyun masih menyelidik membuat omega bermarga Ong itu sedikit salah tingkah.

"Satu. Yang tinggi, bibirnya tebal, tampan tapi berwajah seperti idiot."

Minhyun mendengus tertahan. Memang tampak idiot. Batinnya mengingat wajah Hyunbin. "Dia seorang alpha, kalau kau tidak tahu. Dan untung dia--sepertinya--bodoh sehingga tidak menerkammu."

Minhyun kembali menekuri bukunya. Namun, tanpa siapapun sadari, keningnya tengah berkerut berpikir mengenai aroma alpha yang tercium di tubuh Seongwoo kemarin.

Ah, mungkin bau si Hyunbin itu sama dengan Daniel.

--Hwang Minhyun Wangja-nim, berpikir positif

.

.

.

Daniel menghirup napas dalam-dalam. Sore itu udara sejuk, dan ia membutuhkan udara itu untuk sedikit menjernihkan pikirannya yang sedang mencampur adukkan berbagai macam hal entah apa itu. Mulai dari pertunangannya, lalu peresmian klan baru sekaligus penobatannya sebagai raja, Woojin kecil yang juga harus menghadapi kehidupan sebagai calon penerus kerajaan, Hyunbin--entah apa yang ia pikirkan tentangnya--, dan satu wajah yang memenuhi sebagian besar ruang pikirannya.

Omega berkonstelasi bintang.

Daniel mengacak rambutnya frustrasi. Ia berhenti di tepi jembatan di atas aliran Sungai Han yang beriak ramai dan menumpukan kedua lengannya pada railing. Alpha itu mendecak lelah. Akhir-akhir ia menyadari bahwa omega itu adalah fated mate-nya. Dan jujur, ia tidak tahu apakah ia mesti senang atau sedih akan hal itu.

"Astaga!" pekikan kecil itu terdengar di belakangnya. Alpha itu memutar tubuhnya beberapa derajat untuk menemukan seorang pria kurus bermantel panjang yang mengaduh sakit sambil mengikat tali sepatu yang lepas.

Hanya sebentar sampai sosok itu mendongak dan kedua indera penglihatan mereka bersitatap.

"Eh ... eung ..." seketika pemuda manis itu salah tingkah. Tak jauh berbeda dengan sang putera mahkota yang langsung memalingkan wajahnya merasakan debaran kecil di dadanya. Ditambah dengan otaknya yang mulai tidak bisa konsentrasi dengan memutar nama yang belum pernah ia dengar seumur hidupnya, namun terasa familiar.

Ong Seongwoo.Kucing nakal di mimpi indahnya yang akhir-akhir ini selalu berputar di pikirannya.

Pria manis itu berjalan agak tergesa meninggalkan tempat. Wajah mungilnya memerah entah kenapa.

Baru sampai ia di ujung jembatan, suara husky itu menyapa pendengarannya.

"Dompetmu jatuh."

"Aa-astaga!" pekiknya kaget. Alpha berbahu lebar itu berdiri di belakangnya menyerahkan sebuah dompet hitam miliknya. "Te-terima kasih!" seru omega itu cepat sambil berbalik menghadap sang alpha dan membungkukkan badannya menerima dompet itu.

"Tidak masalah," sahut sang alpha. Omega itu merasa kikuk ketika sang alpha malah menyejajarkan langkah mereka. Tangannya meremat pelan ujung coat-nya dan menggigit bibirnya gugup.

"Apa yang terjadi padamu, kemarin?"

Sial! Otaknya blank seketika.

"M-maksud anda, tuan?" lirih omega itu.

"Sesuatu menimpamu?" tanya alpha bersurai ash brown itu lagi. Hey, tunggu! Bukannya waktu itu rambutnya perak, ya?

Sang omega menggelengkan kepalanya akibat salah fokus. Namun, sang alpha mengernyit melihat gelengan kepala omega itu yang dipikirnya mengandung arti lain.

"Tidak ada apa-apa?" tanya sang alpha lagi.

"A-ah, aniya. Hanya kejadian kecil," sahut sang omega kelabakan.

"Kau bermimpi buruk?"

"Heol, mengapa tebakanmu benar sekali?"

Alpha itu mengulum senyum kecil. "Tiga hari yang lalu, malam hari, juga ada kejadian kecil?"

Omega berkonstelasi bintang itu tersentak. Sudah. Sudah terbukti alpha ini adalah mate-nya. Tiba-tiba ia merasa merinding.

"Ah, itu ... hanya dikejar seseorang," jawab sang omega terbata.

Alpha itu memiringkan kepalanya sambil tetap menyejajarkan langkah dengan sang omega. Mereka akhirnya berhenti di halte pemberhentian bus. "Namamu, Ong Seongwoo?"

Seongwoo, hanya bisa mengangguk membenarkan.

"Namaku Kang Daniel."

"Y-ya, baiklah. Aku harus pulang sekarang. Maafkan aku, sampai jumpa!" seru Seongwoo terburu.

"Tunggu!" panggilan Daniel menghentikan langkah Seongwoo yang terburu hampir menaiki bus. Pure Alpha itu mendekat dan yang ia lakukan membuat wajah sang omega memerah sepenuhnya.

"Agar tidak ada yang berani mendekatimu lagi," ujar Daniel dengan Seongwoo yang menyembunyikan wajah di dekapannya. Seongwoo sendiri hanya menahan malu mengusakkan wajahnya pada dada bidang Daniel.

"Nah, selesai." Alpha itu melepaskan dekapannya setelah memastikan baunya menempel pada seluruh tubuh Seongwoo. Ia tersenyum sekilas membuat Seongwoo mau tak mau menatap wajah dengan manik obsidian yang terus muncul di mimpinya. Kagum akan wajah tampan itu. "Pulanglah. Karena kita mate, kita akan bertemu lagi nanti. Sampai jumpa ..."

Seongwoo melambaikan tangannya pelan seraya menaiki bus yang berhenti di depannya. Sedangkan Daniel hanya memandangnya sampai bus itu menjauh.

.

.

.

Preview chapter selanjutnya

"Sudah kubilang, aku tidak akan menjadi raja, appa. Kenapa tidak menyatukan kedua klan menjadi satu? Membuat kerajaan baru hanya menambah urusan."

"Aku selalu membencimu yang sejak awal kabur meninggalkanku dengan segala urusan yang kubenci seumur hidupku!"

.

.

.

"Aku tidak akan melepaskan mate-ku. Tapi aku juga tidak akan melepaskanmu. Bukankah memiliki dua mate terdengar seperti usulan yang bagus?"

"Seongwoo, kurasa betrayal lebih baik untukmu daripada menjadi mate si brengsek ini."

"Kenapa harus merasa bersalah? Lagipula sejak dulu kau sudah biasa menuduhkan semuanya padaku, bukan?"

.

.

.

"Namaku, Lai Guanlin."

...

"Kenapa dunia begitu sempit?"

.

.

.

Yak, panjang euy.

Yun bangga udah berhasil ngetik chapter sepanjang ini dan 3500 words isinya hanya nonsense. Pfft haha.

See ya in next chapter, don't forget to leave some reviews!