OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

YUNHWA

.

.

.

Malam hari sebenarnya bukanlah waktu yang aman bagi seorang omega untuk berjalan sendirian di jalanan yang sepi dan gelap. Terutama pure omega berparas manis yang memiliki aroma feromon yang amat menggoda para alpha.

Namun, hal itu tidak disimpan baik-baik dalam kepala seorang Ong Seongwoo. Malam itu sepulang kerja dan sedikit berbelanja harian, ia mengeratkan mantelnya dan berjalan sendirian menuju rumah.

"YA! Hahahaha." Langkah Seongwoo terhenti ketika melihat di depan gang yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri ada sekelompok orang memegang botol minuman dan tertawa. Bau mereka tercium di udara. Bau alpha dan beta.

Seongwoo meremat mantelnya. Sejenak ragu untuk melanjutkan atau berputar balik. Rumahnya tinggal melewati sekitar dua gang lagi dan apabila ia berputar balik, ia harus mengambil jalan memutar yang jaraknya tiga kali lipat lebih jauh. Dalam kebimbangannya, omega itu berdoa dalam hati semoga kelompok itu cukup mabuk sehingga tidak menyadari keberadaannya.

"Hei, kau, di sana!"

Seongwoo terhenyak kaget. Terlalu fokus dalam kebimbangan dan doanya membuatnya tidak menyadari kalau tatapan kelompok alpha dan beta itu kini mengarah padanya. Rasanya waktu terlalu singkat sebelum Seongwoo menyadari lagi bahwa kelompok itu kini berjalan ke arahnya sambil terkekeh.

"Kabar baik, kawan-kawan, kita mendapatkan seorang pure omega ... hmmm ... coba cium aromanya," kata salah seorang alpha. Seongwoo mundur beberapa langkah. Hatinya menciut takut.

Kelompok itu memicingkan matanya ketika melihat Seongwoo menjatuhkan barang belanjanya dan membuka mantelnya. Memperlihatkan pakaian yang tadi tesembunyi di balik mantel cokelat panjang itu.

Oversized cable knit cardigan.

Oke. Omega Ong tidak seceroboh itu membiarkan dirinya keluar malam hari tanpa perlindungan apapun. Di balik mantelnya ia sudah mempersiapkan diri dengan cardigan berbau alpha itu.

Sayangnya, alpha dan beta mabuk itu salah fokus.

"Oh, omega yang penurut. Lihat ia bahkan membuka mantelnya untuk kita," kata salah seorang alpha yang disahuti dengan gelak tawa puas dari yang lainnya.

"Lihat baju itu, tampaknya sangat mahal."

Seongwoo melotot mendengar pembicaraan kelompok yang salah fokus itu. Apakah bau alpha di cardigan itu sudah hilang? batinnya seraya menunduk mengendus cardigannya.

"Aakk lepaskan!" teriak Seongwoo karena salah satu alpha itu sudah merangsek maju menarik lengan bajunya. Tampaknya para pemabuk itu justru malah tidak mencium bau alpha di cardigannya. Jadi omega berkonstelasi bintang itu menghempaskan tangan alpha itu dan berlari sekencang-kencangnya ke belakang.

Kelompok itu mengejar, tentu saja. Tubuh limbung mereka berlarian meninggalkan si alpha pertama yang berhasil menyentuh Seongwoo terduduk di tanah sambil mengendus tangannya.

Seongwoo yang panik membelokkan arah sembarangan. Masuk ke dalam gang kecil yang gelap dan hanya disinari lampu kecil yang hampir padam.

"Ah, sial. Siapapun tolong aku!" gumam Seongwoo dengan napas terengah mendapati gang yang dimasukinya buntu. Dan lembab. Berlumpur serta kotor.

Ia berbalik dan menemukan kelompok itu sudah menghadang jalannya dengan seringaian. "Mau kemana, manis?"

Omega itu menggeleng. Ia memundurkan tubuhnya pelan-pelan ke pojok gang. "Kumohon, jangan menyentuhku!" pintanya putus asa. Hal itu membuat seringaian mereka semakin lebar.

"Oh, sangat cantik, kemarilah ... kami tidak akan menyakitimu," ejek alpha yang kini berdiri paling depan, siap menerkam tubuh ringkih Seongwoo.

Seongwoo terlalu terstimulasi dengan ketakutan. Ia berjalan mundur lebih cepat dan saat sepatunya tanpa sengaja menginjak tanah licin, ia terjungkal. Mengundang tawa kelompok pemabuk itu.

Sang omega rasanya ingin menangis. Punggungnya kotor terkena lumpur. Pada saat seperti itu sempat-sempatnya ia mengumpati Tuhan yang menakdirkannya jalan seperti ini.

"Sial! Hentikan semua!"

Teriakan dari ujung gang itu menghentikan mereka. Tampak salah satu alpha kawanan mereka yang tadi berhasil menyentuh Seongwoo berdiri dengan wajah gelap.

"Kenapa? Bro, kau mau mengklaim si manis ini milikmu? Huh?"

Alpha itu menggeleng. "Dia sudah ada yang punya, bodoh!" teriaknya lagi. Menggema di sepanjang lorong gang yang sempit itu.

Seongwoo terdiam bingung. Ada yang punya?

"Cepat menjauh darinya atau ini adalah hari terakhir dalam hidupmu!" perintah alpha itu lagi.

Saat itulah, aroma alpha di cardigan yang dikenakan Seongwoo mulai tercium dalam udara yang sempit. Kelompok itu tersadar dan menatapnya terkejut.

"Sial. Kau mate-nya? Astaga, maafkan kami. Tolong katakan pada Yang Mulia untuk tidak menghukum kami!"

Seongwoo makin terperangah ketika alpha dan beta yang berjumlah sekitar 5 orang itu berlutut di hadapannya. Lalu mengantar sang omega Ong pulang dengan selamat, tak lupa membawakan barang belanjaan yang tadi sempat ditinggalkannya di jalan.

Seongwoo kebingungan. Mate? Yang Mulia? Astaga, wajahnya memerah ketika menyadari semuanya. Bau cardigan itu menyelamatkannya, sesuai yang diharapkan. Tapi apa-apaan? Ia tahu cardigan ini milik sang mate--mate yang bahkan belum pernah ditemuinya--Tapi memangnya mate-nya siapa sampai membuat para alpha dan beta dominan itu bertekuk lutut?

.

.

.

Dan tiga hari kemudian, Seongwoo menemukan jawabannya ...Kang Daniel. Mate-nya bermarga Kang.

.

.

.

Merona.

Merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona merona.

Seongwoo benar-benar tidak bisa berpikir jernih sejak bertemu dengan mate tampannya. Sampai di rumahnya ia langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur dan memekik-mekik gemas sambil menggigiti bantalnya. Sesekali kakinya terangkat menendang-nendang udara. Lalu berhenti dengan nafas tercekat dan wajah yang sudah merona indah selayaknya kelopak mawar.

"Agar tidak ada yang berani mendekatimu lagi."

"Kyaaaaa!" Seongwoo memekik teredam bantal yang sengaja ia telungkupkan di wajahnya. Ia sudah seperti gadis remaja yang bertemu idolanya saja. Tapi memang seperti itu perasaannya. Meleleh. Jatuh pada pesona awal Kang Daniel. Setelah 30 menit yang terasa singkat ia menghentikan kegiatan anehnya itu dan duduk di tempat tidur sambil menggigiti jarinya gugup. Menatap jendela yang menunjukkan langit yang hampir gelap menuju malam.

"Ah, jemuranku belum diangkat sejak kemarin," gumamnya lalu beranjak ke halaman samping rumahnya.

Dengan telaten omega manis itu memasukkan setiap helaian kain dari rak jemuran ke dalam keranjang yang sudah disiapkannya tadi. Gerak tangannya terhenti saat menyentuh cardigan mahal yang dicurinya--oh, tidak, Seongwoo tidak mau mengakui kalau dia mencuri--dari tempat Alpha Kang. Ia tersenyum-senyum lagi dan mengendus aroma cardigan yang sudah berganti menjadi aroma bunga yang menutupi bau alpha yang tinggal samar-samar akibat dicuci setelah kejadian tiga hari lalu.

"Baunya sudah hampir hilang," gumam omega itu sambil memeluk cardigannya. "Tapi tidak masalah, coat-ku jadi penggantinya," lanjutnya dengan riang sambil menghirup aroma Daniel yang menempel kuat di mantelnya.

Menyimpan keranjang pakaian di sudut kamarnya, Seongwoo kembali bergelut sendiri di tempat tidur tanpa niat untuk mengganti pakaiannya--termasuk membuka mantelnya.

"Aaaa ... aku harus segera memberi tahu Minhyun!"

.

.

.

Dongho sedang membersihkan sisa makan malamnya ketika bel apartemennya berbunyi tiga kali. Pure alpha bertubuh kekar itu beranjak setelah meletakkan alat makan yang sudah bersih di rak dan membuka pintu bercat hitam tersebut.

"Salam, Puteraku Kang Dongho."

"Oh, Appa!" Dongho segera membungkuk hormat ketika menemukan sosok sang raja--ayahnya--di depan pintu. Tidak hanya itu, ayahnya datang bersama adiknya serta seorang pengawal kerajaan yang berdiri tegap di belakang. "Masuklah, Appa."

Ketiga tamu itu masuk setelah dipersilahkan. Dongho segera berkutat di dapurnya. Secepat mungkin meraih bahan-bahan untuk meracik teh sebagai minuman jamuan untuk ayah dan adiknya, serta pengawal istananya.

Kini ketiga alpha superior itu duduk berhadapan di ruang utama. Pengawalnya diperbolehkan duduk di tempat lain selagi mereka bicara secara privat. Sang raja menyesap tehnya dengan tenang sebelum angkat bicara. "Kau betah tinggal di tempat kecil ini?"

Dongho terdiam sebentar sebelum mengangguk. "Ne, Appa. Meskipun tidak sebesar dan seindah istana, apartemen ini adalah tempat paling tenang untukku."

Sang raja mengangkat alis. "Jadi, kau tidak berniat untuk kembali ke istana?"

Agak ragu, Dongho menggeleng. "Di sini sudah cukup bagiku, Appa." Dapat dilihatnya kening sang adik mengerut.

"Baiklah kalau begitu," jawab sang raja. Kemudian menepuk pundak sang putera bungsu yang duduk diam di sebelahnya. "Daniel akan menikah tiga bulan lagi. Kuharap kau sudah mengetahuinya."

Dongho menatap Daniel terkejut. Ia tahu kalau adiknya itu sedang menjalani pertunangan dengan Pangeran omega dari Klan sebelah, namun ia tidak menyangka akan dinikahkan secepat itu.

"Setelah ia menikah, ia dan Pangeran Hwang akan membentuk kerajaan baru di sebelah utara." Dongho lagi-lagi membelalak tidak percaya.

"Kerajaan baru?"

Sang raja mengangguk. "Ya, oleh karena itu, aku sangat berharap putera sulungku mau kembali ke istana untuk menjadi raja penerus Klan Barbarian menggantikanku."

Dongho menahan napasnya terkejut. Sedang Daniel menatapnya datar. Tanpa ekspresi.

"Appa, tunggu, maafkan aku sebelumnya," sela Dongho. Sang raja mengangguk mempersilahkan putera sulungnya melanjutkan kata-katanya. "Tapi bukankah sudah kubilang, aku tidak ingin menjadi raja, appa. Lagipula, kenapa mesti membuat kerajaan baru? Kenapa tidak menyatukan kedua klan saja? Membuat kerajaan baru hanya akan menambah urusan."

Entah bayangan Dongho saja atau bagaimana, namun ia melihat rahang Daniel sempat mengeras sebelum kembali normal dua detik kemudian. Appa-nya, sang raja, hanya mengangguk mendengarkan. Beliau senantiasa bersikap tenang dan berwibawa dalam keadaan apapun.

"Aku menghargai keputusanmu. Hanya ... pikirkanlah lagi. Keputusan mengenai kerajaan baru bukanlah keputusan sepihak. Dan kau tahu tidak baik sebuah kerajaan mengalami kekosongan kepemimpinan apabila aku mangkat nanti," ucap sang raja final lalu bangkit beranjak dari sofa yang tidak senyaman singgasananya. "Mari, kita pulang," lambainya kepada pengawal yang menunggu di kursi lain di ruang depan.

Dongho menatap Daniel yang tidak beranjak mengikuti ayahnya. Sang adik tersenyum miring dan mendengus.

"Sebaiknya segera kau cari fated mate-mu itu. Kau tentu tidak ingin kepemimpinan kerajaan klan kita terhenti atau kacau karena memiliki raja yang impoten, bukan?"

Dongho menghela napas mendengarnya. Ia mengusap wajah lelahnya dan membalas pandangan sinis adiknya dengan tatapan lembut. "Benarkah itu? Kau akan menikah dalam waktu tiga bulan?"

Daniel hanya mengedipkan matanya tenang sambil tetap mempertahankan senyum miringnya.

"Aku membencimu, Hyung."

Dongho tidak terkejut. Ia mengulurkan tangannya kepada Daniel, "aku minta maaf. Berhentilah membenciku."

Daniel mendecih melirik tangan itu. Begitulah kakaknya. Meminta maaf tannpa tahu apa masalahnya. Alih-alih menjabat tangan sang kakak, ia memilih untuk bersedekap menyilangkan tangannya di dada. "Kau tahu sudah berapa lama aku menanamkan kebencian ini dalam hidupku?" Daniel menggantungkan ucapannya sejenak untuk membuang napas kesalnya ke udara. "Aku selalu membencimu yang sejak awal kabur meninggalkanku dengan segala urusan yang paling kubenci seumur hidupku. Hanya bermodal kecacatan internalmu kau lari dari tanggung jawab dan memilih untuk mengasingkan diri dari istana. Masih untung keluarga kita tetap menganggapmu sebagai anak." Daniel terkekeh sarkastik.

"Dan kau membuat semua urusan sialan itu tertimpakan kepadaku. Tapi tak masalah, toh lama-lama aku menikmatinya," lanjut Daniel sambil berlalu.

.

.

.

Seongwoo bangun terlambat lagi hari ini. Ia bermimpi buruk lagi dan omega Ong itu tak terbangun sampai wajah alphanya muncul mengusir semua bayangan mimpi buruknya. Ia berlari terburu membersihkan diri dan mengunyah roti tawar tanpa selai. Lalu segera ke kampus.

"Fuah! Aku beruntung datang tepat waktu!" seru Seongwoo seraya menjatuhkan tasnya di kursi tepat di samping sahabat bermata rubahnya. Minhyun hanya melirik dan menggelengkan kepalanya.

"Kau baik-baik saja, Ong?" Maksud Minhyun di sini adalah menanyakan kabar, mengingat mimpi buruk sahabatnya sempat kambuh beberapa hari kemarin. Omega Ong itu mengangguk riang.

"Coba tebak apa yang terjadi?"

Minhyun mengernyit menatap Seongwoo yang merentangkan tangannya. Mata rubahnya memicing menelisik tubuh Seongwoo yang dilapisi mantel cokelat kesayangannya. Dan melotot tiba-tiba saat mencium aroma familiar dari mantel itu.

"Kau bertemu alphamu?" tanya Minhyun. Seongwoo mengangguk lagi. Minhyun menggertakkan giginya. Ia tahu persis bau alpha itu. "Jauhi dia."

Mata Seongwoo membelalak. "Mwo?"

"Alpha itu. Jauhi dia. Ikuti kataku. Demi kebaikanmu."

"Apa-apaan? Apa masalahmu? Kau iri karena aku mendapatkan mate-ku disaat kau sendiri tidak pernah mendapatkannya?" seru Seongwoo tak sadar saking terkejutnya atas ucapan Minhyun yang tiba-tiba.

Minhyun menahan napas terkejut. Rahangnya mengeras. Sungguh, pembicaraan tentang mate bukanlah pembicaraan yang bagus untuknya. "Kau akan tahu sendiri, Ong. Dia bukan orang yang tepat buatmu."

"Setiap fated mate adalah orang yang tepat. Bukankah begitu?"

Brakk!!!

Seongwoo terperangah. Minhyun bangkit setelah membanting bukunya ke meja dan memancing perhatian semua mahasiswa kedokteran yang ada di sana. Beruntung dosen belum datang.

"Kau harus mendengarkanku, Ong. Tapi apabila kau tidak mau, maka itu pilihanmu," ucapnya dingin sebelum memindahkan semua barangnya ke meja lain di pojok ruangan. Jauh dari tempat Seongwoo.

Seongwoo menggelengkan kepalanya tak percaya. Sesensi itu kah Minhyun terhadap pembicaraan mengenai mate?

.

.

.

"Hei, mate." Tubuh omega bermarga Ong itu tersentak saat sebuah suara berat yang sudah dikenalnya dengan baik—padahal baru beberapa kali dirinya mendengar suara itu—menyapa daun telinganya. Hidungnya berkedut tak sadar saat organ itu menghirup aroma pemuda tampan yang sudah seperti candu untuknya. Wajah si Ong menoleh, dan seketika ia menahan napas saat wajah matenya hanya berjarak dua senti, cukup untuk omega itu merasakan hembusan napas tipis tepat di bibirnya.

Sang mate yang merupakan seorang pure alpha dengan marga Kang itu menaikan satu sudut bibirnya, terhibur melihat wajah manis si omega yang tengah mematung, dan terkekeh saat pemuda manis itu segera membuat jarak ketika menyadari posisinya. Tak dipungkiri, ia senang bertemu dengan mate manisnya setelah mengalami malam alot yang melelahkan dengan kakaknya.

"Well, apa yang dilakukan omega manis ini di perpustakaan sendirian, hm?"

Seongwoo mendelik gugup saat tangan Daniel merangkulnya sok akrab, seingatnya mereka hanya baru berkenalan dan beberapa kali berpapasan, tapi ia biarkan karena pemuda alpha ini merupakan matenya. "Aku anak fakultas kedokteran, Kang Daniel-ssi. Perpustakaan sudah menjadi tempat bersemayamku."

"Cukup Daniel saja. Kukira kau anak orang tuamu," cih, humor basi, Seongwoo memutar bola mata mendengarnya. Namun tak ayal ia tersenyum juga, "dan, wow, kau mahasiswa kedokteran? Jinjja?"

Seongwoo nampak tersinggung sesaat mendengar nada matenya seolah tak mempercayai bahwa ia merupakan mahasiswa kedokteran. Hei, ingat baik-baik! Seongwoo, walaupun bentukannya seperti itu benar-benar merupakan mahasiswa kedokteran, salah satu yang terbaik pula. Yah, tapi saking seringnya mendengar pertanyaan meragukan dari orang-orang yang menanyakan tentang pendidikannya, rasa tersinggungnya hanya mampir sebentar, terganti oleh cengiran manis andalannya.

"Iya. Kenapa? Belum pernah melihat calon dokter setampan diriku?" Well, bagaimana caranya kita percaya kalau omega manis bernama Ong Seongwoo benar-benar seorang mahasiswa kedokteran.

Daniel hanya mendengus, sedikit tertarik dengan sifat matenya yang berkebalikan dengan sifat calon jodohnya. "Bukan ... Aku hanya tidak pernah melihat dirimu sebelumnya. Padahal aku sering berkunjung ke fakultasmu."

"Oh ya? Untuk apa?" Seongwoo mendadak penasaran.

Daniel kikuk seketika. Tidak mungkin kan ia mengatakan jika ia berkunjung ke gedung fakultas kedokteran untuk menemui calon jodohnya kepada matenya sendiri? "Hng ... Mengunjungi temanku."

"Hoo ... Kau punya teman?" Ini bukan pertanyaan jahat, sungguh. Seongwoo hanya belum terlalu mengenal Daniel jadi segala macam pertanyaan yang ada di kepalanya ia utarakan begitu saja.

Sang pangeran kembali mendengus sembari menjawil hidung pemuda Ong, namun ia tak menjawab pertanyaan sang mate. Seongwoo juga tak menganggap serius pertanyaannya, terbukti dari kini omega itu tengah melihat-lihat rak buku didepannya. "Kau saja belum mengenalku lebih dalam."

"Memang. Kita baru beberapa kali bertemu, baru berkenalan nama, dan kau memelukku untuk menyebarkan baumu yang ... ugh, aku sangat menyukainya," ungkap Seongwoo jujur. Melupakan apapun yang diucapkan Minhyun padanya tadi di kelas. Lagipula, mate-nya ini terlihat sebagai orang yang baik bukan?

Sang alpha kini tersedak udara. Bagaimana bisa omega ini menjadi orang yang terlihat santai tapi juga bisa menjadi omega manis yang malu-malu dan begitu polos seperti kucing. Daniel yakin dirinya sudah sangat tertarik pada sang mate.

"Kalau begitu kita harus mengenal lebih dalam," ujar Daniel. Ia lalu mendekatkan kembali bibirnya pada telinga Seongwoo dan kembali berujar, "ingin ke rumahku?"

.

.

.

Seongwoo sudah pernah mendapat nasihat untuk tidak menyetujui ajakan orang asing yang mengajaknya pergi, apalagi ke tempat pribadi seperti rumah. Tapi lihat, sekarang pemuda Ong itu sedang duduk di sebuah sofa di apartemen orang asing.

Tapi kan Daniel bukan orang asing. Dia matenya. Terlepas dari apapun yang dikatakan Minhyun tentangnya. Ugh, ia mengingat itu lagi. Seolah-olah si mata rubah itu mengenal Daniel saja.

Dan sekarang Seongwoo tengah dilanda kegugupan, mengingat apartemen yang tengah dikunjunginya ini milik seorang pure alpha, dan hanya berdua dengan pemiliknya! Tenang Seongwoo, kau bahkan pernah bermalam di apartemen seorang pure alpha yang wajahnya lebih menyeramkan daripada matenya dalam keadaan heat.

Tak.

Sebuah gelas berisi cairan berwarna kuning—jus jeruk—diletakkan di meja didepannya, berhasil membuyarkan lamunan Ong Seongwoo dengan tangannya yang memilin-milin kemeja dirinya sendiri. Ketara sekali dia tengah gugup, Daniel tersenyum geli mendapatinya. Lalu Daniel berhasil menambah kegugupan sang mate saat dengan santai alpha tersebut duduk sangat rapat di sebelah Seongwoo.

Seongwoo bahkan sadar tubuhnya perlahan memanas dengan mencium aroma matenya.

Daniel sendiri sudah sangat panas karena feromon omeganya yang sangat manis meski dia sudah menggunakan parfum.

"Hng ... Dan, terima kasih minumannya," ujar Seongwoo pelan sembari mengambil gelas dan meminumnya perlahan, berusaha menurunkan suhu tubuhnya yang semakin meningkat saat berada bersama sang mate.

Daniel hanya diam saja, toh dia menyediakan minuman itu untuk omeganya. Namun, Daniel tak bisa diam saja saat melihat cairan kuning menetes dari sudut bibir pemuda Ong yang tak sengaja keluar saking gugupnya ketika meminum jus itu. Jiwa alpha sang pangeran mengerang mengikuti jejak cairan kuning itu yang menetes dan hilang dibalik kemeja Seongwoo.

"Persetan, aku tidak tahan lagi."

.

.

.

-- memasuki area terlarang --

.

.

.

Prang!

Semua terjadi begitu cepat. Dimulai dari Daniel yang menarik tubuhnya cepat hingga Seongwoo limbung dan memecahkan gelas berisi jusnya yang diabaikan begitu saja oleh sang alpha. Kemudian alpha tersebut mencium bibir pemuda Ong dengan kasar sarat akan nafsu hingga Seongwoo terlena. Terakhir, Daniel menggendong tubuh kurus matenya tanpa melepaskan ciumannya dan membawa Seongwoo ke kamar.

Dan disinilah Seongwoo sekarang. Berbaring telanjang saat celana dalamnya sudah ditarik lepas oleh pemuda alpha yang berada diatasnya.

Seongwoo terbuka, panas. Siap dinikmati oleh orang asing.

'Dia mateku!' Inner Seongwoo berteriak saat perasaan ragu tiba-tiba mencegahnya untuk bersetubuh dengan matenya. Ia berusaha menahan perasaan ragunya dan menepis semua perkataan Minhyun yang terngiang di telinganya. Seongwoo harus percaya pada pemuda Kang ini. Takdir sudah menjodohkannya dengan sang alpha.

"Hnghh!" Seongwoo tersentak ketika merasakan lidah pure alpha itu menyentuh belakang telinganya, mengirim rangsangan hebat ke bagian selatan sang omega yang semakin menegang.

"Kau sensitif di bagian ini, babe." Suara Daniel yang serak sarat akan nafsu semakin terdengar seksi di telinga sang omega, membuat semua rambut tipis di tubuh omega manis itu meremang. Seongwoo mengerang frustasi saat Daniel terus menjilati bagian belakang telinga kirinya. Tangan sang mate juga sesekali menyentuh halus kejantanannya, membuatnya gila karena itu hanya menambah rangsangan saja, tidak memuaskannya.

Daniel kemudian menghentikan kegiatannya dan bangkit sedikit dari tubuh matenya. Matanya menatap tajam sang omega yang terengah dengan wajah memerah, membuat smirk timbul di bibir Daniel. "Say, Seongwoo ..." Daniel mengecup pipi Seongwoo tepat pada bintangnya, "Apa yang kau ingin aku lakukan?"

Bersetubuh! Bisakah Seongwoo percaya pada pemuda Kang ini? Tiba-tiba ia teringat kata-kata Minhyun lagi.

"You fuck me ... deep and rough," jawabnya. Mata sayunya balas menatap mata sang alpha yang menatapnya intens. Persetan dengan Minhyun. Daniel kembali terkekeh pelan dan kembali mengecup pemuda Ong, kali ini di bibir. Dengan cepat tangannya membuka kaus yang ia kenakan hingga alpha itu topless. Seongwoo memandang kagum pada tubuh matenya, terutama pada abs yang tercetak jelas di perut putih pemuda Kang itu.

"As you wish, babe." Daniel kembali menindih Seongwoo dan berujar tepat didepan bibir omeganya. Bibirnya kemudian menelusuri jawline Seongwoo, meninggalkan jejak saliva disana hingga ke leher sang mate. Lidahnya bermain-main disekitar leher Seongwoo hingga omega itu melenguh.

"Niell hhh ... mhhh," Tangan Seongwoo mengalung di leher Daniel, sesekali menarik rambut alphanya.

Tangan pangeran itu sendiri tak tinggal diam. Tangan kirinya memainkan nipple kanan omeganya sedang tangan kanannya memijat pelan--namun kuat--kejantanan sang mate. "Akkhh ..." Teriakan kecil Seongwoo layangkan ketika tangan Daniel mencubit kuat nipplenya, membuat kejantanannya tak sengaja mengeluarkan precum. Daniel tersenyum miring menyadarinya.

"Kau benar-benar suka yang kasar, hm?" Tatapan itu, jiwa omeganya benar-benar ciut melihat tatapan Daniel yang menatapnya rendah bak jalang. Tapi Seongwoo senang, bahkan terang-terangan tersenyum sambil mendesah saat tangan Daniel meremas kencang kejantanannya yang sudah sangat merah.

Tak berniat menjawab, Seongwoo menarik kepala Daniel dan mengarahkannya pada nipple kirinya, yang segera dihisap oleh sang alpha dengan senang hati. Lidahnya dengan lihai bergerak memutari tonjolan kecil milik Seongwoo tanpa mengenainya, membuat erangan frustasi terdengar di telinga sang alpha. Daniel terkekeh sebelum ia benar-benar memakan tonjolan itu dengan tangan kirinya memanjakan nipple yang sebelah kanan.

"Ahhnnn Niell shhh ..." Seongwoo mendesah keras saat tangan kanan Daniel meremas kasar kejantanannya yang semakin mengeluarkan banyak precum. Alpha itu menyeringai saat berhasil membasahi tangan kanannya dengan cairan bening milik Seongwoo. Mengelus sebentar batang kejantanan sang omega, tangannya beralih turun merambat hingga mencapai lubang mengerut yang sebentar lagi akan diisi oleh milik sang alpha.

"Mmhhh ..." Alis Seongwoo bertaut saat satu jari alphanya memasuki holenya, merasa tak nyaman saat lubang yang belum pernah diisi apapun itu tiba-tiba dimasuki oleh jari yang kini bergerak tak beraturan. Belum sempat membiasakan holenya itu, sang alpha kini menambah dua jari sekaligus hingga kini hole sang omega berisi tiga jari sekaligus.

Sakit tentu saja Seongwoo rasakan. Tubuhnya bahkan bergerak gelisah merasakan rasa asing pada tubuh bagian selatannya, menolak namun menikmati apa yang dilakukan alphanya. Menyadari apa yang dirasakan sang omega, Daniel mencium lembut bibir Seongwoo, berusaha mendistraksi rasa sakit matenya.

Sang alpha menggeram rendah. Jepitan dari hole sang omega kepada jarinya benar-benar membuatnya tak sabar untuk segera melesakkan kejantanannya. "Jangan menolakku, omega," bisik Daniel. Perlahan tubuh Seongwoo mulai relaks, membuat Daniel berani untuk menggerakan jari-jarinya.

"Ahnnnn Niell ... more hhh." Desisan sakit yang semula Seongwoo keluarkan kini berubah menjadi desahan sarat kenikmatan saat jari-jari sang alpha bergerak cepat di dalam holenya. Tangan omega itu mencengkram sprei untuk melampiaskan rasa nikmat yang ia rasakan. Dan rasa nikmat itu semakin menjadi saat ketiga jari Daniel menyentuh spot sang omega yang kini memekik kecil mengatakan 'there', membuat Daniel terus menerus menyentuh titik manis matenya itu.

Saking nikmatnya, Seongwoo bisa merasakan gelombang dalam tubuhnya yang bergerak menuju kejantanannya, menandakan sebentar lagi kenikmatan itu sampai puncaknya. Namun, Daniel yang juga menyadari matenya akan segera meraih puncak, dengan cepat alpha itu mengeluarkan ketiga jarinya. Alpha itu terkekeh saat omeganya mengerang marah dan menatapnya lucu alih-alih tajam.

"Belum saatnya, sayang." Daniel tersenyum miring dan segera bangkit dari atas tubuh Seongwoo. Tangan alpha itu kini tengah membuka celananya, menelanjangi dirinya sendiri. Seongwoo yang melihatnya kini dibuat tercengang melihat tubuh telanjang Daniel yang sempurna bak dewa yunani. "Suka dengan apa yang kau lihat?"

Buru-buru Seongwoo mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah, omega itu malu tentu saja. Sedangkan Daniel justru gemas dengan tingkah matenya. Dengan tak sabar Daniel segera menindih tubuh Seongwoo kembali secara tiba-tiba, yang dibalas oleh teriakan Seongwoo.

"Daniel!" Alpha itu hanya tertawa kecil dengan tangannya bergerak mengangkat kaki kiri sang omega, mengalungkannya ke atas bahunya. Posisi itu membuat hole pemuda Ong terlihat jelas. Lubang berkerut itu terlihat indah untuk Daniel sehingga alpha itu tak lepas untuk memandangnya.

Seongwoo yang menyadari tatapan alphanya merasa malu dan tubuhnya semakin panas. Kakinya bergerak untuk menutupi pandangan mata Daniel, namun segera ditahan oleh alpha itu.

Tangan Daniel bergerak mencari sesuatu diatas kasurnya dan menemukan bantal yang segera ia beri untuk Seongwoo. "Ini akan terasa sedikit sakit. Gigit ini."

Seongwoo mengangguk, dan segera menggigit bantal Daniel ketika alpha itu memulai penetrasinya. Sial, rasanya sungguh sakit bahkan sebelum kejantanan itu masuk. "Akkhh sakithh Niell shhh ... sakit."

"Shit." Daniel menggigit bibirnya, menahan jiwa alphanya yang menyuruh untuk segera melesakkan kejantanannya kasar dan menghancurkan hole omeganya. Alpha itu merunduk, mencium lembut bibir Seongwoo sambil berusaha melesakkan kejantanannya pada hole yang masih sangat sempit meski sudah dimasuki jari-jarinya.

Tubuh keduanya menegang, ciuman keduanya putus saat kejantanan Daniel berhasil memasuki hole matenya. Daniel membiarkan miliknya dulu didalam Seongwoo, membiasakan hole omega itu terhadap ukurannya. Meski jiwa alphanya sudah memberontak agar dengan segera bergerak kasar menghujani Seongwoo dengan tumbukkan, dirinya tak ingin menyakiti Seongwoo sehingga kini alpha itu hanya mengecup ringan leher Seongwoo.

"Move, Niel." Dengan itu Daniel mulai bergerak perlahan. Bibir alpha itu mengecupi acak bagian tubuh Seongwoo dengan pinggulnya yang bergerak konstan menghujami hole sang omega. "Danielll mhhh ..."

Ringisan sakit Seongwoo kini berubah menjadi desahan nikmat. Tangan sang omega mencengkram rambut matenya yang kini tengah menghisap nipple kanannya. Suara kulit basah yang saling beradu juga menjadi pengiring kegiatan panas pasangan pure alpha dan pure omega itu.

"Ong Seongwoo ... fuck."

"Hahhh .. Niel shh fasterhh ..."

Geraman sang alpha dan desahan sang omega menyatu. Menjadi melodi erotis yang menambah nafsu kedua pemuda itu. Tumbukan-tumbukan yang dilakukan oleh yang dominan juga semakin intens seiring dengan desahan-desahan Seongwoo yang semakin menggila.

"Nieell more—hhh i'm close ..." Seongwoo merasakan lagi gelombang dalam tubuhnya kembali bergerak menuju kejantanannya. Kenjatanan omega itu sudah sangat merah, seolah jika kejantanannya disentuh sedikit saja, cairan putih itu akan keluar.

"Bersama, sayang." Seongwoo menggelengkan kepalanya, tak sanggup menahan lagi saat Daniel semakin cepat menumbuk lubangnya.

"Daniel ..." Di tumbukkan ketiga, Seongwoo benar-benar mencapai puncaknya, mengeluarkan sperma yang membasahi perutnya dan Daniel. Daniel kemudian menyusul dua detik kemudian. Menyemburkan spermanya masuk ke dalam Seongwoo. Alpha itu bahkan menekan pinggulnya mencegah spermanya mengalir keluar dari hole matenya.

.

.

.

-- B A T A S S U C I --

.

.

.

Daniel tersenyum saat matanya bertemu pandang dengan mata matenya. Bibirnya mencium lembut bibir omega manis yang sepertinya sudah menjadi candunya. "Tidurlah. Kita bangun sebelum makan malam."

Seongwoo tersenyum manis saat Daniel berbaring disebelahnya, menariknya dalam dekapan hangat alpha itu. Kemudian Seongwoo menuruti perintah matenya yang menyuruhnya tidur, tak lagi memikirkan hal yang sejak tadi mengganjal dipikirannya bahwa--

Daniel sama sekali tidak menandainya.

.

.

.

"Uhm, Daniel ..."

Daniel menoleh mendengar panggilan kecil dari omeganya. Seongwoo menunduk memainkan jemarinya. Sang alpha mengulurkan tangannya menyentuh jemari itu.

"Kau memikirkan sesuatu?"

Seongwoo mendongak, kemudian menggeleng gugup. "Ah, tidak apa-apa."

Kekehan kecil terdengar dari bibir sang alpha. Ia mengelus lembut tangan mate-nya membuat omega Ong itu panas dingin mengingat yang mereka berdua lakukan sebelumnya.

"Makanlah yang banyak. Hehe. Tubuhmu begitu kurus." Seongwoo mencebik kesal mendengar kekehan alphanya itu. Iya, alphanya.

"Baik, My Alpha, aku akan makan dengan lahap," balasnya kemudian sambil memasang senyum terbaiknya dan menyuapkan satu sendok penuh nasi dengan potongan daging yang dimasak dengan bumbu.

Daniel sempat terkesima sesaat. Ia berdehem dan melepaskan tangannya dari jemari kiri Seongwoo yang ia pegang. Alpa itu dengan canggung menyuapkan makanannya juga. "Setelah ini, kau mau langsung pulang?"

Si omega berkonstelasi bintang itu mengangguk cepat. Ia sangat senang karena alphanya bukanlah tipe mate posesif yang langsung mengurung omeganya di rumahnya.

"Kuantar, ya?" Seongwoo mengangguk lagi.

"Tentu. Aku akan sangat berterima kasih!" katanya. Begitu menggemaskan sampai Daniel tidak bisa menahan tangannya untuk tidak mengusak rambut si omega.

Begitulah, pasangan pure alpha dan pure omega itu kini berada di dalam mobil Audi R8 kepunyaan sang alpha. Daniel sempat terkikik geli melihat reaksi Seongwoo ketika memasuki mobilnya yang tidak bisa dibilang mewah lagi--melainkan jauh lebih dari kata mewah.

Namun, ketika memasuki perumahan di wilayah Korona, tempat rumah Seongwoo berada, ia mengernyitkan dahinya. "Kau tinggal di tempat ini?" tanyanya.

Seongwoo mengangguk. "Rumahku pemberian sahabatku. Jadi aku merasa sangat nyaman di sini."

"Apa lampu jalannya memang hanya satu? Gelap sekali sialan." Seongwoo cemberut mendengar umpatan dari mulut Daniel.

"Uuu ... apakah kau merasa khawatir? Tenang saja aku bisa menjaga diri."

Daniel menatap Seongwoo cemberut. Omega itu tekikik geli sebelum menunjuk rumah bercat biru muda. "Itu rumahku."

Sang alpha mengangguk dan menghentikan laju mobilnya tepat di depan pagar rumah minimalis itu. Ia menatap sang omega yang tersenyum sambil menyampirkan tas di bahu. "Aku akan keluar sekarang," kata omega itu seolah minta izin pamit.

"Sebentar," ucap Daniel cenderung berbisik, namun cukup membuat sang omega berhenti sebelum membuka pintu. Alpha itu merangsek maju dan menangkup pipi Seongwoo. Perlahan menempelkan bibirnya ke bilah bibir tipis sang omega dan melumatnya lembut.

Seongwoo sempat terbuai lagi dengan ciuman lebut itu. Ia menyentuh dada Daniel dan menepuk pelan dada bidang itu saat hampir kehabisan napas. Meminta sang alpha agar menyudahi ciumannya.

"Hati-hati, ya. Selamat malam, sayang ..." bisik Daniel di depan bibir Seongwoo. Seongwoo merona dan mengangguk. Lalu keluar dari mobil.

Omega itu berjalan ragu ke rumahnya. Memasuki kamarnya, ia membaringkan tubuh di tempat tidur dan meraba tengkuknya.

Tempat para alpha seharusnya menandai omeganya.

Ia menggigit bibirnya setengah kecewa. Bagaimana Daniel tidak menandainya sama sekali? Bodohnya Seongwoo lupa untuk mencari tahu atau setidaknya bertanya mengenai matenya. Mengenai marga Kang yang dimilikinya, dan berbagai pertanyaan yang berputar dalam benaknya. Ia bahkan tidak bisa menyelami tatapan tajam manik obsidian itu tadi.

Intinya, Seongwoo merasa kecewa dan sedikit menyesal meskipun sebagian besar dari kedua rasa itu tertutupi dengan rasa bahagianya setelah mengalami penyatuan dengan sang fated mate.

Sementara itu Daniel hanya memandang punggung omega yang perlahan menghilang di balik pintu rumah yang bercat putih itu. Ia mendesah pelan. Kemudian tersenyum. Senang karena mendapat mate seorang pure omega. Begitu manis, santai, namun polos seperti anak kucing.

Ia terdiam tanpa kata ketika bayangan perjodohannya dengan Minhyun tiba-tiba terlintas di pikirannya.

Ah, sekarang abaikan dulu tentang pertunangan. Omega semanis Seongwoo sangat sayang untuk dilewatkan.

.

.

.

Sekali lagi, Hwa ngetik cuma buat nayana doang. Astaga Hwa penuh dosa sekali :(Hwa ga baca lagi bagian ini jadi mohon maaf kalo aneh—Hwa ngetiknya juga ngerasa aneh soalnya—mungkin akan banyak diedit sama Yun hehe ...

Serius Hwa kangen ngetik ff tapi ga tau mau bikin ff apa, eh Yun malah nyuruh bikin nayana OngNiel aja, sesat emang :)

Eum ... Yun mau ketawain dulu deh.

Abisnya Hwa bilang "pengen bikin ff tapi kepikiran pwp mulu. Yaudah Yun kasih ide suruh bikin nayana Ongniel buat chapter ini aja hehe.

Okay, See ya in next chapter!

Chapter ini berjumlah lebih dari 4500 words (hehe)