OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

Sidepair! Taedonghan

YUNHWA

.

.

.

"AKU BERTANYA PADAMU, SIALAN!"

Bugh!

Wajah alpha itu membiru menerima pukulan demi pukulan dari sepupunya. Taedong meringis. Sanggyun bahkan tidak menjawab pertanyaannya juga, dan ia malah kena pukulan di rumah sakit?

"Donghan ... apa yang terjadi dengannya?! Dengan tubuhnya?! HAH?? JAWAB AKU, BANGSAT!"

Taedong menggeretakkan giginya kesal. Sesaat kemudian, kepalan tangan itu hampir saja meluncur ke kepalanya.

Tap!

Manik Sanggyun membola ketika tangannya dicengkeram erat oleh Taedong. Mata yang lebih muda berkilat menatapnya.

"Aku juga bertanya kepadamu, Hyung. Sama sepertimu, aku juga bertanya-tanya masa lalu apa yang dialaminya hingga berani melukai diri sendiri setelah bertemu mate-nya. Kau tahu sesuatu?"

Kali ini Sanggyun yang meringis karena cengkeraman Taedong pada pergelangan tangannya. Kedua pasang mata itu bertabrakan, saling menatap nyalang.

"Kau mengenal mate-ku, Hyung?" ulang Taedong dengan nada rendah namun dingin dan berbahaya. Sisi lain yang belum pernah Sanggyun temui dari sang sepupu muncul. Selama ini Taedong selalu diam dan menghindari pertengkaran, meskipun ia alpha. Namun, tampaknya soal mate mengubah pendiriannya.

"Beri tahu aku, Hyung. Beri tahu aku segalanya. Sekarang," pinta Taedong. Ia melonggarkan cengkeramannya dari Sanggyun. "Tenangkan dirimu dulu, Hyung."

Kini kedua alpha itu saling melepaskan diri, menetralkan napas yang memburu. Taedong mengalihkan pandangannya ke arah lain dan bergumam, "maaf, Hyung. Akhir-akhir ini emosi lebih banyak menguasaiku."

Sanggyun mengangguk. Ia baru akan menjawab ketika seorang perawat tergopoh-gopoh menghampiri keduanya.

"Keluarga pasien Kim Donghan."

Kedua alpha itu menengok dan sesegera mungkin mereka berjalan mengikuti si perawat menuju ruang VIP tempat mate Taedong mendapatkan penanganan. Di depan ruangan itu, tampak seorang omega berwajah oriental menunggu dan tersenyum lega melihat keduanya.

"Kau mate-nya?" tanya omega itu kepada Taedong yang menatapnya dengan pandangan bertanya. "Dokternya di dalam."

Sanggyun menepuk bahu Taedong, mendorongnya untuk masuk sedangkan pemuda omega bergingsul tadi berdiri di sampingnya. Alpha itu memajukan tubuhnya sedikit ke arah Taedong untuk bicara. "Aku tidak mampu menceritakan semuanya melalui sudut pandangku sendiri. Donghan adalah seorang alpha. Adikku. Dan aku sangat menyayanginya."

.

.

.

"Apa masalahmu? Kau iri karena aku mendapatkan mate-ku disaat kau sendiri tidak pernah mendapatkannya?"Minhyun memukul kepalanya pelan. Frustrasi. Tak menyangka ia sahabatnya akan mengatakan hal yang menusuk hatinya seperti itu.

Ia menangis sore itu. Menangis karena kata-kata itu terngiang di kepalanya dan menorehkan garis luka baru di atas luka yang pernah dideritanya. Dan untuk diketahui, itu adalah tangisan pertama Minhyun setelah tujuh tahun terakhir.

Pemuda omega itu menggertakkan giginya. Ia ingin marah. Entah pada siapa. Minhyun hanya ingin menyadarkan Seongwoo. Sahabatnya itu terlalu manis untuk disakiti oleh orang brengsek seperti Kang Daniel.

Tok, tok!

Minhyun mendongakkan wajahnya yang basah ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya. Terburu ia mengusapkan lengan bajunya demi menghilangkan jejak aliran sungai di pipinya.

"Siapa?" tanyanya dengan suara serak.

"Hyung, ini aku, Seonho ..." sahut suara kecil di balik pintu.

"Ya, ada apa?"

Hening sejenak. "Daehwi hyung dan Woojin pulang ke rumah mereka."

Ah, iya. Saking seringnya anak-anak itu tinggal dan menginap di rumah Minhyun membuat sang putera mahkota nyaris lupa kalau mereka juga punya rumah dan keluarga sendiri. Minhyun menarik napas dalam-dalam, berupaya menstabilkannya.

"Iya ... hm ... kau tidak pulang juga, Seonho?"

Hening lagi sejenak. Minhyun hampir mengira Seonho sudah beranjak dari sana.

"Hyung ..." Oh, belum. "Bolehkah aku masuk?"

Minhyun tidak menjawab. Di satu sisi ia tidak ingin tangisannya terlihat, namun di sisi lain ia tidak ingin mengabaikan Seonho yang ia anggap sebagai adiknya sendiri.

"Ngg ... Hyung?" panggil Seonho lagi di balik pintu.

"Ah, ne ... ne ... masuk saja," seru Minhyun akhirnya seraya berlari ke kamar mandi di dalam ruangan bernuansa putih tersebut.

"Hyung, ada apa?" Seonho menatap bingung Minhyun ketika pemuda bermata rubah itu keluar dari kamar mandi dengan wajah basah.

"Ah, aniya ... aku habis mencuci wajah," jawab Minhyun--berusaha--santai.

Seonho mengangguk. Ia memilin-milin ujung baju kausnya. Seolah ada yang ingin dia katakan, namun ragu.

"Kau baik-baik saja, Seonho-ya?"

"Ng ... Hyung, izinkan aku menginap di tempatmu beberapa lama lagi. Aku ... aku bermimpi alpha itu menemukanku ketika aku keluar rumah."

Kernyitan muncul di dahi Minhyun. Omega itu terdiam sebentar sebelum tersenyum lembut dan mengangguk. "Tidak apa, anggap saja rumahku sebagai rumahmu juga."

"Aku benar-benar anak pelayan yang tidak tahu diri, ya. Seenaknya tinggal dan menginap di rumah pangeran dan bertingkah seolah ini rumahku sendiri."

Deg!

Hati Minhyun mencelos mendengar ucapan Seonho. Entah kenapa kata-kata itu terdengar begitu mirip dengan ucapan seseorang yang pernah didengarnya bertahun-tahun yang lalu. Ia menggeleng kuat-kuat dan mendekap Seonho ke dalam pelukannya.

"Tidak, Seonho-ya ... jangan berpikir begitu. Tinggallah saja di sini sampai hatimu siap menerima mate-mu."

"A-aku tidak mengatakan kalau dia adalah mate-ku, Hyung!" Wajah Seonho memerah dalam ucapannya. Minhyun melepas dekapannya dan tertawa kecil.

"Kau menemukan mate di usia dini, Seonho-ya ... tenang saja, itu tidak berbahaya, kok," hibur Minhyun. "Kurasa mate-mu berusia beberapa tahun lebih tua darimu. Jadi di usianya dia lebih dulu menemukanmu dan membuatmu merasakan keberadaannya sebagai mate."

Seonho menunduk. Bibir bawahnya ia majukan, cemberut. "Tapi aku takut, Hyung. Masalahnya ia tiba-tiba mengejarku."

Sang putera mahkota, lagi-lagi tertawa renyah. "Memang itu naluri fated mate, Seonho ..." Kemudian terdiam sebentar dan mengulang kembali dalam gumaman kosong. "... memang itu naluri fated mate ..."

"Aku benar-benar anak pelayan yang tidak tahu diri, ya. Seenaknya dekat-dekat, berpelukan, dan mencium pangerannya yang seharusnya dihormati. Hahaha.""Tidak, Hyung. Kau kan mate-ku. Wajar saja kalau kita seperti ini.""Iya, iya ... jadi ... Minhyun wangja-nim sudah menerimaku sebagai fated mate-nya? Aduh, aku bahagia sekali. Hahaha.""Hyung, berhentilah tertawa!""Saranghaeyo, mate! Cepatlah beranjak dewasa bersamaku."

.

.

.

Pagi hari senin. Taedong masih menunggu di rumah sakit, menatapi mate-nya yang tak kunjung siuman sejak kemarin. Ia menghela napas lelah dan memasukkan ponsel yang ia gunakan untuk menghubungi Hyunbin perihal ketidak hadirannya di kampus, lagi.

Suara elektrokardiogram menggema lembut menandakan jantung sang beta yang berdetak dengan tenang. Taedong betah memandangi wajah pulas itu lama-lama, mengagumi setiap inchi pahatan wajah mate-nya. Yang hanya tampak tenang dalam tidurnya.

"Tuan Kim Donghan adalah beta pria yang memiliki rahim seperti omega. Ini adalah hal langka."

Ucapan dokter kemarin terngiang di kepalanya.

"Rahimnya sedang mengalami proses fertilisasi. Hanya saja, karena rahimnya lebih lemah dan rentan dibandingkan omega dan wanita pada umumnya, kondisi janin yang terbentuk sangat lemah. Ditambah lagi kondisi psikis beliau yang tidak stabil. Untuk luka-luka fisik di tubuhnya, kami telah mengusahakan penanganan terbaik kami."

Senyuman perlahan terulas di bibir sang alpha. Saat ia memiliki mate beta, awalnya ia berpikir bahwa ia tak akan memiliki keturunan. Namun, mate-nya ini spesial. Ia beta, dan ia memiliki rahim.

Dan sekarang beta manis itu tengah mengandung calon buah hatinya.

Cklek!

Taedong menoleh dan mendapati mate sepupunya berdiri di depan pintu membawa sekeranjang buah segar. Pemuda omega itu masuk dan tersenyum ramag ketika beradu pandang dengan sang alpha.

"Kau berjuang dengan baik," ujarnya seraya meletakkan keranjang itu di meja tak jauh dari tempat tidur sang beta. "Aku percaya kalau kau adalah penyelamatnya. Dan aku yakin, perlahan tapi pasti Donghan akan luluh padamu."

Hening mereka rasakan ketika Taedong tidak merespon ucapan Kenta. Alpha itu hanya diam dan kembali memandangi wajah lelap Donghan.

Kenta beringsut mendekat. Ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang Donghan dan memandang lembut sang beta. "Aku tahu kau pasti bertanya-tanya siapa aku." Ujaran itu ditujukan pada Taedong.

"Kau mate sepupuku," tukas Taedong. Ia menyentuh jemari panjang mate-nya yang terasa dingin.

Kenta tertawa. "Lalu hubunganku dengan Donghan?"

Kini Taedong menatap Kenta dengan tatapan bertanya. Pemuda bergingsul itu menerawang. "Aku mengenal Donghan selama tiga tahun. Ia adalah alpha yang keras kepala. Namun, aku bisa merasakan di balik sifat keras kepalanya itu ia adalah seorang yang lembut dan rapuh."

"Ia adalah seorang beta," sela Taedong. "Mengapa kau dan Sanggyun Hyung terus menyebutnya alpha?"

"Karena kami memang mengenalnya sebagai alpha. Ia adalah alpha, bahkan ketika kenyataan mengatakan bahwa ia adalah beta yang memiliki rahim pun, aku akan tetap mengenalnya sebagai alpha."

"Apa hubunganmu dengannya?"

Kenta tersenyum sekilas. "Mantan kekasihnya setelah tiga tahun. Sejauh itu aku mengenalnya sebagai alpha sampai aku bertemu mate-ku."

.

.

.

Buku-buku yang selesai dibacanya diletakkan satu persatu ke rak. Sedangkan beberapa buku lain yang akan ia pinjam dimasukannya ke dalam tas. Seongwoo sempat tersenyum ramah kepada wanita tua penjaga perpustakaan sebelum melangkah keluar sembari menyampirkan tasnya.

Ia melewatkan jam makan siang sendirian di perpustakaan hari itu. Bunga-bunga yang kemarin sempat mengisi hatinya kini nyaris layu dan mengering. Seongwoo galau. Berkali-kali ia mengusap tengkuknya, memikirkan sebuah tanda yang seharusnya menghiasi di sana. Namun, semakin sering ia sentuh tengkuk itu, semakin merona juga pipinya mengingat malam panas yang ia lewati bersama mate-nya. Tak ayal, rasa gundah sedikit menghampirinya mengingat peringatan Minhyun yang tidak ia dengarkan kemarin.

Ngomong-ngomong soal Minhyun, putera mahkota Korona itu tak terlihat di kelas Dr. Jeon tadi. Namun, Seongwoo melihatnya keluar dari kelas Prof. Han, berlalu melewatinya tanpa berniat menyapa.

Rasanya Seongwoo ingin bercerita dan mengadu kepada Minhyun tentang apa yang ia alami. Tapi Seongwoo cukup tahu diri.

"Salahku sendiri tidak mendengarkannya," desahnya lelah. Tapi hati kecilnya masih membela sang mate. Mengingat semua perlakuan manis dan perhatiannya, rasanya mustahil sekali kalau mate-nya orang jahat seperti yang dikatakan Minhyun.

"Astaga, perhatikan jalanmu!"

Seongwoo tersentak kaget mendengar teguran dari seorang beta yang nyaris saja ditabraknya di koridor. Omega itu membungkuk minta maaf. Ia kemudian mempercepat jalannya melewati taman indoor fakultas kedokteran yang sepi.

Mesin minuman di sebelah kiri koridor. Omega bermarga langka itu berhenti sejenak untuk merogoh saku jaketnya, meraih beberapa keping uang logam untuk membeli sekaleng susu dingin.

Kling!

"Mate."

"Astaga!" pekik Seongwoo ketika suara bariton itu menyapa pendengarannya. Ia menoleh dengan cepat dan membelalak. "Oh, Daniel," gumamnya dengan ekspresi netral dua sekon setelahnya.

Daniel terkekeh. Ia meraih susu yang baru keluar dari mesin minuman dan menyerahkannya kepada sang mate.

"Kau manis sekali hari ini," ujarnya sambil tersenyum menggoda.

Yang dipuji hanya tersenyum masam dan menerima kaleng susunya. "Terima kasih, mate. Omong-omong, apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Aku ingin melihatmu." Senyum Daniel terkembang manis hingga matanya yang sipit semakin menyipit. Ia memeluk dan menghirup dalam-dalam aroma manis yang menguar dari tubuh sang omega. Candunya. "Ahh, aku sangat merindukan manisku."

"Ah, ya ... begitu ..." Seongwoo menggigit bibirnya canggung. Tidak menyangka akan diserang dengan godaan semacam itu. Tapi dia juga tidak mau membuang kesempatan menghirup aroma jantan yang amat disukainya. Menyenangkan, sungguh. Alpha di hadapannya tertawa renyah.

"Cha, aku akan kembali ke kelasku. Sampai jumpa lagi," ucap Daniel kemudian seraya menepuk pipi sang omega pelan.

"Eum ... sebentar," panggil Seongwoo seraya menahan lengan kekar sang alpha yang hendak beranjak pergi. Ia teringat sesuatu yang masih tersimpan apik di dresser-nya.

"Ya?"

Sang omega balas tersenyum ketika sang alpha merespon panggilannya dengan senyuman teduh yang indah. Nah, siapa yang tidak jatuh cinta pada alpha seindah dirinya? Seongwoo sempat mendengus kecil saat Minhyun melintas lagi di otaknya. Jauhi Daniel demi kebaikan Seongwoo katanya? Cih.

"Apakah kau merasa kehilangan sesuatu?" tanya Seongwoo hati-hati. Kalian tentu tahu apa yang dimaksud omega tersebut. Apa lagi selain cardigan mahal--yang mereknya berkali-kali disebut membuat orang yang tahu nominal harganya kesal.

Gucci oversized cable knit cardigan. Harganya 1150 US Dollar.

Perlu kuulangi?

GUCCI oversized cable knit cardigan. HARGANYA 1150 US DOLLAR.

Masih kurang? Kurasa sudah cukup. Jangan diulang sampai tiga kali, nanti kesal sendiri.

Kembali kepada pasangan pure alpha dan pure omega yang kini masih berhadapan di koridor fakultas kedokteran. Mendengar pertanyaan sang omega tadi, sang alpha mengernyitkan dahinya sejenak. Berpikir sebelum kemudian ia menjentikkan jarinya.

"Ah, ya, kau benar!" serunya.

Seongwoo mengangguk. Ia tahu Daniel akan mengerti apa yang ia bicarakan dan pasti akan memintanya kembali. Ia baru hendak membuka mulutnya untuk mengatakan, "benda itu ada di rumahku" dan memulai beberapa alasan mengenai itu sebelum matanya terbuka lebar mendahului mulutnya ketika bibir tebal nan kenyal itu mendarat manis di bibirnya.

"Nah, aku hampir kehilangan ini hari ini. Untung kau mengingatkannya," ujar pelaku penciuman itu sembari mengulas lembut bibir Seongwoo dengan ibu jarinya setelah ciuman singkat itu terlepas. Ia terkekeh mendapatkan sang mate yang hanya mematung mendapat serangan tiba-tiba-nya itu.

Seongwoo benar-benar mematung. Pikirannya blank seketika. "Sial, bukan ituu!!" Teriaknya hanya dalam hati karena dirinya sudah terlalu malu bahkan untuk mengeluarkan sedikit suara saja.

"Kabari aku setelah kelasmu selesai, hm? Aku akan mengantarmu pulang."

Omega itu membelalak. Pikirannya kembali setengah. "Ah, tidak usah! Aku akan langsung pergi bekerja sepulang kuliah nanti." Suaranya sedikit mencicit karena sepasang manik obsidian sang alpha menatapnya dalam membuatnya salah tingkah.

"Kerja?"

Seongwoo mengangguk cepat.

"Tidak masalah. Aku akan mengantarmu kerja. Bagaimana kalau tunggu aku di tempat parkir? Kau punya nomorku?"

Seongwoo ingin tertawa dengan wajah semerah kepiting panggang. Mereka sudah melakukan sejauh malam itu tapi belum bertukar nomor sama sekali. Memalukan. "Berapa nomormu? Astaga ... kita bahkan sudah melakukan itu," kikiknya tanpa sadar menyuarakan pikirannya.

"Itu? Itu apa?" Seongwoo menggigit bibirnya ketika sang alpha bertanya dengan nada menggoda. Daniel tahu persis itu apa!

"Ng ... kau tahu yang kita lakukan malam itu," cicit Seongwoo.

"Apa itu? Coba perjelas." Daniel semakin gencar bertanya dengan senyum jahilnya. Membuat seolah seluruh darah di tubuh sang omega berkumpul di pipinya.

"Yak! Kang Daniel! Jangan membuatku mengatakannya. Aku malu!" pekik Seongwoo akhirnya membuat Daniel tertawa lepas.

Kedua sejoli itu pun berakhir dengan bertukar nomor ponsel setelah sedikit diwarnai dengan godaan-godaan kecil dari sang alpha yang membuat omeganya mengerang malu di dalam jiwanya. "Baik, aku ke kelasku sekarang, ya ... sampai jumpa, mate," lambai Daniel akhirnya setelah mengusak rambut sang omega gemas dan menyempatkan diri lagi menghirup feromon manis itu.

Seongwoo menggigit bibirnya menahan senyum. Alphanya orang yang manis, kan? Batinnya bangga dengan tangan yang secara tak sadar mengusap tengkuk yang belum ditandai apa-apa.

Oh, tidak. Cardigannya jadi terlupakan gara-gara hal tadi. Sialan.

.

.

.

"Si Taedong izin tidak hadir lagi sejak pagi karena mate-nya sakit." Hyunbin mendudukkan tubuhnya di samping sepupunya yang hanya menoleh sembari menggigiti ujung pensilnya. Pure alpha itu menatap sang sepupu dengan alis berkerut. "Hyung, apa yang terjadi dengan baumu? Kau habis tidur dengan omega jalang lagi di bar, huh?"

"Sembarangan," sahut Daniel asal sambil memukulkan ujung pensil yang tadi digigitnya ke dahi Hyunbin membuat pure alpha bermarga Kwon itu mengernyit jijik.

"Sumpah. Baumu seperti bau alpha yang habis mating . Mirip dengan bau Taedong saat mengaku punya mate," ungkap Hyunbin sambil mengeluarkan beberapa buku catatan melihat ruang kelas gabungan menjelang penuh. "Pinjam lagi catatanmu, Hyung. Catatan prof. Jung minggu lalu ternyata belum lengkap."

Daniel hanya bergumam malas sambil melempar buku yang diminta Hyunbin ke wajah sang sepupu. Hyunbin tersenyum senang menerimanya meskipun sempat memberengut sebal karena buku itu telak mengenai wajah tampannya.

"Tumben sekali pengikut-pengikutmu tidak duduk di sini bersamamu. Mereka kemana?" tanya Hyunbin sambil mulai menulis.

Daniel mendengus. "Bocah-bocah itu tidak ikut kelas gabungan. Lagipula aku ingin sendiri sampai kau datang mengganggu."

Hyunbin mengangguk. Sebenarnya ia hanya basa-basi tadi karena ia melihat sepupunya itu tampak melamun sendirian sebelum ia masuk kelas. Untunglah, nyatanya dia dalam keadaan baik.

Kelas gabungan tadi adalah kelas terakhir yang diikuti Daniel hari ini. Sekitar pukul tiga sore kelas bubar meninggalkan beberapa orang yang masih duduk santai di dalam ruangan, termasuk Daniel yang masih menelungkupkan kepalanya di meja--baru bangun tidur, serta Hyunbin yang asyik dengan ponselnya.

Drrtt ... drrtt ... drrtt

Manik itu melirik benda pipih yang bergetar dengan layar menyala menampilkan panggilan masuk dari satu kontak bernama Kurir Pria tua.

Malas, Daniel bangun dan mengangkatnya.

"Ya, paman ..."

Itu kepala pelayan istana. Terkadang merangkap sebagai kurir yang menyampaikan pesan raja kepada Daniel.

"Yang Mulia Raja memerintahkan agar Pangeran segera mempersiapkan cincin pernikahan."

Kerutan muncul di dahi Daniel. "Ne?"

"Bawa serta Pangeran Minhyun. Temui desainer perhiasan Korona. Ini perintah raja, Yang Mulia."

"Apa tidak bisa hari lain?" tanya Daniel dengan nada sebal. Pernikahannya masih tiga bulan lagi!

"Raja tidak menginginkan penundaan, Pangeran. Raja dan permaisuri Hwang juga meminta secepatnya. Maafkan saya, ini perintah langsung dari Raja."

"Ck, pria-pria tua itu," gumam Daniel gusar. Ia mematikan teleponnya secara sepihak tanpa menjawab apapun. Jarinya kemudian mencari nama kontak lain di ponselnya.

Omega Hwang

"Hei, babe," sapa Daniel begitu orang di seberang sana mengangkat teleponnya. Hyunbin yang memainkan ponsel di sebelahnya sampai mendongak mendengar itu.

Daniel tersenyum remeh kepada Hyunbin sebelum melanjutkan pembicaraannya dengan Minhyun.

"Ayo kita bertemu. Kita harus segera memilih cincin terindah untuk pernikahan kita."

Hyunbin mual. Ia ingin pergi.

"Tidak bisa hari lain. Kau tahu, ini perintah. Aku akan menjemputmu di depan fakultas kedokteran. See ya, babe." Putera mahkota itu mengerling ke arah Hyunbin yang menatapnya dengan wajah mengernyit. "Aku duluan, bocah. Manisku menunggu," katanya seraya memutar kunci mobil di tangannya. Kini Bugatti Chiron.

Rasanya Hyunbin ingin meludah sekarang. "Pergi saja kau, bangsat."

Daniel terkekeh puas sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas. Mengabaikan satu getaran lain dari benda pipih yang menampilkan sebuah pesan lain.

.

.

.

Seongwoo membereskan peralatan praktikumnya begitu kelas bubar. Ia melirik Minhyun yang sudah selesai lebih dulu dan berjalan keluar sembari menempelkan ponsel ke telinganya. Omega itu menghela napas.

Ia dan Minhyun mengambil kelas terakhir yang sama dan pangeran omega itu sama sekali tidak mau menyapanya. Jangankan menyapa, melirik saja tidak.

"Biarkan saja dulu," gumam Seongwoo seraya mendesah lelah. Ia berpikir akan memperbaiki hubungannya dengan Minhyun setelah pangeran itu sadar sendiri kesalahannya menyuruh Seongwoo menjauhi Daniel. Huh, kesalahannya itu jauh lebih besar.

Senyum tipis mengulas di bibir omega Ong itu saat menyentuh ponselnya. Ia akan menghubungi Daniel. Daniel berjanji akan mengantarnya kerja, kan? Nanti ia akan pamer kepada Minki kalau ia bisa dapat mate yang lebih plus-plus daripada Jonghyun.

To : Niel mate

Aku menunggumu di tempat parkir fakultas kedokteran.

Satu jam pemuda manis itu menunggu di lapangan parkir yang panas. Namun mobil Audi R8 milik alphanya tidak kunjung datang.

Mobil mate-nya Audi, kan? Seongwoo ingat malam kemarin ia naik mobil itu.

Ia berjalan menjauh dari lapangan parkir sembari mendesah lelah. Menatap deretan pesan yang ia kirimkan kepada sang alpha di ponselnya. Namun tak ada satu pun pesan yang dibalas. Bahkan dibaca pun tidak. Apalagi yang bisa ia rasakan dari sang mate pun hanya perasaan tenangnya saja. Ia sama sekali belum bisa mendengar apapun pikiran Daniel dan berbagi ucapan lewat pikiran itu.

Yang ia tahu, mate-nya masih hidup, masih bangun, sehat, bernapas, dan kini sedang menyetir mobil.

Hei, tunggu. MENYETIR MOBIL?

TIIIINNN!!!

Seongwoo terlonjak kaget ketika klakson itu memekik nyaring tepat di belakangnya.

"Permisi, kau jalan hampir ke tengah ... eh ...?" Alpha yang menurunkan kaca jendela LaFerari itu menatapnya terkejut. Seongwoo memiringkan kepalanya, menerka-nerka. "Kau ... temannya Minhyun sunbaenim, bukan?"

"Ya ... kau siapa?" tanya Seongwoo ragu. Alpha itu turun dari mobilnya dan mendekat.

"Maafkan aku hampir menabrakmu, sunbaenim. Tetaplah berjalan di trotoar. Kau mau kemana? Perlu kuantar?"

Seongwoo semakin lekat menatap wajah tampan itu. Rasanya kenal, tapi siapa dan dimana ia tak tahu.

"Ah, aku Kwon Hyunbin. Mahasiswa semester 3 jurusan Sains Politik. Kita pernah bertemu sekitar hmm ... tiga-empat hari yang lalu?" Alpha itu akhirnya memperkenalkan diri.

Seongwoo mengangguk. Sebenarnya ia tidak terlalu ingat, tapi percaya sajalah. Ia baru akan bicara dan pamit pergi ketika alpha itu tiba-tiba memajukan wajahnya dekat sekali ke bahu Seongwoo. Mengendus di sana.

"Yak! Menjauh dariku! Aku punya mate pure alpha Kang!" pekik Seongwoo kaget. Hyunbin melotot tiba-tiba dan hal itu membuat sang omega takut.

"Kang? Kang Daniel?" Seongwoo mengangguk. Berusaha tidak terkejut karena ia mulai berpikir kalau mate-nya pasti orang berpengaruh yang dikenal masyarakat. Sama seperti tunangannya Minhyun. Marganya pun sama-sama Kang. Entah hubungan mereka apa.

"Astaga si Brengsek?! Benar itu baunya??"

Seongwoo mengerut bingung. Brengsek?

"Maaf, apa kau mengenalnya?" tanya Seongwoo. Belum sempat Hyunbin menjawab, ia meneruskan dengan pertanyaan lain, "apa kau teman se-fakultasnya? Kau tahu dia dimana? Aku menunggunya sejak tadi."

"Kau menunggunya? Sialan bangsat itu tidak akan datang. Ia punya urusan lain untuk ..." Hyunbin menggantungkan kalimatnya. Tidak tega juga ia mengatakan yang sebenarnya pada omega manis ini. "... Ia harus pergi ke rumah kakaknya. Kau mau kemana, Sunbaenim? Biar aku saja yang antar."

Biarlah berbohong sekali. Nanti di rumah, atau di arena latihan, atau di apartemennya, atau ... dimanapun bertemu Daniel, biar si pangeran bejat itu saja yang Hyunbin pukuli.

.

.

.

"Hei, manis. Hampir saja aku bersumpah akan menyemprotmu dengan krimer basi kalau kau terlambat."

Pria cantik itu berkacak pinggang di depan omega manis yang baru saja masuk. Yang diomeli hanya tersenyum simpul sembari mengeluarkan seragam kerjanya dari dalam tas dan hendak beranjak ke toilet untuk berganti pakaian.

"Whoa, whoa tunggu dulu."

"Yak! Minki kau mencekikku!" seru Seongwoo ketika tangan lentik si pemuda Choi itu menarik kerah bajunya dari belakang. "Hei, apa yang kau lakukan?" serunya lagi ketika Minki mulai mengendusi tubuhnya.

"Apa ini? Kau habis mating?"

Mendadak gugup, si pure omega menepuk dahi Minki cukup keras agar omega Choi itu menjauh. "Itu urusan pribadi!"

Si pemuda cantik terkekeh geli. Ia mulai berdehem menggoda teman kerjanya itu dan menaik-turunkan alisnya. "Jadi kau sudah berhasil dengan si rambut perak itu, hm? Aigoo, pure omega kecil kita sudah dewasa ... sudah mau dibuahi alpha ..."

"YAK!!"

"Bagaimana rasanya, Ong? Apakah nikmat? Menyenangkan?" Minki tertawa lepas ketika Seongwoo melemparnya dengan sepatu. Omega ong itu berlari menuju toilet sambil menutup telinganya guna menghindari ucapan Minki yang kelewat frontal.

Minki memungut sepatu yang tadi dilemparkan padanya seraya mendekat ke toilet. Ia meletakkan sepatu itu di depan pintu toilet dan berbisik agak keras di pintu itu. "Jadi Jonghyun Kwajangnim boleh buatku, kan?"

"BERISIK!!"

.

.

.

Daniel menghentikan mobilnya tepat di depan cafè bernuansa klasik. Dahinya mengerut bingung.

"Yang ini?" tanyanya kepada pure omega yabg duduk di sampingnya. Omega bermata rubah itu mengangguk dan melepas seatbelt-nya dengan cepat.

Setelah membeli cincin pernikahan mereka, Daniel mengajak Minhyun untuk bersantai di cafè berhubung omega itu bilang ada sesuatu yang perlu dibicarakan. Tapi Daniel bingung. Biasanya ia akan memilih sepasang kursi di cafè bernuansa modern di dekat kampus mereka, namun kali ini Minhyun meminta Daniel untuk mengikutinya ke cafè bernuansa klasik yang berjarak sekitar beberapa blok dari tempat biasa. Alpha itu mengalah, karena entah kenapa saat memintanya Minhyun tampak begitu memaksa. Dan itu membuatnya bingung.

Mereka masuk beriringan diikuti dengan penghormatan dari pengunjung lain yang melihat mereka. Pelayan yang melayani mereka pun berusaha keras untuk tidak gugup ketika mencatat pesanannya. Maklum, sepasang pangeran yang datang.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, hm?" tanya Daniel begitu mereka duduk dan sudah memesan.

Minhyun menggeleng. Alih-alih menjawab, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling seolah mencari sesuatu. Titik pandangnya akhirnya kembali pada alpha di depannya. "Yang kukatakan waktu itu benar terjadi, bukan?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan," sahut Daniel. Double shot Espresso panas dan iced latte diletakkan pelayan ber-nametag Kim Yongguk depan keduanya. Pelayang beta itu membungkuk hormat sebentar sebelum pergi dan mulai melayani pelanggan lain.

Minhyun mendengus seraya meraih minumannya. Tatapan datarnya tak lepas dari satu sudut dimana seorang pelayan omega tengah membuat minuman untuk pelanggan. "Mate. Kau menemukannya, bukan?"

"Pft, astaga. Apakah insting seorang pure omega memang sekuat itu?" Daniel menggelengkan kepalanya takjub. "Jangan khawatir, Minhyunnie ... aku memang menemukan mate-ku tapi pernikahan kita akan tetap terlaksana."

"Daebak." Minhyun tak kuasa menahan ekspresi datarnya kini. Senyum sinis mengembang di bibir tipisnya. "Jadi kau lebih memilih pernikahan politik daripada mate-mu sendiri?"

"Jangan bercanda," sahut Daniel membuat alis Minhyun sedikit terangkat. "Tentu saja aku tidak akan melepaskan mate-ku. Tapi aku juga tidak akan melepaskanmu. Bukankah memiliki dua mate terdengar bagus?"

Byuuurr ...

Alpha itu melotot kaget ketika sensasi dingin mengalir dari kepala hingga ke wajahnya. Minhyun berdiri di depannya memegang cup iced latte yang kosong setelah memindahkan seluruh isinya pada rambut Daniel. Mata rubahnya menatap dingin. Sedingin aroma kopi yang kini menetes hingga ke bahunya.

"Ya, ide yang bagus. Tapi lebih bagus lagi jika Seongwoo memilih betrayal daripada hidup bersama orang sepertimu." Minhyun menatap lurus menembus bahu Daniel. "Demi kebaikanmu, Ong."

Daniel menolehkan kepalanya dengan cepat ke belakang.

PRANGG!!!

Atensi seluruh pengunjung cafè tersita ke satu arah.

"Ong Seongwoo! Astaga apa yang kau lakukan?!" Seruan Minki membuat sang manajer keluar dari ruangannya. Pemuda omega cantik itu membungkuk minta maaf kepada kedua pangeran tersebut seraya membersihkan pecahan gelas dan kopi di lantai, menyenggol pemuda manis yang masih tergugu di sana agar sadar.

"M-mianhae ..."

.

.

.

Minhyun Wangja-nim

Maafkan aku, Woo. Dia hanya bukan alpha yang tepat untukmu ...

Juga untukku. Ku harap kau tidak salah paham. Aku menyayangimu, sahabatku.

Range Rover berwarna putih itu berhenti tepat di depan Seongwoo yang berdiri sendirian di halte bus. Perlahan, kaca jendelanya terbuka.

"Oh, kukira adikku. Ternyata kau." Pemilik mobil itu--seorang pure alpha bertubuh kekar-- tampak terkejut melihat wajah Seongwoo. "Kemana bau omega yang menyengat itu?"

Sang omega mengangkat kepalanya dan menatap orang itu. Hening.

Tes.

Bulir bening itu jatuh melintasi pipinya.

"Astaga, Ong Seongwoo, kau kenapa?"

.

.

.

Yasss kembali lagi bersama Honeybee~Ng ... kok ceritanya jadi makin rumit gini ya :(