OOC DON'T LIKE DON'T READ
PRODUCE 101 S2 FANFICTION
FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY
M, ABO!AU
Sidepair! Taedonghan
YUNHWA
Harap sabar membaca chapter ini
.
.
.
"Terima kasih banyak, Tuan Kang. Maafkan aku jadi merepotkanmu." Pemuda manis itu membungkukkan tubuhnya kala menyimpan dua cangkir teh herbal yang masih mengepulkan asap di hadapan alpha bertubuh kekar yang sedari tadi tidak meluputkan pandangan darinya.
Senyum balasan dilayangkan oleh sang alpha menerima teh tersebut. "Tidak masalah, Ong Seongwoo-ssi. Aku justru akan sangat merasa bersalah membiarkan seorang omega pulang sendirian di malam hari seperti ini."
Seongwoo yang sudah mengambil tempat di single sofa di sebelah sang alpha mengangguk paham. Ia menunduk memandangi cangkir tehnya. Hening menyelimuti.
Tak lama sebelumnya, Seongwoo yang tiba-tiba menangis tanpa suara di hadapan sang alpha membuatnya terkejut dan panik bukan main. Alpha itu segera membuka pintu mobilnya dan menawarkan tumpangan kepada omega bertubuh ramping itu. Tentu saja, Seongwoo tidak menolak. Namun, selama perjalanan keheningan dan rasa canggung tak melonggarkan sedikit pun cengkeramannya terhadap kedua pria berbeda kasta tersebut.
Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk bersebelahan pada sofa yang berbeda, menyesap teh herbal panas berperisa canggung di ruang utama rumah sang omega.
"Ehm, ngomong-ngomong, anda dari mana, Tuan Kang?" tanya Seongwoo memecah keheningan.
Yang ditanya menoleh, lalu meletakkan cangkirnya di meja seraya tertawa canggung. "Kurasa kau tak perlu memanggilku dengan sebutan itu lagi, Seongwoo-ssi. Namaku Kang Dongho."
"Ah ... baiklah. Jadi, Dongho-ssi dari mana?" ulang Seongwoo.
"Aku baru pulang kerja," jawab Dongho. Seongwoo menatapnya dengan pandangan bertanya. "Ah, aku bekerja sebagai pimpinan di lembaga sosial."
"CEO?"
Dongho mengangkat bahunya. "Yah, begitulah."
Seongwoo membuka mulutnya. Hendak bertanya lagi, namun kemudian ia mengurungkan niat dengan menyesap teh herbal yang mulai menghangat, tidak sepanas tadi.
"Ngomong-ngomong, Seongwoo-ssi. Maafkan aku bila pertanyaan ini menyinggung perasaanmu. Tapi ... kau tidak akan memintaku menjadi mate-mu lagi, kan?"
Sang omega nyaris tersedak teh. Ia meletakkan cangkirnya dengan cepat sebelum terkekeh. "Tidak, Dongho-ssi. Kurasa seharusnya aku meminta maaf karena lancang kepadamu, wangja-nim." Seongwoo menundukkan kepalanya. Bentuk penghormatan.
"Ah, aniya, tidak perlu memanggilku seperti itu. Aku hanya pure alpha biasa. Tidak lebih," sanggah alpha bermarga Kang itu cepat.
"Kau bukan putera mahkota?" Manik jernih sang omega membulat.
"Ya, aku putera sang raja. Tapi kau tidak perlu bersikap tunduk kepadaku. Itu berlebihan," tukas Dongho.
Seongwoo mengangguk. Ia menyesap lagi tehnya.
"Aku minta maaf karena menolakmu dengan kasar waktu itu. Aku hanya ... ah. Menjadi mate-ku hanya akan menyulitkanmu."
"Kenapa?"
Dongho menghela napas berat. Ia memandang langit-langit rumah yang warna putihnya sudah menjadi kekuningan dan menggeleng. "Aku tidak sempurna."
"Kalau mau berbohong tolong pintar sedikit. Sekali lihat saja kau adalah sosok sempurna, Dongho-ssi," celetuk Seongwoo.
Bukan kesal, Dongho justru tertawa. Tawa pelan yang dikeluarkan dengan asas sarkasme diiringi gelengan kepala. "Aku alpha cacat, Seongwoo-ssi," ulangnya menciptakan kerutan di dahi sang omega. "Aku terlahir dengan perkembangan internal yang tidak sempurna. Hormon alphaku tidak berjalan dengan baik. Aku impoten."
Kali ini, Seongwoo berhasil menyemburkan teh yang baru disesapnya. Matanya membulat sempurna dan bibirnya terbuka lebar seolah hal tersebut adalah plot twist terhebat dalam hidupnya. "Impoten?" ulangnya tidak percaya.
Sang alpha mengangguk. "Dan hanya akan sembuh apabila aku bertemu fated mate-ku." Dongho memejamkan matanya, kemudian memutar tubuhnya menghadap Seongwoo. "Seongwoo-ssi. Sebenarnya ada yang mengganjal pikiranku sejak tadi. Bagaimana baumu bisa berubah jadi seperti--"
Senyuman Seongwoo menghentikan kalimat Dongho.
"Ya, aku sudah bertemu dengan mate-ku."
Belum sempat Dongho membuka mulutnya, Seongwoo meneruskan. "Ia alpha yang gagah, tampan, dan manis." Mulut Seongwoo memuji, namun sepasang anak sungai mengalir melalui pipinya. "Ia juga kuat, berpengaruh, sangat disegani, dan--" Tenggorokan Seongwoo tercekat.
"--dan ia akan menikah. Dengan sahabatku." Kristal cair itu pun semakin deras jatuh dari pelupuk matanya. Alpha Kang terlalu terkejut di sampingnya sampai tak mampu berkata apa-apa. Air mata itu terus mengalir. Bahunya sedikit bergetar, entah tangisan atau tawa karena senyuman itu tidak luntur sedikitpun dari wajah sang omega. Meskipun kini senyum itu terlihat menyakitkan.
"Ong Seongwoo! Jangan bilang ..."
Lagi-lagi sang alpha tidak berhasil meneruskan kalimatnya karena kini Seongwoo sudah menggeleng keras-keras sambil terisak.
"Aku tidak mau Minhyun diduakan."
.
.
.
Bugh!!!Bugh! Brakk! Buagh!!Daniel meludahkan rasa anyir di mulutnya. Sisa cairan merah itu mengalir pelan dari bibir tebal. Di depannya, sang sepupu menatapnya nyalang, siap melayangkan satu bogem mentah lagi.
Putera mahkota itu baru saja kembali ke apartemennya setelah peristiwa yang membuatnya menghancurkan seisi cafè. Amarahnya memuncak dan hatinya hancur ketika merasa dipermalukan di depan mate-nya sendiri. Sampai di apartemen, kepalan tangan sang sepupu menyambutnya dengan manis.
"Kau. Bajingan. Brengsek. Alpha. Sialan. BANGSAT!!" Makian tak henti-henti dilemparkan Hyunbin kepada kakak sepupunya yang kini hanya diam tanpa perlawanan. "Mate-mu menunggumu di lapangan parkir. Kepanasan. Kau tidak datang. Seolah. Dia. Bukan siapa-siapa!!" Hyunbin terus menyisipkan pukulan di antara jeda kata-katanya.
Alpha itu berhenti sejenak. Napas terengah. Dilihatnya wajah Daniel yang penuh luka dan bahunya yang basah. Bau kopi. Namun, Hyunbin menggeleng tidak peduli. Ia merapatkan giginya sampai gigi-gigi itu bergemeletuk bergesekan menahan amarah.
"Haha. Daebak," tawa Hyunbin sinis. "Kau sudah menemukan MATE tapi lebih mementingkan PERNIKAHAN POLITIK itu. Kemana Daniel yang dulu kukenal?"
Sebuah dengusan sarkastik. Daniel mendengus dan meludahkan lagi cairan amis dari mulutnya. "Ia sudah mati dimakan sistem politik."
Hyunbin terperangah. Matanya menatap sang sepupu yang sudah babak belur. "Aku tahu kau brengsek, tapi aku tidak menyangka kau sebrengsek ini." Ia mengusap wajahnya kasar. "Apa jalan pikiranmu sebenarnya, Kang?"
"Kuberi tahu pun kau tidak akan paham. Menyingkirlah," sahut Daniel seraya mendorong Hyunbin dengan bahu lebarnya. Namun, sepupu tingginya itu bersikeras.
"Hyung, apa kau mencintai Minhyun?"
Daniel mendelik mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Hyunbin. Tanpa sadar, rahangnya mengeras ketika ia terkekeh menahan perih di sudut bibirnya yang robek. "Kau tahu bagaimana pernikahan politik selalu berakhir, Kwon."
Tangan Hyunbin terkepal hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya semakin mengeras sampai-sampai giginya bergemeletuk seolah hampir patah. Wajahnya memerah karena amarah. "KALAU BEGITU HENTIKAN!"
Hardikan Hyunbin memancing kekehan kesekian dari bibir Daniel aliran merah pekat masih terlihat di sudut bibir. "Hentikan apa?"
"Hentikan semuanya! Batalkan pernikahan itu! Kau yang dirugikan di sini, dan kau berhak membatalkannya, Kang Daniel!"
"Kau ini bicara apa, Kwon?" Kekehan remeh kembali terdengar. "Dirugikan? Aku tidak bisa merasa dirugikan karena kepentingan kerajaan. Aku akan menikah, membentuk klan baru, dan menjadi raja. Kedua klan memenuhi perjanjian mereka. Tidak ada yang dirugikan di sini."
Hyunbin mendesah lelah. Ia kini membiarkan Daniel berjalan pergi melewatinya tanpa menahan kakak sepupunya itu. Ia tidak mampu mengatakan apapun untuk menjawab ucapan Daniel, namun dalam lubuk hatinya ia masih bersikeras bahwa ucapan putera mahkota itu tidak sesuai dengan hati nuraninya. "Hyung," panggilnya. Langkah Daniel terhenti di belakang. "Aku bisa membantumu. Kau bisa memanfaatkanku seperti dulu."
Keduanya berbalik, kembali berhadapan. Daniel menyeka darah di bibirnya sambil tertawa. "Astaga, Kwon. Jangan membuatku tertawa lagi. Kau ingin bibirku ini robek sampai telinga? Membantu apa maksudmu?"
Hyunbin mengeratkan pertahanan batinnya. Ia menatap tepat ke arah manik obsidian sepupunya yang menatap kelam. Gelap. Tanpa binar cahaya. "Aku bisa membantumu membatalkan pernikahanmu dan kau bisa kembali pada mate-mu. Aku siap dijadikan orang bersalah saat itu. Bahkan dianggap sebagai pengkhianat pun tak apa, Hyung. Kau tinggal mengatakan bahwa akulah dalangnya. Tak perlu merasa bersalah karena bukankah sejak dulu kau biasa melakukan itu padaku?"
Mata obsidian gelap itu semakin keruh. Daniel mengeraskan rahangnya dan menyentak keras. "Tutup mulut besarmu! Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi saat ini."
Setelahnya sang pangeran berlalu begitu saja ke dalam apartemennya. Hyunbin mengusap wajahnya kasar.
Daniel selalu merasa ia melakukan hal yang benar. Meski ia tahu caranya salah.
.
.
.
Ratusan remaja berhamburan keluar dari gedung sekolah tepat ketika bel memekik nyaring siang itu. Di antara mereka, pure alpha muda berjalan sendirian sembari membaca bukunya. Ia tidak memedulikan sekitar dan menulikan pendengarannya menggunakan earphone bluetooth yang terpasang apik di kedua telinga. Mulutnya bergumam pelan, sesekali menguap dan mengernyitkan dahinya.
Tap!
"Aish, sial. Jangan menggangguku!" seru alpha muda itu ketika seseorang menepuk bahunya. Ia membulatkan matanya ketika melihat sang pelaku yang tersenyum simpul menatapnya. "E-eh ... Hyung! Apa kabar?" sapanya refleks membungkukkan badan dan melepas earphone-nya.
Yang disapa tertawa pelan. Gemas dengan pure alpha muda polos di hadapannya. Ia mengangguk. "Kabar baik. Hm, kau ada waktu, Woojin-ah?"
Woojin mengerutkan dahinya sejenak. Berpikir. Beberapa detik kemudian ia menggeleng. "Aku harus memaksimalkan waktuku untuk belajar, Hyung. Keluarga kerajaan klanku memberikan amanat untuk menjadi penerus kepemimpinan setelah kau dan Minhyun Wangja-nim menikah nanti."
Wajah Daniel berubah muram. Ia balas menggelengkan kepala. "Gunakan separuh malam dan separuh siang untuk belajar. Kau tidak boleh memforsir dirimu."
Woojin tertawa. "Lalu sisa waktunya?"
"Ikut denganku. Ayo."
Ternyata Daniel membawanya ke taman bermain. Taman bermain yang sudah di-booking khusus sehingga hanya dikunjungi oleh mereka berdua. Woojin sempat kebingungan dan mematung tanpa memilih permainan apapun. Ia sempat berpikir untuk meminta Daniel mengantarnya pulang dan kembali belajar sesuai perintah Raja dan orang tuanya di rumah, namun putera mahkota itu menyita tasnya dan menyembunyikan bukunya di mobil.
"Ayo bersenang-senang," ajak Daniel sembari menarik tangan alpha kecil itu. Woojin yang tidak tahu apa yang harus ia lakukan akhirnya menuruti yang lebih tua.
Toh, pada akhirnya ia menikmati juga.
Berbagai wahana permainan mereka coba, puluhan stand makanan pun mereka kunjungi. Saat waktu menjelang sore, mereka duduk di kedai es krim dan memesan dua porsi rasa Chocomint.
Woojin menyuapkan es krimnya dengan riang. Rasanya ia menjadi anak kecil yang sebenarnya hari ini. Daniel duduk di hadapannya tersenyum senang sambil menyendokkan es krimnya sedikit demi sedikit.
"Dalam rangka apa ini, Hyung?" tanya Woojin untuk kesekian kalinya sejak mereka menapakkan kaki di taman bermain ini. Yang ditanya mengangkat bahunya.
"Tidak ada. Aku hanya ingin mengajakmu bermain."
"Hyung, jangan menyembunyikan sesuatu."
Daniel terkekeh gemas. Ia mengusak rambut Woojin hingga alpha muda itu cemberut karena tatanan rambut yang baru saja dibenahi setelah bermain Viking tadi dirusak lagi.
"Aku tidak menyembunyikan apapun kalau itu berhubungan denganmu, Woojin-ah," ujarnya sebelum menyendokkan es krim berwarna kehijauan itu lagi. "Hanya saja ... aku tidak ingin kau kehilangan masa kecilmu hanya karena kau calon raja."
Woojin terdiam menatap alpha dewasa di hadapannya dengan tatapan bingung. Kemudian, ia tertawa lagi. "Aku tidak kehilangan masa kecil, Hyung." Alisnya berkerut ketika matanya menangkap bekas luka di wajah Daniel yang sebenarnya sudah mengganggu pikirannya sejak tadi. "Hyung, ada apa dengan wajahmu?"
Sang putera mahkota refleks menyentuh wajahnya. Kemudian menggelengkan kepalanya. "Bukan apa-apa. Hanya bayaran kecil yang belum cukup untuk melunasi apapun."
.
.
.
"Terima kasih banyak," ucap alpha itu menerima bungkusan makanan pesanannya. Wanita pelayan yang melayaninya membalas dengan senyuman dan membungkuk sopan.
"Tidak terlalu banyak?" Alpha itu menoleh pada alpha lain yang berjalan di sampingnya. Ia menatap lagi bungkusan berisi tiga porsi jajangmyeon, dua porsi sup rumput laut, dan lima buah mandu. Porsi yang agak terlalu besar, tapi mate-nya yang meminta itu semua, jadi tidak apa-apa.
"Donghan yang meminta sebanyak ini, Hyung," jawab alpha itu sembari mengangkat bungkusannya, memperlihatkan isinya kepada sepupunya.
Yang lebih tua menggeleng takjub. Wajahnya mengeruh kemudian. "Semangat, Kim. Kuharap ia cepat membuka hatinya kepadamu," ujarnya sendu.
"Kau berhutang banyak penjelasan padaku, Hyung. Mengenai masa lalu Donghan. Aku tahu kau mengenalnya lebih banyak daripada mengenal dirimu sendiri."
Sehari sebelumnya di rumah sakit,
Beta itu duduk dengan tatapan kosong menatap dinding putih di hadapannya. Dokter yang tengah memeriksanya tersenyum simpul karena usahanya mengajak Donghan mengobrol di sela pemeriksaannya sungguh sia-sia. Beta itu hanya menggerakkan bola matanya yang memerah ke sembarang arah. Entah memandangi dinding, lampu, gorden, langit-langit ... pokoknya apapun selain entitas manusia yang ada di sana.
"Baik, kurasa cukup sampai di sini. Mate anda masih perlu beristirahat sampai keadaan tubuhnya membaik. Paling tidak ... selama dua minggu ke depan." Donghan melirik sedikit kepada dokter yang kini berbicara pada sosok alpha di depan pintu. Matanya berkedip pelan sebelum mengalihkan pandangan pada berkas hasil pemeriksaan kemarin yang diletakkan begitu saja di atas nakas.
"Terima kasih, dokter," ucap sang alpha yang menyebut dirinya sebagai mate itu. Donghan mengacuhkan pembicaraan mereka dan meraih berkas itu.
"Terima kasih kembali, Tuan. Jangan khawatir, kami akan memberikan penanganan terbaik yang kami bisa. Tuan Kim Donghan adalah keponakan dari presiden direktur rumah sakit ini. Kami tidak akan tinggal diam melihat keadaannya."
Taedong mengulas senyumnya. Ia membungkuk sekali lagi kepada dokter tersebut dan berjalan memasuki ruangan dimana mate-nya tengah duduk dengan kepala tertunduk.
"Cepatlah sembuh, mate."
Srakkk!!
Taedong melotot kaget ketika tangan Donghan melemparkan berkas ke dinding di samping pintu. Tepat ketika pintu kembali terbuka menampakkan wajah alpha lain dan omega yang mengikuti di belakangnya.
"BRENGSEK!! KENAPA KALIAN ADA DI SINI?!!" teriak Donghan kepada pasangan yang baru masuk itu.
Sanggyun dan Kenta.
"KAU! Apa kau yang membawa mereka?" tunjuk Donghan ke wajah Taedong dengan nyalang.
Taedong menatap Donghan datar. "Sanggyun Hyung? Dia sepupuku."
"Apakah semua bajingan brengsek memiliki hubungan? Teman. Mate. Sekarang sepupu? Hahahahaha indah sekali dunia yang sempit ini." Tiba-tiba beta itu tertawa terbahak-bahak. "Para brengsek berkumpul membentuk aliansi. Alpha sialan. Para bajingan--"
"Donghan-ah ..."--"KIM DONGHAN!"
Kenta mengerjap kaget ketika panggilannya tumpang tindih dengan bentakan Taedong. Ia menggenggam tangan Sanggyun erat dan menggigit bibirnya takut. Namun, beta itu justru semakin nyalang menatap Taedong.
"PERGI!! AKAN KUBUNUH KALIAN SEMUA!" teriaknya semakin nyaring walau suaranya sedikit menghilang. Mata merahnya kini mengeluarkan lapisan bening. Bibir keringnya bergetar karena amarah. "PERGI KUBILANG!!!"
PRANGG!!
Donghan semakin brutal. Ia melempar piring bekas sarapan hingga hancur berkeping-keping ketika menyentuh dinding. Selanjutnya gelas, keranjang buah, bahkan lampu kecil di atas nakas. Taedong dengan sigap maju dan menahan tangan sang beta. Namun, Donghan meronta sekuat tenaga. Dan di sana Taedong bisa mengakui kalau kekuatan mate-nya sebagai beta tidak main-main.
"KIM DONGHAN! Tenangkan dirimu! Bicarakan ini baik-baik!" seru Taedong berupaya menghentikan sikap mate-nya. Dilihatnya selang infus yang kini mulai terisi darah dari lengan Donghan akibat gerakannya. Tapi tampaknya beta itu tidak pernah berpikir untuk peduli. Ia bahkan memukul wajah Taedong hingga terluka. Kenta memasang wajah panik dan meraih tangan Donghan meskipun berakhir dengan bibir pecah. Juga kena pukulan.
Sedangkan Sanggyun, berdiri di sana. Gemetar. Dan dalam sejarah kisah ini, alpha seharusnya tidak pernah gemetar menghadapi amukan seorang beta.
Kecuali beta yang satu ini. Tentu saja. Karena Sanggyun mengenalnya. Dan mengetahui persis betapa berbahayanya ia. Terakhir kali Donghan mengamuk, tujuh alpha hancur karenanya.
"Donghan-ah, hentikan!" teriak Kenta di depan wajah Donghan. Beta itu berhenti. Napasnya tersengal menatap wajah Kenta yang terluka karenanya. Kemudian bergantian memandang wajah Taedong yang juga terluka, namun dengan rahang mengeras menahan emosi.
"Kau terluka, aku juga terluka, Kim Donghan. Dan itu berlaku juga sebaliknya," bisik Taedong lirih. Ia menahan diri untuk tidak berteriak lagi. Ini rumah sakit. Dan sama sekali tidak ada ketenangan di ruangan ini.
Kini tatapan sang beta mengedar bergantian menatap ketiga wajah yang menghadap kepadanya. Lalu mata itu mulak berputar kosong memandangi benda-benda lain. Seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata di sana.
"Aku benci. Alpha," ujarnya pelan seolah mengawang. Bibirnya yang kering terbuka setengah. Meringis menyentuh pergelangan tangannya yang sempat dicengkeram erat oleh Taedong. "Aku benci. Alpha. Betapa sialnya."
Sanggyun yang sedari tadi tak berkutik mulai maju dan berbicara. "Donghan-ah ... mari selesaikan semuanya dengan baik. Aku mohon ..."
Lagi-lagi dalam sejarah muncul seorang alpha yang memohon kepada beta.
"Selesaikan baik-baik? Pft. Idiot," sahut Donghan. Pandangannya masih kosong mengawang. "KALIAN SEMUA PANTAS HANCUR!" teriaknya dan ia mulai memberontak lagi.
"Donghan-ah!"
Tiba-tiba pintu terbuka. Menampakkan dua wajah lain. Seorang alpha dan omega bertubuh tinggi. Keduanya berjalan terburu memasuki ruangan.
"Hyung ..." gumam Donghan. Omega yang baru masuk tadi tersenyum teduh kepada setiap wajah di ruangan.
"Bisa tinggalkan kami sejenak bersama Donghan?"
Taedong menatap keduanya dengan tatapan bingung. Ia sedikit tidak suka melihat dua orang yang tampak berwibawa itu datang dan memeluk Donghan tanpa perlawanan. Sial. Taedong yang merupakan mate-nya saja dilawan!
"Aku Kim Donghyun. Sepupu Donghan Dan ini mate-ku, Im Youngmin. Kau mate-nya?" tanya alpha tadi kepada Taedong. Sanggyun menarik Kenta ke genggamannya. Tampaknya ia sudah mengenal dua orang itu.
"Tidak," desis Donghan. Youngmin mengelus pundaknya dengan lembut dan tersenyum teduh kepada Taedong.
"Jangan khawatir, kami hanya ingin berbicara sebentar dengan Donghan."
Dan begitulah, entah apa yang dikatakan alpha dan omega bernama Donghyun dan Youngmin itu kemarin. Yang jelas ketika Taedong masuk kembali ke ruangan itu, keadaan Donghan tampak lebih tenang. Ia hanya berteriak dan mengamuk lagi satu kali untuk mengusir Sanggyun--Taedong masih tidak paham masalah mereka apa. Sedangkan kepada Taedong, ia diam dan tidak lagi melawan. Bahkan, ia mulai meminta Taedong membelikan makanan seperti saat ini.
Cklek!
Pintu ruangan terbuka. Taedong masuk membawakan makanan itu dan tersenyum simpul melihat mate betanya itu tengah bergelung di balik selimut. Ia berjalan mendekat. Namun, mendadak rasa was-was yang entah dari mana datangnya menghampirinya.
"Donghan-ah ..." panggilnya. Tak ada jawaban. Detakan jantung itu terdengar begitu cepat dalam pikiran sang alpha. Namun sisanya kosong dan hampa, seolah mate-nya itu sengaja memutus hubungan pikiran mereka.
"Kim Donghan!" panggil Taedong sekali lagi yang tidak membuahkan jawaban. Ia berlari dan menyingkap selimut itu. Dan yang didapatinya hanyalah tumpukan bantal yang menyapanya.
"SIAL! Kemana dia. KIM DONGHAN!!!"
Dan ratusan meter dari rumah sakit, sang beta berjalan terseok di atas aspal yang panas. Tak tentu arah mengikuti jingga cahaya senja. Menutup telinga dan pikirannya, lalu berlari.
.
.
.
"Woo, jangan memaksakan dirimu," tegur Minki ketika Seongwoo tengah membersihkan cafè malam itu.
Seongwoo menggeleng. Ia sibuk memindahkan dan menyusun kembali kursi pada bagian yang sudah dibersihkan "Tidak apa-apa, Minki. Aku senang mengerjakan pekerjaan ini," sahutnya seraya memindahkan kursi terakhir.
"Bukan begitu, Woo. Tapi ..." Minki menghela napasnya karena sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, Seongwoo sudah beranjak pergi membawa lap.
Setelah kejadian kemarin, dimana Seongwoo menjatuhkan pesanan pelanggan di hadapan pasangan putera mahkota, omega itu dipanggil ke ruangan manajer Kim dan mendapat nasihat. Minki tidak tahu apa yang salah dengan nasihat dari Jonghyun, namun Seongwoo membereskan barang-barangnya dan izin pulang duluan dengan mata sembab. Dan setelah bayangan Seongwoo tak terlihat, putera mahkota alpha murka, menghancurkan seisi cafè. Membalik kursi dan meja, memecahkan kaca jendela, dan memaki tanpa henti membuat para pengunjung menunduk ketakutan sehingga hari ini, cafè terpaksa ditutup untuk sementara.
Seongwoo yang baru pulang kuliah siang tadi datang tanpa suara. Mengambil alih semua pekerjaan membersihkan sisa-sisa kehancuran di dalam sana dan membuat Minki terkejut akan kehadirannya. Wajah Seongwoo yang muram tanpa ekspresi membuat omega berwajah cantik itu mengurungkan niatnya untuk bertanya. Dan berakhir hanya menegurnya dan mengawasinya terus-menerus karena takut sahabatnya itu akan terluka mengingat banyaknya serpihan kaca dari jendela dan barang-barang yang hancur. Sampai larut malam.
"Woo, biar tukang saja yang mengurus itu," pinta Minki ketika Seongwoo berusaha untuk mengganti kaca jendela yang rusak. "Manajer Kim sedang memanggil tukang untuk memperbaikinya. Kau tidak perlu melakukan semuanya. Sudah, ayo istirahat dulu denganku."
"Menunggu tukang akan sangat lama. Selama aku bisa mengerjakannya, kenapa tidak?" sahut Seongwok bersikeras. "Ah!"
Minki menarik tangan Seongwoo ketika sahabatnya itu memekik kaget karena tergores pinggiran kaca yang tajam. Ia berdecak kesal melihat darah yang mengalir pada jari sang omega bermarga Ong yang keras kepala itu.
"Sudah kubilang, biarkan saja! Ada apa dengan kau ini? Kerja biasanya juga tidak serajin ini," omel Minki seraya menekan luka Seongwoo dengan kain bersih setelah membawa pria manis itu duduk di salah satu kursi.
"A-aah jangan ditekan!" Seongwoo mengaduh karena Minki menekan lukanya dengan kencang seolah gemas.
"Kau keras kepala! Batu! Apa yang terjadi denganmu?!" seru Minki lagi, kini sambil meraih kotak P3K di dekat counter dapur.
Seongwoo diam tak menjawab. Minki membalut luka Seongwoo dengan plester setelah membubuhkan obat merah pada lukanya.
"Selesai!" seru pemuda cantik itu seraya menepuk lagi luka Seongwoo yang dibalut plester dengan keras membuat si omega manis mengaduh kesakitan.
"Kau sengaja, ya?!"
Minki tertawa. Ia menelisik wajah Seongwoo lamat-lamat. Pemuda dengan konstelasi di pipinya itu mendesah pelan. "Jangan menatapku seperti itu. Nanti kau kena sihir."
"Aku tidak akan terpesona pada sesama omega," sahut Minki cuek. Ia mengambil tempat duduk di samping Seongwoo. "Tapi jika kau tertarik padaku, kau bisa menjadi yang dibawah ..."
Seongwoo tekekeh tanpa senyum, tidak mampu membalas candaan dari sahabatnya yang biasanya berakhir dengan adu bogem ala uke. Ia menundukkan kepalanya seolah lantai yang baru saja bersih dari serpihan kayu dan kaca itu sangat menarik baginya. "Minki-ya," panggilnya.
"Hm?"
"Menurutmu, apa yang terjadi bila fated mate-mu adalah seorang alpha yang akan menikah?"
Tawa kecil terdengar di sampingnya. Minki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menepuk punggung si omega Ong pelan. "Fated mate-ku sudah mati bahkan sebelum aku menyadarinya. Jadi aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa-apa."
"Ah, sudah kuduga, tidak ada gunanya kalau bertanya kepadamu." Seongwoo membenarkan posisi duduknya sambil terkekeh.
Pintu cafè terbuka, membuat atensi kedua omega itu tealihkan kesana. Di sana, Jonghyun tengah berdiri memberikan instruksi kepada tukang yang akan memperbaiki keadaan cafè. Alpha itu tersenyum sekilas kepada keduanya ketika mata mereka bertemu. Seongwoo tertegun. Senyum teduh itu adalah alasan utamanya pernah menyukai Jonghyun dahulu.
"Minki-ya," bisik Seongwoo. "Ternyata aku masih menyukai Jonghyun. Bolehkah aku bersaing denganmu lagi?"
"Yak! Kau sudah punya mate!" seru Minki sambil memukul bahu si pria manis.
Seongwoo tertawa lagi. Tampaknya Minki sama sekali tidak tahu masalahnya apa.
.
.
.
Daniel mengemudikan mobilnya dengan pelan menyusuri jalan di daerah Korona. Ia baru saja mengantar Woojin pulang setelah bermain tadi dan hari ini sudah larut malam.
Pure alpha itu tengah menyetir dengan aman ditemani dengan musik klasik yang terputar dengan volume pelan di mobilnya.
Di bawah lampu jalan, Bugatti itu berhenti. Sang pangeran merasa tubuhnya memanas seiring dengan tatapan bingung seorang pria bertubuh ramping di balik kaca mobilnya.
Seongwoo baru saja pulang dari cafè setelah Jonghyun datang dan pekerjaan diambil alih oleh para tukang. Ia sempat menyemprotkan parfumnya sebelum meluncur ke jalan menuju rumahnya. Dan ia sama sekali tidak menyangka takdirnya malam ini akan seperti ini.
.
.
.
Welcome to Lucknut area
.
.
.
"Nnngghhh ..."
Bibir tipis itu mengeluarkan erangan frustrasi kala merasakan kecapan-kecapan hangat di titik-titik sensitifnya. Bergerak gelisah mencoba mengusir tubuh alpha yang ada diatasnya. Tubuhnya memanas dengan feromon yang menguar ke udara. Bercampur baur dengan aroma alpha yang tengah menjamah tubuhnya saat ini.
Sungguh! Seongwoo sama sekali tidak tahu bagaimana ia berakhir dilempar ke atas ranjang hotel (yang untungnya empuk) dengan tubuh yang nyaris telanjang. Yang ia ingat hanyalah ketika bugatti itu berhenti di hadapannya, lalu ia ditarik masuk ke dalam. Merasakan mobil yang dipenuhi bau alpha itu melaju kencang seakan terbang. Dan tubuhnya diangkat begitu saja ke tempat ini.
"Aakkh!" pekik sang omega ketika tonjolan sensitif di dadanya digigit dan dipelintir sedemikian rupa. Tangan alpha itu bergerak melucuti celana beserta dalamannya. Menyisakan tubuh polos sang omega yang kini gemetar ketakutan.
"A-aah! Tidak! Jangan lakukan! Mmh--" jerit Seongwoo terputus ketika sang alpha menabrakkan bibirnya ke bibir tipisnya. Ciumannya kasar dan sangat terburu-buru. Gigitan keras di bibirnya memaksa mulut Seongwoo untuk terbuka dan membiarkan benda lunak itu masuk mengobrak-abrik isi mulutnya.
Sedangkan sang alpha kini sudah melucuti bajunya sendiri, menampilkan pahatan tubuh sempurna bak dewa yunani. Dan benda yang berdiri dengan tegak di selangkangannya tak luput dari penglihatan Seongwoo. Manik omega itu bergetar semakin kencang ketika alpha itu mengungkung tubuhnya di sana dan menatapnya dengan pandangan gelap. Sarat akan gairah.
"Ku-mohon ... jangan," cicit Seongwoo ketakutan. Ia tak mampu melawan aura dominasi sang alpha. Pikirannya memekik nyaring ketika merasakan feromon sang alpha yang semakin menguat.
Alpha itu sedang heat.
"Jebal ... aniya ..." cicit Seongwoo memelas.
Sang alpha menggeram rendah. Ia merundukkan tubuhnya, menjilat leher sampai belakang telinga sang omega. Seongwoo mati-matian menahan desahannya. Titik sensitifnya dipermainkan. Membuatnya frustrasi sekaligus gemetar ketakutan.
Matanya membulat ketika merasakan kulit tangan yang kasar itu meraba selangkangannya. Menyentuh kejantanan yang setengah berdiri akibat perlakuan sang alpha. Dan menggenggamnya erat.
"Ah. Tidak. Jangan! Ah! Aarrggh! Aniya, aniya ... aaaakkkhhh!!" Seongwoo meracau hebat ketika tangan besar itu bergerak naik turun pada kejantanannya. Tubuh omega itu menggelinjang. Bulir keringat turun perlahan dari pelipisnya. "Aahh hahh henti-kannh ...!" pintanya memohon.
Sang alpha melepaskannya dan menatap wajah sayu itu tanpa ekspresi. Pandangannya masih dipenuhi kabut. Bahkan mungkin lebih gelap dari sebelumnya. Lagi-lagi ciuman kasar diterima oleh bibir sang omega.
Belum sempat Seongwoo bernapas dengan lega setelah sang alpha melepas pagutannya, matanya kembali membola ketika merasakan jemari panjang perlahan masuk ke ceruk lembabnya. Tubuh omega itu mengejang karena kaget sedangkan sang alpha dengan santainya mengobok-obok hole basah itu dengan jemarinya.
"Jangan menolakku, omega," geram alpha itu dengan suara rendah. Menghasilkan sengatan maya pada tubuh Seongwoo yang gemetar menahan perih.
Seongwoo merintih kesakitan. Tiga jari telah masuk pada analnya. Air mata mengalir dari pelupuk. Ia menggeleng menahan desahan dari rasa sakit dan nikmat yang sedang tak ingin ia rasakan.
"Mmh ... aaakkhh!" Tubuh sang omega melengkung mendapat pelepasannya. Alpha itu mengeluarkan jari-jarinya dan menatap lagi tubuh molek yang mengilap dengan peluh tersebut.
Sang alpha menjilat bibirnya. Wajah sayu sang omega yang memohon membuat gairah heat-nya semakin memuncak. Tanpa aba-aba, alpha itu menarik kaki kanan Seongwoo ke atas bahunya dan melesakkan kejantanan besar itu ke dalam hole sang omega.
"AAKKKHHH!!" sontak sang omega menjerit kesakitan. Tanpa menunggunya siap, sang alpha mulai bergerak memaju-mundurkan kejantanannya pada hole sang omega yang masih terasa sempit walau sudah dimasuki ketiga jarinya.
"AAHH ... h-hentikan ... kumohon ... Ah! Ah! Ah! Aahh please ... please ... hhh," racau Seongwoo merasakan ngilu pada hole yang penuh diisi dengan batang kejantanan berurat yang pernah ia rasakan itu.
Ya, ia pernah merasakannya bukan? Bahkan momen itu baru saja terjadi dua hari yang lalu. Yang dilakukannya atas dasar suka sama suka. Tapi saat ini ... apa namanya?
"Aakkhh," pekik Seongwoo ketika ujung kejantanan itu menusuk tepat pada titik nikmatnya.
Jujur, ia tidak bisa tidak menikmati ini. Namun, ia juga tidak ingin. Tidak ingin melakukan persetubuhan laknat ini dengan alpha yang sedang heat yang melakukannya dengan kasar dan tanpa ampun. Membuatnya merasa seperti diperkosa.
"Aahh ... ah! Akkh! Danielh!" pekik sang omega akhirnya ketika mendapat pelepasannya yang kedua.
Smirk terulas di wajah sang alpha mendengar Seongwoo menjeritkan namanya. Tusukan-tusukan kasar masih terus dihujamkan pada hole lembab yang kini semakin becek tanpa menunggu fase high sang omega selesai.
Daniel dengan heat alpha brengseknya itu benar-benar.
PLAKK!!
"AAKHH!!"
PLAKK! PLAK! PLAKK!!
Air mata itu mengalir merasakan tamparan kencang di bokong dan pahanya. Perih dan nikmat menjadi satu. Dan beberapa hujaman yang dalam kemudian, terasa hangat cairan kental yang menyembur di lubangnya.
"Oh ... fuck." Alpha itu menggeram rendah merasakan pelepasannya. Ia mengeluarkan kejantanannya dari hole sang omega menghasilkan desahan lega dari bibir tipis itu. Namun, desahan lega itu hanya sesaat. Digantikan dengan tarikan napas terkejut karena sang alpha kini membalikkan tubuh ramping itu dan membuatnya menungging.
"T-tidak! Jangan lagi ... AARGHH!!!"
Seongwoo menangis menerima hujaman kasar pada hole-nya lagi. Tangannya mencengkeram erat seprai putih itu hingga robek. Tubuhnya melengkung dan mengejang ketika nipple-nya dicubit dan dipelintir sedemikian rupa dari belakang. Air mata dan saliva bercampur membasahi seluruh wajah. Dan pada hujaman-hujaman berikutnya, tubuh omega itu melemas dan hanya mampu terlonjak-lonjak menerima gerakan kasar kejantanan di dalam ceruk lembabnya. Kepalanya terantuk-antuk pada headboard. Dan entah pada orgasme ke berapa, pandangannya menggelap.
.
.
.
B A T A S S U C I
.
.
.
Seongwoo terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Bagian selatannya nyeri tak tertahankan. Seolah apabila ia bergerak sedikit saja, lubang itu akan robek. Tapi daripada itu, rasa sesak di hatinya jauh terasa lebih menyakitkan.
Ia memaksakan diri untuk bangkit sembari meringis menahan perih. Diambilnya sembarang pakaian yang tergeletak di lantai dan dikenakannya dengan tangan gemetar. Dengkuran halus sang alpha terdengar di tempat tidur.
Omega Ong itu menyeka air mata yang siap lolos dari bendungannya. Hatinya terasa ditusuk berkali-kali. Teringat di benaknya pembicaraan alpha itu dengan Minhyun kemarin di cafè. Rasanya begitu menyesakkan menemukan bahwa mate-nya adalah putera mahkota yang akan menikah.
Ia berjalan keluar kamar dengan langkah terpincang karena lemas. Pandangannya terasa buram akibat air mata. Menenteng sepatunya di tangan kiri, ia melangkah keluar hotel diiringi tatapan heran petugas. Di luar masih gelap dan sepi. Wajah kacaunya ia tutupi dengan tangan kanannya yang bebas. Perlahan, tangan itu merambat menyentuh tengkuknya.
Bahkan di mating kedua pun mate-nya sama sekali tidak menandainya.
Seongwoo merasa kotor sekarang. Alpha itu memperlakukannya seolah ia hanyalah omega jalang yang digunakan untuk tidur satu malam.
"Akh," rintih Seongwoo merasakan perih di bagian selatannya semakin menjadi seiring langkahnya di jalanan beraspal yang dingin. Ia terduduk lemas, tak kuat menopang berat tubuhnya sendiri. Satu isakan lolos dari bibirnya sebelum seluruh tubuhnya luruh ke tanah dengan pandangan menggelap.
Samar, ia merasa ada wajah dan suara yang amat dikenalinya menghampiri sebelum semuanya benar-benar menghitam dan--
--tubuhnya ambruk
"HYUNG!!"
.
.
.
Coba tebak siapa yang nyamperin Uwu dibagian terakhir :)
