OOC DON'T LIKE DON'T READ

PRODUCE 101 S2 FANFICTION

FANTASY, ROMANCE, FRIENDSHIP, FAMILY

M, ABO!AU

YUNHWA.

.

.

Pure alpha itu terbangun karena merasakan lengketnya peluh di tubuhnya. Kepala berdenyut. Ia duduk di atas ranjang dan merasakan panas tubuhnya kemarin sudah menghilang. Ia menatap jam dinding yang berdetak dan berdengung pelan seperti gumaman-gumaman lebah. Angkanya menunjukkan pukul tiga, dan di luar jendela begitu terang.

Daniel telah tertidur selama belasan jam lamanya.

Ia mengusap wajah lelahnya dengan tangan. Matanya terbuka lebar ketika mengingat sesuatu.

Kejadian tadi malam.

Saat ia heat dan ...

Tergesa, ia meraba setiap jengkal ranjang dan gulungan selimut di sampingnya. Kering dan dingin.

Ia ingat betul tadi malam omega berwajah kucing itu ada di sini. Menjadi korban heat-nya.

"Ong Seongwoo?" panggilnya ragu. Tak ada jawaban, tentu saja. Kamar hotel itu hanya berisi seorang alpha. Dirinya sendiri.

Jantungnya berdetak cepat sampai dadanya sakit. Alpha itu berdiri dan mengecek kamar mandi.

Nihil juga. Daniel meringis.

"Ong Seongwoo! Astagaa. Kemana ia sekarang?" ujarnya frustrasi. Ia mengacak rambutnya sendiri sebelum berjalan meraih pakaian apapun yang tergeletak di lantai, mengenakannya, dan berlari keluar dari hotel. Kemeja yang ia kenakan bukan miliknya. Tapi lumayan pas. Ia tak berpikir untuk menyempatkan diri mandi dan membersihkan tubuh yang lengket akan peluh. Ia juga tidak berpikir untuk mengecek ponsel yang baterainya tersisa sepuluh persen. Yang ia pikirkan hanyalah, dimana Seongwoo-nya berada.

Seongwoo-nya? Kau yakin?

Alpha itu melarikan mobilnya dengan kecepatan tak kira-kira. Ia tak peduli dengan rambu lalu lintas. Bibirnya tak henti menggumamkan nama Seongwoo. Omega mate-nya.

Ckiiiitttt!

Mobil itu terhenti mendadak bersamaan dengan menghilangnya detak jantung milik sang mate dalam dirinya. Daniel meremat dadanya yang nyeri. Mencoba merasakan kembali dentuman jantung lain di sana. Merasakan keberadaan omeganya.

Sekali lagi, omeganya? Apa kau yakin?

Napas alpha itu memburu. Ia masih merasakannya! Matanya berair ketika dentuman jantung yang menyakitkan itu kembali bergema di pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia memutar stirnya, melarikan mobil mewah itu mengikuti insting, menuju rumah Seongwoo.

Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang rumah mungil sederhana yang sudah ia kenali dengan hanya satu kali mengunjunginya. Lampu di dalam rumah itu menyala, berbanding terbalik dengan keadaan di luar yang mulai gelap tanpa lampu jalan yang menerangi. Tergesa, alpha itu keluar dari mobil mewahnya. Berlari memasuki gerbang, dan mendapat penyambutan khusus di sana.

Seorang alpha muda, berperawakan mirip dengan mate-nya, menunggu di sana.

"Kalau kau datang ke mari untuk menambah penderitaan hyung-ku, langkahi mayatku dulu."

.

.

.

Beberapa jam sebelumnya, di kediaman Ong Seongwoo.

"Namaku Lai Guanlin."

Seonho menatap alpha itu tak berkedip. Baru ia perhatikan bahwa ternyata wajah alpha yang ia hindari akhir-akhir ini begitu tampan. Namanya siapa tadi? Lai Guanlin?

... Lin?

"Yoo Seonho?" panggil Guanlin melihat Seonho yang terdiam menatapnya.

"Seonho-ya," panggilnya lagi. Seonho mengerjap. Guanlin tertawa kecil. Mate-nya begitu manis.

"Y-ya?" Seonho tergagap. Gantian alpha yang mengaku mate-nya itu yang terdiam. Atensinya terarah pada seorang omega yang bergerak gelisah di tempat tidur di samping mereka.

Seonho berinisiatif membenahi selimut yang menutupi tubuh omega itu. Sejenak, situasi menjadi begitu canggung.

"Aku sudah mencarinya selama sepuluh tahun."

Seonho kembali menatap Guanlin. Alpha itu menatap sang omega dengan raut kerinduan dan rasa bersalah. Sesaat kemudian, pandangan sepasang mate itu beradu.

"Terima kasih sudah menjaga hyung-ku."

.

.

.

Mereka adalah keluarga Ong yang bahagia. Ya, sebuah keluarga. Hidup di luar klan. Bahagia dengan jalannya sendiri.

Tuan dan Nyonya Ong yang hanya memiliki seorang putera omega berhati malaikat, mengangkat dua orang alpha dan seorang beta kecil ke dalam keluarga mereka. Ketiganya yang kehilangan orang tua akibat perang besar mendapat curahan kasih sayang berlimpah di keluarga Ong.

Seongwoo adalah omega kecil yang periang juga cerdas. Ia membantu orang tuanya dengan suka rela dan mengurus adik-adiknya dengan senang hati. Ia sangat mencintai dan melindungi adik-adiknya sehingga adik-adiknya pun memberikan balasan cinta yang berlimpah ruah untuknya.

Keluarga itu akan pergi bertamasya. Guanlin bilang, ia ingin mencari laut sedangkan Jihoon dan Jinyoung ingin mendaki gunung. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berkeliling kota dan mengunjungi taman hiburan.

"Nanti, kalian jangan berpisah-pisah. Kita akan pergi ke kota. Jauh dari rumah. Ikut terus dengan hyung, ya." Nyonya Ong tersenyum mendengar putera tertuanya berbicara kepada adik-adiknya perihal peraturan bertamasya.

"Hyung, aku senang sekali memiliki hyung sepertimu. Tapi karena kau omega, kau juga harus memiliki orang yang melindungimu." Jihoon berbicara serius sambil menatap wajah Seongwoo.

Seongwoo membulatkan matanya mendengar ucapan bocah kecil itu. "Aigoo, tentu saja. Kalian keluargaku yang akan melindungiku. Nanti Jihoon, Jinyoung, dan Guanlin akan tumbuh dewasa dan menjadi pelindung keluarga kita. Ya, kan?"

"Tapi kami belum--"

"Ne!" Guanlin memotong kalimat Jihoon. "Aku berjanji, nanti aku akan segera beranjak dewasa, dan melindungi Woo hyung dari orang jahat!"

"Woo hyung adalah seorang omega yang berharga. Hyung patut dilindungi," timpal Jinyoung. Ketiga bocah itu tersenyum berpandangan. Nyonya Ong tertawa kecil di samping Tuan Ong yang tersenyum-senyum sendiri di balik kemudi.

"Seongwoo-ya ... kalau nanti kamu menemukan mate-mu, pastikan kau tidak melupakan adik-adikmu yang manis ini, ya," ujar Nyonya Ong membuat pipi Seongwoo memerah.

"Eomma, aku masih terlalu muda untuk mendapatkan mate. Aku akan mengabdi untuk keluarga kita. Baru menemukan mate-ku!" protesnya.

Guanlin yang duduk di sampingnya berdiri hingga kepalanya nyaris membentur langit-langit mobil. Seongwoo dengan sigap menaruh tangannya di atas kepala Guanlin agar kepala bocah itu tidak benar-benar terbentur.

"Aku yang akan jadi mate Woo hyung! Di luar sana banyak alpha nakal! Tidak ada yang pantas bersanding dengan Woo hyung!"

Mendengar itu, seisi mobil tertawa.

.

.

.

"Eomma, appa, masih lama?" Jihoon bertanya dengan mata terkantuk. Tamasya mereka sudah selesai, dan kini mereka tengah berada dalam perjalanan malam menuju rumah.

"Ya ... Jihoonie tidur dulu. Bangun nanti, kita pasti sudah sampai," jawab Tuan Ong.

Jihoon mengangguk. Ia memandang ke arah hyung tertuanya yang menguap sambil mengusap-usap kepala Guanlin yang tertidur di pangkuannya. Sedangkan Jinyoung sudah nyaris terlelap di samping Jihoon, bersandar pada tubuh berisi anak itu.

"Hyung," panggil Jihoon. Seongwoo yang memang belum tertidur menoleh. "Aku, Jinyoung, Eomma, dan Appa selalu mencintaimu."

Mendengar ungkapan kecil itu, Seongwoo tak tahan untuk tidak tersenyum lagi. "Aku selalu mengetahui itu. Tapi ... kenapa Guanlin tidak kau sebutkan?"

"Guanlin ... hooaaaahhmmm ... bisa mengatakannya sendiri." Jihoon menguap dan memejamkan matanya. Seongwoo hanya menatap wajah manis beta itu tanpa mengerti. Ia baru saja hendak mengucapkan sesuatu ketika sesuatu menghantam mobil mereka jatuh ke jurang.

.

.

.

"Seongwoo baik-baik saja?" Minhyun berlari masuk ke dalam ruangan. Putera mahkota omega itu terburu-buru meninggalkan rumahnya ketika Seonho meneleponnya, memberitahukan kalau ia berada di rumah Seongwoo bersama mate-nya, mengantarkan Seongwoo yang pingsan.

Masa bodoh dengan kuliah. Kondisi sahabatnya saat ini jauh lebih penting.

Tubuh Minhyun menegang kaku mencium udara yang sesak di kamar itu. Bau manis feromon omega khas Seongwoo menguar luas, bercampur dengan aroma lain yang tak kalah kuat. Semuanya menyatu pada sumber yang sama--tubuh Seongwoo yang terbalut sweater rajut polos armani seharga ribuan dollar. Sudah bisa ditebak siapa pemilik aslinya. Mata Minhyun berair karena khawatir dan marah.

"Aku tahu. Kau menciumnya juga, bukan?"

Atensi Minhyun teralih kepada alpha yang duduk di samping Seonho, di pinggir ranjang tempat Seongwoo berbaring. Alpha tampan itu berdesis tajam. "Aku dan Seonho menemukannya dalam keadaan seperti ini ... siapapun alpha yang melakukan ini, akan kubunuh."

Minhyun menahan napas. Seonho, anak ayam imut itu sama sekali belum mengetahui konflik mereka. Jadi, ia hanya diam dan mendekat kepada Seongwoo yang pucat dan berkeringat.

"!!" Ketiga orang berbeda kasta itu melompat terkejut ketika Seongwoo membuka matanya dengan tarikan napas tertahan. Omega itu terduduk. Menangis dan pucat. Matanya menatap omega, beta, dan alpha di depannya bergantian.

"Seongwoo-ya!" panggil Minhyun seraya memeluk tubuh si omega Ong erat-erat. Meskipun ia mesti menahan napasnya agar tidak mencium campuran aroma feromon yang begitu menyengat dari tubuh dan pakaian Seongwoo.

"Akh," rintih Seongwoo. Tubuhnya bergetar saat merasakan perih di bagian selatan dan rasa sakit di pinggangnya. Minhyun melepas pelukannya dan menatapnya dengan mata berair.

"Apa yang terjadi? Katakan padaku! Apa yang si brengsek itu lakukan padamu?!"

Seongwoo terdiam. Air matanya mengalir menatap wajah sahabatnya yang juga berurai air mata. Ia menggelengkan kepala. Tak berniat menjawab.

"Hyung," panggilan lain yang berasal dari satu-satunya alpha di ruangan itu mengalihkan atensi Seongwoo. Seongwoo menatapnya dengan mata dan mulut yang terbuka lebar. Air matanya mengalir semakin deras. "Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu! Alpha sepertinya tidak berhak untuk hidup!"

Seongwoo lagi-lagi tidak mengeluarkan suaranya. Ia hanya menggelengkan kepala tanpa sepatah kata pun terucap. Menatap Seonho dan alpha itu bergantian, bibirnya yang gemetaran bergerak terbata-bata.

"Gu-an-lin?"

"Maafkan aku baru menemukanmu sekarang, Hyung," ucap Guanlin. Seongwoo tidak menjawab. Ia hanya menenggelamkan wajahnya di leher Guanlin dan mulai menangis.

"Hyung," panggil Seonho ketika omega itu menangis semakin kencang di pelukan Guanlin. Minhyun menoleh. Menarik lengan Seonho agar duduk di sampingnya.

"Jadi, Linlin itu ... Guanlin?" ujar Seonho pelan. Minhyun terdiam. Kemudian mengangguk.

"Dan kurasa aku menemukan alasan mengapa ia terus mencarimu setiap mimpi buruknya datang," sahut putera mahkota itu. "Dia benar-benar mate-mu, kan?"

Seonho mengangguk. Keduanya menatap Guanlin yang balas memeluk sahabat dan hyung-nya itu erat dan sesekali mengusap punggungnya.

Seongwoo tampak begitu ringkih dan lemah saat ini. Tampak sekali tarikan napas sesak dari bibir merah yang bergetar. Anak-anak sungai yang mengalir di pipinya pun semakin lama semakin bertambah. Saat ini pasti semuanya tampak begitu menyesakkan bagi Seongwoo.

Minhyun juga merasakan sesak itu. Sesak yang menyakitkan di dadanya. Menghadapi kenyataan pahit dalam hidup--bahwa mate yang terikat dengannya adalah tunangan orang lain bukanlah hal yang mudah. Seongwoo pasti sangat menderita karenanya.

Guanlin mengepalkan tangannya erat-erat seiring campuran aroma feromon itu menusuk-nusuk hidungnya. Ia bukan anak kecil yang polos. Ia tahu aroma seperti itu muncul setelah sepasang alpha dan omega mating.

"Hyung, sudah," bisik Guanlin. Seongwoo melepaskan pelukannya. Ia meremat dadanya erat. Rasa sakit di dadanya berangsur pulih setelah memeluk Guanlin. Adiknya yang telah menghilang selama bertahun-tahun.

"Woo," panggil Minhyun kemudian. "Maafkan aku."

Seongwoo menggeleng merespon ucapan maaf Minhyun. Hanya menggeleng. Ia tidak kuat bahkan untuk bersuara.

"Katakan padaku, Woo. Curahkan segala rasa sakitmu padaku," bisik Minhyun lagi.

Seonho menatap kedua omega itu bingung. Sedangkan Guanlin tengah mencoba mencerna situasi. Kedua omega itu tampak merasakan sakit yang sama. Perih di hati akibat menelan kenyataan bulat-bulat. Alpha itu mengeratkan rahangnya penuh benci. Entah pada siapa.

"Kita harus bicara," kata Guanlin begitu mereka keluar dari kamar Seongwoo. Meninggalkan omega itu dengan Seonho yang akan menyuapinya makan.

Minhyun diam seribu bahasa. Ia masih mencoba menetralkan napasnya setelah menangis. Dan menangis sebanyak apapun hingga air mata mengering berubah menjadi darah, rasa sakit itu akan tetap ada. Ditampar bolak-balik oleh kenyataan.

"Tolong jangan membuatku seperti orang bodoh di sini," tegas Guanlin. Ia menatap Minhyun tajam. "Aku tahu permasalahannya menyangkut antara kalian berdua juga."

Minhyun menghapus sisa air mata di ujung kelopak matanya. Kemudian tertawa miris. "Kau tahu politik?"

Guanlin mengangguk.

"Itulah yang menghancurkan hubungan kami."

"Hyung, aku tidak mencarinya selama sepuluh tahun untuk memecahakan teka-teki mengenai hubungannya dengan pangeran klan sepertimu! Berikan aku jawaban pasti!" Mata hitam itu tampak semakin kelam. Insting kemarahan alphanya mulai mendominasi. "Katakan padaku, alpha mana yang berani membuat hyung-ku hancur? Aku tidak akan membiarkannya hidup."

Minhyun membuang wajah. Seonho berlari keluar ruangan.

Beta itu melewati keduanya untuk mencapai pintu. Ia mengeluarkan kunci dari genggaman tangannya dan memutar kunci itu dua kali.

"Ada apa?" tanya Minhyun bingung. Beta muda bertubuh tinggi itu menoleh.

"Seongwoo hyung memintaku agar cepat-cepat mengunci pintu."

Guanlin hanya diam menatap mate 'kecil'-nya. Ia memutar otak, memikirkan berbagai kemungkinan yang menyebabkan hyung-nya kacau seperti ini.

Ketiganya berpandangan ketika mendengar rintihan tertahan Seongwoo dari dalam kamar. Tergesa mereka berebut menghampiri omega itu di kamar dan menemukannya tengah meringkuk di balik gulungan selimut yang hawanya saja sudah sangat panas, tapi tubuhnya menggigil. Minhyun menyadari sesuatu.

"Kalian belum mengganti pakaian Seongwoo?" tanyanya kepada pasangan mate muda yang langsung menggelengkan kepala.

Minhyun mendesis. Ia serta merta mendekati Seongwoo dan menyentuh tubuh menggigilnya. "Woo, ayo ganti pakaianmu dulu," ajaknya.

Seongwoo menggeleng. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan gemetaran. "A-ku ... ta-kut," ucapnya tanpa suara. Namun gerak bibirnya cukup dapat dibaca oleh tiga orang yang lainnya.

Seongwoo semakin mengeratkan pelukan pada tubuhnya sendiri.

Seolah merasakan sesuatu, Guanlin berlari ke depan rumah.

.

.

.

Ketika kenangan masa kecilnya bersama Guanlin menjadi mimpi buruk, Daniel datang dan mengusirnya. Namun, sesaat kemudian, keadaan berbalik.

Guanlin berdiri terengah. Sudut bibirnya terluka mengeluarkan darah. Di hadapannya, pure alpha dengan kondisi yang sama jatuh terduduk di tanah. Posisinya berlutut.

"Bangun," perintah Guanlin. Alpha itu menggertakkan giginya kesal melihat si pure alpha yang diam tak bersuara. Tidak juga menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari posisinya.

"Bangun kau bajingan!" teriak Guanlin hingga urat-urat lehernya menonjol. Pria itu, Kang Daniel. Tetap bersimpuh, menyeka darah dari pelipisnya. Luka dari Hyunbin bahkan belum sembuh. Sekarang ia menerima luka lain dari seorang alpha muda. Tapi ia tidak melawan selain sedikit mengelak hingga wajah Guanlin terkena hantaman sikunya. Ia kini membiarkan dirinya bersimpuh, merendahkan diri di depan rumah mate-nya.

"Ong Seongwoo!" "Seongwoo hyung!"

Teriakan dari dalam rumah membuat dua alpha di depan rumah terkejut. Pure alpha itu mendongak, menemukan pintu rumah terbuka. Dan Seongwoo berdiri di sana dengan tubuh gemetar.

Daniel bergerak. Ia berlari ke arah Seongwoo namun ditahan oleh Guanlin. Anak itu menyengkeram lengan Daniel erat sehingga pure alpha itu terpaksa menepisnya dan membuat alpha bertubuh kurus itu terpelanting.

Daniel tidak peduli.

Ia hanya ingin menghampiri Seongwoo-nya.

Seongwoo-nya. Iya. Kumohon, ia adalah Seongwoo-nya.

Namun, hatinya mencelos ketika tubuh omega itu melesat melewatinya, menghampiri Guanlin yang meringis kesakitan.

Seongwoo tidak menghampirinya.

"Ong Seongwoo," panggil Daniel.

Seongwoo tidak menyahut. Ia memalingkan wajahnya ketika memapah Guanlin melewati Daniel menuju ke dalam rumah.

"Ong Seongwoo!" seru Daniel lagi. Entah kenapa, tubuhnya terasa kaku untuk menahan sang mate pergi. Sorot angkuh yang terbiasa menyinari matanya kini menghilang seutuhnya. Berganti dengan sorot kecewa dan hampa.

Apalagi melihat Minhyun berdiri di pintu depan. Membantu seongwoo masuk.

Seketika pintu tertutup. Menelan seluruh bayangan sang mate dari pandangannya.

Daniel kembali terduduk di tanah yang dingin. Dadanya nyeri. Tusukan seribu sembilu seolah meneggenapkan sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu ton beban hidupnya menjadi satu juta.

"Bangun. Seorang alpha tidak pantas berlutut seperti itu."

Daniel mendongak. Minhyun menatapnya dari atas. Omega itu mengulurkan tangannya.

Tanpa menerima uluran tangan Minhyun, Daniel bangkit. Ia menahan seluruh luka di tubuh dan hatinya dan berdiri di hadapan omega yang telah menjadi tunangannya itu.

Plakk!!

Satu tamparan. Telak mengenai pipi kiri Daniel. Minhyun menurunkan tangannya setelah berhasil melakukan itu.

"Itu untuk hidup Seongwoo yang hancur karenamu. Sekarang pukul aku."

Daniel menatap wajah datar Minhyun. Ia tidak bergerak.

"Pukul aku," ulang Minhyun. Melihat Daniel yang hanya diam menatapnya, Minhyun berbicara lagi. "Kesalahanku jauh lebih besar. Aku berusaha sebisa mungkin agar Seongwoo menjauh darimu. Alpha brengsek ..." Minhyun menarik napas. Suaranya bergetar. "Namun yang kulakukan malah membuatnya hancur lebih cepat. Ia tidak pantas mengalami ini. Ong Seongwoo ... Ong Seongwoo tidak pantas diperlakukan--"

Secepat mungkin Minhyun menyeka kristal bening cair yang mulai jatuh dari pelupuk matanya. "Oleh karena itu. Aku ingin menghukum diriku sendiri. Seseorang harus memukulku. Kau bisa melakukannya, kan?"

Hati sang alpha mencelos. Baru dilihatnya sisi lemah Minhyun yang seperti ini. Namun, ia hanya menggeleng dan tersenyum miris.

"Kau bercanda," ujarnya seraya berbalik. "Setidaknya Seongwoo mengetahui semuanya sebelum pernikahan kita."

Minhyun membulatkan matanya tak percaya. Bukankah tadi alpha itu mengejar Seongwoo sampai berlutut? Apa-apaan itu tadi?

"BRENGSEK!!" teriak Minhyun kepada punggung lebar yang berjalan menjauh. Langkah Daniel terhenti.

Ia menatap ke atas. Langit yang kini telah gelap seutuhnya tanpa cahaya. Kemudian kembali menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang basah.

"Kau benar," jawabnya kepada Minhyun. "Tapi kau tidak tahu apa yang sedang brengsek ini hadapi."

.

.

.

"Hyung ..." Guanlin tersenyum ketika Seonho mengobati luka kecil di wajahnya sementara Seongwoo sendiri pergi ke kamar mandi. "Mengapa kau melakukan itu? Seongwoo hyung ketakutan melihatmu berkelahi dengan Daniel wangja-nim."

"Lalu apakah aku harus membiarkan alpha itu datang dan membuat hyung-ku terus meringkuk gemetaran seperti kucing kecil yang lemah?" tanya sang alpha membuat Seonho sontak merengut dan menggeleng.

"Seongwoo hyung pernah mengorbankan seluruh darah, keringat, dan air matanya untukku. Aku sudah berjanji untuk melindunginya," jelas Guanlin. Ia menatap wajah Seonho yang sekilas mirip dengan wajah yang ia lihat di pantulan cermin. "Beruntung aku menemukanmu. Dengan begitu, aku bisa menepati janjiku kepadanya."

"Uhukk!"

Pasangan mate itu menoleh kepada Seongwoo yang baru saja terbatuk memegangi dadanya di depan pintu kamar mandi.

"Woo, kau baik-baik saja?" Minhyun yang baru saja masuk sambil menyeka mata sembabnya bergegas menghampiri sang sahabat.

Seongwoo menggelengkan kepala. Ia sungguh tidak baik-baik saja setelah meninggalkan alphanya begitu saja. Dadanya sesak. Sakit.

"Hyung, ayo beristirahat," ajak Seonho sembari meletakkan kotak obat di atas meja.

Guanlin meraih tangan Seongwoo dan memapahnya ke kamar.

"Sebaiknya bersihkan dulu tubuhmu," pinta Minhyun. Seongwoo, lagi-lagi menggeleng. Ia mengambil posisi di ranjang dengan memeluk sendiri tubuh berbalut sweater yang bukan miliknya itu.

.

.

.

"Eomma, appa!!!"

Jeritan itu terdengar membahana di seisi mobil yang pengap. Seongwoo tertegun. Luka robek dengan darah yang mengalir deras dari pelipisnya seolah tidak mengandung rasa sakit. Di hadapannya, alpha kecil berusia 7 tahun itu menjerit memanggil nama keluarganya. Dikelilingi empat orang yang tak bergerak apalagi berbicara. Seongwoo dan adiknya selamat dikelilingi mayat.

Kejadian itu begitu singkat dan mendadak. Mobil mereka terperosok begitu dalam ke jurang yang curam setelah sukses tersenggol oleh truk bermuatan puluhan ton yang melaju dengan kecepatan berlebih. Asap membubung tinggi, semua kacanya pecah dan secara mengenaskan, bagian samping dan depan mobil hancur, menimpa empat orang yang berada di bagian itu.

Seongwoo tidak mampu mengatakan bahwa ia dan Guanlin yang selamat adalah mukjizat. Ia bahkan terlalu syok secara mental, melihat jenazah berlumur darah yang terbujur di sekelilingnya sekarang. Memenuhi ruang mobil yang sempit. Dan bocah termuda itu, ia tak berhenti menangis.

"Eomma! Appa! Hyung!!" pekiknya kencang.Tangan gemetar itu bergerak perlahan menyentuh bahu sang alpha kecil. Menariknya ke dalam dekapan. Menangis berdua di tengah hawa panas lagi pengap. Pintu mobil itu bahkan tidak bisa terbuka. Mereka terjebak.

Hingga pagi menjelang, bahkan ketika matahari beranjak siang, tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan mereka.

"H-hyung ..." rintih Guanlin setelah suaranya tak mampu lagi keluar sebagai jeritan.Bibir mereka kering. Persediaan air mineral di dalam tas mereka kosong. Mayat-mayat itu mulai menguarkan bau.

Guanlin muntah. Namun, tak ada yang mampu dikeluarkan oleh perutnya. Ia merintih kecil sedangkan Seongwoo mulai menangis tanpa suara.

"Hyung ... aku haus," rintih Guanlin.

Dan tidak ada lagi yang mampu dilakukan oleh omega muda itu selain menampung air matanya dalam cekungan tutup botol air mineral, dan menggunakannya untuk membasahi bibir adiknya.

Oksigen semakin menipis. Kedua anak itu tidak mampu bertahan lebih lama. Seongwoo mengguncang tubuh adiknya yang sudah terkulai lemas di pangkuannya. Ia ingin menjerit namun tak ada suara yang mampu dikeluarkan. Air mata pun telah berubah warna menjadi merah.

Dan segalanya perlahan menggelap.

Seongwoo menangis dalam tidurnya. Kecelakaan sepuluh tahun yang lalu lagi-lagi berputar dalam benaknya. Ia ingat dengan jelas, begitu ia terbangun, ia berada di ruangan serba putih, tanpa menemukan Guanlin di sisinya.

Lalu, Seongwoo akan menjeritkan nama Guanlin dengan berderai air mata.

"Hyung, bangun."

Mata itu terbuka lebar dengan cepat. Sebuah tangan yang hangat menyeka pipinya yang basah.

"Hyung, aku di sini ..."

Seongwoo menghambur ke pelukan Guanlin. Ia tidak henti-hentinya menangis haru setelah menemukan kembali adiknya yang telah menghilang selama sepuluh tahun.

Tapi di antara tangis haru dan bahagianya kini, juga tersisip rasa sakit yang tak mampu disembuhkan.

Rasa sakit akibat kehilangan rasa percaya dan cinta yang besar kepada mate-nya.

Dan adiknya hadir ketika ia kehilangan mate-nya.

Apakah memang sebegini indah takdir mempermainkannya?

.

.

.

"Aku tidak akan bisa keluar lagi dari tempat ini sampai tiga bulan ke depan. Kumohon, jaga dia untukku."

Hyunbin menatap sepupunya dengan tatapan prihatin. Sang raja telah mengeluarkan perintah. Daniel tidak diperbolehkan pergi kemana pun selain kuliah, dan penjagaannya diperketat sampai hari pernikahan sekaligus penobatannya menjadi raja klan baru nanti.

"Hyung, kau bajingan yang menyedihkan. Aku mengasihanimu sekarang."

.

.

.

Nah. Dramanya mulai.

Hngg ... jadi ... di ffn ga bisa balas review ya :(

Gimana dong, kalau di aplikasi sebelah (yang oren-oren itu) Yun biasa ngebalasin comment satu-satu. Di sini ga bisa balas jadi merasa ga enak huhuhu ...

Tapi makasih banyak deh buat yang selalu menyempatkan diri me-review karya kami yang masih terbilang berantakan ini. Ini bakal jadi titik acuan untuk terus mengembangkan tulisan kami.

Aku cinta kalian. Aku cinta Ongniel

P.s. : big thanks to my sister yang sudah menceritakan mimpi buruknya, yang menjadi inspirasiku menulis chapter ini. Mohon maaf apabila tidak sesuai ekspektasi.